Hina Kelana: Bab 62. Kesaktian “Tokko-kiam-hoat”

Pada saat itulah sekonyong-konyong Hiang Bun-thian membentak-bentak, menyusul terdengar suara gemerencing rantai, kiranya dua orang laki-laki baju hijau telah menerjang ke dalam gardu dan menyerang Hiang Bun-thian.

Kedua orang ini menggunakan senjata yang aneh, yang satu memakai sepasang tameng, semuanya merupakan senjata yang berat. Waktu berbentur dengar rantai terbitlah suara nyaring disertai letikan lelatu api.

Beberapa kali Hiang Bun-thian hendak menyelinap ke belakang orang yang bersenjata tongkat itu, tapi ilmu silat orang itu sangat tinggi, ia bertahan dengan sangat rapat, kedua tangan Hiang Bun-thian sendiri masih terikat oleh rantai sehingga gerak-geriknya kurang leluasa.

Mendadak terdengar pula suara bentakan ramai, kembali dua orang Mo-kau menerjang ke dalam gardu. Kedua orang ini sama-sama memakai godam bersegi delapan, begitu maju mereka terus memukul dan mengetuk serabutan. Dengan demikian si pemakai tongkat tadi dari bertahan sekarang sempat balas menyerang.

Namun dengan amat gesit Hiang Bun-thian masih terus menyelinap kian kemari di antara empat musuh, cuma sukar juga untuk merobohkan salah seorang lawannya. Setiap kali bila rantainya digunakan menyabat salah seorang musuh, segera tiga orang yang lain menubruk maju dengan berani mati.

Kira-kira belasan jurus kemudian, laki-laki kurus kecil tadi berseru, “Delapan tombak maju semua!”

Segera ada delapan laki-laki baju hijau dan bertombak menerjang maju dari empat jurusan gardu, setiap jurusan diperkuat dengan dua batang tombak yang panjang dan besar, dengan cepat mereka menghujani tusukan ke arah Hiang Bun-thian.

“Sobat cilik, lekas pergi saja!” seru Hiang Bun-thian kepada Lenghou Tiong.

Belum lenyap suaranya, mendadak kedelapan tombak telah menyambar sekaligus ke tubuhnya, tidak peduli dia berkelit ke jurusan maka pasti tubuh akan tertusuk oleh ujung tombak. Lebih celaka lagi pada saat yang sama kedua orang yang bersenjata godam astakona (segi delapan) juga telah menghantam kepalanya, bahkan pemakai tongkat juga lantas menyabet dari bagian bawah dan tameng besi tahu-tahu juga mengepruk mukanya. Benar-benar segala penjuru terancam oleh senjata musuh.

Hendaklah maklum bahwa kedudukan Hiang Bun-thian dalam Mo-kau adalah sangat tinggi, betapa tinggi ilmu silatnya juga bukan rahasia lagi. Orang-orang Mo-kau itu mendapat perintah untuk menangkapnya, namun mereka tahu kepandaian mereka masih selisih jauh dibanding Hiang Bun-thian, adalah mahasulit untuk menangkapnya bila tidak lebih dulu melukainya. Dan bisa melukainya betapa pun harus main kerubut.

Sebab itulah maka sekaligus 12 jago Mo-kau pilihan lantas maju berbareng dan sama-sama mengeluarkan segenap tenaga mereka tanpa kenal ampun, sebab mereka insaf adalah teramat berbahaya bertempur dengan Hiang Bun-thian, tertunda lebih lama sedetik berarti setindak lebih mendekati pintu neraka bagi mereka.

Melihat cara pengeroyokan yang tidak pantas itu dan tampaknya sukar bagi Hiang Bun-thian untuk meloloskan diri, Lenghou Tiong lantas berteriak, “Sungguh tidak tahu malu!”

Pada saat itu mendadak Hiang Bun-thian berputar tubuh dengan amat cepat, rantai di tangannya terus berputar seperti kitiran sehingga senjata musuh terbentur dan menerbitkan suara gemerantang nyaring.

Begitu cepat Hiang Bun-thian berputar laksana gasingan sampai pandangan lawan serasa kabur. Maka terdengarlah suara “trang-treng” dua kali, kedua tameng besi musuh terbentur oleh rantainya, tameng-tameng itu terlepas dari cekalan dan mencelat keluar gardu. Kini Hiang Bun-thian tidak ambil pusing lagi kepada jurus-jurus serangan musuh, ia masih terus berputar semakin cepat sehingga delapan tombak musuh terguncang ke samping.

“Perlambat serangan dan bertahan rapat habiskan tenaganya!” tetua Mo-kau yang kurus kecil tadi berseru.

Kedelapan pemakai tombak tadi sama mengiakan sambil melangkah mundur setindak dan berdiri tegak dengan tombak siap di tangan. Pertempuran cara demikian pasti akan berakhir dengan tenaga Hiang Bun-thian terkuras dan bila ada kesempatan segera mereka menyerang pula dengan tombaknya.

Dalam keadaan demikian, penonton yang sedikit berpengalaman saja segera akan dapat menarik kesimpulan bahwa betapa pun tinggi ilmu silat Hiang Bun-thian juga tidak mungkin berputar terus tanpa berhenti. Pertempuran cara demikian pasti akan berakhir dengan Hiang Bun-thian kehabisan tenaga dan tiada jalan lain kecuali diringkus oleh musuh.

Mendadak terdengar Hiang Bun-thian bergelak tertawa, tubuh mendak ke bawah dan rantainya menyabat, kontan mengenai pinggang seorang yang bersenjata godam tadi, orang itu menjerit, godamnya menghantam balik dan mengenai batok kepalanya sendiri, seketika kepalanya pecah dan otak berhamburan.

Kedelapan orang bersenjata tombak itu rupanya sudah terlatih masak sekali, sekaligus tombak mereka menusuk Hiang Bun-thian dari berbagai penjuru.

Hiang Bun-thian sempat menangkis dua batang tombak itu, tapi tombak-tombak itu benar-benar sangat lihai, enam tombak yang lain laksana ular hidup saja berbareng mengancam iganya.

“Mati aku?” diam-diam Hiang Bun-thian mengeluh. Dalam keadaan begitu, biarpun tombak yang satu sempat dihindarkan toh tombak kedua, ketiga atau keempat juga sukar dielakkan, apalagi enam tombak mengancam sekaligus.

Sekilas Lenghou Tiong juga menyaksikan keadaan Hiang Bun-thian yang menghadapi jalan buntu itu. Tiba-tiba benaknya terkilas pula jurus keempat dari “Tokko-kiu-kiam” ajaran Hong Jing-yang yang disebut “jurus penghancur tombak” itu. Maka tanpa pikir panjang lagi segera ia turun tangan, pedang menyambar ke depan, terdengarlah suara mendering nyaring panjang, delapan batang tombak jatuh semua ke lantai dan menerbitkan suara gemerantang yang keras satu kali, maka dapatlah diketahui bahwa kedelapan batang tombak itu jatuhnya seperti bersamaan waktunya.

Padahal pedang Lenghou Tiong sekali tusuk mengarah pergelangan tangan delapan orang, dengan sendirinya terjadi secara berturut-turut, soalnya gerakannya teramat cepat sehingga jatuhnya kedelapan tombak secara susul-menyusul itu hampir-hampir sukar dibedakan.

Sekali Lenghou Tiong sudah turun tangan maka sukar dihentikan lagi, segera jurus kelima yang disebut “Boh-pian-sik” (jurus penghancur ruyung) kembali dilontarkan pula. “Boh-pian-sik” ini gerak perubahannya teramat luas, pendeknya segala senjata misalnya ruyung baja, godam, boan-koan-pit, tongkat, cundrik, kapak, dan senjata-senjata pendek sebangsanya akan dapat dipatahkan semua oleh jurus ini.

Maka tanpa ampun lagi, di tengah berkelebatnya sinar pedang tahu-tahu sepasang tongkat, sepasang godam telah jatuh semua. Dari ke-12 jago Mo-kau yang menyerbu ke dalam gardu itu, terkecuali seorang telah dibunuh oleh Hiang Bun-thian dan seorang senjata tamengnya terlepas dari tangan, selebihnya sepuluh orang pergelangan tangan masing-masing tertusuk oleh pedang Lenghou Tiong, senjata mereka terlepas dari cekalan. Sambil menjerit takut beramai-ramai ke-11 orang itu lantas lari kembali ke barisan mereka tadi.

Serentak para kesatria dari golongan cing-pay lantas memuji, “Kiam-hoat bagus! Cepat amat gerakannya! Baru hari ini kita menyaksikan Hoa-san-kiam-hoat yang hebat!”

Di sebelah sana Mo-kau-tianglo yang kurus kecil tadi telah memberikan komando singkat lagi dan segera ada lima orang menyerbu ke dalam gardu.

Seorang wanita setengah umur bersenjata sepasang golok yang diputar bagai kitiran terus menerjang ke arah Lenghou Tiong, sedangkan empat orang laki-laki yang lain lantas mengerubut Hiang Bun-thian.

Serangan golok si wanita setengah umur itu sangat cepat sehingga Lenghou Tiong tidak sempat melihat orang macam apakah keempat laki-laki yang mengeroyok Hiang Bun-thian dan senjata macam apa yang mereka gunakan. Yang jelas golok-golok wanita itu menyerang dengan cepat secara bergantian, bila golok sebelah kanan menyerang maka golok sebelah kiri dipakai menjaga diri dengan rapat dan begitu pula sebaliknya. Dengan demikian jadi setiap jurus serangan si wanita sekaligus juga berarti menjaga diri dengan ketat.

Pada umumnya kelemahan dalam pertarungan yang sering tampak ialah waktu menyerang pihak sendiri biasanya lantas terlihat lubang sehingga digunakan oleh musuh dengan baik.

Ilmu golok wanita ini benar-benar suatu kepandaian yang jarang terlibat di dunia persilatan, dia dapat menjaga diri dengan rapat, serangannya juga sangat cepat dan ganas. “Sret-sret-sret-sret” empat kali, karena tidak jelas akan cara serangan lawan, terpaksa Lenghou Tiong mundur empat tindak berturut-turut.

Pada saat itulah terdengar suara menderu angin kencang seperti ada orang pedang menempur Hiang Bun-thian dengan senjata lemas. Di tengah segala kerepotannya Lenghou Tiong coba melirik ke sana, dilihatnya dua orang bersenjata gandin berantai dan dua orang menggunakan ruyung lemas, dengan sengit lagi melawan rantai besi yang diayun-ayunkan Hiang Bun-thian.

Rantai besi yang menggandengkan kedua gandin orang itu cukup panjang, beberapa kali gandinnya melayang lewat di atas kepala Lenghou Tiong. Baru beberapa jurus saja lantas terdengar Hiang Bun-thian mengumpat maki, sebaliknya seorang laki-laki bersenjata gandin berantai itu berkata, “Maaf, Hiang-yusu!”

Kiranya sebelah gandin berantai itu telah berbelitan dengan rantai di tangan Hiang Bun-thian. Dalam sekejap itulah ketiga orang kawannya tidak sia-siakan kesempatan baik itu, tiga macam senjata berbareng menyambar ke tubuh Hiang Bun-thian.

Ketika Hiang Bun-thian mengerahkan tenaga dan menarik sekuatnya sambil menggertak, kontan orang yang bersenjata gandin itu kena diseret mentah-mentah ke badannya, maka kedua ruyung lemas dan sebuah gandin yang menyambar tiba tadi semuanya mengenai punggung orang itu.

Pada saat itu pula pedang Lenghou Tiong juga menusuk dan tepat mengenai pergelangan tangan si wanita setengah umur, tapi yang terdengar adalah suara “creng” yang nyaring, pedang orang malah menebas dari samping.

Lenghou Tiong terperanjat, tapi segera ia paham duduknya perkara, tentu wanita itu memakai bebat baja pelindung pergelangan tangan sehingga pedang tidak mempan melukainya. Sambil berkelit secepat kilat pedangnya menyungkit ke atas pula, “sret” sekali ini dengan tepat “koh-cing-hiat” di bahu kiri wanita itu tertusuk.

Wanita itu terkejut, namun dia sangat gagah berani, meski bahu kiri terluka toh golok sebelah kanan masih membacok lagi. Ketika pedang Lenghou Tiong berkelebat, kembali bahu kanan wanita itu tertusuk pula. Kedua bahunya terluka semua pada hiat-to yang sama, ia tidak sanggup memegang senjata lagi, sekuatnya ia menimpuk ke arah Lenghou Tiong, cuma sayang kedua tangan sudah tak bertenaga sehingga sepasang goloknya jatuh setengah jalan.

Baru saja Lenghou Tiong mengalahkan wanita itu, menyusul seorang tojin dari kalangan cing-pay melompat maju dengan pedang terhunus, katanya, dengan wajah masam, “Kukira Hoa-san-pay tidak pasti mempunyai kiam-hoat iblis semacam ini!”

Sekali pandang Lenghou Tiong lantas tahu tojin ini adalah angkatan tua dari Thay-san-pay, mungkin karena dia merasa penasaran lantaran salah seorang golongannya dibinasakan Hiang Bun-thian tadi, maka sekarang ia hendak menebus kekalahannya itu.

Walaupun Lenghou Tiong telah dipecat oleh gurunya, tapi sejak kecil ia sudah bernaung di Hoa-san-pay, Ngo-gak-kiam-pay terjalin seranting dan senapas, maka demi melihat angkatan tua Thay-san-pay itu mau tak mau timbul rasa hormatnya.

Lenghou Tiong putar balik ujung tangannya ke arah bawah, lalu memberi hormat dan menjawab, “Tecu tidak berani melawan Supek dari Thay-san-pay.”

Tojin itu bergelar Song-it, adalah saudara satu angkatan dengan Te-coat, Thian-bun dan tojin yang lain, hanya saja tidak sama guru.

Dengan nada dingin ia berkata, “Ilmu pedang apakah yang kau mainkan itu?”

“Ilmu pedang yang Tecu mainkan ini ajaran Locianpwe dari perguruan Hoa-san sendiri,” jawab Lenghou Tiong.

“Hm, omong kosong, entah di mana kau telah mengangkat guru pada kaum iblis,” jengek Song-it. “Lihat pedang!”

Berbareng itu pedangnya terus menusuk ke dada Lenghou Tiong dengan mengeluarkan suara mendengung. Melulu serangan ini saja sekaligus beberapa hiat-to di dada Lenghou Tiong sudah terkurung semua, tak peduli cara bagaimana dia berkelit tentu salah satu tempat akan tertusuk. Jurus serangan ini disebut “Jit-sing-lok-khong” (tujuh bintang runtuh di langit), termasuk suatu jurus inti ilmu pedang Thay-san-pay paling lihai.

Dengan serangan ini lawan hanya dapat menghindar bilamana memiliki ginkang yang mahatinggi dengan berjumpalitan ke belakang sejauh beberapa meter, untuk itu diperlukan mengenal jurus serangan ini ketika baru saja pedang musuh mulai bergerak, sesudah berjumpalitan serangan lain akan datang beruntun dengan ganas.

Karena sudah menyaksikan ilmu pedang Lenghou Tiong sangat lihai, Song-it Tojin khawatir didahului lebih dulu, maka begitu maju segera menggunakan jurus “Jit-sing-lok-khong” itu.

Lenghou Tiong juga terkejut ketika sinar pedang lawan berkelebat dan tahu-tahu beberapa tempat di dada sendiri terancam. Sekonyong-konyong teringat olehnya jurus serupa yang pernah dilihatnya pada ukiran dinding dalam gua puncak Hoa-san dahulu, tatkala itu dirinya juga pernah mempelajari jurus ini untuk digunakan melawan Dian Pek-kong, cuma saja pelajarannya dahulu masih mentah sehingga tidak dapat mencapai kemenangan yang diharapkan. Namun permainan jurus ini sudah hafal baginya, maka tanpa pikir lagi segera pedangnya membarengi menusuk perut Song-it Tojin.

Serangan Lenghou Tiong ini persis menirukan ukiran dinding yang dilihatnya, yaitu cara gembong Mo-kau mematahkan ilmu pedang Thay-san-pay. Caranya sepintas pandang mirip mengajak gugur bersama musuh, tapi sebenarnya tidak, sebab jurus “Jit-sing-lok-khong” dari Thay-san-pay itu terbagi dalam dua tingkat, pertama gerak pedangnya mengancam tujuh hiat-to di dada musuh, tatkala musuh terkejut dan menjadi gugup, menyusul pedang lantas menusuk salah satu hiat-to yang dipilih. Tapi meski hiat-to musuh yang terancam itu tujuh tempat, tapi untuk membinasakannya cukup satu tusukan saja pada satu hiat-to itu.

Lantaran serangan itu terbagi dalam dua tingkat sehingga kelihatan jurus ini dapat ditemukan titik kelemahannya oleh gembong Mo-kau, yaitu ketika serangan tingkat pertama dilontarkan, berbareng perut penyerang itu balas diserang, dengan demikian jurus “Jit-sing-lok-khong” dapat dipatahkan dan tamat riwayatnya.

Dan benar juga, Lenghou Tiong menusukkan pedangnya, sungguh kaget Song-it Tojin tidak kepalang, ia menjerit keras disangkanya perut sendiri sudah tembus oleh pedang lawan.

Sebagai seorang tokoh Thay-san-pay, begitu melihat gerak pedang Lenghou Tiong yang hebat dan tak terelakkan itu, ia menduga perut sendiri pasti sukar terhindar dilubangi. Di tengah pertempuran ia pun tidak bisa merasakan sakit, pikirannya menjadi kacau dan mengira diri sendiri sudah mati, kontan ia roboh terjungkal.

Padahal ketika ujung pedang Lenghou Tiong hampir mengenai perutnya segera ia tahan sekuatnya, ia pikir lawan adalah tokoh angkatan lebih tua dari Thay-san-pay yang tiada permusuhan apa-apa dengan dirinya, buat apa mesti membunuhnya? Siapa tahu saking cemasnya Song-it Tojin sendiri sampai jatuh pingsan.

Melihat robohnya Song-it, anak murid Thay-san-pay mengira jago mereka telah dicelakai oleh Lenghou Tiong, beramai-ramai mereka lantas mencaci maki, segera ada lima orang tojin muda memburu maju. Mereka ini adalah murid Song-it, saking bernafsu hendak menuntut balas pedang mereka terus menyerang secara membadai ke arah tubuh Lenghou Tiong.

Namun hanya sekali bergerak saja, dengan satu jurus ilmu pedang “Tokko-kiam-hoat” pergelangan tangan kelima tojin muda itu sudah kena ditusuk oleh ujung pedang Lenghou Tiong, pedang lawan jatuh semua dan menerbitkan suara nyaring.

Untuk sejenak kelima tojin muda itu sampai tertegun, tapi mereka lantas melompat mundur. Dalam pada itu terlihat Song-it Tojin telah bangkit dengan sempoyongan dan berteriak-teriak seperti orang gila, sungguh kejut dan khawatir sekali anak muridnya.

Sesudah berteriak-teriak beberapa kali, tubuh Song-it Tojin tampak sempoyongan, lalu jatuh terkulai lagi. Lekas-lekas dua muridnya memburu maju untuk membangunkan dia dan diseret mundur.

Para kesatria menjadi kebat-kebit, semua menyaksikan Lenghou Tiong hanya menggunakan setengah jurus saja seketika seorang tokoh terkemuka Thay-san-pay dirobohkan dalam keadaan entah mati atau hidup, maka untuk sementara mereka menjadi kuncup.

Sementara itu orang-orang yang mengeroyok Hiang Bun-thian sudah berganti beberapa orang baru. Dua laki-laki berpedang adalah jago Heng-san-pay, gerak pedang mereka sangat cepat dan selalu mengincar lubang di tengah putaran rantai Hiang Bun-thian.

Seorang lagi bersenjata golok dan tameng, jelas adalah jago Mo-kau. Dengan berlindung di balik tamengnya orang ini bergelindingan mendekati Hiang Bun-thian, lalu goloknya menebas kaki lawannya. Meski rantai Hiang Bun-thian beberapa kali menghantam tameng, tapi tak bisa melukainya. Sebaliknya golok yang selalu menyambar dari balik tamengnya itulah yang sangat berbahaya.

Dari samping Lenghou Tiong dapat melihat kerapatan penjagaan tameng orang itu, tapi pada waktu menyerang mau tak mau lantas kelihatan lubang kelemahannya, yaitu kedua lengannya dengan mudah dapat dipatahkan.

Hendaklah maklum bahwa letak kelihaian “Tokko-kiu-kiam” adalah pada ketajaman mengenai titik kelemahan musuh, lalu dengan cara yang tidak mungkin dihindarkan lawan untuk menyerang titik kelemahan itu sehingga cukup hanya sekali serang saja lantas menang.

Ia lihat rantai yang diputar Hiang Bun-thian itu sebenarnya cukup diturunkan ke bawah terus disabetkan melalui lubang di bawah tameng musuh, namun kesempatan bagus dan sungguh sayang sekali tidak digunakan oleh Hiang Bun-thian.

Tengah Lenghou Tiong mengikuti pertarungan sengit itu, sekonyong-konyong terdengar di belakangnya ada orang membentak, “Kau inginkan jiwamu tidak bocah!”

Meski suara itu tidak terlalu keras, tapi jaraknya jelas sangat dekat, barangkali cuma belasan senti di tepi telinganya.

Dalam kagetnya cepat Lenghou Tiong membalik tubuh, tahu-tahu ia berhadapan muka dengan muka bersama satu orang. Hidung kedua orang hampir-hampir saling cium. Selagi ia hendak menghindar, tahu-tahu kedua telapak tangan orang itu sudah menahan di dadanya, terdengar orang itu berkata dengan nada dingin, “Sekali tenaga tanganku dikerahkan, seketika tulang rusukmu akan patah semua.”

Lenghou Tiong tahu apa yang diucapkan orang itu bukan bualan belaka. Maka ia lantas berdiri tegak dan tidak berani bergerak. Jantungnya serasa ikut berhenti berdetak.

Kedua mata orang itu menatap Lenghou Tiong dengan tajam, cuma disebabkan jaraknya terlalu dekat sehingga Lenghou Tiong sukar melihat wajahnya malah. Hanya sinar mata orang itu tampak mengilat berwibawa, diam-diam ia membatin, “Kiranya aku akan mati di tangan orang seperti ini!”

Teringat kematiannya akhirnya akan menjadi kenyataan, tiba-tiba hatinya menjadi lapang malah.

Semula orang itu melihat sinar mata Lenghou Tiong menampilkan rasa kaget dan khawatir, tapi dalam sekejap saja lantas timbul sikapnya yang tidak gentar dan tak acuh, sekalipun tokoh Bu-lim terkemuka juga jarang yang mampu menguasai diri menghadapi detik-detik kematian demikian.

Tanpa terasa timbul juga rasa kagum orang itu. Sambil tertawa orang itu lantas berkata, “Aku berhasil menyergap dirimu dari belakang sekalipun aku membunuhmu tentu kau tidak tunduk.”

Habis berkata ia terus tarik kembali kedua tangannya dan mundur beberapa tindak.

Baru sekarang Lenghou Tiong dapat melihat jelas orang itu, potongannya pendek gemuk, kulit mukanya bengkak kekuning-kuningan, usianya kira-kira baru 50-an, kedua tangannya yang gemuk itu sudah kecil lagi tebal, yang satu terangkat agak tinggi dan yang lain rada rendah dalam sikap “Tay-ko-yang-jiu” yang lihai.

“Kiranya adalah Locianpwe dari Ko-san-pay,” kata Lenghou Tiong dengan tersenyum. “Mohon tanya siapakah nama Locianpwe yang terhormat, mengapa berlaku murah hati padaku?”

“Aku Lim Ho,” jawab orang itu. Sejenak kemudian ia menyambung lagi, “Ilmu pedangmu sangat tinggi, tapi pengalamanmu di medan tempur ternyata sangat kurang!”

“Memang benar,” kata Lenghou Tiong. “Cepat amat gerakan Lim-supek tadi.”

“Panggilan Supek tidak berani kuterima,” sahut Lim Ho, menyusul tangan kiri diangkat dan tangan kanan lantas memotong ke depan.

Bentuk lahirnya Lim Ho memang jelek, tapi sekali ia mulai memukul, seketika seluruh badannya penuh kekuatan dan gayanya sangat indah.

“Pukulan bagus,” Lenghou Tiong memuji ketika melihat kehebatan serangan lawan. Pedang lantas menyungkit ke atas. Karena dia belum melihat titik kelemahan Lim Ho, maka gerakan ini lebih banyak merupakan pancingan dan bertahan daripada serangan.

Tokko-kiu-kiam, sembilan jurus ilmu pedang ciptaan Tokko, benar-benar luar biasa lihainya. Sejak sekaligus membutakan 15 orang di kelenteng bobrok tempo hari belum pernah mengambil sikap bertahan. Tapi kini saking rapatnya ilmu pukulan Lim Ho itu sehingga dia terpaksa mesti menjaga diri saja, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat ciang-hoat (ilmu pukulan dengan telapak tangan) jago Ko-san-pay itu.

Tapi dengan menyungkit ke atas tak peduli pukulan Lim Ho menyerang ke bagian mana, telapak tangannya akan dengan sendirinya dipapak oleh ujung pedang. Karena itu baru setengah jalan segera Lim Ho menarik tangannya kembali tangannya dan melompat mundur sambil berseru, “Kiam-hoat bagus!”

“Ah, terlalu memuji!” sahut Lenghou Tiong.

Setelah termenung sejenak, mendadak Lim Ho membentak, “Awas!”

Berbareng kedua tangannya lantas menolak ke depan, suatu arus tenaga mahadahsyat lantas membanjir.

“Celaka!” Lenghou Tiong. Dalam keadaan tenaga sudah punah, hanya berkat ilmu pedangnya yang bagus dapatlah ia mengalahkan musuh. Sekarang Lim Ho menghantamnya dengan pukulan kuat, jaraknya teramat dekat pula sehingga sukar ditangkis dengan pedang. Baru saja bermaksud mengelak, namun terasa hawa dingin telah menyerang tubuhnya sehingga membuatnya menggigil.

Kiranya tenaga pukulan kedua tangan Lim Ho itu tidak sama satu sama lain, yang satu positif dan yang lain negatif, panas dan dingin. Lim Ho berjuluk “Thi-im-yang-jiu”, tenaga pukulan im dan yang itu adalah kepandaian yang paling diagulkannya.

Ketika Lenghou Tiong tertegun sejenak saja menyusul suatu arus hawa panas sudah menyambar tiba pula sehingga napasnya serasa sesak, tubuh pun terhuyung-huyung.

Pukulan tenaga im dan yang itu sebenarnya tidak kenal ampun bagi sasarannya, meski tenaga dalam Lenghou Tiong sudah punah, namun hawa murni dalam tubuhnya masih penuh dan banyak ragamnya, ada hawa murni dari Tho-kok-lak-sian, ada hawa murni Put-kay Hwesio, ketika di Siau-lim-si mendapat tambahan lagi hawa murni Hong-sing Taysu, setiap hawa murni itu sangat kuat.

Sebab itulah ketika tenaga pukulan panas dingin itu mengenai tubuh Lenghou Tiong, dengan sendirinya hawa murni yang tertimbun dalam tubuhnya itu memberi reaksi sehingga isi perutnya tidak sampai terluka. Cuma hawa murni berbeda daripada tenaga dalam yang dapat digunakan pula untuk menyerang musuh, sebab itulah badannya tergetar beberapa kali dan rasanya sangat menderita.

Khawatir kalau Lim Ho menyusulkan pukulan lagi, cepat-cepat Lenghou Tiong keluar dari gardu itu, lalu pedang cepat menusuk.

Setelah berhasil dengan pukulannya, Lim Ho menyangka Lenghou Tiong sekalipun tidak mati juga terluka parah dan akan roboh, siapa duga pemuda itu masih dalam keadaan aman sentosa, bahkan sinar pedang berkelebat, ujung pedang Lenghou Tiong mengacung telapak tangannya lagi. Dengan rasa heran dan waswas Lim Ho pentang kedua tangannya, yang satu menabok ke muka Lenghou Tiong dan yang lain memukul perutnya.

Tapi baru saja tenaga pukulannya dikerahkan sekonyong-konyong ia merasa kesakitan luar biasa, ternyata kedua telapak tangannya atau sepasang telapak tangannya sendiri yang menghantam ujung pedang orang.

Sambil menjerit keras-keras sekuatnya Lim Ho mencabut kedua tangannya terus melompat mundur, lalu melarikan diri secepat terbang.

Lenghou Tiong merasa menyesal, serunya, “Maaf!”

Apa yang digunakan tadi adalah salah satu jurus sakti dari Tokko-kiu-kiam yang disebut “Boh-ciang-sik” (cara mematahkan pukulan tangan), jurus ini belum pernah tampak lagi di dunia Kangouw sejak penciptanya wafat, yaitu Tokko Kiu-pay.

Mendadak terdengar suara gedubrakan ramai, waktu Lenghou Tiong menoleh, dilihatnya ada tujuh-delapan laki-laki sedang mengerubut Hiang Bun-thian. Tenaga pukulan dua orang di antaranya sangat dahsyat sehingga tiang gardu dan genting emper ikut terhantam jatuh berserakan.

Pada saat itulah ada tiga orang kakek bersenjata mengepung Lenghou Tiong dari tiga jurusan. Seorang di antaranya memakai sepasang boan-koan-pit yang mengilap, seseorang lagi menggunakan golok dan orang ketiga bertangan kosong, hanya memakai sarung tangan.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Suhu pernah pesan padaku harus hati-hati menghadapi lawan yang memakai sarung tangan, sebab lawan demikian biasanya suka menggunakan senjata rahasia beracun.”

Lenghou Tiong tidak sempat banyak berpikir karena sepasang boan-koan-pit musuh sudah segera mengancam hiat-to di kanan kiri iganya sedangkan golok besar yang lain juga menebas diri samping.

Diam-diam Lenghou Tiong mendongkol pada lawan-lawan itu, selamanya tidak kenal dan tiada permusuhan, tapi serangan mereka ternyata begini ganas, begitu maju lantas menyerang dengan cara mematikan tanpa kenal ampun.

Segera pedangnya menyabet miring menyerempet batang kepala musuh, menyusul lantas ke atas. Kontan empat jari lawan yang bergolok itu tertebas putus, sedangkan sepasang boan-koan-pit musuh yang lain juga tersungkit mencelat ke udara.

Ia khawatir orang yang bersarung tangan itu menghamburkan senjata rahasia berbisa, sebab ia merasa dirinya belum menguasai jurus “Boh-gi-sik” (mematahkan serangan senjata rahasia), jika dihujani macam-macam senjata rahasia berbisa tentu akan kerepotan, sebab itulah pedangnya segera menusuk pula ke tengah telapak tangan kanan orang itu.

Akan tetapi aneh sekali, ujung pedang sudah mengenai sasarannya dengan tepat, namun tidak dapat masuk. Keruan Lenghou Tiong terkejut. Dalam pada itu dengan cepat orang itu telah membalik tangannya, mata pedang yang tajam itu dipegang olehnya dengan kencang. Baru sekarang Lenghou Tiong sadar sarung tangan orang itu tentu terbuat dari benang emas. Ia coba menarik sekuatnya, tapi sukar terlepas.

Waktu sebelah tangan orang itu terhantam, “blang”, dengan tepat dada Lenghou Tiong terpukul sehingga tubuhnya mencelat. Belum lagi dia jatuh ke tanah sudah ada beberapa orang memburu ke arahnya hendak mencencangnya.

“Bagus, kebetulan!” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Tapi belum lenyap suara tertawanya, sekonyong-konyong pinggangnya terasa kencang dililit sesuatu, seutas rantai besi telah menyambar tiba dan tubuhnya lantas terbawa melayang ke udara.

Orang yang menyelamatkan jiwanya kiranya adalah gembong Mo-kau Hiang Bun-thian. Dalam keadaan kepepet karena dikejar dan dikerubut oleh jago Mo-kau dan pihak cing-pay, mendadak tampil ke muka seorang pemuda yang tidak takut mati untuk membelanya, dengan sendirinya Hiang Bun-thian merasa sangat berterima kasih dan anggap dia sebagai teman sejati.

Dengan pengalaman dan kepandaian Hiang Bun-thian yang tinggi, begitu menyaksikan cara Lenghou Tiong menghalau musuh tadi segera ia tahu meski ilmu pedang Lenghou Tiong sangat tinggi, tapi tenaga dalamnya teramat kurang, pengalaman tempur juga sedikit, bila mesti menghadapi lawan sebegitu banyak akhirnya pemuda itu tentu akan terbunuh.

Sebab itulah sembari bertempur senantiasa ia memerhatikan keadaannya Lenghou Tiong, begitu melihat pedangnya kena digenggam lawan dan dada terkena pukulan, seketika ia mengayun rantainya untuk membelit tubuh pemuda yang terus dibawa lari

Karena menggunakan ginkang yang tinggi, maka lari Hiang Bun-thian ini laksana terbang, hanya dalam sekejap saja sudah meninggalkan musuh sejauh beberapa puluh meter.

Dari belakang ada beberapa puluh orang telah memburunya, beberapa orang di antaranya malahan berteriak-teriak, “Thian-ong Locu melarikan diri! Aha, Thian-ong Locu melarikan diri!”

Hiang Bun-thian menjadi gusar, mendadak ia berhenti lari dan putar balik seakan-akan hendak menerjang para pengejarnya. Keruan para pengejar itu terkejut dan serentak berhenti. Ada di antaranya seorang terlalu bernafsu larinya dan tidak sempat mengerem, ia masih terus menyelonong ke arah Hiang Bun-thian, keruan celaka baginya, sekali Hiang Bun-thian angkat kakinya, kontan orang itu ditendang mencelat kembali ke tengah gerombolan kawan-kawannya.

Waktu Hiang Bun-thian memeriksa Lenghou Tiong, tampak mulut pemuda itu masih mengucurkan darah. Ia hanya menjengek perlahan, lalu putar tubuh dan lari lagi.

Segera orang-orang tadi mengejar pula, tapi sekarang mereka sudah kapok, tiada seorang pun berani menguber terlalu dekat sehingga jarak mereka makin lama makin jauh dari Hiang Bun-thian.

Kiranya julukan Hiang Bun-thian disebut “Thian-ong Locu” (si Nenek Raja Langit), perangainya angkuh dan tinggi hati, selama hidupnya tidak pernah melarikan diri meski ia pernah juga dikalahkan orang dalam pertandingan, jadi dia mempunyai sifat yang pantang menyerah.

Dengan ginkang yang sangat tinggi itu mestinya tidak sulit bagi Hiang Bun-thian untuk mengelak kejaran jago-jago cing-pay dan orang-orang Mo-kau, tapi dia justru tidak sudi menyembunyikan diri sehingga ditertawai musuh, akhirnya dia terkepung di tengah gardu itu. Sekarang demi keselamatan Lenghou Tiong untuk pertama kalinya ia melarikan diri, maka rasa dongkol dan kesalnya sungguh tidak kepalang.

Sembari lari diam-diam ia pun menimbang-nimbang sendiri, “Jika aku sendirian tentu aku akan melabrak kawanan kura-kura itu dengan mati-matian, betapa pun pasti akan kubunuh beberapa puluh orang untuk melampiaskan rasa dongkolku, soal aku akan hidup atau mati aku tidak ambil pusing. Tapi sekarang muncul pemuda yang selamanya tak kukenal ini, dia telah sudi korban jiwa bagiku, teman simpatik begini ke mana lagi dapat kucari? Demi teman baik biarlah aku melarikan diri dan melanggar kebiasaanku, ini namanya setia kawan lebih utama, terpaksa aku harus menekan perasaanku. Yang penting sekarang cara bagaimana aku dapat mengelakkan uberan kawanan kura-kura itu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: