Hina Kelana: Bab 103. Seksi Istimewa Hing-san-pay

Lenghou Tiong lantas menyambung, “Jika kalian mau menjadi anggota Hing-san-pay, ya boleh juga. Cuma kalian tidak perlu mengangkat guru segala, cukup dianggap sudah menjadi anggota. Untuk selanjutnya Hing-san-pay boleh mengadakan suatu… eeh suatu… suatu ’seksi istimewa’. Kukira Thong-goan-kok di sebelah sana adalah suatu tempat tinggal yang baik bagi kalian.”

Thong-goan-kok adalah suatu lembah tidak jauh di sebelah Kian-seng-hong, puncak Hing-san tertinggi di mana biara induk Hing-san-pay berada. Meski jarak lembah itu tidak jauh, tapi untuk menuju ke puncak Kian-seng-hong harus melalui jalanan yang terjal dan berbahaya. Dengan menempatkan orang-orang kasar itu di lembah terpencil itu maksud Lenghou Tiong ialah untuk memisahkan mereka dari para nikoh.

Mendengar keputusan Lenghou Tiong itu, Hong-ting Taysu manggut-manggut dan berkata, “Baik sekali cara mengatur ini. Dengan masuknya para sobat ini ke dalam Hing-san-pay dan terikat pula oleh tata tertib Hing-san-pay, hal ini benar-benar suatu peristiwa menyenangkan bagi dunia persilatan.”

Karena tokoh seperti Hong-ting Taysu juga berkata demikian, mau tak mau Lim Ho tidak berani merintangi lagi, terpaksa ia mengemukakan perintah kedua dari Co Leng-tan, katanya, “Bengcu Ngo-gak-kiam-pay ada perintah pula agar pada pagi hari tanggal 15 bulan tiga nanti setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay hendaknya berkumpul di Ko-san untuk memilih ciangbunjin dari Ngo-gak-pay. Hendaknya perintah ini dipatuhi dan datang tepat pada waktunya.”

“Ngo-gak-pay? Jadi gabungan Ngo-gak-kiam-pay sudah ditetapkan? Siapakah yang mengambil prakarsa peleburan ini?” tanya Lenghou Tiong.

“Yang jelas Ko-san, Heng-san, Thay-san, dan Hoa-san-pay sudah setuju,” sahut Lim Ho. “Jika Hing-san-pay kalian punya pendirian berbeda, maka itu berarti kalian bermusuhan dengan keempat pay yang lain dan berarti pula kau mencari penyakit sendiri.”

Lalu ia menoleh dan tanya kepada orang Thay-san-pay yang ikut datang bersamanya itu, “Betul tidak?”

“Betul!” serentak berpuluh orang yang berdiri di belakangnya menjawab.

Lim Ho mendengus dan tidak bicara pula, ia putar tubuh terus melangkah pergi.

“Eh, Lim-losu, kau kehilangan panji, cara bagaimana kau akan menjawab bila ditanya oleh Co-bengcu?” tiba-tiba Na Hong-hong berseru sambil tertawa. “Ini, kukembalikan saja panjimu!”

Berbareng itu sebuah panji bersulam terus dilemparkan ke arah Lim Ho.

Memangnya Lim Ho lagi kesal karena kehilangan leng-ki (panji mandat) tadi, ketika tiba-tiba Na Hong-hong melemparkan sehelai panji kecil ke arahnya, ia pikir ini tentu kau punya Ngo-tok-ki, buat apa aku mengambilnya? Namun saat itu panji kecil itu sudah menyambar ke mukanya, tanpa pikir ia terus menangkapnya. Tapi mendadak ia menjerit sendiri sambil melemparkan pula panji kecil itu. Terasa telapak tangannya panas seperti terbakar. Waktu diperiksa, ternyata telapak tangan telah berubah hitam biru, jelas panji itu berbisa. Jadi dia telah kena dikibuli Ngo-tok-kau. Keruan ia terkejut dan murka, terus saja ia memaki, “Bedebah! Perempuan hina….”

Dengan tertawa Na Hong-hong menyela, “Lekas kau panggil ‘Lenghou-ciangbun’ dan minta belas kasihannya, habis itu segera kuberi obat penawarnya bila kau tidak ingin kehilangan sebelah tanganmu yang akan membusuk dalam waktu singkat.”

Lim Ho cukup kenal betapa lihainya cara Ngo-tok-kau menggunakan racun, hanya ragu-ragu sejenak saja telapak tangan sudah terasa kaku dan mulai kehilangan daya rasa. Ia pikir segenap kepandaianku adalah terletak pada kedua tangan, bila kehilangan tangan itu berarti cacat untuk selamanya. Karena cemasnya itu, terpaksa ia berseru, “Lenghou-ciangbun, kau… kau….”

“Apakah begitu caranya mohon ampun?” ejek Na Hong-hong dengan tertawa.

“Lenghou-ciangbun, Cayhe telah berlaku kasar padamu, harap dimaafkan dan mohon… mohon engkau sudi memberikan obat… obat penawarnya,” pinta Lim Ho dengan terputus-putus.

Lenghou Tiong tersenyum, katanya kemudian, “Nona Na, kasihan padanya, boleh berikan obat penawarnya!”

Dengan tertawa Na Hong-hong lantas memberi isyarat kepada seorang pengiring perempuan, segera pengiring itu mengeluarkan sebungkus kecil dan dilemparkan kepada Lim Ho. Dengan tersipu-sipu Lim Ho menangkap bungkusan kecil itu, lalu berlari pergi di bawah gelak tertawa mengejek orang banyak.

“Para kawan, kalau kalian sudah mau tinggal di Thong-goan-kok, maka kalian harus taat kepada tata tertib pay kita,” seru Lenghou Tiong dengan lantang. “Sekarang kalian adalah orang Hing-san-pay, sudah tentu kalian bukan lagi orang-orang sia-pay, tapi selanjutnya kalian harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang luar.”

Serentak rombongan Lo Thau-cu dan lain-lain mengiakan dengan bergemuruh.

Lalu Lenghou Tiong menyambung, “Bila kalian ingin minum arak dan makan daging sih boleh-oleh saja, cuma orang-orang yang tidak pantang makan untuk selanjutnya dilarang naik ke Kian-seng-hong sini, termasuk aku sendiri, semua peraturan harus dipatuhi.”

“Siancay! Memang tempat Buddha yang suci ini janganlah dikotori,” ujar Hong-ting Taysu sambil menyebut Buddha.

“Baiklah, sekarang telah selesai aku diangkat menjadi ciangbunjin,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Tentunya semua orang sudah lapar, lekas siapkan daharan, hari ini kita semua ciacay (makanan sayur-sayuran), besok barulah kita makan minum lagi di Thong-goan-kok.”

Selesai dahar, Hong-ting Taysu berkata, “Lenghou-ciangbun, Lolap dan Tiong-hi Toheng ingin berunding sedikit dengan engkau.”

Lenghou Tiong mengiakan. Ia pikir apa yang akan dibicarakan kedua tokoh terkemuka itu tentulah urusan penting. Padahal di puncak Kian-seng-hong ini terlalu banyak orang dan bukan suatu tempat bicara yang baik. Segera ia perintahkan Gi-ho dan lain-lain melayani tetamu, lalu ia berkata kepada Hong-ting dan Tiong-hi, “Di sebelah puncak ini ada sebuah gunung bernama Cui-peng-san, tebing pegunungan itu sangat terjal dan licin, di atas gunung ada kuil bernama Sian-kong-si, tempat ini termasuk salah satu pemandangan alam yang indah di Hing-san. Bilamana kedua Cianpwe ada minat, bagaimana kalau kita pesiar ke sana.”

Dengan rendah hati Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin menerima baik undangan itu dan menyatakan sudah lama mengagumi tempat termasyhur dengan pemandangan alamnya yang indah itu.

Begitulah Lenghou Tiong lantas membawa kedua tamunya menuruni Kian-seng-hong, sampai di bawah Cui-peng-san, ketika mendongak ke atas, tertampak di puncak gunung dua buah rumah mencuat di angkasa seakan-akan terapung di udara, sesuai benar dengan namanya “Sian-kong-si”, Kuil Mengapung di Udara.

Dengan ginkang yang tinggi ketiga orang lantas mendaki ke atas dan tibalah di kuil itu. Sian-kong-si itu terdiri dari dua buah bangunan, masing-masing bertingkat tiga, jarak kedua bangunan itu ada belasan meter dan di antara kedua bangunan itu dihubungkan dengan jembatan gantung.

Kuil itu ditunggui seorang perempuan tua. Melihat kedatangan Lenghou Tiong bertiga, perempuan tua itu hanya melongo saja, tidak menyapa juga tidak memberi hormat.

Belasan hari yang lalu Lenghou Tiong sudah pernah berkunjung ke tempat ini bersama Gi-ho dan lain-lain dan diketahui penjaga perempuan ini tuli dan bisu. Maka ia pun tidak menggubrisnya, tapi bersama Hong-ting dan Tiong-hi mengelilingi bangunan indah itu, kemudian menuju ke jembatan gantung.

Jembatan itu cuma selebar satu meteran, kalau orang-orang biasa berdiri di tengah jembatan itu tentu akan merasa seakan-akan berdiri di tengah udara, mungkin seketika kaki lantas lemas dan tak berani bergerak. Tapi mereka bertiga adalah jago silat kelas wahid, berada di atas jembatan yang luar biasa itu mereka malah merasa bebas lepas, pikiran lapang menggembirakan.

Setelah menikmati pemandangan alam yang menakjubkan itu, kemudian berkatalah Hong-ting Taysu, “Lenghou-ciangbun, apa maksud tujuan kedatangan Lim-losu dari Ko-san-pay tadi?”

“Menyampaikan perintah Co-bengcu, Wanpwe dilarang menjabat ketua Hing-san-pay,” jawab Lenghou Tiong.

“Apa sebabnya Co-bengcu melarang kau menjadi ketua Hing-san-pay?” tanya Hong-ting.

“Mungkin karena Wanpwe pernah bersikap kasar padanya ketika di kuil agung Siau-lim-si tempo hari, maka Co-bengcu menjadi benci dan dendam kepadaku,” kata Lenghou Tiong. “Apalagi Wanpwe pernah merintangi rencananya dalam usaha melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi suatu pay yang besar.”

“Mengapa kau merintangi rencananya itu?” tanya Hong-ting pula.

Lenghou Tiong melengak, seketika merasa sukar untuk memberi jawaban. Akhirnya ia hanya bisa mengulangi, “Mengapa aku merintangi rencananya?”

Maka Hong-ting bertanya lagi, “Apakah kau merasa usahanya melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu adalah rencana yang tidak baik.”

“Tatkala itu Wanpwe tidak pernah memikirkan apakah usahanya itu baik atau tidak baik, hanya saja untuk maksud tujuannya itu Ko-san-pay telah mengancam Hing-san-pay agar menerimanya, bahkan menyaru sebagai anggota Mo-kau untuk menculik anak murid Hing-san-pay, Ting-cing Suthay dikerubut pula secara keji, secara kebetulan Wanpwe memergoki perbuatan mereka itu, Wanpwe merasa penasaran dan memberi bantuan kepada Hing-san-pay. Kupikir kalau peleburan Ngo-gak-kiam-pay adalah suatu usaha yang baik, mengapa Ko-san-pay tidak berunding secara terang-terangan dengan para pemimpin Ngo-gak-kiam-pay yang lain, tapi pakai cara-cara licik dan keji?”

“Pandanganmu memang betul,” ujar Tiong-hi Tojin sambil manggut-manggut. “Co Leng-tan memang punya ambisi besar dan ingin menjadi tokoh bu-lim nomor satu. Tapi ia sadar pribadinya sukar mengatasi orang banyak, maka terpaksa ia gunakan tipu muslihat licik.”

Hong-ting menghela napas, lalu menyambung, “Co-bengcu sebenarnya seorang serbapintar dan merupakan tokoh bu-lim yang sukar dicari bandingannya. Cuma ambisinya terlalu besar dan bernafsu hendak menjatuhkan nama Siau-lim dan Bu-tong-pay, untuk maksud tujuan ini terpaksa ia menggunakan macam-macam jalan.”

“Bahwasanya Siau-lim-pay adalah pemimpin dunia persilatan, hal ini telah diakui secara umum selama beratus-ratus tahun,” kata Tiong-hi. “Di bawah Siau-lim-pay bolehlah dihitung Bu-tong-pay, selanjutnya adalah Kun-lun-pay, Go-bi-pay, Kong-tong-pay, dan lain-lain. Lenghou-hiante, berdiri dan berkembangnya suatu aliran dan golongan adalah hasil usaha jerih payah tokoh kesatria masing-masing aliran itu, ilmu silat yang diciptakan adalah kumpulan dan gemblengan selama bertahun-tahun dari sedikit demi sedikit. Tentang bangkitnya Ngo-gak-kiam-pay adalah kejadian 60-70 tahun terakhir ini, walaupun cepat perkembangannya, namun dasarnya tetap di bawah Kun-lun-pay, Go-bi-pay, dan lain-lain, lebih-lebih tak dapat dibandingkan dengan ilmu silat Siau-lim-pay yang termasyhur.”

Lenghou Tiong mengangguk dan membenarkan.

Lalu Tiong-hi meneruskan, “Di antara berbagai aliran dan golongan itu terkadang memang muncul juga satu-dua cerdik pandai dan menjagoi pada zamannya. Tapi melulu tenaga seorang dua saja toh tetap sukar mengatasi kesatria-kesatria dari berbagai golongan dan aliran itu. Ketika Co Leng-tan mula-mula menjabat ketua Ngo-gak-kiam-pay, waktu itu juga Hong-ting Taysu sudah meramalkan dunia persilatan selanjutnya tentu akan banyak urusan. Dan dari tingkah laku Co Leng-tan beberapa tahun terakhir ini, nyata benar ramalan Hong-ting Taysu memang tidak meleset.”

“Omitohud!” Hong-ting menyebut Buddha sambil merangkap kedua tangannya.

Lalu Tiong-hi menyambung pula, “Menjadi bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay adalah langkah pertama usaha Co Leng-tan. Langkah kedua adalah melebur kelima aliran menjadi satu dan tetap diketuai olehnya. Sesudah Ngo-gak-kiam-pay terlebur menjadi satu, dengan sendirinya kekuatan tambah besar dan secara tidak resmi sudah dapat berjajar dengan Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay. Kemudian dia tentu akan maju selangkah lagi dengan mencaplok Kun-lun-pay, Go-bi-pay, Kong-tong-pay, Jing-sia-pay, dan lain-lain sehingga ikut terlebur semua. Lebih jauh dia tentu akan mencari perkara kepada Tiau-yang-sin-kau, bersama Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay sekaligus Tiau-yang-sin-kau akan ditumpasnya.”

Dalam lubuk hati Lenghou Tiong yang dalam timbul semacam rasa khawatir, katanya kemudian, “Sungguh sukar dilakukan usaha-usaha sebesar itu, buat apa dia mesti bersusah payah untuk mencapai maksudnya itu?”

“Hati manusia sukar diukur, segala apa di dunia ini, betapa sukarnya tentu juga ada orang yang ingin mencobanya,” ujar Tiong-hi. “Soalnya kalau Co Leng-tan dapat menumpas Tiau-yang-sin-kau, maka saat itu boleh dikata dia akan dipuja oleh orang-orang persilatan sebagai pemimpin besar. Untuk selanjutnya tentunya tidak sukar baginya buat mencaplok pula Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay.”

“O, kiranya Co Leng-tan ingin dipuja dan memimpin seluruh dunia persilatan,” kata Lenghou Tiong.

“Itulah dia!” sahut Tiong-hi dengan tertawa. “Tatkala mana mungkin dia ingin menjadi raja pula dan sesudah menjadi raja mungkin ingin hidup abadi tak pernah tua. Inilah sifat manusia yang serakah, sifat yang tidak kenal puas, sedari dahulu kala memang demikianlah manusia yang berkuasa dan banyak pula yang hancur karenanya.”

Lenghou Tiong terdiam sejenak, katanya kemudian, “Orang hidup paling-paling beberapa puluh tahun saja, buat apa mesti bersusah payah begitu? Co Leng-tan ingin menumpas Tiau-yang-sin-kau dan ingin mencaplok Siau-lim serta Bu-tong-pay, untuk mana entah betapa banyak korban akan timbul?”

“Benar, sebab itulah tugas kita bertiga cukup berat, kita harus mencegah agar maksud Co Leng-tan itu tidak terlaksana untuk menghindarkan banjir darah di dunia Kangouw,” seru Tiong-hi.

“Wah, mana Wanpwe dapat disejajarkan dengan kedua Cianpwe, pengetahuan Wanpwe teramat cetek dan terima di bawah pimpinan kedua Cianpwe saja,” kata Lenghou Tiong.

“Tempo hari kau memimpin para kesatria ke Siau-lim-si untuk memapak Yim-siocia, nyatanya tiada satu benda pun yang kalian ganggu di Siau-lim-si, untuk itu Hongtiang Taysu merasa utang budi kebaikanmu,” kata Tiong-hi pula.

Muka Lenghou Tiong menjadi merah, jawabnya, “Wanpwe tempo hari memang sembrono, mohon dimaafkan.”

“Sesudah rombongan kalian pergi, Co Leng-tan dan lain-lain juga mohon diri, tapi aku masih tinggal beberapa hari di Siau-lim-si dan mengadakan pembicaraan panjang dengan Hongtiang Taysu dan sama-sama mengkhawatirkan ambisi Co Leng-tan yang tak kenal batas itu,” kata Tiong-hi. “Kemudian kami masing-masing menerima berita tentang dirimu diangkat menjadi ketua Hing-san-pay, maka kami berkeputusan akan datang kemari, pertama untuk memberi selamat kepadamu, kedua juga untuk berunding soal-soal ini.”

“Kedua Cianpwe teramat menghargai Wanpwe, sungguh Wanpwe sangat berterima kasih,” ujar Lenghou Tiong.

“Lim Ho itu menyampaikan perintah Co Leng-tan, katanya pagi hari tanggal 15 bulan tiga segenap anggota Ngo-gak-kiam-pay harus berkumpul di puncak Ko-san untuk memilih ketua Ngo-gak-pay, sebenarnya hal ini sudah dalam dugaan Hongtiang Taysu,” kata Tiong-hi lebih lanjut. “Cuma saja kita tidak menduga sedemikian cepat hal itu akan dilakukan oleh Co Leng-tan. Dia menyatakan hendak memilih ketua Ngo-gak-pay, seakan-akan peleburan Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu sudah terjadi dengan pasti. Sebenarnya menurut perkiraan kami, dengan watak Bok-taysiansing yang aneh itu, tokoh Heng-san-pay itu pasti tak mau mengekor kepada Co Leng-tan. Watak Thian-bun Tojin dari Thay-san-pay juga sangat keras, tentu dia pun tidak sudi di bawah perintah Co Leng-tan. Gurumu Gak-siansing selamanya juga sangat mementingkan sejarah perkembangan Hoa-san-pay, betapa pun terhapusnya Hoa-san-pay tentu bukan keinginannya. Hanya Hing-san-pay saja, sayang ketiga tokoh utamanya, ketiga suthay tua berturut-turut telah wafat, anak muridnya tentu tidak mampu melawan Co Leng-tan, bisa jadi Hing-san-pay akan dapat ditundukkan begitu saja. Tak terduga sebelum wafat Ting-sian Suthay sudah mempunyai pendirian tegas, dia telah menyerahkan jabatan ketua kepada Lenghou-laute. Sekarang asalkan Hoa-san, Heng-san, Thay-san, dan Hing-san-pay bersatu padu dan tidak mau dilebur menjadi Ngo-gak-pay segala, maka muslihat Co Leng-tan tentu akan gagal total.”

“Tapi kalau melihat sikap Lim Ho menyampaikan perintah Co Leng-tan tadi, agaknya Thay-san, Heng-san, dan Hoa-san-pay sudah berada di bawah pengaruh Ko-san-pay Co Leng-tan,” ujar Lenghou Tiong.

“Benar,” kata Tiong-hi sambil mengangguk. “Memang tindakan gurumu Gak-siansing juga membuat kami merasa bingung. Kabarnya keluarga Lim dari Hokciu ada seorang muda yang menjadi murid gurumu, entah betul tidak?”

“Ya, Lim-sute itu bernama Lim Peng-ci,” tutur Lenghou Tiong.

“Konon leluhurnya menurunkan sebuah kitab Pi-sia-kiam-boh yang telah lama tersiar di dunia Kangouw, katanya ilmu pedang yang tercantum dalam kitab pusaka itu sangat hebat, tentunya Lenghou-laute juga pernah mendengar hal ini?” tanya Tiong-hi.

Lenghou Tiong mengiakan, lalu ia menceritakan pengalamannya tempo hari, cara bagaimana ia menemukan sebuah jubah di kediaman lama keluarga Lim di Hokciu, lalu dikerubut oleh orang-orang Ko-san-pay sehingga dirinya terluka dan jatuh pingsan, dan seterusnya.

Tiong-hi Tojin termenung sejenak, kemudian berkata pula, “Menurut aturan, setelah gurumu menemukan jubah itu tentunya akan dikembalikan kepada Lim-sute-mu.”

“Akan tetapi kemudian sumoayku toh minta lagi Pi-sia-kiam-boh padaku,” kata Lenghou Tiong. “Tempo hari waktu di Siau-lim-si, ketika Co Leng-tan bertanding melawan Yim-kaucu, Co Leng-tan telah menggunakan jarinya sebagai pedang, menurut Hiang-toako, Hiang Bun-thian, katanya yang dimainkan itu adalah Pi-sia-kiam-hoat. Pengetahuan Wanpwe teramat cetek, entah apa yang dimainkan Co Leng-tan itu betul Pi-sia-kiam-hoat atau bukan, untuk mana mohon kedua Cianpwe sudi memberi petunjuk.”

Tiong-hi memandang sekejap ke arah Hong-ting Taysu, katanya, “Seluk-beluk persoalan ini silakan Taysu menjelaskannya untuk Lenghou-laute.”

Hong-ting mengangguk, katanya, “Lenghou-ciangbun, pernahkah kau mendengar nama ‘Kui-hoa-po-tian’?”

“Pernah kudengar cerita guruku, katanya ‘Kui-hoa-po-tian’ adalah kitab pusaka yang paling berharga dalam ilmu silat,” jawab Lenghou Tiong. “Cuma sayang katanya kitab itu sudah lama lenyap di dunia persilatan dan entah berada di mana. Kemudian Wanpwe pernah mendengar pula dari Yim-kaucu, katanya beliau pernah menyerahkan ‘Kui-hoa-po-tian’ kepada Tonghong Put-pay. Jika demikian, maka kitab pusaka itu sekarang tentunya berada pada Tiau-yang-sin-kau.”

“Ya, tapi itu cuma setengah bagian saja dan tidak lengkap,” kata Hong-ting.

Lenghou Tiong mengiakan, ia pikir sebentar lagi tentu suatu peristiwa besar dunia persilatan di masa lampau pasti akan terurai dari mulut Hong-ting Taysu.

Terlihat Hong-ting memandang jauh ke depan, lalu berkata pula, “Hoa-san-pay pernah terbagi dengan Khi-cong dan Kiam-cong, apakah kau sendiri mengetahui apa sebabnya perguruanmu itu sampai terpecah menjadi dua sekte?”

Lenghou Tiong menggeleng, jawabnya, “Wanpwe tidak tahu, mohon penjelasan Cianpwe.”

“Bahwasanya tokoh-tokoh angkatan tua Hoa-san-pay pernah saling bunuh-membunuh lantaran terpecahnya menjadi Khi-cong dan Kiam-cong, hal ini tentunya kau mengetahui, bukan?”

“Benar, cuma suhu tak pernah menerangkan secara jelas,” sahut Lenghou Tiong.

“Pertarungan di antara saudara seperguruan sendiri tentunya bukan suatu peristiwa yang baik, sebab itulah mungkin Gak-siansing tidak suka banyak bercerita,” ujar Hong-ting. “Tentang pecahnya Hoa-san-pay menjadi dua sekte, kabarnya juga disebabkan oleh Kui-hoa-po-tian. Menurut cerita yang tersiar, katanya Kui-hoa-po-tian itu dikarang bersama oleh sepasang suami istri. Adapun nama kedua orang kosen itu sudah tak bisa diketahui lagi, ada yang bilang nama sang suami itu mungkin ada sebuah huruf ‘kui’ dan sang istri pakai nama ‘hoa’, maka hasil karya mereka bersama itu diberi nama ‘Kui-hoa-po-tian’, tapi semuanya itu cuma dugaan saja. Yang jelas diketahui hanya suami istri itu semula sangat baik dan saling cinta-mencintai, tapi kemudian entah sebab apa keduanya telah berselisih paham. Waktu mereka menciptakan ‘Kui-hoa-po-tian’ itu usia mereka diperkirakan baru empat puluhan, ilmu silat mereka sedang berkembang dengan pesat. Sesudah cekcok, sejak itu keduanya menghindari untuk bertemu satu sama lain, karena itu pula sejilid kitab pusaka yang hebat itu pun terbagi menjadi dua. Selama ini kitab yang dikarang oleh sang suami disebut ‘Kian-keng’ (Kitab Langit) dan ciptaan sang istri disebut ‘Kun-keng’ (Kitab Bumi).”

“Kiranya Kui-hoa-po-tian itu terbagi lagi menjadi kitab Kian dan Kun, baru sekarang Wanpwe mendengar untuk pertama kalinya,” ujar Lenghou Tiong.

“Tentang nama kitab itu sebenarnya cuma pemberian orang-orang bu-lim saja,” kata Hong-ting. “Selama dua ratusan tahun ini, agaknya sangat kebetulan juga, selama itu belum pernah ada seorang dapat membaca isi kedua kitab itu sehingga meleburnya menjadi satu. Bahwa menyimpan kedua kitab itu sekaligus sudah pernah terjadi. Ratusan tahun yang lalu ketua Siau-lim-si di Poh-thian Hokkian, Ang-yap Siansu namanya, pernah sekaligus memegang kedua kitab tersebut. Ang-yap Siansu pada zamannya terhitung seorang tokoh yang mahapintar dan cerdik, menurut tingkat ilmu silat dan kecerdasannya, seharusnya tidak susah baginya untuk melebur ilmu silat dari kedua kitab Kian dan Kun itu. Tapi menurut cerita murid beliau, katanya Ang-yap Siansu belum pernah memahami seluruh isi kitab-kitab itu.”

“Agaknya isi kitab itu sangat dalam sehingga tokoh mahacerdas seperti Ang-yap Siansu juga tidak mampu memahaminya,” kata Lenghou Tiong.

“Ya,” Hong-ting mengangguk. “Lolap dan Tiong-hi Toheng tidak punya rezeki sehingga tak pernah melihat kitab pusaka itu. Alangkah baiknya bila dapat melihat sekadar membaca isinya saja walaupun kami tidak mampu memahami ajarannya.”

“Wah, rupanya Taysu menjadi kemaruk kepada urusan duniawi lagi,” kata Tiong-hi dengan tersenyum. “Orang yang belajar silat seperti kita orang bila melihat kitab pusaka demikian tentu akan lupa makan dan lupa tidur, tapi kepingin sekali untuk menyelaminya. Akibatnya bukan saja mengganggu, bahkan mendatangkan kesukaran-kesukaran hidup kita. Maka adalah lebih baik kalau kita tidak sempat membaca kitab pusaka itu.”

Hong-ting terbahak, katanya, “Ucapan Toheng memang benar. Tentang ilmu silat yang tertera di dalam kedua kitab Kian dan Kun itu mempunyai pengantar dasar yang berbeda, bahkan terbalik menurut cerita. Konon ada dua saudara seperguruan Hoa-san-pay pernah sempat mengunjungi Siau-lim-si di Hokkian, entah cara bagaimana mereka telah dapat membaca kitab Kui-hoa-po-tian itu.”

Dalam hati Lenghou Tiong membatin mana mungkin kitab pusaka demikian itu diperlihatkan kepada tetamu oleh pihak Siau-lim-si, tentunya kedua tokoh Hoa-san-pay itu mencuri baca. Hanya Hong-ting Taysu sengaja bicara dengan istilah halus sehingga tidak memakai kata-kata “mencuri lihat”.

Dalam pada itu Hong-ting menyambung pula, “Mungkin waktunya terburu-buru, maka kedua orang Hoa-san-pay itu tidak sempat membaca seluruh isi kitab sekaligus, tapi mereka berdua membagi tugas, masing-masing membaca setengah bagian. Kemudian sesudah pulang ke Hoa-san, lalu mereka saling menguraikan oleh-oleh masing-masing dan tukar pikiran. Tak terduga apa yang mereka kemukakan, satu sama lain ternyata tiada yang cocok, makin dipaparkan makin jauh bedanya. Sebaliknya kedua orang sama-sama yakin akan kebenaran apa yang telah dibacanya sendiri dan anggap pihak lain yang salah baca atau sengaja tidak mau dikemukakan terus terang. Akhirnya kedua orang lantas berlatih secara sendiri-sendiri, dengan demikian Hoa-san-pay menjadi terpecah menjadi dua sekte, yaitu Khi-cong dan Kiam-cong. Kedua suheng dan sute yang tadinya sangat akrab itu akhirnya berubah menjadi musuh malah.”

“Kedua Locianpwe kami itu tentunya adalah Lin Siau dan Cu Hong beberapa angkatan yang lalu itu,” kata Lenghou Tiong.

Kiranya Lin Siau adalah cikal bakal sekte Khi-cong dari Hoa-san-pay dan Cu Hong adalah cikal bakal Kiam-cong, yaitu kedua tokoh Hoa-san-pay yang mencuri baca Kui-hoa-po-tian di Siau-lim-si Hokkian sebagaimana diceritakan Hong-ting. Pecahnya Hoa-san-pay itu terjadi pada puluhan tahun yang lalu.

“Begitulah, maka kemudian Ang-yap Siansu mengetahui juga akan bocornya Kui-hoa-po-tian itu,” tutur Hong-ting lebih lanjut. “Beliau tahu isi kitab pusaka itu terlalu luas dan dalamnya sukar dijajaki, ia sendiri tidak berhasil meyakinkan ilmunya meski sudah berpuluh tahun menyelaminya. Tapi sekarang Lin Siau dan Cu Hong hanya membacanya secara kilat, yang dipahami hanya samar-samar saja, akibatnya tentu malah celaka. Karena itu ia lantas mengutus murid kesayangannya yang bernama To-goan Siansu ke Hoa-san untuk menasihatkan Lin Siau dan Cu Hong agar jangan meyakinkan ilmu silat dari kitab yang mereka baca itu.”

“Tentunya kedua Locianpwe dari Hoa-san itu tidak mau menurut,” kata Lenghou Tiong.

“Hal ini juga tak bisa menyalahkan mereka berdua,” ujar Hong-ting. “Coba pikir, orang persilatan seperti kaum kita, sekali mengetahui rahasia sesuatu ilmu silat yang hebat tentu saja ingin sekali meyakinkannya. Tak terduga, kepergian To-goan Siansu ke Hoa-san itu telah menimbulkan peristiwa-peristiwa yang panjang.”

“Apakah Lin dan Cu berdua cianpwe itu telah berlaku tidak baik kepada beliau?” tanya Lenghou Tiong.

“Bukan begitu, malahan Lin dan Cu berdua sangat menghormat kedatangan To-goan Siansu,” kata Hong-ting. “Mereka mengaku terus terang telah mencuri baca Kui-hoa-po-tian dan minta maaf, tapi di samping itu mereka pun minta petunjuk kepada To-goan tentang ilmu silat yang terbaca dari kitab pusaka itu. Mereka tidak tahu bahwa To-goan sendiri sama sekali tidak tahu ilmu silat yang tertulis dalam kitab itu meski To-goan adalah murid kesayangan Ang-yap Siansu. Namun To-goan juga tidak mengatakan hal itu, dia mendengarkan uraian mereka dari isi kitab yang dibacanya di Siau-lim-si itu, sebisanya ia memberi penjelasan, tapi diam-diam ia mengingat di luar kepala dari apa yang diuraikan Lin dan Cu itu.”

“Dengan demikian To-goan Siansu malahan memperoleh isi kitab pusaka itu dari Lin dan Cu berdua cianpwe?” kata Lenghou Tiong.

“Benar,” jawab Hong-ting sambil mengangguk. “Cuma apa yang diingat oleh Lin dan Cu dari apa yang mereka baca itu memangnya tidak banyak, sekarang harus menguraikan pula, tentu saja mengalami potongan lagi. Konon To-goan Siansu tinggal delapan hari di Hoa-san barulah mohon diri. Tapi sejak itu ia pun tidak pulang ke Siau-lim-si lagi di Hokkian.”

Lenghou Tiong menjadi heran, “Dia tidak pulang ke Siau-lim-si, lalu pergi ke mana!”

“Inilah tiada orang yang tahu,” jawab Hong-ting. “Cuma tidak lama kemudian Ang-yap Siansu lantas menerima sepucuk surat dari To-goan Siansu yang memberitahukan bahwa dia takkan pulang ke Siau-lim-si lagi karena timbul hasratnya untuk hidup kembali di masyarakat ramai.”

Sungguh tak terkatakan heran Lenghou Tiong, ia anggap kejadian demikian sungguh di luar dugaan siapa pun juga.

“Berhubung dengan peristiwa itu, terjadilah selisih paham di antara Ang-yap Siansu dengan pihak Hoa-san-pay, tentang perbuatan murid Hoa-san-pay mencuri baca Kui-hoa-po-tian juga lantas tersiar di dunia Kangouw,” tutur pula Hong-ting. “Selang berapa puluh tahun kemudian terjadi juga sepuluh tianglo dari Mo-kau menyerbu ke Hoa-san.”

“Sepuluh tianglo Mo-kau menyerbu Hoa-san? Hal ini belum pernah kudengar,” kata Lenghou Tiong.

“Kalau dihitung, waktu kejadian itu gurumu sendiri belum lagi lahir,” ujar Hong-ting. “Sepuluh gembong Mo-kau menyerbu Hoa-san, tujuannya adalah Kui-hoa-po-tian itu. Tatkala itu kekuatan Hoa-san-pay lemah dan tidak mampu melawan gembong-gembong Mo-kau itu. Terpaksa Hoa-san berserikat dengan Thay-san, Heng-san, Ko-san, dan Hing-san-pay sehingga lahir nama Ngo-gak-kiam-pay. Pertama kali terjadilah pertempuran sengit di kaki gunung Hoa-san, hasilnya gembong-gembong Mo-kau itu mengalami kekalahan besar. Tapi lima tahun kemudian, kesepuluh gembong Mo-kau itu berhasil meyakinkan inti ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay dan meluruk kembali ke Hoa-san….”

Mendengar sampai di sini, teringatlah Lenghou Tiong kepada tengkorak-tengkorak yang dilihatnya di dalam gua di puncak tertinggi Hoa-san tempo hari, begitu pula ilmu pedang yang terukir di dinding gua itu. Tanpa terasa ia bersuara kejut.

Hong-ting melanjutkan pula, “Sekali ini kedatangan kesepuluh gembong Mo-kau itu memang sudah disiapkan, mereka sudah punya cara-cara untuk mematahkan setiap ilmu pedang dari Ngo-gak-kiam-pay. Maka pertempuran kedua ini sangat merugikan Ngo-gak-kiam-pay sehingga sejilid salinan Kui-hoa-po-tian jatuh ke tangan orang Mo-kau. Hanya saja kesepuluh gembong Mo-kau itu pun tidak dapat meninggalkan Hoa-san dengan hidup, dapat dibayangkan pertarungan yang terjadi itu tentu sangat dahsyat.”

Cerita Hong-ting ini mengingatkan kembali pada Lenghou Tiong akan tengkorak-tengkorak yang dilihatnya di dalam gua Hoa-san itu. Pikirnya, “Apakah tengkorak-tengkorak itu adalah gembong-gembong Mo-kau? Kalau tidak, mengapa mereka mengukir tulisan di dinding gua dan mencaci-maki Ngo-gak-kiam-pay?”

Melihat Lenghou Tiong termangu-mangu, Hong-ting bertanya, “Apakah kau mendengar cerita ini dari gurumu?”

“Tidak pernah,” jawab Lenghou Tiong. “Cuma Wanpwe pernah menemukan sebuah gua di puncak Hoa-san, di sana terdapat beberapa rangka tulang belulang serta beberapa tulisan yang terukir di dinding.”

“Hah, ada hal demikian? Apa arti tulisan itu?” tanya Hong-ting.

“Arti tulisan itu mencaci-maki Ngo-gak-kiam-pay, terutama Hoa-san-pay,” jawab Lenghou Tiong.

“Masakah Hoa-san-pay dapat membiarkan tulisan-tulisan demikian tanpa menghapusnya?” ujar Hong-ting.

“Gua itu kutemukan secara tidak sengaja, orang lain tiada yang tahu,” tutur Lenghou Tiong. Lalu ia pun menceritakan pengalamannya dahulu serta apa yang dilihatnya di dalam gua, yaitu seorang telah menggunakan kapak untuk menggali gua sampai sedalam beberapa ratus kaki, akhirnya mati kehabisan tenaga meski tinggal beberapa kaki lagi gua itu sudah bisa ditembus keluar.

“Orang memakai kapak? Apa barangkali Hoan Siong, itu gembong Mo-kau yang berjuluk ‘Tay-lik-sin-mo’ (Iblis Sakti Bertenaga Raksasa),” kata Hong-ting.

“Benar, benar!” kata Lenghou Tiong. “Memang di antara tulisan-tulisan yang terukir di dinding itu disebut-sebut juga nama Hoan Siong dan Tio Ho, katanya mereka yang mematahkan Hing-san-kiam-hoat di situ.”

“Tio Ho? Dia adalah ‘Hui-thian-sin-mo’ (Iblis Sakti Juru Terbang) di antara kesepuluh gembong Mo-kau itu!” seru Hong-ting. “Bukankah dia memakai senjata lui-cin-tang (semacam palu)?”

“Hal ini kurang jelas,” sahut Lenghou Tiong. “Cuma di lantai gua sana memang ada sebuah lui-cin-tang. Aku masih ingat tulisan yang terukir di dinding gua itu, katanya yang mematahkan Hoa-san-kiam-hoat adalah dua orang she Thio yang bernama Thio Seng-hong dan Thio Seng-in.”

“Memang benar,” kata Hong-ting. “Thio Seng-hong dan Thio Seng-in adalah dua bersaudara, masing-masing berjuluk ‘Kim-kau-sin-mo’ (Iblis Sakti Si Kera Emas) dan Pek-goan-sin-mo (Iblis Sakti Orang Hutan Putih). Konon senjata mereka adalah toya.”

“Benar,” kata Lenghou Tiong. “Menurut ukiran di dinding, memang di situ dilukiskan Hoa-san-kiam-hoat dikalahkan oleh toya mereka.”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: