Hina Kelana: Bab 100. Isi Hati Ketua Hoa-san-pay

“Demi kebaikan Anak Sian? Padahal Peng-ci adalah yang baik dan sopan, apanya yang kurang baik?”

“Meski Peng-ci sangat giat belajar, tapi kalau dibandingkan Lenghou Tiong adalah seperti langit dan bumi, biarpun dia naik kuda selama hidup ini juga sukar menyusulnya.”

“Apakah ilmu silatnya tinggi mesti suami yang baik? Aku sih mengharapkan Tiong-ji bisa kembali ke jalan yang baik dan masuk kembali ke perguruan kita. Tapi dia suka yang baru dan bosan yang lama, dia gemar minum (arak) dan tingkah lakunya kurang baik, betapa pun kebahagiaan Anak Sian tidak boleh dikorbankan.”

Mendengar ucapan sang ibu-guru itu, seketika Lenghou Tiong berkeringat dingin. Pikirnya, “Penilaian Sunio atas diriku memang tepat. Tapi… tapi bila aku dapat memperistrikan siausumoay, masakah aku bisa mengecewakan dia? Tidak, sekali-kali tidak.”

Terdengar Gak Put-kun menghela napas dan berkata pula, “Tapi usahaku toh percuma saja, bangsat cilik itu sudah kejeblos terlalu mendalam dan sukar menginsafkan dia, apa yang kita bicarakan ini hanya sia-sia belaka. Sumoay, apakah kau masih marah padaku?”

Gak-hujin tidak menjawab. Selang sebentar kemudian baru berkata, “Apakah kakimu kesakitan?”

“Hanya luka luar saja, sebulan dua bulan saja tentu akan sembuh,” sahut Gak Put-kun. “Aku dikalahkan bangsat cilik itu, aku tidak punya muka buat bertemu dengan orang lagi. Marilah kita berangkat pulang ke Hoa-san saja.”

Terdengar Gak-hujin menghela napas, lalu suara derapan kaki kuda yang makin lama makin menjauh.

Seketika itu pikiran Lenghou Tiong menjadi kacau, ia merenungkan kembali percakapan kedua orang tua tadi sehingga lupa mengerahkan tenaga. Sekonyong-konyong arus hawa dingin menerjang tiba dari telapak tangan sehingga membuatnya menggigil, seluruh badan terasa kedinginan sampai merasuk tulang, lekas-lekas ia mengerahkan tenaga untuk menahan serangan hawa dingin itu. Saking tergesa-gesanya, tiba-tiba saluran tenaga di bagian bahu kiri terasa macet, terhalang dan tak bisa lancar. Ia menjadi gelisah dan mengerahkan tenaga terlebih kuat.

Ia tidak tahu bahwa jalannya tenaga dalam itu harus mengutamakan kewajaran, dia meyakinkan Gip-sing-tay-hoat berdasarkan apa yang terukir di papan besi itu, jadi belajar tanpa guru, tapi titik-titik penting yang terperinci sama sekali tidak mendapat petunjuk dari seorang guru yang mahir, maka caranya menjadi ngawur, semakin dia mengerahkan tenaga, semakin kaku dan macet. Mula-mula lengan kiri ikut kaku perlahan-lahan, menyusul rasa kaku menurun ke iga kiri, pinggang kiri, terus menurun lagi hingga paha kiri juga terasa kaku.

Keruan dia sangat cemas, segera ia bermaksud berteriak, “Tolong!”

Tapi begitu bermaksud pentang mulut, terasalah bibirnya juga sudah kaku dan sukar bergerak.

Pada saat itulah terdengar pula suara derapan kaki kuda, kembali ada dua penunggang kuda mendatangi. Terdengar suara seorang berkata, “Di sini banyak terdapat bekas-bekas tapak kuda, tentu ayah dan ibu tadi berhenti di sini.”

Itulah suaranya Gak Leng-sian. Keruan kejut dan girang pula hati Lenghou Tiong. Katanya di dalam hati, “Kenapa siausumoay datang juga ke sini?”

Lalu terdengar seorang lagi berkata, “Kaki Suhu terluka, jangan sampai beliau mengalami apa-apa lagi, lekas kita menyusul ke sana mengikuti jejak kuda.”

Jelas ini suaranya Lim Peng-ci.

Tiba-tiba Gak Leng-sian berseru, “He, Siau-lim-cu, coba lihat, bagus sekali keempat orang-orangan salju ini, satu sama lain bergandengan tangan.”

“Sekitar sini seperti tiada penduduk, kenapa ada orang main tumpuk orang-orangan salju di sini?” ujar Lim Peng-ci.

“Eh, maukah kita pun membangun dua orang-orangan salju?” ajak Leng-sian dengan tertawa.

“Bagus, kita membikin satu laki dan satu perempuan, keduanya juga tangan bergandeng tangan,” sahut Peng-ci.

Segera Leng-sian melompat turun dari kudanya, lalu mulai mengeruk salju dan ditimbun.

Tapi Peng-ci berkata pula, “Lebih baik kita menyusul Suhu dan Sunio saja. Nanti kalau sudah bertemu beliau-beliau barulah kita main orang-orangan salju.”

“Kau selalu melenyapkan kesenangan orang,” sahut Leng-sian. “Meski kaki ayah terluka, tapi dia menunggang kuda, apalagi didampingi ibu, masakah khawatir diganggu orang? Tatkala beliau berdua malang melintang di dunia Kangouw dahulu kau sendiri belum lahir.”

“Tapi sebelum kita ketemu Suhu dan Sunio, rasanya tidak tenteram untuk main-main di sini,” kata Peng-ci.

“Baiklah, aku menurut kau. Tapi sesudah bertemu ayah dan ibu nanti kau harus menemani aku membikin dua orang-orangan salju yang bagus.”

“Sudah tentu,” sahut Peng-ci.

Diam-diam Lenghou Tiong mengakui ketulusan dan kepolosan hati Lim Peng-ci dengan jawaban yang bersahaja itu. Coba kalau dirinya tentu akan menjawab, “Baiklah, akan kita bikin orang-orangan salju secantik kau.”

Terpikir pula olehnya jika dirinya yang diminta menemani sang sumoay untuk membikin orang-orangan salju, tentu tanpa menghiraukan urusan lain akan disetujuinya. Tapi siausumoay justru menuruti kemauan Lim-sute, sedikit pun tidak main manja, sama sekali berbeda seperti sikapnya padaku. Agaknya kesehatan Lim-sute sekarang sudah baik, entah siapakah yang telah melukainya tempo hari, tapi siausumoay telah menuduh diriku. Demikian pikirnya.

Lantaran memusatkan pikiran mendengarkan percakapan Leng-sian dan Peng-ci sehingga melupakan badan sendiri yang kaku tadi. Siapa tahu dengan demikian justru cocok dengan ajaran Gip-sing-tay-hoat yang mengharuskan pikiran tenang dan tidak gelisah. Dengan demikian rasa kaku kaki dan pinggangnya lambat laun menjadi berkurang.

Tiba-tiba terdengar Gak Leng-sian berseru, “Baiklah, tidak jadi membikin orang-orangan salju, tapi aku mau menulis beberapa huruf di atas orang salju ini.”

“Sret”, ia terus lolos pedangnya.

Kembali Lenghou Tiong terkejut dan khawatir, apa jadinya jika pedangnya menusuk dan menebas serabutan di atas badan kami berempat? Tapi sebelum dia sempat berpikir lagi, mendadak terdengar suara “srat-sret” berulang-ulang, Leng-sian telah mengukir beberapa tulisan di atas tubuh Hiang Bun-thian yang berlapis salju tebal itu. Ujung pedangnya masih terus menggeser dan akhirnya sampai di atas badan Lenghou Tiong. Untung ukirannya tidak terlalu dalam sehingga tidak sampai tembus dan melukai mereka.

“Entah tulisan apa yang dia ukir di atas badan kami?” demikian Lenghou Tiong membatin.

“Cobalah kau pun menulis beberapa huruf,” kata Leng-sian dengan suara lembut.

“Baik,” jawab Peng-ci. Ia sambut pedang si nona, lalu ikut mengukir beberapa huruf di atas keempat orang-orang salju. Ia pun mengukir dari kanan ke kiri, mulai dari badan Hiang Bun-thian dan berakhir pada badan Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong tambah heran, “Entah tulisan apa lagi yang diukir Lim-sute?”

Dalam pada itu terdengar Leng-sian sedang berkata, “Betul, kita berdua harus demikian adanya.”

Lalu mereka terdiam sampai agak lama.

Tentu saja Lenghou Tiong semakin heran, “Harus demikian apa? Biarlah nanti bila mereka sudah pergi dan racun dingin di tubuh Yim-kaucu sudah bersih dipunahkan baru aku dapat meronta keluar dari timbunan salju untuk melihat tulisan apa yang mereka ukir tadi. Tapi, ah tak bisa jadi. Begitu aku bergerak tentu timbunan salju akan rontok dan tak terlihatlah tulisan apa yang mereka ukir. Lebih-lebih kalau kami berempat bergerak sekaligus, tentu satu huruf pun tak bisa tahu lagi.”

Selang sejenak pula, terdengar dari jauh ada suara derapan kaki kuda yang ramai, meski jaraknya masih jauh, tapi jelas menuju ke sebelah sini. Rupanya Peng-ci dan Leng-sian masih belum dengar. Lenghou Tiong dapat menaksir dari derapan kaki kuda itu sedikitnya adalah belasan orang. Ia pikir besar kemungkinan adalah anak murid Hoa-san-pay yang menyusul tiba.

Makin mendekatlah suara lari kuda-kuda itu. Tapi Peng-ci dan Leng-sian agaknya masih tidak menaruh perhatian.

Lenghou Tiong mendengar belasan penunggang kuda itu datang dari arah timur laut, dari jarak satu-dua li mereka lantas memencarkan diri, ada sebagian menuju ke jurusan barat, kemudian membelok dan sama-sama menuju ke sini, jelas mereka telah mengurung jalan lari Peng-ci dan Leng-sian.

Mendadak terdengar Leng-sian berseru kaget, “He, ada orang datang!”

Menyusul terdengar suara mendesingnya dua anak panah, lalu suara kuda meringkik ngeri dan roboh.

Dalam hati Lenghou Tiong menduga ilmu silat pendatang-pendatang itu tidak lemah, tujuan mereka juga keji. Dari jauh lebih dulu mereka memanah mati kuda-kuda siausumoay dan Lim-sute agar mereka tak bisa lari jauh. Sejenak kemudian belasan orang itu sudah mendekat sambil bergelak tertawa.

Terdengar Leng-sian berseru khawatir sambil mundur selangkah. Lalu terdengar seorang di antara pendatang-pendatang itu bertanya, “Hehe, seorang adik cilik dan seorang genduk, kalian ini murid siapa dan dari aliran mana?”

“Cayhe murid Hoa-san-pay bernama Lim Peng-ci, suciku ini she Gak,” sahut Peng-ci dengan suara lantang. “Selamanya kita tidak saling kenal, mengapa tanpa sebab kuda kami dipanah mati?”

“Murid Hoa-san-pay?” orang itu menegas dengan tertawa. “Jadi guru kalian adalah Gak-siansing dengan julukan ‘Kun-cu-kiam’ segala dan telah kalah bertanding dengan bekas muridnya itu?”

Peng-ci lantas menjawab, “Kelakuan Lenghou Tiong tidak baik, berulang-ulang dia melanggar peraturan, maka setahun yang lalu dia sudah dipecat.”

Dia ingin mengatakan bahwa kekalahan bertanding sang guru kepada Lenghou Tiong itu dapat dianggap kalah kepada orang luar dan bukan muridnya lagi.

“Genduk cilik ini she Gak, pernah apanya Gak-tayciangbun?” tanya orang itu pula.

“Peduli apa dengan aku?” damprat Leng-sian dengan gusar. “Kau telah memanah mati kudaku, lekas ganti.”

“Wah, melihat kegalakannya ini, besar kemungkinan dia adalah gundik Gak Put-kun,” kata orang itu sambil cengar-cengir. Serentak belasan orang kawannya ikut tertawa gemuruh.

Mendengar kata-kata orang yang kasar itu, Lenghou Tiong membatin orang-orang itu pasti bukan dari kaum cing-pay dan mungkin sekali akan membahayakan siausumoay.

Dalam pada itu Peng-ci telah berkata, “Tuan adalah locianpwe dari Kangouw, kenapa bicara sekotor itu? Hendaklah tahu bahwa suciku adalah putri kesayangan guruku.”

“O, kiranya adalah putri Gak Put-kun, haha, sama sekali tidak cocok dengan kenyataannya,” ujar orang tadi dengan tertawa.

Seorang temannya lantas tanya, “Loh-toako, kenapa tidak cocok dengan kenyataan?”

“Pernah kudengar orang bercerita, katanya putri Gak Put-kun sangat cantik, terhitung nona paling ayu di antara angkatan muda, tapi nyatanya sekarang cuma begini saja,” sahut Loh-toako tadi.

“Wajah genduk ini memang biasa saja, tapi kulitnya putih, dagingnya halus. Kalau ditelanjangi mungkin boleh juga. Hahahahaha!” begitu belasan orang serentak tertawa riuh pula penuh maksud kotor.

Baik Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci maupun Lenghou Tiong menjadi gusar mendengar ucapan-ucapan tidak sopan itu. Peng-ci lantas cabut pedangnya dan berkata, “Jika kalian mengeluarkan kata-kata tidak senonoh lagi, biarpun mati juga akan kulayani kalian.”

“He, coba kalian lihat, dua sejoli cabul yang main patgulipat ini telah menulis apa di atas orang salju ini?” tiba-tiba seorang berseru.

Dikatakan “cabul”, Peng-ci tidak tahan lagi “sret”, pedangnya lantas menusuk. Maka terdengarlah suara ramai, ada dua orang telah melompat turun dari kudanya untuk melawan Peng-ci. Menyusul Leng-sian juga ikut menerjang maju. Berbareng beberapa laki-laki itu lantas berseru, “Biar aku yang melayani genduk ini!”

“Jangan ribut, jangan berebut, semuanya akan mendapat gilirannya,” ujar seorang dengan tertawa.

Lalu terdengar suara beradunya senjata, Leng-sian juga telah bertempur dengan musuh. Mendadak seorang laki-laki menggerung gusar karena rasa sakit, agaknya terluka oleh pedang Leng-sian.

Seorang laki-laki lain lantas berkata, “Ganas juga genduk ayu ini. Su-losam, akan kubalaskan sakit hatimu.”

Di tengah suara nyaring beradunya senjata terdengar Gak Leng-sian berseru, “Awas!”

Lalu terdengar suara “trang” yang keras disusul oleh suara Peng-ci yang tertahan. “Siau-lim-cu!” Leng-sian berseru pula, mungkin Peng-ci terluka.

Kemudian pemimpin rombongan pendatang itu berseru, “Jangan membunuh dia, tangkap saja hidup-hidup. Kalau putri dan menantu Gak Put-kun sudah kita bekuk masakah jantan palsu she Gak itu takkan tunduk kepada kita?”

Lenghou Tiong coba mendengarkan lagi dengan lebih cermat, terdengar suara menderu sambaran senjata, agaknya Gak Leng-sian memutar pedangnya dengan kencang. Mendadak terdengar suara “trang”, lalu suara “plak” lagi sekali. Seorang laki-laki lantas mencaci maki, “Kurang ajar, lonte cilik!”

Mendadak Lenghou Tiong merasa badannya disandari orang, lalu terdengar napas Gak Leng-sian yang tersengal-sengal, nyata nona itulah yang bersandar pada “orang salju”-nya itu. Setelah suara senjata beradu lagi beberapa kali, seorang laki-laki di antaranya lantas berseru girang, “Masakah kau tak bisa kubekuk!”

Terdengar Leng-sian berseru khawatir, lalu tidak terdengar lagi suara beradunya senjata, sebaliknya orang-orang itu sama bergelak tertawa.

Lenghou Tiong merasa Leng-sian yang bersandar pada tubuhnya itu diseret pergi dan terdengar nona itu berteriak, “Lepaskan aku, lepaskan!”

Seorang di antaranya berkata dengan tertawa, “Bun-lotoa, tadi kau bilang dia berkulit putih dan berdaging halus, aku justru tidak percaya. Marilah kita belejeti pakaiannya, coba lihat betul tidak dugaanmu.”

Semua orang lantas bersorak gembira setuju. Peng-ci memaki dengan gusar, “Kawanan bangsat….” mendadak “plak”, ia telah ditendang sekali, lalu terdengar suara “bret” suara kain robek.

Dengan jelas Lenghou Tiong mendengar siausumoaynya hendak ditelanjangi orang, mana dia bisa tahan lagi. Tanpa hiraukan keadaan Yim Ngo-heng, segera ia melepaskan tangan Ing-ing yang dipegangnya itu terus melompat keluar dari timbunan salju. Tangan kanan dipakai mencabut pedang, tangan kiri lantas digunakan mengupas salju yang masih menutupi matanya.

Tak terduga tangan kiri itu ternyata tidak mau menurut perintah, sukar bergerak. Di tengah suara teriak kaget rombongan orang tadi, Lenghou Tiong sempat menggunakan pangkal lengan kanan untuk mengusap mukanya, pandangannya menjadi terang, pedang lantas menusuk ke depan, sekaligus tiga laki-laki itu kena dirobohkan.

Cepat Lenghou Tiong memutar tubuh, “sret-sret” dua kali, kembali dua orang dibinasakan lagi. Dilihatnya seorang laki-laki sedang menelikung kedua tangan Gak Leng-sian, seorang lagi dengan golok terhunus siap melawannya. Ia menerjang maju, pedang menusuk iga laki-laki bergolok itu hingga tembus, sekali depak ia singkirkan mayat lawan sambil mencabut pedang dari mayat itu. Dalam pada itu ada suara orang menyergapnya dari belakang. Tanpa menoleh pedangnya menyabet ke belakang, kontan dua orang jatuh terkapar. Tanpa berhenti ia terus menubruk maju, pedang berkelebat, kontan tenggorokan orang yang menelikung tangan Gak Leng-sian itu tertembus.

Pegangan orang itu atas Leng-sian menjadi kendur dan terkapar di atas pundak nona itu, darah segar membanjir keluar dari lehernya. Keruan seluruh badan Leng-sian basah kuyup oleh darah.

Sekaligus Lenghou Tiong membunuh sembilan orang dalam waktu sekejap, sisanya masih delapan orang menjadi kesima ketakutan. Mendadak pemimpin rombongan itu menjerit terus mendahului menerjang maju sambil memutar senjatanya berbentuk perisai dan mengepruk ke atas kepala Lenghou Tiong.

Tapi cepat luar biasanya Lenghou Tiong mendahului menusuk sehingga tepat mengenai muka orang itu. Kontan orang itu menjerit dan roboh terguling. Tidak berhenti sampai di situ saja, kembali Lenghou Tiong menebas dan menusuk berulang-ulang, tiga orang kena dibunuh lagi.

Sisa empat orang yang lain menjadi ketakutan setengah mati, mereka menjerit dan lari terpencar.

“Kalian berani kurang ajar terhadap siausumoayku, satu pun tidak boleh diampuni,” seru Lenghou Tiong sambil memburu maju. “Sret-sret” dua kali, kembali dua orang tertebas putus kepalanya.

Tinggal dua orang lagi lari ke dua jurusan, Lenghou Tiong mengincar satu di antaranya, sekuatnya ia menimpukkan pedangnya, satu jalur sinar perak meluncur secepat kilat dan tepat menembus punggung orang sedang lari itu sehingga terpantek di atas tanah. Habis itu Lenghou Tiong lantas mengejar ke jurusan lain, kira-kira puluhan meter jauhnya orang terakhir itu pun sudah tersusul.

Rupanya orang itu menjadi nekat, mendadak ia memutar tubuh terus membacok dengan goloknya. Baru sekarang Lenghou Tiong ingat dia sudah tidak bersenjata lagi. Cepat melompat mundur. Orang itu menubruk maju dan membabat dengan goloknya, kembali Lenghou Tiong mengelak dan melompat mundur lagi dan begitu seterusnya orang itu menyerang terlebih kalap dan berulang-ulang Lenghou Tiong terdesak mundur.

Tiba-tiba Gak Leng-sian berseru di belakangnya, “Pakailah pedangku ini, Toasuko!”

Waktu Lenghou Tiong menoleh, Leng-sian sudah melemparkan pedang ke arahnya, cepat Lenghou Tiong menangkap senjata itu terus memutar balik sambil bergelak tertawa. Saat itu lawannya sedang angkat goloknya hendak membacok, tapi ia menjadi kesima ketika sinar pedang Lenghou Tiong berkelebat, seketika ia terpaku ketakutan malah.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong melangkah maju, laki-laki menjadi gemetar, memegang senjata saja tidak kuat lagi, goloknya jatuh ke tanah. Tanpa terasa ia pun berlutut.

“Kau harus mampus untuk menebus dosamu,” kata Lenghou Tiong sambil menyodorkan ujung pedang ke leher orang. Tiba-tiba pikirannya tergerak, tanyanya perlahan, “Tulisan apa yang terdapat di atas orang-orang salju tadi?”

“Tulisannya berbunyi, ‘Laut kering gunung runtuh, cinta kita tetap teguh’,” tutur orang itu dengan suara gemetar.

“O, begitu bunyinya?” Lenghou Tiong menggumam kesima. Akhirnya ia dorong juga ujung pedangnya menembus tenggorokan orang itu.

Waktu ia berpaling kembali, dilihatnya Gak Leng-sian sedang membangunkan Lim Peng-ci. Badan kedua muda-mudi itu sama-sama mandi darah.

Setelah berdiri Peng-ci lantas memberi soja kepada Lenghou Tiong, katanya, “Banyak terima kasih atas pertolongan Lenghou-heng.”

“Tidak jadi soal,” sahut Lenghou Tiong. “Apa lukamu parah?”

“Tidak apa-apa,” sahut Peng-ci.

“Suhu dan Sunio menuju ke sana,” kata Lenghou Tiong sambil menunjuk bekas tapak kuda.

Sementara itu Leng-sian telah mendapatkan dua ekor kuda milik orang-orang tadi, ia mendahului mencemplak ke atas kuda dan berkata, “Marilah kita menyusul ayah dan ibu.”

Dengan susah payah Peng-ci menaiki kudanya. Ketika Leng-sian melarikan kudanya lewat samping Lenghou Tiong, tiba-tiba ia menahan kudanya dan memandang ke mukanya.

Perlahan Lenghou Tiong mengangkat kepalanya, melihat si nona menatap, ia pun balas memandang.

“Aku… aku ber….” Leng-sian tidak dapat melanjutkan kata-katanya, segera ia berpaling kembali dan melarikan kudanya ke jurusan Gak Put-kun tadi.

Termangu-mangu Lenghou Tiong mengikuti kepergian Peng-ci dan Leng-sian, sampai bayangan mereka sudah menghilang di balik rimba sana barulah ia menoleh ke arah Yim Ngo-heng bertiga, dilihatnya mereka sudah membersihkan salju yang menempel di atas badan dan sedang memandang tajam arahnya.

“He, Yim-kaucu, aku… aku tidak bikin susah padamu?” seru Lenghou Tiong girang.

“Kau tidak bikin susah padaku, tapi kau sendiri yang konyol. Bagaimana lengan kirimu?” sahut Yim Ngo-heng.

“Untuk sementara terasa kaku, agaknya jalan darah kurang lancar sehingga tangan tidak mau menurut perintah,” kata Lenghou Tiong.

“Urusan ini rada sulit, biarlah kita mencari akal nanti,” ujar Yim Ngo-heng. “Barusan kau telah menyelamatkan putri Gak Put-kun, maka anggaplah kau telah membalas budi kebaikan perguruanmu, selanjutnya siapa pun tidak utang budi lagi. Eh, Hiang-hiante, mengapa Loh-losam makin lama makin tidak senonoh, sampai-sampai perbuatan kotor begini juga dilakukannya?”

“Dari nadanya dapat kuduga mereka seperti ingin membekuk kedua muda-mudi itu,” kata Hiang Bun-thian.

“Apa mungkin mereka melaksanakan perintah Tonghong Put-pay? Ada urusan apa lagi dia dan Gak Put-kun?” ujar Ngo-heng.

“Apakah orang-orang ini adalah anak buah Tonghong Put-pay?” tanya Lenghou Tiong sambil menunjuk mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar situ.

“Anak buahku,” sahut Yim Ngo-heng.

Lenghou Tiong manggut-manggut dan membatin, “Ya, kedudukan Tonghong Put-pay sebagai ketua Tiau-yang-sin-kau adalah direbutnya dari Yim-kaucu, sudah tentu orang-orang ini tak bisa dianggap anak buahnya.”

Dalam pada itu Ing-ing telah bertanya, “Bagaimana dengan lengannya, Ayah?”

“Jangan khawatir anak manis,” sahut Yim Ngo-heng. “Anak mantu telah bantu mertua memunahkan racun dinginnya, sudah tentu bapak mertua akan berdaya menyembuhkan lengannya.”

Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak.

“Lenghou-hiante,” kata Hiang Bun-thian, “keadaan tadi sungguh sangat berbahaya, kalau kau tidak datang menolong tepat waktunya tentu akibatnya akan runyam.”

Yim Ngo-heng telah menatap tajam Lenghou Tiong sehingga pemuda itu merasa kikuk.

“Jangan kau bicara begitu, Ayah,” tiba-tiba Ing-ing berkata. “Engkoh Tiong dibesarkan bersama Gak-siocia dari Hoa-san-pay itu, masakah engkau tidak melihat bagaimana sikap Engkoh Tiong terhadap Gak-siocia tadi?”

“Hm, manusia apa Gak Put-kun itu? Masakah anak perempuannya dapat dibandingkan dengan putriku?” ujar Yim Ngo-heng dengan tertawa. “Lagi pula nona Gak itu pun sudah punya tunangan, perempuan yang gampang berubah hatinya seperti dia masakah bisa dipercaya, selanjutnya Tiong-ji tentu akan melupakan dia.”

“Demi diriku Engkoh Tiong telah mengacaukan Siau-lim yang termasyhur di seluruh jagat, demi diriku pula dia tidak mau kembali lagi ke dalam Hoa-san-pay, melulu kedua hal ini saja sudah membikin hatiku senang dan puas. Tentang urusan lain tidak perlu lagi diungkat.”

Yim Ngo-heng kenal watak putrinya yang angkuh dan suka menang. Jika Lenghou Tiong tidak mengajukan lamaran, maka putrinya itu pun tidak mau memaksa. Ia pikir urusan perjodohan ini hanya soal waktu saja, kelak Hiang Bun-thian dapat disuruh menjadi comblang, lalu secara resmi dirundingkan.

Maka dengan bergelak tertawa ia berkata, “Bagus, bagus. Memang urusan mahapenting yang menyangkut kebahagiaan selama hidupmu boleh dibicarakan nanti. Eh, Anak Tiong, biarlah aku mengajarkan kau dulu tentang melancarkan urat nadi di bagian lengan kiri itu.”

Lalu ia tarik Lenghou Tiong ke pinggir sana dan menguraikan cara bagaimana mengerahkan tenaga dan melancarkan jalan darah. Setelah Lenghou Tiong hafal ajarannya, lalu katanya pula, “Kau telah bantu aku memunahkan racun dingin, sekarang aku mengajarkan kau cara melancarkan jalan darahmu, kita masing-masing tidak saling utang. Untuk menyembuhkan seluruhnya lenganmu yang kaku itu diperlukan waktu tujuh hari, harus bersabar, tidak boleh terburu nafsu.”

Lenghou Tiong mengiakan. Lalu Yim Ngo-heng memanggil Hiang Bun-thian dan Ing-ing, setelah empat orang berkumpul Ngo-heng berkata pula, “Tiong-ji, ketika di Bwe-cheng tempo hari aku pernah mengajak kau masuk Tiau-yang-sin-kau kami, waktu itu dengan tegas kau menolak. Sekarang keadaan sudah berubah, aku mengulangi lagi persoalan lama, sekali ini tentunya kau takkan menolak bukan?”

Selagi Lenghou Tiong ragu-ragu dan belum menjawab, Yim Ngo-heng telah menyambung pula, “Kau telah meyakinkan Gip-sing-tay-hoat, kelak akan banyak mendatangkan kesukaran, bila macam-macam hawa murni yang berlainan di dalam tubuhmu itu bekerja, maka tak terkatakan derita yang akan kau rasakan. Apa yang telah kukatakan pasti takkan kutarik kembali, kalau kau tidak masuk agama kita, biarpun Ing-ing menjadi istrimu juga aku tak mau mengajarkan cara memunahkan tenaga-tenaga liar di dalam tubuhmu itu. Andaikan putriku akan menyesali aku juga akan kujawab demikian. Nah, urusan penting sekarang ini ialah menuntut balas kepada Tonghong Put-pay, apakah kau akan ikut pergi bersama kami?”

“Maaf Yim-kaucu, selama hidup ini Wanpwe sudah pasti takkan masuk Tiau-yang-sin-kau,” sahut Lenghou Tiong tegas tanpa bisa ditawar-tawar lagi.

Keruan Yim Ngo-heng bertiga seketika berubah air mukanya, Hiang Bun-thian bertanya, “Apa sebabnya? Jadi kau memandang hina kepada Tiau-yang-sin-kau?”

“Di dalam Tiau-yang-sin-kau penuh orang-orang macam begini, sejelek-jeleknya Wanpwe juga malu berkumpul dengan mereka,” sahut Lenghou Tiong sambil tuding belasan mayat yang menggeletak, di sekitar situ. “Lagi pula Wanpwe sudah berjanji kepada Ting-sian Suthay untuk menjabat ketua Hing-san-pay mereka.”

Tiba-tiba air muka Yim Ngo-heng bertiga berubah penuh keheranan. Bahwa Lenghou Tiong menolak masuk agama mereka tidaklah mengherankan, tapi ucapan yang terakhir itulah benar-benar luar biasa sampai-sampai mereka tidak percaya kepada telinganya sendiri-sendiri.

Sambil menuding muka Lenghou Tiong, Yim Ngo-heng mendadak terbahak-bahak geli. Sejenak kemudian baru berkata, “Jadi kau… kau ingin jadi nikoh? Akan menjadi ciangbunjin kawanan nikoh itu?”

“Bukan menjadi nikoh, hanya akan menjadi Ciangbunjin Hing-san-pay saja,” sahut Lenghou Tiong. “Sebelum mengembuskan napas penghabisan Ting-sian Suthay telah mohon dengan sangat kepadaku, jika Wanpwe tidak menyanggupi, maka mati pun losuthay itu takkan tenteram. Apalagi kematian Ting-sian Suthay adalah karena diriku, Wanpwe juga tahu peristiwa ini pasti akan menggemparkan, tapi tak bisa menolak permintaan losuthay itu.”

Tapi Yim Ngo-heng masih terus tertawa geli.

“Ting-sian Suthay mati bagi keselamatan anak,” kata Ing-ing.

Lenghou Tiong melihat sorot mata si nona penuh mengandung rasa terima kasih yang tak terhingga.

Perlahan-lahan Yim Ngo-heng berhenti tertawa, lalu berkata, “Jadi kau telah menerima pesan orang dan harus dikerjakan secara setia?”

“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Kematian Ting-sian Suthay juga lantaran mau memenuhi janjinya padaku.”

“Bagus juga,” kata Ngo-heng sambil manggut. “Aku adalah Lo-koay (si tua aneh) dan kau adalah Siau-koay (si kecil aneh). Kalau tidak membikin sesuatu yang menggemparkan masakan bisa menjadi tokoh yang menggegerkan jagat ini. Baiklah, bolehlah kau pergi menjadi ciangbunjin kaum nikoh itu. Sekarang juga kau akan berangkat ke Hing-san?”

“Tidak, Wanpwe akan pergi lagi ke Siau-lim-si,” sahut Lenghou Tiong.

Yim Ngo-heng rada heran, tapi lantas paham, katanya, “Ya, tentunya kau ingin mengusung kedua jenazah nikoh tua itu kembali ke Hing-san.”

Lalu ia menoleh kepada Ing-ing dan tanya, “Apakah kau akan ikut Tiong-ji pergi ke Siau-lim-si?”

“Tidak, aku ikut Ayah,” sahut Ing-ing.

“Betul, masakah kau juga akan ikut dia ke Hing-san-pay dan menjadi nikoh di sana?” ujar Ngo-heng sambil bergelak tertawa, cuma suara tawanya penuh rasa getir.

Lenghou Tiong lantas memberi hormat dan berkata, “Yim-kaucu, Hiang-toako, Ing-ing, sampai bertemu pula.”

Lalu ia putar tubuh dan melangkah pergi. Baru belasan tindak mendadak ia berpaling kembali dan tanya, “Yim-kaucu, bilakah kalian akan pergi ke Hek-bok-keh?”

“Ini adalah urusan dalam agama kami, tidak perlu orang luar ikut campur,” sahut Yim Ngo-heng. Ia tahu Lenghou Tiong bermaksud membantu menghadapi Tonghong Put-pay bila tiba waktunya, maka dengan tegas ditolaknya.

Lenghou Tiong manggut-manggut saja, ia jemput sebuah pedang yang berserakan di atas salju, digantungkannya di pinggang, lalu melangkah pergi lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: