Hina Kelana: Bab 67. Ilmu Pedang Lenghou Tiong Tiada Tandingannya

Setelah melangkah mundur segera Tan-jing-sing melangkah maju pula sehingga tetap berhadapan dengan Lenghou Tiong dalam jarak yang sama. Menyusul Lenghou Tiong menusuk lagi, sekali ini yang diarah adalah pundak kiri, caranya tetap seperti tadi, geyat-geyot tak teratur, seperti sungguh-sungguh, seperti main-main.

Segera Tan-jing-sing angkat pedang hendak menangkis, tapi belum lagi kedua pedang beradu segera ia menyadari iga kanan sendiri terlubang, jika lawan terus menyerang ke situ tentu sukar tertolong, jadi tangkisannya ini sekali-kali tidak boleh dilakukan, pada detik terakhir itulah ia ganti haluan, sekali tutul kedua kakinya kembali ia melompat mundur dua meter lebih jauhnya.

“Kiam-hoat bagus!” serunya memuji, berbareng itu ia menubruk maju pula. Sekaligus orangnya bersama pedangnya terus menusuk secepat kilat ke arah Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong dapat melihat lubang kelemahan di bawah lengan kanan lawan pula, segera pedangnya menyelonong ke depan. Jika Tan-jing-sing tidak segera ganti haluan tentu sikunya akan termakan lebih dulu oleh pedang Lenghou Tiong.

Dalam keadaan demikian, terpaksa Tan-jing-sing harus menyelamatkan diri lebih dulu, mendadak pedangnya menusuk ke lantai, dengan tenaga pentalan itulah ia terus berjumpalitan ke belakang dan menancapkan kaki sejauh tiga-empat meter. Saat itu punggungnya sudah mepet dinding, kalau jumpalitannya terlalu keras sedikit saja tentu punggungnya akan menumbuk dinding, hal ini berarti menurunkan derajatnya sebagai seorang kosen. Walaupun demikian, karena cara menghindarnya itu dilakukan dengan gugup dan susah payah, mau tak mau muka Tan-jing-sing menjadi merah jengah.

Sebagai seorang kesatria yang berjiwa besar, ia tidak menjadi gusar, sebaliknya ia malah bergelak tertawa sambil mengacungkan ibu jarinya dan memuji, “Ilmu pedang bagus!”

Habis berkata pedangnya berputar pula, lebih dulu jurus “Pek-hong-koan-jit” (Pelangi Putih Menembus Cahaya Matahari), menyusul jurus “Jun-hong-hut-liu” (Angin Silir Meniup Pohon Liu), lalu berubah lagi menjadi jurus “Thing-kau-ki-hong” (Ular Naga Menjangkitkan Angin), tiga kali serangan dilancarkan sekaligus dan tahu-tahu ujung pedangnya sudah menyambar ke muka Lenghou Tiong.

Cepat Lenghou Tiong menyampuk dengan pedangnya sehingga tepat mengenai punggung pedang lawan. Karena sampukan ini tepat waktunya dan jitu tempatnya, saat itu Tan-jing-sing sedang mencurahkan segenap pikiran dan tenaganya ke ujung pedangnya yang diduganya pasti akan kena sasarannya sehingga pada batang pedangnya tiada bertenaga malah.

Maka terdengarlah suara “creng” perlahan, pedang Tan-jing-sing tersampuk ke bawah, sebaliknya sinar pedang Lenghou Tiong lantas berkelebat, tahu-tahu sudah mengancam di depan dadanya. Tan-jing-sing menjerit kaget dan cepat melompat ke samping.

Rupanya ia belum kapok, kembali pedangnya berputar terus menerjang maju lagi. Sekali ini ia membacok dari atas sambil berseru, “Awas!”

Ia tidak berniat mencelakai Lenghou Tiong, tapi gerak tipu “Giok-liong-to-kwa” (Naga Kemala Melingkar Balik) cukup lihai, jika sedikit lengah dan tidak keburu ditahan, bukan mustahil Lenghou Tiong akan benar-benar terluka olehnya, sebab itulah ia telah berseru memperingatkan.

Lenghou Tiong telah mengiakan peringatan itu. Berbareng pedangnya dari bawah menyungkit ke atas, “sret”, mata pedangnya menyerempet lurus ke atas melalui mata pedang lawan.

Dalam keadaan demikian jika bacokan Tan-jing-sing itu diteruskan, sebelum mengenai kepala Lenghou Tiong tentu kelima jarinya sudah akan terpapas lebih dulu oleh pedang Lenghou Tiong. Tapi kepandaian Tan-jing-sing memang jauh lebih tinggi daripada Ting Kian, dilihatnya pedang orang telah memapas tiba menempel batang pedangnya sendiri, bagaimanapun serangan ini sukar dipatahkan, terpaksa tangan kirinya memukul kosong ke lantai, dengan tenaga tolakan ini, “blang”, ia terus melompat ke belakang dua-tiga meter jauhnya. Selagi badannya masih terapung di udara pedangnya berulang-ulang telah berputar tiga kali sehingga berwujud tiga lingkaran sinar perak.

Lingkaran-lingkaran sinar itu mirip seperti benda hidup saja, hanya berputar-putar sejenak di udara, lalu perlahan-lahan menggeser maju ke arah Lenghou Tiong.

Lingkaran-lingkaran hawa pedang itu tampaknya tidak selihai sinar pedang It-ji-tian-kiam Ting Kian tadi, tapi hawa pedang ini lebih tebal, hawa dingin merangsang badan orang, maka dapat dirasakan oleh setiap orang bahwa ilmu pedang Tan-jing-sing ini memang luar biasa.

Pedang Lenghou Tiong lantas menjulur ke depan, ditusukkan ke dalam lingkaran-lingkaran sinar itu. Di situlah lowongan antara serangan pertama Tan-jing-sing mulai lemah tenaganya dan tenaga serangan kedua belum lagi dikerahkan. Keruan Tan-jing-sing bersuara heran sambil melangkah mundur, lingkaran sinar pedang juga ikut berputar mundur. Tapi segera terlihat lingkaran sinar itu mendadak menyurut, menyusul terus meluas ke depan, di kala lingkaran sinar itu membesar, seketika terus menerjang ke arah Lenghou Tiong.

Kembali Lenghou Tiong menusukkan pedangnya ke tengah lingkaran itu dan kembali Tan-jing-sing berseru heran sambil mundur lagi dan begitu sampai beberapa kali ia maju dan mundur. Semakin cepat ia menyerang maju, semakin cepat pula ia mundur. Hanya dalam sekejap saja ia sudah menyerang sebelas kali dan mundur sebelas kali, kumis jenggotnya sampai berjengkit, sinar pedangnya menerangi mukanya yang kelihatan pucat kehijau-hijauan.

Sekonyong-konyong Tan-jing-sing menggertak keras, berpuluh-puluh lingkaran sinar besar dan kecil serentak menerjang ke arah Lenghou Tiong. Inilah kemahiran Tan-jing-sing yang tiada taranya, ia telah mempersatukan belasan jurus serangan menjadi satu sehingga sukar diduga oleh musuh. Selama hidupnya ia hanya pernah menggunakan kemahiran ini tiga kali saja untuk menghadapi musuh tangguh dan tiga kali pula ia memperoleh kemenangan.

Namun tangkisan Lenghou Tiong tetap sederhana saja, kembali pedangnya menusuk lempeng ke depan sebatas dada, yang dituju adalah ulu hati Tan-jing-sing.

Lagi-lagi Tan-jing-sing menjerit dan melompat mundur sekuatnya. “Blang”, dengan berat ia jatuh terduduk di atas meja batu, menyusul terdengar suara riuh jatuhnya cawan arak sehingga hancur berantakan.

Walaupun sudah kalah, tapi Tan-jing-sing tidak menjadi marah, sebaliknya ia terbahak-bahak dan berseru, “Bagus, sungguh bagus! Hong-hengte, ilmu pedangmu memang jauh lebih tinggi daripadaku. Mari, marilah aku menyuguh kau tiga cawan lagi.”

Hek-pek-cu dan Tut-pit-ong cukup kenal betapa hebat ilmu pedang site mereka, mereka menyaksikan Tan-jing-sing beruntun telah menyerang 16 kali dan kedua kaki Lenghou Tiong tetap di tempatnya tanpa menggeser ke luar dari bekas tapak kaki Hiang Bun-thian tadi, sebaliknya malah memaksa ahli pedang dari Kanglam-si-yu itu main melompat mundur sampai 17 kali. Betapa tinggi ilmu pedang Lenghou Tiong benar-benar susah diukur.

Dalam pada itu Tan-jing-sing sudah lantas menuang arak ajak minum tiga cawan lagi bersama Lenghou Tiong. Katanya, “Di antara Kanglam-si-yu, ilmu silatku adalah yang paling rendah. Meski aku sudah mengaku kalah, tapi Jiko dan Samko tentu belum mau terima. Besar kemungkinan mereka pun ingin menjajal-jajal kau.”

“Kita berdua telah bergebrak belasan jurus dan satu jurus pun Sichengcu belum kalah, mengapa engkau mengatakan akulah yang menang?” ujar Lenghou Tiong.

“Ah, jurus pertama saja aku sudah kalah, jurus-jurus selebihnya sudah tiada artinya lagi,” kata Tan-jing-sing sambil menggeleng. “Biasanya Toako mengatakan aku berjiwa sempit, rupanya memang tidak salah.”

“Peduli jiwa sempit segala, yang paling penting asalkan kekuatan minum arak yang besar kan jadi,” kata Lenghou Tiong tertawa.

“Benar, benar! Marilah kita minum arak lagi,” seru Tan-jing-sing.

Padahal biasanya Tan-jing-sing sangat tinggi hati dalam hal ilmu pedang, sekarang dia terjungkal di tangan seorang pemuda yang belum terkenal dan sedikit pun tidak marah dan menyesal, jiwanya yang besar ini betapa pun membikin kagum Lenghou Tiong dan Hiang Bun-thian.

Tut-pit-ong lantas berkata kepada Si Leng-wi, “Si-koankeh, tolong ambilkan aku punya pensil tumpul itu.”

Si Leng-wi mengiakan terus pergi mengambilkan semacam senjata dan diaturkan kepada Tut-pit-ong.

Lenghou Tiong melihat senjata itu adalah sebuah boan-koan-pit yang terbuat dari baja, tangkai pensil itu panjangnya belasan senti. Anehnya ujung pensil itu benar-benar pensil tulen, yaitu terbuat dari bulu domba, bahkan ada bekas tercelup tinta bak.

Ujung boan-koan-pit biasanya juga terbuat dari baja dan digunakan menutuk hiat-to, tapi ujung pensil terbuat dari bulu domba yang lemas ini masakah dapat menutuk hiat-to musuh dan merobohkannya? Lenghou Tiong menduga ilmu tiam-hiat orang tentu mempunyai cara yang istimewa dan tenaga dalamnya juga pasti sangat kuat sehingga melalui bulu domba yang lemas itu pun dapat melukai orang.

Setelah memegang senjatanya, dengan tersenyum Tut-pit-ong lantas berkata, “Saudara Hong, apakah kau tetap berdiri di bekas tapak kaki tanpa ganti tempat?”

Lekas-lekas Lenghou Tiong mundur dua tindak, jawabnya dengan membungkuk tubuh, “Ah, mana Cayhe berani berlagak di hadapan Cianpwe.”

Tut-pit-ong lantas angkat pensilnya, katanya dengan tersenyum, “Beberapa jurus goresanku ini adalah perubahan dari gaya tulisan kaum ahli tulis. Hong-heng serbapandai, tentunya akan dapat mengenali jalan goresan pensilku ini. Hong-heng adalah sobat baik kita, maka pensilku ini tidak perlu dicelup tinta saja.”

Lenghou Tiong rada terkesiap, pikirnya, “Apa barangkali kalau bukan sobat baik lantas pensilmu akan dicelup tinta? Kalau sudah dicelup tinta, lalu mau apa?”

Ia tidak tahu bahwa tinta bak yang dicelup oleh pensil Tut-pit-ong pada saat akan bertempur itu adalah buatan dari berbagai ramuan obat, kalau mengenai kulit manusia akan tak bisa dibersihkan untuk selamanya. Dahulu jago-jago Bu-lim yang bermusuhan dengan Kanglam-si-yu juga pensil tumpul Tut-pit-ong inilah yang paling memusingkan kepala mereka, asal lengah sedikit saja, maka mukanya tentu akan dicorang-coreng oleh pensil tumpul itu, hal ini berarti suatu penghinaan besar, mereka lebih suka dibacok golok atau dipenggal sebelah lengannya daripada muka dicorang-coreng begitu.

Lantaran melihat cara Lenghou Tiong bergebrak dengan Ting Kian serta Tan-jing-sing tadi jelas sangat jujur, maka Tut-pit-ong tidak mencelup pensilnya dengan tinta lagi.

Walaupun tidak paham maksudnya, tapi Lenghou Tiong dapat menduga pihak lawan tentunya berlaku sungkan kepadanya, maka sambil membungkuk tubuh ia berkata, “Banyak terima kasih. Cuma Wanpwe tidak banyak bersekolah, tulisan Samchengcu tentu tidak Wanpwe kenal.”

Tut-pit-ong rada kecewa, katanya, “Jadi kau tidak paham seni tulis? Baiklah, jika begitu biar aku menjelaskan dulu padamu. Aku punya tulisan ini disebut ‘Hui-ciangkun-si’ (Syair Panglima Hui), yaitu perubahan dari sanjak Gan Cin-kheng yang seluruhnya meliputi 23 huruf, mengandung tiga jurus sampai 16 jurus serangan, hendaklah kau memerhatikan dengan baik.”

“Baiklah, terima kasih atas petunjukmu,” jawab Lenghou Tiong. Diam-diam ia pikir peduli amat apakah kau akan tulis syair atau sanjak segala, aku toh tidak paham sama sekali.

Segera Tut-pit-ong angkat pensilnya yang besar itu terus menutul tiga kali ke arah Lenghou Tiong, ini adalah tiga titik permulaan dari huruf “hui”, tiga kali tutul ini cuma gerakan palsu saja, ketika pensilnya diangkat hendak menggores dari atas ke bawah, sekonyong-konyong pedang Lenghou Tiong telah menyambar lebih dulu ke bahu kanannya.

Dalam keadaan terpaksa Tut-pit-ong mesti menangkis dengan pensilnya, namun pedang Lenghou Tiong sudah lantas ditarik kembali. Jadi senjata kedua orang belum sampai terbentur, yang mereka gunakan hanya serangan kosong saja, cuma jurus pertama Tut-pit-ong menurut syairnya tadi baru dimulai setengah-setengah, jadi belum lengkap.

Sesudah pensilnya menangkis tempat kosong, segera jurus kedua dilontarkan. Tapi Lenghou Tiong kembali mendahului pula, begitu melihat pensilnya bergerak, sebelum diserang pedangnya sudah menyerang lebih dulu ke tempat yang memaksa lawan harus membela diri.

Benar juga, lekas-lekas Tut-pit-ong putar pensilnya untuk menangkis, tapi pedang Lenghou Tiong tahu-tahu sudah ditarik pulang lagi. Jadi jurus kedua ini pun Tut-pit-ong tak bisa mengeluarkannya dengan sempurna, tapi cuma setengah-setengah saja.

Begitu gebrak kedua jurus serangannya lantas ditutup mati oleh Lenghou Tiong, sehingga serangkaian seni tulisnya tetap tak bisa dimainkan dengan lancar, keruan Tut-pit-ong merasa gelisah, sama halnya seperti seorang yang pintar menulis, baru saja angkat pena mulai menulis, tahu-tahu datang seorang anak kecil yang mengganggu dan mengacau sehingga ilhamnya kabur seketika.

Tut-pit-ong mengira karena tadi telah memberi tahu lebih dulu tulisan apa yang akan dimainkannya sehingga Lenghou Tiong dapat siap-siap sebelumnya untuk mendahului serangannya. Jika sekarang dia menyerang tanpa mengikuti urut-urutan bait syair, tentu lawan akan menjadi bingung. Karena itu segera ia ganti haluan, pensilnya bergerak dari atas menyerong ke kiri, lalu membelok ke kanan dengan tenaga penuh, rupanya yang dia gores itu adalah huruf “ji” dalam gaya coretan cepat.

Namun pedang Lenghou Tiong tetap menusuk ke depan, yang diarah adalah iga kanan. Tut-pit-ong terkejut, cepat pensilnya menangkis ke bawah. Padahal tusukan Lenghou Tiong itu tetap serangan pura-pura saja, tapi karena itu kembali jurus serangan Tut-pit-ong hanya sempat dimainkan setengah-setengah saja.

Sebenarnya coretan-coretan Tut-pit-ong itu selalu diikuti dengan penuh semangat dan tenaga, sekarang sampai di tengah jalan mendadak terhalang, bahkan ganti haluan terus buntu, keruan darah sendiri menjadi bergolak, rasanya sangat tidak enak.

Setelah ambil napas panjang-panjang, kembali Tut-pit-ong putar cepat pensilnya, akan tetapi di tengah jalan selalu digagalkan Lenghou Tiong. Lama-lama ia menjadi naik pitam. Bentaknya, “Kurang ajar, mengacau melulu!”

Segera pensilnya berputar lebih cepat. Tapi bagaimanapun juga, paling banyak ia hanya sempat menulis dua goresan, habis itu selalu ditutup mati jalannya oleh pedang Lenghou Tiong.

Tut-pit-ong menggertak sekali, gaya tulisannya segera berubah, tidak lagi menulis seperti tadi, tapi mencoret ke sana ke sini dengan cepat dan kuat sebagai orang mengamuk.

Lenghou Tiong tidak tahu bahwa gaya tulisan Tut-pit-ong sekarang adalah menirukan gaya coretan Thio Hui, itu panglima perkasa di Zaman Sam-kok, namun dapat pula dilihatnya bahwa gaya tulisannya sudah berbeda daripada tadi. Maka ia tidak peduli tipu serangan apa yang dilancarkan lawan, asalkan pensil lawan bergerak segera, ia mendahului menyerang lubang kelemahannya.

Berulang-ulang terjadi demikian, keruan Tut-pit-ong berkaok-kaok. Kembali gaya tulisannya berubah lagi, tapi hasilnya tetap kosong. Ia tidak tahu bahwa hakikatnya Lenghou Tiong tidak ambil pusing terhadap tulisan apa yang akan dimainkan olehnya, yang dia incar hanya luangan pada setiap gerakan lawan. Sebab itulah setiap kali Tut-pit-ong hanya mampu mencoret setengah-setengah saja, lalu gagal.

Semakin gagal, semakin kesal pula perasaan Tut-pit-ong, sampai akhirnya mendadak ia berteriak-teriak, “Sudahlah, tidak mau lagi, tidak mau lagi!”

Berbareng itu ia terus melompat mundur, gentong arak Tan-jing-sing tadi diangkatnya terus dituang sehingga memenuhi lantai. Pensilnya yang besar itu dicelup kepada cairan yang melanda lantai itu, lalu mulai menulis di atas dinding yang putih itu. Yang ditulis bukan lain daripada syair panglima Hui tadi, seluruhnya 23 huruf ditulisnya dengan tajam dan hidup.

Habis menulis barulah ia menghela napas lega, lalu tertawa terbahak-bahak sembari mengamat-amati kembali tulisannya sendiri yang berwarna merah marun di atas dinding itu. “Ehm, bagus! Selama hidupku hanya tulisan sekali inilah paling bagus!” pujinya kepada dirinya sendiri dengan puas. Lalu katanya kepada Hek-pek-cu, “Jiko, kamar catur ini boleh kau berikan padaku saja, aku merasa berat berpisah dengan tulisanku ini. Kukira selanjutnya aku tidak mampu menghasilkan karya sebagus ini.”

“Boleh saja,” kata Hek-pek-cu. “Kamarku ini hanya terdapat sebuah papan catur dan tiada benda lain. Seumpama kau tidak mau juga aku terpaksa akan pindah tempat. Habis menghadapi tulisanmu yang berhuruf besar-besar itu masakah aku bisa tenang main catur?”

Lalu Tut-pit-ong berpaling kepada Lenghou Tiong dan berkata, “Hong-laute, berkat kau sehingga segenap ilham tulisanku yang tersekam di dalam perut tadi seketika membanjir keluar dan jadilah tulisan indah yang tiada bandingannya ini. Ilmu pedangmu memang bagus, tulisanku juga bagus, ini namanya masing-masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, kita tiada menang dan tidak kalah, seri!”

“Benar, masing-masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah,” tukas Hiang Bun-thian.

“Dan harus ditambahkan lagi, berkat arakku yang enak,” sambung Tan-jing-sing.

Hek-pek-cu berkata kepada Hiang Bun-thian, “Samteku memang kekanak-kanakan sifatnya dan lupa daratan jika bicara tentang seni tulis, sekali-kali bukan maksudnya mengingkari kekalahannya.”

“Cayhe paham,” ujar Hiang Bun-thian. “Toh taruhan kita adalah di dalam Bwe-cheng ini tiada seorang pun yang mampu mengalahkan ilmu pedang Hong-hiante. Seumpama kedua pihak tidak kalah dan menang, yang jelas pihak kami kan tidak dikalahkan.”

“Benar,” kata Hek-pek-cu mengangguk. Lalu dari bawah meja batu itu ditariknya keluar sepotong papan besi segi empat.

Papan besi itu lebih kecil daripada muka meja batu itu, di atasnya terukir 19 garis jalan catur, rupanya adalah sebuah papan catur terbuat dari baja. Sambil memegangi ujung papan catur besi itu Hek-pek-cu lantas berkata pula, “Hong-heng, papan catur ini adalah senjataku, marilah kubelajar kenal dengan ilmu pedangmu yang hebat.”

“Kabarnya papan catur Jichengcu ini adalah sebuah benda mestika yang dapat menyedot macam-macam senjata musuh,” tiba-tiba Hiang Bun-thian berseru.

Dengan sorot mata tajam Hek-pek-cu menatap Hiang Bun-thian sejenak, lalu berkata, “Tong-heng benar-benar berpengalaman luas dan berpengetahuan tinggi. Kagum, sungguh kagum. Padahal senjataku ini bukan benda mestika, tapi adalah buatan dari besi sembrani yang kugunakan mengisap biji-biji catur supaya tidak jatuh terguncang ketika dahulu aku suka bercatur dengan orang di atas kuda atau selagi menumpang perahu.”

“O, kiranya demikian,” kata Hiang Bun-thian.

Mendengar kata-kata itu, diam-diam Lenghou Tiong bersyukur sang toako telah memberi petunjuk padanya secara tidak langsung. Coba kalau tidak, tentu sekali gebrak saja pasti pedangnya akan melengket tersedot oleh papan catur lawan. Maka dalam pertandingan nanti harus diusahakan jangan sampai pedang menyentuh papan caturnya.

Begitulah ia lantas berkata sambit mengacungkan pedangnya, “Harap Jichengcu memberi petunjuk!”

“Ilmu pedang Hong-heng sangat hebat, silakan mulai dahulu,” ujar Hek-pek-cu.

Tanpa bicara lagi Lenghou Tiong lantas putar pedangnya, secara melingkar-lingkar pedangnya terus menusuk ke depan.

“Tipu serangan macam apa ini?” pikir Hek-pek-cu dengan melengak. Dilihatnya ujung pedang lawan telah menuju ke tenggorokannya, segera ia angkat papan caturnya untuk menangkis.

Namun cepat sekali Lenghou Tiong sudah putar ujung pedangnya untuk menusuk bahu kanan lawan. Kembali Hek-pek-cu yang menyampuk dengan papan caturnya. Tapi di tengah jalan Lenghou Tiong sudah lantas tarik kembali pedangnya terus menusuk pula ke perut lawan.

Hek-pek-cu menangkis lagi sambil berpikir, “Jika aku tidak balas menyerang bagaimana aku bisa menang?”

Menurut teori catur, kemenangan hanya tergantung kepada satu langkah mendahului musuh saja. Dalam hal ilmu silat juga begitu. Sebagai seorang ahli catur sudah tentu Hek-pek-cu paham apa artinya mendahului menyerang. Maka ia tidak mau melulu bertahan saja, segera ia pun angkat papan caturnya dan menghantam pundak kanan Lenghou Tiong.

Papan caturnya itu seluas setengahan meter persegi, tebalnya kira-kira dua senti, tergolong semacam senjata yang berat. Besi sembrani itu jauh lebih berat lagi daripada besi biasa. Jika pedang sampai kena terketok, sekalipun tidak tersedot oleh daya sembraninya itu juga pedang akan terketok patah.

Lenghou Tiong hanya sedikit mengegos saja, berbareng pedangnya menusuk iga kanan lawan.

Saat itu maksud Hek-pek-cu hendak mendahului menyerang, tapi pihak lawan justru melancarkan serangan juga, meski tusukan itu tampaknya sepele, tapi tempat yang diarah justru adalah tempat luang yang terpaksa haus dijaga. Maka cepat ia menangkis dengan papan catur, menyusul terus disodokkan ke depan lagi.

Di luar dugaan, sama sekali Lenghou Tiong tidak peduli kepada serangannya. Jika Hek-pek-cu menyerang, maka ia pun ikut menyerang sehingga setiap kali Hek-pek-cu terpaksa harus menarik senjatanya menjaga diri lebih dulu.

Begitulah berturut-turut Lenghou Tiong melancarkan serangan lebih 40 kali, Hek-pek-cu dipaksa menangkis kian-kemari dan bertahan dengan rapat, Ternyata dalam lebih 40 gebrakan itu Hek-pek-cu terpaksa bertahan melulu dan tidak sempat lagi balas menyerang.

Tut-pit-ong, Tan-jing-sing, Ting Kian, dan Si Leng-wi sampai terkesima menyaksikan pertandingan hebat itu. Dengan jelas mereka melihat ilmu pedang Lenghou Tiong itu tidak terlalu cepat, juga tidak teramat lihai, di kala ganti gerak serangan juga tiada sesuatu yang istimewa, tapi setiap serangannya selalu membuat Hek-pek-cu serbasusah dan terpaksa harus menjaga diri lebih dulu.

Hendaklah maklum bahwa setiap jago silat betapa pun tipu serangannya pasti ada lubang kelemahannya. Cuma, kalau bisa mendahului untuk mengancam tempat mematikan pihak musuh, maka kelemahan sendiri akan tertutup dan tidak menjadi halangan.

Namun sekarang setiap kali Hek-pek-cu menggerakkan papan caturnya, setiap kali pula ujung pedang Lenghou Tiong sudah lantas mengacung ke titik kelemahannya sendiri. Sebagai seorang ahli, begitu melihat arah ujung pedang lawan segera dapat diduganya bagaimana akibatnya bila serangan musuh itu dilancarkan. Di dalam lebih 40 gebrakan itu Hek-pek-cu merasa lawan menyerang terus-menerus, diri sendiri sedikit pun tidak sanggup balas menyerang.

Melihat posisi pihak sendiri sudah jelas di pihak yang kalah, kalau pertarungan demikian diteruskan, sekalipun seratus atau dua ratus jurus lagi juga dirinya tetap di pihak terserang melulu. Ia pikir kalau tidak berani menempuh bahaya untuk mencari kemenangan terakhir tentu kehormatan Hek-pek-cu selama ini akan hanyut. Maka dengan nekat ia lantas melintangkan papan caturnya terus disampukkan ke samping untuk menghantam pinggang kiri Lenghou Tiong.

Tapi Lenghou Tiong tetap tidak berkelit dan tidak menghindar, sebaliknya pedang lantas menusuk pula ke perut lawan.

Sekali ini Hek-pek-cu tidak lagi menarik kembali papan caturnya untuk membela diri, tapi masih terus dihantamkan ke depan, agaknya ia sudah bertekad mengadu jiwa, biarpun gugur bersama juga akan dilakoni. Cuma kedua jari tangan kirinya juga sudah bersiap-siap untuk menjepit batang pedang lawan bilamana tusukan Lenghou Tiong sudah mendekat.

Kiranya Hek-pek-cu telah meyakinkan ilmu sakti “Hian-thian-ci” (Jari Mahasakti), dengan mencurahkan tenaga dalam ke jari-jarinya itu sehingga tidak kalah lihainya daripada semacam senjata tajam.

Melihat Hek-pek-cu mengambil risiko itu, kelima orang yang menonton di samping sama bersuara heran. Mereka merasa pertarungan demikian sudah bukan pertandingan persahabatan lagi, tapi lebih mirip pertarungan mati-matian. Jika jepitan jarinya meleset akan berarti perutnya tak terhindar dari tembusan pedang lawan. Dalam sekejap itulah kelima orang itu sama-sama menahan napas.

Tampaknya kedua jari Hek-pek-cu sudah hampir menyentuh pedang, entah tepat-tidak jepitan jarinya itu, yang terang salah seorang pasti akan celaka. Jika jepitannya jitu, pedang Lenghou Tiong akan sukar maju ke depan lagi dan pinggangnya yang akan dihantam oleh papan catur, hal ini jelas sukar dihindarkan. Sebaliknya bila jepitan jari Hek-pek-cu meleset, atau bisa menjepit, tapi tidak sanggup menahan tenaga tusukan pedang itu, maka untuk menghindar atau melompat mundur juga tidak keburu lagi bagi Hek-pek-cu.

Tapi apa yang terjadi sungguh di luar perhitungan Hek-pek-cu. Tatkala jarinya sudah hampir menyentuh batang pedang lawan, sekonyong-konyong ujung pedang menyungkit ke atas dan menusuk ke tenggorokannya.

Perubahan ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga, dalam ilmu silat dari dahulu kala sampai sekarang juga tidak mungkin ada jurus serangan demikian. Dengan begitu, tusukan ke perut tadi sebenarnya cuma serangan palsu belaka. Dalam keadaan demikian jika papan catur Hek-pek-cu dihantamkan terus, maka tenggorokannya pasti akan tertembus lebih dulu oleh pedang lawan.

Saking terkejutnya, lekas-lekas Hek-pek-cu mengerahkan segenap tenaganya untuk menahan papan caturnya di tengah jalan. Sebagai seorang ahli pikir, sekilas benaknya lantas bekerja dan menduga maksud lawan, jika papan caturnya sendiri itu tidak dihantamkan terus, tentu pedang lawan juga takkan menusuk ke depan lagi.

Benar juga, ketika melihat papan catur orang berhenti di tengah jalan secara mendadak, segera Lenghou Tiong juga menahan pedangnya tak diteruskan tusukannya. Jarak ujung pedangnya dengan tenggorokan lawan tatkala itu hanya tinggal satu-dua senti saja. Sebaliknya jarak papan catur Hek-pek-cu dengan pinggang Lenghou Tiong juga cuma empat-lima senti. Kedua orang sama berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun.

Meski kedua orang sedikit pun tidak bergerak lagi, tapi bagi pandangan orang lain keadaan mereka itu jauh lebih berbahaya daripada tadi. Walaupun demikian, namun sebenarnya Lenghou Tiong sudah menguasai keadaan. Maklumlah, papan catur itu adalah benda berat. Untuk bisa melukai musuh sedikitnya harus dihantamkan dari jarak satu atau setengah meter jauhnya. Tapi sekarang jaraknya dengan tubuh Lenghou Tiong hanya beberapa senti saja, sekalipun disodokkan sekuatnya juga sukar melukainya, paling-paling hanya membuatnya sakit sedikit. Sebaliknya pedang Lenghou Tiong cukup ditolak perlahan ke depan, seketika tenggorokan lawan akan berlubang dan jiwa melayang. Jadi siapa pun dapat melihat keadaan yang menguntungkan dan merugikan pihak mana pada saat itu.

Tapi dengan tertawa Hiang Bun-thian lantas berkata, “Di sebelah sini tidak berani mendahului, di sebelah sana juga tidak berani. Dalam istilah catur ini disebut ‘remis’. Jichengcu memang gagah perkasa dan dapat menandingi Hong-hiante dengan sama kuatnya.”

Lenghou Tiong lantas menarik kembali pedangnya dan melangkah mundur sambil mengucapkan maaf.

Hek-pek-cu tersenyum, katanya, “Ah, Tong-heng suka berkelakar saja. Masakah kau katakan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Ilmu pedang Hong-heng justru amat lihai, jelas Cayhe sudah kalah habis-habisan.”

“Eh, Jiko, kau punya senjata rahasia biji catur adalah satu di antara kepandaian istimewa dalam dunia persilatan, 361 biji hitam-putih ditebarkan sekaligus tiada orang mampu menahannya. Mengapa engkau tidak coba-coba kepandaian Saudara Hong dalam hal menghalau senjata rahasia?” tiba-tiba Tan-jing-sing berseru.

Tergerak juga hati Hek-pek-cu, dilihatnya Hiang Bun-thian manggut perlahan. Waktu berpaling ke arah Lenghou Tiong, pemuda itu kelihatan diam-diam saja. Ia pikir ilmu pedang pemuda ini tiada taranya, zaman ini mungkin cuma orang itu saja yang mampu mengalahkan dia. Tampaknya dia tidak gentar sedikit pun, andaikan aku bertanding am-gi (senjata gelap/rahasia) lagi dengan dia tentu akan tambah malu saja nanti. Maka sambil geleng kepala ia berkata dengan tertawa, “Tidak, aku sudah mengaku kalah, buat apa bertanding am-gi segala?”

Dalam pada itu Tut-pit-ong tidak pernah melupakan “sui-ih-hiap” tulisan Thio Kiu itu, segera ia berkata pula, “Tong-heng, sudilah kau perlihatkan pula contoh tulisan tadi?”

“Sabar dulu,” jawaban Hiang Bun-thian dengan tersenyum. “Sebentar kalau Toachengcu sudah mengalahkan Hong-hiante, maka contoh tulisan ini akan menjadi milik Samchengcu sendiri, sekalipun akan dilihat selama tiga-hari tiga-malam juga terserah.”

“Aku akan melihatnya selama tujuh-hari tujuh-malam,” kata Tut-pit-ong.

“Baik, tujuh-hari tujuh-malam juga boleh,” ujar Bun-thian.

Perasaan Tut-pit-ong seperti dikilik-kilik, ingin sekali rasanya lekas-lekas mendapatkan tulisan indah itu, segera ia berkata, “Jiko, biar aku pergi mengundang Toako.”

“Kalian berdua boleh mengawani tamu di sini, aku saja yang akan bicara dengan Toako,” sahut Hek-pek-cu.

“Benar,” seru Tan-jing-sing. “Hong-hengte, marilah kita minum pula. Ai, arak sebagus ini telah banyak dibuang percuma oleh Samko.”

Habis berkata ia terus menuang arak ke dalam cawan, sedangkan Hek-pek-cu lantas menuju keluar.

Dengan marah Tut-pit-ong berkata, “Kau bilang aku banyak membuang percuma arakmu? Huh, arakmu itu sesudah masuk perut paling-paling keluar lagi menjadi air kencing. Mana bisa membandingi tulisanku di atas dinding halus yang tetap abadi itu. Arak disiarkan melalui tulisan, beribu-ribu tahun lagi orang akan tetap melihat tulisanku, kemudian baru mengetahui di dunia ada arak Turfan yang kau minum ini.”

Tan-jing-sing tidak mau kalah, ia angkat cawan araknya dan berkata menghadap dinding, “Dinding, O, dinding, hidupmu sungguh beruntung sehingga dapat menikmati arak enak tuanmu ini. Sekalipun samkoku tidak mencorat-coret di atas wajahmu juga … juga kau akan tetap hidup abadi.”

“Haha, dibandingkan dinding yang tidak tahu apa-apa ini, Wanpwe boleh dikata jauh lebih beruntung!” seru Lenghou Tiong tertawa sambil menenggak isi cawannya.

Hiang Bun-thian juga mengiringi minum dua cawan, lalu tidak minum lagi. Sebaliknya Tan-jing-sing dan Lenghou Tiong masih terus menuang dan menenggak tidak berhenti, semakin minum semakin bersemangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: