Hina Kelana: Bab 106. Lenghou Tiong Ikut Menyerang ke Markas Mo-kau

Ing-ing menjadi geli sendiri dan menutup mulutnya supaya tidak mengeluarkan suara tertawa.

“Bagaimana pendapatmu agar kita dapat naik ke Hek-bok-keh dengan lancar?” tanya Yim Ngo-heng.

“Tentu Kaucu sudah punya rencana dan perhitungan yang bagus, di hadapan Kaucu mana hamba berani ikut bicara?” jawab Siangkoan In.

“Apakah di waktu Tonghong Put-pay mengadakan perundingan urusan penting juga tiada seorang pun yang berani angkat bicara?” tanya Yim Ngo-heng.

“Ayah,” Ing-ing menyela pula, “Tonghong Put-pay memang seorang mahacerdik, orang lain sukar menandingi kepandaiannya. Maka biasanya memang tiada seorang pun yang berani sembarangan mengemukakan pendapat untuk menghindari bencana yang tak terduga.”

“O, kiranya demikian,” kata Yim Ngo-heng. “Siangkoan-hengte, ketika Tonghong Put-pay menyuruh kau pergi menangkap Lenghou Tiong, petunjuk apa yang dia berikan padamu.”

“Dia mengatakan disediakan hadiah besar bila Lenghou-tayhiap dapat ditangkap, bila tidak dapat menangkapnya hidup-hidup, bawa kembali kepalanya juga boleh,” tutur Siangkoan In.

“Baik, sekarang juga boleh kau ringkus Lenghou Tiong untuk menerima hadiahnya nanti,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa.

Siangkoan In tergetar mundur, katanya, “Lenghou-tayhiap adalah menantu kesayangan Kaucu, beliau berjasa besar pula bagi agama kita, mana hamba berani sembrono kepada beliau.”

“Bukankah tempat kediaman Tonghong Put-pay sangat sukar didatangi, dengan meringkus Lenghou Tiong, tentunya dia akan menerima kedatanganmu,” ujar Yim Ngo-heng.

“Akal ini sangat bagus,” seru Ing-ing tertawa girang. “Nanti kita menyamar sebagai anak buah Siangkoan-sioksiok untuk menemui Tonghong Put-pay. Asalkan berhadapan dengan dia serentak kita mengerubutnya, peduli apakah dia sudah berhasil meyakinkan Kui-hoa-po-tian atau belum, yang pasti dia tentu sulit menandingi keroyokan empat orang.”

“Paling baik kalau Lenghou-hiante pura-pura terluka parah dengan tangan kaki dibalut, dinodai pula dengan darah, lalu kita menggotongnya dengan usungan, dengan demikian Tonghong Put-pay pasti tidak berjaga-jaga, di dalam usungan dapat pula kita sembunyikan senjata,” kata Hiang Bun-thian.

“Bagus, bagus!” seru Yim Ngo-heng setuju.

Dalam pada itu dari ujung jalan raya sana terdengar suara ramai orang berseru, “Hong-lui-tongcu sudah tertangkap! Hong-lui-tongcu sudah tertangkap!”

Ing-ing mengajak Lenghou Tiong keluar hotel, terlihatlah beberapa puluh penunggang kuda dengan obor menggiring seorang tua sedang lewat dengan cepat. Orang tua itu sudah ubanan seluruhnya rambut dan jenggotnya, mukanya berlepotan darah, agaknya sebelum tertangkap telah terjadi pertarungan sengit lebih dulu.

Kedua tangan si kakek tampak terikat di belakang badan tapi sorot matanya berapi, agaknya tidak kepalang rasa murkanya.

Dengan suara perlahan Ing-ing membisiki Lenghou Tiong, “Beberapa tahun yang lalu bila ketemu si kakek, biasanya Tonghong Put-pay suka memanggilnya dengan sangat mesra, siapa duga sekarang dia sudah melupakan hubungan baik di masa lalu.”

Tidak lama Siangkoan In telah menyediakan kerangka usungan dan sebagainya. Ing-ing membalut lengan Lenghou Tiong dengan kain putih dan digantungkan di depan dadanya, disembelihkan pula seekor kambing, darah kambing dipakai melumuri badan Lenghou Tiong.

Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian lantas ganti pakaian sebagai anggota biasa, Ing-ing juga menyamar sebagai lelaki, mukanya dicoreng hitam-hitam, setelah makan kenyang, lalu bersama anak buah Siangkoan In berangkat ke Hek-bok-keh.

Kira-kira 40 li di barat laut Kota Pengting terdapat sebuah teluk yang panjang dan dangkal, batu tebing kedua tepi teluk berwarna merah darah, air mengalir sangat deras, itulah teluk yang terkenal dengan nama Sing-sing-tan. Lebih ke utara lagi dari teluk panjang itu hampir kedua tepinya adalah tebing-tebing yang licin melulu, di situ hanya ada sebuah jalanan batu selebar satu meteran. Sepanjang jalan dijaga dengan keras oleh anggota Tiau-yang-sin-kau. Tapi setiap kali melihat Siangkoan In para penjaga itu sangat segan padanya dan sama memberi hormat.

Setelah menyusuri tiga tempat jalan pegunungan, akhirnya mereka sampai pula di tepi teluk. Siangkoan In melepaskan panah bersuara, lalu dari seberang muncul tiga buah sampan untuk menyambut mereka ke seberang sana.

Diam-diam Lenghou Tiong mengagumi betapa hebat fondasi yang telah dipupuk oleh Tiau-yang-sin-kau selama beberapa ratus tahun ini. Coba kalau bukan Siangkoan In telah bergabung kepada mereka, jangan harap orang luar mampu masuk ke wilayah kekuasaan Sin-kau yang penting itu.

Sampai di seberang, jalanan di situ tambah curam lagi. Ing-ing selalu berjaga di samping usungan, senjata siap di tangan.

Ketika rombongan mereka sampai di tempat pusat pimpinan Tiau-yang-sin-kau hari masih sangat dini, belum lagi terang tanah. Siangkoan In mengirim orang melaporkan secara kilat bahwa perintah sang kaucu telah dilaksanakan dengan baik. Tidak lama kemudian terdengarlah suara kelenengan yang nyaring di udara, serentak Siangkoan In berdiri tegak penuh hormat.

Ing-ing menjawil ayahnya dan membisikinya, “Lekas berdiri tegak, ada perintah sang kaucu.”

Yim Ngo-heng merasa heran, tapi ia pun menurut dan berdiri. Dilihatnya segenap anggota juga mendadak berdiri tegak. Suara kelenengan tadi terus bergema dari atas menuju ke bawah dengan sangat cepat. Ketika suara kelenengan berhenti sejenak barulah semua orang berani bergerak. Seorang anggota yang berbaju kuning tampak masuk ke ruangan tunggu itu dan membentangkan sepotong kain kuning, lalu membaca, “Tonghong-kaucu Tiau-yang-sin-kau yang mahabijaksana dan mahaagung memberikan titah sebagai berikut: Kah Po dan Siangkoan In telah melaksanakan perintah dan pulang dengan hasil yang baik, jasa mereka harus dipuji, diperintahkan sekarang juga boleh menghadap ke atas tebing dengan membawa serta tawanan.”

Siangkoan In membungkuk dengan penuh hormat, lalu mengiakan disertai dengan istilah-istilah sanjung puja yang tetap itu.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli karena kelakuan mereka itu seperti permainan sandiwara di atas panggung.

Sementara itu Siangkoan In lantas membentak, “Kesudian Kaucu menerima hamba, budi kebaikan mahabesar ini takkan hamba lupakan selama hidup.”

Serentak anak buahnya juga berseru menirukan ucapan Siangkoan In itu. Sudah tentu Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian tidak sudi menirukan kata-kata itu, mereka hanya komat-kamit saja bibirnya, tapi menggerutu di dalam batin.

Begitulah rombongan mereka lantas naik ke atas tebing melalui undak-undakan batu, setelah melintasi tiga buah pintu terali besi yang setiap kali mereka selalu ditegur oleh penjaga dengan kode-kode rahasia, akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu batu yang besar, kedua samping pintu tampak terpahat tulisan-tulisan besar yang artinya mengagungkan penghuninya di situ.

Sesudah melewati pintu batu itu, terlihat di atas tanah ada sebuah keranjang bambu yang besar, begitu besar keranjang bambu itu sehingga cukup untuk memuat belasan orang sekaligus.

“Angkat tawanan ke dalam situ,” bentak Siangkoan In.

Lenghou Tiong segera digotong oleh Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan Ing-ing bertiga ke dalam keranjang raksasa itu. Ketika terdengar bunyi kelenengan, keranjang itu mulai mengapung ke atas. Rupanya di atas ada kerekan bertali sehingga keranjang itu dapat dikerek ke atas.

Keranjang besar itu mumbul terus ke atas, waktu Lenghou Tiong memandang ke atas, terlihat di atas sana ada beberapa titik-titik sinar, nyata Hek-bok-keh (karang kayu hitam) luar biasa tingginya.

Ing-ing genggam tangan Lenghou Tiong. Dalam kegelapan tertampak juga gumpalan-gumpalan mega yang melayang lewat di atas kepala mereka. Selang sejenak pula seluruhnya mereka sudah ditelan oleh lautan mega, dasar keranjang hitam gelap, sedikit pun tidak kelihatan lagi titik-titik sinar tadi.

Agak lama pula barulah keranjang raksasa itu berhenti. Lenghou Tiong diusung ke luar dan dipindahkan lagi ke sebuah keranjang lain yang terletak belasan meter di sebelah sana.

Rupanya puncak karang Hek-bok-keh itu terlalu tinggi sehingga kerekan-kerekan yang dipasang itu terbagi dalam tiga tingkat, empat kali mereka harus dikerek barulah mencapai puncak karang itu.

“Begini tinggi tempat tinggal Tonghong Put-pay, pantas sukar sekali bawahannya hendak menemui dia,” pikir Lenghou Tiong.

Akhirnya sampai juga di puncak karang, sementara itu sang surya sudah menongol di ujung timur dan memancarkan sinarnya yang gemilang. Sebuah gapura batu marmer yang megah gemilapan tertingkah oleh cahaya matahari.

Terdengar Siangkoan In berteriak, “Hamba Kong-beng-yusu Siangkoan In mohon bertemu sesuai perintah Kaucu.”

Dari sebuah rumah batu kecil di sebelah kiri sana muncul empat orang, semuanya berjubah ungu, seorang di antaranya berkata, “Selamat atas jasa besar yang telah dicapai Siangkoan-yusu. Mengapa Kah-cosu tidak ikut datang?”

“Kah-cosu telah gugur ketika melabrak musuh sebagai pengabdiannya atas budi kebaikan Kaucu,” jawab Siangkoan In.

“O, kiranya demikian,” kata orang itu. “Jika begitu segera Siangkoan-yusu tentu akan naik tingkat.”

“Bila mendapat anugerah Kaucu tentu takkan kulupakan kebaikan Saudara,” ujar Siangkoan In.

Mendengar ucapan Siangkoan In yang menjanjikan akan memberi sogokan padanya, orang itu tampak sangat senang, katanya pula, “Terima kasih sebelumnya.”

Lalu ia melirik sekejap kepada Lenghou Tiong yang telentang di atas usungan, katanya dengan tertawa, “Apakah bocah ini yang dipenujui Yim-siocia? Kukira pemuda yang ditaksir Yim-siocia tentunya secakap Phoa An dan sebagus Song Giok (kedua nama ini adalah jejaka-jejaka cakap menurut dongeng), tak tahunya juga cuma begini saja. Siangkoan-cosu, silakan ikut padaku.”

“Kaucu belum lagi mengangkat derajatku, janganlah Saudara buru-buru memanggil cosu padaku, kalau didengar oleh Kaucu mungkin bisa celaka,” ujar Siangkoan In.

Orang itu melelet-lelet lidahnya dan tidak bicara lagi. Segera ia mendahului jalan di depan sebagai pengantar.

Dari gapura itu menuju ke pintu gerbang harus melalui sebuah jalan balok batu yang lurus. Setelah memasuki pintu gerbang, dua orang berjubah ungu yang lain mengantar mereka ke ruangan belakang. Katanya kepada Siangkoan In, “Nyo-koankeh hendak menemui kau, silakan tunggu di sini.”

Siangkoan In mengiakan dan berdiri tegak dengan tangan lurus ke bawah.

Cukup lama mereka menunggu, tapi apa yang dikatakan “Nyo-koankeh” (kepala rumah tangga she Nyo) masih belum tampak muncul. Selama itu Siangkoan In tetap berdiri tegak dan tidak berani mengambil tempat duduk.

Dalam hati Lenghou Tiong membatin, “Kedudukan Siangkoan-yusu ini di dalam Mo-kau boleh dikata hanya satu-dua tingkat di bawah sang kaucu, tapi di atas Hek-bok-keh ini ternyata hampir setiap orang tidak menghargainya, seakan-akan seorang pelayan juga lebih kereng dari dia. Lalu siapa lagi Nyo-koankeh yang dikatakan itu? Besar kemungkinan adalah Nyo Lian-ting. Kiranya, dia hanya seorang ‘koankeh’ saja, akan tetapi Kong-beng-yusu yang termasyhur ternyata harus berdiri menunggunya dengan penuh hormat, peraturan demikian sungguh keterlaluan?”

Lewat agak lama pula barulah terdengar suara langkah orang mendatangi, dari suara kakinya yang cepat tapi enteng ini jelas orangnya tidak memiliki lwekang yang kuat. Terdengar suara orang berdehem satu kali, lalu dari pintu angin muncul seorang.

Ketika Lenghou Tiong melirik ke sana, dilihatnya umur orang itu antara 30-an, berjubah satin merah gelap, perawakannya kekar, mukanya penuh berewok, sikapnya sangat gagah.

Kembali Lenghou Tiong membatin, “Menurut cerita Ing-ing, katanya orang ini sangat disayang oleh Tonghong Put-pay, katanya di antara kedua orang mempunyai hubungan yang istimewa. Maka tadinya kukira dia pasti seorang laki-laki secantik nona jelita, siapa tahu dia adalah seorang laki-laki kekar. Sungguh sama sekali di luar dugaan.”

Maka terdengar orang itu sedang berkata, “Siangkoan-yusu, engkau telah berjasa besar dengan berhasil menangkap Lenghou Tiong, untuk ini Kaucu merasa sangat senang.”

Suara seorang laki-laki gagah ternyata sangat merdu dan enak didengar.

Siangkoan In membungkuk tubuh dan menjawab, “Semua itu adalah berkat Kaucu yang mahaagung dan berkat bimbingan Nyo-koankeh yang bijaksana, hamba hanya sebagai pelaksana saja menurut perintah Kaucu.”

Nyo Lian-ting itu mendekati usungan dan memandangi Lenghou Tiong. Dengan sengaja Lenghou Tiong membikin mulutnya setengah melongo dan sorot mata yang guram sehingga mirip benar orang yang terluka parah.

“Orang ini tampaknya sudah setengah sekarat, apakah benar dia ini Lenghou Tiong? Kau tidak keliru?” tanya Nyo Lian-ting.

“Tidak mungkin keliru, hamba menyaksikan sendiri dia diangkat sebagai ketua Hing-san-pay,” jawab Siangkoan In. “Cuma dia telah kena ditutuk tiga kali oleh Kah-cosu, kena dua kali pukulanku pula, lukanya memang parah, dalam waktu setahun kiranya belum bisa pulih.”

“Bagus, bagus!” puji Nyo Lian-ting. “Jasamu ini tentu akan kulaporkan kepada Kaucu dan kau akan mendapatkan ganjaran semestinya. Hong-lui-tongcu telah mengkhianati Kaucu apakah kau sudah mengetahui urusan ini?”

“Hamba tidak jelas duduk persoalannya mohon diberi penjelasan,” jawab Siangkoan In.

Nyo Lian-ting terus duduk sendiri di atas kursi sambil menghela napas, lalu berkata, “Si tua Tong Pek-him ini makin tua makin tidak genah, dia suka jual lagak sebagai orang kepercayaan Kaucu dan memandang sebelah mata kepada orang lain. Akhir-akhir ini dia bahkan bersekongkol dan berkomplotan dengan maksud memberontak. Memang sudah lama kulihat tingkahnya yang mencurigakan itu, siapa tahu dia malahan tambah berani lagi, akhir-akhir bahkan bersekongkol dengan pengkhianat besar Yim Ngo-heng.”

“Dia… dia berkomplot dengan… dengan orang she Yim itu?” Siangkoan In menegas dengan suara rada gemetar.

“Siangkoan-yusu, kenapa kau menjadi ketakutan begini?” tanya Nyo Lian-ting. “Yim Ngo-heng itu toh bukan manusia yang bertangan enam dan berkepala tiga, dahulu Kaucu sudah pernah membikin dia mati kutu, kalau sekarang dia berani datang lagi ke Hek-bok-keh sini, hm, masakah dia takkan disembelih sebagaimana Kaucu menyembelih ayam.”

“Ya, ya. Entah cara bagaimana Tong Pek-him itu bersekongkol dengan dia?” tanya Siangkoan In dengan tergagap-gagap.

“Tong Pek-him telah mengadakan pertemuan rahasia dengan Yim Ngo-heng, selain mereka dihadiri pula seorang pengkhianat lain, yaitu Hiang Bun-thian. Ketika dia kembali ke sini dan kutanyakan perbuatannya itu, ternyata Tong Pek-him terus mengaku dengan terus terang.”

“Dia mengaku terus terang, jelas tuduhan padanya bukanlah fitnah,” ujar Siangkoan In.

“Kutegur dia mengapa tidak memberi laporan kepada Kaucu tentang pertemuannya dengan Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian, dia menjawab katanya mereka hanya mengadakan pertemuan persahabatan saja. Kukatakan munculnya Yim Ngo-heng jelas hendak memusuhi Kaucu, hal ini tentu cukup diketahuinya, mengapa kau anggap musuh sebagai sahabat. Dia menjawab, ‘Mungkin Kaucu yang salah dan bukan orang lain yang salah terhadap Kaucu!’.”

“Kurang ajar!” gerutu Siangkoan In. “Budi luhur Kaucu setinggi langit, beliau paling baik terhadap sesama kawan, mana bisa berbuat salah kepada orang lain?”

Bagi pendengaran Nyo Lian-ting, ucapan Siangkoan In ini sudah tentu ditujukan kepada Tonghong Put-pay, tapi bagi Lenghou Tiong dan lain-lain, mereka tahu Siangkoan In sengaja hendak mengambil hati Yim Ngo-heng.

Terdengar Siangkoan In melanjutkan pula, “Hamba sudah bertekad akan mengabdi sepenuh jiwa raga kepada Kaucu, bila ada orang yang berani kurang ajar kepada Kaucu baik dalam kata maupun dalam tindakan, maka aku Siangkoan In yang pertama-tama akan menghadapinya.”

Kata-kata Siangkoan In itu jelas ditujukan kepada Nyo Lian-ting, sudah tentu dia tidak tahu sama sekali, sebaliknya dia malah menanggapi dengan tertawa, “Bagus, bila semua saudara dalam agama bisa mengikuti tekad Siangkoan-yusu ini tentu tiada hal yang tak bisa diatasi. Tentunya Siangkoan-yusu sudah lelah, silakan pergi istirahat saja.”

“Tapi, tapi hamba ingin menghadap Kaucu,” kata Siangkoan In dengan bingung.

“Kaucu sangat sibuk, mungkin tiada tempo buat menerima kau,” ujar Nyo Lian-ting.

Dari sakunya Siangkoan In lantas merogoh keluar belasan butir mutiara, Nyo Lian-ting didekati dan dibisiki, “Nyo-congkoan, belasan biji mutiara ini adalah hasil sambilanku dalam dinas luar kali ini, keseluruhannya sekarang kupersembahkan kepada Nyo-congkoan dengan harapan sudilah Nyo-congkoan menghadapkan hamba kepada Kaucu. Bila Kaucu senang hati, bisa jadi beliau akan menaikkan pangkat hamba, bila demikian tentu takkan kulupakan pula bantuan Nyo-congkoan.”

“Ah, orang sendiri, mengapa sungkan-sungkan begini,” ujar Nyo Lian-ting dengan menyengir. “Baiklah kuterima. Terima kasih ya.”

Tiba-tiba ia pun membisiki Siangkoan In, “Di hadapan Kaucu nanti tentu akan kubujuk agar kau diangkat menjadi Kong-beng-cosu.”

Berulang-ulang Siangkoan In lantas memberi hormat, katanya, “Bila jadi, selama hidupku takkan lupa atas budi kebaikan Kaucu dan Nyo-congkoan.”

“Silakan kau tunggu sebentar di sini, bila Kaucu sudah longgar temponya segera kau akan dipanggil,” kata Nyo Lian-ting kemudian sambil memasukkan mutiara-mutiara tadi ke sakunya.

Siangkoan In mengiakan beberapa kali, lalu munduk-munduk beberapa langkah ke belakang. Nyo Lian-ting sendiri lantas berbangkit dan masuk ke dalam dengan lagak tuan besar.

Selang agak lama pula, seorang dayang baju ungu tampak keluar, lalu berseru lantang, “Kaucu mahaagung, mahabijaksana, memerintahkan Siangkoan In menghadap dengan membawa tawanannya.”

Siangkoan In mengucapkan terima kasih dengan istilah-istilah sanjung puji pula. Lalu mengikuti dayang itu ke ruangan dalam dengan disusul oleh Yim Ngo-heng bertiga yang mengusung Lenghou Tiong.

Sepanjang jalan di serambi samping penuh berbaris busu-busu berseragam dan bersenjata tombak, seluruhnya mereka melintasi tiga buah pintu besi, kemudian menyusuri lagi sebuah serambi panjang yang dijaga oleh beberapa ratus busu-busu yang berbaris di kanan-kiri dengan senjata golok mengilat dan disilangkan ke atas. Rombongan Siangkoan In menerobos lewat di bawah barisan golok itu dengan perasaan kebat-kebit.

Tokoh-tokoh yang sudah kenyang asam garam Kangouw seperti Yim Ngo-heng, Hiang Bun-thian, dan lain-lain itu sudah tentu memandang sebelah mata terhadap barisan busu begitu. Hanya saja mereka sangat mendongkol karena merendahkan diri hanya untuk bisa berhadapan dengan Tonghong Put-pay.

Habis menerobos barisan golok itu, sampailah di depan sebuah pintu yang bertirai tebal. Siangkoan In menyingkap tirai tebal itu terus melangkah ke dalam. Sekonyong-konyong sinar putih gemerdep, delapan buah tombak dari kanan-kiri menusuk ke arahnya.

Lenghou Tiong terkejut, segera ia meraba pedang yang tersembunyi di bawahnya. Tapi dilihatnya Siangkoan In berdiri diam saja tanpa melawan. Sebaliknya lantas berseru lantang, “Hamba Kong-beng-yusu Siangkoan In mohon bertemu Kaucu yang mahaagung dan mahabijaksana!”

Terdengar di dalam istana itu ada orang berseru, “Masuk!”

Serentak kedelapan busu bertombak itu lantas menyingkir.

Baru sekarang Lenghou Tiong paham, rupanya tusukan tombak-tombak tadi hanya untuk menakut-nakuti saja, bila yang datang memang orang bermaksud jahat tentunya akan terus menangkis tusukan-tusukan itu dan terbukalah kedoknya.

Setelah masuk balairung itu, Lenghou Tiong terkesiap oleh panjangnya balairung yang luar biasa itu. Lebar balairung itu paling-paling cuma sepuluh meter, tapi panjangnya adalah ratusan meter. Di ujung balairung sana terbangun sebuah podium dan di atasnya berduduk seorang tua berjenggot. Tentunya dia Tonghong Put-pay adanya.

Balairung itu tidak berjendela, hanya pada pojok depan dipasang lilin besar, tapi di samping mimbar yang diduduki Tonghong Put-pay itu ternyata dua onggok api unggun yang sebentar terang sebentar gelap, karena jaraknya cukup jauh, cahaya yang gelap-gelap terang itu membikin orang sukar melihat jelas wajah sang kaucu.

Tidak jauh di bawah podium itu Siangkoan In lantas berlutut dan menyembah dengan kata-kata sanjung puji yang seram-seram.

Mendadak dayang di samping Tonghong Put-pay membentak, “Di hadapan Kaucu mengapa anak buahmu yang keroco itu tidak berlutut?”

Yim Ngo-heng adalah seorang yang tahan uji, ia pikir belum tiba saat yang menguntungkan, kalau untuk sementara ini aku berlutut padamu apa halangannya? Sebentar lagi aku yang akan membeset kulitmu dan membetot tulangmu. Karena itu segera ia berlutut dan menunduk. Melihat kepalanya sudah berlutut, dengan sendirinya Hiang Bun-thian dan Ing-ing lantas ikut saja.

“Mungkin anak buah hamba ini menjadi lupa daratan karena diberi kesempatan melihat wajah emas Kaucu sehingga tidak segera berlutut, harap Kaucu memberi ampun,” kata Siangkoan In.

Saat itu Nyo Lian-ting berdiri di samping Tonghong Put-pay, terdengar ia berkata, “Cara bagaimana Kah-cosu bertempur dengan musuh dan akhirnya gugur, coba ceritakan.”

“Kah-cosu dan hamba merasa utang budi kepada Kaucu, kini kami diberi tugas penting, betapa pun kami telah bertekad akan melaksanakannya dengan baik….”

Mendengar ocehan Siangkoan In yang memuakkan itu, diam-diam Lenghou Tiong menggerutu.

Pada saat itulah tiba-tiba di belakangnya ada orang berteriak keras, “Tonghong-hengte, apakah benar kau memerintahkan orang-orang ini untuk merangkap diriku?”

Suara orang ini serak-serak tua, tapi penuh kekuatan lwekang sehingga suaranya berkumandang dan memekak telinga. Lenghou Tiong menduga orang ini tentulah Hong-lui-tongcu Tong Pek-him adanya.

Benar juga, segera terdengar Nyo Lian-ting menanggapi, “Tong Pek-him, di balairung Seng-tek-tong ini mana boleh kau gembar-gembor sesukamu? Di hadapan Kaucu mengapa pula kau berdiri tanpa berlutut? Berani pula kau tidak menyebutkan keagungan Kaucu?”

Tong Pek-him mendongak dan bergelak tertawa, katanya, “Waktu aku bersahabat dengan Tonghong-hengte mana ada seorang macam kau? Ketika aku dan Tonghong-hengte sama-sama merasakan pahit getir dalam perjuangan mungkin orang macam kau belum lagi dilahirkan, masakan kau ada hak untuk bicara dengan aku?”

Lenghou Tiong coba melirik ke sana, dilihatnya orang tua itu mendelik dengan beringas, sikapnya menakutkan. Kaki dan tangannya diborgol semua dengan rantai yang sangat panjang. Rupanya saking gusarnya dia bicara sehingga kedua tangannya ikut bergerak, maka menerbitkan suara gemerencing dari rantai yang diseretnya itu.

Tadinya Yim Ngo-heng hanya berlutut di tempatnya tanpa bergerak, kini demi mendengar suara gemerencingnya rantai, seketika terbayang kembali pengalaman sendiri ketika disiksa di kamar tahanan di bawah danau di Hangciu dahulu. Darahnya bergolak hebat, badannya sampai gemetar, segera ia bermaksud mengambil tindakan.

Namun lantas terdengar Nyo Lian-ting lagi bicara pula, “Di hadapan Kaucu juga berani berkata demikian, kau benar-benar terlalu kurang ajar. Secara diam-diam kau bersekongkol dengan pengkhianat besar Yim Ngo-heng, apakah kau masih tidak menyadari dosamu ini?”

“Yim-kaucu adalah ketua agama kita yang lampau, beliau mendapat penyakit berat sehingga terpaksa harus mengundurkan diri dan segala tugas pimpinannya telah diserahkan kepada Tonghong-hengte, mana boleh kau mengatakan Yim-kaucu adalah pengkhianat besar?” bantah Tong Pek-him. “Tonghong-hengte, coba kau katakan sendiri yang tegas, benarkah Yim-kaucu mengkhianati agama kita? Apa dasarnya?”

“Setelah penyakit Yim Ngo-heng sembuh, seharusnya dia cepat kembali ke dalam agama, tapi dia malah mendatangi tokoh-tokoh Siau-lim, Bu-tong, Ko-san, dan lain-lain untuk berkomplotan dengan mereka, apalagi perbuatannya ini kalau bukan pengkhianatan?” jawab Nyo Lian-ting. “Lebih jauh kenapa dia tidak lantas menghadap Kaucu serta menerima petunjuk-petunjuknya?”

“Hahahaha!” Tong Pek-him terbahak-bahak. “Yim-kaucu adalah bekas atasan Tonghong-hengte, baik ilmu silatnya maupun pengetahuannya belum tentu di bawah Tonghong-hengte, betul tidak Tonghong-hengte?”

Tapi Nyo Lian-ting lantas membentak, “Jangan kau berlagak lebih tua di sini, jika kau mau mengakui dosamu, besok di hadapan sidang terbuka pimpinan mungkin Kaucu masih mau mengampuni dosamu. Kalau tidak, hm, bagaimana akibatnya tentu kau tahu sendiri.”

“Haha, orang she Tong sudah mendekati 80 tahun, memangnya aku sudah bosan hidup, mengapa aku mesti takut akibat apa segala?” jawab Tong Pek-him dengan tertawa.

“Bawa maju orang-orangnya!” mendadak Nyo Lian-ting berteriak.

Dayang baju ungu mengiakan, lalu terdengarlah suara gemerencing yang ramai, belasan orang digiring ke dalam balairung, ada laki-laki ada perempuan, ada orang tua, ada anak-anak pula.

Begitu melihat orang-orang itu, seketika air muka Tong Pek-him berubah hebat, bentaknya dengan murka, “Nyo Lian-ting, kenapa kau menangkap anak-cucuku?”

Suaranya yang keras menggelegar anak telinga semua orang sehingga mendengung-dengung.

“Coba sebut Tong Pek-him, bagaimana bunyi pasal ketiga petuah Kaucu?” kata Nyo Lian-ting.

“Fui!” Tong Pek-him meludah, tapi tidak menjawab.

“Coba siapa di antara anggota keluarga Tong yang mengetahui pasal ketiga petuah Kaucu, coba uraikan!” seru Nyo Lian-ting.

Seorang anak laki-laki lantas berkata, “Pasal ketiga petuah Kaucu mahaagung berbunyi: Terhadap musuh harus kejam, babat rumput harus bersama akar-akarnya, laki-perempuan tua-muda, tidak seorang pun ditinggalkan hidup.”

“Bagus, bagus! Anak manis, apakah kesepuluh pasal petuah Kaucu dapat kau hafalkan di luar kepala?” tanya Nyo Lian-ting.

“Dapat!” jawab anak kecil itu. “Satu hari tidak menghafalkan petuah Kaucu rasanya tidak dapat tidur dan tidak dapat makan. Setelah baca petuah Kaucu seketika bersemangat dan giat belajar.”

“Bagus. Siapa yang mengajarkan hal-hal demikian padamu?”

“Ayah!” jawab si anak.

“Siapa dia?” tanya Lian-ting pula sambil menunjuk Tong Pek-him.

“Kakek!”

“Kakekmu tidak mau membaca petuah Kaucu, tidak mau menurut perintah Kaucu, malahan membangkang pada Kaucu, bagaimana menurut kau?”

“Kakek bersalah,” jawab bocah itu. “Setiap orang harus memahami ajaran Kaucu dan menurut segala perintah Kaucu.”

“Nah, kau dengar sendiri,” kata Nyo Lian-ting terhadap Tong Pek-him, “cucumu sekecil itu saja bilang begitu, sebaliknya kau sudah tua bangka, mengapa kau malah berbuat tidak senonoh?”

“Aku hanya bicara sebentar dengan orang she Yim dan she Hiang, mereka minta aku melawan Kaucu, tapi aku menolak ajakan mereka,” kata Tong Pek-him. “Selamanya Tong Pek-him bicara apa adanya dan tidak pernah berbuat sesuatu yang merugikan orang lain.”

Rupanya dia menyaksikan belasan anggota keluarganya akan ikut menjadi korban, maka nada bicaranya menjadi agak lunak.

“Jika sejak tadi-tadi kau bicara demikian tentu urusan menjadi lebih mudah diselesaikan,” ujar Nyo Lian-ting. “Dan sekarang kau sudah mengakui kesalahanmu?”

“Aku tidak bersalah, aku tidak antiagama kita, lebih-lebih tidak anti-Kaucu,” jawab Tong Pek-him.

“Kalau kau tetap tidak mau mengaku salah, terpaksa aku tak bisa menolong kau,” ujar Nyo Lian-ting dengan menghela napas. “Penjaga, bawalah anggota keluarganya ke tempat tahanan, mulai sekarang dilarang memberikan makanan dan minuman sedikit pun juga.”

“Nanti dulu!” teriak Tong Pek-him keras-keras. Lalu katanya kepada Nyo Lian-ting, “Baik, aku mengaku salah. Untuk itu aku mohon Kaucu memberi ampun.”

“Hm, tadi kau bilang apa? Kau bilang pernah sehidup-semati dengan Kaucu, saat mana aku saja belum dilahirkan. Betul tidak?” tanya Nyo Lian-ting.

Dengan menahan perasaannya Tong Pek-him menjawab, “Ya, aku salah omong.”

“Kau salah omong? Hanya begini saja persoalannya?” kata Nyo Lian-ting dengan menjengek. “Di hadapan Kaucu mengapa kau tidak berlutut?”

“Kaucu dan aku adalah saudara angkat, selama puluhan tahun kami berdiri dan berduduk sama tingginya,” jawab Tong Pek-him. Mendadak ia berseru pula, “Tonghong-hengte, kau menyaksikan sendiri Laukoko (saudara tua) disiksa orang habis-habisan, mengapa kau tidak buka mulut, tidak bicara sepatah kata pun? Jika kau ingin Laukoko berlutut padamu, soalnya sangat gampang asalkan bicara sepatah kata saja, biarpun mati bagimu sedikit pun Laukoko takkan mengernyitkan kening.”

Tapi Tonghong Put-pay masih terus duduk tak bergerak, seketika suasana di balairung menjadi sunyi senyap, pandangan semua orang dialihkan kepada Tonghong Put-pay untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya. Akan tetapi sampai sekian lamanya dia tetap diam saja.

“Tonghong-hengte,” Tong Pek-him berteriak pula, “selama beberapa tahun ini betapa sukarnya aku ingin menemui kau. Kau telah mengasingkan diri untuk meyakinkan ‘Kui-hoa-po-tian’, tapi apakah kau tahu para kawan lama di dalam agama telah banyak meninggalkan kita, bencana besar sedang mengancam agama kita?”

Tetap Tonghong Put-pay diam saja. Maka Tong Pek-him berseru lagi, “Asal kau sendiri yang omong, segera aku akan berlutut padamu. Tidak menjadi soal kau menyiksa aku, bahkan membunuh aku sekalipun, tapi Tiau-yang-sin-kau yang namanya mengguncangkan Kangouw selama beratus-ratus tahun segera akan hancur, untuk ini kau harus bertanggung jawab dan akan berdosa besar. Mengapa kau diam saja? Apakah kau kena penyakit dalam meyakinkan ilmu sehingga tak bisa bicara?”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: