Hina Kelana: Bab 136. Matinya Co Leng-tan dan Lim Peng-ci

Hina Kelana
Bab 136. Matinya Co Leng-tan dan Lim Peng-ci
Oleh Jin Yong

Menyusul pula beberapa orang berteriak, “He, itu suara Co Leng-tan! Ya, dia Co Leng-tan!”

“Suhu! Suhu! Tecu berada di sini!” demikian ada orang berseru, rupanya dia dari Ko-san-pay, anak-murid Co Leng-tan sendiri.

Dari suara orang yang memberi perintah tadi memang Lenghou Tiong juga dapat mengenalnya sebagai suaranya Co Leng-tan. Ia menjadi heran mengapa ketua Ko-san-pay yang sudah buta itu juga berada di dalam gua ini? Jika demikian, agaknya dialah yang memasang perangkap ini dan bukan guruku.

Demikianlah, meski beberapa kali Gak Put-kun bermaksud membunuhnya, tapi selama 20-an tahun ini hubungan guru dan murid yang menyerupai ayah dan anak kandung sendiri sudah mendarah daging dan terukir dalam-dalam di lubuk hatinya sehingga benar-benar sukar dihapuskan. Maka begitu terpikir bahwa tipu muslihat ini bukan dibuat oleh Gak Put-kun, tanpa terasa Lenghou Tiong menjadi senang dan terhibur, ia merasa kalau mesti mati di tangan Co Leng-tan akan beratus kali lebih menyenangkan daripada mati di tangan guru sendiri.

Dalam pada itu terdengar Co Leng-tan sedang menjawab dengan suara dingin, “Hm, kalian masih ada muka buat panggil suhu padaku? Tanpa permisi padaku kalian lantas datang ke Hoa-san sini, perbuatan kalian yang durhaka dan khianat ini mana dapat kuampuni, dalam perguruanku mana boleh ada murid murtad macam kalian?”

Seorang yang bersuara lantang lantas menjawab, “Suhu, ketika di tengah jalan Tecu mendengar kabar bahwa di gua Hoa-san ini ada ukiran jurus ilmu silat mukjizat dari golongan kita, Tecu khawatir bila pulang ke Ko-san dan lapor dahulu kepada Suhu tentu akan makan waktu terlalu banyak dan mungkin ukiran di dinding akan telanjur dihapus orang, sebab itulah Tecu cepat-cepat memburu ke sini. Maksud Tecu bila sudah melihat ilmu pedang yang terukir ini, dengan sendirinya akan segera pulang untuk melaporkan semuanya kepada Suhu.”

“Hm, kau anggap aku sudah buta, bila sudah berhasil mempelajari ilmu pedang bagus apakah kau masih mau mengaku diriku sebagai gurumu?” jengek Co Leng-tan. “Kalian harus bersumpah setia kepada Gak Put-kun, habis itu baru kalian diizinkan melihat ukiran ilmu silat di sini, betul tidak?”

“Be… betul, Tecu memang pantas mati, hanya saja kami terpaksa harus tunduk kepada perintahnya sebagai ketua Ngo-gak-pay, Tecu tidak menyangka jahanam itu akan menjebak kami secara keji,” sahut murid Ko-san-pay itu.

“Suhu,” sambung seorang lain, “mohon engkau membebaskan kami, pimpinlah kami untuk mencari keparat Gak Put-kun dan bikin perhitungan kepadanya.”

“Hm, enak saja cara berpikirmu,” jengek Co Leng-tan. Setelah merandek sejenak, tiba-tiba ia berkata pula, “Lenghou Tiong, jadi kau pun berada di sini? Sesungguhnya untuk apa kau datang ke sini?”

“Tempat ini adalah bekas tempat tinggalku, datang ke sini atau tidak adalah hakku sendiri, peduli apa dengan kau?” jawab Lenghou Tiong.

“Huh, kematianmu sudah di depan mata, kau masih kepala batu dan begini kasar terhadap orang tua,” jengek Co Leng-tan.

“Kau memakai tipu muslihat keji dan mencelakai para kesatria jujur, perbuatanmu ini pantas dibinasakan oleh siapa saja, mana kau ada harganya mengaku orang tua segala?” balas Lenghou Tiong.

“Peng-ci, pergilah kau membinasakan dia!” kata Co Leng-tan.

Dalam kegelapan terdengar seorang mengiakan, jelas suaranya Lim Peng-ci.

Lenghou Tiong terkejut, pikirnya, “Kiranya Lim Peng-ci juga berada di sini. Dia dan Co Leng-tan sudah buta semua, selama ini mereka tentu sudah biasa berlatih memainkan pedang secara buta, menggunakan telinga sebagai pengganti mata, kepandaian mereka dalam hal ketajaman telinga pasti sangat hebat. Dalam kegelapan seperti sekarang ini keadaan menjadi terbalik, aku menjadi seperti orang buta, sebaliknya mereka malah seperti orang melek, cara bagaimana aku dapat menandingi mereka?”

Seketika ia berkeringat dingin dan terpaksa tidak berani bersuara, yang diharap semoga mereka tidak tahu tempat di mana dia berdiri.

Terdengar Lim Peng-ci berseru, “Lenghou Tiong, selama ini kau merajalela di dunia Kang-ouw, tidak kepalang wibawamu, tapi hari ini kau toh mati di tanganku, haha, haha!”

Seram dan mendirikan bulu roma suara tawanya itu sambil selangkah demi selangkah mendekati tempat Lenghou Tiong.

Rupanya dalam tanya-jawab Lenghou Tiong dengan Co Leng-tan tadi, tempat berdirinya telah dapat didengar dengan jelas oleh Lim Peng-ci. Seketika suasana di dalam gua itu sunyi senyap, yang terdengar hanya suara tindakan kaki Lim Peng-ci, setiap dia melangkah satu tindak, setiap kali pula Lenghou Tiong menyadari jiwanya satu tindak lebih dekat dengan pintu akhirat.

“Nanti dulu!” sekonyong-konyong ada orang berteriak. “Keparat Lenghou Tiong itu yang membutakan kedua mataku sehingga aku cacat untuk selamanya, biarlah aku… aku yang membinasakan bangsat ini.”

Menyusul belasan orang lain menyatakan persetujuan seruan orang pertama itu, lalu mereka juga melangkah maju beramai-ramai.

Tergetar hati Lenghou Tiong, ia tahu orang-orang ini adalah korban tusukan pedangnya ketika terjadi pertarungan di kelenteng kuno tengah malam buta itu.

Tempo hari di tengah jalan lereng gunung Ko-san belasan orang ini juga sudah pernah dipergokinya, tapi telah dibikin kocar-kacir oleh Put-kay Hwesio. Orang-orang ini sudah lama buta, ketajaman telinga mereka tentu luar biasa. Seorang Lim Peng-ci saja sukar dilawan apalagi bertambah pula belasan orang buta ini, tentu lebih-lebih susah dilawan.

Terdengar suara tindakan mereka semakin mendekat, dengan menahan napas diam-diam Lenghou Tiong menggeser beberapa langkah ke samping. Segera terdengar suara “trang-trang” beberapa kali, beberapa pedang orang-orang itu telah kena menusuk dinding tempat berdirinya tadi. Untung belasan orang itu menyerang bersama, suara tindakan mereka bercampur aduk sehingga suara geseran Lenghou Tiong tak terdengar, tiada satu pun yang tahu ke mana dia berpindah tempat.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong berjongkok, dirabanya sebatang pedang di atas lantai, segera ia lemparkan ke depan. Maka terdengarlah suara jeritan, seorang telah roboh terkena lemparan pedang itu. Serentak belasan orang itu menerjang maju, di tengah benturan senjata yang ramai, terjadilah pertempuran sengit antara mereka dengan orang banyak. Berulang-ulang terdengar bentakan dan jeritan, dalam sekejap saja ada beberapa orang roboh binasa. Sebenarnya kepandaian orang-orang di situ tidaklah lemah, tapi dalam kegelapan mereka menjadi bukan tandingan kawanan orang buta itu.

Di tengah suasana ribut itu Lenghou Tiong lantas menggeser lagi beberapa langkah ke kiri, ia meraba dinding di sekitar situ tiada orang lalu berjongkok. Pikirnya, “Co Leng-tan membawa Peng-ci dan kawanan orang buta itu ke sini, terang dia sengaja memasang perangkap ini untuk membinasakan semua orang yang ada di sini dalam keadaan gelap gulita ini. Hanya saja dari mana dia dapat mengetahui letak gua ini?”

Tapi ia lantas paham duduknya perkara. Tempo hari siausumoaynya telah mengalahkan tokoh-tokoh Thay-san-pay dan Heng-san-pay dengan ilmu pedang mukjizat yang terukir di dinding gua ini. Kalau siausumoaynya sudah datang ke gua ini, dengan sendirinya Lim Peng-ci tahu pula akan gua ini.

“Lenghou Tiong, kenapa kau tidak berani perlihatkan dirimu? Huh, main sembunyi-sembunyi, macam orang gagah apakah kau ini?” demikian Peng-ci berteriak mengolok-olok.

Keruan Lenghou Tiong naik pitam, segera ia bermaksud melabrak musuh, tapi cepat ia dapat menahan diri, pikirnya, “Sebelum aku ketemukan Ing-ing buat apa aku mengadu jiwa dengan dia? Apalagi aku sudah berjanji kepada Siausumoay akan menjaga baik-baik orang she Lim ini, bila aku bertempur dengan dia dan terbunuh tentu penasaran, sebaliknya kalau kubunuh dia juga salah bagiku.”

“Bunuh semua pengkhianat di dalam gua ini, habis itu Lenghou Tiong tentu pula tak dapat mengelakkan diri,” seru Co Leng-tan.

Dalam sekejap segera ramai pula suara benturan senjata dan bentakan di sana-sini. Lenghou Tiong tetap berjongkok sehingga tiada orang yang dapat menyerangnya. Ia coba pasang kuping untuk mendengarkan kalau-kalau ada suaranya Ing-ing. Ia pikir si nona biasanya sangat cerdik, dalam keadaan terancam bahaya begini tentu takkan membunyikan suara kecapi, semoga perempuan yang kutusuk tadi bukanlah dia.

Begitulah ia terus mendengarkan dengan cermat, ternyata pertarungan para kesatria dengan kawanan orang buta itu telah terjadi dengan amat sengit, sambil bertempur riuh ramai pula suara bentakan dari makian, berulang-ulang ia dengar suara orang memaki dengan istilah “persetan nenekmu”.

Makian “persetan nenekmu” itu kedengarannya lain daripada yang lain. Pada umumnya orang memaki suka bilang “persetan emakmu” atau “persetan maknya”, jarang orang menggunakan istilah “persetan nenekmu”. Ia heran apakah orang yang memaki itu berasal dari suatu daerah yang biasa menggunakan istilah makian demikian?

Tapi setelah didengarkan lagi, akhirnya Lenghou Tiong menemukan sesuatu yang janggal, makian “persetan nenekmu” itu selalu dilontarkan oleh dua orang berbareng, bahkan setelah mengucapkan makian itu, adu senjata kedua orang itu lantas berhenti. Sebaliknya kalau yang memaki cuma satu orang, maka pertarungan itu pun terus berlangsung.

Setelah dipikir lagi, pahamlah Lenghou Tiong akhirnya. “Rupanya makian ini adalah kode rahasia di antara orang-orang buta itu untuk membedakan kawan atau lawan.”

Didengarnya suara makian “persetan nenekmu” itu makin lama makin ramai, sebaliknya suara benturan senjata dan suara bentakan tambah mereda, terang orang-orang Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Ko-san-pay telah habis terbunuh semua. Tapi selama itu ia tetap tidak mendengar sesuatu suara Ing-ing, ia menjadi khawatir kalau-kalau Ing-ing benar-benar telah terbunuh olehnya sendiri, tapi juga bersyukur si nona tidak menjadi korban keganasan kawanan orang buta itu.

Selang tak lama, suara pertempuran mulai berhenti. Terdengar Co Leng-tan berseru, “Beramai-ramai membunuh lagi satu keliling gua ini!”

Orang-orang buta itu mengiakan. Lalu terdengar suara sambaran pedang yang menderu-deru di sana-sini. Ada dua kali pedang orang-orang buta itu mampir ke tubuh Lenghou Tiong, tapi keburu ditangkisnya sambil tekan suara dan ikut memaki, “Persetan nenekmu!”

Ternyata suara tiruannya itu tak diketahui musuh dan amanlah dia, suara sambaran pedang dan makian orang-orang buta itu berlangsung terus sampai sekian lamanya, suara lain sama sekali tidak terdengar.

Lenghou Tiong benar-benar sangat cemas dan hampir-hampir menangis akan keselamatan Ing-ing, sungguh ingin sekali ia berteriak memanggil si nona.

“Berhenti!” Co Leng-tan memberi aba-aba pula. Orang-orang buta itu serentak berhenti di tempat masing-masing. Dengan terbahak-bahak Co Leng-tan lalu berkata pula, “Para murid khianat ini kini sudah tertumpas semua. Orang-orang ini sungguh tidak tahu malu, lantaran ingin belajar ilmu pedang mereka rela bersumpah setia kepada keparat Gak Put-kun itu. Kini bangsat cilik Lenghou Tiong tentu juga sudah mampus di bawah pedang kalian. Hahahaha! Wahai Lenghou Tiong, di mana kau? Kau sudah mampus, bukan?”

Lenghou Tiong diam-diam saja dengan menahan napas.

Co Leng-tan berkata pula, “Peng-ci, orang yang paling kau benci sekarang sudah mampus, tentu kau merasa puas bukan?”

“Ya, semuanya berkat perhitungan masak Co-heng, dengan cara pengaturan perangkap yang sempurna,” sahut Peng-ci.

Baru sekarang Lenghou Tiong mengetahui Lim Peng-ci telah bersaudara dengan Co Leng-tan. Rupanya demi mendapatkan Pi-sia-kiam-boh, maka Co Leng-tan bersikap sebaik ini kepada pemuda itu.

“Tapi kalau jalan rahasia masuk gua ini tidak kau beri tahukan padaku, tentu sukar pula membalas dendam bagi kita,” kata Co Leng-tan.

“Sungguh sayang dalam kekacauan ini aku tak dapat membinasakan bangsat Lenghou Tiong dengan tanganku sendiri,” kata Peng-ci.

“Tak peduli siapa yang membunuh dia toh sama saja,” ujar Co Leng-tan dengan suara tertahan. “Marilah kita lekas keluar, mungkin saat ini keparat Gak Put-kun itu sedang berada di luar gua, mumpung hari belum terang kita beramai-ramai mengerubutnya, dalam kegelapan tentu sangat menguntungkan kita.”

Terdengar Peng-ci mengiakan, lalu ramailah suara tindakan orang, rombongan mereka masuk ke lorong belakang sana dan makin lama makin menjauh, sebentar saja tiada suara apa-apa lagi.

“Ing-ing, di manakah kau?” seru Lenghou Tiong dengan suara tertahan.

“Sssst, jangan keras-keras aku berada di sini,” tiba-tiba di atas kepalanya ada orang mendesis.

Saking girangnya seketika kedua kaki Lenghou Tiong terasa lemas dan jatuh terduduk di lantai.

Ketika kawanan orang buta tadi mengamuk dengan serangan mereka yang ganas, tempat yang paling aman memang tiada lain daripada sembunyi di tempat ketinggian sehingga pedang musuh sukar mencapainya, hal ini sebenarnya gampang saja diketahui setiap orang, cuma pada saat gawat, pikiran semua orang menjadi bingung sehingga sama sekali tidak memikirkan hal demikian.

Begitulah Ing-ing lantas melompat turun, segera Lenghou Tiong memburu maju dan memeluknya erat-erat. Saking girangnya kedua orang sama mencucurkan air mata. Perlahan-lahan Lenghou Tiong mencium pipi si nona dan mendesis, “Tadi aku benar-benar sangat khawatir bagimu.”

Dalam kegelapan Ing-ing tidak mengelakkan ciuman Lenghou Tiong itu, jawabnya dengan perlahan, “Ketika kau memaki orang ‘persetan nenekmu’, aku lantas kenal suaramu.”

Lenghou Tiong tertawa geli, tanyanya kemudian, “Kau tidak terluka apa-apa, bukan?”

“Tidak,” jawab Ing-ing.

“Semula aku tidak merasa khawatir ketika mendengar suara kecapi. Tapi setelah suara kecapi berhenti, aku menusuk roboh pula seorang perempuan, aku jadi kelabakan dan khawatir sekali bagimu.”

“Sama sekali kau tak dapat membedakan suaraku dengan suara orang lain, begitu kau suka bilang senantiasa memikirkan diriku.”

“Ya, ya, memang aku pantas dipukul,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa sambil pegang tangan si nona untuk menampar pipinya.

“Sebenarnya sejak tadi-tadi aku sudah melompat ke tempat tinggi itu, tapi khawatir diketahui orang, tak dapat pula bersuara memanggil kau, terpaksa aku menyambitkan sebuah mata uang tembaga untuk menimpuk kecapiku yang ketinggalan di lantai dengan harapan kau akan mengetahui keadaanku.”

“O, kiranya demikian. Ai, engkau mendapatkan calon suami yang polos, sungguh Yim-toasiocia yang sial,” kelakar Lenghou Tiong dengan tertawa. “Makanya tadi aku merasa heran kecapi yang kau bunyikan itu mengapa tanpa irama, kenapa tidak membawakan lagu ‘Hina Kelana’? Dan kemudian mengapa kau tidak membunyikan kecapi lagi?”

“Aku terlalu miskin, hanya beberapa duit saja yang berada di saku dan beberapa sambitan habislah duitku,” tutur Ing-ing dengan tertawa.

Sampai di sini, sekonyong-konyong di mulut lorong sana ada suara orang mendengus. Keruan Lenghou Tiong dan Ing-ing sama berteriak kaget, dengan sebelah tangan merangkul si nona dan tangan yang lain memegang pedang segera Lenghou Tiong membentak, “Siapa itu?”

“Aku, Lenghou-tayhiap!” sahut orang itu dengan suara dingin, siapa lagi kalau bukan Lim Peng-ci adanya. Menyusul lantas terdengar suara tindakan orang banyak di jalan lorong itu, terang kawanan orang buta tadi kini telah kembali lagi.

Diam-diam Lenghou Tiong memaki dirinya sendiri yang terlalu ceroboh, seharusnya terpikir olehnya kelicikan Co Leng-tan, mana dia mau pergi begitu saja, tentu dia pura-pura berangkat bersama begundalnya, tapi diam-diam sembunyi di ujung sana untuk mendengarkan gerak-gerik di dalam gua. Lantaran dapat berkumpul kembali dengan Ing-ing setelah menghadapi detik-detik berbahaya tadi, saking girangnya mereka menjadi lupa daratan dan tidak ingat bahwa musuh tangguh setiap saat mungkin akan muncul kembali.

“Naik ke atas!” tiba-tiba Ing-ing membisiki Lenghou Tiong sambil tarik lengannya. Berbareng kedua orang lantas meloncat ke atas.

Tadi Ing-ing sembunyi di atas batu karang yang mencuat di dinding gua itu, maka ia tahu di mana letak batu karang itu dalam kegelapan, ia masih dapat hinggap dengan tepat di atas batu itu. Tapi Lenghou Tiong, telah menginjak tempat kosong, tubuhnya jatuh kembali ke bawah. Syukur Ing-ing keburu menarik sebelah tangannya dan diseret ke atas.

Batu karang yang menonjol di dinding gua itu luasnya kurang dari satu meter, kedua orang berjubel di situ boleh dikata kurang leluasa. Diam-diam Lenghou Tiong merasa syukur si nona dapat bertindak dengan cepat, dengan berdiri di atas tentu tidak gampang dikepung dan dikerubut oleh kawanan orang buta itu.

“Kedua setan cilik itu meloncat ke atas,” terdengar Co Leng-tan berkata.

“Ya, di depan sana!” sahut Peng-ci.

“Lenghou Tiong, apakah kau akan sembunyi di atas situ untuk selamanya?” seru Co Leng-tan.

Tapi Lenghou Tiong diam-diam saja tanpa menjawab, ia insaf bila bersuara tentu tempat berpijaknya akan diketahui musuh. Dengan tangan kanan menghunus pedang, tangan kiri merangkul pinggang Ing-ing yang ramping. Ing-ing sendiri tangan kiri memegang pedang pendek, tangan kanan juga digunakan merangkul pinggang Lenghou Tiong. Kedua orang merasa sangat puas dan terhibur, mereka dapat berkumpul bersama, sekalipun nanti mesti mati juga takkan menyesal.

Sekonyong-konyong terdengar Co Leng-tan membentak dengan suara keras, “Biji mata kalian dibutakan oleh siapa, masakah kalian sudah lupa?”

Serentak belasan orang buta itu menjadi murka, mereka menggerung terus melompat ke atas sambil ayun pedang mereka menusuk dan menebas secara ngawur.

Lenghou Tiong dan Ing-ing diam saja, serangan orang-orang buta itu menjadi sia-sia tak menemukan sasaran. Ketika orang-orang buta itu melompat lagi untuk kedua kalinya, salah seorang sudah menubruk maju, hanya satu meteran di depan batu karang yang menonjol itu. Dari suara angin loncatan orang buta itu, segera Lenghou Tiong menusuk dengan pedangnya dan tepat mengenai dada musuh. Kontan orang buta itu menjerit dan terbanting ke bawah.

Dengan demikian tempat sembunyi Lenghou Tiong berdua lantas ketahuan, serentak beberapa orang melompat ke atas dan menyerang berbareng.

Dalam kegelapan meski Lenghou Tiong dan Ing-ing tak dapat melihat gerakan musuh, tapi batu karang yang menonjol itu tingginya tiga-empat meter dari permukaan tanah, orang yang melompat ke atas tentu membawa desingan angin yang mudah dibedakan, maka Lenghou Tiong berdua memapak serangan musuh-musuh itu dan kontan membinasakan dua orang lagi.

Untuk sementara orang-orang buta itu menjadi jeri dan kapok, mereka sama menengadah ke atas sambil mencaci maki, tapi tak berani menyerang lagi.

Setelah saling tarik urat sejenak, mendadak angin santer menyambar tiba, dua orang melompat tiba dari kanan-kiri, cepat Lenghou Tiong dan Ing-ing menusuk dengan pedang masing-masing, “trang-trang”, empat pedang beradu dengan keras. Lengan Lenghou Tiong terasa pegal, pedang hampir-hampir terlepas dari cekalan. Maka tahulah dia penyerang itu ternyata Co Leng-tan adanya.

Di sebelah lain Ing-ing juga menjerit, pundaknya terkena pedang musuh sehingga si nona hampir-hampir terperosot jatuh ke bawah, untung Lenghou Tiong keburu merangkulnya lebih kencang. Dalam pada itu kedua orang itu telah melompat lagi ke atas dan kembali melancarkan serangan. Cepat pedang Lenghou Tiong menusuk orang yang menyerang Ing-ing itu, ketika kedua pedang kebentur, mendadak orang itu mengubah gerakan pedangnya dengan cepat, yaitu pedangnya terus memotong ke bawah menggesek batang Lenghou Tiong.

Tahulah Lenghou Tiong bahwa lawannya itu tentu Lim Peng-ci adanya, cepat ia menarik tubuh untuk mengelak, terasa angin tajam menyambar lewat pedang Peng-ci itu terus menebas ke arah Ing-ing.

Dalam keadaan tubuh terapung, sekali lompat ternyata Peng-ci sanggup melancarkan tiga kali serangan secara berturut-turut, sungguh tidak kepalang lihainya Pi-sia-kiam-hoat yang termasyhur itu.

Khawatir Ing-ing terluka, tanpa pikir Lenghou Tiong melompat turun bersama Ing-ing, dengan punggung mepet dinding ia putar pedangnya dengan kencang agar musuh tidak berani mendekat.

Tiba-tiba terdengar Co Leng-tan tertawa panjang sambil menusuk dengan pedangnya, “trang”, kembali kedua pedang beradu. Kontan tubuh Lenghou Tiong tergetar, terasa suatu arus tenaga dalam menyalur tiba melalui batang pedangnya, tanpa terasa ia menggigil dingin. Seketika teringat olehnya pertarungan sengit antara Yim Ngo-heng dengan Co Leng-tan di Siau-lim-si dahulu, waktu itu Yim Ngo-heng telah menyedot tenaga dalam Co Leng-tan dengan “Gip-sing-tay-hoat” yang ampuh, tak terduga tenaga dalam Co Leng-tan yang mahadingin itu lihai luar biasa, hampir-hampir saja Yim Ngo-heng mati beku oleh tenaga dalam mahadingin yang disedotnya dari tubuh Co Leng-tan itu.

Sekarang kembali Co Leng-tan melakukan hal yang sama, sudah tentu Lenghou Tiong tidak mau masuk perangkap, cepat ia mengerahkan tenaga menolak keluar, saking keras membanjir keluarnya tenaga dalam, tanpa kuasa jari tangannya menjadi kendur, pedang terlepas dari cekalannya.

Padahal segenap kepandaian Lenghou Tiong terletak pada pedangnya itu, tanpa senjata di tangan boleh dikata kepandaiannya tiada artinya lagi. Maka cepat ia berjongkok dan meraba-raba di lantai, ia pikir di dalam gua itu menggeletak ratusan mayat, di atas lantai tentu juga banyak terserak senjata, asalkan dapat menjemput sesuatu senjata, baik golok maupun pedang tentu akan dapat dipakai menahan serangan musuh untuk sementara.

Tak terduga apa yang teraba oleh tangannya adalah muka seorang mati yang sudah kaku dan dingin, tangannya menjadi berlepotan darah pula. Cepat ia merangkul Ing-ing dan menggeser ke pinggir dua tindak, “cring-cring”, pedang Ing-ing yang pendek itu dapat menangkis serangan dua musuh. Tapi segera terdengar pula suara “trang” yang lebih keras, pedang pendek itu juga terbentur dengan senjata musuh yang lain dan mencelat lepas.

Keruan Lenghou Tiong menjadi khawatir, buru-buru ia meraba-raba lantai lagi, kini ada sesuatu yang teraba tangannya, rasanya seperti sepotong toya pendek. Dalam keadaan bahaya itu ia pun tidak sempat memeriksa benda itu, ketika terasa angin keras menyambar tiba, pedang musuh menebas datang lagi, segera ia menangkisnya dengan toya pendek itu. “Krek”, toya pendek itu tertebas putus satu bagian.

Pada waktu ia menaikkan kepala untuk mengegos, mendadak di depan mata meletik beberapa titik sinar. Beberapa titik cahaya itu meski sangat lemah namun di dalam gua yang gelap gulita itu percikan cahaya itu laksana sebuah bintang kejora terang di atas langit. Samar-samar bentuk tubuh dan sinar pedang musuh dapat dibedakan.

Tanpa terasa Lenghou Tiong dan Ing-ing bersorak gembira, dalam pada itu tertampak pedang Co Leng-tan menusuk tiba pula, segera Lenghou Tiong angkat toya pendek itu menonjok leher lawan. Tempat yang diarah memang merupakan titik kelemahan serangan musuh.

Tak tersangka, biarpun mata Co Leng-tan sudah buta namun dia masih sanggup menghadapi serangan lihai itu secara gesit, cepat ia melompat mundur sambil mencaci maki dengan rasa penasaran.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Ing-ing untuk menjemput sebatang pedang, lalu ia serahkan pedang itu kepada Lenghou Tiong dan ganti mengambil toya pendek itu, segera ia putar toya pendek itu dengan kencang sehingga titik-titik cahaya putih hijau gemerdep tak terputus-putus.

Serentak semangat Lenghou Tiong terbangkit, menghadapi pilihan antara mati dan hidup itu, ia tidak mau kenal ampun lagi, pedangnya bekerja cepat, mulutnya juga memaki, “Persetan nenekmu!” dan kontan seorang buta kena ditusuknya mampus.

Ternyata kerja pedangnya jauh lebih cepat daripada makiannya, baru enam kali dia memaki “persetan nenekmu”, ternyata tiga belas orang buta yang tersisa itu sudah dibinasakan seluruhnya. Beberapa orang buta itu rupanya otaknya agak bebal, ketika mendengar Lenghou Tiong memaki “persetan nenekmu”, ia mengira kawan sendiri, buat apa bertempur lagi. Tapi sebelum dia bisa berpikir lebih banyak lagi tahu-tahu lehernya sudah tertusuk pedang Lenghou Tiong, seketika dia “persetan ke akhirat untuk menemui neneknya”.

Rupanya Co Leng-tan dan Lim Peng-ci menjadi bingung, mereka saling tanya berbareng, “Ada apa? Apakah ada api?”

“Benar!” bentak Lenghou Tiong, berbareng ia serang Co Leng-tan tiga kali.

Cara mendengarkan angin membedakan serangan musuh Co Leng-tan benar-benar hebat sekali, berturut-turut ia tangkis ketiga kali serangan Lenghou Tiong itu. Sebaliknya Lenghou Tiong merasa lengannya sakit pegal, kembali suatu arus hawa dingin menyalur tiba melalui batang pedang. Tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya, cepat ia berdiri tegak dan tahan senjata, sedikit pun ia tidak bergerak lagi, diam saja.

Karena tidak mendengar sesuatu gerak-gerik lawan, Co Leng-tan menjadi kelabakan, dengan gelisah ia putar pedangnya dengan kencang untuk melindungi segenap hiat-to tubuhnya.

Sementara itu Ing-ing masih terus putar toya pendek tadi dengan santer, dari percikan lelatu yang timbul dari toya itu Lenghou Tiong dapat membedakan musuh dengan cukup jelas, perlahan-lahan ia putar pedangnya ke arah lengan kanan Lim Peng-ci, sedikit demi sedikit ia julurkan senjatanya ke depan.

Lim Peng-ci coba pasang kuping untuk mendengarkan arah datangnya serangan lawan, akan tetapi pedang Lenghou Tiong itu dijulurkan dengan sangat perlahan dan sedikit demi sedikit, mana ada suara yang dapat terdengar?

Tampaknya ujung pedang sudah tinggal belasan senti saja dari sasarannya, mendadak Lenghou Tiong mendorong secepatnya ke depan, “cret”, kontan otot tulang tangan kanan Peng-ci putus semua.

Peng-ci menjerit keras-keras, pedang terlepas dari cekalan, dengan kalap ia terus menubruk maju. Tapi pedang Lenghou Tiong lantas bekerja, lagi, “sret-sret” dua kali, kaki kanan-kiri Lim Peng-ci tertusuk pula. Dibarengi dengan caci maki yang penuh dendam tanpa ampun lagi Peng-ci roboh terguling.

Waktu Lenghou Tiong berpaling ke arah Co Leng-tan, di bawah cahaya percikan lelatu yang remang-remang tertampak gembong Ko-san-pay yang sudah buta itu sedang mengertak gigi, mukanya beringas menakutkan.

“Orang ini adalah biang keladi dari huru-hara dunia persilatan yang terjadi selama ini, dosanya tidak dapat diampuni!” demikian pikir Lenghou Tiong. Sekonyong-konyong ia bersuit nyaring, pedangnya bekerja cepat. Betapa pun lihainya Co Leng-tan, di bawah serangan Tokko-kiu-kiam yang lihai boleh dikata mati kutunya. Sekaligus bagian dahi, leher, dan dada terkena tiga tusukan pedang Lenghou Tiong.

Habis itu Lenghou Tiong lantas melompat mundur sambil gandeng tangan Ing-ing, dilihatnya Co Leng-tan berdiri mematung sejenak, lalu roboh ke depan, pedangnya ternyata sudah terputar balik dan menembus perut sendiri.

Setelah tenangkan diri, Lenghou Tiong coba memandang toya pendek di tangan Ing-ing yang memercikkan titik cahaya itu, namun cahaya lelatu yang terpantul terlalu lemah sehingga tak jelas benda apakah sebenarnya “toya” itu.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO – VCO yang pertama di Indonesia)

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: