Hina Kelana: Bab 75. Lenghou Tiong Tidak Sudi Menjadi Pemimpin Mo-Kau

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: +Hina Kelana — ceritasilat @ 10:32 pm

“Haha, kau ternyata benar sudah lolos,” kata Lenghou Tiong. “Sekarang … sekarang ….”

“Sekarang kau datang hendak menolong aku, bukan?” sela orang itu dengan tertawa. “Hahaha, Hiang-hiante, saudaramu ini benar-benar seorang sahabat sejati.”

Hiang Bun-thian menyilakan Lenghou Tiong berduduk di sisi kanan orang itu, ia sendiri duduk di sebelah kirinya, lalu berkata, “Lenghou-hiante adalah seorang pemberani dan berjiwa luhur, ia benar-benar seorang laki-laki sejati yang terpuji di zaman ini.”

“Lenghou-hengte, sungguh aku merasa menyesal telah membikin susah padamu sampai meringkuk tiga bulan di dalam penjara gelap di dasar danau, harap maaf ya, hahahaha,” kata pula orang itu dengan gelak tertawa.

Kini Lenghou Tiong lamat-lamat dapat memahami sedikit duduknya perkara, cuma masih belum jelas seluruhnya.

Dengan tersenyum simpul orang she Yim itu memandangi Lenghou Tiong, lalu katanya lagi, “Meski kau telah menderita selama tiga bulan di dalam penjara, tapi dasar ada jodoh dan secara kebetulan kau telah berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat yang kuukir di atas dipan besi itu. Hehe, rasanya itu pun sudah cukuplah untuk menambal kerugianmu.”

“Ilmu sakti yang terdapat di atas dipan besi itu adalah … ukiranmu?” Lenghou Tiong menegas dengan heran.

“Kalau bukan aku, di dunia ini siapa lagi yang mahir akan Gip-sing-tay-hoat?” sahut orang itu dengan tersenyum.

“Lenghou-hiante,” sela Hiang Bun-thian, “sejak kini, Yim-kaucu punya Gip-sing-tay-hoat di dunia ini hanya kau satu-satunya ahli warisnya, sungguh aku ikut girang dan harus diberi selamat.”

“Yim-kaucu?” Lenghou Tiong menegas pula.

“Kiranya sampai sekarang kau masih belum tahu jelas akan kedudukan Yim-kaucu,” kata Hiang Bun-thian. “Beliau bukan lain adalah Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau, namanya yang lengkap adalah Yim Ngo-heng, apakah kau pernah mendengar nama beliau ini?”

“Nama Yim … Yim-kaucu telah kuketahui dari tulisan yang terukir di atas dipan besi itu, cuma tidak tahu bahwa beliau adalah … adalah kaucu,” sahut Lenghou Tiong ragu-ragu. Ia tahu Tiau-yang-sin-kau (Agama Penyembah Matahari) adalah Mo-kau, orang Mo-kau sendiri menyebut agama mereka sebagai Tiau-yang-sin-kau, tapi di luar orang menamakan agama mereka sebagai Mo-kau (Agama Iblis). Ia pun tahu ketua Mo-kau selama ini adalah Tonghong Put-pay, dari mana mendadak muncul lagi seorang Yim Ngo-heng yang mengaku sebagai ketuanya?

Mendadak si kakek kurus tadi membentak, “Kaucu apa dia itu? Setiap orang di dunia ini sama tahu bahwa ketua Tiau-yang-sin-kau kami adalah Tonghong-kaucu, orang she Yim ini telah mengkhianat dan berontak, sudah lama dia dipecat dari agama kami. Hiang Bun-thian, kau berani ikut-ikutan murtad, apa kau tidak takut menerima hukuman mati?”

Perlahan-lahan Yim Ngo-heng berpaling ke arah si kakek kurus, katanya kemudian, “Kau bernama Cin Pang-wi bukan?”

“Benar,” sahut kakek kurus itu tegas.

“Waktu aku masih memegang kekuasaan agama kita kau adalah Jing-ki Ki-cu (Pemimpin Panji Hijau) di wilayah Kangsay bukan?” tanya Yim Ngo-heng.

“Benar,” sahut Cin Pang-wi

Yim Ngo-heng menghela napas, katanya, “Sekarang kau telah menjadi satu di antara kesepuluh tianglo, cepat amat kenaikan pangkatmu ini. Sebab apa Tonghong Put-pay begini menilai tinggi dirimu? Apakah ilmu silatmu tinggi atau karena kerjamu pintar?”

“Selamanya aku setia kepada agama, selalu tampil ke muka menghadapi segala urusan, jasa-jasa yang telah kupupuk selama 20 tahun inilah yang menaikkan pangkatku menjadi tianglo,” jawab Cin Pang-wi.

“Ehm, boleh juga ya,” ujar Yim Ngo-heng. Habis itu mendadak ia melompat maju ke depan Pau Tay-coh, tangannya menjulur terus mencengkeram tenggorokan.

Keruan Pau Tay-coh terkejut, untuk mencabut senjata buat menangkis sudah tidak keburu lagi, terpaksa tangan kiri diangkat untuk melindungi tenggorokan sendiri, berbareng kaki kiri melangkah mundur setindak, habis itulah tangan kanan yang mencabut goloknya itu baru ditebaskan.

Walaupun rapat benar pertahanan Pau Tay-coh itu dan ganas pula serangan balasannya, tapi tangan kanan Yim Ngo-heng itu tetap lebih cepat satu langkah, belum lagi golok Pau Tay-coh bergerak turun, dada sasarannya sudah kena dipegangnya, “bret”, jubah Pau Tay-coh itu terus dirobek, sepotong benda di dalam bajunya itu terus dirampasnya. Kiranya adalah Hek-bok-leng-pay, papan hitam tanda kebesaran sang kaucu tadi.

Hampir pada saat yang sama terdengarlah suara “trang-trang-trang” tiga kali, kiranya Hiang Bun-thian telah menggunakan pedangnya menyerang tiga kali kepada Cin Pang-wi dan kedua temannya, ketiga orang itu pun lantas menangkis dengan senjata mereka. Rupanya serangan Hiang Bun-thian ini bertujuan merintangi ketiga orang itu memberi bantuan kepada Pau Tay-coh, setelah gebrakan itu pun Pau Tay-coh sudah berada dalam cengkeraman Yim Ngo-heng.

“Aku punya Gip-sing-tay-hoat belum lagi kugunakan, apakah kau ingin mencicipi rasanya?” kata Yim Ngo-heng dengan tersenyum.

Sebagai seorang gembong Mo-kau yang berkedudukan tinggi dan berpengalaman, sudah tentu Pau Tay-coh tahu betapa lihainya Yim Ngo-heng, kalau tidak menyerah tentu jiwanya akan melayang, kecuali itu tiada jalan lain lagi.

Caranya mengambil keputusan juga sangat cepat, tanpa pikir ia terus menjawab, “Yim-kaucu, selanjutnya aku berjanji akan setia padamu.”

“Dahulu kau pun pernah bersumpah akan setia kepadaku, mengapa kemudian kau balik pikiran?” tanya Yim Ngo-heng.

“Mohon Yim-kaucu memberi kesempatan kepada hamba untuk membuat jasa buat menebus dosa,” kata Pau Tay-coh.

“Baik, makanlah pil ini,” kata Yim Ngo-heng sambil melepaskan tangannya, lalu merogoh saku dan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dituangnya sebutir pil warna merah terus dilemparkan kepada Pau Tay-coh.

Dengan gesit Pau Tay-coh menyambar pil itu, tanpa pandang lagi terus dijejalkan ke dalam mulut.

“Itu … itu kan ‘Sam-si-nau-sin-tan’?” seru Cin Pang-wi.

“Benar, memang itulah Sam-si-nau-sin-tan (Obat Sakti Otak Busuk),” kata Yim Ngo-heng sambil manggut. Lalu ia menuang enam butir pil merah itu dan dilemparkan begitu saja ke atas meja.

Keenam butir pil itu bergelindingan di atas meja, tapi tiada satu pun yang jatuh ke bawah meja, malahan di tengah satu biji dan lima biji lainnya terus berputar mengelilingi satu biji itu dalam jarak yang sama.

“Kalian tentunya sudah tahu kelihaian obatku ini, bukan?” tanya Yim Ngo-heng.

“Sesudah makan Nau-sin-tan Yim-kaucu, untuk selanjutnya harus setia dan tunduk kepada Kaucu sampai akhir hayat, kalau tidak, basil yang tersimpan di dalam pil akan terus bergerak dan menyusup ke dalam otak dan sumsum tulang, rasanya sangat menderita, bahkan akan menjadi gila,” kata Pau Tay-coh.

“Memang tidak salah ucapanmu,” kata Yim Ngo-heng. “Sudah tahu betapa mujarabnya obatku, mengapa kau berani mati menelannya?”

“Asalkan selanjutnya hamba tunduk dan setia kepada Kaucu, betapa pun lihainya Nau-sin-tan juga takkan mengganggu diri hamba,” ujar Pau Tay-coh.

“Hahaha! Bagus, bagus!” Yim Ngo-heng bergelak tertawa. “Dan siapa lagi yang mau makan obatku ini?”

Ui Ciong-kong saling pandang dengan Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing, mereka tahu apa yang dikatakan Pau Tay-coh tadi bukanlah bualan belaka. Cin Pang-wi dan kawan-kawannya sudah lama menjadi gembong Mo-kau, dengan sendirinya mereka lebih kenal pil maut yang mengandung basil itu, pada hari-hari biasa obat itu tidak ada sesuatu yang luar biasa, tapi setiap tahun satu kali di hari Toan-ngo-ce (hari Pek-cun) harus minta obat lagi kepada Yim Ngo-heng, kalau tidak, maka basil di dalam pil itu akan lantas bekerja dan begitu masuk otak, seketika orangnya akan menjadi gila mirip anjing gila dan tidak dapat disembuhkan lagi.

Selagi orang-orang itu merasa ragu-ragu, mendadak Hek-pek-cu berseru, “Mohon belas kasihan Kaucu, biarlah hamba minum dulu satu biji.”

Habis itu ia terus mendekati meja dan hendak mengambil obat pil itu.

Namun Yim Ngo-heng keburu mengebaskan lengan bajunya, kontan Hek-pek-cu terhuyung-huyung ke belakang dan akhirnya jatuh terjungkal, “blang”, dengan keras kepalanya membentur dinding.

“Tenagamu sudah punah, buat apa kau membuang-buang obatku saja?” jengek Yim Ngo-heng. Lalu ia berpaling dan berkata pula, “Cin Pang-wi, Ong Sing, Sang Sam-nio, kalian tidak sudi minum obatku yang mujarab ini bukan?”

Sang Sam-nio, wanita setengah umur itu lantas berkata dengan membungkuk tubuh, “Hamba bersumpah akan setia kepada Yim-kaucu.”

Kakek yang gemuk bernama Ong Sing juga berkata, “Hamba juga akan tunduk dan setia kepada Kaucu untuk selamanya.”

Kedua orang lantas mendekati meja, masing-masing mencomot sebutir pil itu terus dijejalkan ke dalam mulut sendiri. Rupanya mereka biasanya memang sangat jeri terhadap Yim Ngo-heng, sekarang melihat dia telah lolos dari kurungan, keruan mereka sangat takut dan tidak berani membangkang sedikit pun.

Berbeda dengan Cin Pang-wi, dia adalah jago Mo-kau dimulai dari kedudukan rendah sampai tingkatan tianglo berkat jasa-jasanya. Waktu Yim Ngo-heng menjabat kaucu dia adalah pemimpin Mo-kau di wilayah Kangsay sehingga belum sempat menyaksikan betapa lihainya sang kaucu ini. Sekarang dilihatnya tiga orang kawannya telah minum obat maut Yim Ngo-heng, segera ia berseru, “Maaf, aku akan pulang saja!”

Berbareng ia terus menutul kedua kakinya dan melompat keluar melalui jendela.

Yim Ngo-heng bergelak tertawa dan tidak berbangkit untuk merintangi. Ia tunggu sesudah tubuh orang melayang ke luar jendela barulah tangan kirinya lantas bergerak, sekonyong-konyong dari dalam bajunya menyambar keluar satu utas cambuk panjang warna merah. Ketika semua orang belum melihat jelas tahu-tahu sudah terdengar jeritan Cin Pang-wi, cambuk panjang itu pun sudah tertarik balik dengan membelit sebelah kaki Cin Pang-wi.

Cambuk merah itu sangat lembut, paling-paling sebesar jari kecil, tapi sedikit pun Cin Pang-wi tak bisa berkutik dan cuma mampu bergulingan saja di atas tanah.

“Sang Sam-nio, coba kau ambil satu biji pil itu, kelupas dulu kulit luarnya dengan hati-hati,” perintah Yim Ngo-heng.

Dengan hormat Sang Sam-nio mengiakan, ia ambil satu biji pil di atas meja itu dan perlahan-lahan mengupas kulit luar pil yang kecil dan berwarna merah itu sehingga kelihatan biji bagian dalam yang berwarna kelabu.

“Cekokkan dia,” Yim Ngo-heng memberi perintah lagi.

Kembali Sang Sam-nio mengiakan dan mendekati Cin Pang-wi, bentaknya, “Buka mulut!”

Mendadak Cin Pang-wi membalik tubuh terus memukul dengan telapak tangannya. Meski ilmu silatnya sedikit di bawah Sang Sam-nio, tapi selisihnya juga tidak jauh. Namun betis kakinya terlilit oleh cambuk panjang Yim Ngo-heng, hiat-to bagian-bagian tertentu terkekang, tenaga tangannya menjadi banyak berkurang.

Maka dengan gampang saja kaki kiri Sang Sam-nio telah digunakan menendang tangan Cin Pang-wi yang memukul itu, menyusul kaki kanan juga lantas melayang, “bluk”, dengan tepat dada Cin Pang-wi tertendang, kedua kaki Sang Sam-nio menendang pula secara berantai, kembali pundak Cin Pang-wi tertendang, lalu tangan kiri Sang Sam-nio digunakan mementang dagu Cin Pang-wi dan tangan kanan menjejalkan pil itu ke dalam mulutnya.

Lantaran kakinya terbelit oleh cambuk, beruntun beberapa tempat hiat-to kena ditendang pula oleh Sang Sam-nio, maka Cin Pang-wi tidak mampu berkutik lagi dan kena dicekoki pil maut oleh Sang Sam-nio. Sebisa-bisanya Cin Pang-wi bermaksud memuntahkan pil itu, tapi mana dapat?

Yim Ngo-heng tersenyum tanda puas akan tindakan Sang Sam-nio yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik itu. Sang Sam-nio tidak memperlihatkan sesuatu perasaannya meski ia telah memperlakukan kawannya sendiri dengan cara kekerasan, dengan sikap hormat ia lantas berdiri ke pinggir.

Setelah mengikuti kata-kata Pau Tay-coh tadi, semua orang tahu bahwa di dalam Nau-sin-tan itu tersimpan basil maut yang dibungkus oleh lapisan obat, kulit obat warna merah yang dikelupas Sang Sam-nio tadi mungkin adalah obat yang antibasil maut itu.

Kemudian Yim Ngo-heng melayangkan pandangnya ke arah Ui Ciong-kong bertiga, maksudnya ingin tahu ketiga orang itu mau minum pil yang sudah tersedia atau tidak?

Tut-pit-ong tidak bicara apa-apa, terus mendekati meja dan ambil satu biji pil itu dan dimakan, Tan-jing-sing tampak berkomat-kamit entah menggumam apa, tapi akhirnya mendekat dan ambil juga satu biji pil dan dimakan.

Air muka Ui Ciong-kong tampak pucat sedih, ia mengeluarkan sejilid buku, yaitu buku yang berisi lagu “Hina Kelana”, ia mendekati Lenghou Tiong dan berkata, “Tuan selain berilmu silat sangat tinggi juga kaya akan tipu daya, dengan akal sedemikian bagusnya kau telah berhasil menolong keluar Yim Ngo-heng, hehe, sungguh Cayhe sangat kagum. Buku lagu inilah yang telah membikin kami berempat saudara hancur dari kehidupan ini, sekarang biarlah kupersembahkan kembali benda ini.”

Habis berkata ia terus melemparkan buku lagu itu kepada Lenghou Tiong.

Selagi Lenghou Tiong tertegun, dilihatnya Ui Ciong-kong sudah putar tubuh dan mendekati meja, sungguh Lenghou Tiong merasa sangat menyesal, pikirnya, “Tertolongnya Yim-kaucu ini adalah hasil tipu daya Hiang-toako, sebelumnya aku sendirinya tidak tahu apa-apa. Tapi adalah jamak jika Ui Ciong-kong mereka membenci padaku, sukarlah bagiku untuk menerangkan kepada mereka.”

Pada saat itu duga terdengar Ui Ciong-kong bersuara tertahan, perlahan-lahan badannya lantas lemas terkulai.

“Toako?” Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing menjerit berbareng sambil berlari maju untuk memayang Ui Ciong-kong, terlihat ulu hati sang toako sudah tertancapkan sebilah belati, kedua matanya melotot, namun sudah putus napasnya.

“Toako! Toako!” Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berteriak pula dan menangislah mereka dengan sedih.

Ong Sing lantas membentak, “Orang she Ui itu tidak tunduk kepada perintah Kaucu, ia takut dihukum dan terima membunuh diri, kenapa kalian masih coba bikin ribut segala?”

Dengan murka Tan-jing-sing bermaksud menubruk ke arah Ong Sing untuk melabraknya. Tapi segera teringat tadi ia sudah minum obat maut Yim Ngo-heng, selanjutnya tidak boleh lagi membangkang perintahnya, mau tak mau ia mesti menahan rasa murkanya dan terpaksa menunduk kepala sambil mengusap air mata.

“Bawa pergi mayat dan manusia cacat itu, lalu siapkan arak dan santapan, hari ini aku harus minum sepuasnya bersama Hiang-hiante dan Lenghou-hiante,” kata Yim Ngo-heng.

Tut-pit-ong mengiakan dan memondong mayat Ui Ciong-kong ke luar, begitu pula pelayan-pelayan lantas memayang pergi Hek-pek-cu. Menyusul meja perjamuan lantas disiapkan dengan enam kursi.

“Sediakan saja tiga kursi, kami mana ada harganya bersama meja dengan Kaucu?” ujar Pau Tay-coh.

“Kalian tentunya juga sudah lelah, bolehlah makan minum di luar sana,” kata Yim Ngo-heng.

Serentak Pau Tay-coh, Ong Sing, dan Sang Sam-nio bertiga mengiakan dan mengucapkan terima kasih, lalu mengundurkan diri

Lenghou Tiong mempunyai kesan tidak jelek terhadap Ui Ciong-kong, maka ia ikut berdukacita melihat tokoh utama Bwe-cheng itu membunuh diri.

Terdengar Hiang Bun-thian bertanya padanya dengan tertawa, “Adikku, mengapa secara begitu kebetulan kau berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat Kaucu itu? Hal ini perlu ceritakan padaku.”

Maka, Lenghou Tiong lantas menguraikan pengalamannya di dalam penjara neraka itu.

“Selamat, selamat!” kata Hiang Bun-thian. “Kau benar-benar ada jodoh sehingga telah ditakdirkan harus memiliki Gip-sing-tay-hoat.”

Habis itu ia angkat cawan arak dan mendahului menenggak. Segera Yim Ngo-heng dan Lenghou Tiong juga mengiringi secawan.

“Kalau diceritakan, kejadian itu memang sangat berbahaya,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa. “Semula waktu aku mengukir rahasia ilmu itu di atas dipan besi belum tentu akan bertujuan baik. Rahasia ilmu sakti itu memang tulen, tapi selain aku yang mengajar dan memberi petunjuk sendiri, yang melatih ilmu itu tentu akan tersesat dan mati konyol. Tapi sekarang Lenghou-hiante ternyata mampu meyakinkan dengan baik, ini benar-benar sudah takdir.”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa bersyukur bahwa rahasia ilmu sakti yang terukir di atas dipan besi itu telah digosok rata sehingga orang lain takkan tersesat. Lalu ia bertanya, “Hiang-toako, sesungguhnya cara bagaimana Yim-kaucu meloloskan diri, sampai saat ini aku masih tidak paham.”

Hiang Bun-thian mengeluarkan sesuatu benda dan diserahkan kepada Lenghou Tiong, katanya dengan tertawa, “Coba lihat apakah ini?”

Lenghou Tiong merasa benda itu bulat dan keras, itulah barang titipan Hiang Bun-thian tempo hari yang disuruh menyerahkannya kepada Yim Ngo-heng. Waktu ia periksa, memang betul sebuah bola kecil buatan baja, di atas bola baja itu ada sebuah gotri yang amat kecil. Waktu gotri itu diputar, segera sebuah gergaji baja yang amat halus menjulur ke luar. Gergaji halus itu ujungnya melekat pada gotri itu dan ujung lain tergulung di dalam bola baja, itu. Nyata itulah sebuah gergaji baja yang terbuat dengan sangat indah.

Baru sekarang Lenghou Tiong sadar duduknya perkara. Katanya kemudian, “Kiranya belenggu di tangan dan kaki Yim-kaucu itu digergaji putus dengan benda ini.”

“Dengan suara tertawaku yang menggelegar itu aku telah menggetar roboh kalian dengan tenaga dalamku yang ampuh, lalu aku menggergaji putus belenggu,” tutur Yim Ngo-heng. “Cara bagaimana kau telah kerjakan atas diri Hek-pek-cu, dengan cara itu pulalah aku telah memperlakukan kau waktu itu.”

“Kiranya kau telah menukar pakaianku, pantas Ui Ciong-kong dan kawan-kawannya tidak tahu,” kata Lenghou Tiong.

“Sebenarnya hal ini pun sukar mengelabui Ui Ciong-kong dan Hek-pek-cu, cuma sesudah mereka mendusin, aku dan Kaucu lebih dulu sudah meninggalkan Bwe-cheng, aku telah meninggalkan lukisan dan tulisan serta catatan problem catur yang mereka inginkan itu, keruan mereka kegirangan sehingga tidak mencurigai isi penjara yang telah berganti orang itu.”

“Tipu daya Hiang-toako dengan perhitungan yang tepat sungguh sukar ditiru oleh orang lain,” puji Lenghou Tiong. Diam-diam ia pun membatin, “Kiranya segalanya sudah kau atur dengan baik sehingga Ui Ciong-kong berempat terpancing. Tapi sudah sekian lamanya Yim-kaucu lolos, mengapa sekian lama masih belum datang menolong aku?”

Melihat air muka Lenghou Tiong itu segera Hiang Bun-thian dapat menerka apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, katanya dengan tertawa, “Adik cilik, sesudah Kaucu lolos, banyak sekali urusan penting yang harus dikerjakan dan tidak boleh diketahui oleh musuh, maka terpaksa membikin kau menderita sekian lama di dasar danau. Justru kedatangan kami sekarang ialah hendak menolong kau. Syukurlah dari susah engkau telah menjadi untung dan berhasil meyakinkan ilmu sakti tiada bandingannya sebagai imbalan. Hahaha, terimalah permintaan maaf dari kakakmu ini.”

Lalu ia menuang arak di cawan masing-masing, ia sendiri lantas menenggak habis pula.

Yim Ngo-heng bergelak tertawa, katanya, “Aku pun mengiringi kau satu cawan!”

Dasar watak Lenghou Tiong memang polos, kejadian yang telah lalu itu pun tidak dipikirkan lebih lanjut, katanya dengan tertawa, “Maaf apa? Justru aku yang harus berterima kasih kepada kalian berdua. Tadinya aku menderita luka dalam yang sukar disembuhkan, tapi setelah meyakinkan ilmu sakti Kaucu itu serentak luka dalam itu lantas sembuh dan jiwaku dapat dipertahankan.”

Begitulah mereka bertiga lantas bergelak tertawa dengan sangat gembira. Sesudah minum belasan cawan, Lenghou Tiong merasa pribadi Yim-kaucu itu sangat simpatik, pengetahuan dan pengalamannya sangat luas, benar-benar seorang kesatria, seorang pahlawan yang jarang diketemukan selama hidup ini. Diam-diam Lenghou Tiong merasa sangat kagum. Walaupun tadinya ia merasa cara Yim Ngo-heng bertindak terhadap Cin Pang-wi, Ui Ciong-kong, dan lain-lain rada-rada kelewat keji, tapi sesudah bercakap-cakap, ia merasa seorang kesatria tidak dapat dinilai dengan kejadian-kejadian kecil itu.

Setelah menenggak satu cawan arak lagi, kemudian Yim Ngo-heng berkata pula, “Adik cilik, terhadap musuh selamanya aku sangat ganas, terhadap bawahan aku pun sangat keras, hal-hal ini mungkin tidak biasa bagi pandanganmu. Tapi coba kau pikir, sudah betapa lamanya aku dikurung di dasar danau? Kau sendiri telah merasakan bagaimana hidup di penjara maut itu. Cara bagaimana orang telah memperlakukan dapatlah kau bayangkan. Lalu terhadap musuh, terhadap orang yang mengkhianati aku apakah aku harus menaruh belas kasihan?”

Lenghou Tiong mengangguk membenarkan, tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, ia berbangkit dan berkata, “Ada suatu hal ingin kumohon kepada Kaucu, semoga Kaucu sudi meluluskan.”

“Urusan apa?” tanya Yim Ngo-heng.

“Dahulu waktu pertama kali aku bertemu dengan Kaucu pernah kudengar ucapan Ui Ciong-kong, katanya kalau sampai Kaucu berhasil lolos dan berkecimpung lagi di dunia Kangouw, maka melulu orang-orang Hoa-san-pay saja sedikitnya akan menjadi korban separuh. Lalu Kaucu juga menyatakan bila bertemu dengan guruku akan membuat beliau kalang kabut. Mengingat ilmu Kaucu sedemikian sakti, bilamana membikin susah kepada Hoa-san-pay terang tiada seorang pun yang mampu melawan ….”

“Dari Hiang-hiante kudengar kau telah dipecat dari Hoa-san-pay dan gurumu telah mengumumkan hal ini ke seluruh bu-lim,” kata Yim Ngo-heng. “Jika aku nanti menghajar mereka, kalau perlu kutumpas sama sekali Hoa-san-pay supaya lenyap dari dunia persilatan, bukankah dendammu akan bisa terlampias?”

“Sejak kecil aku sudah yatim piatu dan dibesarkan berkat keluhuran budi suhu dan sunio, meski nama kami adalah guru dan murid, tapi sebenarnya tiada ubahnya seperti ayah dan anak,” kata Lenghou Tiong. “Tentang aku dipecat dari Hoa-san-pay memangnya adalah salahku sendiri, pula ada sedikit kesalahpahaman sehingga sekali-kali aku tidak berani dendam dan menyalahkan suhu.”

“Jika demikian, meski Gak Put-kun tidak kenal ampun padamu, sebaliknya kau tetap setia padanya?” tanya Yim Ngo-heng dengan tersenyum.

“Yang kumohon kepada Kaucu adalah sudilah engkau bermurah hati dan janganlah membikin susah guru dan anggota-anggota Hoa-san-pay yang lain,” pinta Lenghou Tiong pula.

Untuk sejenak Yim Ngo-heng termenung, katanya kemudian, “Lolosnya aku dari kurungan musuh harus diakui mendapat bantuanmu yang tidak sedikit. Tapi aku telah menurunkan Gip-sing-tay-hoat padamu dan menyelamatkan jiwamu, kedua kejadian ini boleh dikata timbal balik, siapa pun tidak utang siapa. Sekarang aku telah masuk Kangouw kembali, banyak sekali urusan-urusan penting yang belum selesai sehingga aku tidak boleh memberi janji apa-apa kepadamu, sebab hal ini akan berarti merintangi setiap tindakanku selanjutnya.”

Wajah Lenghou Tiong tampak cemas karena permohonannya ditolak. Dengan tertawa lantas Yim Ngo-heng berkata pula, “Duduklah dulu, Adik cilik. Di dunia ini sekarang aku cuma mempunyai dua orang kepercayaan sejati, ialah Hiang-hiante dan kau. Maka apa yang kau minta padaku betapa pun dapat dirundingkan lagi. Baiklah begini, hendaklah kau menyanggupi sesuatu urusan padaku, lalu aku pun akan berjanji padamu untuk tidak mengganggu orang-orang Hoa-san-pay kecuali bila mereka yang mendahului bersikap tidak hormat padaku. Andai kata aku mesti hajar adat kepada mereka juga akan bertindak seringannya mengingat permohonanmu tadi. Nah, bagaimana, setuju?”

Lenghou Tiong menjadi girang, serunya, “Pesan apa saja dari Kaucu tentu akan kuterima dengan baik.”

“Begini,” kata Yim Ngo-heng, “marilah kita bertiga mengangkat sebagai saudara. Selanjutnya ada rezeki dinikmati bersama, ada kesukaran dipikul bersama. Jabatan Hiang-hiante kunaikkan menjadi Kong-beng-cosu dari Tiau-yang-sin-kau kita dan kau menjadi Kong-beng-yusu (Rasul Cahaya Kanan). Nah, bagaimana pendapatmu?”

Seketika Lenghou Tiong melenggong, sama sekali ia tidak menduga orang akan minta dirinya masuk menjadi anggota Mo-kau. Sejak kecil ia telah mendengar cerita guru dan ibu gurunya tentang macam-macam kejahatan yang dilakukan orang-orang Mo-kau, meski sekarang dirinya telah dipecat dari Hoa-san-pay, yang diinginkannya adalah hidup bebas dan menjadi seorang yang tidak terikat oleh sesuatu aliran atau golongan. Maka tidak mungkin dirinya disuruh menjadi anggota Mo-kau.

Begitulah pikirannya menjadi kacau dan tidak sanggup menjawab. Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian sama menatap tajam padanya untuk menantikan jawabnya, sesaat itu suasana menjadi sunyi senyap.

Selang sejenak baru Lenghou Tiong membuka suara, “Maksud Kaucu memang baik, tapi Lenghou Tiong adalah angkatan muda, mana berani disejajarkan dengan Kaucu dan mengangkat saudara segala? Pula meski Cayhe bukan orang Hoa-san-pay lagi, namun Cayhe masih berharap suhu akan berubah pikiran dan menarik kembali keputusan beliau ….”

Yim Ngo-heng tertawa hambar, katanya, “Meski kau panggil kaucu padaku, tapi jiwaku sendiri setiap saat dapat melayang, sebutan kaucu tidak lebih cuma gelar kosong belaka. Di dunia ini sekarang setiap orang mengetahui ketua Tiau-yang-sin-kau adalah Tonghong Put-pay. Orang ini sekali-kali tidak di bawahku ilmu silatnya, tipu akalnya bahkan jauh lebih pintar daripadaku. Banyak pula anak buahnya, kalau melulu mengandalkan tenagaku serta Hiang-hiante berdua dan bermaksud merebut kembali kedudukan kaucu dari dia, hal ini mirip memakai telur memukul batu, hanya khayalan belaka. Jika kau tidak ingin mengangkat saudara dengan aku, ini pun aku dapat mengerti karena kau ingin menjaga dan membersihkan dirimu sendiri. Marilah, kita bergembira ria dan minum arak saja, hal-hal tadi tidak perlu kita bicarakan lagi.”

“Cara bagaimana kedudukan kaucu sampai direbut oleh Tonghong Put-pay dan mengapa sampai kena dikurung pula di penjara maut itu, apakah sekiranya seluk-beluk kejadian itu dapat dituturkan kepadaku?” tanya Lenghou Tiong.

Yim Ngo-heng tersenyum pedih dan menggeleng kepala, katanya, “Selama 12 tahun mengeram di dasar danau, soal kedudukan dan nama segala mestinya sudah hambar bagiku. Tapi, hehe, justru semakin tua hatiku terasa semakin panas malah.”

“Adik cilik,” sambung Hiang Bun-thian, “tempo hari Tonghong Put-pay telah mengirimkan orang-orangnya sebanyak itu untuk mengudak diriku, betapa ganasnya mereka itu sudah kau saksikan sendiri. Coba kalau kau tidak tampil ke muka membela diriku, tentu aku sudah dicincang hancur lebur di tengah gardu itu. Dalam pandanganmu masih ada perbedaan antara pihak cing-pay dan Mo-kau segala, tapi cara mereka mengerubut kita berdua tempo hari itu apakah masih dapat dibedakan antara yang baik dan yang jahat? Padahal segala hal adalah tergantung perbuatan orang. Memang di dalam cing-pay tidak sedikit terdapat orang baik, namun siapa berani bilang tiada manusianya yang rendah dan kotor? Di dalam Mo-kau memang betul juga tidak sedikit orang-orangnya yang jahat, tapi bila kita bertiga sudah pegang pimpinan, kita dapat mengadakan pembersihan secara keseluruhan untuk melenyapkan golongan sampah itu, dengan demikian dapatlah kita membuka lembaran baru bagi sejarah dunia Kangouw.”

“Ya, ucapan Toako juga ada benarnya,” sahut Lenghou Tiong mengangguk.

“Masih segar dalam ingatanku,” demikian Hiang Bun-thian melanjutkan, “dahulu Kaucu menganggap Tonghong Put-pay seperti saudara sekandung sendiri sampai mengangkatnya sebagai Kong-beng-cosu, hampir semua kekuasaan kepemimpinan agama telah diserahkan padanya. Tatkala mana Kaucu sedang memusatkan segenap tenaga dan pikiran untuk meyakinkan Gip-sing-tay-hoat untuk membetulkan beberapa kekurangan-kekurangan ilmu itu, maka urusan agama sehari-hari tidak sempat diawasinya. Siapa duga Tonghong Put-pay itu memang manusia berhatikan binatang, lahirnya saja ia sangat hormat kepada Kaucu dan tidak berani membangkang segala perintahnya, tapi diam-diam ia memupuk kekuatan dan pengaruhnya sendiri, dengan macam-macam alasan yang dibuat-buat ia telah memecat atau menghukum mati anak buah yang setia kepada Kaucu. Hanya beberapa tahun saja orang-orang kepercayaan Kaucu telah dicerai-berai. Kaucu adalah seorang yang jujur dan tulus, karena melihat Tonghong Put-pay begitu menghormat padanya, pula segala urusan agama telah diatur sedemikian rapinya, maka beliau sama sekali tidak menaruh curiga apa-apa.”

Yim Ngo-heng menghela napas, katanya, “Hiang-hiante, soal ini sungguh membuat aku merasa malu padamu. Kau pernah beberapa kali memberi nasihat padaku agar hati-hati terhadap Tonghong Put-pay, tapi aku malah menyalahkan kau menaruh iri hati padanya dan menganggap kau sengaja memecah belah persatuan di antara pimpinan. Kau menjadi marah dan tinggal pergi untuk seterusnya tidak pernah bertemu lagi.”

“Hamba sekali-kali tidak berani dendam dan menyalahkan Kaucu,” ujar Hiang Bun-thian. “Soalnya hamba lihat gelagatnya kurang baik, Tonghong Put-pay telah mengatur anak buahnya sedemikian rapi dan setiap saat bisa bertindak, kalau hamba tetap mendampingi Kaucu tentu akan lebih dulu terancam kekejiannya. Maka kupikir lebih baik menyingkir pergi saja untuk mengawasi gerak-geriknya dari tempat lain, dengan demikian sedikitnya akan membuat Tonghong Put-pay berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu pengkhianatan.”

“Ya, langkahmu memang tepat,” ujar Yim Ngo-heng. “Tapi waktu itu dari mana aku mengetahui akan maksudmu yang baik itu? Bahkan aku merasa gusar karena kau tinggal pergi tanpa pamit dan hampir-hampir saja aku celaka karena saat itu aku sedang asyik berlatih. Pada saat demikian Tonghong Put-pay semakin giat melayani aku dan minta aku jangan marah. Dengan begitu aku tambah masuk perangkapnya sehingga akhirnya aku menyerahkan kitab pusaka ‘Kui-hoa-po-tian’ kepadanya.”

Mendengar disebutnya “Kui-hoa-po-tian”, tanpa tertahan Lenghou Tiong sampai berseru.

“Apakah kau juga tahu akan ‘Kui-hoa-po-tian’, Adik cilik?” tanya Bun-thian.

“Aku pernah mendengar nama kitab itu dari guruku, katanya kitab itu berisi rahasia ilmu silat yang paling tinggi, sungguh tak terduga bahwa kitab pusaka itu ternyata berada di tangan Kaucu,” sahut Lenghou Tiong.

“Selama beberapa ratus tahun Kui-hoa-po-tian selalu adalah pusaka Tiau-yang-sin-kau kita, selalu diturunkan dari kaucu yang satu kepada kaucu penggantinya,” tutur Yim Ngo-heng. “Waktu itu karena aku sedang tenggelam dalam latihan Gip-sing-tay-hoat sehingga lupa daratan, maka timbul maksudku hendak menyerahkan kedudukan kaucu kepada Tonghong Put-pay. Sebab itu aku telah menurunkan ‘Kui-hoa-po-tian’ kepadanya sebagai tanda yang jelas bahwa tidak lama lagi aku akan mengangkat dia sebagai penggantiku. Tapi, ai, Tonghong Put-pay sebenarnya seorang yang sangat pintar, sudah terang kedudukan kaucu akan dia jabat, mengapa dia masih terburu-buru nafsu, tanpa menunggu aku mengadakan musyawarah dan mengumumkan secara resmi, tapi dia justru lantas mengambil risiko dengan mengadakan pengkhianatan dan perebutan kedudukan?”

Dahi Yim Ngo-heng terkerut rapat-rapat seakan-akan sampai saat ini dia masih tidak paham akan kejadian itu.

Hiang Bun-thian lantas menanggapi, “Pertama dia tidak sabar menunggu, ia tidak tahu kapan baru Kaucu akan menyerahkan kedudukan padanya. Kedua, dia merasa khawatir kalau-kalau mendadak timbul sesuatu perubahan besar.”

“Padahal segala sesuatunya sudah dia atur dengan baik, perubahan mendadak apa yang dia takuti? Sungguh sukar dimengerti,” kata Yim Ngo-heng. “Dengan tenang aku telah coba merenungkan macam-macam tipu muslihatnya, meski semuanya dapat kupahami, hanya saja apa sebabnya mendadak dia berontak, itulah yang sampai saat ini aku tetap tidak mengerti. Memang, terhadap kau memang dia rada-rada iri, ia khawatir bukan mustahil aku akan mengangkat kau sebagai penggantiku. Tapi sesudah kau pergi tanpa pamit, dia sudah kehilangan saingan, mestinya dia dapat menunggu secara sabar.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: