Hina Kelana: Bab 77. Kelakar Si Perwira Gadungan

Ia berjalan keluar gua, dilihatnya langit penuh dengan bintang, sekeliling melulu suara serangga belaka. Pada saat lain tiba-tiba dari atas jalan pegunungan itu ada suara orang sedang mendatangi. Tatkala itu jaraknya masih jauh, tapi sekarang tenaga dalamnya amat kuat, dengan sendirinya telinganya menjadi tajam pula. Tergeraklah pikirannya, cepat ia melepaskan tambatan kuda, ia tepuk perlahan pantat kuda itu agar berjalan ke lereng sana. Ia sendiri lantas sembunyi di belakang pohon.

Tidak lama kemudian terdengarlah suara tindakan orang tadi semakin mendekat. Jumlah orangnya ternyata tidak sedikit. Di bawah sinar bintang yang remang-remang terlihat orang-orang itu sama memakai baju hijau, seorang di antaranya bertindak dengan sangat cepat dan gesit. Kiranya bukan lain daripada si kakek yang bertempur di kedai melawan orang-orang Thay-san-pay itu. Selebihnya kira-kira ada 30-an orang dengan potongan tinggi-pendek tidak sama, mereka mengikut di belakang si kakek tanpa membuka suara.

“Mereka menuju ke selatan dan masuk ke Hokkian, jangan-jangan ada hubungannya dengan Hoa-san-pay kami? Apakah mereka mendapat perintah Yim-kaucu untuk membikin susah kepada suhu dan sunio?” demikian pikir Lenghou Tiong.

Ia tunggu sesudah rombongan itu sudah pergi rada jauh, dengan hati-hati segera ia pun menguntit dari belakang.

Beberapa li kemudian, jalan pegunungan itu mendadak bertambah curam, kedua tepi berdiri dinding tebing, hanya di tengah-tengah celah bukit itu jalanan sempit itu menembus. Begitu sempit jalanan itu sehingga tidak cukup untuk dua orang jalan berjajar. Terlihat 30-an orang itu menanjak ke jalan pegunungan itu dalam barisan yang panjang.

Lenghou Tiong lantas menyusup ke tengah semak-semak rumput di tepi jalan untuk menghindarkan pergokan orang-orang itu jika kebetulan ada yang menoleh. Ia hendak tunggu barisan orang itu sudah melintas ke sebelah bukit sana barulah akan menyusul ke atas.

Di luar dugaan, ketika hampir sampai di atas bukit, mendadak rombongan orang-orang itu lantas memencarkan diri dan bersembunyi di balik batu-batu padas, hanya sekejap saja semuanya sudah menghilang.

Lenghou Tiong terkejut dan mengira jejaknya telah diketahui oleh orang-orang itu. Tapi segera ia mengetahui bukan begitu halnya. Pikirnya, “Mereka sembunyi di sini untuk menyergap musuh yang hendak naik ke atas bukit. Ya, tempat ini memang sangat berbahaya, jika diserang secara mendadak tentu lawan akan terbasmi. Ngo-gak-kiam-pay adalah kawanan serikat, aku harus memperingatkan mereka akan bahaya ini.”

Begitulah ia lantas merangkak pergi di tengah semak rumput, sesudah jauh meninggalkan jalan pegunungan itu barulah ia lari turun ke bawah. Sesudah tidak tampak lagi tanjakan bukit tadi baru dia berani kembali ke jalan pegunungan itu dan melangkah ke utara.

Sembari jalan cepat ia pun pasang telinga memerhatikan suara tindakan orang dari depan. Belasan li kemudian, tiba-tiba dari tempat yang lebih tinggi di sebelah kiri berkumandang suara tajam seorang wanita sedang berkata, “Kau masih berdebat membela Lenghou Tiong keparat itu?”

Di tengah malam buta dan di tanah pegunungan sunyi demikian mendadak namanya sendiri disebut secara jelas oleh seorang wanita, betapa pun tabahnya Lenghou Tiong juga tidak urung merasa merinding, pikirnya, “Setan atau siluman ini, mengapa namaku disebut-sebut di tempat begini?”

Menyusul lantas terdengar pula suara seorang wanita lain, cuma jaraknya rada jauh, suaranya perlahan pula sehingga tidak jelas apa yang dikatakan.

Waktu Lenghou Tiong menengadah ke atas, ternyata di lereng sana berdiri dua-tiga puluh orang. Ia heran, mereka membicarakan diriku, mengapa memaki aku keparat lagi?

Segera ia menyusup pula ke semak rumput dan menyusur ke belakang tanah tanjakan itu. Dengan jalan membungkuk sampailah dia di balik sebatang pohon besar. Didengarnya suara seorang wanita sedang berkata, “Supek, Lenghou-suheng berhati baik dan berbudi luhur ….”

Hanya mendengar kalimat ini saja seketika dalam benak Lenghou Tiong terbayang sebuah wajah yang bulat telur dan cantik manis, sebab lantas diketahuinya bahwa yang bicara itu adalah nikoh cilik dari Hing-san-pay, yaitu Gi-lim. Lantaran guncangan perasaannya sehingga ucapan Gi-lim selanjutnya tidak terdengar olehnya.

Suara wanita yang tajam semula tadi lantas berkata dengan gusar, “Mengapa kau ngotot terus? Memangnya surat selebaran ketua Hoa-san-pay adalah palsu? Gurunya telah menyebarkan surat edaran bahwa Lenghou Tiong telah dipecat karena bersekongkol dengan orang Mo-kau, apakah tuduhan ini adalah fitnahan? Kepergian kita ke Hokkian sekarang rasanya tidak-bisa-tidak mesti bertarung dengan pihak Mo-kau, maka setiap tindak tanduk kita harus dilakukan dengan hati-hati. Aku tahu dahulu kau pernah ditolong oleh Lenghou Tiong, tapi besar kemungkinan dengan sedikit budi kebaikan yang pernah dia berikan padamu itu akan digunakan olehnya untuk menjebak kita ….”

“Supek, kejadian itu bukan cuma sedikit budi kebaikan saja,” sela Gi-lim. “Tapi tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri Lenghou-suheng telah ….”

“Masih kau menyebutnya suheng?” bentak suara wanita yang pertama yang serak tua itu. “Dia memang pandai berpura-pura, adalah bajingan yang banyak tipu daya sehingga anak kecil seperti kau mudah tertipu.”

“Perintah Supek tentu saja Tecu patuhi,” sahut Gi-lim. “Cuma … cuma saja Lenghou-su ….” sebelum kata “heng” terucapkan telah ditelan kembali mentah-mentah.

“Cuma apa?” tanya suara tua tadi.

Gi-lim seperti sangat takut dan tidak berani bicara lagi.

Orang tua itu lantas berkata, “Sekali ini Ngo-gak-kiam-pay telah mendatangi Hokkian semua. Kita sama-sama mengetahui bertujuan mencari ‘Pi-sia-kiam-boh’ milik keluarga Lim di Hokciu itu. Bocah dari keluarga Lim sudah menjadi murid Gak-siansing dari Hoa-san-pay, jika kiam-boh itu sampai diperoleh pihak Hoa-san-pay sudah tentu kita ikut bersyukur. Hing-san-pay kita selamanya mengutamakan keadilan dan tidak sudi mengincar barang milik orang lain. Seumpama kiam-boh itu jatuh di tangan kita juga akan kita kembalikan kepada keluarga Lim. Yang hendak kita jaga adalah jangan sampai kitab pusaka itu jatuh di tangan kaum jahat sehingga disalahgunakan. Ciangbunjin telah memberikan tugas berat kepadaku untuk memimpin orang-orang kita ke Hokkian, urusan ini menyangkut kepentingan cing-pay kita, maka kita harus waspada dan akan kulaksanakan dengan sepenuh tenaga. Bila kiam-boh itu sampai jatuh di tangan Mo-kau sehingga menambah ilmu kepandaian mereka, maka celakalah pihak kita tentu. Kira-kira maju lagi 30 li akan sampai di tapal batas Hokkian dan Ciatkang, selanjutnya setiap langkah kita akan selalu menghadapi bahaya. Maka malam ini biarlah kita capek sedikit dan meneruskan perjalanan ke Ji-pek-poh. Untungnya Ho-hong Susiok dari Thay-san-pay sudah membunuh kawanan Mo-kau yang datang lebih dulu sehingga kita tidak perlu buang-buang tenaga lagi. Tapi kalau orang-orang Mo-kau menyusul tiba secara besar-besaran, tentu pertarungan sengit akan terjadi lagi.”

Terdengar suara beberapa puluh orang perempuan sama mengiakan.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Orang tua ini bukan ketua Hing-san-pay, juga bukan gurunya Gi-lim Sumoay, entah suthay tua mana dari Hing-san-pay mereka? Dia telah menerima surat edaran guruku dan menganggap aku sebagai orang jahat, hal ini juga tak bisa menyalahkan dia. Dia mengira rombongannya sudah mendahului jalan di depan, tak tahunya kalau orang-orang Mo-kau sudah sembunyi di atas bukit sana. Syukur aku memergoki kejadian ini, tapi cara bagaimana aku memberitahukan kepada mereka?”

Terdengar orang tua itu berkata pula, “Di pegunungan sunyi ini akan kuberi tahukan secara jelas kepada kalian. Harus diketahui, begitu kita memasuki wilayah Hokkian, maka di tiap tempat akan selalu berhadapan dengan musuh. Bukan mustahil pelayan restoran atau pesuruh hotel adalah mata-mata Mo-kau pula. Jangankan di sebelah kamar ada telinga, bahkan di tengah semak-semak rumput umpamanya juga mungkin ada musuh bersembunyi. Oleh karena itu, selanjutnya tiada seorang pun boleh menyebut ‘Pi-sia-kiam-boh’ segala, bahkan nama Gak-siansing, Lenghou Tiong, dan Tonghong Pit-pay juga tidak boleh disebut-sebut.”

Para murid wanita itu lantas sama mengiakan.

Kiranya ketua Mo-kau yaitu Tonghong Put-pay, karena ilmu silatnya mahasakti, maka menamakan dirinya “put-pay” (tak terkalahkan), tapi orang-orang cing-pay kalau menyebut namanya sengaja diubah menjadi “pit-pay” (pasti kalah). Hanya beda satu huruf saja, tapi artinya sama sekali terbalik.

Mendengar namanya sendiri disejajarkan dengan nama gurunya sendiri serta nama Tonghong Put-pay, tertampil senyuman getir di wajah Lenghou Tiong. Pikirnya, “Aku cuma seorang keroco yang tak berarti saja, mengapa sedemikian dihargai oleh para cianpwe Hing-san-pay kalian?”

Lalu terdengar orang tua tadi berkata lagi, “Marilah kita melanjutkan perjalanan!”

Kembali para murid mengiakan, menyusul tujuh murid wanita berlari cepat ke bawah dari tempat yang tinggi itu, selang sejenak kembali tujuh orang lari ke bawah pula.

Ginkang kaum Hing-san-pay cukup terkenal dan mempunyai keindahannya sendiri, maka barisan tujuh orang berturut-turut itu tampaknya menjadi sangat rapi. Tidak lama kemudian kembali tujuh orang berlari turun lagi. Murid-murid wanita itu bercampur aduk antara murid nikoh dan murid perempuan preman, di tengah malam gelap sukar juga diketahui Gi-lim ikut di dalam kelompok yang mana. Hanya diketahui semuanya menuju ke arah selatan.

Lenghou Tiong berpikir pula, “Para suci dan sumoay dari Hing-san-pay itu memiliki kepandaian tinggi, tapi begitu mendaki lereng bukit sana, di tengah jalan kecil yang diapit oleh tebing yang curam, bila mendadak disergap oleh kawanan Mo-kau, tentu keadaan tidak menguntungkan mereka dan akan menderita korban berat.”

Begitulah berturut-turut anak murid Hing-san-pay itu telah diberangkatkan, seluruh ada lima kelompok, pada kelompok terakhir berjumlah delapan orang, mungkin dipimpin sendiri oleh orang tua tadi.

Segera Lenghou Tiong mencabut segenggam rumput hijau dan dikucek-kucek supaya keluar airnya, lalu dipoles ke mukanya sendiri, kemudian ditempeli pula dengan debu tanah sehingga kotor, ia menduga sekalipun di waktu siang juga Gi-lim takkan mengenalnya. Lalu ia berlari memutar ke sebelah kiri jalanan terus mengejar ke depan.

Ginkang Lenghou Tiong sebenarnya tidak tinggi, namun sekarang dia memiliki tenaga dalam yang mahakuat, setiap langkah yang diayunkan sekenanya juga cukup lebar, apalagi sekarang ia berlari dengan bersemangat, maka hanya sekejap saja ia sudah dapat menyusul rombongan orang-orang Hing-san-pay. Khawatir jejaknya didengar oleh tokoh tua Hing-san-pay yang pasti berkepandaian tinggi itu, Lenghou Tiong sengaja memutar pula untuk kemudian mendahului di depan rombongan Hing-san-pay. Sesudah berada kembali di jalanan pegunungan itu, larinya menjadi lebih cepat lagi.

Sesudah lewat sekian lamanya, sang bulan sudah menghias di tengah cakrawala. Sampai di bawah tanah tanjakan Lenghou Tiong lantas berhenti dan mendengarkan dengan cermat, tapi tidak terdengar sesuatu suara apa pun. Pikirnya, “Jika aku tidak menyaksikan sendiri kawanan Mo-kau itu sembunyi di sekitar tanah tanjakan ini, siapa yang dapat mengirakan bahwa di tempat inilah tersembunyi bahaya maut yang setiap saat akan meletus.”

Perlahan-lahan Lenghou Tiong mendaki tanjakan yang diapit dinding tebing curam itu. Sampai di mulut jalan yang sempit, jaraknya dengan tempat sembunyi orang-orang Mo-kau ditaksir masih ada ratusan meter jauhnya. Segera ia duduk di situ sambil termenung, “Besar kemungkinan orang Mo-kau sudah melihat diriku, cuma khawatir sembunyi mereka diketahui pihak Hing-san-pay, rasanya mereka takkan mengganggu diriku.”

Sesudah menunggu sebentar, akhirnya ia merebahkan diri sekalian. Selang sejenak lagi, sayup-sayup terdengarlah suara tindakan orang di bawah sana. Tiba-tiba timbul pikiran Lenghou Tiong ingin memancing keluarnya orang-orang Mo-kau untuk bertempur agar diketahui oleh orang-orang Hing-san-pay.

Segera ia menggumam sendiri, “Huh, selama hidupku paling benci kepada pengecut-pengecut yang pintarnya menyerang secara menggelap. Kalau benar berani kenapa tidak bertempur secara terang-terangan untuk menentukan mati atau hidup? Huh, main sembunyi-sembunyi untuk membikin celaka orang lain, ini benar-benar perbuatan manusia rendah yang tidak tahu malu.”

Dia bicara menghadap ke atas bukit dengan menggunakan tenaga dalam, meski suaranya tidak begitu keras, tapi dapat berkumandang jauh dan diduga akan terdengar jelas oleh orang-orang Mo-kau.

Tak tersangka orang-orang itu ternyata cukup sabar dan dapat menahan perasaan tanpa gubris caci maki Lenghou Tiong itu. Tidak lama kemudian, tujuh murid Hing-san-pay kelompok pertama sudah sampai di depan Lenghou Tiong.

Di bawah sinar bulan dapatlah murid-murid Hing-san-pay itu melihat seorang perwira tentara tidur telentang di atas tanah itu. Padahal jalan pegunungan itu sangat sempit dan cuma cukup dilalui seorang saja, kedua samping adalah dinding tebing yang curam, untuk menanjak ke atas harus melangkahi dulu badan sang “perwira”.

Sebenarnya dengan suatu lompatan saja dengan gampang murid-murid Hing-san-pay itu sudah bisa lalu, cuma kaum wanita adalah tidak pantas melompat lewat di atas kepala kaum pria, betapa pun hal ini tidak sopan.

Maka seorang nikoh setengah umur di antaranya lantas berkata, “Maaf, tolong Tuan komandan suka memberi jalan!”

Lenghou Tiong sengaja bersuara “ah-uh” tak jelas, habis itu mendadak timbul suara mengoroknya dengan keras.

Nikoh setengah umur itu bergelar Gi-ho, wataknya rada berangasan. Ketika melihat seorang perwira tidur mengadang di tengah jalan di tengah malam buta, bahkan suara mengoroknya itu jelas sengaja dibuat-buat, keruan ia sangat mendongkol. Tapi sedapat mungkin ia menahan gusarnya dan bicara pula, “Jika kau tidak mau menyingkir, terpaksa kami akan melangkah di atas badanmu.”

Sembari masih mengorok, Lenghou Tiong sengaja menggumam pula seperti mengigau, “Jalanan ini sangat banyak setan iblisnya, janganlah lalu ke sana. Oooh, lautan derita tiada batasnya, kembalilah masih bisa menepi.”

Gi-ho melengak, ucapan orang itu seakan-akan bermakna ganda. Seperti omongan orang sinting, tapi seolah-olah bermaksud memperingatkannya akan bahaya di depan sana.

Seorang nikoh lebih muda lantas tarik lengan baju Gi-ho, ketujuh orang sama mundur beberapa tindak. Seorang lantas bicara dengan suara bisik-bisik, “Suci, tampaknya orang ini rada-rada tidak beres.”

“Ya, mungkin dia adalah orang Mo-kau yang hendak menyergap kita di sini,” ujar yang lain.

Tapi seorang lagi lantas menanggapi, “Tidak, kukira orang Mo-kau takkan menjadi perwira kerajaan. Andaikan sengaja menyamar juga akan menyaru dalam bentuk lain.”

“Tak perlu gubris padanya,” kata Gi-ho akhirnya. “Jika dia tetap tidak mau menyingkir segera kita melompati dia.”

Lalu ia melangkah maju dan membentak, “Jika kau tetap tidak menyingkir, terpaksa kami akan berlaku kurang hormat.”

Baru sekarang Lenghou Tiong pura-pura mendusin, lalu merangkak bangun berduduk sambil mengolet kemalas-malasan. Khawatir Gi-lim mengenalnya, ia sengaja duduk menghadap ke atas bukit dan membelakangi anak murid Hing-san-pay itu. Dengan sebelah tangan menahan dinding tebing, badannya pura-pura sempoyongan kayak orang mabuk sembari berseru, “Arak enak, arak bagus!”

Pada saat itu pula anak murid Hing-san-pay kelompok kedua juga sudah tiba. Seorang murid dari keluarga preman lantas tanya, “Gi-ho Suci, apa yang dilakukan orang ini di sini?”

“Entah, kenal saja tidak!” ujar Gi-ho sambil mengerut dahi.

Tiba-tiba Lenghou Tiong berseru, “Tadi baru saja sembelih seekor anjing, perutku menjadi kembung saking kenyang, terlalu banyak pula menenggak arak, wah, mungkin aku ingin muntah-muntah. Ai, celaka, benar-benar akan muntah!”

Lalu ia sengaja mengeluarkan suara “Aooh! Aouuuh!” seperti orang hendak tumpah.

Murid-murid perempuan Hing-san-pay itu dasarnya memang suka akan kebersihan, sesudah menjadi murid Hing-san-pay mereka tidak pernah minum arak dan makan daging pula, apalagi daging anjing. Keruan mereka sama mendekap hidung dan menyingkir mundur demi mendengar ocehan Lenghou Tiong tadi.

Meski mulutnya menguak berulang-ulang, tapi tiada sesuatu yang ditumpahkan oleh Lenghou Tiong.

Selagi murid-murid Hing-san-pay itu bisik-bisik membicarakan kelakuan Lenghou Tiong itu, dalam pada itu rombongan ketiga juga sudah tiba pula. Segera terdengar seorang di antaranya berkata dengan suara lemah lembut, “Orang ini sedang mabuk, sungguh harus dikasihani. Biarlah dia mengaso sebentar barulah kita lewat ke sana.”

Mendengar suara itu, hati Lenghou Tiong rada tergetar, pikirnya, “Hati Gi-lim Sumoay benar-benar welas asih.”

Tapi terdengar Gi-ho telah berkata, “Orang ini sengaja mengacau di sini, agaknya tidak bermaksud baik.”

Habis itu ia lantas melangkah maju dan membentak, “Lekas menyingkir!”

Berbareng itu pundak kanan Lenghou Tiong lantas didorong.

Lenghou Tiong pura-pura tergeliat sambil berseru, “Ai, celaka!”

Tubuhnya lantas terhuyung-huyung ke depan sehingga jalan pegunungan yang sempit itu semakin tersumbat. Untuk bisa lalu Gi-ho dan rombongannya harus melompat melintasi kepala Lenghou Tiong, lain jalan tidak ada.

Gi-ho menyusul maju dan membentak lagi, “Minggir!”

“Baik, baik!” sahut Lenghou Tiong sembari melangkah ke atas beberapa tindak. Semakin jalan semakin menanjak ke atas sehingga jalanan sempit itu semakin tertutup rapat. Mendadak ia berteriak, “Hai, kawan-kawan yang sembunyi di atas itu, awas, orang-orang yang kalian tunggu-tunggu sekarang sudah mulai naik ke atas, begitu diterjang tentu tiada satu pun bisa lolos!”

Mendengar teriakan Lenghou Tiong itu, cepat Gi-ho dan teman-temannya melangkah mundur. Seorang di antaranya berkata, “Tempat ini memang sangat berbahaya, jika musuh sembunyi di sini dan menyergap secara mendadak memang sukar untuk ditahan.”

“Jika benar ada orang sembunyi di sini masakah dia berteriak-teriak demikian?” ujar Gi-ho. “Kukira dia cuma menggertak sambal belaka, tentu di atas tidak ada orang. Bila kita perlihatkan rasa takut tentu akan ditertawai musuh.”

“Memang,” tukas dua nikoh setengah umur yang lain. “Marilah kita bertiga membuka jalan di depan, biarkan para sumoay menyusul dari belakang.”

Begitulah mereka lantas melolos pedang, segera mereka mendekati Lenghou Tiong pula.

Lenghou Tiong pura-pura megap-megap napasnya dan berkata, “Wah, terjal benar bukit ini, sudah tua, tidak kuat lagi.”

Seorang nikoh itu lantas membentak, “He, silakan kau minggir agar kami bisa lewat dulu.”

“Ai, orang beragama janganlah suka marah-marah. Cepat atau lambat akhirnya toh akan sampai juga di tempat tujuan. Ai, kalau pergi ke akhirat kan lebih baik perlahan sedikit.”

“Kurang ajar, kenapa kau memaki orang?” kata nikoh tadi sembari menusukkan pedangnya ke punggung Lenghou Tiong dari samping Gi-ho.

Tujuannya hanya untuk menggertak Lenghou Tiong agar dia mau menyingkir, maka ketika pedangnya hampir mencapai tubuhnya segera ia tahan pedang dan tidak diteruskan.

Kebetulan pada saat yang sama Lenghou Tiong telah putar tubuh, ketika melihat sebatang pedang mengacung tepat di depan dadanya, mendadak ia membentak, “Ai, kau … kau mau apa? Aku adalah pembesar kerajaan, kau berani berbuat kurang ajar padaku? Hayo prajurit, tangkap nikoh ini!”

Tapi biarpun dia membentak dan berteriak memberi aba-aba, sudah tentu di pegunungan sunyi itu tiada orang menggubrisnya. Malahan beberapa nikoh muda menjadi cekikikan geli. Mereka merasa lucu akan sikap Lenghou Tiong yang berlagak seperti tuan besar itu.

“Tuan komandan, kami ada urusan penting harus buru-buru berangkat, sudilah kau minggir dulu memberi jalan,” demikian seorang nikoh membujuk lagi dengan tertawa.

“Komandan apa segala? Aku adalah panglima, kau harus panggil jenderal padaku, tahu?” bentak Lenghou Tiong.

Dengan tertawa-tawa beberapa nikoh lantas memanggil berbareng, “Baiklah, Jenderal, mohon engkau suka memberi jalan!”

Lenghou Tiong bergelak tertawa sembari membusungkan tiada, lagaknya seperti dunia ini dia kuasa. Tapi mendadak sebelah kakinya terpeleset, badannya terus terperosot jatuh.

Nikoh-nikoh muda itu sama menjerit khawatir. Dua di antaranya lantas memburu maju untuk memegangi lengan Lenghou Tiong. Lenghou Tiong pura-pura terpeleset sekali lagi, habis itu baru berdiri tegak sambil memaki, “Mak … begini licin tanah ini. Pembesar setempat benar-benar tak becus semua, masakah jalanan kecil seburuk ini tidak pernah diperbaiki.”

Karena terpeleset dan jatuhnya itu, waktu berdiri lagi badannya sudah menyandar pada dinding tebing yang lekuk, kesempatan itu segera digunakan oleh murid-murid Hing-san-pay untuk melompat lewat dengan ginkang masing-masing dan terus berlari ke atas.

Ketika sesosok tubuh yang ramping melayang lewat, itulah Gi-lim adanya. Cepat Lenghou Tiong lantas mengintil di belakangnya. Dengan demikian orang-orang yang masih berada di belakang menjadi terhalang lagi.

Melihat langkah Lenghou Tiong sangat kaku, napasnya terengah-engah pula, dua tindak tiga kali jatuh, jalan setengah merangkak, tapi cukup cepat juga, maka murid-murid Hing-san-pay yang berada di belakangnya sama geli dan mengomel pula, “Ai, jenderal kok begini … jatuh berapa kali sih setiap harinya?”

“Jangan kau mendesak-desak jenderal, Gi-jing Suci,” kata Gi-lim sambil menoleh. “Jika terburu-buru nanti beliau benar-benar akan jatuh tergelincir ke bawah.”

Melihat sepasang mata Gi-lim yang besar dan bening dengan wajah yang ayu itu, Lenghou Tiong jadi terkenang kejadian dahulu ketika menghindari pengejaran orang-orang Jing-sia-pay di Kota Heng-san. Gi-lim telah memondongnya melarikan diri dari kota itu, tatkala itu dirinya pernah juga memandang muka yang molek itu dengan kesima. Maka sekarang mendadak timbul juga rasa kasihnya, pikirnya kalau musuh yang sembunyi di atas itu sampai menyerbu keluar, betapa pun aku harus melindungi keselamatan Gi-lim Sumoay.

Dalam pada itu kelompok-kelompok Hing-san-pay di bagian belakang berturut-turut sudah sampai di kaki bukit, sedang kelompok paling depan juga hampir mencapai atas bukit sana.

Lenghou Tiong sengaja berteriak-teriak lagi, “He, he! Awas! Di atas sana banyak bersembunyi kaum pencoleng, hati-hati jangan sampai sedikit sangu yang kalian bawa itu dirampok oleh mereka!”

“Ada jenderal kita di sini, kenapa kita mesti takut!” ujar Gi-jing dengan tertawa.

“He, awas, seperti ada orang melongak-longok di atas sana!” teriak Lenghou Tiong.

Seorang murid muda lantas mengomel, “Jenderal ini memang rewel, masakah kami takut kepada beberapa kaum pencoleng begituan?”

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar jeritan dua murid wanita yang lain dan terus terperosot ke bawah. Cepat dua temannya memburu maju untuk membangunkan mereka.

Beberapa orang di depan lantas berseru, “Awas, kawanan bangsat melepaskan senjata rahasia!”

Belum habis ucapannya kembali ada seorang terguling ke bawah lagi.

“Berjongkok semua, awas senjata rahasia musuh!” seru Gi-ho. Serentak mereka sama mendakkan tubuh.

Lenghou Tiong lantas memaki, “Bangsat kurang ajar, apa kalian tidak tahu ada jenderal di sini?”

Gi-lim tarik-tarik tangannya sambil berkata khawatir, “Lekas berjongkok, lekas!”

Beberapa murid wanita di depan sana lantas balas menghamburkan senjata rahasia, tapi musuh sembunyi di balik batu-batu padas, seorang pun tidak kelihatan, sudah tentu serangan mereka tidak mengenai sasarannya.

Nikoh tua yang memimpin rombongan Hing-san-pay itu adalah Ting-cing Suthay. Ketika mendengar jejak musuh diketemukan di bagian depan, segera ia memburu maju dengan melompati kepala anak murid wanita itu. Sampai di belakang Lenghou Tiong, secepat burung ia lantas melayang lewat pula di atas kepalanya.

Keruan Lenghou Tiong berteriak-teriak, “Wah, sebal, sial!” Lalu ia berludah beberapa kali.

Tertampak Ting-cing Suthay terus menyerbu ke atas di bawah berhamburnya senjata rahasia musuh, senjata-senjata rahasia itu ada yang menancap di lengan bajunya yang gondrong longgar itu, ada yang disampuk jatuh pula. Hanya beberapa kali loncatan lagi Ting-cing Suthay sudah sampai di atas bukit.

Tapi baru saja sebelah kakinya hendak melangkah ke atas, sekonyong-konyong angin keras menyambar tiba. Sebatang toya tembaga telah mengemplang ke atas kepalanya. Dari suara angin yang menderu itu dapatlah diketahui toya itu pasti sangat berat.

Ting-cing Suthay tidak berani menangkis begitu saja, cepat ia berkelit dan menggeser ke samping. Tapi tahu-tahu dua tombak berantai lantas menusuknya pula dari atas dan bawah. Ternyata penyerangnya adalah seorang ahli tombak yang lihai.

“Pengecut!” bentak Ting-cing Suthay sambil cabut pedangnya, sekali tangkis sepasang tombak lawan kena disampuk ke samping. Tapi toya tadi lagi-lagi menyerampang ke pinggangnya. Kiranya ada tiga musuh lihai yang menyergapnya di ujung jalan situ sehingga Ting-cing tidak sempat mencapai puncak bukit.

Meski satu lawan tiga, namun Ting-cing Suthay tetap tabah. Ketika pedangnya menempel toya musuh, sekalian ia terus menebas ke bawah. Tapi sebuah tombak lawan tahu-tahu juga menusuk ke pundaknya.

Dalam pada itu di bawah sana ramai dengan jerit khawatir murid-murid Hing-san-pay, menyusul terdengarlah suara gemuruh, ternyata musuh sudah memanjat ke atas tebing dan dari situ mereka menjatuhkan batu-batu besar.

Terimpit di jalan pegunungan yang sempit itu, terpaksa murid-murid Hing-san-pay itu berlompatan kian-kemari untuk menghindari tumbukan batu-batu besar. Untung murid Hing-san-pay yang dikerahkan ke Hokkian ini adalah jago-jago pilihan semua dengan ginkang yang tinggi, namun demikian tidak urung beberapa orang terluka juga keserempet batu-batu itu.

Mendengar jeritan anak muridnya, Ting-cing Suthay lantas mundur dua tindak dan berseru, “Putar balik, turun dulu ke bawah!”

Segera ia mengadang di belakang untuk menahan kejaran musuh.

Tapi suara gemuruh masih terus terdengar, batu-batu besar dijatuhkan terus oleh musuh dari atas tebing. Menyusul terdengar suara benturan senjata yang ramai, kiranya di kaki bukit juga ada musuh, mereka menunggu rombongan Hing-san-pay sudah memasuki jalanan sempit dan mendaki ke atas bukit, begitu teman di atas bertindak, lalu mereka muncul dari tempat sembunyi untuk menyumbat jalan mundur orang-orang Hing-san-pay.

Segera Ting-cing Suthay mendapat laporan dari bagian bawah bahwa musuh yang mencegat di bawah itu sangat lihai, sukar menerjang ke bawah. Bahkan sejenak kemudian laporan datang lagi mengatakan dua teman telah terluka.

Ting-cing menjadi gusar, secepat terbang ia lari ke bawah. Dilihatnya dua laki-laki baju hijau dengan golok sedang menyerang, dua murid wanita tampak terdesak mundur. Sembari membentak Ting-cing terus melayang ke bawah dengan tusukan pedang.

Tapi mendadak dari bawah dua buah gandin berantai menghantam mukanya. Terpaksa Ting-cing menangkis dengan pedangnya, sebuah gandin yang lain mendadak mencelat ke atas untuk kemudian lantas menghantam ke bawah.

Keruan Ting-cing terkejut dan mengakui betapa hebat tenaga lawan. Sebab gandin itu masing-masing sedikitnya adalah 20-an kati. Tapi orang itu dapat memainkan gandin seberat itu dari jauh dengan melalui rantai yang lemas, maka dapatlah dibayangkan kekuatan lengannya itu.

Jika di tanah datar Ting-cing Suthay tentu tidak sukar untuk melayani serangan-serangan demikian, tapi di tengah jalan sedemikian sempit, selain berhadapan dari satu jurusan tiada jalan lain lagi. Padahal sepasang gandin lawan itu diputar sedemikian rapatnya dan menghantam berulang-ulang, percuma saja Ting-cing memiliki ilmu pedang yang tinggi, terpaksa ia main mundur ke atas bukit lagi.

Tiba-tiba terdengar suara mengaduh di atas, kembali beberapa murid wanita terguling ke bawah karena kena senjata rahasia musuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: