Hina Kelana Bab 72. Habis Murung Dapat Untung

Hina Kelana: Bab 72. Habis Murung Dapat Untung
Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — Tags: +Hina Kelana — ceritasilat @ 10:30 pm

Namun dalam lubuk hatinya ia tetap merasa biarpun dia tidak dapat mengawini Gak Leng-sian, namun nona itu mencintai pula Lim Peng-ci, betapa pun hal ini membuat perasaannya sangat tertusuk. Paling baik, ia merasa paling baik kalau sang sumoay masih tetap seperti masa dulu, paling baik tidak pernah terjadi apa-apa, Lim-sute tidak pernah menjadi murid Hoa-san-pay, dengan demikian ia akan dapat hidup berdampingan dengan Gak Leng-sian untuk selamanya.

“Ai, tapi sekarang semua itu sudah terjadi,” pikirnya pula. “Dan entah bagaimana dengan Dian Pek-kong, ada lagi Tho-kok-lak-sian, ada lagi Gi-lim Sumoay ….”

Teringat kepada nikoh cilik Hing-san-pay yang bernama Gi-lim itu, seketika timbul senyumannya yang hangat, pikirnya, “Entah di mana sekarang Gi-lim Sumoay itu? Jika dia tahu aku terkurung di sini, tentu dia akan sangat khawatir pula. Sudah tentu gurunya akan melarang dia datang menolong aku karena surat edaran suhu, tapi dia … dia pasti akan mohon ayahnya, yaitu Put-kay Hwesio untuk berdaya, bisa jadi akan jadi akan mengajak pula Tho-kok-lak-sian ke sini. Ai, ketujuh orang itu suka berbuat ngawur dan takkan mampu menghasilkan apa-apa. Tetapi … tetapi bila kedatangan penolong kan lebih baik daripada tidak ada orang menggubris urusanku?”

Teringat pada kelakuan Tho-kok-lak-sian yang ngawur dan sinting itu, tanpa terasa Lenghou Tiong mengekek tawa.

Dahulu ia rada menyepelekan tingkah laku Tho-kok-lak-sian itu, tapi sekarang ia berharap-harap mereka dapat menjadi teman mengobrol di dalam penjara yang sunyi ini, ucapan Tho-kok-lak-sian yang aneh-aneh dan lucu-lucu itu jika didengarnya sekarang mungkin akan dianggapnya sebagai nyanyian malaikat dewata.

Berpikir dan termenung pula, akhirnya Lenghou Tiong terpulas lagi.

Entah lewat berapa lama di dalam penjara yang gelap itu, dalam keadaan masih mengantuk, tiba-tiba terlihat sinar remang-remang menembus masuk pula melalui lubang persegi di pintu besi itu. Dengan girang cepat Lenghou Tiong berbangkit, hatinya berdebar-debar, pikirnya, “Entah siapakah yang datang menolong aku?”

Tapi rasa girang itu tidak bertahan lama, segera ia dengar suara tindakan orang yang perlahan dan berat, terang yang datang adalah kakek pengantar makanan itu. Dengan lemas ia rebahkan diri lagi sambil berteriak, “Panggil keempat bangsat anjing itu ke sini! Coba mereka ada muka buat menemui aku atau tidak?”

Terdengar suara tindakan kaki semakin mendekat, cahaya lampu juga makin terang. Menyusul sebuah nampan kayu disodorkan masuk melulu lubang persegi itu. Di atas nampan tetap tertaruh semangkuk besar nasi dan sebuah kendi. Kakek itu sama sekali tidak bicara, hanya menyodorkan nampan ke dalam dan menunggu diterima oleh Lenghou Tiong.

Memangnya Lenghou Tiong sudah sangat kelaparan, lebih-lebih kerongkongannya yang sudah kering itu. Hanya ragu sejenak saja segera ia sambut nampan kayu itu. Sesudah melepaskan nampan, si kakek lantas putar tubuh dan melangkah pergi.

“He, hei, nanti dulu, aku ingin tanya padamu!” teriak Lenghou Tiong.

Namun kakek itu sama sekali tidak menggubris, terdengar suara kakinya yang melangkah, dengan berat dan setengah diseret, lambat laun menjauh dan cahaya lampu pun lenyap akhirnya.

Lenghou Tiong menggerutu beberapa kali lalu kendi itu diangkat terus dituang mulut. Isi kendi itu memang betul air minum. Sekaligus ia menghabiskan hampir setengah kendi, habis itu baru makan nasi. Sayuran yang bercampur nasi itu biarpun dalam kegelapan juga dapat dibedakan rasanya, yaitu terdiri dari masakan lobak, tahu, dan sebagainya.

Begitulah ia meringkuk dalam penjara itu sampai tujuh atau delapan hari, si kakek pasti datang satu kali mengantar daharan, ketika pergi dibawanya sekalian mangkuk, sumpit, kendi yang diantar sehari sebelumnya. Begitu pula dibawa pergi tempurung wadah kotoran. Tapi biar bagaimana Lenghou Tiong mengajak bicara padanya selalu air mukanya tampak kaku tanpa memberi sesuatu perasaan apa pun.

Entah sudah berapa hari lagi, ketika Lenghou Tiong melihat cahaya lampu, segera ia menubruk ke depan lubang persegi itu dan memegangi nampan kayu yang disodorkan si kakek sambil berteriak, “Kenapa kau tidak bicara? Kau dengar tidak kata-kataku?”

Karena jaraknya dengan si kakek sekarang sangat dekat mendadak ia jadi terkejut. Ternyata kedua mata orang itu terbelalak putih, sinar matanya buram jelas seorang buta. Malahan orang tua itu menuding-nuding pula telinga sendiri sambil geleng-geleng kepala sebagai tanda dia orang tuli, menyusul ia lantas pentang mulut pula.

Lenghou Tiong tambah melongo kaget. Kiranya lidah orang tua itu hanya tinggal sebagian kecil saja, ujungnya sebagian besar telah terpotong sehingga tampaknya sangat mengerikan.

“Hah, jadi lidahmu dipotong orang? Apakah perbuatan keji keempat chengcu itu?” seru Lenghou Tiong.

Orang tua itu tidak menjawab, perlahan ia mengangsurkan nampan. Nyata sekali ia tidak dengar apa yang diucapkan Lenghou Tiong. Andaikan dengar juga tidak dapat menjawab karena sudah bisu.

Rasa kejut dan ngeri meliputi perasaan Lenghou Tiong, sampai orang tua itu pergi ia masih belum tenang kembali. Ia berbaring pula dan termenung-menung membayangkan lidah yang hampir habis terpotong itu sehingga nafsu makan pun lenyap. Diam-diam ia bersumpah bilamana pada suatu ketika dia berhasil lolos dari tempat tahanan itu maka seorang demi seorang lidah Kanglam-si-kau itu pun akan dipotong olehnya, telinga akan dibikin tuli.

Tiba-tiba timbul setitik sinar terang dalam hati kecilnya, pikirnya, “Ah, benar, sebab apakah mereka memperlakukan aku cara demikian? Jangan-jangan mereka adalah ….”

Ia menjadi teringat kepada peristiwa dahulu ketika malam itu sekaligus ia membutakan belasan laki-laki, asal usul orang-orang itu selama ini masih belum diketahui, jangan-jangan mereka itulah yang hendak menuntut balas padanya. Teringat kejadian itu ia lantas menghela napas, rasa dongkolnya yang tak terlampias selama beberapa hari lantas lenyap sebagian besar, ia anggap pembalasan dendam mereka pun cukup beralasan karena belasan pasang mata pernah dibutakan olehnya.

Karena rasa dongkol dan gemasnya mulai lenyap maka hari-hari selanjutnya menjadi mudah untuk dilalui. Karena siang atau malam tak terbedakan di dalam penjara yang gelap itu sehingga ia pun tidak tahu sudah terkurung berapa lama di situ. Yang terasa olehnya adalah makin hari makin gerah hawa di dalam kamar penjara itu, ia menduga mungkin sudah musim panas. Apalagi kamar sempit itu sama sekali tidak ada lubang angin.

Suatu hari hawa sangat panas, saking tak tahan Lenghou Tiong membuka baju, dengan badan telanjang ia berbaring di atas dipan. Karena tangan dan kaki terantai sehingga tidak mungkin pakaiannya ditanggalkan seluruhnya, maka bajunya hanya ditarik ke atas dan celana digulung ke bawah. Tikar rombeng yang menutupi dipan besi itu pun digulungnya. Maka terasalah segar badannya yang telanjang itu ketika rebah dipan besi. Tanpa terasa akhirnya ia tertidur.

Lambat laun dipan itu menjadi panas juga tertindih oleh badannya, dalam keadaan lamat-lamat ia membalik tubuh dan menggeser ke tempat yang masih nyaman, ketika sebuah tangan menahan dipan, tiba-tiba terasa permukaan dipan seperti terukir sesuatu, cuma waktu itu dia sedang mengantuk, maka hal itu tidak diurus lebih jauh.

Nyenyak sekali ia tertidur, ketika bangun ia merasa semangatnya penuh. Tidak lama kemudian orang tua itu datang lagi mengantar makanan.

Kini Lenghou Tiong merasa sangat simpatik kepada kakek yang cacat itu, setiap kali ia menyodorkan nampan makanan tentu dia meremas-remas tangannya atau tepuk-tepuk perlahan punggung tangan orang tua itu sebagai tanda terima kasihnya. Maka sekali ini pun tidak terkecuali.

Setelah menerima nampan itu dan waktu menarik kembali lengannya, di bawah cahaya yang remang sekonyong-konyong dilihatnya pada punggung tangan sendiri menonjol empat huruf, dengan jelas dapat terbaca empat huruf itu berbunyi “ngo-heng-pi-gun.”

Terheran-heran Lenghou Tiong, seketika ia tidak mengerti dari mana datangnya empat huruf itu. Setelah merenung sejenak, cepat ia menaruh nampan itu dan segera dipan besi diraba-rabanya. Baru sekarang diketahui bahwa di atas dipan besi itu ternyata penuh terukir tulisan yang tak terhitung banyaknya.

Maka pahamlah dia bahwa tulisan di atas dipan itu sudah lama terukir di situ, tadinya dipan itu tertutup selapis tikar, maka tidak terang. Lantaran semalam hawa terlalu gerah sehingga dia tidur dengan badan telanjang maka tercetaklah empat huruf itu di lengannya. Ia coba-coba meraba-raba lagi bagian lengan yang lain, bagian pinggul dan punggung, memang benar semuanya tercetak huruf-huruf sebesar mata uang, lekuk tulisan itu cukup mendalam.

Saat itu kakek pengantar makanan itu sudah pergi. Segera Lenghou Tiong minum air kendi beberapa ceguk. Tanpa pikirkan makan nasi lagi segera ia mulai meraba-raba tulisan di atas dipan itu. Perlahan dan satu demi satu huruf ia menelitinya sambil mulut membaca lirih, “Aku selamanya tidak ambil pusing tentang budi dan benci, orang yang sudah kubunuh tak terhitung banyaknya, sekarang aku terkurung di bawah danau adalah ganjaran pantas. Cuma aku Yim Ngo-heng terkurung ….”

Sampai di sini barulah Lenghou Tiong tahu keempat huruf “ngo-heng-pi-gun” (Ngo-heng terkurung) yang tercetak di lengannya itu letaknya di bagian ini.

Ia coba meraba dan meraba terus … “di sini, segenap kepandaianku yang sakti terpaksa harus berakhir bersama badanku yang lapuk ini, sungguh sayang bahwa angkatan muda yang akan datang sama sekali tidak sempat melihat semua ilmu saktiku.”

Lenghou Tiong berhenti meraba, pikirnya sambil menengadah, “Aku Yim Ngo-heng! Yim Ngo-heng? Jadi orang yang mengukir tulisan ini bernama Yim Ngo-heng? Kiranya orang ini pun she Yim, entah ada hubungan dengan Yim-locianpwe atau tidak?”

Ia coba melanjutkan meraba tulisan itu yang berbunyi, “Kini semua intisari ilmu saktiku kutulis di sini, semoga orang muda angkatan mendatang dapat mempelajarinya dan tentu dapat malang melintang di Kangouw, maka tidak percumalah kematianku ini. Pertama, semadi ….”

Dan begitulah tulisan selanjutnya adalah macam-macam ajaran tentang semadi dan mengatur pernapasan segala.

Sejak berhasil meyakinkan Tokko-kiu-kiam, dalam ilmu silat yang paling disukai adalah ilmu pedang, sedangkan tenaga dalam sendiri sudah punah, maka soal semadi baginya menjadi tidak menarik. Yang dia harap tulisan selanjutnya akan menguraikan semacam ilmu pedang yang bagus sehingga dia akan dapat memainkannya sekadar pelipur lara.

Akan tetapi huruf-huruf yang terukir itu seluruhnya adalah ajaran tentang bagaimana harus bernapas, bagaimana harus duduk memusatkan pikiran, dan sebagainya, biarpun tulisan itu habis, terasa juga tidak menemukan sebuah huruf tentang ilmu pedang.

Alangkah kecewa Lenghou Tiong, pikirnya, “Katanya ilmu sakti apa segala, ini kan cuma bergurau saja dengan aku. Segala ilmu silat dapat kuterima, hanya saja tidak dapat berlatih lwekang, sebab begitu mengumpulkan tenaga seketika darah dalam badan akan bergolak dan aku sendiri akan tersiksa.”

Begitulah kemudian ia mulai makan sembari membatin pula, “Entah orang macam apakah Yim Ngo-heng itu? Dia membual ilmu saktinya bisa malang melintang di dunia segala. Tampaknya penjara ini khusus digunakan mengurung jago-jago silat kelas tinggi. Sebab dari ukiran tulisan di atas papan besi ini dapatlah diduga ilmu silat Yim Ngo-heng itu pasti sangat lihai, mengapa dia kena dikurung di sini dan tak berdaya? Jelas penjara ini memang dibangun dengan sangat kuat, biarpun punya kepandaian setinggi langit juga sukar untuk kabur, terpaksa harus menunggu ajal di sini.”

Begitulah ia tidak mau urus lagi ukiran tulisan itu. Pada musim panas, sedangkan di daratan saja panasnya seperti dipanggang, apalagi di penjara bawah tanah yang tak tembus hawa itu, terpaksa setiap hari Lenghou Tiong melepas baju dan tidur di atas dipan besi itu untuk mencari rasa nyaman, tapi setiap kali selalu tangannya meraba ukiran tulisan di atas dipan sehingga tanpa terasa pula banyak sekali kalimat-kalimat di antaranya jadi hafal baginya di luar kepala.

Pada suatu hari sedang ia tiduran sambil mengenangkan guru ibu-guru dan sumoaynya yang molek itu entah sekarang mereka berada di mana atau sudah pulang di Hoa-san. Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh terdengar suara tindakan orang mendatang. Suara ini sangat ringan tapi cepat berbeda sekali dengan langkah si kakek pengantar makanan itu.

Setelah sekian lama mengeram di dalam penjara sebenarnya Lenghou Tiong sudah tidak begitu mengharap-harapkan akan datangnya penolong. Kini mendadak ada suara kaki orang baru, mau tak mau ia menjadi girang dan khawatir. Ia bermaksud melompat bangun, tapi badan terasa lemas sehingga terpaksa tetap berbaring tanpa bergerak lagi.

Terdengar suara tindakan orang itu sangat cepat sekali, tahu-tahu sudah sampai di luar pintu besi dan pintu lubang persegi itu pun terpentang. Sebisanya Lenghou Tiong menahan napas dan tidak mengeluarkan suara apa-apa.

Didengarnya orang di luar itu berkata, “Yim-heng, beberapa hari ini hawa sangat panas, apakah engkau sehat-sehat saja?”

Begitu mendengar suaranya segera Lenghou Tiong dapat mengenali itu adalah suara Hek-pek-cu. Kalau Hek-pek-cu datang sebulan sebelumnya tentu Lenghou Tiong akan terus mencaci maki padanya dengan segala macam kata-kata kotor dan keji, tapi setelah terkurung sekian lamanya, rasa marahnya sudah padam, ia menjadi jauh lebih tenang dan sabar.

Diam-diam ia heran, “Mengapa dia panggil aku sebagai Yim-heng? Apakah dia kesasar pada kamar tahanan ini?”

Karena itu dia tetap diam saja tanpa menjawab.

Terdengar Hek-pek-cu berkata lagi, “Hanya satu pertanyaan saja yang selalu kutanyakan padamu setiap dua bulan satu kali. Hari ini adalah tanggal satu bulan tujuh, yang aku tanya padamu tetap sama, apakah engkau tetap tak mau menyanggupi?”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli, pikirnya, “Nyata orang ini memang keliru menyangka aku sebagai Yim-locianpwe. Aneh benar, biasanya Hek-pek-cu sangat cerdik, apa sekarang dia sudah pikun?”

Tapi segera ia terkesiap, “Ah, tidak mungkin, dibanding Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing, Hek-pek-cu adalah paling cerdik, mana bisa dia salah alamat? Tentu di balik ini ada sebabnya.”

Karena tidak mendapat jawaban, Hek-pek-cu lantas berseru pula, “Yim-heng selama hidup terkenal sebagai kesatria yang lihai, buat apa mesti meringkuk di penjara ini sampai menjadi mayat? Asalkan engkau berjanji menerima permintaanku, maka aku pun akan pegang janji untuk membebaskanmu dari sini.”

Hati Lenghou Tiong menjadi berdebar-debar, timbul macam-macam pikiran dalam benaknya, tapi sukar untuk dipecahkan. Ia tidak mengerti apa artinya Hek-pek-cu mengemukakan kata-kata itu kepadanya.

Didengarnya Hek-pek-cu sedang menegas lagi, “Sesungguhnya kau mau atau tidak?”

Lenghou Tiong tahu sekarang terbuka suatu kesempatan untuk meloloskan diri tak peduli maksud jahat apa akan diperlakukan oleh pihak musuh toh akan lebih baik daripada meringkuk di sini dan tersiksa untuk selamanya. Cuma ia tidak dapat meraba apa maksud tujuan kata-kala Hek-pek-cu tadi, ia khawatir kalau salah jawab sehingga bikin urusan menjadi runyam, maka terpaksa tetap diam saja.

Terdengar Hek-pek-cu menghela napas, katanya pula, “Yim-heng, mengapa engkau tidak bersuara? Tempo hari aku membawa orang she Hong itu kemari untuk bertanding denganmu, di depan ketiga kawanku sama sekali engkau tidak menyinggung tentang pertanyaanku kepadamu sungguh aku merasa terima kasih. Kupikir setelah mengalami pertandingan itu tentu jiwa kepahlawananmu masa lalu kembali akan berkobar lagi. Betapa luasnya jagat raya di luar sana, asalkan Yim-heng sudah keluar dari penjara gelap ini, maka bebaslah Yim-heng untuk membunuh siapa saja dan mana suka, siapa yang berani melawan Yim-heng lagi dan alangkah puasnya? Jika engkau menyanggupi permintaanku, toh hal ini sedikit pun tidak merugikanmu, tapi mengapa selama 12 tahun engkau tetap menolak?”

Dari nada Hek-pek-cu yang diucapkan dengan sungguh-sungguh dan memang menyangka dia sebagai orang tua she Yim itu, maka Lenghou Tiong jadi makin heran dan curiga. Didengarnya Hek-pek-cu bicara terus tapi berulang-ulang yang ditonjolkan adalah soal pertanyaannya yang minta disanggupi itu. Mestinya Lenghou Tiong ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya, tapi khawatir sekali dirinya membuka suara tentu urusan akan runyam maka terpaksa ia membisu terus.

Hek-pek-cu menghela napas katanya, “Karena pendirian Yim-heng sedemikian kukuh terpaksa bertemu lagi dua bulan kemudian.”

Tiba-tiba ia tertawa dan berkata pula, “Sekali ini Yim-heng tidak mencaci maki padaku, tampaknya pikiranmu sudah rada berubah. Dalam dua bulan ini silakan Yim-heng berpikir yang masak.”

Habis itu ia lantas putar tubuh dan melangkah pergi.

Lenghou Tiong menjadi kelabakan, sekali Hek-pek-cu sudah pergi harus menunggu dua bulan lagi, padahal satu hari saja di dalam penjara rasanya seperti setahun jangankan dua bulan. Maka ketika Hek-pek-cu sudah melangkah pergi beberapa tindak cepat-cepat ia menahan suara dan dengan nada kasar yang dibikin-bikin ia berkata, “Kau … kau minta aku menyanggupi apa?”

Mendengar suaranya, secepat kilat Hek-pek-cu melompat balik, serunya, “Yim-heng, jadi engkau sudah mau menyanggupi?”

Perlahan Lenghou Tiong membalik tubuh menghadap dinding, dengan tangan menahan mulut ia berkata pula secara samar-samar, “Menyanggupi soal apa?”

“Selama 12 tahun ini setiap tahun aku selalu datang enam kali ke sini dengan menempuh bahaya hanya untuk mohon kesanggupan Yim-heng, mengapa sudah tahu sekarang Yim-heng malah tanya?” ujar Hek-pek-cu.

“Hm, aku sudah lupa,” demikian Lenghou Tiong sengaja mendengus.

“Aku mohon Yim-heng mengajarkan ilmu sakti itu kepadaku, bila tamat kulatih tentu Yim-heng akan kubebaskan dari sini,” kata Hek-pek-cu.

Diam-diam Lenghou Tiong menjadi ragu apakah benar Hek-pek-cu menyangkanya sebagai tokoh she Yim itu atau ada tipu muslihat lain? Seketika sebelum tahu jelas maksud tujuannya, terpaksa Lenghou Tiong mengoceh lagi secara samar-samar, tapi apa yang dikatakan sampai dia sendiri pun tidak jelas jangankan Hek-pek-cu.

Maka berulang-ulang Hek-pek-cu menegas, “Bagaimana? Yim-heng sudah sanggup?”

“Kata-katamu tak bisa dipercaya, mana aku dapat kau tipu,” kata Lenghou Tiong pula.

“Habis jaminan apa yang Yim-heng kehendaki agar dapat percaya?” tanya Hek-pek-cu.

“Kau bilang sendiri saja,” sahut Lenghou Tiong.

“Kukira Yim-heng masih sangsi aku tidak mau menepati janji melepaskanmu bila aku sudah berhasil mempelajari ilmu saktimu itu bukan? Tentang ini engkau jangan khawatir, aku sendiri akan mengatur sedemikian rupa sehingga Yim-heng tidak perlu ragu lagi.”

“Mengatur cara bagaimana?”

“Tapi engkau sanggup atau tidak?”

Macam-macam pikiran terkilas dalam benak Lenghou Tiong, “Dia mohon belajar ilmu sakti apa-apa padaku, tapi dari mana aku punya ilmu sakti yang dapat kuajarkan padanya. Namun tiada salahnya aku mengetahui apa yang akan dia atur. Jika dia benar-benar bisa membebaskan aku dari sini, biarlah aku lantas menguraikan ajaran yang terukir di atas dipan itu padanya, peduli dia akan terpakai atau tidak yang penting tipu dia dahulu, urusan belakang.”

Karena tidak mendapat jawaban, maka Hek-pek-cu berkata pula, “Bilamana Yim-heng sudah mengajarkan ilmu itu padaku maka aku sudah terhitung muridmu, mana aku berani melanggar peraturan agamamu dan mengkhianati guru tanpa membebaskanmu!”

“Hm, kiranya begitu,” jengek Lenghou Tiong.

“Jadi Yim-heng sudah menyanggupi?” tanya Hek-pek-cu pula, nadanya penuh rasa girang.

“Tiga hari lagi boleh kau datang menerima jawabanku,” kata Lenghou Tiong.

“Sekarang saja Yim-heng boleh menyanggupi, kenapa mesti menunggu tiga hari lebih lama?” ujar Hek-pek-cu.

Lenghou Tiong tahu Hek-pek-cu jauh lebih gelisah daripada dia sendiri, siasat ulur tempo ini tentu akan membuatnya kelabakan sekalian dapat melihat tipu muslihat apa di balik persoalan ini. Maka ia tidak menjawab, tapi sengaja mendengus keras sebagai tanda muak dan tidak sabar lagi.

Rupanya Hek-pek-cu menjadi takut, cepat ia berkata pula, “Baiklah, tiga hari lagi tentu aku akan datang minta petunjuk kepada engkau orang tua.”

Ia tidak memanggil “Yim-heng” (Saudara Yim) lagi, tapi berganti menyebutnya sebagai “orang tua” seakan-akan sudah pasti orang telah menyanggupi akan menerimanya sebagai murid.

Sesudah Hek-pek-cu pergi pikiran Lenghou Tiong jadi bergolak lagi, pikirnya, “Masakah dia benar-benar menyangka aku sebagai Yim-locianpwe itu? Padahal Hek-pek-cu sangat cerdik, mana dia bisa berbuat kesalahan demikian?”

Tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, “Jangan-jangan orang she Yim itu adalah gembong Mo-kau? Tapi di dalam Mo-kau juga ada orang baik seperti Kik Yang itu, ada lagi Hiang-toako, bukankah mereka juga orang Mo-kau?”

Hal ini hanya sekilas saja tebersit dalam benaknya dan lantas tak dipikirkan lagi, yang dia pikirkan hanya dua hal saja. Maksud Hek-pek-cu itu timbul dari ketulusan hatinya atau cuma pura-pura saja? Cara bagaimana harus menjawabnya bilamana tiga hari lagi dia datang pula menanyai aku?

Sehari penuh ia terus pikir ini dan terka itu, macam-macam pikiran yang aneh-aneh telah dikhayalkannya, tapi tetap tidak dapat memastikan maksud tujuan Hek-pek-cu yang sesungguhnya. Sampai akhirnya saking lelah ia terpulas sendiri.

Ketika mendusin, hal yang pertama dipikirnya adalah, “Kalau saja Hiang-toako yang cerdik itu berada di sini tentu dia akan segera mengetahui tujuan Hek-pek-cu. Kecerdasan Yim-locianpwe itu jauh di atas Hiang-toako pula, eh ya ….”

Seketika ia melonjak bangun, rupanya sesudah tidur sekarang benaknya menjadi jernih, pikirnya, “Selama 12 tahun ini Yim-locianpwe tetap tidak menyanggupi permintaan Hek-pek-cu, sudah tentu karena permintaannya itu tidak mungkin dapat diluluskan, sebagai seorang cerdik pandai tentu dia cukup tahu untung ruginya bilamana menyanggupi permintaan Hek-pek-cu. Tapi aku bukan Yim-locianpwe, apa alangannya bagiku untuk menyanggupi dia?”

Dalam hati kecilnya ia tahu urusan ini sangat ganjil, di balik hal ini tentu mengandung bencana yang membahayakan. Tapi rasa ingin lolosnya terlalu keras, asalkan ada kesempatan buat lepas dari penjara neraka ini, segala bahaya tak terpikir lagi olehnya.

Maka diam-diam ia ambil keputusan, tiga hari lagi kalau Hek-pek-cu datang, aku akan menyanggupi permintaannya, aku akan mengajarkan ilmu semadi seperti apa yang terukir di atas dipan ini padanya, coba saja bagaimana reaksinya nanti dan aku akan bertindak menurut gelagat.

Begitulah ia lantas mulai meraba-raba lagi tulisan di atas dipan sembari menghafalkannya dengan baik agar nanti dapat mengucapkannya di luar kepala supaya tidak dicurigai Hek-pek-cu. Sekarang hanya soal suaranya saja yang masih berbeda jauh dengan Yim-locianpwe itu, jalan satu-satunya harus membikin suaranya menjadi serak.

“Ah, aku ada akal, biarlah aku berteriak-teriak dan menggembor selama dua hari ini supaya kerongkonganku menjadi serak, dengan begini suaraku yang kubikin lagi secara samar-samar tentu takkan dikenali lagi olehnya,” demikian Lenghou Tiong merasa girang.

Maka sehabis menghafalkan tulisan terukir itu, lalu ia mulai berteriak-teriak dan gembar-gembor seperti orang gila. Untung penjara itu terletak di bawah tanah, ditambah pintunya yang berlapis-lapis, biarpun bunyi meriam di situ juga takkan terdengar di luar, apalagi cuma suara teriaknya.

Karena itu Lenghou Tiong juga tidak khawatir orang mendengar suaranya, ia berteriak sekuat-kuatnya, sebentar mencaci maki Kanglam-si-yu, sebentar lagi menyanyi, padahal ia sendiri pun tidak tahu apa lagu yang dia nyanyikan itu, akhirnya ia menjadi geli sendiri dan tertawa terpingkal-pingkal. Kemudian mulai lagi menghafalkan ukiran tulisan di atas dipan pula.

Tiba-tiba terbaca olehnya beberapa kalimat yang berbunyi, “Di dalam perut, hampa seperti peti kosong … jika perut ada hawa murni, buyarkan ke bagian nadi yim-meh.”

Kalimat-kalimat ini sebelumnya juga pernah dirabanya beberapa kali, cuma tadinya ia merasa bosan dan mual terhadap ilmu semadi demikian sehingga tidak pernah direnungkan artinya yang dalam. Sekarang mendadak ia merasa heran, “Dahulu pada waktu suhu mengajarkan lwekang padaku, dasarnya yang penting adalah mengumpulkan hawa murni di dalam perut, semakin kuat hawa murni yang dapat dihimpun perut, semakin kuat pula lwekang yang dapat dilatih. Tapi mengapa kalimat ini menyatakan hawa murni yang terdapat di dalam perut harus dibuyarkan malah? Kalau di dalam perut tiada hawa murni, lalu dari mana datangnya tenaga? Kan aneh, apakah ajaran ini bukan sengaja hendak bercanda belaka? Haha, memangnya Hek-pek-cu adalah manusia rendah, jika aku mengajarkan ilmu yang menyesatkan ini padanya, biar dia tertipu.”

Begitulah ia terus melanjutkan meraba tulisan itu sembari merenungkan arti yang terkandung dalam tulisan itu. Ia merasa beberapa ratus huruf permulaan semuanya adalah ajaran cara bagaimana orang harus membuyarkan tenaga, cara bagaimana memunahkan tenaga dalamnya sendiri.

Semakin diselami semakin terkesiap Lenghou Tiong. Pikirnya, “Di dunia ini mana ada orang tolol yang mau memunahkan tenaga dalamnya sendiri yang telah diyakinkan dengan susah payah itu? Ya, kecuali kalau dia sudah bertekad akan membunuh diri. Tapi kalau mau bunuh diri cukup sekali gorok leher sendiri kan beres buat apa mesti buang-buang tenaga dan pikiran untuk membuyarkan tenaga sendiri lebih dulu? Ilmu membuyarkan tenaga ini jauh lebih sukar dilatih daripada ilmu latih mengumpulkan tenaga. Sesudah dilatih apa manfaatnya pula?”

Setelah berpikir sejenak akhirnya Lenghou Tiong menjadi lesu, ia merasa Hek-pek-cu yang cerdik itu masa begitu gampang ditipu dengan diberi ajaran yang tidak masuk akal itu. Tampaknya jalan ini tak bisa dilaksanakan lagi.

Semakin dipikir semakin kesal, bolak-balik yang teringat hanya kalimat tentang “di dalam perut ada hawa murni buyarkan ke nadi yim-meh” dan seterusnya, akhirnya ia menjadi murka, makinya sambil menggebrak dipan, “Bedebah! Keparat itu terkurung di penjara neraka ini, saking gemas dan terlalu iseng ia sengaja mengatur muslihat ini untuk mempermainkan orang lain.”

Setelah mencaci maki, akhirnya ia lelah lagi dan terpulas tanpa terasa. Dalam mimpi ia merasa dirinya duduk di atas dipan dan sedang semadi menurutkan ajaran yang dibacanya dari tulisan ukir itu tentang “hawa murni dalam perut buyarkan ke yim-meh” segala dan suatu arus hawa murni lantas perlahan mengalir ke nadi yim-meh, lalu ruas-ruas tulang di seluruh badan terasa nikmat tak terkatakan.

Tidak lama dalam keadaan samar-samar dan lamat-lamat seperti masih tidur tapi seperti juga sudah sadar ia merasa hawa murni dalam perutnya masih terus bergerak ke nadi yim-meh. Mendadak pikirannya tergerak, “Wah, celaka. Jadi tenaga dalamku mengalir pergi begini terus kan aku bisa menjadi lumpuh dan tak berguna lagi.”

Dalam kagetnya segera ia bangun duduk, seketika hawa murni yang bergerak tadi lantas mengalir balik dari yim-meh. Kontan darah lantas bergolak, kepala puyeng tujuh keliling, dan mata berkunang-kunang, sampai lama dan lama sekali baru dapat memusatkan pikiran lagi.

Sekonyong-konyong ia teringat sesuatu, kejut dan girang berkecamuk serentak, katanya di dalam hati, “Sebabnya penyakitku sukar disembuhkan adalah karena dalam tubuhku mengeram tujuh-delapan macam hawa murni yang dicurahkan Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio sehingga seorang tabib sakti sebagai Peng It-ci juga tidak sanggup mengobati aku. Hong-ting Taysu, ketua Siau-lim-si itu juga mengatakan hawa murni aneh yang bergolak dalam tubuhku ini hanya bisa dipunahkan dengan berlatih ‘Ih-kin-keng’. Tapi ilmu semadi yang merupakan rahasia berlatih lwekang yang terukir di atas dipan ini bukankah justru mengajarkan padaku cara bagaimana memunahkan tenaga dalamku sendiri? Ahahaha! Ai, Lenghou Tiong, kau ini benar-benar bodoh seperti kerbau. Sekarang ilmu ajaib itu terletak di depan matamu mengapa tidak kau yakinkan dengan baik?”

Dapatnya dia berlatih lwekang dalam impian tadi adalah karena sebelumnya ia terlalu disibukkan oleh kalimat yang membosankan itu, pada waktu mimpi yang terpilih adalah ilmu semadi yang terukir di dipan itu dan tanpa terasa ditirukannya dalam mimpi. Cuma kemudian pikirannya lantas kacau sehingga ilmu itu pun mogok setengah jalan.

Sekarang ia lantas mengumpulkan semangat dan mengulangi lagi meraba-raba tulisan yang terukir itu, dihafalkan dan direnungkan semasak-masaknya. Hanya sejam kemudian, terasa macam-macam hawa murni yang selalu mengganggu di dalam perutnya sudah ada sebagian membuyar ke urat nadi yim-meh, meski belum dapat diusir ke luar tubuh, tapi pergolakan darah yang biasanya sangat menyiksa itu kini sudah jauh berkurang.

Ia lantas berbangkit, saking senangnya ia lantas menyanyi, tapi suara nyanyiannya terasa serak semacam suara burung gagak, rupanya gembar-gembor kemarin untuk membikin serak kerongkongannya telah membawa hasil. Kembali ia terbahak-bahak lagi. Pikirnya, “Wahai Yim Ngo-heng, dengan tulisan yang kau tinggalkan ini bermaksud membikin susah orang lain, siapa duga kebentur padaku dan malah memberi manfaat bagiku. Jika di dalam kuburmu kau tahu akan ini mungkin kumismu akan menegak saking gusarnya. Hahahaha!”

Setelah berlatih, rasa laparnya semakin menjadi, akhirnya kakek pengantar makanan yang sangat diharapkan itu datang juga. Segera ia makan dengan lahap, dalam sekejap saja semuanya disapu bersih di dalam perut. Lalu duduk di atas dipan untuk semadi lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: