Hina Kelana: Bab 60. Ih-kin-keng Penyambung Jiwa Lenghou Tiong

Habis makan, Lenghou Tiong merasa letih pula, sayup-sayup ia tertidur lagi akhirnya. Di tengah mimpinya tiba-tiba seperti didengarnya suara orang menangis. Waktu ia membuka mata perlahan-lahan, dilihatnya Ing-ing mendekam di samping kakinya, pundaknya tampak bergerak naik turun, terang nona itu sedang menangis.

Lenghou Tiong terkejut, baru bermaksud tanya si nona mengapa mendadak berduka, tapi segera ia paham duduknya perkara, tentu dia tahu ajalku sudah hampir tiba, makanya dia merasa sedih.

Perlahan-lahan ia mengulurkan sebelah tangan untuk meraba dan membelai rambut si nona.

Tahu bahwa Lenghou Tiong sudah mendusin, Ing-ing tidak angkat kepalanya lagi, sebaliknya menangis semakin sedih.

“Jangan menangis, jangan menangis!” hibur Lenghou Tiong dengan sengaja tertawa, “Umurku masih ada 80 tahun lamanya, masakah begini cepat aku mau bersanakan dengan Giam-lo-ong (raja akhirat)?”

Dengan menangis Ing-ing berkata, “Tapi makin hari kau semakin kurus, aku … aku ….”

Mendengar ucapan si nona, yang simpatik dan penuh kecemasan itu, sungguh hati Lenghou Tiong sangat terharu. Seketika ia merasa langit dan bumi seakan-akan berputar-putar, darah seperti mau menyembur keluar dari kerongkongannya. Lalu ia tidak ingat diri lagi.

Pingsannya itu entah sudah lewat berapa lamanya, hanya terkadang ia dapat merasakan sedikit tubuhnya seperti terapung di atas langit, habis itu dia lantas kehilangan ingatan pula. Begitulah terkadang ia bisa sadar sebentar, tapi tidak lama ia lantas pingsan lagi. Terkadang merasa ada orang mencekoki minuman padanya, tempo-tempo terasa ada orang membakar badannya dengan api.

Suatu hari, pikiran Lenghou Tiong terasa rada jernih. Didengarnya suara seorang lelaki sedang berkata, “Apakah dia dapat hidup, hal ini mesti melihat rezekinya.”

“Ai, memang sukar untuk diramalkan,” terdengar suara seorang lelaki lain sambil menghela napas.

Mestinya Lenghou Tiong bermaksud membuka matanya untuk melihat siapakah gerangan orang-orang yang berbicara itu, akan tetapi kelopak matanya dirasakan amat berat, betapa pun sukar dipentang. Didengarnya orang yang pertama tadi berkata pula, “Biarlah kita berusaha sepenuh tenaga, kita jangan mengecewakan kepercayaan orang kepada kita.”

Menyusul Lenghou Tiong lantas merasa kedua pergelangan tangannya dipegang orang, masing-masing ada suatu hawa hangat yang menyalur ke dalam tubuhnya melalui urat nadi pergelangan itu, maka terjadilah pergolakan hebat dengan tenaga murni yang telah mengeram lebih dulu di dalam tubuhnya itu.

Sekujur badan dirasakannya sangat menderita, ia bermaksud berteriak, tapi sedikit pun tak dapat mengeluarkan suara. Saat itu dia benar-benar tersiksa seperti mengalami berbagai macam alat penyiksa yang paling hebat.

Begitulah ia terus dalam keadaan sadar tak-sadar dan entah sudah lewat berapa lamanya, ia hanya dapat merasakan setiap kali terasa ada hawa murni menyalur masuk ke dalam badannya, maka rasa derita yang hebat itu lantas rada berkurang. Lambat laun ia paham juga bahwa pasti ada dua orang yang mempunyai lwekang amat tinggi sedang menolong dan menyembuhkan penyakitnya. Pikirnya ragu-ragu, “Apakah barangkali Suhu atau Sunio telah mengundang tokoh sakti dari mana untuk menolong jiwaku? Dan ke mana perginya Ing-ing sekarang?”

Karena rasa sangsi dan ingin tahunya, pada hari ini sesudah menerima saluran hawa murni ia lantas mengajukan pertanyaan, “Banyak terima kasih atas pertolongan Cianpwe? Entah saat ini aku berada … berada di mana?”

Waktu ia membuka mata, dilihatnya suatu wajah yang penuh berkeriput, tapi mengulum senyum yang sangat ramah.

Lenghou Tiong merasa sudah kenal baik wajah orang tua ini, yang pasti bukanlah suhunya, dalam keadaan samar-samar ia memandangnya sejenak, tapi mendadak ia dapat mengingatnya dari kepala orang tua yang gundul dengan sembilan titik bekas selomot api dupa itu, terang kepala ini adalah seorang hwesio, segera teringat olehnya, katanya, “Engkau adalah … adalah Hong-sing Taysu.”

Hwesio tua itu tersenyum dan menjawab, “Kau masih kenal padaku. Ya, aku Hong-sing adanya.”

“Ya, ya, engkau memang Hong-sing Taysu,” kata Lenghou Tiong pula. Kini ia dapat merasakan dirinya ternyata berada di dalam sebuah kamar yang gelap, di tengah kamar hanya diterangi oleh sebuah pelita yang bercahaya guram, dirinya terasa terbaring di atas balai-balai dengan berselimut.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Hong-sing.

“Sudah banyak lebih baik,” sahut Lenghou Tiong. “Di … di manakah aku berada ini?”

“Kau berada di dalam Siau-lim-si,” kata Hong-sing. “Selama tiga bulan ini untuk pertama kalinya kau membuka suara.”

Keruan Lenghou Tiong kaget, serunya, “Haaah? Aku … aku berada di Siau-lim-si? Dan di … di manakah Ing-ing? Mengapa aku bisa … bisa sampai di Siau-lim-si sini?”

“Kau baru saja sadar, pikiranmu tentu belum jernih kembali, lebih baik kau jangan banyak berpikir supaya penyakitmu tidak kambuh kembali,” ujar Hong-sing dengan tersenyum. “Jika ada urusan apa-apa biarlah dibicarakan kelak secara perlahan-lahan.”

Begitulah untuk selanjutnya setiap hari Hong-sing selalu datang ke kamar itu pada waktu pagi dan malam untuk menyalurkan tenaga murninya ke dalam tubuh Lenghou Tiong untuk bantu menyembuhkan penyakitnya.

Lewat belasan hari lagi keadaan Lenghou Tiong sudah tambah baik, dia sudah mulai bisa berduduk dan dapat pula turun dari pembaringan untuk berjalan, tapi setiap kali ia tanya tentang Ing-ing dan ke mana perginya nona itu pula tentang cara bagaimana dirinya bisa berada di Siau-lim-si, pertanyaan-pertanyaan ini selalu dijawab oleh Hong-sing dengan tersenyum saja tanpa penjelasan.

Suatu hari, kembali Hong-sing datang memberi saluran hawa murni pula kepada Lenghou Tiong, katanya, “Lenghou-siauhiap, sekarang jiwamu boleh dikata sudah dapat diselamatkan, cuma kekuatan Lolap sangat terbatas, selama ini masih tidak sanggup memunahkan hawa murni yang sangat aneh di dalam badanmu itu sehingga terpaksa hanya bisa mengulur waktu saja, tapi besar kemungkinan tidak sampai setahun penyakitmu sudah akan kambuh lagi, tatkala mana biarpun ada malaikat dewata juga sukar menolong jiwamu.”

“Ya, tempo hari Peng It-ci, Peng-tayhu juga berkata demikian kepadaku,” sahut Lenghou Tiong mengangguk. “Taysu telah berusaha sekuat tenaga untuk menolong Wanpwe, sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga. Tentang usia seseorang memang sudah takdir Ilahi, betapa pun keinginan orang juga tak dapat berbuat melawan takdir.”

Hong-sing menggeleng, katanya, “Dahulu pernah kukatakan padamu bahwa ketua kami Hong-ting Taysu memiliki lwekang yang mahatinggi, jika beliau ada jodoh dengan kau dan suka mengajarkan ‘Ih-kin-keng’ yang hebat itu kepadamu, maka otot tulang saja dapat diperbarui apalagi cuma memunahkan hawa murni di dalam tubuhmu? Marilah sekarang juga akan kubawa kau pergi menemui Hongtiang Suheng, semoga kau dapat menjawab pertanyaannya dengan baik-baik.”

Memang sudah lama Lenghou Tiong mendengar nama kebesaran ketua Siau-lim-si Hong-ting Taysu, tentu saja ia sangat girang. Jawabnya cepat, “Banyak terima kasih atas kesudian Taysu mempertemukan Wanpwe kepada Hongtiang, seumpama Wanpwe tidak berjodoh dengan beliau dan tidak memenuhi syarat, tapi asalkan dapat berjumpa dengan padri agung yang terkemuka pada zaman ini juga sudah bahagia bagiku.”

Habis itu ia lantas ikut Hong-sing Taysu keluar dari kamar itu. Setiba di luar, seketika matanya menjadi silau oleh cahaya sang surya yang gemilang. Sudah sekian lamanya ia tidak melihat matahari, kini mendadak pandangannya menjadi silau, rasanya seperti memasuki suatu dunia lain, semangatnya lantas terbangkit dan segar.

Di waktu melangkah sesungguhnya kedua kaki Lenghou Tiong masih terasa sangat lemas. Dilihatnya Siau-lim-si itu terdiri dari suatu kompleks gedung-gedung atau istana-istana yang sangat megah. Sepanjang jalan yang dilalui telah banyak bertemu dengan kawanan padri, tapi waktu melihat Hong-sing semuanya lantas menyingkir ke tepi jalan sambil menundukkan kepala memberi hormat dengan sikap yang sangat segan.

Setelah menyusuri tiga jalanan serambi yang panjang, akhirnya mereka sampai di luar sebuah rumah batu. Hong-sing lantas berkata kepada seorang hwesio cilik yang menjaga di luar rumah itu, “Hong-sing ada urusan dan mohon bertemu dengan Hongtiang Suheng.”

Hwesio cilik itu mengiakan dan melaporkannya ke dalam. Tidak lama kemudian ia telah keluar lagi dan memberi hormat, katanya, “Hongtiang menyilakan Taysu masuk.”

Segera Lenghou Tiong ikut di belakang Hong-sing memasuki rumah batu itu. Terlihatlah seorang hwesio tua bertubuh pendek kecil duduk di atas satu kasuran di tengah-tengah ruangan.

“Hong-sing menyampaikan sembah kepada Hongtiang Suheng,” demikian Hong-sing lantas memberi hormat kepada hwesio tua itu. “Bersama ini pula Hong-sing memperkenalkan murid pertama dari Hoa-san-pay, Lenghou Tiong, Lenghou-siauhiap.”

Cepat Lenghou Tiong lantas berlutut dan memberi sembah.

Hong-ting Hongtiang, ketua Siau-lim-si, sedikit membungkuk tubuh sambil mengangkat tangan kanannya dan berkata, “Siauhiap jangan banyak peradatan. Silakan duduk!”

Selesai memberi hormat, lalu Lenghou Tiong mengambil tempat duduk di atas kasuran yang terletak di samping Hong-sing. Dilihatnya paras ketua Siau-lim-si itu rada-rada muram, seakan-akan orang yang sedang bersedih, usianya sukar untuk ditaksir. Diam-diam ia heran, “Sungguh tidak nyana bahwa padri agung yang namanya mengguncangkan dunia ini ternyata cuma begini saja mukanya. Jika bertemu dengan dia di luar Siau-lim-si mungkin tiada seorang pun yang akan menduga bahwa dia adalah ketua suatu aliran terbesar di dunia persilatan pada zaman ini.”

Dalam pada itu terdengar Hong-sing Taysu telah bicara pula, “Lapor Suheng, sesudah mendapat perawatan selama lebih tiga bulan, kini kesehatan Lenghou-siauhiap sudah jauh bertambah baik.”

Lenghou Tiong terkejut lagi, “Kiranya sudah lebih tiga bulan lamanya aku dalam keadaan tak sadarkan diri, tadi aku sih mengira paling lama baru belasan hari saja.”

Terdengar Hong-ting Taysu telah berkata, “Baik sekali,” lalu ia menoleh kepada Lenghou Tiong dan meneruskan, “Siauhiap, gurumu Gak-siansing adalah ketua Hoa-san-pay, pribadi beliau terkenal sangat tegas dan jujur, namanya berkumandang di seluruh penjuru Kangouw, Lolap sendiri selamanya juga sangat kagum kepada beliau.”

“Ah, Hongtiang terlalu memuji,” sahut Lenghou Tiong dengan rendah hati. “Wanpwe menderita penyakit parah dan tak sadarkan diri, syukur mendapat pertolongan dari Hong-sing Taysu sehingga jiwaku dapat diselamatkan. Selama Wanpwe tidak sadarkan diri kiranya sudah lebih tiga bulan lamanya. Selama itu Suhu dan Subo kami tentulah dalam keadaan baik-baik juga?”

Tentang guru dan ibu-gurunya sendiri apakah baik-baik atau tidak mestinya tidak layak ditanyakan kepada orang luar, cuma lantaran Lenghou Tiong sangat memikirkan kedua orang tua itu sehingga tanpa pikir ia telah mengajukan pertanyaan demikian.

Maka terdengar Hong-sing telah menjawab, “Kabarnya Gak-siansing, Gak-hujin, serta para murid Hoa-san-pay kini berada semua di Hokkian.”

Mendapat keterangan itu, legalah hati Lenghou Tiong, katanya, “Banyak terima kasih atas pemberitahuan ini.”

Lalu Hong-ting mulai berkata pula, “Menurut keterangan Hong-sing Sute, katanya ilmu pedang Lenghou-siauhiap mahahebat dan sudah memperoleh ajaran asli ‘Tokko-kiu-kiam’ dari kaum cianpwe Hoa-san-pay Hong-losiansing, hal ini sungguh sangat menggirangkan dan pantas diucapkan selamat kepada Siauhiap. Sudah lama sekali Hong-losiansing mengasingkan diri, selama ini Lolap menyangka beliau sudah wafat, siapa kira beliau masih berada di dunia fana ini, sungguh membuat orang girang tak terhingga dan Lolap juga ikut bersyukur.”

Lenghou Tiong hanya mengiakan saja. Diam-diam ia berpikir, “Menurut tingkatan angkatan, Hong-thaysusiokco memang lebih tua daripada kedua padri agung Siau-lim-si ini, mereka ini memang harus menyebut beliau sebagai locianpwe.”

Dalam pada itu kedua mata Hong-ting tampak rada tertutup, lalu berkata pula dengan perlahan, “Sesudah Lenghou-siauhiap terluka, tapi karena mendapat penyembuhan yang keliru dari orang yang tidak mahir sehingga di dalam tubuhmu terhimpun berbagai macam hawa murni yang aneh dan sukar dipunahkan, hal-hal ini Lolap sudah diberi tahu oleh Hong-sing Sute. Setelah Lolap meninjau persoalan ini dengan teliti, kukira hanya ada satu jalan, yaitu melatih ‘Ih-kin-keng’, yaitu inti lwekang yang paling tinggi dari Siau-lim-pay kami, dengan demikian barulah kelak Siauhiap mampu memunahkan macam-macam hawa murni jahat itu dengan kekuatan yang timbul dari tubuhmu sendiri. Sebaliknya kalau mau memunahkannya dengan kekuatan dari luar, walaupun jiwamu dapat diulur dan ditunda untuk sementara waktu, namun sebenarnya tiada gunanya, bahkan akan lebih merugikan dirimu malah. Selama lebih tiga bulan Hong-sing Sute telah menyelamatkan jiwamu dengan tenaga dalamnya, akan tetapi dengan tersalurkannya tenaga dalamnya ke dalam tubuhmu, maka kini di dalam tubuhmu menjadi bertambah pula semacam hawa murni yang aneh. Untuk ini boleh Siauhiap coba-coba buktikan dengan mengerahkan tenagamu, coba.”

Lenghou Tiong menurut, ia coba-coba mengerahkan tenaga sedikit saja, benar juga lantas terasa darah bergolak, sakitnya bukan kepalang, seketika butir-butir keringat berketes-ketes dari dahinya.

“Lolap tidak becus sehingga makin menambah penderitaan Siauhiap,” ujar Hong-sing sambil merangkap kedua tangannya.

Jawab Lenghou Tiong, “Ah, mengapa Taysu berkata demikian? Taysu telah menolong jiwa Wanpwe dengan sepenuh tenaga sehingga banyak mengorbankan tenaga murni, bisanya Wanpwe hidup lagi seperti sekarang adalah berkat budi pertolongan Taysu.”

“Aku tidak berani,” sahut Hong-sing. “Dahulu Hong-losiansing pernah menolong Lolap, maka sedikit perbuatanku ini tidak lebih hanya sebagian kecil saja batas budi kebaikan Hong-losiansing itu.”

Tiba-tiba Hong-ting mengangkat kepalanya dan berkata, “Bicara tentang budi kebaikan atau dendam sakit hati apa segala? Budi kebaikan adalah jodoh, dendam sakit hati tidak boleh dipegang teguh. Segala kejadian di dunia fana ini laksana asap saja yang akan buyar dalam sekejap mata, setelah mencapai kesempurnaan takkan ada soal budi kebaikan dan dendam sakit hati lagi.”

“Ya, terima kasih atas petuah Suheng ini,” sahut Hong-sing.

Perlahan-lahan Hong-ting berkata pula, “Anak murid Buddha harus mengutamakan welas asih. Jika Siauhiap sudah menderita penyakit sedalam itu, sudah seharusnya akan kutolong sepenuh tenaga. Tentang ‘Ih-kin-keng’ itu adalah ciptaan cikal bakal Siau-lim-si kami Tat-mo Cosu yang kemudian diwariskan kepada Cosu kedua, Hui-ko Taysu. Asalnya Hui-ko Taysu bergelar Sin-kong, beliau adalah orang Lokyang, waktu mudanya banyak mempelajari agama-agama lain, pengetahuannya sangat luas. Waktu Tat-mo Cosu sampai bersemayam di sini, Sin-kong Taysu telah berkunjung kemari dan mohon diterima sebagai murid, namun Tat-mo Cosu merasa apa yang dipelajari Sin-kong Taysu terlalu ruwet dan sukar memahami ajaran Buddha melulu, maka telah menolak permohonannya. Sin-kong Taysu masih terus memohon dengan sangat dan tetap tidak dapat diterima, akhirnya beliau lantas melolos pedang dan mengutungi lengan kiri sendiri.”

“Ah!” Lenghou Tiong sambil bersuara kaget. Pikirnya, “Ternyata tekad Sin-kong Taysu itu sedemikian teguhnya.”

Hong-ting melanjutkan pula ceritanya, “Melihat begitu teguh maksud Sin-kong Taysu barulah kemudian Tat-mo Cosu mau menerimanya sebagai murid dan mengganti nama sucinya sebagai Hui-ko, kelak Hui-ko Taysu yang menjadi pewaris Tat-mo Cosu dan pada Zaman Sui-tiau (Dinasti Sui) beliau diberi sebutan sebagai ‘Sian-kat Taysu’. Ih-kin-keng yang diperoleh Hui-ko Taysu masih tertulis dalam huruf Hindu kuno, arti dalam kitab itu sangat luas, Hui-ko Taysu memperoleh kitab itu di tempat semadi Tat-mo Cosu ketika wafat sehingga isi kitab itu tak dapat dipelajari.

“Menurut tafsiran Hui-ko Cosu, kitab yang ditinggalkan Tat-mo Cosu sesudah bersemadi menghadapi tembok selama sembilan tahun, walaupun isi kitab hanya sedikit saja, tapi maknanya pasti lain daripada yang lain. Maka beliau lantas membawa kitab itu dan menjelajahi berbagai pegunungan ternama untuk mencari padri saleh yang dapat memberi pemecahan tentang arti isi kitab itu.

“Namun dapatlah dibayangkan, tatkala itu Hui-ko Cosu sudah terhitung padri saleh pada zaman itu, apa yang beliau renungkan saja sukar dipecahkan, apalagi mau mencari padri saleh lain yang lebih pintar daripada Hui-ko Cosu sendiri, terang hal ini sangat sulit dicari. Sebab itulah selama lebih dari 20 tahun arti dari isi kitab Ih-kin-keng yang dalam itu tetap tak terpecahkan.

“Pada suatu hari, berkat jodoh Hui-ko Cosu yang amat terpuji, beliau telah dapat bertemu dengan seorang padri Hindu di puncak Go-bi-san, padri Hindu itu bernama Panji Miti, keduanya telah saling tukar pendapat tentang ajaran Buddha dan masing-masing merasa sangat cocok satu sama lain. Akhirnya Hui-ko Cosu telah mengeluarkan Ih-kin-keng yang dibawanya untuk dibaca dan dipelajari bersama dengan Panji Miti. Kedua padri saleh itu saling tukar pendapat di puncak Go-bi-san selama 7×7=49 hari dan akhirnya dapat mencapai maksud tujuannya, isi kitab itu telah dapat dipecahkan dengan baik.”

“Omitohud! Siancay! Siancay!” demikian Hong-sing mengucapkan sabda Buddha.

Lalu Hong-ting melanjutkan pula, “Tapi apa yang dapat dipecahkan oleh padri saleh Panji Miti itu sebagian besar adalah ajaran Buddha melulu, baru 12 tahun kemudian ketika Hui-ko Cosu bertemu dengan seorang muda yang mahir ilmu silat di Tiang-an, mereka saling tukar pikiran pula selama tiga hari tiga malam, akhirnya segala intisari ilmu silat yang terkandung di dalam Ih-kin-keng itu dapatlah dipahami seluruhnya.”

Setelah merandek sejenak, kemudian disambungnya, “Orang muda itu bukan lain adalah pahlawan berjasa pada pendirian dinasti Tong yang terkenal dengan gelaran Wei-kok-kong Li Ceng adanya. Sebabnya Li Ceng dapat mendirikan begitu besar pahala tak lain adalah berkat manfaat yang diperolehnya dari isi Ih-kin-keng itu.”

Diam-diam Lenghou Tiong berpikir, “O, kiranya begitu hebat asal usulnya ‘Ih-kin-keng’ ini.”

Hong-ting lantas melanjutkan pula, “Ilmu di dalam Ih-kin-keng itu melingkupi segenap urat nadi seluruh tubuh dan mengikat semangat semua anggota badan, kekuatan akan timbul dari dalam tubuh dan darah akan mengalir lancar. Jika kitab itu sudah dapat diyakinkan isinya, maka tenaga dapat timbul menurut keinginan tanpa terputus. Lenghou-siauhiap, meyakinkan Ih-kin-keng adalah laksana sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di tengah gelombang ombak samudra dan perahu kecil itu akan naik-turun mengikuti tinggi rendahnya gelombang sehingga sukar untuk dikekang, tapi kalau ingin mengekangnya, dari mana tempatnya yang dapat dikekang?”

Lenghou Tiong hanya manggut-manggut mengikuti uraian ketua Siau-lim-si itu, ia merasa teori perahu di tengah damparan ombak yang diuraikan itu rada cocok dengan teori ilmu pedang ajaran Hong Jing-yang itu dan ternyata memang betul Ih-kin-keng itu adalah ilmu silat yang amat luas dan susah dijajaki.

Lalu Hong-ting menyambung, “Lantaran Ih-kin-keng mengandung daya kekuatan sedemikian hebat, maka selama beberapa ratus tahun tidak diajarkan kepada siapa pun juga kecuali kepada seorang yang ada jodoh. Sekalipun anak murid pilihan dari Siau-lim-si sendiri jika memang tidak punya rezeki, tidak ada jodoh, kepadanya juga tidak diberikan ajaran Ih-kin-keng ini. Misalnya Hong-sing Sute, ilmu silatnya sudah amat tinggi, pribadinya juga sangat baik, dia adalah tokoh terkemuka dari Siau-lim-si, namun dia toh tidak mendapat pelajaran Ih-kin-keng dari guru kami.”

“Jadi kitab suci ini tidak sembarangan diajarkan kepada orang, hal ini telah jelas diterangkan oleh Taysu, Wanpwe sendiri merasa tidak punya rezeki dan tidak ada jodoh, maka Wanpwe tidak berani mengajukan permohonan sesuatu apa pun,” kata Lenghou Tiong.

“Tidak, Siauhiap justru adalah orang yang ada jodoh,” ujar Hong-ting.

Jantung Lenghou Tiong berdebar-debar seketika mendengar keterangan itu. Sungguh tidak tersangka bahwa ilmu yang dirahasiakan oleh Siau-lim-si, sampai-sampai tokoh terpilih dan padri agung sebagai Hong-sing Taysu saja tidak mendapat pelajarannya, tapi dirinya sendiri ternyata dikatakan ada jodoh.

Perlahan-lahan Hong-ting berkata lagi, “Buddha mahabesar dan hanya terbuka bagi yang ada jodoh. Siauhiap adalah ahli waris Tokko-kiu-kiam ajaran Hong-losiansing, ini adalah suatu jodoh, Siauhiap dapat datang ke Siau-lim-si sini, ini pun adalah jodoh. Siauhiap kalau tidak meyakinkan Ih-kin-keng tentu jiwamu akan tamat, sebaliknya umpama Hong-sing Sute mempelajari Ih-kin-keng memang ada manfaatnya, tapi kalau tidak meyakinkan juga tidak ada halangan baginya. Perbedaanmu dengan Hong-sing Sute ini pun suatu jodoh pula.”

“Rezeki dan jodoh Lenghou-siauhiap ternyata amat besar, sungguh aku pun merasa sangat bersyukur,” ujar Hong-sing Taysu sambil merangkap kedua tangannya.

“Sebenarnya di antara ini masih ada suatu rintangan, tapi saat ini rintangan itu pun sudah dilalui,” kata Hong-ting. “Sejak Tat-mo Cosu sampai kini, Ih-kin-keng hanya diajarkan kepada murid Siau-lim-si sendiri dan tidak diturunkan kepada orang luar, tata tertib ini tak boleh dilanggar olehku, maka Siauhiap harus masuk Siau-lim-si dan diterima sebagai murid dari keluarga partikelir.”

Setelah merandek sejenak, lalu ia melanjutkan, “Dan kalau Siauhiap tidak menampik, bolehlah kau kuterima sebagai murid dan terhitung murid dari angkatan ‘Kok’ dengan nama baru Lenghou Kok-tiong.”

Yang memperlihatkan rasa girang lebih dulu adalah Hong-sing, segera ia berkata, “Terimalah ucapan selamat dariku, Lenghou-siauhiap. Selama hidup Hongtiang Suheng hanya pernah menerima dua orang murid, hal ini pun sudah terjadi 30 tahun yang lalu. Kini Siauhiap adalah murid penutup dari Hongtiang Suheng bukan saja akan dapat menyelami ilmu silat mahatinggi dari Ih-kin-keng, bahkan ke-12 macam ilmu silat Siau-lim-pay kita juga akan diajarkan Hongtiang Suheng kepadamu, kelak Siauhiap pasti dapat lebih mengembangkan perguruan kita dan membawa nama Siau-lim-pay lebih jaya di dunia persilatan.”

Mendadak Lenghou Tiong berbangkit, sahutnya, “Banyak terima kasih atas segala maksud baik Hongtiang Taysu. Cuma Wanpwe sudah masuk sebagai murid Hoa-san-pay, maka tidak berani ganti perguruan lagi.”

Hong-ting tersenyum, katanya, “Rintangan yang kukatakan tadi justru adalah soal ini. Siauhiap, saat ini kau sudah bukan murid Hoa-san-pay lagi. Mungkin hal ini kau sendiri pun belum tahu.”

Lenghou Tiong terkesiap, tanyanya tidak habis mengerti, “Ken … kenapa aku bukan … bukan murid Hoa-san-pay lagi?”

“Silakan Siauhiap membaca sendiri,” kata Hong-ting sambil mengeluarkan sepucuk surat. Sedikit tangannya bergerak, surat itu lantas melayang lurus ke arah Lenghou Tiong.

Cepat Lenghou Tiong menangkap surat itu dengan kedua tangannya. Terasalah badannya tergetar. Keruan kejutnya tak terkatakan. Pikirnya, “Lwekang ketua Siau-lim-si ini benar-benar dalamnya susah diukur. Melulu sepucuk surat seenteng ini ternyata bisa juga membawa tenaga dalam sekuat ini. Untung tenagaku sudah punah, jika tidak tentu aku akan menangkap sampul surat ini dengan mengerahkan tenaga dan dari benturan kedua arus tenaga pasti aku sendiri akan terpental.”

Ketika ia mengamat-amati sampul surat itu, ternyata di atas sampul terdapat stempel tanda ketua Hoa-san-pay dan terdapat pula tulisan: “Diaturkan kepada Ciangbun Taysu Siau-lim-pay”. Dari tulisan yang indah dan goresan yang kuat itu jelas memang betul adalah tulisan tangan Gak Put-kun, gurunya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: