Hina Kelana: Bab 65. Kanglam-si-yu – Empat Sekawan dari Kanglam

Karena merasa senang, diam-diam Si Leng-wi sudah ambil keputusan akan menyampaikan maksud kedatangan tamunya kepada sang majikan. Ia berpaling dan berkata kepada Lenghou Tiong, “Dan Tuan ini murid dari Hoa-san-pay?”

Cepat Hiang Bun-thian mendahului menjawab, “Saudara Hong ini adalah susiok Gak Put-kun, ketua Hoa-san-pay sekarang.”

Mendengar sembarangan omong Hiang Bun-thian itu sejak tadi Lenghou Tiong sudah menduga dirinya tentu juga akan diberi suatu nama palsu, cuma sama sekali tak terduga bahwa dirinya akan dikatakan sebagai susiok gurunya yang dicintainya itu. Biarpun dalam setiap urusan Lenghou Tiong suka memandang enteng, tapi sekarang dia disuruh menyamar sebagai angkatan tua dari gurunya, hal ini membuatnya tidak enak hati.

Ting Kian dan Si Leng-wi telah saling pandang sekejap dengan rasa curiga, mereka melihat usia Lenghou Tiong besar kemungkinan baru 40-an, mana mungkin menjadi paman gurunya Gak Put-kun?

Tapi cepat Hiang Bun-thian menambahkan pula, “Umur Hong-hiante ini memang lebih muda daripada Gak Put-kun, tapi dia adalah ahli waris satu-satunya dari ilmu pedang tunggal Hong Jing-yang Susiok.”

Ting Kian sampai bersuara kaget. Sebagai seorang ahli pedang pula ia menjadi getol mendengar Lenghou Tiong juga mahir ilmu pedang. Cuma ia masih ragu-ragu apakah orang yang berwajah kuning sembap seperti orang sakit beri-beri ini benar-benar mahir ilmu pedang? Ia pun tidak jelas apakah di antara angkatan tua Hoa-san-pay adalah seorang yang bernama Hong Jing-yang, lebih-lebih ia tidak tahu sampai ilmu pedang kebanggaan Hong Jing-yang itu.

Ia coba berpaling kepada kawannya dan terlihat Si Leng-wi manggut-manggut padanya, maka ia lantas berkata, “Dan entah nama Tuan sendiri siapa?”

“Cayhe she Tong, bernama Hoa-kim,” sahut Hiang Bun-thian. “Adapun saudara Hong ini bernama Ji-tiong.”

“O, sudah lama kagum, sudah lama kagum!” kata Ting Kian dan Si Leng-wi sambil mengepal tangan mereka sebagai tanda hormat.

Diam-diam Hiang Bun-thian merasa geli. Ia mengaku bernama Tong Hoa-kim, yang benar-benar adalah “tong-hoa-kim”, artinya loyang menjadi emas, jelasnya adalah barang palsu. Adapun nama “Ji-tiong” adalah pecahan dari nama Tiong. Hakikatnya di dunia persilatan tidak pernah terdapat dua tokoh bernama demikian, tapi Ting Kian berdua toh menyatakan “sudah lama kagum”, entah sedari kapan mereka mulai kagum? Sungguh menggelikan!

Maka Ting Kian lantas berkata pula, “Silakan Tuan-tuan masuk dan minum, segera Cayhe akan melaporkan kepada majikan, soal Tuan-tuan akan ditemui tidak sukarlah untuk dipastikan.”

Dengan tertawa Hiang Bun-thian menjawab, “Kalian berdua dan Kanglam-si-yu meski mengaku sebagai majikan dan hamba, tapi hubungan kalian seperti saudara sendiri. Rasanya keempat Cianpwe tak dapat tidak mesti memberi muka kepada Ting-ya berdua.”

Ting Kian tersenyum senang dan berdiri ke pinggir. Segera Hiang Bun-thian melangkah masuk ke dalam diikuti Lenghou Tiong.

Sesudah menyusuri sebuah pekarangan dalam yang kedua tepinya tumbuh dua pohon bwe tua dengan dahan-dahannya yang kukuh kuat, sampai di ruang dalam Si Leng-wi menyilakan duduk kedua tamunya, ia sendiri berdiri menemani, Ting Kian yang masuk ke dalam untuk melapor.

Melihat Si Leng-wi berdiri dan dirinya sendiri berduduk, Hiang Bun-thian merasa rikuh. Namun Si Leng-wi adalah kaum hamba di Bwe-cheng (Perkampungan Bwe) ini sehingga tidak pantas menyuruhnya ikut duduk.

Untuk menghilangkan keadaan yang kikuk itu, segera Hiang Bun-thian berbangkit dan berkata kepada Lenghou Tiong, “Hong-hiante, coba lihat lukisan ini, biarpun cuma beberapa goresan saja, tapi tampak teramat kuat goresannya.”

Sembari berkata ia terus mendekati sebuah lukisan yang tergantung di dinding tengah sana.

Selama berkumpul beberapa hari meski Lenghou Tiong sudah tahu Hiang Bun-thian yang pintar dan cerdik, tapi dalam hal kesusastraan dan seni lukis segala jelas bukan menjadi keahlian Bun-thian. Kalau sekarang mendadak ia memuji lukisan itu tentu ada maksudnya yang mendalam. Maka Lenghou Tiong lantas mengiakan serta ikut mendekati lukisan itu.

Dilihatnya lukisan itu melukiskan punggung seorang dewa dengan warna yang serasi dan goresan yang kuat. Biarpun Lenghou Tiong tidak paham seni lukis juga dapat menikmati lukisan yang bagus itu. Terlihat lukisan itu ditandai pelukisnya dengan kata-kata: “Tan-jing-sing, lukisan sesudah mabuk.” Goresan pensil huruf-huruf itu pun sangat kuat dan tajam.

“Tong-heng, sekali melihat huruf ‘mabuk’ di atas lukisan ini aku menjadi sangat senang,” demikian Lenghou Tiong berkata. “Kulihat beberapa huruf ini seakan-akan mencakup satu seri permainan ilmu pedang yang sangat tinggi.”

Rupanya goresan tulisan-tulisan itu serta gaya kebasan tangan dewa dalam lukisan itu mengingatkan Lenghou Tiong kepada sejurus ilmu pedang yang terukir di dinding gua di puncak Hoa-san itu, ia merasa gaya setiap goresannya rada-rada mirip. Sebagaimana diketahui, dahulu demi untuk bertanding dengan Dian Pek-kong ia telah menghafalkan macam-macam ilmu silat di dinding gua itu, sekarang demi melihat lukisan ini lantas timbul perasaannya seakan-akan sudah pernah dikenalnya.

Belum lagi Hiang Bun-thian menanggapi ucapan Lenghou Tiong tadi, tiba-tiba Si Leng-wi sudah berkata di belakang mereka, “Hong-heng ini ternyata seorang ahli pedang benar-benar. Menurut keterangan majikanku Tan-jing Siansing, hari itu sesudah beliau mabuk dan menghasilkan karya lukisan ini, tanpa sengaja beliau telah melukiskan ilmu pedangnya di dalam goresan-goresan pensilnya yang merupakan karya yang paling dibanggakan selama hidupnya, setelah beliau sadar dari mabuknya betapa pun sukar untuk melukis lagi seperti ini. Sekarang Hong-heng ini ternyata dapat melihat gaya pedang dalam lukisannya ini, tentu Tan-jing Siansing akan menganggap Hong-heng sebagai kawan yang sepaham. Biar aku masuk melapor kepada beliau.”

Habis berkata dengan berseri-seri ia terus melangkah ke ruang dalam.

Hiang Bun-thian berdehem, katanya, “Hong-hiante, kiranya kau paham seni tulis dan lukis.”

“Hah, paham apa? Aku cuma mengoceh sekenanya dan secara kebetulan kena sasarannya. Padahal kalau sebentar Tan-jing Siansing bicara tentang seni tulis dan lukis padaku tentu aku bisa runyam,” demikian sahut Lenghou Tiong.

Baru habis ucapannya, tiba-tiba terdengar seorang berseru di ruangan dalam, “Dia dapat melihat ilmu pedang di dalam lukisanku? Di mana orangnya? Ketajaman matanya sungguh hebat.”

Di tengah seruan itu masuklah satu orang.

Orang ini berjenggot panjang sampai sebatas dada, tangan kiri membawa satu cawan arak, mukanya kemerah-merahan rada mabuk. Si Leng-wi tampak mengikut di belakang dan berkata padanya, “Kedua Tuan ini adalah Tong-ya dari Ko-san-pay dan Hong-ya dari Hoa-san-pay. Dan ini adalah Tan-jing Siansing, majikan keempat dari Bwe-cheng kami. Sichengcu (majikan keempat), Hong-ya inilah yang mengatakan di dalam tulisanmu mengandung suatu gaya ilmu pedang yang tinggi.”

Sambil mengedipkan sepasang matanya yang sepat-sepat mabuk itu, Sichengcu Tan-jing-sing (Si Pelukis) mengamat-amati Lenghou Tiong sejenak, kemudian ia bertanya, “Kau paham melukis? Mahir memainkan pedang?”

Pertanyaan ini dilontarkan secara kasar, namun Lenghou Tiong juga tidak ambil pusing. Dilihatnya tangan Tan-jing-sing memegang sebuah cawan berwarna hijau zamrud yang indah, tiba-tiba teringat olehnya apa yang pernah dikatakan oleh Coh Jian-jiu di atas kapal tempo hari. Segera ia menjawab, “Konon menurut kaum ahli minum, Le-hoa-ciu harus diminum dengan menggunakan cawan zamrud. Nyata Sichengcu memang seorang ahli minum arak sejati.”

Hendaklah maklum bahwa Lenghou Tiong tidak banyak “makan sekolahan” sehingga dia kurang menguasai kesusastraan segala, tapi dasar pembawaannya memang pintar, setiap apa yang pernah dikatakan orang selamanya takkan dilupakan olehnya, maka sekarang ia telah melansir apa yang pernah diucapkan Coh Jian-jiu dahulu.

Dan sungguh luar biasa, begitu mendengar ucapan Lenghou Tiong tadi, seketika mata Tan-jing-sing terbelalak lebar, mendadak ia terus merangkul Lenghou Tiong sambil berseru, “Aha, ini dia sobat baikku. Marilah, mari kita minum tiga ratus cawan. Adik Hong, aku gemar arak baik, lukisan indah, dan pedang bagus, orang menyebut tiga istimewa itu bagiku. Ketiga istimewa itu arak adalah hal yang pertama, lukisan menduduki tempat kedua, dan ilmu pedang yang terakhir.”

Lenghou Tiong menjadi girang dan membatin, “Melukis aku tidak becus sama sekali. Kedatanganku adalah untuk mohon pengobatan sehingga tiada maksud hendak bertanding pedang dan berkelahi dengan orang, tapi kalau bicara tentang minum arak, inilah yang kuharapkan.”

Maka tanpa banyak omong segera ia ikut Tan-jing-sing berjalan ke ruang dalam. Sesudah menyusuri sebuah serambi, sampailah di sebuah kamar di sebelah barat. Waktu kerai disingkap, seketika hidungnya kesamplok bau harum arak.

Sejak kecil kegemaran Lenghou Tiong adalah minum arak, boleh dikata sangat ahli dalam membeda-bedakan arak baik atau jelek. Maka begitu mengendus bau arak tadi seketika ia berseru, “Bagus, di sini ada bau Hun-ciu (arak wangi keluaran Soasay). Hah, ada lagi Pek-chau-ciu, dari baunya dapat diduga sudah tersimpan 75 tahun lamanya. Ehm, Kau-ji-ciu itu lebih-lebih sukar diperoleh pula.”

Demi menyebut bau harum Kau-ji-ciu (arak kera) seketika ia terkenang kepada laksutenya, yaitu si monyet Liok Tay-yu yang telah mati itu sehingga hatinya menjadi pilu.

Kontan Tan-jing-sing bertepuk tangan dan bergelak tertawa, “Hebat, sungguh hebat! Begitu masuk ke ruang arakku ini, seketika Adik Hong dapat menyebut tiga jenis arak simpananku yang paling bagus ini, engkau sungguh seorang ahli, sungguh hebat, sungguh lihai!”

Waktu Lenghou Tiong mengamat-amati sekeliling kamar itu, ternyata penuh guci arak, botol dan sebagainya. Katanya pula, “Yang Cianpwe simpan masakah cuma tiga jenis arak bagus itu saja. Seperti Siau-hin-ciu ini pun berkualitas tinggi, anggur dari Turfan ini pun tiada bandingannya di dunia ini.”

Kejut dan girang pula Tan-jing-sing, tanyanya, “Anggur dari Turfan ini tertutup rapat di dalam gentong kayu itu, cara bagaimana Laute juga dapat mengetahuinya?”

“Arak bagus seperti ini sekalipun disimpan di gua bawah tanah juga sukar menutupi baunya yang harum itu,” ujar Lenghou Tiong tertawa.

“Mari, mari, boleh kita mencicipi anggur enak ini,” seru Tan-jing-sing. Segera ia angkat keluar sebuah gentong yang tertaruh di pojok sana. Ketika perlahan-lahan ia mencabut sumbat gentong itu, seketika bau harum memenuhi seluruh ruangan.

Selamanya Si Leng-wi tidak suka minum arak, ketika mengendus bau alkohol yang keras itu, tanpa merasa mukanya menjadi merah seakan-akan mabuk.

“Kau keluar saja,” kata Tan-jing-sing sambil memberi isyarat tangan. “Jangan-jangan kau akan mabuk jika tinggal di sini.”

Lalu ia mengambil tiga buah cawan arak dan ditaruh sejajar, gentong arak itu dikempitnya terus menuang ke dalam cawan.

Anggur itu berwarna merah seperti darah. Ketika arak itu sudah penuh sebatas tepian cawan cepat Tan-jing-sing lantas berhenti menuang, setetes pun tidak meluap keluar dari cawan itu.

Diam-diam Hiang Bun-thian memuji kepandaian Tan-jing-sing yang hebat itu, sambil mengempit gentong sebesar itu untuk menuang isinya ke dalam cawan yang kecil, tapi dengan persis arak memenuhi cawan itu dan tidak tercecer barang setitik pun, hal ini benar-benar sukar dikerjakan

Sambil tetap mengempit gentong arak itu, sebelah tangan Tan-jing-sing lantas mengangkat cawan dan berseru, “Mari silakan minum, silakan!”

Ia terus menatap ke arah Lenghou Tiong, ia ingin tahu bagaimana reaksi pemuda itu sesudah minum araknya itu.

Lenghou Tiong lantas angkat cawan dan minum setengah cawan araknya, lalu bibirnya berkecap-kecap untuk membedakan rasa. Tapi karena mukanya memakai polesan yang agak tebal sehingga perubahan air mukanya sedikit pun tidak kentara, bahkan seperti merasa kurang menyukai anggur yang diminum itu.

Keruan Tan-jing-sing menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan ahli besar ini akan menganggap segentong araknya ini cuma minuman biasa saja.”

Setelah bibirnya berkecap-kecap, lalu Lenghou Tiong memejamkan matanya sejenak. Ketika ia pentang matanya kembali, tiba-tiba ia berkata, “Aneh, sungguh aneh!”

“Apanya yang aneh?” Tan-jing-sing cepat menegas.

“Hal ini sungguh sukar untuk dimengerti, sungguh Wanpwe tidak paham,” kata Lenghou Tiong.

Kedua mata Tan-jing-sing mengerlingkan sorot mata yang penuh kegirangan, tanyanya, “Yang kau maksudkan apakah ….”

“Selama hidup Wanpwe pernah sekali Wanpwe minum arak ini di Kota Tiang-an, meski rasanya memang sangat enak, tapi dalam rasanya yang sedap itu mengandung rasa manis-manis kecut. Menurut ahli arak di pabrik arak itu, katanya rasa kecut itu timbul akibat guncangan-guncangan di tengah jalan ketika anggur itu diangkat dari tempat jauh. Semakin sering arak ini dipindah dari tempat yang satu ke tempat lain, semakin berkurang pula kualitasnya. Bayangkan saja betapa jauhnya dari Turfan ke Kota Hangciu ini. Tapi benar-benar aneh, arak Cianpwe ini ternyata tiada sedikit pun terasa kecut ….”

“Hahahaha!” Tan-jing-sing bergelak tertawa dengan amat senang. Katanya, “Ini adalah resep rahasiaku. Resep rahasia ini kuperoleh dengan menukar tiga jurus ilmu pedangku kepada jago pedang Se-ek (daerah barat) Mokhtar. Apakah kau tidak ingin tahu rahasia ini?”

Lenghou Tiong menggeleng, jawabnya, “Wanpwe sudah merasa puas karena dapat merasakan arak sebagus ini. Tentang resep rahasia Cianpwe itu sekali-kali Wanpwe tidak berani tanya.”

“Mari minum, minumlah!” seru Tan-jing-sing pula, kembali ia menuang tiga cawan anggur itu. Karena Lenghou Tiong tidak mau tanya resep rahasianya, ia menjadi getol sendiri untuk mengatakannya. Katanya pula, “Tentang resep rahasia ini kalau dibicarakan sesungguhnya tidak berharga sepeser pun, boleh dikata tiada sesuatu yang mengherankan.”

Lenghou Tiong tahu, semakin dirinya tidak mau tanya apa yang dikatakan resep rahasia itu, semakin Tan-jing-sing ingin menceritakan padanya. Maka cepat ia sengaja menggoyang tangan dan berkata, “Tidak, jangan sekali-kali Cianpwe ceritakan padaku. Ketiga jurus ilmu pedangmu itu pasti lain daripada yang lain, rahasia yang diperoleh dengan nilai lawan setinggi itu mana boleh sembarangan diberitahukan kepada orang lain. Wanpwe akan merasa tidak enak hati jika diberi tahu rahasia ini. Kata peribahasa, tanpa jasa tidak menerima upah ….”

“Kau mengawani aku minum arak dan dapat mengenali asal usul arak ini, jasamu inilah sangat besar,” ujar Tan-jing-sing. “Maka resep rahasia ini mau tidak mau kau harus mendengarkan.”

“Cianpwe telah sudi menemui Wanpwe dan disuguh pula minuman sebagus ini, sungguh Wanpwe merasa sangat berterima kasih, sekarang mana boleh ….”

“Aku sendiri yang rela memberitahukan padamu, maka boleh kau dengarkan saja, jangan kau tolak lagi, Hong-hiante.”

“Betul, betul, demikianlah seharusnya,” seru Tan-jing-sing tertawa. “Nah, coba aku menguji kau lagi. Apakah kau tahu ciu (arak) ini sudah tersimpan berapa lama?”

Sekali teguk Lenghou Tiong menghabiskan isi cawannya, lalu membeda-bedakan rasanya sampai agak lama, kemudian baru berkata, “Arak ini masih ada sesuatu keanehan yang lain. Rasanya seperti sudah 120 tahun lamanya, tapi terasa pula seakan-akan baru 12 tahun. Di antara rasanya yang tua itu terasa pula ada rasa yang baru dan di dalam rasa baru ada rasa tua pula, dibandingkan arak bagus ratusan tahun yang lain jelas arak ini mempunyai suatu rasa yang khas.”

Diam-diam Hiang Bun-thian mengerut kening mendengar bualan Lenghou Tiong itu, 120 tahun dan 12 tahun, meski selisihnya cuma satu angka nol, tapi itu berarti seratus tahun lebih, jarak waktu selama itu mana ada persamaannya?

Ia mengira Tan-jing-sing pasti tidak senang mendengar ucapan Lenghou Tiong. Di luar dugaan orang tua itu malah bergelak tertawa sehingga jenggotnya yang panjang itu tertiup menegak.

“Memang lihai benar Saudara,” kata Tan-jing-sing kemudian. “Di situlah letak rahasia resepku itu. Coba dengarkan. Jago pedang Se-ek yang bernama Mokhtar itu telah menghadiahkan sepuluh guci arak Turfan yang berumur 120 tahun kepadaku, untuk mengangkut sepuluh guci besar itu telah digunakan sepuluh kereta. Sampai di sini aku telah mengolahnya lagi, sepuluh guci telah kucampur menjadi suatu gentong besar. Kalau dihitung apa yang terjadi itu adalah 12 tahun yang lalu. Sebab itulah arak ini mempunyai rasa yang aneh, ada rasa baru dan ada rasa lama. Waktu diangkut kemari, guci telah diisi penuh tanpa sesuatu luangan sehingga isinya tidak kocak, dengan demikian tidak menimbulkan rasa kecut pula.”

“Hah, kiranya begitu!” seru Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong berbareng

Segera Lenghou Tiong menambahkan pula, “Arak sebagus ini biarpun ditukar dengan sepuluh jurus ilmu pedang juga pantas. Apalagi Cianpwe cuma menukarnya dengan tiga jurus saja, benar-benar terlalu murah.”

Tan-jing-sing bertambah girang, katanya, “Laute benar-benar temanku yang sepaham. Dahulu Toako dan Jiko sama menyalahkan perbuatanku ini, katanya ilmu sedang Tionggoan yang hebat menjadi tersiar ke wilayah barat. Samko hanya tertawa tanpa memberi komentar, tapi kukira di dalam hati dia juga tidak setuju. Hanya Laute saja sekarang yang menilai akulah yang mendapat untung. Bagus, marilah kita minum secawan lagi.”

Setelah minum satu cawan. Lenghou Tiong berkata pula, “Sichengcu, masih ada satu cara minum arak, cuma sayang waktu ini sukar dilakukan.”

“Bagaimana caranya? Mengapa tak bisa dilakukan?” tanya Tan-jing-sing cepat.

“Turfan (di wilayah Sinkiang) adalah daerah yang sangat panas, konon dahulu waktu Tong Sam-cong mencari kitab ke negeri Thian-tiok dan melintasi hwe-yam-san (gunung berapi), katanya di situlah letak Turfan.”

“Benar,” sahut Tan-jing-sing. “Tempat itu memang panasnya bukan main. Di musim panas sepanjang hari orang di situ selalu berendam di dalam air dingin saja, tapi masih susah menahan hawanya yang panas. Sampai di musim dingin hawa di sana justru dinginnya menusuk tulang. Tapi justru lantaran itulah maka anggur keluaran sana juga berbeda dengan anggur keluaran tempat lain.”

“Waktu Wanpwe minum arak demikian di kota Tiang-an, saat mana kebetulan musim dingin,” tutur Lenghou Tiong. “Juragan pengarakan di kota itu telah pergi mengambil sepotong es dan menaruh cawan arak di atas es batu itu. Setelah didinginkan dengan es, arak ini ternyata mempunyai suatu rasa lain lagi. Sayang sekarang adalah permulaan musim panas, tidaklah mungkin mendapatkan es sehingga rasa yang istimewa es anggur tak bisa dinikmati lagi.”

“Ya, waktu aku berada di Se-ek juga kebetulan musim panas, tapi Mokhtar itu telah memberitahukan juga tentang kenikmatan es anggur seperti kau katakan barusan ini,” kata Tan-jing-sing. “Tapi hal ini gampang, Laute, kau boleh tinggal di sini beberapa bulan lagi, sampai musim dingin tiba kita akan dapat bersama-sama menikmatinya.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula sambil mengerut dahi, “Tapi kita harus menunggu sedemikian lamanya, hal ini benar-benar membuat orang tidak sabar.”

Hiang Bun-thian ikut berkata, “Ya, sayang di daerah Kanglam sini tiada jago yang khusus meyakinkan ilmu sebangsa ‘Han-peng-ciang’ (pukulan dingin es), kalau ada tentunya ….”

Belum habis ucapannya tiba-tiba Tan-jing-sing berteriak, “Aha, ada, ada!”

Ia terus menaruh gentong araknya dan melangkah keluar dengan bersemangat.

Keruan Lenghou Tiong terheran-heran, ia memandang ke arah Hiang Bun-thian dengan penuh tanda tanya. Tapi Hiang Bun-thian hanya tersenyum saja tanpa bicara.

Tidak lama kemudian Tan-jing-sing telah masuk kembali dengan menyeret seorang tua yang kurus tinggi, katanya, “Jiko, betapa pun sekali ini kau harus membantu.”

Lenghou Tiong melihat orang tua tinggi kurus ini bermuka putih bersih, cuma di antara putihnya itu bersemu kehijau-hijauan sehingga mirip wajah mayat hidup dan menimbulkan rasa mengirik bagi yang memandangnya.

Setelah diperkenalkan oleh Tan-jing-sing, kiranya orang tua jangkung itu adalah Jichengcu (majikan kedua), Hek-pek-cu (Si Hitam Putih). Rambutnya memang sangat hitam dan kulit badannya justru sangat putih sehingga sesuai dengan namanya Si Hitam Putih.

Begitulah dengan acuh tak acuh Hek-pek-cu (atau Ou-pak-ci) telah bertanya, “Suruh aku membantu apa?”

“Tolong kau keluarkan kepandaianmu mengubah air menjadi es agar dilihat oleh kedua sobat kita ini,” kata Tan-jing-sing.

“Ah, sedikit kepandaian demikian mana boleh dipamerkan kepada orang, jangan-jangan akan menjadi buah tertawaan saja,” ujar Hek-pek-cu.

“Jiko, soalnya begini, tadi Hong-hengte ini mengatakan kalau anggur Turfan ini direndam es akan mempunyai rasa yang khas, tapi di musim panas begini ke mana harus mencari es?” kata Tan-jing-sing.

“Anggur ini sudah harum dan enak, buat apa mesti didinginkan dengan es segala?” ujar Hek-pek-cu.

Tapi Lenghou Tiong lantas berkata, “Anggur ini dihasilkan Turfan, suatu tempat yang terkenal sangat panas hawanya, hawa panas itu pun ikut meresap ke dalam anggur sehingga menimbulkan rasa pedas. Jika orang Kangouw biasa tidaklah menjadi soal minum anggur yang punya rasa panas dan pedas ini. Namun Jichengcu dan Sichengcu berdiam di tepi danau yang indah permai ini, mana dapat dipersamakan dengan orang kasar Kangouw umumnya? Jika arak ini didinginkan dan hilang rasa panasnya, maka cocoklah dengan suasana di sini.”

“Ya, seperti juga main catur, pertandingan yang ramai hanya dilakukan oleh jago-jago tingkatan tinggi ….”

Belum habis Hiang Bun-thian berkata, mendadak Hek-pek-cu mencengkeram pundaknya dan bertanya dengan cepat, “Kau juga mahir main catur?”

“Kegemaranku memangnya adalah main catur, cuma sayang kurang mahir, sebab itulah aku sudah menjelajahi segala pelosok untuk mencari problem caturnya. Selama 30-an tahun tidaklah sedikit problem catur dari zaman dahulu sampai sekarang telah kuketahui dengan baik.”

“Problem catur apa saja yang telah kau pahami?” tanya Hek-pek-cu.

“Banyak sekali, misalnya problem catur Ong Cit ketika ketemukan dewa di Gunung Lan-ko-san, problem catur Lau Tiong-hu waktu bertanding melawan nini dewi Pegunungan Le-san, dan lain-lain lagi ….”

“Ah, dongengan begitu mana dapat dipercaya?” ujar Hek-pek-cu sambil menggeleng dan lantas melepaskan cengkeramannya atas pundak Hiang Bun-thian.

“Memang mula-mula Cayhe juga mengira kejadian-kejadian itu hanya dongengan belaka,” kata Bun-thian. “Tapi pada 25 tahun yang lalu Cayhe sendiri telah membaca gambar problem catur yang dimaksud itu dan ternyata memang luar biasa, maka aku baru mau percaya cerita itu memang bukan omong kosong. Apakah Cianpwe juga gemar dalam permainan catur?”

“Hahahaha!” Tan-jing-sing bergelak tertawa sehingga jenggotnya yang panjang itu ikut berguncangan.

Hiang Bun-thian pura-pura tidak paham, tanyanya, “Mengapa Cianpwe tertawa geli?”

“Kau tanya jikoku gemar main catur atau tidak, hahaha, Jiko bergelar Hek-pek-cu, Si Biji Hitam Putih, dari namanya saja boleh kau terka sendiri apa dia gemar catur atau tidak? Ketahuilah bahwa kegemaran Jiko akan catur adalah seperti kegemaranku dalam hal minum arak.”

“O, jika demikian barusan Cayhe telah sembarangan mengoceh di hadapan kaum ahli, mohon Jichengcu sudi memaafkan,” kata Hiang Bun-thian.

“Apa benar kau telah melihat sendiri gambar problem catur Lau Tiong-hu melawan nini dewi Le-san itu? Aku cuma membacanya dalam kitab kuno, katanya, pada zaman itu Lau Tiong-hu adalah juara catur yang tiada tandingannya, tapi di kaki Gunung Le dia telah dikalahkan habis-habisan oleh seorang nenek dusun, seketika ia tumpah darah. Sebab itulah problem catur itu pun disebut sebagai ‘Problem Tumpah Darah’. Apa benar-benar di dunia terdapat problem demikian itu?”*

Maka Hiang Bun-thian telah menjawab, “Ya, pada 25 tahun yang lalu aku memang pernah melihat sendiri gambar problem catur itu di suatu keluarga di Kota Sengtoh, cuma pertarungan kedua pihak sungguh sangat hebat, maka biarpun sudah 25 tahun yang lalu, namun problem yang seluruhnya meliputi 112 langkah itu masih kuingat dengan baik.”

“Seluruhnya meliputi 112 langkah?” Hek-pek-cu menegas, “Marilah kau coba memainkan problem itu. Hayolah, ikut ke kamar caturku sana.”

Mendadak Tan-jing-sing merintanginya dan berkata, “Nanti dulu! Jiko, sebelum kau membuatkan es, betapa pun aku takkan melepaskan kau.”

Habis berkata ia lantas mengambil sebuah baskom porselen putih yang penuh berisi air bersih.

“Empat saudara masing-masing mempunyai kegemarannya sendiri-sendiri, apa boleh buat,” ujar Hek-pek-cu dengan gegetun. Segera ia menjulurkan tangan kanan, jari telunjuknya terus dimasukkan ke dalam air baskom itu.

Tertampaklah permukaan air mengepulkan hawa putih yang tipis, tidak lama kemudian baskom itu telah diliputi oleh selapis es, makin lama air baskom makin membeku sehingga tidak lama kemudian satu baskom air telah berubah menjadi es batu.

Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong sama bersorak memuji. Kata Bun-thian, “Hek-hong-ci (Jari Angin Hitam) yang lihai ini konon sudah lama menghilang di dunia persilatan, siapa tahu Jichengcu ….”

“Ini bukan Hek-hong-ci, tapi namanya ‘Hian-thian-ci’ (Jari Mahasakti)”, sela Tan-jing-sing. Sembari berkata ia terus menaruh empat cawan di atas es batu itu, lalu menuangi anggur Turfan tadi.

Tidak lama, ketika isi cawan itu mulai mengepulkan hawa dingin, Lenghou Tiong lantas berseru, “Itu dia sudah cukup!”

Tan-jing-sing lantas ambil satu cawan di antaranya, sekali tenggak seketika habis isinya, benar juga rasanya sangat nyaman dan nikmat. “Bagus!” soraknya memuji. “Araknya enak, Hong-hengte pintar merasakannya. Jiko pandai membuat esnya, dan kau … kau ….” ia berpaling kepada Hiang Bun-thian dengan tertawa, lalu melanjutkan, “kau pintar menanggapi ke sana dan ke sini.”

Hek-pek-cu juga lantas minum anggur bagiannya, tanpa peduli rasa arak itu ia terus menarik tangan Hiang Bun-thian dan berkata, “Hayo berangkat, coba mainkan ‘Problem Tumpah Darah’ Lau Tiong-hu itu.”

Hiang Bun-thian juga lantas menarik lengan baju Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong paham apa artinya, katanya segera, “Aku ikut melihatnya!”

Tan-jing-sing lantas mencegahnya, “Apanya yang dilihat? Lebih baik kita minum arak saja di sini kan lebih nikmat?”

“Kita dapat minum arak sembari melihat catur,” ujar Lenghou Tiong sambil ikut di belakang Hek-pek-cu dan Hiang Bun-thian.

Tiada jalan lain, terpaksa Tan-jing-sing mengempit gentong araknya dan ikut ke ruang catur Hek-pek-cu.

Alangkah luasnya kamar catur itu, di tengahnya ada sebuah meja batu dan dua buah kursi berkasur, selain itu tiada sesuatu benda lain. Di atas meja batu itu terukir papan catur yang bergaris malang melintang, kedua pihak tertaruh satu kotak biji catur, yang satu kotak warna putih dan kotak lain warna hitam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: