Hina Kelana: Bab 107. Rahasia Pribadi Tonghong Put-pay

“Ngaco-belo!” bentak Nyo Lian-ting. “Berlututlah kau!”

Dua dayang segera menendang belakang dengkul Tong Pek-him untuk memaksanya tekuk lutut. Tapi mendadak terdengar suara jeritan dua kali, kedua dayang itu terpental sendiri ke belakang dengan tulang kaki patah dan muntah darah. Sungguh hebat lwekang Tong Pek-him itu.

“Tonghong-hengte, aku ingin mendengar satu patah katamu saja, habis itu mati pun aku rela,” seru Tong Pek-him pula. “Sudah lebih tiga tahunan kau tidak pernah bersua, para saudara dalam agama sudah sama curiga.”

Nyo Lian-ting menjadi gusar, dampratnya, “Curiga apa?”

“Mencurigai kemungkinan Kaucu telah dikerjai orang, dibikin bisu,” jawab Tong Pek-him dengan suara keras. “Sebab apa dia tidak bicara? Ya, sebab apa dia tidak bicara?”

“Mulut emas Kaucu masakah sembarangan digunakan bagi kaum pengkhianat macam kau?” jengek Nyo Lian-ting. “Bawa pergi dia, penjaga!”

Delapan dayang baju ungu serentak mengiakan dan berlari maju.

Mendadak Tong Pek-him berteriak-teriak, “Tonghong-hengte, ingin kulihat siapakah yang membikin kau tak bisa bicara?”

Berbareng ia terus memburu ke arah Tonghong Put-pay sambil menyeret rantai borgol di kaki dan tangannya.

Melihat sikap Tong Pek-him yang gagah berwibawa itu, para penjaga menjadi takut untuk mendekati dia.

“Bekuk dia! Bekuk dia!” teriak Nyo Lian-ting.

Tapi para busu hanya berteriak-teriak saja di ambang pintu dan tidak berani masuk ke balairung. Maklum, menurut peraturan tiada seorang pun anggota Tiau-yang-sin-kau diperbolehkan masuk ke balairung itu dengan membawa senjata, yang melanggar dihukum mati.

Melihat gelagat kurang baik itu, tertampak Tonghong Put-pay berdiri dan bermaksud masuk ke ruang belakang.

“Jangan pergi dulu, Tonghong-hengte, jangan pergi!” seru Tong Pek-him sambil memburu maju lebih cepat. Namun kedua kakinya terborgol, gerak-geriknya tidak leluasa, saking nafsunya dia memburu maju, mendadak ia kesandung dan jatuh terguling. Tapi sekaligus ia berjumpalitan terus menubruk pula ke depan sehingga jaraknya dengan Tonghong Put-pay sekarang tinggal belasan meter saja.

Nyo Lian-ting menjadi khawatir, teriaknya, “Pengkhianat! Kurang ajar! Berani kau mencelakai Kaucu?”

Melihat gerak-gerik Tonghong Put-pay yang rada aneh dan serbamencurigakan itu, Yim Ngo-heng tidak tinggal diam, ketika melihat Tong Pek-him tidak mampu memburu ke depan lagi, segera ia merogoh keluar tiga buah mata uang terus disambitkan ke arah Tonghong Put-pay.

Segera Lenghou Tiong lantas melompat bangun, dari dalam kain pembalutnya pedang lantas dilolos keluar. Hiang Bun-thian juga lantas mengeluarkan senjata yang disembunyikan di atas usungan dan dibagikan kepada Ing-ing serta Yim Ngo-heng. Menyusul ia menarik sekuatnya, rupanya tali yang dipakai mengikat rangka usungan adalah sebuah cambuk. Dengan ginkang yang tinggi mereka berempat lantas menyerbu maju.

Dalam pada itu terdengar Tonghong Put-pay menjerit, rupanya dahinya terkena sebuah mata uang yang disambitkan Yim Ngo-heng tadi sehingga mengucurkan darah. Untung baginya karena jaraknya cukup jauh sehingga sambitan Yim Ngo-heng itu tidak keras, hanya membikin kulit kepalanya terkupas sedikit. Namun Tonghong Put-pay terkenal ilmu silatnya tak terkalahkan, masakah sebuah mata uang saja tidak mampu menghindarkan diri, hal ini sungguh tidak masuk di akal.

“Hahaha! Tonghong Put-pay ini adalah palsu!” teriak Yim Ngo-heng.

Pada saat yang sama cambuk Hiang Bun-thian lantas menyabet, “tarrr”, kedua kaki Nyo Lian-ting terlibat oleh cambuknya, sekali ditarik tanpa ampun lagi orang she Nyo itu lantas terguling.

Tampak Tonghong Put-pay masih terus lari ke depan sambil mendekap dahinya yang luka, dengan cepat Lenghou Tiong melompat ke depannya sambil menodongkan ujung pedang dan membentak, “Berhenti!”

Siapa duga Tonghong Put-pay yang sedang lari cepat itu tak sempat menahan tubuhnya, bahkan terus menerjang ke ujung pedang malah. Namun Lenghou Tiong keburu menarik kembali pedangnya. Sedangkan Yim Ngo-heng sudah menubruk tiba, sekali cengkeram kuduk Tonghong Put-pay terus diseretnya ke tengah balairung.

“Dengarkan semua orang!” teriak Yim Ngo-heng. “Keparat ini memalsukan Tonghong Put-pay dan merusak Tiau-yang-sin-kau kita, hendaknya kalian semua memeriksa jelas cecongor keparat ini.”

Ternyata tampang orang itu memang sangat mirip dengan Tonghong Put-pay asli. Keruan para busu saling pandang dengan melongo.

“Siapa kau? Kalau tidak mengaku terus terang biar kugecek kepalamu hingga hancur,” bentak Yim Ngo-heng.

Orang itu gemetar seluruh badannya, giginya berkeriutan saking takutnya, jawabnya dengan terputus-putus, “Ham… ham… ba… ber… na… ma….” tapi sampai sekian lamanya tetap tidak mampu menyambung ucapannya.

Sementara itu Hiang Bun-thian telah menutuk beberapa tempat hiat-to di tubuh Nyo Lian-ting dan menyeretnya pula ke tengah balairung, lalu membentaknya, “Sebenarnya siapa nama orang ini?”

Tapi dengan angkuh Nyo Lian-ting menjawab, “Hm, kau ini kutu apa, kau ada hak buat tanya padaku? Aku kenal kau sebagai pengkhianat besar Hiang Bun-thian. Sudah lama kau dipecat, berdasarkan hak apa kau berani pulang lagi ke Hek-bok-keh sini?”

“Tujuanku ke Hek-bok-keh ini justru hendak membereskan kau keparat ini!” jengek Hiang Bun-thian, berbareng sebelah tangannya terus menebas, “krak”, kontan tulang betis kiri Nyo Lian-ting dipatahkan.

Tak terduga, biarpun ilmu silat Nyo Lian-ting tidak tinggi, ternyata orangnya sangat kepala batu, ia tidak menjerit kesakitan, sebaliknya malah membentak, “Jika berani, hayolah kau bunuh aku saja, main siksa begini terhitung orang gagah macam apa?”

“Membunuh kau? Hm, masakah begitu enak?” jengek Hiang Bun-thian pula, “krek”, kembali ia pukul patah tulang betis kaki Nyo Lian-ting yang lain. Menyusul Hiang Bun-thian menurunkan tubuh Nyo Lian-ting sehingga berdiri tegak.

Dengan tulang betis yang sudah patah, dengan sendirinya waktu berdiri tulang kaki yang patah itu lantas menusuk ke atas sehingga berbunyi keriang-keriut, sakitnya tentu bukan buatan. Namun Nyo Lian-ting sama sekali tidak bersuara meski mukanya pucat pasi.

“Laki-laki hebat! Aku takkan menyiksa kau lagi,” kata Hiang Bun-thian sambil acungkan jempolnya ke muka Nyo Lian-ting. Sebagai gantinya ia terus menonjok perut Tonghong Put-pay palsu sambil bertanya, “Siapa namamu?”

Orang itu menjerit kesakitan, jawabnya dengan gemetar, “Hamba… hamba ber… bernama Pau… Pau… Pau….” tapi Pau siapa tak dapat dilanjutkannya.

“Jadi kau she Pau?” Hiang Bun-thian menegas.

“Iy… ya! Hamba she… she… Pau… Pau….” namun tetap dia tidak sanggup mengatakan namanya sampai sekian lamanya.

Dalam pada itu Lenghou Tiong dan lain-lain lantas mengendus bau busuk, ternyata dari bawah celana orang itu mengalirkan air kekuning-kuningan, rupanya saking ketakutan orang itu menjadi terkencing-kencing dan tercirit-cirit.

“Urusan jangan terlambat, paling penting kita mencari saja Tonghong Put-pay yang tulen,” kata Yim Ngo-heng. Segera ia angkat orang she Pau itu dan berseru pula, “Kalian sudah menyaksikan sendiri, orang ini adalah Tonghong Put-pay palsu, dia telah merusak agama kita, sekarang juga kita harus menyelidiki duduknya perkara hingga jelas. Aku adalah kaucu kalian yang dulu, apakah kalian masih kenal padaku?”

Para busu yang berada di situ adalah pemuda-pemuda berumur 20-an, selamanya mereka belum melihat Yim Ngo-heng, sudah tentu tidak kenal. Sejak Tonghong Put-pay menjabat kaucu, orang-orang kepercayaannya dapat meraba isi hati kaucu baru ini, maka masing-masing saling memperingatkan agar jangan mengungkat-ungkat urusan Yim-kaucu, sebab itulah nama Yim Ngo-heng saja tidak pernah didengar oleh para busu. Kini mereka menjadi melongo dan saling pandang mendengar ucapan Yim Ngo-heng, tiada seorang pun yang berani menjawab.

Siangkoan In lantas berseru, “Besar kemungkinan Tonghong Put-pay sudah dibinasakan mereka. Yim-kaucu ini adalah kaucu kita. Sejak kini kita harus setia mengabdi kepada Yim-kaucu.”

Habis berkata segera ia mendahului menyembah kepada Yim Ngo-heng, serunya, “Terimalah sembah bakti hamba, semoga Kaucu panjang umur dan merajai jagat!”

Para busu kenal Siangkoan In sebagai Kong-beng-yusu yang terhormat di dalam agama, melihat tokoh setinggi itu saja menyembah kepada Yim Ngo-heng, pula menyaksikan ada orang memalsukan Tonghong Put-pay, malahan Nyo Lian-ting yang biasanya berkuasa itu sekarang juga menggeletak tak bisa berkutik dengan kedua kaki patah, maka tanpa ragu-ragu lagi para busu itu serentak berlutut kepada Yim Ngo-heng dan menyorakkan istilah-istilah puja-puji, “Semoga Kaucu panjang umur dan merajai jagat!”

Yim Ngo-heng terbahak-bahak senang dan puas, katanya kemudian, “Kalian harus menjaga rapat setiap jalan di sekeliling Hek-bok-keh ini, siapa pun dilarang naik-turun.”

Busu-busu itu mengiakan dengan gemuruh. Dalam pada itu Hiang Bun-thian sudah memerintahkan kawanan dayang baju ungu untuk membuka borgol Tong Pek-him.

Tong Pek-him sangat mengkhawatirkan keselamatan Tonghong Put-pay, begitu sudah bebas segera ia cengkeram kuduk Nyo Lian-ting dan membentak, “Tentu kau telah membinasakan Tong… Tonghong-hengte, kau… kau….” saking nafsunya sampai tenggorokannya seperti tersumbat, air mata pun berlinang-linang.

Nyo Lian-ting benar-benar kepala batu, ia malahan pejamkan mata tak pedulikan pertanyaan orang. Keruan Tong Pek-him menjadi murka, kontan ia beri tempelengan keras ke pelipis orang she Nyo itu sambil membentak, “Di manakah Tonghong-hengte?”

“Perlahan sedikit!” cepat Hiang Bun-thian mengingatkan Tong Pek-him.

Namun sudah terlambat, padahal tempelengan itu pun tidak terlalu keras, namun Nyo Lian-ting tidak tahan, kontan ia kelengar. Tong Pek-him entak-entakkan badan Nyo Lian-ting, namun kedua matanya tampak mendelik seperti orang mampus.

“Coba siapa di antara kalian yang tahu di mana beradanya Tonghong Put-pay? Siapa yang memberi laporan lebih dulu akan diberi hadiah besar!” tanya Yim Ngo-heng kepada para dayang baju ungu. Tapi meski ia ulangi pertanyaan itu tetap tiada seorang pun yang dapat memberi keterangan. Seketika dingin juga perasaannya.

Maklumlah, dia dikurung selama belasan tahun di bawah danau Barat (Se-ouw) di Hangciu, di situ siang dan malam ia tekun meyakinkan ilmu dengan tujuan bila kelak dapat meloloskan diri dari tahanan itu ia pun akan balas menyiksa Tonghong Put-pay sejadi-jadinya. Siapa duga sesudah berada di Hek-bok-keh sekarang ternyata Tonghong Put-pay yang telah dibekuknya ini adalah palsu, agaknya Tonghong Put-pay yang tulen sudah tidak hidup lagi di dunia fana ini, kalau tidak, dengan kecerdasan Tonghong Put-pay yang lain daripada yang lain itu masakah sudi membiarkan Nyo Lian-ting berbuat sesukanya dan bahkan menggunakan seorang lain sebagai duplikatnya?

Ia coba memandang kawanan dayang baju ungu yang berdiri di seputar balairung itu, kelihatan sebagian di antaranya mengunjuk sikap ketakutan, ada pula yang gelisah, tapi ada juga yang kelihatan culas. Dalam keadaan kecewa, perasaan Yim Ngo-heng menjadi sangat berangasan, mendadak ia membentak, “Kalian ini sudah tahu Tonghong Put-pay ini palsu, tapi kalian toh sengaja sekongkol dengan Nyo Lian-ting untuk menipu saudara-saudara lain dalam agama, dosa kalian tidak bisa diampuni!”

Tiba-tiba ia melompat maju, “plak-plok” empat kali, di mana tangannya tiba, kontan empat dayang seragam ungu itu lantas binasa. Keruan dayang-dayang yang lain menjadi ketakutan, sambil menjerit mereka menyingkir ke belakang.

“Kalian hendak lari? Mau lari ke mana?” bentak Yim Ngo-heng dengan menyeringai seram, dijemputnya rantai borgol yang baru dilepaskan dari tubuh Tong Pek-him tadi, sekuatnya ia lemparkan rantai itu ke sana. Kontan saja darah mencurat, kembali ada beberapa orang dibinasakan pula.

Yim Ngo-heng terbahak-bahak, teriaknya, “Pengikut-pengikut Tonghong Put-pay satu pun takkan dibiarkan hidup!”

Melihat kelakuan ayahnya rada kurang waras, cepat-cepat Ing-ing memburu maju untuk memegang tangannya sambil memanggil, “Sabar, Ayah!”

Tiba-tiba di antara kawanan dayang seragam ungu itu tampil seorang dan berlutut memberi laporan, “Lapor Kaucu, sebenarnya Tonghong… Tonghong Put-pay itu tidak mati!”

Tidak kepalang senangnya Yim Ngo-heng mendengar itu, ia memburu maju dan memegang bahu dayang itu sambil menegas, “Betul Tonghong Put-pay belum mati?”

“Iya… Ahuuh!” orang itu berteriak terus roboh tak sadarkan diri.

Rupanya saking terguncang oleh perasaannya, Yim Ngo-heng terlalu keras mencengkeram bahu dayang itu, namun sukar membuatnya siuman kembali.

Terpaksa Yim Ngo-heng berpaling kepada dayang-dayang lain dan bertanya, “Berada di mana Tonghong Put-pay? Lekas tunjukkan jalannya, sedikit terlambat saja kalian semua akan kubunuh!”

Seorang dayang lain lantas menyembah dan berkata, “Lapor Kaucu, tempat tinggal Tonghong Put-pay sangat dirahasiakan, yang tahu hanya Nyo Lian-ting seorang. Sebaiknya kita sadarkan keparat she Nyo itu, tentu dia dapat membawa Kaucu ke sana.”

“Lekas ambilkan air dingin,” bentak Yim Ngo-heng.

Kawanan dayang itu memang sudah terlatih dan sangat cekatan, dalam sekejap saja air dingin yang diminta sudah datang terus disiram ke muka Nyo Lian-ting. Perlahan-lahan orang she Nyo itu membuka matanya, dia telah siuman.

“Orang she Nyo, aku menghargai kau sebagai seorang laki-laki berhati keras, maka takkan kusiksa lagi dirimu,” kata Hiang Bun-thian. “Saat ini semua jalan masuk-keluar Hek-bok-keh sudah ditutup, betapa pun Put-pay takkan bisa lolos dari sini kecuali dia punya sayap. Maka ada lebih baik kau membawa kami pergi mencarinya. Seorang laki-laki sejati buat apa mesti main sembunyi? Kan lebih baik kalau kita bikin pemberesan secara blakblakan saja.”

“Hm, Tonghong-kaucu kini sudah punya badan yang kebal, masakah beliau gentar terhadap keroco-keroco macam kalian?” jawab Nyo Lian-ting dengan menjengek “Tapi kata-katamu barusan rada cocok juga dengan seleraku. Baik, akan kubawa kalian untuk menemuinya.”

Segera Hiang Bun-thian berkata kepada Siangkoan In, “Siangkoan-heng, biarlah sementara ini kita menjadi kuli sambilan, mari kita gotong keparat ini untuk menemui Tonghong Put-pay.”

Berbareng ia terus angkat Nyo Lian-ting dan ditaruh di atas usungan.

Siangkoan In mengiakan. Bersama Hiang Bun-thian mereka lantas mengangkat usungan itu.

“Jalan ke dalam!” kata Nyo Lian-ting.

Hiang Bun-thian dan Siangkoan In lantas mendahului jalan di depan dengan menggotong Nyo Lian-ting. Yim Ngo-heng, Lenghou Tiong, Ing-ing, dan Tong Pek-him berempat mengikuti mereka dari belakang.

Setelah rombongan masuk ke belakang balairung dan melalui sebuah serambi yang panjang, kemudian sampai di sebuah taman bunga dan memasuki sebuah rumah batu kecil di ujung kiri.

“Dorong dinding sebelah kanan!” seru Nyo Lian-ting.

Ketika Tong Pek-him menolak dengan tangannya, ternyata dinding itu bisa bergerak sehingga berwujud sebuah daun pintu. Di dalamnya terdapat pula sebuah pintu besi. Dari bajunya Nyo Lian-ting mengeluarkan segandeng anak kunci dan diserahkan kepada Tong Pek-him, pintu besi itu dibuka, di dalamnya ternyata ada sebuah lorong di bawah tanah.

Lorong itu terus menurun ke bawah. Dalam hati Yim Ngo-heng membatin, “Tonghong Put-pay telah mengurung aku di dasar danau, siapa duga dia pun kualat sehingga kena dikurung pula di bawah tanah. Tampaknya lorong ini pun tidak lebih baik daripada tempat kurunganku dahulu.”

Tidak nyana, setelah membelok beberapa tikungan, tiba-tiba bagian depan terbeliak terang. Sekonyong-konyong semua orang mengendus bau harum bunga semerbak, seketika napas mereka terasa segar.

Keluar dari lorong di bawah tanah itu ternyata mereka sudah berada di dalam sebuah taman bunga yang kecil dan sangat indah. Bunga mekar beraneka warna, pepohonan tumbuh menghijau segar, di tengah taman ada sebuah kolam dengan beberapa pasang belibis sedang berenang kian-kemari dan beberapa ekor bangau putih bersaba di tepi kolam.

Tiada seorang pun yang menyangka bahwa di balik lorong yang gelap tadi ternyata ada kediaman seindah ini, sungguh mereka tak habis heran. Setelah mengitari sebuah gunung-gunungan, tertampak di depan terbentang sebidang kebun bunga, seluruhnya adalah bunga mawar berwarna merah tua dan jambon yang sedang mekar dan seakan-akan berlomba memamerkan kecantikan masing-masing.

Ing-ing melirik ke arah Lenghou Tiong, dilihatnya pemuda itu tersenyum simpul, tampaknya sangat senang. “Bagus tidak tempat ini?” tanya Ing-ing dengan suara tertahan.

“Setelah kita usir Tonghong Put-pay, lalu kita tinggal beberapa bulan di sini, nanti kau mengajarkan aku memetik kecapi, alangkah bahagianya kehidupan demikian!” ujar Lenghou Tiong.

“Apakah ucapanmu ini sungguh-sungguh?” tanya Ing-ing.

“Tentu saja sungguh-sungguh,” jawab Lenghou Tiong. “Cuma kukhawatir tidak dapat menerima ajaran kecapimu sehingga membikin nenek marah-marah nanti.”

Maka mengikik tawalah Ing-ing teringat kepada masa lampau ketika Lenghou Tiong mengira dia adalah seorang tua renta dan selalu memanggilnya sebagai nenek.

Sementara itu tertampak Hiang Bun-thian dan Siangkoan In sedang mengusung Nyo Lian-ting ke dalam sebuah pondok kecil yang indah, cepat Lenghou Tiong dan Ing-ing ikut masuk ke situ. Begitu melangkah masuk, seketika mereka mengendus bau harum bunga yang menusuk hidung, dilihatnya dinding kamar tergantung sebuah lukisan yang menggambarkan kaum wanita sedang menyulam. Lenghou Tiong menjadi heran apakah Tonghong Put-pay tinggal di kamar ini? Apakah tempat tinggal gendak kesayangannya sehingga dia senantiasa tenggelam di tempat demikian dan lupa mengurusi pekerjaan.

Tiba-tiba terdengar seorang di dalam kamar bertanya, “Adik Lian, siapakah yang kau bawa kemari?”

Suaranya nyaring tajam, seperti suara kaum lelaki, tapi mirip juga suara wanita, mendirikan bulu roma rasanya bagi orang yang mendengarnya.

Maka Nyo Lian-ting telah menjawab, “Kubawa serta sobat lamamu, dia ingin bertemu dengan kau.”

“Mengapa kau membawanya kemari?” ujar suara di dalam itu. “Tempat ini hanya boleh didatangi seorang saja, selain kau, siapa pun takkan kutemui.”

Beberapa kata-kata terakhir ini diucapkan dengan manja seperti nada kaum wanita, namun jelas suaranya adalah suara orang laki-laki.

Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, Ing-ing, Tong Pek-him, dan Siangkoan In sudah sangat kenal Tonghong Put-pay, dari suara tadi jelas adalah suara sang kaucu itu, hanya saja nadanya sangat aneh, seakan-akan pemain sandiwara wanita yang diperankan oleh kaum lelaki dengan suara yang dibikin-bikin. Keruan mereka saling pandang dengan melongo.

Maka terdengar Nyo Lian-ting menjawab dengan menghela napas, “Ya, apa daya, kalau aku tidak membawanya kemari, aku akan dibunuh olehnya. Sebelum mati bila aku tidak melihat kau lebih dulu, hal ini akan merupakan penyesalan besar selama hidupku.”

“Hah, siapakah yang begitu berani mati membikin susah padamu? Coba suruh dia masuk kemari,” seru orang di dalam itu dengan suara melengking.

Yim Ngo-heng memberi tanda agar semua orang ikut masuk ke dalam. Lebih dulu Siangkoan In menyingkap tirai pintu yang bersulam bunga yang indah, Nyo Lian-ting lantas digotong ke dalam, lalu semua orang ikut masuk ke situ. Ternyata di dalam kamar sebelah dalam itu terpajang sangat rajin dan indah dengan hiasan yang warna-warni, pada ujung kanan sana ada sebuah meja rias, di sampingnya duduk seorang dengan baju warna jambon, tangan kiri memegang sebuah bingkai sulaman, tangan kanan memegang sebuah jarum sulam, melihat masuknya orang-orang sebanyak itu, ia angkat kepalanya dengan rada heran.

Namun betapa herannya orang itu toh masih kalah besar herannya Yim Ngo-heng dan lain-lain terhadap orang di dalam kamar itu. Semua orang jelas mengenali orang berbaju jambon itu tak-lain tak-bukan Tonghong Put-pay yang selama belasan tahun ini menduduki jabatan kaucu Tiau-yang-sin-kau dengan gelar “jago silat nomor satu di dunia”. Hanya saja sekarang kumis jenggotnya telah dicukur bersih, yang luar biasa adalah mukanya pakai pupur dan bibir digincu segala, baju yang dipakainya itu bentuknya tidak laki tidak perempuan, warnanya juga terlalu mencolok sekalipun dipakai oleh gadis jelita sebagai Ing-ing.

Sungguh sukar untuk dipercaya oleh siapa pun juga bahwa kesatria yang namanya mengguncangkan Kangouw, seorang tokoh mahaagung, ternyata hidupnya sembunyi di dalam kamar wanita dan kerjanya menyulam. Benar-benar luar biasa kalau tidak menyaksikannya sendiri.

Tadinya Yim Ngo-heng penuh dendam dengan hati seperti terbakar, tapi demi melihat keadaan Tonghong Put-pay itu, merasa geli juga. Bentaknya segera, “Tonghong Put-pay, apa kau pura-pura gila?”

“O, Yim-kaucu kiranya!” jawab Tonghong Put-pay dengan suara melengking. “Memang sudah kuduga yang datang tentulah dirimu. Eh, Adik Lian, ken… kenapakah kau? Apa dia yang melukai kau?”

Cepat ia menubruk ke samping Nyo Lian-ting terus memondongnya dan perlahan-lahan dibaringkan di atas tempat tidurnya.

Seprai tempat tidurnya yang bersulam itu berbau sangat wangi. Dengan wajah yang penuh kasih sayang tak terhingga Tonghong Put-pay bertanya, “Ah, kau sangat kesakitan tentunya? O, cuma tulang kaki yang patah, tidak apa-apa, jangan khawatir, segera akan kusambungkan bagimu.”

Dengan hati-hati ia terus membukakan sepatu Nyo Lian-ting, lalu mencopot kaus kakinya, kemudian menyelimutinya pula, mirip sekali seorang istri setia melayani sang suami.

Pemandangan aneh itu membuat semua orang melongo heran dan geli, semuanya ingin tertawa, tapi pemandangan yang teramat lucu dan seram itu membuat mereka urung tertawa.

Dalam pada itu tertampak Tonghong Put-pay telah mengeluarkan sepotong saputangan sutra hijau, perlahan-lahan ia mengusap keringat dan kotoran di dahi dan muka Nyo Lian-ting.

Dilayani semanis itu, bukannya Nyo Lian-ting berterima kasih, sebaliknya ia menjadi marah dan mendamprat, “Musuh besar di hadapan mata, buat apa kau mengurusi aku segala? Kalau kau sudah membereskan musuh barulah nanti kita bermesra-mesraan.”

Tonghong Put-pay hanya tersenyum dan menjawab, “Baik, baik! Kau jangan marah, tentu kakimu terlalu sakit bukan? Ai, hatiku pun ikut pedih!”

Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan lain-lain terhitung tokoh-tokoh kelas wahid yang sudah kenyang asam garam kehidupan, namun pemandangan aneh yang mereka hadapi sekarang sungguh sukar dimengerti. Di dunia ini memang banyak terjadi hubungan-hubungan kelamin yang tidak sehat karena perubahan kejiwaan, misalnya laki-laki yang suka meniduri anak laki-laki tanggung, hubungan seks antara sejenis, dan macam-macam kelainan, namun seorang kaucu mahaagung sebagai Tonghong Put-pay ternyata rela berdandan sebagai wanita, jelas dia tentu sudah gila. Bahkan Nyo Lian-ting menghardik dan mengolok-oloknya secara menyakitkan hati, namun dia tetap sangat halus budi dan kasih sayang sebagaimana layaknya seorang istri setia. Keruan hal ini membuat semua orang terheran-heran dan merasa mual pula.

Tong Pek-him tidak tahan, ia melangkah maju dan berseru, “Tonghong-hengte, kau… sesungguhnya kau lagi apa-apaan ini?”

Tiba-tiba Tonghong Put-pay mengangkat kepalanya dan bertanya dengan wajah cemberut, “Apakah orang yang mencelakai Adik Lian juga termasuk kau ya?”

“Tonghong-hengte, mengapa kau terima dipermainkan orang she Nyo ini? Dia telah menyuruh seorang untuk memalsukan dirimu dan memberi perintah serta main kuasa sesukanya, apakah kau sudah mengetahui hal-hal itu?”

“Sudah tentu aku mengetahui,” jawab Tonghong Put-pay. “Demi kebaikankulah maka Adik Lian sedemikian rajin padaku. Dia tahu aku sungkan mengurusi pekerjaan-pekerjaan yang membosankan itu, maka dia yang mengerjakannya bagiku, apa sih jeleknya?”

“Orang ini hendak membunuh aku, apakah kau pun tahu?” tanya Tong Pek-him sambil menuding Nyo Lian-ting.

“Aku tidak tahu,” sahut Tonghong Put-pay sambil menggeleng perlahan. “Tapi kalau Adik Lian mau membunuh kau tentu kaulah yang bersalah. Lalu mengapa kau tidak membiarkan dibunuh olehnya?”

Tong Pek-him melengak bingung. Tapi ia lantas mendongak dan bergelak tertawa, suara tertawa yang penuh rasa penasaran dan sedih. Katanya kemudian, “Jadi dia ingin bunuh aku dan kau lantas membiarkan dia membunuh sesukanya, begitu?”

“Ya, apa yang suka dilakukan oleh Adik Lian tentu akan kuusahakan agar keinginannya tercapai. Di dunia ini hanya dia seorang yang benar-benar baik padaku, maka aku pun akan berbuat baik baginya,” kata Tonghong Put-pay. “Tong-toako, kita pernah hidup bersama senasib dan setanggungan, selamanya kita bersahabat dengan akrab. Cuma tidak seharusnya kau membikin susah kepada Adik Lian.”

Dengan wajah merah padam Tong Pek-him berteriak, “Tadinya kukira kau kurang waras, rupanya kau pun cukup sadar dan masih ingat kita adalah sahabat karib dan punya hubungan akrab di masa lampau.”

“Ya. Jika kau bersalah padaku takkan menjadi soal, tapi kau bersalah pada Adik Lian, inilah tidak boleh,” kata Tonghong Put-pay.

“Dan sekarang aku sudah menyalahi dia, kau mau apa?” teriak Tong Pek-him pula. “Keparat ini hendak membunuh aku, hm, kukira tidaklah mudah memenuhi keinginannya itu.”

Perlahan-lahan Tonghong Put-pay membelai rambut Nyo Lian-ting dan bertanya dengan suara halus, “Adik Lian, apakah kau ingin membunuh dia?”

Nyo Lian-ting menjadi marah, omelnya, “Lekas kerjakan, kelemak-kelemek, bikin sebal saja?”

“Baik,” sahut Tonghong Put-pay dengan tertawa. Lalu ia berpaling kepada Tong Pek-him, katanya, “Tong-heng, mulai hari ini kita putus hubungan dan rantas persaudaraan, jangan kau salahkan tindakanku ini.”

Ketika berangkat dari balairung tadi Tong Pek-him telah rampas sebuah golok dari seorang busu. Kini mendengar ucapan Tonghong Put-pay itu, tanpa terasa ia mundur dua tindak dan siap siaga. Ia cukup kenal betapa lihainya sang kaucu, meski sekarang tampaknya aneh, tapi tidak boleh dipandang ringan.

Tonghong Put-pay menyeringai, katanya dengan gegetun, “Hal ini sungguh serbasusah bagiku. Tong-heng, aku menjadi teringat kepada kejadian dahulu ketika kau menyelamatkan diriku dari kerubutan musuh-musuhku di Soatang, waktu itu aku sudah terluka parah, bila kau tidak membantu tentu aku takkan hidup lagi sampai saat ini.”

“Hm, rupanya kau belum lupa akan peristiwa lama itu,” jengek Tong Pek-him.

“Mana bisa lupa? Bahkan hal-hal lain pun aku ingat dengan baik,” ujar Tonghong Put-pay. “Umpamanya ketika dahulu aku merobohkan Yim-kaucu dengan obat tidur, perbuatanku kepergok Hwe-tong-tongcu Lo Ko-tek, syukur engkau telah membinasakan orang she Lo itu sehingga usahaku dapat terlaksana dengan lancar. Kau benar-benar saudaraku yang paling baik.”

Dengan air muka yang berubah Tong Pek-him melirik sekejap ke arah Yim Ngo-heng, jawabnya, “Memang salahku, pada waktu itu mungkin aku sudah pikun.”

“Kau tidak salah, kau pun tidak pikun, tapi kau memang sangat baik padaku,” kata Tonghong Put-pay. “Ketika berumur 11 aku sudah kenal kau. Waktu itu keluargaku sangat miskin, engkaulah yang selalu membantu kehidupan kami. Bahkan engkau pula yang mengongkosi penguburan-penguburan ayah-bundaku ketika mereka kemudian meninggal berturut-turut.”

“Urusan-urusan yang sudah lalu buat apa dibicarakan lagi?” ujar Tong Pek-him.

“Ai, Tong-toako, bukannya aku tidak punya liangsim (hati nurani) dan melupakan kebaikanmu di masa lampau, soalnya kau telah bersalah pada Adik Lian. Dia ingin membinasakan kau, ya, terpaksa aku tak punya jalan lain.”

“Sudahlah, sudahlah!” seru Tong Pek-him.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan merah berkelebat, tubuh Tonghong Put-pay seperti bergerak sedikit. Menyusul terdengar “trang” satu kali, golok yang dipegang Tong Pek-him jatuh ke lantai, lalu tubuh orang tua itu pun terhuyung-huyung, mulutnya tampak terbuka lebar, tapi tak mampu bersuara. Sekonyong-konyong tubuhnya jatuh ke depan untuk seterusnya tidak bergerak lagi.

Meski jatuhnya Tong Pek-him terjadi dengan cepat, namun Yim Ngo-heng dan jago-jago kelas tinggi lain sudah dapat melihat jelas pada hiat-to bagian-bagian tengah kedua alis, kedua pelipis, dan jin-tiong-hiat di bawah hidung (di atas bibir) ada suatu titik merah kecil dan merembes sedikit darah. Nyata tempat-tempat itu telah kena ditusuk oleh jarum sulam yang dipegang Tonghong Put-pay.

Menyaksikan kejadian luar biasa itu, mau tak mau tokoh-tokoh sebagai Yim Ngo-heng dan lain-lain tanpa terasa mundur dua-tiga tindak. Lenghou Tiong pegang tangan Ing-ing dan disembunyikan di belakangnya. Seketika suasana menjadi sunyi dan bernapas pun tidak berani keras-keras. Semua orang tahu ilmu silat Tonghong Put-pay teramat tinggi, tapi sama sekali orang tidak mengira sedemikian hebatnya, hanya dengan sebatang jarum kecil saja dengan kecepatan luar biasa dapat menusuk empat hiat-to mematikan di atas kepala Tong Pek-him. Padahal baru saja dia menguraikan macam-macam kebaikan orang tua itu, tapi dalam sekejap sahabat dan penolongnya di masa lampau itu sudah dibinasakan olehnya, betapa culas dan kejamnya sungguh membuat orang mengirik.

Perlahan-lahan Yim Ngo-heng melolos pedangnya dan berkata, “Tonghong Put-pay, aku mengucapkan selamat karena kau telah berhasil meyakinkan ilmu silat dalam Kui-hoa-po-tian.”

“Terima kasih Yim-kaucu. Kui-hoa-po-tian itu adalah pemberianmu, senantiasa aku ingat pada kebaikanmu,” jawab Tonghong Put-pay.

“Apa betul? Makanya kau mengurung aku di bawah Danau Se-ouw supaya aku tidak pernah melihat cahaya matahari lagi.”

“Aku kan tidak membinasakan kau toh? Coba kalau aku suruh Bwe-cheng-si-yu tidak mengantar air dan makanan padamu, dapatkah kau hidup sepuluh hari atau setengah bulan, apalagi hidup sampai sekarang?”

“O, jadi caramu memperlakukan diriku masih lumayan ya?”

“Memang,” sahut Tonghong Put-pay. “Aku sengaja mengatur pensiunmu di Hangciu dengan danaunya yang indah sebagai surga menurut kata orang.”

“O, kiranya kau memberi pensiun padaku di dalam penjara dasar danau yang gelap gulita itu. Wah, malahan aku harus berterima kasih padamu. Haha!!”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: