Hina Kelana: Bab 70. Kakek Aneh di Dalam Penjara

Terpikir demikian segera macam-macam kesangsiannya tadi lantas lenyap, tapi ketika tangannya merasakan benda kecil keras yang terbungkus dalam gulungan kertas itu segera terpikir lagi olehnya, ôTampaknya Hiang-toako sudah mengetahui aku akan bertanding pedang dengan wanita itu. Lantaran dia sendiri tidak boleh ikut terpaksa aku akan disuruh menyampaikan benda atau surat ini. Kukira di balik ini tentu ada urusan percintaan. Meski Hiang-toako adalah saudara angkatku, tapi keempat chengcu sangat baik hati padaku, jika aku menyampaikan benda ini rasanya berdosa kepada para chengcu itu. Lalu bagaimana baiknya ini? Usia Hiang-toako dan para chengcu itu sudah 50-60 tahun, tentunya wanita itu pun tidak muda lagi, andaikan ada urusan percintaan juga peristiwa pada puluhan tahun berselang andaikan aku menyampaikan surat ini rasanya juga takkan merusak nama baik wanita itu.ö

Sementara ia menimbang-nimbang, tahu-tahu mereka sudah melangkah masuk ke ruang dalam. Di ruangan hanya terhadap sebuah meja dan sebuah tempat tidur, sangat sederhana sekali keadaan kamar itu. Kelambu tempat tidur pun tampak sudah kekuning-kuningan, sudah tua. Di atas meja tertaruh kecapi pendek, warnanya hitam mulus seperti buatan dari besi.

Lenghou Tiong menduga segala sesuatu ini agaknya memang sudah diatur Hiang Bun-thian lebih dulu. Jika demikian cintanya terhadap wanita itu, apa salahnya aku membantu dia menyampaikan sekadar isi hatinya ini? Sebabnya Hiang-toako melepaskan diri dari Mo-kau dan bahkan tidak sayang bermusuhan dengan sang kaucu dan kawan-kawan seagamanya, besar kemungkinan ada hubungannya dengan bekas kekasihnya ini.

Dalam pada itu Ui Ciong-kong telah menyingkap kelambu dan mengangkat kasur tempat tidurnya, lalu papan ranjang itu dibongkar pula, di bawahnya ada sepotong papan dan gelang tembaga, ketika gelang tembaga ditarik ke atas, sepotong papan besi sebesar satu meter persegi lantas terangkat dan terlihatlah sebuah lubang di bawahnya.

Setelah menaruh papan besi yang berat itu di lantai, lalu Ui Ciong-kong berkata, ôTempat tinggal orang itu rada aneh, silakan Hong-hengte ikut padaku.ö

Habis berkata ia terus melompat ke dalam lubang itu, tanpa ragu Lenghou Tiong ikut melompat masuk. Terlihat di bawah situ juga ada sebuah pelita minyak yang remang-remang, ternyata di mana mereka berada itu seperti sebuah lorong bawah tanah. Segera Lenghou Tiong ikut Ui Ciong-kong menuju ke depan. Sementara itu Hek-pek-cu bertiga berturut-turut juga sudah melompat masuk.

Kira-kira belasan meter jauhnya, di depan tampak sudah buntu. Ui Ciong-kong lantas mengeluarkan serenceng kunci, sebuah kunci dimasukkan ke sebuah lubang dan diputar beberapa kali lalu didorongnya. Maka terdengarlah suara keriang-keriut, sebuah daun pintu batu perlahan terbuka.

Begitu besar pintu batu itu, tebalnya ada setengah meteran, keruan Lenghou Tiong semakin menaruh simpatik terhadap Hiang Bun-thian, pikirnya, ôMereka mengurung seorang wanita di bawah tanah dengan cara demikian terang tak bisa dibenarkan. Keempat chengcu itu tampaknya adalah manusia-manusia berbudi, mengapa berbuat sekeji ini?ö

Ia terus ikut Ui Ciong-kong masuk ke pintu batu itu, jalan lorong itu menyerong terus ke bawah, kira-kira belasan meter jauhnya kembali mereka berhadapan dengan sebuah pintu. Ui Ciong-kong mengeluarkan kunci lagi dan pintu itu lantas terbuka. Sekali ini pintu itu ternyata pintu besi yang amat tebal.

Keadaan jalanan tampak terus menurun ke bawah, mungkin saat itu mereka sudah berada beberapa puluh meter di bawah tanah. Setelah membelok beberapa kali kembali tampak sebuah pintu lagi.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa keempat chengcu yang tampaknya berbudi luhur itu ternyata tidak berperikemanusiaan. Tadinya sama sekali ia tidak menaruh curiga apa-apa, tapi sekarang mau tak mau timbul rasa waspadanya, jangan-jangan mereka sengaja memancing dirinya ke penjara di bawah tanah ini untuk mengurungnya. Namun begitu dirinya sekarang sudah masuk perangkap, apa yang dapat diperbuatnya?

Pintu ketiga itu ternyata dibuat lapis empat, di balik pintu besi adalah sebuah pintu kayu yang diberi lapisan kapuk, di belakangnya pintu besi lagi lalu pintu kayu penuh kapuk pula.

Lenghou Tiong menjadi heran pikirnya, ôMengapa dua lapis pintu besi mesti diseling dua lapis pintu kayu berlapis kapuk? Ah, mungkin lwekang orang yang dikurung di sini ini sangat lihai, lapisan kapuk ini digunakan untuk menghapus tenaga pukulannya agar tidak mampu membobol pintu dan melarikan diri.ö

Untuk puluhan meter selanjutnya tidak tampak pintu lagi, jalan lorong itu masih panjang rasanya, sampai agak jauh baru ada sebuah pelita minyak ada pula, pelita minyak yang sudah padam sehingga keadaan menjadi gelap dan terpaksa harus berjalan dengan menggagap-gagap, belasan meter kemudian barulah tampak sinar pelita pula.

Lenghou Tiong merasa hawa di jalan lorong itu sangat menyesakkan, dinding dan tanah di bawah kaki rasanya basah-basah lembap. Sekonyong-konyong teringat sesuatu olehnya, ôAh, perkampungan Bwe-cheng itu berada di tepi danau, sekarang jalan lorong di bawah tanah sudah sekian jauhnya, mungkin sekali sudah berada di dasar danau. Seorang dikurung di bawah danau dengan sendirinya sukar meloloskan diri. Andaikan orang luar hendak menolongnya juga tidak dapat, bila mesti membobol penjara tentu juga akan mati terbenam air danau.ö

Setelah beberapa meter pula ke depan, mendadak jalan lorong itu menyempil, untuk bisa berjalan ke depan harus membungkuk tubuh. Makin ke depan makin membungkuk. Samar-samar Lenghou Tiong mendengar omelan Tan-jing-sing yang menyusul di belakangnya, mungkin karena tubuhnya tinggi besar sehingga tidaklah leluasa untuk berjalan dengan membungkuk tubuh.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba Ui Ciong-kong berhenti, menyusul terdengarlah suara ôtang-tang-tangö beberapa kali, agaknya dengan sesuatu benda dia mengetuk sayap pintu.

Sejenak kemudian terdengar pula suara putaran kunci, lalu sebuah pintu besi berdering. Ui Ciong-kong mengetik api dan menyalakan pelita minyak yang tergantung di dinding. Di bawah sinar pelita yang remang-remang kelihatan di atas sebuah pintu besi di depan terdapat sebuah lubang seluas belasan senti persegi. Agaknya pintu besi kecil inilah jalan untuk menyampaikan makanan dan lain keperluan.

ôYim-heng,ö segera Ui Ciong-kong berseru ke dalam lubang persegi itu, ôkami berempat saudara datang menjenguk engkau.ö

Lenghou Tiong melengak, pikirnya, ôMengapa Toachengcu menyebut dia Yim-heng (Saudara Yim)? Jadi orang yang terkurung di sini bukanlah kaum wanita.ö

Ternyata seruan Ui Ciong-kong tadi tidak mendapat jawaban apa-apa. Maka ia lantas berkata lagi, ôYim-heng, sudah lama sekali kami tidak menjenguk dirimu, harap dimaafkan. Hari ini kami sengaja datang untuk memberitahukan sesuatu urusan penting.ö

Tiba-tiba suara seorang yang serak-serak berat mendamprat, ôPersetan, ada urusan penting apa segala, mau kentut lekas kentut, kalau tidak kentut lekas enyah sana!ö

Kejut dan heran pula Lenghou Tiong, macam-macam dugaannya semula dalam sekejap batal semuanya. Dari suara orang itu dengan jelas diketahui bahwa orang itu bukan saja sudah tua, bahkan kata-katanya kasar dan bukan seorang terpelajar.

Maka terdengar Ui Ciong-kong berkata, ôDahulu kami menyangka di dunia ini hanya Yim-heng seorang adalah jago pedang nomor satu siapa tahu hal ini ternyata tidak benar. Hari ini juga kami kedatangan seorang, bukan saja kami berempat saudara bukan tandingannya, bahkan ilmu pedang Yim-heng jika dibandingkan dia juga mirip si cebol ketemu raksasa.ö

Terdengar orang itu bergelak tertawa dan berkata, ôUi Ciong-kong kalian berempat anak jadah sudah kalah bertanding sekarang kalian mengundang dia untuk bertanding dengan aku dengan tujuan aku yang membereskan lawan kalian yang tangguh ini bukan? Hahaha, jangan mimpi muluk-muluk. Sayang sudah 20-an tahun aku tidak memegang pedang sehingga sudah lama ilmu pedangku terlupa semua. Nah, anak jadah, lekas cawat ekormu dan enyah saja dari sini.ö

Alangkah terperanjatnya Lenghou Tiong, pikirnya, ôSungguh cerdik luar biasa orang ini dan dugaannya ternyata sangat jitu, begitu mendengar ucapan Ui Ciong-kong lantas diketahui apa maksud tujuan orang, sungguh seorang tokoh Kangouw yang jarang ada.ö

Tiba-tiba Hek-pek-cu menimbrung, ôToako, memangnya Yim-siansing sekali-kali bukan tandingan orang ini. Dengan tegas dia menyatakan bahwa di Bwe-cheng ini tiada seorang pun yang mampu mengalahkan dia, hal ini ternyata memang tepat. Sudahlah, kita tidak perlu banyak omong lagi dengan Yim-siansing.ö

ôHuh, apa gunanya kau membakar-bakar hatiku?ö dengus orang she Yim itu. ôMemangnya kau sangka aku sudi bekerja untuk anak-anak jadah seperti kalian ini?ö

ôToako,ö kata Hek-pek-cu pula seperti bercakap-cakap dengan Ui Ciong-kong, ôkabarnya ilmu pedang orang ini adalah ajaran asli Hong Jing-yang Losiansing sendiri. Kita tahu Yim-siansing berjuluk æKian-hong-gi-teÆ (Melihat Hong Lantas Lari). Dan æHongÆ yang dimaksud itu tak-lain tak-bukan adalah Hong-losiansing. Entah benar tidak hal ini?ö

Keruan orang she Yim itu berkaok-kaok murka, ia mencaci maki, ôKentut makmu busuk!ö

Tapi Tan-jing-sing lantas menyambung, ôAh, ucapan Jiko tadi agak salah.ö

ôDi mana letak salahnya?ö tanya Hek-pek-cu.

ôEngkau salah omong satu huruf,ö kata Tan-jing-sing. ôJulukan Yim-siansing bukan æKian-hong-gi-teÆ (Melihat Hong Lantas Kabur). Coba kau pikir, jika Yim-siansing melihat Hong-losiansing baru lari tentu tidak keburu lagi dan Hong-losiansing tidak nanti mau membiarkan dia kabur begitu saja. Hanya kalau mendengar nama Hong-losiansing dan segera lari barulah Yim-siansing masih ada harapan lolos seperti ….ö

ôSeperti ikan lolos dari jaring!ö sambung Tut-pit-ong.

Tapi orang she Yim itu ternyata tidak marah, sebaliknya malah tertawa, ôHahaha, rupanya anak-anak jadah telah kepepet dan dalam keadaan tak berdaya baru ingat pada diriku. Tapi kalau aku begitu gampang ditipu kalian bukanlah orang she Yim lagi.ö

ôAi, Hong-hengte,ö kata Hek-pek-cu dengan menghela napas seperti orang gegetun, ôrupanya begitu mendengar namamu, Yim-siansing sudah lantas ketakutan setengah mati. Maka pertandingan ini tidak perlu dilangsungkan lagi, biarlah kami mengakui ilmu pedangmu memang nomor satu di dunia ini.ö

Walau sekarang diketahui orang itu bukan wanita seperti dugaan Lenghou Tiong semula, tapi melihat penjara yang begitu ketat, terang orang she Yim itu sudah sangat lama dikeram di situ, tanpa terasa timbul juga rasa simpatik Lenghou Tiong. Dari ucapan Ui Ciong-kong dan Hek-pek-cu tadi dapat diduga ilmu silat orang she Yim ini pasti sangat tinggi, maka cepat ia menjawab kata-kata Hek-pek-cu tadi, ôUcapan Jichengcu kurang tepat. Dahulu bila Hong-losiansing membicarakan ilmu pedang padaku, beliau selalu memuji terhadap … terhadap Yim-losiansing ini, katanya soal ilmu pedang di zaman ini hanya Yim-losiansing seorang saja yang dikagumi oleh beliau. Wanpwe dipesan bila kelak ada kesempatan bertemu dengan Yim-losiansing diharuskan mohon petunjuk padanya dengan segala ketulusan hati dan segala kehormatan.ö

Kata-kata Lenghou Tiong ini membikin Ui Ciong-kong berempat sama melengak. Sebaliknya orang she Yim itu sangat senang, ia tertawa terbahak dan berkata, ôSobat cilik, ucapanmu sangat tepat. Hong Jing-yang memang bukan kaum keroco, hanya dia saja yang kenal kebagusan ilmu pedangku.ö

ôApa Hong … Hong-losiansing mengetahui dia berada … berada di sini?ö tanya Ui Ciong-kong ragu.

Sudah telanjur membual, segera Lenghou Tiong menambahkan lagi, ôHong-losiansing mengira Yim-losiansing telah mengasingkan diri di pegunungan. Beliau sering menyebut Yim-losiansing tatkala mengajar ilmu pedang padaku, katanya jurus-jurus ilmu pedang beliau khusus diciptakan untuk melawan ahli waris Yim-losiansing. Katanya kalau di dunia tidak ada Yim-losiansing, pada hakikatnya tidak perlu meyakinkan ilmu pedang yang begini ruwet.ö

Kini Lenghou Tiong sudah rada kurang senang terhadap keempat chengcu itu, maka ucapannya ini rada berbau mengolok-olok. Ia pikir orang she Yim ini adalah seorang kesatria, tapi telah dikeram di tempat yang mirip neraka ini, tentu dia kena disergap secara pengecut. Maka betapa licik dan rendah perbuatan keempat chengcu dapatlah dibayangkan.

Begitulah lantas terdengar orang she Yim itu berkata, ôBetul, sobat cilik. Hong Jing-yang memang punya pandangan tajam, kau yang telah mengalahkan semua manusia kerdil di Bwe-cheng ini bukan?ö

Lenghou Tiong menjawab, ôIlmu pedangku adalah ajaran Hong-losiansing sendiri, kecuali engkau Yim-losiansing atau ahli warismu, orang biasa sudah tentu bukan tandinganku.ö

Ucapan ini lebih jelas lagi menilai rendah Ui Ciong-kong berempat. Soalnya makin dipikir ia semakin gemas terhadap para chengcu itu, sebab setelah berada sebentar saja di penjara di bawah tanah yang lembap itu rasanya sudah demikian tersiksa, apalagi seorang kesatria besar telah dikurung sekian tahun lamanya, sungguh perbuatan yang teramat kejam.

Sudah tentu Ui Ciong-kong berempat juga merasa sangat tersinggung demi mendengar ucapan Lenghou Tiong itu. Tapi mereka berempat memang benar juga telah bertanding sehingga terpaksa tidak dapat bicara lain.

ôBagus, bagus,ö demikian orang she Yim itu merasa senang. ôSobat cilik, sedikitnya kau telah melampiaskan rasa dongkolku terhadap anak-anak jadah itu. Eh, cara bagaimana kau mengalahkan mereka?ö

ôOrang Bwe-cheng pertama yang bertanding dengan aku adalah seorang sobat she Ting, namanya Ting Kian dengan julukan æIt-ji-tian-kiamÆ segala,ö tutur Lenghou Tiong.

ôO, ilmu pedang orang she Ting ini cuma kebanggaan belaka dan tiada gunanya,ö kata orang she Yim. ôDia cuma menggertak orang dengan sinar pedangnya dan tiada punya kepandaian sejati. Pada hakikatnya kau tidak perlu menyerang dia, asalkan acungkan pedangmu tentu dia akan mengangsurkan jari tangannya ke pedangmu dan akan tertebas kutung sendiri.ö

Kelima orang sama terkejut mendengar uraiannya itu sehingga sama melongo.

ôBagaimana? Apa salah ucapanku?ö orang itu bertanya.

ôSungguh jitu sekali ucapanmu seakan-akan ikut menyaksikan sendiri,ö jawab Lenghou Tiong.

ôBagus, jadi lima jarinya atau tapak tangannya yang terkutung?ö tanya pula orang itu.

ôWanpwe telah miringkan sedikit mata pedangku,ö kata Lenghou Tiong.

ôAh, salah, salah! Terhadap musuh mana boleh berlaku sungkan,ö ujar orang itu. ôHati bajik dan luhur budimu, kelak kau tentu akan rugi sendiri. Dan siapa orang kedua yang bertanding denganmu.ö

ôSichengcu,ö jawab Lenghou Tiong.

ôO, ilmu pedang Losi (Si Empat) sudah tentu lebih tinggi daripada orang she Ting itu. Setelah melihat caramu mengalahkan Ting Kian, begitu maju tentu Losi akan mengeluarkan ilmu pedangnya yang disebut æBoat-bak-moa-kiam-hoatÆ segala dengan jurus-jurus æPek-hong-koan-jitÆ, æTing-liong-ki-hongÆ, dan entah apa lagi.ö

Tan-jing-sing tambah terkesiap mendengar ilmu pedang kebanggaannya itu dengan tepat diuraikan orang.

ôIlmu pedang Sichengcu memang terhitung hebat juga,ö kata Lenghou Tiong. ôCuma waktu menyerang banyak pula lubang-lubang kelemahannya.ö

ôHahaha,ö orang itu tertawa. ôSebagai ahli waris Hong Jing-yang kau memang mempunyai pandangan luas. Dalam ilmu pedangnya itu ada satu jurus yang disebut æGiok-liong-to-koanÆ segala, begitu maju terus membacok. Tapi kebentur pada ahli waris Hong Jing-yang tentu dia akan mati kutu, asalkan pedangmu menebas melalui batang pedangnya tentu kelima jarinya akan terpapas.ö

ôTaksiran Cianpwe benar-benar sangat jitu, memang pada jurus itulah Wanpwe telah mengalahkan dia,ö kata Lenghou Tiong. ôCuma Cianpwe tiada punya permusuhan apa-apa dengan dia, pula Sichengcu telah menyuguh aku dengan arak-arak enak, maka kelima jarinya itu tidak sampai terpapas.ö

Sungguh gusar dan dongkol tidak kepalang hati Tan-jing-sing, air mukanya sebentar merah sebentar pucat, cuma dia memakai kerudung sehingga tidak kelihatan.

ôDan si botak Losam (Si Tiga) suka menggunakan boan-koan-pit,ö kata pula orang she Yim itu, ôtulisannya sebenarnya serupa cakar ayam, tapi dia justru sok bangga katanya dalam ilmu silatnya terkandung pula seni tulis segala. Padahal, hehe, sobat cilik, ketahuilah waktu bertempur menghadapi musuh, mati atau hidup hanya bergantung satu detik saja, mana sempat orang bisa iseng bicara tentang seni tulis segala. Kecuali pihak lawan memang jauh lebih lemah daripadamu barulah kau dapat mempermainkan dia. Kalau tidak, maka sama halnya kau bergurau dengan nyawamu sendiri.ö

ôUcapan Cianpwe memang tepat, cara bertempur Samchengcu ini memang rada takabur,ö ujar Lenghou Tiong.

Ketika mendengar ucapan orang she Yim itu, semula Tut-pit-ong merasa sangat gusar, tapi sesudah dipikir terasa uraian orang memang masuk akal juga. Ilmu silatnya yang diselingi dengan gaya menulis itu betapa pun memang menjadi kurang kuat daya serangnya. Kalau saja Lenghou Tiong tidak murah hati mungkin sepuluh Tut-pit-ong juga sudah dibinasakan olehnya.

Dalam pada itu orang she Yim itu berkata pula, ôUntuk mengalahkan botak Losam adalah sangat gampang. Karena lagaknya yang sok takabur dengan seni tulis segala sehingga dia seolah bergurau dengan jiwa sendiri. Kalau dia masih hidup sampai sekarang sesungguhnya suatu keanehan di dunia persilatan. Eh, Losam botak, selama 20-an tahun ini rupanya kau hanya mengkeret seperti kura-kura di dalam dan tidak pernah berkelana di Kangouw lagi bukan?ö

Tut-pit-ong hanya mendengus saja tanpa menjawab. Tapi diam-diam ia terkesiap pula dan mengakui kebenaran ucapan orang. Kalau saja selama 20-an tahun ini dirinya masih berkecimpung di dunia Kangouw mana bisa hidup sampai hari ini?

Sementara itu orang she Yim lagi melanjutkan, ôBicara tentang kepandaian sejati, maka papan catur si Loji memang harus dipuji. Sekali dia sudah mulai menyerang, maka susul-menyusul bagai badai melanda, kalau cuma jago biasa saja pasti tidak mampu menangkisnya. Sobat cilik, cara bagaimana kau mematahkan serangannya, coba ceritakan.ö

ôWanpwe tidak berani mengatakan telah mematahkan serangan Jichengcu,ö sahut Lenghou Tiong. ôSoalnya begitu saja aku lantas berebut menyerang dengan Jichengcu, jurus pertama aku lantas membikin dia berada di pihak bertahan.ö

ôEhm, bagus,ö ujar orang itu. ôDan bagaimana jurus kedua?ö

ôJurus kedua Wanpwe tetap mendahului menyerang sehingga Jichengcu terpaksa bertahan pula,ö sahut Lenghou Tiong.

ôBagus, dan jurus ketiga?ö tanya pula orang itu.

ôJurus ketiga tetap aku menyerang dan dia bertahan.ö

ôSungguh hebat,ö kata orang itu. ôPapan catur baja Hek-pek-cu dahulu menggetarkan dunia Kangouw, biasanya asalkan lawannya mampu menangkis tiga jurus serangannya yang lihai, maka Hek-pek-cu akan mengampuni lawannya, karena itulah namanya termasyhur di dunia persilatan. Tapi sobat cilik malahan sudah mampu memaksa dia bertahan tiga jurus, sungguh luar biasa hal ini. Dan pada jurus keempat cara bagaimana dia melakukan serangan balasan?ö

ôJurus keempat masih tetap Wanpwe yang menyerang dan Jichengcu bertahan.ö

ôHah, apa ilmu pedang Hong tua benar-benar begitu hebat,ö orang itu menegas. ôMenurut dugaanku, biarpun Hong tua sendiri yang bergebrak, sekalipun dapat mengalahkan Hek-pek-cu juga tidak dapat memaksa dia bertahan sampai empat jurus. Tapi jurus kelima tentu dia yang menyerang bukan?ö

ôTidak, jurus kelima keadaan tetap tidak berubah,ö jawab Lenghou Tiong.

ôOo!ö orang itu sampai melongo untuk sekian lamanya. Kemudian baru berkata, ôSeluruhnya kau menyerang berapa kali baru Hek-pek-cu mampu balas menyerang?ö

ôJum … jumlah jurusnya Wanpwe tidak ingat lagi,ö sahut Lenghou Tiong.

Segera Hek-pek-cu menimbrung, ôIlmu pedang Hong-hengte teramat sakti, sejak mula sampai akhir satu jurus pun aku tidak mampu balas menyerang. Sesudah dia menyerang 40-an jurus, aku merasa bukan tandingannya, maka aku lantas menyerah dan mengaku kalah.ö

ôHah, mana betul begitu?ö teriak orang itu. ôMeski Hong Jing-yang adalah tokoh Hoa-san-pay pilihan, tapi ilmu pedang dari sekte pedang Hoa-san-pay itu juga sangat terbatas. Aku tidak percaya bahwa ada seorang jago Hoa-san-pay mampu menyerang Hek-pek-cu sampai 40-an jurus dan sama sekali Hek-pek-cu tidak sanggup balas menyerang.ö

ôYim-heng terlalu menghargai diriku, tapi kenyataan memang begitu,ö ujar Hek-pek-cu. ôIlmu pedang Hong-hengte ini sudah jauh melampaui batas kemampuan jago Hoa-san-pay dari sekte pedang.ö

ôBagus, aku menjadi kepingin belajar kenal juga dengan ilmu pedangmu, sobat cilik,ö kata orang itu.

ôHarap Cianpwe jangan mau masuk perangkap mereka,ö kata Lenghou Tiong. ôKanglam-si-yu hanya ingin memancingmu bertanding pedang dengan aku, padahal mereka mempunyai tujuan tertentu.ö

ôTujuan tertentu apa?ö tanya orang itu.

ôMereka telah bertaruh dengan seorang temanku, jika dalam Bwe-cheng mereka ini ada seorang yang mampu mengalahkan ilmu pedangku, maka temanku akan memberikan beberapa barang kepada mereka.ö

ôBarang apa? Kukira tentu sebangsa not kecapi, tulisan orang kuno, dan sebagainya bukan?ö

ôYa, taksiran Cianpwe memang selalu jitu,ö sahut Lenghou Tiong.

ôTapi aku cuma ingin tahu ilmu pedangmu saja dan bukan sungguh-sungguh bertanding denganmu,ö kata orang itu. ôLagi pula aku pun belum tentu mampu mengalahkanmu.ö

ôUntuk mengalahkan Wanpwe sudah tentu sangat mudah bagi Cianpwe,ö sahut Lenghou Tiong. ôHanya saja sebelumnya kuminta keempat Chengcu harus berjanji sesuatu dulu.ö

ôSoal apa?ö tanya orang itu.

ôJika Cianpwe dapat mengalahkan aku sehingga mereka akan berhasil memperoleh beberapa benda mestika dari temanku itu, sebaliknya keempat Chengcu harus berjanji akan membuka pintu penjara ini dan membebaskan Cianpwe.ö

ôMana boleh jadi!ö seru Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berbareng. Sedangkan Ui Ciong-kong hanya mendengus saja.

Orang she Yim itu bertanya, katanya, ôSobat cilik ternyata rada-rada lucu. Apakah Hong Jing-yang menyuruhmu berbuat demikian?ö

ôHong-losiansing sama sekali tidak tahu Cianpwe terkurung di sini, Wanpwe sendiri lebih-lebih tidak tahu sebelumnya,ö sahut Lenghou Tiong.

ôHong-hengte,ö tiba-tiba Hek-pek-cu berkata, ôsiapakah nama Yim-heng ini? Apa julukannya menurut panggilan orang Bu-lim? Dia tadinya ketua aliran mana dan sebab apa sampai terkurung di sini? Apakah semua ini Hong-losiansing pernah ceritakan padamu?ö

Begitulah secara mendadak Hek-pek-cu mengajukan empat pertanyaan, tapi satu pun Lenghou Tiong tidak mampu menjawab. Kalau dalam pertandingan Lenghou Tiong sekaligus menyerang 40 jurus lebih dan Hek-pek-cu masih sanggup bertahan, sebaliknya sekarang pihak lawan memberondong dengan empat pertanyaan seakan-akan menyerang empat jurus secara kilat, tapi Lenghou Tiong satu jurus pun tidak sanggup menangkis, setengah melongo sejenak barulah ia dapat bicara dengan gelagapan, ôTentang ini belum pernah terdengar dari … dari Hong-losiansing.ö

ôMemangnya, masakah kau tahu, sebab kalau tahu tentu kau takkan minta kami membebaskan dia,ö ujar Hek-pek-cu. ôBila orang ini sampai lolos dari sini, maka dunia persilatan pasti akan kacau-balau dan entah betapa banyak jiwa kaum kesatria Bu-lim akan tewas di tangannya dan selanjutnya dunia Kangouw takkan aman lagi.ö

ôHahahaha, memang benar adanya!ö seru orang itu dengan terbahak. ôBiarpun punya nyali setinggi langit juga Kanglam-si-yu tidak berani membiarkan aku lolos dari kurungan ini. Pula memangnya mereka juga cuma atas perintah saja berjaga di sini, mereka hanya empat penjaga bui, mana mereka ada hak buat membebaskan aku? Sobat cilik, permintaanmu kepada mereka tadi sudah terlalu mengangkat tinggi derajat mereka.ö

Diam-diam Lenghou Tiong merasa serbarunyam, pada hakikatnya dirinya tidak tahu seluk-beluk mereka sehingga bicara sedikit saja lantas terlihat kesalahannya.

ôHong-hengte,ö Ui Ciong-kong berkata, ôrupanya kau lihat penjara ini sangat gelap dan lembap sehingga timbul rasa simpatimu terhadap Yim-heng ini, sebaliknya merasa marah kepada kami bersaudara, hal ini adalah jiwamu yang luhur, kami pun tidak menyalahkanmu. Tapi apa kau tahu bilamana Yim-heng ini sampai masuk Kangouw lagi, melulu Hoa-san-pay kalian saja sedikitnya akan jatuh korban separuh lebih. Coba jawab, Yim-heng, kata-kataku ini betul atau tidak?ö

ôBetul, betul,ö sahut orang itu dengan tertawa. ôKetua Hoa-san-pay apakah masih dijabat oleh Gak Put-kun? Orang ini pura-pura suci, sayang ketika dia baru menjabat ketua aku sudah lantas terjebak, kalau tidak sudah lama kubuka kedok kepalsuannya.ö

Hati Lenghou Tiong tergetar. Meski Gak Put-kun telah mengusir dia dari perguruan serta menyebarkan berita kepada kawan Bu-lim dan menganggapnya sebagai musuh bersama, tapi sejak kecil ia dibesarkan oleh guru dan ibu-guru yang dipandangnya seperti orang tua kandung sendiri, betapa pun budi ini tidak pernah dilupakan olehnya. Maka sekarang demi mendengar cerita orang she Yim atas gurunya itu seketika ia menjadi gusar dan membentak, ôTutup mulut, aku punya ….ö

Tapi mendadak ia telan kembali kata-kata ôsuhuö yang hampir diucapkan itu. Teringat olehnya kedatangannya ini mengaku sebagai paman suhunya, sedangkan pihak lawan belum jelas kawan atau lawan sehingga tidak boleh bicara terus terang duduknya perkara terhadap mereka.

Sudah tentu orang she Yim itu tidak tahu apa maksud bentakan Lenghou Tiong itu, dengan tertawa ia melanjutkan lagi, ôDi antara orang-orang Hoa-san-pay sudah tentu masih ada yang dapat kuhargai, satu di antaranya adalah kakek Hong, kau pun satu di antaranya, sobat cilik. Selain itu masih ada seorang angkatan muda yang dipanggil æHoa-san-giok-liÆ segala dengan nama Ling apa … ah, ya, Ling Tiong-cik. Nona cilik ini boleh dikata seorang gadis baik hati dan luhur budi, cuma sayang dia kawin dengan Gak Put-kun, mirip setangkai bunga yang tertancap di atas gundukan tahi kerbau.ö

Mendengar ibu gurunya yang sudah tua itu dianggap sebagai ônona cilikö, Lenghou Tiong merasa dongkol-dongkol geli. Tapi paling tidak ibu-gurunya telah dinilai baik, maka ia pun tidak memberi bantahan.

ôKau sendiri bernama siapa, sobat cilik?ö tanya orang itu.

ôWanpwe she Hong bernama Ji-tiong,ö sahut Lenghou Tiong.

ôOrang Hoa-san-pay yang she Hong tentunya tidak busuk, bolehlah kau masuk kemari, aku akan coba-coba ilmu pedang ajaran kakek Hong itu,ö kata pula orang itu.

Tadinya ia menyebut Hong Jing-yang sebagai si Hong tua, lalu ganti dengan sebutan kakek Hong, mungkin karena ucapan Lenghou Tiong rada-rada menyenangkan dia sehingga terhadap Hong Jing-yang juga diindahkannya.

Lenghou Tiong sendiri sudah sejak tadi sangat tertarik dan ingin tahu bagaimana wujud orang she Yim ini dan betapa tinggi pula ilmu silatnya, maka ia lantas menjawab, ôSedikit ilmu pedangku yang cetek ini masih boleh dipakai menggertak orang di luar sini, tapi di hadapan Cianpwe tentunya seperti permainan anak kecil saja. Namun Wanpwe sudah telanjur berada di sini, mau tak mau ingin belajar kenal juga dan mohon petunjuk Yim-losiansing.ö

Tiba-tiba Tan-jing-sing mendekati Lenghou Tiong dan membisikinya, ôHong-hengte, ilmu silat orang ini sangat aneh, caranya sangat keji pula, kau boleh bertanding pedang dengan dia tapi jangan sekali-kali mengadu tenaga dalam.ö

Sampai di sini mendadak ia seperti ingat sesuatu dan berkata pula dengan menyesal, ôAh, hal ini sih tidak perlu khawatir. Memangnya kau tidak punya tenaga dalam. Rupanya lantaran inilah Toako mau meluluskanmu untuk bertanding dengan dia.ö

Meski dia bicara dengan bisik-bisik, tapi nyata sekali timbul dari hati yang tulus. Perasaan Lenghou Tiong tergerak, pikirnya, ôSichengcu ini ternyata sangat baik padaku. Tadi aku telah mengolok-olok dia, tapi dia tidak dendam, sebaliknya dengan tulus hati memerhatikan kelemahanku.ö

Dalam pada itu orang she Yim telah berkata pula, ôMarilah masuk ke sini. Apa yang mereka katakan dengan kasak-kusuk di luar? Sobat cilik, Kanglam-si-kui (Empat Setan dari Kanglam) bukan manusia baik-baik, jangan tertipu oleh mereka.ö

Dia sengaja mengganti julukan ôKanglam-si-yuö dengan ôKanglam-si-kuiö sehingga membikin Lenghou Tiong merasa serbasalah dan tidak tahu sesungguhnya pihak manakah yang benar-benar orang baik.

Ui Ciong-kong lantas mengeluarkan sebuah kunci lain yang memutar beberapa pada lubang kunci pintu besi.

Lenghou Tiong mengira setelah membuka kunci itu tentu pintu akan terbuka, siapa tahu Ui Ciong-kong hanya lantas menyingkir ke samping, lalu ganti Hek-pek-cu yang maju, ia pun mengeluarkan sebuah kunci dan memutar lubang kecil yang lain, habis itu Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing masing-masing juga mengeluarkan anak kunci dan berbuat cara sama.

Baru sekarang Lenghou Tiong sadar bahwa kedudukan locianpwe she Yim itu ternyata sedemikian penting sehingga keempat chengcu itu masing-masing mempunyai anak kunci tersendiri, untuk membuka pintu penjara itu diharuskan memakai empat buah anak kunci dari empat orang itu. Padahal Kanglam-si-yu adalah seperti saudara sekandung, masakah mereka pun tidak memercayai satu sama lain?

Tapi lantas teringat olehnya ucapan orang she Yim tadi bahwa Kanglam-si-yu hanya melakukan tugas atas perintah saja untuk menjaganya dan tiada hak buat membebaskan dia. Bisa jadi mereka masing-masing memegang sebuah kunci itu juga atas peraturan yang ditetapkan oleh orang yang memberi perintah kepada mereka itu.

Dari satu putaran anak kunci itu dapat diketahui bahwa lubang kunci itu sudah penuh berkarat, terang pintu besi itu entah sudah berada lama tidak pernah dibuka.

Sesudah memutar kuncinya tadi Tan-jing-sing lantas pegang pintu besi dan digoyang-goyangkan beberapa kali, lalu ditolak sekuatnya, maka terdengarlah suara keriang-keriut yang seret, pintu itu terpentang sedikit ke dalam.

Begitu pintu bergeser, segera Tan-jing-sing melompat mundur. Berbareng Ui Ciong-kong bertiga juga ikut melompat mundur agak jauh. Terpengaruh oleh perbuatan mereka tanpa terasa Lenghou Tiong juga ikut menyurut mundur beberapa tindak.

Orang she Yim itu bergelak tertawa katanya, ôSobat cilik, mereka takut padaku kenapa kau pun ikut-ikut takut?ö

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: