Hina Kelana Bab 71. Ingin Menolong Malah Terkurung

Lenghou Tiong mengiakan dan segera melangkah maju lagi sambil mendorong pintu besi itu. Terasa engsel pintu sudah penuh berkarat sehingga dengan susah payah barulah pintu itu dapat dipentang setengahan meter lebarnya. Serentak bau apak menusuk hidung.

Tan-jing-sing lantas melangkah maju dan menyodorkan kedua batang pedang kayu. Tanpa bicara Lenghou Tiong menerimanya.

“Hong-hengte, bawalah pelita minyak ini ke dalam,” kata Tut-pit-ong sambil mengambilkan sebuah pelita minyak dari dinding.

Setelah terima pula pelita minyak itu Lenghou Tiong masuk ke dalam ruangan itu. Dilihatnya kamar penjara itu cuma dua-tiga meter persegi saja. Ada sebuah dipan terletak di pojok sana, seorang duduk di atas dipan, rambutnya kusut masai, janggutnya panjang sebatas dada dan berewoknya memenuhi mukanya sehingga wajah tidak jelas lagi. Cuma rambut jenggotnya itu kelihatan masih hitam legam tiada beruban sedikit pun.

Dengan membungkuk tubuh Lenghou Tiong berkata, “Hari ini Wanpwe beruntung dapat berjumpa dengan Yim-locianpwe, diharap sudi memberi petunjuk.”

“Tidak perlu sungkan,” kata orang itu. “Aku harus berterima kasih padamu karena kau datang kemari menghilangkan kesepianku.”

“Apakah boleh kutaruh pelita ini di atas dipan?” tanya Lenghou Tiong.

“Baiklah,” kata orang itu.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa sangsi, kamar tahanan ini sedemikian sempit, cara bagaimana nanti bisa digunakan buat bertanding pedang? Segera ia mendekati dipan dan menaruh pelita minyak, berbareng itu ia pun jejalkan pada tangan orang itu benda kecil di dalam pulungan kertas titipan Hiang Bun-thian itu.

Agaknya orang itu rada melengak ketika menerima pulungan kertas itu, tapi ia lantas berkata dengan lantang, “He, kalian berempat setan itu mau ikut menonton pertandingan atau tidak?”

“Tempatnya terlalu sempit, tentunya tidak muat,” sahut Ui Ciong-kong.

“Baiklah,” kata orang itu. “Nah, sobat cilik, tutup pintunya.”

Lenghou Tiong mengiakan dan segera merapatkan pintu besi.

Ketika orang itu berbangkit dari tempat duduknya, mendadak terdengar suara gemerencing beradunya seutas rantai besi yang kecil. Dengan tangan kanan orang itu mengambil sebatang pedang kayu dari tangan Lenghou Tiong, katanya dengan menghela napas, “Sudah 20 tahun aku tidak menggunakan senjata, entah ilmu pedang yang pernah kuyakinkan dahulu itu masih ingat atau tidak.”

Kini Lenghou Tiong dapat melihat jelas pergelangan tangan orang itu memang betul terkait sebuah gelang besi yang digandeng dengan seutas rantai menjulur ke dinding di belakangnya. Ketika tangan yang lain dan kedua kakinya diamat-amati nyata semuanya juga terantai dan terikat di dinding, dinding di situ hitam mengilat rupanya dinding-dinding itu terbuat dari baja. Diam-diam Lenghou Tiong membatin bahwa rantai dan borgol di tangan orang itu tentu juga terbuat dari baja murni, kalau tidak rantai yang tidak terlalu besar itu sukar mengikat tokoh yang memiliki ilmu silat tinggi seperti orang she Yim ini.

Orang itu menebas-nebaskan pedang kayu itu di udara, tampaknya cuma gerakan perlahan saja, tapi ruangan itu lantas penuh suara mendengung yang memekak telinga.

“Hebat benar tenaga Locianpwe,” puji Lenghou Tiong.

Tiba-tiba orang itu putar tubuh ke sebelah sana seperti hendak membuka rantai, tapi sekilas Lenghou Tiong dapat melihat orang itu telah membuka gulungan kertas dan mengetahui benda keras di dalam gulungan kertas lalu membaca tulisan pada kertas itu.

Lenghou Tiong sengaja melangkah mundur setindak sehingga kepalanya menutup lubang persegi tadi agar orang di luar tidak tahu apa yang sedang dilakukan orang yang berada dalam kamar.

Sejenak tubuh orang she Yim itu tampak gemetar sehingga rantai besi ikut gemerencing nyaring, agaknya dia telah membaca apa yang tertulis pada kertas, ketika berpaling kembali sinar matanya mendadak memancar tajam, katanya, “Sobat cilik, meski kedua tanganku tidak bebas, tapi belum tentu kau dapat mengalahkan aku.”

“Wanpwe adalah angkatan muda yang masih hijau sudah tentu bukan tandingan Locianpwe,” sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati.

“Sekaligus kau telah menyerang Hek-pek-cu sampai lebih 40 jurus sehingga dia terdesak hingga tidak mampu membalas maka sekarang boleh juga coba-coba padaku dengan cara yang sama,” kata orang itu.

“Maaf,” ucap Lenghou Tiong berbareng pedangnya terus menusuk ke depan, yang digunakan adalah jurus pertama yang pernah dipakai menyerang Hek-pek-cu.

“Bagus!” puji orang itu. Pedangnya juga lantas menusuk miring ke dada kiri Lenghou Tiong, ternyata gerakan ini di samping menangkis juga sekaligus menyerang. Sungguh suatu jurus serbaguna yang amat lihai.

Menyaksikan itu dari balik lubang persegi, tanpa tertahan Hek-pek-cu berteriak memuji, “Kiam-hoat bagus!”

“Ya, hari ini anggaplah kalian empat setan sedang beruntung, maka dapat menyaksikan ilmu pedang bagus!” seru orang she Yim dengan tertawa. Pada saat itulah serangan kedua Lenghou Tiong telah tiba pula.

Cepat orang itu putar pedang kayu terus menusuk ke bahu kanan Lenghou Tiong, dia tetap menggunakan jurus menangkis sambil menyerang, suatu jurus serangan dan bertahan yang serbaguna.

Lenghou Tiong terkesiap, ia merasa gerak pedang orang itu sedikit pun tiada lubang kelemahan sehingga tidak dapat mengincar titik lemahnya. Terpaksa ia pun melintangkan pedang untuk menangkis sambil ujung pedang mengacung miring ke depan tetap mengandung daya serang yang menuju perut lawan.

“Hah, bagus juga ini!” seru orang itu dengan tertawa sembari tarik pedang untuk mematahkan serangan Lenghou Tiong.

Begitulah serang-menyerang terus berlangsung, hanya sekejap saja sudah lebih dari 20 jurus, tapi kedua pedang kayu selama itu belum pernah saling bentur. Lenghou Tiong merasa ilmu pedang lawan tiada habis-habisnya dengan macam-macam perubahan, sejak dirinya berhasil meyakinkan Tokko-kiu-kiam belum pernah menemukan lawan sedemikian tangguh.

Karena di antara jurus-jurus serangan musuh sejak mula tiada setitik pun lubang kelemahannya terpaksa Lenghou Tiong melayani dengan perubahan yang sama ruwetnya menurut dasar ajaran Hong Jing-yang, yaitu “dengan tiada jurus serangan mengalahkan serangan musuh”.

Meski “Boh-kiam-sik” (Jurus Mematahkan Ilmu Pedang) dari Tokko-kiu-kiam itu cuma satu gerakan saja tapi meliputi intisari dari segala macam ilmu pedang yang paling lihai di seluruh dunia, walaupun “tanpa jurus” tapi memakai semua jurus serangan paling lihai dari segala ilmu pedang di dunia ini sebagai dasar.

Melihat ilmu pedang Lenghou Tiong itu berubah-ubah tiada habis-habisnya, setiap perubahannya selalu serbabaru, namun berkat pengalamannya yang luas, ditambah kecerdasannya yang luar biasa maka dapatlah orang itu mematahkan setiap serangan Lenghou Tiong.

Tapi sesudah lebih 40 jurus lambat laun orang itu sudah mulai merasa seret gerak pedangnya. Perlahan ia kerahkan tenaga dalam batang pedangnya sehingga setiap kali pedangnya bergerak lantas membawa suara gemuruh yang keras.

Namun letak keajaiban Tokko-kiu-kiam itu justru tidak sampai mengadu tenaga dalam dengan pihak lawan. Tak peduli betapa kuat tenaga lawan selalu tersapu lenyap. Hanya saja Lenghou Tiong baru pertama kali ini menghadapi lawan mahatangguh sejak berhasil meyakinkan Tokko-kiu-kiam, mau tak mau timbul juga rasa jerinya, beberapa kali ia menghadapi serangan bahaya walaupun berhasil dipatahkan olehnya, tapi mengucur juga keringat dinginnya.

Padahal rasa kejut orang itu jauh melebihi Lenghou Tiong. Beberapa kali serangan tampaknya dia pasti akan menang dan Lenghou Tiong akan terpaksa membuang pedang dan menyerah, jalan lain tidak ada. Tapi justru pada detik yang terakhir itulah mendadak mengeluarkan jurus yang aneh, bahkan sempat balas menyerang pula dengan tidak kurang lihainya.

Ui Ciong-kong berempat berjubel di luar pintu besi dan mengintip ke dalam melalui lubang persegi yang kecil itu, paling-paling hanya cukup untuk mengintip sekaligus oleh dua orang saja, bahkan masing-masing hanya bisa mengintip dengan sebelah mata. Maka mereka harus bergilir, habis dua orang mengintip sebentar, lalu ganti dua orang yang lain.

Semula mereka terheran-heran dan kagum luar biasa ketika melihat kebagusan ilmu pedang yang dimainkan Lenghou Tiong, sampai akhirnya di mana letak kehebatan ilmu pedang kedua orang yang bertanding itu sudah tak bisa lagi dipahami oleh mereka berempat.

Terkadang Ui Ciong-kong melihat sejurus yang hebat, ia lantas memeras otak menyelami di mana letak kebagusan jurus itu, sampai lama sekali barulah dia paham, tapi sementara itu kedua orang yang bertanding itu sudah bergebrak belasan jurus lagi dan bagaimana belasan jurus yang lalu itu menjadi tidak diketahuinya sama sekali.

Sungguh kejut Ui Ciong-kong tak terkatakan, pikirnya, “Kiranya sedemikian rupa kehebatan ilmu pedang Saudara Hong ini. Tadi waktu dia bertanding dengan aku sebenarnya dia hanya menggunakan satu bagian ilmu pedangnya saja. Jangankan dia tidak punya tenaga dalam dan aku punya pedang tak berwujud, tidak mampu mengapa-apakan dia, seumpama dia mempunyai tenaga penuh juga aku tidak sanggup melawannya. Bila mau asal sekaligus dia menyerang tiga kali sudah pasti aku lempar kecapi dan menyerah kalah. Bahkan kalau bertempur sungguh-sungguh, satu jurus saja dia sudah mampu membutakan kedua mataku.”

Letak keistimewaan Tokko-kiu-kiam itu adalah musuh semakin hebat ia pun semakin kuat. Jika musuh hanya jago rendahan, maka intisari Tokko-kiu-kiam itu malah sukar dipancarkan seluruhnya. Dan sekarang yang dihadapi Lenghou Tiong justru adalah seorang tokoh Bu-lim yang pernah mengguncangkan dunia persilatan, betapa tinggi ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang sukar dibayangkan. Maka demi mendapat serangannya seketika segala macam kebagusan yang terkandung dalam Tokko-kiu-kiam pun lantas terpancar seluruhnya. Coba kalau Tokko Kiu-pay hidup kembali tentu dia pun akan kegirangan bila menemukan lawan sekuat ini.

Sesudah berlangsung 40 jurus lebih, serangan Lenghou Tiong semakin gencar dan bertambah lancar, banyak gerakan bagus bahkan belum pernah diajarkan Hong Jing-yang sendiri. Karena rasa takutnya lenyap maka segenap pikirannya tercurah ke dalam ilmu pedangnya itu.

Berturut-turut orang itu berganti delapan macam ilmu pedang yang paling lihai, tapi bagaimanapun juga Lenghou Tiong tetap dapat melayani dengan lancar seakan-akan semua jenis ilmu pedang itu sudah sangat hafal baginya.

Mendadak orang itu melintangkan pedangnya sambil membentak, “Sobat cilik, sesungguhnya ilmu pedangmu ini ajaran siapa? Rasanya kakek Hong tidak memiliki kepandaian demikian.”

Lenghou Tiong rada terkesiap, jawabnya, “Jika ilmu pedang ini bukan ajaran Hong-losiansing, siapa lagi orang kosen di dunia ini yang mampu mengajar padaku?”

“Benar juga,” seru orang itu. “Ini, sambut lagi ilmu pedangku ini!”

Mendadak ia bersuit panjang nyaring, pedang terus menebas.

Cepat Lenghou Tiong miringkan pedang dan menusuk ke depan, terpaksa orang itu menarik kembali pedangnya untuk menangkis. Berulang-ulang orang itu membentak-bentak seperti orang gila. Semakin ribut mulutnya, semakin cepat pula serangannya.

Dari ilmu pedang lawan itu Lenghou Tiong merasa tiada sesuatu yang luar biasa, hanya suara teriakan dan bentakannya itulah yang membikin pikirannya kacau. Sekonyong-konyong orang itu bersuit keras sekali, anak telinga Lenghou Tiong serasa mendengung pecah tergetar, pikirannya menjadi gelap, seketika tak sadarkan diri dan roboh terkapar ….

Begitulah dalam keadaan tak sadarkan diri entah berlangsung sampai berapa lama ketika terasa kepalanya sakit seakan-akan pecah dan telinga masih mendengung-dengung, mendadak ia membuka mata, tapi keadaan gelap gulita entah dirinya berada di mana saat itu. Ia coba menahan dengan tangannya untuk berbangkit, tapi sekujur badan terasa lemas lunglai tiada tenaga sedikit pun.

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Aku tentunya sudah mati dan terkubur di bawah tanah.”

Karena rasa duka dan cemas, kembali ia jatuh pingsan lagi.

Waktu siuman untuk kedua kalinya terasa kepala masih sangat sakit, cuma suara mendengung di telinga sudah jauh lebih enteng, di bawah badan terasa dingin dan keras rasanya seperti berbaring di sebuah papan baja. Ia coba meraba-raba dengan tangan, benar juga terasa dugaannya memang tepat. Tapi sedikit tangannya bergerak tiba-tiba mengeluarkan suara gemerencing yang nyaring berbareng tangannya terasa terikat oleh sesuatu benda keras.

Ketika tangan lain hendak meraba, mendadak tangan sebelah juga mengeluarkan suara nyaring dan terikat.

Kejut dan girang hati Lenghou Tiong. Girang karena dirinya ternyata belum mati. Terkejut lantaran badannya sekarang terantai, jelas keadaannya telah mengalami nasib yang sama dengan orang tua Yim itu.

Ketika tangan kiri diraba, terasa rantai itu pun kecil seperti rantai di kaki tangan orang she Yim. Malahan segera kedua kakinya juga terasa dirantai dengan cara serupa.

Dalam keadaan gelap gulita tiada sesuatu yang dapat dilihat olehnya. Pikirnya, “Waktu pingsan aku sedang bertanding dengan pedang Yim-losiansing, entah cara bagaimana aku masuk perangkap Kanglam-si-yu. Entah aku dikurung di suatu tempat dengan Yim-locianpwe atau tidak?”

Segera ia berteriak-teriak memanggil, akan tetapi tiada terdengar suara jawaban sedikit pun. Ia tambah takut dan berteriak-teriak pula, “Yim-locianpwe!”

Tapi dalam kegelapan hanya kumandang suara sendiri yang serak-serak cemas itu saja yang terdengar.

Setelah tertegun sejenak, kembali ia berteriak-teriak, “Toachengcu, Sichengcu! Mengapa kalian mengurung aku di sini? Lekas lepaskan aku! Lekas bebaskan aku!”

Akan tetapi biarpun kerongkongannya sampai kering, suaranya sampai habis, tetap tidak memperoleh jawaban apa pun.

Akhirnya Lenghou Tiong mencaci maki habis-habisan, “Bangsat, kalian manusia rendah yang tidak tahu malu, apakah kalian bermaksud mengurung aku di sini selama hidup?”

Teringat akan dikurung selama hidup seperti orang tua she Yim itu, seketika Lenghou Tiong merasa putus asa. Mestinya ia adalah pemuda yang tidak takut kepada langit dan tidak gentar pada bumi, pada saat menghadapi bahaya tak pernah memikirkan mati-hidup sendiri. Tapi sekarang demi teringat dirinya akan dikurung hidup-hidup selamanya di penjara yang gelap di dasar danau ini, mau tak mau ia jadi mengirik.

Semakin dipikir semakin takut dan tambah berduka, kembali ia berteriak-teriak lagi, tapi terdengar suaranya berubah menjadi ratap tangis, entah sejak kapan air mata telah membasahi mukanya, dengan ia berteriak, “Kalian empat … empat anjing kotor dari Bwe-cheng ini, bila kelak aku Lenghou Tiong dapat lolos dari sini, aku akan … mencungkil biji mata kalian, akan kupotong kaki tangan kalian ….”

Mendadak ia diam kembali, sesuatu suara menjerit dalam hatinya, “Apakah aku mampu keluar dari penjara ini? Sedangkan tokoh sakti sebagai Yim-locianpwe juga tidak mampu lolos dari sini, apakah … apakah aku mampu?”

Saking cemasnya, tahu-tahu darah segar tersembur keluar dari mulutnya, kembali ia jatuh pingsan lagi.

Setiap kali ia jatuh pingsan setiap kali pula badannya bertambah lemah. Di tengah sadar tak sadar itu tiba-tiba terdengar suara “kletak” satu kali menyusul cahaya terang menyilaukan mata. Lenghou Tiong terjaga bangun terus hendak melompat berdiri. Ia lupa bahwa kaki tangannya sudah terantai semua ditambah lagi badannya sangat lemas, maka baru sedikit ia melompat, “bluk”, kembali ia terbanting ke bawah, seluruh ruas tulang badannya seakan-akan rontok semua.

Sudah lama ia berada di tempat gelap, mestinya cahaya itu sangat menusuk matanya, tapi ia khawatir kalau-kalau sinar terang itu dalam sekejap akan lenyap lagi dan sejak itu akan hilang kesempatan meloloskan diri, maka walaupun matanya terasa pedas oleh cahaya terang itu masih juga dipentang selebar-lebarnya menatap arah datangnya sinar itu.

Ternyata sinar itu menembus masuk melalui sebuah lubang persegi. Segera Lenghou Tiong ingat bahwa penjara tempat terkurung Yim-locianpwe itu pada pintu besi penjara itu juga terdapat sebuah lubang persegi yang serupa. Ia coba melirik sekitarnya, ternyata dirinya memang berada di dalam sebuah kamar penjara begitu.

Kembali ia berteriak-teriak pula, “Lekas lepaskan aku! Ui Ciong-kong, Hek-pek-cu, kalian bangsat anjing kotor, kalau berani lepaskan aku dari sini!”

Dalam keadaan sendirian di tempat gelap ia menangis sedih, tapi begitu melihat datangnya musuh, seketika timbul semangat jantannya, tak peduli bagaimana musuh akan menyiksanya dia takkan menyerah.

Tiba-tiba terlihat sebuah nampan kayu perlahan disodorkan ke dalam melalui lubang persegi itu. Di atas nampan tertaruh sebuah mangkuk nasi dan di atas nasi banyak terdapat sayur-mayur. Selain itu ada lagi sebuah kendi, agaknya berisi air minum.

Melihat itu Lenghou Tiong tambah gusar, pikirnya, “Kalian mengirim makanan padaku, jadi kalian bermaksud mengurung aku di sini dalam jangka panjang?”

Tanpa pikir lagi ia terus mencaci maki, “Anjing-anjing kotor, jika mau bunuh boleh bunuh saja kenapa mesti mempermainkan tuanmu!”

Dilihatnya nampan itu tinggal di depan lubang persegi itu tanpa bergerak, agaknya dimaksudkan Lenghou Tiong menerimanya. Karena ruangan kamar penjara rada sempit, asalkan Lenghou Tiong berbangkit dan sedikit miringkan tubuh tentu tangannya dapat mencapai nampan itu. Mendadak ia sampuk sekerasnya. Maka terdengarlah suara ramai jatuhnya mangkuk dan kendi sehingga hancur semua.

Saking gusarnya Lenghou Tiong menubruk ke depan lubang itu, dilihatnya seorang tua dengan tangan kiri membawa lampu dan tangan lain memegang nampan tadi sedang melangkah pergi dengan perlahan. Orang tua itu sudah beruban semua, mukanya kisut, jelas sudah sangat tua renta, tapi selama ini belum pernah dikenalnya.

“He, lekas kau panggil Ui Ciong-kong, Hek-pek-cu, dan lain-lain ke sini, kalau berani, suruh keempat … keempat anjing itu bertanding mati-matian dengan aku,” teriak Lenghou Tiong.

Namun sama sekali orang tua itu tidak menggubrisnya, dengan terbungkuk-bungkuk setindak demi setindak dia menjauh.

“He, hei! Kau dengar tidak?” teriak Lenghou Tiong pula. Tapi biarpun ia menggembor sekeras-kerasnya, tetap orang tua itu tidak menoleh.

Ketika bayangan orang tua itu menghilang di pojok lorong sana, cahaya lampu juga mulai guram, akhirnya keadaan berubah gelap gulita pula. Selang sejenak, terdengarlah suara tertutupnya pintu kayu dan pintu besi, lalu suasana sunyi senyap lagi.

Kembali Lenghou Tiong merasa kepalanya puyeng, setelah termangu-mangu sejenak, perlahan ia berbaring. Pikirnya, “Orang tua mengantar makanan ini tentu mendapat larangan keras untuk bicara dengan aku, maka percuma biarpun aku berteriak-teriak padanya.”

Lalu terpikir pula, “Tampaknya di bawah perkampungan Bwe-cheng dibangun penjara gelap yang tidak sedikit, entah berapa banyak kaum kesatria dan orang gagah yang ditahan di sini. Jika aku dapat saling berhubungan dengan Yim-locianpwe atau dengan salah seorang kawan senasib yang juga ditahan di sini, dengan gotong royong mungkin akan ada kesempatan lolos dari sini?”

Berpikir demikian, segera ia menggunakan tangan untuk mengetuk dinding. Terdengar dinding itu berbunyi nyaring logam, terang berbuat dari baja. Pula suaranya rada berat, agaknya di sebelah bukan lagi kamar kosong, tapi adalah tanah yang amat keras. Ia coba mengetuk dinding bagian lain, suara yang timbul sama saja. Ia masih belum rela, sesudah duduk kembali di dipannya, ia coba mengetuk lagi dinding sebelah belakang, tapi suaranya ternyata serupa.

Dari apa yang dilakukannya itu ia menarik kesimpulan bahwa selain dinding di sebelah pintu itu, tiga belah dinding yang lain agaknya dibangun dan terpendam di bawah tanah yang amat dalam. Sudah tentu di bawah tanah itu masih ada kamar tahanan yang lain, paling sedikit masih ada sebuah, yaitu tempat tahanan orang tua she Yim itu. Cuma tidak tahu di mana letak arah kamar tahanan dirinya berada sekarang ini.

Ia bersandar di dinding dan coba mengingat-ingat kembali apa yang dialaminya sebelum jatuh pingsan. Yang teringat cuma serangan pedang orang she Yim itu semakin cepat disertai bentakan-bentakan, ketika suara bentakan dan teriakan itu sedemikian kerasnya dirinya lantas tidak tahan dan jatuh pingsan. Mengenai bagaimana dirinya ditawan Kanglam-si-yu dan cara bagaimana digusur ke dalam kamar penjara ini sama sekali tak diketahuinya.

Diam-diam ia membatin, “Keempat chengcu itu lahirnya saja seperti orang yang berbudi luhur, tapi perbuatan mereka yang sesungguhnya ternyata begini jahat. Suhu pernah berkata bahwa orang yang paling licik dan paling jahat di dunia ini justru adalah orang-orang yang paling pintar dan paling cerdik pula. Ungkapan suhu itu ternyata memang benar.

Seperti tipu muslihat yang diatur Kanglam-si-yu ini memang juga sukar untuk dipecahkan orang. Padahal begitu melompat masuk lubang yang berada di bawah tempat tidur Ui Ciong-kong itu, saat itu juga aku sudah terjebak ke dalam jaring mereka biarpun waktu itu aku tersadar juga tidak keburu lagi menarik diri.”

Tiba-tiba ia menjerit, “Ai!”

Tanpa terasa ia pun melonjak bangun dengan jantung berdebar-debar pikirnya, “Hei, kan masih ada Hiang-toako? Entah apakah dia juga mengalami nasib jelek seperti aku? Tapi biasanya Hiang-toako sangat pintar dan cerdik, tampaknya Hiang-toako sebelumnya sudah cukup kenal tingkah laku Kanglam-si-yu ini, dia sudah malang melintang di Kangouw sebagai Kong-beng-yusu pula dari Mo-kau, tentu dia takkan begitu mudah terjebak. Dan asalkan dia tidak terkurung oleh Kanglam-si-yu, tentu dia akan berdaya untuk menolong aku.”

Terpikir demikian hatinya menjadi lega dan tersenyum simpul. Ia bergumam sendiri, “Wahai Lenghou Tiong, sesungguhnya kau pun terlalu pengecut, masakah ketakutan sampai menangis, kalau diketahui orang lalu ke mana lagi mukamu akan ditaruh?”

Karena hatinya terasa lega, perlahan ia berbangkit, maka terasalah sekarang perutnya sangat lapar dan dahaga. Pikirnya, “Sayang tadi aku mengamuk dan menyampuk jatuh makanan dan air minum itu. Jika aku tidak makan sekenyangnya, nanti kalau Hiang-toako datang menolong aku keluar, dari mana aku ada tenaga buat melabrak Kanglam-si-kau? Haha, memang benar harus kusebut mereka Kanglam-si-kau (Empat Anjing Kanglam). Di antara empat anjing itu Hek-pek-cu paling pendiam, tapi paling licin segala tipu muslihatnya ini tentu dia yang mengatur. Bila aku lolos dari sini orang pertama yang akan kubunuh adalah dia. Di antara empat anjing itu Tan-jing-sing agak jujur, biarlah aku mengampuni jiwanya saja. Cuma dia punya arak simpanan harus kuminum habis seluruhnya.”

Teringat kepada arak simpanan Tan-jing-sing yang enak itu rasa dahaga Lenghou Tiong bertambah hebat. Pikirnya pula, “Wah, entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri tadi, mengapa Hiang-toako masih belum tampak datang? Tapi, wah celaka! Jika satu lawan satu memang Hiang-toako sanggup mengalahkan keempat anjing Kanglam itu, tapi kalau mereka berempat maju sekaligus tentu sukar menang bagi Hiang-toako, sekalipun dengan kesaktian Hiang-toako dapat membinasakan keempat anjing itu untuk mencari penjara di bawah tanah ini juga mahasukar. Siapakah yang dapat menduga bahwa lubang masuk penjara ini justru terletak di bawah tempat tidur Ui Ciong-kong?”

Begitulah ia menjadi cemas-cemas khawatir lagi. Tapi kemudian ia berpikir lain pula, “Ah, betapa hebat Hiang-toako itu? Dia adalah tokoh mahasakti. Tempo hari seorang diri ia pernah menghadapi beberapa ratus jago dari macam-macam golongan dan aliran bahkan waktu itu kedua tangannya terborgol, apalagi sekarang cuma menghadapi empat ekor anjing begitu, tentu dia akan menang dan dapat menemukan aku di sini.”

Akhirnya ia terasa lelah, maka ia berbaring lagi. Tiba-tiba timbul pikirannya, “Tinggi ilmu silat Yim-locianpwe ini jelas di atas Hiang-toako dan tidak mungkin di bawahnya, bahkan pengetahuannya yang luas serta kecerdasannya tampaknya juga tidak di bawah Hiang-toako, tokoh sehebat ini saja terkurung di sini, dari mana dapat dipastikan Hiang-toako bisa mengalahkan anjing-anjing itu? Sesudah sekian lama Hiang-toako tidak datang, bukan tak mungkin dia juga mengalami nasib sial.”

Macam-macam pikiran yang simpang-siur itu akhirnya membuat dia terpulas. Ketika terjaga bangun dan membuka mata, keadaan gelap gulita belaka, apakah sudah malam atau masih siang sama sekali tak diketahuinya. Ia termenung lagi, “Dengan kemampuanku terang aku tidak mampu keluar dari sini. Jika Hiang-toako juga mengalami bencana, lalu siapa lagi yang bisa datang menolong aku? Suhu telah menyebar surat edaran tentang pemecatanku dari Hoa-san-pay, orang-orang cing-pay terang tidak sudi datang menolong aku. Tinggal Ing-ing saja, ya, Ing-ing ….”

Teringat kepada Ing-ing, seketika semangatnya terbangkit, segera ia duduk dan berpikir pula, “Ing-ing pernah menyuruh Lo Thau-cu dan kawan-kawannya menyiarkan berita di dunia Kangouw bahwa aku harus dibunuh. Dengan sendirinya jago-jago dari golongan yang tidak senonoh itu tidak mungkin datang menolong aku. Tapi bagaimana dengan Ing-ing sendiri? Jika dia tahu aku terkurung di sini pasti dia akan datang menolong aku. Meski kepandaiannya tidak setinggi Hiang-toako, tapi banyak sekali orang-orang sia-pay yang mau tunduk kepada perintahnya. Asalkan dia mengeluarkan perintah, haha ….”

Begitulah tanpa terasa ia tertawa senang. Pikirnya, “Dasar anak perawan yang masih malu-malu kucing, dia paling takut kalau orang luar mengatakan dia suka padaku. Jadi seumpama dia bertekad akan menolong aku tentu juga dia akan datang sendiri dan tak mau mengajak pembantu. Malahan kalau ada orang tahu dia datang menolong aku besar kemungkinan jiwa orang itu akan melayang. Ai, dasar perasaan gadis yang sukar diraba. Seperti siausumoay ….”

Apa yang dialaminya sekarang sesungguhnya berada di titik yang paling celaka, tapi demi teringat kepada Gak Leng-sian, seketika hatinya terasa sakit. Terasa di antara duka derita dan putus asa sekarang menjadi tambah satu lapis lebih berat lagi.

Sesaat itu ia merasa tiada artinya lagi hidup lebih lama di dunia fana ini, sebab waktu itu mungkin sekali siausumoaynya sudah kawin dengan Lim-sute, biarpun dapat lolos dari kurungan sekarang juga percuma. Lalu buat apa mengharap-harapkan datangnya penolong? Kan lebih baik mengeram selama hidup saja di dalam penjara ini?

Mengingat ada manfaatnya juga biarpun terkurung dalam penjara, seketika rasa cemas tadi rada berkurang, bahkan timbul rasa syukur dan gembiranya.

Tapi rasa hibur diri itu tidak dapat bertahan lama, ketika perutnya terasa lapar dan tenggorokan kering, terbayang olehnya waktu makan enak dan minum arak di restoran yang menyenangkan itu, akhirnya ia merasa toh lebih baik lolos keluar saja daripada kebebasannya terkekang. Katanya di dalam hati, “Apa alangannya biarpun Lim-sute mengawini siausumoay? Aku sendiri toh sudah kenyang dianiaya orang, tenagaku sudah punah dan mirip orang cacat, malahan Peng-tayhu menyatakan ajalku sudah tidak lama lagi, sekalipun siausumoay mau menjadi istriku juga aku tidak boleh mengawini dia. Mana boleh aku membikin dia menjadi janda muda yang merana?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: