Hina Kelana: Bab 105. Lolos dari Lubang Jarum

“Jangan kau mengaco-belo tak keruan,” bentak Ing-ing. “Ini, Tiat-bok-leng (kayu besi tanda pengenal) Kaucu berada padaku. Menurut perintah Kaucu, Kah Po telah mengadakan persekutuan jahat, hendaklah setiap anggota segera menangkap dan membunuhnya bila melihatnya, untuk mana hadiah disediakan.”

Habis berkata ia terus acungkan tangannya tinggi-tinggi, benar juga sepotong kayu hitam yang dikenal sebagai Tiat-bok-leng memang betul dia pegang.

Kah Po menjadi gusar dan segera memberi aba-aba, “Lepas panah!”

“Kau berani?” Ing-ing balas membentak. “Apakah Tonghong-kaucu suruh kau membunuh aku?”

“Kau membangkang perintah Kaucu….”

Tapi Ing-ing lantas menyela, “Siangkoan-sioksiok, tangkap dulu pengkhianat Kah Po itu dan kau segera naik pangkat menjadi Kong-beng-cosu.”

Kedudukan Kah Po memang lebih tinggi setingkat daripada Siangkoan In, padahal kepandaian Siangkoan In lebih tinggi, hal ini memangnya sudah membuatnya sirik, sekarang ada seruan Ing-ing, mau tak mau ia menjadi tergerak hatinya dan ragu-ragu pula. Sudah tentu ia pun mengetahui Ing-ing adalah putri Yim-kaucu yang dahulu, biasanya Tonghong-kaucu sangat menghargainya, walaupun akhir-akhir ini tersiar kabar Yim-kaucu tampil lagi di dunia Kangouw dan bermaksud merebut kembali kedudukan kaucu, ia menduga di antara Tonghong-kaucu dan Yim-siocia tentu juga akan terjadi perselisihan. Tapi kalau sekarang disuruh memerintahkan anak buahnya menyemprotkan air berbisa kepada Ing-ing, hal ini pun tak bisa dilakukan olehnya.

Dalam pada itu Kah Po memberi aba-aba pula, “Panah!”

Namun anak buahnya itu selama ini memandang Ing-ing sebagai malaikat dewata yang dipuja, apalagi terlihat padanya memegang Tiat-bok-leng, tentu saja mereka tidak berani sembarangan bertindak padanya.

Di tengah suara yang tegang itu, sekonyong-konyong di bawah loteng Leng-kui-kok itu ada orang berseru, “Api! Api! Kebakaran!”

Menyusul terlihatlah sinar api menganga disertai mengepulnya asap dari bawah.

“Keji benar kau, Kah Po!” seru Ing-ing. “Mengapa kau menyalakan api untuk membakar anak buahmu sendiri?”

“Ngaco-be….” namun belum habis Kah Po membantah, cepat Ing-ing menyela pula, “Lekas padamkan api dahulu!”

Berbareng ia terus mendahului menerjang ke sana, kesempatan baik ini segera diikuti oleh Lenghou Tiong, Hong-ting, dan Tiong-hi bertiga untuk berlari ke depan. Serentak mereka membobol jendela dan menerjang ke dalam.

Begitu mereka menyerbu ke dalam loteng, maka lumpuhlah seluruh alat pesawat panah air berbisa tadi. Lenghou Tiong menerjang ke arah altar terus menyambar sebuah tatakan lilin yang berujung tajam, sekali ia entakkan tatakan lilin, sepotong lilin yang masih menancap di situ terus mencelat dan merobohkan seorang anak buah Kah Po. Menyusul tatakan lilin lantas bekerja pula, hanya sekejap saja enam-tujuh orang telah dibinasakan pula. Di sebelah sana Hong-ting dan Tiong-hi juga sedang melabrak musuh, dengan cepat mereka pun telah membereskan tujuh-delapan orang.

Kedatangan Kah Po dan Siangkoan In kali ini seluruhnya membawa 40 buah peti, setiap petinya digotong dua orang sehingga semuanya ada 80 pengikut. Kedelapan puluh orang itu semuanya adalah jago pilihan Tiau-yang-sin-kau, walaupun bukan jago kelas satu, namun cukup tangguh ilmu silat masing-masing. Empat puluh orang di antaranya tersebar di sekeliling Sian-kong-si, 40 orang lagi bertugas memasang panah air yang terbagi di dua loteng Leng-kui-kok dan Sin-coa-kok.

Begitulah dalam sekejap saja Lenghou Tiong bertiga sudah membereskan ke-20 anak buah Kah Po, pesawat panah air berbisa itu berantakan tersebar memenuhi lantai. Dengan bersenjatakan sepasang boan-koan-pit tampak Kah Po sedang menempur Ing-ing dengan sengitnya. Senjata yang dipakai Ing-ing adalah sepasang pedang, pedang yang satu panjang dan yang lain pendek.

Selama Lenghou Tiong berkenalan dengan Ing-ing baru sekarang ia menyaksikan dengan jelas kepandaian si nona, cara menyerangnya sangat cepat, tempat yang diarah selalu yang berbahaya. Sebaliknya boan-koan-pit yang digunakan Kah Po tampak tidak kurang lihainya, agaknya bobotnya tidak ringan, terbukti dari sambaran angin yang terjangkit ketika senjatanya bergerak.

Ing-ing selalu menghindari senjatanya beradu dengan senjata lawan dan menyerang pada saat yang tepat dan tempat yang mematikan.

“Binatang, tidak lekas menyerah saja!” bentak Hong-ting kepada Kah Po.

Tapi Kah Po sudah kalap, mendadak kedua boan-koan-pit-nya menikam ke leher Ing-ing, Keruan Lenghou Tiong kaget, khawatir Ing-ing tidak sanggup menghindarkan serangan maut itu, tanpa pikir tatakan lilin yang berujung tajam itu pun ditusukkan ke depan. “Cret”, dengan cepat luar biasa pergelangan tangan Kah Po tertusuk sekaligus.

Karena itu boan-koan-pit Kah Po terlepas dari cekalan, namun dia memang sangat tangkas, segera ia menubruk ke arah Lenghou Tiong sambil menghantam dengan kedua telapak tangan. Tapi Hong-ting keburu menyela dari samping, sekali pegang kedua tangan Kah Po itu kena dicengkeram olehnya.

Sekuatnya Kah Po meronta, tapi aneh, betapa pun sukar melepaskan diri dari pegangan Hong-ting itu, segera ia angkat sebelah kakinya, terus menendang ke selangkangan Hong-ting.

Serangan ini benar-benar sangat keji, Hong-ting menghela napas dan terpaksa mendorongkan kedua tangannya ke depan. Kah Po tidak mampu berdiri tegak lagi, ia terlempar ke luar dan menerobos pintu terus terjerumus ke bawah. Terdengarlah suara jeritan ngeri yang terus berkumandang, makin lama makin jauh sampai akhirnya lenyap di dalam jurang yang tak terkirakan dalamnya itu.

“Untung kau datang menolong tepat pada waktunya!” kata Lenghou Tiong kepada Ing-ing.

“Ya, memang untung kedatanganku tidak terlambat,” jawab Ing-ing dengan tersenyum. Lalu ia berseru pula, “Padamkan api!”

Terdengar ada orang mengiakan di bawah loteng. Kiranya api yang berkobar di bawah itu sengaja dinyalakan untuk mengacaukan perhatian Kah Po, api itu cuma pembakaran rumput kering ditabur dengan bahan bakar lain saja, jadi bukan kebakaran sungguh-sungguh.

Ing-ing mendekati jendela dan berseru ke Sin-coa-kok di depan sana, “Siangkoan-sioksiok, Kah Po membangkang perintah sehingga mendapatkan ganjarannya yang setimpal, kau sendiri bolehlah kemari bersama anak buahmu, aku takkan membikin susah padamu.”

“Toasiocia, ucapanmu harus dapat dipercaya,” jawab Siangkoan In.

“Aku bersumpah asalkan Siangkoan-sioksiok mau tunduk kepada perintahku, aku berjanji takkan membikin susah padanya, kalau melanggar sumpah ini biarlah aku mati membusuk dimakan ulat,” dengan sumpah Ing-ing yang paling berat menurut kebiasaan di dalam Tiau-yang-sin-kau maka legalah hati Siangkoan In, segera ia pimpin 20 anak buahnya keluar dari tempat sembunyinya.

Ketika Lenghou Tiong berempat turun ke bawah Leng-kui-kok, tertampak Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan lain-lain sudah menanti di situ.

“Dari mana kau mendapat tahu Kah Po akan menyergap kami?” tanya Lenghou Tiong kepada Ing-ing.

“Kupikir masakah Tonghong Put-pay begitu baik hati mau mengirim kado untukmu?” tutur Ing-ing. “Semula kusangka di dalam peti-peti antarannya mungkin tersembunyi sesuatu akal keji, kemudian kulihat tingkah laku Kah Po rada mencurigakan, malahan membawa pengikutnya menuju ke sini. Aku tambah curiga dan coba menjenguk ke sini bersama Lo-siansing dan lain-lain. Ternyata beberapa penjaga di bawah sana melarang kami naik ke sini, keruan rahasia mereka lantas ketahuan.”

Coh Jian-jiu, Lo Thau-cu, dan lain-lain sama bergelak tertawa. Sebaliknya Siangkoan In menunduk malu.

“Siangkoan-sioksiok, selanjutnya kau ikut padaku atau tetap ikut Tonghong Put-pay?” tanya Ing-ing.

Air muka Siangkoan In berubah hebat, sesaat itu ia merasa sulit kalau dia disuruh mengkhianati Tonghong Put-pay.

Dengan lantang Ing-ing berkata pula, “Di antara kesepuluh tianglo dari Tiau-yang-sin-kau kita sudah ada enam tianglo yang makan pil Sam-si-nau-sin-tan dari ayahku. Sebiji pil ini akan kau makan atau tidak?”

Habis berkata ia terus menjulurkan tangannya, satu biji pil merah tampak berputar-putar di tengah telapak tangannya.

“Apakah betul enam di antara ke… kesepuluh tianglo kita sudah… sudah….”

“Betul,” sela Ing-ing. “Selamanya kau belum pernah bekerja bagi ayahku, akhir-akhir ini kau ikut Tonghong Put-pay, tapi tidak berarti mengkhianati ayahku. Asalkan kau mau meninggalkan yang gelap dan kembali ke jalan yang terang, sudah tentu aku akan menghargai kau, ayah juga pasti akan memberi penilaian lain padamu.”

Siangkoan In pikir kalau tidak menyerah tentu jiwanya akan melayang, keadaan memaksa, mau tak mau ia ambil pil merah di tangan Ing-ing itu terus ditelan. Katanya, “Selanjutnya Siangkoan In terima di bawah perintah Toasiocia.”

Berbareng ia pun memberi hormat.

“Selanjutnya kita adalah orang sendiri, tidak perlu kau banyak adat,” kata Ing-ing. “Para anak buahmu ini dengan sendirinya mengikuti jejakmu, bukan?”

Siangkoan In memandang kepada ke-20 pengikutnya. Melihat pemimpinnya sudah menyerah, tanpa diperintah lagi serentak orang-orang itu lantas menyembah kepada Ing-ing dan berseru, “Kami tunduk semua di bawah perintah Seng-koh!”

Sementara itu para kesatria sudah memadamkan api, mereka pun ikut bersyukur dan gembira bahwa Ing-ing telah berhasil menundukkan Siangkoan In. Maklumlah ilmu silat Siangkoan In cukup tinggi, kedudukannya juga penting di dalam Tiau-yang-sin-kau, kalau dia juga takluk kepada Ing-ing, maka bagi usaha Yim Ngo-heng untuk merebut kembali kedudukan kaucu tentu akan besar bantuannya.

Melihat urusan sudah beres, Hong-ting dan Tiong-hi lantas mohon diri. Lenghou Tiong mengantar keberangkatan kedua tokoh itu hingga jauh barulah ambil perpisahan.

Ketika menuju kembali ke Kian-seng-hong, Ing-ing berkata kepada Lenghou Tiong, “Toako, kau sendiri sudah menyaksikan betapa keji dan licinnya Tonghong Put-pay dengan segala akal busuknya. Saat ini ayah dan Hiang-sioksiok sedang menjumpai dan membujuk kenalan-kenalan lama yang punya kedudukan penting di dalam agama agar mereka mau mendukung pimpinan lama. Bila mereka mau menerima dengan baik ajakan ayah itu tentunya tidak menjadi soal, tapi kalau ada yang menentang, satu per satu lantas dibereskan sekalian untuk mengurangi kekuatan Tonghong Put-pay. Sementara ini Tonghong Put-pay juga telah mengadakan serangan balasan, seperti kejadian ini, dia mengirim Kah Po dan Siangkoan In untuk menjebak kau, ini benar-benar suatu langkah yang sangat lihai. Soalnya ayah dan Hiang-sioksiok sukar dicari jejaknya sehingga Tonghong Put-pay tidak mampu menemukan mereka, sebaliknya kalau kau sampai kena dicelakai, sungguh aku… aku….” sampai di sini air mukanya menjadi merah, cepat ia berpaling.

Angin malam meniup sepoi-sepoi, rambut Ing-ing yang halus itu tersiah ke atas sehingga tampak lehernya yang jenjang dan putih bersih, hati Lenghou Tiong terguncang, pikirnya, “Bahwasanya dia mencintai aku, hal ini telah diketahui umum, sampai-sampai Tonghong Put-pay juga ingin menangkap aku sebagai sandera untuk memaksakan kehendaknya padanya dan selanjutnya untuk memaksa ayahnya. Ketika di jembatan gantung di Sian-kong-si tadi, sudah jelas mengetahui betapa lihainya air berbisa, tapi dia rela mengadang di depanku. Punya istri sesetia ini, apa lagi yang kuharapkan lagi?”

Tanpa terasa lengannya menjulur dan bermaksud memeluk pinggang si nona.

Ing-ing mengikik tawa, sedikit mengegos, tempat kosonglah yang dipeluk oleh Lenghou Tiong. Kata Ing-ing dengan tertawa, “Masakah begini kelakuan seorang ciangbunjin yang terhormat?”

“Memangnya di seluruh dunia ini hanya ciangbunjin dari Hing-san-pay yang paling istimewa,” jawab Lenghou Tiong dengan menyengir.

“Mengapa kau berkata demikian, Toako?” ujar Ing-ing dengan sungguh-sungguh. “Bahkan ketua-ketua Siau-lim dan Bu-tong juga menghargai dirimu, siapa lagi yang berani memandang rendah padamu? Biarpun gurumu mengusir kau dari Hoa-san-pay, tapi jangan kau senantiasa memikirkan soal ini sehingga selalu merasa rendah diri.”

Kata-kata Ing-ing ini benar-benar kena di lubuk hati Lenghou Tiong, memang soal dipecatnya dari perguruan selama ini tetap mengganjal di dalam hatinya. Maka ia tidak menjawab, ia hanya menghela napas dan menunduk.

“Toako,” kata Ing-ing pula sambil pegang tangan Lenghou Tiong, “sebagai ketua Hing-san-pay, kau telah menonjol di depan para kesatria sejagat. Hing-san dan Hoa-san selalu pada tingkatan yang sama, memangnya sebagai ketua Hing-san-pay kau rasakan tidak lebih terhormat daripada seorang anak murid Hoa-san-pay?”

“Banyak terima kasih atas bujukanmu,” jawab Lenghou Tiong. “Aku hanya merasa kedudukanku sebagai pemimpin kawanan nikoh rada-rada lucu dan serbarunyam.”

“Tapi hari ini sudah ada ribuan kesatria yang minta menjadi anggota Hing-san-pay, bicara tentang pengaruh dan kekuatan boleh dikata hanya Ko-san-pay saja yang masih mampu menandingi kau, selain itu masakah Hoa-san-pay dan lain-lain dapat memadai kau?”

“Dalam urusan ini aku masih harus berterima kasih padamu,” kata Lenghou Tiong.

“Terima kasih apa?” katanya Ing-ing tertawa.

“Kau khawatir aku merasa kurang gemilang menjadi pemimpin kaum nikoh, maka sengaja mengirim anak buahmu sebanyak ini untuk memasuki Hing-san-pay. Kalau bukan perintah Seng-koh masakah kawanan berandalan sebanyak itu mau datang padaku untuk menerima perintah begitu saja?”

“Juga belum tentu benar seluruhnya,” ujar Ing-ing. “Tatkala kau menyerbu Siau-lim-si bukankah mereka pun tunduk semua di bawah perintahmu?”

Sambil bicara, tanpa terasa sudah dekat dengan biara induk, sayup-sayup sudah terdengar suara berisik orang banyak. Ing-ing lantas berhenti dan berkata, “Toako, sementara ini kita berpisah dulu, bila urusan penting ayah sudah beres tentu aku akan datang menjenguk kau.”

Terdorong oleh perasaan hangat hatinya, Lenghou Tiong berkata, “Apakah kau akan berangkat ke Hek-bok-keh?”

Ing-ing mengiakan.

“Aku ikut!” kata Lenghou Tiong.

Seketika biji mata Ing-ing memancarkan sinar yang penuh gembira, tapi perlahan-lahan ia menggeleng malah.

“Kau tidak ingin aku ikut ke sana?” Lenghou Tiong menegas.

“Baru saja kau menjadi ketua Hing-san-pay, rasanya kurang pantas bila sekarang kau ikut campur urusan Tiau-yang-sin-kau kami,” kata Ing-ing.

“Tapi menghadapi Tonghong Put-pay adalah pekerjaan yang amat berbahaya, masakah aku harus tinggal diam membiarkan kau menghadapi bahaya?” ujar Lenghou Tiong.

“Tapi di sini tinggal kawanan berandalan sebanyak itu, siapa berani mengatasi mereka jika ada yang mengganggu nona-nona jelita Hing-san-pay kalian?” kata Ing-ing.

“Asalkan kau memberikan perintah tegas, betapa pun kukira mereka tak berani main gila.”

“Baiklah, atas kesediaanmu ikut ke Hek-bok-keh, atas nama ayah kusampaikan terima kasih.”

“Buat apa kita saling terima kasih kian-kemari seperti orang luar saja.”

“Baik, kalau lain kali aku tidak tahu terima kasih janganlah kau salahkan aku,” sahut Ing-ing dengan tertawa.

Setelah kedua orang kembali di Kian-seng-hong, mereka lalu memberi pesan kepada anak buah masing-masing. Lenghou Tiong menyuruh para murid Hing-san-pay giat belajar. Ing-ing memberi perintah kepada para kesatria agar hidup prihatin, selanjutnya mereka dilarang naik ke Kian-seng-hong tanpa dipanggil, siapa yang melanggar akan dihukum potong kaki.

Besok paginya berangkatlah Lenghou Tiong, Ing-ing, Siangkoan In, dan ke-20 anak buahnya yang tersisa.

Hek-bok-keh itu terletak di wilayah Hopak, dari Hing-san mereka menuju ke timur. Suatu hari sampailah mereka di Pengting. Sepanjang jalan Lenghou Tiong dan Ing-ing menumpang di dalam kereta dengan tirai tertutup untuk menghindari mata-mata Tonghong Put-pay. Malam itu mereka cari penginapan di Pengting.

Kota itu sudah tidak jauh lagi dengan markas besar Tiau-yang-sin-kau, di dalam kota banyak berseliweran anggota-anggota Mo-kau itu. Siangkoan In menugaskan empat anak buahnya menjaga di sekitar hotel, orang yang tak berkepentingan dilarang keras mendekat.

Waktu makan malam, Ing-ing mengiringi Lenghou Tiong minum arak. Cahaya api lilin yang berkedip-kedip makin menambah kemolekan Ing-ing.

Setelah menenggak tiga mangkuk arak, berkatalah Lenghou Tiong, “Ing-ing, ketika di Siau-lim-si tempo hari ayahmu mengatakan beliau hanya mengagumi tiga setengah tokoh besar pada zaman ini, di antaranya Tonghong Put-pay adalah orang utama yang dikaguminya. Kalau orang ini mampu merampas kedudukan kaucu dari tangan ayahmu, sudah tentu ia adalah seorang mahapintar menurut cerita orang Kangouw, katanya ilmu silatnya Tonghong Put-pay nomor satu di dunia ini, entah betul tidak berita demikian ini?”

“Bahwa Tonghong Put-pay ini seorang yang mahacerdik dan banyak tipu akalnya memang tidak perlu disangsikan lagi,” jawab Ing-ing. “Tentang sampai di mana tinggi ilmu silatnya, tidaklah begitu jelas bagiku, soalnya beberapa tahun terakhir ini aku sangat jarang menjumpai dia.”

“Ya, tentunya kau lebih sering tinggal di Kota Lokyang sehingga jarang menjumpai dia,” ujar Lenghou Tiong.

“Bukan begitu. Meski aku tinggal di Lokyang, tapi setiap tahun aku tentu pulang ke Hek-bok-keh satu atau dua kali, tapi meski pulang ke sana toh jarang pula bertemu dengan Tonghong Put-pay. Menurut cerita para tianglo di sana akhir-akhir ini makin sukar untuk bertemu dengan sang kaucu.”

“Mungkin orang yang berkedudukan tinggi sering kali sengaja tahan harga agar lebih diagungkan orang,” kata Lenghou Tiong.

“Itu memang salah satu alasan tepat. Tapi kuduga tentunya dia sedang giat meyakinkan ilmu dalam Kui-hoa-po-tian sehingga tak ingin pemusatan pikirannya terganggu.”

“Ayahmu pernah bercerita padaku, katanya dahulu dia terlalu asyik meyakinkan cara-cara memunahkan bergolaknya hawa murni yang disedot oleh Gip-sing-tay-hoat sehingga urusan pekerjaan sehari-hari tak dihiraukan, kesempatan ini telah digunakan Tonghong Put-pay untuk merebut kekuasaan, apakah mungkin sekarang Tonghong Put-pay mengulangi lagi jejak ayahmu itu?”

“Sejak Tonghong Put-pay tidak banyak memegang pekerjaan agama, akhir-akhir ini semua kekuasaan boleh dikata hampir jatuh ke tangan bocah she Nyo itu. Bocah itu takkan merampas kedudukan Tonghong Put-pay, maka tentang terulangnya peristiwa dahulu boleh tidak perlu dikhawatirkan.”

“Bocah she Nyo katamu? Siapakah dia? Mengapa selama ini belum pernah kudengar?”

Tiba-tiba wajah Ing-ing tampak perasaan rikuh, katanya dengan tersenyum, “Kalau bicara tentang dia hanya bikin kotor mulut saja. Orang di dalam agama yang tahu seluk-beluknya tidak ada yang sudi membicarakannya, orang luar agama tiada yang tahu, dengan sendirinya kau pun tidak pernah dengar tentang dia.”

Tambah tertarik rasa ingin tahu Lenghou Tiong, pintanya, “Adik yang manis, coba ceritakanlah padaku.”

“Bocah she Nyo itu lengkapnya bernama Nyo Lian-ting usianya belum ada 30, ilmu silatnya rendah, tidak mampu bekerja pula. Tapi akhir-akhir ini Tonghong Put-pay justru sangat sayang dan percaya padanya, sungguh sukar dimengerti.”

Sampai di sini wajah Ing-ing kembali bersemu merah, mulutnya mencibir dengan sikap yang menghina.

“Ah, barangkali kau maksudkan bocah she Nyo itu adalah ‘gendak’ Tonghong Put-pay? Sungguh tidak nyana, seorang kesatria seperti dia ternyata juga suka… suka main begituan.”

“Sudahlah, tak perlu dibicarakan lagi, aku pun tidak tahu apa yang dikehendaki Tonghong Put-pay. Yang jelas segala urusan hampir dia serahkan kepada Nyo Lian-ting sehingga banyak kawan-kawan dalam agama yang menjadi korban keculasan orang she Nyo itu, sungguh dia pantas dibinasakan.”

Sampai di sini, sekonyong-konyong di luar jendela ada orang tertawa dan berseru, “Ucapanmu salah, sebaliknya kita harus berterima kasih kepada bocah she Nyo itu.”

“Ayah!” seru Ing-ing dengan girang, cepat ia membukakan pintu.

Tertampaklah Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian melangkah masuk, keduanya sama-sama berdandan sebagai orang kampung dengan baju kasar, memakai kopiah buntut. Kalau tidak mendengar suaranya tentu sukar mengenalnya. Segera Lenghou Tiong memberi hormat dan suruh pelayan menambah makanan.

“Akhir-akhir ini aku dan Hiang-hiante mengadakan hubungan kenalan-kenalan lama di dalam agama, hasilnya ternyata sangat memuaskan,” tutur Yim Ngo-heng. “Sebagian besar di antara mereka menyambut kembaliku dengan girang, katanya akhir-akhir ini Tonghong Put-pay sudah mendekati kebangkrutan karena dijauhi oleh pengikut-pengikutnya. Terutama bocah she Nyo itu, asalnya cuma seorang keroco, lantaran bisa memelet Tonghong Put-pay sehingga memegang kekuasaan, lalu banyak lagak, tidak sedikit tokoh-tokoh ternama dan berjasa di dalam agama yang telah menjadi korbannya. Cara perbuatan bocah she Nyo itu bukankah berbalik membantu usaha kita, bukankah kita harus berterima kasih padanya malah?”

Ing-ing mengiakan, lalu ia tanya, “Dari mana kalian mengetahui kedatangan kami, Ayah?”

“Hiang-hiante sudah berkelahi dulu dengan Siangkoan In, kemudian baru diketahui dia telah tunduk padamu,” kata Yim Ngo-heng dengan tertawa.

“Hiang-sioksiok tidak melukai dia, bukan?” tanya Ing-ing.

“Tidaklah gampang untuk melukai Siangkoan In,” ujar Hiang Bun-thian dengan tersenyum.

Bicara sampai di sini, terdengar di luar riuh ramai dengan suara suitan yang tajam melengking mendirikan bulu roma di malam sunyi.

“Apakah Tonghong Put-pay mengetahui kedatangan kita?” kata Ing-ing. Lalu ia berpaling dan menjelaskan kepada Lenghou Tiong, “Suara suitan ramai itu adalah tanda penggerebekan musuh atau menangkap kaum pengkhianat. Bila mendengar tanda-tanda itu serentak para anggota dalam agama harus siap siaga.”

Selang tidak lama, terdengar empat ekor kuda dilarikan dengan cepat sekali lewat di depan hotel, ada penunggang kuda itu berseru, “Atas titah Kaucu, tianglo penguasa Hong-lui-tong, Tong Pek-him, bersekongkol dengan musuh dan bermaksud memberontak, diperintahkan segenap anggota bantu menangkapnya segera, bila melawan boleh dibunuh tanpa perkara.”

“Tong-pepek yang dimaksudkan? Mana bisa?” ujar Ing-ing tidak percaya.

“Tajam juga sumber berita Tonghong Put-pay, kemarin dulu kami baru saja bicara dengan Kakek Tong dan kini hal ini sudah diketahui olehnya,” kata Yim Ngo-heng.

Ing-ing merasa lega, tanyanya, “Jadi Tong-pepek juga menyanggupi membantu kita?”

“Mana dia mau mengkhianati Tonghong Put-pay,” jawab Yim Ngo-heng. “Lama sekali aku dan Hiang-hiante bicara dengan dia, namun tetap sukar mengubah pendiriannya, akhirnya dia berkata, ‘Hubunganku dengan Tonghong-kaucu boleh dikata sehidup-semati, hal ini cukup diketahui kalian, tapi sekarang kalian sengaja membujuk aku, jelas kalian memandang hina padaku dan anggap aku sebagai pengecut yang suka menjual kawan. Memang akhir-akhir ini Tonghong-kaucu tidak sedikit berbuat kesalahan-kesalahan lantaran dipengaruhi oleh orang busuk, tapi biarpun nanti Tonghong-kaucu akan hancur lebur juga aku orang she Tong takkan berbuat sesuatu apa pun yang tidak baik padanya. Aku mengaku bukan tandingan kalian berdua, jika mau bunuh bolehlah kalian bunuh saja diriku.’

“Kakek Tong itu memang tua-tua keladi, makin tua makin berapi.”

“Sungguh seorang kesatria sejati, seorang kawan baik,” ujar Lenghou Tiong.

“Jika dia sudah menolak bujukan ayah, mengapa sekarang Tonghong Put-pay hendak menangkap dia malah?” tanya Ing-ing.

“Ini namanya dunianya sudah berbalik,” ujar Hiang Bun-thian. “Umur Tonghong Put-pay belum terlalu tua, tapi tindak tanduknya sudah tidak keruan. Kawan karib yang setia seperti Tong Pek-him itu hendak dia cari lagi di mana?”

“Tapi dengan bentrokan Tonghong Put-pay dengan Tong Pek-him, itu berarti menguntungkan malah usaha kita,” kata Yim Ngo-heng tertawa. “Marilah kita sama-sama mengeringkan satu cawan.”

Mereka berempat lantas mengangkat cawan sebagai tanda selamat dan bersyukur.

Lalu Ing-ing menjelaskan kepada Lenghou Tiong, katanya, “Tong-pepek itu adalah seorang tokoh angkatan tua agama kami, dahulu dia telah banyak berbuat jasa sehingga dia sangat dihormati. Biasanya dia tidak begitu cocok dengan ayah, tapi sangat karib dengan Tonghong Put-pay. Sepantasnya betapa pun dia berbuat kesalahan seharusnya Tonghong Put-pay akan dapat mengampuni dia.”

“Tonghong Put-pay hendak menangkap Tong Pek-him, sudah tentu Hek-bok-keh sekarang sedang kacau, ini adalah kesempatan yang paling bagus bagi kita untuk naik ke sana,” kata Yim Ngo-heng.

“Bagaimana kalau kita undang Siangkoan In untuk diajak berunding?” tanya Bun-thian.

“Bagus,” jawab Yim Ngo-heng.

Setelah Hiang Bun-thian keluar, tidak lama dia masuk lagi bersama Siangkoan In. Begitu melihat Yim Ngo-heng, segera Siangkoan In memberi sembah hormat, “Hamba Siangkoan In menyampaikan hormat kepada Kaucu, semoga Kaucu panjang umur dan merajai Kangouw.”

Dengan tertawa Yim Ngo-heng menjawab, “Siangkoan-hengte, kudengar kau adalah seorang laki-laki yang keras, mengapa pertemuan pertama ini kau sudah mengucapkan kata-kata demikian?”

Siangkoan In melengak bingung, jawabnya kemudian, “Hamba tidak paham, mohon Kaucu memberi penjelasan.”

Ing-ing lantas menyela, “Ayah, apa barangkali engkau merasa heran terhadap istilah-istilah yang diucapkan Siangkoan-sioksiok?”

“Ya, aku merasa seperti menjadi raja dengan istilah-istilah sanjung puji yang luar biasa itu,” kata Yim Ngo-heng.

“Istilah-istilah itu sengaja ditetapkan oleh Tonghong Put-pay agar anak buahnya selalu mengucapkan sanjung puji demikian bila berhadapan padanya,” tutur Ing-ing. “Rupanya Siangkoan-sioksiok sudah biasa pakai istilah-istilah itu sehingga kepada ayah juga digunakan kata-kata yang sama.”

“O, kiranya demikian,” kata Yim Ngo-heng. “Siangkoan-hengte, kabarnya Tonghong Put-pay ada perintah menangkap Tong Pek-him, kukira saat demikian suasana di Hek-bok-keh tentu kacau-balau, bagaimana kalau malam ini juga kita lantas naik ke atas sana?”

Siangkoan In mengiakan dengan macam-macam istilah sanjung puji pula yang lebih “seram”. Keruan Yim Ngo-heng mengerut kening. Padahal Siangkoan In terkenal ilmu silatnya tinggi, wataknya juga terkenal keras dan tulus, mengapa sekarang juga pandai menjilat dengan macam-macam perkataan yang menjijikkan.

“Ayah,” Ing-ing lantas menyela, “untuk menyusup ke Hek-bok-keh sebaiknya kita menyamar saja supaya tidak dikenal musuh. Yang lebih penting lagi adalah kita harus hafal kode-kode yang sedang populer di Hek-bok-keh, yaitu istilah-istilah sanjung puji sebagaimana diucapkan Siangkoan-sioksiok tadi. Istilah-istilah demikian sebenarnya adalah bikinan Nyo Lian-ting yang sengaja digunakan untuk menjilat Tonghong Put-pay. Rupanya Tonghong Put-pay juga sangat senang menerima pujian-pujian semacam itu, kalau bawahannya tidak mengucapkan kata-kata pujian seperti itu lantas dianggap berdosa dan dijatuhi hukuman, bahkan dibinasakan.”

“Kalau ketemu Tonghong Put-pay, kau sendiri juga gunakan istilah-istilah begitu?” tanya Yim Ngo-heng.

“Tinggalnya di Hek-bok-keh, apa mau dikata terpaksa harus mengikuti peraturan mereka,” jawab Ing-ing. “Sebabnya Anak lebih sering tinggal di Lokyang justru untuk menghindari rasa muak terhadap tingkah laku mereka.”

“Siangkoan-hengte, selanjutnya kita tidak perlu pakai cara-cara demikian,” kata Yim Ngo-heng kemudian.

“Baik,” jawab Siangkoan In, akan tetapi toh masih ditambahkannya pula, “kebijaksanaan Kaucu yang mahaadil tentu akan hamba patuhi, semoga Kaucu panjang umur hidup abadi.”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: