Hina Kelana: Bab 73. Hek-pek-cu Menjadi Korban Pertama Ilmu Sakti Lenghou Tiong

Begitulah tanpa putus-putus ia terus berlatih dan membuyarkan hawa murni yang mengganggu itu, setiap kali bekerja, setiap kali badannya menjadi tambah segar. Ia pikir jika hawa murni curahan Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio yang mengganggu itu sudah dipunahkan semua, lalu dapat berlatih lwekang perguruannya sendiri menurut ajaran gurunya dahulu, walaupun hal mana akan makan waktu lama, tapi sedikitnya jiwanya telah dapat diselamatkan. Jika nanti Hiang-toako berhasil membebaskan aku dari sini, tentu aku akan dapat menempuh hidup baru di dunia Kangouw. Tapi lantas teringat pula, “Suhu telah pecat aku dari Hoa-san-pay, buat apa aku mesti meyakinkan lwekang Hoa-san-pay lagi? Masih banyak sekali lwekang-lwekang dari aliran-aliran lain, umpamanya aku dapat belajar kepada Hiang-toako, bisa belajar pada Ing-ing, dan lain-lain lagi.”

Teringat kepada hal-hal yang menyenangkan, kembali ia berjingkrak-jingkrak dan tertawa pula.

Besoknya ketika dia memegangi mangkuk dan sedang makan nasi, perasaannya masih tetap diliputi rasa senang dan penuh semangat, ketika tanpa sadar tangannya menggenggam lebih kuat, mendadak terdengar “prak”, tahu-tahu mangkuk besar itu telah remuk di tangannya. Keruan Lenghou Tiong terkejut, tangannya meremas lagi sekenanya, kembali remukan mangkuk itu hancur menjadi bubuk. Ketika tangannya dibuka, bubukan mangkuk itu lantas jatuh bertebaran ke lantai.

Untuk sesaat Lenghou Tiong sampai terkesima sendiri, seketika ia tidak paham sebab musababnya.

Tiba-tiba terdengar suara Hek-pek-cu berseru di luar pintu, “Wah, kekuatan Yim-cianpwe tiada bandingannya di dunia ini, sungguh Cayhe kagum tak terhingga.”

Kiranya tanpa terasa tiga hari sudah lalu, lantaran sedang kejut akan tenaganya sendiri yang sanggup meremas hancur sebuah mangkuk itu, sampai-sampai datangnya Hek-pek-cu itu tidak disadari, bahkan seketika Lenghou Tiong masih belum paham akan kata-kata pujian Hek-pek-cu itu, sebab sekali remas dapat membikin mangkuk itu menjadi bubuk, hal ini benar-benar sukar dibayangkan olehnya.

Maka terdengar Hek-pek-cu telah berkata pula, “Hanya sedikit remas saja Yim-cianpwe telah menghancurkan sebuah mangkuk, coba kalau cengkeraman itu mengenai badan musuh, haha, masakah nyawa musuh itu takkan melayang?”

Benar juga ucapannya pikir Lenghou Tiong, maka segera ia pun ikut terbahak-bahak.

“Tampaknya hari ini perasaan Cianpwe sangat gembira, silakan lantas menerima Tecu ke dalam perguruan, bagaimana?” pinta Hek-pek-cu.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Apakah aku boleh terima dia sebagai murid dan mengajarkan kalimat-kalimat tulisan terukir di dipan itu? Tapi, ah, aku cuma berlatih satu-dua hari saja lantas begini lihai tenagaku, tampaknya ilmu yang terukir ini bukankah untuk bercanda. Yang diharapkan Hek-pek-cu adalah ilmu ini, tapi sesudah dia meyakinkan dengan baik apakah benar aku akan dilepaskan dari sini? Padahal begitu mengetahui aku bukan Yim-locianpwe yang dia sangka, setiap saat tentu dia akan berubah sikapnya. Umpama Yim-locianpwe yang mengajarkan ilmu sakti, sesudah berhasil besar kemungkinan Hek-pek-cu juga akan berdaya untuk membinasakannya, misalnya memakai racun di dalam makanan dan sebagainya. Ya, bagi Hek-pek-cu memang sangat gampang jika dia mau meracuni aku, mana mungkin dia sudi membebaskan aku biarpun dia berhasil meyakinkan ilmu sakti ini. Mungkin inilah sebabnya Yim-locianpwe tetap tidak mau menyanggupi permintaannya selama 12 tahun.”

Karena tidak memperoleh jawaban, Hek-pek-cu menjadi khawatir ada perubahan lagi, cepat ia berkata pula, “Bila Cianpwe sudah mengajarkan ilmunya, segera Tecu akan pergi mengambilkan arak enak dan ayam lezat untuk dipersembahkan kepadamu.”

Sudah sekian lamanya Lenghou Tiong dikurung di situ, yang dimakan setiap hari adalah sayur asin melulu, sekarang mendengar ada ayam lezat dan arak enak, keruan ia lantas mengiler. Cepat ia berkata, “Baiklah, lekas kau pergi ambil arak dan ayam panggang dulu, sesudah makan, bisa jadi hatiku akan senang terus mengajarkan sedikit kepandaian padamu.”

Sebenarnya Hek-pek-cu bermaksud menggunakan makanan lezat sebagai umpan untuk memancing ilmu yang dikehendaki, tapi orang justru ingin makan enak dulu. Jika tidak dituruti, mungkin sekali orang tua itu akan marah dan tidak jadi mengajarkan ilmu lagi. Maka cepat Hek-pek-cu menjawab, “Baik, baik, segera aku akan ambilkan arak dan ayam panggang yang gemuk. Cuma hari ini agaknya tak bisa dilaksanakan, besok saja kalau ada kesempatan tentu Tecu akan mempersembahkannya.”

“Kenapa hari ini tidak bisa dilaksanakan?” tanya Lenghou Tiong.

“Untuk datang ke sini aku harus mencari kesempatan di luar tahu toako kami, bila Toako sedang keluar barulah ….”

Lenghou Tiong mendengus sebelum ucapan orang habis. Maka Hek-pek-cu juga tidak bicara lebih lanjut. Mungkin khawatir dipergoki Ui Ciong-kong, buru-buru ia mohon diri.

Ketika tangannya teraba pada remukan mangkuk tadi, diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Mengapa ilmu ini begini lihai? Baru berlatih satu-dua hari saja sudah begini hebat, apalagi kalau sudah berlatih sebulan dan lebih kan bisa ….” Berpikir sampai di sini mendadak ia melonjak bangun sambil berteriak.

Kiranya terpikir olehnya kalau sudah berlatih sebulan atau lebih lama lagi kan dapat memutus rantai borgol dan meloloskan diri dengan menerjang pintu penjara itu. Namun rasa gembiranya itu dalam sekejap lantas lenyap, sebab lantas terpikir lagi olehnya, “Jika ilmu ini benar-benar begini hebat, mengapa Yim Ngo-heng sendiri tidak dapat meloloskan diri dari sini?”

Sambil melayangkan pikiran-pikirannya, sebelah tangannya tanpa terasa meraba gelang besi di tangan kiri serta dipentangnya. Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa gelang besi itu akan terpentang renggang olehnya, siapa tahu gelang besi itu mendadak terpentang, ketika ditarik lagi, ternyata pergelangan tangan kiri lantas terlepas begitu saja dari belenggu gelang besi itu.

Girang dan kejut pula Lenghou Tiong. Ketika gelang besi itu diraba lagi, kiranya di bagian tengah memang sudah putus, tapi kalau tenaga dalam sendiri belum pulih juga sukar untuk membukanya. Segera ia pun pentang terbuka belenggu tangan kanan, lalu belenggu kedua kakinya. Setiap gelang belenggu besi itu sudah terputus semua. Terlepasnya belenggu kaki dan tangan dengan sendirinya terlepas pula rantai besinya sehingga badannya sekarang tidak terikat apa-apa lagi.

Lenghou Tiong sangat heran mengapa setiap gelang besi itu ada tanda putus begitu? Padahal gelang besi yang sudah terputus begitu mana kuat untuk membelenggu orang?

Besoknya ketika orang tua itu datang mengantarkan daharan, di bawah sinar pelita yang dibawanya itu dapatlah Lenghou Tiong melihat jelas bagian yang terputus dari gelang-gelang besi itu menunjukkan tanda baru saja diputus, keruan ia tambah heran. Dari tanda itu dapat dilihat pula bekas gergaji yang halus sekali, jelas ada orang yang telah menggergaji gelang-gelang besi itu dengan semacam gergaji baja yang amat halus. Anehnya mengapa gelang yang sudah digergaji putus itu bisa terkatup kembali dan membelenggu kaki-tangannya, jangan-jangan … jangan-jangan. Menurut jalan pikirannya tentu diam-diam ada orang yang sedang berusaha menolongnya. Dan penolong itu tentulah orang Bwe-cheng sendiri. Mungkin sekali gelang besi itu digergaji putus ketika dirinya jatuh pingsan dan mungkin pula akan membebaskannya nanti bilamana ada kesempatan bagus di luar tahu orang-orang Bwe-cheng yang lain.

Berpikir sampai di sini, seketika semangat Lenghou Tiong terbangkit. Pikirnya, “Jalan masuk ke sini berada di bawah tempat tidurnya Ui Ciong-kong, jika Ui Ciong-kong yang bermaksud menolongku tentu dapat dilakukan setiap waktu dan tidak perlu menunda lagi, Hek-pek-cu tentunya juga tidak. Tinggal Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing saja. Di antara kedua orang itu cuma Tan-jing-sing yang mempunyai kegemaran yang sama, besar kemungkinan yang berusaha hendak menolongku tentulah Tan-jing-sing yang baik hati itu.”

Lalu terpikir lagi olehnya cara bagaimana akan melayani kedatangan Hek-pek-cu besok, segera ia pun mendapatkan akal, “Aku akan pura-pura meluluskan permintaannya untuk menipu daharan enak dari dia. Lalu mengajarkan ilmu palsu padanya supaya dia tertipu. Akibatnya tentu sangat lucu. Haha, tentu sangat lucu!”

Menyusul terpikir lagi setiap saat Tan-jing-sing akan datang melepaskan dia, kesempatan yang masih ada ini harus digunakan untuk lebih menghafalkan ilmu yang terukir di papan besi itu. Maka ia lantas mulai meraba-raba lagi tulisan-tulisan di papan besi serta mengingat-ingatnya di luar kepala.

Tadinya tulisan-tulisan itu tidaklah menarik perhatiannya, sekarang juga bukan sesuatu yang mudah baginya untuk menghafalkannya di luar kepala. Apalagi mengenai ilmu sakti, keliru satu huruf saja mungkin akan membawa akibat yang sukar dibayangkan.

Begitu juga kalau melupakan sebagian di antaranya tentu tak dapat diulangi lagi jika sudah keluar dari tempat neraka ini. Sebab itulah ia bertekad akan menghafalkan seluruhnya #dapatlah dihafalkan di luar kepala, habis itu barulah ia dapat tidur dengan tenang.

Dalam mimpi benar juga dilihatnya Tan-jing-sing datang membukakan pintu penjara untuk melepaskan dia, ketika terjaga bangun baru diketahui cuma impian belaka. Tapi ia pun tidak menjadi lesu, pikirnya hari ini tidak datang mungkin karena belum ada kesempatan baik, tidak lama tentu Tan-jing-sing akan datang menolongnya.

Terpikir olehnya bila nanti dirinya sudah meninggalkan penjara ini, mungkin sekali ukiran tulisan itu akan dilihat oleh Hek-pek-cu yang dianggapnya jahat itu, kalau orang macam Hek-pek-cu sampai berhasil meyakinkan ilmu sakti tentu akan menambah kejahatannya malah. Maka kembali ia mengulangi belasan kali lagi menghafalkan tulisan di atas papan itu, lalu ia menghapus sebagian huruf-huruf itu dengan belenggu besi yang telah ditanggalkan itu.

Besoknya Hek-pek-cu ternyata tidak datang, Lenghou Tiong juga tidak ambil pusing, ia meneruskan latihannya atas ilmu sakti itu. Beberapa hari selanjutnya Hek-pek-cu tetap tidak muncul.

Lenghou Tiong merasa latihannya banyak mendapat kemajuan. Hawa murni yang berasal dari Tho-kok-lak-sian serta Put-kay Hwesio itu sudah sebagian besar didesak keluar dari bagian perut dan buyar melalui berbagai urat nadi. Ia yakin jika latihannya diteruskan akhirnya tentu hawa murni yang merupakan penyakit itu akan dapat dipunahkan seluruhnya.

Setiap hari ia tentu menghafalkan lagi belasan kali tulisan yang telah dibacanya itu, sebagian huruf-huruf di atas papan besi itu pun dikerok dengan gelang besi. Ia merasa tenaga dalam sendiri kian lama makin kuat, untuk mengerok huruf-huruf itu ternyata tidak begitu susah baginya.

Kembali sebulan sudah lewat, meski berada di bawah tanah juga Lenghou Tiong merasakan hawa musim panas sudah mulai berkurang. Pikirnya, “Rupanya penemuanku yang aneh ini sudah suratan takdir. Jika aku terkurung di sini di musim dingin pasti tulisan di atas papan besi ini takkan kuketemukan. Bisa jadi sebelum tiba musim panas tulisan di atas papan besi ini takkan kuketemukan. Bisa jadi sebelum tiba musim panas Tan-jing-sing sudah berhasil menolong keluar diriku.”

Berpikir sampai di sini, tiba-tiba terdengar dari lorong sana ada suara tindakan Hek-pek-cu yang sedang mendatangi. Tadinya Lenghou Tiong berbaring di atas dipan besi itu, maka perlahan-lahan ia lantas membalik tubuh sehingga berbaring miring menghadap ke dinding bagian dalam.

Terdengar Hek-pek-cu sudah sampai di luar pintu, lalu berkata, “Yim … Yim-locianpwe, harap sudi memaafkan. Selama lebih sebulan ini Toako tidak pernah keluar rumah sehingga Cayhe sangat gelisah dan tidak dapat datang kemari untuk menjenguk engkau. Untuk ini harap engkau janganlah marah.”

Berbareng itu tercium juga bau harum arak dan sedapnya ayam panggang yang teruar dari lubang pintu.

Memangnya sudah sekian lamanya Lenghou Tiong tidak merasakan setetes arak pun, maka begitu mengendus bau arak ia menjadi ketagihan, segera ia membalik tubuh dan berkata, “Mana daharannya, aku harus makan dulu dan urusan belakang.”

“Ya, baik,” sahut Hek-pek-cu cepat. “Jadi Cianpwe sudah menyanggupi akan mengajarkan rahasia lwekang padaku?”

“Begini, setiap kali kau mengantar kemari tiga kati arak dan seekor ayam panggang, setiap kali pula aku akan mengajarkan empat kalimat rahasia lwekang padamu. Bilamana aku sudah menghabiskan tiga ratus kati arak dan seratus ekor ayam, maka rahasia lwekang yang kuajarkan padamu rasanya sudah cukup juga.”

“Cara begini rasanya rada-rada lambat dan mungkin sekali terjadi apa-apa. Biarlah setiap kali Wanpwe akan mengantar enam kati arak dan dua ekor ayam, lalu Cianpwe setiap kali mengajarkan delapan kalimat rahasianya saja?”

“Sungguh serakah sekali kau ini. Tapi, baiklah. Mana araknya, mana ayamnya, bawa ke sini,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Segera Hek-pek-cu mengangsurkan nampan kayu itu melalui lubang persegi di daun pintu itu. Benar juga di atas nampan itu ada satu poci besar arak dan seekor ayam panggung yang gemuk.

“Sebelum aku mengajarkan rahasia lwekang padamu rasanya kau tidak sampai meracuni aku,” demikian pikir Lenghou Tiong. Maka tanpa pikir segera ia pegang poci arak itu dan langsung dituang ke dalam mulut.

Rasa arak itu sebenarnya tidak terlalu enak, tapi sekarang bagi Lenghou Tiong araknya terasa sangat sedap. Sekaligus hampir setengah poci besar itu telah ditenggak, lalu dibetotnya sebelah paha ayam panggang terus diganyang dengan lahapnya. Hanya sebentar saja sepoci penuh arak dan seekor ayam panggang itu telah disapu bersih. Ia tepuk-tepuk perut sendiri sambil berkata, “Ehmmm, arak sedap dan ayam lezat!”

“Cianpwe sudah kenyang makan enak, sekarang silakanlah mengajarkan rahasia lwekangnya,” pinta Hek-pek-cu dengan tertawa. Sekarang ia tidak menyinggung lagi tentang mengangkat guru segala, disangkanya sehabis makan minum tentu Lenghou Tiong sudah lupa.

Tapi Lenghou Tiong juga sengaja tidak menyinggung soal ini, segera ia berkata, “Baiklah, beberapa kalimat rahasia ini hendaklah kau ingat-ingat dengan baik, yakni: ‘Antara delapan nadi dan urat aneh, di dalamnya ada hawa murni, himpunlah di bagian perut, salurkan melalui napas’, dapatkah kau memahami empat kalimat ini?”

Empat kalimat itu memang tidak ada sesuatu yang istimewa, hanya saja Lenghou Tiong telah sengaja menjungkirbalikkan arti yang sebenarnya. Hek-pek-cu merasa empat kalimat itu tiada sesuatu yang bersifat rahasia, maka ia menjawab, “Ya, paham. Mohon Cianpwe sudi mengajarkan empat kalimat lagi.”

Lenghou Tiong juga tidak jual mahal, bahkan ia sengaja obral empat kalimat lagi yang isinya untuk menakut-nakuti. Keruan Hek-pek-cu terperanjat, kalau mesti berlatih menurut kalimat-kalimat rahasia itu pastilah jiwanya akan melayang, hal ini mustahil dapat dilakukan. Maka ia bertanya, “Empat kalimat ini Wanpwe benar-benar tidak paham.”

“Sudah tentu kau tidak paham,” sahut Lenghou Tiong. “Ilmu sakti ini kalau dapat dipahami dengan begitu saja, lalu apa artinya sebagai ilmu sakti?”

Sampai di sini Hek-pek-cu merasa kata-kata Lenghou Tiong itu nadanya makin berbeda daripada orang she Yim itu, mau tak mau timbul juga rasa curiganya.

Maklumlah pertemuan yang sudah-sudah itu Lenghou Tiong sangat sedikit membuka suara, ucapannya dibikin serak dan samar-samar pula, tapi sekarang dia habis makan minum enak, semangatnya berkobar-kobar dan bicaranya menjadi banyak. Dasarnya Hek-pek-cu juga memang cerdik, maka ia menjadi curiga. Cuma sama sekali tak terduga olehnya bahwa orang yang di penjara itu sekarang sudah bukan lagi orang she Yim itu, hanya disangkanya kalimat-kalimat rahasia itu sengaja dibuat-buat untuk mempermainkan dia saja.

Lenghou Tiong lantas merasa juga akan curiga Hek-pek-cu, cepat ia menambahkan, “Nanti kalau kau sudah terima ajaran dengan lengkap tentu akan paham dengan sendirinya.”

Habis berkata ia lantas menaruh kembali poci arak itu di atas nampan dan diangsurkan keluar melalui lubang persegi itu. Ketika Hek-pek-cu hendak menerima nampan itu, sekonyong-konyong Lenghou Tiong menjerit, badannya sempoyongan ke depan, “blang”, kepalanya membentur pintu besi itu, nampan juga akan tertarik masuk kembali.

“He, kenapa?” tanya Hek-pek-cu. Sebagai seorang ahli silat, reaksinya dengan sendirinya sangat cepat, tangannya terus menyambar ke lubang persegi itu untuk menangkap nampan agar poci arak di atasnya tidak sampai terjatuh dan pecah.

Dan justru pada detik itulah sebelah tangan Lenghou Tiong sudah lantas membalik ke atas dan tepat mencengkeram pergelangan tangan Hek-pek-cu itu sambil berseru, “Hek-pek-cu, coba perhatikan siapakah aku ini?”

Tidak kepalang kejutnya Hek-pek-cu karena kejadian yang tak terduga-duga itu, nampan yang masih keburu dipegang olehnya itu lantas terlepas lagi, serunya dengan takut, “Kau … kau ….”

Kiranya tadi waktu Hek-pek-cu menjulurkan tangan hendak menerima kembali nampan, tiba-tiba timbul rasa penasaran Lenghou Tiong yang tak terkatakan, ia merasa biang keladi yang mengurung dirinya di situ dan menderita sekian lamanya tak-lain tak-bukan adalah manusia licik yang berada di depannya itu. Jika tangannya dapat dipegang dan dipuntir patah sedikitnya akan terlampiaslah rasa dendamnya. Apalagi kalau tangan Hek-pek-cu itu mendadak dipegang olehnya tentu akan kaget setengah mati, andaikan tidak berhasil sedikitnya juga akan membikin kaget padanya, tentunya sangat lucu orang yang kaget mendadak itu.

Entah lantaran timbul maksud balas dendamnya atau karena pikiran kanak-kanak yang ingin menggoda orang supaya kaget itu, maka mendadak ia pura-pura jatuh sempoyongan untuk memancing reaksi Hek-pek-cu. Dan hasilnya ternyata cocok dengan rekaannya, sekali pancing tangan Hek-pek-cu sudah lantas kena dipegang olehnya.

Sebenarnya Hek-pek-cu juga seorang yang amat cerdik, namun sama sekali ia tidak menduga akan kejadian demikian, ketika mendadak ia merasa gelagat jelek, namun sudah terlambat, tangannya sudah keburu tercengkeram dengan kuat seakan-akan terbelenggu, tanpa pikir lagi segera ia memutar tangannya dengan maksud balas mencengkeram tangan lawan, berbareng itu terdengar “blang” yang keras, tahu-tahu beberapa jari kakinya sudah patah, saking sakitnya sampai ia berkaok-kaok.

Kan aneh? Tangannya yang terpegang Lenghou Tiong, mengapa jari kakinya yang patah?

Kiranya Hek-pek-cu memiliki suatu jurus simpanan yang disebut “Kau-liong-cut-tong” (Naga Keluar dari Gua). Jurus ini baru digunakan apabila sebelah tangannya dipegang musuh, sembari membetot sekuatnya, berbareng sebelah kakinya lantas menendang secepat kilat ke tempat mematikan di tubuh musuh, kalau bukan bagian dada tentulah bagian selangkangan, lihainya bukan buatan, jika kena musuh pasti akan menggeletak seketika.

Kalau musuh adalah ahli silat yang sama tingkatan, maka jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri ialah melepaskan tangan Hek-pek-cu yang dicengkeram itu. Tapi ia lupa bahwa di antara mereka itu masih terhalang oleh selapis daun pintu besi. Jurus “Kau-liong-cut-tong” itu memang digunakan dengan sangat tepat, tempat yang ditendang juga sangat jitu, tenaganya amat lihai pula, cuma sayang yang terkena tendangannya adalah daun pintu besi sehingga menimbulkan suara nyaring keras.

Lenghou Tiong baru tahu apa yang terjadi sesudah mendengar suara “blang” yang keras itu, baru diketahui dirinya telah selamat berkat lindungan pintu besi itu. Ia menjadi geli malah dan terbahak-bahak, katanya, “Hahaha, boleh tendang sekali lagi, harus tendang sama kerasnya seperti barusan ini, habis itu aku lantas melepaskan kau!”

Tapi mendadak Hek-pek-cu merasa tenaga dalamnya terus merembes keluar melalui dua tempat hiat-to di pergelangan tangannya itu, tiba-tiba teringat olehnya sesuatu hal yang paling ditakutinya selama hidup ini. Keruan sukmanya seakan-akan terbang meninggalkan raganya. Sembari mengerahkan tenaga dan menghimpun napas ia pun memohon dengan sangat, “Lo … Locianpwe, mohon engkau … engkau ….” Masih mending baginya jika tidak bicara, begitu membuka mulut tenaga dalamnya juga lantas membanjir keluar. Terpaksa ia tutup mulut dan tidak berani bicara lagi. Namun demikian tenaga dalam masih tetap merembes keluar tak tertahankan.

Setelah meyakinkan ilmu yang terukir di atas dipan besi itu, hawa murni di dalam perut Lenghou Tiong sudah terkuras habis, perutnya sekarang sudah kosong dan minta diisi. Sekarang dirasakan ada hawa murni yang menyalur ke dalam perutnya sedikit demi sedikit, namun hal ini pun tidak diperhatikan olehnya. Hanya diketahuinya tangan Hek-pek-cu gemetar terus seperti sangat ketakutan. Lantaran masih gemas padanya, Lenghou Tiong sengaja hendak menggertaknya sekalian, segera ia berkata, “Aku sudah mengajarkan ilmu padamu, maka kau sudah terhitung muridku, kau berani menipu dan mengkhianati perguruan, apa hukuman atas dosamu ini?”

Namun Hek-pek-cu merasakan tenaga dalamnya semakin cepat mengalir keluar, sekarang ia sudah melupakan sakit kakinya, yang dia harap adalah lekas melepaskan tangan dari lubang persegi itu, andaikan sebelah tangan itu harus dikorbankan juga rela. Berpikir demikian segera sebelah tangannya melolos pedang yang terselip di pinggang.

Karena sedikit bergerak saja seketika kedua hiat-to di pergelangan tangannya itu laksana tanggul yang bobol, seketika tenaga dalam membanjir keluar seperti air bah dan sukar dibendung lagi.

Hek-pek-cu sadar asalkan terlambat sebentar lagi tentu segenap tenaga dalamnya sendiri akan tersedot semua oleh lawan. Maka sekuatnya ia melolos pedangnya sendiri, dengan nekat pedang itu diangkat terus hendak menebas ke lengannya sendiri. Tapi sedikit ia menggunakan tenaga saja, serentak tenaga dalamnya membanjir keluar lebih cepat dan lebih deras, telinganya terasa mendengung keras, lalu tak sadarkan diri lagi.

Maksud Lenghou Tiong mencengkeram tenaga Hek-pek-cu itu sebenarnya cuma bermaksud menakut-nakuti saja untuk melampiaskan dongkolnya, tak terduga bahwa lawan sampai jatuh kelengar saking takutnya. Sembari bergelak tertawa ia lantas melepaskan cengkeramannya. Kontan badan Hek-pek-cu lantas lemas terkulai ke bawah, perlahan-lahan sebelah tangan yang baru dilepaskan Lenghou Tiong juga mengkeret keluar.

Sekilas teringat sesuatu pada benak Lenghou Tiong, lekas-lekas ia pegang pula tangan Hek-pek-cu. Untung dia cukup cepat sehingga masih keburu menyambar tangan orang. Pikirnya, “Kenapa aku tidak membelenggu dia dengan gelang besi ini untuk memaksa Ui Ciong-kong dan kawan-kawannya membebaskan aku?”

Segera ia tarik pula sekuatnya tangan Hek-pek-cu itu. Di luar dugaan bahwa sekarang tenaga dirinya sudah luar biasa kuatnya, sekali tarik saja bukan cuma tangan Hek-pek-cu yang mendekat, bahkan kepala Hek-pek-cu ikut menerobos masuk melalui lubang persegi itu, “bluk”, tahu-tahu seluruh badan Hek-pek-cu telah menyusup ke dalam kamar penjara itu dan terbanting di lantai.

Hal ini benar-benar tidak pernah dibayangkan oleh Lenghou Tiong. Ia sendiri menjadi melongo kesima. Tapi segera ia memaki pada dirinya sendiri yang terlalu goblok, seharusnya sejak dulu-dulu mesti diketahui bahwa lubang persegi yang lebarnya ada dua-tiga puluh senti itu, asalkan kepala bisa masuk dengan sendirinya maka badannya juga bisa masuk. Jika badan Hek-pek-cu dengan gampang bisa menerobos masuk, mengapa dirinya tak bisa? Tadinya, memang dia terbelenggu dan dirantai sehingga sukar meloloskan diri, tapi sekarang belenggu sudah digergaji putus orang, mengapa sekarang tidak melarikan diri.

Rupanya pada waktu ia mengetahui belenggunya telah digergaji putus oleh orang, saat mana ia sedang memusatkan segenap pikirannya untuk berlatih ilmu sakti di atas dipan besi itu, pula ilmu itu belum hafal seluruhnya sehingga tatkala mana belum timbul pikirannya untuk segera berusaha meloloskan diri dari penjara itu.

Sekarang Hek-pek-cu telah ditariknya masuk ke kamar penjara, hanya berpikir sejenak saja dia lantas punya keputusan yang tetap. Segera ia menanggalkan pakaian Hek-pek-cu untuk ditukar dengan pakaiannya sendiri, lalu kerudung kepala Hek-pek-cu itu pun dipindahkan di atas kepalanya sendiri. Ia pikir andaikan di luar nanti ketemukan orang tentu mereka akan mengira dirinya adalah Hek-pek-cu.

Kemudian tangan dan kaki Hek-pek-cu dibelenggu dengan gelang besi yang sudah putus itu, Lenghou Tiong menggencet gelang besi itu sehingga merapat dan menggigit daging lengan Hek-pek-cu itu. Saking kesakitan Hek-pek-cu sampai siuman kembali dan merintih kesakitan.

“Biarlah kita berganti tempat, besok juga kakek itu akan mengantar ransum untukmu, jangan khawatir kelaparan,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Yim … Yim-locianpwe,” kata Hek-pek-cu dengan meratap, “engkau punya Gip … Gip-sing-tay-hoat ….”

Dahulu waktu Lenghou Tiong membantu Hiang Bun-thian melawan keroyokan orang banyak di tengah gardu yang terpencil itu ia pun pernah mendengar orang berteriak tentang “Gip-sing-tay-hoat” (Ilmu Sakti Mengisap Bintang), sekarang didengar pula Hek-pek-cu menyebut nama ilmu itu, segera ia bertanya, “Gip-sing-tay-hoat apa?”

“Aku … aku memang pantas mati ….” hanya sekian ucapannya Hek-pek-cu sudah merasa lemas, tenggorokan mengeluarkan suara mengorok, lalu tidak sanggup bersuara lagi.

Karena lebih penting meloloskan diri, maka Lenghou Tiong tidak gubris lebih jauh padanya, segera ia menjulurkan kepalanya keluar lubang persegi itu, kedua tangan lantas merambat pula ke luar, ketika tangannya menolak daun pintu besi itu, seketika tubuhnya melesat ke luar untuk kemudian menancapkan kakinya di tanah dengan tegak. Karena perutnya sekarang terkumpul pula hawa murni berasal dari Hek-pek-cu itu sehingga rasanya tidak enak. Ia tidak tahu duduknya perkara, disangkanya hawa murni berasal dari Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio itu kembali mengganggunya lagi. Tapi sementara ini tidak sempat berlatih ilmu yang diperolehnya dari ukiran dipan besi itu, yang dia harapkan adalah lekas-lekas meninggalkan penjara maut itu, maka cepat ia melangkah keluar melalui jalan di bawah tanah yang remang-remang itu.

Karena habis digunakan masuk oleh Hek-pek-cu, dengan sendirinya pintu-pintu jalan bawah tanah itu semuanya masih terbuka, maka dengan leluasa Lenghou Tiong dapat melepaskan diri dari kurungan.

Sampai di ujung lorong itu, perlahan-lahan ia naik ke atas undak-undakan, tepat di atasnya adalah sebuah papan besi penutup. Ia coba pasang kuping, tapi tidak mendengar suara apa-apa. Setelah mengalami sekapan di dalam penjara ini, nyata Lenghou Tiong sudah tambah cerdik dan waspada, ia tidak lantas menerjang ke atas, tapi berdiri di situ rampai sekian lamanya, setelah jelas tak ada suara apa-apa dan yakin Ui Ciong-kong tiada berada di dalam kamarnya, habis itu baru perlahan-lahan ia menolak papan besi penutup itu, lalu meloncat ke atas.

Setelah menutup kembali papan besi itu di tempatnya, lalu dengan berjinjit-jinjit ia hendak melangkah ke luar kamar. Tapi mendadak seorang berkata dengan suara dingin di belakangnya, “Jite, apa yang kau lakukan sendirian di bawah sana?”

Lenghou Tiong terkejut dan cepat menoleh, ternyata Ui Ciong-kong, Tan-jing-sing, dan Tut-pit-ong bertiga sudah mengepung di sekelilingnya dengan senjata terhunus. Ia tidak tahu bahwa selama ini cara Hek-pek-cu memasuki penjara di bawah tanah itu adalah menggunakan pintu rahasianya sendiri, jadi sebenarnya tidak melalui kamar tidurnya Ui Ciong-kong, tapi sekarang Lenghou Tiong telah keluar melalui jalan itu sehingga menyentuh pesawat rahasia dan menerbitkan tanda alarm, maka serentak Ui Ciong-kong bertiga lantas muncul. Cuma dia memakai kerudung kepala, pakaiannya sudah bertukar pula dengan pakaian Hek-pek-cu, maka Ui Ciong-kong bertiga tidak mengenalinya dan tetap menyangka dia adalah Hek-pek-cu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: