Hina Kelana: Bab 101. Lenghou Tiong Mengetuai Kaum Nikoh

Setelah membedakan arah, Lenghou Tiong terus menuju ke Siau-lim-si lagi. Menjelang magrib tibalah di tempat tujuan. Ia menyatakan maksud kedatangannya kepada hwesio penyambut tamu dan mohon dibolehkan mengusung jenazah Ting-sian dan Ting-yat Suthay pulang ke Hing-san.

Setelah dilaporkan, kemudian hwesio penyambut tamu memberitahukan, “Menurut Hongtiang, jenazah kedua suthay sudah diperabukan dan sekarang sedang dilakukan sembahyangan oleh segenap penghuni biara ini. Tentang abu jenazah kedua suthay selekasnya akan kami antar ke Hing-san.”

Lenghou Tiong anggap keterangan itu memang beralasan, ia minta diperbolehkan memberi hormat kepada abu kedua suthay, habis itu baru mohon diri karena Hong-ting Taysu toh tidak mau menemuinya.

Sampai di bawah gunung salju masih belum juga reda, malamnya ia mengendon pada rumah seorang petani. Besoknya ia terus menuju ke utara. Di suatu kota kecil ia membeli seekor kuda, sementara itu cuaca sudah terang.

Karena lengan kiri masih terasa kaku, maka perjalanannya rada terganggu, setiap hari hanya ditempuh beberapa puluh li saja lantas mencari tempat penginapan. Ia menurutkan ajaran Yim Ngo-heng untuk melancarkan jalan darah lengannya. Sepuluh hari kemudian urat nadi lengannya telah lancar kembali.

Beberapa hari lagi, siangnya ia mampir di suatu restoran untuk minum arak. Tatkala mana sudah dekat tahun baru, suasana tampak ramai, orang berlalu-lalang berbelanja untuk persiapan perayaan tahun baru. Sambil minum arak sendirian di atas loteng restoran itu, Lenghou Tiong terkenang kepada masa lampau, bila dekat tahun baru, biasanya ia dan saudara-saudara seperguruan suka membantu ibu-gurunya untuk membersihkan pekarangan, memajang ruangan, dan sebagainya, semuanya dalam suasana riang gembira. Tapi sekarang seorang diri ia minum arak kesepian di rantau orang.

Selagi kesal, tiba-tiba terdengar suara tangga berbunyi, ada orang banyak sedang naik ke atas. Malahan seorang sedang berkata, “Haus benar, marilah kita minum dulu di sini.”

“Seumpama tidak haus kan juga boleh minum?” ujar yang lain.

“Haus dan minum kan bersangkutpautan satu sama lain, kenapa dipotong-potong,” sahut seorang lagi.

Mendengar percakapan yang bertele-tele itu segera Lenghou Tiong tahu siapa yang datang, cepat ia berseru, “Keenam Tho-heng, lekas kemari minum bersama aku!”

Serentak terdengarlah suara gedubrakan, Tho-kok-lak-sian telah melompat ke atas bersama dan mengelilingi Lenghou Tiong, ada yang pegang tangannya, ada yang pegang bahunya, ada pula yang pegang bajunya. Beramai-ramai mereka berteriak, “Aku yang ketemukan dia!”

“Aku yang pegang dia paling dulu!”

“Suaraku yang pertama didengar Lenghou-kongcu, maka aku yang ketemukan dia lebih dulu!”

“He, apa-apaan kalian ini?” tanya Lenghou Tiong dengan tertawa heran.

Tiba-tiba Tho-hoa-sian berlari ke pinggir jendela dan berseru, “Hei, Nikoh cilik, Nikoh tua, dan dara jelita! Aku telah ketemukan Lenghou-kongcu, lekas serahkan seribu tahil perak!”

Tho-ki-sian ikut lari ke tepi jendela dan berteriak, “Bukan dia, tapi aku yang pertama memegang Lenghou-kongcu! Lekas serahkan seribu tahil yang kalian janjikan!”

Dalam pada itu Tho-kan-sian dan Tho-sit-sian juga tidak mau kalah, sambil masih memegangi Lenghou Tiong mereka berteriak-teriak, “Tidak, aku yang lihat dia paling dulu!”

“Aku yang ketemukan dia!”

Maka terdengarlah suara seorang wanita berseru di luar restoran, “Benarkah kalian telah menemukan Lenghou-tayhiap?”

“Benar! Aku yang menemukan dia! Lekas serahkan uang! Ada uang ada barang!” demikian Tho-kok-lak-sian berkaok-kaok.

Di tengah ramai-ramai itu terdengarlah suara orang menaiki tangga loteng, orang pertama yang muncul adalah murid Hing-san-pay, Gi-ho, di belakangnya ikut pula empat nikoh dan dua nona muda, mereka adalah The Oh dan Cin Koan. Melihat Lenghou Tiong benar-benar berada di situ, ketujuh orang itu sangat girang, ada yang memanggil “Lenghou-tayhiap”, ada yang memanggil “Lenghou-toako”, ada pula yang memanggil “Lenghou-kongcu”.

Tho-kan-sian tiba-tiba mengadang di tengah-tengah mereka dan berkata, “Mana uangnya? Ada uang ada barang! Tanpa seribu tahil perak takkan kuserahkan orangnya.”

“Keenam Tho-heng,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa, “sebenarnya bagaimana ada soal seribu tahil perak apa segala?”

“Di tengah jalan tadi mereka bertemu dengan kami,” tutur Tho-ki-sian. “Mereka tanya kepada kami apa melihat kau. Kukatakan sementara tidak. Tidak lama lagi tentu akan ketemu.”

“Paman ini bohong!” tiba-tiba Cin Koan menyela. “Tadi dia menjawab, ‘Lenghou Tiong punya kaki sendiri, saat ini mungkin dia berada di ujung langit, ke mana kami bisa menemukan dia?’”

“Tidak, tidak! Kami bisa meramalkan apa pun yang bakal terjadi, sebelumnya kami sudah tahu akan menemukan Lenghou-kongcu di sini!” bantah Tho-hoa-sian.

“Sudahlah, aku dapat menerka, tentunya para sumoay ini memang sedang mencari aku dan mereka minta kalian bantu mencarikan, lalu kalian membuka harga dengan upah seribu tahil perak, betul tidak?” sela Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Salah mereka sendiri tidak pandai tawar-menawar,” ujar Tho-kan-sian. “Mereka begitu royal, dimintai upah seribu tahil perak, tanpa menawar mereka terus terima baik asalkan Lenghou-tayhiap dapat diketemukan. Janji ini kan telah kalian terima?”

“Benar, memang kami telah berjanji akan menghadiahkan seribu tahil perak asalkan kalian dapat menemukan Lenghou-toako,” kata Gi-ho.

“Nah, sekarang bayar,” kata Tho-kok-lak-sian bersama sambil menjulurkan sebelah tangan masing-masing.

“Orang beragama seperti kami mana bisa membawa sekian banyak,” kata Gi-ho. “Silakan kalian berenam ikut ke Hing-san untuk menerimanya nanti.”

Sebenarnya Gi-ho menyangka keenam orang dogol itu mungkin sungkan ikut ke Hing-san yang jauh itu, tak terduga Tho-kok-lak-sian lantas menjawab, “Baik, kami akan ikut ke Hing-san untuk menerima pembayaran, jangan kalian utang lho!”

“Wah, selamatlah kalian telah tertimpa rezeki nomplok,” kata Lenghou Tiong.

“Ah, lumayanlah, terima kasih!” sahut Tho-kok-lak-sian.

Mendadak Gi-ho bertujuh sama menyembah kepada Lenghou Tiong dengan wajah sedih.

“He, kenapa kalian berbuat demikian?” tanya Lenghou Tiong terkejut dan membalas hormat.

“Tecu Gi-ho dan para sumoay menyampaikan sembah bakti kepada Ciangbunjin,” kata Gi-ho.

“O, jadi kalian sudah tahu? Silakan bangun untuk bicara,” kata Lenghou Tiong.

“Benar, bicara sambil berlutut begitu tentu tidak leluasa,” Tho-kin-sian menimbrung.

“Keenam Tho-heng,” kata Lenghou Tiong, “sekarang aku sudah termasuk orang Hing-san-pay, kami ada urusan yang mesti dirundingkan, maka kalian silakan minum arak di sebelah sana, kalian tidak boleh mengganggu jika kalian tidak mau kehilangan seribu tahil perak.”

Sebenarnya Tho-kok-lak-sian bermaksud mengoceh lagi, tapi demi mendengar kata-kata terakhir itu, mereka lantas bungkam dan terpaksa menyingkir ke meja di pojok sana buat makan-minum sendiri.

Setelah Gi-ho bertujuh bangun, demi teringat kepada kematian Ting-sian dan Ting-yat Suthay, kembali mereka menangis sedih.

“Eh, aneh, bicara baik-baik begitu kenapa mendadak menangis?” tiba-tiba Tho-hoa-sian mengoceh.

Tapi ketika Lenghou Tiong mendelik padanya, Tho-hoa-sian menjadi ketakutan dan lekas-lekas mendekap mulutnya sendiri.

“Tempo hari waktu Lenghou-toako… O, Ciangbunjin, mendarat dan tidak kembali ke kapal lagi, kemudian datang Bok-susiok dari Heng-san-pay memberi tahu kepada kami bahwa Ciangbunjin telah pergi ke Siau-lim-si untuk mencari Ting-sian dan Ting-yat Susiok. Setelah berunding, kami bermaksud ikut menyusul ke sana. Tak terduga di tengah jalan kami sudah ketemu belasan tokoh Kangouw yang membicarakan cara engkau menyerbu Siau-lim-si bersama para kesatria dan menduduki biara agung itu.

“Seorang tua pendek gemuk di antaranya mengaku she Lo, katanya Ting-sian Susiok berdua telah tewas di Siau-lim-si, sebelum wafat katanya Ciangbun-susiok telah minta engkau mewarisi kedudukan ciangbun kaum kita dan engkau sudah menerimanya dengan baik. Pesan demikian itu katanya telah didengar oleh orang banyak….” sampai di sini suara Gi-ho menjadi terputus-putus oleh karena tangisnya yang memilukan. Keenam sumoaynya juga ikut menangis sedih.

“Ya, waktu itu Ting-sian Suthay memang telah minta aku memikul tugas berat ini,” kata Lenghou Tiong. “Tapi mengingat aku adalah seorang lelaki, namaku juga tidak baik, semua orang tahu aku adalah pemuda berandalan, mana pantas untuk menjadi ketua Hing-san-pay? Cuma keadaan pada waktu itu memang sangat mendesak, jika aku tidak menerima, tentu mati pun Ting-sian Suthay tidak tenteram hatinya. Ai, aku menjadi serbasusah.”

“Tapi… tapi kami semuanya sangat mengharapkan engkau mengetuai Hing-san-pay kita,” kata Gi-ho.

“Ciangbun-suheng,” sela The Oh, “engkau pernah memimpin kami dalam pertempuran, tidak cuma satu kali saja engkau telah menyelamatkan kami. Setiap murid Hing-san-pay cukup kenal engkau sebagai seorang kesatria dan laki-laki sejati. Meski engkau adalah orang lelaki, tapi di dalam peraturan perguruan kita toh tidak pernah melarang diketuai oleh kaum lelaki.”

Gi-bun, seorang nikoh setengah tua juga ikut bicara, “Kami menjadi sangat sedih ketika mendengar wafatnya kedua susiok, tapi demi mengetahui engkau yang bakal menjabat ciangbunjin kita sehingga Hing-san-pay tidak sampai musnah begitu saja, hati kami menjadi lega dan sangat terhibur.”

“Suhuku telah dicelakai orang, kedua susiok juga telah tewas di tangan musuh,” demikian Gi-ho menyambung, “dalam waktu beberapa bulan saja tiga tokoh utama Hing-san-pay dari angkatan ‘Ting’ telah wafat susul-menyusul, tapi siapa pembunuhnya sama sekali tidak diketahui. Ciangbun-suheng, sungguh sangat tepat jika engkau menjabat ciangbunjin kita, selain engkau rasanya sukarlah untuk menuntut balas bagi ketiga orang tua kita.”

“Benar,” sahut Lenghou Tiong sambil mengangguk. “Tugas berat menuntut balas bagi ketiga losuthay adalah di atas bahuku.”

Lalu The Oh bicara lagi, “Setelah mendengar berita duka wafatnya kedua susiok, segera kami menuju Siau-lim-si. Tapi di tengah jalan ketemu Bok-taysusiok lagi, katanya engkau sudah meninggalkan Siau-sit-san, kami dianjurkan lekas mencari jejakmu.”

“Bok-taysusiok mengatakan makin cepat menemukan engkau akan makin baik,” sambung Cin Koan. “Kata beliau, terlambat sedikit menemukan engkau mungkin sekali engkau sudah dibujuk orang masuk Mo-kau. Padahal antara cing-pay dan sia-pay jelas tidak bisa hidup berdampingan, Hing-san-pay akan kehilangan seorang ciangbunjin pula.”

“Cin-sumoay memang suka bicara tanpa pikir, masakah Ciangbun-suheng sudi masuk Mo-kau secara begitu mudah?” ujar The Oh.

“Ya, tapi memang begitulah kata Bok-taysusiok,” sahut Cin Koan.

Dalam hati Lenghou Tiong mengakui akan kebenaran perhitungan Bok-susiok itu, apa yang sudah terjadi memang benar hampir saja ia masuk Tiau-yang-sin-kau. Waktu itu kalau Yim-kaucu tidak memancingnya dengan alasan akan mengajarkan kunci lwekang padanya, tapi membujuknya dengan hati tulus, karena merasa utang budi dan juga mengingat kebaikan Ing-ing, bukan mustahil dirinya akan terima dengan baik ajakannya dan akan masuk ke Mo-kau bila urusan Hing-san-pay sudah diselesaikan.

“O, dengan demikian maka kalian lantas menyediakan seribu tahil perak sebagai upah kepada siapa saja yang bisa membekuk Lenghou Tiong?” katanya kemudian.

“Membekuk Lenghou Tiong? Masakah kami berani berbuat demikian?” kata Cin Koan dengan tertawa meski air matanya masih meleleh di pipinya.

“Setelah mendengar pesan Bok-taysusiok waktu itu kami lantas membagi setiap tujuh orang menjadi satu kelompok untuk mencari Ciangbun-suheng,” sambung The Oh. “Untunglah tadi kami telah bertemu dengan Tho-kok-lak-sian, mereka membuka harga seribu tahil perak bagi dirimu. Padahal jangankan cuma seribu tahil, sekalipun sepuluh ribu tahil perak juga akan kami beri asalkan Ciangbun-suheng dapat diketemukan.”

“Sebagai ketua kalian, rasanya aku tidak bisa memberi manfaat apa-apa bagi kalian, hanya tentang minta sedekah kepada golongan hartawan kikir dan pembesar korup rasanya banyak yang bisa kuajarkan kepada kalian,” ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum.

Ketujuh murid Hing-san-pay menjadi tersenyum geli karena teringat kepada kejadian di Hokkian tempo hari, di sana mereka telah diajari cara bagaimana minta sedekah kepada Pek-pak-bwe, itu hartawan kikir yang terkenal.

Lalu Lenghou Tiong berkata pula, “Baiklah, kalian jangan khawatir lagi. Sekali Lenghou Tiong sudah berjanji kepada Ting-sian Suthay pasti takkan mungkir janji. Ketua Hing-san-pay sudah pasti akan kujabat. Setelah kita makan kenyang segera kita berangkat ke Hing-san.”

Di waktu makan Lenghou Tiong bersatu meja bersama Tho-kok-lak-sian. Ia pun tanya keenam orang itu guna apa seribu tahil perak yang mereka minta itu.

“Soalnya Ya-niau-cu (Si Kucing Malam) Keh Bu-si terlalu miskin dan akan bangkrut, dia telah bertaruh seribu tahil perak dengan kami….”

Belum habis Tho-kan-sian bicara, Tho-hoa-sian lantas memotong, “Mana bisa Si Kucing Malam itu menang taruhan dengan kami.”

Dalam hati Lenghou Tiong pikir yang kalah tentunya kalian maka ia pun bertanya, “Taruhan tentang apa?”

“Yang dipertaruhkan ada sangkut pautnya dengan dirimu,” tutur Tho-kin-sian. “Kami menduga kau pasti tidak mau menjadi ketua Hing-san-pay, tapi….”

“Si Kucing Malam yang menduga kau tidak sudi menjadi ketua Hing-san-pay,” sela Tho-sit-sian, “sebaliknya kami bilang seorang laki-laki harus bisa pegang janji. Kau telah berjanji kepada nikoh tua itu untuk menjadi ketua Hing-san-pay, hal ini telah didengar setiap kesatria di jagat ini, mana bisa lagi orang mungkir janji.”

“Menurut Si Kucing Malam, katanya engkau sudah biasa bertualang, tidak lama lagi tentu akan kawin dengan Seng-koh dari Mo-kau, mana mau kasak-kusuk dengan kaum nikoh lagi,” sambung Tho-ki-sian.

Lenghou Tiong tahu Keh Bu-si sangat hormat kepada Ing-ing, tidak mungkin dia berani menyebut “Mo-kau” segala, tentu Tho-kok-lak-sian telah memutar balik persoalannya. Maka ia tanya pula, “Dan kalian lantas bertaruh seribu tahil perak?”

“Benar,” sahut Tho-kin-sian. “Dan pada pagi tadi kami lantas ketemu nikoh-nikoh yang sedang mencari engkau itu, katanya engkau akan dipapak untuk menjabat ketua Hing-san-pay mereka maka jelaslah kami akan menangkan taruhan seribu tahil perak.”

“Dan kalian kasihan kepada Si Kucing Malam yang miskin itu, maka kalian berusaha mendapatkan seribu tahil perak untuk dia agar dia bisa bayar kekalahannya kepadamu?” kata Lenghou Tiong.

“Tepat, dugaanmu benar-benar sangat tepat,” seru Tho-hoa-sian.

“Sama pandainya seperti aku menduga sesuatu,” sambung Tho-sit-sian.

Lenghou Tiong tidak menggubrisnya lagi. Habis makan rombongan mereka lantas berangkat ke Hing-san.

Suatu hari sampailah mereka di kaki Hing-san. Rupanya anak murid Hing-san-pay sudah menerima berita lebih dulu dan beramai-ramai sudah memapak kedatangan mereka. Begitu melihat Lenghou Tiong, segera berlutut memberi hormat dan cepat dibalas oleh Lenghou Tiong. Semuanya merasa berduka ketika bicara tentang wafatnya Ting-sian dan Ting-yat Suthay.

Lenghou Tiong melihat Gi-lim berada di antara para murid itu dengan wajah pucat dan agak kurus daripada dulu. Segera ia bertanya, “Gi-lim Sumoay, apakah akhir-akhir ini kau kurang sehat?”

“Ya, baik-baik saja,” sahut Gi-lim dengan mata basah.

Begitulah beramai-ramai mereka lantas menuju ke atas Hing-san.

Kediaman kaum Hing-san-pay itu ternyata sangat sederhana. Induk biaranya cuma sebuah biara kecil saja dan disebut Bu-sik-am, di sekeliling biara itu ada 20-30 buah rumah genting yang merupakan tempat tinggal para murid. Seperti si cebol ketemu raksasa bila Bu-sik-am ini dibandingkan dengan Siau-lim-si yang megah itu.

Masuk ke dalam biara itu, Lenghou Tiong melihat yang dipuja adalah Dewi Koan-im berjubah putih, ruangan terawat sangat bersih dengan serbasederhana. Lebih dulu Lenghou Tiong sembahyang di depan patung Dewi Koan-im, lalu Ih-soh bertindak sebagai penunjuk membawanya ke kamar yang biasa dipakai Ting-sian Suthay untuk semadi, keadaan kamar itu pun bersih tanpa sesuatu pajangan, hanya sebuah kasuran bundar kecil terletak di lantai, di sisinya sebuah bok-hi (kentungan kecil berbentuk ikan) yang sudah tua, selain itu tiada benda lain lagi.

Watak Lenghou Tiong suka bergerak dan biasa hidup di tempat ramai, dia gemar minum arak pula, mana bisa disuruh hidup di tempat sesunyi ini? Katanya kemudian kepada Ih-soh, “Meski aku menjabat ketua di sini, tapi aku tidak menjadi nikoh, juga para suci dan sumoay di sini adalah kaum wanita semua, hanya aku saja seorang lelaki, tentu aku menjadi rikuh. Maka sebaiknya kau sediakan sebuah rumah yang agak berjauhan dari sini, biarlah aku tinggal di sana bersama Tho-kok-lak-sian.”

Ih-soh mengiakan, katanya, “Di sebelah barat sana ada empat buah rumah yang biasa digunakan sebagai tempat tamu. Kalau Ciangbunjin setuju bolehlah sementara tinggal di sana saja. Lain hari kita dapat membangun rumah kediaman baru bagi Ciangbunjin.”

“Bagus sekali tempat itu, buat apa bangun rumah baru segala?” ujar Lenghou Tiong. Ia pikir memangnya aku mau menjadi ciangbunjin di sini selama hidup? Asalkan nanti sudah ada calon ketua yang tepat kan dapat kuserahkan kedudukan ini kepadanya dan aku akan kembali hidup berkelana secara bebas gembira di dunia Kangouw.

Rumah tamu yang dimaksud itu ternyata tiada ubahnya seperti rumah kaum petani kaya dengan perlengkapan meja kursi, tempat tidur dengan kasur, walaupun kasar juga, tapi sudah lebih mendingan daripada kamar kediaman Ting-sian Suthay yang kosong itu.

“Eh, ke mana perginya Tho-kok-lak-sian?” tanya Lenghou Tiong.

“Sedang minum arak di rumah belakang,” sahut Ih-soh.

“He, di sini tersedia arak?” tanya Lenghou Tiong dengan girang.

“Tidak cuma arak saja, bahkan arak pilihan,” ujar Ih-soh. “Ketika Gi-lim Sumoay mengetahui Ciangbunjin akan tiba, dia bilang padaku kalau tiada disediakan arak enak, mungkin jabatan ketuamu ini takkan lama dipangku, maka malam-malam kami kirim orang turun gunung untuk membeli belasan guci arak enak sebagai persediaan.”

Lenghou Tiong merasa tidak enak, katanya, “Ai, hidup kaum kita biasanya sangat sederhana, tapi untuk diriku seorang mesti membuang biaya sebanyak ini, sebenarnya tidak perlu.”

“Ciangbunjin jangan khawatir,” sela Gi-jing. “Uang sedekah yang diperoleh dari Pek-pak-bwe dahulu masih sisa cukup banyak, untuk uang minum Ciangbunjin rasanya masih cukup untuk sepuluh tahun lamanya.”

Begitulah malamnya Lenghou Tiong lantas minum sepuas-puasnya bersama Tho-kok-lak-sian. Besok paginya dia berunding dengan Gi-jing, Ih-soh, dan lain-lain tentang cara bagaimana memulangkan abu tulang Ting-sian dan Ting-yat Suthay serta cara menuntut balas bagi kematian ketiga suthay tua itu.

Gi-jing berkata, “Ciangbun-suheng menjadi ketua baru, hal ini harus diumumkan kepada sesama teman dunia persilatan, juga mesti kirim utusan untuk memberitahukan Co-supek selaku Bengcu Ngo-gak-kiam-pay.”

“Huh, justru keparat-keparat Ko-san-pay itulah yang mencelakai suhu dan susiok kita, buat apa kita memberitahukan mereka apa segala?” dengus Gi-ho dengan gusar.

“Kita tak boleh mengabaikan adat istiadat,” ujar Gi-jing. “Bila kelak kita sudah selidiki dengan jelas, kalau memang betul ketiga guru kita dicelakai oleh pihak Ko-san-pay, tatkala mana beramai-ramai kita di bawah Ciangbun-suheng pasti akan membikin perhitungan dengan mereka.”

“Ucapan Gi-jing Suci memang benar,” kata Lenghou Tiong. “Cuma jabatan ketua ini, terang sudah jadi kujabat, buat apa pakai tata adat segala?”

Ia masih ingat ketika dahulu gurunya menjabat ketua Hoa-san-pay, upacara yang diselenggarakan sungguh sangat ramai, kawan-kawan bu-lim yang datang memberi selamat juga tak terhitung banyaknya. Ia pun teringat kepada peristiwa Lau Cing-hong dari Heng-san-pay ketika mengadakan upacara mengundurkan diri, waktu itu Kota Heng-san juga berjubel dengan orang-orang bu-lim. Sekarang dirinya diangkat menjadi ketua Hing-san-pay, kalau yang datang memberi selamat hanya sedikit akan berarti kehilangan muka, sebaliknya kalau pengunjung teramat banyak, tentunya akan menertawakan pula melihat seorang laki-laki diangkat menjadi ketua kaum nikoh.

Rupanya Gi-jing paham perasaan Lenghou Tiong, katanya kemudian, “Kalau Ciangbun-suheng sungkan mengundang teman-teman dunia persilatan, maka tidak perlu kita mengundang para peninjau upacara. Namun kita harus juga menetapkan suatu hari resmi pengangkatanmu sebagai ciangbunjin dan dipermaklumkan kepada semua pihak.”

Lenghou Tiong pikir Hing-san-pay adalah satu di antara Ngo-gak-kiam-pay, kalau upacara pengangkatan ketua baru dilaksanakan dengan terlalu sederhana rasanya akan merugikan pamor Hing-san-pay sendiri maka ia terima baik saran Gi-jing itu. Hanya dia minta agar Gi-jing memilih suatu hari baik dalam waktu tidak lama lagi.

Gi-jing mengambil buku primbon untuk memilih hari baik, setelah diteliti, akhirnya ia mengajukan hari tanggal 16 bulan dua. Lenghou Tiong pikir makin singkat waktunya tentu makin sedikit pengunjung-pengunjung yang sempat datang. Maka ia terima baik penetapan hari itu. Segera beberapa murid ditugaskan pergi ke Siau-lim-si untuk menjemput abu tulang kedua suthay, berbareng menyampaikan surat edaran.

Kepada murid-murid yang diutus itu dia beri pesan agar tidak menyiarkan urusannya secara berlebihan, kepada para ciangbunjin dari berbagai golongan dan aliran yang diberi tahu itu agar dikatakan bahwa sakit hati tewasnya kedua suthay belum terbalas, dalam keadaan berkabung, maka pengangkatan ketua baru tidak dilakukan upacara apa-apa, maka para ciangbunjin itu tidak perlu mengirim peninjau dan sebagainya.

Setelah mengirimkan para murid itu, Lenghou Tiong berpikir pula, “Sebagai ketua Hing-san-pay, seharusnya aku memahami ilmu pedang Hing-san-pay dengan lebih baik.”

Maka anak murid Hing-san-pay lantas dikumpulkan dan suruh setiap orang memainkan ilmu pedang yang telah dipelajari mereka. Dari ilmu pedang anak murid itu Lenghou Tiong dapat menarik kesimpulan bahwa ilmu pedang Hing-san-pay memang bagus, tapi lebih mengutamakan bertahan hanya pada saat-saat tak terduga mendadak melancarkan serangan maut.

Sejak mempelajari Tokko-kiu-kiam, Lenghou Tiong dapat mengetahui titik kelemahan pada jurus serangan musuh mana pun juga. Maka menurut pandangannya Hing-san-kiam-hoat boleh dikata ilmu pedang yang mempunyai kelemahan yang sangat sedikit. Kalau bicara kekuatan bertahan hanya di bawah Thay-kek-kiam-hoat Bu-tong-pay saja, pada serangan maut pada waktu tertentu secara mendadak sebaliknya lebih bagus daripada Thay-kek-kiam-hoat.

Teringat olehnya pada dinding gua di puncak Hoa-san dahulu itu ada sejurus Hing-san-kiam-hoat yang sangat bagus dan jauh lebih lihai daripada ilmu pedang yang diperlihatkan Gi-jing dan kawan-kawannya sekarang. Walaupun begitu toh Hing-san-kiam-hoat bagus itu telah dibobolkan juga oleh lawan menurut ukiran di dinding gua itu. Maka untuk perkembangan Hing-san-pay di masa mendatang rasanya perlu perbaikan dasar-dasar ilmu pedangnya yang lebih kuat.

Ia jadi teringat lagi kepada ilmu pedang yang pernah dilihatnya dari Ting-sian, Ting-cing, dan Ting-yat Suthay yang jauh lebih bagus dari Gi-jing dan lain-lain, tampaknya kepandaian ketiga suthay tua itu masih ada sebagian besar belum diajarkan kepada anak muridnya. Sekarang ketiga suthay itu telah tewas berturut-turut dalam waktu beberapa bulan saja, terang macam-macam ilmu silatnya yang bagus itu akan lenyap juga.

Melihat Lenghou Tiong termenung-menung tak bicara, berkatalah Gi-ho, “Ciangbun-suheng, kepandaian kami tentu saja masih sangat hijau, maka diharapkan petunjuk-petunjukmu yang berharga.”

“Ada suatu jurus Hing-san-kiam-hoat, entah ketiga suthay tua pernah mengajarkan kepada kalian atau belum?” kata Lenghou Tiong. Lalu ia pinjam pedang Gi-ho serta memainkan ilmu pedang Hing-san-pay yang pernah dilihatnya pada dinding gua dahulu itu.

Ia mainkan pedangnya dengan sangat lambat agar dapat diikuti dengan jelas oleh para murid. Hanya beberapa gerakan saja para murid itu sudah sama bersorak memuji. Ternyata setiap gerakannya selalu meliputi inti kekuatan ilmu pedang yang hebat dengan perubahan-perubahan yang aneh, entah betapa lebih hebat daripada ilmu pedang yang telah mereka pelajari. Sungguh ilmu pedang yang baru dan hebat ini membikin semangat mereka terbangkit dan merasa bangga. Selesai Lenghou Tiong memainkan ilmu pedangnya, serentak para murid menyembah ke hadapannya dengan penuh kekaguman.

Gi-ho berkata, “Ciangbun-suheng, jelas ilmu pedang ini adalah Hing-san-kiam-hoat kita, mengapa selamanya kami belum pernah melihatnya, entah dari mana engkau mempelajarinya?”

“Aku melihatnya pada ukiran yang berada di suatu gua,” sahut Lenghou Tiong. “Jika kalian ingin belajar bolehlah kuajarkan kepada kalian.”

Para murid sangat girang, beramai mereka mengucapkan terima kasih.

Seharian itu Lenghou Tiong lantas mengajarkan tiga jurus kepada mereka dengan memberikan penjelasan di mana letak kehebatan ketiga jurus itu, lalu para murid disuruh berlatih sendiri.

Meski cuma 3 jurus permulaan ilmu pedang itu, namun cukup luas dan dalam untuk dipahami, sekalipun murid-murid terpandai seperti Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain juga memakan waktu lima-enam hari untuk memahaminya, apalagi murid-murid muda seperti The Oh, Cin Koan, dan lain-lain, mereka perlu beberapa hari lebih lama.

Sampai hari kesepuluh, kembali Lenghou Tiong mengajarkan dua jurus pula. Begitulah meski ilmu pedang itu hanya terdiri dari beberapa jurus saja, tapi diperlukan waktu hampir sebulan barulah anak murid Hing-san-pay itu dapat mempelajarinya dengan baik.

Selama sebulan itu utusan-utusan yang dikirim pergi itu berturut-turut sudah pulang, semuanya memperlihatkan muka yang suram, waktu lapor kepada Lenghou Tiong juga tergagap-gagap bicaranya. Namun Lenghou Tiong juga tidak tanya secara mendalam. Ia tahu anak murid itu tentu telah banyak mendapat cemooh dan ejekan, misalnya mengolok-olok kaum nikoh muda sekarang mengangkat seorang laki-laki muda sebagai ketua dan macam-macam lagi. Tapi Lenghou Tiong telah menghibur mereka dengan kata-kata halus dan suruh mereka belajar ilmu pedang baru kepada teman-teman yang lain, kalau kurang jelas boleh tanya langsung padanya.

Utusan yang dikirim ke Hoa-san adalah Ih-soh dan Gi-bun yang cukup berpengalaman. Jarak Hoa-san dan Hing-san tidak terlalu jauh, seharusnya mereka dapat pulang lebih dulu daripada utusan yang lain, tapi sekarang utusan-utusan lain sudah pulang, sebaliknya Ih-soh dan Gi-bun malah belum kembali. Sementara itu tanggal 16 bulan dua sudah makin mendekat dan Ih-soh serta Gi-bun tetap tidak tampak pulang, Lenghou Tiong lantas kirim lagi dua murid yang lain, Gi-kong dan Gi-beng, untuk menyusul ke Hoa-san.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bioetanol)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: