Hina Kelana: Bab 141. Yim Ngo-heng Mati, Pertikaian pun Berhenti

Hina Kelana
Bab 141. Yim Ngo-heng Mati, Pertikaian pun Berhenti
Oleh Jin Yong

Ketika para anggota Tiau-yang-sin-kau mendengar ucapan sang kaucu mendadak berhenti setengah-setengah, suaranya juga kedengaran serak, semua orang menjadi kaget dan sama mendongak, maka terlihatlah kulit muka sang kaucu berkerut-kerut, tampaknya sangat kesakitan, menyusul tubuh sang kaucu menggeliat terus roboh terjungkal.

“Kaucu!” Hiang Bun-thian berseru kaget.

“Ayah!” Ing-ing pun berseru khawatir. Keduanya sama-sama memburu maju dan sempat menahan tubuh Yim Ngo-heng yang roboh itu.

Tapi tubuh Yim Ngo-heng hanya berkelojotan beberapa kali saja, lalu berhenti bernapas.

Itulah nasib manusia pada umumnya, apakah dia seorang pahlawan atau nabi sekalipun, baik seorang penjahat besar maupun orang alim, akhirnya toh meninggal dunia juga.

Sementara itu Lenghou Tiong yang turun ke bawah gunung dalam keadaan mabuk, sampai lewat tengah malam barulah dia sadar kembali. Sesudah sadar, baru diketahui dirinya sudah berada di tengah ladang luas, para murid Hing-san-pay sama berduduk di kejauhan untuk menjaganya. Teringat seterusnya mungkin tiada harapan buat berjumpa kembali dengan Ing-ing, berdukalah hati Lenghou Tiong.

Begitulah rombongan mereka akhirnya sampai Kian-seng-hong di Hing-san dengan selamat, segenap anak murid Hing-san-pay lantas mengadakan sembahyangan terhadap abu Ting-sian, Ting-cing, dan Ting-yat Suthay berhubung terbalasnya sakit hati mereka.

Mengingat dalam waktu singkat Hing-san pasti akan diserbu oleh Tiau-yang-sin-kau, habis pertempuran itu Hing-san-pay tentu akan musnah. Karena kekalahan sudah diketahui sebelumnya, maka setiap orang menjadi tidak perlu khawatir malah.

Sementara, itu Put-kay Hwesio dan istrinya serta Gi-lim dan Dian Pek-kong juga sudah menggabungkan diri dengan rombongan besar di kaki gunung Hoa-san. Lenghou Tiong menduga Put-kay dan istrinya tentu takkan meninggalkan anak perempuannya untuk menyelamatkan diri sendiri, maka ia pun membiarkan mereka tetap tinggal di Hing-san.

Karena menganggap tiada gunanya berlatih lagi, sebab toh tiada gunanya dan takkan terhindar kematian, maka anak murid Hing-san-pay itu menjadi malas untuk berlatih ilmu pedang seperti biasanya, hanya sebagian yang tetap taat kepada agama dan setiap hari tetap menjalankan ibadat dengan baik, sedang lain-lainnya yang iseng lantas pesiar ke seluruh pegunungan indah itu.

Selang beberapa hari, Kian-seng-hong tiba-tiba kedatangan sepuluh orang hwesio, yang mengepalai adalah ketua Siau-lim-si, Hong-ting Taysu. Saat itu Lenghou Tiong sedang menenggak arak sendirian di biara induk, ketika mendapat laporan kedatangan Hong-ting Taysu itu, ia terkejut dan bergirang pula, lekas-lekas ia keluar menyambut.

Dilihatnya Hong-sing Taysu juga ikut datang, sedang kedelapan hwesio yang lain semuanya sudah berusia lanjut, setelah diperkenalkan, ternyata semuanya adalah hwesio angkatan “Hong”, hwesio angkatan tua setingkatan dengan Hong-ting Taysu.

Lenghou Tiong menyambut para hwesio itu ke dalam biara induk dan berduduk di atas kasuran semadi. Biara induk itu sebenarnya adalah tempat tirakat Ting-sian Suthay, biasanya terawat dengan baik dan bersih, tapi sejak Lenghou Tiong tinggal di situ, dalam rumah penuh guci arak, cawan arak banyak yang berserakan.

Dengan wajah merah jengah Lenghou Tiong meminta maaf atas keadaan tempatnya yang kotor itu. Tapi dengan tersenyum Hong-ting berkata, “Kedatangan kami hari ini adalah untuk urusan penting, maka Lenghou-ciangbun tak perlu sungkan-sungkan. Kabarnya Lenghou-ciangbun demi membela Hing-san-pay telah menolak kedudukan wakil kaucu Tiau-yang-sin-kau, bahkan tidak memikirkan keselamatan sendiri dan rela memisahkan diri dengan Yim-toasiocia yang diketahui adalah kekasih sehidup-semati Lenghou-ciangbun, dalam hal ini para kawan bu-lim sungguh sangat kagum terhadap sikap Lenghou-ciangbun.”

Seketika Lenghou Tiong tercengang. Padahal persoalan penolakan kedudukan wakil kaucu segala itu telah dipesan kepada para murid Hing-san-pay agar tidak disiarkan keluar, tapi Hong-ting Taysu ternyata mengetahui juga kejadian itu. Segera ia menjawab, “Ah, Taysu suka memuji, aku menjadi malu. Tentang hubungan diri Wanpwe dengan pribadi Yim-kaucu memang banyak suka-dukanya dan sukar dijelaskan, Wanpwe juga terpaksa mesti mengingkari kebaikan Yim-toasiocia, Taysu tidak mencela akan tindakan Wanpwe ini, sebaliknya memuji malah, sungguh Wanpwe tak berani menerimanya.”

“Menurut kabar, Yim-kaucu telah menyiarkan berita di luar bahwa dalam waktu singkat dia akan pimpin anak buahnya menyerbu ke Hing-san sini. Kini Ngo-gak-pay hanya tinggal Hing-san-pay saja, bala bantuan dari luar tidak ada lagi, tapi Lenghou-ciangbun ternyata tidak mau mengirim berita kepada kami, jangan-jangan menganggap Siau-lim-pay kami adalah orang-orang yang takut mati dan tidak punya rasa setia kawan terhadap sesama kawan bu-lim?”

“Sama sekali Wanpwe tidak mempunyai anggapan demikian,” cepat Lenghou Tiong minta maaf. “Soalnya Wanpwe merasa segala urusan yang timbul sekarang ini adalah gara-gara perbuatanku sendiri yang telah bergaul dengan gembong-gembong Mo-kau, Wanpwe pikir seorang yang berbuat biarlah seorang saja yang bertanggung jawab, bikin susah segenap anggota Hing-san-pay saja sudah tidak enak bagiku, mana Wanpwe berani membikin susah pula kepada Taysu dan Tiong-hi Totiang.”

“Ucapan Lenghou-ciangbun ini kurang tepat,” ujar Hong-ting dengan tersenyum. “Sudah sejak ratusan tahun yang lalu pihak Mo-kau mempunyai tujuan hendak menumpas Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay serta Ngo-gak-kiam-pay, tatkala itu Lolap sendiri belum lahir, lalu apa sangkut pautnya urusan ini dengan Lenghou-ciangbun sekarang?”

“Ya, mendiang guruku juga sering mengatakan bahwa selamanya cing dan sia tak mungkin hidup bersama. Mo-kau dan cing-pay kita sudah bermusuhan sekian lamanya, selama ini selalu terjadi pertempuran sengit. Menurut pengetahuan Wanpwe yang cetek, kukira kalau salah satu pihak mau mengalah selangkah tentu permusuhan dapat dihapus, tak tahunya biarpun hubungan Yim-kaucu dengan Wanpwe sedemikian baiknya, akhirnya tetap harus bertemu di medan perang.”

“Ucapanmu tentang saling mengalah selangkah dan permusuhan akan dapat dihapus, hal ini sebenarnya betul juga,” kata Hong-ting. “Pertarungan antara golongan cing-pay kita dengan Tiau-yang-sin-kau sebenarnya juga tiada dasar yang kuat, soalnya cuma pemimpin kedua pihak sama-sama ingin merajai bu-lim, masing-masing ingin menumpas pihak lawan. Tempo hari Lolap dan Tiong-hi Totiang serta Lenghou-ciangbun bertiga telah bicara di Sian-kong-si, waktu itu Lolap sudah menyatakan khawatir akan maksud Co-ciangbun dari Ko-san yang hendak melalap Ngo-gak-kiam-pay menjadi Ngo-gak-pay saja, yang kukhawatirkan justru adalah ambisinya yang ingin merajai dunia persilatan itu.”

Sampai di sini ia berhenti sejenak dan menghela napas panjang, lalu menyambung pula, “Konon Tiau-yang-sin-kau ada semboyan yang menyatakan, ‘Hidup seribu tahun, memerintah Kang-ouw selamanya’, kalau Yim-kaucu sudah punya niat begitu, maka dunia persilatan takkan pernah tenteram lagi. Kalau Yim-kaucu sudah menyatakan di dalam sebulan akan menyapu bersih seluruh penghuni Hing-san, sekali dia berani berkata, tentu juga akan dia laksanakan. Maka sekarang jago-jago dari Siau-lim, Bu-tong, Kun-lun, Go-bi, Kong-tong, dan lain-lain sudah berkumpul semua di kaki gunung ini.”

“Hah, begitukah?” seru Lenghou Tiong sambil melonjak terkejut. “Para cianpwe dari berbagai aliran telah datang membantu, Wanpwe sedikit pun tidak tahu, sungguh harus dicela. Tapi entah dari mana pula Taysu mendapat kabar tentang akan diserbunya Hing-san oleh pihak Tiau-yang-sin-kau?”

“Lolap mendapat tahu dari berita surat seorang cianpwe,” jawab Hong-ting.

“Cianpwe?” Lenghou Tiong menegas. Padahal ia tahu kedudukan Hong-ting Taysu di dunia persilatan sudah sangat tinggi, mana ada orang yang tingkatannya lebih tua daripada dia?

Dengan tersenyum Hong-ting lantas berkata pula, “Cianpwe itu adalah tokoh terkenal dari Hoa-san-pay, orang yang pernah mengajarkan ilmu pedang kepada Lenghou-ciangbun.”

“Ah, kiranya Hong-thaysusiok!” seru Lenghou Tiong dengan girang.

“Benar, memang Hong-cianpwe adanya,” kata Hong-ting. “Hong-cianpwe itu telah mengirim enam orang sobat ke Siau-lim-si untuk memberitahukan tentang apa yang dilakukan oleh Lenghou-ciangbun di Tiau-yang-hong tempo hari. Cara bicara keenam sobat itu rada bertele-tele dan tidak keruan, tapi setelah mendengarkan dengan sabar, akhirnya Lolap dapat memahaminya dengan jelas.”

“O, Tho-kok-lak-sian, bukan?” tanya Lenghou Tiong.

“Benar, memang Tho-kok-lak-sian,” sahut Hong-ting.

“Ketika di Hoa-san, sebenarnya aku ingin menghadap Hong-thaysusiok, tapi karena macam-macam urusan, sampai meninggalkan gunung itu tetap tidak sempat berkunjung kepada beliau. Tak terduga bahwa segala apa telah diketahui seluruhnya oleh beliau.”

“Hong-cianpwe itu memang tidak suka menonjolkan diri, tapi segala perbuatan pihak Tiau-yang-sin-kau di Hoa-san cukup diketahui oleh beliau, sudah tentu beliau tak bisa tinggal diam. Seperti Tho-kok-lak-sian yang suka gila-gilaan itu, mereka telah ditawan oleh Hong-cianpwe dan dikerangkeng selama beberapa hari, kemudian merekalah yang disuruh mengirimkan berita ke Siau-lim-si.”

“Entah Hong-thaysusiok menghendaki apa yang harus kita lakukan?” tanya Lenghou Tiong.

“Dalam surat Hong-locianpwe itu, beliau menulis dengan sangat rendah hati, katanya beliau mendengar akan maksud Tiau-yang-sin-kau itu, maka sengaja mengirim kabar kepada Lolap, katanya Lenghou-ciangbun adalah murid kesayangannya, tindakan Lenghou-ciangbun yang tegas-tegas menolak ajakan pihak Mo-kau itu sangat menyenangkan Hong-locianpwe, maka beliau menyuruh Lolap suka menjaga dirimu. Padahal ilmu silat Lenghou-ciangbun sepuluh kali lebih hebat daripada Lolap, mana Lolap berani menerima permintaan ‘menjaga’ dirimu segala.”

“Tapi Taysu menjaga diri Wanpwe sudah bukan cuma sekali dua kali saja,” ujar Lenghou Tiong dengan sangat berterima kasih.

“Ah, mana,” sahut Hong-ting. “Setelah mengetahui urusan ini, jangankan ada perintah dari Hong-locianpwe, melulu hubungan baik kedua pay kita saja dan persahabatan Lolap dengan Lenghou-ciangbun, tak mungkin Lolap tinggal diam. Apalagi persoalan ini menyangkut mati atau hidup berbagai golongan cing-pay, bila Hing-san-pay benar-benar dimusnahkan oleh Tiau-yang-sin-kau, masakah Siau-lim dan Bu-tong-pay takkan mengalami nasib yang serupa? Sebab itulah kami lantas menyebarkan pemberitahuan pada berbagai golongan dan aliran agar berkumpul di Hing-san untuk bertempur mati-matian menghadapi Tiau-yang-sin-kau.”

Sebenarnya Lenghou Tiong sudah putus asa sejak kembali dari Hoa-san, sebab melihat kehebatan Tiau-yang-sin-kau itu, betapa pun Hing-san-pay tidak mampu melawannya, ia hanya dapat menunggu kedatangan Yim Ngo-heng saja untuk kemudian bersama segenap anak buah Hing-san-pay melawan mati-matian hingga titik darah penghabisan. Pernah juga ada anak murid Hing-san yang mengusulkan agar minta bantuan kepada Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay, akan tapi Lenghou Tiong anggap tiada gunanya, sebab kekuatan Siau-lim dan Bu-tong-pay juga terbatas, biarpun datang membantu juga sukar menahan serbuan Mo-kau secara besar-besaran itu. Kalau sudah jelas demikian halnya, lalu apa gunanya ikut mengorbankan orang-orang Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay? Begitulah jalan pikiran Lenghou Tiong.

Dalam hati kecilnya sebenarnya dia tidak ingin bertempur dengan Yim Ngo-heng dan Hiang Bun-thian, tapi setelah harapan perjodohan dengan Ing-ing sudah putus, tanpa terasa timbul pikirannya yang apatis, dirasakan hidup ini tiada artinya lagi, bahkan lebih baik mati saja selekasnya. Tapi melihat kedatangan Hong-ting adalah atas permintaan Hong Jing-yang, seketika semangatnya terbangkit. Tapi untuk benar-benar bertempur mati-matian dengan pihak Tiau-yang-sin-kau baginya tetap tiada hasrat.

“Lenghou-ciangbun,” demikian Hong-ting berkata pula, “sesungguhnya Lolap juga bukan orang yang suka main kekerasan, kalau urusan ini dapat didamaikan tentu saja sangat baik, tetapi kalau kita sudah mengalah satu langkah, sebaliknya Yim-kaucu lantas maju satu langkah maka persoalan sekarang bukan lagi kita tak mau mengalah, tapi Yim-kaucu yang bertekad akan membasmi kita secara habis-habisan, kecuali kalau kita mau menyembah padanya dan meneriakkan semboyan ‘hidup Maha-kaucu dan memerintah Kang-ouw selamanya’ segala!”

Lenghou Tiong merasa geli juga mendengar cara Hong-ting menirukan cara orang-orang Mo-kau menyerukan semboyan yang berlebih-lebihan itu, jawabnya kemudian dengan tertawa, “Ya, memang betul ucapan Hongtiang Taysu. Wanpwe sendiri bila mendengar seruan semboyan itu seketika lantas berdiri bulu romaku.”

“Tempo hari agaknya Hong-locianpwe telah melihat keadaan Lenghou-ciangbun waktu menahan rasa sakit perut, maka beliau sengaja suruh Tho-kok-lak-sian menyampaikan sejenis kunci ajaran lwekang yang tinggi dan suruh Lolap mewakilkan beliau mengajarkannya kepada Lenghou-ciangbun. Untuk ini harap Lenghou-ciangbun bersama Lolap masuk ke dalam agar Lolap dapat menyampaikan kalimah kunci rahasia lwekang tersebut.”

Dengan sangat hormat Lenghou Tiong lantas membawa Hong-ting Taysu ke sebuah kamar yang sunyi. Karena Hong-ting mengajarkan kalimah kunci ilmu lwekang itu atas nama Hong Jing-yang, maka sama saya seperti menghadapi moyang guru, segera Lenghou Tiong berlutut dan menyembah kepada Hong-ting.

Hong-ting juga tidak sungkan-sungkan menerima penghormatan itu, lalu berkata, “Hong-locianpwe menaruh harapan besar terhadap Lenghou-ciangbun, maka hendaklah kau dapat meyakinkan lwekang ini dengan baik sesuai kalimah rahasia yang kusampaikan ini.”

Lenghou Tiong mengiakan dan berjanji akan patuh terhadap pesan itu.

Lalu Hong-ting mulai menguraikan kalimah-kalimah kunci lwekang yang tidak terlalu panjang itu, seluruhnya cuma terdiri dari ratusan huruf saja hingga dengan gampang dapat dihafalkan Lenghou Tiong di luar kepala sesudah Hong-ting mengulangi beberapa kali uraiannya.

Meski kalimah-kalimah ajaran lwekang itu cuma terdiri dari ratusan huruf saja, tapi isinya teramat luas dan dalam, lain daripada yang lain.

“Ilmu pedang Lenghou-ciangbun memang sangat tinggi, tapi dalam hal lwekang agaknya kurang sempurna,” kata Hong-ting pula. “Meski inti lwekang ajaran Hong-cianpwe ini agak berbeda daripada ilmu lwekang Siau-lim-pay, namun ilmu silat di dunia ini boleh dikata “Bhineka Tunggal Eka” berbeda-beda tapi berasal dari satu, dasarnya tidak banyak berlainan. Maka dari itu, bila Lenghou-ciangbun tidak menolak, bolehlah Lolap menambahkan penjelasan-penjelasan seperlunya atas inti ajaran Hong-locianpwe ini.”

Lenghou Tiong tahu Hong-ting adalah tokoh kosen terkemuka di dunia persilatan, kalau mendapat petunjuknya sama saja seperti mendapatkan ajaran langsung dari Hong Jing-yang, kalau Hong-thaysusiok minta Hong-ting mewakilkan dia, dengan sendirinya karena hwesio agung Siau-lim-si ini memang memiliki lwekang yang mahatinggi. Sebab itulah tanpa ragu-ragu Lenghou Tiong lantas mengiakan dan menerima dengan baik tawaran Hong-ting.

Begitulah Hong-ting lantas memberi penjelasan kalimat demi kalimat daripada inti lwekang yang diuraikannya tadi, lalu memberi petunjuk pula caranya mengatur pernapasan dan mengerahkan tenaga serta cara-cara semadi dan sebagainya.

Semula Lenghou Tiong hanya menghafalkan kalimah rahasia lwekang tadi di luar kepala secara mati tanpa memahami maknanya. Tapi setelah mendapat penjelasan dan pemecahan dari Hong-ting barulah ia mengetahui bahwa setiap kalimah kunci lwekang itu mengandung macam-macam filsafat yang mahaluas.

Sebenarnya bakat Lenghou Tiong sangat tinggi, tapi inti lwekang itu ternyata cukup membuatnya memeras otak setengah hari. Untunglah Hong-ting Taysu dengan sabar suka memberi penjelasan secara terperinci sehingga membuat Lenghou Tiong dapat menemukan suatu tingkatan ilmu silat yang belum pernah dicapainya.

Sambil menghela napas gegetun, berkatalah Lenghou Tiong, “Hongtiang Taysu, perbuatan Wanpwe di Kang-ouw selama ini sesungguhnya terlalu gegabah, sama sekali Wanpwe tidak sadar akan kepicikan sendiri, kalau dipikir sungguh Wanpwe merasa malu. Hari ini Wanpwe benar-benar seperti si buta yang baru melek, biarpun hidup Wanpwe ini takkan tahan lama karena dalam waktu singkat pasti akan musnah di tangan Yim-kaucu, tapi Wanpwe tetap merasa senang menerima ajaran lwekang dari Hong-thaysusiok ini.”

“Berbagai golongan cing-pay kita kini sudah berkumpul di dekat Hing-san sini, bila Tiau-yang-sin-kau benar-benar menyerbu kemari, beramai-ramai kita menghadapinya, rasanya belum pasti akan kalah,” demikian ujar Hong-ting. “Maka dari itu janganlah Lenghou-ciangbun patah semangat. Lwekang tinggi ini takkan terlatih dengan sempurna dalam waktu beberapa tahun, namun sehari akan bertambah baik sehari bilamana berlatih secara teratur. Dalam waktu singkat ini kita toh tiada urusan apa-apa, maka silakan Lenghou-ciangbun mulai berlatih saja. Mumpung Lolap mengganggu di tempatmu ini, marilah kita tukar pikiran bersama.”

“Kebaikan Taysu sungguh Wanpwe sangat berterima kasih,” kata Lenghou Tiong.

“Saat ini mungkin Tiong-hi Toheng juga sudah datang, marilah kita coba keluar melihatnya!” ajak Hong-ting.

“O, kiranya Tiong-hi Totiang juga akan tiba, memang kita harus menyambutnya,” kata Lenghou Tiong. Begitulah mereka lantas keluar kembali ke ruangan luar, ternyata ruangan sembahyang itu sudah dipasang api lilin. Kiranya tidak kurang dari empat jam mereka berdua berada di dalam kamar semadi itu untuk pengajaran lwekang tadi, kini hari sudah gelap.

Tertampak pula di ruangan situ berduduk tiga orang tosu tua dan sedang bicara dengan Hong-sing Taysu. Seorang di antaranya bukan lain Tiong-hi Tojin adanya.

Melihat Hong-ting dan Lenghou Tiong keluar, cepat Tiong-hi Tojin berbangkit dan memberi hormat.

Segera Lenghou Tiong menjura dan berkata, “Jauh-jauh Totiang datang membantu kesulitan yang dihadapi Hing-san-pay, sungguh Wanpwe dan segenap bawahan sangat berterima kasih dan entah cara bagaimana harus membalas budi kebaikan Totiang ini.”

Lekas-lekas Tiong-hi membangunkan Lenghou Tiong, katanya dengan tertawa, “Sudah ada sekian lamanya aku berada di sini, ketika mengetahui Hongtiang Taysu sedang mempelajari lwekang mukjizat di ruangan dalam bersama Saudara cilik, maka kami tidak berani mengganggu padamu. Lwekang hebat yang Saudara cilik pelajari itu boleh dibeli secara kontan dan dijual kontan pula, bila Yim Ngo-heng datang, coba saja lwekang itu atas dirinya, biar dia kaget setengah mati.”

“Lwekang ini terlalu luas dan dalam, dalam waktu singkat Wanpwe mana sanggup memahaminya dengan baik?” jawab Lenghou Tiong. “Kabarnya para locianpwe dari Go-bi-pay, Kun-lun-pay, Khong-tong-pay, dan lain-lain juga sudah datang, mereka harus diundang pula ke atas sini untuk berunding cara bagaimana harus menghadapi musuh, entah bagaimana pendapat para cianpwe atas usulku ini?”

“Mereka memang sudah datang, tapi mereka sengaja sembunyi di tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui oleh mata-mata yang dipasang oleh iblis tua she Yim itu,” kata Tiong-hi. “Kalau mereka beramai-ramai diundang ke sini, mungkin jejak mereka akan diketahui musuh. Waktu kami datang ke sini juga dalam penyamaran semua, sebelumnya bukankah kalian pun tidak tahu akan kedatangan kami?”

Lenghou Tiong menjadi teringat kepada pertemuannya yang pertama kali dengan Tiong-hi Tojin, waktu itu ia pun menyaru sebagai seorang kakek penunggang keledai, di sampingnya mengikut dua orang laki-laki yang sebenarnya juga tokoh-tokoh pilihan Bu-tong-pay, akan tetapi waktu itu dia sama sekali tidak kenal mereka. Kini setelah dipandang secara teliti, maka dapatlah dikenali kedua tosu tua yang lain adalah juga kedua laki-laki yang mendampingi Tiong-hi Tojin dahulu itu.

Maka cepat Lenghou Tiong memberi hormat dan menyapa, “Kepandaian menyamar kedua Totiang sungguh sangat mahir, kalau Tiong-hi Totiang tidak menyinggung tentang penyamaran, tentu Wanpwe tetap pangling terhadap kedua Totiang.”

Kedua tosu tua itu dahulu yang seorang menyamar sebagai petani dan yang lain menyaru sebagai tukang kayu, tapi samar-samar wajah mereka masih dapat dikenali oleh Lenghou Tiong.

Segera Tiong-hi menunjuk si tosu yang dahulu menyamar sebagai tukang kayu dan memperkenalkan, “Ini adalah Jing-hi Sute dan yang itu adalah murid keponakanku dengan nama agama Seng-ko.”

Maka tertawalah keempat orang teringat kepada kejadian dahulu itu. “Sungguh amat lihai ilmu pedang Lenghou-ciangbun!” demikian Jing-hi dan Seng-ko memuji.

Tiong-hi lantas berkata pula, “Sute dan sutitku ini dahulu pernah merantau selama belasan tahun di benua barat, di sana mereka masing-masing berhasil mempelajari semacam kepandaian istimewa, yang satu mahir memasang pesawat rahasia dan yang lain ahli pembuatan obat peledak.”

“Wah, itulah kepandaian yang jarang terdapat di dunia ini,” ujar Lenghou Tiong.

“Lenghou-ciangbun,” kata, Tiong-hi pula, “kubawa mereka ke sini sesungguhnya ada sesuatu maksud tujuan lain, yaitu mengharap mereka berdua dapat mengerjakan sesuatu urusan penting bagi kita.”

Lenghou Tiong merasa tidak paham ia menegas, “Mengerjakan suatu urusan penting bagi kita?”

“Ya, secara gegabah aku membawa sesuatu barang ke sini, harap Saudara cilik memeriksanya,” kata Tiong-hi.

Dengan penuh tanda tanya Lenghou Tiong ingin tahu barang apakah yang akan dikeluarkan dari saku baju tosu tua itu.

Tapi ternyata tiada sesuatu yang dikeluarkan oleh Tiong-hi, sebaliknya tosu tua itu berkata pula dengan tertawa, “Barang yang kumaksudkan sungguh bukan benda kecil sehingga tak muat di dalam saku bajuku. Nah, Jing-hi Sute, boleh kau suruh mereka membawa masuk ke sini.”

Jing-hi Tojin mengiakan terus berjalan keluar. Tidak lama dia masuk kembali dengan membawa empat orang yang berdandan sebagai petani desa, semuanya berkaki telanjang dan membawa satu pikulan sayur.

Tiong-hi Tojin suruh keempat orang itu memberi hormat kepada Lenghou Tiong dan Hong-ting Taysu, Lenghou Tiong tahu keempat orang itu pasti jago-jago pilihan dari Bu-tong-pay, maka dengan rendah hati ia pun balas menghormat.

“Keluarkan dan pasanglah!” demikian Jing-hi memberi perintah.

Segera keempat orang itu membongkar sayuran dalam pikulan mereka itu, di bawah tumpukan sayuran ternyata ada beberapa bungkusan, setelah bungkusan itu dibuka, isinya ada benda-benda kecil sebangsa mur-baut, pegas, dan potongan kayu yang kecil-kecil.

Cara bekerja keempat orang itu sangat cekatan, benda-benda kecil itu lantas dipasang satu sama lain, dalam waktu singkat saja jadilah sebuah kursi malas yang besar.

Lenghou Tiong menjadi terheran-heran, ia tidak tahu apa gunanya kursi malas yang terpasang macam-macam pesawat pegas itu, memangnya untuk berduduk di waktu berlatih lwekang? Demikian tanyanya di dalam hati.

Selesai kursi malas itu dipasang, dari dua bungkusan lain keempat orang itu mengeluarkan pula bantal dan sarung kursi, lalu dipasang pada sandaran kursi itu. Seketika kamar itu menjadi gemilang oleh cahaya yang menyilaukan mata, ternyata sarung kursi itu terbuat dari sutra kuning yang indah dan disulam dengan sembilan ekor naga emas, di tengah sembilan ekor naga yang berlingkar-lingkar itu sedang menyongsong terbitnya bola matahari yang merah membara di ujung samudra sana. Di kedua tepi sarung kursi itu tersulam pula tulisan-tulisan yang sama artinya seperti semboyan-semboyan yang sering diteriakkan oleh anggota Tiau-yang-sin-kau untuk memuji kebesaran kaucu mereka.

Kesembilan ekor naga emas itu tersulam dengan bagus sekali laksana hidup, tulisan-tulisan di tepinya juga sangat indah, di sekitar huruf-huruf itu dihiasi pula macam-macam mutiara dan batu permata yang berwarna-warni. Ruangan biara itu biasanya sunyi senyap dan sangat sederhana, tapi sekarang mendadak cerlang-cemerlang oleh cahaya benda-benda berharga itu.

Lenghou Tiong bersorak memuji, teringat olehnya penuturan Tiong-hi tadi bahwa Jing-hi pernah belajar ilmu pesawat di benua barat, maka ia pun tahu apa artinya kursi malas yang berhias itu, Katanya segera, “Bila melihat kursi kebesaran ini, Yim-kaucu pasti ingin mendudukinya dan sekali pegas di dalam kursi bekerja, seketika jiwanya akan melayang.”

Dengan suara perlahan Tiong-hi lantas menjawab, “Tapi Yim Ngo-heng sangat pintar dan cerdik, tindakannya sangat cepat, meski di dalam kursi terpasang pesawat rahasia, asal dia merasakan tempat duduknya kurang enak dan segera melompat bangun, maka sukar juga untuk membinasakan dia. Yang penting di kaki kursi ini terpasang pula sumbu obat yang menghubungkan seonggok obat peledak di suatu tempat.”

( Dikumpulkan dari berbagai situs, oleh : Laura VCO )

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: