Hina Kelana: Bab 102. Lenghou Tiong Dilarang Menjabat Ciangbunjin Hing-san-pay oleh Co Leng-tan

Karena menduga takkan kedatangan tamu, maka para murid juga tidak menyiapkan tempat pondokan dan makanan bagi tetamu. Mereka cuma sibuk menggosok lantai, mengapur dinding, dan bikin pembersihan di mana perlu. Masing-masing anak murid itu pun membuat baju dan sepatu baru. The Oh dan lain-lain juga membuatkan suatu setel jubah hijau bagi Lenghou Tiong untuk dipakai pada hari upacara nanti.

Pagi-pagi hari tanggal 16 bulan dua, waktu Lenghou Tiong bangun, dilihatnya suasana puncak Kian-seng-hong di Hing-san itu benar-benar meriah. Anak murid Hing-san-pay itu ternyata sangat rajin mengatur perayaan yang akan dilangsungkan itu. Lenghou Tiong merasa terharu, “Lantaran diriku sehingga kedua suthay tua mengalami nasib malang, tapi anak muridnya tidak menyalahkan aku, sebaliknya malah menghargai diriku sedemikian rupa. Maka kalau tidak dapat membalaskan sakit hati kematian ketiga suthay tua, percumalah aku menjadi manusia.”

Selagi melamun sambil memandangi salju yang menyelimuti puncak gunung di kejauhan, tiba-tiba di jalanan yang menuju ke atas itu terdengar hiruk-pikuk serombongan orang. Padahal Kian-seng-hong biasanya tenang dan sunyi, selamanya tak pernah terdengar suara ribut demikian. Biarpun Tho-kok-lak-sian yang suka geger itu pun tidak sampai gembar-gembor seramai itu, apalagi kedengarannya jumlahnya jauh lebih banyak daripada enam orang.

Tengah heran, terdengarlah suara langkah orang banyak, beberapa ratus orang telah membanjir ke atas puncak situ. Seorang paling depan terus berseru, “Terimalah ucapan selamat kami, Lenghou-kongcu! Bahagialah engkau hari ini!”

Orang itu pendek lagi gemuk, siapa lagi kalau bukan Lo Thau-cu. Di belakangnya tampak ikut Keh Bu-si, Coh Jian-jiu, Ui Pek-liu, dan lain-lain.

Kejut dan girang pula Lenghou Tiong, cepat ia memapak maju sambil berkata, “Aku menerima pesan terakhir Ting-sian Suthay dan terpaksa mengetuai Hing-san-pay, sesungguhnya aku tidak berani bikin repot para kawan. Mengapa kalian malah datang semua ke sini?”

Lo Thau-cu dan rombongannya ini pernah ikut Lenghou Tiong menggempur Siau-lim-si, setelah mengalami pertarungan mati-matian itu di antara mereka sudah terjalin persahabatan yang kekal. Maka beramai-ramai mereka lantas merubung maju sambil mengelu-elukan Lenghou Tiong dengan mesranya.

“Setelah mendengar kabar bahwa Lenghou-kongcu telah berhasil menyelamatkan Seng-koh, semua orang menjadi sangat girang,” demikian Lo Thau-cu berkata. “Tentang Kongcu akan menjabat ketua Hing-san-pay, hal ini sudah tersiar dengan menggemparkan Kangouw, maka siapa pun sudah mengetahuinya. Dari sebab itulah kami datang mengucapkan selamat padamu.”

“Kami adalah tamu-tamu yang tidak diundang, maka Hing-san-pay tentu tidak menyediakan ransum bagi orang-orang kasar seperti kami ini, maka soal makanan dan arak kami telah bawa sendiri dan sebentar juga akan tiba,” sambung Ui Pek-liu.

“Wah, bagus sekali!” kata Lenghou Tiong dengan girang. Ia pikir suasana demikian menjadi mirip sekali dengan pertemuan besar di Ngo-pah-kang dahulu.

Tengah bicara kembali ada beberapa ratus orang membanjir ke atas lagi.

“Lenghou-kongcu,” kata Keh Bu-si dengan tertawa, “kita adalah orang sendiri, maka anak murid perempuanmu yang lemah lembut itu tidak perlu meladeni orang-orang kasar seperti kami ini. Biarlah kita pakai acara bebas, kami akan melayani kami sendiri.”

Sementara itu suasana di atas Kian-seng-hong sudah ramai sekali, murid Hing-san-pay sama sekali tak menduga akan kedatangan tamu sedemikian banyak, banyak di antara mereka ikut gembira. Tapi beberapa di antaranya yang lebih tua dan berpengalaman merasa tamu-tamu itu dikenalnya sebagai tokoh-tokoh kalangan sia-pay yang biasanya tidak kenal-mengenal dengan pihak Hing-san-pay, tak terduga hari ini berbondong-bondong telah sama datang, apalagi ciangbunjin baru itu kelihatan sangat akrab menyambut kedatangan mereka, mau tak mau anak murid Hing-san-pay yang lebih tua itu merasa serbabingung.

Siangnya muncul pula beberapa laki-laki yang membawa ayam, itik, kambing, dan kerbau, sayur-mayur dan beras tepung, rupanya itulah perbekalan rombongan Lo Thau-cu yang dikatakan tadi.

Lenghou Tiong pikir Hing-san-pay memuja Dewi Koan-im, sekarang dirinya baru saja menjabat ketua sudah lantas sembelih kambing dan potong kerbau, rasanya terlalu mencolok dan tidak enak terhadap leluhur Hing-san-pay. Segera ia perintahkan rombongan tukang masak itu memindahkan “dapur umum” ke pinggang gunung yang agak jauh. Walaupun begitu asap dan bau masakan daging itu toh teruar juga ke atas puncak. Keruan para nikoh sama mengerut kening.

Setelah makan siang, para tamu sama duduk memenuhi pelataran di depan biara induk. Lenghou Tiong sendiri duduk di ujung barat, para murid Hing-san-pay sama berdiri di belakangnya menurut urut-urutan usia dan tingkatan masing-masing.

Selagi upacara akan dimulai, tiba-tiba terdengar suara seruling, serombongan orang muncul pula ke atas puncak mengiringi dua orang tua berbaju hitam. Seorang tua yang berada paling depan itu berseru, “Tonghong-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau mengutus kedua Kong-beng-sucia untuk memberi selamat kepada Lenghou-tayhiap yang diangkat menjadi ketua Hing-san-pay. Semoga Hing-san-pay berkembang lebih jaya dan wibawa Lenghou-tayhiap lebih gemilang di dunia persilatan.”

Mendengar ucapan itu, semua orang sama berseru gempar. Sedikit-banyak orang-orang Kangouw seperti Lo Thau-cu dan lain-lain itu ada hubungannya dengan Mo-kau, malahan banyak di antaranya telah minum “Sam-si-nau-sin-tan” yang diberi Tonghong Put-pay, yaitu obat racun yang bekerja secara berkala. Maka begitu mendengar “Tonghong-kaucu” disebut, mereka menjadi sangat ketakutan.

Kebanyakan di antara mereka pun kenal kedua kakek utusan Tonghong Put-pay itu, yang di sebelah kiri, yaitu yang bicara tadi, bernama Kah Po, bergelar “Wi-bin-cun-cia”, Si Duta Agung Muka Kuning. Sedangkan kakek sebelah kanan bernama Siangkoan In, berjuluk “Tiau-hiap”, Si Pendekar Rajawali.

Kah Po dan Siangkoan In adalah pembantu utama dan merupakan tangan kanan-kiri Tonghong Put-pay, tinggi ilmu silat mereka jauh di atas tokoh-tokoh sebangsa pangcu atau congthocu umumnya. Si Muka Kuning Kah Po asalnya adalah Pangcu Wi-soa-pang di Lembah Hongho, selama berpuluh tahun malang melintang di wilayah kekuasaannya entah sudah jatuhkan betapa banyak kaum kesatria dan jago persilatan. Kemudian dia ditaklukkan oleh Tonghong Put-pay, lalu masuk Mo-kau dan menjadilah pembantu utama ketua Mo-kau itu.

Sekarang Tonghong Put-pay mengutus kedua pembantu utamanya datang ke Hing-san, hal ini boleh dikata suatu penghargaan tertinggi bagi Lenghou Tiong. Maka semua orang lantas berdiri demi tampak datangnya Kah Po dan Siangkoan In.

Lenghou Tiong juga lantas memapak ke depan, katanya, “Selamanya Cayhe belum kenal Tonghong-kaucu, banyak terima kasih atas kunjungan Tuan-tuan berdua.”

Ia melihat muka Kah Po kuning seperti malam, kedua pelipisnya menonjol. Sedangkan sinar mata Siangkoan In tampak berkilat tajam, nyata sekali lwekang kedua orang sangatlah tinggi.

Begitulah Kah Po lantas bicara pula, “Hari bahagia Lenghou-tayhiap ini mestinya Tonghong-kaucu bermaksud datang sendiri buat memberi selamat, cuma beliau sedang sibuk menghadapi macam-macam pekerjaan sehingga sukar membagi waktu, untuk ini mohon Lenghou-tayhiap sudi memberi maaf.”

“Ah, mana aku berani,” sahut Lenghou Tiong. Dalam hati ia pikir kalau melihat lagak utusan Tonghong Put-pay ini, agaknya Yim-kaucu belum berhasil merebut kembali kedudukan kaucunya. Dan entah bagaimana keadaan Yim-kaucu itu bersama Hiang-toako serta Ing-ing.

Dalam pada itu Kah Po tampak miringkan tubuhnya dan mengacungkan sebelah tangan ke belakang sambil berkata, “Sedikit oleh-oleh ini adalah tanda mata dari Tonghong-kaucu, mohon Lenghou-ciangbun sudi menerimanya.”

Dan di tengah suara tetabuhan dan tiupan seruling terlihatlah ratusan orang menggotong empat puluh buah peti besar ke depan. Setiap peti itu digotong oleh empat laki-laki kekar, melihat tindakan penggotong-penggotong yang berat itu dapat dibayangkan isi peti tentu juga tidak ringan.

Cepat Lenghou Tiong berkata, “Ah, kunjungan Tuan-tuan berdua saja bagi Lenghou Tiong sudah merupakan suatu kehormatan besar, masakah Cayhe berani pula menerima hadiah sebesar ini. Harap disampaikan kepada Tonghong-kaucu bahwa Cayhe mengucapkan banyak terima kasih. Pada umumnya anak murid Hing-san-pay hidup secara sederhana sehingga tidak memerlukan barang-barang semewah dan sebanyak ini.”

“Jika Lenghou-ciangbun tidak sudi menerima, maka Cayhe dan Siangkoan-heng yang menjadi serbasusah,” ujar Kah Po. Lalu ia berpaling kepada Siangkoan In dan bertanya, “Betul tidak, Saudaraku?”

“Betul!” kata Siangkoan In. Sungguh di luar dugaan, begitu keras dan lantang suaranya sehingga anak telinga orang-orang lain serasa tergetar. Mungkin dia sendiri pun tahu suaranya teramat keras, maka biasanya dia tidak banyak bicara, sejak datangnya tadi juga baru sekarang ia mengucapkan sebuah kata “betul” itu.

Lenghou Tiong menjadi serbaberat menghadapi persoalan ini. Hing-san-pay adalah golongan cing-pay yang tidak bisa hidup bersama Mo-kau. Apalagi Yim-kaucu dan Ing-ing selekasnya juga akan meluruk dan bikin perhitungan kepada Tonghong Put-pay, mana boleh aku menerima sumbanganmu pula? Demikian ia menimbang-nimbang.

Kemudian ia berkata pula, “Harap Kah-heng berdua suka sampaikan kepada Tonghong-siansing bahwa sumbangannya ini sekali-kali tak berani kuterima. Bila kalian tidak mau membawa pulang barang-barang sumbangan ini, terpaksa Cayhe menyuruh orang mengantar ke sana.”

Kah Po tersenyum, jawabnya, “Apakah Lenghou-ciangbun mengetahui apa isi ke-40 peti ini?”

“Sudah tentu tidak tahu,” sahut Lenghou Tiong.

“Bila Lenghou-ciangbun sudah melihat isinya tentu takkan menolak lagi,” ujar Kah Po dengan tertawa. “Sesungguhnya isi ke-40 peti itu juga tidak seluruhnya adalah sumbangan Tonghong-kaucu, tapi sebagian harus diserahkan kepada Lenghou-ciangbun sendiri, antaran kami ini boleh dikata mengembalikan barangnya kepada pemiliknya saja.”

Lenghou Tiong menjadi heran. “Apa, kau bilang barangku? Barang apakah itu?” tanyanya bingung.

Kah Po maju selangkah dan bicara dengan suara tertahan, “Sebagian besar di antaranya adalah pakaian, perhiasan, dan barang-barang keperluan sehari-hari yang ditinggalkan Yim-siocia di Hek-bok-keh, sekarang Tonghong-kaucu menyuruh kami antar ke sini agar bisa dipakai oleh Yim-siocia. Sebagian pula di antaranya adalah sumbangan Kaucu kepada Lenghou-ciangbun dan Yim-siocia, oleh karena itu harap Lenghou-ciangbun jangan sungkan-sungkan lagi dan sudi menerimanya. Haha!”

Watak Lenghou Tiong memang suka blakblakan dan tidak suka pelungkar-pelungker, melihat maksud sumbangan Tonghong Put-pay itu memang sungguh-sungguh, apalagi sebagian barang-barang itu adalah milik Ing-ing, maka ia pun tidak menolak lagi, sambil bergelak tertawa ia berkata, “Haha, baiklah kuterima. Banyak terima kasih.”

Pada saat itulah seorang murid perempuan tampak mendekati dan melapor, “Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay datang sendiri untuk memberi selamat.”

Lenghou Tiong terkejut, cepat ia memburu ke sana untuk menyambut. Dilihatnya Tiong-hi Tojin bersama delapan muridnya sedang naik ke atas. Lenghou Tiong membungkukkan tubuh memberi hormat dan menyapa, “Atas kunjungan Totiang ini, sungguh Lenghou Tiong merasa sangat berterima kasih.”

“Lenghou-laute dengan bahagia diangkat sebagai ketua Hing-san-pay, berita ini sungguh sangat menggirangkan Pinto,” sahut Tiong-hi Tojin. “Kabarnya Hong-ting dan Hong-sing Taysu dari Siau-lim juga akan datang memberi selamat. Entah mereka berdua sudah tiba belum?”

Keruan Lenghou Tiong tambah tercengang, sahutnya, “Wah, ini… ini….”

Pada saat itulah jalan pegunungan itu tampak muncul pula serombongan hwesio, dua orang paling depan jelas adalah Hong-ting dan Hong-sing Taysu.

“Tiong-hi Toheng, cepat amat langkahmu sehingga mendahului kami,” seru Hong-ting Taysu dari jauh.

Cepat Lenghou Tiong memapak ke depan dan berseru, “Kunjungan kedua Taysu sungguh suatu kehormatan besar bagi Lenghou Tiong.”

Dengan tertawa Hong-sing Taysu menjawab, “Lenghou-siauhiap, kau sendiri sudah tiga kali berkunjung ke Siau-lim-si, sekarang kami balas berkunjung satu kali ke Hing-san sini kan cuma sekadar kunjungan timbal balik saja.”

Begitulah Lenghou Tiong menyongsong rombongan-rombongan Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay itu ke atas. Melihat ketua-ketua dari Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay sendiri yang datang, hal ini sungguh membikin para jagoan Kangouw sama terperanjat. Kah Po dan Siangkoan In saling pandang sekejap, mereka anggap tidak tahu saja kedatangan Tiong-hi Tojin, Hong-ting Taysu, dan rombongannya.

Lalu Lenghou Tiong menyilakan Hong-ting dan lain-lain ke tempat duduk yang paling terhormat. Dalam hati ia tidak habis pikir kunjungan tetamunya yang luar biasa itu. Ia ingat dahulu waktu suhunya menjabat ketua Hoa-san-pay, pihak Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay hanya kirim utusan untuk mengucapkan selamat. Sekarang ketua-ketua kedua aliran teragung di dunia persilatan ini ternyata sudi berkunjung sendiri padanya, apakah mereka benar-benar datang memberi selamat atau masih ada maksud tujuan lain?

Sementara itu tamu-tamu yang berdatangan masih tidak terputus-putus, kebanyakan adalah jago-jago yang pernah ikut menggempur Siau-lim-si tempo hari. Menyusul utusan-utusan Kun-lun-pay, Tiam-jong-pay, Go-bi-pay, Kong-tong-pay, Kay-pang, dan lain-lain juga tiba dengan membawa sumbangan-sumbangan dan kartu ucapan selamat dari ketua masing-masing.

Begitu banyak tamu-tamu yang datang itu ternyata tiada terdapat utusan-utusan dari Ko-san-pay, Hoa-san-pay, dan Thay-san-pay.

Dalam pada itu terdengarlah suara petasan yang ramai, rupanya sudah tiba waktunya upacara dilangsungkan. Lenghou Tiong berbangkit dan memberikan hormat kepada para hadirin sambil mengucapkan sepatah dua kata pengantar. Di tengah suara tetabuhan kecer dan keleningan, anak murid Hing-san-pay mulai berbaris ke tengah pelataran dengan dipimpin oleh keempat murid tertua, yaitu Gi-ho, Gi-jing, Gi-cin, dan Gi-cit. Keempat murid tertua itu menghadap ke depan Lenghou Tiong dan memberi hormat. Gi-ho berkata, “Keempat alat keagamaan ini adalah pusaka warisan dari cikal bakal Hing-san-pay Hiau-hong Suthay, biasanya berada di bawah penguasaan ciangbunjin, maka ciangbunjin baru sekarang, Lenghou-suheng, diharap sudi menerimanya.”

Lenghou Tiong mengiakan. Lalu keempat murid tertua itu menyerahkan alat-alat keagamaan yang mereka bawa itu kepada Lenghou Tiong. Yaitu sejilid kitab, sebuah bok-hi (kentung kecil berbentuk ikan dari kayu), serenceng tasbih, dan sebatang pedang pendek.

Rada kikuk juga Lenghou Tiong diharuskan menerima bok-hi dan tasbih segala, soalnya dia toh tidak pernah sembahyang dan baca kitab. Tapi terpaksa diterimanya sambil menunduk.

Lalu Gi-jing membuka sebuah kitab dan berseru, “Empat pantangan besar Hing-san-pay. Pertama, pantang membunuh yang tak berdosa. Kedua, pantang membikin onar dan melakukan kejahatan. Ketiga, dilarang membangkang atasan dan berkhianat. Keempat, dilarang bergaul dengan golongan sesat dan penjahat. Untuk mana hendaklah Ciangbun-suheng memberi teladan dan memimpin para Tecu dengan bijaksana.”

Kembali Lenghou Tiong mengiakan. Tapi dalam hati ia pikir larangan keempat tentang tidak boleh bergaul dengan golongan sesat dan orang jahat segala rasanya sukar dijalankan. Yang jelas tetamu yang hadir sekarang ada sebagian besar terdiri dari golongan sia-pay.

Kemudian Gi-cin berkata, “Sekarang silakan Ciangbun-suheng masuk biara untuk sembahyang kepada arwah para leluhur Hing-san-pay kita.”

Lenghou Tiong mengiakan lagi. Tapi sebelum dia melangkah, tiba-tiba dari jalan sana ada orang berteriak, “Perintah dari Co-bengcu Ngo-gak-kiam-pay bahwa Lenghou Tiong tidak boleh menyerobot kedudukan ketua Hing-san-pay.”

Lenyap suara itu, muncul secepat terbang lima orang, di belakangnya menyusul pula beberapa puluh orang. Kelima orang di depan itu masing-masing membawa sebuah panji sulam. Itulah panji persekutuan Ngo-gak-kiam-pay.

Kira-kira beberapa meter di depan Lenghou Tiong, kelima orang itu lantas berdiri berjajar. Yang berdiri di tengah adalah seorang pendek gemuk, berwajah kekuning-kuningan dan berusia 50-an.

Segera Lenghou Tiong mengenal orang itu sebagai Lim Ho yang berjuluk “Tay-im-yang-jiu”, yaitu salah seorang tokoh terkemuka Ko-san-pay. Waktu bertarung di daerah Holam tempo hari kedua tangan Lim Ho pernah ditembus oleh tusukan pedang Lenghou Tiong. Jadi di antara mereka sudah terikat permusuhan.

“O, kiranya Lim-heng adanya,” demikian Lenghou Tiong menyapa.

Lim Ho mengebaskan panji yang dipegangnya itu, katanya, “Hing-san-pay adalah anggota Ngo-gak-kiam-pay, maka harus tunduk kepada perintah Co-bengcu.”

“Tapi setelah aku menjabat ketua Hing-san-pay, apakah selanjutnya masih menjadi anggota Ngo-gak-kiam-pay atau tidak masih harus kupikirkan dulu,” sahut Lenghou Tiong dengan tersenyum.

Sementara itu, beberapa puluh orang di belakang tadi juga sudah merubung tiba. Kiranya terdiri dari anak murid Ko-san-pay, Heng-san-pay, Hoa-san-pay, dan Thay-san-pay. Delapan orang Hoa-san-pay adalah para sute Lenghou Tiong, orang-orang Ko-san-pay dan lain-lain juga sebagian besar sudah dikenalnya. Beberapa puluh orang itu berbaris menjadi empat kelompok, semuanya siap siaga dan tidak buka suara.

Lim Ho lantas bicara pula, “Selamanya Hing-san-pay diketuai oleh kaum nikoh. Sebagai orang lelaki mana boleh Lenghou Tiong melanggar peraturan Hing-san-pay yang sudah turun-temurun ratusan tahun ini?”

“Peraturan dibuat oleh manusia dan tentu pula dapat diubah oleh manusia, hal ini adalah urusan dalam Hing-san-pay kami, orang luar tidak perlu ikut campur,” sahut Lenghou Tiong.

Serentak pula terdengar caci maki Lo Thau-cu dan kawan-kawannya kepada Lim Ho, “Huh, urusan Hing-san-pay sendiri, peduli apa dengan Ko-san-pay kalian?”

“Hm, bengcu apa segala? Bengcu kentut anjing!”

“Hayolah lekas enyah dari sini saja!”

“Orang-orang yang bermulut kotor ini kerja apakah di sini?” tanya Lim Ho kepada Lenghou Tiong.

“Mereka adalah kawan-kawanku yang hadir mengikuti upacara,” sahut Lenghou Tiong.

“Itu dia,” kata Lim Ho. “Coba katakan padaku, apa larangan keempat dari peraturan Hing-san-pay kalian?”

“Larangan keempat itu menyatakan dilarang bergaul dengan orang jahat,” sahut Lenghou Tiong sengaja. “Memang, manusia semacam Lim-heng sudah tentu takkan digauli oleh Lenghou Tiong.”

Maka gemuruhlah suara tawa orang ramai, banyak di antaranya berteriak-teriak, “Nah, lekas enyah dari sini manusia jahat!”

Lim Ho terpaksa berpaling dan bicara kepada Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin, “Kedua Tayciangbun adalah tokoh yang diagungkan pada dunia persilatan zaman ini, sekarang mohon memberi penilaian yang adil. Dengan mendatangkan setan iblis sebanyak ini, bukankah Lenghou Tiong sudah melanggar peraturan Hing-san-pay yang melarang bergaul dengan kaum penjahat. Tampaknya Hing-san-pay yang punya nama baik selama beratus-ratus tahun ini akan runtuh begitu saja, masakah Locianpwe berdua dapat tinggal diam?”

“Tentang ini… ini….” kata Hong-ting Taysu sambil berdehem, ia pikir ucapan orang she Lim ini memang beralasan, sebagian besar yang hadir ini memang tergolong orang sia-pay, masakah Lenghou Tiong harus disuruh mengusir orang-orang sebanyak itu?

Pada saat itulah tiba-tiba dari jalanan sana berkumandang suara seorang perempuan, “Yim-siocia dari Tiau-yang-sin-kau tiba!”

Terkejut dan girang Lenghou Tiong tak terkira, tanpa terasa tercetus dari mulutnya, “He, Ing-ing juga datang!”

Cepat ia menyongsong ke ujung jalan sana, dilihatnya dua lelaki kekar menggotong sebuah tandu sedang mendaki ke atas secepat terbang. Di belakang tandu mengikuti empat dayang berbaju hijau.

“Lihatlah, sampai tokoh terkemuka Mo-kau juga datang, bukankah sudah jelas bergaul dengan kaum jahat?” ejek Lim Ho dengan suara keras.

Sementara itu demi mendengar kedatangan Ing-ing, sebagian besar jago-jago yang hadir itu pun sama menyongsong ke jalanan sana sambil bersorak gemuruh.

Diam-diam orang-orang Ko-san-pay dan lain-lain sama kebat-kebit melihat kekuatan lawan yang jauh lebih besar itu, kalau sampai terjadi pertempuran tentu sukar dibayangkan bagaimana jadinya.

Dalam pada itu tandu kecil telah sampai di tengah pelataran dan diturunkan ke tanah, di mana tirai terbuka, keluarlah seorang gadis jelita berbaju hijau muda. Siapa lagi dia kalau bukan Ing-ing.

“Seng-koh! Hidup Seng-koh!” serentak para jago bersorak sembari membungkukkan tubuh. Jelas mereka sangat hormat dan segan kepada Ing-ing, tapi rasa girang mereka pun timbul dari lubuk hati yang setulusnya.

“Kau pun datang, Ing-ing?” Lenghou Tiong menyapa sambil mendekati dengan tersenyum.

“Hari ini adalah hari bahagiamu, mana boleh aku tidak datang?” sahut Ing-ing dengan senyuman manis. Pandangannya menyoroti sekelilingnya melintasi muka setiap hadirin, lalu ia sedikit membungkuk tubuh kepada Hong-ting dan Tiong-hi berdua dan berseru, “Hongtiang Taysu, Ciangbun Totiang, terimalah salamku!”

Hong-ting dan Tiong-hi sama membalas hormat sambil berpikir, “Betapa pun akrabnya dengan Lenghou Tiong mestinya jangan datang kemari, sekarang Lenghou Tiong benar-benar dibuatnya serbasusah.”

Tiba-tiba Lim Ho berseru pula, “Nona ini adalah tokoh penting dari Hek-bok-keh, betul tidak, Lenghou Tiong?”

“Benar, mau apa?” sahut Lenghou Tiong.

“Larangan keempat Hing-san-pay menetapkan ‘dilarang bergaul dengan kaum jahat’. Bila kau tidak putuskan hubungan dengan manusia-manusia sesat dan jahat ini tidak boleh kau menjadi ketua Hing-san-pay,” kata Lim Ho.

“Tidak boleh ya tidak boleh, memangnya kenapa?” jawab Lenghou Tiong.

Alangkah mesranya perasaan Ing-ing mendengar ucapan itu. Tanyanya kemudian, “Dari manakah kawan ini? Berdasarkan apa dia mencampuri urusan Hing-san-pay kalian?”

“Dia mengaku diutus oleh Co-ciangbun dari Ko-san-pay, panji yang dia pegang itu adalah panji kebesaran Co-bengcu,” kata Lenghou Tiong. “Hm, janganlah cuma sebuah panji kecil begitu, sekalipun Co-ciangbun datang sendiri juga tidak berhak mencampuri urusan Hing-san-pay kami.”

“Tepat,” kata Ing-ing sambil mengangguk. Ia menjadi gemas juga bila teringat kelicikan Co Leng-tan ketika pertandingan di Siau-lim-si tempo hari sehingga membikin ayahnya terluka dan hampir-hampir celaka. Ia berkata pula, “Siapa bilang itu panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay? Dia penipu….” belum habis ucapannya, sekonyong-konyong tubuhnya melesat ke sana, tahu-tahu sebelah tangannya sudah bertambah sebilah pedang pendek, secepat kilat terus menikam ke dada Lim Ho.

Sama sekali Lim Ho tidak menduga bahwa gadis jelita itu sedemikian gapah, tanpa sesuatu petunjuk apa-apa tahu-tahu lantas menerjangnya. Untuk menangkis terang tidak sempat lagi, terpaksa Lim Ho mengegos ke samping. Ia tidak menduga serangan Ing-ing itu cuma serangan pancingan belaka, baru saja tubuhnya menggeser, tahu-tahu pegangannya terasa kendur, panji yang terpegang di tangan kanannya dirampas oleh si nona.

Gerak tubuh Ing-ing tidak lantas berhenti, berturut-turut pedangnya menikam lima kali dan sekaligus lima buah panji sulam sudah dirampasnya. Gerakan yang dia gunakan sama, lima kali serangan selalu sama, namun cepat luar biasa sehingga sebelum lawan sempat berpikir apa yang terjadi, tahu-tahu panji mereka sudah berpindah tangan. Lalu Ing-ing memutar ke belakang Lenghou Tiong, katanya, “Engkoh Tiong, panji-panji ini semuanya palsu. Mana bisa dikatakan panji Ngo-gak-kiam-pay, ini kan Ngo-tok-ki (Panji Pancabisa) milik Ngo-sian-kau.”

Waktu dia membentang kelima panji sulam yang dipegangnya itu, tertampak dengan jelas panji-panji itu masing-masing tersulam gambar ular, kelabang, laba-laba, kalajengking, dan katak yang berbisa. Jadi sama sekali bukan panji Ngo-gak-kiam-pay.

Lim Ho dan kawan-kawannya melongo, terkejut dan tak bisa bicara. Sebaliknya Lo Thau-cu dan kawan-kawannya lantas bersorak memuji. Mereka tahu begitu merampas panji-panji lawan segera Ing-ing menukarnya dengan Ngo-tok-ki. Cuma bekerja Ing-ing itu teramat cepat sehingga tiada seorang pun melihat cara bagaimana dia bisa menukar panji-panji yang berlainan itu.

“Na-kaucu!” seru Ing-ing.

Segera seorang wanita cantik berdandan suku bangsa Miau tampil ke depan dan menjawab, “Adakah Seng-koh memberi perintah?”

Dia bukan lain adalah Na Hong-hong, ketua Ngo-tok-kau yang terkenal.

“Ngo-tok-ki agamamu ini mengapa bisa jatuh di tangan orang Ko-san-pay?” tanya Ing-ing.

“Anak murid Ko-san-pay ini adalah teman-teman akrab anak buah perempuanku, mungkin mereka telah pakai kata-kata manis dan membujuknya sehingga Ngo-tok-ki agama kami ini tertipu olehnya,” jawab Na Hong-hong dengan tertawa.

“O, begitu. Ini kukembalikan panji-panjimu,” kata Ing-ing sambil melemparkan kelima buah panji itu.

“Terima kasih Seng-koh,” sahut Na Hong-hong sembari menyambuti panji-panji itu.

“Perempuan siluman, di depanku juga berani pakai permainan gila begitu, lekas kembalikan panji-panji kami,” Lim Ho mendamprat.

“Kau ingin Ngo-tok-ki, kenapa tidak minta kepada Na-kaucu saja?” ujar Ing-ing.

Dengan mendongkol terpaksa Lim Ho berpaling kepada Hong-ting dan Tiong-hi, katanya, “Hongtiang Taysu dan Tiong-hi Totiang, hendaklah kalian berdua tokoh agung sudi memberi keadilan.”

“Tentang peraturan Hing-san-pay memang… memang ada satu pasal yang melarang bergaul dengan orang jahat,” kata Hong-ting. “Cuma… cuma hari ini banyak kawan Kangouw yang hadir mengikuti upacara sehingga terpaksa Lenghou-ciangbun tak bisa menutup pintu dan membikin malu tamunya….”

“Apakah orang seperti… seperti dia itu juga kawan Lenghou Tiong?” seru Lim Ho sambil menuding seorang di tengah orang banyak.

Ternyata orang yang ditunjuk itu adalah “Ban-li-tok-heng” Dian Pek-kong yang terkenal sebagai maling cabul yang jahat.

“Dian Pek-kong, kau mau apa datang ke Hing-san sini?” tanya Lim Ho dengan bengis.

“Cayhe datang ke sini untuk berguru,” jawab Dian Pek-kong.

“Berguru?” Lim Ho menegas.

“Betul,” sahut Pek-kong. Tiba-tiba ia mendekati Gi-lim, lalu berlutut dan menyembah, “Suhu, terimalah hormat muridmu, Dian Pek-kong.”

Keruan wajah Gi-lim merah malu. “Kau… kau….” dengan tergagap ia mengegos ke samping untuk menghindari hormat orang.

Semua orang menjadi terheran-heran melihat seorang laki-laki tinggi besar sebagai Dian Pek-kong itu kok memanggil suhu kepada Gi-lim yang muda jelita itu. Seluk-beluk ini hanya diketahui oleh Lenghou Tiong saja karena pertaruhan kata-kata yang pernah diucapkan di masa dahulu, sungguh tidak nyana Dian Pek-kong benar-benar telah menyembah dan mengangkat Gi-lim sebagai suhu.

“Ya, kalau Dian-siansing benar-benar mau insaf dan kembali ke jalan yang benar, apa salahnya? Betul tidak, Hong-ting Taysu?” ujar Ing-ing. “Bukankah sang Buddha mengatakan, siapa pun yang mau menyadari kesalahannya akan diberi jalan pembaruan. Betul tidak?”

“Benar,” sahut Hong-ting. “Secara sadar Dian-siansing mengabdikan diri ke dalam Hing-san-pay, ini benar-benar suatu keuntungan bagi dunia persilatan.”

“Nah, dengarkan, kawan-kawan. Kedatangan kita hari ini adalah untuk mengabdi ke dalam Hing-san-pay, asalkan Lenghou-ciangbun sudi menerima, maka kita lantas terhitung anak buah Hing-san-pay. Dan kalau sudah menjadi anak buah Hing-san-pay apakah dapat dianggap sebagai kaum jahat?” seru Ing-ing.

Baru sekarang Lenghou Tiong paham, rupanya kedatangan Ing-ing dan orang banyak itu memang berencana untuk membelanya. Ia merasa sangat kebetulan dengan bertambahnya anak buah kaum laki-laki itu, sebab dia memang lagi serbaragu-ragu karena mesti mengetuai kaum nikoh itu. Dengan suara lantang ia lantas tanya, “Gi-ho Suci, apakah dalam peraturan pay kita adalah larangan menerima anggota lelaki?”

“Larangan menerima anggota lelaki sih memang tidak ada, cuma… cuma….” rada bingung juga Gi-ho, ia merasa tidak enak juga karena Hing-san-pay mendadak harus bertambah anggota lelaki sebanyak itu.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: