Hina Kelana: Bab 138. Kepandaian Dian Pek-kong yang Khas Endus Bau Wanita

Hina Kelana
Bab 138. Kepandaian Dian Pek-kong yang Khas Endus Bau Wanita
Oleh Jin Yong

“Tidak boleh juga, tidak apa-apa, di dalam jala ikan ada duniaku sendiri. Biarlah aku tidur nyenyak di sini. Seorang laki-laki sejati sanggup mengkeret dan dapat menonjol, kalau mengkeret masuk jala, bila menonjol akan keluar jala. Apa artinya bagiku soal-soal begini, aku Lenghou….” baru Lenghou Tiong mau mengoceh lagi sekilas dilihatnya mayat Gak Put-kun menggeletak di situ. Meski bekas gurunya itu berkali-kali hendak mencelakainya, tapi mengingat selama likuran tahun dirinya dibesarkan olehnya, betapa pun budi kebaikan itu sukar dinilai. Coba kalau tidak disebabkan kitab Pi-sia-kiam-hoat, mungkin di antara guru dan murid tak sampai terjadi permusuhan begini. Teringat sampai di sini, wajahnya yang tertawa tadi seketika berubah, hatinya tertekan, sekonyong-konyong air mata berlinang-linang dan mengucur tak tertahan lagi.

Agaknya si nenek belum dapat memahami perasaan Lenghou Tiong, ia masih marah-marah dan memaki, “Bangsat cilik, kalau tidak kuhajar kau, rasanya tak terlampias benciku padamu!”

Habis berkata segera ia angkat tangan hendak menampar muka Lenghou Tiong, syukurlah Gi-lim lantas berseru mencegah, “Mak, jangan….”

Sementara itu tangan Lenghou Tiong sudah bertambah sebilah pedang, kiranya Ing-ing yang menyodorkan kepadanya ketika dia termangu-mangu memandangi mayat Gak Put-kun tadi.

Begitu pedangnya menuding, segera ia menusuk ke hiat-to penting di pundak kanan si nenek, terpaksa orang tua itu mundur selangkah.

Melihat Lenghou Tiong berani melawannya bahkan balas menyerang, nenek itu tambah marah, gerak tubuhnya secepat angin, tangan menghantam dan kaki menendang, berulang-ulang ia melancarkan tujuh atau delapan kali serangan.

Namun Lenghou Tiong dapat melawannya dengan tidak kalah cepatnya, meski masih di dalam jala, tapi pedangnya selalu mengancam tempat-tempat bahaya di tubuh si nenek, hanya saja setiap kali ujung pedang hampir mengenai sasarannya segera tarik kembali.

Begitu Tokko-kiu-kiam dimainkan boleh dikata tiada tandingannya di dunia ini, kalau saja Lenghou Tiong tidak memberi kelonggaran, tentu si nenek sudah mati beberapa kali sejak tadi.

Setelah bergerak beberapa jurus lagi, akhirnya nenek itu menghela napas panjang, ia menyadari ilmu silat sendiri masih selisih jauh dengan Lenghou Tiong, ia berhenti menyerang dengan air muka bersungut.

Cepat Put-kay Hwesio melerainya, “Niocu (istriku), kita semua adalah teman sendiri, buat apa cekcok.”

“Peduli apa dengan kau?” bentak si nenek dengan gusar. Segera ia bermaksud melampiaskan dongkolnya kepada Put-kay.

Dalam pada itu Lenghou Tiong sudah membuang pedangnya dan menerobos keluar dari jala ikan, katanya dengan tertawa, “Jika kau ingin memukul aku untuk melampiaskan marahmu, boleh silakan pukul saja.”

Tanpa permisi nenek itu benar-benar menempeleng sekali di muka Lenghou Tiong, tapi pemuda itu hanya tertawa saja tanpa menghindar.

“Kenapa kau tidak menghindar?” omel si nenek dengan gusar.

“Aku tidak mampu menghindarinya, apa mau dikata?” sahut Lenghou Tiong tertawa.

Nenek itu mendengus, segera sebelah tangan diangkat lagi, tapi tidak jadi dipukulkan.

Sementara itu Ing-ing sedang menarik tangan Gi-lim dan berkata padanya, “Siausumoay, syukur engkau datang tepat pada waktunya untuk menolong kami. Cara bagaimana kau dapat sampai di sini?”

“Aku dan para suci telah kena ditawan oleh orang-orangnya,” sahut Gi-lim sambil menuding mayat Gak Put-kun. “Aku dan ketiga suci dikurung di suatu gua, tadi Ayah dan Ibu telah menolong keluar kami. Kemudian kami, Ayah, Ibu, aku, dan Si Tidak Boleh Tidak Pantang (maksudnya Dian Pek-kong) serta ketiga suci, beramai-ramai menolong keluar pula para suci dari berbagai tempat kurungan mereka. Ketika aku sampai di bawah tebing sini kudengar ada orang bicara di atas dan kedengaran seperti suaranya Lenghou-toako, maka aku lantas naik ke sini untuk melihatnya.”

“Kami telah mencari ke berbagai tempat dan tiada menemukan seorang pun, tak tahunya kalian dikurung di dalam gua,” kata Ing-ing.

“Si bangsat tua baju kuning tadi adalah orang yang paling jahat, sungguh tidak rela hatiku bilamana dia sampai lolos,” kata Lenghou Tiong sambil menjemput kembali pedangnya, lalu menambahkan, “marilah kita lekas mengejarnya.”

Mereka berlima lantas turun dari puncak karang itu, tidak lama kemudian terlihatlah Dian Pek-kong dan tujuh murid Hing-san-pay sedang memanjat ke atas dari lembah sana, di antaranya terdapat juga Gi-jing. Setiap orang merasa gembira setelah dapat berkumpul kembali dengan selamat.

Dalam hati Lenghou Tiong tidak habis heran mengapa Dian Pek-kong malah mengetahui bahwa di lembah gunung itu ada sebuah gua, padahal sekeliling Hoa-san boleh dikata dikenal dengan hafal sekali olehnya, tapi belum pernah diketahuinya tentang adanya gua di bawah sana. Karena itu Lenghou Tiong sengaja menjawil Dian Pek-kong agar jalan perlahan dan ketinggalan di belakang oleh rombongan orang banyak. Lalu Lenghou Tiong bertanya, “Dian-heng, aku sendiri tidak mengetahui bahwa di lembah pegunungan Hoa-san ini ada gua rahasia lain, tapi kau malah mengetahuinya, sungguh aku merasa tidak habis mengerti dan kagum sekali padamu.”

“Sebenarnya juga tidak perlu dibuat heran,” ujar Dian Pek-kong dengan tersenyum.

“O, tentu kau menangkap salah seorang murid Hoa-san-pay, lalu paksa dia mengaku gua rahasia itu?” kata Lenghou Tiong.

“Bukan begitu halnya,” sahut Dian Pek-kong.

“Habis dari mana kau mendapat tahu gua itu, coba memberi petunjuk padaku,” pinta Lenghou Tiong.

Tiba-tiba sikap Dian Pek-kong kelihatan kikuk dan rikuh, sahutnya kemudian dengan tersenyum, “Kurang pantas bila kuterangkan hal ini, maka lebih baik tak kukatakan saja.”

“Kita berdua sama-sama petualang Kang-ouw yang suka bangor, apanya yang sopan?” ujar Lenghou Tiong. “Sudahlah, lekas kau terangkan saja.”

“Jika kukatakan, hendaklah Lenghou-ciangbun jangan marah,” kata Dian Pek-kong.

“Aku harus berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkan orang-orang Hing-san-pay kami, mana bisa aku marah padamu malah?” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa.

Maka dengan suara tertahan Dian Pek-kong berkata, “Terus terang, sebagaimana Lenghou-ciangbun sudah tahu bahwa aku mempunyai sifat yang buruk. Tapi sejak kepalaku digunduli oleh Thaysuhu dan aku diberi nama agama ‘Put-ko-put-kay’ (Tidak Boleh Tidak Pantang), maka dengan sendirinya pantangan main perempuan tak dapat kulanggar lagi….”

Teringat kepada nama aneh pemberian Put-kay Hwesio kepada Dian Pek-kong itu, tanpa terasa Lenghou Tiong tersenyum geli.

Dian Pek-kong tahu apa yang sedang dipikir oleh Lenghou Tiong, mukanya menjadi merah, katanya pula, “Tapi kepandaian yang telah kuyakinkan sedari dulu tidak menjadi terlupa. Betapa pun jauhnya, asal di situ ada perempuan berkumpul, tentu Cayhe dapat… dapat merasakannya.”

Lenghou Tiong terheran-heran. “Bagaimana kau bisa? Bagaimana caranya?” tanyanya.

“Aku pun tidak tahu bagaimana caranya, rasanya seperti dapat mengendus bau yang timbul dari badan perempuan, bau yang berbeda daripada kaum lelaki,” kata Pek-kong.

“Hahahaha! Dian-heng benar-benar seorang genius!” puji Lenghou Tiong dengan bergelak tertawa.

“Ah, mana, mana!” sahut Dian Pek-kong.

“Kepandaian Dian-heng itu adalah karena banyak berbuat hal-hal yang buruk, dikumpulkan dari pengalaman dan gemblengan, tidak nyana kini dapat digunakan untuk menolong anak murid Hing-san-pay kami,” kata Lenghou Tiong pula dengan tertawa.

Waktu itulah Ing-ing menoleh ke belakang, mestinya ia hendak bertanya apa yang dibicarakan dan membuat Lenghou Tiong tertawa, tapi demi tampak sikap Dian Pek-kong yang kikuk dan aneh itu, ia menduga tentu bukan membicarakan hal-hal yang baik, maka urunglah ia bertanya.

Sekonyong-konyong Dian Pek-kong berhenti di situ dan berkata, “He, di sekitar sini rasanya seperti ada anggota Hing-san-pay kalian.”

Habis itu, ia mengendus-endus dengan kuat beberapa kali, lalu melangkah ke arah semak-semak di bawah lereng sana sambil munduk-munduk mencari sesuatu, perbuatannya itu mengingatkan orang pada anjing pemburu yang mencari jejak buruannya.

Selang tak lama, mendadak ia bersorak gembira dan berseru, “Ini dia, di sini!”

Tempat yang dia tuding adalah tumpukan belasan potong batu besar, setiap potong batu itu beratnya dua-tiga ratus kati sedikitnya, segera ia bekerja keras, sepotong batu besar itu lantas disingkirkan dari tempatnya.

Cepat Put-kay Hwesio dan Lenghou Tiong ikut membantu, sebentar saja belasan potong batu besar itu telah disingkirkan, di bawahnya ternyata ada sepotong balok batu. Ketika mereka mengangkat balok batu itu, tertampaklah sebuah lubang gua, di dalam gua terbaring beberapa nikoh, jelas mereka adalah murid Hing-san-pay seluruhnya.

Lekas Gi-jing dan dua orang sumoaynya melompat turun ke dalam gua dan mengangkat keluar saudara-saudara seperguruannya itu. Sudah lima-enam orang digotong keluar, di dalam gua ternyata masih ada yang lain, semuanya dalam keadaan payah. Cepat mereka menyeret keluar semua murid Hing-san-pay yang terkurung itu, di antaranya terdapat Gi-ho, The Oh, Cin Koan, dan lain-lain, gua sesempit itu ternyata terkurung 30-an orang, coba lewat semalam lagi, bukan mustahil semuanya sudah menjadi bangkai di situ.

Teringat kepada betapa kejamnya sang suhu, mau tak mau Lenghou Tiong merasa ngeri juga. Segera ia memuji Dian Pek-kong, “Dian-heng, kepandaianmu sungguh lain daripada yang lain, para suci dan sumoay ini tersembunyi di bawah tanah sedalam ini, tapi kau dapat mengendusnya, sungguh aku sangat kagum padamu.”

“Sebenarnya juga tidak perlu heran,” kata Dian Pek-kong. “Untunglah di antara mereka ada susiok dan supek dari kalangan preman….”

“Susiok dan supek siapa?” tanya Lenghou Tiong. Tapi segera ia pun tahu apa artinya itu, katanya pula, “O ya, kau adalah murid Gi-lim Sumoay, hampir aku lupa.”

“Bila yang terkurung di dalam gua melulu terdiri dari para susiok dan supek nikoh, maka sukarlah bagiku untuk menemukannya,” tutur Dian Pek-kong.

“O, rupanya ada perbedaan besar antara orang preman dan orang agama,” kata Lenghou Tiong.

“Sudah tentu banyak bedanya,” ujar Dian Pek-kong. “Perempuan dari keluarga preman tubuhnya ada bau gincu dan pupur yang wangi.”

Baru sekarang Lenghou Tiong paham duduknya perkara. Kiranya yang diendus-endus dengan keras oleh hidung Dian Pek-kong adalah bau gincu dan pupur wangi kaum wanita itu.

Begitulah beramai-ramai Gi-jing, Gi-lim, dan lain-lain lantas sibuk menyadarkan para saudara seperguruannya yang payah itu, setelah diberi minum air jernih, akhirnya semuanya sadar kembali.

“Yang kita selamatkan ini belum ada sepertiga dari saudara-saudara kita,” kata Lenghou Tiong. “Maka dari itu, Dian-heng, harap engkau pertunjukkan kesaktianmu, marilah kita mencari lagi saudara-saudara yang lain.”

Dalam pada itu si nenek sedang melirik kepada Dian Pek-kong dengan penuh rasa curiga, tiba-tiba ia bertanya, “Cara bagaimana kau mengetahui orang-orang ini terkurung di sini? Besar kemungkinan kau berada di sekitar sini ketika mereka disekap di sini, bukan?”

“Tidak, tidak,” cepat Dian Pek-kong membantah. “Aku senantiasa ikut Thaysuhu ke mana pun beliau pergi, tak pernah meninggalkan selangkah pun dari sisi beliau.”

“Kau senantiasa ikut di sisinya?” si nenek menegas dengan muka cemberut.

Diam-diam Dian Pek-kong mengeluh karena ucapannya yang keseleo itu. Pikirnya, mereka suami-istri tua baru saja berkumpul kembali, sepanjang jalan banyak menimbulkan hal-hal yang lucu, ya menangis ya tertawa, ya bertengkar, ya mesra, semuanya itu telah dilihat dan didengar olehnya sendiri. Kini kalau si nenek guru ini sampai marah lantaran malunya, tentu diriku bisa celaka. Maka cepat ia menjawab, “O, bukan begitu maksudku. Selama setengahan tahun ini Tecu selalu mendampingi Thaysuhu, tapi kira-kira puluhan hari yang lalu Tecu telah berpisah dengan beliau dan baru hari ini kita bersua kembali di sini.”

Sudah tentu si nenek setengah percaya setengah sangsi, tanyanya pula, “Lalu cara bagaimana pula kau mengetahui para nikoh ini terkurung di dalam gua sini?”

“Tentang ini… ini….” seketika Dian Pek-kong menjadi sukar memberi jawaban.

Pada saat itulah tiba-tiba di lereng gunung sana bergema suara trompet yang ramai, menyusul suara genderang bergemuruh laksana beribu-ribu prajurit berderap di medan perang. Seketika semua orang menjadi tercengang.

“Ayahku datang!” demikian Ing-ing membisiki Lenghou Tiong.

“O….” mestinya ia hendak mengatakan “kiranya bapak mertuaku yang datang!” tapi tiba-tiba ia merasa tidak enak berkata demikian dan urung diucapkan.

Setelah genderang berderu, sejenak kemudian trompet berbunyi pula dengan nyaring. Habis itu mendadak suara genderang dan trompet itu berhenti serentak, suara belasan orang sama berteriak, “Paduka Yang Mulia Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau tiba!”

Tenaga dalam belasan orang itu sangat kuat, suara teriakan mereka seketika menggema angkasa lembah pegunungan hingga menimbulkan suara kumandang yang gemuruh.

Belum lenyap kumandang suara pertama itu, menyusul terdengar pula suara orang banyak berteriak-serentak, “Hidup Yim-kaucu!”

Dari suara gemuruh yang menggetar bumi itu, jumlah orang yang berteriak serentak itu sedikitnya ada beberapa ribu orang.

Selang sebentar, kumandang suara itu mulai mereda, lalu ada seorang berseru dengan lantang, “Tiau-yang-sin-kau Yim-kaucu mahabijaksana dan juru penyelamat ada perintah: Hendaklah para ciangbunjin dari Ngo-gak-kiam-pay beserta para anak muridnya menaati perintah supaya berangkat dan berkumpul di Tiau-yang-hong!”

Setelah orang itu mengulangi tiga kali titah sang kaucu itu, selang sejenak, lalu ia menyambung lagi, “Para Hiangcu dan wakilnya hendaklah memimpin anak buah masing-masing mengadakan pemeriksaan di segenap puncak gunung, jaga keras jalan keluar-masuk, orang tak berkepentingan dilarang jalan mondar-mandir. Yang melanggar perintah boleh bunuh saja tanpa perkara.”

Segera ada dua-tiga puluh orang mengiakan perintah itu, tentu mereka adalah ke-12 hiangcu dari Tiau-yang-sin-kau beserta wakil-wakilnya.

Lenghou Tiong saling pandang sekejap dengan Ing-ing, ia paham apa artinya perintah Yim-kaucu itu, hal mana berarti setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay diharuskan pergi ke Tiau-yang-hong untuk menghadap kepada sang kaucu. Ia pikir Yim-kaucu adalah ayah Ing-ing, bila nanti aku menikah dengan Ing-ing toh mesti pergi menemuinya.

Karena itu ia lantas berkata kepada Gi-ho dan lain-lain, “Masih ada sebagian saudara kita yang terkurung, hendaklah Dian-heng ini menjadi penunjuk jalan, marilah kita lekas menolong keluar mereka. Yim-kaucu adalah ayah Yim-siocia, rasanya beliau takkan bikin susah kita. Aku dan Yim-siocia akan pergi dulu ke puncak timur sana, setelah saudara-saudara kita sudah berkumpul semua, hendaklah beramai-ramai bergabung di puncak timur sana.”

Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, dan lain-lain sama mengiakan, mereka ikut Dian Pek-kong pergi mencari teman-teman lain yang masih terkurung di berbagai tempat.

Tiba-tiba si nenek mengomel, “Aku justru tak sudi pergi menghadap dia, ingin kulihat cara bagaimana orang she Yim itu membunuh diriku tanpa perkara!”

Lenghou Tiong tahu wataknya si nenek yang sukar diajak bicara, seumpama dia mau pergi menemui Yim Ngo-heng, bukan mustahil nanti akan menimbulkan gara-gara malah, maka ia pun tidak merintanginya, segera ia memberi hormat kepada Put-kay Hwesio dan si nenek, bersama Ing-ing lantas menuju ke puncak timur.

Ada tiga puncak paling tinggi di pegunungan Hoa-san, masing-masing terdiri dari puncak timur, puncak selatan, dan puncak barat. Puncak timur mempunyai nama resmi sebagai Tiau-yang-hong (Puncak Menyongsong Surya). Sebabnya Yim Ngo-heng memilih Tiau-yang-hong sebagai tempat pertemuan dengan para kesatria dari Ngo-gak-kiam-pay sudah tentu mempunyai arti yang mendalam.

Sambil jalan berendeng dengan Ing-ing, berkatalah Lenghou Tiong, “Ayahmu menyuruh orang-orang Ngo-gak-kiam-pay berkumpul di Tiau-yang-hong, apakah mungkin orang-orang dari berbagai aliran itu sekarang berada di Hoa-san sini?”

“Di antara pemimpin-pemimpin Ngo-gak-kiam-pay itu, dalam sehari saja tadi telah mati tiga orang, yaitu Gak-siansing, Co Leng-tan, dan Bok-taysupek,” kata Ing-ing. “Thay-san-pay belum diketahui ada pengangkatan ketua baru, maka di antara Ngo-gak-kiam-pay hanya tinggal kau seorang saja yang menjabat ketua.”

“Ya, di antara tulang punggung Ngo-gak-kiam-pay, kecuali Hing-san-pay, selebihnya sudah hampir tewas semua di gua belakang Su-ko-keh itu, sedangkan anak murid Hing-san-pay sendiri juga baru terkurung dalam keadaan payah, maka aku menjadi khawatir….”

“Kau khawatir ayahku menumpas habis Ngo-gak-kiam-pay kalian pada kesempatan baik sekarang ini?” Ing-ing menegas.

Lenghou Tiong mengangguk sambil menghela napas, katanya, “Sebenarnya beliau tidak perlu turun tangan juga orang-orang Ngo-gak-kiam-pay sudah tiada artinya lagi baginya.”

“Perhitungan ayahku sekali ini benar-benar sangat jitu,” kata Ing-ing. “Gak-siansing telah memancing berbagai tokoh inti dari Ngo-gak-kiam-pay untuk masuk ke gua di Hoa-san sini untuk melihat ilmu pedang yang terukir di dinding, tujuannya hendak menumpas tokoh-tokoh terkuat dari aliran-aliran lain agar dia dapat menjabat ketua Ngo-gak-pay dengan aman, dengan demikian tiada tokoh dari aliran lain yang mampu mendampingi dia. Tak terduga kesempatan itu telah digunakan juga oleh Co Leng-tan dengan mengajak segerombolan orang buta dan bermaksud membinasakan Gak Put-kun di gua yang gelap itu.”

“Kau bilang Co Leng-tan bermaksud membunuh guruku dan bukan diriku yang diincar?” Lenghou Tiong menegas.

“Dia tidak menduga akan kedatanganmu ke sini,” sahut Ing-ing. “Sebab ilmu pedangmu sudah mahahebat, sudah lama kau melebur jurus-jurus ilmu pedang yang terukir di dinding gua itu, dugaan sendirinya kau takkan tertarik oleh umpan yang dia pasang itu. Bahwasanya kita masuk juga ke gua itu hanya karena kebetulan saja.”

“Memang benar. Padahal Co Leng-tan juga tiada bermusuhan apa-apa dengan aku, sebaliknya Suhu telah membutakan kedua matanya, telah merebut pula kedudukan ketua Ngo-gak-pay, hal-hal inilah menjadi dendam kesumat baginya.”

“Rasanya terlebih dahulu Co Leng-tan pasti sudah mengatur tipu daya apa-apa untuk memancing Gak-siansing masuk ke gua itu, habis itu baru membunuhnya dalam keadaan gelap gulita. Tapi entah apa sebabnya agaknya tipu muslihatnya ketahuan oleh Gak-siansing sehingga berbalik menanti di mulut gua, lalu menangkap tawanannya dengan jala ikan. Kini Co Leng-tan dan gurumu sudah meninggal semua, seluk-beluk urusan ini secara terperinci mungkin tiada seorang pun yang tahu.”

Lenghou Tiong manggut-manggut dengan rasa pilu.

Lalu Ing-ing berkata pula, “Agaknya, sudah lama sekali Gak-siansing merencanakan tipu muslihatnya untuk memancing kedatangan tokoh-tokoh inti Ngo-gak-kiam-pay ke dalam gua itu. Tempo hari, waktu pertandingan di puncak Ko-san, kau punya siausumoay, Gak-siocia itu sekaligus telah mengalahkan jago-jago Thay-san-pay, Heng-san-pay, Ko-san-pay, dan Hing-san-pay dengan menggunakan ilmu pedang dari golongan-golongan itu sendiri, sudah tentu kepandaiannya yang tak terduga itu sangat menarik perhatian orang. Hanya anak murid Hing-san-pay saja yang tidak tertarik oleh kepandaian Gak-siocia itu, sebab kau sudah mengajarkan ilmu pedang Hing-san-pay yang kau peroleh dari ukiran di dinding gua itu kepada mereka, sedangkan orang-orang Heng-san-pay, Ko-san-pay, dan Thay-san-pay dengan sendirinya berusaha mencari tahu dari mana Gak-siocia dapat mempelajari ilmu pedang mereka yang lihai itu. Di situlah Gak-siansing sengaja membocorkan sedikit rahasianya, lalu menentukan hari serta membuka pintu lebar-lebar gua belakang di puncak Hoa-san itu. Tentu saja jago dari ketiga aliran itu lantas membanjir ke sana dan berebut mendahului masuk ke gua itu.”

“Ya, orang persilatan seperti kita ini memang paling tertarik kepada ilmu silat, begitu mendengar di mana ada ilmu silat yang istimewa, biarpun menghadapi bahaya besar juga ingin lihat sampai di mana kehebatan ilmu silat tersebut, apalagi menyangkut ilmu silat tertinggi dari perguruan sendiri, tentu saja harus dicari sampai ketemu. Sebab itulah tokoh-tokoh semacam Bok-taysupek yang biasanya acuh tak acuh akhirnya juga menjadi korban tipu muslihat suhuku.”

“Agaknya Gak-siansing sudah menduga Hing-san-pay kalian takkan datang ke sini, sebab itu dia mengatur tipu daya lain, dengan obat tidur kalian dibius, lalu ditawan ke Hoa-san sini.”

“Ya, aku menjadi tidak paham, mengapa Suhu mengeluarkan tenaga sebanyak itu untuk menawan orang-orang kami ke sini, padahal perjalanan cukup jauh, di tengah jalan juga mudah terjadi sesuatu, kalau dia membunuh anak buah Hing-san-pay kami di tempat itu juga kan semuanya akan menjadi beres?” setelah merandek sejenak, lalu Lenghou Tiong menyambung, “Ah, pahamlah aku, kalau anak murid Hing-san-pay dibunuh habis, hal ini berarti Ngo-gak-pay akan menjadi pincang tanpa Hing-san-pay. Sedangkan Suhu ingin menjadi ketua Ngo-gak-pay, tanpa Hing-san-pay berarti jabatannya itu tidak sempurna, tidak sesuai dengan namanya.”

“Sudah tentu, apa yang kau katakan itu adalah satu faktor, tapi kukira masih ada satu faktor lain yang lebih besar,” ujar Ing-ing.

“Apa itu?” tanya Lenghou Tiong.

“Paling baik kalau kau dapat ditangkap, dengan begitu akan dapat dipakai menukar sesuatu padaku,” tutur Ing-ing. “Kalau tidak begitu, dengan menawan seluruh anak buah Hing-san-pay kalian ke sini sebagai alat pemeras padamu, tentu saja aku takkan tinggal diam dan terpaksa akan memberikan barang yang dia minta.”

“O ya, tahulah aku!” seru Lenghou Tiong sambil menepuk paha. “Yang diinginkan guruku adalah obat penawar pil pembusuk tubuh yang kau cekokkan padanya itu.”

“Setelah Gak-siansing telan obat itu, dengan sendirinya dia tidak tenteram siang dan malam, betapa pun berusaha hendak memunahkan racun yang mengeram di dalam tubuhnya itu. Dia tahu, hanya melalui dirimu barulah obat penawar dapat diperoleh.”

“Ya, sebab aku adalah jantung hatimu, hanya diriku saja yang dapat ditukarkan dengan obat penawar darimu.”

Ing-ing menyemprotnya, “Cis, tak malu, puji-puji diri sendiri!”

Begitulah kedua orang terus melanjutkan perjalanan sambil bicara, mereka telah berada di suatu jalanan sempit yang menanjak ke atas, karena sempitnya dan curamnya jalan, kedua orang tak dapat jalan berendeng.

“Kau jalan di muka,” kata Ing-ing.

“Lebih baik kau saja jalan di depan, bila kau jatuh terperosot akan kupeluk kau,” ujar Lenghou Tiong.

“Tidak, kau saja jalan dahulu, pula tak boleh menoleh ke belakang, apa yang Nenek katakan, kau harus menurut!” kata Ing-ing dengan tertawa.

“Baiklah, aku akan jalan lebih dulu. Tapi kalau aku jatuh terperosot kau mesti peluk diriku.”

“Tidak, tidak!” cepat Ing-ing berseru, rupanya ia khawatir Lenghou Tiong pura-pura jatuh dan sengaja main gila padanya, segera ia mendahului jalan ke atas.

Setelah membelok beberapa tikungan, akhirnya mereka sampai di atas Giok-li-hong, Lenghou Tiong lantas menunjuk tempat-tempat yang indah di “Puncak Gadis Ayu” itu. Ing-ing tahu tempat-tempat indah itu dahulu tentu sering menjadi tempat bermain antara Lenghou Tiong dengan Gak Leng-sian, maka sekali pandang saja ia lantas meninggalkan tempat yang disebutkan itu tanpa tanya-tanya lagi.

Turun dari Giok-li-hong atau Puncak Gadis Ayu itu, setelah memutar sebuah belokan lagi, jalan menanjak ke atas adalah sebuah jalan kecil yang menuju Tiau-yang-hong. Tertampak di lereng atas sana penuh berdiri pos-pos penjagaan, seragam anggota Tiau-yang-sin-kau terdiri dari tujuh warna dan mengikuti panji komando dalam warna masing-masing, disiplinnya tertampak sangat keras, jauh lebih tertib dan angker dibandingkan keadaan di Hek-bok-keh dahulu.

Diam-diam Lenghou Tiong harus mengakui kepemimpinan Yim-kaucu yang hebat itu, beribu-ribu anak-buahnya itu ternyata dapat melakukan tugasnya dengan sangat tertib, beda jauh sekali daripada dahulu waktu dirinya memimpin beberapa ribu orang menyerbu Siau-lim-si yang kacau-balau itu.

Melihat kedatangan Ing-ing, anggota-anggota Tiau-yang-sin-kau sama membungkuk tubuh sebagai tanda hormat, terhadap Lenghou Tiong mereka pun memberi hormat yang sama. Panji komando setingkat demi setingkat dikibarkan dari bawah puncak hingga atas puncak untuk memberi lapor kepada Yim Ngo-heng.

Melihat setiap tempat yang strategis di sekitar Tiau-yang-hong itu terjaga oleh anggota Tiau-yang-sin-kau yang beribu-ribu jumlahnya, jelas Yim Ngo-heng telah mengerahkan segenap kekuatannya, seumpama para ketua Ngo-gak-kiam-pay tidak mati, jago-jago kelima aliran itu pun kumpul di Hoa-san sini, tapi kini harus menghadapi lawan yang begini kuat, mungkin juga sukar membendung serbuan musuh, apalagi sekarang keadaan sudah morat-marit, betapa pun tidak ada harapan akan mampu melawannya. Melihat gelagatnya jelas Ngo-gak-kiam-pay sudah mendekati ambang kebangkrutan, terpaksa segalanya terserah kepada takdir dan terima nasib, bila Yim Ngo-heng hendak membunuh habis orang-orang Ngo-gak-kiam-pay, dirinya tidak nanti menyelamatkan diri sendiri, terpaksa angkat senjata melakukan perlawanan mati-matian, biarlah gugur bersama anak murid Hing-san-pay di puncak Hoa-san ini. Demikian pikir Lenghou Tiong.

Meski Lenghou Tiong cukup pintar dan cerdik, tapi dia tidak biasa main tipu daya, tidak berbakat memimpin pekerjaan besar dan menghadapi kejadian hebat, kini menghadapi kehancuran Hing-san-pay secara total, ia merasa tidak punya akal untuk menyelamatkannya, biarlah segala sesuatu terserah keadaan, menyerah kepada nasib.

Terpikir olehnya Ing-ing mempunyai hubungan darah dengan Yim-kaucu, paling-paling si nona tidak membela pihak mana pun, tentunya tak dapat membantu dirinya dan memusuhi ayahnya sendiri. Maka ia lantas tenangkan pikiran, terhadap anggota-anggota Tiau-yang-sin-kau yang siaga di sepanjang jalan itu dianggap sepi saja, ia tetap berkelakar dengan Ing-ing atau membicarakan keindahan alam pegunungan Hoa-san yang mereka lalui itu.

Berbeda dengan Lenghou Tiong, pikiran Ing-ing menjadi kusut dan sedih, ia tidak dapat bersikap tak acuh seperti Lenghou Tiong, sepanjang jalan ia justru memeras otak mencari akal untuk membantu bakal suami itu. Ia menduga kedatangan ayahnya pasti tidak menguntungkan Hing-san-pay, terpaksa harus tunggu dan lihat serta berbuat menurut keadaan nanti, mungkin saja ada jalan baik bagi kedua pihak.

Begitulah mereka terus mendaki puncak itu, setiba di atas, mendadak trompet berbunyi disertai suara petasan, menyusul bergema pula suara genderang dan tetabuhan lain sebagaimana layaknya bunyi musik di kala menyambut tamu agung.

“Hehe, bapak mertua menyambut kedatangan sang menantu sayang!” kata Lenghou Tiong dengan suara perlahan sambil tertawa.

Ing-ing melotot padanya, dalam hati ia merasa sedih di samping mendongkol terhadap sikap Lenghou Tiong yang tak acuh itu, pada saat demikian masih sempat berkelakar segala.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa seorang, lalu serunya dengan lantang, “Toasiocia, Lenghou-hiante, kalian sudah ditunggu sekian lamanya oleh Kaucu.”

Berbareng itu seorang tua jangkung berjubah ungu lantas memapak maju dengan wajah berseri-seri, siapa lagi dia kalau bukan Hiang Bun-thian.

“He, Hiang-toako, baik-baikkah engkau? Sungguh aku sangat rindu padamu,” kata Lenghou Tiong dengan gembira.

“Di Hek-bok-keh sering aku mendengar berita baik tentang dirimu yang malang melintang di dunia persilatan, aku pun ikut gembira bagimu dengan mengeringkan isi cawanku sebagai pujianku padamu, selama ini entah sudah berapa guci arak yang kuhabiskan bagi kebahagiaanmu,” kata Hiang Bun-thian dengan tertawa. “Hayolah, kita lekas menghadap Kaucu!”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO yang asli, membuat anda sekeluarga sehat bergairah dan penuh vitalitas)

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: