Hina Kelana: Bab 74. Mo-kau-kaucu = Ketua Mo-kau, Yim Ngo-heng

Dalam kejutnya Lenghou Tiong lantas hendak berkata, “Aku … aku ….”

“Aku apa? Sudah lama aku mencurigai kau dan sudah kuduga kau pasti hendak mohon Yim Ngo-heng untuk mengajarkan ilmu iblis itu kepadamu, hm, apakah kau sudah lupa kepada sumpah yang pernah kau ucapkan?” demikian jengek Ui Ciong-kong.

Pikiran Lenghou Tiong menjadi kacau, ia bingung apa mesti memperlihatkan wajah aslinya atau tetap memalsukan Hek-pek-cu. Seketika ia tidak dapat mengambil keputusan, segera ia lolos pedang yang dirampasnya dari Hek-pek-cu terus menusuk ke arah Tut-pit-ong.

“Bagus, Jiko, apa ingin berkelahi sungguh-sungguh ya?” seru Tut-pit-ong dengan gusar, berbareng pensilnya lantas menangkis.

Tak terduga serangan Lenghou Tiong itu hanya tipu belaka, selagi orang hendak menangkis, secepat terbang ia lantas berlari ke luar.

Sudah tentu Ui Ciong-kong bertiga tidak tinggal diam, serentak mereka mengejar. Hanya sebentar saja Lenghou Tiong sudah berlari sampai di ruangan besar di depan.

“Jite, kau hendak lari ke mana?” teriak Ui Ciong-kong.

Lenghou Tiong tidak menjawab, ia tetap berlari secepat terbang. Mendadak terlihat seorang mengadang di tengah pintu dan berseru padanya, “Silakan berhenti, Jichengcu!”

Saat itu Lenghou Tiong sedang berlari dengan cepat sehingga tidak keburu mengerem, tanpa ampun lagi, “blang”, dengan tepat orang itu tertumbuk. Tubrukan ini benar-benar amat keras sehingga orang itu terpental ke luar dan terbanting beberapa meter jauhnya.

Sekilas pandang Lenghou Tiong dapat mengenali orang itu kiranya adalah Ting Kian, mungkin terluka parah sehingga tampaknya Ting Kian tidak mampu berkutik.

Tanpa berhenti Lenghou Tiong berlari terus menuju ke jalan kecil. Ui Ciong-kong bertiga hanya menguber sampai di muka kampung, lalu tidak mengejar lagi.

Tidak lama kemudian sampailah Lenghou Tiong di tanah pegunungan yang sunyi, jaraknya dengan kota agaknya sudah jauh, tanpa terasa dia ternyata sudah berlari sekian jauhnya. Aneh juga, meski dia berlari-lari secepat terbang dan begitu jauh, waktu berhenti ternyata tidak merasakan lelah, napasnya juga tidak memburu, dibandingkan sebelum terganggu oleh hawa murni yang aneh di dalam perut agaknya tenaganya sekarang sudah jauh lebih kuat.

Segera ia menanggalkan kerudung kepalanya. Terdengar suara gemerciknya air, memangnya ia merasa haus, segera ia mencari ke arah suara air itu, akhirnya sampai di tepi sebuah sungai pegunungan yang kecil. Ia berjongkok, belum lagi ia sempat meraup air untuk diminum, tahu-tahu di permukaan air tercermin sebuah bayangan orang yang berambut gondrong, muka penuh godek, dan berkumis panjang, jelek sekali wajah begitu.

Semula Lenghou Tiong terkejut, tapi ia lantas tertawa geli sendiri. Nyata setelah terkurung sekian lamanya di dalam penjara bawah tanah itu dia tidak pernah mandi dan bercukur, dengan sendirinya mukanya sekarang sedemikian kotor.

Seketika ia merasa badannya sangat gatal dan risi, segera ia membuka baju dan terus terjun ke dalam sungai untuk mandi sepuas-puasnya. Ia menduga daki di atas badannya itu kalau tidak ada setengah kuintal sedikitnya juga ada 30 kati.

Setelah mencuci badan sebersih-bersihnya dan kenyang minum, lalu ia memotong rambutnya di atas kepala. Ketika bercermin lagi ke permukaan air, ternyata wajahnya sekarang tampak lebih angker dan gagah, beda sekali daripada pemuda Lenghou Tiong yang bermuka putih mulus itu. Lebih-lebih tiada mirip sedikit pun daripada penyamaran yang dibuat oleh Hiang Bun-thian tempo hari.

Lenghou Tiong coba merenungkan pengalamannya, ia merasa heran tempat macam apakah Bwe-cheng itu? Mengapa tokoh hebat seperti orang she Yim itu sampai dikurung di situ sampai belasan tahun lamanya? Ia pikir hal ini perlu diselidiki dengan jelas, bilamana Yim-locianpwe itu terkurung di sana lantaran terjebak, maka aku harus berusaha menolong dia. Cuma dia telah menyatakan bila bebas dari kurungan itu, maka dia akan melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang bu-lim. Jika demikian, orang baik atau orang jahatkah orang she Yim itu? Ini perlu dibikin terang dahulu dan tidak boleh sembarangan bertindak secara ngawur.

Dengan wajahku sekarang, asalkan aku berganti pakaian, biarpun berhadapan lagi pasti Ui Ciong-kong dan lain-lain takkan kenal padaku. Demikian akhirnya ia mengambil keputusan.

Waktu ia berpakaian kembali, mendadak jalan darah dan napasnya terasa tidak lancar. Segera ia duduk semadi di tepi sungai dan menjalankan ilmu lwekang yang dipelajarinya dari ukiran di atas dipan itu, maka terasalah hawa murni yang bergolak di dalam perut itu mulai tersalur ke delapan urat nadi khusus, kemudian perut terasa kosong lagi tanpa sesuatu hawa murni.

Lenghou Tiong sendiri tidak tahu bahwa dirinya sesungguhnya sudah berhasil meyakinkan semacam lwekang yang paling lihai di dunia ini, tadi waktu memegang tangan Hek-pek-cu, dalam sekejap saja segenap lwekang yang dimiliki Hek-pek-cu sudah kena disedot seluruhnya olehnya serta terhimpun di dalam perut, sekarang hawa murni baru itu disalurkan ke dalam delapan urat nadi khusus, ini berarti serentak lwekangnya telah bertambah dengan lwekang seorang tokoh seperti Hek-pek-cu, maka dengan sendirinya semangatnya menjadi tambah berkobar.

Sementara itu hari sudah dekat magrib, perut terasa lapar juga, ia coba meraba saku atas jubah rampasan dari Hek-pek-cu itu, ternyata tiada berisi uang perak atau emas, hanya ada sebuah pipa tembakau air, yaitu pipa berbentuk poci yang berisi air, pipa tembakau itu terbuat dari timbel bertatahkan batu zamrud yang indah, terang itu semacam benda antik yang sukar dinilai harganya.

Segera ia merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju kota. Terlihat suasana Kota Hangciu di waktu malam yang cukup ramai. Ia mendapatkan sebuah hotel, lalu pesan arak dan daharan untuk makan sekenyang-kenyangnya. Malamnya ia dapat tidur dengan lelap.

Besok paginya ia menggadaikan pipa berbatu zamrud itu dan mendapatkan belasan tahil uang perak untuk membeli pakaian baru, sepatu, dan keperluan lain, semuanya serbabaru gres, sesudah berdandan, ia merasa pangling terhadap coraknya sendiri yang serbabaru itu.

Tiba-tiba teringat olehnya, “Jikalau siausumoay melihat bentukku ini entah bagaimana perasaannya? Ai, aku seakan-akan baru hidup kembali setelah mengalami bencana, mengapa aku selalu terkenang lagi kepada siausumoay?”

Keluar dari hotel, ia berjalan tanpa arah tujuan. Akhirnya sampai di tepi Se-ouw (Telaga Barat) yang tersohor akan pemandangannya yang indah itu. Dilihatnya di tepi telaga ada sebuah restoran besar pakai merek “Song-si-lau”. Seketika Lenghou Tiong ketagihan arak lagi, segera ia melangkah ke dalam restoran itu, ia pilih suatu tempat di tepi jendela yang menghadap ke telaga, lalu pesan minuman. Sambil menikmati arak ia melamun pula, kemarin ia masih terkurung di dalam penjara yang gelap gulita di dasar danau, tapi sekarang dirinya sudah bebas dan dapat makan minum sepuasnya, sungguh rasanya seperti habis mimpi saja.

Tanpa terasa Lenghou Tiong telah menghabiskan beberapa poci arak sehingga membikin pelayan restoran melongo heran akan kekuatan minumnya itu.

Pada saat lain tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, terlihat empat orang naik ke atas loteng restoran itu. Sekilas pandang Lenghou Tiong menjadi terkesiap. Dilihatnya sorot mata keempat orang itu bersinar tajam, jelas adalah jago silat yang memiliki kepandaian tinggi.

Tiga di antara keempat orang itu adalah kakek-kakek yang berusia 60-an tahun, satunya lagi adalah wanita setengah umur. Dandanan keempat orang sama-sama sederhana, selain memanggul sebuah buntelan di punggung masing-masing, senjata pun tidak tampak mereka bawa.

Salah seorang kakek itu berbadan sangat tinggi, ketika sampai di atas loteng dan mengawasi keadaan di situ, sikapnya sangat gagah dan berwibawa. Ia pun memandang sekejap ke arah Lenghou Tiong, lalu berpaling dan berkata kepada kawan-kawannya, “Resik juga tempat ini, bolehlah kita makan di sini.”

Ketiga kawannya mengiakan, lalu mereka mengambil tempat duduk pada meja sebelah sana yang juga menghadap ke telaga.

Dengan cekatan pelayan lantas mendekati untuk menawarkan makanan-makanan yang menjadi kebanggaan restorannya, siapa duga keempat orang itu ternyata tidak minum arak, bahkan juga tidak makan daging. Yang mereka pesan adalah sayur-sayuran belaka, selain itu mereka pesan lagi enam kati mi rebus.

Di waktu makan keempat orang itu sama sekali tidak berbicara, selesai makan juga habis perkara, sedikit pun mereka tidak ambil pusing enak atau tidak dari daharan yang mereka makan itu.

Dengan sangat hormat pelayan tadi mendekati tamu-tamunya, katanya dengan mengiring senyum manis, “Sayur campur goreng ini adalah masakan khusus dari koki kami, hebatnya goreng sayur melulu ini terdapat rasa hati ayam, ginjal babi, dan rempela itik tiga macam, entah bagaimana pendapat Tuan-tuan atas masakan ini?”

Seorang kakek yang kekar itu menjawab, “Masakan sayur adalah masakan sayur, buat apa pakai rasa hati babi atau hati sapi segala?”

Dari logat orang dapatlah Lenghou Tiong menduga orang berasal dari daerah Soatang (Santung). Ia heran entah keempat orang ini berasal dari golongan atau aliran mana, entah apa urusan mereka datang ke Hangciu ini? Tapi karena pikirannya sedang dipusatkan untuk menolong orang she Yim itu, ia tidak ingin cari perkara lain, ia pikir sehabis makan segera akan pergi dari situ.

Sama sekali tak terduga bahwa cara makan minum keempat orang itu ternyata sangat cepat, beberapa mangkuk mi rebus telah mereka sikat dalam sekejap, lalu membayar terus berangkat pergi tanpa memberi persen segala kepada pelayan.

Tentu saja pelayan restoran itu mengomel panjang-pendek, terlalu pelit katanya. Tapi ia lantas teringat bahwa di situ masih ada tamu lain, yaitu Lenghou Tiong, cepat ia mendekatinya dan minta maaf, “Harap Tuan jangan marah, yang hamba maksudkan bukanlah Tuan. Engkau telah makan minum besar, sudah tentu tak bisa dipersamakan dengan kaum kikir tadi.”

“Makan minum besar menjadi mirip tukang gegares saja,” ujar Lenghou Tiong tertawa. Lalu ia membayar dan tidak lupa memberi persen kepada pelayan.

Ia terus melancong ke seluruh pelosok kota mengikuti langkahnya tanpa tujuan yang tetap. Malamnya ia makan minum pula di suatu restoran yang lain, habis itu barulah kembali ke hotelnya untuk tidur.

Lewat tengah malam ia lantas bangun, ia melompat ke luar melalui jendela dan melintasi pagar tembok hotel terus menuju ke tepi Se-ouw di mana terletak kediaman Ui Ciong-kong.

Ginkang Lenghou Tiong sebenarnya tidak tinggi, tapi sejak berlatih “Thi-pan-sin-kang” (Ilmu Sakti dari Papan Besi) itu, sekarang bukan saja langkahnya enteng dan kuat, cukup satu langkah lebar sesuka hati saja sudah mencapai tingkatan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan olehnya sendiri. Begitu cepat langkahnya di tengah malam buta yang sunyi itu, sampai-sampai suara tindakan kaki sendiri pun tidak terdengar.

Ketika melihat bayangan pohon berkelebat begitu cepat di sisinya, seketika Lenghou Tiong menghentikan langkahnya dan melongo heran. Pikirnya, “Sesungguhnya aku masih hidup atau sudah menjadi setan? Mengapa aku bisa berlari secepat ini seakan-akan terbang saja tanpa mengeluarkan tenaga sedikit pun?”

Ketika ia meremas-remas tangannya sendiri, jelas terasa sakit, maka ia sendiri menjadi geli pula. Pikirnya, “Thi-pan-sin-kang itu benar-benar aneh, aku cuma berlatih sebulan saja sudah mencapai kemajuan sepesat ini, kalau kulatih terus bukankah aku akan berubah menjadi siluman?”

Ia tidak tahu bahwa cara melatih ilmu yang terukir di dipan besi itu yang paling sulit ialah membuyarkan dulu segenap tenaga dalam, kalau hal ini kurang sempurna dilaksanakan akan berarti maut bagi dirinya sendiri. Untungnya Lenghou Tiong memang sejak mula tenaga dalam sendiri sudah punah, jadi hal yang sukar bagi orang lain telah dia capai dengan tidak mengalami halangan apa-apa.

Setelah membuyarkan tenaga dalam sendiri, selanjutnya adalah menyedot hawa murni orang lain untuk dikumpulkan di dalam perut sendiri, lalu mengerahkan ke berbagai urat nadi khusus sebagai cadangan. Langkah ini pun sangat sulit, sebab adalah mustahil bahwa tenaga dalam sendiri sudah hilang cara bagaimana dapat menyedot hawa murni orang lain? Tapi dalam hal ini kembali Lenghou Tiong mempunyai keuntungan secara kebetulan, sebab sebelumnya ia telah memiliki berbagai macam hawa murni yang aneh dari Tho-kok-lak-sian serta Put-kay Hwesio, lantaran itu pula dengan cepat ilmu itu telah berhasil diyakinkan olehnya, sebuah mangkuk sedikit dipencet sudah lantas hancur, tanpa sengaja tenaga dalam Hek-pek-cu juga telah dia sedot. Jadi sekaligus ia telah memiliki kekuatan delapan tokoh kelas wahid, apalagi ketika di Siau-lim-si, waktu Hong-sing Taysu berusaha menyembuhkan penyakitnya juga telah mencurahkan sedikit tenaga sakti Siau-lim-pay ke dalam tubuhnya. Maka betapa kuat tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang boleh dikata jarang ada bandingannya di seluruh dunia persilatan. Hanya saja ia sendiri tidak paham duduknya perkara, sebaliknya ia merasa aneh dan terkejut sendiri.

Untuk sejenak ia berdiri termenung, pikirnya, “Kepandaianku seperti sekarang ini terang tak bisa diajarkan oleh suhu, akan tetapi … aku lebih suka kembali seperti dahulu dan hidup senang di tengah perguruan Hoa-san daripada luntang-lantung seorang diri di dunia Kangouw.”

Begitulah ia merasa selama hidupnya belum pernah memiliki ilmu silat setinggi sekarang ini, tapi merasakan pula tiada pernah hidup sesunyi ini dan sehampa sekarang. Selama beberapa bulan dikurung di dalam penjara bawah tanah itu dengan sendirinya ia kesepian, tapi sekarang sesudah bebas toh masih berkeliaran di tengah malam buta seorang diri, dasar pembawaannya memang suka ramai, suka bergaul, dan gemar minum arak, meski menyadari ilmu silatnya mendadak bertambah lihai, tapi rasa girang itu tidak dapat mengatasi rasa kesalnya yang hampa itu.

Setelah termangu-mangu sejenak, akhirnya ia berkata di dalam hati, “Ai, semua orang tidak sudi menggubris lagi padaku terpaksa aku akan pergi ke Bwe-cheng untuk menjenguk locianpwe she Yim yang masih dikurung di sana itu. Jika dia mau bersumpah tak membunuh orang bilamana lolos dari penjara, maka boleh juga aku menolongnya meloloskan diri.”

Segera ia melanjutkan perjalanan menuju ke Bwe-cheng. Tidak lama kemudian ia sudah mendaki bukit itu dan sampai di samping perkampungan itu. Suasana di dalam kampung sunyi senyap, dengan enteng sekali ia telah melompati pagar tembok.

Dilihatnya belasan rumah di situ semuanya sunyi dan gelap gulita, hanya sebuah rumah di sebelah kanan kelihatan masih ada sinar lampu. Dengan hati-hati segera ia mendekati jendela rumah itu.

“Ui Ciong-kong, apakah kau sudah tahu akan dosamu?” demikian mendadak terdengar suara seorang yang serak tua membentak di dalam rumah.

Lenghou Tiong menjadi heran, tokoh macam Ui Ciong-kong ternyata masih ada orang yang berani membentak-bentak padanya. Ia coba mengintip ke dalam melalui celah-celah jendela. Begitu mengetahui siapa yang berada di dalam itu, seketika hatinya berdebar-debar.

Terlihat orang berduduk di empat kursi, mereka adalah keempat orang yang dijumpainya di atas loteng Song-si-lau siang tadi. Ui Ciong-kong, Tut-pit-ong, dan Tan-jing-sing bertiga tampak berdiri di depan keempat orang itu dengan membelakangi jendela sehingga wajah mereka tidak kelihatan. Tapi yang satu berduduk dan yang lain berdiri, dari ini pun jelas akan perbedaan kedudukan mereka.

Terdengar Ui Ciong-kong sedang menjawab, “Ya, hamba mengakui salah. Hamba tidak mengadakan penyambutan sepantasnya atas kedatangan keempat Tianglo, benar-benar berdosa.”

“Hm, apa dosanya jika cuma soal sambutan saja?” jengek kakek yang bertubuh jangkung. “Janganlah kau berlagak pilon lagi. Di manakah Hek-pek-cu? Mengapa tidak menghadap kepada kami?”

Diam-diam Lenghou Tiong tertawa geli, Hek-pek-cu telah terkurung di dalam penjara, tapi Ui Ciong-kong bertiga malah mengira saudara angkat mereka itu telah melarikan diri.

Begitulah Ui Ciong-kong telah menjawab, “Lapor para Tianglo, pengawasan hamba kurang keras sehingga sifat Hek-pek-cu akhir-akhir ini telah banyak mengalami perubahan. Beberapa hari ini dia telah meninggalkan tempat tinggalnya.”

“Hm, dia tidak di sini? Tidak di tempat tinggalnya?” kakek tadi menegas.

“Ya,” jawab Ui Ciong-kong.

Kakek itu tampak menatap Ui Ciong-kong dengan sorot mata yang tajam, katanya pula, “Ui Ciong-kong, Kaucu menugaskan kalian menjaga Bwe-cheng ini, apakah kalian disuruh memetik kecapi, minum arak, melukis, dan main catur melulu?”

“Tidak, hamba berempat ditugaskan oleh Kaucu untuk menjaga tahanan penting di sini,” sahut Ui Ciong-kong dengan membungkuk tubuh.

“Betul,” kata si kakek. “Lalu bagaimana dengan tahanan penting yang kau awasi itu?”

“Lapor Tianglo, tahanan penting itu masih terkurung di dalam penjara bawah tanah,” tutur Ui Ciong-kong. “Selama 12 tahun hamba tidak pernah meninggalkan Bwe-cheng ini, tidak pernah melenakan tugas.”

“Bagus, bagus. Kalian tidak pernah meninggalkan tempat tugas, tidak pernah melenakan tugas,” kata si kakek. “Jika demikian, jadi tahanan penting itu masih tetap berada di dalam penjara bukan?”

“Betul,” sahut Ui Ciong-kong tegas.

Mendadak kakek itu menengadah memandangi langit-langit rumah, tiba-tiba ia terbahak sehingga debu di langit-langit rumah itu sama rontok. Selang sejenak baru ia berkata pula, “Coba kau bawa kami pergi melihat tahanan penting itu.”

“Mohon maaf para Tianglo,” kata Ui Ciong-kong. “Menurut perintah keras Kaucu dahulu, tak peduli siapa pun juga dilarang menyambangi tahanan itu, jika melanggar ….”

Dengan cepat kakek tadi lantas mengeluarkan sepotong benda terus diangkat tinggi-tinggi ke atas sembari berdiri. Tiga orang kawannya serentak juga berdiri dengan sikap sangat hormat.

Waktu Lenghou Tiong mengamat-amati benda itu, kiranya benda itu adalah sepotong papan kayu warna hitam hangus yang belasan senti panjangnya, di atas papan kayu itu ada ukiran-ukiran kembang dan tulisan, tampaknya sangat aneh dan penuh rahasia.

Seketika Ui Ciong-kong bertiga lantas memberi hormat dan berkata, “Hek-bok-leng-pay (Papan Kebesaran Kayu Hitam) Kaucu tiba, hamba akan menerima segala titah dengan hormat.”

“Baik, sekarang pergilah membawa tahanan penting itu ke sini,” kata si kakek.

“Tahanan penting itu terborgol dengan rantai, tidak … tidak dapat dibawa ke sini,” jawab Ui Ciong-kong dengan ragu-ragu.

“Hm, sampai saat ini kau masih coba putar lidah dan bermaksud mendustai kami,” jengek kakek itu. “Aku ingin tanya, sesungguhnya cara bagaimana tahanan itu sampai lolos dari sini?”

“Tahanan … tahanan itu telah melarikan diri? Ah, mana … mana mungkin,” jawab Ui Ciong-kong terperanjat. “Orang itu masih tetap terkurung di dalam penjara, mana bisa melarikan diri.”

“O, jadi kau tidak mau bicara dengan terus terang ya?” kata si kakek. Perlahan-lahan ia lantas mendekati Ui Ciong-kong, mendadak sebelah tangannya menepuk ke pundak Ui Ciong-kong.

Serentak Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing bermaksud melangkah mundur, tapi tindakan mereka ternyata kalah cepat dengan gerak tangan si kakek jangkung, “plok-plok” dua kali, berturut-turut pundak Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing juga telah kena ditabok.

“Pau-tianglo,” teriak Tan-jing-sing, “apa kesalahan kami sehingga engkau menggunakan cara … cara sekeji ini terhadap kami?”

Dari suaranya dapat diketahui di samping menahan sakit luar biasa ia pun merasa penasaran.

Kakek itu menjawabnya dengan perlahan, “Kalian ditugaskan oleh Kaucu untuk menjaga tahanan penting itu, sekarang tahanan itu berhasil melarikan diri, kalian pantas dihukum mati atau tidak?”

“Jika tahanan itu benar-benar melarikan diri, sudah tentu hamba pantas dihukum mati,” sahut Ui Ciong-kong. “Akan … akan tetapi tahanan itu sampai saat ini masih berada di dalam penjara. Sekarang Pau-tianglo datang-datang lantas menggunakan hukuman keji, ini membikin kami penasaran.”

Waktu bicara badan Ui Ciong-kong sedikit miring sehingga dari samping Lenghou Tiong dapat melihat jidatnya penuh butiran keringat sebesar kedelai. Maka Lenghou Tiong dapat menduga tepukan Pau-tianglo tadi tentu sangat lihai sehingga jago silat hebat sebagai Ui Ciong-kong juga tidak tahan.

Maka terdengar si kakek telah menjawab, “Baik, silakan kalian memeriksa sendiri ke dalam penjara, jikalau tahanan itu masih tetap di sana, hm, biar aku nanti menjura dan minta maaf kepada kalian, seketika pula akan memunahkan hukuman Na-sah-jiu (Pukulan Pasir Biru).”

“Baik, harap para Tianglo menunggu sementara,” kata Ui Ciong-kong. Segera bersama Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing bertindak ke luar dan badan rada gemetar.

Khawatir diketahui, Lenghou Tiong tidak berani mengintip lebih jauh, perlahan-lahan ia berduduk di atas tanah, pikirnya, “Kaucu apa yang dikatakan itu menugaskan mereka menjaga tahanan penting di sini selama 12 tahun, dengan sendirinya tahanan yang dimaksudkan bukanlah diriku dan tentulah locianpwe she Yim itu. Apakah benar dia sudah berhasil lolos? Dia dapat melarikan diri dari penjara tanpa diketahui oleh Ui Ciong-kong dan lain-lain, maka kepandaiannya benar-benar mahasakti. Ya, tentunya Ui Ciong-kong bertiga memang tidak tahu, makanya Hek-pek-cu menyangka aku sebagai Yim-locianpwe.”

Ia pikir sebentar lagi kalau Ui Ciong-kong bertiga sudah memeriksa tahanan di dalam penjara tentu akan dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya. Perubahan-perubahan yang hebat itu kalau dipikirkan benar-benar sangat aneh dan lucu.

Didengarnya keempat orang yang duduk di dalam itu semuanya diam saja. Pikirnya pula, “Keempat orang ini benar-benar sangat pendiam, sudah tidak minum arak, tidak makan daging pula, mana senangnya menjadi manusia? Kaucu yang dikatakan itu dari agama apakah? Jangan-jangan Mo-kau? Tapi Kaucu dari Mo-kau itu katanya bernama Tonghong Put-pay dan merupakan tokoh nomor satu di dunia persilatan pada zaman ini, ilmu silatnya tiada tandingannya, jangan-jangan keempat orang ini adalah tianglo (tertua) dari Mo-kau, sebab itulah Ui Ciong-kong dan kawan-kawannya sedemikian takut padanya? Dan jika demikian, jadi Ui Ciong-kong berempat juga anggota Mo-kau semua?”

Begitulah timbul macam-macam pikirannya, tapi bernapas pun dia tidak berani keras-keras, meski dia dan empat orang tua itu terhalang oleh selapis dinding, tapi jaraknya cuma beberapa meter saja, asal napasnya sedikit berat seketika pasti akan ketahuan.

Dalam keadaan sunyi senyap itu, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri yang berkumandang dari jauh, jeritan yang penuh derita dan ketakutan. Dari suaranya dapat Lenghou Tiong mengenali sebagai suaranya Hek-pek-cu.

Menyusul terdengarlah suara tindakan kaki yang makin mendekat, Ui Ciong-kong dan lain-lain telah kembali. Segera Lenghou Tiong mengintip lagi. Dilihatnya Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing memayang Hek-pek-cu yang tampak lemas itu, air muka Hek-pek-cu tampak pucat guram, matanya sayu, berbeda sekali dengan tingkah lakunya yang cekatan dan cerdik sebelumnya.

“La … lapor para Tianglo,” demikian Ui Ciong-kong berkata dengan suara gemetar, “tahanan itu ternyata sudah … sudah melarikan diri. Hamba terima dihukum mati di hadapan para Tianglo.”

“Tadi kau bilang Hek-pek-cu tidak di sini, mengapa sekarang dia muncul lagi? Sebenarnya bagaimana duduknya perkara?” tanya kakek she Pau bernama Tay-coh itu.

“Tentang seluk-beluk kejadian ini sesungguhnya hamba juga merasa bingung,” tutur Ui Ciong-kong. “Ai, kegemaran melalaikan tugas, hal ini adalah salah kami berempat yang terlalu iseng dan tergila-gila kepada kegemaran masing-masing sehingga kelemahan kami ini telah dipergunakan musuh untuk mengatur tipu muslihat, akhirnya orang itu … orang itu telah mereka bawa lari.”

Lenghou Tiong juga merasa bingung, pikirnya, “Kiranya locianpwe she Yim itu juga sudah melarikan diri, apa betul mereka sama sekali tidak mengetahui?”

Maka terdengar Pau Tay-coh bertanya pula, “Kami berempat dititahkan oleh Kaucu untuk menyelidiki bagaimana sampai tahanan penting itu bisa meloloskan diri. Jika kalian mengaku terus terang tanpa berdusta, maka … mungkin kami akan memohonkan ampun kepada Kaucu bagi kalian.”

Ui Ciong-kong menghela napas panjang, sahutnya, “Seumpama Kaucu sudi memberi ampun juga hamba malu untuk hidup lagi di dunia ini? Cuma sebelum hamba mengetahui seluk-beluk akan peristiwa ini, biar mati pun hamba merasa penasaran. Pau-tianglo, apakah … apakah Kaucu beliau berada di Hangciu?”

Alis Pau Tay-coh tampak menegak, sahutnya, “Siapa bilang Kaucu berada di Hangciu?”

“Sebab tahanan itu baru saja melarikan diri kemarin, mengapa Kaucu seketika lantas tahu dan segera mengirim keempat Tianglo ke Bwe-cheng sini?” ujar Ui Ciong-kong.

“Hm, kau makin lama tampaknya tambah pikun,” jengek Pau Tay-coh. “Siapa yang bilang tahanan penting itu baru melarikan diri kemarin?”

“Orang itu benar-benar baru melarikan diri pada kemarin siang,” sahut Ui Ciong-kong. “Tatkala mana kami bertiga mengira dia adalah Hek-pek-cu, tak tersangka dia telah berhasil memancing Hek-pek-cu untuk ditawannya, lalu menukar pakaiannya dengan baju Hek-pek-cu terus menerjang keluar. Kejadian ini tidak cuma kami bertiga yang menyaksikan, malahan Ting Kian juga kena ditubruk oleh orang itu sehingga tulang iganya banyak yang patah ….”

Pau Tay-coh menoleh kepada ketiga tianglo yang lain, katanya dengan mengerut dahi, “Orang ini entah mengaco-belo apa, masakah bisa terjadi begitu?”

Seorang kakek yang pendek gemuk di antaranya lantas berkata, “Kita menerima berita itu pada tanggal delapan bulan yang lalu …” sembari bicara ia terus menghitung-hitung dengan jarinya, lalu menyambung, “sampai hari ini sudah hari ke-21.”

“Tidak … tidak mungkin,” seru Ui Ciong-kong sambil melangkah mundur, lalu berpaling dan berteriak, “Si Leng-wi, gotong Ting Kian ke sini!”

Dari jauh terdengar suara Si Leng-wi mengiakan.

Pau Tay-coh coba mendekati Hek-pek-cu dan menjambret dadanya terus diangkat, ternyata tokoh nomor dua dari Bwe-cheng itu keadaannya memang lemas lunglai seakan-akan seluruh ruas tulang badannya telah terlepas semua.

“Ya, itulah akibat seluruh tenaganya telah disedot habis oleh Gip-sing-tay-hoat orang itu,” ujar si kakek hitam kurus sebelah sana.

“Bilakah kau kena dikerjai oleh orang itu?” tanya Pau Tay-coh.

“Kemarin,” sahut Hek-pek-cu dengan suara terputus-putus lemah, “orang itu men … mencengkeram pergelangan kananku sehingga aku tak bisa … tak bisa berkutik, terpaksa aku pasrah nasib.”

“Lalu bagaimana?” tanya Pau Tay-coh dengan tidak mengerti.

“Melalui lubang persegi di daun pintu itu aku telah ditarik masuk ke dalam kamar tahanan,” tutur Hek-pek-cu. “Dia menanggalkan pakaianku dan membelenggu kaki-tanganku, kemudian dia menerobos keluar melalui lubang persegi itu.”

“Jadi kemarin, benar-benar kemarin? Mana mungkin?” ujar Pau Tay-coh mengerut dahi.

“Dan cara bagaimana belenggu baja itu dapat diputuskan olehnya?” tanya si kakek kurus.

“Hal ini aku … aku tidak tahu,” jawab Hek-pek-cu.

“Tadi hamba telah meneliti belenggu-belenggu itu, ternyata digergaji putus dengan gergaji baja yang amat lihai, sungguh aneh, dari manakah orang itu mendapatkan gergaji halus demikian itu?” kata Tut-pit-ong.

Dalam pada itu Si Leng-wi sudah datang menggotong Ting Kian bersama dua orang pelayan. Ting Kian menggeletak di atas dipan dan tertutup selapis selimut tipis.

Pau Tay-coh membuka selimut itu dan memegang perlahan di atas dada Ting Kian, seketika Ting Kian berteriak kesakitan. Pau Tay-coh manggut-manggut dan memberi tanda agar Ting Kian digotong pergi lagi.

“Tubrukan itu benar-benar sangat hebat, jelas dilakukan oleh orang itu,” ujar Pau Tay-coh kemudian.

Wanita yang duduk di sebelah kiri sejak tadi tidak pernah membuka suara, sekarang mendadak ia berkata, “Pau-tianglo, jika betul orang itu baru lolos kemarin, lantas berita yang kita terima permulaan bulan yang lalu mungkin adalah kabar bohong yang sengaja disebarkan oleh begundalnya untuk memengaruhi pikiran kita.”

Usia wanita itu tidak dapat dikatakan muda lagi, tapi suaranya ternyata masih merdu dan enak didengar.

“Tidak, tidak mungkin palsu,” sahut Pau Tay-coh sambil menggeleng.

“Tidak palsu?” wanita itu menegas.

“Ya, coba pikirkan, Sik-hiangcu memiliki ilmu Kim-cong-cu dan Thi-poh-sah (ilmu-ilmu kebal) yang tidak mempan diserang oleh senjata tajam biasa, tapi lima jari orang itu telah mampu menembus dadanya sehingga ulu hatinya kena dikorek ke luar mentah-mentah, kepandaian selihai ini rasanya tiada orang keduanya di dunia ini selain orang itu ….”

Selagi asyik mendengarkan, mendadak Lenghou Tiong merasa pundaknya ditepuk orang dengan perlahan, ia terkejut dan cepat menoleh. Maka tertampaklah di belakangnya telah berdiri 2 orang. Karena membelakangi cahaya rembulan yang remang, maka air muka kedua orang itu tidak terlihat jelas. Hanya seorang di antaranya lantas berkata padanya, “Adik kecil, marilah kita masuk ke sana!”

Terang itulah suaranya Hiang Bun-thian.

Keruan Lenghou Tiong kegirangan, serunya dengan suara tertahan, “He, Hiang-toako!”

Meski suara mereka itu sangat perlahan, tapi ternyata sudah didengar oleh orang-orang di dalam rumah. “Siapa itu?” Pau Tay-coh lantas membentak.

Maka terdengarlah suara gelak tertawa seorang, suaranya menggelegar memekakkan telinga. Ternyata suara yang keluar dari mulut orang di sebelah Hiang Bun-thian itu.

Orang yang tertawa itu lantas melangkah ke depan, dinding tembok yang merintangi itu ditolak begitu saja oleh kedua tangannya, seketika terdengar suara gemuruh, tembok itu ambruk menjadi suatu lubang besar, melalui lubang tembok itulah orang itu lantas melangkah ke dalam. Sambil menggandeng tangan Lenghou Tiong segera Hiang Bun-thian ikut masuk ke dalam rumah.

Pau Tay-coh berempat sudah berbangkit dengan senjata terhunus, air muka mereka tampak sangat tegang. Mestinya Lenghou Tiong ingin lekas-lekas tahu siapakah gerangan teman Hiang Bun-thian itu, cuma dia berjalan di depan dan membelakangi Lenghou Tiong, pula perawakannya tinggi besar, hanya tampak rambutnya yang hitam dan bajunya warna hijau.

“Kiranya … kiranya Yim … Yim-cianpwe yang datang,” kata Pau Tay-coh ragu-ragu.

Orang itu hanya mendengus saja dan tidak menjawab, ia terus melangkah maju. Dengan sendirinya Pau Tay-coh dan lain-lain lantas menyingkir mundur. Sesudah membalik tubuh, orang itu lantas berduduk pada kursi yang tengah, yaitu kursi yang tadi diduduki oleh Pau Tay-coh.

Baru sekarang Lenghou Tiong dapat melihat jelas wajah orang itu yang rada lonjong, air mukanya pucat seperti mayat, tampak jelas membayangkan muka tampan pada masa mudanya.

Orang itu menggapaikan tangannya kepada Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong, katanya, “Hiang-hiante dan Adik Lenghou Tiong, marilah duduk di sini.”

Demi mendengar suaranya, alangkah kejut dan girangnya Lenghou Tiong. “He, jadi kau … kau adalah Yim-locianpwe?” serunya

Orang itu tersenyum, sahutnya, “Benar. Sungguh bagus sekali ilmu pedangmu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: