Hina Kelana: Bab 66. Kecapi – Catur – Tulis – Lukis

Tanpa bicara Hiang Bun-thian terus mendekati meja batu itu, ia ambil satu biji hitam dan ditaruh pada titik 6-3 (menurut hitungan garis), lalu menaruh satu biji putih pada titik 9-3, menyusul pada titik 6-5 ditaruhnya satu biji hitam, dan pada titik 9-5 ditaruhnya pula satu biji putih, dan begitu seterusnya tanpa berhenti sehingga mencapai biji ke-66 dan pertarungan kedua pihak semakin sengit.

Hek-pek-cu menyaksikan permainan itu sehingga keringatnya bercucuran. Diam-diam Lenghou Tiong sangat heran, kalau melihat Hian-thian-ci-nya yang dalam waktu singkat saja telah mengubah air membeku menjadi es, betapa tinggi lwekangnya dapatlah dibayangkan. Sebaliknya permainan catur hanya urusan kecil saja, tapi toh begini menarik perhatiannya sehingga dia sampai berkeringat. Hal ini menandakan betapa Hek-pek-cu tergila-gila pada permainan catur demikian. Rupanya Hiang Bun-thian justru mengetahui kegemarannya itu, maka serangannya juga ditujukan kepada kelemahannya ini pula.

Sesudah biji ke-66 tadi, sampai lama sekali Hiang Bun-thian tidak menaruh lagi biji caturnya. Saking ingin tahunya Hek-pek-cu menjadi tidak sabar, cepat ia menanya, “Bagaimana lagi langkah berikutnya?”

“Di sinilah letak kuncinya,” sahut Hiang Bun-thian. “Kalau menurut pendapat Jichengcu sendiri bagaimana seharusnya langkah ini?”

Hek-pek-cu berpikir sampai lama dan menggumam sendiri, “Langkah ini … ya, memang rada repot, kalau disambung kurang kuat, jika terputus lebih celaka lagi. Wah, ini … ini ….”

Begitulah sambil memegang satu biji hitam dan diketok-ketokkan perlahan di atas meja batu, tapi sampai sekian lamanya tetap tidak mampu menjalankan biji caturnya.

Dalam pada itu Tan-jing-sing dan Lenghou Tiong masing-masing sudah menghabiskan belasan cawan anggur.

Melihat air muka Hek-pek-cu makin lama makin menghijau, segera Tan-jing-sing berkata, “Tong-lauheng, ini kan ‘Problem Tumpah Darah’, masakah benar-benar kau hendak membikin Jiko tumpah darah? Bagaimana langkah selanjutnya harus dijalankan, lekaslah kau katakan terus terang saja.”

“Baiklah,” kata Hiang Bun-thian. “Biji ke-67 ini harus ditaruh di sini.”

Habis berkata ia terus menaruh biji hitam pada titik silang 7-4.

“Plak”, mendadak Hek-pek-cu menabok keras-keras pahanya sendiri dan berseru, “Bagus! Langkah ini memang benar sangat bagus!”

“Langkah ini sudah tentu sangat bagus, ini kan catur istimewa seorang juara seperti Lau Tiong-hu,” ujar Hiang Bun-thian tersenyum. “Tetapi kalau dibandingkan dengan langkah ajaib nini dewi Le-san itu akan berbeda jauh pula.”

“Cara bagaimana jalannya langkah ajaib nini dewi itu, coba lakukan,” tanya Hek-pek-cu.

“Silakan Jichengcu memikirkannya,” kata Bun-thian.

Hek-pek-cu lantas peras otak lagi, tapi sampai lama sekali ia merasa posisi sudah jelas kalah, betapa pun sukar untuk balas menyerang lagi. Katanya kemudian, “Jika langkahnya memang ajaib, manusia biasa seperti kita mana dapat memikirkannya. Harap Tong-lauheng jangan jual mahal lagi, coba lakukan.”

“Langkah ajaib ini memang benar hanya dapat dipikirkan oleh malaikat dewata,” kata Bun-thian dengan tertawa.

Sebagai seorang pemikir, sudah tentu Hek-pek-cu mahir menjajaki perasaan pihak lawan, melihat Hiang Bun-thian tetap tidak mau mengatakan problem catur itu secara terus terang sehingga membuatnya tidak sabaran, diam-diam ia menduga orang she Tong ini pasti mempunyai sesuatu keinginan. Maka ia lantas berkata, “Tong-lauheng, aku takkan terima dengan percuma jika kau sudi menjelaskan problem catur ini kepadaku.”

Diam-diam Lenghou Tiong juga mengira jangan-jangan Hiang Bun-thian tahu ilmu Hian-thian-ci Hek-pek-cu itu akan mampu mengobati penyakitnya, maka sang toako sengaja mengatur jalan untuk mohon pertolongannya.

Di luar dugaan Hiang Bun-thian lantas bergelak tertawa dan berkata, “Cayhe dan Hong-hiante sekali-kali tiada sesuatu keinginan terhadap keempat Chengcu, ucapan Jichengcu barusan ini menjadi terlalu menilai rendah kami berdua.”

“Maaf, jika begitu akulah yang telah salah omong,” kata Hek-pek-cu sambil memberi hormat.

Sambil membalas hormat, Hiang Bun-thian berkata pula, “Kedatangan kami berdua ke Bwe-cheng sini sebenarnya hendak bertaruh sesuatu dengan keempat Chengcu.”

“Bertaruh sesuatu?” Hek-pek-cu dan Tan-jing-sing menegas berbareng. “Bertaruh tentang apa?”

“Begini,” kata Hiang Bun-thian. “Aku bertaruh bahwa di dalam Bwe-cheng ini pasti tiada seorang pun yang mampu menangkan Hong-hianteku ini dalam hal ilmu pedang.”

Serentak Hek-pek-cu dan Tan-jing-sing berpaling ke arah Lenghou Tiong. Air muka Hek-pek-cu tampak adem ayem saja, sebaliknya Tan-jing-sing tuntas bergelak tertawa dan berseru, “Cara bagaimana kita akan bertaruh?”

“Jika kami kalah,” demikian kata Hiang Bun-thian, “maka lukisan ini akan kami persembahkan kepada Sichengcu.”

Sembari bicara ia terus menanggalkan buntelan yang terikat di punggungnya, dibukanya buntelan itu, isinya ternyata dua buah gulungan. Waktu satu gulungan itu dibentang, kiranya adalah sebuah lukisan kuno yang tertera tanda pelukisnya Hoan Koan di Zaman Song. Lukisan itu adalah lukisan pemandangan, sebuah gunung menjulang tinggi menembus awan, goresannya tajam, warnanya indah. Biarpun Lenghou Tiong tidak paham seni lukis juga lantas tahu bahwa lukisan itu tentulah lukisan yang hidup dan bermutu.

Benar juga, mendadak Tan-jing-sing berteriak, “Aiii!”

Pandangannya lantas tidak terlepaskan dari lukisan itu. Sampai agak lama kemudian baru berkata pula, “Ini benar-benar lukisan asli Hoan Koan di Zaman Song. Dari … dari mana kau memperolehnya?”

Hiang Bun-thian hanya tersenyum saja tanpa menjawab, perlahan-lahan ia menggulung kembali lukisan itu.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Tan-jing-sing mencegahnya sambil menarik tangan Hiang Bun-thian dengan maksud agar lukisan itu jangan digulung dulu.

Tak terduga, baru saja tangannya menyentuh lengan Hiang Bun-thian, seketika terasa suatu arus tenaga dalam yang kuat tapi halus telah mencurah keluar dan menggetar pergi tangannya, waktu ia memandang Hiang Bun-thian, tampaknya seperti tidak tahu apa-apa dan masih tetap menggulung lukisannya.

Sungguh tidak kepalang heran Tan-jing-sing, walaupun sentuhan tangannya dengan lengan Hiang Bun-thian terjadi dengan sangat perlahan, tapi tenaga dalam yang timbul itu jelas adalah lwekang yang amat tinggi, bahkan tenaga yang timbul itu cuma sedikit saja. Diam-diam ia sangat kagum, segera ia berkata, “Tong-lauheng, kiranya ilmu silatmu sedemikian hebat, mungkin tidak di bawahku.”

“Ah, Sichengcu memang suka bergurau,” ujar Hiang Bun-thian. “Kecuali ilmu pedang, keempat Chengcu di sini terkenal memiliki sesuatu ilmu tunggal yang tiada tandingannya. Aku Tong Hoa-kim hanya seorang keroco saja, mana aku berani dibandingkan dengan Sichengcu?”

Mendadak Tan-jing-sing menarik muka, katanya, “Mengapa kau mengatakan ‘kecuali ilmu pedang’? Memangnya ilmu pedangku tidak masuk hitungan?”

Hiang Bun-thian hanya tersenyum dan tidak menanggapi, ia berkata, “Bagaimana jika kedua Chengcu melihat lagi sebuah tulisan?”

Habis itu ia lantas membentang pula suatu gulungan yang lain, kiranya adalah sebuah tulisan yang ditulis dengan cara chau (rumput, di sini dimaksudkan tulisan corat-coret) dengan goresan yang hidup.

“He, he, he!” Tan-jing-sing berulang-ulang mengeluarkan suara heran. Mendadak ia terus menggembor, “Samko! Samko! Ini dia jiwa mestikamu berada di sini!”

Saking keras suara menggembornya sampai-sampai daun pintu dan jendela ikut tergetar, debu pasir sama bertebaran dari atap. Karena jeritan yang sekonyong-konyong itu, Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong juga ikut terkejut.

Maka terdengarlah dari jauh ada suara jawaban orang, “Ada apa gembar-gembor, membikin kaget orang saja?”

“Samko,” seru Tan-jing-sing pula, “jika kau tidak lekas datang, sebentar kalau orang telah menyimpan kembali barangnya tentu kau akan menyesal selama hidup.”

“Ah, tentu kau menemukan sesuatu tulisan palsu apa-apa, bukan?” kata orang itu, kini suaranya sudah berada di luar pintu.

Ketika tirai pintu tersingkap, masuklah satu orang pendek gemuk, kepalanya botak kelimis dan mengilap licin tanpa seujung rambut pun. Tangan kanan memegang sebuah pit (pensil) besar, bajunya berlepotan bak (tinta hitam).

Begitu berada di dalam, sekonyong-konyong ia melotot sambil menahan napas, serunya seperti orang menemukan sesuatu yang ajaib, “Haah, ini memang ben … benar tulisan asli Thio Kiu di Zaman Tong-tiau, benar-benar tulen, tidak mungkin … tidak mungkin palsu!”

Tulisan yang bergaya corat-coret itu memang sangat berani dan bebas sehingga mirip seorang tokoh ilmu silat sedang mengeluarkan ginkangnya yang tinggi dengan gerak-geriknya yang gesit dan lincah. Karena gaya tulisan itu bercorat-coret, maka di antara sepuluh huruf paling banyak hanya satu huruf saja yang dikenal Lenghou Tiong. Dilihatnya di bagian akhiran tulisan itu banyak diberi tanda stempel, di antaranya adalah pejabat-pejabat tinggi pemerintah, maka dapat diduga tulisan itu pasti bukan sembarangan tulisan.

Maka terdengar Tan-jing-sing memperkenalkan, “Ini adalah Samko Tut-pit-ong (Si Kakek Pensil Gundul). Ia pakai julukan demikian disebabkan wataknya yang gemar akan seni tulis sehingga beratus-ratus pensil telah terpakai sampai gundul, jadi bukan disebabkan batok kepalanya yang kelimis, hal ini perlu diterangkan supaya tidak salah paham.”

Dengan tertawa Lenghou Tiong mengiakan. Dilihatnya Tut-pit-ong itu sudah mulai menggerakkan pensil di tangan kanan dan sedang menggores naik-turun mengikuti contoh tulisan itu, air mukanya seperti orang mabuk dan mirip orang linglung, terhadap Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong yang berada di situ sama sekali tak ambil peduli, sampai-sampai ucapan Tan-jing-sing tadi juga tidak digubris olehnya.

Mendadak hati Lenghou Tiong tergetar, pikirnya, “Perbuatan Hiang-toako ini mungkin telah direncanakan sebelumnya. Aku masih ingat ketika aku bertemu dengan dia di gardu tempo hari, agaknya dia sudah membawa buntelan demikian di punggungnya.”

Tapi lantas terpikir lagi, “Buntelannya waktu itu belum tentu tersimpan dua gulungan lukisan dan tulisan ini, bisa jadi untuk mengusahakan penyembuhan penyakitku, di tengah jalan ketika menginap di hotel dia telah keluar membeli atau mencurinya. Ya, besar kemungkinan hasil curian. Benda mestika yang tak ternilai ini ke mana dapat membelinya?”

Dilihatnya gerakan pensil Tut-pit-ong itu mengeluarkan suara mendesir-desir perlahan, betapa tinggi lwekangnya jelas mempunyai keunggulannya masing-masing bersama Hek-pek-cu. Ia berpikir pula, “Penyakitku ini akibat perbuatan Tho-kok-lak-sian serta Put-kay Taysu, tapi lwekang ketiga Chengcu ini agaknya lebih tinggi pula daripada Tho-kok-lak-sian dan Put-kay, boleh jadi Toachengcu mereka itu jauh lebih lihai lagi daripada ketiga temannya ini. Kalau ditambah dengan Hiang-toako, dengan kekuatan lima orang mungkin dapat menyembuhkan penyakitku. Semoga mereka tidak banyak membuang tenaga murninya.”

Sebelum Tut-pit-ong selesai corat-coret mencontoh “sui-ih-tiap” (contoh tulis) yang diperlihatkannya itu, mendadak Hiang Bun-thian terus menggulungnya dan disimpan kembali ke dalam buntelannya.

Tut-pit-ong memandang bingung kepada Hiang Bun-thian, sampai lama sekali baru bertanya, “Tukar apa?”

Hiang Bun-thian menggeleng, jawabnya, “Tidak ditukarkan dengan apa pun juga.”

“Dua puluh delapan jurus Ciok-koh-tah-hiat-pit-hoat (Ilmu Tulis Menutuk Hiat-to)?” demikian Tut-pit-ong memberi penawaran.

“Tidak boleh!” berbareng Hek-pek-cu dan Tan-jing-sing berseru.

“Boleh saja, mengapa tidak boleh?” ujar Tut-pit-ong. “Jika aku dapat memperoleh sui-ih-tiap tulisan asli Thio Kiu ini, maka aku punya 28 jurus tutukan itu boleh dikata tidak ada artinya lagi.”

Tapi Hiang Bun-thian juga lantas menggeleng dan berkata, “Tidak boleh!”

“Jika begitu mengapa kau perlihatkan tulisan itu kepadaku?” tanya Tut-pit-ong dengan rada aseran.

“Ya, anggaplah aku salah, boleh Samchengcu anggap pula seperti tidak pernah melihatnya saja,” ujar Hiang Bun-thian.

“Sudah selesai dilihat, mana boleh dianggap tidak pernah melihatnya?” kata Tut-pit-ong.

“Apa Samchengcu benar-benar hendak memiliki tulisan asli Thio Kiu ini?” Bun-thian menegas. “Untuk ini tidaklah susah asalkan Samchengcu bertaruh sesuatu dengan kami.”

“Bertaruh hal apa?” tanya Tut-pit-ong cepat.

“Samko,” Tan-jing-sing lantas menanggapi, “orang ini agaknya rada sinting. Dia mengatakan hendak bertaruh bahwa di dalam Bwe-cheng kita ini tiada ilmu pedang seorang pun yang mampu menandingi sobat Hong dari Hoa-san ini.”

“Kalau ada orang yang mampu menangkan sobat ini, lalu bagaimana?” tanya Tut-pit-ong.

“Jika di dalam Bwe-cheng ini, tidak peduli siapa saja yang mampu menangkan pedang di tangan saudaraku Hong ini, maka Cayhe akan mempersembahkan sui-ih-tiap tulisan asli Thio Kiu ini kepada Samchengcu dan menghadiahkan lukisan asli Hoan Koan tadi kepada Sichengcu, juga akan kuturunkan 30 problem catur dari berbagai jago catur yang pernah kulihat itu kepada Jichengcu.”

“Dan bagaimana dengan Toako kami, apa yang akan kau persembahkan kepadanya?” tanya Tut-pit-ong.

“Untuknya Hong-hianteku ini telah menyediakan suatu buah musik menabuh kecapi yang tiada bandingannya, judul kitab itu adalah ‘Lagu Siau-go-kangouw’ (Hina Kelana),” kata Hiang Bun-thian.

Tidaklah apa-apa Tut-pit-ong bertiga mendengar nama judul lagu Hina Kelana, tapi Lenghou Tiong yang amat terkejut, ia heran dari manakah sang toako mengetahui kitab yang dimilikinya itu?

Dalam pada itu Hek-pek-cu telah berkata, “Meski kami tidak tahu di mana letak kebagusan kitab lagu kecapi itu, tapi melihat barang taruhan yang lain seperti catur, tulisan, dan lukisan yang kau sebut itu, maka lagu kecapi itu tentunya juga lain daripada yang lain. Sebaliknya kalau di dalam Bwe-cheng kami ini ternyata benar tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Hong-hengte, lalu apa yang harus kami pertaruhkan kepadamu?”

Tan-jing-sing lantas menyela dengan tertawa, “Hong-heng ini mahir teori perarakan, tentu ilmu pedangnya juga sangat tinggi. Cuma usianya masih terlalu muda, masakah betul di dalam Bwe-cheng kita ini tiada seorang pun yang dapat menandingi dia? Hehe, sungguh menertawakan.”

Karena Lenghou Tiong sudah berjanji sebelumnya dengan Hiang Bun-thian akan menurut segala apa yang diatur oleh sang toako, tapi sampai di sini ia pun merasa keterlaluan ucapan Hiang Bun-thian tadi, padahal tenaga dalamnya sudah punah, mana mampu menandingi jago-jago kosen di Bwe-cheng ini. Maka dengan rendah hati ia lantas berkata, “Ah, Tong-toako memang suka berkelakar, sedikit kepandaianku yang tak berarti mana berani dipertandingkan dengan para Chengcu yang hebat.”

Dengan tertawa Hiang Bun-thian menyambung, “Kata-katamu yang rendah hati ini memang perlu diucapkan, kalau tidak, tentu orang akan menganggap kau terlalu angkuh dan sombong.”

Tut-pit-ong seakan-akan tidak ambil pusing terhadap ucapan mereka berdua, ia komat-kamit menggumam sendiri, rupanya sedang mengulangi isi tulisan Thio Kiu yang membuatnya kesengsem dan lupa daratan. Tiba-tiba ia berkata pula kepada Hiang Bun-thian, “He, coba kau membentang pula tulisan itu.”

“Asalkan Samchengcu sudah menang, pasti sui-ih-tiap ini akan menjadi milikmu, sekarang hendaklah jangan terburu-buru dulu,” jawab Hiang Bun-thian dengan tertawa.

Sebagai ahli catur, Hek-pek-cu dengan sendirinya adalah ahli pikir pula, sebelum menang sudah mesti memperhitungkan kekalahan dulu, maka ia bertanya pula, “Jika benar-benar di dalam Bwe-cheng kami ini tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Saudara Hong ini, lalu pertaruhan apa yang harus kami berikan?”

“Sudah kami katakan bahwa kedatangan kami ke Bwe-cheng sini tidak untuk minta sesuatu benda atau mohon sesuatu urusan,” jawab Hiang Bun-thian. “Tujuan Hong-hiante hanya ingin saling belajar ilmu pedang dengan jago kosen yang berada di puncak ilmu silat seluruh jagat sini. Jika secara kebetulan kami menang, seketika kami mohon diri, kami tidak menginginkan barang taruhan apa-apa.”

“O, jadi Saudara Hong ini hanya ingin mencari nama saja?” ujar Hek-pek-cu. “Ya, memang, sebatang pedangnya sekaligus mengalahkan Kanglam-si-yu, peristiwa ini sudah tentu akan tersiar di seluruh Kangouw.”

“Ah, Jichengcu telah salah sangka,” kata Hiang Bun-thian sambil menggeleng. “Pertandingan ilmu pedang di sini, tak peduli pihak mana yang menang dan kalah, jika ada satu kata saja dibocorkan ke luar, biarlah aku dan Hong-hiante mati tak terkubur, anggap saja sebagai manusia rendah melebihi binatang.”

“Bagus, bagus!” seru Tan-jing-sing. “Ucapanmu harus dipuji. Kamar ini cukup luas, biarlah aku mulai bertanding sejurus-dua dengan Saudara Hong. Dan mana pedangmu?”

“Datang ke Bwe-cheng sini mana kami berani membawa senjata?” sahut Bun-thian tertawa.

Segera Tan-jing-sing menggembor pula, “Ambilkan dua pedang!”

Ada suara orang mengiakan di luar, kemudian Ting Kian dan Si Leng-wi masing-masing membawa sebatang pedang dan diaturkan ke hadapan Tan-jing-sing.

Tan-jing-sing ambil sebuah pedang itu dan berkata, “Yang ini berikan padanya!”

Si Leng-wi mengiakan, lalu pedang itu diaturkan ke hadapan Lenghou Tiong.

“Hong-hiante,” kata Hiang Bun-thian, “ilmu pedang keempat Chengcu di sini terkenal mahasakti, asalkan kau dapat belajar sejurus-dua saja sudah tidak habis-habis kau gunakan selama hidup ini.”

Melihat keadaan sudah tidak mungkin dihindarkan lagi, terpaksa Lenghou Tiong menyambuti pemberian pedang itu.

Sekonyong-konyong Hek-pek-cu berkata, “Nanti dulu, Site. Taruhan yang dikemukakan Tong-heng ini adalah di dalam Bwe-cheng kita tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Hong-heng itu. Ting Kian juga mahir main pedang, ia pun penghuni Bwe-cheng ini, maka tidak perlu Site mesti tampil ke muka sendiri.”

Dasar juru pikir, Hek-pek-cu menjadi sangsi mendengar tantangan Hiang Bun-thian yang semakin galak dan yakin benar pasti akan menang itu. Tiba-tiba ia mendapat akal membiarkan Ting Kian maju untuk menjajal Lenghou Tiong lebih dulu. Ia pikir Ting Kian berjuluk “It-ji-tian-kiam” (Pedang Kilat Angka Satu), ilmu pedangnya juga sangat lihai, kedudukannya di Bwe-cheng juga cuma kaum hamba saja, andaikan kalah juga tidak merugikan nama baik Bwe-cheng, sebaliknya sampai di mana kehebatan ilmu pedang Hong Ji-tiong ini akan segera ketahuan.

Tanpa pikir Hiang Bun-thian lantas menjawab, “Ya, benar. Asalkan ada orang di dalam Bwe-cheng ini mampu menangkan ilmu pedang Hong-hianteku, maka kami akan dianggap kalah, memangnya juga tidak perlu keempat Chengcu mesti maju sendiri. Ting-heng ini di dunia Kangouw berjuluk ‘It-ji-tian-kiam’, betapa cepat gerak pedangnya jarang ada bandingannya. Nah, Hong-hiante, tiada jeleknya jika kau belajar kenal dulu dengan It-ji-tian-kiamnya Ting-heng.”

Dengan tertawa Tan-jing-sing lantas melemparkan pedangnya kepada Ting Kian sambil berkata, “Awas, jika kau kalah akan kudenda kau minum tiga mangkuk arak.”

Ting Kian membungkuk tubuh memberi hormat sambil menangkap pedang itu, kemudian ia berkata kepada Lenghou Tiong, “Orang she Ting mohon belajar ilmu pedang Tuan Hong yang lihai!”

“Sret”, segera ia mendahului melolos pedangnya.

Lenghou Tiong juga lantas melolos pedangnya, sarung pedang ditaruhnya di atas meja batu tadi.

“Ketiga Chengcu dan Ting-heng,” seru Hiang Bun-thian, “kita harus bicara di muka, pertandingan ini hanya mengenai ilmu pedang dan tidak boleh mengadu tenaga dalam.”

“Ya, sudah tentu, cukup asal tertutul saja lantas berhenti,” kata Hek-pek-cu.

Maka Hiang Bun-thian sengaja pesan Lenghou Tiong, “Hong-hiante, jangan sekali-kali kau mengeluarkan tenaga dalam. Bertanding ilmu pedang tergantung kebagusan tipu serangan masing-masing. Khikang Hoa-san-pay kalian sangat terkenal di dunia persilatan, jika kau menang dengan mengandalkan tenaga dalam biarlah dianggap kita yang kalah.”

Diam-diam Lenghou Tiong tertawa geli, padahal sang toako mengetahui dia tiada punya tenaga dalam sedikit pun, tapi sengaja menonjolkan tenaga dalam untuk memojokkan pihak lawan. Segera ia menjawab, “Jika Siaute mengeluarkan tenaga dalam tentu akan ditertawai ketiga Chengcu dan Ting-heng serta Si-heng, sudah tentu sama sekali aku tidak berani menggunakannya.”

“Hong-hiante tidak perlu terlalu rendah hati agar tidak seakan-akan kita kurang mengindahkan keempat Cianpwe di sini,” kata Hiang Bun-thian. “Bahwasanya Ci-he-sin-kang Hoa-san-pay kalian adalah lwekang yang amat lihai dan jauh di atas lwekang Ko-san-payku, hal ini cukup diketahui kawan-kawan Bu-lim. Nah, Hong-hiante, hendaklah kau berdiri di tengah kedua bekas tapak kakiku ini dan jangan sampai tergeser keluar, dengan berdiri di sini bolehlah kau coba-coba ilmu pedang Ting-heng.”

Habis berkata ia lantas menyingkir ke samping, maka tertampak di atas jubin lantai telah tercetak dua bekas tapak kaki yang dalamnya dua-tiga senti. Rupanya sewaktu bicara tadi diam-diam ia telah mengerahkan tenaga dalam sehingga jubin hijau yang cukup keras itu telah dicetak mentah-mentah dua bekas kaki.

Hek-pek-cu, Tut-pit-ong, dan Tan-jing-sing serentak bersorak memberi pujian. Mereka mengira Hiang Bun-thian sengaja pamer kepandaian, tak tahunya dia mempunyai maksud yang lain.

Kiranya Hiang Bun-thian sengaja membangga-banggakan lwekangnya Lenghou Tiong lebih tinggi daripada dia sendiri, sekarang ia pamerkan lwekangnya sendiri pula agar orang mau percaya bahwa lwekang Lenghou Tiong sudah pasti jauh lebih hebat lagi, dengan demikian pihak lawan dalam pertandingan nanti tidak berani sembarangan menggunakan tenaga dalam untuk mencari penyakit sendiri. Apalagi Hiang Bun-thian mengetahui kemahiran Lenghou Tiong selain ilmu pedang boleh dikata tidak ada yang istimewa, dengan tetap berdiri di bekas tapak kakinya itu akan dapat pula menyembunyikan kelemahan-kelemahannya yang lain.

Diam-diam Ting Kian menjadi gusar mendengar Hiang Bun-thian suruh Lenghou Tiong tetap berdiri di dalam bekas tapak kaki itu untuk melawannya nanti. Walaupun demikian, karena merasa dirinya tidak sanggup menginjak jubin meninggalkan bekas, mau tak mau ia terperanjat juga atas kelihaian tenaga Hiang Bun-thian. Pikirnya, “Jika mereka berani datang menantang keempat Chengcu, sudah tentu mereka bukan kaum keroco. Asalkan aku mampu bertanding sama kuatnya dengan dia sudah cukup menyelamatkan nama baik Bwe-cheng.”

Hendaklah maklum bahwa di waktu mudanya dahulu Ting Kian berwatak sangat sombong sehingga banyak mengikat permusuhan dengan jago-jago Kangouw, kemudian ia ketemu batunya sehingga mencari hidup sukar dan minta mati pun tidak mudah, dalam keadaan kepepet, syukur ia telah ditolong oleh Kanglam-si-yu. Karena itulah ia rela menghamba di Bwe-cheng, kegarangan di masa yang lalu juga telah lenyap sekarang.

Begitulah Lenghou Tiong lantas melangkah maju dan berdiri di dalam bekas tapak kakinya Hiang Bun-thian itu, katanya dengan tersenyum, “Silakan mulai, Ting-heng!”

“Maaf!” kata Ting Kian, tanpa sungkan-sungkan lagi segera pedangnya menebas, “serrr”, selarik sinar pedang tahu-tahu telah berkelebat lewat dengan amat cepatnya. Meski sudah belasan tahun ia mengasingkan diri di Bwe-cheng, tapi kepandaian dahulu ternyata tiada sedikit pun berkurang.

Namun Tokko-kiu-kiam yang telah diyakinkan Lenghou Tiong itu adalah ilmu pedang yang tiada bandingannya sejak dahulu sehingga sekarang. Dengan ilmu pedangnya itu Tokko Kiu-pay pernah malang melintang di seluruh dunia dan tak terkalahkan, bukan saja tak pernah kalah, bahkan sampai hari tuanya, orang yang mampu menandingi sepuluh jurus saja jarang terdapat. Akhirnya Tokko Kiu-pay wafat dalam kekosongan jiwa dan ilmu pedangnya itu melalui Hong Jing-yang telah diturunkan kepada Lenghou Tiong.

Ilmu pedang angka satu yang menjadi kebanggaan Ting Kian itu setiap gerak serangan selalu berkelebat seperti sambaran kilat sehingga membuat orang yang melihatnya belum-belum sudah gentar lebih dulu.

Tapi baru sekali saja It-ji-tian-kiam itu dikeluarkan, segera Lenghou Tiong dapat mengetahui tiga titik kelemahan di dalamnya.

Ting Kian ternyata tidak buru-buru melancarkan serangan, pedangnya hanya menebas kian-kemari seakan sungkan kepada pihak tamu, tapi maksud tujuannya adalah hendak membikin silau Lenghou Tiong agar sukar menangkis serangannya yang menyusul.

Tak terduga ketika sampai pada jurus kelimanya, Lenghou Tiong telah melihat ilmu pedangnya itu sudah ada 18 titik kelemahan. Segera ia berkata, “Maaf!”

Berbareng pedangnya lantas menuding miring ke depan.

Tatkala itu Ting Kian sedang menebaskan pedangnya secepat kilat dari kiri ke kanan, jarak ujung pedang Lenghou Tiong masih ada satu meter jauhnya, namun gerakan Ting Kian itu menjadi seperti mengantarkan tangan sendiri ke ujung pedang lawan.

Gerakan Ting Kian itu teramat cepat dan sukar untuk dihentikan secara mendadak. Lima orang penonton yang menyaksikan di samping itu adalah jago-jago kelas wahid semua.

Saat itu tangan Hek-pek-cu sedang memegangi sebiji catur, segera ia bermaksud menyambitkan biji catur itu untuk menyelamatkan tangan Ting Kian dari ancaman pedang Lenghou Tiong, tapi lantas terpikir olehnya jika sampai dia ikut turun tangan ini berarti dua orang melawan seorang dan Bwe-cheng jelas di pihak yang kalah. Karena rasa ragu-ragu itulah saat mana jarak pergelangan tangan Ting Kian sudah makin mendekat dengan sambaran ujung pedang Lenghou Tiong, hanya tinggal belasan senti jauhnya.

“Aiii!” Si Leng-wi menjerit khawatir.

Siapa duga, pada detik yang menentukan itu mendadak Lenghou Tiong memutar perlahan tangannya sehingga ujung pedang menegak, “plak”, tangan Ting Kian terbentur pada batang pedang yang rata itu sehingga tidak terluka apa-apa.

Ting Kian sampai melenggong, baru dia sadar bahwa pihak lawan telah sengaja memberi ampun padanya sehingga sebelah tangannya tidak sampai terkutung. Seketika ia berkeringat dingin, ia membungkuk tubuh dan berkata, “Banyak terima kasih atas kemurahan hati Hong-tayhiap.”

Lenghou Tiong membalas hormat dan menjawab, “Ah, engkaulah yang mengalah!”

Melihat Lenghou Tiong sedikit memutar pedangnya sehingga Ting Kian terhindar dari tangan terkutung, diam-diam Hek-pek-cu, Tut-pit-ong, dan Tan-jing-sing menaruh kesan baik padanya.

Segera Tan-jing-sing menuang secawan arak, katanya, “Hong-hengte, ilmu pedangmu sangat bagus, terimalah secawan suguhanku.”

“Terima kasih,” sahut Lenghou Tiong sambil menerima suguhan itu terus ditenggak habis.

Tan-jing-sing juga mengiringi minum satu cawan, lalu menuangi cawan Lenghou Tiong pula dan berkata, “Hong-hengte, hatimu sangat baik sehingga tangan Ting Kian tidak sampai buntung, biarlah aku menyuguh lagi secawan padamu.”

“Ah, ini hanya secara kebetulan saja, kenapa diherankan?” ujar Lenghou Tiong sambil menghabiskan pula isi cawannya.

Tan-jing-sing mengiring pula secawan, lalu menuang lagi secawan dan berkata, “Cawan ketiga ini kita jangan minum dulu, marilah kita main-main, siapa yang kalah dialah yang minum arak ini.”

“Terang aku yang kalah,” ujar Lenghou Tiong tertawa, “biarlah aku meminumnya sekarang saja.”

“Jangan buru-buru!” seru Tan-jing-sing sambil menaruh cawan araknya di atas meja batu, ia ambil pedang dari tangan Ting Kian, lalu katanya pula, “Hong-hengte, silakan mulai lebih dulu.”

Di waktu minum arak tadi diam-diam Lenghou Tiong sudah menimbang-nimbang, “Dia mengaku mempunyai tiga keistimewaan, yaitu minum arak, suka seni lukis, dan mahir ilmu pedang. Maka dapatlah dipastikan ilmu pedangnya tentu sangat lihai. Dari lukisan yang terpancang di ruang depan sana kulihat goresannya rada mirip sejurus ilmu pedang yang terukir di dinding gua puncak Hoa-san dahulu. Ilmu pedang itu memang sangat bagus, tapi aku sudah paham jalannya, tentunya tidak sukar untuk melayaninya.”

Maka katanya sambil membalas hormat, “Harap Sichengcu sudi mengalah sedikit.”

“Tidak perlu sungkan-sungkan, silakan,” kata Tan-jing-sing.

“Baik,” begitu Lenghou Tiong berseru, pedangnya lantas bergerak menusuk ke pundak lawan.

Tusukan ini tampaknya geyat-geyot tak bertenaga dan tidak menurut ilmu pedang yang lazim, belum pernah ada ilmu pedang di dunia ini terdapat jurus serangan demikian.

Keruan Tan-jing-sing melengak, katanya, “Ini terhitung serangan apa?”

Pengetahuan Tan-jing-sing dalam hal ilmu pedang boleh dikata sangat luas, telah diketahuinya Lenghou Tiong adalah murid Hoa-san-pay, maka yang dia pikirkan sejak tadi adalah macam-macam tipu serangan ilmu pedang Hoa-san-pay saja, siapa tahu apa yang dimainkan Lenghou Tiong ini ternyata sama sekali di luar dugaannya.

Pelajaran yang diperoleh Lenghou Tiong dari Hong Jing-yang kecuali Tokko-kiu-kiam yang tiada bandingannya itu, dapat dipahami pula intisari “dengan tiada tipu mengalahkan yang ada tipu” dalam ilmu pedang. Asas ini tali-temali dengan Tokko-kiu-kiam yang justru setiap gerakan dan setiap tipu serangannya sudah mencapai puncaknya itu. Maka gabungan dari kedua paham ini menjadi lebih hebat dan sukar diraba pihak musuh.

Lantaran itulah Tan-jing-sing lantas melenggong begitu melihat serangannya yang aneh itu. Jika dirinya cepat menangkis toh rasanya sukar terjadi, dan karena tak bisa ditangkis, jalan satu-satunya bagi Tan-jing-sing adalah melangkah mundur.

Waktu satu jurus saja Lenghou Tiong mengalahkan Ting Kian tadi, meski Hek-pek-cu dan Tut-pit-ong diam-diam memuji kelihaian ilmu pedangnya, tapi juga tidak begitu heran, sebab mereka anggap kalau Lenghou Tiong sudah berani menantang ke Bwe-cheng, maka mustahil jika cuma seorang hamba saja tak bisa mengalahkannya. Tapi sekarang setelah menyaksikan sekali tusuk Lenghou Tiong lantas mendesak mundur Tan-jing-sing, mau tak mau mereka menjadi terkesiap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: