Hina Kelana: Bab 108. Yim Ngo-heng Menjadi Kaucu Lagi

“Yim-kaucu,” kata Tonghong Put-pay pula, “segala macam kebaikanmu padaku selamanya takkan kulupakan. Tadinya aku cuma seorang hiangcu, termasuk bawahan Tong-toako, tapi engkau menaruh perhatian padaku dan berulang-ulang memberi kenaikan pangkat padaku, sampai-sampai pusaka kita seperti Kui-hoa-po-tian juga kau wariskan padaku dan menunjuk diriku sebagai penggantimu kelak. Semua budi kebaikan ini takkan kulupakan selama hidup.”

Lenghou Tiong melirik sekejap ke arah mayat Tong Pek-him, pikirnya, “Tadi kau terus-menerus memuji kebaikan orang tua ini padamu, tapi mendadak kau membinasakannya. Sekarang kau hendak mengulangi kelicikanmu pada Yim-kaucu, masakah beliau dapat kau tipu?”

Namun cara turun tangan Tonghong Put-pay memang benar-benar terlalu cepat, sebelumnya juga tiada tanda-tanda sehingga sukar untuk menjaga diri. Terpaksa Lenghou Tiong siapkan pedangnya dengan ujung mengarah ke dada musuh, asal musuh sedikit bergerak saja segera ia akan mendahului menusuk, kalau sampai musuh mendahului lagi tentu di dalam kamar ini akan jatuh korban lagi.

Merasakan suasana yang gawat itu, Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, Siangkoan In, dan Ing-ing juga mencurahkan seluruh perhatian terhadap Tonghong Put-pay untuk menghadapi serangan yang mendadak.

Terdengar Tonghong Put-pay berkata lagi, “Semula hasratku hanya ingin menjadi kaucu, ingin panjang umur dan merajai jagat, sehingga selalu aku memeras otak untuk memikirkan cara merebut kedudukanmu dan menumpas begundalmu. Hiang-hengte, rencanaku ini rasanya sukar mengelabui kau, di dalam Tiau-yang-sin-kau, selain aku dan Yim-kaucu, kau adalah tokoh pilihan pula.”

Dengan memegang cambuknya Hiang Bun-thian menahan napas dengan tegang sehingga tidak berani menanggapi ucapan Tonghong Put-pay itu.

Tonghong Put-pay menghela napas, lalu berkata pula, “Ketika mulai menjadi kaucu, tadinya aku pun merasa syur dan ingin berbuat sesuatu yang berguna, kemudian aku meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian, lambat laun dapatlah kurasakan artinya orang hidup, aku meramu dan minum obat, akhirnya aku memahami kenikmatan orang hidup dan jalan penting menuju kehidupan abadi.”

Mendengarkan uraian Tonghong Put-pay dengan suaranya yang melengking itu, apa yang dikatakan juga masuk di akal, jelas otaknya cukup jernih, namun potongannya yang aneh, tidak laki tidak perempuan, keanehan inilah yang membikin orang mengirik.

Perlahan-lahan sinar mata Tonghong Put-pay beralih ke arah Ing-ing, tiba-tiba ia bertanya, “Yim-toasiocia, selama ini cara bagaimana aku terhadap dirimu?”

“Kau sangat baik padaku,” jawab Ing-ing.

“Sangat baik kukira juga tidak, hanya saja aku senantiasa sangat mengagumi dirimu,” ujar Tonghong Put-pay dengan menghela napas gegetun. “Seorang dilahirkan sebagai wanita sudah beratus kali lebih beruntung daripada kaum lelaki busuk, apalagi kau begini cantik, begini molek, muda dan lincah. Bila aku dapat bertukar tempat dengan kau, hah, jangankan sebagai Kaucu Tiau-yang-sin-kau, sekalipun menjadi raja juga aku tidak mau.”

“Bila kau bertukar tempat dengan Yim-toasiocia dan suruh aku menyukai siluman tua macam kau, wah, aku mesti pikir-pikir dua belas kali lebih dulu,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Yim Ngo-heng dan lain-lain terkejut oleh ucapan Lenghou Tiong itu. Tertampak Tonghong Put-pay memandanginya dengan mata melotot, alisnya semakin menegak dengan wajah geram, katanya, “Siapa kau? Berani kau bicara begitu padaku, besar amat nyalimu ya?”

Dasar Lenghou Tiong memang pemberani, terhadap segala urusan apa pun biasanya juga suka acuh tak acuh, meski sudah tahu keadaan sangat berbahaya juga tak terpikir olehnya, dengan tertawa ia malah mengolok-olok lagi, “Apakah dia seorang laki-laki gagah atau dia seorang perempuan cantik, tapi yang paling menjemukan aku adalah teledek (ronggeng) laki-laki yang menyamar sebagai perempuan.”

“Aku tanya kau, siapa kau?” jerit Tonghong Put-pay dengan melengking.

“Aku bernama Lenghou Tiong!”

“Ah, kiranya kau inilah Lenghou Tiong. Sudah lama aku ingin melihat kau. Kabarnya Yim-toasiocia sangat kesengsem padamu, bagimu dia rela mengorbankan jiwanya, kukira entah betapa cakap dan ganteng kekasih idam-idamannya itu. Tapi, hm, nyatanya juga cuma begini saja, dibandingkan aku punya Adik Lian, wah, selisihnya terlalu jauh.”

“Cayhe memang orang biasa saja, yang penting dapat mencintai dengan hati yang bulat dan murni. Tentang anak bagus she Nyo ini, meski gagah dan ganteng, cuma sayang, dia terlalu bangor, suka petik bunga sini dan bedol rumput sana, di mana-mana suka main cinta….”

“Apa katamu, keparat! Ngaco-belo kau!” mendadak Tonghong Put-pay menggeram dengan wajah merah padam terus menubruk maju pula, dengan jarum sulam yang dipegangnya tadi dia menusuk ke muka Lenghou Tiong.

Rupanya Lenghou Tiong sudah dapat menerka ada hubungan istimewa antara Tonghong Put-pay dan Nyo Lian-ting, maka dia sengaja hendak membuatnya marah. Setiap jago silat bila timbul marah akan berarti berkurangnya pemusatan perhatian dan kepandaiannya akan terpengaruh. Benar juga, saking murkanya tusukan jarum Tonghong Put-pay itu menjadi rada kaku.

Kontan pedang Lenghou Tiong juga bergerak, “sret”, ia pun menusuk tenggorokan lawan. Tusukan ini sangat cepat, arahnya tepat pula, kalau Tonghong Put-pay tidak menarik diri berarti lehernya akan tembus. Tapi pada saat itulah tahu-tahu Lenghou Tiong merasa pipi kiri terasa sakit “cekit”, seperti digigit nyamuk, berbareng pedangnya terguncang ke samping.

Ternyata gerak Tonghong Put-pay benar-benar sukar dibayangkan cepatnya, pada detik secepat kilat itu jarumnya telah kena menusuk satu kali di pipi Lenghou Tiong, menyusul tangannya ditarik kembali, dengan jarum sulam itu ditangkisnya pedang Lenghou Tiong itu. Untung tusukan Lenghou Tiong itu pun teramat cepat dengan arah yang tepat sehingga terpaksa lawan harus menyelamatkan diri pula, karena itu tusukan jarum Tonghong Put-pay tadi rada menceng, mestinya yang diarah adalah jin-tiong-hiat di bawah hidung sasarannya.

Namun begitu hanya dengan menggunakan sebatang jarum kecil saja Tonghong Put-pay mampu menangkis pedang Lenghou Tiong sehingga tergetar ke samping, hal ini benar-benar hebat sekali, semua orang sama menjerit kaget dan kagum. Betapa tinggi ilmu silat Tonghong Put-pay sungguh sukar diukur.

Lenghou Tiong juga terkesiap, sadarlah dia hari ini telah ketemukan lawan tangguh yang belum pernah ditemui selama hidup. Bila lawan diberi kesempatan menyerang lagi akan berarti jiwa sendiri terancam. Maka tanpa ayal ia mendahului menyerang, “sret-sret” empat kali, semuanya menusuk ke tempat mematikan di tubuh musuh.

“Eh, hebat juga ilmu pedangmu!” Tonghong Put-pay merasa heran sambil memuji pula. Berbareng jarumnya juga bekerja empat kali, semua serangan Lenghou Tiong itu telah dapat ditangkis olehnya.

Mendadak Lenghou Tiong menggertak, pedangnya lantas membacok dari atas. Namun Tonghong Put-pay tetap menggunakan jarumnya yang diacungkan ke atas, bacokan pedang tertahan, tak sanggup menyambar ke bawah.

Tangan Lenghou Tiong merasakan linu pegal oleh getaran tenaga lawan, sekonyong-konyong bayangan merah berkelebat seperti ada sesuatu benda mencolok ke mata kirinya. Dalam keadaan demikian Lenghou Tiong tidak sempat menghindar maupun menangkis, sebisanya ia puntir pedangnya terus menusuk juga ke mata kiri Tonghong Put-pay dengan tidak kalah cepatnya, yang dia gunakan adalah serangan gugur bersama musuh.

Cara serangan Lenghou Tiong ini sebenarnya tidak “masuk buku” dalam ilmu silat mana pun juga, namun Tokko-kiu-kiam yang diyakinkan Lenghou Tiong itu memang tiada punya jurus serangan yang tetap, semuanya tergantung keadaan dan menurut kemauan pemakainya.

Lantaran sudah kepepet, maka tanpa pikir Lenghou Tiong juga melancarkan serangan yang sama dengan musuhnya. Begitulah segera ia merasa alis kiri sendiri terasa sakit cekit-cekit lagi, berbareng Tonghong Put-pay juga melompat ke samping untuk menghindarkan tusukan pedang.

Tahulah Lenghou Tiong bahwa alis kiri sendiri telah kena tusukan jarum lawan, untung Tonghong Put-pay terpaksa harus menghindarkan ancaman pedangnya sehingga jarumnya mengenai tempat yang kurang tepat, kalau tidak mata kirinya tentu sudah tertusuk buta. Saking kaget dan khawatirnya, segera Lenghou Tiong melancarkan serangan-serangan gencar, lawan tidak diberi kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.

Melihat gelagat jelek, tanpa bicara lagi Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian ikut menerjang maju. Tiga tokoh terkemuka bertempur bersama, sekalipun beribu-ribu prajurit juga tak mampu menandingi mereka, namun Tonghong Put-pay dengan hanya sebatang jarum sulam saja ternyata dapat menyelinap kian-kemari di antara mereka bertiga secepat kilat, sedikit pun tiada tanda-tanda akan terkalahkan.

Segera Siangkoan In mencabut goloknya dan maju membantu, keadaan menjadi empat lawan satu sekarang. Pada saat paling sengit, mendadak Siangkoan In menjerit, goloknya terpental jatuh, orangnya terjungkal sambil kedua tangan menutup mata kanannya, rupanya sebelah matanya telah tertusuk buta oleh jarum Tonghong Put-pay.

Melihat serangan kedua temannya bertambah hebat, Tonghong Put-pay tiada kesempatan melakukan serangan padanya, segera Lenghou Tiong hidupkan pedangnya, selalu menusuk tempat-tempat mematikan di tubuh musuh.

Kalau menilai ilmu pedang Lenghou Tiong, meski tokoh-tokoh seperti Tiong-hi Totiang yang terhitung jago pedang nomor wahid juga tidak mampu menahan serangan Tokko-kiu-kiam yang lihai itu, namun Tonghong Put-pay benar-benar luar biasa, dia bergerak ke sana dan melayang ke sini dengan enteng dan gesit laksana setan saja. Setiap kali tusukan Lenghou Tiong selalu mengarah tempat yang tak terjaga, tapi gerak tubuh Tonghong Put-pay terlalu cepat, pada detik-detik terakhir selalu dapat menghindarkan diri.

Sejenak kemudian, tiba-tiba Hiang Bun-thian menjerit perlahan, menyusul Lenghou Tiong juga berteriak tertahan, badan kedua orang sama-sama terkena tusukan jarum Tonghong Put-pay.

Walaupun ilmu “Gip-sing-tay-hoat” yang diyakinkan Yim Ngo-heng sangat tinggi, namun gerak tubuh Tonghong Put-pay terlalu cepat, sukar untuk beradu tangan dengan dia, pula senjata lawan itu cuma sebatang jarum sulam, untuk menyedot tenaga dalamnya melalui jarum sekecil itu terang tidak mungkin.

Tidak lama kemudian, Yim Ngo-heng juga berteriak perlahan, dada dan tenggorokannya juga terkena tusukan jarum, untung saat itu Lenghou Tiong sedang menyerang dengan gencar sehingga Tonghong Put-pay terpaksa harus membela diri, maka tusukan jarumnya kurang tepat atau kurang dalam menusuknya.

Empat orang mengerubuti Tonghong Put-pay sendirian, tapi keempat orang tidak mampu menyentuh bajunya sekali pun, sebaliknya keempat orang malah kena ditusuk oleh jarumnya.

Menyaksikan itu, Ing-ing menjadi khawatir, bila jarum itu berbisa, maka akibatnya sukar dibayangkan nanti. Pikirnya, “Tampaknya dengan satu lawan tiga tokoh Tonghong Put-pay tetap lebih unggul, kalau aku ikut maju mungkin malah akan mengganggu belaka dan mempercepat kemenangan lawan.”

Sekilas Ing-ing melihat Nyo Lian-ting telah duduk di tepi ranjang dan sedang mengikuti pertarungan sengit itu. Tiba-tiba tergerak hati Ing-ing, perlahan-lahan ia menggeser ke sana, secara mendadak ia angkat pedang pendek di tangan kiri terus menikam, tepat bahu kanan Nyo Lian-ting tertusuk.

Karena tidak tersangka-sangka, Nyo Lian-ting menjerit kaget dan kesakitan. Tapi menyusul Ing-ing menambahi satu tusukan lagi, sekali ini pada pahanya.

Rupanya Nyo Lian-ting dapat mengetahui maksud tujuan Ing-ing yang inginkan suara jeritannya untuk memencarkan perhatian Tonghong Put-pay, maka dia tidak menjerit lagi, sebaliknya ia menahan sakit sebisanya.

“Kau mau menjerit tidak? Akan kupotong jari tanganmu satu per satu!” ancam Ing-ing sambil ayun pedangnya, benar juga sepotong jari musuh segera ditebasnya.

Di luar dugaan Nyo Lian-ting itu memang bandel, biarpun terluka di sana-sini dan jarinya putus pula, namun sedikit pun ia tidak bersuara.

Namun begitu jeritan pertamanya tadi toh sudah didengar oleh Tonghong Put-pay. Ia sempat melirik dan melihat Ing-ing mendekati dan sedang mengancam Nyo Lian-ting, keruan ia menjadi khawatir dan gelisah, tanpa pikir ia terus menubruk ke arah Ing-ing memaki, “Budak keparat!”

Cepat Ing-ing mengegos, ia tidak tahu apakah gerakan demikian dapat menghindarkan tusukan jarum Tonghong Put-pay. Dalam pada itu dengan cepat sekali pedang Lenghou Tiong dan Yim Ngo-heng juga telah menusuk ke punggung Tonghong Put-pay. Sedangkan cambuk Hiang Bun-thian menyabet ke atas kepala Nyo Lian-ting.

Ternyata Tonghong Put-pay sama sekali tidak memikirkan keselamatan sendiri, ia tidak berusaha menangkis tusukan-tusukan pedang dari belakang itu, sebaliknya jarum terus membalik, “crit”, tepat dada Hiang Bun-thian tertusuk.

Kontan sekujur badan Hiang Bun-thian terasa kesemutan, cambuk jatuh ke lantai. Pada saat itu pula kedua pedang Lenghou Tiong dan Yim Ngo-heng juga telah menubles ke dalam punggung Tonghong Put-pay. Dengan tubuh tergetar Tonghong Put-pay menubruk ke atas badan Nyo Lian-ting.

Yim Ngo-heng sangat girang, ia tarik pedangnya, lalu ujung pedang mengancam di belakang leher Tonghong Put-pay sambil membentak, “Tonghong Put-pay, akhirnya sekarang kau jatuh di tanganku!”

Sementara itu Ing-ing belum lagi pulih dari cemasnya, kedua kakinya terasa lemas, tubuh sempoyongan hendak roboh. Cepat Lenghou Tiong memayangnya, dilihatnya satu jalur kecil berdarah menetes di pipi kiri si nona.

“Kau telah banyak terluka oleh jarumnya,” kata Ing-ing malah. Ia terus mengusap muka Lenghou Tiong dengan lengan bajunya, maka tertampaklah berbintik-bintik darah memenuhi lengan baju itu.

Biarpun tidak mengaca juga Lenghou Tiong tahu mukanya sendiri telah banyak dicocok oleh jarum lawan. Dilihatnya kedua luka di punggung Tonghong Put-pay mengucurkan darah dengan deras, nyata lukanya sangat parah, tapi mulutnya toh masih berseru, “Adik Lian, O, Adik Lian, kawanan manusia jahat ini telah menganiaya kau, kejam sekali mereka ini!”

Nyo Lian-ting menjadi marah malah, omelnya, “Biasanya kau suka sombong, katanya ilmu silatmu tiada tandingannya di seluruh jagat, mengapa sekarang kau tidak mampu membunuh keparat-keparat ini?”

“Aku… aku sudah berbuat sekuat tenaga, namun ilmu silat me… mereka rata-rata sangat… sangat tinggi,” jawab Tonghong Put-pay dengan suara lemah. Mendadak ia sempoyongan terus terguling di tanah.

Khawatir lawan akan melompat bangun dan menyerang lagi, segera Yim Ngo-heng mengayun pedangnya sehingga paha kiri Tonghong Put-pay terbacok.

“Yim-kaucu,” kata Tonghong Put-pay dengan menyengir, “akhirnya kau yang menang, aku sudah kalah.”

“Dan namamu yang hebat itu tentunya harus diganti, bukan?” sahut Yim Ngo-heng dengan terbahak-bahak.

“Tidak, buat apa diganti?” ujar Tonghong Put-pay sambil menggeleng. “Meski aku sudah kalah, tapi juga takkan hidup lagi di dunia ini. Coba… coba kalau bertempur satu lawan satu, kau pasti tak bisa mengalahkan aku.”

Yim Ngo-heng tertegun, jawabnya kemudian, “Benar, ilmu silatmu memang lebih tinggi daripadaku, aku kagum padamu.”

“Lenghou Tiong, ilmu pedangmu memang sangat tinggi, tapi kalau satu lawan satu kau pun bukan tandinganku,” kata Tonghong Put-pay pula.

“Betul,” jawab Lenghou Tiong. “Padahal biarpun kami berempat mengeroyok kau sekaligus juga tak dapat mengalahkan kau. Soalnya kau mengkhawatirkan orang she Nyo itu sehingga perhatianmu terpencar dan akhirnya dirobohkan. Ilmu silatmu sungguh luar biasa dan pantas disebut ‘nomor satu di dunia ini’. Cayhe benar-benar sangat kagum.”

“Kalian berdua berani bicara demikian, hal ini memperlihatkan sifat kesatria sejati kalian,” kata Tonghong Put-pay dengan tersenyum. “Ai, sungguh sebal. Aku telah meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian itu, aku meramu dan minum obatnya, aku menurutkan resep rahasia di dalam kitab itu pula sehingga kebiri diri sendiri dan berlatih lwekangnya, lambat laun kumis jenggotku menjadi kelimis, suaraku berubah, watakku juga berubah. Aku tidak suka pada perempuan lagi, tapi… tapi mencurahkan perhatian kepada laki-laki gagah seperti Nyo Lian-ting ini. Semua ini bukankah sangat aneh? Meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian itu entah mendatangkan bahagia atau kemalangan, tapi kalau aku dilahirkan sebagai wanita tentu akan sangat baik. Yim-kaucu, segera aku… aku akan mati, ingin kumohon se… sesuatu padamu, harap engkau sudi… sudi meluluskan.”

“Urusan apa?” tanya Yim Ngo-heng.

“Harap kau suka mengampuni jiwa Nyo Lian-ting, usir saja dia pergi dari Hek-bok-keh ini,” pinta Tonghong Put-pay.

“Mana boleh,” jawab Ngo-heng. “Aku justru akan mengiris-iris dagingnya, akan kumampuskan dia dalam waktu seratus hari, ini hari kupotong jari tangannya, esok pagi kutebas jari kakinya dan….”

“Ke… kejam amat kau!” mendadak Tonghong Put-pay berteriak sambil melompat bangun terus menubruk ke arah Yim Ngo-heng.

Walaupun dalam keadaan terluka parah, namun tubrukan itu tetap sangat dahsyat. Yim Ngo-heng sempat memapaknya dengan tusukan pedang sehingga dari dada menembus ke punggung. Tapi pada saat yang sama Tonghong Put-pay menjentik jarinya, jarum yang dipegangnya itu terus menyambar ke depan dan menancap di tengah mata kanan Yim Ngo-heng. Untung waktu itu kekuatan Tonghong Put-pay sudah lemah, kalau tidak bukan mustahil jarum itu akan terus menembus ke dalam otak dan jiwa akan melayang. Namun begitu biji mata kanan Yim Ngo-heng itu jelas sudah rusak, pasti akan buta sebelah.

Cepat Ing-ing mendekati sang ayah, dilihatnya ekor jarum yang tertampak dari luar hanya sebagian kecil saja, ternyata jarum itu hampir seluruhnya menancap ke dalam rongga mata. Segera ia mencari bingkai sulam yang dibuang Tonghong Put-pay tadi, dari situ dilolosnya seutas benang, dengan hati-hati ia menyusup mata jarum dengan benang itu, kemudian ia pegang kedua ujung benang, lalu dicabut.

Yim Ngo-heng menjerit, jarum itu telah tercabut keluar dan tergantung di bawah benang dengan membawa beberapa tetes darah.

Dengan murka Yim Ngo-heng ayun sebelah kakinya, mayat Tonghong Put-pay itu ditendang sekerasnya. Kontan mayat itu mencelat, “blang”, dengan tepat menabrak kepala Nyo Lian-ting. Tendangan Yim Ngo-heng di waktu kalap itu sungguh luar biasa, kepala Tonghong Put-pay dan kepala Nyo Lian-ting saling bentur, keruan kepala pecah dan otak hancur.

Yim Ngo-heng telah dapat membalas dendam dan rebut kembali kedudukan Kaucu Tiau-yang-sin-kau, akan tetapi lantaran itu pula telah kehilangan sebelah matanya, seketika rasa girang dan murka berkecamuk, ia menengadah dan bergelak tertawa keras-keras, suaranya menggetar sukma.

“Selamatlah Kaucu telah dapat membalas dendam, sejak kini agama kita di bawah pimpinan Kaucu tentu akan makin berkembang. Semoga Kaucu panjang umur dan merajai jagat,” kata Siangkoan In.

Kalau tadinya Yim Ngo-heng merasa risi oleh istilah-istilah sanjung puji itu, tapi sekarang tiba-tiba merasa syur, kalau benar bisa panjang umur dan merajai jagat ini sungguh suatu kebahagiaan orang hidup. Karena itu kembali ia bergelak tertawa pula, tertawa yang puas dan senang.

Sementara itu Hiang Bun-thian yang dadanya tertutuk oleh jarum Tonghong Put-pay, setelah mengalami kesemutan sebentar, sekarang keadaannya sudah pulih kembali, segera ia pun mengucapkan selamat kepada sang kaucu.

“Pertarungan yang menentukan ini kau pun berjasa besar,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa, lalu ia berpaling kepada Lenghou Tiong, “Anak Tiong juga tak terhingga jasanya.”

“Tapi kalau Ing-ing tidak mengerjai Nyo Lian-ting, mungkin tidaklah mudah untuk mengalahkan Tonghong Put-pay,” ujar Lenghou Tiong. “Untunglah jarumnya itu tidak berbisa.”

Dengan perasaan yang belum tenang akan pertarungan sengit tadi, Ing-ing berkata, “Sudahlah, tak perlu dibicarakan lagi. Dia ini bukan manusia, tapi siluman. Waktu kecil sering aku dipondongnya dan diajak pergi jalan-jalan ke gunung dan memetik buah segala, siapa tahu akhirnya dia berubah menjadi begini.”

Dari baju Tonghong Put-pay dapatlah Yim Ngo-heng merogoh keluar sejilid buku yang tipis dan tampaknya sudah kuno. Diacungkannya buku itu dan berkata, “Inilah buku yang disebut ‘Kui-hoa-po-tian’. Di atas jelas tercatat: Ingin meyakinkan ilmu sejati, ambil pisau kebiri diri sendiri. Haha, masakah aku begitu bodoh mau melakukan perbuatan tolol demikian…” sampai di sini mendadak ia menggumam, “akan tetapi ilmu silat yang tertulis di atas kitab ini memang amat lihai, setiap orang persilatan tentu akan tertarik bila membacanya. Tatkala mana untung aku sudah berhasil meyakinkan Gip-sing-tay-hoat, kalau tidak bukan mustahil aku pun akan meyakinkan ilmu yang tertera di dalam kitab ini.”

Dia mendepak satu kali pula pada mayat Tonghong Put-pay, katanya dengan tertawa, “Hah, biarpun kau licin seperti setan juga tidak tahu maksud tujuanku memberikan kitab ini padamu. Ambisimu besar, semangatmu menyala-nyala, dan bermaksud naik ke atas, memangnya kau kira aku tidak tahu watakmu itu. Hahahahaha!”

Hati Lenghou Tiong terkesiap, baru sekarang ia tahu kiranya tujuan Yim-kaucu memberikan Kui-hoa-po-tian kepada Tonghong Put-pay bukanlah timbul dari maksud baik, tapi keduanya sama-sama punya rencana dan tujuan tertentu. Dilihatnya mata kanan Yim Ngo-heng yang terluka itu masih meneteskan darah, ditambah lagi dia mengakak dengan mulut lebar, tampangnya menjadi lebih beringas dan menyeramkan.

Tiba-tiba Yim Ngo-heng meraba selangkangan Tonghong Put-pay, benar juga terasa kedua “bola wasiat” di bagian situ sudah lenyap, memang betul sudah dikebiri. Dengan tertawa ia berkata pula, “Bila kaum thaykam (orang kasim) yang meyakinkan ilmu dalam kitab ini tentulah sangat tepat.”

Habis berkata ia remas-remas kitab pusaka itu dan digosok-gosok dengan kedua tangan, ketika kemudian ia membuka kedua tangannya, bertaburanlah kertas kecil-kecil, hancurlah kitab yang sudah amat kuno dan lapuk itu.

Ing-ing mendesis lega, katanya perlahan, “Benda celaka begitu memang paling baik dihancurkan saja.”

“Apa kau khawatir aku juga meyakinkan ilmunya?” kata Lenghou Tiong dengan perlahan.

“Cis, bicara tak keruan!” omel Ing-ing dengan muka merah. Lalu ia mengeluarkan obat luka untuk membubuhi luka-luka ayahnya, Siangkoan In dan lain-lain.

Begitulah Yim Ngo-heng berlima lantas keluar dari kamar Tonghong Put-pay itu dan kembali ke balairung. Yim Ngo-heng memberikan perintah agar para tongcu, hiangcu, dan pimpinan lain datang menghadap. Dengan berduduk di atas singgasana kaucu, Yim Ngo-heng merasa Tonghong Put-pay memang pintar dan bisa menikmati hidupnya sebagai seorang kaucu yang dipuja. Dengan duduk tinggi di atas podium, jaraknya cukup jauh dari bawahan yang datang menghadap, dengan sendirinya lantas timbul rasa jeri dan hormat anak buahnya.

“Coba kemarilah, Anak Tiong,” ia memanggil Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong lantas mendekatinya.

“Anak Tiong,” kata Yim Ngo-heng pula, “ketika di Hangciu dahulu aku pernah mengajak kau supaya masuk agama kita. Waktu itu aku sendirian dan baru lepas dari kesukaran, apa-apa yang kukatakan tentunya tak bisa kau percayai, tapi sekarang aku benar-benar telah duduk kembali di atas singgasana kaucu, maka urusan pertama tiada lain tetap persoalan dahulu…” sampai di sini ia tepuk-tepuk tempat duduknya dan menyambung pula, “tempat ini lambat atau cepat tentu juga akan kau duduki. Hahahahaha!”

“Kaucu,” jawab Lenghou Tiong, “betapa baik budi Ing-ing padaku, apa yang engkau kehendaki atas diriku sepantasnya tidak dapat kutolak. Cuma aku sudah berjanji kepada orang akan menyelesaikan sesuatu urusan penting, maka tentang masuk agama terpaksa tidak dapat kupenuhi.”

Perlahan-lahan kedua alis Yim Ngo-heng menegak, katanya dengan suara dingin, “Apa akibatnya bagi orang yang tidak tunduk kepada keinginanku, tentu kau cukup tahu!”

Cepat Ing-ing mendekati Lenghou Tiong dan memegang tangannya, katanya, “Ayah, hari ini adalah hari bahagiamu karena menduduki kembali singgasanamu, kenapa mesti ribut urusan soal kecil ini? Tentang masuknya dia ke dalam agama kita biarlah dibicarakan kelak saja.”

Dengan mata kirinya Yim Ngo-heng melerok kepada kedua muda-mudi itu, dengusnya kemudian, “Ing-ing, sekarang yang kau inginkan cuma suami dan tidak mau ayah lagi ya?”

Cepat Hiang Bun-thian menengahi dengan tertawa, “Kaucu, Lenghou-hiante adalah kesatria muda yang berwatak kukuh, biarlah nanti kuberi pengertian padanya….”

Bicara sampai di sini, terdengarlah di luar balairung suara belasan orang berseru berbareng, “Para tongcu dan hiangcu dengan ini menyampaikan sembah bakti kepada Kaucu mahaagung dan mahabijaksana, semoga Kaucu panjang umur dan….” begitulah disertai istilah-istilah sanjung puji yang muluk-muluk.

“Masuk!” bentak Yim Ngo-heng.

Maka muncullah belasan laki-laki kekar ke dalam balairung, serentak berlutut dan menyembah secara berjajar-jajar.

Dahulu ketika Yim Ngo-heng menjabat kaucu selamanya ia saling sebut saudara dengan para anggota Tiau-yang-sin-kau, di waktu bertemu dan memberi hormat paling-paling juga cuma soja (dengan mengepal kedua tangan di depan dada) melulu. Kini melihat orang-orang itu sama menyembah padanya, cepat Yim Ngo-heng berbangkit dan bermaksud mencegah. Tapi tiba-tiba terpikir olehnya bahwa seorang pimpinan harus berwibawa dan mengadakan peraturan-peraturan yang mengikat, kalau Tonghong Put-pay sudah mengadakan tata cara menyembah segala, apa salahnya peraturan ini diteruskan. Karena pikiran ini ia urung mencegah dan duduk kembali di tempatnya.

Tidak lama, kembali suatu rombongan lain masuk memberi hormat, sekali ini Yim Ngo-heng tidak berdiri lagi, penghormatan itu diterimanya dengan senang hati sambil manggut-manggut.

Sementara itu Lenghou Tiong sudah mengundurkan diri ke ambang pintu balairung, jaraknya sudah jauh dengan singgasana sang kaucu, cahaya lilin juga remang-remang, dipandang dari jauh wajah Yim Ngo-heng tampak samar-samar, tiba-tiba timbul pikirannya, “Yang duduk di atas singgasana itu Yim Ngo-heng atau Tonghong Put-pay? Apa sih bedanya di antara mereka?”

Didengarnya para tongcu dan hiangcu di balairung itu ramai memberikan pujian-pujian kepada sang kaucu. Rupanya di antaranya banyak yang ketakutan karena selama belasan tahun ini mereka mengabdi kepada Tonghong Put-pay, kalau sekarang Yim-kaucu mengusut perbuatan mereka itu tentu bisa celaka. Sebagian lagi mungkin adalah orang baru, hakikatnya mereka tidak kenal siapa Yim Ngo-heng, tapi mereka sudah biasa menyanjung dan mengumpak Tonghong Put-pay serta Nyo Lian-ting agar terhindar dari bahaya dan mungkin malah bisa naik pangkat, maka seperti biasa mereka pun berteriak-teriak memuja untuk menarik perhatian kaucu baru.

Saat itu sang surya sudah menongol di ufuk timur, sinarnya yang lembut menembus ke dalam balairung sehingga tertampak bayangan punggung ratusan orang yang berlutut di situ sedang menyerukan puja-puji yang memualkan, pikir Lenghou Tiong, “Sebenarnya kalau aku sudah menyelesaikan urusan Ngo-gak-kiam-pay, bila Ing-ing berkeras minta aku masuk Tiau-yang-sin-kau, rasanya sukar bagiku untuk menolaknya. Tapi kalau aku diharuskan berbuat seperti ratusan orang ini, betapa pun aku tidak sanggup. Semula kukira tingkah laku demikian ini adalah permainan Tonghong Put-pay dan Nyo Lian-ting yang bertujuan menyiksa anak buahnya, tapi melihat gelagatnya sekarang Yim-kaucu juga sangat senang dipuji, sedikit pun tidak merasa risi.”

Dalam pada itu terdengar suara gelak tertawa Yim Ngo-heng berkumandang dari ujung balairung sana, katanya, “Tentang segala perbuatan kalian di bawah pimpinan Tonghong Put-pay telah diketahui dengan jelas dan telah kucatat satu per satu. Namun sang kaucu takkan mengusut kejadian yang sudah-sudah, asalkan selanjutnya kalian setia dan berbakti kepada sang kaucu. Tapi bila ada seorang yang berani membangkang dan berkhianat, maka dosa yang sudah-sudah akan sekaligus dituntut. Seorang bersalah, segenap keluarganya ikut bertanggung jawab dan dihukum mati semua.”

Serentak orang-orang itu menyatakan terima kasih mereka atas kemurahan hati sang kaucu serta menyatakan kesetiaan mereka selanjutnya. Dari suara mereka yang gemetar itu jelas dalam hati mereka itu sangat takut.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Cara Yim-kaucu tiada ubahnya seperti Tonghong Put-pay, menegakkan wibawa dengan kekerasan, meski lahirnya orang-orang itu tunduk, tapi dalam hati tentu memberontak, lalu dari mana ‘kesetiaan’ mereka bisa dipercayakan?”

Menyusul lantas ada orang membongkar dosa Tonghong Put-pay, katanya bekas kaucu itu terlalu memercayai Nyo Lian-ting dan main bunuh secara sewenang-wenang. Ada pula yang mengadu, katanya Tonghong Put-pay suka korupsi, menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi. Ada lagi yang mengoceh, katanya ilmu silat Tonghong Put-pay sebenarnya sangat rendah, tapi suka berlagak dan main gertak melulu. Yang paling menggelikan ialah pengaduan seorang yang katanya Tonghong Put-pay sangat cabul, suka main perempuan dan memerkosa anak istri anak buahnya.

Padahal sudah jelas Tonghong Put-pay demi untuk meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian, maka dia telah kebiri alat kelamin sendiri sehingga sudah jadi banci, dengan cara bagaimana dia bisa main perempuan dan perkosa anak istri orang? Sungguh terlalu lucu. Saking gelinya Lenghou Tiong sampai terbahak-bahak sehingga suaranya berkumandang memenuhi balairung itu. Semua orang terkesiap dan menoleh ke arahnya dengan mata melotot gusar.

Ing-ing tahu kekasihnya telah menimbulkan onar, lekas ia tarik tangan Lenghou Tiong, katanya, “Mereka sedang membicarakan urusan Tonghong Put-pay, tiada sesuatu yang menarik, marilah kita turun ke bawah saja.”

“Ya, jangan-jangan ayahmu menjadi marah dan kepalaku dipenggal,” ujar Lenghou Tiong dengan menjulurkan lidah. Segera mereka keluar dari balairung dan turun ke bawah dengan keranjang kerekan.

Mereka berdua duduk bersanding di dalam keranjang, awan putih mengambang di sekeliling mereka, Lenghou Tiong merasa apa yang baru terjadi itu sebagai mimpi saja. Ia pikir selanjutnya betapa pun aku takkan naik ke atas Hek-bok-keh lagi.

“Apa yang sedang kau renungkan, Engkoh Tiong?” tanya Ing-ing tiba-tiba.

“Apakah kau mau pergi bersama aku?” kata Lenghou Tiong.

Muka Ing-ing menjadi merah, jawabnya dengan tergagap, “Tapi kita belum… belum lagi menikah, mana boleh aku ikut pergi dengan kau?”

“Bukankah dahulu kau pun ikut aku berkelana di dunia Kang-ouw?” ujar Lenghou Tiong.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: