Hina Kelana: Bab 139. Jiwa Kesatria Hing-san-pay yang Tak Tertaklukkan

Hina Kelana
Bab 139. Jiwa Kesatria Hing-san-pay yang Tak Tertaklukkan
Oleh Jin Yong

Habis berkata, segera ia gandeng tangan Lenghou Tiong dan diajak menuju ke suatu panggung batu yang menjulang tinggi di atas puncak itu. Di sebelah timur panggung batu itu terdapat lima tiang batu yang berjajar dalam bentuk seperti telapak tangan, tinggi seluruhnya beberapa puluh meter tingginya, pada jari tengah yang paling tinggi itu, di pucuk jari batu itu tertaruh sebuah kursi besar, seorang duduk di atas kursi itu, dia Yim Ngo-heng adanya.

Ing-ing mendekati telapak tangan batu raksasa itu, sambil menengadah ia pun menyapa, “Ayah!”

Dengan memberi hormat, Lenghou Tiong juga lantas berkata, “Wanpwe Lenghou Tiong menyampaikan sembah hormat kepada Kaucu!”

Yim Ngo-heng bergelak tertawa, katanya, “Bagus sekali kedatanganmu ini, kita adalah orang sekeluarga, tidak perlu banyak adat. Hari ini aku hendak menemui para kesatria seluruh jagat, bicara dulu urusan dinas, kemudian baru bicara urusan keluarga. Hian… Hiante silakan duduk di situ.”

Mula-mula Lenghou Tiong menyangka Yim Ngo-heng hendak memanggil “hiansay” (menantu sayang) padanya, tapi rupanya belum resmi, maka mendadak memanggilnya “hiante” (saudara) saja, melihat gelagatnya, terang Yim Ngo-heng sangat setuju mengenai perjodohan dirinya dengan Ing-ing, apalagi ucapannya tadi memakai “kita adalah orang sekeluarga” dan “bicara urusan dinas dulu baru bicara urusan keluarga” segala, jelas dirinya telah dipandang sebagai anggota keluarga sendiri oleh kaucu itu.

Tentu saja hati Lenghou Tiong sangat girang, ia berdiri tegak kembali. Tapi mendadak dalam perut timbul suatu arus hawa dingin terus menerjang ke atas, seluruh badan menjadi menggigil seperti kejeblos ke dalam sungai es.

Ing-ing terkejut, cepat ia memburu maju dan bertanya, “Kenapa kau?”

“Aku… aku….” ternyata sukar bagi Lenghou Tiong untuk membuka suara.

Meski duduk begitu tinggi, jaraknya berpuluh meter, tapi pandangan Yim Ngo-heng sungguh amat tajam, segera ia bertanya, “Apakah kau telah bergebrak dengan Co Leng-tan?”

Lenghou Tiong mengangguk.

“Tidak menjadi soal,” ujar Yim Ngo-heng. “Kau telah menyedot hawa dingin beracun dari dia, sebentar kalau hawa dingin itu buyar tentu kau akan sehat kembali. Mengapa Co Leng-tan belum tiba?”

“Co Leng-tan memasang perangkap keji hendak membikin susah Lenghou-toako dan aku, akhirnya dia telah dibinasakan oleh Lenghou-toako,” tutur Ing-ing.

“Ooo!” Yim Ngo-heng rada melongo, meski air mukanya tak tertampak jelas karena tempat duduknya yang tinggi, tapi dari suaranya itu jelas penuh rasa kecewa yang tak terhingga.

Ing-ing tahu akan perasaan sang ayah. Hari ini secara besar-besaran sang ayah mengerahkan kekuatannya ke sini dengan tujuan hendak menaklukkan Ngo-gak-kiam-pay secara total. Co Leng-tan merupakan musuh bebuyutan ayahnya selama ini, kini tak dapat menyaksikan musuh besar itu bertekuk lutut mengaku kalah padanya, dengan sendirinya merasa menyesal.

Segera Ing-ing menggenggam tangan kanan Lenghou Tiong, disalurkan tenaga dalam sendiri untuk membantu pemuda itu menolak hawa dingin berbisa. Tangan Lenghou Tiong yang lain dipegang oleh Hiang Bun-thian. Kedua orang mengerahkan tenaga sekaligus, segera Lenghou Tiong merasa hawa dingin dalam tubuhnya membuyar lambat laun.

Ketika bertempur di Siau-lim-si dahulu, hawa dingin berbisa Co Leng-tan itu juga tersedot tidak sedikit oleh Yim Ngo-heng, akibatnya di tanah bersalju Yim Ngo-heng, Lenghou Tiong, Hiang Bun-thian, dan Ing-ing ikut terbeku menjadi manusia salju.

Bedanya sekarang Lenghou Tiong hanya menyedot sedikit hawa dingin berbisa Co Leng-tan itu melalui persentuhan pedang, waktunya sangat singkat, hawa dingin yang tersedot itu juga terbatas, maka cuma sebentar saja ia tidak menggigil lagi.

“Sudah baik, terima kasih,” katanya kemudian kepada Hiang Bun-thian dan Ing-ing.

“Adik cilik, begitu mendengar panggilanku, segera kau naik ke sini, sungguh bagus sekali kau!” kata Yim Ngo-heng. Lalu ia berpaling kepada Hiang Bun-thian dan berkata pula, “Mengapa orang-orang keempat pay yang lain hingga kini masih belum datang?”

“Coba hamba mendesaknya lagi!” jawab Hiang Bun-thian. Lalu ia memberi tanda dengan angkat sebelah tangannya, segera ada delapan orang tua berseragam kuning berbaris ke depan puncak gunung itu dan berteriak bersama, “Yim-kaucu mahabijaksana dari Tiau-yang-sin-kau memberi perintah agar semua orang Thay-san-pay, Ko-san-pay, Heng-san-pay, dan Hoa-san-pay segera menghadap ke puncak ini. Para Hiangcu diharuskan mendesak mereka selekasnya, jangan lengah!”

Kedelapan orang tua itu sama memiliki tenaga dalam yang kuat, suara mereka serentak berkumandang hingga jauh dan terdengar di setiap puncak gunung sekitarnya. Maka terdengarlah dari berbagai penjuru suara berpuluh orang menjawab berbareng, “Turut perintah! Semoga Kaucu panjang umur, memerintah Kang-ouw selamanya!”

Suara sahutan itu terang berasal dari para hiangcu yang dimaksudkan.

Lalu Yim Ngo-heng berkata pula dengan tersenyum, “Lenghou-ciangbun, silakan duduk di sebelah sana.”

Lenghou Tiong melihat sebelah barat telapak tangan batu yang menegak itu berbaris lima buah kursi, setiap kursi dilandasi dengan kain sutra yang terdiri dari pancawarna dan setiap kain sutra itu bersulaman sebuah puncak gunung.

Di antara Ngo-gak-kiam-pay sebenarnya Ko-san-pay adalah kepalanya, Hing-san-pay terhitung paling buncit menurut urut-urutannya, tapi kini tempat duduk Hing-san-pay justru diputar balik menjadi tempat duduk utama, habis itu baru Hoa-san-pay, sedangkan Ko-san-pay malah diberi tempat duduk paling akhir. Terang Yim Ngo-heng sengaja mengangkat tinggi diriku dan sengaja pula hendak menghina Co Leng-tan. Demikian pikir Lenghou Tiong.

Memangnya Co Leng-tan, Gak Put-kun, dan Bok-taysiansing bertiga sudah mati semua, maka Lenghou Tiong juga tidak perlu sungkan-sungkan lagi, ia membungkuk tubuh dan mengiakan, lalu berduduk di atas kursi berlandaskan kain sutra hitam dengan sulaman puncak gunung Kian-seng-hong di Hing-san.

Suasana di atas Tiau-yang-hong menjadi sunyi senyap, semua orang menunggu dengan tenang.

Selang agak lama Hiang Bun-thian memberi perintah agar kedelapan orang tua tadi berteriak sekali lagi, tapi tetap tiada orang naik ke atas situ.

“Orang-orang itu benar-benar tidak tahu diri, sekian lamanya mereka masih belum datang memberi sembah kepada Kaucu, suruhlah orang kita sendiri naik dulu ke sini!” seru Hiang Bun-thian kemudian.

Kedelapan orang tua berseragam kuning tadi lantas berseru serentak, “Saudara-saudara dari pulau-pulau, gua-gua, gunung-gunung, dan berbagai organisasi sungai dan laut disilakan naik ke atas Tiau-yang-hong sini untuk menghadap Kaucu!”

Baru saja kata “kaucu” habis diucapkan, serentak di sekitar puncak gunung situ bergema suara jawaban, “Taat!”

Begitu hebat suara ramai itu hingga gemuruh laksana bunyi geluduk yang menggetar lembah gunung.

Lenghou Tiong terperanjat mendengar suara yang riuh ramai itu, dari suara gemuruh itu dapat ditaksir sedikitnya diteriakkan oleh dua-tiga puluh ribu orang. Padahal tadinya lembah gunung sekitar situ sunyi senyap, tahu-tahu bergema suara orang sebanyak itu, terang sebelumnya telah sengaja disembunyikan oleh Yim Ngo-heng dengan tujuan hendak membikin keder pihak Ngo-gak-kiam-pay supaya tidak berani melakukan perlawanan.

Begitulah dalam sekejap saja orang-orang membanjir menuju Tiau-yang-hong dari berbagai penjuru. Meski jumlah orang itu sangat banyak, tapi sama sekali tidak mengeluarkan suara berisik. Setiap orang berdiri di tempat masing-masing secara rajin, tampaknya mereka sudah terlatih dengan baik sebelumnya.

Yang naik ke atas puncak itu hanya dua-tiga ribu orang saja, semuanya tergolong punya kedudukan sebangsa pangcu, cecu, tongcu, tocu, dan sebagainya, sedang anak buahnya dengan sendirinya menunggu di lereng gunung sana.

Sekilas pandang Lenghou Tiong melihat sebagian besar di antara orang-orang itu adalah jago-jago Kang-ouw yang dahulu pernah di bawah komandonya ikut menyerbu ke Siau-lim-si, dilihatnya Na Hong-hong, Coh Jian-jiu, Lo Thau-cu, Keh Bu-si, dan lain-lain juga berada di antara orang banyak itu. Tapi orang-orang itu hanya adu pandang saja dengan Lenghou Tiong, semuanya cuma bersenyum saja sebagai tanda memberi salam, tapi tiada seorang pun yang berani bersuara menyapa.

Ketika Hiang Bun-thian angkat sebelah tangannya, lalu memberi tanda suatu lingkaran ke depan, beribu-ribu orang itu serentak berlutut dan berteriak, “Hamba sekalian menyampaikan sembah bakti kepada Kaucu penyelamat dan mahabijaksana. Semoga Kaucu panjang umur dan memerintah Kang-ouw selamanya!”

Teriakan beribu orang yang memiliki kepandaian tinggi itu disusul dengan semua orang yang berada di lereng gunung sana, keruan suara mereka benar-benar menggetar langit dan mengguncangkan bumi.

Yim Ngo-heng duduk diam-diam saja di tempatnya, sehabis orang-orang itu berteriak memujanya barulah ia mengangkat tangannya sebagai tanda menerima sanjung puji anak buahnya itu, katanya, “Saudara-saudara tentu lelah, silakan bangun!”

“Terima kasih, Maha-kaucu!” seru beribu-ribu orang itu berbareng sambil berbangkit.

Melihat sanjung puji anggota Tiau-yang-sin-kau yang lebih memuakkan daripada dahulu mereka menyanjung Tonghong Put-pay, bahkan sekarang mereka menambahkan sebutan “maha-kaucu” kepada Yim Ngo-heng, Lenghou Tiong merasa merinding oleh sanjung puji yang berlebih-lebihan itu.

Sekonyong-konyong ia merasa perutnya kesakitan, pandangan menjadi gelap dan hampir-hampir jatuh pingsan, lekas-lekas ia pegang tepian kursi dengan kencang sambil menggigit bibir hingga berdarah karena menahan rasa sakit luar biasa itu. Ia tahu sejak mempelajari Gip-sing-tay-hoat, meski dia sudah bersumpah takkan menggunakan ilmu itu, tapi di dalam gua yang gelap itu dan ketika mendadak terjaring oleh jala Gak Put-kun, dalam keadaan gawat pilihan antara hidup dan mati itu, terpaksa ia menggunakan ilmu jahat itu, akibatnya badan sendiri ikut menderita.

Sekuatnya ia menahan rasa sakit agar mulut tidak sampai bersuara merintih, karena itu keningnya lantas penuh butir-butir keringat, sekujur badan gemetar, otot daging wajahnya berkerut-kerut, suatu tanda betapa penderitaan yang dia rasakan, hal ini segera dapat diketahui bagi setiap orang yang melihatnya. Begitu pula Coh Jian-jiu dan lain-lain juga sedang memandang padanya penuh perhatian dan khawatir.

Ing-ing mendekatinya dan berkata padanya dengan suara tertahan, “Engkoh Tiong, aku berada di sisimu!”

Andaikan di tempat yang sepi tentu dia sudah pegang tangan pemuda itu untuk menghiburnya, tapi di bawah beribu-ribu pasang mata itu, terpaksa ia hanya dapat mengucapkan kata-kata itu saja.

Lenghou Tiong lantas menoleh dan memandang Ing-ing sekejap, perasaannya terasa terhibur sedikit. Teringat olehnya apa yang pernah dikatakan Yim Ngo-heng di Hangciu dahulu, katanya setelah Lenghou Tiong mempelajari “Gip-sing-tay-hoat” dan berhasil mengumpulkan macam-macam tenaga murni dari orang lain ke dalam tubuh sendiri, pada suatu hari kelak himpunan tenaga-tenaga murni yang bermacam-macam itu pasti akan bergolak dan setiap kali bergolak akan semakin lihai daripada sebelumnya dan hal ini berarti badan sendiri akan tersiksa.

Dahulu sebabnya Yim Ngo-heng menyerahkan kedudukan kaucu kepada Tonghong Put-pay juga lantaran waktu itu ia tersiksa oleh macam-macam tenaga murni yang berkumpul dalam tubuhnya itu, ia harus berusaha mencari jalan keluar untuk memunahkannya, karena itu terpaksa ia harus mengesampingkan segala urusan, akhirnya dia malah kena dipecat dan dikurung oleh Tonghong Put-pay di bawah danau di Hangciu.

Selama terkurung di bawah danau barat di Hangciu itulah, akhirnya Yim Ngo-heng berhasil meyakinkan cara memunahkan hawa murni yang mengamuk di dalam tubuhnya itu. Maka dengan syarat Lenghou Tiong harus masuk ke dalam Tiau-yang-sin-kau barulah ia mau mengajarkan ilmu sakti padanya. Tapi ketika itu Lenghou Tiong tegas-tegas menolak kehendak Yim Ngo-heng itu, soalnya sejak kecil ia telah dididik membenci Mo-kau dan tidak mungkin bergaul dengan agama sesat itu.

Tapi akhir-akhir ini setelah menyaksikan perbuatan-perbuatan Co Leng-tan dan guru sendiri yang pernah menamakan diri mereka sebagai guru besar dari aliran-aliran suci, namun apa yang dilakukan mereka ternyata jauh lebih culas dan keji daripada orang-orang Mo-kau. Apalagi setelah mengikat janji dengan Ing-ing, perbedaan tentang cing-pay dan sia-pay baginya sudah menjadi hambar. Terkadang juga timbul pikirannya, umpama Yim-kaucu mengharuskannya lagi masuk agama, baru mengizinkan Ing-ing menikah padanya, maka tanpa banyak cincong ia pun menerima syarat itu.

Dasar wataknya memang suka apa adanya, segala unsur tak pernah dianggapnya sungguh-sungguh, apakah harus masuk agama atau tidak sebenarnya juga tidak menjadi soal. Tapi tempo hari ketika menyaksikan cara anggota Mo-kau menjilat-jilat dan memuja Tonghong Put-pay serta Yim Ngo-heng secara memuakkan, hal inilah yang menimbulkan antipatinya, ia merasa tidak sudi diperbudak dan menjadi penjilat serendah itu.

Kini melihat pula cara Yim Ngo-heng menggunakan dirinya, lagaknya jauh lebih hebat daripada maharaja mana pun, padahal betapa konyolnya Yim Ngo-heng waktu terkurung di dasar danau dahulu, kini kaum kesatria Kang-ouw ternyata diperlakukan sedemikian hina, sungguh terlalu.

Begitulah segala pikiran Lenghou Tiong bergejolak sendiri, tiba-tiba terdengar seruan seorang, “Lapor Maha-kaucu, anak murid Hing-san-pay telah tiba!”

Maka tertampaklah Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, dan murid-murid Hing-san-pay yang lain bahu-membahu naik ke atas puncak situ. Put-kay Hwesio dan istrinya serta Dian Pek-kong juga ikut di belakang.

Segera seorang tertua Tiau-yang-sin-kau berseru, “Para kawan silakan memberi sembah kepada Maha-kaucu!”

Melihat Lenghou Tiong juga berduduk di samping situ, Gi-jing tahu Yim Ngo-heng adalah bakal mertua sang ketua, ia pikir antara cing-pay dan sia-pay mestinya tak mungkin hidup bersama, tapi mengingat Lenghou Tiong, biarlah aku memberi hormat sebagai kaum yang lebih muda.

Lalu ia mendekati telapak tangan batu raksasa itu, ia memberi hormat dengan membungkuk tubuh dan berkata, “Wanpwe dari Hing-san-pay memberi salam hormat kepada Yim-kaucu!”

“Berlutut dan menyembah!” bentak tianglo tadi.

“Cut-keh-lang seperti kami ini hanya menyembah kepada Buddha, menyembah kepada Suhu, tapi tidak menyembah kepada orang biasa,” sahut Gi-jing dengan lantang.

“Maha-kaucu bukan orang biasa, beliau adalah nabi, adalah dewa, adalah Buddha!” seru pula tianglo itu.

Gi-jing lantas berpaling ke arah Lenghou Tiong, tertampak pemuda itu menggeleng kepala, segera Gi-jing berkata pula, “Mau bunuh boleh bunuh, yang pasti anak murid Hing-san-pay tidak menyembah kepada orang biasa!”

Mendadak Put-kay Hwesio terbahak-bahak, serunya, “Ucapan tepat, ucapan bagus!”

“Kau berasal dari perguruan dan aliran mana? Mau apa datang ke sini!” tanya Hiang Bun-thian dengan gusar.

Dilihatnya anak murid Hing-san-pay tidak mau menyembah kepada Yim Ngo-heng sehingga keadaan menjadi tegang, kalau orang-orang Hing-san-pay itu diperlakukan kasar, rasanya tidak enak terhadap Lenghou Tiong, sebab itulah dia sengaja bicara keras kepada Put-kay Hwesio untuk mengalihkan perhatian Yim Ngo-heng tentang pembangkangan anak murid Hing-san-pay.

Maka terdengar Put-kay menjawab dengan tertawa, “Hwesio gede sudah biasa berkeliaran ke mana-mana, tidak masuk perguruan dan juga tidak beraliran, aku datang ke sini karena ingin melihat ramai-ramai.”

“Pertemuan sekarang ini hanya dihadiri oleh orang-orang Ngo-gak-kiam-pay dengan Tiau-yang-sin-kau, orang luar tidak boleh ikut mengacau di sini, kau lekas pergi saja dari sini,” kata Hiang Bun-thian. Ucapannya ini boleh dikata sangat halus mengingat kedatangan Put-kay bersama orang-orang Hing-san-pay, sedikit-banyak tentu ada hubungan baik di antara mereka, maka Hiang Bun-thian tidak ingin membikin malu padanya.

Tak terduga Put-kay lantas menjawab, “Hoa-san ini bukan milik Mo-kau kalian, aku ingin datang ke sini, peduli apa dengan kalian, kecuali orang-orang Hing-san-pay, tiada seorang yang berhak mengusir aku.”

Istilah “Mo-kau” merupakan kata pantangan bagi Tiau-yang-sin-kau, orang dunia persilatan umumnya hanya di belakang saja berani mengucapkan kata “Mo-kau”, kalau berhadapan tiada seorang pun yang berani mengucapkan istilah itu kecuali pihak yang tegas-tegas sudah bermusuhan.

Dasar watak Put-kay Hwesio memang tidak kenal apa artinya pantangan, apa yang dia pikir, itulah yang dia ucapkan. Apalagi ia menjadi mendongkol ketika Hiang Bun-thian mengusirnya, tanpa pikir ia terus membantah tanpa menghiraukan siapa lawan, sedikit pun ia tidak gentar.

Dengan menahan gusar Hiang Bun-thian berpaling kepada Lenghou Tiong dan bertanya, “Lenghou-hiante, siapakah hwesio gila ini, ada hubungan apa dengan pay kalian?”

Lenghou Tiong sendiri sedang merasakan kesakitan perutnya yang seperti disayat-sayat, dengan suara terputus-putus ia menjawab, “Put-kay… Put-kay Taysu ini….”

Dalam pada itu Yim Ngo-heng juga sangat gusar ketika mendengar Put-kay berani menyebut “Mo-kau”, ia khawatir Lenghou Tiong akan mengatakan hwesio gede itu ada hubungan baik dengan Hing-san-pay, jika demikian halnya tentu sukar untuk membunuhnya, maka sebelum Lenghou Tiong selesai menjawab, segera ia membentak, “Binasakan saja hwesio gila itu!”

Serentak delapan orang tua berseragam kuning mengiakan, sekaligus mereka menubruk maju dan mengerubuti Put-kay.

“He, kalian hendak main keroyok ya?” Put-kay berkaok-kaok sambil menghadapi kedelapan lawannya.

“Tidak malu!” maki si nenek, istri Put-kay alias ibu Gi-lim. Segera ia pun melompat maju menggabungkan diri dengan Put-kay, dengan punggung menempel punggung mereka layani seorang musuh.

Kedelapan tianglo itu adalah jago kelas satu di dalam Tiau-yang-sin-kau, ilmu silat mereka tidak di bawah Put-kay dan si nenek, dengan delapan lawan dua, hanya beberapa kali gebrak saja mereka sudah berada di atas angin.

Melihat itu, Dian Pek-kong tak bisa tinggal diam, segera ia lolos goloknya dan ikut menerjang ke dalam kalangan pertempuran. Begitu pula Gi-lim, segera ia pun membantu ayah-ibunya. Tapi ilmu silat mereka berdua masih jauh di bawah musuh-musuhnya, dua di antara kedelapan tianglo itu memisahkan diri untuk melayani mereka. Dengan ilmu goloknya yang cepat masih mendingan bagi Dian Pek-kong, tapi Gi-lim menjadi kewalahan menghadapi serangan lawan yang gencar.

“Nan… nanti dulu!” seru Lenghou Tiong sambil memegang perutnya yang kesakitan, sebelah tangan lantas melolos pedang pula.

Begitu pedangnya bergerak, sekaligus delapan gerakan dilontarkan, kontan kedelapan tianglo itu dipaksa mundur. Gerak ilmu pedang Tokko-kiu-kiam yang lihai itu selalu mengarah tempat mematikan di tubuh lawan, betapa pun kedelapan tianglo itu tidak sanggup menangkisnya sehingga terpaksa melompat mundur.

Sambil setengah berjongkok, dengan suara terputus-putus Lenghou Tiong berkata kepada Yim Ngo-heng, “Yim… Yim-kaucu, sudilah memandang diriku dan membiarkan mereka….” saking menahan sakit perutnya, kata “pergi” tidak sanggup diucapkannya lagi.

Melihat keadaannya, Yim Ngo-heng tahu macam-macam hawa murni dalam tubuh pemuda itu telah bergolak lagi. Ia tahu pemuda itu adalah pemuda idam-idaman putrinya, tidak mendapatkan Lenghou Tiong pasti putrinya tidak mau menikah, dirinya sebenarnya juga sayang dan suka kepada pemuda cakap dan berbakat ini, apalagi dirinya tidak punya anak laki-laki, kelak malah diharapkan Lenghou Tiong akan mewariskan kedudukan kaucu darinya.

Karena itu, ia lantas mengangguk dan berkata, “Baiklah, karena Lenghou-ciangbun yang mintakan ampun bagi kalian, biarlah aku memberi kelonggaran.”

Segera Hiang Bun-thian melompat maju, kedua tangan bekerja cepat, berturut-turut ia tutuk hiat-to Put-kay Hwesio dan istrinya serta Dian Pek-kong dan Gi-lim berempat. Betapa cepat cara dia bergerak boleh dikata luar biasa dan sukar dibayangkan, meski gerak tubuh si nenek biasanya mahacepat toh juga tidak dapat meloloskan diri dari tutukan Hiang Bun-thian itu.

Semula Lenghou Tiong terkejut dan berseru, “Hiang… Hiang….”

“Jangan khawatir,” cepat Hiang Bun-thian menjawabnya dengan tertawa, “Kaucu sudah menyatakan memberi ampun kepada mereka.”

Lalu ia berpaling kepada anak buahnya dan berseru, “Maju sini delapan orang!”

Serentak delapan orang lelaki berseragam hijau mengiakan dan maju ke depan menunggu perintah lebih lanjut.

“Empat lelaki dan empat perempuan!” kata Hiang Bun-thian.

Empat orang di antaranya segera mengundurkan diri dan empat orang anggota perempuan menggantikan maju ke depan.

“Keempat orang ini bicara tidak pantas, dosa mereka seharusnya dihukum mati,” kata Hiang Bun-thian. “Tapi Maha-kaucu cukup bijaksana dan bermurah hati, mengingat permintaan Lenghou-ciangbun, mereka tidak diberi hukuman. Maka gendong saja mereka ke bawah gunung, lepaskan hiat-to mereka dan bebaskan di sana.”

Kedelapan orang itu mengiakan sambil memberi hormat.

Hiang Bun-thian lantas menambahkan dengan suara tertahan, “Mereka adalah sobat baik Lenghou-ciangbun, jangan berbuat kasar kepada mereka.”

Kembali kedelapan orang itu mengiakan. Dua orang menggotong seorang segera mereka membawa pergi Put-kay berempat.

Melihat Put-kay berempat terhindari dari kematian, Lenghou Tiong dan Ing-ing merasa lega. Segera Lenghou Tiong mengucapkan terima kasih, saking sakit perutnya ia terjongkok di tempatnya dan tidak sanggup berdiri.

Maklumlah, dalam sekejap saja ia telah melontarkan Tokko-kiu-kiam yang hebat itu, tenaganya menjadi banyak terbuang sehingga rasa sakit perutnya bertambah hebat.

Diam-diam Hiang Bun-thian merasa khawatir, tapi lahirnya dia tidak menunjukkan sesuatu tanda apa-apa, katanya dengan tertawa, “Apakah Lenghou-hiante merasa kurang enak badan?”

Sejak Lenghou Tiong membantunya menempur berbagai kesatria dari Kang-ouw dahulu itu, dia telah mengikat persaudaraan dengan pemuda itu, meski kedua orang jarang berkumpul, namun hubungan mereka tetap abadi, segera ia pegang tangan Lenghou Tiong dan memayangnya duduk di atas kursi tadi. Diam-diam ia mengerahkan tenaga murni sendiri untuk membantu Lenghou Tiong menolak pergolakan hawa murni di dalam tubuh.

Padahal Lenghou Tiong memiliki ilmu Gip-sing-tay-hoat, dengan perbuatan Hiang Bun-thian itu sama artinya membiarkan tenaga murninya disedot, maka cepat Lenghou Tiong mengebaskan tangan Hiang Bun-thian dari berkata, “Jangan Hiang-toako! Aku… aku sudah sembuh!”

Dalam pada itu Yim Ngo-heng sedang tanya anak buahnya, “Di antara Ngo-gak-kiam-pay hanya Hing-san-pay saja yang hadir dalam pertemuan ini, anggota-anggota keempat pay yang lain ternyata berani membangkang dan tidak hadir, maka kita tak bisa sungkan-sungkan lagi kepada mereka!”

Pada saat itulah, tiba-tiba seorang tua berseragam kuning berlari ke atas puncak situ, setiba di depan telapak tangan batu raksasa itu ia lantas menyembah dan melapor, “Lapor Maha-kaucu, di dalam gua Su-ko-keh diketemukan beberapa ratus mayat. Di antaranya terdapat ketua Ko-san-pay, Co Leng-tan, ketua Heng-san-pay, Bok-taysiansing, selain itu banyak pula jago-jago Ko-san-pay, Heng-san-pay, dan Thay-san-pay, tampaknya mereka mati karena saling membunuh.”

“O, Bok-taysiansing dari Heng-san-pay juga mati di sana, tidak salah lihat?” kata Yim Ngo-heng.

“Hamba memeriksa sendiri, pasti tidak salah lihat,” jawab tianglo itu. “Malahan Giok-seng-cu, Giok-ciong-cu dan jago-jago Thay-san-pay yang lain juga terdapat di antara mayat-mayat itu.”

Yim Ngo-heng merasa kurang senang, katanya, “Bagaimana bisa terjadi begitu?”

“Bahkan di luar gua itu ditemukan pula sesosok mayat,” tianglo itu menambahkan.

“Mayat siapa?” tanya Yim Ngo-heng dengan cepat.

“Setelah hamba periksa dengan teliti, akhirnya dapat diketahui dengan pasti mayat itu adalah ketua Hoa-san-pay, yaitu Gak Put-kun, Gak-siansing, yang baru-baru ini memenangkan kedudukan ketua Ngo-gak-kiam-pay itu.”

Agaknya tianglo itu mengetahui kelak Lenghou Tiong akan menduduki tempat penting di dalam agama sendiri, sedangkan Gak Put-kun adalah gurunya, maka di waktu menyebut Gak Put-kun dia tidak berani pakai kata-kata kasar.

Sama halnya dengan kedelapan tianglo tadi, selain ilmu pedang Lenghou Tiong memang hebat, tapi sebenarnya juga disebabkan para tianglo itu merasa sungkan melawannya, kalau tidak, dengan kepandaian kedelapan tianglo yang lihai itu tidak mungkin terdesak mundur hanya oleh sekali gebrak saja dari Lenghou Tiong.

Begitulah Yim Ngo-heng menjadi lesu dan seakan-akan kehilangan sesuatu demi mendengar Gak Put-kun sudah mati, ia coba tanya lagi, “Kiranya dia… siapakah yang membunuh dia?”

Tianglo tadi menjawab, “Ketika hamba memeriksa keadaan gua Su-ko-keh tadi, kemudian mendengar di gua belakang itu adalah suara orang bertempur, segera hamba melihatnya ke sana, ternyata ada serombongan anak murid Hoa-san-pay sedang bertempur mati-matian dengan sekawanan tojin dari Thay-san-pay, dari caci maki kedua pihak itu terdengar masing-masing pihak menuduh pihak lain membunuh guru pihak sendiri. Kedua pihak bertempur dengan sengit dan sama-sama jatuh korban tidak sedikit. Akhirnya mereka hampir mati semua, sisanya tinggal beberapa orang saja, lalu hamba tawan, kini mereka menunggu di bawah puncak untuk menantikan keputusan Kaucu.”

“Jadi Gak Put-kun dibunuh oleh pihak Thay-san-pay?” kata Yim Ngo-heng. “Di dalam Thay-san-pay mana ada jago selihai itu yang mampu membunuh Gak Put-kun?”

Tiba-tiba di antara anak murid Hing-san-pay seorang berseru, “Tidak! Gak Put-kun dibunuh oleh seorang sumoay dari Hing-san-pay kami!”

Pembicara ini ternyata Gi-jing adanya.

“Siapa sumoaymu itu?” tanya Yim Ngo-heng.

“Dia tidak berada di sini lagi,” sahut Gi-jing. “Gak Put-kun telah membikin celaka ciangbunjin, guru, dan susiok kami, setiap anak murid Hing-san-pay kami membencinya sampai tulang sumsum. Syukurlah, berkat lindungan Buddha, melalui tangan seorang sumoay kami hari ini biang keladi daripada segala kejahatan itu telah dapat dibinasakan sehingga terbalaslah sakit hati kami.”

“O, kiranya begitu!” kata Yim Ngo-heng. “Ya, boleh dikata dosa tak berampun, utang harus bayar.”

Nada ucapannya ternyata sangat hambar dan kecewa.

Hiang Bun-thian dan para tianglo sejawatnya juga saling pandang dengan perasaan kurang gembira.

Maklum, kedatangan pihak Tiau-yang-sin-kau ke Hoa-san kali ini, sebelumnya memang telah direncanakan dengan sangat rapi, semua jago-jago terkemuka dalam agama beserta anak buahnya serta organisasi dari berbagai tempat yang dibawahinya dikerahkan seluruhnya, tujuannya sekaligus Ngo-gak-kiam-pay harus ditaklukkan, seumpama Ngo-gak-kiam-pay tidak mau menyerah dan berani melawan, maka mereka harus ditumpas dan dimusnahkan oleh pihak Tiau-yang-sin-kau. Dengan begitu Yim Ngo-heng dan agama yang dipimpinnya akan termasyhur dan menggetarkan dunia. Habis itu akan ditumpas pula Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay, maka tiada satu golongan atau aliran mana pun dari pihak cing-pay yang dapat melawannya lagi, sejak itu Tiau-yang-sin-kau akan memerintah Kang-ouw untuk selamanya, dasar yang kuat itu dengan demikian akan terpupuk di puncak Tiau-yang-hong di atas Hoa-san ini.

Siapa duga tiga tokoh-tokoh terkemuka Ngo-gak-pay seperti Co Leng-tan, Gak Put-kun, Bok-taysiansing, serta tokoh-tokoh inti dari Thay-san-pay kini ternyata sudah mati semua dengan saling membunuh, malahan anak murid keempat pay itu kini hanya bersisa sedikit pula. Hal ini berarti rencana rapi yang telah diatur oleh Yim Ngo-heng akhirnya menemukan kegagalan.

Karena itulah, makin dipikir makin gusarlah Yim Ngo-heng, mendadak ia berteriak, “Coba giring ke sini semua itu kawanan anjing Ngo-gak-kiam-pay yang belum mampus itu!”

Tianglo yang melapor tadi cepat mengiakan, lalu berlari-lari ke bawah puncak untuk menyampaikan perintah sang kaucu.

Sementara itu pergolakan perut Lenghou Tiong yang menyiksa tadi sudah mulai mereda. Ketika mendengar Yim Ngo-heng berteriak agar “kawanan anjing Ngo-gak-pay yang belum mampus” itu supaya digiring ke sini, meski maksud Yim Ngo-heng bukan hendak memakinya, tapi apa pun juga Hing-san-pay termaksud di dalam Ngo-gak-pay, dengan sendirinya ia merasa tidak enak oleh kata-kata itu.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO Asli, pengobatan ajaib dari Jogja)

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: