Hina Kelana: Bab 76. Lenghou Tiong Menjadi Perwira Gadungan

“Apakah Kaucu masih ingat satu kalimat yang diucapkan Siocia pada malam perayaan Pek-cun dalam tahun perebutan kekuasaan Tonghong Put-pay itu??” tanya Bun-thian.

“Hari Pek-cun? Apa yang telah diucapkan si Ing-ing kecil? Apa sangkut pautnya dengan Tonghong Put-pay, aku sudah tidak ingat lagi,” sahut Yim Ngo-heng.

“Janganlah Kaucu menganggap Siocia (tuan putri) masih anak kecil, tapi dia cukup pintar dan cerdik, betapa teliti pikirannya tidak kalah daripada orang dewasa,” ujar Bun-thian. “Tahun itu kalau tidak salah Siocia baru berumur delapan tahun. Di tengah perjamuan ia telah menghitung-hitung yang hadir dan mendadak tanya kepada Kaucu, ‘Ayah, mengapa setiap tahun hari Pek-cun dalam perjamuan setiap tahun selalu berkurang satu orang?’

“Waktu itu Kaucu tercengang dan menjawab, ‘Setiap tahun berkurang satu orang bagaimana?’

“Lalu Siocia berkata, ‘Aku masih ingat tahun yang lalu yang hadir dalam perjamuan demikian ada sepuluh orang, dua tahun yang lalu adalah sebelas orang dan tiga tahun yang lalu ada 12 orang. Tapi tahun ini, satu, dua, tiga, empat, lima … cuma tinggal kita bersembilan orang saja.’”

“Ya, tatkala itu aku pun merasa masygul sesudah mendengar ucapan si Ing-ing cilik itu,” ujar Yim Ngo-heng dengan menghela napas. “Setahun sebelumnya Tonghong Put-pay memang telah menghukum mati Cik-hiante, satu tahun sebelumnya lagi Khu-tianglo telah mati di Kamsiok tanpa diketahui apa sebabnya, kalau dipikir sekarang tentunya juga tipu keji yang telah diatur Tonghong Put-pay. Dan lagi setahun sebelumnya Bun-tianglo telah dipecat, akibatnya ia pun binasa dikerubut oleh jago-jago Hoa-san-pay, Heng-san-pay, dan lain-lain, sebab musababnya dengan sendirinya juga karena perbuatan Tonghong Put-pay. Ai, kata-kata yang diucapkan oleh anak kecil sebagai si Ing-ing cilik tanpa sengaja itu ternyata tidak menyadarkan aku pada waktu itu.”

Setelah merandek sejenak dan minum arak seceguk, lalu sambungnya pula, “Terus terang, Hiang-hiante, tatkala mana latihan ilmuku Gip-sing-tay-hoat meski sudah lebih dari sepuluh tahun, ilmu saktiku itu pun sudah cukup ternama di dunia Kangouw sehingga sangat ditakuti orang-orang yang menamakan dirinya dari cing-pay. Akan tetapi aku sendiri mengetahui ilmu saktiku itu masih ada beberapa kekurangan, kalau aku tidak lekas memperbaikinya tentu kelak akan membawa bencana bagiku, tenaga-tenaga yang kusedot dari orang lain akan mendadak menggempur badanku malah. Tatkala itu di dalam badanku sudah terdapat tenaga dalam lebih 20 tokoh silat kelas wahid yang berbeda-beda, agar tidak membahayakan diriku sendiri, aku harus berusaha melebur puluhan macam tenaga dalam itu menjadi satu sehingga dapat kugunakan dengan leluasa. Tahun itu, sebabnya aku tenggelam dalam pikiranku sendiri adalah persoalan yang kukhawatirkan ini. Karena itu pula apa yang diucapkan si Ing-ing cilik di tengah perjamuan Pek-cun itu dengan cepat telah kulupakan.”

“Pantas, makanya hamba sangat heran, biasanya Kaucu sangat gesit menghadapi segala persoalan, mengapa terhadap tipu muslihat Tonghong Put-pay itu tidak merasakan apa-apa, bahkan kelihatannya rada-rada limbung,” kata Hiang Bun-thian. “Setelah mendengar ucapan Siocia itu, kulihat wajah Tonghong Put-pay menunjukkan rasa kurang senang meski dia pura-pura bersenyum simpul dan berkata, ‘Rupanya Siocia suka keramaian. Jika demikian lain tahun kita mengundang banyak hadirin untuk ikut perjamuan ini ya?’

“Mungkin waktu itu ia mengira Kaucu telah mempunyai pendirian yang tetap dan pura-pura tidak tahu untuk mencoba dia. Maklumlah ia cukup kenal kecerdasan Kaucu, ia menduga hal yang terang gamblang itu mustahil tidak menimbulkan kecurigaan Kaucu.”

“Ya, sesudah kau ingatkan, lapat-lapat aku menjadi ingat memang si Ing-ing cilik pernah berkata demikian pada waktu itu,” ujar Yim Ngo-heng.

“Pula, mungkin Tonghong Put-pay melihat Siocia sudah mulai besar dan tambah pintar, bilamana Siocia sudah dewasa bukan tidak mungkin Kaucu mengangkatnya sebagai ahli waris. Makanya Tonghong Put-pay tidak sabar menunggu lebih lama lagi dan lebih suka mengambil risiko dengan bertindak lebih dahulu dengan kekerasan.”

Yim Ngo-heng manggut-manggut, katanya dengan terharu, “Ya, jika saat ini si Ing-ing cilik berada di sini, kita menjadi bertambah dengan seorang kawan lagi dan takkan kekurangan tenaga.”

“Adik cilik,” Hiang Bun-thian berpaling kepada Lenghou Tiong, “tadi Kaucu telah mengatakan bahwa di dalam Gip-sing-tay-hoatnya terdapat beberapa kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan. Tapi aku yakin selama terkurung 12 tahun di dalam penjara, meski cukup menderita, namun Kaucu menjadi sempat mencurahkan segenap pikirannya untuk menyelami kelemahan ilmunya itu dan akhirnya dapatlah dipecahkan semua kesulitan dalam ilmu saktinya itu. Betul tidak, Kaucu?”

Sambil meraba-raba jenggotnya yang hitam itu Yim Ngo-heng tertawa senang, katanya, “Memang betul. Selanjutnya tenaga murni siapa pun yang kusedot akan dapat kupergunakan semua dan tidak perlu khawatir digemparkan kembali oleh hawa-hawa murni aneh yang kuhimpun. Hahaha, Lenghou-hengte, coba kau menarik napas panjang-panjang, bukankah hiat-to di bagian belakang kepala dan di depan dada terasa bergolaknya hawa murni yang melonjak-lonjak dengan keras?”

Lenghou Tiong menarik napas panjang seperti apa yang dikatakan, benar juga dirasakan hiat-to yang disebut itu ada hawa murni yang melonjak-lonjak. Seketika berubahlah air mukanya.

Segera Yim Ngo-heng berkata lagi, “Kau baru saja belajar sehingga belum begitu merasakan bergolaknya hawa murni itu. Tapi dahulu aku sendiri hampir-hampir tak tahan melawan gempuran hawa murni yang membalik itu. Lantaran itu pula maka Tonghong Put-pay berhasil melaksanakan pengkhianatannya.”

Lenghou Tiong percaya apa yang dikatakan Yim Ngo-heng itu memang bukan omong kosong, pula diketahui sebabnya Hiang Bun-thian sengaja mengatakan hal demikian itu, maksudnya ialah supaya dirinya mau mohon petunjuk kepada Yim Ngo-heng. Tapi kalau dirinya tidak mau masuk Tiau-yang-sin-kau, dengan sendirinya permohonan demikian sukar untuk diucapkan. Pikirnya, “Khasiat Gip-sing-tay-hoat adalah mengisap tenaga orang lain untuk memupuk kekuatan sendiri. Ilmu demikian terlalu keji dan mementingkan diri sendiri, sekali-kali aku tidak mau meyakinkannya, selanjutnya juga takkan kugunakan. Tentang hawa murni aneh dalam tubuhku yang sukar dilenyapkan memang sebelumnya datang ke sini sudah demikian adanya, jiwaku ini memangnya seperti diketemukan kembali secara kebetulan. Sebagai seorang laki-laki sejati mana boleh aku takut mati dan mengingkari cita-citaku selama ini?”

Karena pikiran demikian, segera ia membelokkan pokok pembicaraan, katanya, “Kaucu, ada sesuatu yang Cayhe ingin minta penjelasan. Menurut cerita suhuku, katanya Kui-hoa-po-tian itu adalah kitab pusaka yang tiada taranya dalam ilmu silat. Bila berhasil meyakinkan ilmu silat dalam kitab pusaka itu, selain tiada tandingannya di dunia, bahkan bisa panjang umur dan awet muda, Mengapa … mengapa Kaucu tidak mau meyakinkan ilmu sakti di dalam kitab pusaka itu, sebaliknya malah … malah berlatih Gip-sing-tay-hoat yang ganas dan membahayakan itu?”

“Sebab musabab tentang ini tentunya tak boleh diceritakan kepada orang luar,” sahut Yim Ngo-heng dengan tertawa hambar.

“O, maaf kesembronoanku,” ujar Lenghou Tiong dengan muka merah, sebab ia merasa dirinya adalah orang luar dan tidak pantas tanya lebih lanjut.

Mendadak Hiang Bun-thian berdiri dan berseru dengan suara lantang, “Adik cilik, usia Kaucu sudah lanjut, umur toakomu ini pun beda tidak seberapa tahun dari beliau. Jika kau mau masuk agama kita, kelak ahli waris Kaucu tiada orang lain kecuali kau sendiri. Seumpama kau anggap nama Tiau-yang-sin-kau kurang baik, apakah kelak kau tak bisa memperbaikinya bilamana kau sudah pegang pimpinan demi kebahagiaan sesama umat di dunia ini?”

Sampai di sini ia menggabrukkan cawan araknya ke atas meja, lalu menuangi secawan penuh kemudian berkata lagi, “Selama beberapa ratus tahun Tiau-yang-sin-kau kita selalu bermusuhan dengan golongan yang menamakan dirinya cing-pay. Jika kau tidak sudi masuk agama kita, penyakitmu tentu tidak bisa sembuh, jiwamu setiap saat bisa melayang, andaikan dapat hidup lebih lama juga mungkin gurumu, ibu-gurumu dan orang-orang Hoa-san-pay sendiri … Hehe, dengan ilmu sakti yang dimiliki Kaucu sekarang, untuk menumpas segenap orang Hoa-san-pay sehingga lenyap dari dunia persilatan rasanya juga bukan bualan belaka. Sebagai saudara angkat jika kau mau terima nasihatku, silakan habiskan secawan ini.”

Ucapan Hiang Bun-thian ini memang betul dan masuk di akal, tapi juga mengandung ancaman dan pancingan dengan kedudukan sehingga mau tak mau Lenghou Tiong dipaksa harus masuk menjadi anggota Mo-kau.

Namun darah panas Lenghou. Tiong seketika tersirap, serunya dengan lantang, “Toako, Kaucu, tanpa sengaja aku telah mempelajari ilmu silat Kaucu, ilmu ini bilamana selanjutnya tak bisa kulupakan, selama aku masih hidup tentu juga takkan kugunakan terhadap orang lain. Hoa-san-pay telah berdiri selama beberapa ratus tahun dan tentu mempunyai cara hidupnya sendiri, orang lain belum tentu mampu sekaligus menumpasnya begitu saja. Adapun mengenai jiwaku ini memangnya sudah tidak kupandang penting lagi, mati atau hidup sudah suratan takdir, boleh pasrah saja kepada Yang Mahakuasa. Hanya sekianlah ucapanku, sampai berjumpa pula kelak.”

Habis berkata ia terus berangkat dan memberi salam perpisahan kepada Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian, lalu melangkah pergi. Hiang Bun-thian bermaksud bicara lagi, namun dengan cepat Lenghou Tiong sudah pergi jauh.

Keluar dari Bwe-cheng, Lenghou Tiong tarik napas panjang-panjang, tertiup oleh angin malam, segar rasa badannya. Dilihatnya bulan sabit menghias di tengah cakrawala, air telaga di kejauhan membayangkan bulan sabit itu dengan awan putih di sekelilingnya. Pemandangan alam di daerah Kanglam jelas berbeda sama sekali dengan pemandangan pegunungan di atas Hoa-san.

Lenghou Tiong menuju ke tepi telaga, ia berdiri termenung sejenak di situ, pikirnya, “Urusan penting yang dihadapi Yim-kaucu sekarang tentunya membikin perhitungan dulu dengan Tonghong Put-pay untuk merebut kembali kedudukan kaucu, dengan sendirinya ia belum sempat mencari perkara kepada Hoa-san-pay. Tapi kalau suhu, sunio dan para sute atau sumoay yang tidak tahu seluk-beluk ini sampai kepergok dengan dia, maka mereka pasti akan celaka. Aku harus berusaha memberitahukan mereka selekasnya agar mereka bisa siap-siap dan berlaku waspada.”

Hatinya menjadi pedih bilamana teringat suhunya telah mengumumkan kepada seluruh orang bu-lim tentang pemecatannya dari Hoa-san-pay. Tapi guru dan ibu-guru telah membesarkannya seperti ayah-ibu kandung sendiri, maka ia harus merasa duka dan tidak menaruh dendam atau benci. Pikirnya pula, “Kalau nanti aku menuturkan kepada suhu tentang aku hendak dipaksa masuk Mo-kau oleh Yim-kaucu, tentunya suhu akan dapat memahami diriku yang tidak sengaja bergaul dengan orang-orang Mo-kau, bisa jadi beliau akan terus menarik kembali keputusannya dan menerima aku kembali, paling-paling aku akan dihukum kurung di atas ‘Puncak Perenung Dosa’ selama tiga tahun saja.”

Karena ada harapan akan diterima kembali oleh gurunya, semangat Lenghou Tiong lantas terbangkit, ia pikir Hok-wi-piaukiok milik keluarga Lim-sute-nya mungkin ada kantor cabangnya di Kota Hangciu, biarlah ke sana aku akan mencari berita tentang suhu.

Begitulah ia lantas pulang ke hotel dengan melompati pagar tembok tanpa diketahui siapa pun juga. Ketika ia hendak tidur, sementara itu sudah ramai suara ayam jago berkokok, fajar sudah hampir menyingsing.

Ketika ia mendusin hari sudah tengah hari. Ia pikir sebelum bertemu dengan gurunya lebih baik jangan memperlihatkan muka aslinya. Apalagi Ing-ing pernah memerintahkan Coh Jian-jiu dan lain-lain supaya menyiarkan berita di Kangouw bahwa jiwanya akan dihabiskan. Maka ada lebih baik menyamar saja agar tidak mendatangkan kesulitan. Tapi sebaiknya menyamar apakah?

Sembari melamun ia terus berjalan keluar kamar. Baru saja sampai di tengah chimce (pelataran di dalam rumah), mendadak ada orang mengguyurkan satu baskom air ke arahnya.

Tapi betapa gesit dan cepat gerakan Lenghou Tiong sekarang, seketika ia meloncat ke pinggir sehingga air baskom itu mengenai tempat kosong.

Waktu berpaling, dilihatnya seorang perwira tentara memegangi sebuah baskom cuci muka sedang melotot kepadanya, bahkan terus mengomel dengan kasar, “Jalan saja tidak bawa mata, apa tidak tahu tuan besar sedang membuang air kotor?”

Sungguh tidak kepalang gusar Lenghou Tiong, mana di dunia ada orang kasar sedemikian, sudah hampir mengguyur orang dengan air busuk malahan mendahului memaki orang pula. Dilihatnya usia perwira itu sekira 40-an tahun, wajahnya rada kereng dan sikapnya gagah, dari pakaian seragamnya dapat diduga mungkin berpangkat perwira menengah.

“Lihat apa? Apakah tidak kenal pada tuan besarmu?” demikian perwira itu membentak pula.

Mendadak Lenghou Tiong mendapat akal, ia pikir menarik juga jika aku menyaru sebagai perwira ini, dengan demikian aku dapat kian-kemari di Kangouw dengan bebas, orang bu-lim mana yang mengira akan penyamaranku ini?

“Nenekmu, tertawa apa? Apanya yang lucu?” begitu lagi perwira itu membentak.

Kiranya Lenghou Tiong menjadi senang ketika membayangkan penyamarannya sebagai si perwira nanti sehingga tanpa terasa wajahnya tersenyum simpul.

Namun ia tidak menggubris lebih jauh, ia datang kepada pengurus hotel untuk membayar rekeningnya. Sekalian ia bertanya dengan suara perlahan, “Dari manakah perwira garang itu?”

“Siapa tahu dia dari mana?” jawab pengurus hotel itu dengan murung. “Dia mengaku datang dari kota raja. Baru tinggal satu malam di sini pelayan yang meladeni dia sudah mendapat persen tiga kali tamparan. Sudah banyak daharan yang dia makan, entah nanti dia membayar atau tidak.”

Lenghou Tiong manggut-manggut dan tidak memberi komentar apa-apa. Ia keluar dari hotel itu dan masuk sebuah kedai minum yang berdekatan, ia pesan teh dan minum dengan perlahan. Sesudah menunggu sekian lamanya, terdengarlah suara berdetaknya kaki kuda, perwira itu telah keluar dari hotel dengan menunggang seekor kuda merah, pecutnya telah diayun-ayunkan sehingga menerbitkan suara petasan, mulutnya lantas membentak-bentak pula, “Minggir, minggir! Neneknya, hayo lekas minggir!”

Beberapa orang yang sedikit terlambat menyingkir telah kena pecutnya sehingga berteriak-teriak kesakitan.

Lenghou Tiong sudah membayar uang minum sejak tadi, segera ia lantas berbangkit mengikut di belakang kuda perwira itu.

Perwira itu terus melarikan kudanya ke jalan raya pintu gerbang barat, sesudah keluar kota, kira-kira beberapa li jauhnya, jalanan sudah mulai sepi, segera Lenghou Tiong mempercepat langkahnya dan menyerobot ke depan kuda sembari mengebaskan sebelah tangannya.

Keruan kuda perwira itu terkejut dan meringkik sambil berjingkrak ke atas, hampir-hampir saja perwira itu jatuh terbanting. Untung kepandaian menunggang kudanya cukup mahir sehingga badannya ikut menegak dengan masih tetap menginjak di atas pelana.

“Nenekmu, jalan saja tidak bawa mata? Hampir saja binatang ini menubruk mati diriku,” demikian Lenghou Tiong lantas membentak.

Seumpama Lenghou Tiong tidak buka suara saja perwira itu pun sudah murka, apalagi dia pakai memaki segala, keruan perwira itu tambah gusar, begitu kudanya sudah tenang kembali, “tarrr”, kontan pecutnya menyabet ke atas kepala Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong merasa kurang leluasa bertindak di tengah jalan raya, segera ia pura-pura menjerit takut terus berlari ke jalan kecil di sebelahnya. Tentu saja perwira itu tidak mau menyudahi begitu saja, ia melompat turun dari kuda dan ditambat sekadarnya di batang pohon, lalu mengejar ke arah Lenghou Tiong.

“Aduh mak!” Lenghou Tiong pura-pura berteriak ketakutan dan lari ke dalam hutan.

Dengan membentak-bentak dan memaki kalang kabut perwira itu mengejar terus. Tapi baru saja ia memasuki hutan itu, sekonyong-konyong iganya terasa kesemutan, “bluk”, tanpa ampun lagi ia jatuh tersungkur.

Dengan sebelah kaki menginjak di atas dada perwira yang sudah roboh tak berkutik itu, Lenghou Tiong berkata dengan tertawa, “Neneknya, begini saja kepandaianmu masakah mampu pimpin pasukan dan perang segala?”

Kemudian ia menggeledah baju perwira itu dan dikeluarkannya sebuah sampul surat besar, di atas sampul tertulis “Surat Pengangkatan” dengan stempel merah Peng-poh-siang-si (Kementerian Angkatan Perang). Waktu sampul dibuka, dikeluarkannya sehelai kertas tebal. Memang benar itulah sebuah surat pengangkatan yang ditujukan kepada Go Thian-tik, semula perwira distrik Jongciu di Hopak, sekarang diangkat menjadi komandan militer Kota Coanciu di Hokkian, ditetapkan pula supaya segera berangkat ke tempat tugas yang baru itu.

“Kiranya adalah tuan besar komandan tentara, jadi kau inilah Go Thian-tik?” tanya Lenghou Tiong dengan tertawa.

Lantaran dadanya terinjak dan tak bisa berkutik, air muka perwira itu menjadi merah padam, ia masih coba membentak, “Lekas lepaskan aku, kau … kau berani main gila kepada pembesar negeri, apa kau ti … tidak takut mati?”

Walaupun masih pakai membentak segala, tapi lagaknya sudah tidak segarang tadi.

“Aku kehabisan sangu, ingin pinjam pakaianmu untuk digadaikan,” ujar Lenghou Tiong tertawa. Lalu ia tepuk perlahan di atas kepala perwira itu sehingga pingsan. Dengan cepat ia lantas membelejeti pakaian seragam itu.

Ia pikir perwira ini tentu sudah biasa menindas rakyat kecil, maka harus diberi hajaran yang setimpal. Segera ia belejeti pula seluruh pakaiannya sehingga telanjang bulat.

Ia angkat buntelan perwira itu, rasanya rada berat, ketika dibuka, ternyata ada beberapa ratus tahil perak di dalamnya, ada pula tiga buah lantakan emas. Pikirnya, “Ini tentu hasilnya memeras dari rakyat kecil, sukar bagiku untuk menggunakannya kembali kepada asalnya, terpaksa untuk beli arak saja bagi tuan besar Go Thian-tik aku ini. Ha, ha, haha!”

Begitulah ia lantas menanggalkan pakaian sendiri, lalu memakai seragam perwira rampasan itu lengkap dengan sepatu kulit panjang, golok kebesaran, buntelan berisi uang perak, semuanya dipindahkan ke atas tubuhnya. Lalu pakaian sendiri dirobek untuk dipakai mengikat Go Thian-tik yang tak bisa berkutik itu, mulutnya dijejal penuh pula dengan tanah liat, habis itu barulah ia menuju kembali ke jalan raya.

Begitu mencemplak ke atas kuda, pecutnya berbunyi, lantas membentak-bentak pula, “Minggir, minggir! Neneknya, jalan saja tidak bawa mata? Hahahaha!”

Ia berlagak seperti Go Thian-tik tulen, tapi akhirnya ia menjadi geli sendiri. Di tengah suara tertawanya itulah ia melarikan kudanya secepat terbang ke arah selatan

Malamnya ia menginap di suatu kota kecil, pengurus dan pelayan hotel telah meladeni dia dengan sangat hormat dan takut-takut. Besok paginya Lenghou Tiong menanyakan jurusan ke Hokkian, lalu memberi persen satu tahil perak. Keruan pengurus dan pelayan hotel sangat berterima kasih dan mengantar keberangkatannya dengan hormat.

“Untung kalian ketemukan perwira gadungan seperti aku, jika ketemu perwira tulen seperti Go Thian-tik tentu kalian bisa celaka,” pikir Lenghou Tiong.

Ia lantas meneruskan perjalanan ke selatan. Sampai di Kota Kim-hoa dan selanjutnya logat daerah selatan sudah sangat berbeda dengan daerah utara. Untungnya orang-orang mengira dia perwira tulen dan sama berusaha bicara Mandarin (bahasa pemerintah) dengan dia sehingga tidak banyak kesukaran yang dia alami.

Selama hidup Lenghou Tiong tidak pernah pegang uang sebanyak sekarang, keruan ia lantas makan minum semaunya tanpa batas. Terkadang hawa murni yang masih mengeram di dalam tubuhnya suka bergolak lagi ke dalam perut dan membuatnya kepala pusing, terpaksa ia menjalankan ilmu yang diukir Yim Ngo-heng di atas papan besi itu untuk membuyarkan tenaga dalam itu ke urat nadi tertentu, dengan demikian semangatnya lantas pulih kembali dan badannya terasa segar.

Meski tempo hari ia telah menyatakan di depan Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian bahwa ilmu sakti yang berhasil diyakinkan tanpa sengaja itu selanjutnya takkan digunakannya terhadap orang lain, tapi di saat macam-macam hawa murni di dalam badannya itu menerjang dengan hebat, terpaksa ia mengerahkan ilmu itu untuk memunahkannya. Begitulah setiap kali ia berlatih berarti setiap kali ilmu itu bertambah kuat, tapi dia pun insaf dirinya makin kejeblos ke dalam ilmu Mo-kau itu. Untungnya dia menggunakan ilmu itu terhadap diri sendiri sehingga tidak dapat dianggap mengingkari pernyataannya sendiri.

Suatu hari sampailah dia di lereng Pegunungan Sian-he-nia, jalan pegunungan berliku-liku dan makin meninggi. Untung kuda tunggangannya itu adalah kuda pilihan dan cukup cepat meski berlari di jalan pegunungan.

Menjelang tengah hari, terlihat di depan sana juga ada tiga orang laki-laki sedang berjalan ke selatan. Dari langkah mereka yang tangkas jelas mereka adalah orang-orang bu-lim. Lenghou Tiong tidak ingin bikin gara-gara, perlahan-lahan ia menjalankan kudanya dan berseru, “Maaf, harap memberi jalan!”

Waktu ketiga orang itu menoleh dan melihat pendatang adalah seorang perwira yang tampaknya berpangkat tidak rendah. Padahal zaman itu kaum militer berkuasa, tapi perwira ini ternyata mau bicara dengan sopan, sungguh jarang ada. Maka cepat mereka lantas menyingkir ke pinggir jalan.

Waktu melalui ketiga orang itu, sekilas Lenghou Tiong melihat satu di antara mereka itu adalah orang tua berumur setengah abad lebih, kedua alisnya menjulur ke bawah, sebaliknya sudut mulutnya menjengkit ke atas. Kedua orang lainnya adalah pemuda-pemuda umur 20-an. Seorang di antaranya rada tampan dan gagah. Pada pinggang kedua pemuda itu masing-masing bergantung sebuah golok. Sedangkan orang tua itu tidak tampak membawa senjata.

Jago silat di dunia Kangouw teramat banyak, maka Lenghou Tiong juga tidak menaruh perhatian. Ia melarikan kudanya lagi, dua-tiga puluh li kemudian, sampailah dia di suatu kedai nasi. Ia berhenti di situ dan pesan pemilik kedai menyembelihkan seekor ayam gemuk disertai dua kati arak. Perlahan-lahan ia menenggak araknya sembari menantikan ayam dipanggang.

Baru saja pemilik kedai selesai membubuti bulu ayam dan belum lagi diolah, ternyata ketiga orang tadi pun sudah datang dan singgah juga di kedai. Mereka mengangguk kepada Lenghou Tiong, lalu mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.

Ketika melihat pemilik kedai sedang menyembelih ayam, orang tua itu lantas berkata, “Harap buatkan juga dua ekor ayam, kalau ada daging juga boleh potongkan dua piring.”

Dari logatnya jelas dia berasal dari Tiongciu (daerah tengah).

Tiba-tiba pemilik kedai mengeluh, “Wah, sungguh sayang! Kebetulan kami cuma tinggal seekor ayam ini dan telah dipesan oleh tuan pembesar itu. Daging juga tidak ada, kalau goreng sosis saja bagaimana?”

“Kami tidak makan daging babi,” sahut orang tua itu. “Sudahlah kalau ada telur boleh goreng saja satu piring.”

“Telur juga baru saja habis, sungguh sayang,” jawab pemilik kedai.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Mereka tidak makan daging babi, agaknya mereka adalah kaum muslimin.”

Maka segera ia berkata, “Saudara-saudara, biarlah ayam itu kuberikan kepada kalian, aku sendiri boleh makan sosis saja.”

“Bapak komandan benar-benar orang baik, sungguh kami sangat berterima kasih,” kata yang tua.

“Ah, tidak apa, kita sama-sama orang utara, sudah seharusnya saling membantu,” ujar Lenghou Tiong.

Ketiga orang lantas memberi hormat dan mengucapkan terima kasih pula, lalu mulai minum arak.

Ketika pemilik kedai lagi goreng ayam sehingga bau mulai teruar dari wajan, mendadak terdengar ada suara keriang-keriut di luar, beberapa gerobak dorong telah berhenti di depan kedai. Lima tukang gerobak dengan dada telanjang lantas melangkah ke dalam kedai. Berkarung-karung muatan gerobak-gerobak itu tampaknya adalah garam yang cukup berat.

Kelima tukang gerobak itu bermandikan keringat, mereka duduk di meja yang silir sembari kipas-kipas dengan topi rumput masing-masing. Seorang di antaranya lantas berkata, “Wah, alangkah sedap baunya. Ada ayam goreng ya juragan? Berikan dua ekor, pilihkan yang gemuk.”

“Ai, tahu bakalan laris begini tentu di pasar kemarin aku tentu membeli ayam beberapa ekor lagi,” ujar pemilik kedai dengan tertawa. “Maaf Tuan-tuan, ayamnya cuma tinggal seekor saja telah dipesan Tuan komandan ini. Tapi Tuan besar ini benar-benar orang baik, beliau telah memberikan lagi kepada ketiga Tuan itu.”

Laki-laki yang bicara tadi memandang sekejap ke arah Lenghou Tiong, lalu melotot pula ke arah si kakek dan kedua pemuda, kemudian berkata, “Kematian sudah di depan mata masih ingin gegares segala? Ada lebih baik lekas enyah dari sini saja.”

Kedua pemuda tadi menjadi gusar, serentak mereka berdiri dengan tangan memegang golok. Seorang yang gagah itu lantas membentak, “Kau mengoceh apa?”

Si tukang gerobak yang berpotongan pendek gemuk lantas menjawab, “Hm, kawanan anjing dari Mo-kau seperti kalian hendak berbuat apa sama berkeliaran ke sini?”

Si kakek melirik kepada kedua pemuda, lalu menjengek, “Hm, kiranya kawan-kawan sekaum sengaja hendak cari ….” Belum selesai ucapannya, mendadak bayangannya berkelebat, “plak-plok” dua kali, punggung kedua tukang gerobak telah kena digaplok olehnya dan roboh terkapar.

Lenghou Tiong terkejut, dalam hal ilmu pukulan dan sebagainya dia tidak mendalam mempelajari sehingga dia tidak tahu cara bagaimana si kakek melakukan serangan kilat itu.

Terdengar suara bentakan seorang, kiranya pemilik kedai telah menerjang ke luar dengan dua bilah belati yang mengilat terus menubruk ke arah si kakek. Tiga tukang gerobak yang lain juga sama melolos senjata dari gerobak masing-masing dan mulai bertempur melawan kedua pemuda dari Mo-kau. Menyusul lantas terdengar suara bentakan riuh ramai dari segenap pelosok, dari balik batu dan pohon mendadak muncul lebih 20 orang dan membanjir ke depan kedai nasi itu.

Lenghou Tiong tambah terkejut, kiranya di sini telah sembunyi orang sebanyak ini.

Gerakan si kakek tadi ternyata sangat licin, sekali menyelinap ke samping ia telah menghindarkan terjangan si pemilik kedai, tahu-tahu dua tukang gerobak yang lain kena dipukul roboh lagi. Tenaga pukulannya sungguh lihai, asal kena seketika binasa sasarannya.

Tiba-tiba sinar pedang berkelebat, seorang tojin telah menyerbu ke dalam kedai, pedangnya terus menusuk si kakek.

“Kiranya Ho-hong Susiok dari Thay-san-pay,” kata Lenghou Tiong di dalam hati.

Ho-hong Tojin yang dimaksud adalah tokoh keempat dalam Thay-san-pay, betapa tinggi ilmu silatnya hanya di bawah ketuanya, yaitu Thian-bun Tojin. Maka sekali turun tangan susul-menyusul ia telah menyerang empat kali sehingga si kakek terdesak mundur dua-tiga tindak. Tapi dengan memainkan kedua telapak tangannya menyusup kian-kemari di bawah sambaran pedang lawan, sedikit pun si kakek tidak tampak di bawah angin.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Anggota-anggota Mo-kau benar-benar sangat banyak orang pandai, pantas selama beberapa ratus tahun kaum cing-pay tidak mampu membasminya. Seperti si kakek ini jelas adalah jago kelas satu.”

Begitulah Ho-hong Tojin masih terus mendesak sehingga kembali si kakek mundur dua tindak. Sekonyong-konyong tangannya memukul ke belakang dan mengenai dada pemilik kedai itu, walaupun ia menyerang tanpa menoleh, tapi seperti halnya di punggung juga ada mata, serangannya sangat jitu.

Sekali serangan tepat mengenai sasarannya, dengan cepat sekali si kakek lantas menggeser ke belakang pemilik kedai dan kembali memukul satu kali lagi di punggungnya. Badan pemilik kedai seketika mencelat ke depan, menubruk ke arah Ho-hong Tojin. Waktu Ho-hong berkelit ke samping, kesempatan itu cepat digunakan si kakek untuk lari ke ruang belakang.

Sudah tentu Ho-hong Tojin tidak tinggal diam, bersama dua orang lagi mereka lantas mengejar ke dalam. Sementara itu pemuda yang gagah tadi telah mati dikerubut oleh belasan orang. Lalu ada orang berteriak, “Anjing kecil itu jangan dipotong lagi, kita perlu tawanan hidup!”

Tinggal pemuda yang tampan itu masih terus bertempur mati-matian meski badannya sudah penuh luka, namun ia tidak gentar sedikit pun. Mendadak kaki kanannya kena disabet oleh ruyung seorang lawan, kontan ia jatuh terjungkal, cepat tiga orang lantas menubruknya dan menawannya hidup-hidup.

Dalam pada itu di lereng belakang sana ramai dengan suara bentakan orang, rupanya Ho-hong Tojin dan kawan-kawannya sedang mengejar si kakek. Tapi hanya sebentar saja Ho-hong bertiga tampak sudah kembali dengan marah-marah, bahkan seorang di antaranya yang pendek mencaci maki kalang kabut karena tidak mampu menyusul buronannya.

Di kala orang-orang itu sedang bertempur, Lenghou Tiong pura-pura ketakutan dan meringkuk di pojokan kedai. Ia lihat di antara anak murid Thay-san-pay yang dipimpin Ho-hong Tojin itu ada beberapa orang seperti sudah dikenalnya. Sejak meninggalkan Hangciu selama belasan hari ini ia tidak pernah cukur, maka ia yakin orang-orang itu takkan bisa mengenalnya. Tapi selama mukanya tidak dirias, ia merasa tetap berbahaya. Maka ia sengaja menunduk pura-pura takut dan tidak berani beradu pandang.

Melihat sang “perwira” sedemikian takutnya, seorang murid Thay-san-pay lantas berkata, “Tuan komandan, kau sendiri telah menyaksikan keganasan orang-orang Mo-kau tadi. Tapi urusan ini tiada sangkut pautnya dengan kau, silakan lekas meneruskan perjalananmu saja.”

“Baik, baik, aku akan segera be … berangkat,” sahut Lenghou Tiong pura-pura gemetar. Lalu bergegas-gegas keluar dari kedai dan mencemplak ke atas kudanya. Diam-diam ia pikir, “Untuk urusan apakah orang-orang ini datang ke Hokkian sini? Apakah ada hubungannya dengan Hoa-san-pay kami?”

Lantaran pertempuran tadi sehingga Lenghou Tiong tidak jadi bersantap. Padahal daerah Pegunungan Sian-he-nia sangat jarang penduduknya, meski sudah lebih 20 li jauhnya tetap tidak tampak sebuah rumah pun. Sementara itu hari sudah hampir gelap. Seadanya Lenghou Tiong lantas petik buah-buahan yang diketemukan sekadar tangsel perut.

Tiba-tiba ia melihat di sebelah pohon sana ada sebuah gua kecil yang rada kering dan tidak sampai terganggu oleh binatang atau serangga. Segera ia tambat kudanya di batang pohon dan membiarkannya makan rumput sendiri. Lalu ia sendiri pun mencari setumpukan rumput kering untuk dibuat kasur, ia bermaksud bermalam di gua itu.

Ia merasa jalan napas dan saluran darahnya rada-rada sesak, segera ia duduk semadi. Ilmu sakti ajaran Yim Ngo-heng itu ketika permulaan latihan tidak terasakan apa-apa, tapi setiap kali diulangi lagi setiap kali merasakan tambahan manfaatnya, rasanya nyaman tak terkatakan. Sekian lamanya ia berlatih sehingga badan terasa segar dan enteng.

Akhirnya ia menarik napas panjang-panjang, lalu berbangkit. Ia menjadi tersenyum getir sendiri, pikirnya, “Tempo hari Yim-kaucu tidak mau menjawab pertanyaanku tentang apa sebabnya dia meyakinkan Gip-sing-tay-hoat, padahal dia memiliki Kui-hoa-po-tian yang tiada bandingannya. Namun sekarang aku menjadi paham sebabnya. Kiranya Gip-sing-tay-hoat ini kalau sudah berhasil diyakinkan, maka seperti halnya candu saja, orang akan merasa seperti ketagihan dan sukar untuk meninggalkannya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: