Hina Kelana: Bab 142. Menantikan Musuh dengan Perangkap

Hina Kelana
Bab 142. Menantikan Musuh dengan Perangkap
Oleh Jin Yong

Mendengar keterangan itu, serentak air muka Lenghou Tiong dan para padri Siau-lim-si berubah. Hong-ting Taysu lantas menyebut, “Omitohud!”

Lalu Tiong-hi berkata pula, “Kebaikan pesawat rahasia di dalam kursi itu adalah tidak seketika bekerja, bila diduduki begitu saja takkan terjadi apa-apa, tapi mesti diduduki kira-kira seminuman teh baru sumbu obat peledak itu akan bekerja. Yim Ngo-heng itu seorang cerdik dan suka curiga, bila mendadak tampak ada sebuah kursi bagus di sini tentu dia takkan berduduk begitu saja, dia pasti akan suruh bawahannya mencoba-coba berduduk di situ lebih dulu, habis itu barulah dia berani berduduk. Di atas kursi ini tersulam naga menyongsong matahari, tertulis pula semboyan-semboyan yang memuja sang kaucu, tentu anak buah Mo-kau tak berani duduk lama-lama, sedangkan sekali Yim Ngo-heng sudah berduduk di situ tentu enggan meninggalkan kursi kebesaran ini.”

“Cara pemikiran Totiang sungguh sangat rapi,” puji Lenghou Tiong.

“Selain itu Jing-hi Sute juga telah mengatur perangkap lain,” kata Tiong-hi. “Kalau Yim Ngo-heng ternyata tidak mau berduduk di atas kursi ini dan suruh orang membongkarnya untuk diperiksa, asalkan sesuatu onderdil kursi itu dicopot, seketika juga akan menimbulkan bekerjanya pesawat sumbu obat peledak. Sekali ini Seng-ko Sutit membawa 20 ribu kati obat peledak ke sini, bila betul-betul diledakkan, rasanya pegunungan indah kalian ini tak terhindar dari kehancuran.”

Lenghou Tiong menjadi ngeri membayangkan akibatnya. Pikirnya, “Obat peledak sebanyak 20 ribu kati, sekali meledak tentu segalanya akan hancur lebur, Yim-kaucu jelas pasti akan hancur, Ing-ing dan Hiang-toako juga sukar terhindar dari maut.”

Melihat air muka Lenghou Tiong rada berubah, Tiong-hi lantas berkata, “Mo-kau telah menyatakan dengan tegas akan membasmi Hing-san-pay kalian secara habis-habisan, habis itu mereka tentu akan menyerang Siau-lim dan Bu-tong kami, korban besar pasti akan jatuh, bencana tentu sukar terhindar. Kalau sekarang kita menggunakan akal ini untuk menghadapi Yim Ngo-heng, meski caranya rada keji, tapi tujuan kita adalah untuk membinasakan gembong Mo-kau itu demi jiwa berpuluh ribu orang bu-lim umumnya.”

“Omitohud!” Hong-ting Taysu bersabda. “Memang begitulah jalan yang welas asih, korbankan seorang untuk menolong beratus ribu orang.”

Lenghou Tiong merasa ucapan itu memang masuk di akal, sedangkan Tiau-yang-sin-kau sudah menyatakan akan membunuh habis segenap penghuni Hing-san, jika sekarang pihak cing-pay menggunakan perangkap dan meledakkan musuh, hal ini adalah pantas, tiada seorang pun yang dapat menyangkalnya. Hanya saja kalau Yim Ngo-heng harus dibunuh, dalam hati Lenghou Tiong merasa enggan, apalagi membunuh Hiang Bun-thian, baginya lebih baik dirinya sendiri mati lebih dulu. Mengenai mati-hidup Ing-ing malah tidak menjadikan pikirannya, sebab sudah jelas, kedua muda-mudi mereka toh akan sehidup dan semati, makanya tidak perlu dirisaukan.

Begitulah ketika melihat sorot mata semua orang diarahkan kepadanya, setelah memikir sejenak, kemudian Lenghou Tiong berkata, “Urusan sudah begini, Tiau-yang-sin-kau telah mendesak kita hingga menghadapi jalan buntu, kukira tipu yang diatur Tiong-hi Totiang ini adalah cara yang paling sedikit jatuhnya korban.”

“Ucapan Adik Lenghou memang tidak salah,” kata Tiong-hi. “Paling sedikit jatuh korban justru adalah hal yang kita harapan.”

“Usia Wanpwe terlalu muda dan pengalaman cetek, maka urusan hari ini biarlah kuserahkan kepada Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang untuk memimpinnya,” kata Lenghou Tiong kemudian. “Yang pasti Wanpwe akan memimpin anak murid Hing-san-pay untuk bersama-sama menghadapi musuh.”

“Ah, mana boleh begitu,” ujar Tiong-hi tertawa. “Kau adalah tuan rumah, aku dan Hongtiang Taysu adalah tamu, mana boleh tamu menggeserkan tempat tuan rumah.”

“Dalam hal ini bukan Wanpwe sengaja rendah hati, tapi benar-benar mohon kedua Cianpwe sudi memimpinnya,” kata Lenghou Tiong dengan sungguh-sungguh.

“Jika tekad Lenghou-ciangbun sudah tegas begitu, maka Toheng juga tidak perlu sungkan dan menolaknya,” ujar Hong-ting Taysu. “Biarlah urusan besar sekarang diputuskan oleh kita bertiga bersama, tapi Toheng yang akan memberikan perintah pelaksanaannya.”

Setelah mengucapkan kata-kata rendah hati, akhirnya Tiong-hi menerima juga usul itu, katanya kemudian, “Jalan yang menuju ke Hing-san sini sudah kita beri penjagaan, maka setiap waktu pihak Mo-kau menyerbu datang, sebelumnya kita pasti akan mendapat kabar. Dahulu waktu Adik Lenghou memimpin orang banyak menyerbu Siau-lim-si, kami tunduk di bawah pimpinan Co Leng-tan dan memasang perangkap ‘Khong-sia-keh’ (Tipu Kota Kosong)….”

“Dahulu Wanpwe benar-benar sembrono, mohon maaf,” sela Lenghou Tiong.

“Sungguh tidak nyana, yang dulu menjadi musuh sekarang malah menjadi kawan,” kata Tiong-hi pula dengan tertawa. “Kalau sekarang kita memasang perangkap Khong-sia-keh lagi tentu tak bisa berhasil, sebab pasti akan menimbulkan curiga Yim Ngo-heng. Maka menurut pendapatku, biarlah segenap anggota Hing-san-pay bertahan di atas gunung sini, Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay kami masing-masing memilih beberapa orang untuk ikut membantu. Sebab kalau pihak Siau-lim dan Bu-tong tidak memberi bantuan, hal ini pasti akan menimbulkan curiga Yim Ngo-heng.”

Hong-ting dan Lenghou Tiong sama menyatakan setuju atas jalan pikiran tosu itu.

Lalu Tiong-hi melanjutkan, “Sedang kawan-kawan dari Kun-lun-pay, Go-bi-pay, Khong-tong-pay, dan lain-lain boleh sembunyi saja di dalam gua, tidak perlu memperlihatkan diri. Kalau Mo-kau sudah menyerbu tiba, orang-orang Hing-san, Siau-lim, dan Bu-tong akan melawannya dengan sepenuh tenaga, cara bertempur kita harus sungguh-sungguh, jago-jago yang kita tonjolkan adalah tokoh-tokoh kelas satu, semakin banyak membunuh lawan semakin baik, sedang pihak sendiri sedapat mungkin menghindarkan jatuhnya korban.”

Tiba-tiba Hong-ting menghela napas, katanya, “Jago-jago di pihak Tiau-yang-sin-kau tidak terhitung banyaknya, kedatangan mereka sekali ini telah direncanakan, maka pertempuran ini sukar menghindarkan korban banyak di kedua pihak.”

“Begini,” tutur Tiong-hi pula, “kita boleh mencari suatu tebing jurang yang terjal, kita pasang tali panjang di situ, bila melihat gelagat pertempuran tidak menguntungkan kita, satu per satu kita lantas melorot ke bawah jurang dengan tali panjang sehingga musuh tak dapat mengejar. Setelah mendapat kemenangan besar, Yim Ngo-heng tentu akan kegirangan dan lupa daratan, bila melihat kursi kebesaran ini, tentu akan terus didudukinya dan sekali sumbu obat peledak bekerja, maka hancurlah tubuh iblis she Yim itu biarpun dia memiliki kepandaian setinggi langit. Menyusul itu delapan jalan yang menuju ke atas Hing-san sini juga akan meledak sehingga orang-orang Mo-kau betapa pun tak dapat turun lagi ke bawah.”

“Jalan-jalan yang menuju ke atas sini akan diledakkan?” Lenghou Tiong menegas.

“Ya,” jawab Tiong-hi. “Mulai besok pagi Seng-ko Sutit akan menanam dinamit di jalan-jalan itu. Sekali dinamit itu meledak, seketika jalan-jalan itu akan terputus. Betapa pun banyak anggota Mo-kau yang menyerbu ke atas sini tentu akan mati kelaparan semua di sini. Yang kita tiru adalah tipu Co Leng-tan dahulu, cuma sekali ini musuh pasti tiada kesempatan meloloskan diri melalui jalan di bawah tanah.”

“Ya, sungguh sangat kebetulan saja dahulu kami dapat lolos dari Siau-lim-si,” kata Lenghou Tiong. “Tapi….” tiba-tiba ia ingat sesuatu.

“Apakah Adik Lenghou merasa tipu yang kita atur ini ada sesuatu yang kurang sempurna?” tanya Tiong-hi.

“Wanpwe pikir nanti Yim-kaucu tentu akan merasa senang bila melihat kursi mestika ini, tapi dia tentu juga akan heran mengapa Hing-san sengaja membuatkan kursi demikian ini. Bila hal ini tidak dibikin terang, rasanya Yim-kaucu tak mau tertipu.”

“Soal ini memang juga sudah kupikirkan,” kata Tiong-hi. “Sebenarnya iblis tua itu mau duduk di atas kursi ini atau tidak bukan soal bagi kita, sebab kita sudah memasang sumbu obat lain yang juga dapat diledakkan.”

“Susiok,” tiba-tiba Seng-ko menyela, “Tecu punya suatu usul, entah dapat dijalankan atau tidak?”

“Coba katakan, biar minta pertimbangan Hongtiang Taysu dan Lenghou-ciangbun,” sahut Tiong-hi dengan tertawa.

“Kabarnya Lenghou-ciangbun ada ikatan perjodohan dengan putri Yim-kaucu,” kata Seng-ko. “Berhubung perbedaan aliran cing dan sia, maka timbul halangan. Kalau sekarang Lenghou-ciangbun mengutus dua murid Hing-san-pay untuk menemui Yim-kaucu dan menyatakan bahwa mengingat diri Yim-siocia, maka Lenghou-ciangbun telah sengaja mengundang ahli membuatkan sebuah kursi mestika untuk dipersembahkan kepada Yim-kaucu dengan harapan kedua pihak akan terhindar dari pertempuran menuju perdamaian. Dengan demikian, apakah Yim-kaucu mau menerima usul Lenghou-ciangbun atau tidak bukan soal bagi kita, yang pasti kalau dia sudah naik ke sini dan melihat kursi tentu dia takkan curiga lagi.”

“Sungguh akal yang bagus,” seru Tiong-hi. “Dengan demikian….”

“Jangan!” mendadak Lenghou Tiong menggeleng kepala.

Tiong-hi tercengang, tanyanya kemudian, “Adakah pendapat Lenghou-ciangbun yang lebih baik?”

“Bahwasanya Yim-kaucu ingin membunuh segenap anggota Hing-san-pay kami, maka aku akan melawannya sepenuh tenaga, boleh melawannya dengan akal atau melawannya dengan kekerasan. Misalnya dia benar-benar datang hendak membunuh kita, maka kita lantas meledakkan dia. Akan tetapi aku sekali-kali tak mau membohongi dia.”

Ucapan Lenghou Tiong tegas dan pasti tanpa ragu-ragu sedikit pun.

Mau tak mau Tiong-hi harus memujinya, “Bagus! Adik Lenghou benar-benar seorang laki-laki sejati yang jujur, sungguh mengagumkan. Biarlah kita tetap melaksanakan rencana semula, apakah nanti iblis Mo-kau itu akan curiga atau tidak terserah padanya, yang pasti bila dia datang ke sini hendak mencelakai kita, tentu dia akan tahu rasa sendiri.

Begitulah mereka lantas berunding lagi tentang cara-cara menghadapi musuh, cara bagaimana harus melakukan perlawanan dan cara bagaimana melindungi anak-buah supaya tidak banyak jatuh korban serta cara bagaimana mengundurkan diri ke belakang gunung, lalu cara bagaimana harus memasang sumbu dinamit agar meledak.

Tiong-hi benar-benar seorang tua yang cermat, dia khawatir di waktu menghadapi musuh mungkin orang yang ditugaskan memasang sumbu obat peledak mengalami nasib malang, maka dia sengaja menambahkan dua orang pembantu buat tugas penting itu.

Malam itu Hong-ting, Tiong-hi dan rombongannya lantas bermalam di Kian-seng-hong situ. Besok paginya Lenghou Tiong mengajak mereka berkeliling memeriksa keadaan pegunungan itu. Jing-hi dan Seng-ko berdua dapat memilih tempat-tempat strategis untuk menanam dinamit serta memasang sumbu obat peledak, begitu pula tempat-tempat penjagaan yang penting. Selain itu dipilih pula empat tempat yang curam sebagai jalan mengundurkan diri jika musuh sudah menyerbu secara besar-besaran. Keempat tempat itu akan dijaga oleh Hong-ting, Tiong-hi, Hong-sing dan Lenghou Tiong sendiri, musuh harus ditahan supaya tidak dapat mendekat, bila semua orang sudah turun ke bawah jurang melalui tali panjang yang dipasang di tempat-tempat curam itu, kemudian barulah keempat tokoh utama mereka akan turun ke bawah. Habis itu tali panjang akan diputuskan supaya musuh tidak mampu mengejar ke bawah.

Petang harinya kembali ada berpuluh orang Bu-tong-pay naik ke atas gunung dengan menyamar sebagai petani, tukang kayu dan sebagainya, di bawah pimpinan Jing-hi dan Seng-ko beramai-ramai mereka mulai mengatur penanaman dinamit. Pada tempat-tempat yang menuju ke atas gunung telah dijaga ketat oleh anak murid Hing-san-pay, orang yang tidak berkepentingan tidak boleh lewat, satu sama lain tidak boleh sembarangan bicara untuk menjaga agar pihak Tiau-yang-sin-kau tidak dapat mengirimkan mata-mata untuk mencari tahu rahasia pertahanan mereka.

Setelah sibuk tiga hari berturut-turut, segala sesuatu telah diatur dengan beres, mereka tinggal menunggu datangnya pihak Tiau-yang-sin-kau. Sementara itu waktunya sudah dekat sebulan sejak pertemuan dengan Yim Ngo-heng, biasanya apa yang dikatakan gembong Mo-kau pasti ditepati, maka pada waktunya tentu dia akan datang.

Dalam beberapa hari Tiong-hi dan kawan-kawannya itu sangat sibuk, sebaliknya Lenghou Tiong malah menganggur. Setiap hari ia selalu menghafalkan kalimah-kalimah lwekang yang diajarkan Hong-ting Taysu itu dan meyakinkannya menurut cara yang diberikan, bila ada bagian-bagian yang tidak paham ia lantas minta petunjuk kepada Hong-ting.

Sore hari itu, Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, The Oh, Cin Koan, dan lain-lain sedang berlatih ilmu pedang di ruangan latihan, Lenghou Tiong mengawasi dan memberi petunjuk-petunjuk kepada anak murid Hing-san-pay itu.

Di antara anak murid itu usia Cin Koan paling muda, tapi daya terimanya paling cepat terhadap inti ilmu pedang yang diajarkan.

“Cin-sumoay sungguh pintar,” demikian Lenghou Tiong memuji. “Latihanmu kini sudah banyak maju, selanjutnya….”

Sampai di sini, sekonyong-konyong perutnya terasa sangat kesakitan, seketika langit seperti ambruk dan bumi berputar, kontan ia roboh tak sadarkan diri.

Keruan Gi-ho dan lain-lain terkejut, beramai-ramai mereka memburu maju untuk membangunkannya dan sama bertanya apa yang terjadi.

Lenghou Tiong tahu macam-macam hawa murni di dalam tubuhnya kembali bergolak lagi, celakanya mulut sukar dibuka, susah menerangkan.

Selagi anak murid Hing-san-pay itu gelisah, tiba-tiba terdengar suara angin berkesiur, tertampak dua ekor burung merpati putih terbang masuk ruangan itu.

“Wah!” seru Gi-ho dan kawan-kawannya.

Kiranya, Hing-san-pay banyak memiara merpati pos, dahulu waktu Ting-sian Suthay terkepung musuh di Hokkian, pernah juga dia menggunakan merpati pos untuk minta bala bantuan.

Sekarang kedua ekor merpati yang terbang datang ini adalah lepasan anak murid Hing-san-pay yang berjaga di bawah gunung, di punggung merpati-merpati itu diberi berwarna merah. Maka begitu lihat lantas tahu pihak musuh telah datang.

Sejak orang-orang Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay tiba, para murid Hing-san-pay sama merasa lega karena datangnya bala bantuan yang kuat itu. Siapa tahu pada saat genting sekarang ini mendadak penyakit Lenghou Tiong kumat dan jatuh pingsan, hal ini sungguh di luar dugaan.

“Gi-bun Sumoay, lekas laporkan kepada Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang,” seru Gi-jing. Cepat Gi-bun mengiakan dan segera berangkat.

Lalu Gi-jing berkata pula, “Gi-ho Suci, harap engkau membunyikan genta.”

Gi-ho mengangguk terus berlari keluar menuju ke menara genta. Tak lama kemudian, terdengarlah suara genta bertalu-talu menggema angkasa, menyusul itu genta-genta besar di berbagai tempat yang terpisah-pisah itu pun dibunyikan.

Sebelumnya oleh Tiong-hi Tojin memang telah ditetapkan bunyi genta sebagai tanda bahaya datangnya musuh, segala sesuatu telah diatur dengan rapi. Maka sekarang mereka pun tidak menjadi kacau, segera tokoh-tokoh Hing-san, Siau-lim dan Bu-tong-pay yang telah mendapat pembagian tugas lantas melakukan tugasnya dan menuju ke tempat masing-masing siap menghadapi musuh.

Menurut rencana, untuk mengurangi jatuhnya korban, maka jalan-jalan penting sejak pinggang gunung hingga puncak Kian-seng-hong, sama sekali tidak diberi penjagaan, bahkan sengaja memberi keleluasaan agar pihak musuh dapat menyerbu ke atas dengan lancar, sesudah di atas puncak gunung barulah musuh akan dilabrak.

Maka setelah bunyi genta berhenti, pegunungan Hing-san serentak juga berubah menjadi sunyi senyap hingga menambahkan tegangnya suasana.

Para jago-jago pilihan dari Kun-lun-pay, Go-bi-pay, Khong-tong-pay dan lain-lain juga sudah siap sembunyi di tempat-tempat yang dirahasiakan, dengan berdebar-debar mereka menunggu orang-orang Tiau-yang-sin-kau menyerbu ke atas, dan begitu ada tanda perintah, serentak mereka akan menyerbu keluar untuk memotong jalan mundur pihak musuh.

Tiong-hi sengaja tidak memberitahukan kepada orang-orang Kun-lun-pay dan lain-lain itu tentang perangkap yang telah diaturnya dengan obat peledak itu. Maklumlah, ia harus menjaga segala kemungkinan. Pihak Tiau-yang-sin-kau sangat lihai, jangan-jangan di antara anak murid Kun-lun-pay ada agen rahasianya juga bukan sesuatu yang aneh.

Lenghou Tiong mendengar bunyi genta yang bertalu-talu itu, ia tahu Tiau-yang-sin-kau sudah mulai menyerbu, tapi perutnya sendiri justru kesakitan sekali seperti disayat-sayat oleh beratus-ratus pisau tajam. Saking sakitnya ia pegangi perut sendiri dan berguling-guling di atas tanah.

Melihat itu, Gi-lim dan Cin Koan menjadi khawatir hingga muka mereka pucat, mereka menjadi bingung pula dan tak berdaya.

“Marilah kita membawa Ciangbunjin ke biara induk, coba minta nasihat Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang bagaimana kita harus bertindak,” ujar Gi-jing.

Segera Ih-soh dan seorang nikoh tua menyangga kedua ketiak Lenghou Tiong, dengan setengah memayang dan setengah diseret mereka membawanya ke dalam Bu-sik-am, biara induk tersebut.

Baru sampai di pintu biara itu, terdengarlah suara dentuman meriam disusul dengan bunyi trompet dan suara tambur, nyata secara terang-terangan pihak Tiau-yang-sin-kau sudah mulai menyerbu ke atas gunung.

Hong-ting dan Tiong-hi telah menerima laporan tentang kumatnya penyakit Lenghou Tiong, mereka pun sudah berlari keluar dari biara itu.

“Lenghou-ciangbun, kau jangan khawatir,” kata Tiong-hi. “Aku sudah suruh Jing-hi Sute mewakilkan aku untuk memimpin orang-orang Bu-tong-pay kami, untuk tugas membela Hing-san-pay kalian bolehlah kuwakilkan dirimu.”

“Jang… jangan, mana… mana boleh!” sahut Lenghou Tiong dengan tergagap. “Ambilkan… ambilkan pedangku!”

Hong-ting juga menasihatkan agar Lenghou Tiong mau terima usul Tiong-hi itu, tapi Lenghou Tiong berkeras tidak mau. Betapa pun dia adalah tuan rumahnya, orang lain tidak dapat memaksanya untuk menurut.

Dalam pada itu suara trompet dan tambur tadi mendadak berhenti, lalu terdengarlah suara sorak-sorai orang-orang Tiau-yang-sin-kau yang riuh ramai, “Hidup Maha-kaucu! Hidup!”

Dari riuhnya suara itu dapat ditaksir sedikitnya ada beberapa ribu orang banyaknya.

Hong-ting, Tiong-hi dan Lenghou Tiong bertiga saling pandang dengan tertawa, mereka yakin rencana dan perangkap yang mereka atur sebentar lagi pasti akan berhasil menghancurkan musuh.

Sementara itu Gi-cit telah menyodorkan pedang yang diminta Lenghou Tiong, maksud Lenghou Tiong hendak menerima pedang itu, tapi tangannya ternyata gemetar hebat dan sukar memegang kencang pedangnya.

Ketika Gi-cit baru saja menggantung pedang itu di ikat pinggang Lenghou Tiong, tiba-tiba terdengar pula suara tetabuhan bergema, lagu yang dibunyikan kedengaran sangat menarik, sama sekali bukan lagu perang.

Lalu beberapa orang berseru bersama, “Maha-kaucu Tiau-yang-sin-kau hendak naik ke atas Kian-seng-hong untuk bertemu dengan Lenghou-ciangbun dari Hing-san-pay!”

Hong-ting berkata kepada kawan-kawannya, “Rupanya Tiau-yang-sin-kau memakai cara halus lebih dulu baru kemudian menggunakan kekerasan. Kita juga jangan sampai dipandang rendah. Lenghou-ciangbun, biarkan mereka naik saja ke sini!”

Lenghou Tiong mengangguk setuju. Pada saat itu juga kembali perutnya kesakitan seperti di-iris-iris. Dalam keadaan terpaksa, ia coba mengerahkan lwekang ajaran Hong Jing-yang.

Akan tetapi latihan permulaan bagi lwekang itu adalah mengantar hawa murni di dalam tubuh agar masuk ke perut. Padahal waktu itu di dalam perutnya sedang bergolak macam-macam hawa murni yang aneh-aneh dan berlainan, saling gontok dan saling terjang tak keruan, ditambah lagi kini dia mengerahkan lwekang sendiri untuk mengantarkan tenaganya itu, maka tiada ubahnya seperti bunuh diri saja, keruan sakitnya makin bertambah.

Dasar Lenghou Tiong memang berwatak nekat, ia pikir toh sudah kesakitan, paling-paling juga cuma mati kesakitan saja. Maka tanpa pikir akibatnya ia terus mengerahkan lwekang ajaran Hong Jing-yang itu secara teratur agar menyalur ke jalan yang tepat.

Benar juga, pergolakan dan pertarungan macam-macam hawa murni di dalam perutnya tambah hebat dari sukar ditahan, tapi setelah berputar-putar lagi, kemudian berbagai hawa murni itu dapat diantar ke jalan yang benar, samar-samar seperti memasuki relnya sendiri dan mulai berputar dengan lancar, meski tetap kesakitan, tapi sudah tidak saling terjang lagi.

Dalam pada itu terdengar Hong-ting Taysu sedang berkata dengan perlahan menjawab seruan orang-orang Mo-kau tadi, “Ketua Hing-san-pay, Lenghou Tiong, ketua Bu-tong-pay, Tiong-hi Tojin dan ketua Siau-lim-pay Hong-ting, bersama-sama menantikan kunjungan Yim-kaucu yang terhormat dari Tiau-yang-sin-kau!”

Suara Hong-ting kedengaran perlahan saja, tapi berkumandang jauh hingga mencapai di bawah gunung. Padahal suara belasan gembong Mo-kau tadi harus berteriak sekerasnya baru suara mereka dapat berkumandang ke atas gunung. Maka benar-benar sangat mencolok sekali kehebatan tenaga dalam Hong-ting Taysu.

Lenghou Tiong sendiri lantas duduk bersila dan mengerahkan lwekangnya secara lebih tekun, ia memusatkan pikiran dan mengatur pernapasan, dengan menurutkan petunjuk Hong-ting Taysu itu, berlatihlah dia secara lebih mendalam.

Padahal lwekang itu baru dia latih beberapa hari saja, meski setiap hari Hong-ting Taysu juga memberi petunjuk-petunjuk, namun memang latihannya belum sempurna, untunglah sesudah latihan lwekang itu, berbagai hawa murni yang bergolak di dalam tubuh itu lambat-laun dapat ditenangkan dan disalurkan ke jalan yang benar.

Lenghou Tiong tidak berani ayal, ia menjalankan lwekangnya dengan lebih tekun dan teratur. Semula ia mendengar suara tetabuhan, tapi akhirnya ia tidak mendengar apa-apa lagi, ia telah memusatkan segenap pancaindranya ke dalam latihannya itu.

Melihat ketekunan Lenghou Tiong itu, Hong-ting Taysu tersenyum senang.

Sementara itu suara tetabuhan tadi semakin ramai, terdengar orang-orang Tiau-yang-sin-kau sama berteriak menyorakkan semboyan sanjung puji terhadap kaucu mereka, suara teriakan itu semakin gemuruh dan nyata rombongan Yim-kaucu itu sedang naik ke atas.

Jalan pegunungan yang menuju ke Kian-seng-hong itu cukup panjang, meski suara anggota-anggota Tiau-yang-sin-kau itu berteriak-teriak sekian lamanya toh masih belum mencapai puncak gunung. Diam-diam para jagoan yang sembunyi di tempat masing-masing itu menggerutu akan lagak pihak Mo-kau yang tengik itu, sudah sorak-sorak memuji sang kaucu secara berlebih-lebihan pakai tetabuhan musik apa segala, memangnya mau main sandiwara? Demikian pikir mereka.

Tapi bagi mereka yang siap-siap menghadapi musuh itu pun merasa berdebar-debar, menurut perkiraan mereka, begitu pihak Mo-kau menyerbu ke atas gunung, serentak mereka akan melompat keluar dari tempat sembunyi untuk melabrak musuh, bila jumlah musuh makin membanjir dan sukar ditahan, maka segera mereka akan mengundurkan diri dan turun ke bawah jurang di belakang gunung melalui kerekan tali. Tak terduga kedatangan Yim Ngo-heng itu ternyata pakai lagak tuan besar, bahkan seperti maharaja saja dengan segala kebesarannya, keruan orang-orang yang menunggu bertempur itu berbalik tambah tegang malah.

Selang sekian lamanya, Lenghou Tiong merasa hawa murni di dalam tubuhnya lambat laun dapatlah diatasi, rasa sakitnya mulai berkurang. Tiba-tiba ia ingat kepada apa yang sedang terjadi, ia pikir sudah waktunya Yim-kaucu akan tiba sekarang, seketika ia pun melonjak bangun.

“Sudah baik sedikit?” tanya Hong-ting dengan tertawa.

“Apakah sudah mulai bergebrak?” tanya Lenghou Tiong.

“Belum, malah pihak sana belum datang,” sahut Hong-ting.

“Bagus!” seru Lenghou Tiong sambil melolos pedangnya. Tapi dilihatnya Hong-ting, Tiong-hi dan lain-lain ternyata tidak memegang senjata. Gi-ho, Gi-jing dan anak murid Hing-san yang lain berbaris di depan sana dalam formasi barisan pedang, tapi senjata mereka pun belum terhunus. Barulah Lenghou Tiong ingat bahwa musuh belum lagi datang, sikap diri sendirilah yang terlalu gugup, ia menjadi geli sendiri dan simpan kembali pedangnya.

Dalam pada itu terdengar suara alat tetabuhan tadi mendadak berhenti, sebagai gantinya bergemalah suara seruling dan kecapi yang halus. Dalam hati Lenghou Tiong anggap Yim-kaucu terlalu banyak tingkah polah. Setelah suara musik yang halus itu tentu sang kaucu sendiri akan muncul.

Benar juga, di tengah suara bunyi guling dan kecapi yang merdu, dua barisan anggota Tiau-yang-sin-kau tampak muncul di atas puncak Kian-seng-hong. Pandangan semua orang mendadak terbeliak, ternyata tiap-tiap anggota Tiau-yang-sin-kau itu memakai jubah hijau sulaman yang baru gres, pakai ikat pinggang putih. Empat puluh orang dari barisan itu membawa nampan dengan lapisan kain sutra, entah barang apa yang tertaruh di atas nampan mereka itu.

Ke-40 orang itu ternyata tidak membawa senjata, bahkan sesudah naik ke atas puncak mereka lantas berdiri tegak di kejauhan. Menyusul mana muncul pula di belakang ke-40 orang berjubah sulaman itu salah satu barisan yang terdiri dari 200 orang peniup seruling dan pemetik kecapi, semuanya juga berseragam jubah sulaman, sambil berjalan mereka terus membunyikan alat musik mereka.

Habis itu yang muncul adalah tukang-tukang pukul tambur, peniup trompet, penabuh gembreng dan alat-alat musik berat lainnya.

Lenghou Tiong menjadi tertarik oleh macam-macam peralatan musik itu, pikirnya, “Sebentar kalau mulai bertempur, kalau diiringi dengan suara alat musik berat itu, bukanlah mirip pertempuran di panggung sandiwara saja?”

Di tengah suara bunyi musik itu, barisan-barisan anggota Tiau-yang-sin-kau masih terus naik ke atas. Barisan-barisan itu agaknya diatur menurut kode masing-masing dengan warna pakaian yang berbeda-beda pula, ada yang berseragam hijau, kuning, biru, hitam, putih, semuanya serbabaru. Persamaan antara barisan-barisan itu hanya ikat pinggang mereka, yaitu sama-sama menggunakan ikat pinggang warna putih. Jumlah yang naik ke atas Kian-seng-hong diperkirakan ada tiga sampai empat ribu orang.

Dalam hati Tiong-hi berpikir, kalau mendadak pihaknya menyerbu maju di waktu kedudukan musuh belum teratur, tentu pihak sendiri ada harapan mengocar-ngacirkan pihak Mo-kau. Tapi sekarang pihak lawan sengaja berlagak, ingin cara halus dulu baru kemudian pakai kekerasan. Kalau pihak sendiri lantas bergerak begitu saja tentu akan dianggap kurang kesatria. Sedangkan Lenghou Tiong kelihatan tertawa-tawa saja dan anggap tingkah laku pihak Mo-kau itu seperti permainan anak kecil, Hong-ting juga tenang-tenang dan anggap perbuatan pihak musuh itu seperti sesuatu yang biasa. Terpaksa Tiong-hi menahan perasaannya dan mengikuti perubahan suasana selanjutnya.

Sesudah barisan-barisan Tiau-yang-sin-kau tadi mengambil tempat masing-masing, menyusul yang muncul adalah sepuluh tianglo, mereka lantas membagi diri dalam dua kelompok, setiap kelompok lima orang dan berdiri di kanan-kiri.

Ketika bunyi musik mendadak berhenti, kesepuluh tianglo itu lantas berteriak bersama, “Tiau-yang-sin-kau mahabijaksana, Maha-kaucu bijaksana juru penyelamat umat manusia, Tiau-yang-kaucu tiba!”

(Dikumpulkan dari berbagai situs, oleh Laura VCO Asli)

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: