Hina Kelana: Bab 137. Binasanya Gak Put-kun

Hina Kelana
Bab 137. Binasanya Gak Put-kun
Oleh Jin Yong

Khawatir kalau Lim Peng-ci melakukan serangan kalap lagi, segera Lenghou Tiong menendang sekali di pinggangnya dan menutuk hiat-to bagian itu, kemudian barulah ia menggeledahi badan orang mati untuk mencari batu api. Berturut-turut tiga orang telah digerayanginya, tapi semuanya bersaku kosong. Tiba-tiba teringat olehnya, kontan ia memaki, “Keparat, orang buta sudah tentu takkan membawa batu ketikan api segala.”

Pada mayat berikutnya barulah, ia menemukan batu api dan akhirnya dapat membikin api. Tapi sesudah terang, kedua orang lantas menjerit berbareng. Ternyata benda yang dipegang oleh Ing-ing itu adalah sekerat tulang yang sebagian sudah terlepas. Segera Ing-ing melemparkan tulang itu.

Maka pahamlah Lenghou Tiong akan sebab musababnya, katanya, “Ing-ing jiwa kita telah diselamatkan oleh Locianpwe dari Sin-kau ini.”

“Locianpwe dari Sin-kau apa maksudmu?” tanya Ing-ing.

“Dahulu sepuluh orang tianglo dari Sin-kau kalian pernah menyerbu ke Hoa-san sini, tapi mereka terjebak dan terkurung di dalam gua ini untuk selamanya sehingga tertinggal kesepuluh jerangkong di sini. Tulang yang kau pegang tadi adalah tulang paha, entah tulang tianglo yang mana. Tanpa sengaja telah kujemput tadi, untung juga, sebagian kena dipapas oleh pedang Co Leng-tan, dari tulang orang mati itulah tepercik api fosfor yang biasanya dianggap sebagai api setan, jadi api setan itulah yang telah menolong kita.”

Ing-ing menghela napas lega, ia lantas memberi hormat ke arah tulang tadi dan berkata, “Kiranya Locianpwe dari agama sendiri, maaf!”

Lalu Lenghou Tiong mencari dua obor dan disulut, kemudian ia mengajak Ing-ing lekas keluar dari situ. Dengan menyeret Lim Peng-ci, segera ia mendahului berjalan melalui lorong gua itu.

Ing-ing masih ingat Lenghou Tiong pernah berjanji kepada Gak Leng-sian akan menjaga keselamatan Lim Peng-ci, seorang pendekar sejati harus bisa pegang janji, maka ia pun dapat mengerti bilamana Lenghou Tiong harus memenuhi permintaan Gak Leng-sian pada waktu ajalnya tempo hari. Begitulah ia pun tidak bicara apa-apa, sambil membawa kecapi yang sudah rusak ia pun ikut di belakang Lenghou Tiong.

Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba tertampak sesosok tubuh tak bernyawa menggeletak di situ, kiranya ialah Bok-taysiansing dari Heng-san-pay dengan sebelah tangan memegang rebab dan tangan lain memegang pedang pula. Pada kening, muka, dada, dan perut Bok-taysiansing penuh dengan luka, mungkin di jalan lorong yang sempit itulah Bok-taysiansing telah mati dikerubut oleh kawanan orang buta.

Teringat akan budi kebaikan Bok-taysiansing kepada dirinya, kini orang tua itu mati secara mengerikan di situ, hati Lenghou Tiong menjadi pilu, segera ia menyisihkan mayat Bok-taysiansing ke pinggir, lalu memberi hormat dan berkata, “Bok-supek, setelah Wanpwe keluar dari gua ini dengan selamat, kelak pasti akan kembali ke sini untuk menguburkan jenazah engkau.”

Mereka terus menyusuri lorong yang sempit itu, dengan penuh kewaspadaan Lenghou Tiong siapkan pedang, ia pikir Co Leng-tan yang licin itu tentu menyuruh orang berjaga di jalanan itu. Di luar dugaan, sampai ujung lorong itu tetap tiada seorang yang terlihat.

Lorong gua itu dahulu sering didatangi oleh Lenghou Tiong, keadaan di situ sudah sangat hafal baginya. Perlahan-lahan ia mendorong balok batu yang menutup lubang keluar lorong gua itu. Seketika matanya menjadi silau oleh sinar matahari. Kiranya mereka bertempur sekian lamanya di dalam gua, tanpa terasa hari sudah terang sejak tadi.

Ternyata di luar lorong itu tiada seorang pun, segera Lenghou Tiong menarik Peng-ci dan melompat keluar, segera disusul pula oleh Ing-ing. Alangkah segar rasa mereka setelah menghirup udara segar, mereka merasa kini benar-benar sudah berada di tempat yang aman.

“Dahulu kau dihukum kurung oleh gurumu, apakah di gua inilah kau tinggal?” tanya Ing-ing.

“Benar,” sahut Lenghou Tiong. “Di situ pula aku mendapatkan ajaran ilmu pedang dari Hong-thaysusiokco. Entah beliau masih tinggal di sekitar sini atau tidak? Entah keadaan beliau juga sehat walafiat atau tidak? Marilah kita coba mencarinya, ada beberapa segi ilmu pedang yang kuingin minta petunjuk dari beliau.”

“Menurut ayahku, katanya di dunia ini hanya ilmu pedang Hong-thaysusiokcomu saja yang dapat lebih tinggi dari beliau, maka terhadap moyang-gurumu itu Ayah menyatakan sangat kagum. Marilah kita lekas pergi mencarinya,” sahut Ing-ing.

Segera Lenghou Tiong simpan kembali pedangnya, ia lepaskan Lim Peng-ci, lalu bersama Ing-ing mereka keluar dari gua itu.

Akan tetapi baru saja melangkah keluar mulut gua, sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat di atas kepala mereka, rasanya seperti ada benda apa-apa yang menimpa turun. Cepat mereka melompat untuk menghindar. Namun sudah terlambat, ternyata sebuah jala ikan yang besar telah menelungkup rapat seluruh badan mereka.

Keruan mereka terkejut, cepat mereka melolos pedang untuk memotong jala ikan itu, tapi aneh, jala itu entah terbuat dari apa, ternyata tidak mempan dipotong oleh pedang.

Pada saat lain kembali sebuah jala menyambar lagi dari atas sehingga tubuh mereka terbungkus lebih rapat. Menyusul dari atas gua melompat turun seorang sambil menarik sekuatnya tali jala ikan itu, maka dalam sekejap saja jala itu sudah mengencang.

“He, Suhu!” seru Lenghou Tiong kaget.

Kiranya orang itu tak lain tak bukan adalah Gak Put-kun.

Setelah Gak Put-kun menarik kencang tali jala, maka Lenghou Tiong dan Ing-ing menjadi mirip dua ekor ikan besar yang masuk jaring. Semula mereka masih meronta-ronta, tapi akhirnya menjadi tak bisa berkutik.

Kaget dan bingung pula Ing-ing sehingga tidak tahu apa yang harus dikerjakannya. Tiba-tiba dilihatnya wajah Lenghou Tiong tersenyum simpul, sikapnya sangat senang. Diam-diam Ing-ing heran. “Jangan-jangan dia ada akal buat meloloskan diri?” pikirnya.

Dalam pada itu terdengar Gak Put-kun berkata dengan menyeringai, “Bangsat cilik, dengan riang gembira kau keluar dari gua situ, tentunya kau tidak mengira akan tertimpa bencana bukan?”

“Itu pun bukan sesuatu bencana segala,” sahut Lenghou Tiong tak acuh. “Manusia akhirnya harus mati. Kini aku dapat mati bersama dengan istriku tercinta, maka hatiku merasa sangat senang.”

Baru sekarang Ing-ing tahu, kiranya tersenyum simpul di wajah Lenghou Tiong adalah karena merasa bahagia dapat mati bersama dia.

“Bangsat cilik,” Gak Put-kun memaki pula, “kematianmu sudah di depan mata, mulutmu masih bisa saja mengoceh.”

Habis berkata, dengan tali jala ia ikat tubuh kedua orang dengan lebih kencang.

“Kau benar-benar sangat baik hati padaku,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Sudah tahu kami berdua takkan berpisah untuk selamanya, maka kau sengaja mengikat kami suami-istri sedemikian kencangnya. Memang orang yang paling tahu akan isi hatiku di dunia ini hanyalah engkau Gak-siansing seorang, maklumlah, memang engkaulah yang membesarkan aku sedari kecil.”

Dia sengaja omong macam-macam dengan maksud mengulur waktu, siapa tahu akan mendapat akal untuk membebaskan diri. Selain itu ia pun berharap Hong Jing-yang dapat muncul mendadak untuk menolongnya.

Tentu saja Gak Put-kun sangat gemas, dampratnya pula, “Bangsat cilik, sejak kecil kau memang suka membual tak keruan, watak maling ini ternyata tidak berubah hingga kini. Biarlah kupotong dulu lidahmu agar nanti kalau kau sudah mati tidak perlu masuk neraka.”

Mendadak sebelah kakinya melayang ke pinggang Lenghou Tiong, seketika hiat-to bisu tertutuk sehingga Lenghou Tiong tak bisa bersuara pula. Lalu Gak Put-kun berkata kepada Ing-ing, “Yim-toasiocia, kau ingin aku membunuh dia lebih dulu atau bunuh kau lebih dulu.”

“Kau suka bunuh siapa lebih dulu boleh silakan, apa bedanya bagiku?” sahut Ing-ing. “Yang pasti obat pemunah pil sakti yang pernah kuberikan padamu itu hanya ada tiga biji padaku.”

Mendengar “pil sakti” itu, seketika air muka Gak Put-kun berubah pucat. Menurut rencananya mestinya ia hendak membunuh dulu Lenghou Tiong dan Ing-ing, habis itu baru menggeledah tubuh Ing-ing untuk mencari obat penawar pil racun yang pernah ditelannya dahulu itu.

Maklumlah Gak Put-kun sangat jeri terhadap kedua muda-mudi ini. Lenghou Tiong mahir Gip-sing-tay-hoat, hal ini lebih-lebih membuatnya ketakutan. Mesti dia telah menggunakan kesempatan bagus pada waktu kedua orang itu keluar gua dan mendadak menjebaknya dengan jala ikan yang terbuat dari benang emas, tapi selama kedua orang itu belum mati, setiap saat ada kemungkinan mereka akan terlepas dan melakukan serangan balasan padanya. Kini mendengar Ing-ing menyatakan padanya hanya terdapat tiga biji obat penawar, itu berarti kalau dia membunuh kedua muda-mudi itu, ia sendiri pun hanya dapat hidup lagi selama tiga tahun, sesudah tiga tahun, bilamana racun obat mulai bekerja, racun itu akan menyerang otak, dia akan menjadi gila, kematiannya akan tersiksa lebih dulu, hal inilah yang membuatnya kepala pusing memikirkannya selama ini.

Begitulah, betapa pun dia dapat menahan perasaannya, tidak urung tubuhnya rada gemetar juga oleh ucapan Ing-ing tadi, katanya kemudian, “Baiklah, marilah kita mengadakan suatu jual-beli. Aku akan mengampuni kematian kalian asalkan kau mengatakan padaku caranya membuat obat penawar.”

“Haha, biarpun usiaku masih muda dan pengalamanku cetek, tapi aku cukup kenal pribadi Gak-siansing dari Hoa-san-pay yang termasyhur,” jawab Ing-ing dengan tak acuh. “Bilamana ucapanmu dapat dipercaya, tentunya kau takkan berjuluk sebagai Kun-cu-kiam.”

“Hm, selama kau bergaul dengar Lenghou Tiong, rupanya hasilnya adalah cara menirukan mengoceh tak keruan,” jengek Gak Put-kun. “Jadi tegasnya kau tak mau mengatakan caranya meracik obat penawar itu?”

“Sudah tentu takkan kukatakan,” jawab Ing-ing tegas. “Biarlah tiga tahun lagi kami akan menyambut kedatanganmu di pintu gerbang akhirat sana. Cuma waktu itu wajahmu tentu sudah berlainan dengan sekarang, entah anggota badanmu akan tetap utuh seperti kini atau tidak, jangan-jangan aku akan pangling padamu.”

Merinding juga Gak Put-kun oleh kata-kata itu, ia tahu apa yang dimaksudkan si nona adalah kelak bilamana racun di dalam tubuhnya mulai bekerja, maka sekujur badannya akan membusuk atau dalam keadaan gila ia akan merobek muka sendiri hingga hancur luluh.

Dari ngeri dan takut ia menjadi kalap, serunya dengan gusar, “Seumpama badanku kelak akan hancur, paling tidak kau sudah tiga tahun celaka lebih dulu daripadaku. Kini aku pun takkan membunuh kau, aku cuma potong saja kuping dan hidungmu, akan kusayat-sayat wajahmu yang cantik molek itu, akan kulihat apakah kekasihmu yang tercinta ini masih tetap menyukai siluman seperti kau atau tidak.”

Habis berkata, “sret”, ia terus melolos pedangnya.

Ing-ing sampai menjerit kaget. Mati tidaklah menakutkan baginya, tapi kalau benar mukanya disayat-sayat sehingga rusak, lalu terlihat oleh Lenghou Tiong, hal ini sungguh akan menjadi penyesalan bagi hidupnya.

Walaupun hiat-to bisu Lenghou Tiong tertutuk sehingga tak bisa bicara, tapi tangan dan kakinya, masih dapat bergerak. Ia pun paham isi hati Ing-ing, dengan sikunya ia senggol si nona, lalu dua jarinya ia bergerak mencolok kedua mata sendiri.

Kembali Ing-ing menjerit, serunya khawatir, “Jangan, Engkoh Tiong!”

Sebenarnya Gak Put-kun tidak sungguh-sungguh hendak merusak wajah Ing-ing yang cantik itu, hal ini cuma digunakan sebagai alat pemeras saja agar si nona mau mengaku resep pembuatan obat penawar. Kalau Lenghou Tiong sampai membutakan kedua mata sendiri, maka langkahnya yang jitu itu menjadi tak berguna lagi.

Maka dengan cepat luar biasa sebelah tangannya lantas menjulur, dari luar jala ikan itu ia pegang pergelangan tangan Lenghou Tiong sambil membentak, “Berhenti!”

Begitu anggota badan kedua orang tersentuh segera Gak Put-kun merasa tenaga dalam sendiri bocor keluar dari tubuhnya. Ia menjerit kaget dan cepat meronta dengan tujuan melepaskan tangannya. Akan tetapi sudah terlambat, tangan sendiri seperti melengket di pergelangan tangan Lenghou Tiong.

Tanpa ayal lagi Lenghou Tiong lantas membalik tangannya, kini berbalik ia berhasil mencengkeram tangan Gak Put-kun, menyusul ia lantas kerahkan Gip-sing-tay-hoat, berangsur-angsur ia sedot tenaga dalam Gak Put-kun ke tubuhnya sendiri.

Saking gugupnya Gak Put-kun terus ayun pedang di tangan lain untuk menebas tubuh Lenghou Tiong. Akan tetapi Lenghou Tiong keburu membetot sehingga tubuh Gak Put-kun terseret maju, tebasan pedangnya kena di atas tanah.

Tenaga dalam Gak Put-kun masih terus membanjir keluar, ketika ia bermaksud membacok lagi dengan pedangnya, namun rasanya sudah lemas lunglai, lengan saja hampir-hampir tak kuat diangkat. Sebisanya ia coba angkat pedangnya, dengan ujung pedang ia arahkan kening Lenghou Tiong, lengan dan pedang gemetar hebat, perlahan-lahan ditusukkan ke depan.

Ing-ing menjadi khawatir, ia bermaksud menggunakan jari untuk menyelentik batang pedang Gak Put-kun, namun kedua lengannya tertindih oleh badan Lenghou Tiong, jala ikan itu terikat dengan kencang pula, meski dia sudah berusaha meronta sekuatnya tetap sukar menarik keluar tangannya yang tertindih itu.

Tangan kiri Lenghou Tiong sendiri juga terjepit oleh Ing-ing dan tak dapat bergeser. Dalam keadaan kepepet tiba-tiba ia mendapat akal, segera ia mengerahkan Gip-sing-tay-hoat pada bagian kening, ia berharap bilamana ujung pedang lawan menyentuh kening sendiri, melalui pedang lawan itulah ia akan menyedot tenaga dalam Gak Put-kun, dengan demikian tusukan pedang lawan akan gagal pula. Tapi tujuannya akan berhasil atau tidak sukar dipastikan, soalnya dalam keadaan terpaksa, berusaha sedapat mungkin daripada mati konyol tak berdaya.

Tertampak ujung pedang lawan sudah makin mendekat keningnya, tiba-tiba teringat olehnya, “Aku telah membunuh Co Leng-tan dengan gerakan pedang yang lambat, begitu pula caraku melukai Lim Peng-ci, kini Suhu juga membunuh aku dengan cara yang sama, sungguh cepat amat datangnya pembalasan.”

Gak Put-kun sendiri merasakan tenaga dalamnya dengan cepat terkuras keluar, ujung pedangnya juga tinggal beberapa senti saja di muka kening Lenghou Tiong, ia menjadi cemas dan bergirang pula. Ia berharap tusukan pedangnya dapat membinasakan Lenghou Tiong, sekalipun tenaga dalamnya yang hilang sukar ditarik kembali lagi, sedikitnya ada sebagian yang masih rapat dipertahankan dan tentu masih dapat berlatih lagi dari awal.

Pada saat genting itulah, sekonyong-konyong dari belakang seorang gadis menjerit dengan suara tajam, “He, apa yang kau lakukan? Lekas lepaskan pedangmu!”

Berbareng itu terdengar suara orang berlari-lari datang.

Melihat ujung pedangnya tinggal dua-tiga senti saja sudah dapat membinasakan Lenghou Tiong, mati-hidup sendiri kini juga tergantung kepada hasil tusukannya itu, sudah tentu ia tidak mau mengurungkan serangannya. Sekuat sisa tenaga ia coba dorong pedangnya ke depan, rasanya ujung pedang sudah menyentuh kening sasarannya. Tapi pada saat itu juga punggungnya terasa dingin, sebilah pedang telah menusuk punggungnya hingga menembus ke dada.

“Lenghou-toako, engkau tak apa, bukan?” terdengar suara gadis itu berseru pula. Kiranya Gi-lim adanya.

Lenghou Tiong tak dapat membuka suara, maka Ing-ing yang menjawabnya, “Siausumoay, Lenghou-toako tidak apa-apa.”

“Syukurlah kalau begitu,” seru Gi-lim bergirang. Tiba-tiba ia tercengang dan berkata pula dengan melongo, “He, dia Gak-siansing! Aku… aku telah membunuh dia!”

“Benar,” kata Ing-ing. “Selamatlah, kau telah berhasil menuntut balas atas orang yang membunuh gurumu. Harap kau melepaskan tali pengikat jala ini untuk membebaskan kami.”

“O, ya, ya!” sahut Gi-lim. “Jadi aku… aku telah mem… membunuh dia?”

Biarpun orang persilatan, tapi dasar hatinya kecil, melihat Gak Put-kun menggeletak di sini dengan berlumuran darah, ia menjadi takut hingga lemas badannya, ia pegang tali jala dan bermaksud membukanya, namun kedua tangan terasa gemetar dan tak bertenaga, beberapa kali ia coba membuka ikatan tali jala, tapi sukar membukanya.

Pada saat itulah dari sebelah sana tiba-tiba ada orang membentak, “Nikoh cilik, kau berani membunuh orang tua, kau harus terima hukuman yang setimpal!”

Berbareng seorang tua berbaju kuning lantas berlari tiba dengan pedang terhunus, kiranya adalah Lo Tek-nau.

“Celaka! Siausumoay bukan tandingan jahanam ini!” keluh Lenghou Tiong di dalam hati.

Cepat Ing-ing berseru, “Siausumoay, lekas lolos pedang dan melawannya!”

Mula-mula Gi-lim tertegun, tapi segera ia cabut pedang di tubuh Gak Put-kun, sementara itu Lo Tek-nau sudah lantas melancarkan serangan tiga kali berturut-turut. Gi-lim dapat menangkis serangan itu, tapi serangan ketiga telah menyerempet bahu kirinya sehingga terluka.

Tertampak serangan-serangan Lo Tek-nau semakin cepat, beberapa jurus serangannya lapat-lapat mirip dengan Pi-sia-kiam-hoat, hanya saja latihannya belum sempurna, cuma gayanya saja sama, tapi kecepatannya berbeda jauh sekali bilamana dibandingkan Lim Peng-ci.

Namun kepandaian Lo Tek-nau memang cukup tinggi, pengalaman banyak, ilmu pedangnya mencakup Ko-san-kiam-hoat dan Hoa-san-kiam-hoat, ditambah lagi akhir-akhir ini berhasil mempelajari sedikit Pi-sia-kiam-hoat, tentu saja Gi-lim bukan tandingannya. Untunglah akhir-akhir ini Gi-lim juga giat meyakinkan Hing-san-kiam-hoat, kemajuannya juga cukup pesat, maka untuk sementara dia masih dapat menandingi lawannya.

Mula-mula ia rada gugup oleh serangan lawan yang cepat itu sehingga bahunya terluka, tapi demi teringat bila dirinya kalah, maka nasib Lenghou Tiong dan Ing-ing tentu celaka. Ia pikir musuh hendak membunuh Lenghou-toako, biarlah dia harus melangkahi dulu mayatku.

Dengan tekad akan membela Lenghou Tiong sekalipun dirinya harus mati, maka caranya bertempur menjadi nekat juga tanpa pikirkan risiko lagi.

Menghadapi pertarungan sengit secara mati-matian ini, seketika Lo Tek-nau menjadi sukar mengalahkan Gi-lim, terpaksa ia mencaci maki kalang kabut, “Nikoh cilik, keparat kau! Maknya, berani mati ya kau!”

Melihat cara bertempur Gi-lim yang nekat itu, meski untuk sementara dapat bertahan, tapi sesudah lama tentu akan kalah juga. Segera Ing-ing berusaha membebaskan diri, ia coba menggeser tubuhnya sehingga tangan kiri dapat digunakan membuka hiat-to Lenghou Tiong yang tertutuk itu, lalu ia merogoh pedang pendeknya yang terselip di pinggang.

“He, Lo Tek-nau, barang apakah di belakangmu itu?” seru Lenghou Tiong.

Namun Lo Tek-nau cukup berpengalaman, di kala bertempur mati-matian begitu tentu saja dia tidak mau menoleh begitu saja oleh karena seruan Lenghou Tiong itu. Ia tidak ambil pusing terhadap kata-kata Lenghou Tiong, sebaliknya pergencar serangan-serangannya.

Dengan memegang pedangnya Ing-ing bermaksud menyambitkan senjata itu dari dalam jala, namun Gi-lim berdiri membelakanginya dan menempur Lo Tek-nau dari jarak dekat, kalau sambitannya sedikit menceng tentu akan mengenai Gi-lim malah.

Tiba-tiba terdengar Gi-lim menjerit lagi, rupanya bahunya terkena pula senjata musuh. Kalau luka pertama tadi hanya ringan saja, maka luka kedua ini rada parah sehingga darah bercucuran.

“Eh, ada monyet!” Lenghou Tiong berseru pula. “Ah, monyet itu kukenal, itulah monyet piaraan Laksute dahulu. He, monyet yang baik, lekas menubruk keparat itu, gigit mampus dia! Itulah bangsat pembunuh majikanmu!”

Seperti diketahui, demi untuk mencuri kitab pusaka Ci-he-sin-kang milik Gak Put-kun, memang Lo Tek-nau telah membunuh Liok Tay-yu, murid keenam Hoa-san-pay. Liok Tay-yu itu biasanya memang suka piara kera, ke mana pun pergi selalu membawa seekor kera kecil yang hinggap di atas pundaknya. Sesudah Liok Tay-yu mati, kera kecil itu pun entah menghilang ke mana.

Kini mendengar Lenghou Tiong berseru tentang monyet, seketika Lo Tek-nau mengirik bulu kuduknya. Pikirnya, “Bila binatang itu benar-benar menubruk ke tubuhku dan menggigit diriku, repot juga bagiku untuk mengusirnya.”

Maka tanpa pikir lagi pedangnya terus membacok ke belakang. Tiba-tiba tertampak di samping tebing sana ada beberapa ekor kera sedang meloncat kian-kemari, jaraknya cukup jauh dari tempatnya, entah di antara kera-kera itu apakah betul terdapat kera piaraan Liok Tay-yu dahulu itu?

Pada saat itulah segera Ing-ing menyambitkan pedang pandaknya, “serrr,” pedang itu menyambar ke tengkuk Lo Tek-nau secepat kilat.

Cepat juga cara Lo Tek-nau mengelak, sedikit mendak ke bawah, pedang Ing-ing menyambar lewat di atas kepalanya. Tapi mendadak pergelangan kaki kirinya terasa kencang terlibat oleh seutas tali, bahkan tali itu lantas terbetot sehingga tubuhnya sukar dikuasai, ia jatuh terjerembap.

Kiranya dalam keadaan gawat itu, Lenghou Tiong tidak sia-siakan waktu Lo Tek-nau mendekam ke bawah buat menghindarkan pedang tadi, ia tidak sempat membuka jala ikan lagi, tapi tali jala yang cukup panjang itu terus diayunkan untuk melibat kaki lawan dan menariknya hingga jatuh.

Habis itu, berbareng Lenghou Tiong dan Ing-ing berseru, “Lekas bunuh dia, lekas!”

Gi-lim lantas angkat pedangnya hendak memenggal kepala Lo Tek-nau. Tapi dasar wataknya memang welas asih, hatinya kecil pula, waktu membunuh Gak Put-kun tadi hanya terdorong oleh hasratnya ingin menolong Lenghou Tiong, tanpa pikir ia terus menusuk. Tapi sekarang ketika pedangnya hampir mengenai Lo Tek-nau, tiba-tiba perasaannya tak tega, bacokannya menjadi menceng, “crat”, pundak kanan Lo Tek-nau yang terbacok.

Tulang pundak Lo Tek-nau seketika terbacok putus, pedang terlepas dari cekalan. Khawatir Gi-lim menyerang lagi, dengan menahan sakit Lo Tek-nau lantas melompat bangun, setelah meronta dan terlepas dari libatan tali jala tadi, secepat terbang ia terus kabur ke bawah karang.

Sekonyong-konyong dari sebelah karang sana muncul dua orang, seorang perempuan yang jalan di depan lantas membentak, “He, kau yang memaki anak perempuanku tadi, ya?”

Ternyata perempuan itu adalah ibu Gi-lim, si nenek yang berlagak bisu-tuli di Sian-kong-si itu.

Tanpa menjawab Lo Tek-nau lantas angkat kaki hendak menendang, namun gerak tubuh nenek itu sukar dilukiskan cepatnya, hanya sedikit berkelit, “plok”, tahu-tahu Lo Tek-nau malah kena ditempeleng satu kali.

“Kurang ajar!” damprat si nenek. “Tadi kau memaki ‘maknya’ padanya, aku inilah emaknya, jadi makianmu itu sama dengan memaki aku!”

“Cegat dia, tahan dia! Jangan lepaskan dia!” seru Lenghou Tiong.

Sebenarnya si nenek sudah angkat tangannya hendak menabok kepala Lo Tek-nau, bila pukulannya dijatuhkan, pasti jiwa Lo Tek-nau akan melayang. Tapi demi mendengar seruan Lenghou Tiong itu, si nenek berbalik naik pitam dan menjerit, “Setan alas kecil, aku justru sengaja lepaskan dia!”

Berbareng ia terus memberi jalan kepada Lo Tek-nau sambil mendepak pantatnya satu kali.

Seperti lolos dari neraka saja, Lo Tek-nau terus lari sipat kuping turun dari puncak gunung itu.

Orang yang ikut di belakang si nenek bukan lain daripada Put-kay Hwesio, dengan tertawa ia mendekati Lenghou Tiong, katanya, “He, masih banyak tempat bermain yang baik, mengapa kalian suka main sembunyi-sembunyi di dalam jala?”

“Lekas membuka jala ikan itu, Ayah, lepaskan Toako dan Cici,” seru Gi-lim.

Tapi si nenek menyela dengan muka bersungut, “Aku masih harus bikin perhitungan dengan setan cilik itu, jangan lepaskan dia!”

“Hahahahaha!” Lenghou Tiong bergelak tertawa. “Suami-istri naik tempat tidur, sang comblang ikut syur! Kalian suami-istri telah berkumpul kembali mengapa tidak mengucapkan terima kasih kepadaku yang menjadi comblangnya ini?”

Namun nenek itu malah menendang sekali di tubuh Lenghou Tiong, rupanya ia merasa gemas karena telah dipermainkan oleh Lenghou Tiong, ia memaki, “Aku berterima kasih dengan sekali tendangan padamu!”

“Hai, Tho-kok-lak-sian, lekas kemari menolong aku!” tiba-tiba Lenghou Tiong berteriak dengan tertawa.

Nenek itu paling sirik terhadap Tho-kok-lak-sian, mendengar seruan Lenghou Tiong itu, ia terkejut dan menoleh. Sementara itu Lenghou Tiong lantas mengeluarkan tangannya dari dalam jala untuk membuka talipati yang mengikat jala dan membiarkan Ing-ing merangkak keluar. Ketika ia sendiri juga mau keluar mendadak si nenek membentaknya, “Tidak boleh keluar!”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO, ndak percaya kalau HIV Aids bisa sembuh?)

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: