Hina Kelana: Bab 63. Gip-sing-tay-hoat = Ilmu Mengisap Bintang

Setelah berlari-lari pula, tiba-tiba ia ingat suatu tempat yang baik, ia menjadi girang. Tapi lantas terpikir olehnya, “Untuk pergi ke sana jaraknya terlalu jauh, entah aku kuat lari sampai di sana atau tidak? Tapi tidak menjadi soal. Jika aku tidak kuat, kawanan kura-kura itu lebih-lebih tidak kuat.”

Ia menengadah memandang sang surya dan membedakan arah, segera ia membelok dan melintasi sawah ladang terus lari ke jurusan timur laut sana.

Kira-kira belasan li jauhnya, kembali ia sampai di jalan besar. Tiba-tiba ada tiga penunggang kuda membalap lewat di sebelahnya.

“Persetan!” maki Hiang Bun-thian, segera ia menyusul dengan cepat.

Sampai di belakang kuda itu, sekali loncat ke udara, sekali tendang ia depak seorang penunggang itu hingga terjungkal, menyusul ia lantas hinggap di punggung kuda rampasan itu. Ia taruh Lenghou Tiong di atas pelana, waktu rantainya diayun ke depan, kedua penunggang kuda yang lain dihantam jatuh semua.

Ketiga orang itu adalah rakyat jelata dan bukan orang persilatan, mereka hanya sial ketemu malaikat maut dan tanpa sebab jiwa mereka telah melayang.

Meski penunggangnya sudah jatuh, tapi kedua ekor kuda itu masih terus lari ke depan, segera Hiang Bun-thian ayun rantainya untuk membelit tali kendali.

Rantai besinya seakan-akan benda hidup saja dalam permainan Hiang Bun-thian sehingga dia seakan-akan memiliki lengan yang mahapanjang. Namun diam-diam Lenghou Tiong merasa gegetun juga menyaksikan cara Hiang Bun-thian sembarangan membunuh orang tak berdosa.

Sebaliknya Hiang Bun-thian tampak sangat senang dan bersemangat setelah berhasil merampas tiga ekor kuda, ia menengadah dan bergelak tertawa. Katanya demikian, “Adik cilik, kawanan celurut itu tidak mampu menyusul kita lagi.”

Lenghou Tiong tersenyum hambar, sahutnya, “Hari ini tidak mampu, jangan-jangan besok akan dapat menyusul kita.”

“Persetan, biar mereka menyusul kemari dan akan kubunuh bersih mereka,” demikian Hiang Bun-thian mengumpat.

Ia larikan kuda itu dengan cepat, belasan li kemudian ia membelok ke suatu jalan pegunungan yang menuju ke arah timur laut, lereng gunung semakin tinggi dan akhirnya jalan itu tak bisa dilalui kuda lagi.

“Kau lapar tidak?” Hiang Bun-thian.

“Apakah kau membekal ransum?” sahut Lenghou Tiong.

“Tidak bawa apa-apa, kita minum darah kuda,” kata Hiang Bun-thian sambil melompat turun. Ketika kelima jarinya menusuk bagian leher kuda seketika leher kuda itu bolong dan darah mengucur dengan derasnya.

Kuda itu meringkik kesakitan, mestinya hendak berjingkrak berdiri dengan kaki belakang, tapi dengan sebelah tangan Hiang Bun-thian telah menahan punggung kuda laksana gunung beratnya, sedikit pun kuda itu tidak dapat berkutik.

Mulut Hiang Bun-thian lantas mencucup darah yang mengalir dari lubang leher kuda, setelah minum beberapa ceguk, lalu katanya kepada Lenghou Tiong, “Minumlah!”

Sudah tentu Lenghou Tiong merasa muak dan ngeri.

“Jika tidak minum darah kuda dari mana ada tenaga untuk bertempur lagi?” kata Hiang Bun-thian.

“Masih mau bertempur lagi?” Lenghou Tiong menegas.

“Apakah kau takut?”

Seketika timbul jiwa Lenghou Tiong yang tidak takut mati, ia tertawa dan balas tanya, “Kau kira aku takut atau tidak?”

Habis itu tanpa pikir lagi ia pun mencucup darah kuda itu dengan mulutnya. Ia merasa darah kuda itu seakan-akan membanjir sendiri ke dalam kerongkongannya dan segera terhirup ke dalam perut.

Mula-mula darah kuda itu memang terang anyir baunya, tapi sesudah menghirup beberapa ceguk bau anyir pun tidak terasa lagi. Lenghou Tiong terus minum sampai perutnya terasa kembung barulah berhenti.

Menyusul Hiang Bun-thian lantas menghirup lagi darah kuda itu sekenyang-kenyangnya, akhirnya kuda itulah yang tidak tahan dan roboh terkulai. Sekali ayun kakinya Hiang Bun-thian mendepak kuda itu ke dalam jurang.

Melengak juga Lenghou Tiong menyaksikan hal itu. Badan kuda itu sedikitnya ada enam-tujuh ratus kati, tapi sekali depak sekenanya saja Hiang Bun-thian menendang kuda itu ke dalam jurang. Menyusul Hiang Bun-thian menendang kuda kedua ke dalam jurang, sekali putar tubuh tangannya memukul, “cret”, seperti golok tajamnya sebelah kaki belakang kuda ketiga itu kena dipotong oleh telapak tangannya. Menyusul kaki kuda yang sebelah dipotongnya lagi.

Kuda itu meringkik ngeri, Hiang Bun-thian menambahi sekali tendang dan terjungkal juga kuda itu ke dalam jurang sambil mengumandangkan suara ringkik yang panjang menyeramkan.

“Sebelah paha kuda ini untukmu,” kata Hiang Bun-thian kemudian. “Makanlah secara hemat dan cukup untuk ransum selama sepuluh hari.”

Baru sekarang Lenghou Tiong paham maksud Hiang Bun-thian memotong paha kuda, kiranya hendak digunakan sebagai makanan, jadi perbuatannya ini tidak dapat digolongkan kejam. Segera ia menurut dan ambil sebelah paha kuda itu.

Lenghou Tiong ikut dari belakang ketika melihat Hiang Bun-thian berjalan menuju ke atas lereng gunung sambil membawa paha kudanya.

Hiang Bun-thian sengaja memperlambat langkahnya agar dapat diikuti Lenghou Tiong, tapi lantaran tenaga dalam Lenghou Tiong sudah punah, belum ada setengah li jauhnya dia sudah ketinggalan jauh di belakang. Waktu ia memburu sekuatnya, napasnya lantas megap-megap dan pucat.

“Adik cilik,” kata Hiang Bun-thian, “kau ini memang aneh, begitu lemah kau punya tenaga dalam, tapi sedikit pun kau tidak cedera meski terkena pukulan Thi-im-yang-jiu yang dahsyat dari keparat Ko-san-pay tadi. Sungguh aku tidak habis mengerti keadaan dirimu.”

“Ah, masa? Justru aku merasa isi perutku terguncang jungkir balik tak keruan, entah berapa puluh macam luka dalam yang telah kuderita. Memangnya aku pun merasa heran mengapa sampai saat ini aku belum mampus. Tapi bukan mustahil setiap detik aku bisa roboh untuk tidak bangun lagi.”

“Jika begitu marilah kita mengaso dulu,” ujar Hiang Bun-thian.

Sebenarnya Lenghou Tiong bermaksud menerangkan tentang jiwa sendiri yang tinggal menunggu ajal dan minta dia menyelamatkan diri sendiri saja. Tapi lantas terpikir pula bahwa orang she Hiang ini sangat gagah perwira, dia pasti tidak mau meninggalkan dirinya untuk mencari selamat sendiri. Mungkin bila ditemukan pikiran itu malahan akan dianggap menghinanya.

Dalam pada itu Hiang Bun-thian sudah mengambil tempat duduk di tepi jalan, katanya pula, “Adik cilik, cara bagaimana kau bisa kehilangan tenaga dalam?”

Lenghou Tiong tersenyum, katanya, “Kejadian ini terlalu menggelikan kalau diceritakan.”

Lalu ia pun menuturkan pengalamannya sejak terluka, tentang Tho-kok-lak-sian hendak menyembuhkan lukanya, tapi malah tak keruan jadinya, kemudian Put-kay Hwesio mencurahkan dua macam hawa murni lagi sehingga membikin keadaannya tambah runyam.

Hiang Bun-thian terbahak-bahak geli mendengar cerita aneh itu, sebegitu keras suara tertawanya sehingga menggeletar lembah pegunungan itu. Katanya, “Kejadian aneh demikian baru untuk pertama kalinya kudengar sekarang. Hahahaha!”

Di tengah gema suara tawanya itu tiba-tiba dari jauh berkumandang bentaknya seorang, “Hiang-yusu, tidak mungkin engkau bisa lolos. Lebih baik ikut kami saja menghadap Kaucu!”

Namun Hiang Bun-thian tidak ambil pusing, ia tetap bergelak tertawa. Katanya, “Haha, sungguh menggelikan, Tho-kok-lak-sian dan Put-kay Hwesio benar-benar orang-orang tolol nomor satu di dunia ini!”

Dan setelah tertawa beberapa kali mendadak air mukanya menjadi guram, ia memaki, “Bedebah, kawanan kura-kura itu sudah menyusul tiba pula!”

Segera ia pondong Lenghou Tiong terus dibawa lari secepatnya tanpa memikirkan paha kuda yang ketinggalan itu.

Begitu cepat cara lari Hiang Bun-thian sehingga Lenghou Tiong merasa dirinya seperti dibawa melayang di udara, keadaan sekitarnya menjadi putih remang-remang, rupanya mereka telah menyusup ke tengah-tengah kabut yang tebal.

“Sungguh sangat kebetulan,” diam-diam Lenghou Tiong berpikir. “Dalam keadaan demikian, beberapa ratus pengejar itu pasti tidak mampu mengerubut ke atas gunung ini, asal mereka satu per satu menerjang kemari, tentu aku dan Hiang-siansing ini sanggup membereskan mereka.”

Akan tetapi suara kawanan pengejar di belakang itu makin lama juga semakin dekat, jelas ginkang para pengejar itu pun sangat tinggi sekalipun masih kalah bila dibandingkan dengan Hiang Bun-thian. Namun Hiang Bun-thian memondong tubuh seorang dan sudah berlari sekian lamanya, mau tak mau larinya mulai kendur dan lambat.

Berlari sampai di suatu tempat pengkolan, di situlah Hiang Bun-thian menurunkan Lenghou Tiong, pesannya dengan suara tertahan, “Diam saja jangan bersuara.”

Begitulah mereka berdua berdiri mepet dinding gunung, sebentar kemudian lantas terdengar suara tindakan kaki orang banyak yang menyusul tiba.

Dua di antara pengejar itu lari paling cepat, di tengah kabut tebal itu mereka tidak tahu bahwa Hiang Bun-thian berdua sudah berhenti dan berdiri mepet dinding batu di situ, mereka baru mengetahui ketika sudah berada di depan Hiang Bun-thian.

Dalam kagetnya cepat mereka bermaksud putar balik, namun sudah terlambat, kedua telapak tangan Hiang Bun-thian telah menyodok ke depan, tepat lagi ganas. Tanpa bersuara sedikit pun kedua orang itu terbanting jatuh ke dalam jurang. Lewat agak lama baru terdengar dua kali suara “blak-bluk” di dasar jurang.

“Waktu kedua orang itu terjerumus ke dalam jurang sedikit pun mereka tidak mengeluarkan suara. Ya, tentu mereka sudah mampus lebih dulu terkena pukulan Hiang-siansing sebelum tergelincir ke jurang,” demikian pikir Lenghou Tiong.

“Hehehe,” Hiang Bun-thian tertawa mengejek. “Kedua bangsat itu biasanya suka berlagak, katanya ‘Tiam-jong-siang-kiam’, hawa pedang ke langit segala. Hehe, sesudah jatuh mampus di dalam jurang baru benar-benar bau bangkai mereka akan tersebar ke langit.”

Lenghou Tiong juga pernah mendengar nama “Tiam-jong-siang-kiam” (Dua Pedang dari Tiam-jong-san) yang tersohor karena ilmu pedangnya yang hebat. Siapa duga sekarang kedua jago terkenal itu telah binasa di dalam jurang tanpa mengetahui sebab musababnya, bahkan muka si pembunuh pun tidak sempat lihat.

“Dari sini ke Sian-jiu-kiap (Selat Dewa Sedih) masih ada belasan li jauhnya, setiba di mulut selat itu kita tak perlu gentar lagi kepada kawanan bangsat itu,” kata Hiang Bun-thian sembari memondong kembali Lenghou Tiong terus dibawa lari dengan cepat.

Sementara itu terdengar pula suara tindakan orang lari, kembali ada beberapa orang menyusul tiba lagi. Sekarang jalan pegunungan itu tidak bertepi jurang lagi sehingga Hiang Bun-thian tidak dapat menggunakan akal lama dengan main sembunyi mepet dinding dan menyergap musuh, terpaksa ia harus lari sekuatnya.

“Berrr”, terdengar sebuah senjata rahasia menyambar tiba dengan membawa suara desir yang keras, terang bobot senjata rahasia itu cukup berat.

Hiang Bun-thian menurunkan Lenghou Tiong ke tanah dan cepat membalik tubuh dan menangkap senjata rahasia itu, lalu memaki, “Keparat she Ho, untuk apa kau pun ikut-ikut menangguk dalam air keruh ini?”

Di tengah kabut tebal sana berkumandang suara seorang, “Kau membahayakan dunia persilatan, setiap orang boleh membunuh. Ini, terima lagi sebuah borku!”

Menyusul terdengar suara “barr-berr” yang ramai. Dia bilang sebuah bor, tapi yang dihamburkan sedikitnya ada tujuh-delapan buah.

Mendengar suara desir senjata rahasia yang keras dan lihai itu, diam-diam Lenghou Tiong bersedih, pikirnya, “Meski ilmu pedang ajaran Hong-thaysusiokco itu dapat mematahkan segala macam senjata rahasia, tapi hui-cui (bor terbang) yang disambitkan orang ini membawa tenaga sedemikian kuat, sekalipun pedangku dapat menyampuknya, tapi aku tidak bertenaga lagi, tentu pedangku akan patah terbentur.”

Dilihatnya Hiang Bun-thian telah pasang kuda-kuda dengan sikap rada tegang, tidak lagi acuh tak acuh seperti waktu dikepung orang banyak di tengah gardu. Ketika bor itu menyambar sampai di depannya lantas lenyap tanpa suara, mungkin telah ditangkapnya semua.

Sekonyong-konyong suara mendering menggema entah betapa banyak bor tajam ditaburkan sekaligus.

Lenghou Tiong kenal cara itu disebut “Boan-thian-hoa-uh” (Hujan Gerimis Memenuhi Langit), cara menghamburkan senjata rahasia demikian biasanya senjatanya rahasia yang digunakan adalah sebangsa kim-ci-piau (mata uang), thi-lian-ci (biji teratai besi), dan sebagainya yang berbentuk kecil. Tapi bor yang disambitkan orang ini dari suara mendesingnya itu dapat diduga setiap bijinya mempunyai bobot setengah atau satu kati beratnya, pada hakikatnya sukar dihamburkan sekaligus berpuluh biji berbareng.

Lantaran mendengar suara mendesing keras dan mengkhawatirkan sambaran bor tajam musuh itu dengan sendirinya Lenghou Tiong mendekam di atas tanah. Tapi lantas terdengar suara jeritan Hiang Bun-thian, rupanya terluka.

Keruan Lenghou Tiong terkejut, cepat ia melompat maju untuk mengadang di depannya dan bertanya dengan khawatir, “Hiang-siansing, apakah engkau terluka?”

“Aku … aku tidak sang … tidak sanggup lagi …. Lekas … lekas lari saja!” demikian jawab Hiang Bun-thian dengan terputus-putus.

“Tidak, mati atau hidup kita tetap bersama, tidak nanti Lenghou Tiong meninggalkanmu untuk menyelamatkan diri sendiri,” seru Lenghou Tiong.

Maka terdengarlah sorak gembira kawanan pengejar itu, “Hura! Hiang Bun-thian sudah terluka! Hiang Bun-thian sudah terkena bor terbang!”

Di tengah kabut tebal itu remang-remang kelihatan belasan sosok bayangan orang telah mendesak maju dan semakin mendekat. Pada saat itulah sekonyong-konyong Lenghou Tiong merasa serangkum angin keras melayang lewat di sisinya, terdengar Hiang Bun-thian bergelak tertawa, berbareng belasan orang di depannya beruntun-runtun roboh.

Kiranya tadi Hiang Bun-thian telah menangkap belasan buah hui-cui musuh dan pura-pura jatuh terluka untuk membikin lengah musuh lalu dengan cara “Boan-thian-hoa-uh” ia balas menaburkan hui-cui yang ditangkapnya itu.

Sebenarnya musuh pun tergolong jago kelas wahid yang berpengalaman dan mestinya tidak mudah masuk perangkapnya. Tapi pertama, mereka terganggu oleh kabut yang tebal. Kedua, suara Lenghou Tiong yang khawatir dan cemas tadi meyakinkan mereka bahwa Hiang Bun-thian benar-benar terluka, maka mereka menjadi tidak sangsi. Ketiga, mereka tidak menyangka bahwa Hiang Bun-thian juga mahir menaburkan senjata rahasia dengan cara “Boan-thian-hoa-uh”, sebab itulah belasan orang yang maju paling depan itu kena dimakan semua oleh hui-cui yang berat itu.

Habis itu segera Hiang Bun-thian memondong Lenghou Tiong dan dibawa lari lagi.

“Adik cilik, hebat sekali jiwa setia kawanmu,” pujinya terhadap sikap Lenghou Tiong yang tidak sudi melarikan diri tadi.

Biasanya Hiang Bun-thian tidak sembarangan memuji orang. Tapi sekarang pujian itu tercetus dari mulutnya, terang dia telah menganggap Lenghou Tiong sebagai teman yang paling karib.

Setelah lari dua-tiga li lagi, lambat laun musuh yang mengejar sudah mendekat lagi. Kembali terdengar suara mendesing-desing tiada hentinya. Tapi Hiang Bun-thian selalu dapat menghindarkan sambaran senjata rahasia itu dengan berkelit ke sana dan mengegos ke sini. Namun larinya menjadi semakin lambat juga.

Kira-kira berlari beberapa puluh meter lagi jauhnya, kembali ia menurunkan Lenghou Tiong katanya, “Biar aku pura-pura mati sekali lagi.”

“Tentunya mereka sudah kapok, masakah mau masuk perangkapmu pula?” demikian Lenghou Tiong membatin, cuma tidak diucapkannya.

Tak terduga Hiang Bun-thian mendadak menggertak keras-keras satu kali dan terus menerjang ke tengah musuh. Terdengar suara gedebukan beberapa kali, lalu Hiang Bun-thian berlari balik, tapi punggungnya sudah memanggul satu orang.

Kedua tangan orang itu telah diringkus oleh rantai yang masih mengikat pergelangan tangannya, dalam keadaan demikian ia memanggul tawanannya itu. Habis itu ia memondong kembali Lenghou Tiong terus lari pula ke depan. Katanya dengan tertawa, “Sekarang kita sudah mempunyai tameng penadah senjata rahasia!”

Keruan tawanannya berteriak-teriak, “Jangan lepas senjata rahasia! Jangan main senjata rahasia!”

Namun pengejar-pengejar itu tidak menggubris, senjata rahasia masih terus menyambar tiba tanpa berhenti.

“Aduuh!” sekonyong-konyong orang itu menjerit. Rupanya punggungnya terkena sebuah am-gi atau senjata rahasia kawan sendiri.

Dengan memanggul tameng hidup dan memondong pula Lenghou Tiong, Hiang Bun-thian masih dapat lari dengan sangat cepat.

Terdengar tawanan di punggung itu mencaci maki sekeras-kerasnya, “Ong It-jong, maknya disontik! Kau tidak pikirkan teman lagi, sudah tahu aku …. Aduh! Ini panah kecil, bangsat Yong Hu-yan, kau siluman rase ini, kau sengaja hendak membunuh aku ya?”

Begitulah orang itu sebentar menjerit dan lain saat mencaci maki, makin lama makin lemah suaranya sampai akhirnya satu kata pun tidak bersuara lagi.

“Haha, tameng hidup telah berubah menjadi tameng mati,” kata Hiang Bun-thian dengan tertawa.

Karena tidak perlu khawatir lagi akan serangan am-gi musuh, dia terus lari dengan cepat. Setelah membelok dua pengkolan lagi, akhirnya ia berkata, “Sampailah sekarang!”

Ia menghela napas lega, lalu bergelak tertawa, tertawa gembira. Maklumlah cuma belasan li saja ia harus mencapai tempat yang aman ini, padahal keadaannya tadi sesungguhnya sangat berbahaya. Jika dia cuma sendirian tidak menjadi soal, tapi dia membawa Lenghou Tiong yang dianggapnya berjiwa kesatria, seorang pemuda yang belum pernah ditemuinya, maka apa pun juga ia harus menyelamatkannya. Dan dapatlah ia merasa lega karena sekarang mereka sudah mencapai tempat tujuannya.

Waktu Lenghou memandang ke depan, mau tak mau ia merasa khawatir. Kiranya di depan situ terbentang balok batu yang sempit yang menghubungkan tepi tebing sebelah sana dan di bawah adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya.

Balok batu itu hanya terlihat sepanjang tiga-empat meter saja, lebih ke sana lagi sudah tertutup oleh kabut awan yang tebal sehingga sukar diketahui di mana letak ujungnya.

“Adik cilik,” kata Hiang Bun-thian dengan suara tertahan, “di tengah kabut tebal sana adalah jala tali besi melulu, kau jangan sembarangan jalan ke sana.”

Lenghou Tiong mengiakan. Dalam hati ia tambah khawatir, “Balok batu yang sempit dan jurang yang dalam ini sudah luar biasa bahayanya disambung lagi dengan jala tali besi saja, dengan kekuatan sekarang jelas sukar melihat ke sana.”

Dalam pada itu dari pinggang “tameng mati” Hiang Bun-thian telah melolos sebatang pedang dan diberikan kepada Lenghou Tiong, lalu “tameng” itu ditegakkan di depan sebagai aling-aling, rantai yang membelit di tangan “tameng mati” itu dilepaskan, kemudian dengan tameng itu ia menantikan datangnya musuh.

Hanya sebentar saja ia menunggu, rombongan pertama pengejar sudah tiba. Melihat keadaan setempat yang berbahaya dan tampaknya Hiang Bun-thian sudah siap tempur, seketika mereka tidak berani mendesak maju.

Tidak lama kemudian, musuh yang datang sudah semakin banyak, mereka menggerombol di tempat rada jauh dengan mencaci maki, menyusul segala macam am-gi lantas dihamburkan pula. Namun Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong bersembunyi di belakang “tameng” dengan aman, tiada satu pun senjata rahasia itu mengenai mereka.

Sekonyong-konyong seorang menggerung keras, suaranya menggeletar, seorang thauto (hwesio piara rambut) kasar memutar sebatang tongkat besar menerjang ke arah balok batu. Tongkatnya yang besar sedikitnya ratusan kati beratnya, begitu mendekat tongkat lantas menyerampang pinggang Hiang Bun-thian.

Tapi dengan mendak ke bawah tongkat itu menyambar lewat di atas kepala Hiang Bun-thian menyusul Hiang Bun-thian lantas mengayun rantainya untuk menyabet kaki lawan.

Rupanya thauto itu terlalu nafsu mengayun tongkatnya sehingga seketika sukar ditarik kembali untuk menangkis, terpaksa ia meloncat ke atas untuk menghindar.

Tak terduga rantai Hiang Bun-thian berputar dengan cepat terus membelit pergelangan kaki kanannya, berbareng disendal sehingga thauto itu tidak sanggup menguasai tubuhnya lagi dan terjerumus ke depan dan tanpa ampun lagi jatuh ke dalam jurang.

Dalam pada itu sekali sendal dan dikendurkan, rantai Hiang Bun-thian sudah terlepas dari kaki sasarannya. Yang terdengar hanya suara jerit ngeri thauto kasar itu berkumandang dari bawah jurang sehingga membuat orang mengirik, tanpa terasa kawannya sama mundur beberapa tindak seakan-akan takut dilempar ke dalam jurang oleh Hiang Bun-thian.

Setelah saling bertahan rada lama tiba-tiba ada dua orang tampil ke muka lagi. Seorang bersenjata sepasang tombak pendek dan yang lain adalah seorang hwesio pakai tongkat berujung tajam bentuk sabit. Kedua orang itu menerjang maju bersama, sepasang tombak pendek dari atas bawah terus menusuk muka dan perut Hiang Bun-thian, sebaliknya tongkat sabit si hwesio menyodok iga kirinya.

Tiga buah senjata itu cukup berat bobotnya disertai dengan tenaga dalam yang kuat pula maka serangan mereka boleh dikata sangat hebat. Rupanya mereka telah meninjau dengan baik keadaan tempat situ, serangan mereka akan memaksa Hiang Bun-thian mau tak mau harus melangkah ke samping serta menangkis dengan rantainya.

Benar juga, segera Hiang Bun-thian mengayun rantainya “trang-trang-trang” tiga kali senjata lawan itu terbentur minggir semua dengan memercikkan lelatu api. Terdengar sorak-sorai orang banyak menyaksikan pertarungan keras lawan keras itu.

Setelah senjata mereka terbentur minggir menyusul kedua orang itu lantas menyerang maju pula. “Trang-trang-trang”, kembali empat buah senjata saling beradu. Laki-laki itu dan si hwesio tampak tergeliat, sebaliknya Hiang Bun-thian masih berdiri tegak kuat.

Tanpa memberi kesempatan bernapas kepada musuh, sambil menggertak rantai Hiang Bun-thian lantas menyabet pula, ketika kedua orang menangkis dengan senjata masing-masing, maka terdengar lagi suara mendering nyaring. Hwesio itu menyerang sekeras-kerasnya, tongkat sabitnya terlepas dari cekalan dan darah segar terpancur dari mulutnya. Sebaliknya laki-laki itu masih mengangkat kedua tombaknya menusuk ke arah Hiang Bun-thian.

Ternyata Hiang Bun-thian tidak berkelit juga tidak menghindar, ia berdiri tegak membiarkan tusukan itu, bahkan disambut dengan bergelak tertawa. Ketika kedua tombak musuh kira-kira belasan senti sebelum mengenai dadanya sekonyong-konyong tombak mendelong ke bawah menyertai jatuhnya kedua tombaknya, laki-laki itu pun roboh terkapar untuk tidak pernah bangun lagi. Nyata ia telah tergetar mati oleh tenaga Hiang Bun-thian tadi.

Keruan para pengejar yang berkumpul di sebelah sana saling pandang dengan ketakutan dan tiada seorang pun berani maju lagi.

“Adik cilik biar kita main tahan dengan mereka, boleh kau duduk mengaso saja,” kata Hiang Bun-thian kepada Lenghou Tiong. Lalu ia sendiri duduk berpangku lutut dan memandang ke langit tanpa mengambil pusing terhadap kawanan musuh.

Sejenak kemudian mendadak seorang berseru lantang, “Iblis yang takabur, kau berani memandang enteng kesatria sejagat!”

Menyusul empat tojin tampak melangkah maju ke depan Hiang Bun-thian dengan menjinjing pedang. Tiba-tiba pedang mereka diacungkan serentak dan membentak, “Berdiri untuk bertempur!”

“Hehe, memangnya orang she Hiang bersalah apa terhadap Bu-tong-pay kalian?” jengek Hiang Bun-thian.

Rupanya tojin itu adalah jago Bu-tong-pay. Seorang di antaranya lantas menjawab, “Iblis jahat agama sesat membahayakan Bu-lim, kaum alim kita harus bangkit menumpasnya.”

“Merdu sekali kata-kata iblis jahat agama sesat membahayakan Bu-lim dan harus dibasmi, jika begitu di belakang kalian ada lebih separuh anggota Mo-kau, kenapa kalian tidak menumpasnya?” jawab Hiang Bun-thian tertawa.

“Gembongnya harus ditumpas lebih dulu!” sahut tojin itu.

Hiang Bun-thian masih tetap duduk berpangku lutut dan menengadah ke langit, katanya pula dengan acuh tak acuh, “O, kiranya demikian. Benar, benar!”

Pada saat lain mendadak ia menggertak keras-keras sambil meloncat bangun, rantainya bagaikan ular hidup terus menyabet kaki keempat tojin itu.

Serangan mendadak itu datangnya terlalu cepat, untung keempat tojin itu adalah jago pilihan Bu-tong-pay, pada saat bahaya pedang tiga orang di antaranya lantas menegak ke samping untuk menahan sambaran rantai musuh. Tojin yang berdiri paling ujung sana segera balas menusuk dengan pedang ke leher Hiang Bun-thian.

Terdengar suara mendering nyaring, tiga batang pedang menyerang tiga kali lagi sehingga Hiang Bun-thian rada kerepotan. Kesempatan itu digunakan oleh ketiga tojin tadi untuk mundur mengganti pedang, lalu menerjang maju pula.

Ilmu pedang Bu-tong-pay memang terkenal “dengan halus melawan keras”, semakin kuat musuhnya pertahanan mereka pun semakin tangguh. Kerja sama keempat pedang tojin itu menjadi seperti suatu barisan pedang yang rapat, pada waktu menyerang sasaran-sasaran yang mereka incar tidak pernah meninggalkan tempat mematikan di tubuh Hiang Bun-thian.

Sebaliknya ketika Hiang Bun-thian putar rantainya, terpaksa kedua tangannya harus bergerak semua sebab rantai itu mengikat pergelangan kedua tangannya, dalam keadaan demikian terang gerak-geriknya kurang leluasa dan kurang gesit. Maka lama-kelamaan bukan mustahil dia akan dikalahkan oleh pedang jago Bu-tong-pay yang lihai itu.

Setelah mengikuti sebentar pertarungan itu, dapat juga Lenghou Tiong melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu. Ia tidak tinggal diam, ia melangkah maju dari sisi kanan Hiang Bun-thian, pedang terus menusuk iga salah seorang tojin.

Serangan Lenghou Tiong itu dilakukan dengan aneh dan tak terduga sehingga sukar bagi tojin itu untuk menghindar, “sret”, dengan tepat iganya tertusuk.

Tapi sekilas terlintas suatu pikiran dalam benak Lenghou Tiong, “Bu-tong-pay dihormati setiap orang Kangouw. Meski aku harus membantu Hiang-siansing, tapi juga jangan mencelakai jiwa tosu ini.”

Maka ketika ujung pedang baru masuk ke dalam kulit lawan, dengan cepat ia hendak menarik kembali pedangnya.

Tojin itu keburu mengatupkan lengannya, ternyata dia tidak pikirkan sakit atau tidak, tapi pedang Lenghou Tiong itu dikempit sekuatnya. Maka waktu Lenghou Tiong menarik kembali pedangnya, tanpa ampun lagi iga dan lengan tojin itu tergores luka panjang.

Sedikit merandek itulah pedang tojin yang lain telah menyambar tiba dan tepat membentur pedang Lenghou Tiong. Tangan Lenghou Tiong terasa kesemutan, ia bermaksud melepaskan pedangnya, tapi lantas teringat sekali kehilangan senjata tentu keadaan tambah berbahaya. Maka sekuatnya ia genggam pedang, terasa suatu arus tenaga mengalir datang melalui pedang dan menyerang nadi jantung dengan keras.

Tosu pertama yang iganya tertusuk pedang itu mestinya lukanya tidak parah, tapi ketika dia mengempit pedang Lenghou Tiong tadi, lengannya tergores luka yang cukup dalam sehingga tulang lengan kelihatan, darah terus mancur dengan derasnya, dia sudah tidak mampu bertempur lagi. Adapun dua tojin yang lain saat itu sudah berada di belakang Lenghou Tiong dan sedang mengerubut Hiang Bun-thian dengan sengit.

Ilmu pedang kedua tojin itu sangat bagus dan dapat kerja sama dengan rapat. Setiap beberapa gebrakan selalu Hiang Bun-thian terdesak mundur selangkah, ketika belasan langkah mundur ke belakang, sementara itu mereka sudah hampir menghilang ke tengah kabut yang tebal. Tapi kedua tosu itu masih terus menyerang.

Tiba-tiba ada orang berteriak dari gerombolan para kesatria sana, “Awas, ke sana lagi adalah Tiat-soh-kio (Jembatan Tali Besi)!”

Akan tetapi sudah terlambat, baru tersebut nama “Tiat-soh-kio”, berbareng terdengarlah jerit ngeri kedua tosu tadi, tubuh mereka menyelonong ke depan menghilang di tengah kabut. Agaknya tanpa kuasa lagi mereka kena diseret ke sana oleh Hiang Bun-thian. Jerit ngeri mereka makin menurun ke bawah dengan cepat dan dalam sekejap saja sudah tidak terdengar lagi

Hiang Bun-thian terbahak-bahak dan muncul kembali dari balik kabut tebal sana. Ketika dilihatnya Lenghou Tiong sedang sempoyongan hampir roboh, ia menjadi kaget.

Kiranya tojin Bu-tong-pay itu pun menyadari bahwa dalam hal kebagusan ilmu pedang sekali-kali dirinya bukan tandingan Lenghou Tiong, hal ini telah disaksikannya ketika pemuda itu berturut-turut melukai beberapa orang dengan Tokko-kiu-kiam yang lihai di gardu itu. Tapi ia pun dapat melihat akan kelemahan Lenghou Tiong, yaitu tenaga dalamnya sangat lemah. Sebab itulah di antara mereka berempat sebenarnya sudah ada sepakat akan berusaha mengadu lwekang bilamana terpaksa harus bertempur dengan Lenghou Tiong.

Begitulah maka ketika pedangnya menempel pedang Lenghou Tiong segera ia menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyerang. Jangankan tenaga dalam Lenghou Tiong sekarang sudah punah, biarpun dalam keadaan biasa juga latihannya memang masih cetek dan bukan tandingan jago Bu-tong-pay yang sudah terlatih berpuluh tahun lamanya itu.

Untung hawa murni dalam tubuhnya sangat penuh, meski tidak kuat balas menyerang namun untuk sementara juga tidak sampai tergetar binasa oleh lwekang musuh. Hanya saja hawa murni dalam tubuh itu tidak dapat dikuasai, darah juga bergolak dengan hebat maka sampai mata berkunang-kunang dan pikiran kacau.

Pada saat itulah tiba-tiba terasa “tay-cui-hiat” bagian punggung tersalur oleh suatu arus hawa panas, daya tekanan musuh lantas terasa ringan semangat Lenghou Tiong terbangkit, ia tahu Hiang Bun-thian sedang membantunya dengan lwekang yang tinggi.

Tapi segera dapat dirasakan bahwa tenaga dalam Hiang Bun-thian ini tidak terlalu kuat, juga bukan digunakan untuk melawan tenaga musuh, tapi jelas sedang menarik tenaga serangan musuh menuju ke bawah, dari lengan menuju ke pinggang, lalu menjulur ke bagian kaki terus lenyap ke bawah tanah.

Kejut dan girang pula Lenghou Tiong, selamanya tak terbayang olehnya bahwa di dalam ilmu lwekang ternyata ada semacam kepandaian yang aneh dan spesial begini, betapa pun besar kekuatan lwekang musuh dapat dipunahkan dengan menggunakan tenaga dalam yang ringan.

Rupanya tojin itu pun mengetahui gelagat tidak menguntungkan, mendadak ia membentak sambil melompat mundur, “Gip-sing-tay-hoat! Gip-sing-tay-hoat!”

Mendengar nama Gip-sing-tay-hoat” (Ilmu Iblis Pengisap Bintang) itu, seketika air muka orang banyak berubah ketakutan. Sebaliknya jago-jago yang berusia muda malah tidak begitu pusing terhadap ilmu yang disebut itu, hal itu bukannya mereka pemberani melainkan pada hakikatnya mereka tidak kenal apa itu “Gip-sing-tay-hoat” segala.

Hiang Bun-thian tertawa, katanya, “Ya, memang benar ini adalah Gip-sing-tay-hoat. Siapa yang berminat merasakannya boleh coba maju sini!”

Tiba-tiba Mo-kau-tianglo yang berikat pinggang warna kuning itu berkata dengan suara serak, “Agaknya Hiang-yusu telah bersekongkol dengan … dengan Gip-sing-lokoay (Iblis Tua Pengisap Bintang), marilah kita pulang memberi lapor kepada Kaucu dan terserah keputusan beliau.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: