Hina Kelana: Bab 144. Yang Jahat Pasti Terima Ganjarannya (Tamat)

Hina Kelana
Bab 144. Yang Jahat Pasti Terima Ganjarannya (Tamat)
Oleh Jin Yong

(Ratusan dan ribuan jutaan terima kasih ditujukan kepada Nra (Bab 001-109) dan Tungning (110-114). Cersil ini dipublikasikan oleh kedua beliau itu mulai 30/09/05 sampai 10/10/08. Kerja keras hampir tiga tahun-nan. Impressif…Kagum…Salut)

Segera Tiong-hi Tojin mengirim orang untuk memberitahukan kepada Jing-hi dan Seng-ko agar kursi wasiat serta sumbu-sumbu dinamit yang telah dipasang itu segera dihapus.

Lalu Lenghou Tiong mengundang Hong-ting dan Tiong-hi masuk kembali ke Bu-sik-am untuk mengaso di ruangan sembahyang itu.

Hong-ting Taysu membalik-balik halaman kitab Hoat-hoa-keng dalam bahasa Hindu Kuno asli itu. Sedang Tiong-hi Tojin sebentar-sebentar meraba pedang pusakanya Cin-bu-kiam, lain saat membaca pula kitab pelajaran ilmu pukulan Thay-kek-kun-hoat. Girang mereka sungguh sukar dilukiskan sehingga rasa khawatir mereka tadi pun terlupa.

Sedang keadaan serbasunyi, tiba-tiba di bawah kolong meja sembahyang ada orang berkata, “Ahhh, kiranya kau, Ing-ing!”

Lalu seorang menjawab, “Ya, Engkoh Tiong, engkau … engkau….”

Itulah suaranya Tho-kok-lak-sian.

Keruan Lenghou Tiong berseru kaget dan melonjak bangun dari tempat duduknya.

Terdengar pula suara percakapan di bawah kolong meja itu masih terus berlangsung, “Engkoh Tiong, ayahku, beliau … beliau sudah meninggal dunia.”

“Mengapa beliau meninggal dunia, bukankah waktu berpisah beliau sehat-sehat saja?”

“Ketika engkau meninggalkan Hoa-san tempo hari, tidak lama sesudah engkau pergi, mendadak ayah jatuh pingsan dari tempat duduknya, lekas-lekas aku dan Hiang-sioksiok menahan tubuh beliau, tapi hanya sebentar saja beliau lantas mengembuskan napas penghabisan.”

“Apa … apakah ada musuh yang mencelakai beliau?”

“Tidak, menurut Hiang-sioksiok, usia ayah sudah lanjut, pernah menderita sekian tahun di dalam kerangkeng di bawah danau itu, belakangan ini ayah sengaja menggunakan lwekang yang paling dahsyat untuk menghapuskan macam-macam hawa murni di dalam tubuh sendiri secara paksa, hal ini dengan sendirinya sangat mengganggu kesehatannya. Jadi beliau meninggal karena memang sudah tua.”

“Sungguh tidak tersangka!”

“Engkoh Tiong, di atas puncak Hoa-san tempo hari Hiang-sioksiok lantas berunding dengan para tianglo dalam agama, dengan suara bulat mereka telah mengangkat diriku sebagai Kaucu baru Tiau-yang-sin-kau.”

“O, jadi sang kaucu adalah Yim-toasiocia dan bukan lagi Yim-losiansing.”

Terkejut dan bergirang pula Hong-ting dan Tiong-hi mendengar percakapan itu, mereka cukup paham apa artinya percakapan Tho-kok-lak-sian itu.

Sebagaimana diketahui, tadi waktu Tho-kok-lak-sian bikin ribut ingin berduduk di atas kursi naga sembilan yang disediakan bagi Yim Ngo-heng itu, untuk mengakhiri keributan itu agar rahasia perangkap mereka tidak bocor, maka Hong-ting Taysu telah menggunakan ilmu “Auman Singa” untuk menggetar pingsan keenam orang dogol itu, lalu Tiong-hi Tojin menutuk hiat-to mereka dan didorong ke kolong meja.

Sungguh harus diakui bahwa lwekang keenam orang dogol itu juga cukup hebat, tidak lama kemudian mereka sudah siuman kembali, hanya saja tak bisa bergerak karena hiat-to mereka tertutuk Tapi dengan demikian mereka menjadi seperti sengaja sembunyi di kolong meja sehingga semua percakapan Lenghou Tiong dengan “Yim-kaucu” yang berada di dalam tandu itu didengar mereka seluruhnya dan kini dengan nada yang sama dan satu kalimat pun tidak berkurang telah mereka ulangi kembali.

Demi mendengar Yim Ngo-heng sudah meninggal dan sekarang Ing-ing yang menjabat Kaucu Tiau-yang-sin-kau, maka macam-macam persoalan lain dengan sendirinya juga dapat mereka pahami. Sebabnya Ing-ing menghadiahkan benda mestika kepada Hong-ting dan Tiong-hi, sebaliknya hadiah yang diberikan kepada Lenghou Tiong cuma terdiri dari barang-barang keperluan sehari-hari saja, hal mana juga dapat dimengerti, sebab ia pun merupakan kado sebagai tanda bertunangan mereka berdua.

Dalam pada itu terdengar Tho-kok-lak-sian masih terus mengoceh tak berhenti-henti, seorang sedang berkata, “Engkoh Tiong, hari ini aku sengaja datang ke sini untuk menjenguk kau, bila diketahui orang luar, tentu akan ditertawai.”

Lalu seorang menjawab, “Ah, peduli apa kepada orang lain? Kau ini memang suka malu-malu.”

“Tidak, soalnya aku tidak ingin diketahui orang luar.”

“Baiklah, aku berjanji takkan bercerita kepada siapa pun.”

“Pula, tentang Tiau-yang-sin-kau dari lawan berubah menjadi kawan Hing-san-pay, Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay, hal ini pun jangan sampai diketahui orang luar sebagai keputusanku. Sebab orang-orang Kang-ouw tentu akan anggap diselesaikannya persoalan ini secara damai adalah karena aku, karena hubunganku dengan kau. Kalau hal ini sampai tersiar tentu akan membikin kikuk kita.”

“Haha, aku sendiri sih tidak takut dibuat cerita.”

“Mukamu tebal, tentu saja kau tidak takut. Tentang meninggalnya ayah sengaja sangat dirahasiakan oleh Tiau-yang-sin-kau, orang luar tentu akan mengira ayahku sendiri yang berkunjung ke sini serta berbicara dengan kau, lalu persoalannya dapat didamaikan. Hal ini sebenarnya juga ada faedahnya bagi nama baik ayah. Maka sesudah aku pulang kembali ke Hek-bok-keh barulah tentang meninggalnya ayah akan kusiarkan.”

“Sebagai anak menantu, tentu aku akan datang ke sana untuk melayat.”

“Sudah tentu baik sekali bila kau dapat hadir. Ketika di Hoa-san tempo hari, ayah sendiri sudah mengizinkan pernikahan kita, cuma, cuma urusan ini harus tunggu setelah … setelah aku berkabung….”

Mendengar ocehan Tho-kok-lak-sian itu mulai akan membeberkan rahasia cintanya dengan Ing-ing, Lenghou Tiong merasa kikuk kalau-kalau urusan pribadinya itu sampai diketahui oleh Hong-ting dan Tiong-hi, maka cepat ia membentak, “Tho-kok-lak-sian, lekas keluar! Jika tidak lekas keluar dan masih mengoceh tak keruan, awas, sebentar kubeset kulit kalian!”

Akan tetapi masih terdengar Tho-kan-sian membuka suara dengan menirukan nada Ing-ing yang halus, “Ai, yang kukhawatirkan adalah kesehatanmu. Ayah tidak jadi mengajarkan cara memunahkan macam-macam hawa murni yang mengeram di dalam badanmu. Sebenarnya, biarpun beliau mengajarkan padamu juga tak berguna. Buktinya ayah sendiri, ai!”

Tho-kan-sian menirukan suara Ing-ing yang penuh rasa sedih dan duka itu sehingga Hong-ting, Tiong-hi dan Lenghou Tiong bertiga ikut merasakan terharu juga. Memang, tokoh aneh sebagai Yim Ngo-heng yang hidupnya malang melintang, tapi akhirnya meninggal juga.

Tiong-hi pikir kalau ocehan Tho-kok-lak-sian itu diteruskan, tentu akan membikin Lenghou Tiong lebih kikuk, segera ia menyeret keluar Tho-kok-lak-sian, dengan tertawa ia pun berkata, “Keenam Tho-heng, maaf aku tadi harus menutuk hiat-to kalian. Sekarang ocehan kalian rasanya sudah cukup, sebaiknya kalian tutup mulut saja, jangan-jangan nanti kalian membikin marah Lenghou-ciangbun dan ‘hiat-to bisu abadi’ kalian ditutuk, nah, baru tahu rasa kalian!”

Tho-kok-lak-sian menjadi khawatir, cepat mereka bertanya, “Apa itu ‘hiat-to bisu abadi’?”

“Jika ‘hiat-to bisu abadi’ kalian tertutuk, maka selama hidup kalian akan menjadi bisu, makan minum sih dapat, tapi mulut kalian tak bisa mengoceh lagi,” kata Tiong-hi dengan tertawa.

“Wah, susah!” seru Tho-kok-lak-sian berbareng. “Bicara nomor satu, makan minum sih nomor dua.”

“Jika begitu, maka apa yang kalian katakan tadi jangan sekali-kali diucapkan lagi kepada siapa pun juga,” ujar Tiong-hi. “Nah, Lenghou-ciangbun, biarlah aku mintakan ampun bagi mereka, janganlah kau menutuk ‘hiat-to bisu abadi’ mereka. Aku dan Taysu menjamin bahwa selanjutnya mereka berenam pasti takkan membocorkan sepatah kata pun dari apa yang mereka dengar dari percakapanmu dengan Yim-siocia tadi.”

“Ah, salah, salah! Keliru, keliru! Bukan kami sendiri yang sembunyi di kolong meja, kau yang memasukkan kami ke situ!” seru Tho-hoa-sian.

“Memangnya juga kami bukan sengaja mencuri dengar percakapan orang, tapi suara mereka yang masuk sendiri ke dalam telinga kami, apa daya kami untuk menolaknya?” sambung Tho-sit-sian.

“Ya, kalau ada ‘hiat-to bisu abadi’ yang harus ditutuk, tentu kepunyaanmu yang mesti ditutuk!” Tho-ki-sian menambahkan.

“Sudahlah,” ujar Tiong-hi. “Kalian sudah dengar biarkanlah, yang penting kalian tidak boleh sembarangan mengoceh dari apa yang kalian dengar itu, tahu?”

“Baik, baik! Kami takkan mengoceh lagi!” seru Tho-kok-lak-sian.

“Tapi semboyan anggota Tiau-yang-sin-kau bagi kaucu mereka kini sudah berubah, boleh kami katakan atau tidak?” Tho-kin-sian bertanya.

“Tidak, tidak boleh!” cepat Lenghou Tiong membentak.

“Tidak boleh ya sudah! Kau sendiri boleh omong begitu kepada Yim-siocia, tapi kami dilarang,” demikian Tho-ki-sian menggerutu.

Tiong-hi menjadi heran, timbul pertanyaannya di dalam hati perubahan semboyan apakah yang dimaksudkan Tho-kok-lak-sian itu. Seperti diketahui, senggakan orang-orang Tiau-yang-sin-kau bagi sang kaucu antara lain meliputi “Hidup sepanjang masa, merajai Kang-ouw selamanya”. Apakah barangkali setelah Yim-siocia menjadi kaucu, lalu dia tidak mau merajai dunia Kang-ouw lagi seperti ayahnya? Lalu apa semboyannya yang baru?

*****

Tiga tahun kemudian, di perkampungan Bwe-cheng di lembah Se-ouw di kota Hangciu suasana tampak semarak, itulah hari bahagia perkawinan Lenghou Tiong dan Ing-ing.

Sementara itu Lenghou Tiong sudah menyerahkan jabatan ketua Hing-san-pay kepada Gi-jing. Sebenarnya Gi-jing tidak mau dan dengan keras ia minta Gi-lim yang menjadi ketua dengan dasar Gi-lim sendiri yang membunuh musuh sehingga sakit hati suhu mereka terbalas. Namun Gi-lim tetap menolak, begitu keras tekadnya hingga dia menangis.

Akhirnya tetap menuruti usul Lenghou Tiong agar Gi-jing yang menjabat ketua Hing-san-pay.

Ing-ing sendiri juga sudah meninggalkan jabatan Kaucu Tiau-yang-sin-kau dan menyerahkan kedudukan itu kepada Hiang Bun-thian. Meski Hiang Bun-thian juga seorang tokoh persilatan yang sukar dikendalikan, tapi dia tidak mempunyai ambisi mencaplok golongan-golongan atau aliran-aliran lain, maka selama beberapa tahun itu keadaan Kang-ouw pada umumnya cukup aman tenteram.

Pada hari itu kota Hangciu menjadi penuh sesak oleh para tamu Kang-ouw yang datang menghadiri pesta pernikahan Lenghou Tiong itu.

Selesai upacara nikah, habis pesta, dan meramaikan kamar pengantin baru, lalu para tamu minta sepasang mempelai suka memainkan ilmu pedang mereka.

Setiap orang persilatan sama mengetahui bahwa ilmu pedang Lenghou Tiong tiada bandingannya di dunia ini, tapi tidak setiap orang pernah menyaksikan ilmu pedang mahasakti tersebut.

Dengan tertawa Lenghou Tiong menanggapi permintaan para tamu, katanya, “Hari baik begini rasanya kurang layak kalau main senjata segala, biarlah Cayhe dan mempelai perempuan bersama memainkan sebuah lagu, apakah hadirin setuju?”

Para tamu bersorak menyatakan akur.

Lenghou Tiong mengeluarkan kecapi dan seruling serta memberikan seruling itu kepada Ing-ing.

Ing-ing juga tidak menolak, ia terima seruling itu dan mulai mengatur nadanya, lalu mulai meniupnya bersama petikan kecapi Lenghou Tiong.

Yang mereka bawakan adalah lagu “Hina Kelana”.

Teringat oleh Lenghou Tiong untuk pertama kalinya mendengar lagu itu adalah ketika di luar kota Heng-san dahulu, lagu itu dibawakan oleh Lau Cing-hong, itu tokoh Heng-san-pay dan Kik Yang, gembong Tiau-yang-sin-kau.

Kedua tokoh itu berasal dari aliran yang bertentangan, tapi keduanya bersahabat kental sehingga menimbulkan perselisihan di antara teman-teman sendiri dan akhirnya Lau Cing-hong dan Kik Yang tewas bersama dan meninggalkan lagu “Hina Kelana” gubahan mereka bersama itu.

Para tamu itu hampir seluruhnya tidak paham seni musik, akan tetapi setiap orang kiranya dapat merasakan musik yang baik, oleh karena itu lagu “Hina Kelana” yang menggetar sukma itu benar-benar mengharukan hati setiap hadirin.

Selesai itu, bersoraklah para tamunya mengucapkan terima kasih, lalu beramai-ramai mohon diri meninggalkan sepasang mempelai di kamar pengantin baru.

Setelah menutup pintu, perlahan-perlahan Lenghou Tiong mendekati Ing-ing dan membuka kerudung sutra tipis yang menutup wajah yang cantik itu sambil berkata dengan tertawa, “Ing-ing, tidak nyana….”

Di bawah cahaya lilin wajah Ing-ing yang cantik menggiurkan itu tampak tersenyum, tapi sebelum ucapan Lenghou Tiong tadi dilanjutkan, mendadak Ing-ing membentak, “Keluar!”

Keruan Lenghou Tiong melengak, masakah baru saja jadi pengantin sudah lantas disuruh keluar kamar? Demikian pikirnya.

“Hayo keluar! Apa minta kusiram dengan air?” Ing-ing membentak pula dengan tertawa.

Selagi Lenghou Tiong merasa bingung, tertampaklah dari kolong ranjang menerobos keluar enam orang, siapa lagi mereka kalau bukan Tho-kok-lak-sian.

Rupanya keenam orang dogol itu sengaja sembunyi di kolong ranjang dengan tujuan ingin mendengarkan percakapan antara sepasang pengantin baru, habis itu akan mereka gunakan sebagai bahan percakapan untuk dipamerkan kepada para tamu.

Tadi Lenghou Tiong sedang mabuk melihat kecantikan sang istri sehingga tidak menaruh perhatian. Berbeda dengan Ing-ing yang teliti, ia mendengar suara orang bernapas yang sangat halus di bawah tempat tidur, maka segera ia tahu ada orang sembunyi di situ.

Begitulah dengan bergelak tertawa Lenghou Tiong berkata, “Hahaha, keenam Tho-heng, hampir saja aku kena diselomoti kalian!”

Dengan tertawa pula Tho-kok-lak-sian lantas meninggalkan kamar pengantin itu, setiba di ruangan depan tempat perjamuan segera mereka berteriak-teriak, “Hidup sepanjang masa, menjadi suami-istri selamanya! Hidup sepanjang masa, menjadi suami-istri selamanya!”

Saat itu Tiong-hi Tojin sedang mengobrol dengan Hong-ting Taysu di ruangan perjamuan, ketika mendengar teriakan Tho-kok-lak-sian itu, tersenyumlah dia. Teka-teki yang terpendam selama tiga tahun baru sekarang terjawab. Kiranya ucapan itu adalah sumpah setia antara Lenghou Tiong dan Yim Ing-ing di ruangan sembahyang di Hing-san dahulu, tapi Tho-kok-lak-sian menyangka itu sebagai perubahan semboyan anggota Tiau-yang-sin-kau.

Empat bulan kemudian, di kala musim semi mendekati akhirnya, dua sejoli pengantin baru Lenghou Tiong dan Yim Ing-ing bersama berangkat ke Hoa-san. Maksud Lenghou Tiong bersama istrinya hendak menemui moyang gurunya, yaitu Hong Jing-yang, untuk mengucapkan terima kasihnya atas budi kebaikan mengajarkan ilmu pedang sakti padanya.

Akan tetapi meski mereka sudah menjelajahi seluruh pegunungan Hoa-san, tetap tiada menemukan jejak Hong Jing-yang, Lenghou Tiong menjadi kesal.

Ing-ing berusaha menghibur sang suami, katanya, “Thaysusiokco adalah orang kosen yang suka hidup menyendiri, bisa jadi saat ini beliau telah mengembara ke lain tempat.”

“Thaysusiokco tidak melulu mahasakti dalam ilmu pedangnya, bahkan lwekang beliau juga tiada bandingannya di dunia ini,” ujar Lenghou Tiong dengan gegetun. “Selama tiga tahun lebih ini aku berlatih lwekang ajaran beliau, maka hampir seluruh hawa murni yang bergolak di dalam tubuhku dapat dipunahkan semua.”

“Untuk ini kita harus berterima kasih kepada Hong-ting Taysu,” kata Ing-ing. “Karena Hong-susiokco tak dapat kita temukan, biarlah besok juga kita pergi ke Siau-lim-si saja untuk mengaturkan terima kasir kepada Hong-ting Taysu.”

“Ya, Hong-ting Taysu telah menyampaikan ajaran lwekang ini kepadaku, kita memang harus mengaturkan terima kasih padanya,” kata, Lenghou Tiong.

“Engkoh Tiong, masakah sampai saat ini kau masih belum tahu bahwa apa yang kau pelajari itu adalah lwekang Siau-lim-pay yang terkenal sebagai ‘Ih-kin-keng’ itu,” kata Ing-ing dengan tertawa.

“Hah?” Lenghou Tiong melonjak kaget. “Jadi lwekang yang kuyakinkan ini adalah ‘Ih-kin-keng’? Dari mana kau mendapat tahu?”

“Dahulu waktu kau bercerita padaku bahwa lwekang ini oleh Hong-susiokco disampaikan kepada Hong-ting Taysu melalui Tho-kok-lak-sian, aku menjadi curiga, sebab untuk meyakinkan lwekang ini, sedikit keliru saja orang yang berlatih bisa menjadi lumpuh dan kalau berat mungkin jiwa pun melayang, mana boleh lwekang hebat ini disampaikan begitu saja melalui orang lain seperti Tho-kok-lak-sian yang dogol itu? Maka pada suatu kesempatan kami sengaja menanyai keenam orang dogol itu, mula-mula mereka bilang benar sebagaimana dikatakan Hong-ting Taysu, tapi waktu aku suruh mereka coba menyebut beberapa kalimat daripada ajaran lwekang itu, mereka menjawab secara simpang-siur, ada yang mengaku sudah lupa, ada lagi yang pakai alasan tidak dikatakan kepada orang lain kecuali Hong-ting Taysu saja. Setelah kudesak lagi, akhirnya mereka terpaksa mengaku bahwa demi untuk menyelamatkan jiwamu, Hong-ting Taysu sengaja menggunakan namanya Hong-susiokco agar kau mau menerima ajarannya. Tho-kok-lak-sian dipesan agar merahasiakan hal bila ditanya olehmu.”

Lenghou Tiong sampai melongo mendengar hal itu, sungguh sama sekali tak terduga olehnya akan maksud tujuan Hong-ting Taysu itu.

“Bahwasanya Hong-susiokco menyuruh Tho-kok-lak-sian menyampaikan berita kepada Hong-ting Taysu memang betul. Cuma yang harus mereka sampaikan itu adalah berita tentang akan diserbunya Hing-san-pay oleh Tiau-yang-sin-kau, maka Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay diharap memberi bantuan seperlunya kepada Hing-san-pay.”

“Kau juga keterlaluan,” omel Lenghou Tiong. “Sudah tahu sejak dulu-dulu dan baru sekarang dikatakan padaku.”

“Dahulu di Siau-lim-si secara bandel kau pernah menolak tawaran Hong-ting Taysu agar kau masuk menjadi murid Siau-lim-pay dan kau akan diajarkan Ih-kin-keng untuk menyembuhkan dirimu. Maka Hong-ting Taysu tidak berani bicara terang-terangan lagi tentang Ih-kin-keng, sebab khawatir kebandelanmu kumat kembali, lebih suka jiwa melayang daripada belajar ilmu orang lain. Makanya beliau sengaja menggunakan namanya Hong-susiokco, biar kau mengira apa yang diajarkan itu adalah lwekang dari Hoa-san-pay sendiri dan kau pasti akan mempelajarinya dengan baik.”

“Ya, sebabnya kau merahasiakan hal ini tentu juga khawatir kalau-kalau kebandelanku tiba-tiba kumat dan mendadak tidak mau berlatih pula. Tapi sekarang setelah tahu macam-macam hawa murni dalam tubuhku sudah punah, barulah kau jelaskan duduknya perkara.”

Kembali Ing-ing tertawa, katanya, “Ya, kebandelanmu itu cukup terkenal, maka sebaiknya dihindari.”

Lenghou Tiong menghela napas terharu, tangan Ing-ing digenggamnya erat-erat, lalu berkata, “Ing-ing, dahulu kau rela mengorbankan jiwamu di Siau-lim-si demi untuk meyakinkan Hong-ting Taysu agar mau mengajarkan Ih-kin-keng padaku. Meski kau tidak jadi berkorban jiwa, namun Hong-ting Taysu anggap apa yang beliau pernah sanggupkan kepadamu itu belum terpenuhi. Beliau adalah angkatan tua dunia persilatan yang paling terhormat dan harus pegang janji, maka akhirnya beliau tetap mengajarkan juga ilmu lwekang sakti ini padaku. Ilmu ini kudapatkan melalui pengorbananmu, seumpama aku tidak pikirkan keselamatanku tentunya juga memikirkan jerih payah dan maksud baikmu, masakah aku terus berkeras tak mau melatihnya lagi?”

“Ya mestinya aku pun berpikir begitu, cuma, cuma dalam hatiku tetap khawatir,” kata Ing-ing.

“Baiklah, besok juga kita lantas berangkat ke Siau-lim-si, aku sudah meyakinkan Ih-kin-keng, terpaksa harus masuk Siau-lim-si dan menjadi hwesio,” ujar Lenghou Tiong.

Ing-ing tahu dia cuma berkelakar saja, maka ia pun menanggapi, “Hwesio liar macam kau masakah mau diterima oleh Siau-lim-si dan punya disiplin keras itu.”

Begitulah kedua orang berjalan sambil bergandengan tangan seraya mengobrol. Tertampak Ing-ing berulang-ulang memandang ke sini dan melongok ke sana seperti ada sesuatu yang hendak dicarinya.

“Apa yang kau cari?” tanya Lenghou Tiong.

“Takkan kukatakan padamu, bila sudah ketemu tentu kau akan tahu sendiri,” sahut Ing-ing. “Kita tidak berhasil menemukan Hong-susiokco, hal ini harus disesalkan, tapi kalau tak dapat menemukan orang itu rasanya juga sangat sayang.”

“Jadi kita masih mencari seorang lain lagi, siapakah dia?”

Ing-ing hanya tersenyum dan tidak menjawabnya, katanya kemudian, “Kau telah mengurung Lim Peng-ci di dalam penjara di bawah tanah Bwe-cheng sana, caramu mengatur ini memang pintar. Kau pernah menyanggupi Siausumoay untuk menjaga kehidupan Peng-ci, maka kau mengurungnya di sana, diberi makan, diberi baju, jiwanya juga terjamin, kau benar-benar telah menjaga kehidupannya sesuai janjimu. Tapi terhadap seorang bekas temanmu yang lain aku telah mengatur suatu cara lain untuk menjamin kehidupannya.”

Lenghou Tiong tambah heran, siapakah gerangan bekas temanku yang dimaksudkannya itu? Tapi ia tahu tindak tanduk sang istri memang sering-sering luar biasa, tiada gunanya bertanya kalau dia tak mau menjelaskan sekarang.

Malamnya kedua orang duduk-duduk minum di tempat tinggal Lenghou Tiong yang lama, meski menghadapi istri cantik, tapi demi terkenang kepada masa lampau, timbul juga rasa duka dalam hatinya, maka berulang-ulang ia menghabiskan belasan cawan arak.

Sekonyong-konyong Ing-ing memasang telinga mendengarkan sesuatu, lalu katanya dengan suara tertahan, “Itu dia, marilah kita pergi melihatnya.”

Lenghou Tiong juga mendengar di atas gunung ada suara monyet, tapi entah siapa “si dia” yang dimaksudkan Ing-ing itu. Tanpa tanya ia pun ikut istrinya itu keluar.

Ing-ing terus menuju ke arah datangnya suara monyet tadi, dengan cepat ia berlari ke lereng bukit di depan sana. Di bawah sinar bulan yang cukup terang tertampaklah ada belasan ekor monyet bertengger di atas batu karang. Kawanan monyet di Hoa-san cukup banyak dan tidak mengherankan Lenghou Tiong. Tapi tiba-tiba dilihatnya di tengah gerombolan monyet itu ada seorang manusia. Waktu diperhatikan, ternyata Lo Tek-nau adanya.

Dengan gusar tercampur girang segera Lenghou Tiong hendak mendekati musuh besar itu. Tapi Ing-ing keburu menariknya dan berkata, “Sabar dulu, lihatlah yang jelas dirinya!”

Setelah mereka maju lebih dekat lagi, tertampak Lo Tek-nau diapit oleh dua ekor monyet besar dan diseret ke kanan dan ke kiri tanpa kuasa. Meski ilmu silat Lo Tek-nau cukup tinggi, ternyata tidak berdaya melawan kedua ekor monyet.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Lenghou Tiong heran.

“Lihatlah lebih jelas, sebentar tentu kau akan tahu sendiri,” kata Ing-ing.

Sifat monyet pada umumnya adalah berangasan dan suka bergerak, karena itu Lo Tek-nau tampak ditarik ke sana dan diseret ke sini oleh kedua ekor monyet besar itu, terkadang ia pun mengeluarkan suara geraman, tapi monyet-monyet itu terus mencakar mukanya.

Kini Lenghou Tiong dapat melihat jelas bahwa tangan kanan Lo Tek-nau bergandengan dengan tangan kiri monyet sebelah kanan, tangan kirinya juga bergandengan dengan tangan kanan monyet yang lain, jelas antara tangan manusia dan tangan monyet itu diikat oleh benda-benda sebangsa borgol.

Maka sekarang Lenghou Tiong mulai paham duduknya perkara, tanyanya, “Tentu perbuatanmu bukan? Apakah kau telah memunahkan ilmu silatnya?”

“Tidak, tapi dia sendiri yang menerima ganjarannya yang setimpal,” sahut Ing-ing.

Mendengar suara manusia, gerombolan monyet itu lantas berteriak-teriak melarikan diri dengan menggondol Lo Tek-nau ke balik bukit sana.

Mestinya Lenghou Tiong ingin membunuh Lo Tek-nau untuk membalas sakit hati Liok Tay-yu, tapi melihat penderitaan Lo Tek-nau sekarang lebih celaka daripada dibunuh, maka ia pun tidak menggubrisnya lagi, terasa puas karena penjahat telah mendapatkan ganjarannya. Katanya kemudian, “Selama beberapa hari ini kiranya orang yang kau maksudkan adalah Lo Tek-nau.”

“Ya,” sahut Ing-ing. “Tempo hari keparat ini juga telah datang ke Tiau-yang-hong untuk menemui ayah, katanya dia mendapatkan kitab pusaka Pi-sia-kiam-boh dan bermaksud dipersembahkan kepada ayah dengan harapan mendapat kedudukan yang pantas di bawah ayah. Namun ayah tidak sempat bicara dengan dia dan segera memerintahkan orang menahan dia. Kemudian ayah meninggal dunia, semua orang menjadi sibuk dan tidak sempat mengurusnya, akhirnya dia pun ikut terbawa pulang ke Hek-bok-keh. Lewat belasan hari barulah aku ingat soal ini, segera kuhadapkan dia untuk ditanyai. Kiranya dia sendiri telah berusaha melatih Pi-sia-kiam-hoat, tapi keliru dan tersesat sehingga ilmu silat sendiri ikut punah. Orang ini adalah pembunuh Laksutemu, sedang Laksutemu paling suka piara monyet, sebab itulah aku lantas suruh orang mencarikan dua ekor monyet besar, kuborgol dia bersama kedua ekor monyet itu, lalu kulepaskan di Hoa-san sini.”

Habis berkata, ia mengulur tangannya untuk memegangi pergelangan tangan Lenghou Tiong. “Ai, sungguh tak terduga bahwa selama hidupku ini juga mesti terikat bersama seekor monyet besar seperti ini dan takkan berpisah lagi,” katanya dengan tersenyum manis, senyuman yang lembut dan menggiurkan.

TAMAT

( Dikumpulkan dari berbagai situs, oleh : Laura VCO )

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: