Hina Kelana: Bab 140. Lenghou Tiong Tetap Menolak Masuk Mo-kau

Hina Kelana
Bab 140. Lenghou Tiong Tetap Menolak Masuk Mo-kau
Oleh Jin Yong

Tidak lama kemudian, terdengarlah suara bentakan dan makian, dua-tiga tianglo tampak memimpin anak buahnya menggiring beberapa puluh anak murid Ko-san, Hoa-san, Heng-san, dan Thay-san-pay naik ke atas situ.

Anak murid Hoa-san-pay memangnya tidak banyak, sedangkan sebagian besar jago-jago Ko-san-pay, Heng-san-pay, dan Thay-san-pay sudah mati terbunuh tadi, maka jumlah sisa mereka ternyata tinggal tujuh likur saja alias 27 orang, bahkan semuanya tergolong “bu-beng-siau-cut”, jago-jago yang kurang terkenal, malahan hampir semuanya terluka.

Keruan Yim Ngo-heng merasa sebal, sebelum rombongan mereka mendekat, dengan gusar ia lantas membentak, “Buat apa kawanan anjing tak berguna itu? Bawa turun sana, lekas!”

Cepat tianglo-tianglo itu mengiakan pula dan lekas-lekas menggiring tawanannya turun ke bawah puncak.

Yim Ngo-heng mencaci maki lagi beberapa kata, mendadak ia bergelak tertawa, katanya, “Ngo-gak-kiam-pay ini boleh dikata kualat dan harus mampus, tanpa susah-susah, tidak perlu keluar tenaga, sedikit pun kita tak usah turun tangan, tahu-tahu mereka sudah bunuh-membunuh dan mampus semua, sejak kini di dunia Kang-ouw takkan terdapat nama mereka lagi.”

Serentak para tertua Tiau-yang-sin-kau membungkuk tubuh dan berseru, “Ya, berkat perbawa Maha-kaucu yang agung, kawanan tikus celurut itu ternyata musnah dengan sendirinya.”

Lalu Hiang Bun-thian berkata pula, “Di antara Ngo-gak-kiam-pay hanya Hing-san-pay saja yang paling menonjol yang lain daripada yang lain, semua itu berkat pimpinan Lenghou-ciangbun yang bijaksana. Selanjutnya Hing-san-pay dan Sin-kau kita adalah orang sendiri, setubuh dan senapas, merasakan kebahagiaan bersama. Selamat kepada Kaucu karena mendapatkan seorang kesatria muda yang berbakat tiada bandingannya sebagai pembantu utama.”

Yim Ngo-heng bergelak tertawa, katanya, “Ya, benar, ucapan Hiang-cosu memang tidak salah. Nah, saudara cilik Lenghou, mulai hari ini Hing-san-pay kalian boleh dibubarkan saja. Para suthay dari golonganmu itu boleh dipilih secara bebas, mau ikut Hek-bok-keh tentu akan kami sambut dengan tangan terbuka atau kalau ingin tetap tinggal di Hing-san sini juga tidak menjadi soal. Orang yang pernah tinggal di paviliun Hing-san ini boleh dianggap sebagai pasukan pribadi Hu-kaucu bagimu, bagus bukan? Hahahahaha!”

Begitulah ia lantas terbahak-bahak dengan suara keras hingga menggetar lembah gunung dan menimbulkan kumandang suara yang tak berhenti-henti.

Mendengar istilah “hu-kaucu” (wakil kaucu), semua orang sama melengak, tapi sejenak kemudian lantas terdengar suara sorak-sorai yang gemuruh, dari segenap penjuru, berkumandanglah seruan, “Lenghou-tayhiap menjadi Hu-kaucu Sin-kau kita, sungguh bagus sekali!”

“Selamatlah Maha-kaucu mendapatkan seorang pembantu yang tepat!”

“Selamat Maha-kaucu! Selamat Hu-kaucu!”

“Hidup Maha-kaucu, hidup Hu-kaucu!”

Para anggota Tiau-yang-sin-kau itu mengetahui Lenghou Tiong adalah bakal menantu sang kaucu, kini secara terang-terangan telah disebut pula sebagai calon hu-kaucu, maka kelak orang yang pasti akan menggantikan Yim Ngo-heng tiada lain lagi kecuali Lenghou Tiong pula, apalagi mereka pun tahu watak Lenghou Tiong yang ramah dan mudah diajak bicara, kelak bila dia naik takhta menjadi kaucu tentu semua anak buahnya akan lebih aman daripada sekarang yang setiap saat selalu khawatir ada kemungkinan difitnah orang atau takut bikin marah sang kaucu dan dihukum mati.

Selain golongan pertama itu, sebagian di antara mereka adalah jago-jago Kang-ouw yang dahulu pernah ikut Lenghou Tiong menyerbu Siau-lim-si, mereka sudah pernah berjuang bersama pemuda itu, banyak di antaranya merasa utang budi pula padanya, sebab itulah boleh dikata tiada seorang pun yang tidak gembira demi mendengar keputusan Yim Ngo-heng tadi.

Begitulah Hiang Bun-thian juga lantas mengucapkan selamat kepada Lenghou Tiong, katanya, “Selamatlah Hu-kaucu, marilah kita minum satu cawan dahulu sebagai ucapan selamat atas kehadiranmu ke dalam Sin-kau kita, habis itu kita akan minum lagi arak bahagia perkawinanmu dengan Yim-toasiocia, ini namanya urusan baik jadi berlipat, rezeki datang berganda.”

Akan tetapi perasaan Lenghou Tiong sendiri ternyata sedang bingung, dalam hati kecilnya ia cukup sadar bahwa urusan ini sekali-kali tidak boleh jadi, tapi tidak tahu cara bagaimana harus menolaknya, terpikir olehnya bilamana dirinya menolak kehendak Yim Ngo-heng, hal itu berarti perjodohannya dengan Ing-ing akan gagal dan putus pula. Dalam gusarnya bukan mustahil Yim Ngo-heng akan membunuhnya malah.

Bahwasanya kematian dirinya tidak menjadi soal, tapi anak murid Hing-san-pay yang lain mungkin juga akan binasa semua di sini. Hal inilah yang membuatnya ragu-ragu. Harus tegas-tegas menolaknya sekarang atau menerimanya untuk sementara ini sampai anak murid Hing-san-pay sudah terhindar dari bahaya?

Ia coba berpaling ke arah anak murid Hing-san-pay, dilihatnya macam-macam sikap mereka, ada yang berwajah gusar, ada yang lesu tak bersemangat, ada yang bingung kehilangan akal.

Tiba-tiba terdengar salah seorang tianglo seragam kuning berseru, “Di bawah pimpinan Maha-kaucu kita dengan Hu-kaucu baru yang bijaksana, kita pasti dapat menumpas Siau-lim-pay, memusnahkan Bu-tong-pay, tanpa diserang Kun-lun-pay dan Go-bi-pay juga pasti akan runtuh dengan sendirinya, sedang Jing-sia-pay, Kong-tong-pay, dan sebangsanya lebih-lebih tiada artinya lagi, tak perlu disentuh juga akan jatuh sendiri. Hidup Maha-kaucu, panjang umur seribu tahun, memerintah Kang-ouw selamanya! Hidup Hu-kaucu, bahagialah untuk selamanya!”

Sebenarnya pikiran Lenghou Tiong menjadi kusut dan sukar menemukan pilihannya. Tapi demi mendengar sanjung puji tianglo itu, ia merasa bila dirinya terima kehendak Yim Ngo-heng itu, maka setiap hari dirinya juga akan mendengar istilah sanjung puji yang lucu itu. Karena itu, tanpa terasa tertawa sendiri.

Suara tertawanya itu jelas mengandung nada sinis, nada mengolok-olok, nada menghina, hal ini dapat ditangkap oleh setiap orang yang punya pikiran jernih. Keruan seketika suasana di puncak Tiau-yang-hong itu menjadi sunyi.

“Lenghou-ciangbun,” Hiang Bun-thian membuka suara, “Kaucu telah mengangkat kau sebagai hu-kaucu, itu berarti kedudukanmu di dunia persilatan hanya di bawah seorang saja dan di atas beratus ribu orang, atas kemurahan hati Kaucu itu lekas kau mengucapkan terima kasih kepada beliau.”

Sekonyong-konyong hati Lenghou Tiong jadi terbuka, pikirannya menjadi terang, tanpa ragu-ragu lagi ia terus berbangkit, serunya lantang menghadap ke atas, “Yim-kaucu, Wanpwe ada dua persoalan ingin diutarakan kepada Kaucu.”

“Silakan bicara saja,” sahut Yim Ngo-heng dengan tersenyum.

“Pertama Wanpwe pernah menerima tugas berat dari ketua Hing-san-pay yang dahulu, yaitu Ting-sian Suthay, Wanpwe diharuskan menjabat ketua Hing-san-pay, selama ini Wanpwe merasa tidak dapat membawa kemajuan apa-apa bagi Hing-san-pay, tapi juga pasti takkan membawa Hing-san-pay ke dalam Tiau-yang-sin-kau, kalau sampai Wanpwe berbuat demikian, kelak apakah Wanpwe ada muka buat bertemu dengan Ting-sian Suthay di alam baka? Inilah soal pertama. Soal kedua adalah urusan pribadi, aku mohon Kaucu sudi menjodohkan putri kesayanganmu sebagai istriku.”

Waktu mendengarkan Lenghou Tiong menguraikan persoalan pertama tadi, semua orang merasa khawatir Yim Ngo-heng akan marah mendadak dan urusan bisa menjadi runyam. Tapi demi mendengar persoalan kedua yang dikemukakan itu, seketika semua orang saling pandang dengan tertawa.

Yim Ngo-heng terbahak-bahak, katanya, “Soal pertama mudah saja diselesaikan, kau boleh menyerahkan kedudukan ketua Hing-san-pay kepada salah seorang suthay. Kau sendiri masuk Sin-kau, soal Hing-san-pay akan ikut masuk atau tidak, boleh dirundingkan lagi. Tentang urusan kedua, bahwasanya kau dan Ing-ing sudah cocok satu sama lain, siapakah yang tidak tahu akan hubungan kalian yang akrab ini? Ya, sudah tentu aku mengizinkan dia menjadi istrimu, kenapa kau masih sangsi lagi. Hahahahaha!”

Serentak orang-orang Tiau-yang-sin-kau sama mengikuti suara sang kaucu dan sama bergelak tertawa gembira.

Lenghou Tiong berpaling ke arah Ing-ing, dilihatnya kedua pipi si nona bersemu merah, rasa girangnya tertampak jelas sekali. Sesudah semua orang tertawa gembira, kemudian Lenghou Tiong berkata dengan suara lantang, “Banyak terima kasih atas maksud baik Kaucu yang telah mengajak Wanpwe masuk ke dalam agama kalian, bahkan memberi kedudukan sedemikian tinggi dan terhormat, tapi Wanpwe sudah biasa hidup bebas, seorang yang tidak dapat taat kepada peraturan, kalau masuk agama kalian tentu pula akan membikin runyam urusan penting Kaucu. Maka setelah kupikirkan masak-masak kukira lebih baik Kaucu menarik kembali keputusan Kaucu tadi.”

Tidak kepalang gusarnya Yim Ngo-heng, dengan ketus ia berkata, “O, jadi kau sudah pasti tak mau masuk Sin-kau?”

“Ya, begitulah!” sahut Lenghou Tiong dengan tegas tanpa ragu-ragu sedikit pun.

Keruan semua orang ikut tercengang mendengar jawaban itu.

Segera Yim Ngo-heng berkata pula, “Dalam tubuhmu pernah terhimpun macam-macam hawa murni orang lain, baru saja penyakitmu sudah kumat, maka untuk selanjutnya setiap tiga bulan atau setengah tahun satu kali tentu akan kumat pula, bahkan sekali makin hebat daripada kali yang lain dan untuk dapat memunahkan hawa murni yang menjadi penyakit dalam tubuhmu itu di seluruh dunia ini hanya aku seorang saja yang tahu caranya.”

“Tentang hal ini memang dahulu Kaucu sudah menyinggungnya ketika berada di Bwe-cheng di Hangciu dahulu,” sahut Lenghou Tiong. “Wanpwe tadi sudah merasakan bagaimana akibat bergolaknya macam-macam hawa murni dalam tubuh itu, rasanya memang benar-benar sangat tersiksa dan lebih baik mati saja daripada menderita. Tapi seorang laki-laki pengelana Kang-ouw, soal mati-hidup, senang dan susah adalah soal biasa, seharusnya tidak perlu banyak dipersoalkan lagi.”

“Hm, keras juga mulutmu,” jengek Yim Ngo-heng. “Hari ini segenap Hing-san-pay kalian sudah berada dalam genggamanku, umpama seorang pun takkan kulepaskan atau satu pun tidak boleh turun dari gunung ini dengan hidup, kukira hal ini semudah aku membalik telapak tanganku sendiri.”

“Dengan kepandaian Kaucu yang mahasakti, Wanpwe percaya apa yang Kaucu katakan memang mudah terlaksana,” sahut Lenghou Tiong dengan tegas. “Tapi biarpun Hing-san-pay terdiri dari kaum wanita semua, menghadapi segala sesuatu selamanya juga tidak pernah gentar. Jikalau Kaucu hendak membunuh kami, biarlah kita berhadapan dahulu, sampai mati pun Hing-san-pay pantang mundur.”

Segera Gi-jing angkat tangannya memberi tanda, serentak anak murid Hing-san-pay sama berdiri di belakang Lenghou Tiong.

“Kita semua hanya tahu menaati perintah Ciangbunjin, mati pun tidak gentar,” seru Gi-jing.

“Benar, mati pun pantang mundur!” sahut para murid Hing-san-pay berbareng.

The Oh berseru juga, “Betapa pun jumlah musuh terlalu banyak dan jumlah kita hanya sedikit, pula kita sudah masuk perangkap, bilamana orang-orang Kang-ouw mengetahui cara bagaimana Hing-san-pay menghadapi musuh tanpa gentar, biarpun nanti kita harus mati juga akan meninggalkan nama yang harum.”

Yim Ngo-heng menjadi gusar, ia berbalik terbahak-bahak sambil menengadah, lalu serunya, “Jika sekarang aku membunuh kalian, tentu aku akan dituduh telah menjebak kalian dan membikin susah kalian secara licik. Nah, Lenghou Tiong, boleh kau pimpin anak buahmu pulang ke Hing-san, dalam waktu sebulan aku sendiri pasti akan mendatangi kalian. Tatkala mana bila di atas Hing-san masih bisa tersisa seekor anjing atau seekor ayam yang hitam, anggaplah aku orang she Yim ini yang tidak becus!”

“Hidup Maha-kaucu! Panjang umur seribu tahun memerintah Kang-ouw selamanya! Bunuh habis orang Hing-san-pay, anjing ayam pun tak terkecuali!” demikian orang-orang Tiau-yang-sin-kau serentak bersorak gemuruh.

Dengan kekuatan dan pengaruh Tiau-yang-sin-kau sekarang, apakah pihak Hing-san-pay akan dimusnahkan di Hing-san sendiri atau sekarang juga dibunuh habis, selisihnya hanya soal waktu saja dalam perjalanan ke Hing-san. Tak peduli pihak Hing-san-pay akan pulang ke Hing-san untuk mengatur penjagaan pertahanan toh pihak Tiau-yang-sin-kau pasti mampu membunuhnya hingga habis bersih.

Dahulu Ngo-gak-kiam-pay bermusuhan dengan Tiau-yang-sin-kau yang disebut Mo-kau oleh mereka, kelima aliran bahu-membahu dan bantu-membantu, aliran mana ada kesulitan, empat aliran yang lain segera memberi bantuan, meski begitu, selama berpuluh tahun paling-paling juga cuma dapat bertahan saja. Walaupun di antara kelima pay itu berturut-turut timbul juga tunas-tunas baru dan pimpinan baik, ada juga rencana akan memusnahkan Tiau-yang-sin-kau sekaligus, tapi selama ini belum pernah berhasil, bahkan mengalahkannya pun tidak. Apalagi sekarang Ngo-gak-kiam-pay hanya tinggal Hing-san-pay, dengan sendirinya tidak mampu melawan kebesaran Tiau-yang-sin-kau. Tentang ini orang-orang Hing-san-pay cukup tahu diri, begitu pula orang-orang Tiau-yang-sin-kau juga tahu. Ucapan Yim Ngo-heng akan membabat orang-orang Hing-san-pay secara habis-habisan, bahkan seekor anjing dan seekor ayam juga takkan dibiarkan hidup, ancaman ini sesungguhnya bukan omong besar belaka.

Padahal di dalam hati Yim Ngo-heng kini sudah ada perhitungan tertentu, ia pikir meski ilmu pedang Lenghou Tiong sangat lihai, tapi seorang diri betapa pun kekuatannya terbatas, Hing-san-pay boleh dikata tiada artinya lagi baginya. Yang justru menjadi pertimbangan Yim Ngo-heng sebenarnya adalah Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay.

Menurut perhitungan Yim Ngo-heng, setelah Lenghou Tiong pulang ke Hing-san, tentu dia akan minta bantuan kepada Siau-lim dan Bu-tong, dan kedua pay besar ini tentu juga akan mengirim jago-jago pilihan untuk membantunya. Dalam keadaan demikian ia justru tidak menyerang ke Hing-san, sebaliknya secara mendadak ia akan menyerbu Bu-tong-san, ia akan memasang tiga perangkap pula di antara jalanan Siau-sit-san (pegunungan tempat Siau-lim-si berdiri) ke Bu-tong-san.

Jarak Bu-tong-san dan Siau-lim-si hanya beberapa ratus li saja, kalau Bu-tong-pay ada kesukaran, tentu Siau-lim-pay yang berdekatan itu yang akan dimintai bantuan. Sedangkan pada saat itu sebagian jago pilihan Siau-lim-si telah dikirim ke Hing-san, sisanya pasti akan keluar semua untuk membantu Bu-tong-pay. Dalam keadaan demikian pihak Tiau-yang-sin-kau sekaligus akan membobol dulu pangkalan kuat Siau-lim-pay, Siau-lim-si akan dibakar, habis itu perangkap yang telah dipasang serentak berbangkit memotong barisan musuh, digempur dari muka dan belakang, tentu para padri Siau-lim-si yang hendak menolong Bu-tong-pay itu akan terbasmi seluruhnya. Habis itu barulah Bu-tong-san akan dikepung, tapi tidak lantas melancarkan serangan. Dia sengaja menunggu bila jago-jago Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay yang pergi membantu Hing-san-pay itu menerima berita buruk dan bergegas-gegas kembali ke Bu-tong-san, dalam keadaan pihak mereka lelah dan pihak sendiri penuh tenaga itulah akan dilakukan sergapan di tengah jalan dan hasilnya pasti sangat memuaskan. Habis itu soal menyerang Bu-tong-san dan menumpas Hing-san boleh dikata akan terlaksana dengan sangat mudah.

Betapa tajam otak Yim Ngo-heng dan lihai tipu dayanya sungguh jarang terdapat di dunia persilatan selama beratus-ratus tahun ini, dalam sekejap saja dia sudah menentukan tipu apa yang bakal digunakan untuk menumpas Bu-tong dan Siau-lim-pay, dua aliran persilatan yang terbesar dan musuh yang terbesar. Menurut perhitungannya, siasatnya ini sembilan dari sepuluh bagian pasti akan berhasil. Jadi penolakan Lenghou Tiong akan masuk agamanya meski membikin malu padanya di hadapan anak buah sendiri, tapi lantaran itu juga tujuan Tiau-yang-sin-kau akan mencaplok aliran-aliran persilatan lain dan memerintah Kang-ouw untuk selamanya akan menjadi terkabul, maka betapa rasa girang Yim Ngo-heng sungguh sukar dilukiskan.

Air mata Ing-ing sudah sejak tadi berlinang-linang di kelopak matanya, kini tak tertahan lagi lantas bercucuran.

“Jika aku ikut kau ke Hing-san berarti aku tidak berbakti kepada orang tua,” kata Ing-ing dengan terisak-isak. “Kalau aku mengingkari kau, berarti pula aku tidak setia. Bakti dan setia sukar tercapai bersama. Engkoh Tiong, O, Engkoh Tiong, sejak kini janganlah kau memikirkan diriku, sebab….”

“Kenapa?” tanya Lenghou Tiong.

“Sebab jiwamu toh takkan lama lagi dan aku pun pasti takkan hidup lebih lama sehari pun daripadamu,” kata Ing-ing.

“Ayahmu sudah berjanji sendiri akan menjodohkan kau kepadaku, beliau adalah Kaucu mahabijaksana, mana boleh tidak pegang teguh akan janjinya sendiri? Biarlah sekarang juga aku menikahi kau di sini, saat ini juga kita akan terikat menjadi suami-istri.”

Ing-ing menjadi melengak. Meski dia sudah kenal Lenghou Tiong sebagai pemuda petualang yang berani berkata berani berbuat, tapi tidak pernah menduga akan bicara blakblakan demikian di hadapan orang banyak. Keruan ia menjadi kikuk, air mukanya menjadi merah, sahutnya, “Mana… mana boleh jadi begini?”

Lenghou Tiong terbahak-bahak, katanya, “Jika begitu biarlah kita berpisah saja sekarang.”

Ia pun cukup kenal pikiran Ing-ing, pada waktu Yim Ngo-heng menggempur Hing-san nanti dan dirinya terbunuh maka si nona juga pasti akan membunuh diri untuk mengikutnya di alam baka, hal ini sudah pasti akan terjadi dengan sendirinya, betapa pun sukar dicegah. Tapi kalau sekarang si nona mau meninggalkan pandangan kolot umumnya dan bersedia menikah padanya di atas Tiau-yang-hong ini juga, dengan demikian kedua orang akan sama-sama masuk Hing-san-pay, cukup beberapa hari saja mereka menikmati kebahagiaan sebagai pengantin baru, habis itu kedua orang akan mati bersama dan mereka pun tidak perlu menyesal lagi akan hidup mereka.

Namun hal ini sesungguhnya memang terlalu luar biasa dan menyimpang daripada adat istiadat umum, tidaklah menjadi soal bagi petualang seperti diriku ini, tapi pasti takkan diperbuat oleh Yim-toasiocia yang masih taat kepada adat ini, apalagi jika jadi demikian tentu si nona akan menanggung nama jelek sebagai putri yang membangkang dan tidak berbakti kepada orang tua.

Karena pikiran itulah Lenghou Tiong lantas bergelak tertawa pula, ia lantas memberi hormat kepada Yim Ngo-heng, lalu memberi salam pula kepada Hiang Bun-thian dan para tianglo sekeliling situ, serunya, “Lenghou Tiong akan menantikan kunjungan kalian di Kian-seng-hong!”

Habis berkata ia terus putar tubuh dan melangkah pergi.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Hiang Bun-thian berseru. “Ambilkan arak! Lenghou-hiante, hari ini kita harus minum sepuas-puasnya, mungkin kelak tiada kesempatan lagi.”

“Bagus, bagus! Hiang-toako memang benar-benar kawan sepaham akan kegemaranku!” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

Kedatangan Tiau-yang-sin-kau ke Hoa-san ini segalanya telah diatur dengan rapi, termasuk pula segala macam perbekalan yang perlu. Maka begitu Hiang Bun-thian minta arak, segera anak buahnya membawa beberapa guci arak ke hadapannya, tutup guci dibuka dan arak lantas dituang ke dalam mangkuk. Tanpa banyak omong Hiang Bun-thian dan Lenghou Tiong lantas adu mangkuk dan sama-sama menghabiskan isi satu mangkuk.

Tiba-tiba di antara orang banyak tampil seorang tua pendek gemuk, ternyata Lo Thau-cu adanya, serunya, “Lenghou-kongcu, budi pertolonganmu dahulu tak pernah kulupakan untuk selamanya, biarlah sekarang aku pun menyuguhkan satu mangkuk padamu.”

Habis berkata ia pun adu mangkuk dan minum bersama Lenghou Tiong.

Padahal Lo Thau-cu hanya seorang Kang-ouw yang hidup bebas, kedudukannya sudah tentu tak bisa disejajarkan dengan Hiang Bun-thian, kini Lenghou Tiong tegas-tegas menolak masuk Tiau-yang-sin-kau, secara terang-terangan ia telah memusuhi Yim Ngo-heng pula, tapi orang Kang-ouw yang tiada ternama sebagai Lo Thau-cu juga berani menyuguh arak kepada Lenghou Tiong, hal ini berarti pula dia berani melawan kehendak Yim Ngo-heng, bukan mustahil sebentar lagi jiwanya akan melayang. Tapi dia ternyata lebih berat kepada rasa setia kawan daripada jiwa sendiri, terang ia tidak memikirkan mati atau hidupnya sendiri lagi.

Begitulah para kesatria menjadi kagum juga melihat keberanian Lo Thau-cu itu. Maka menyusul Coh Jian-jiu, Keh Bu-si, Na Hong-hong, dan kawan-kawannya satu per satu juga tampil ke depan untuk mengadu mangkuk arak dengan Lenghou Tiong.

Sama sekali Lenghou Tiong tidak menolak suguhan mereka, setiap mangkuk ia minum habis sehingga berpuluh mangkuk arak telah ditenggaknya dan nyatanya kawan-kawan yang ingin minum bersama dia masih terus antre tak terputus-putus. Alangkah besar hati Lenghou Tiong melihat betapa cara teman-teman itu menghargai dirinya, ia merasa hidup ini tidaklah sia-sia, segera ia angkat tinggi-tinggi mangkuknya dan berseru lantang, “Terima kasih atas maksud baik kawan-kawan sekalian, sayang kekuatanku minum terbatas, hari ini aku tidak sanggup minum lagi lebih banyak. Biarlah lain hari bila kawan-kawan ikut menyerbu ke Hing-san, aku akan menunggu kalian di kaki Hing-san dengan arak-arak enak, di situlah kita boleh minum sepuas-puasnya, habis itu baru kita bertempur!”

Sembari berkata, isi mangkuknya lantas ditenggaknya pula.

“Lenghou-ciangbun sungguh seorang yang suka bicara blakblakan!” seru para kesatria berbareng.

“Ya, kalau sudah kenyang minum dan mabuk barulah kita bertempur serabutan, menarik juga tentunya!” demikian ada yang menambahkan.

Lalu Lenghou Tiong membuang mangkuknya, dengan berjalan sempoyongan ia lantas turun ke bawah gunung diikuti oleh Gi-ho, Gi-jing, dan anak murid Hing-san-pay yang lain.

Di waktu para kesatria sedang minum arak bersama Lenghou Tiong, Yim Ngo-heng ternyata tersenyum-senyum saja, tapi di dalam hati ia sedang membikin rekaan secara terperinci akan siasatnya menggempur Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay nanti. Terutama cara bagaimana harus pura-pura menyerang Hing-san untuk memancing bantuan Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay, ia pikir rencananya itu harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan curiga pihak lawan yang terkenal tidak kalah cerdiknya itu. Dan ketika Lenghou Tiong turun ke bawah dalam keadaan mabuk, maka rencana dalam batinnya juga sudah selesai dibentuk, hanya tinggal pelaksanaannya saja.

Selain itu juga terpikir olehnya, “Kawanan bangsat ini berani menyuguhkan arak kepada Lenghou Tiong di hadapanku, perbuatan mereka harus diberi hukuman secara setimpal, biarlah utang mereka ini kucatat dahulu, kini aku masih memerlukan tenaga mereka, nanti kalau Siau-lim-pay, Bu-tong-pay, dan Hing-san-pay sudah kutumpas seluruhnya, maka orang-orang yang menyuguh arak kepada Lenghou Tiong ini pasti akan menerima ganjarannya.”

Tiba-tiba terdengar Hiang Bun-thian berseru, “Dengarkan, kawan-kawan! Bahwasanya Maha-kaucu sudah tahu kebandelan Lenghou Tiong dan tidak tahu maksud baik orang, tapi Kaucu masih coba membujuknya dengan ramah tamah, semua ini jelas disebabkan kebesaran jiwa Kaucu, suka kepada orang berbakat. Tapi sebenarnya masih ada suatu maksud yang mendalam yang tak bisa dipahami oleh orang kasar sebagai Lenghou Tiong itu. Kini tanpa susah-susah kita telah dapat menumpas Ko-san, Thay-san, Hoa-san, dan Heng-san-pay, seterusnya Tiau-yang-sin-kau pasti akan lebih termasyhur, lebih terhormat, lebih disegani!”

“Benar! Hidup Maha-kaucu! Semoga panjang umur dan memerintah Kang-ouw selamanya!” teriak orang banyak dengan bergemuruh.

Setelah suara teriakan orang-orang itu mereda, kemudian Hiang Bun-thian melanjutkan, “Di dunia persilatan sekarang tinggal Siau-lim dan Bu-tong-pay, kedua pay yang masih tetap merupakan ancaman bagi kau kita. Untuk ini Kaucu sengaja atur siasat bagus, pilihannya jatuh pada diri Lenghou Tiong, melalui bocah itu kita akan dapat sapu bersih Siau-lim-pay dan menumpas Bu-tong-pay. Perhitungan Kaucu mahajitu, rencananya sangat rapi. Beliau sudah menduga pasti Lenghou Tiong tak mau masuk kau kita dan kini ternyata benar, bocah itu menolak bujukan Kaucu. Bahwasanya kita menyuguhkan arak kepada Lenghou Tiong, hal ini pun merupakan salah satu siasat Kaucu.”

“O, kiranya begitu!” seru orang banyak. Lalu beramai-ramai mereka berteriak lagi. “Hidup Maha-kaucu kita, panjanglah umur beliau seribu tahun, memerintah Kang-ouw selamanya!”

Hiang Bun-thian yang sudah bergaul berpuluh tahun dengan Yim Ngo-heng, maka ia cukup kenal pribadi sang kaucu, bahwasanya tadi terdorong oleh rasa persaudaraan, tanpa pikir dirinya menyuguhkan arak perpisahan kepada Lenghou Tiong, hal ini tentu tidak disukai oleh Yim Ngo-heng. Bagi dirinya masih tidak menjadi soal, mengingat hubungan baik sang kaucu padanya, tapi orang-orang lain seperti Lo Thau-cu, Coh Jian-jiu, dan sebagainya juga ikut-ikutan menyuguhkan arak kepada Lenghou Tiong, perbuatan itu bukan mustahil akan mendatangkan bencana bagi jiwa mereka. Apalagi dilihatnya air muka Yim Ngo-heng sebentar terang sebentar guram tak tentu, maka ia lantas sengaja mengarang suatu rentetan kata-kata sanjung puji untuk menutupi kejadian tadi, harapannya dengan ucapannya itu dapatlah menolong Lo Thau-cu dan lain-lain dari kematian. Sebab dengan ucapan-ucapan Hiang Bun-thian tadi, bukan saja sama sekali tidak mengurangi wibawa Yim Ngo-heng, bahkan menjunjung tinggi kepemimpinannya yang hebat.

Dan ternyata Yim Ngo-heng menjadi senang sekali mendengar kata-kata Hiang Bun-thian itu, diam-diam ia mengakui betapa pun Hiang Bun-thian tidak sia-sia sebagai tangan kirinya, pembantu utama yang tepercaya dan nyatanya dia pula yang paling dapat memahami isi hatinya. Tapi meski dia tahu aku ingin menyapu bersih Siau-lim-pay dan menumpas Bu-tong-pay, bagaimana caranya dan siasat yang telah kuatur terang ia tak dapat menerkanya. Siasatku ini akan kujalankan selangkah demi selangkah, sebelum dilaksanakan, Hiang-cosu sekalipun takkan kuberi tahu secara terperinci. Demikianlah pikir Yim Ngo-heng.

Dalam pada itu seorang tianglo berseru pula, “Dengan kepemimpinan Maha-kaucu, segala urusan besar di dunia sudah lama berada dalam perhitungan beliau, apa yang beliau katakan tentu tidak salah, apa yang beliau perintahkan segera kita kerjakan juga, pasti takkan keliru.”

“Ya, asalkan sebuah jari Maha-kaucu bergerak segera kita lakukan apa pun perintahnya, ke lautan api atau ke dalam minyak mendidih juga kita takkan menolak,” sambung seorang lagi.

“Kaucu mahabijaksana, baik kepintarannya maupun ketangkasannya tiada bandingannya baik oleh kaum cerdik pandai dan nabi sekalipun dari zaman dahulu kala sampai sekarang,” teriak seorang tianglo yang lain.

Dan begitulah keadaan menjadi riuh ramai oleh teriakan semboyan dan sanjung puji yang tak terputus-putus diselang-seling dengan sorakan, “Hidup Kaucu! Panjang umur seribu tahun, memerintah Kang-ouw selamanya! Hancurkan Siau-lim-si, sapu bersih Bu-tong-pay!”

Menghadapi sorak-sorai anak buahnya itu, walaupun Yim Ngo-heng tahu juga bahwa sanjung puji itu terkadang berlebih-lebihan dan tidak masuk di akal, akan tetapi di dalam hati kecilnya ia merasa puas, merasa syur.

Dengan wajah berseri-seri ia lantas berbangkit dari tempat duduknya. Melihat sang kaucu berdiri, semua orang serentak mendekam ke bawah memberi sembah. Dalam sekejap saja suasana di atas Tiau-yang-hong berubah menjadi sunyi senyap.

Yim Ngo-heng terbahak-bahak, katanya, “Semoga keadaan abadi seperti ha….” sampai di sini tiba-tiba suaranya berubah serak. Ia coba mengerahkan tenaga dan mengatur napas, ia hendak mengucapkan “hari ini” yang belum sempat tercetus dari mulutnya itu, tapi dada terasa kejang, betapa pun kata-kata itu sukar diucapkan. Dengan tangan kanan menahan dada, ia berusaha menekan darah panas yang telah naik ke tengah kerongkongannya, terasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang silau oleh cahaya matahari.

(Dikumpulkan dari berbagai situs oleh Laura VCO)

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: