Hina Kelana: Bab 68. Suara Kecapi Membentuk Ilmu Pedang Tak Berwujud

Sudah belasan cawan Lenghou Tiong saling minum bersama Tan-jing-sing barulah kemudian Hek-pek-cu muncul kembali.

“Hong-heng, Toako kami mengundang engkau,” kata Hek-pek-cu. “Tong-heng silakan saja minum-minum di sini.”

Dengan ucapannya itu nyata yang diundang ke sana hanya Lenghou Tiong sendirian. Hiang Bun-thian melenggong, pikirnya, “Usia Lenghou-hiante masih sangat muda, pengalamannya cetek, jika dia pergi sendirian mungkin bisa bikin runyam urusan. Tapi Jichengcu sudah berkata demikian, aku tidak dapat ngotot ingin ikut.”

Maka dengan menghela napas gegetun terpaksa ia berkata “Ai, Cayhe tidak punya jodoh untuk bertemu dengan Toachengcu, sungguh harus disesalkan.”

“Harap Tong-heng jangan marah,” kata Hek-pek-cu. “Soalnya Toako kami sudah lama mengasingkan diri, biasanya tidak mau terima tamu. Cuma tadi ketika mendengar ceritaku, bahwa ilmu pedang Hong-heng tiada bandingannya di dunia ini, hati beliau merasa sangat kagum, maka sengaja mengundang Hong-heng ke dalam, hal ini tidak berarti mengurangi penghormatan kami kepada Tong-heng.”

“Mana, mana aku berani berpikir demikian,” ujar Hiang Bun-thian.

Lenghou Tiong lantas menaruh pedangnya di atas meja batu dan ikut Hek-pek-cu keluar dari kamar catur itu. Sesudah menyusur sebuah serambi panjang, sampailah mereka di depan sebuah pintu bulat.

Di atas pintu bulat itu sebuah papan tertuliskan dua huruf “khim-sim” (inti kecapi). Kedua huruf itu dibuat dari kaca warna biru, gaya tulisannya indah dan kuat, terang tulisan tangan Tut-pit-ong sendiri. Di balik pintu bulat itu adalah sebuah jalanan taman yang sunyi, kedua tepi tumbuh pohon bambu, batu-batu di tengah jalan itu berlumut, nyata sekali jalanan ini jarang dilalui manusia.

Sesudah melalui jalanan taman itu, sampailah di depan tiga buah rumah batu yang dikitari oleh beberapa pohon siong yang besar dan tua. Suasana menjadi rada redup dan tambah sunyi.

Perlahan-lahan Hek-pek-cu lantas mendorong pintu dan berbisik kepada Lenghou Tiong, “Silakan masuk.”

Waktu melangkah masuk rumah itu, segera hidung Lenghou Tiong mengendus bau harum kayu gaharu.

“Toako, Hong-heng dari Hoa-san-pay sudah berada di sini,” segera Hek-pek-cu berkata.

Maka muncullah seorang tua dari kamar dalam sambil menyapa dengan hormat, “Hong-heng berkunjung ke tempat kami ini, harap dimaafkan tidak diadakan penyambutan selayaknya.”

Umur orang tua ini kira-kira ada 60-70 tahun, tubuhnya kurus kering, kulit mukanya kisut dan kempot sehingga mirip tengkorak hidup. Tapi kedua matanya bersinar tajam. Lekas-lekas Lenghou Tiong memberi hormat dan menjawab, “Kedatangan Wanpwe ini terlalu sembrono, mohon Cianpwe memaafkan.”

Segera Hek-pek-cu menyambung, “Gelar Toako kami adalah Ui Ciong-kong, mungkin Hong-heng sudah lama mendengar nama beliau.”

“Sudah lama Wanpwe kagum terhadap keempat Chengcu di sini dan baru hari ini dapat berjumpa, sungguh sangat beruntung,” ujar Lenghou Tiong. Tapi di dalam hati ia membatin, “Hiang-toako benar-benar suka guyon, masakah sebelumnya tidak menerangkan apa-apa kepadaku, aku hanya disuruh menurut kepada segala apa yang diaturnya. Tapi sekarang Hiang-toako sendiri tidak mendampingi aku, jika Toachengcu ini mengemukakan sesuatu soal sulit, lalu cara bagaimana aku harus melayaninya?”

Terdengar Ui Ciong-kong telah berkata pula, “Kabarnya Hong-heng adalah ahli waris Hong-losiansing Locianpwe dari Hoa-san-pay, ilmu pedangmu konon sangat sakti. Selama ini aku pun sangat kagum terhadap ilmu silat dan pribadi Hong-losiansing, cuma sayang belum pernah bertemu dengan beliau. Beberapa waktu yang lalu di Kangouw tersiar kabar bahwa Hong-losiansing sudah wafat, hal ini membuat aku merasa menyesal sekali. Tapi hari ini dapat bertemu dengan ahli waris Hong-losiansing sudah boleh dikata terpenuhilah angan-anganku selama ini. Entah Hong-heng apakah termasuk anak atau cucu Hong-losiansing?”

Lenghou Tiong menjadi serbasusah, sebab ia sudah pernah berjanji kepada Hong Jing-yang untuk tidak menceritakan jejak beliau kepada siapa pun juga. Bahwasanya ilmu pedangnya diperoleh dari orang tua itu, entah dari mana Hiang-toako mendapat tahu hal ini. Sudah begitu Hiang-toako sengaja membual tentang ilmu pedangnya dan mengatakan dia she Hong, betapa pun ini bersifat menipu. Sebaliknya kalau dirinya sekarang mengaku terus terang rasanya juga tidak mungkin.

Maka secara samar-samar Lenghou Tiong lantas menjawab, “Aku adalah anak murid beliau angkatan belakangan. Wanpwe terlalu bodoh, ilmu pedang beliau tiada dua-tiga bagian yang dapat kupelajari dengan baik.”

Ui Ciong-kong, menghela napas, katanya, “Jika kau cuma memperoleh dua-tiga bagian dari ilmu pedang beliau dan tiga saudaraku telah kalah semua di bawah pedangmu, maka betapa hebat kepandaian Hong-losiansing sungguh sukar diukur.”

“Tapi ketiga Chengcu hanya bergebrak beberapa kali saja dengan Wanpwe dan belum jelas pihak mana yang menang dan kalah,” kata Lenghou Tiong.

Muka Ui Ciong-kong yang kurus kempot itu menampilkan senyuman, katanya sambil manggut-manggut, “Orang muda tidak sombong dan tidak berangasan, sungguh harus dipuji.”

Melihat Lenghou Tiong bicara sambil tetap berdiri, segera ia berkata pula, “Silakan duduk, silakan!”

Baru saja Lenghou Tiong dan Hek-pek-cu ambil tempat duduk masing-masing, segera seorang kacung menyuguhkan tiga cangkir teh.

Lalu Ui Ciong-kong mulai berkata pula, “Katanya Hong-heng ada satu buku khim-boh (not kecapi) yang bernama ‘Lagu Hina Kelana’, apa betul adanya? Aku memang gemar pada seni musik, tapi dari buku-buku not kuno belum pernah kudengar ada satu jilid not lagu demikian.”

“Dalam buku-buku not kuno memang tidak ada, sebab khim-boh ini adalah hasil karya orang zaman sekarang,” sahut Lenghou Tiong. Diam-diam ia berpikir sudah terlalu jauh Hiang-toako membohongi mereka. Tampaknya keempat Chengcu ini adalah tokoh-tokoh luar biasa, apalagi kedatangannya adalah untuk mohon pengobatan kepada mereka, maka tidaklah pantas untuk mempermainkan mereka lagi. Dahulu Lau Cing-hong dan Kik Yang berdua Cianpwe menyerahkan khim-boh ini kepadaku adalah karena khawatir karya mereka yang besar akan lenyap di dunia fana ini. Sekarang Toachengcu ini ternyata penggemar kecapi, maka tiada jeleknya jika kuperlihatkan khim-boh ini kepadanya.

Segera ia mengeluarkan khim-boh itu dari bajunya, ia berbangkit sambil diaturkan kepada Ui Ciong-kong dan berkata, “Silakan Toachengcu periksa adanya.”

Dengan sedikit berbangkit Ui Ciong-kong menyambut khim-boh itu, jawabnya, “Kau katakan khim-boh ini karya orang zaman ini? Rupanya aku sudah terlalu lama mengasingkan diri sehingga tidak tahu bahwa pada masa ini telah lahir seorang komponis besar.”

Di balik kata-katanya itu nyata sekali ia rada kurang percaya.

Waktu ia membalik halaman pertama khim-boh itu, lalu katanya pula, “Ini adalah not paduan suara kecapi dan seruling. Eh, panjang benar lagu ini.”

Tapi hanya sebentar saja ia membaca not lagu itu segera air mukanya berubah hebat.

Dengan tangan kanan membalik-balik halaman khim-boh itu, jari tangan kiri Ui Ciong-kong tampak bergerak-gerak seperti sedang memetik kecapi. Hanya membalik dua halaman saja ia lantas mendongak dan termangu-mangu, lalu menggumam sendiri, “Nada lagu ini berubah secara meninggi dan sangat cepat, apakah benar dapat dibawakan dengan kecapi?”

“Dapat, memang benar dapat,” jawab Lenghou Tiong.

“Dari mana kau mengetahui? Apakah kau sendiri bisa?” tanya Ui Ciong-kong dengan pandangan tajam.

“Sudah tentu Wanpwe tidak bisa, tapi Wanpwe pernah mendengarkan dua orang membawakan lagu ini dengan kecapi,” tutur Lenghou Tiong. “Orang pertama membawakan lagu ini dengan kecapi bersama tiupan seruling seorang lain lagi. Mereka berdua inilah penggubah dari lagu Hina Kelana ini.”

“Dan siapa lagi pemain kecapi yang kedua itu?” tanya Ui Ciong-kong.

Dada Lenghou Tiong menjadi hangat, karena yang ditanyakan itu adalah Ing-ing. Jawabnya kemudian, “Orang yang kedua itu adalah seorang wanita.”

“Wanita?” Ui Ciong-kong menegas. “Dia … dia sudah tua atau masih muda?”

Lenghou Tiong masih ingat sifat Ing-ing yang tidak suka orang mengatakan dia pernah kenal pada gadis itu, maka sekarang ia pun tidak ingin mengatakannya kepada Ui Ciong-kong, jawabnya kemudian, “Umur wanita itu yang tepat Wanpwe sendiri tidak jelas, cuma ketika mula-mula aku bertemu dengan dia aku memanggilnya sebagai ‘nenek’.”

“Hah, kau memanggil nenek padanya? Jika demikian dia sudah sangat tua?” seru Ui Ciong-kong.

“Waktu itu Wanpwe mendengarkan kecapi nenek itu dari balik kerai sehingga tidak melihat wajahnya, tapi rasanya dia pasti seorang nenek yang sudah tua,” kata Lenghou Tiong.

Ia menjadi geli lagi bila teringat sepanjang jalan ia pernah memanggil nenek kepada seorang nona jelita sebagai Ing-ing. Tapi sekarang nona itu entah berada di mana.

Ui Ciong-kong memandang jauh keluar jendela, setelah termenung-menung sekian lama, kemudian baru bertanya pula, “Apakah bagus sekali permainan kecapi nenek itu?”

“Bagus sekali,” jawab Lenghou Tiong. “Beliau pernah juga mengajarkan memetik kecapi kepadaku, cuma sayang satu lagu pun aku belum selesai mempelajarinya.”

“La … lagu apa yang dia ajarkan padamu itu?” tanya Ui Ciong-kong cepat.

Lenghou Tiong khawatir bila, lagu “Jing-sim-boh-sian-ciu” itu disebut mungkin sekali Ui Ciong-kong akan segera dapat menerka Ing-ing adanya. Maka ia sengaja menjawab, “Perangai Wanpwe tidak cocok dengan seni musik, maka lagu itu sudah kulupakan, bahkan apa namanya juga tidak ingat lagi.”

“O, besar kemungkinan bukan dia. Mana … mana bisa dia (perempuan) masih hidup di dunia ini?” demikian Ui Ciong-kong menggumam sendiri. Lalu tanyanya pula, “Saat ini nenek itu berada di mana?”

“Jika aku tahu tentunya sangat baik,” sahut Lenghou Tiong sambil menghela napas. “Pada suatu malam aku telah jatuh pingsan dan beliau lantas meninggalkan aku, sejak itu tidak diketahui beliau berada di mana.”

Mendadak Ui Ciong-kong berbangkit, katanya, “Kau bilang pada satu malam mendadak dia meninggalkan kau dan sejak itu tak diketahui jejaknya?”

Dengan murung Lenghou Tiong mengangguk.

Sejak tadi Hek-pek-cu diam saja, demi tampak pikiran Ui Ciong-kong rada limbung, khawatir kalau penyakit lama sang toako kumat lagi, lekas-lekas ia menyela, “Saudara Hong ini datang bersama seorang Saudara Tong dari Ko-san-pay, mereka menyatakan bila di dalam Bwe-cheng kita ada seorang saja yang mampu mengalahkan ilmu pedangnya ….”

“O, harus ada orang yang mengalahkan ilmu pedangnya baru dia mau meminjamkan buku lagu Hina Kelana itu kepadaku, demikian bukan?” tanya Ui Ciong-kong.

“Betul, dan kami bertiga sudah kalah semua,” sahut Hek-pek-cu. “Kini tinggal Toako saja, jika Toako tidak maju sendiri tentu Bwe-cheng kita ini, hehe ….”

“Jika kalian gagal, tentu aku pun percuma,” ujar Ui Ciong-kong tersenyum hampa.

“Tapi kami bertiga mana dapat dibandingkan dengan Toako,” ujar Hek-pek-cu.

“Ah, aku kan sudah tua, tidak berguna lagi,” kata Ciong-kong.

Lenghou Tiong lantas berbangkit, dengan kedua tangannya ia mengaturkan khim-boh dan berkata dengan penuh hormat, “Pedang harus dihadiahkan kepada pahlawan. Pencipta lagu ini dahulu juga telah pesan kepada Wanpwe agar berusaha mencari seorang ahli seni suara dan boleh menghadiahkan kitab ini kepadanya agar jerih payah ciptaan mereka berdua ini tidak lenyap sia-sia. Toachengcu bergelar ‘Ui Ciong-kong’, sudah tentu adalah ahli dalam bidang yang dimaksudkan ini. Selanjutnya kitab ini menjadilah milik Toachengcu.”

Ui Ciong-kong dan Hek-pek-cu sama melengak. Ketika di kamar sana Hek-pek-cu telah menyaksikan betapa Hiang Bun-thian menjual mahal dan memancing-mancing hasrat orang yang kepingin setengah mati. Siapa duga ‘Hong Ji-tiong’ ini ternyata sangat berbeda, caranya terus terang dan sangat baik hati.

Sebagai seorang ahli catur yang suka main siasat, segera ia menduga perbuatan Lenghou Tiong pasti ada suatu perangkap yang hendak menjebak Ui Ciong-kong. Tapi di mana letak perangkap itu seketika sukar pula diselami.

Ui Ciong-kong juga tidak lantas menerima pemberian not lagu Hina Kelana itu, katanya, “Orang tidak berjasa tidak berani menerima hadiah. Kita selamanya tidak saling kenal, mana aku berani menerima hadiahmu setinggi ini. Sebenarnya apa maksud tujuan kedatangan kalian berdua ke sini, diharap sudi kiranya menjelaskan secara jujur.”

Apa maksud tujuan kedatanganku ke sini sebelumnya Hiang-toako tidak menerangkan padaku sedikit pun, tapi menurut dugaanku tentu hendak mohon bantuan keempat chengcu di sini untuk menyembuhkan penyakitku. Cara pengaturan Hiang-toako ini penuh rahasia, sebaliknya keempat chengcu ini adalah tokoh-tokoh aneh pula, bisa jadi tentang penyakitku ini tidak boleh kuterangkan pada mereka. Memangnya aku tidak tahu apa maksud kedatanganku bersama Hiang-toako, jika aku mengaku terus terang juga tidak ada salahnya.

Maka dengan jujur ia lantas menjawab, “Wanpwe hanya ikut Tong-toako ke sini. Terus terang, sebelum menginjak perkampungan ini Wanpwe sama sekali belum pernah dengar nama keempat Chengcu, juga nama ‘Koh-san-bwe-cheng’ di sini sebelumnya tidak kukenal.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Hal ini mungkin disebabkan pengalaman Wanpwe yang cetek dan tidak kenal para Cianpwe yang kosen, untuk ini mohon kedua Chengcu janganlah marah.”

Ui Ciong-kong memandang sekejap kepada Hek-pek-cu, dengan senyum terkulum ia berkata, “Ucapan Saudara Hong sungguh sangat jujur, aku sangat berterima kasih. Tadinya aku memang heran, sebab tempat tinggal kami ini jarang diketahui orang Kangouw, Ngo-gak-kiam-pay selamanya juga tiada sesuatu hubungan dengan kami, mengapa kalian bisa datang kemari? Dengan demikian, jadi sebelumnya Saudara Hong memang tidak tahu asal usul kami?”

“Sungguh Wanpwe merasa malu, harap kedua Chengcu banyak-banyak memberi petunjuk,” sahut Lenghou Tiong. “Tadi Wanpwe mengatakan ’sudah lama mengagumi nama keempat Chengcu’ segala, sesungguhnya … sesungguhnya ….”

“Baiklah,” Ui Ciong-kong manggut-manggut. “Jadi not kecapi ini dengan setulus hati hendak kau hadiahkan kepadaku?”

“Benar,” jawab Lenghou Tiong.

“Tapi aku ingin tanya sesuatu lagi. Sebenarnya atas pesan siapa Hong-laute menyerahkan khim-boh ini kepadaku?” tanya Ui Ciong-kong.

“Penggubah lagu ini hanya pesan padaku agar mencari orang yang tepat untuk diserahi khim-boh ini, kepada siapa harus diserahkan tiada ditentukan,” jawab Lenghou Tiong. “Sekarang telah kuketahui Toachengcu adalah ahli dalam bidang seni suara, maka khim-boh ini boleh dikata telah mendapatkan majikannya yang sesuai.”

“O,” hanya sekali saja Ui Ciong-kong bersuara, tapi mukanya yang kurus itu menampilkan setitik rasa girang.

Tapi Hek-pek-cu lantas menegas, “Jika kau memberikan khim-boh ini kepada Toako kami, apakah Tong-heng itu mengizinkan?”

“Kedua gulung lukisan dan tulisan itu adalah milik Tong-toako, tapi khim-boh ini adalah milik pribadiku,” sahut Lenghou Tiong.

“Kiranya demikian,” kata Hek-pek-cu.

“Sungguh aku sangat berterima kasih terhadap maksud baik Hong-hengte,” ujar Ui Ciong-kong. “Tapi karena Hong-hengte sudah bicara di muka bahwa lebih dulu harus ada orang yang mampu mengalahkan ilmu pedangmu, maka aku pun tidak boleh menarik keuntungan dengan segampang ini. Marilah, boleh juga kita coba-coba beberapa jurus.”

Lenghou Tiong pikir tadi Jichengcu ini mengatakan “kami bertiga mana bisa dibandingkan dengan Toako”, maka tentang ilmu silat Toachengcu ini pasti jauh di atas ketiga temannya itu. Bisanya aku mengalahkan ketiga chengcu yang lihai tadi adalah berkat ilmu pedang ajaran Hong-thaysusiokco, jika sekarang harus bertanding dengan Toachengcu ini belum tentu aku bisa menang lagi, buat apa aku mesti mencari penyakit sendiri. Ya, seumpama aku yang menang lagi, lalu apa manfaatnya?

Karena berpikir begitu, maka ia lantas berkata, “Secara iseng Tong-toako telah mengemukakan kata-kata begitu, sungguh membikin kikuk orang saja, untuk ini jika keempat Chengcu tidak marah saja Wanpwe sudah merasa bersyukur, sekarang aku mana berani lagi bertanding dengan Toachengcu?”

“Kau memang berhati mulia,” puji Ui Ciong-kong. “Tapi tiada halangannya kita coba-coba beberapa jurus saja, asal tertutul saja kita lantas berhenti.”

Lalu ia mengambil sebatang seruling kemala yang terkait di dinding dan diserahkan kepada Lenghou Tiong, ia sendiri lantas mengangkat sebuah kecapi dari meja sana, katanya kemudian, “Boleh kau gunakan seruling itu sebagai pedang dan aku akan menggunakan kecapi ini sebagai senjata.”

Ia tersenyum, lalu melanjutkan, “Kedua macam alat musik ini tidak berani kukatakan benda yang bernilai, tapi juga terhitung barang yang jarang dicari di dunia ini, tentunya bukan maksudku untuk dirusak begini saja. Maka biarlah kita berlagak dan bergaya sekadarnya saja.”

Terpaksa Lenghou Tiong menerima seruling itu, dilihatnya seruling kemala itu seluruhnya berwarna hijau pupus, jelas terbuat dari batu zamrud pilihan. Sebaliknya kecapi yang dipegang Ui Ciong-kong itu warnanya sudah rada luntur, terang adalah barang kuno, bisa jadi adalah barang antik yang telah berumur ratusan atau ribuan tahun. Jika kedua alat musik ini terbentur perlahan saja sudah pasti akan hancur semua, dengan sendirinya tak dapat digunakan bertempur sungguh-sungguh.

Tapi karena tidak bisa mengelak lagi, terpaksa Lenghou Tiong memegang melintang serulingnya, lalu berkata, “Mohon Toachengcu memberi pelajaran.”

“Hong-losiansing adalah ahli pedang satu zaman, ilmu pedang warisannya pasti lain daripada yang lain,” ujar Ui Ciong-kong. “Silakan saja, Hong-heng.”

Segera Lenghou Tiong angkat serulingnya dan dikebaskan ke samping, angin meniup masuk lubang seruling dan menimbulkan suara-suara yang halus.

Ui Ciong-kong juga lantas menyentil kecapinya beberapa kali, di tengah bunyi kecapi itu segera ekor kecapi itu disodokkannya ke bahu kanan Lenghou Tiong.

Ketika mendengar suara kecapi, hati Lenghou Tiong sedikit tergetar, perlahan-lahan serulingnya juga lantas ditutulkan ke depan. Yang ditutuk adalah “siau-hay-hiat” di balik siku Ui Ciong-kong. Dalam keadaan demikian jika kecapi itu terus ditumbukkan ke bahu Lenghou Tiong, maka hiat-to di balik sikut itu tentu akan tertutuk lebih dulu.

Segera Ui Ciong-kong putar balik kecapinya dan dihantamkan ke pinggang Lenghou Tiong. Ketika kecapi itu diputar, kembali ia menyentil senar kecapi sehingga mengeluarkan suara.

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “Bila aku menangkis dengan seruling tentu kedua macam alat musik yang sukar dicari ini akan rusak semua. Untuk menghindarkan kerusakan barangnya tentu dia akan tarik kembali kecapinya. Tapi cara demikian lebih mendekati cara akal bulus dan tidak boleh kulakukan.”

Maka cepat ia pun putar serulingnya dan menutuk ke “thian-coan-hiat” di bawah ketiak musuh. Waktu Ui Ciong-kong angkat kecapinya buat menangkis segera Lenghou Tiong tarik kembali serulingnya.

“Creng, creng-creng-creng”, Ui Ciong-kong menyentil beberapa kali lagi senar kecapinya, nadanya berubah cepat dan tinggi.

Air muka Hek-pek-cu tampak rada berubah, lekas-lekas ia mengundurkan diri keluar kamar itu sambil sekalian merapatkan pintunya.

Kiranya pemetikan kecapi Ui Ciong-kong itu bukanlah karena dia iseng, tapi di dalam suara kecapi itu justru tercurah tenaga dalamnya yang tinggi untuk mengacaukan konsentrasi pikiran musuh. Bilamana tenaga dalam lawan timbul bersama suara kecapi, maka tanpa terasa lawan akan terpengaruh oleh suara kecapi itu. Jika suara kecapi perlahan, tentu gerak serangan lawan juga akan ikut perlahan, kalau suara seruling menanjak cepat, maka serangan musuh juga ikut cepat.

Tapi gerak serangan Ui Ciong-kong dengan kecapinya itu justru terbalik daripada suara kecapinya. Di waktu suara kecapi halus dan lambat, maka dia justru menyerang dengan cepat dan pihak lawan tentu akan sukar menangkisnya.

Kepandaian cara membaurkan suara kecapi ke dalam ilmu silat demikian adalah tingkatan tertinggi dalam ilmu silat, kalau sudah mencapai puncaknya hakikatnya tidak perlu melontarkan serangan lagi, cukup dengan suara kecapi saja sudah dapat membikin semangat musuh lesu dan perhatian buyar, jalan darahnya terhalang, orangnya bisa menjadi gila dan akhirnya muntah darah dan binasa. Walaupun kemahiran Ui Ciong-kong belum mencapai tingkatan demikian, tapi jika dalam beberapa jurus saja lawan tak bisa mengatasi suara kecapinya itu akhirnya tentu akan roboh sendiri.

Tadi rupanya Hek-pek-cu cukup kenal betapa lihai ilmu Ui Ciong-kong itu, khawatir lwekangnya sendiri terganggu, maka lekas-lekas ia mengundurkan diri keluar kamar. Tapi dari balik pintu sayup-sayup ia masih dapat mendengar suara kecapi yang berubah-ubah, kadang-kadang cepat dan meninggi, lain saat lambat dan rendah nadanya, kemudian tiba-tiba sunyi tiada sesuatu suara apa pun, tapi mendadak terus berbunyi “creng” yang keras. Diam-diam ia berkhawatir bagi Lenghou Tiong yang tentu akan terluka parah oleh “Chit-hian-bu-heng-kiam” (Pedang Tujuh Senar Tak Berwujud) sang toako yang lihai, padahal pemuda itu sangat simpatik. Sebaliknya kalau sang toako tidak mengeluarkan ilmu andalannya itu mungkin Bwe-cheng benar-benar tiada seorang pun yang mampu mengalahkan dia, lalu nama Kanglam-si-yu tentu akan runtuh habis-habisan karena dikalahkan oleh seorang pemuda hijau dari Hoa-san-pay. Jadi sang toako cuma terpaksa saja, semoga beliau tidak mencelakai jiwa Lenghou Tiong.

Selagi Hek-pek-cu berpikir begitu, tiba-tiba suara kecapi menanjak tinggi cepat sekali dan terdengar jelas dari luar pintu, dada Hek-pek-cu serasa sesak dan darah bergolak, lekas-lekas ia mundur keluar rumah dan merapatkan pintu besar. Walaupun begitu terkadang suara kecapi masih juga terdengar dan membuat jantungnya berdebar.

Sampai agak sama ia berdiri di luar dan suara kecapi masih terus bergema. Diam-diam ia heran Saudara Hong itu selain ilmu pedangnya sangat hebat, nyata tenaga dalamnya juga amat lihai sehingga mampu bertahan sekian lamanya di bawah serangan “pedang tak berwujud dari suara kecapi tujuh senar” sang toako.

Tengah termenung, tiba-tiba terdengar dari belakang ada suara tindakan orang, waktu menoleh, kiranya Tut-pit-ong dan Tan-jing-sing telah menyusul tiba. “Bagaimana?” tanya Tan-jing-sing dengan berbisik.

“Sudah bertempur sangat lama dari dan pemuda itu masih terus bertahan, kukhawatir Toako akan mencelakai jiwanya,” sahut Hek-pek-cu.

“Biar kumohonkan ampun kepada Toako agar sobat muda itu jangan sampai tercedera,” ujar Tan-jing-sing.

“Jangan masuk ke sana,” geleng Hek-pek-cu.

Pada saat itulah mendadak suara kecapi berbunyi nyaring keras, seketika mereka bertiga tergetar mundur satu tindak. Beruntun-runtun kecapi berbunyi lima kali dan mereka tanpa kuasa juga mundur lima kali.

Air muka Tut-pit-ong tampak pucat, setelah tenangkan diri barulah berkata, “Kiranya Toako sudah berhasil meyakinkan ilmu pedang tak berwujud yang lihai ini, serangan-serangan suara kecapi yang begitu tajam masakah Saudara Hong itu mampu menahannya?”

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar suara “creng” yang amat keras satu kali, habis itu lantas terdengar lagi suara “pletak”, itulah suara putusnya senar kecapi, bahkan suara pletak ini jauh lebih keras, rasanya seperti beberapa senar putus sekaligus.

Keruan Hek-pek-cu bertiga terkejut, lekas-lekas mereka mendorong pintu besar dan menolak pintu kamar tadi dan berlari masuk ke dalam. Ternyata Ui Ciong-kong sedang berdiri kesima dengan memegangi kecapinya, tujuh utas senar kecapinya sudah putus dan terurai di samping kecapi. Sebaliknya Lenghou Tiong tenang-tenang saja berdiri di samping dengan tetap memegang seruling.

“Maaf!” kata pemuda itu sambil membungkuk tubuh.

Nyatalah bahwa pertandingan ini kembali Ui Ciong-kong telah dikalahkan. Hek-pek-cu bertiga sama melongo. Mereka tahu betapa tinggi tenaga dalam Ui Ciong-kong boleh dikata adalah jago nomor satu atau nomor dua di dunia persilatan, sebelum mengasingkan diri sudah jarang ada tandingannya, apalagi sekarang sesudah giat berlatih selama belasan tahun, tentu ilmu pedangnya yang tak berbentuk itu jauh lebih maju dan lihai, siapa duga toh masih terjungkal di tangan seorang pemuda dari Hoa-san-pay. Kejadian ini kalau tidak disaksikan sendiri tentu orang tidak mau percaya.

Dengan tersenyum getir kemudian Ui Ciong-kong membuka suara, “Ilmu pedang Saudara Hong yang hebat ini sungguh belum pernah kulihat selama hidupku ini. Bahkan tenaga dalamnya juga sedemikian lihai, sungguh harus dipuji dan mengagumkan. Ilmu pedangku ‘Chit-hian-bu-heng-kiam’ tadinya kukira sudah tidak ada tandingannya di dunia ini, siapa tahu menjadi seperti permainan anak kecil saja bagi Saudara Hong.”

“Wanpwe hanya bertahan sekuat tenaga saja, berkat Cianpwe yang telah berlaku murah hati padaku,” sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati.

Ui Ciong-kong menghela napas panjang dan berduduk dengan lesu, terasa jerih payah latihannya selama ini ternyata sia-sia belaka, sungguh rasa masygulnya tidak kepalang.

Melihat itu, Lenghou Tiong menjadi tidak enak hati, pikirnya, “Meski tampaknya Hiang-toako tidak ingin mereka mengetahui punahnya tenaga dalamku agar mereka tidak mempersukar maksudku hendak minta pengobatan kepada mereka. Tapi perbuatan seorang laki-laki sejati harus dilakukan dengan secara blakblakan dan terus terang, aku tidak boleh menarik keuntungan dari mereka dengan tiara demikian.”

Maka ia lantas berkata, “Toachengcu, ada satu hal harus kukatakan terus terang. Sesungguhnya, sebabnya aku tidak gentar kepada hawa pedangmu yang tak berwujud yang kau keluarkan dari suara kecapimu tadi, hal ini bukanlah karena lwekangku amat tinggi, tapi disebabkan pada diri Wanpwe pada hakikatnya sudah tidak punya tenaga dalam sedikit pun.”

Ui Ciong-kong melengak dan berbangkit. “Apa katamu!” ia menegas.

“Wanpwe pernah terluka dalam beberapa kali, tenaga dalam sudah punah semua, makanya tiada merasakan apa-apa dan timbul reaksi terhadap serangan suara kecapimu tadi,” sahut Lenghou Tiong lebih lanjut.

“Sungguh begitu?” tukas Ui Ciong-kong.

“Jika Cianpwe tidak percaya, silakan periksa nadiku, dan tentu akan segera mengetahui,” ujar Lenghou Tiong sambil mengulurkan tangan kanan.

Ui Ciong-kong, Hek-pek-cu, dan kawan-kawannya sama terheran-heran. Mereka pikir kedatangan pemuda itu ke Bwe-cheng meski tidak terang-terangan menyatakan diri sebagai musuh, tapi pun juga agaknya tidak bermaksud baik. Mengapa sekarang dia mau mengulurkan tangannya begitu saja, sebab cara demikian berarti menyerahkan nadi mematikan kepada pihak lawan. Jika mendadak Ui Ciong-kong memencet hiat-to di pergelangan tangannya, maka biar setinggi langit kepandaiannya juga sukar dikeluarkan dan akan disembelih oleh pihak lawan sesuka hati.

Tadi Ui Ciong-kong telah mengeluarkan segenap kemahirannya dalam ilmu pedang tak berwujud dari suara kecapi yang lihai itu, tapi sedikit pun tidak dapat mengapa-apakan Lenghou Tiong, yang terakhir saking memuncak suara kecapinya itu bahkan ketujuh senar kecapinya sendiri lantas putus semua. Kekalahan total demikian betapa pun membuatnya penasaran. Sekarang Lenghou Tiong menjulurkan tangannya begitu saja, ia pikir jika kau hendak memancing tanganku, maka biarlah aku mengadu tenaga dalam sekali lagi dengan kau.

Maka perlahan-lahan ia lantas mengulurkan tangannya ke pergelangan tangan Lenghou Tiong. Diam-diam ia sudah bersiap-siap dengan segenap ilmu memegang dan menangkap seperti “Hou-jiau-kim-na-jiau” (Ilmu Menangkap Cakar Macan), “Liong-cau-kang” (Ilmu Cengkeraman Naga), dan lain-lain sebagainya. Dengan siaga demikian, tak peduli nanti pihak lawan akan main gila cara apa, paling sedikit ia takkan kecundang andainya ia pun tidak berhasil mencengkeram pergelangan tangan lawan itu.

Tak tersangka, begitu jarinya sudah mencengkeram nadi pergelangan Lenghou Tiong, ternyata pemuda itu tetap diam-diam saja, sedikit pun tidak memberikan reaksi apa-apa.

Baru saja Ui Ciong-kong merasa heran, segera dirasakan denyut nadi Lenghou Tiong teramat lemah, terkadang cepat dan terkadang lambat, jelas itulah tanda orang yang sudah tak bertenaga dalam lagi.

Untuk sejenak Ui Ciong-kong sampai terlongong-longong. Tapi segera ia tertawa terbahak-bahak dan berseru, “Ahahahaha! Kiranya demikian, kiranya demikian! Jadi aku telah tertipu olehmu, aku telah tertipu!”

Meski mulutnya menyatakan tertipu, tapi jelas sikapnya itu memperlihatkan rasa gembira luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: