Hina Kelana: Bab 104. Asal Usul Pi-sia-kiam-hoat

“Kalau dipikir menurut ceritamu, agaknya kesepuluh gembong Mo-kau itu masuk perangkap Ngo-gak-kiam-pay, mereka terpancing ke dalam gua sehingga tidak mampu lolos,” kata Hong-ting.

“Ya, Wanpwe juga berpikir demikian,” jawab Lenghou Tiong. “Dari sebab itu gembong-gembong Mo-kau itu merasa penasaran, lalu mereka mengukir tulisan untuk mencaci maki Ngo-gak-kiam-pay serta melukiskan jurus-jurus ilmu silat mereka yang telah mengalahkan ilmu pedang Ngo-gak-kiam-hoat agar diketahui angkatan yang akan datang, supaya angkatan berikutnya mengetahui kematian mereka itu bukan kalah tanding, tapi terjebak oleh tipu muslihat musuh. Hanya saja di samping beberapa tulang itu terdapat pula beberapa batang pedang yang jelas adalah senjata dari pihak Ngo-gak-kiam-pay.”

Hong-ting merenung sejenak, katanya kemudian, “Itulah sukar diketahui seluk-beluknya, bisa jadi gembong-gembong Mo-kau itu merampasnya dari orang-orang Ngo-gak-kiam-pay. Tentu apa yang kau temukan di gua itu sampai kini belum pernah kau ceritakan kepada orang lain?”

“Tidak pernah,” jawab Lenghou Tiong. “Bahkan kepada suhu dan sunio juga belum sempat kuberi tahu berhubung macam-macam kejadian selanjutnya.”

“Ilmu pedangmu yang hebat itu apakah juga hasil pelajaranmu dari lukisan-lukisan di dinding gua itu?” tanya Hong-ting.

“Bukan. Tentang ilmu pedang Wanpwe, selain ajaran suhu kupelajari pula dari Hong-thaysiokco.”

Hong-ting manggut-manggut. Sekian lamanya mereka bicara, sementara itu sang surya sudah hampir terbenam di ufuk barat yang merah membara.

“Kesepuluh gembong Mo-kau itu akhirnya tewas semua di Hoa-san, tapi Kui-hoa-po-tian yang ditulis oleh Lin Siau dan Cu Hong juga kena digondol oleh orang Mo-kau,” kata Hong-ting pula. “Maka kitab yang diberikan Yim-kaucu kepada Tonghong Put-pay itu tentulah catatan tokoh-tokoh Hoa-san itu. Memangnya catatan mereka itu tidak lengkap, mungkin yang mereka catat itu masih kalah luas daripada apa yang diselami oleh Lim Wan-tho.”

“Lim Wan-tho?” Lenghou Tiong menegas.

“Ya, dia adalah moyang Lim-sute-mu, pendiri Hok-wi-piaukiok yang terkenal dengan ke-72 jurus Pi-sia-kiam-hoat itu,” kata Hong-ting.

“Apakah Lim-cianpwe ini pun pernah membaca Kui-hoa-po-tian itu?” tanya Lenghou Tiong.

“Dia… dia adalah To-goan Siansu, itu murid kesayangan Ang-yap Siansu,” Hong-ting menerangkan.

Hati Lenghou Tiong tergetar, katanya, “O, kiranya demikian. Ini benar-benar… rada….”

“Aslinya To-goan Siansu memang she Lim sesudah kembali preman, dia lantas memakai she asalnya,” kata Hong-ting.

“Kiranya moyang Lim-sute yang terkenal dan disegani karena ke-72 jurus Pi-sia-kiam-hoat itu adalah To-goan Siansu, hal ini sungguh tak… tak terduga sama sekali,” ujar Lenghou Tiong. Seketika adegan-adegan ketika Lim Cin-lam hampir meninggal dunia di kelenteng bobrok di luar Kota Heng-san dahulu itu terbayang-bayang pula di dalam benaknya.

“To-goan dan Wan-tho, kedua nama ini hanya terputar balik saja dengan ucapan yang hampir sama, jadi sesudah To-goan Siansu kembali preman, dia lantas menggunakan she aslinya dengan nama yang dibalik dari nama agamanya, kemudian ia pun menikah dan punya anak serta mendirikan piaukiok, namanya juga telah menggegerkan dunia Kangouw. Pendirian Lim-cianpwe itu sangat lurus, meski dia mengusahakan piaukiok, tapi dia suka membela keadilan dan suka menolong sesamanya tiada ubahnya ketika dia masih menjadi hwesio. Sudah tentu tidak lama kemudian Ang-yap Siansu mengetahui juga bahwa Lim-piauthau itu adalah bekas muridnya, tapi kabarnya di antara guru dan murid itu selanjutnya toh tiada saling berhubungan.”

“Lim-cianpwe itu memperoleh intisari Kui-hoa-po-tian dari uraian Lin dan Cu berdua cianpwe Hoa-san-pay, lalu dari mana pula asal usulnya Pi-sia-kiam-hoat yang terkenal itu?” tanya Lenghou Tiong. “Padahal Pi-sia-kiam-hoat yang dia turunkan kepada anak-cucunya toh tiada sesuatu yang bisa dipuji.”

“Toheng,” tiba-tiba Hong-ting berkata kepada Tiong-hi, “tentang ilmu pedang kau adalah ahlinya dan jauh lebih paham daripadaku. Tentang seluk-beluk ini hendaklah kau yang bercerita saja.”

“Ucapanmu ini bisa membikin marah padaku bila kita bukan sobat lama,” ujar Tiong-hi dengan tertawa. “Masakah kau mengolok-olok aku dalam hal ilmu pedang, padahal soal ilmu pedang pada zaman ini siapakah yang bisa melebihi Lenghou-siauhiap?”

“Meski ilmu pedang Lenghou-siauhiap sangat hebat, tapi pengetahuan tentang ilmu ini toh jauh untuk memadai dirimu,” ujar Hong-ting. “Kita adalah orang sendiri dan bicara secara blakblakan, buat apa pakai sungkan-sungkan segala.”

“Ah, padahal pengetahuanku tentang ilmu pedang masih jauh untuk disebut mahir,” kata Tiong-hi. “Tentang Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim sekarang yang rendah dibanding dengan Pi-sia-kiam-hoat Lim Wan-tho yang pernah menggetarkan Kangouw, memang mencolok sekali bedanya. Dahulu ketua Jing-sia-pay yang disegani di daerah Siamsay pernah dikalahkan oleh Lim Wan-tho, tapi sekarang ilmu pedang Jing-sia-pay malah jauh lebih kuat daripada ilmu pedang keluarga Lim, di balik hal ini tentu ada sebab-sebab tertentu. Soal ini sudah lama kurenungkan, malahan pasti juga telah menjadi bahan pemikiran setiap peminat ilmu pedang di dunia persilatan.”

“Sebabnya keluarga Lim-sute hancur dan berantakan, ayah-bundanya tewas secara mengenaskan semua itu juga disebabkan belum terpecahkannya tanda tanya ini,” kata Lenghou Tiong.

“Benar,” jawab Tiong-hi. “Nama Pi-sia-kiam-hoat terlalu hebat, namun kepandaian Lim Cin-lam toh sangat rendah, perbedaan mencolok ini mau tak mau menimbulkan pemikiran orang bahwa dalam hal ini pastilah Lim Cin-lam yang terlalu dungu dan tidak mampu mempelajari ilmu silat leluhurnya yang lihai itu. Lebih jauh orang tentu berpikir bila Pi-sia-kiam-boh itu jatuh di tanganku tentu akan dapat menyelami ilmu pedang Lim Wan-tho yang gilang-gemilang di masa lampau itu. Lenghou-laute, selama ratusan tahun ini tokoh yang terkenal dengan ilmu pedang memangnya tidak melulu Lim Wan-tho seorang saja, tapi Siau-lim-pay, Bu-tong-pay, Go-bi-pay, Kun-lun-pay, dan lain-lain semuanya mempunyai ahli waris sendiri-sendiri, orang luar tentu tidak sudi mengincar ilmu pedang keluarga Lim, soalnya kepandaian Lim Cin-lam terlalu rendah seumpama anak kecil yang membawa emas dan berkeliaran di tengah pasar, tentu saja menarik perhatian setiap orang untuk mengincar emasnya itu.”

“Lim-cianpwe itu toh murid kesayangan Ang-yap Siansu, maka dia tentu sudah memiliki pula ilmu silat Siau-lim-pay yang hebat, tentang Pi-sia-kiam-hoat apa segala, bukan mustahil cuma namanya saja yang sengaja dia berikan, tapi sesungguhnya adalah ilmu silat Siau-lim-pay yang dia ubah sedikit di sana-sini.”

“Memang banyak orang juga berpikir demikian,” kata Tiong-hi. “Tapi Pi-sia-kiam-hoat memang sama sekali berbeda daripada ilmu silat Siau-lim-pay, setiap orang yang mengerti ilmu pedang dengan segera akan tahu bila melihatnya. Hah, orang yang mengincar kiam-boh keluarga Lim itu walaupun banyak, tapi akhirnya toh si katai dari Jing-sia-pay adalah orang paling berengsek, dialah yang turun tangan paling dulu. Cuma meski si katai she Ih itu cukup cekatan, namun otaknya rada bebal, mana bisa dibandingkan gurumu Gak-siansing yang pendiam, tapi tinggal menarik keuntungannya.”

“Ap… apa yang kau maksudkan, Totiang?” tanya Lenghou Tiong, air mukanya rada berubah.

Tiong-hi tersenyum, jawabnya, “Setelah Lim Peng-ci itu masuk perguruan Hoa-san, dengan sendirinya Pi-sia-kiam-boh itu pun dibawanya serta ke situ. Kabarnya Gak-siansing punya seorang putri tunggal yang juga akan dijodohkan kepada Lim-sute-mu itu, betul tidak? Hah, sungguh suatu muslihat jangka panjang yang sempurna.”

Semula Lenghou Tiong kurang senang karena Tiong-hi menyinggung nama baik Gak Put-kun, tapi kemudian mendengar Tiong-hi mengatakan suhunya itu bermuslihat jangka panjang, tiba-tiba ia teringat kepada kejadian dahulu, waktu itu sang guru telah mengutus Lo Tek-nau menyamar menjadi seorang kakek dan bersama siausumoaynya membuka sebuah kedai arak di luar Kota Hokciu, tatkala itu ia tidak tahu apa maksud tujuannya, tapi sekarang demi dipikir jelas tujuannya adalah untuk mengawasi Hok-wi-piaukiok. Padahal kepandaian Lim Cin-lam sudah diketahui sangat rendah, lalu buat apa usaha gurunya itu kalau bukan mengincar Pi-sia-kiam-boh. Hanya saja cara gurunya itu adalah pakai akal, tidak pakai kekerasan seperti Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong.

Lalu Lenghou Tiong berpikir pula, “Siausumoay adalah anak gadis muda belia, mengapa suhu membiarkan dia menonjolkan diri di muka umum dan tinggal di kedai arak itu dalam waktu cukup lama?”

Berpikir sampai di sini merindinglah perasaannya, mendadak ia mengerti duduknya perkara, “Kiranya jauh sebelum Lim-sute kenal siausumoay memang suhu telah sengaja mengatur dan menghendaki siausumoay dijodohkan kepada Lim-sute.”

Melihat air muka Lenghou Tiong berubah-ubah masam, Hong-ting dan Tiong-hi tahu pemuda itu biasanya sangat menghormati sang guru, tentu kata-katanya tadi rada menyinggung perasaannya. Maka Hong-ting berkata pula, “Apa yang kukatakan tadi hanya obrolanku dengan Tiong-hi Toheng saja dan cuma dugaan pula. Padahal gurumu itu di dunia persilatan terkenal sebagai kesatria yang alim, mungkin kami yang telah salah raba dan tidak tepat menilainya.”

Tiong-hi Tojin hanya tersenyum saja. Sebaliknya pikiran Lenghou Tiong menjadi kusut, ia berharap apa yang dikatakan Hong-ting tadi tidaklah betul, tapi dalam lubuk hatinya yang dalam toh merasa setiap kata padri sakti itu memang benar. Selang sejenak barulah ia bertanya, “Tempo hari ketika di Siau-lim-si, Co-bengcu telah menempur Yim-kaucu dan menggunakan jari sebagai pedang, menurut Hiang-toako, katanya yang dia mainkan adalah Pi-sia-kiam-hoat. Tentang hal ini mohon Totiang sudi memberi penjelasan pula.”

“Hal ini aku sendiri pun tidak habis paham,” sahut Tiong-hi. “Bisa jadi Co Leng-tan telah memengaruhi gurumu dan telah merampas kiam-boh pusakanya, atau mungkin pula gurumu yang mengajak menyelami bersama ilmu pedang sakti itu dengan Co Leng-tan, sebab kepandaian Co Leng-tan dan kecerdasannya lebih tinggi daripada gurumu, bila dipelajari dua orang bersama tentu akan bermanfaat pula bagi gurumu. Lagi pula cara Co Leng-tan memainkan jarinya sebagai pedang itu apakah benar Pi-sia-kiam-hoat adanya juga sukar dipastikan.”

“Pi-sia-kiam-hoat dari keluarga Lim-sute boleh dikata sudah kami kenal,” ujar Lenghou Tiong. “Apa yang dimainkan Co-bengcu tempo hari itu memang ada beberapa jurus rada-rada mirip, tapi beberapa jurus di antaranya sama sekali berlainan.”

Lalu teringat pula apa yang dikatakan Lim Cin-lam di kelenteng bobrok di luar Kota Heng-san ketika mendekati ajalnya dahulu, maka berkata pula Lenghou Tiong, “Paman Lim ayah Lim-sute itu rupanya juga berpikiran sempit. Dia minta aku menyampaikan pesan terakhirnya, tapi khawatir pula kalau-kalau aku mencuri baca kiam-boh pusaka keluarganya.

“Paman Lim telah disiksa oleh orang Jing-sia-pay, kemudian dianiaya pula oleh Bok Ko-hong, dipaksa mengaku tentang kitab pusakanya itu, ketika Tecu menemukan dia, Paman Lim sudah dalam keadaan payah. Dia minta Tecu menyampaikan pesan kepada Lim-sute, katanya ada benda-benda yang tertanam di rumah kediaman lama di Hokciu adalah benda pusaka leluhurnya, Lim-sute disuruh menjaganya dengan baik. Benda yang dimaksudkan itu adalah jubah yang terdapat Pi-sia-kiam-boh… Ah, benar, aku menjadi ingat bahwa Lim-cianpwe itu asalnya adalah hwesio, makanya, di rumah kediamannya yang lama itu ada sebuah ruangan Buddha dan kiam-boh yang dia tinggalkan tertulis pula pada jubahnya.”

“Ya, kalau dipikir, tentunya apa-apa yang dia dengar dari uraian Lin Siau dan Cu Hong dari Hoa-san-pay itu kemudian dia catat di atas jubahnya, memang waktu itu dia masih menjadi hwesio,” kata Tiong-hi.

“Sungguh menertawakan pula, ketika memberi pesan, Paman Lim itu menambahkan lagi peringatan, katanya leluhurnya itu meninggalkan petunjuk bahwa orang yang bukan anak-cucunya tidak boleh membuka dan melihat isi pusakanya, kalau melanggar pesan ini tentu akan mendatangkan malapetaka. Dengan peringatan ini nyata Paman Lim itu khawatir aku mengangkangi benda pusaka mereka itu, maka lebih dulu aku telah ditakut-takuti.”

“Pesannya itu apakah kemudian kau teruskan kepada Lim-sute-mu?” tanya Tiong-hi.

“Aku sudah berjanji, sudah tentu kulaksanakan,” jawab Lenghou Tiong.

“Sampai sekarang rahasia ilmu silat yang tercantum di dalam Kui-hoa-po-tian itu sudah terbagi-bagi, di tangan Mo-kau ada sebagian, di tangan Gak-siansing ada sebagian pula, dan agaknya Co-bengcu dari Ko-san-pay juga memiliki sebagian,” kata Hong-ting. “Yang dikhawatirkan adalah ambisi Co Leng-tan yang tidak kenal batas, kalau dia mengetahui bahwa apa yang dia miliki tidaklah lengkap, tentu dia berniat membasmi Mo-kau dan mencaplok Hoa-san-pay pula agar Kui-hoa-po-tian dapat dimilikinya secara lengkap. Dan dunia persilatan selanjutnya tentu takkan aman lagi.”

“Kedua Locianpwe tentu mempunyai pandangan luas, kalau menurut kejadian di Siau-lim-si tempo hari, apakah jelas di antara ilmu silat yang diperlihatkan Co Leng-tan itu terdapat unsur-unsur ilmu silat dari Kui-hoa-po-tian?” tanya Lenghou Tiong.

Hong-ting berpikir sejenak, kemudian berkata kepada Tiong-hi, “Bagaimana pendapat Toheng?”

“Kita berdua sama-sama belum pernah melihat Kui-hoa-po-tian itu,” jawab Tiong-hi. “Tapi menurut jalan pikiran yang sehat, rasanya Ko-san-kiam-hoat tak mungkin melahirkan jurus ilmu pedang demikian, bahkan Co Leng-tan sendiri betapa pun tidak dapat menciptakannya.”

“Benar,” ujar Hong-ting. “Cuma Co Leng-tan sekalipun sudah melihat Kui-hoa-po-tian atau Pi-sia-kiam-boh, yang dapat dia pahami tentu juga terbatas, sebab itulah ia pun bukan tandingan Yim-kaucu. Tanggal 15 bulan depan dia telah mengundang semua anggota Ngo-gak-kiam-pay untuk berkumpul di Ko-san untuk memilih pemimpin Ngo-gak-pay, entah bagaimana pendapat Lenghou-siauhiap atas soal ini.”

“Apanya yang perlu dipilih? Jabatan ketua tentunya bukan orang lain kecuali Co Leng-tan sendiri,” ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum.

“Apakah Lenghou-siauhiap juga setuju?” tanya Hong-ting.

“Mereka Ko-san-pay, Heng-san-pay, Thay-san-pay, dan Hoa-san-pay sudah ada persepakatan lebih dulu, andaikan Hing-san-pay tidak setuju tiada gunanya,” jawab Lenghou Tiong.

“Menurut pendapatku, begitu datang hendaklah Lenghou-siauhiap terus menentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay itu, kukira tidak semua orang menyetujui pendirian Ko-san-pay mereka,” kata Hong-ting. “Seumpama penggabungan itu sudah tidak dapat ditarik kembali, maka soal ciangbunjin harus ditentukan dengan bertanding ilmu silat. Bila Lenghou-siauhiap mau berusaha sepenuh tenaga, dalam hal ilmu pedang tentu kau dapat mengalahkan Co Leng-tan dan biar sekalian kau duduki jabatan ciangbunjin itu.”

“Tapi aku… aku….” Lenghou Tiong melengak bingung.

“Aku pun sependapat dengan Hongtiang Taysu,” sela Tiong-hi Tojin. “Namun kami pun sudah pernah tukar pikiran tentang dirimu yang terkenal tidak menaruh minat dalam hal kedudukan segala. Bila kau menjabat ketua Ngo-gak-pay, bicara terus terang, tentu tata tertib Ngo-gak-pay akan menjadi kendur, para anggota tentu lebih bebas bertindak dan hal ini pun bukan sesuatu yang baik bagi dunia persilatan….”

“Hahaha, ucapan Totiang memang tepat,” seru Lenghou Tiong dengan tertawa. “Aku Lenghou Tiong memang benar seorang petualang yang kurang tertib hidupnya dan suka pada kebebasan.”

“Hidup kurang tertib tidak terlalu membahayakan orang lain, tapi ambisi yang besar justru banyak mencelakakan orang,” ujar Tiong-hi. “Bila Lenghou-laute menjadi ketua Ngo-gak-pay, pertama, tentu takkan menggunakan kekerasan untuk menumpas Mo-kau, kedua, juga takkan mencaplok Siau-lim dan Bu-tong-pay kami. Ketiga, besar kemungkinan kau pun tak berminat untuk melebur golongan-golongan lain seperti Go-bi-pay, Kun-lun-pay, dan lain-lain. Bicara terus terang, kunjungan kami ke Hing-san ini di samping memberi selamat kepadamu sesungguhnya juga demi kebaikan beribu-ribu kawan persilatan baik dari sia-pay maupun dari cing-pay.”

“Omitohud! Semoga bencana besar dapat dihindarkan demi keselamatan sesama kita,” kata Hong-ting.

Lenghou Tiong merenung sejenak, lalu berkata, “Jika demikian pesan kedua Cianpwe, sudah tentu Lenghou Tiong tidak berani menolak, tapi hendaklah kedua Cianpwe maklum pula bahwa Wanpwe masih terlalu hijau dalam segala hal, menjabat ketua Hing-san-pay saja sudah terlalu, apalagi menjadi ketua Ngo-gak-pay, mungkin akan lebih ditertawai oleh kesatria di seluruh jagat. Sebab itulah Wanpwe sekali-kali tidak menginginkan menjadi ketua Ngo-gak-pay, cuma pada tanggal 15 bulan tiga nanti Wanpwe pasti akan hadir ke Ko-san untuk mengubrak-abriknya, betapa pun niat Co Leng-tan untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay harus digagalkan. Biasanya Lenghou Tiong tidak mahir berbuat sesuatu yang baik, tapi disuruh membikin onar tanggung beres.”

“Melulu membikin onar saja juga kurang baik, dalam keadaan terpaksa, kukira kau pun jangan menolak untuk diangkat menjadi ciangbunjinnya,” kata Tiong-hi.

Namun Lenghou Tiong terus geleng-geleng kepala.

“Jika kau tidak berebut kedudukan ketua dengan Co Leng-tan, akhirnya tentu dia yang diangkat sehingga jadilah Ngo-gak-kiam-pay terlebur menjadi satu dan orang pertama yang pasti akan dibereskan oleh Co Leng-tan tentulah kau sendiri,” ujar Tiong-hi.

Lenghou Tiong terdiam. Katanya kemudian sambil menghela napas, “Bila demikian jadinya, ya, apa mau dikata lagi.”

“Seumpama kau dapat menghindarkan diri, tapi apakah anak buahmu akan kau tinggalkan begitu saja? Bagaimana kalau Co Leng-tan menyembelihi anak murid tinggalan Ting-sian Suthay yang kau pimpin sekarang ini, apakah kau juga akan tinggal diam?” tanya Tiong-hi.

“Tidak bisa!” seru Lenghou Tiong sambil gebrak langkan di sampingnya.

“Selain itu, rasanya gurumu dan saudara-saudara seperguruanmu dari Hoa-san-pay itu tentu juga takkan terhindar dari akal licik Co Leng-tan dalam waktu tidak lama, satu per satu mereka tentu juga akan menjadi korban keganasan Co Leng-tan, apakah hal ini kau juga akan tinggal diam?”

Hati Lenghou Tiong tergetar, jawabnya dengan hormat kepada kedua tokoh itu, “Terima kasih atas petunjuk kedua Cianpwe, Wanpwe pasti akan berbuat sebisanya.”

“Tanggal 15 bulan tiga nanti Lolap dan Tiong-hi Toheng tentu juga akan berkunjung ke Ko-san sekadar ikut membantu Lenghou-siauhiap,” kata Hong-ting.

“Bila kedua Cianpwe juga hadir, betapa pun Co Leng-tan tak berani berbuat sewenang-wenang,” kata Lenghou Tiong.

Selesai berunding legalah hati mereka. Dengan tertawa akhirnya Tiong-hi berkata, “Marilah kita kembali saja, ciangbunjin baru menghilang sekian lamanya, tentu mereka sedang bingung menantikan kau.”

Dari tengah jembatan gantung itu mereka lantas putar balik, tapi baru beberapa langkah, sekonyong-konyong mereka sama berhenti lagi. Lenghou Tiong lantas membentak, “Siapa itu?”

Rupanya tiba-tiba ia mendengar di ujung jembatan sana terdengar pernapasan orang banyak, terang di dalam Leng-kui-kok (Loteng Kura-kura Sakti) pada Sian-kong-si di sebelah kiri itu tersembunyi orang.

Baru saja Lenghou Tiong membentak, serentak terdengar suara gedubrakan, beberapa daun jendela Leng-kui-kok tampak didobrak orang, berbareng menongol keluar jendela belasan batang ujung panah yang diarahkan kepada mereka bertiga. Pada saat yang hampir sama di Sin-coa-kok (Loteng Ular Sakti) di belakang mereka juga terjadi hal yang serupa, daun jendela juga didobrak dan belasan ujung panah sama mengincar ke arah mereka.

Hong-ting, Tiong-hi, dan Lenghou Tiong adalah tiga tokoh terkemuka dunia persilatan pada zaman ini, biarpun berpuluh panah itu diarahkan kepada mereka, pemanahnya juga tentu bukan sembarangan orang, namun keadaan demikian toh tak bisa mengapa-apakan mereka. Soalnya sekarang mereka berada di tengah jembatan gantung, di bawahnya adalah jurang yang tak terkirakan dalamnya, luas jembatan itu juga cuma beberapa kaki saja, ditambah lagi mereka tidak membawa senjata sama sekali, menghadapi keadaan yang luar biasa secara mendadak ini, mau tak mau terkejut juga mereka.

Sebagai tuan rumah, dengan cepat Lenghou Tiong lantas mengadang ke depan, bentaknya pula, “Kaum celurut dari mana, mengapa tidak tampakkan diri?”

Terdengarlah suara bentakan seorang, “Panah!”

Cepat Lenghou Tiong bertiga mengayunkan lengan baju masing-masing dengan kencang. Tapi yang terbidik dari jendela itu ternyata bukan anak panah, tapi adalah belasan jalur panah air, air itu menyembur keluar dari ujung panah tadi dan diarahkan ke atas udara. Warna air kehitam-hitaman. Menyusul terendus bau busuk yang aneh, seperti bau bangkai yang sudah membusuk dan menyerupai pula bau udang atau ikan busuk, bau yang memuakkan itu hampir-hampir saja membikin Lenghou Tiong tumpah-tumpah walaupun lwekang mereka sangat tinggi.

Sesudah air hitam tadi disemburkan ke udara, kemudian titik-titik air itu bertaburan ke bawah seperti hujan. Ada beberapa tetes jatuh di atas langkan (pagar kayu) jembatan, dalam sekejap saja langkan itu tampak membusuk dan membekas lubang-lubang kecil, nyata lihai luar biasa air busuk itu.

Meski Hong-ting dan Tiong-hi sudah berpengalaman, tapi air berbisa sehebat itu belum pernah mereka lihat. Kalau anak panah atau senjata rahasia biasa rasanya sukar mengenai diri mereka biarpun mereka tak bersenjata, tapi menghadapi air racun yang bisa menghancurkan benda-benda yang tertetes ini boleh dikata mereka mati kutu, sebab asal tubuh mereka kecipratan setitik saja mungkin kulit daging mereka akan terus membusuk sampai ke tulang.

Kedua tokoh itu saling pandang sekejap, kelihatan air muka masing-masing berubah hebat, dari sorot mata mereka tampak timbul rasa jeri mereka. Padahal biasanya hendak membuat jeri kedua tokoh besar ini boleh dikata mahasulit.

Setelah air racun tadi disemburkan, lalu di balik jendela sana seorang berseru lantang, “Air berbisa ini hanya disemburkan ke udara, kalau sekiranya disemprotkan ke tubuh kalian, lalu bagaimana akibatnya?”

Lalu belasan ujung panah tadi kelihatan mulai menggeser ke bawah dan kembali diarahkan kepada Lenghou Tiong bertiga.

Jembatan gantung itu panjangnya belasan meter yang menghubungkan Leng-kui-kok dan Sin-coa-kok di kanan-kiri, sekarang di dalam kedua loteng itu sama terpasang pesawat semprot air berbisa, bila pesawat-pesawat itu dikerjakan serentak, biarpun punya kepandaian setinggi langit juga mereka bertiga sukar menyelamatkan diri.

Mendengar suara orang tadi, sedikit memikir saja Lenghou Tiong lantas ingat siapa dia, cepat ia berseru, “Hah, katanya Tonghong-kaucu mengirim utusan untuk mengantar kado padaku, kado yang dia kirim ini sungguh luar biasa!”

Kiranya orang yang bicara di Leng-kui-kok tadi memang betul adalah Kah Po, itu utusan Tonghong Put-pay. Karena suaranya telah dikenali Lenghou Tiong, dengan bergelak tertawa ia pun berkata, “Pintar sekali Lenghou-kongcu, dalam sekejap saja dapat mengenali suara Cayhe. Orang pintar tentu tidak mau telan pil pahit, jelas sekarang Cayhe sudah berada di atas angin dengan sedikit tipu muslihat licik kami, maka sementara ini maukah Lenghou-kongcu menyerah kalah saja?”

Wi-bin-cun-cia Kah Po, Si Muka Kuning dari Mo-kau ini sengaja bicara di muka dan mengakui dirinya memakai tipu muslihat licik, dengan demikian ia tidak perlu takut didamprat oleh Lenghou Tiong akan akal busuknya itu.

Dengan tarikan lwekang yang hebat, Lenghou Tiong bergelak tertawa, suaranya menggetar angkasa pegunungan dan berkumandang, katanya, “Aku dan kedua cianpwe dari Siau-lim dan Bu-tong-pay mengobrol iseng di sini, kukira yang ada di sini adalah teman baik semua sehingga tiada mengadakan penjagaan apa-apa sehingga kena diselomoti oleh Kah-heng, sekarang apa mau dikata, tidak mengaku kalah juga tak bisa lagi.”

“Baik sekali jika begitu,” kata Kah Po. “Selamanya Tonghong-kaucu sangat menghormati tokoh angkatan tua dunia persilatan, beliau juga sangat menghargai tunas angkatan muda. Apalagi Yim-siocia sejak kecil tinggal bersama Tonghong-kaucu, melulu mengingat pada Yim-siocia saja masakah kami berani berlaku kasar kepada Lenghou-kongcu.”

Lenghou Tiong mendengus dan tidak menanggapi. Sebaliknya Hong-ting dan Tiong-hi telah memeriksa keadaan sekitarnya ketika Lenghou Tiong bertanya-jawab dengan Kah Po. Mereka melihat belasan bedil air sama diacungkan ke arah mereka, bila mereka turun tangan berbareng umpamanya, andaikan sebagian musuh dapat dirobohkan, tapi sukar rasanya untuk membersihkan musuh yang tak diketahui berapa banyaknya. Asal salah satu bedil air racun itu sempat menyemburkan airnya, jiwa ketiga orang tentu melayang seketika. Karena itu mereka hanya saling pandang belaka, dari sorot mata mereka mempunyai suatu pendapat yang sama: tidak boleh bertindak secara gegabah.

Dalam pada itu terdengar Kah Po bicara pula, “Jika Lenghou-kongcu sudah mau mengaku kalah, maka segala persoalan menjadi beres. Ketika berangkat aku dan Siangkoan-hiante telah dipesan oleh Tonghong-kaucu agar mengundang Lenghou-kongcu beserta Hongtiang Taysu dari Siau-lim dan Ciangbun Totiang dari Bu-tong sudi mampir ke Hek-bok-keh untuk tinggal barang beberapa hari. Sekarang kalian bertiga kebetulan berada di sini semua, maka kalau sekarang juga kita berangkat bersama, bagaimana pendapat kalian?”

Kembali Lenghou Tiong mendengus, ia pikir di dunia ini masakah ada urusan seenak ini, asalkan pihaknya bertiga diberi kesempatan meninggalkan jembatan gantung itu, untuk mengatasi Kah Po dan begundalnya boleh dikata pekerjaan yang tidak sulit.

Benar juga, segera terdengar Kah Po menyambung, “Namun ilmu silat kalian bertiga teramat tinggi, bila di tengah jalan kalian ganti pikiran dan tidak mau menuju ke Hek-bok-keh, maka sukarlah bagi kami untuk menunaikan tugas, tanggung jawab yang berat ini terpaksa menyuruh aku meminjam tiga belah tangan kanan kepada kalian.”

“Pinjam tiga belah tangan kanan?” Lenghou Tiong menegas.

“Benar,” jawab Kah Po. “Silakan kalian bertiga menebas tangan kanan sendiri-sendiri, dengan demikian legalah hati kami.”

“Hahahahaha! Kiranya demikian keinginanmu,” seru Lenghou Tiong dengan tertawa. “Tonghong Put-pay rupanya takut kepada ilmu silat kami bertiga, maka sengaja memasang perangkap ini untuk memaksa kami menebas tangan kanan sendiri, jika kehilangan tangan kanan dengan sendirinya kami tidak mampu main pedang lagi dan dia boleh tidur dengan nyenyak tanpa khawatir lagi.”

“Tidur nyenyak tanpa khawatir sih mungkin juga tidak,” kata Kah Po. “Yang jelas Yim Ngo-heng akan kehilangan bala bantuan yang kuat sebagai Lenghou-kongcu, maka kekuatannya tentu akan menjadi jauh lebih lemah.”

“Hm, kata-katamu benar-benar blakblakan tanpa tedeng aling-aling,” ujar Lenghou Tiong.

“Cayhe seorang pengecut tulen,” jawab Kah Po. Lalu ia lantangkan suaranya, “Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang, kalian lebih suka mengorbankan sebelah tangan atau lebih ingin jiwa melayang di sini?”

“Baiklah,” jawab Tiong-hi. “Tonghong Put-pay ingin pinjam tangan, biarlah kita pinjamkan padanya. Cuma kami tidak membawa sesuatu senjata, untuk menebas lengan menjadi sukar.”

Baru habis ucapannya, tiba-tiba sinar putih gemerdep, sebuah gelang baja terlempar dari jendela sana. Bulat tengah gelang baja itu mendekati satu kaki (antara 30 senti) dengan pinggiran yang tajam. Di tengah gelang ada satu palangan yang digunakan pegangan tangan, bentuk gelang demikian adalah sejenis senjata yang tidak terdaftar dalam senjata umum, biasanya dipakai sepasang gelang baja semacam ini dan disebut “kian-kun-goan”.

Karena Lenghou Tiong berdiri paling depan, maka cepat ia tangkap gelang baja itu.

Ia meringis melihat senjata itu dan mengakui kelicikan Kah Po. Pinggiran gelang baja itu sangat tajam, sekali bergerak saja sebelah lengan pasti akan tertebas kutung. Tapi kalau diputar, lantaran bentuknya bundar kecil, betapa pun sukar menahan air yang disemprotkan.

“Jika kalian sudah setuju, nah, lekas kerjakan!” bentak Kah Po dengan suara bengis, “Jangan kalian mengulur-ulur waktu untuk menunggu datangnya bala bantuan. Aku akan menghitung dari satu sampai tiga! Jika kalian tidak lekas mengutungi lengan sendiri, serentak air racun akan disemburkan! Satu….”

Di bawah ancaman Kah Po itu, terpaksa Lenghou Tiong mencari jalan keluar, katanya dengan suara lirih kepada kedua kawannya, “Aku akan menerjang ke depan, harap kedua Cianpwe ikut di belakangku!”

“Jangan!” kata Tiong-hi.

Dalam pada itu Kah Po telah berseru pula, “Dua!”

Lenghou Tiong angkat gelang baja tadi, ia pikir Hong-ting dan Tiong-hi adalah tamu, betapa pun tak boleh membikin susah kedua orang itu. Kalau musuh mengucapkan “tiga” nanti segera kusambitkan gelang baja ini, lalu kuterjang sambil putar lengan baju, asalkan air berbisa itu semua tersemprot ke tubuhku, maka kedua locianpwe itu tentu ada kesempatan untuk lolos.

Sementara itu Kah Po telah berseru pula, “Semuanya siap, hitungan terakhir ‘tiga’!”

Pada saat yang sama itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang perempuan di dalam Leng-kui-kok itu, “Nanti dulu!” menyusul sesosok bayangan hijau melayang tiba dan mengadang di depan Lenghou Tiong. Ternyata Ing-ing adanya.

Sebelah tangan Ing-ing tampak goyang-goyang di belakang tubuhnya, lalu serunya menghadap ke sana, “Kah-sioksiok, betapa cemerlangnya nama Wi-bin-cun-cia di dunia Kangouw, mengapa sekarang melakukan perbuatan rendah seperti ini?”

“Urusan ini… Toasiocia, harap engkau menyingkir dulu, janganlah ikut campur!” jawab Kah Po.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ing-ing pula. “Tonghong-sioksiok suruh kau bersama Siangkoan-sioksiok mengantar kado untukku, mengapa kau kena disogok oleh Co Leng-tan dan berbalik memusuhi ketua Hing-san-pay?”

“Siapa bilang aku terima sogok dari Co Leng-tan?” Kah Po menyangkal. “Aku mendapat perintah rahasia Tonghong-kaucu agar menangkap Lenghou Tiong.”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: