Hina Kelana: Bab 143. Diplomasi Tiau-yang-kau yang Berhasil

Hina Kelana
Bab 143. Diplomasi Tiau-yang-kau yang Berhasil
Oleh Jin Yong

Maka tertampaklah sebuah tandu besar beratapkan kain beledu biru digotong ke atas Kian-seng-hong. Tandu besar itu digotong oleh 16 orang, bergeraknya tampak sangat cepat lagi anteng. Suatu tanda ke-16 pemikul tandu itu adalah jago-jago silat pilihan semua.

Waktu Lenghou Tiong mengamat-amati para pemikul tandu itu, ternyata di antaranya terdapat Coh Jian-jiu, Ui Pek-liu, Keh Bu-si dan lain-lain. Coba kalau badan Lo Thau-cu tidak terlalu pendek, tentu pula dia akan dipaksa menjadi tukang pikul tandu itu.

Diam-diam Lenghou Tiong merasa penasaran bagi tukang-tukang pikul tandu itu, ia pikir jelek-jelek Coh Jian-jiu dan kawan-kawannya itu pun tokoh persilatan terkemuka, masakah sekarang Yim-kaucu memperbudak mereka menjadi tukang pikul tandu, sungguh tidak pantas.

Yang mengiringi tandu besar itu ternyata adalah dua orang, di sebelah kiri ialah Hiang Bun-thian dan yang sebelah kanan adalah seorang tua yang tampaknya seperti sudah dikenalnya. Untuk sejenak Lenghou Tiong tercengang, tiba-tiba teringat olehnya bahwa orang tua itu adalah Lik-tiok-ong, si kakek bambu hijau yang pernah mengajarkan cara memetik kecapi di kota Lokyang dahulu. Si kakek selalu memanggil Ing-ing sebagai Kokoh atau bibi, lantaran itu Lenghou Tiong menjadi salah sangka Ing-ing adalah seorang nenek yang sudah tua. Sejak berpisah di Lokyang belum pernah berjumpa pula dengan kakek itu, tak terduga hari ini dia malah ikut Yim Ngo-heng ke atas Hing-san.

Hati Lenghou Tiong menjadi berdebar-debar, pikirnya, “Mengapa tidak tampak Ing-ing?”

Tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, jelas setiap anggota Tiau-yang-sin-kau itu memakai ikat pinggang putih seperti orang yang sedang berkabung, apakah barangkali Ing-ing telah membunuh diri karena sukar mencegah maksud ayahnya yang hendak menyerbu dan membasmi Hing-san-pay?

Tanpa terasa, Lenghou Tiong lantas berlari maju dan menegur Hiang Bun-thian, “Hiang-toako, mana Nona Yim?”

“O, Lenghou-hiante, baik-baikkah kau?” sahut Hiang Bun-thian sambil mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Lenghou Tiong.

Terpaksa Lenghou Tiong mengulangi lagi, “Hiang-toako, mengapa Nona Yim tidak ikut datang?”

“Sebentar tentu kau akan tahu sendiri,” jawab Hiang Bun-thian.

Terpaksa Lenghou Tiong mundur kembali ke tempatnya semula.

Saat itu suasana di atas Kian-seng-hong ternyata sunyi senyap meski berkumpul di situ beberapa ribu orang banyaknya. Ketika tandu besar tadi ditaruh di atas tanah, pandangan semua orang seketika terpusat ke arah kerai tandu untuk menantikan keluarnya Yim Ngo-heng.

Pada saat itu gula tiba-tiba dari dalam Bu-sik-am yaitu biara induk Hing-san-pay, terdengar suara tertawa riuh ramai, seorang berseru dengan suara keras, “Lekas menyingkir, lekas! Bergantian dong! Sekarang giliranku yang coba-coba duduk di situ!”

“Sabar, sabar dulu!” demikian seorang lagi menanggapi. “Bergiliran satu per satu, jangan berebut! Setiap orang pasti akan mencicipi rasanya berduduk di atas kursi sembilan naga ini!”

Nyata itulah suaranya Tho-hoa-sian dan Tho-ki-sian di dalam biara sana. Keruan air muka Hong-ting, Tiong-hi dan Lenghou Tiong seketika berubah. Mereka tahu apa artinya yang sedang diributkan Tho-kok-lak-sian itu. Entah sejak kapan keenam orang sinting itu telah menerobos ke dalam Bu-sik-am dan kini rupanya sedang berebut duduk di atas kursi mestika bersulaman sembilan ekor naga emas itu. Kalau terlalu lama diduduki mereka, bukan mustahil sumbu obat peledak akan bekerja dan tentu akan runyam urusannya.

Maka cepat Tiong-hi Totiang berlari ke dalam biara itu dan membentak, “Hayo, lekas bangun, lekas bangun! Kursi mestika ini khusus disediakan bagi Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau, kalian tidak boleh duduk di situ!”

“Mengapa tidak boleh duduk? Aku justru ingin duduk di sini!” demikian terdengar suara Tho-kok-lak-sian yang ramai.

“Nah, kau sudah merasakan, sekarang giliranku!”

“Wah, empuk benar kursi ini dan mentul-mentul, sama halnya kalau berduduk di atas perut seorang gendut!”

“Hah, apakah kau pernah duduk di perut orang gendut?” begitulah terdengar ribut-ribut pula di antara keenam orang sinting itu.

Lenghou Tiong menjadi khawatir kursi yang diributkan Tho-kok-lak-sian itu benar-benar meledak sebelum waktunya, hal mana berarti seluruhnya akan hancur lebur bersama.

Semula Lenghou Tiong bermaksud memburu ke dalam biara itu untuk mengatasi keributan Tho-kok-lak-sian, tapi entah mengapa, dalam hati kecilnya berbalik seakan-akan mengharapkan obat peledak itu benar-benar meledak selekasnya, toh Ing-ing sudah mati, buat apa dirinya sendiri hidup lebih lama lagi, biarlah semuanya gugur bersama saja dan habis perkara.

Sekilas itu tiba-tiba dilihatnya sepasang mata jeli Gi-lim sedang menatap ke arahnya, tapi begitu kebentrok dengan sinar matanya, segera Gi-lim berpaling ke arah lain.

Tiba-tiba Lenghou Tiong berpikir, “Usia Gi-lim Sumoay masih begini muda belia, tapi dia juga harus ikut hancur oleh ledakan dahsyat itu, bukankah kasihan nasibnya? Akan tetapi setiap manusia akhirnya toh mesti mati juga, seumpama hari ini semua orang yang berada di sini tidak kurang sesuatu apa pun, setelah seratus tahun lagi setiap orang yang hadir di sini sekarang ini toh akan menjadi onggokan tulang belaka.”

Dalam pada itu terdengar suara ribut Tho-kok-lak-sian masih belum mereda, bahkan tambah ramai. Seorang berseru, “He, kau sudah duduk dua kali, sebaliknya aku belum satu kali pun!”

Lalu yang lain menanggapi, “Pertama kali tadi aku belum duduk dengan baik sudah lantas ditarik turun, maka tidak boleh dihitung dan sekarang aku harus diberi kesempatan lagi…. He, apa-apaan ini?”

Rupanya sebelum dia duduk dengan baik kembali dia sudah diseret turun lagi dari atas kursi.

“He, aku ada suatu usul. Begini saja, kita berenam saudara boleh sekaligus duduk berjejal di atas kursi ini, coba muat atau tidak?” demikian tiba-tiba seorang di antaranya mengusulkan.

“Bagus, usul yang bagus! Hayolah kita duduk bersama, hahaha!”

“Kau duduk dulu, aku duduk bagian atas saja!”

“Tidak, kau saja duduk di bawah dan aku di atas!”

Begitulah mereka tambah ribut dan tambah edan-edanan.

Hong-ting menjadi tidak sabar melihat detik bahaya bisa terjadi setiap saat oleh perbuatan Tho-kok-lak-sian yang gila itu, untuk berseru mencegahnya khawatir rahasia obat pasang itu diketahui musuh. Terpaksa ia pun berlari ke dalam biara itu dan membentaknya, “Di luar ada tamu agung kalian jangan bertengkar dan jangan ribut!”

Kata-kata “jangan ribut” itu sengaja diserukan dengan ilmu lwekang “Say-cu-ho” (auman singa) yang mahahebat, serangkum tenaga dalam disemburkan ke arah Tho-kok-lak-sian. Tiong-hi Tojin yang berada di situ juga merasakan kepala pusing dan hampir-hampir roboh, keruan saja Tho-kok-lak-sian tidak tahan, kontan mereka menggeletak tak sadarkan diri.

Dengan girang Tiong-hi segera memburu maju, cepat ia menyingkirkan keenam orang itu dari kursi wasiat yang dia pasang itu serta menutuk hiat-to keenam orang, lalu didorong masuk ke bawah kolong meja sembahyang yang besar itu. Waktu ia pasang telinga mendengarkan di tepi kursi, ternyata tiada sesuatu suara aneh apa-apa, untunglah sumbu obat peledak belum tersentuh rupanya. Tiong-hi merasa bersyukur, tapi ia pun merasa cemas, coba Hong-ting tidak lantas datang, kalau sumbu obat peledak mulai bekerja, maka hancurlah segalanya.

Begitulah bersama Hong-ting segera mereka keluar lagi dan berseru, “Silakan Yim-kaucu masuk ke dalam!”

Akan tetapi tandu hias itu diam-diam saja, orang di dalam tandu tidak memberi jawaban apa.

Tiong-hi menjadi gusar, pikirnya, “Iblis tua ini sungguh terlalu kepala besar, padahal aku dan Hong-ting Taysu serta Lenghou-ciangbun adalah tiga tokoh terkemuka di dunia persilatan sekarang, kami berdiri menyambut padamu ternyata tidak kau gubris sama sekali.”

Coba kalau tidak mengingat perangkap yang telah diaturnya pada kursi wasiatnya itu, mungkin Tiong-hi sudah lantas menerjang maju dengan pedangnya untuk melabrak Yim Ngo-heng. Maka dengan menahan perasaannya Tiong-hi mengulangi lagi undangannya tadi dan di dalam tandu tetap tiada suara orang menjawab.

Tertampak Liang Bun-thian menempelkan telinganya ke dinding tandu, rupanya sedang mendengarkan petunjuk-petunjuk orang di dalam tandu itu, hal ini terbukti Hiang Bun-thian berulang-ulang mengangguk-angguk. Habis itu ia pun berdiri tegak kembali dan berseru, “Yim-kaucu menyatakan terima kasih atas penyambutan Hong-ting Taysu dari Siau-lim-si dan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-san, Yim-kaucu kelak tentu akan berkunjung sendiri ke Siau-lim dan Bu-tong untuk minta maaf.”

Hong-ting dan Tiong-hi sama mendengus, mereka tahu apa yang dimaksudkan Yim Ngo-heng tentu terbalik, dia bilang akan berkunjung ke Siau-lim dan Bu-tong untuk minta maaf, maksud yang sebenarnya adalah kelak gembong Mo-kau itu pasti akan menyapu bersih Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay.

Lalu Hiang Bun-thian bicara pula, “Yim-kaucu bilang bahwa kedatangan beliau ke sini sekarang ini adalah untuk mengadakan pertemuan dengan Lenghou-ciangbun, maka diharap Lenghou-ciangbun suka menemui beliau sendirian di dalam biara.”

Habis itu Hiang Bun-thian lantas memberi tanda bergerak, ke-16 tukang pikul lantas menggotong tandu itu ke dalam biara dan ditaruh di latar sembahyangan. Hiang Bun-thian sendiri dan Lik-tiok-ong juga ikut masuk, tapi kemudian keluar kembali bersama para tukang pikul sehingga di dalam biara hanya tertinggal tandu hias tadi saja.

Diam-diam Tiong-hi merasa sangsi entah apa isi tandu itu, jangan-jangan merupakan perangkap musuh pula. Maka ia coba pandang Hong-ting dan Lenghou Tiong.

Jiwa Hong-ting Taysu memang jujur dan polos, ia pun tidak biasa menghadapi macam-macam kelicikan manusia itu, maka dengan wajah bingung ia pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Segera Lenghou Tiong berkata, “Kalau Yim-kaucu hanya ingin bicara dengan Wanpwe sendirian, harap kedua Cianpwe tunggu sebentar saja di sini.”

“Kau harus waspada,” pesan Tiong-hi dengan suara tertahan.

Lenghou Tiong mengangguk, lalu masuk ke biara dengan langkah lebar.

Biara Bu-sik-am itu sebenarnya cuma sebuah rumah kecil saja, kalau di ruangan sembahyang itu ada orang bicara dengan suara keras pasti akan terdengar dengan jelas dari luar. Begitulah maka Hong-ting dan lain-lain mendengar suara Lenghou Tiong sedang berkata, “Wanpwe Lenghou Tiong menyampaikan salam hormat kepada Yim-kaucu.”

Tapi tidak terdengar suara jawaban Yim Ngo-heng, sebaliknya sejenak kemudian lantas terdengar Lenghou Tiong berseru kaget.

Keruan Tiong-hi dan Hong-ting terkejut dan mengkhawatirkan keselamatan Lenghou Tiong, segera Tiong-hi hendak menerjang ke dalam biara untuk membantunya, tapi lantas terpikir olehnya, “Betapa hebat ilmu pedang adik Lenghou boleh dikata tiada bandingannya di dunia ini, rasanya tidak mungkin ditundukkan iblis tua Mo-kau itu hanya sekali gebrak saja. Andaikan betul adik Lenghou mengalami nasib malang biarpun aku lari masuk ke sana juga sudah terlambat untuk menolongnya. Paling baik kalau iblis tua she Yim itu tidak mencelakai adik Lenghou, lalu biarkan dia sendiri tinggal di dalam dan dia pasti ingin mencoba duduk di atas kursi mewah itu, maka kalau aku menerjang ke dalam jangan-jangan berbalik akan membikin runyam urusan.”

Tapi segera ia sendiri merasa tidak tenteram, terpikir olehnya kalau benar Yim Ngo-heng sudah berduduk di atas kursi itu, sebentar lagi sumbu obat peledak tentu akan mulai bekerja dan Kian-seng-hong ini pasti akan hancur lebur, termasuk semua orang yang berada di situ. Kalau aku sendiri sekarang lantas menyingkir tentu akan kelihatan pengecut, bila menimbulkan curiga Hiang Bun-thian dan begundalnya, lalu memberi peringatan kepada kawannya untuk mengundurkan diri, maka hal ini berarti rencana yang telah kuatur akan gagal total. Sebaliknya kalau peledakan terjadi dan tidak sempat menghindar, lalu bagaimana akibatnya nanti?

Sebenarnya sudah direncanakan secara matang cara bagaimana akan menghadapi pertempuran sengit dengan musuh bila Tiau-yang-sin-kau menyerbu ke atas gunung, lalu cara bagaimana harus mundur teratur diperhitungkan pula, di waktu Yim Ngo-heng berduduk di atas kursi naga sembilan, tentu orang-orang Siau-lim-pay, Bu-tong-pay dan Hing-san-pay sudah menyingkir seluruhnya ke dalam jurang. Tak terduga kedatangan pihak Tiau-yang-sin-kau itu ternyata tidak lantas main kekerasan, sebaliknya datang secara sopan, malahan Yim Ngo-heng minta bertemu secara muka berhadapan muka dengan Lenghou Tiong di dalam biara, semuanya ini sudah di luar perhitungan Tiong-hi semula. Dalam keadaan demikian, biarpun dia banyak tipu akalnya seketika menjadi serbasusah juga.

Hong-ting Taysu juga menyadari gentingnya keadaan, ia pun mengkhawatirkan keselamatan Lenghou Tiong, cuma dia lebih sabar, dadanya juga lebih lapang, baginya mati atau hidup, kalah atau menang, semuanya bukan sesuatu yang luar biasa. Manusia berusaha, tapi Thian yang menentukan. Bagaimana akhirnya sesuatu urusan sering kali sudah ditakdirkan oleh Thian, siapa pun tak bisa memaksakan kehendaknya.

Sebab itulah meski dalam hati Hong-ting juga merasa khawatir, tapi sikapnya tetap tenang saja, baginya bila benar-benar obat pasang meledak sehingga tubuhnya ikut hancur lebur, maka itulah jalan menuju kesempurnaan, kenapa mesti ditakuti?

Tentang di bawah di kursi naga sembilan itu terpasang obat peledak, hal itu dilakukan dengan sangat rahasia, selain Hong-ting Taysu, Tiong-hi dan Lenghou Tiong, serta Jing-hi dan Seng-ko dengan pembantu-pembantunya yang melakukan pemasangan pesawat rahasianya, orang lain boleh dikata tiada yang tahu. Kini Jing-hi, Seng-ko dan pembantu-pembantunya itu sedang menunggu di pinggang gunung, asal terjadi ledakan di atas puncak, segera mereka pun akan menarik sumbu dinamit yang sudah ditanam.

Begitu pula orang-orang Siau-lim-pay, Bu-tong-pay dan anak murid Hing-san-pay juga sedang menunggu hasil pembicaraan antara Lenghou Tiong dengan Yim Ngo-heng, bilamana tiada persesuaian paham dalam pembicaraan itu, serentak mereka pun akan mulai menghadapi orang-orang Tiau-yang-sin-kau dengan kekerasan.

Tapi sesudah ditunggu sekian lamanya ternyata tiada sesuatu suara apa-apa di dalam biara itu, Tiong-hi menjadi sangsi, ia coba kerahkan lwekangnya yang tinggi untuk mendengarkan dengan cermat. Sayup-sayup didengarnya suara Lenghou Tiong yang sangat lirih seperti sedang berbicara apa-apa. Maka legalah hati Tiong-hi, ternyata Lenghou Tiong tidak kurang suatu apa pun di dalam biara.

Karena sedikit pemusatan pikirannya terpencar, suara yang lirih itu sukar ditangkap lagi. Maka ia menjadi ragu-ragu terhadap suara tadi apakah benar-benar suaranya Lenghou Tiong atau bukan? Jangan-jangan salah dengar atau khayalan sendiri saja.

Syukurlah tidak lama kemudian lantas terdengar seruan Lenghou Tiong di dalam biara, “Hiang-toako, silakan kau masuk untuk mengiringi Yim-kaucu ke luar biara!”

Hiang Bun-thian mengiakan, cepat ia bersama Lik-tiok-ong dan ke-16 tukang pikul tandu tadi berlari masuk ke dalam biara, sejenak kemudian tandu besar itu telah digotong keluar lagi. Serentak segera anggota Tiau-yang-sin-kau yang berada di luar situ sama memberi hormat dan bersorak memuji akan kebesaran sang kaucu.

Setiba di tempat permulaan tadi, para tukang pikul itu lantas berhenti dan menaruh tandu besar itu ke bawah.

“Bawakan hadiah Maha-kaucu untuk Hongtiang Siau-lim-si!” tiba-tiba Hiang Bun-thian berseru.

Segera ada dua orang anggota Tiau-yang-sin-kau masing-masing mengaturkan sebuah nampan ke hadapan Hong-ting Taysu dengan sikap sangat menghormat.

Hong-ting melihat di tengah sebuah nampan itu tertaruh serenceng biji tasbih, sedang nampan yang lain berisi sebuah kitab kuno, di atas sampul kitab itu tertulis huruf Hindu kuno yang dikenalnya sebagai kitab “Hoat-hoa-keng”.

Sungguh tak terkatakan girang hati Hong-ting Taysu. Selama hidupnya banyak mempelajari kitab agama Buddha, lebih-lebih mengenai isi Hoat-hoa-keng, cuma yang biasa dia baca adalah kitab terjemahan dalam bahasa Tionghoa, ada bagian-bagian isi kitab itu yang sukar dipecahkan, maka sudah lama dia ingin mencari kitab Hoat-hoa-keng yang asli dalam bahasa Hindu kuno itu sebagai perbandingan. Kini melihat kitab asli yang menjadi idam-idamannya itu, sudah tentu ia kegirangan, cepat ia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.

“Banyak terima kasih atas hadiah besar Yim-kaucu ini, entah cara bagaimana Lolap harus membalasnya,” kita Hong-ting sambil mengambil kitab pusaka itu dengan sikap penuh hormat.

Hiang Bun-thian lantas menjawab, “Kaucu kami mengatakan bahwa Tiau-yang-sin-kau kami telah banyak berbuat kasar terhadap para kesatria, asalkan Hong-tiang Taysu tidak marah dan menegur, maka Tiau-yang-sin-kau kami merasa sangat bersyukur dan terima kasih.”

Habis itu ia berpaling pula kepada anak-buahnya dan berseru, “Aturkan hadiah Maha-kaucu untuk ketua Bu-tong-pay!”

Kembali dua anggota Tiau-yang-sin-kau mengiakan terus tampil ke muka dengan mengangkat nampan masing-masing dan diaturkan ke hadapan Tiong-hi Tojin.

Sebelum kedua orang itu mendekat, dari jauh Tiong-hi sudah lihat di atas salah sebuah nampan itu tertaruh sebatang pedang. Sesudah kedua orang itu mendekat, dilihatnya sarung pedang itu terbuat dari tembaga hijau loreng, jelas adalah sebatang pedang kuno, di atas sarung pedang terukir dua huruf Hindu kuno yang berbunyi “Cin-bu”.

Tanpa terasa Tiong-hi berseru kaget melihat pedang pusaka itu. Ia tahu cikal bakal Bu-tong-pay sendiri, yaitu Thio Sam-hong Cosu, pernah menggunakan sebatang pedang yang diberi nama Cin-bu-kiam, pedang itu selamanya dipandang sebagai pedang pusaka Bu-tong-pay. Kira-kira pada 80 tahun yang lalu Bu-tong-san pernah disatroni beberapa gembong Mo-kau yang berkepandaian tinggi, pedang pusaka itu bersama sejilid kitab “Thay-kek-kun-keng”, kitab ilmu pukulan Thay-kek-kun, semuanya tercuri dan digondol lari.

Dalam pertarungan sengit pada waktu itu, pihak Bu-tong-pay jatuh korban tiga tokoh terkemuka, walaupun pihak Tiau-yang-sin-kau juga meninggalkan lima orang tokohnya, tapi pedang dan kitab pusaka Bu-tong-pay sendiri tak berhasil direbut kembali. Peristiwa itu benar-benar merupakan noda yang memalukan bagi Bu-tong-pay, selama berpuluh tahun ini, setiap pejabat ketua dari tiap-tiap angkatan selalu meninggalkan pesan agar pedang dan kitab pusaka itu harus dicari dan ditemukan kembali.

Akan tetapi Hek-bok-keh, yaitu sarang Tiau-yang-sin-kau itu selalu dijaga keras dan sukar dicapai, beberapa puluh tahun terakhir ini pengaruhnya juga teramat besar, beberapa kali Bu-tong-pay telah berusaha secara terang-terangan maupun secara gelap-gelapan untuk merebut kembali benda pusaka mereka itu, tapi selalu gagal, bahkan setiap kali mesti meninggalkan korban di atas Hek-bok-keh. Sungguh tidak nyana bahwa pedang pusaka itu kini bisa muncul di Kian-seng-hong sini.

Waktu Tiong-hi melirik, dilihatnya di atas nampan yang lain jelas tertaruh pula sejilid kitab kuno yang warnanya sudah agak luntur, di atas sampul kitab tertulis “Thay-kek-kun-keng”. Kitab pusaka itu adalah tulisan tangan asli dari cikal bakal Bu-tong-pay mereka, di atas Bu-tong-san masih banyak tulisan-tulisan tinggalan Thio Sam-hong, maka begitu melihat Thay-kek-kun-keng itu segera Tiong-hi rapat mengenali kitab itu adalah Thay-kek-kun-keng yang tulen.

Dengan tangan gemetar Tiong-hi lantas pegang gagang pedang pusaka itu, perlahan-lahan dilolosnya sebagian, maka terasalah hawa dingin yang menusuk. Ia tahu Sam-hong Cosu di waktu usia sudah lanjut, ilmu pedangnya telah mencapai tingkatan yang tiada taranya, maka jarang sekali cikal bakal itu memakai senjata, seumpama terpaksa harus menggunakan pedang, maka yang digunakan tentu adalah pedang biasa atau pedang kayu saja, Cin-bu-kiam ini adalah senjata yang dipakai Sam-hong Cosu pada waktu muda, sedang pusaka ini sangat tajam dan disegani lawan.

Tiong-hi masih khawatir tertipu aneh Yim Ngo-heng maka ia coba membalik-balik kitab “Thay-kek-kun-keng” itu, dilihatnya tulisan-tulisan di dalam halaman kitab itu memang betul adalah tulisan asli Thio Sam-hong maka dengan cepat ia berlutut dan menyembah kepada pedang dan kitab pusaka itu, habis itu barulah ia berdiri kembali dan berkata, “Banyak terima kasih atas kemurahan hati Yim-kaucu sehingga benda pusaka tinggalan Cosuya kami dapat pulang kandang, biarpun hancur lebur badanku juga sukar membalas budi kebaikan ini.”

Habis berkata barulah ia terima pedang dan kitab pusaka itu, saking terharunya hingga kedua tangannya gemetar tiada hentinya.

“Kaucu kami bilang, dahulu Tiau-yang-sin-kau kami telah banyak mengganggu Bu-tong-pay, sungguh malu kalau dipikir, maka hari ini benda-benda pusaka ini biarlah kembali kandang asalnya, harap pihak Bu-tong-pay sudi memberi maaf,” demikian Hiang Bun-thian berkata.

“Ah, Yim-kaucu terlalu rendah hati,” sahut Tiong-hi.

Lalu Hiang Bun-thian berseru pula, “Sekarang aturkan hadiah Maha-kaucu untuk Lenghou-ciangbun dari Hing-san-pay!”

Dalam hati Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin sama berpikir entah benda mestika apakah yang dihadiahkan Yim Ngo-heng kepada Lenghou Tiong itu mengingat hadiah untuk mereka adalah benda-benda pusaka yang tak ternilai itu.

Tak tahunya sekali ini ternyata tiada sesuatu yang luar biasa, yang maju sekaligus ada 20 orang, semuanya membawa sebuah nampan dan serentak mendekati Lenghou Tiong.

Maka tertampak dengan jelas isi nampan itu tidak lebih hanya sebangsa baju, kopiah, sepatu, poci arak dan cawannya serta alat-alat keperluan sehari-hari lainnya. Walaupun benda-benda itu pun terbuat dengan sangat indah, tapi tiada sesuatu yang luar biasa. Hanya pada sebuah nampan tampak tertaruh sebuah seruling dan sebuah nampan lain berisi sebuah kecapi kuno, kedua benda ini tampaknya jauh lebih berharga daripada yang lain, tapi kalau dibandingkan hadiah yang diterima oleh Hong-ting dan Tiong-hi juga masih jauh berbeda.

Begitulah Lenghou Tiong lantas mengucapkan terima kasih dan suruh anak murid Hing-san-pay menerima hadiah-hadiah itu.

Kemudian Hiang Bun-thian bicara lagi, “Kaucu kami bilang, kedatangan kami ke Hing-san sekali ini telah banyak mengganggu dan tidak pantas. Sebagai hiburan, kami menghadiahkan para Suthay dari Hing-san-pay tiap-tiap orang sepasang baju baru dan pedang sebatang, sedang untuk para Suci dan Sumoay keluarga preman dihadiahi masing-masing perhiasan sebentuk dan pedang sebatang. Selain itu Tiau-yang-sin-kau kami telah memberi tiga ribu hektare sawah di kaki gunung Hing-san ini dan diberikan kepada Bu-sik-am sebagai milik biara ini. Dan sekarang juga bolehlah kami mohon diri.”

Habis berkata ia lantas memberi hormat kepada Hong-ting, Tiong-hi dan Lenghou Tiong bertiga, lalu putar tubuh dan melangkah pergi.

“Hiang-singsing!” tiba-tiba Tiong-hi Tojin memanggilnya.

Hiang Bun-thian berpaling kembali, sahutnya dengan tertawa, “Apakah Totiang ada pesan apa-apa?”

Tiong-hi menjawab, “Tanpa berjasa menerima hadiah besar dari Yim-kaucu, sungguh hati kami merasa tidak enak. Entah… entah….” sampai di sini ia tak dapat meneruskan lagi. Mestinya ia ingin tanya, “Entah apakah artinya pemberian hadiah ini”, tapi pertanyaan ini ternyata tidak sanggup diucapkan.

Hiang Bun-thian hanya tertawa saja, ia memberi hormat pula dan berkata, “Benda pusaka kembali asalnya, hal ini adalah jauh daripada pantas, kenapa Totiang mesti merasa tidak enak hati?”

Lalu ia putar tubuh kembali dan berseru, “Kaucu perintahkan berangkat?”

Serentak suara alat tetabuhan berbunyi gemuruh pula, ke-10 tianglo berjalan di depan sebagai pembuka jalan, ke-16 tukang pikul tandu lantas angkat lagi tandu besar itu dan turun ke bawah gunung dengan iringan barisan-barisan penabuh musik serta barisan-barisan yang berseragam beraneka warna itu.

Sesudah keadaan di Kian-seng-hong sunyi kembali, Hong-ting dan Tiong-hi sama menatap Lenghou Tiong tanpa berkata, dalam hati mereka timbul pertanyaan yang sama, “Mengapa Yim-kaucu tidak jadi menyatroni Hing-san-pay, seluk-beluk hal ini hanya kau saja yang tahu.”

Tapi dari air muka Lenghou Tiong sedikit pun tak tampak sesuatu perubahan yang dapat memberi jawaban bagi pertanyaan mereka itu. Hanya tertampak wajah Lenghou Tiong ya rada senang dan juga rada berduka.

Sementara, itu orang-orang Tiau-yang-sin-kau sudah pergi jauh, suara tetabuhan yang gemuruh tadi sudah tak terdengar, teriakan semboyan-semboyan mereka pun lenyap, datangnya gagah perkasa penuh wibawa, tapi tahu-tahu pergi begitu saja tanpa terjadi apa-apa.

Tiong-hi tidak tahan, segera ia bertanya, “Lenghou-ciangbun, tiba-tiba Yim-kaucu sedemikian murah hati, tentunya karena dia menghargai dirimu, Entah tadi… tadi….” mestinya ia ingin tanya “entah tadi apa yang dia bicarakan dengan kau”. Tapi lantas teringat olehnya bahwa hal itu kalau memang boleh diceritakan tentu sudah diceritakan oleh Lenghou Tiong, sebaliknya kalau tidak boleh diceritakan, pertanyaannya menjadi tidak pantas malah. Karena itulah dia urung meneruskan pertanyaannya itu.

Tapi Lenghou Tiong dapat memahami pikiran Tiong-hi, segera ia berkata, “Harap kedua Cianpwe sudi memaafkan, soalnya tadi Wanpwe sudah berjanji kepada Yim-kaucu, maka seluk-beluk urusan ini sementara tak dapat kukatakan. Namun dalam urusan sesungguhnya juga tiada sesuatu rahasia penting, tidak lama lagi tentu juga kedua Cianpwe akan mendapat tahu.”

Hong-ting bergelak tertawa, katanya, “Suatu bencana besar dalam sekejap telah lenyap seluruhnya, sungguh beruntung bagi dunia persilatan umumnya. Melihat gerak-gerik Yim-kaucu tadi, tampaknya tiada tanda-tanda permusuhannya dengan pihak cing-pay kita, maka kita benar-benar harus bersyukur dan bergirang karena malapetaka yang hampir menimbulkan banjir darah ini dapat dihapus dengan cara begini saja.”

Hati Tiong-hi seperti dikitik-kitik karena tetap tak tahu teka-teki apa yang tersembunyi di balik kejadian tadi, tetapi ia pun merasa apa yang dikatakan Hong-ting itu juga benar, maka kemudian ia pun berkata, “Bukan maksudku mengkhawatirkan hal-hal yang takkan terjadi, cuma biasanya Tiau-yang-sin-kau memang licik dan banyak tipu akalnya, betapa pun kita harus waspada. Sebab bukan mustahil Yim-kaucu telah mengetahui kesiapsiagaan kita, bisa jadi dia takut akan obat peledak yang telah kita pasang, sebab itulah hari ini dia sengaja membaiki kita, tapi lain hari kalau kita lengah, mungkin dia akan menyergap kita secara mendadak. Mungkinkah terjadi demikian jika menurut pendapat kalian berdua?”

“Ya, memang… memang hati manusia sukar diukur, segala apa, ada lebih baik waspada,” ujar Hong-ting.

Sedang Lenghou Tiong tampak menggeleng dan berkata dengan tegas, “Tidak, pasti takkan terjadi begitu.”

“Jika Lenghou Tiong yakin takkan terjadi begitu, maka segala sesuatu tentu akan menjadi baik,” kata Tiong-hi.

Selang tak lama, laporan dari bawah gunung menyatakan bahwa pasukan Tiau-yang-sin-kau sudah mengundurkan diri ke bawah gunung, lantaran tidak diberi perintah, maka penjaga di situ tidak mencegatnya dan melabrak musuh, juga dinamit yang terpendam itu tidak diledakkan.

(( Dikumpulkan dari berbagai situs, oleh : Laura VCO )

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: