Hina Kelana: Bab 64. Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong Mengangkat Saudara

Para anggota Mo-kau mengiakan serentak, lalu putar tubuh dan melangkah pergi, jumlah mereka yang beberapa ratus orang itu seketika bubar separuh lebih.

Sedangkan orang-orang dari cing-pay itu tampak bisik-bisik saling berunding sejenak, lalu mereka pun membubarkan diri berturut-turut. Sampai akhirnya yang tinggal di situ hanya tinggal belasan orang saja. Terdengar seorang di antaranya berseru lantang, “Hiang-yusu dan Lenghou Tiong, kalian telah berkomplot dengan Gip-sing-lokoay, kalian telah kejeblos semakin dalam. Untuk selanjutnya kawan Bu-lim tidak perlu banyak pikir tentang cara layak untuk menghadapi kalian. Hal ini adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Bila terjadi sesuatu nanti kalian jangan menyesal.”

“Bilakah orang she Hiang pernah merasa menyesal terhadap segala apa yang pernah diperbuatnya?” sahut Hiang Bun-thian tertawa. “Padahal cara kalian beberapa ratus orang mengerubut kami berdua ini apakah terhitung cara yang layak? Hehe, sungguh menggelikan, sungguh menertawakan!”

Sejenak kemudian, ketika Hiang Bun-thian mendengarkan dengan cermat, ia tahu semua musuh benar-benar sudah pergi jauh. Dengan suara perlahan ia berkata kepada Lenghou Tiong, “Kawanan bangsat itu pasti akan kembali lagi. Hiang Bun-thian sudah lari satu kali bila lari lagi satu kali juga lari namanya, biarlah kita sembunyi saja sekalian. Adik cilik, bertiaraplah di punggungku!”

Melihat Hiang Bun-thian berkata dengan sungguh-sungguh, Lenghou Tiong juga tidak banyak tanya lagi, segera ia menurut dan menggandul di punggungnya. Tapi sekali ini bukan lagi Hiang Bun-thian membawanya lari sebaliknya terus berjongkok, sebelah kaki perlahan menjulur ke bawah jurang malah.

Selagi Lenghou Tiong terperanjat, dilihatnya Hiang Bun-thian telah mengayun rantainya dan tepat melilit pada suatu batang pohon yang tumbuh menonjol dari dinding karang. Setelah ditarik dan dicoba daya tahannya cukup kuat untuk menahan bobot orang, habis itu barulah perlahan Hiang Bun-thian melorot ke bawah sehingga tubuh mereka tergantung di tengah udara.

Sesudah Hiang Bun-thian mengayun tubuh beberapa kali dan menemukan tempat berpijak, kemudian tangan menyendal untuk melepaskan rantainya. Ketika rantai itu merosot ke bawah, pada saat itu pula kedua tangan Hiang Bun-thian sedikit menahan dinding batu sekadar memperlambat daya turun tubuhnya, dalam pada itu rantainya diayunkan ke samping untuk mencantol pada sepotong batu karang yang mencuat keluar, dengan demikian tubuh mereka berdua lantas melorot belasan meter lagi ke bawah.

Dengan cara begitulah seterusnya mereka melorot ke bawah jurang. Terkadang dinding karang itu tiada pepohonan, juga tiada batu karang yang mencuat, maka Hiang Bun-thian lantas menggunakan cara paling berbahaya, ia menempel di dinding karang dan membiarkan tubuhnya meluncur ke bawah sampai belasan meter jauhnya makin melorot makin cepat, tapi bila menemukan sedikit tempat yang bisa bertahan segera ia keluarkan ilmu saktinya entah dengan pukulan entah dengan depakan, untuk memperlambat daya turunnya itu.

Keruan Lenghou Tiong kebat-kebit dan khawatir, ia merasa cara melorot demikian benar-benar sangat berbahaya tidak kurang bahayanya daripada pertempuran sengit tadi.

Tapi dasarnya dia juga pemberani, ia pikir pengalaman yang aneh dan luar biasa ini kalau tidak menemukan orang kosen semacam Hiang Bun-thian betapa pun sukar dialaminya. Sebab itulah ketika kedua kaki Hiang Bun-thian sudah menginjak dasar jurang lamat-lamat ia menjadi kecewa malah mengapa jurang itu tidak beberapa ratus meter lebih dalam lagi.

Waktu dia menengadah, terlihat di atas awan putih belaka, balok batu itu sudah berwujud satu jalur hitam yang amat halus.

“Hiang-siansing ….” baru Lenghou Tiong hendak bicara mendadak Hiang Bun-thian mendekap mulutnya sambil menuding ke atas.

Segera Lenghou Tiong paham bahwa musuh yang telah pergi itu tentu datang kembali. Waktu ia memandang ke atas namun tiada satu bayangan pun tampak.

Hiang Bun-thian pasang kuping di dinding karang itu, selang sebentar baru berkata dengan tersenyum, “Kawanan mayat itu sekarang benar-benar sudah pergi semua.”

“Mayat?” Lenghou Tiong menegas dengan heran.

“Ya, mayat,” sahut Hiang Bun-thian. “Dalam waktu tiga tahun ke-678 orang itu akan menjadi mayat semua. Hm, selama hidup hanya Thian-ong Locu Hiang Bun-thian yang menguber orang dan tidak pernah dikejar orang, tapi sekali ini Locu telah melanggar kebiasaan itu, jika aku tidak membunuh mereka satu demi satu ke mana lagi mukaku ini harus ditaruh? Baik orang cing-pay maupun anggota Mo-kau yang ikut mengepung di sekitar gardu itu berjumlah 709 orang, kita sudah membunuh 31 orang sisanya masih 678 orang.”

“Betul 678 orang? Cara bagaimana engkau bisa mengenal mereka dengan jelas?” tanya Lenghou Tiong. “Dan dalam tiga tahun masakah engkau dapat membunuh orang sebanyak itu?”

“Apa susahnya?” jawab Hiang Bun-thian. “Asal aku bekuk kepalanya masakah buntutnya takkan terpegang? Di antara 678 orang itu sekarang kuingat betul 532 orang di antaranya, sisanya seratus lebih kelak tentu dapat kucari.”

Sungguh tidak kepalang heran Lenghou Tiong. Ketika di gardu itu tampaknya Hiang Bun-thian hanya acuh tak acuh saja, tapi setiap musuh ternyata sudah diingatnya dengan baik. Jelas bukan saja ilmu silatnya luar biasa, bahkan daya ingatnya juga lain daripada yang lain.

“Hiang-siansing,” kata Lenghou Tiong kemudian, “dalam tiga tahun engkau akan membunuh orang sebanyak itu, apakah perbuatan demikian tidak terlalu kejam? Seorang diri engkau telah membunuh beberapa puluh di antara mereka, nama kebesaranmu tentu sudah berkumandang ke seluruh dunia. Kukira orang-orang begitu tidak perlu dipikir lagi.”

“Hm, untung kau membantu aku, kalau tidak saat ini Hiang Bun-thian sudah dicacah mereka hingga hancur luluh. Bila sakit hati ini tidak kubalas, cara bagaimana aku dapat menjadi manusia lagi?”

Sampai di sini ia melototi Lenghou Tiong sejenak, lalu menyambung pula, “Kau adalah murid golongan cing-pay, sebaliknya orang she Hiang adalah iblis sia-pay, kita tidak sama golongan. Kau telah menolong jiwaku, budi ini tentu saja kuingat dengan baik. Tapi kalau kau lantas hendak menyuruh aku jangan begini dan jangan begitu, hm, tidak nanti aku mau menurut. Pendek kata ke-678 orang itu tetap harus kubunuh.”

Lenghou Tiong bergerak tertawa katanya, “Hiang-siansing, hanya secara kebetulan saja aku bertemu denganmu dan bersama melabrak kawanan pengeroyok itu, jika aku tidak sampai mati saja sudah untung masakah Hiang-siansing bilang aku menolong jiwamu segala? Hah, benar-benar … benar-benar ….”

“Benar-benar ngaco-belo bukan?” sambung Hiang Bun-thian.

“Wanpwe tidak berani menganggap menolong jiwamu inilah yang tidak tepat.”

“Apa yang pernah dikatakan orang she Hiang selamanya tak pernah kujilat kembali. Sekali aku mengatakan kau telah menolong jiwaku maka tetap aku utang budi padamu.”

Lenghou Tiong tahu tabiat Hiang Bun-thian sangat kepala batu maka ia hanya tertawa saja tanpa mendebatnya pula.

“Apakah kau tahu sebab apa kawanan anjing itu sudah pergi lalu datang kembali?” tanya Hiang Bun-thian.

“Wanpwe justru ingin mohon keterangan,” sahut Lenghou Tiong.

“Ah, kau selalu sebut wanpwe, cianpwe, siansing apa segala, aku merasa bosan,” ujar Hiang Bun-thian. “Aku adalah Kong-beng-sucia dari Mo-kau, orang seagama sama memanggil aku Hiang-yusu. Tapi kau bukan anggota Mo-kau kami maka tidak dapat memanggil demikian padaku. Sudahlah kau panggil aku Hiang-heng (kakak) saja dan aku panggil adik padamu.”

“Ah, Wanpwe tidak berani,” sahut Lenghou Tiong.

“Kembali Wanpwe lagi,” bentak Hiang Bun-thian dengan gusar. “Baiklah, tentu kau pandang hina padaku lantaran aku adalah orang Mo-kau. Kau telah menyelamatkan jiwaku padahal jiwaku ini bukan soal bagiku. Sebaliknya kau menghina aku, untuk ini marilah kita coba berkelahi dulu.”

“Berkelahi sih tidak perlu, jika Hiang-heng suka ya Siaute akan menurut saja memanggil demikian padamu,” jawab Lenghou Tiong.

Diam-diam ia berpikir dengan Dian Pek-kong saja yang merupakan penjahat besar juga pernah mengikat persahabatan karib apa artinya sekarang jika bertambah seorang Hiang Bun-thian? Lagi pula orang ini sangat gagah perwira boleh dikata seorang jantan sejati, justru tokoh demikianlah yang paling kusukai.

Karena itu segera ia memberi hormat, katanya “Hiang-heng, terimalah hormat adik ini.”

“Hahahaha!” Hiang Bun-thian tertawa. “Di seluruh dunia hanya dikau seorang saja yang berkakak-adik denganku. Nah, ingatlah dengan baik adikku!”

Biasanya kalau dua orang mengangkat saudara, maka sedikitnya harus bersumpah dan mengadakan sedikit upacara. Tapi dasar mereka berdua memang orang yang tidak kenal ikatan adat segala. Yang penting mereka merasa cocok satu sama yang lain, sekali bilang saudara, maka jadilah saudara.

Sejak kecil Hiang Bun-thian sudah biasa pergi-datang sendirian dengan bebas, sekarang dia mengangkat seorang adik, sudah tentu hatinya sangat gembira. Katanya kemudian, “Sayang di sini tidak ada arak, kalau ada entah betapa puasnya bila kita minum sepuluh atau seratus cawan.”

“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Saat ini kerongkongan adik sudah merasa gatal. Sekali kakak menyebut arak aku tambah mengiler lagi.”

“Kawanan kura-kura itu belum terlalu jauh perginya, rasanya kita terpaksa harus mengeram di sini untuk dua-tiga hari lagi,” kata Hiang Bun-thian sambil menuding ke atas. “Adik cilik, ketika si hidung kerbau (istilah olok-olok kaum tosu) itu menyerangmu dengan lwekang, aku pun membantu dengan tenaga dalam, apa yang kau rasakan tatkala itu?”

“Rasanya kakak seperti menarik tenaga tojin itu ke bawah,” sahut Lenghou Tiong.

“Tepat,” seru Hiang Bun-thian dengan senang sambil tepuk paha. “Agaknya kau memang sangat cerdas. Kepandaianku ini adalah ciptaanku sendiri secara tidak sengaja dan tiada seorang Bu-lim pun yang mengetahui. Aku telah memberi nama ilmuku ini sebagai ‘Gip-kang-cip-te-siau-hoat’ (Ilmu Kecil Mengisap Tenaga ke Dalam Tanah).

“Sebenarnya kepandaianku ini laksana si kerdil dibandingkan raksasa jika diukur dengan ‘Gip-sing-tay-hoat’ (Ilmu Besar Pengisap Bintang) yang sangat ditakuti oleh setiap orang Bu-lim itu,” tutur Hiang Bun-thian pula. “Sebab itulah aku memberi nama ’siau-hoat’ (ilmu kecil) saja. Kepandaianku ini sebenarnya cuma permainan akal saja, dengan cara menarik tenaga lawan dan disalurkan ke dalam tanah supaya tenaga musuh itu tidak mampu mencelakai kita. Tapi hasilnya juga tiada manfaatnya bagi kita sendiri. Pula ilmu ini hanya dapat digunakan tatkala musuh menyerang dan tidak dapat digunakan untuk menyerang musuh.

“Soalnya ketika musuh merasakan tenaga dalam yang dia kerahkan merembes keluar dan lenyap, tentu saja dia kaget dan takut. Tapi selang tidak lama tenaganya juga akan pulih kembali. Dari itu kuduga sesudah hidung kerbau Bu-tong-pay itu pulih tenaganya, segera ia akan mengetahui bahwa kepandaianku mengisap tenaganya itu cuma permainan menggertak belaka dan tidak perlu ditakuti sebenarnya. Biasa kakakmu ini tidak menyukai permainan akal-akalan dan menipu, sebab itulah sebelumnya tidak pernah kugunakan.”

“Thian-ong Locu biasanya tidak kenal lari, selamanya tidak pernah menipu orang, tapi kini demi menyelamatkan Siaute, kedua kebiasaan itu terlanggar semua,” ujar Lenghou Tiong tertawa.

“Hehe, juga belum tentu bahwa selamanya aku tidak menipu orang,” ujar Hiang Bun-thian tertawa. “Cuma terhadap keroco seperti Siong-ti dari Bu-tong-pay itu rasanya kakakmu tidak sudi untuk menipunya.”

Dia merandek sejenak lalu, katanya lagi dengan tertawa, “Kau sendiri harus hati-hati adik cilik, bisa jadi pada suatu ketika kakak akan menipumu.”

Begitulah kedua orang lantas bergelak tertawa. Cuma khawatir didengar oleh musuh di atas, maka mereka menahan suara mereka selirihnya.

Sementara itu mereka merasakan perut sudah sangat lapar, di dasar lembah itu hanya penuh rumput dan lumut belaka, lain tidak ada. Terpaksa mereka duduk bersandar batu dan pejamkan mata mengumpulkan semangat.

Lenghou Tiong sudah teramat lelah, maka tidak lama kemudian ia sudah terpulas. Dalam mimpinya tiba-tiba melihat Ing-ing, membawa tiga ekor kodok panggang dan diserahkan padanya sambil menyapa, “Apakah kau telah lupa padaku?”

“Tidak, tidak lupa,” seru Lenghou Tiong. “Kau … kau hendak ke mana?”

Baru selesai ucapannya, mendadak bayangan Ing-ing sudah menghilang. Ia berteriak-teriak lagi, “Jangan pergi, engkau jangan pergi! Aku ingin bicara padamu!”

Tapi ia telah dipapak oleh macam-macam senjata, ia menjerit kaget dan terjaga bangun. Terdengar suara Hiang Bun-thian sedang bicara dengan tertawa, “Kau mimpi ketemu kekasihmu bukan? Banyak sekali yang hendak kau bicarakan padanya?”

Muka Lenghou Tiong menjadi merah, ia tidak tahu igauan apa yang telah didengarnya oleh Hiang Bun-thian dalam mimpinya tadi.

“Adik cilik, kau hendak mencari kekasihmu paling tidak kau harus menyembuhkan dahulu penyakitmu,” kata Hiang Bun-thian.

“Aku … aku tidak punya kekasih,” sahut Lenghou Tiong. “Pula penyakitku ini terang tak bisa disembuhkan.”

“Aku telah utang jiwa padamu, meski sudah angkat saudara betapa pun aku tetap merasa tidak enak dan harus kubayar kembali satu jiwa padamu. Aku akan membawamu ke suatu tempat dan tentu akan dapat menyembuhkan penyakitmu.”

Walaupun Lenghou Tiong sudah tidak memikirkan mati-hidup sendiri tapi soalnya memang tidak berdaya sehingga terpaksa pasrah nasib. Dari dulu hingga sekarang kecuali orang yang memang ingin bunuh diri kalau tidak asalkan ada harapan untuk hidup setiap orang juga pasti akan berusaha sebisanya untuk mempertahankan hidupnya. Sekarang didengarnya Hiang Bun-thian menyatakan penyakitnya akan dapat disembuhkan, jika orang lain yang bilang mungkin sukar dipercaya.

Namun Hiang Bun-thian memang lain daripada yang lain, betapa tinggi ilmu silatnya kecuali Hong Jing-yang boleh dikata belum pernah dilihatnya selama hidup ini, apa yang dikatakan sudah tentu ada dasarnya, maka dari lubuk hati Lenghou Tiong seketika timbul sepercik harapan yang menggirangkan. Katanya, “Aku … aku ….” tiba-tiba ia tidak sanggup meneruskan ucapannya.

Dalam pada itu bulan sabit telah mengintip di tengah cakrawala, sinarnya yang jernih memenuhi bumi, meski di dasar lembah itu rasanya masih seram, tapi dalam pandangan Lenghou Tiong sekarang laksana cahaya matahari yang menyilaukan mata.

“Marilah kita pergi mencari seorang,” ajak Hiang Bun-thian. “Tabiat orang ini sangat aneh jangan sampai dia tahu akan urusan ini. Untuk itu, adik cilik, jika kau percaya padaku hendaknya segala apa kau serahkan saja padaku, kau sendiri tidak perlu ikut campur.”

“Masakah aku tidak percaya?” sahut Lenghou Tiong. “Koko hendak berusaha menyembuhkan penyakitku hal ini sebenarnya tipis sekali harapannya. Jika bisa sembuh sudah tentu kita akan bersyukur tapi kalau tak bisa sembuh juga sudah dalam dugaan.”

“Sialan, paha kuda-kuda itu ketinggalan di sana, sekarang ke mana harus mencari makanan,” tiba-tiba Hiang Bun-thian berkata sambil menjilat-jilat bibir. “Sudahlah, terpaksa kita harus mencari jalan keluar dari sini. Aku akan coba mengubah dulu mukamu.”

Lalu ia meraup segenggam tanah liat di dasar lembah itu dan dipoles muka Lenghou Tiong, kemudian ia mengusap dagu sendiri, di mana tiba tenaga saktinya seketika janggutnya rontok semua, habis itu kedua tangan lantas meremas-remas pula kepala sendiri, dalam sekejap saja seluruh rambutnya yang sudah beruban pun rontok bersih sehingga kepalanya menjadi gundul kelimis.

Melihat dalam waktu sekejap saja wajah Hiang Bun-thian sudah berubah begitu rupa, Lenghou Tiong merasa geli dan sangat kagum pula.

Lalu Hiang Bun-thian meraup segenggam lempung lagi untuk menambal hidung sendiri sehingga tambah besar, kedua pipi juga dibikin gemuk. Sekarang biarpun muka bertemu muka, kawan sendiri pun sukar mengenalnya lagi.

Begitulah mereka lantas mencari jalan untuk keluar dari lembah jurang itu. Hiang Bun-thian menyembunyikan kedua tangannya di dalam lengan baju yang longgar untuk menutupi rantai yang mengikat pergelangan tangannya. Asalkan tidak angkat tangan tentu tidak ada orang tahu bahwa si gundul gemuk inilah Thian-ong Locu Hiang Bun-thian yang gagah perkasa itu.

Setelah menyusur kian kemari di tengah lembah itu, sampai tengah hari mereka menemukan satu pohon tho di suatu tanjakan. Meski buah tho itu masih hijau dan rasanya masih sepat, tapi saking laparnya mereka pun tidak banyak pikir lagi, segera mereka lalap buah itu sekenyangnya.

Sesudah mengaso sebentar, kemudian mereka maju lagi ke depan. Menjelang petang, akhirnya Hiang Bun-thian berhasil menemukan suatu tempat keluar. Cuma untuk itu harus dilintasi dulu suatu dinding tebing yang curam dan beberapa puluh meter tingginya. Dengan menggendong Lenghou Tiong, dengan susah payah akhirnya mereka dapat memanjat ke atas.

Di atas tebing curam itu adalah sebuah jalan berlingkar dengan rumput alang-alang lebar di kanan kiri, walaupun suasana sangat sunyi tapi sudah jauh lebih aman daripada berada di dasar lembah yang curam itu.

Esok paginya mereka terus menuju ke jurusan timur. Sampai di suatu kota Hiang Bun-thian mengeluarkan satu biji emas dan suruh Lenghou Tiong pergi menukar uang perak di suatu perusahaan penukaran uang. Habis itu mereka mencari hotel untuk menginap.

Hiang Bun-thian pesan daharan dengan satu guci arak. Kedua orang lantas makan minum sepuasnya, akhirnya sama-sama mabuk. Sampai esok pagi sang surya sudah meninggi barulah mereka mendusin. Kedua orang saling pandang dengan tertawa, mereka merasa seperti hidup di dunia baru bila teringat kepada pertarungan sengit di tengah gardu beberapa hari yang lalu.

“Kau tunggu di sini, adik cilik, aku akan keluar sebentar,” kata Hiang Bun-thian.

Katanya sebentar tapi sampai dua-tiga jam baru tampak dia pulang dengan membawa beberapa bungkus barang. Rantai di tangannya sudah lenyap, mungkin telah menyuruh pandai besi untuk menanggalkannya.

Waktu Hiang Bun-thian membuka bungkusannya, kiranya isinya adalah baju yang bagus-bagus dan mewah katanya, “Kita berdua harus menyamar sebagai saudagar besar, semakin royal tampaknya semakin baik.”

Segera mereka berganti pakaian serbabaru gres. Waktu keluar hotel, pelayan sudah menyiapkan dua ekor kuda pilihan dengan pelana yang mengilap, terang itu pun Hiang Bun-thian yang membelinya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda. Beberapa hari kemudian, Lenghou Tiong terlalu lelah menunggang kuda, Hiang Bun-thian lantas menyewa sebuah kereta besar baginya. Sampai di tepi Kanal Un-ho mereka lantas meninggalkan kereta dan berganti menumpang kapal menuju ke selatan.

Sepanjang jalan Hiang Bun-thian berlaku royal sekali, buang uang tanpa takaran seakan-akan biji emas yang dia bawa tidak habis-habis.

Sampai di wilayah Provinsi Kangsoh, sesudah melintasi Tiangkang, kota di sekitar lembah Un-ho tampak sangat makmur dan ramai. Pakaian yang dibeli Hiang Bun-thian juga semakin mewah. Lenghou Tiong tidak ambil pusing, ia menurut segala apa yang diatur Hiang Bun-thian.

Bila iseng mereka lantas mengobrol macam-macam kejadian menarik di dunia Kangouw. Agaknya Hiang Bun-thian memang sangat luas pengetahuannya, daya ingatnya juga luar biasa. Bukan saja tokoh-tokoh ternama dunia persilatan hampir semua diketahuinya, bahkan jago kelas dua seperti anak murid Hoa-san-pay sebangsa Lo Tek-nau, Si Cay-cu, dan lain-lain juga tahu, malahan betapa tinggi kepandaian mereka dan asal usulnya juga diketahuinya dengan baik. Keruan Lenghou Tiong terkesima kagum.

Suatu hari, mereka hampir sampai di Hangciu. Mereka lantas ganti perjalanan melalui darat. Mereka beli lagi dua ekor kuda dan masuk ke Kota Hangciu dengan menunggang kuda.

Hangciu pernah menjadi kota raja pada Dinasti Song Selatan dengan nama Lim-an dan memang suatu kota pelesir yang indah menarik, orang berlalu-lalang ramai, di mana-mana terdengar suara musik yang merdu.

Akhirnya Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong sampai di tepi Se-ouw (Danau Barat) yang terkenal sangat indah pemandangannya. Air danau itu tampak tenang jernih laksana cermin, pohon liu tumbuh lebat melambai hampir menyentuh air danau, sungguh seakan-akan berada di surgaloka rasanya.

Lenghou Tiong berkata dengan gegetun, “Orang sering mengatakan bahwa di langit ada surga, di bumi ada Kota Sohciu dan Hangciu. Belum pernah kukenal kedua kota ini dan entah bagaimana tempatnya, tapi hari ini aku telah menikmati sendiri Se-ouw ini, ternyata pujian yang menyamakannya dengan surga memang bukan omong kosong belaka.”

Hiang Bun-thian hanya tertawa. Ia larikan kudanya menuju suatu tempat. Tempat itu terbendung oleh suatu tanggul yang panjang di sebelah danau, suasananya tenang sunyi.

Mereka turun dari kuda dan menambat binatang tunggangan itu di batang pohon liu di tepi danau. Lalu berjalan mengikuti undak-undakan batu yang menuju ke atas bukit.

Hiang Bun-thian seperti sudah kenal baik tempat itu. Sesudah membelok beberapa tikungan, terlihat di depan penuh pohon bwe, hutan bwe itu tumbuh dengan subur. Dapat dibayangkan pemandangan tempat ini tentu sangat bagus tatkala bunga bwe mekar di musim semi.

Setelah menyusuri hutan bwe yang luas itu sampailah mereka di suatu jalan besar terbuat dari balok-balok batu hijau. Akhirnya mereka sampai di suatu kompleks perumahan yang berpagar tembok putih dan berpintu gerbang cat merah. Waktu dekat, terlihat di atas pintu gerbang itu tertulis dua huruf besar yang berbunyi, “Bwe-cheng” (Perkampungan Bwe). Di tepinya dibubuhi “Lu Un-bun”.

Lenghou Tiong tidak banyak sekolah sehingga tidak tahu bahwa Lu Un-bun adalah seorang perwira berjasa pada zaman Song Selatan yang ikut melawan sebuah Kerajaan Chim. Yang ia rasakan hanya beberapa tulisan itu tampaknya rada indah dan kuat.

Hiang Bun-thian mendekati pintu yang terdapat dua buah gelang tembaga yang tergosok hingga mengilap, ia pegang gelangan tembaga itu dan baru saja hendak menggedor, tiba-tiba teringat sesuatu, ia menoleh dan membisiki Lenghou Tiong, “Segala apa menurut saja padaku.”

Lenghou Tiong mengangguk, katanya di dalam hati, “Perkampungan ini terang adalah kediaman kaum saudagar besar Kota Hangciu ini, apakah mungkin penghuninya adalah seorang tabib sakti?”

Terdengar Hiang Bun-thian menggedor pintu empat kali dengan gelang tembaga tadi, ia berhenti sejenak, lalu mengetuk dua kali, berhenti lagi dan mengetuk lima kali pula, berhenti kemudian ketuk tiga kali, habis itu barulah ia melangkah mundur.

Selang tak lama, perlahan pintu terbuka dan muncul dua orang tua yang berdandan sebagai kaum hamba.

Melihat kedua orang itu, Lenghou Tiong terperanjat. Sinar mata kedua orang itu sangat tajam, pelipis mereka menonjol, langkahnya kuat, terang adalah dua jago silat yang memiliki lwekang tinggi, mengapa tokoh demikian mau menjadi kaum hamba yang rendah begini? Maka seorang di antaranya telah membungkuk tubuh dan menyapa. “Entah ada keperluan apakah kunjungan Tuan-tuan ke tempat kami ini?”

Segera Hiang Bun-thian menjawab, “Murid Ko-san dan Hoa-san ada sesuatu urusan mohon bertemu dengan Kanglam-si-yu (Empat Sekawan dari Kanglam), keempat Locianpwe.”

“Majikan selamanya tidak terima tamu,” sahut orang tua tadi. Habis itu ia bermaksud menutup kembali pintunya.

Cepat Hiang Bun-thian mengeluarkan sesuatu dan dibentang. Kembali Lenghou Tiong terkejut. Ternyata benda yang dibentang Hiang Bun-thian itu adalah sebuah panji pancawarna, di atasnya banyak terhias mutiara mestika dan batu permata.

Dahulu Lenghou Tiong pernah melihat panji lima warna itu di rumah Lau Cing-hong di Kota Heng-san, diketahuinya panji ini adalah panji kebesaran Co-bengcu, ketua Ko-san-pay yang menjabat pula ketua serikat Ngo-gak-kiam-pay. Di mana panji pancawarna ini ditunjukkan laksana Co-bengcu sendiri yang datang, setiap orang dari Ngo-gak-kiam-pay harus tunduk kepada perintah orang yang membawa panji kebesaran itu.

Lamat-lamat Lenghou Tiong merasa urusan rada ganjil, ia dapat menduga cara Hiang Bun-thian memperoleh panji itu pasti tidak beres, bukan mustahil dirampasnya dari tokoh Ko-san-pay dengan kekerasan, sekarang dia sendiri mengaku sebagai murid Ko-san-pay, entah apa maksud tujuannya? Cuma dirinya tadi sudah berjanji akan menurut segala apa yang diatur oleh Hiang Bun-thian maka terpaksa ia diam saja menantikan perkembangan selanjutnya.

Rada berubah juga air muka kedua orang tua itu demi melihat panji lima warna, kata mereka berbareng, “Panji kebesaran Co-bengcu dari Ko-san-pay.”

“Benar,” sahut Hiang Bun-thian.

Segera orang tua yang kedua berkata, “Selamanya Kanglam-si-yu tiada hubungan dengan Ngo-gak-kiam-pay, biarpun Co-bengcu sendiri yang datang juga majikan kami belum tentu mau … belum tentu mau, hehe ….”

Ia tidak meneruskan ucapannya, tapi jelas maksudnya bahwa sekalipun Co-bengcu datang sendiri juga majikannya belum tentu mau menerimanya. Hanya saja Co-bengcu dari Ko-san-pay memang tinggi kedudukannya dan namanya disegani, maka hamba tua itu tidak berani sembarangan mengolok-olok. Namun jelas di balik kata-katanya tadi ia anggap kedudukan “Kanglam-si-yu” masih jauh lebih tinggi daripada Co-bengcu.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Macam apakah tokoh ‘Kanglam-si-yu’ itu? Jika begitu hebat pengaruhnya di dunia persilatan mengapa selamanya suhu dan sunio tidak pernah bercerita tentang mereka? Selama aku berkelana di Kangouw juga belum pernah kudengar adanya orang kosen angkatan tua yang bernama ‘Kanglam-si-yu’ segala.”

Dalam pada itu Hiang Bun-thian hanya tersenyum saja, ia gulung kembali panji pancawarna itu dan disimpan ke dalam baju. Lalu katanya, “Panji Co-sutit ini bukan untuk dipakai menakuti orang. Padahal tokoh macam apakah Kanglam-si-yu keempat Cianpwe, rasanya panji ini pun tak dipandang sebelah mata ….”

“Aneh, mengapa kau sebut ‘Co-sutit’ (murid keponakan Co)? Jadi kau sengaja memalsukan dirimu sebagai paman guru Co-bengcu. Wah, semakin tidak beres ini,” demikian Lenghou Tiong menimbang di dalam hati.

Terdengar Hiang Bun-thian sedang melanjutkan, “Cuma aku sendiri selama ini tidak punya jodoh untuk menjumpai Kanglam keempat Cianpwe, maka panji yang kubawa ini hanya sekadar sebagai tanda pengenal saja, lain tidak.”

“Oo,” kedua hamba tua itu sama bersuara. Nada ucapan Hiang Bun-thian itu telah menjunjung sangat tinggi kedudukan Kanglam-si-yu, maka air muka mereka segera berubah ramah.

“Jadi Tuan ini adalah Susiok Co-bengcu?” seorang di antaranya menegas.

Kembali Hiang Bun-thian tertawa, jawabnya, “Benar, Cayhe adalah bu-beng-siau-cut (orang tak terkenal, keroco) di dunia persilatan sudah tentu kalian berdua tidak kenal diriku. Tapi tentang dahulu Ting-heng sekali pukul merobohkan Ki-lian-si-pa (Empat Gembong Pegunungan Ki-lian) dan Si-heng menolong anak piatu di daerah Oupak dengan sebilah golok Ci-kim-to telah membikin kocar-kacir 13 benggolan Jing-liong-pay (Gerombolan Naga). Kejadian-kejadian yang mengagumkan itu sampai sekarang Cayhe masih ingat semua”

Kedua orang tua berdandan sebagai kaum hamba itu memang seorang she Ting dan yang lain she Si. Sebelum mengasingkan diri di Bwe-cheng mereka terhitung tokoh setengah baik dan setengah jahat yang disegani dunia persilatan.

Mereka mempunyai sifat yang sama yaitu sehabis berbuat sesuatu jarang sekali meninggalkan nama, sebab itulah meski ilmu silat mereka sangat tinggi tapi nama mereka sedikit dikenal. Kedua peristiwa yang disebut Hiang Bun-thian tadi justru adalah perbuatan yang membanggakan bagi mereka. Dengan sendirinya air muka mereka menampilkan perasaan senang atas pujian Hiang Bun-thian.

Orang she Ting itu bernama Kian, dengan tersenyum ia berkata, “Ah, hanya urusan kecil saja buat apa mesti diungkat-ungkat. Pengetahuan Tuan tampaknya luas sekali.”

“Di dunia persilatan tidak sedikit manusia yang punya nama kosong, sebaliknya jago-jago yang memiliki kepandaian sejati justru tidak suka namanya tersiar meski telah berbuat sesuatu yang mulia, hal inilah yang harus dipuji,” demikian kata Hiang Bun-thian. “Cayhe sudah lama mengagumi ‘It-ji-tian-kiam’ (Pedang Kilat Satu Garis) Ting-toako dan ‘Pat-hong-hong-uh’ (Hujan Angin dari Delapan Penjuru) Si-jiko. Maka pada waktu kudengar Co-sutit ada urusan yang harus dimintakan nasihat dari Kanglam-si-yu, meski aku sudah lama mengasingkan diri, tapi segera aku mengajukan diri untuk menyanggupi perjalanan ke sini, sebab kupikir sekalipun Kanglam-si-yu belum tentu dapat ditemui, namun sudah cukup kiranya bilamana dapat berkenalan dengan Ting-toako dan Si-jiko berdua. Menurut Co-sutit, jika dia datang sendiri mungkin sekali keempat Cianpwe tidak sudi menerimanya, sebab paling akhir ini namanya terlalu gempar di dunia Kangouw, ia khawatir para Cianpwe akan memandang hina padanya, sebaliknya Cayhe jarang keluar dan mungkin tidak sampai menjemukan para Cianpwe. Hahahaha!”

Mendengar Hiang Bun-thian mengumpak Kanglam-si-yu dan mereka berdua juga ikut dipuji tentu saja Ting Kian dan Si Leng-wi sangat senang dan ikut tertawa. Diam-diam di dalam hati Si Leng-wi sudah ambil keputusan akan melaporkan pada majikannya atas kedatangan Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: