Hina Kelana: Bab 61. Si Kakek Berjubah Putih

Samar-samar Lenghou Tiong merasakan firasat yang tidak enak, dengan tangan gemetar ia membuka sampul surat itu dan dibaca. Ia benar-benar tidak percaya apa yang tertulis pada surat itu. Ia coba mengulangi baca lagi sekali seketika ia merasa seakan-akan langit berputar putar dan bumi terbalik, “bluk”, ia jatuh tak sadarkan diri.

Ketika siuman kembali ia merasa tubuhnya berada dalam pangkuan Hong-sing Taysu. Saking sedihnya menangislah Lenghou Tiong tersedu-sedan.

“Sebab apakah Lenghou-siauhiap merasa susah, apakah gurumu mengalami sesuatu?” tanya Hong-sing.

“Silakan Taysu membacanya,” kata Lenghou Tiong terguguk-guguk sambil menyodorkan surat itu.

Ketika Hong-sing membaca surat itu, isinya tertulis:

Diaturkan kepada yang terhormat ketua Siau-lim-si.
Selama menjabat ketua Hoa-san, teramat jarang mengaturkan salam hormat, mohon maaf.
Perihal murid murtad kami Lenghou Tiong, perangainya jelek, kelakuannya buruk, berulang-ulang melanggar larangan, paling akhir bahkan bergaul dengan orang jahat dan berkomplot dengan kaum iblis. Put-kun telah berusaha mendidiknya, tapi tidak berhasil. Untuk menegakkan kebesaran Bu-lim, sekarang murid murtad tersebut bukan lagi murid kami. Jika terjadi lagi perkomplotannya dengan kaum iblis dan merugikan kawan Kangouw umumnya, maka diharapkan kawan-kawan sekalian bangkit membinasakannya bersama. Tulisan singkat ini tidak mencerminkan seluruh maksud kami, mohon Taysu maklum adanya.

Isi surat juga sangat di luar dugaan Hong-sing Taysu, ia menjadi bingung dan tidak tahu cara bara bagaimana harus menghibur Lenghou Tiong. Setelah mengembalikan surat itu kepada Hong-ting, ketika melihat Lenghou Tiong masih menangis sedih, lalu katanya, “Siauhiap, pergaulanmu dengan orang-orang Hek-bok-keh itu memang tidak patut.”

Hong-ting juga berkata, “Saat ini para ketua dari berbagai aliran cing-pay tentu juga sudah menerima surat gurumu ini dan telah memberi petunjuk kepada anak murid masing-masing. Sekalipun kau tidak terluka, begitu kau keluar dari sini, setiap langkahmu akan selalu merupakan rintangan bagimu. Para murid golongan cing-pay akan menganggap dirimu sebagai musuh mereka.”

Lenghou Tiong melengak, teringat olehnya kata-kata yang diucapkan Ing-ing di tepi sungai kecil tempo hari. Memang benar, saat ini bukan saja setiap orang dari kalangan sia-pay ingin membunuhnya, bahkan orang-orang dari cing-pay juga menganggapnya sebagai musuh. Dunia selebar ini terasa tiada tempat berpijak lagi baginya.

Teringat pula budi kebaikan guru dan ibu-gurunya yang telah mendidiknya sejak kecil mirip ayah-bunda kandung sendiri, tapi dirinya yang sembrono tingkah lakunya sehingga dipecat dari perguruan. Dapat diduga kepedihan gurunya waktu menulis surat ini mungkin lebih hebat daripada dirinya sekarang.

Begitulah Lenghou Tiong merasa sedih dan malu pula, sungguh ingin sekali kepalanya ditumbukkan dinding dan biar mati saja.

Dengan air mata meleleh samar-samar dilihatnya wajah Hong-ting dan Hong-sing Taysu sama menampilkan rasa kasihan padanya. Tiba-tiba Lenghou Tiong teringat ketika di kota Heng-san dulu waktu Lau Cing-hong hendak cuci tangan dan mengundurkan diri dari dunia persilatan, soalnya dia bergaul dengan gembong Mo-kau Kik Yang, akhirnya jiwanya melayang di tangan jago-jago Ko-san-pay.

Dari peristiwa itu dapat diketahui bahwa antara cing-pay dan sia-pay tak mungkin hidup bersama, sampai-sampai tokoh masam Lau Cing-hong juga tak terhindar dari kematian lantaran bergaul dengan kaum sia-pay, apalagi dirinya yang tidak punya sandaran apa-apa, lebih-lebih sesudah terjadi keonaran besar yang diperbuat kawanan iblis sia-pay di Ngo-pah-kang.

Terdengar Hong-ting berkata dengan perlahan, “Lautan derita tak bertepi, berpaling kembali ada gili-gili. Sekalipun penjahat yang tak terampunkan, asalkan mau sadar dan bertekad memperbaiki, maka pintu Buddha akan selalu terbuka baginya. Usiamu masih muda, kau baru kejeblos dan salah bergaul dengan orang jahat, masakah seterusnya tiada jalan bagimu untuk memperbaiki? Hubunganmu dengan Hoa-san-pay sekarang sudah putus sama sekali, selanjutnya boleh masuk Siau-lim-pay kami, perbaikilah semua kesalahan yang lalu dan jadilah manusia baru. Dengan begini kiranya orang Bu-lim juga tiada yang dapat membikin susah padamu.”

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir dirinya sedang menghadapi jalan buntu, jika sekarang mau berlindung di bawah pengaruh Siau-lim-pay, bukan saja akan mendapatkan lwekang yang tinggi dan jiwa sendiri dapat diselamatkan, bahkan dengan nama kebesaran Siau-lim-pay, terang tiada seorang Kangouw pun berani cari perkara pada murid Hong-ting Taysu.

Namun pada saat itu juga mendadak timbul wataknya yang kepala batu, katanya dalam hati, “Seorang laki-laki sejati tidak mampu berdikari di atas bumi ini dan mesti merendahkan diri mohon perlindungan kepada golongan lain, terhitung orang gagah macam apakah ini? Sekalipun beribu orang Kangouw ingin membunuh aku, biarkan mereka membunuh saja. Suhu tidak sudi padaku lagi dan memecat aku dari Hoa-san-pay, apa alangannya jika selanjutnya aku pergi-datang sendirian dengan bebas?”

Terpikir demikian, seketika darahnya bergolak dan mulut terasa dahaga, ingin rasanya minum arak sepuas-puasnya dan tak terhiraukan lagi akan mati atau hidup. Bahkan bayangan Gak Leng-sian yang biasanya senantiasa terbayang sekarang juga tak terpikirkan lagi.

Ia berbangkit dan menjura beberapa kali kepada Hong-ting berdua, lalu berkata dengan suara lantang, “Wanpwe tidak disukai perguruan lagi, tapi juga malu untuk masuk perguruan lain. Welas asih kedua Taysu sungguh tak terhingga terima kasih Wanpwe, biarlah Wanpwe mohon diri saja sekarang.”

Hong-ting melengak melihat kepala batu pemuda yang tak gentar mati itu. Segera Hong-sing berkata, “Siauhiap, persoalan ini menyangkut mati-hidupmu, hendaknya kau pikir masak-masak dan jangan keburu nafsu.”

Namun Lenghou Tiong tidak bicara pula, ia putar tubuh dan keluar dari kamar itu, dadanya penuh rasa penasaran, tapi langkahnya sangat cepat dan enteng, dengan tindakan lebar ia keluar dari Siau-lim-si. Anak murid Siau-lim-si sama heran melihatnya, tapi juga tidak merintangi kepergiannya.

Keluar dari kuil agung itu, Lenghou Tiong menengadah dan tertawa panjang, suara tawa yang penuh rasa pedih dan duka. Pikirnya, “Setiap orang cing-pay sekarang sama anggap aku sebagai musuh, orang-orang sia-pay juga bertekad akan membunuh aku. Besar kemungkinan hidupku ini takkan melampaui hari ini. Lihat saja siapakah yang akan mencabut nyawaku ini.”

Ia coba meraba baju sendiri, ternyata sakunya tak beruang, pedang pun sudah tidak punya, bahkan kecapi hadiah Ing-ing pun entah hilang di mana, ia benar-benar dalam keadaan rudin tak miliki apa-apa. Tanpa khawatirkan apa pun segera ia turun dari pegunungan itu.

Menjelang petang, cukup jauh ia meninggalkan Siau-lim-si, badan terasa penat dan perut sangat lapar. Ia pikir ke mana mencari sedikit barang makanan.

Tiba-tiba terdengar suara tindakan orang ramai, tujuh-delapan orang tampak lari mendatang dari sebelah barat sana. Pakaian orang-orang itu sama ringkas kencang dari membawa senjata, lari mereka sangat tergesa-gesa.

“Apakah kalian hendak membunuh aku? Jika begitu silakan saja supaya aku tidak perlu repot-repot mencari makanan segala?” demikian pikirnya.

Maka ia lantas berdiri bertolak pinggang di tengah jalan dan berseru, “Ini dia Lenghou Tiong berada di sini. Yang ingin membunuh aku lekas beri tahukan dulu namanya!”

Siapa duga sesampai di depannya orang-orang itu hanya memandang sekejap saja padanya, lalu lewat di sebelahnya.

“Orang ini tentu orang gila!” demikian kata seorang di antaranya.

“Ya, jangan gubris dia, supaya tidak bikin runyam urusan penting kita,” kata seorang pula.

“Benar, jika keparat itu sampai kabur tentu bisa celaka,” tambah lagi orang ketiga. Dan hanya sekejap saja beberapa orang itu sudah menghilang di kejauhan.

Baru sekarang Lenghou Tiong mengetahui bahwa orang-orang itu sedang mengejar seorang lain. Baru saja rombongan tadi menghilang, tiba-tiba terdengar pula dari arah barat tadi berkumandang suara derapan kaki kuda yang riuh. Lima penunggang kuda tampak membalap tiba dan lalu di sampingnya.

Kira-kira belasan meter jauhnya, sekonyong-konyong seorang penunggang kuda itu memutar balik, penunggangnya adalah seorang wanita setengah umur, tanyanya kepada Lenghou Tiong, “Numpang tanya, apakah Anda melihat seorang kakek berjubah putih? Kakek itu bertubuh tinggi kurus dan membawa sebatang golok melengkung.”

“Tidak,” sahut Lenghou Tiong sambil menggeleng.

Wanita itu tidak tanya lebih jauh, segera ia putar kembali kudanya terus menyusul kawan-kawannya.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Apa barangkali mereka sedang mengejar dan hendak menangkap kakek berjubah putih yang mereka tanya itu? Aku lagi iseng, coba aku ikut ke sana untuk melihat keramaian.”

Segera ia putar haluan dan menyusul ke jurusan orang-orang tadi.

Tidak seberapa lama, kembali dari belakang ada belasan orang berlari datang lagi. Orang ini semuanya adalah laki-laki kekar dan berbaju hijau, tiap-tiap orang bersenjatakan dua batang badik mengilap. Dari seragam pakaian dan senjata mereka terang mereka adalah orang-orang dari suatu perguruan.

Ketika melihat Lenghou Tiong, seumur 50-an tahun berpaling dan bertanya, “Eh, adik cilik, apakah kau lihat seorang kakek berjubah putih? Badannya tinggi kurus dan membawa golok melengkung?”

“Tidak, tidak melihat orang begitu,” jawab Lenghou Tiong.

Tidak lama kemudian, sampailah di suatu persimpangan tiga, terdengar pula suara kelening kuda bergema dari barat daya sana, tiga penunggang tampak mendatang dengan cepat. Kuda-kuda itu semuanya sangat gagah, penunggangnya adalah pemuda berumur 20-an.

Sambil mengacungkan cambuknya, pemuda yang paling depan menegur Lenghou Tiong, “He, numpang tanya apakah kau lihat seorang ….”

“Seorang tua berjubah putih, berbadan tinggi kurus dan membawa senjata golok melengkung bukan?” demikian Lenghou Tiong menyambung.

Keruan ketiga pemuda itu menjadi girang, berbareng mereka berkata, “Benar! Di manakah dia?”

Tapi Lenghou Tiong lantas angkat bahu sambil menghela napas, jawabnya, “Entah, aku tidak melihatnya.”

Pemuda pertama kali menjadi gusar, bentaknya, “Kurang ajar! Jadi kau sengaja mempermainkan kami saja? Jika tidak melihatnya dari mana kau tahu orang tua itu?”

“Apakah tidak melihatnya lantas tidak boleh tahu?” sahut Lenghou Tiong tersenyum.

Pemuda itu angkat cambuknya hendak menyabat kepala Lenghou Tiong, tapi seorang kawannya telah mencegahnya, “Jite, jangan bikin onar! Marilah kita lekas susul ke sana.”

Pemuda pertama tadi mendengus sambil membunyikan cambuknya di udara, lalu melarikan kudanya ke jurusan semula.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Tampaknya orang-orang itu adalah jago-jago silat semua, beramai-ramai mereka mengejar seorang kakek, entah apa sebabnya? Hal ini sungguh menarik, biarlah aku ikut pergi ke sana untuk melihat ramai-ramai. Tapi kalau mereka tahu aku adalah Lenghou Tiong tentu aku akan dibunuhnya seketika.”

Terpikir demikian ia menjadi rada takut. Tapi lantas terpikir pula, “Saat ini baik dari cing-pay maupun dari sia-pay sama-sama ingin membunuh aku, walaupun aku dapat main sembunyi-sembunyi dan dapat menunda masa hidup ini untuk beberapa lama, tapi akhirnya toh sukar terhindar dari kematian. Lalu apa artinya toh sukar tertunda sehari-dua hari? Kan lebih baik terserah keadaan saja, coba ajalku ini akan tamat di tangan siapa?”

Begitulah segera ia menyusul ke arah kepulan debu yang dijangkitkan oleh ketiga penunggang kuda tadi.

Untuk selanjutnya ada beberapa kelompok orang lagi yang sama menanyakan padanya tentang si kakek jubah putih, Lenghou Tiong menjadi heran, pengejar-pengejar itu tidak mengetahui di mana beradanya si kakek, yang mereka tempuh adalah satu jurusan yang sama, hal ini benar-benar aneh.

Setelah beberapa li jauhnya, sesudah menyusuri sebuah hutan cemara, tiba-tiba di depan terbentang sebuah dataran yang lapang, di situlah berkerumun banyak orang sedikitnya ada enam-tujuh ratus orang, tanah datar itu sungguh sangat luas sehingga beberapa ratus orang itu hanya mengambil sebagian kecil tanah lapang itu. Sebuah jalan besar lurus menembus ke tengah-tengah kerumunan orang-orang itu, segera Lenghou Tiong melangkah ke sana mengikuti jalan itu.

Sesudah dekat, terlihat di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu ada sebuah gardu kecil. Orang-orang itu hanya mengepung di sekitar gardu itu dari jarak beberapa meter jauhnya dan tidak berani mendekat.

Gardu itu sebenarnya digunakan untuk istirahat bagi kaum pelancong yang lalu di situ, bangunannya sederhana dan rada buruk. Ketika Lenghou Tiong lebih mendekat lagi dilihatnya di tengah gardu itu ternyata ada seorang kakek berjubah putih, kakek itu seorang diri dan duduk menyanding sebuah meja dan sedang minum arak. Apakah kakek itu membawa golok melengkung atau tidak seketika sukar diketahui. Biarpun berduduk tapi tingginya hampir menyamai berdirinya orang biasa, jelas menandakan perawakan si kakek pasti sangat tinggi.

Walaupun dikepung orang sebanyak itu, tapi si kakek tampaknya tenang-tenang saja dan minum arak seenaknya, mau tak mau timbul rasa kagumnya Lenghou Tiong, terasa kesatria-kesatria yang pernah dijumpainya selama hidup ini tiada seorang pun yang segagah seberani si kakek.

Perlahan-lahan ia melangkah maju dan menyusup di tengah orang banyak. Orang-orang itu semuanya sedang memandang si kakek jubah putih dengan mata tak berkedip sehingga kedatangan Lenghou Tiong itu tidak menimbulkan perhatian mereka.

Ketika Lenghou Tiong mengamat-amati si kakek, dilihat jenggotnya yang panjang jarang-jarang itu sudah memutih dan terjulai di depan dada, tangannya memegang cawan arak, matanya memandang jauh ke ujung langit sana, sedikit pun tidak ambil pusing terhadap beberapa ratus orang yang mengepung di sekitarnya itu. Waktu memerhatikan pinggangnya, nyata di situ tergantung sebuah golok panjang berbentuk melengkung.

Sudah tentu Lenghou Tiong tidak tahu nama dan asal usul si kakek, juga tidak tahu mengapa dia bermusuhan dengan orang Bu-lim sebanyak itu, lebih-lebih tidak tahu apakah si kakek dari golongan cing-pay atau sia-pay, soalnya cuma kagum kepada sikapnya yang gagah berani sehingga timbul rasa simpatinya yang senasib.

Segera ia melangkah maju dan menyapa, “Locianpwe, kau sendirian tanpa teman, tentu merasa kesepian, biar aku mengiringimu minum arak.”

Tanpa diundang ia lantas masuk ke gardu itu, setelah memberi hormat lalu ia duduk di sebelah sana.

Kakek itu berpaling, sorot matanya yang tajam mengawasi Lenghou Tiong dari muka sampai ke ujung kaki. Terlihat pemuda yang tak dikenal ini tidak membawa senjata, wajahnya rada pucat. Ia rada heran, tapi ia pun tidak menjawab melainkan cuma mendengus saja.

Lenghou Tiong lantas angkat poci arak, lebih dulu ia menuangi cawan di depan si kakek, lalu menuang pula sebuah cawan yang lain.

“Mari!” ajaknya, arak secawan penuh itu terus ditenggak habis sekaligus.

Arak itu sangat keras, mulut serasa disayat-sayat dan laksana api membakar perut. “Ehmm, arak bagus!” demikian puji Lenghou Tiong.

“He, bocah itu!” mendadak seorang laki-laki di luar gardu sana membentak dengan nada kasar. “Lekas keluar dari situ. Kami hendak mengadu jiwa dengan Hiang-lothau, jangan kau mengacau dan mengalang-alangi di situ.”

“Aku minum arak sendiri bersama Hiang-locianpwe, alangan apa mengenai urusanmu?” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. Segera ia menuang secawan lagi dan ditenggak habis pula. Sambil mengacungkan ibu jari ia memuji, “Arak bagus!”

Tiba-tiba dari sebelah kiri sana seorang berseru, “Hei, lekas enyah bocah itu, jangan kau bikin jiwamu melayang percuma di sini. Atas perintah Tonghong-kaucu kami hendak menangkap pemberontak Hiang Bun-thian itu, jika orang luar berani ikut mengacau tentu akan kami bikin dia mati tak terkubur.”

Waktu Lenghou Tiong memandang ke arah datangnya suara, kiranya pembicara itu adalah seorang laki-laki kurus kecil dan bermuka kuning. Di sebelah laki-laki kurus kecil itu berdiri dua-tiga ratus orang berbaju seragam hijau, ada laki-laki dan ada perempuan, ada hwesio dan juga ada orang biasa. Baju mereka hijau seragam, hanya ikat pinggang mereka yang beraneka warna dan berbeda-beda. Ikat pinggang laki-laki kurus kecil itu berwarna kuning, di antara dua-tiga ratus orang itu hanya dia sendiri yang pakai ikat pinggang kuning.

Lenghou Tiong jadi teringat kepada Kik Yang, itu gembong Mo-kau yang dilihatnya di luar kota Heng-san dahulu, baju yang dipakai Kik Yang juga berwarna hijau, kalau tidak salah ikat pinggangnya juga berwarna kuning. Sekarang laki-laki kurus kecil ini menyatakan hendak menangkap pemberontak atas perintah Tonghong-kaucu, jika demikian orang-orang itu terang adalah anggota Mo-kau setingkat dengan Kik Yang sama-sama tianglo (tertua) dari agama sesat itu.

“Arak bagus!” demikian kembali ia menenggak habis secawan arak. Lalu katanya kepada si kakek berjubah putih yang bernama Hiang Bun-thian itu, “Hiang-locianpwe, Cayhe telah minum tiga cawan arakmu, banyak terima kasih!”

Pada saat itulah mendadak di sebelah timur sana ada orang berteriak, “Bocah itu adalah murid Hoa-san-pay yang dipecat, namanya Lenghou Tiong!”

Lenghou Tiong coba memerhatikan siapa yang bicara itu, kiranya adalah murid Jing-sia-pay yang bernama Kau Jin-hong. Sekarang dengan jelas dapat dilihatnya bahwa di sekitar Kau Jin-hong masih banyak pula jago-jago Ngo-gak-kiam-pay.

“Hei, Lenghou Tiong,” terdengar seorang tosu di antaranya berseru, “gurumu mengatakan kau berkomplot dengan kaum iblis, nyatanya memang benar. Kedua tangan Hiang Bun-thian itu berlumuran darah kaum kesatria dan pendekar, apa yang kau lakukan bersama dia? Jika kau tidak lekas menyingkir, sebentar orang banyak akan mencencangmu hingga hancur luluh.”

“Yang bicara itu Susiok dari Thay-san-pay bukan?” tanya Lenghou Tiong. “Cayhe selamanya tidak kenal Hiang-locianpwe ini. Tapi kalian berjumlah beberapa ratus orang dan mengepung dia sendirian, terhitung perbuatan macam apakah ini? Sejak kapan lagi jago Ngo-gak-kiam-pay bersatu dengan orang Mo-kau? Cing-pay dan sia-pay sekarang telah bersatu menghadapi Hiang-locianpwe sendiri, apakah hal ini takkan ditertawai oleh setiap kesatria di dunia ini?”

Tosu itu menjadi gusar, jawabnya, “Bilakah kami bersatu dengan orang Mo-kau untuk menangkap anggota murtad mereka? Kita hanya ingin menuntut balas bagi kawan-kawan kita yang terbunuh oleh bangsat keparat ini. Masing-masing mengerjakan kepentingannya sendiri, satu dan lain tiada sangkut paut.”

“Bagus, bagus, bagus, jika begitu, asalkan kalian bertempur satu lawan satu, maka aku akan menyaksikan keramaian ini sambil duduk minum arak di sini,” ujar Lenghou Tiong tertawa.

“Kau ini kutu macam apa?” bentak Kau Jin-hong. “Ayolah beramai-ramai binasakan dulu bocah ini, kemudian baru bikin perhitungan dengan bangsat she Hiang itu.”

Dengan tertawa Lenghou Tiong berkata, “Untuk membinasakan aku Lenghou Tiong seorang kenapa mesti pakai maju beramai-ramai segala? Silakan Kau-heng maju sendiri saja dan beres!”

Dahulu Kau Jin-hong pernah ditendang terjungkal ke bawah loteng restoran di kota Heng-san, ia tahu kepandaian sendiri masih kalah jauh maka sekarang ia pun tidak berani maju, ia tidak tahu bahwa tenaga dalam Lenghou Tiong sudah punah. Sedangkan kawan-kawannya rupanya jeri terhadap kelihatan Hiang Bun-thian sehingga tidak berani menyerbu ke dalam gardu itu.

“Orang she Hiang,” demikian terdengar laki-laki kurus kecil dari Mo-kau tadi berteriak, “urusan sudah begini, jika kau tahu gelagat, lebih baik ikut saja dengan kami untuk menghadap Kaucu dan mohon keringanan keputusannya. Kau pun terhitung jago agama kita, apakah perlu kita harus bertempur mati-matian sehingga ditertawai orang luar?”

Hiang Bun-thian tidak menjawab, ia hanya menjengek sambil angkat cawan arak dan diminum seceguk. Berbareng itu terdengarlah suara gemerencingnya logam.

Lenghou Tiong dapat melihat jelas di antara kedua tangan orang tua itu ternyata terikat oleh seutas rantai besi. Keruan ia sangat heran, “Kiranya dia baru melarikan diri dari kurungan sehingga rantai tangannya belum sempat dihilangkan.”

Seketika rasa simpatinya timbul lebih meluap, pikirnya, “Orang tua ini sudah tidak mampu melawan, biarlah aku membantu dia menahan musuh-musuhnya dan masa bodoh jiwaku jika mesti melayang di sini.”

Dengan ketetapan pikiran itu segera ia berdiri, sambil bertolak pinggang ia berseru lantang, “Hiang-locianpwe ini masih terantai, mana dia bisa bertempur dengan kalian? Aku sudah minum tiga cawan araknya yang enak, apa boleh buat terpaksa aku membantu dia melawan musuh-musuhnya. Nah, siapa saja yang mengganggu orang she Hiang harus membunuh dulu Lenghou Tiong ini!”

Melihat kelakuan Lenghou Tiong yang angin-anginan dan seperti orang sinting itu, tanpa sebab terus tampil ke muka untuk membelanya, keruan Hiang Bun-thian sangat heran dan tertarik, dengan suara perlahan ia tanya, “Nak, kenapa kau membantu aku?”

“Melihat ketidakadilan angkat golok membantu,” sahut Lenghou Tiong singkat.

“Mana golokmu?” ujar Hiang Bun-thian.

“Aku memakai pedang,” jawab Lenghou Tiong. “Cuma sayang tidak ada pedang.”

“Bagaimana ilmu pedangmu?” tanya Hiang Bun-thian. “Kau adalah murid Hoa-san-pay, kukira ilmu pedangmu juga cuma begitu-begitu saja.”

“Memang cuma begitu-begitu saja, apalagi sekarang aku terluka dalam, tenaga sudah punah, lebih-lebih tak keruan lagi,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Kau ini benar-benar aneh,” ujar Hiang Bun-thian. “Tapi baiklah, akan kucarikan sebilah pedang bagimu.”

Mendadak bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Hiang Bun-thian sudah menerjang ke tengah-tengah kerumunan orang itu. Dalam sekejap tertampaklah sinar senjata yang menyilaukan mata, berpuluh macam senjata memapak kedatangannya, tahu-tahu Hiang Bun-thian menyusup ke samping dan menubruk ke arah si tosu dari Thay-san-pay tadi.

Kontan pedang si tosu menusuk, tapi Hiang Bun-thian berkelit ke belakangnya, sikut kiri terus menyodok, “bluk”, dengan tepat punggung si tosu kena disodok. Waktu tangan Hiang Bun-thian terangkat, pedang si tosu kena dibelit oleh rantainya berbareng kaki lantas menggenjot, seperti anak panah terlepas dari busurnya ia melayang kembali ke dalam gardu tadi.

Beberapa gerakan itu terjadi dengan cepat luar biasa, baru saja para jago cing-pay berniat mengejar, namun sudah terlambat. Seorang laki-laki paling cepat memburunya, ia sempat menyusul sampai dua-tiga meter di luar gardu, goloknya diangkat terus membacok.

Namun punggung Hiang Bun-thian seolah-olah ada matanya, tanpa menoleh sebelah kakinya terus mendepak ke belakang, dengan telak dada penyerang itu kena didepak. Orang itu menjerit dan mencelat, saking keras goloknya tadi membacok sehingga sebelah kaki sendiri sampai terkutung oleh senjatanya sendiri.

Sedangkan tosu Thay-san-pay tadi seperti orang mabuk arak, ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terkapar, darah segar tiada hentinya mengucur keluar dari mulutnya.

Pada saat itulah terdengar anggota Mo-kau sama bersorak gemuruh, berpuluh orang sama berteriak, “Hebat benar kepandaian Hiang-yusu.”

Hiang Bun-thian tampak tersenyum, ia angkat kedua tangannya sebagai tanda terima kasih atas pujian anggota-anggota Mo-kau itu. Waktu ia ayun tangannya, “cret”, pedang yang terbelit di rantainya itu menancap di atas meja.

“Nah, pakailah?” katanya.

Alangkah kagum Lenghou Tiong, katanya di dalam hati, “Orang ini menerjang musuh seakan-akan memasuki daerah tak berpenduduk, ternyata dia memiliki kepandaian yang benar-benar luar biasa.”

Ia tidak mencabut pedang yang menancap di atas meja itu, tapi katanya, “Ilmu silat Hiang-locianpwe sedemikian hebat, rasanya Wanpwe tidak perlu ikut-ikut lagi.”

Lalu ia memberi salam hormat dan berkata pula, “Aku mohon diri saja.”

Tapi sebelum Hiang Bun-thian bersuara, sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, tiga batang pedang tahu-tahu menyambar ke dalam gardu. Kiranya adalah murid Jing-sia-pay, Kau Jin-hong bertiga telah menyerang berbareng.

Ketiga pedang itu semuanya mengancam tubuh Lenghou Tiong, yang satu mengarah punggungnya dan yang dua menusuk kanan kiri pinggang bagian belakang. Jaraknya tidak lebih dari belasan senti saja.

“Berlututlah Lenghou Tiong!” bentak Kau Jin-hong, berbareng itu ujung pedangnya terus mendesak maju sehingga menempel kulit daging Lenghou Tiong.

“Biarpun mati juga tidak sudi mati di tangan murid Jing-sia-pay yang pengecut seperti kalian ini,” demikian pikir Lenghou Tiong. Ia tahu dirinya sudah terkurung di bawah ancaman ujung pedang lawan, asal putar tubuh segera ujung pedang yang satu akan menancap di dada dan kedua pedang yang lain menusuk ke dalam perutnya.

Mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, “Baiklah, berlutut juga boleh!”

Sebelah kaki kanan sedikit bertekuk seperti hendak berlutut, tapi secepat kilat tangan kanan terus menyambar pedang yang menancap di atas meja tadi dan berbareng diputar ke belakang.

Tanpa ampun lagi tiga tangan ketiga murid Jing-sia-pay itu terkurung sebatas pergelangan dan jatuh ke lantai dengan masih mencengkeram pedang.

Muka Kau Jin-hong bertiga pucat bagai mayat, mereka tidak pernah membayangkan bisa terjadi demikian. Setelah tertegun sejenak barulah mereka melompat mundur. Seorang di antaranya adalah anak murid Jing-sia-pay yang masih sangat muda, umurnya paling-paling baru 16-17 tahun, saking kesakitannya dia sampai menangis dan menjerit-jerit.

Lenghou Tiong merasa menyesal, katanya, “Maaf adik cilik, kau sendirilah yang lebih dulu bermaksud membunuh aku!”

“Kiam-hoat bagus!” terdengar Hiang Bun-thian bersorak memuji. Lalu katanya pula, “Pedangnya kurang kuat, tenaga dalamnya terlalu lemah!”

“Bukan saja tenaga dalam lemah, pada hakikatnya memang tidak bertenaga dalam lagi,” ujar Lenghou Tiong tertawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: