Hina Kelana: Bab 69. Penjara di Bawah Danau

Hendaknya maklum bahwa “pedang tak berwujud” yang dipancarkan dengan suara kecapi itu adalah semacam ilmu silat yang mahatinggi, kalau ilmu ini sampai digunakan, maka lawannya pasti seorang ahli silat yang hebat, betapa tinggi tenaga dalamnya tidak perlu dikatakan lagi, tenaga dalam lawan, semakin terasa pula reaksinya terhadap suara kecapi. Tapi sama sekali tak terduga bahwa sama sekali Lenghou Tiong tidak mempunyai tenaga dalam sehingga “pedang tak berwujud” itu pun kehilangan daya gunanya.

Setelah mengalami kekalahan mestinya Ui Ciong-kong merasa putus asa. Kemudian demi mengetahui sebab musabab kekalahannya itu bukan lantaran kepandaian yang kurang sakti, tapi karena lawan yang sama sekali tidak mempan akan pengaruh suara kecapinya itu, maka Ui Ciong-kong menjadi kegirangan luar biasa. Tangan Lenghou Tiong dipegangnya erat-erat, katanya dengan tertawa, “Sobat baik, sobat bagus! Tapi mengapa kau beri tahukan rahasiamu kepadaku?”

Dengan tertawa Lenghou Tiong menjawab, “Tenaga dalam Wanpwe telah lenyap, hal ini sengaja dirahasiakan ketika bertanding tadi, sekarang Wanpwe mana berani menipu lagi?”

Ui Ciong-kong bergelak tertawa, katanya, “Jika demikian, jadi aku punya pedang tak berwujud, tidaklah terlalu jelek. Yang kukhawatirkan hanya kalau kepandaianku itu benar-benar tak berguna sama sekali.”

“Hong-heng, engkau telah sudi memberi tahu dengan jujur, sungguh kami bersaudara merasa sangat berterima kasih,” tiba-tiba Hek-pek-cu menyela. “Tapi engkau apakah tidak tahu dengan terbongkarnya rahasiamu, bila kami bersaudara mau cabut nyawamu menjadi gampang sekali.”

“Ucapan Jichengcu memang tidak salah,” jawab Lenghou Tiong. “Tapi Wanpwe percaya keempat Chengcu adalah kaum kesatria sejati, makanya mau bicara terus terang.”

Di balik kata-katanya ini dimaksudkan kaum kesatria sejati tentu tidak sudi membalas kebaikan dengan cara pengecut.

“Benar, memang benar,” ucap Ui Ciong-kong. “Hong-hengte, maksud tujuan kedatanganmu ke tempat kami ini silakan juga bicara terus terang. Biarpun baru kenal, tapi kita anggap seperti teman lama. Asalkan kami mampu pasti akan kami laksanakan untukmu.”

“Tenaga dalam Hong-heng telah lenyap, kukira disebabkan terluka dalam yang parah,” sambung Hek-pek-cu. “Aku mempunyai seorang sobat baik, ilmu pertabibannya mahasakti, cuma wataknya terlalu aneh dan tidak sembarangan menerima orang sakit. Namun mengingat hubungannya dengan aku mungkin akan mau mengobatimu.”

“Ya, ‘Sat-jin-sin-ih’ Peng It-ci itu memang ….”

“O, tabib sakti Peng It-ci?” sela Lenghou Tiong sebelum Tut-pit-ong selesai bicara.

“Benar, apakah Hong-heng sudah pernah dengar namanya?” tanya Hek-pek-cu.

“Tabib Peng itu sudah meninggal dunia di Ngo-pah-kang di daerah Soatang pada beberapa bulan yang lalu,” jawab Lenghou Tiong.

“Hah! Dia … dia sudah meninggal dunia?” seru Hek-pek-cu kaget.

“Dia sanggup menyembuhkan penyakit apa pun juga, mengapa tidak mampu mengobati penyakitnya sendiri?” ujar Tan-jing-sing. “Ah, dia terbunuh oleh musuhnya tentu?”

Lenghou Tiong menggeleng, terhadap kematian Peng It-ci dia masih sangat menyesal, katanya kemudian, “Sebelum ajal Peng-tayhu masih sempat memeriksa nadi Wanpwe dan mengatakan penyakit Wanpwe ini sangat aneh dan mengakui beliau tidak sanggup mengobati.”

Mendengar berita kematian Peng It-ci itu, Hek-pek-cu tampak sangat berduka, ia duduk termangu-mangu dan mengembeng air mata.

Setelah berpikir sebentar, kemudian Ui Ciong-kong berkata, “Hong-hengte, aku memberi suatu jalan yang sukar kupastikan, akan kubuatkan sepucuk surat, boleh kau bawa dan menemui Hong-ting Taysu, itu ketua Siau-lim-si sekarang, jika beliau sudi mengajarkanmu lwekang ‘Ih-kin-keng’ yang tiada bandingannya itu kepadamu, maka tenagamu pasti ada harapan akan pulih kembali. Mestinya ‘Ih-kin-keng’ adalah kepandaian Siau-lim-pay yang tidak diajarkan kepada orang luar, namun Hong-ting Taysu dahulu pernah utang budi padaku, bisa jadi dia akan mau menjual muka padaku.”

Melihat tokoh yang diperkenalkan Hek-pek-cu dan Ui Ciong-kong itu memang sangat tepat, maksud mereka pun sangat sungguh-sungguh, hal ini menunjukkan kedua chengcu itu memang punya hubungan luas bahkan maksudnya juga sangat tulus. Maka terima kasih sekali rasa hati Lenghou Tiong, jawabnya kemudian, “Kepandaian sakti Ih-kin-keng itu hanya diajarkan kepada murid Siau-lim-pay melulu, sedangkan Wanpwe tidak dapat menjadi murid Siau-lim, hal ini jelas sulit dilaksanakan. Sudahlah, maksud baik para Chengcu akan kuingat selama hidup ini. Tentang mati-hidupku sudah suratan nasib dan terserah takdir. Sebaliknya lukaku ini telah membikin para Chengcu ikut khawatir, biar Wanpwe mohon diri saja.”

“Nanti dulu!” tiba-tiba Ui Ciong-kong mencegah. Lalu ia masuk ke ruang dalam. Sejenak kemudian ia keluar kembali dengan membawa sebuah botol porselen kecil. Katanya, “Ini adalah dua biji pil pemberian mendiang guruku, sangat bagus khasiatnya untuk menambah tenaga badan dan menyembuhkan penyakit. Sekarang kuberikan kepada Adik Hong sekadar kenang-kenangan perkenalan kita ini.”

Dari sumbat botol itu Lenghou Tiong dapat menduga benda peninggalan guru Ui Ciong-kong itu pasti benda mestika yang tak ternilai. Maka cepat ia menjawab, “Ah, penyakitku ini sudah sukar untuk disembuhkan, obat Cianpwe itu lebih baik disimpan saja untuk digunakan di kemudian hari.”

Ui Ciong-kong berkata, “Kami berempat sudah tidak pernah menginjak dunia Kangouw lagi dan tiada pernah bertempur dengan orang luar sehingga obat ini pun tiada gunanya. Kami berempat tidak punya anak murid, diberikan padamu juga kau tolak, maka terpaksa obat ini biar kubawa masuk ke liang kubur saja.”

Mendengar ucapan yang mengharukan itu, terpaksa Lenghou Tiong menerimanya dengan ucapan terima kasih, lalu mohon diri.

Hek-pek-cu bertiga membawa Lenghou Tiong kembali ke ruang catur di bagian depan. Dari air muka mereka berempat itu segera Hiang Bun-thian dapat menduga bahwa pertandingan pedang dengan toachengcu itu tentu dimenangkan lagi oleh Lenghou Tiong. Sebab kalau Lenghou Tiong kalah, tentu begitu datang Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing akan terus minta barang taruhannya.

Namun begitu Hiang Bun-thian sengaja bertanya, “Adik Hong, apakah Toachengcu telah sudi memberi petunjuk itu pedang padamu?”

“Wah, betapa tinggi kepandaian Toachengcu sungguh sukar diukur,” jawab Lenghou Tiong. “Untung tenaga dalam sudah lenyap sehingga tidak terpengaruh oleh suara kecapi Toachengcu yang dikeluarkan dengan tenaga dalam yang mahakuat itu.”

Tiba-tiba Tan-jing-sing mendelik pada Hiang Bun-thian dan berkata, “Hong-hengte ini adalah orang jujur, segala apa telah dikatakannya dengan terus terang. Kau bilang tenaga dalamnya jauh di atasmu sehingga toako kami tertipu olehmu.”

“Dahulu sebelum tenaga dalam Hong-hiante lenyap memang jauh di atasku,” jawab Hiang Bun-thian dengan tertawa. “Yang kukatakan kan dulu dan bukan sekarang.”

“Hm, kau bukan manusia baik-baik,” jengek Tut-pit-ong.

“Jika Bwe-cheng tiada seorang pun yang mampu mengalahkan ilmu pedang Hong-hiante, maka sekarang juga kami mohon pamit,” kata Hiang Bun-thian kepada Hek-pek-cu sambil memberi hormat. Lalu katanya kepada Lenghou Tiong, “Marilah kita berangkat saja.”

Lenghou Tiong lantas memberi hormat juga kepada tuan-tuan rumah itu, katanya, “Banyak terima kasih atas kebaikan para Chengcu yang telah sudi melayani kami. Kelak bila sempat tentu berkunjung lagi kemari.”

“Hong-hiante,” kata Tan-jing-sing, “setiap saat kau boleh datang kemari untuk minum-minum dengan aku. Adapun Tong-heng ini, hehe!”

“Ah, aku tidak dapat minum arak, sudah tentu tidak berani cari penyakit ke sini,” ujar Hiang Bun-thian dengan tersenyum. Lalu ia memberi salam pula, tangan Lenghou Tiong lantas ditariknya dan diajak berangkat keluar. Hek-pek-cu bertiga masih terus mengantar ke luar.

Hiang Bun-thian lantas mencegah, katanya, “Ketiga Chengcu silakan tinggal saja, tak usah mengantar jauh-jauh.”

“Hah, apa kau sangka kami mengantarmu?” jengek Tut-pit-ong. “Yang kami antar adalah Hong-hengte dan bukan dirimu. Jika kau yang datang kemari satu langkah pun kami tidak sudi mengantar.”

“O, kiranya begitu,” sahut Hiang Bun-thian tertawa.

Setelah mengantar jauh di luar pintu barulah Hek-pek-cu bertiga mengucapkan kata-tata perpisahan dengan Lenghou Tiong. Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing hanya mendelik saja terhadap Hiang Bun-thian, rasanya kalau bisa mereka hendak merebut buntelan yang tersandang di gendongan Hiang Bun-thian itu.

Hiang Bun-thian tidak ambil pusing, ia gandeng tangan Lenghou Tiong dan melangkah pergi. Sesudah agak jauh meninggalkan Bwe-cheng barulah ia tanya dengan tertawa, “Pedang tak berwujud yang dibunyikan oleh kecapi Toachengcu itu sangat lihai, dengan cara bagaimanakah kau mengalahkan dia, adikku?”

“Kiranya segala apa sudah diketahui Toako sebelumnya,” ujar Lenghou Tiong. “Untung tenaga dalamku sudah hilang semua, kalau tidak saat ini mungkin jiwaku sudah melayang. Toako, apakah engkau mempunyai permusuhan dengan keempat chengcu itu?”

“Tidak, tidak ada permusuhan apa pun dengan mereka,” sahut Hiang Bun-thian. “Bahkan sebelumnya aku tidak pernah bertemu muka dengan mereka, dari mana aku bisa bermusuhan dengan mereka?”

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang memanggil mereka, “Tong-heng, Hong-heng, harap kalian kembali dulu!”

Waktu Lenghou Tiong menoleh terlihatlah sesosok bayangan orang secepat terbang melayang tiba. Kiranya adalah Tan-jing-sing.

Sebelah tangan Tan-jing-sing membawa sebuah mangkuk arak malahan terisi lebih setengah mangkuk arak, tapi tidak tercecer setitik pun meski dibawa lari secepat ini, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi ginkangnya.

Hiang Bun-thian lantas tanya, “Ada apa lagi Sichengcu menyusul kemari?”

Tan-jing-sing berkata, “Hong-hengte, aku masih simpan setengah botol Tiok-yap-jing yang sudah berumur lebih setengah abad, jika engkau tidak mencicipi tentu akan terasa sayang.”

Habis berkata ia terus menyodorkan mangkuk arak yang dibawanya itu.

Lenghou Tiong menerimanya, dilihatnya arak itu berwarna hijau tua, baunya harum dan keras. “Benar-benar arak bagus!” pujinya.

Segera ia minum seceguk dan memuji bagus pula, berturut-turut empat ceguk sehingga setengah mangkuk itu dihabiskan semua. Lalu katanya pula, “Arak ini menimbulkan macam-macam rasa dan benar-benar arak termasyhur dari daerah Yangciu atau Tinkang.”

“Benar, ini memang pemberian hwesio Kim-san-si di Lembah Tinkang,” kata Tan-jing-sing. “Seluruhnya dia menyimpan enam botol dan dipandang sebagai pusaka kuilnya. Hong-hiante, di rumah aku masih ada beberapa jenis arak bagus, bagaimana kalau kau kembali ke sana untuk coba-coba menilainya?”

Memangnya Lenghou Tiong sudah punya kesan baik terhadap “Kanglam-si-yu”, apalagi akan disuguh arak bagus, tentunya ia sangat senang. Ia coba menoleh kepada Hiang Bun-thian, maksudnya ingin tahu pendapatnya.

“Hong-hiante, jika Sichengcu mengundangmu minum arak, maka bolehlah pergi saja,” kata Bun-thian. “Adapun diriku, karena Samchengcu dan Sichengcu masih gemas jika melihat aku, maka sebaiknya aku tidak ikut, hehe ….”

“Kapan aku merasa gemas jika melihatmu?” sela Tan-jing-sing dengan tertawa. “Sudahlah, ayo pergi bersama. Kau adalah saudara angkat Hong-hengte, berarti juga sahabatku. Ayo berangkat!”

Ketika Hiang Bun-thian hendak menolak lagi, namun Tan-jing-sing sudah lantas menggandeng tangannya dan tangan lain menarik Lenghou Tiong serunya tertawa, “Ayolah berangkat, kita harus minum lagi beberapa mangkuk!”

Diam-diam Lenghou Tiong heran, ketika mohon diri tadi sikap Sichengcu ini rada ketus terhadap sang toako, mengapa sekarang dia begini simpatik? Jangan-jangan dia masih mengincar tulisan dan lukisan di dalam buntelan sang toako sehingga sengaja mengatur tipu muslihat untuk merebutnya?

Setiba kembali di Bwe-cheng, ternyata Tut-pit-ong sudah menunggu di depan pintu, dengan girang ia menyambut, “Bagus sekali! Lekas masuk lagi ke ruang catur!”

Tan-jing-sing lantas menyuguhkan macam-macam arak bagus kepada Lenghou Tiong. Selama itu Hek-pek-cu ternyata tidak menampakkan diri.

Sementara itu hari sudah magrib, Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing seperti menanti seseorang, kerap kali mereka melirik keluar pintu. Beberapa kali Hiang Bun-thian minta pamit lagi, tapi mereka selalu menahan dengan sungguh-sungguh. Lenghou Tiong tidak menghiraukan semua itu, yang dia perhatikan hanya minum arak saja.

Kemudian Hiang Bun-thian berkata dengan tertawa, “Bila kedua Chengcu tidak menjamu kami, tentu si tukang gegares seperti diriku akan kelaparan.”

“O ya, benar!” seru Tut-pit-ong. Lalu ia berteriak, “Ting-koankeh, lekas mengatur meja perjamuan!”

Terdengarlah Ting Kian mengiakan di luar pintu. Pada saat itulah tiba-tiba pintu didorong orang, Hek-pek-cu melangkah masuk. Katanya terhadap Lenghou Tiong, “Hong-hengte, di perkampungan kami ini ada lagi seorang kawan lain yang ingin belajar kenal dengan ilmu pedangmu.”

“Wah, kiranya Toako sudah meluluskan!” seru Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berbareng sambil melonjak kegirangan.

Mau tak mau Lenghou Tiong membatin, “Untuk bisa bertanding pedang dengan aku orang itu harus minta izin dulu kepada toachengcu. Jadi mereka sengaja menahan kami di sini untuk makan minum, rupanya selama itu jichengcu sedang berunding dengan toachengcu dan akhirnya toachengcu meluluskan. Jika demikian orang itu kalau bukan anak murid toachengcu tentu adalah anak buahnya. Apa mungkin ilmu pedangnya bisa lebih tinggi daripada toachengcu sendiri?”

Tapi lantas terpikir pula olehnya, “Wah, celaka. Kini mereka sudah tahu tenaga dalamku telah lenyap sama sekali, mereka menjaga harga diri dan tidak enak untuk membikin susah padaku. Tapi sekarang kalau mereka mengajukan seorang anak murid atau anak buahnya untuk bergebrak dengan aku, asalkan dia mengerahkan tenaga dalam bukankah seketika jiwaku bisa melayang?”

Namun kemudian terpikir lagi olehnya, “Tapi keempat chengcu ini adalah kaum kesatria yang jujur dan mulia mana bisa mereka melakukan perbuatan serendah itu? Hanya saja para chengcu ini sangat mengiler terhadap tulisan dan lukisan yang diperlihatkan Hiang-toako, lebih-lebih jichengcu yang tampaknya tenang-tenang tapi terhadap problem catur yang disebut Toako itu pun dia sangat terpesona, untuk mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan bukan mustahil mereka akan melakukan hal-hal yang tak terduga.”

Begitulah dalam sekejap itu timbul macam-macam pikiran dan pendapat dalam benak Lenghou Tiong.

Maka terdengar Hek-pek-cu berkata, “Hong-hengte, silakan kau suka bertanding sekali lagi.”

“Ah, kalau bicara tentang kepandaian sejati Wanpwe sekali-kali bukan tandingan Samchengcu dan Sichengcu apalagi Jichengcu dan Toachengcu. Soalnya para Cianpwe rupanya cocok dengan kegemaranku maka para Cianpwe telah sudi mengalah padaku. Padahal sedikit permainanku yang kasar ini tidak perlu dipertunjukkan lagi.”

“Hong-hengte,” kata Tan-jing-sing, “ilmu silat orang itu dengan sendirinya jauh lebih tinggi daripadamu, tapi jangan takut, dia ….”

“Dia adalah seorang ahli pedang kaum cianpwe di perkampungan kami ini,” sela Hek-pek-cu. “Ketika mendengar ilmu pedang Hong-hengte sedemikian hebat betapa pun dia ingin coba-coba ilmu pedangmu. Maka diharap Hong-hengte sudi bertanding satu babak lagi.”

Lenghou Tiong merasa serbasusah, ia pikir jika mesti bertanding lagi bukan mustahil akan terpaksa melukai lawan sehingga jadinya akan bermusuhan dengan Kanglam-si-yu. Maka dengan rendah hati ia menjawab, “Keempat Chengcu teramat baik terhadapku, jika mesti bertanding lagi, entah bagaimana perangai Cianpwe itu, kalau sampai terjadi apa-apa kan bisa membikin rusak persahabatan kita ini.”

Dengan tertawa Tan-jing-sing berkata, “Tidak menjadi soal, bagaimanapun juga ….”

“Bagaimanapun juga kami berempat pasti tidak akan menyalahkan Hong-hengte,” demikian Hek-pek-cu memotong lagi.

“Baiklah, apa alangannya bertanding lagi satu kali,” ujar Hiang Bun-thian. “Tapi aku ada sedikit urusan dan tidak bisa tinggal lebih lama di sini, biarlah aku berangkat lebih dulu. Hong-hengte, kita berjumpa lagi di Kuiciu.”

“He, mana boleh kau pergi lebih dahulu?” seru Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berbareng.

“Kau boleh pergi asalkan tinggalkan tulisan Thio Kiu itu,” Tut-pit-ong menambahkan.

“Ya, jika Hong-hiante kalah nanti, lalu ke mana kami mencarimu untuk minta barang taruhanmu? Tidak, tidak boleh! Kau harus tinggal lagi sebentar,” kata Tan-jing-sing. “Ting-koankeh, lekas siapkan perjamuan!”

Hek-pek-cu lantas berkata juga, “Hong-hiante, marilah pergi bersamaku. Tong-heng silakan dahar dulu di sini, sebentar saja kami akan kembali ke sini.”

Hiang Bun-thian menggeleng kepala, jawabnya, “Untuk pertandingan ini jelas kalian bertekad harus menang. Padahal jika aku tidak ikut mengawasi pertandingan ini tentu kami akan merasa penasaran andaikan akhirnya Hong-hengte kalah.”

“Apa maksud ucapan Tong-heng ini?” tanya Hek-pek-cu. “Memangnya kau sangka kami akan pakai tipu muslihat?”

“Bahwasanya keempat Chengcu adalah kesatria sejati memang sudah lama kukagumi, maka sepenuhnya aku dapat percaya pada kalian,” sahut Bun-thian. “Cuma yang akan bertanding dengan Hong-hiante adalah seorang lain lagi, sesungguhnya aku pun tahu bahwa orang itu serupa dengan para Chengcu juga kesatria sejati, maka terus terang aku tidak perlu merasa khawatir.”

“Nama dan ilmu silat orang itu kalau dibandingkan kami berempat boleh dikata lebih tinggi dan tidak lebih rendah,” kata Tan-jing-sing.

“Tokoh Bu-lim yang nama dan kepandaian dapat menandingi keempat Chengcu boleh dikata dapat dihitung dengan jari, rasanya pasti kukenal namanya,” ujar Hiang Bun-thian.

“Tapi nama orang ini tidak leluasa untuk dikatakan padamu,” sela Tut-pit-ong.

“Jika begitu aku harus ikut menyaksikan pertandingan itu, kalau tidak biarlah pertandingan ini dibatalkan saja,” ucap Bun-thian.

“Kenapa engkau begitu kukuh?” ujar Tan-jing-sing. “Kukira kehadiran Tong-heng nanti hanya akan merugikan kau sendiri dan tiada manfaatnya. Orang itu sudah lama hidup menyepi dan tidak suka orang luar melihat wajahnya.”

“Jika demikian lantas cara bagaimana Hong-hiante akan bertanding pedang dengan dia?” tanya Bun-thian.

“Kedua pihak sama-sama memakai kedok, hanya kelihatan mata masing-masing sehingga tidak saling kenal lagi,” kata Hek-pek-cu.

“Apakah ketiga Chengcu juga memakai kedok?” Bun-thian menegas.

“Benar,” sahut Hek-pek-cu. “Watak orang itu teramat aneh, kalau tidak, dia tak mau bertanding.”

“Kalau begitu biarlah aku juga memakai kedok saja,” kata Bun-thian.

Untuk sejenak Hek-pek-cu menjadi ragu, akhirnya berkata, “Jika Tong-heng berkeras ingin ikut menyaksikan, ya terpaksa begitulah caranya. Cuma Tong-heng harus berjanji bahwa dari mula sampai akhir sedikit pun tidak boleh bersuara.”

“Hanya membisu saja kan gampang,” ujar Hiang Bun-thian tertawa.

Begitulah Hek-pek-cu lantas mendahului jalan di depan disusul Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong, Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing berada paling belakang.

Lenghou Tiong ingat jalan yang diambil itu adalah menuju ke tempat toachengcu mereka. Benar juga, setiba di luar kamar toachengcu, Hek-pek-cu lantas mengetuk pintu perlahan, lalu mendorong daun pintu dan melangkah ke dalam.

Ternyata di dalam kamar sudah ada seorang yang memakai kerudung kain hitam, dilihat dari pakaiannya jelas adalah Ui Ciong-kong.

Hek-pek-cu mendekati Ui Ciong-kong dan bisik-bisik di telinganya. Ui Ciong-kong tampak menggeleng-geleng, agaknya dia tidak setuju kalau Hiang Bun-thian ikut serta. Hek-pek-cu bisik-bisik pula sejenak, tapi Ui Ciong-kong tetap menggeleng kepala.

Akhirnya Hek-pek-cu manggut-manggut dan berpaling kepada Hiang Bun-thian, katanya, “Toako berpendapat bahwa soal pertandingan adalah soal kecil, tapi kalau sampai sobat itu marah, inilah yang tidak enak. Karena itulah lebih baik pertandingan ini dianggap batal saja.”

Kelima orang lantas memberi hormat kepada Ui Ciong-kong dan mohon diri keluar kamar.

“Tong-heng,” demikian Tan-jing-sing berkata dengan marah-marah, “kau ini memang orang aneh. Apa kau khawatir kami akan mengerubut Hong-hengte ini sehingga kau harus ikut menyaksikan di samping? Sekarang pertandingan yang mestinya sangat menarik menjadi gagal sama sekali, sungguh sangat mengecewakan.”

“Jiko telah berusaha dengan susah payah dan akhirnya barulah Toako meluluskan tapi kaulah yang mengacau sehingga gagal,” omel Tut-pit-ong.

“Ya, sudahlah, biar aku mengalah saja, aku takkan ikut menyaksikan pertandingan ini,” kata Hiang Bun-thian dengan tertawa. “Tapi kalian harus berlaku seadil-adilnya, tidak boleh mengakali Hong-hiante.”

Hek-pek-cu bertiga menjadi girang berbareng mereka menjawab, “Memangnya kau sangka kami ini orang macam apa? Mana bisa kami mengakali Hong-hengte segala?”

“Baiklah, aku akan menunggu di ruang catur,” kata Bun-thian. “Hong-hiante, tampaknya mereka entah sedang main sandiwara apa, hendaknya kau hati-hati dan penuh waspada.”

“Setiap penghuni Bwe-cheng sini adalah orang berbudi, mana bisa mereka berbuat sesuatu secara licik,” ujar Lenghou Tiong tertawa.

“Benar,” tukas Tan-jing-sing, “memangnya kau sangka Hong-hengte ini seperti dirimu mengukur orang lain seperti dirimu?”

Tapi sesudah bertindak pergi beberapa langkah tiba-tiba Hiang Bun-thian menoleh dan memanggil, “Hong-hiante, coba kemari, aku harus memberi petunjuk padamu supaya tidak masuk perangkap orang.”

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Hiang-toako juga terlalu hati-hati, aku toh bukan anak umur tiga masakah begitu gampang ditipu.”

Tapi dengan tertawa didekati juga Hiang Bun-thian.

Ketika Hiang Bun-thian menarik tangan Lenghou Tiong, segera pemuda itu merasa sang toako itu menjejalkan sesuatu pada telapak tangannya, rasanya seperti gulungan kertas tapi di dalamnya ada sesuatu benda keras.

Dengan tertawa Hiang Bun-thian pura-pura menarik Lenghou Tiong lebih dekat, lalu membisikkannya, “Sesudah bertemu orang itu nanti bolehlah kau beramah tamah dan menjabat tangan sembari menjejalkan benda dalam gulungan kertas ini kepadanya. Hal ini menyangkut urusan mahapenting hendaknya kau jangan lalai. Haha, haha!”

Nada ucapan itu sangat prihatin dan sungguh-sungguh, tapi air mukanya tetap menampilkan senyuman, bahkan gelak tawa yang terakhir itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kalimat ucapannya itu.

Namun begitu Hek-pek-cu bertiga menyangka Hiang Bun-thian telah mengucapkan kata-kata yang mencemoohkan mereka. Segera Tan-jing-sing berkata, “Apa yang kau tertawakan? Biarpun ilmu pedang Hong-hengte sangat tinggi, tapi bagaimana dengan ilmu pedang Tong-heng sendiri kan kami belum lagi belajar kenal.”

“Ilmu pedangku hanya biasa saja, tidak perlu belajar kenal segala,” sahut Hiang Bun-thian tertawa, habis itu ia terus melangkah ke ruang luar.

“Marilah kita pergi menemui Toako pula,” ajak Tan-jing-sing dengan gembira. Segera mereka berempat menuju lagi ke kamar Ui Ciong-kong.

Rupanya Ui Ciong-kong tidak menduga bahwa mereka akan datang kembali sehingga kerudung kepalanya tadi sudah dicopot.

“Toako,” kata Hek-pek-cu, “Tong-heng itu telah kami bujuk dan bersedia membatalkan niatnya untuk ikut serta menonton pertandingan.”

“Baiklah kalau begitu,” sahut Ui Ciong-kong. Segera ia ambil lagi kerudung kain hitam tadi dan dipakai.

“Jite, bawalah dua pedang kayu ke bawah,” kata Ui Ciong-kong kepada Hek-pek-cu. Segera Hek-pek-cu membuka sebuah lemari kayu dan mengeluarkan dua senjata kayu yang dimaksud.

Diam-diam Lenghou Tiong heran, “Mengapa dia bilang ke bawah? Apa barangkali orang itu bertempat tinggal di suatu tempat yang rendah?”

“Hong-hengte,” kata Ui Ciong-kong kepada Lenghou Tiong, “marilah kita pergi menemui seorang kawan untuk mengukur ilmu pedangmu. Mengenai pertandingan ini, tak peduli siapa yang kalah atau menang, diharap satu kata pun jangan kau beri tahukan kepada orang luar.”

“Sudah tentu,” sahut Lenghou Tiong. “Wanpwe sudah menyatakan bahwa kedatangan kemari sekali-kali bukan mencari nama maka tiada alasanku buat sembarangan mengoceh di luaran. Apalagi Wanpwe lebih banyak kalah daripada menang, apa yang perlu kukatakan.”

“Soal kalah atau menang belumlah pasti, tapi aku percaya Hong-hengte akan pegang janji dan takkan disiarkan keluar,” kata Ui Ciong-kong. “Cuma apa yang kau lihat selanjutnya juga diharap jangan menyinggungnya bahkan Tong-heng pun jangan kau beri tahu, apakah hal ini dapat kau janji?”

“Sampai Tong-heng juga tidak boleh diberi tahu?” Lenghou Tiong menegas. “Padahal sesudah bertanding nanti tentu dia akan tanya ini dan itu, jika aku tutup mulut tanpa memberi keterangan apa-apa kan rasanya tidak pantas sebagai teman.”

“Tong-heng itu pun seorang Kangouw kawakan, jika dia mengetahui Hong-hengte sudah berjanji padaku, seorang laki-laki sejati mana boleh ingkar janji, dia tentu tidak akan paksa kau bicara,” ujar Ui Ciong-kong.

“Ya, betul juga, baiklah aku terima,” kata Lenghou Tiong sambil mengangguk.

“Banyak terima kasih atas kebaikan hati Hong-hengte,” kata Ui Ciong-kong. “Marilah, silakan!”

Segera Lenghou Tiong putar tubuh hendak menuju ke luar, tapi Tan-jing-sing telah mencegahnya dan menuding ke dalam ruangan malah, katanya, “Ke dalam sana!”

Keruan Lenghou Tiong melengak, sungguh ia tidak mengerti mengapa menuju ke ruang dalam malah? Tapi segera ia sadar, “Ah, benarlah! Orang yang akan bertanding dengan aku kiranya seorang wanita, bisa jadi adalah istri toachengcu atau selir atau gundiknya, sebab itulah mereka berkeras tidak mengizinkan Hiang-toako ikut menonton di samping. Pula diharuskan memakai kerudung agar tidak dapat melihat muka lawan dan pihak lawan juga tidak dapat melihat wajahku, hal ini tentu disebabkan untuk menjaga adat kebiasaan antara kaum pria dan wanita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: