Hina Kelana: Bab 135. Pergulatan Antara Mati dan Hidup di Dalam Gua

Oleh Jin Yong

Waktu Lenghou Tiong berpaling, dilihatnya seorang tua berbaju kuning sedang melotot kepada seorang laki-laki jangkung pertengahan umur, bahkan sambil mengacungkan ujung pedangnya ke dada si jangkung.

Tapi si jangkung telah menjawab dengan tertawa, “Bilakah aku memandangi ukiran yang kau katakan itu?”

“Kau berani menyangkal?” damprat orang tua itu. “Mendingan jika kau cuma ingin mencuri ilmu pedang Ko-san-pay kami, tapi mengapa kau memandangi gerak tipu silat yang khusus digunakan untuk membobol ilmu pedang Ko-san-pay kami?”

Lenghou Tiong tahu dinding gua itu terukir macam-macam ilmu silat Ngo-gak-kiam-pay yang hebat, selain itu juga terukir cara mematahkan ilmu silat kelima aliran itu, yaitu ukiran yang sengaja dibuat oleh kesepuluh Mo-kau-tianglo (tokoh-tokoh tua Mo-kau), semuanya merupakan ilmu silat yang khas untuk mengalahkan ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay itu. Jadi kalau ada orang sengaja mengikuti ilmu silat yang khas untuk mengalahkan ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay itu, dengan sendirinya orang-orang kelima aliran itu tak bisa terima, termasuk di antaranya orang-orang Ko-san-pay.

Begitulah, karena bentakan orang tua itu, serentak beberapa orang Ko-san-pay yang lain mengepung si jangkung di tengah dengan senjata terhunus.

“Sama sekali aku tidak paham akan ilmu pedang kalian, andaikan aku memandang ukiran cara mengalahkan ilmu pedang kalian juga tiada gunanya,” demikian si jangkung berusaha membela diri.

“Pendek kata, dengan memandangi ukiran dinding ini tentu pula kau tidak punya niat baik,” kata kakek dengan bengis.

“Tapi ketua Ngo-gak-pay, Gak-siansing, telah sudi mengundang kita ke sini untuk memandang berbagai ilmu pedang yang terukir di dinding ini, beliau tidak pernah menetapkan bagian mana yang boleh dilihat dan bagian mana dilarang melihat,” sahut si jangkung dengan siap siaga.

“Jelas kau tidak punya maksud baik terhadap Ko-san-pay kami dan hal ini tak dapat kami biarkan,” kata si kakek.

“Ngo-gak-kiam-pay telah dilebur menjadi satu, yang ada kini hanya Ngo-gak-pay, mana ada Ko-san-pay pula?” sahut si jangkung dengan angkuh. “Bila Ngo-gak-kiam-pay tidak terlebur menjadi satu masakah Gak-siansing mengizinkan kita semua ini terobosan di dalam gua Hoa-san sini, apalagi untuk mendalami ilmu pedang yang terukir ini.”

Jawaban ini membikin si kakek menjadi bungkam. Mendadak seorang murid Ko-san-pay mendorong keras pundak belakang si jangkung sambil membentak, “Mulutmu memang pintar bicara ya?”

Sekonyong-konyong tangan si jangkung membalik sehingga pergelangan murid Ko-san-pay itu kena digaet terus disengkelit, kontan murid Ko-san-pay itu terbanting jatuh.

Pada saat itulah terdengar di tengah orang-orang Thay-san-pay juga ada orang membentak, “Siapa kau? Berani kau memakai serangan Thay-san-pay kami dan mencampurkan diri di sini untuk mencuri lihat Thay-san-kiam-hoat yang terukir di dinding ini?”

Menyusul itu tertampak seorang muda berbaju seragam Thay-san-pay berlari cepat keluar, namun segera ia diadang oleh seorang sambil membentak, “Berhenti! Siapa kau, berani kau mengacau di sini?”

Anak muda itu tidak menjawab, tapi pedangnya terus menusuk sambil menerjang ke depan. Tapi si pengadang mengegos sambil mencolok kedua mata lawan. Terpaksa si anak muda melompat mundur. Namun si pengadang lantas memburu maju, kembali tangannya menjulur ke depan untuk menyerang kedua mata lawan.

Lantaran diserang dari dekat, pedang si anak muda sukar digunakan menangkis, terpaksa ia melompat mundur lagi. Segera si pengadang menyapu dengan sebelah kakinya, untung si anak muda keburu meloncat ke atas. Tapi tidak urung dadanya terkena pukulan, “bluk”, kontan ia terguling dan muntah darah. Dari belakang dua murid Thay-san-pay telah memburu maju dan membekuknya.

Sementara itu di sebelah sana si jangkung sudah terkepung oleh empat-lima orang murid Ko-san-pay dan sedang diserang dengan gencar. Ilmu pedang si jangkung tampaknya sangat lihai, tapi jelas bukan orang dari Ngo-gak-kiam-pay.

Serentak beberapa orang Ko-san-pay yang menonton di pinggir berteriak, “Keparat ini bukan orang Ngo-gak-kiam-pay kita, tapi mata-mata musuh yang ikut menyusup ke sini.”

Karena terjadi pertempuran dua kelompok, seketika suasana di dalam gua yang tadinya sunyi senyap, berubah menjadi kacau-balau.

Dalam keadaan ribut itu Lenghou Tiong pikir adalah kesempatan baik baginya untuk mencari Bok-taysiansing. Segera ia menyelinap maju lagi ke lorong sana, tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang keras laksana gugur gunung dahsyatnya. Banyak orang sama menjerit kaget dan takut.

Lenghou Tiong terkejut, cepat ia putar balik, dilihatnya debu pasir bertebaran di dalam gua itu, ia tidak pikirkan buat mencari Bok-taysiansing lagi, tapi yang perlu segera didampingi adalah Ing-ing. Akan tetapi suasananya telah berubah menjadi kacau, orang-orang berlari serabutan, senjata menyambar tak kenal arah, yang kelihatan hanya debu pasir belaka, di mana Ing-ing waktu itu tak kelihatan lagi.

Sekuatnya Lenghou Tiong berdesak-desakan di tengah orang banyak, beberapa kali ia harus berkelit dan menghindari serangan senjata yang entah datang dari mana. Ketika ia dapat mencapai mulut gua, maka mengeluhlah dia, mulut gua itu sudah merapat tertutup oleh sepotong batu yang beratnya entah berapa puluh ribu kati, jadi pintu gua itu telah tersumbat menjadi buntu, sekilas itu ia tidak melihat sesuatu lubang keluar-masuk pada mulut gua tadi.

“Ing-ing! Ing-ing! Di mana kau?” seru Lenghou Tiong.

Sayup-sayup ia seperti mendengar Ing-ing menyahutnya satu kali di kejauhan, suaranya seperti datang dari ujung masuk lorong tadi, hanya saja sukar dibedakan dengan jelas karena terganggu oleh suara ribut beratus-ratus orang itu.

Ia merasa heran mengapa Ing-ing bisa berada di ujung lorong sana? Tapi setelah dipikir lagi segera ia pun paham duduknya perkara, tentunya waktu batu raksasa penyumbat gua itu dijatuhkan ke bawah, Ing-ing yang mestinya dapat melarikan diri tidak mau meninggalkan diriku. Ketika aku menerjang balik untuk mencarinya, dia juga menerjang ke sana untuk mencari aku.

Karena itu, segera Lenghou Tiong putar balik lagi ke mulut lorong belakang gua tadi.

Dalam keadaan kacau-balau karena jalan keluar tersumbat oleh batu raksasa, beberapa puluh obor yang berada di dalam gua tadi ada sebagian besar dibuang oleh yang memegang dan sebagian pula menjadi padam, ditambah lagi debu pasir memenuhi gua itu, pemandangan menjadi remang-remang seperti berkabut tebal.

“Gua tersumbat! Gua tersumbat!” demikian orang-orang itu berteriak khawatir beramai-ramai.

“Tentu tipu muslihat si keparat Gak Put-kun itu!” teriak pula seorang dengan murka.

“Benar!” seorang lagi menanggapi dengan mengertak gigi. “Bangsat itu memancing kita ke sini untuk melihat ilmu pedang neneknya….”

Begitulah beberapa puluh orang beramai-ramai hendak mendorong batu raksasa itu, tapi batu itu laksana sebuah bukit, sedikit pun tidak bergerak meski beberapa puluh orang itu mendorong sepenuh tenaga dan terkentut-kentut.

“Lekas! Lekas keluar melalui lorong belakang sana!” terdengar orang berteriak pula.

Sebelumnya memang sudah ada orang lain berpikir demikian, likuran orang sudah berbondong-bondong lari ke sana dan berjubel-jubel memenuhi ujung lorong bawah tanah itu. Padahal lorong yang digali oleh kapak salah seorang gembong Mo-kau yang terkurung di gua itu hanya tiba cukup dilalui satu orang saja, kini likuran orang berjubelan di situ dan berebut dulu, tentu saja sukar dimasuki lubang sekecil itu. Dan karena keributan itu, kembali belasan obor menjadi padam lagi.

Di tengah orang banyak itu ada dua laki-laki kekar telah mendesak maju sekuatnya dengan menyisihkan orang-orang lain, mereka terus menyusup maju ke mulut lorong. Tapi mulut lorong itu sangat sempit, lantaran kedua orang juga berebut duluan, “blang”, keduanya sama-sama benjut terbentur dinding, tiada seorang pun yang mampu masuk lubang lorong itu.

Tiba-tiba laki-laki sebelah kanan ayun tangannya, kontan laki-laki sebelah kiri menjerit ngeri, dadanya tertancap oleh sebilah belati, menyusul laki-laki sebelah kanan mendorongnya minggir, dengan cepat ia sendiri lantas menerobos ke dalam lubang itu disusul oleh yang lain-lain secara dorong-mendorong dan tarik-menarik, masing-masing sama berebut menyelamatkan diri lebih dulu.

Maklumlah, jalan keluar gua itu sudah tersumbat buntu, kini tinggal sebuah lubang penyelamat saja dan tiada jalan keluar lain, dengan sendirinya setiap orang ingin berusaha keluar lebih dulu dari gua maut itu. Biarpun di dinding gua itu terukir berbagai ilmu pedang yang bagus, tapi kalau mati konyol di dalam gua, betapa pun bagusnya ilmu silat itu juga tiada gunanya.

Tiba-tiba ada orang menjerit kaget, “Tulang orang mati! Tulang orang mati!”

Menyusul tangan seorang mengacungkan sekerat tulang paha orang mati, dalam keadaan remang-remang tampaknya menjadi seram dan mendirikan bulu roma.

Karena kehilangan Ing-ing, Lenghou Tiong sedang cemas dan khawatir, ketika mendengar teriakan orang itu, ia tahu tulang itu adalah kerangka tulang gembong-gembong Mo-kau yang mati di dalam gua itu. Terkilas suatu pikiran dalam benaknya, “Kesepuluh tokoh Mo-kau itu sia-sia saja memiliki ilmu silat setinggi langit, nyatanya mereka juga terjebak dan terkubur di dalam gua ini, jangan-jangan nasib buruk demikian juga akan menimpa diriku dan Ing-ing sekarang? Bila kejadian ini memang sengaja diatur oleh suhuku, maka jadinya benar-benar sangat berbahaya.”

Dilihatnya orang banyak sedang berdesakan di mulut lorong, saking gelisahnya mendadak timbul pikiran membunuh dalam benak Lenghou Tiong, pikirnya, “Orang-orang ini hanya menghalang-halangi saja, mereka harus dibinasakan semua barulah aku dan Ing-ing dapat lolos dengan selamat.”

Segera ia pegang pedang dan bermaksud membunuh orang yang paling dekat di sebelahnya, tiba-tiba dilihatnya seorang pemuda menjambak-jambak rambut sendiri dengan badan gemetar dan muka pucat, tampaknya ketakutan setengah mati, seketika timbul pula rasa kasihan dalam benak Lenghou Tiong, pikirnya, “Aku dan dia adalah kawan senasib yang terjebak oleh perangkap musuh, seharusnya aku bahu-membahu bersama dia untuk mencari jalan keluar, mana boleh aku membunuh dia untuk mencari selamat sendiri?”

Karena itu pedang yang sudah dilolos setengah itu segera dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Dalam pada itu terdengar orang-orang itu sedang berteriak-teriak, “Hayo, lekas masuk ke sana, lekas!”

“He, kenapa diam saja, lekas merangkak ke depan!”

Lalu beberapa orang yang tidak sabar lantas mencaci maki, “Keparat, kenapa diam saja, apa kau sudah mampus di situ?”

“Tarik saja, tarik kembali saja!”

Ternyata laki-laki kekar tadi belum lagi menerobos masuk lubang lorong sejak tadi, kedua kakinya masih ketinggalan di sebelah kiri, agaknya dia juga menghadapi jalan buntu di sebelah sana, hanya saja tidak mau mundur kembali.

Dua orang yang berteriak-teriak tadi benar-benar tidak sabar lagi, mereka masing-masing membetot sebelah kaki laki-laki itu terus ditarik sekuatnya. Mendadak berpuluh orang menjerit berbareng, yang terbetot kembali ternyata sesosok tubuh yang sudah tak berkepala lagi, pada leher tubuh tak berkepala itu masih menyemburkan darah segar, kepala laki-laki kekar itu ternyata sudah dipenggal orang di dalam lorong sana.

Pada saat itulah Lenghou Tiong melihat di sudut gua sana berduduk satu orang, di bawah cahaya obor yang remang-remang samar-samar seperti Ing-ing adanya. Saking girangnya ia terus berlari ke sana, tapi baru beberapa langkah ia lantas tertumbuk pada gerombolan orang banyak. Sekuatnya Lenghou Tiong mendesak dan menghalau, namun keadaan orang-orang itu sudah panik dan kacau, mereka sudah kehilangan pikiran sehat, seperti orang kalap saja mereka menerjang kian-kemari tak menentu, ada yang putar senjatanya menyerang serabutan, ada yang berteriak-teriak seperti orang gila, ada yang bergumul tak mau lepas, ada yang merangkak-rangkak di atas tanah sambil mengerang-erang.

Baru saja Lenghou Tiong melangkah dua-tiga tindak lagi segera kedua kakinya kena dirangkul orang. Ia tabok satu kali di atas kepala orang itu, kontan orang itu menjerit kesakitan, tapi bukannya lepaskan rangkulannya, bahkan memeluk terlebih kencang.

“Lepaskan, kalau tidak segera kubunuh kau!” bentak Lenghou Tiong.

Tapi mendadak betisnya terasa sakit, rupanya digigit orang itu. Terkejut dan gusar pula Lenghou Tiong, dilihatnya keadaan orang-orang itu sudah seperti gila semua, obor di dalam gua semakin sedikit, kini tinggal dua batang obor saja yang masih menyala, malahan tidak dipegang orang, tapi jatuh di tanah.

“Ambil obor itu, ambil obor itu, lekas!” seru Lenghou Tiong.

Namun seorang tojin gemuk terbahak-bahak sambil angkat sebelah kakinya, kontan sebatang obor itu diinjaknya hingga padam. Tanpa pikir lagi Lenghou Tiong lolos pedangnya, sekali tebas ia bikin tubuh orang yang merangkul kedua kakinya itu kutung menjadi dua. Sekonyong-konyong pandangannya menjadi gelap, segala apa tidak tertampak lagi. Rupanya api obor yang terakhir kini pun sudah padam.

Begitu obor padam seluruhnya, suasana dalam gua seketika menjadi sunyi pula, semuanya kebingungan oleh perubahan yang mendadak ini, sekejap kemudian, kembali keributan terjadi, orang-orang itu berteriak-teriak dan menjerit-jerit laksana orang gila semua.

“Keadaan demikian jelas tiada harapan bisa keluar dengan hidup, syukurlah aku dapat mati bersama Ing-ing,” terpikir demikian, daripada takut, sebaliknya Lenghou Tiong menjadi senang malah, ia coba menggeremet maju menuju ke tempat Ing-ing tadi.

Tapi baru beberapa langkah, mendadak dari samping ada orang berlari dan menumbuknya dengan keras. Rupanya tenaga dalam orang itu sangat kuat, tumbukannya keras pula sehingga Lenghou Tiong keseruduk mundur dan hampir jatuh terduduk. Syukur ia masih keburu menahan tubuhnya dan memutar kembali, segera ia merembet lagi ke tempat Ing-ing berduduk tadi. Apa yang terdengar olehnya hanya suara jerit tangis dan bentakan melulu disertai suara nyaring benturan berpuluh senjata.

Dalam keadaan gelap gulita, semua orang menjadi bingung dan gelisah, hampir semuanya sudah setengah gila ingin mencari selamat sendiri-sendiri. Ada yang bisa berpikir panjang dan berhati sabar, tapi menghadapi sambaran senjata orang lain yang setiap saat bisa mampir di atas tubuhnya, maka terpaksa ia pun putar senjata untuk menjaga diri, jalan lain tidak ada kalau ingin selamat.

Dari itu yang terdengar hanya suara benturan senjata yang riuh dan jerit teriak ngeri tak terputus-putus, menyusul ada orang merintih kesakitan dan mencaci maki, terang banyak di antaranya telah terluka oleh serangan ngawur dari kawan sendiri.

Menghadapi keadaan begitu, biarpun ilmu pedang Lenghou Tiong lebih tinggi lagi juga tak berdaya, setiap saat ia pun dapat terluka oleh serangan yang sukar diketahui dari mana datangnya.

Tiba-tiba tergerak pikirannya, segera ia pun lolos pedang dan diputarnya dengan kencang untuk melindungi badan bagian atas, selangkah demi selangkah ia menggeser ke dinding gua, asalkan dinding gua bisa teraba, dengan jalan mepet dinding tentu akan banyak terhindar bahaya-bahaya yang mengancam. Orang yang dilihatnya seperti Ing-ing tadi berduduk di sudut sana, bila merembet dinding ke sana akhirnya tentu dapat bergabung lagi dengan si nona.

Dari tempat berdiri Lenghou Tiong itu ke dinding gua sebenarnya cuma belasan meter saja jaraknya, akan tetapi terhalang oleh lautan senjata itu terpaksa ia harus hati-hati kalau tidak mau lekas masuk kubur.

“Jika mati di bawah pedang seorang tokoh persilatan akan terasa rela dan berharga bagiku, tapi keadaan sekarang dapat mati secara mendadak tanpa diketahui siapa dan bagaimana caranya menyerang, bisa jadi yang membinasakan aku hanyalah seorang keroco kelas kambing dunia persilatan, sungguh, menghadapi keadaan demikian, sekalipun Tokko-tayhiap hidup kembali pasti juga akan mati kutu dan tak berdaya,” demikian pikir Lenghou Tiong.

Teringat kepada Tokko Kiu-pay, itu tokoh yang menciptakan Tokko-kiu-kiam, sembilan gerak tipu ilmu pedang yang mukjizat, seketika pikirannya menjadi terang, “Ya, keadaan sekarang hanya ada dua pilihan, aku terbunuh secara tak jelas siapa pembunuhnya atau aku juga membunuh orang lain secara ngawur. Lebih banyak seorang yang kubunuh berarti mengurangi bahaya yang mengancam jiwaku sendiri.”

Segera ia putar pedangnya, ia mainkan gerak tipu “Boh-ci-sik” (cara mematahkan serangan senjata rahasia) dari Tokko-kiu-kiam, berturut-turut ia menyabet ke kanan-kiri dan muka-belakang.

Gerak pedang “Boh-ci-sik” ini sedemikian tepat dan rapatnya, sekalipun terjadi hujan senjata rahasia juga sukar untuk mengenai tubuhnya.

Begitulah, sekali pedangnya bergerak, kontan beberapa orang di dekatnya menjerit, menyusul pedangnya terasa menusuk tubuh seorang pula, dari suara jeritannya yang tertahan kedengaran adalah suara orang perempuan.

Keruan Lenghou Tiong terkejut, tangannya menjadi lemas dan pedang hampir-hampir terlepas dari cekalan. “Jangan-jangan dia Ing-ing, apa barangkali aku telah membunuh Ing-ing!” demikian hatinya menjadi tidak tenteram. Segera ia berteriak, “Ing-ing, Ing-ing! Apakah kau ini?”

Akan tetapi perempuan itu sudah tak bersuara lagi. Sebenarnya Lenghou Tiong sangat hafal suaranya Ing-ing, apakah jeritan tertahan tadi suara Ing-ing atau bukan mestinya sangat gampang dibedakan. Tapi lantaran suasana di dalam gua sedemikian kacaunya, keadaan hiruk-pikuk dan riuh gemuruh, jeritan perempuan tadi juga sangat perlahan, saking cemasnya ia menjadi rada linglung dan merasa suara itu seperti suaranya Ing-ing.

Ia coba memanggil lagi beberapa kali dan tetap tidak mendapatkan jawaban, ia coba berjongkok untuk meraba lantai. Tak terduga, entah dari mana datangnya, sekonyong-konyong pantatnya kena ditendang orang. Kontan Lenghou Tiong mencelat ke sana, selagi tubuhnya terapung di udara, paha kiri terasa kesakitan pula, kembali kena disabet oleh ruyung seorang.

Dengan sebelah tangan mendekap kepalanya, “bluk”, tahu-tahu kepala membentur dinding batu, untung sebelumnya kepalanya telah dilindungi tangan, kalau tidak kepalanya bisa pecah. Walaupun begitu, baik kepala maupun tangan, paha dan pantat, semuanya kesakitan, tulang serasa retak.

Setelah tenangkan diri, kembali ia berseru memanggil, “Ing-ing! Ing-ing!”

Namun tiada sesuatu jawaban, sebaliknya suara sendiri kedengaran sudah serak seakan-akan suara orang merintih dan menangis tak berair mata.

Tak terkatakan rasa cemas dan sedihnya, mendadak ia berteriak, “Aku telah membunuh Ing-ing! Akulah yang membunuh Ing-ing!”

Dengan kalap ia putar pedangnya dan menerjang maju, kontan beberapa orang terguling menjadi korban.

Di tengah suara yang ribut itu, tiba-tiba terdengar suara “creng-creng” dua kali, suara kecapi yang nyaring. Meski suara kecapi itu sangat lirih, tapi dalam pendengaran Lenghou Tiong benar-benar menggetar sukma laksana halilintar menggelegar.

“Ing-ing! Ing-ing!” ia berteriak saking girangnya, karena dorongan hati itu, seketika ia bermaksud menerjang ke arah suara kecapi itu. Tapi segera ia menginsafi bahwa tempat suara kecapi itu jaraknya cukup jauh, untuk mendekati tempat yang berjarak belasan meter itu rasanya jauh lebih berbahaya daripada berkelana beribu-ribu li di dunia Kang-ouw.

Suara kecapi itu terang dipetik oleh Ing-ing. Kalau dia masih selamat, aku sendiri mana boleh menempuh bahaya dan mati konyol, bila kami berdua tak dapat mati bersama secara tangan bergandeng tangan, maka akan menyesal tak terhingga biarpun di akhirat nanti.

Segera Lenghou Tiong mundur dua tindak agar punggung mepet dinding, ia anggap tempat demikian jauh lebih aman daripada berdiri di tempat terbuka. Tiba-tiba terasa angin menyambar, ada orang putar senjata menerjang tiba. Tanpa pikir Lenghou Tiong menusuk dengan pedangnya, tapi baru pedangnya bergerak, ia merasa tindakannya itu keliru.

Maklumlah, letak intisari kelihaian Tokko-kiu-kiam dalam hal mengincar titik kelemahan silat musuh, di situ ada lubang segera dimasuki dan sekaligus mengalahkan lawan. Tapi kini dalam keadaan gelap gulita, tampang musuh saja tidak kelihatan, apalagi gerak serangannya, lebih-lebih mengenai titik kelemahannya, maka Tokko-kiu-kiam menjadi tiada gunanya dalam keadaan demikian.

Untung Lenghou Tiong dapat menyadari keadaan itu dengan cepat, begitu pedang bergerak segera ia mengegos pula ke samping. Benar juga, segera terdengar suara “krak” yang keras, menyusul terdengar suara benturan dan jeritan. Dapat diduga senjata penyerang itu lebih dulu menusuk dinding, senjata patah dan menancap di tubuh sendiri, lalu jatuh tersungkur.

Untuk sejenak Lenghou Tiong tertegun, ia menduga orang itu tentu sudah mati karena tiada mengeluarkan suara lagi. Pikirnya, “Dalam keadaan gelap gulita, betapa pun tinggi ilmu silatku juga tiada bedanya seperti jago silat kelas kambing. Terpaksa aku harus bersabar untuk menunggu kesempatan bergabung dengan Ing-ing.”

Sementara itu, suara sambaran senjata dan teriakan-teriakan sudah mulai banyak berkurang, tentunya dalam waktu singkat itu telah jatuh korban yang tidak sedikit. Ia coba putar pedang di depan untuk menjaga diri kalau-kalau mendadak diserang orang. Dalam pada itu suara kecapi tadi kedengaran timbul lagi lalu lenyap pula tanpa irama, kembali Lenghou Tiong merasa khawatir, jangan-jangan Ing-ing terluka atau pemetik kecapi itu bukan si nona?

Selang agak lama kemudian suara teriakan dan bentakan mulai mereda, hanya di atas lantai tidak sedikit orang yang merintih-rintih dan mencaci maki, terkadang juga masih ada suara benturan senjata dan suara bentakan, semuanya timbul dari tempat yang mepet dinding. Agaknya banyak pula yang berdiri mepet dinding sehingga dapat menyelamatkan diri, tentu orang-orang itu termasuk yang berilmu silat tinggi dan berotak cerdik.

“Ing-ing, di mana kau?” seru Lenghou Tiong.

Terdengar kecapi berbunyi di depan sana seperti memberi jawaban. Tanpa pikir Lenghou Tiong lantas melompat ke sana, ketika kaki kiri menyentuh tanah terasa menginjak sesuatu yang lunak, nyata tubuh seorang telah diinjaknya. Kontan angin tajam menyambar, senjata seorang telah menyerangnya.

Syukur tenaga dalam Lenghou Tiong sangat tinggi, meski tak tampak gaya serangan lawan, tapi dapat diketahui tepat pada waktunya sehingga dia keburu melompat kembali ke tempat semula. Pikirnya, “Di atas lantai penuh berbaring orang, ada yang sudah mati dan ada yang terluka parah, sukar untuk dilintasi begitu saja.”

Terdengar suara angin menyambar kian-kemari, rupanya orang-orang yang berdiri mepet dinding juga sedang memutar senjatanya untuk menjaga diri, dalam sekejap itu kembali ada beberapa orang menggeletak pula mati atau terluka.

Tiba-tiba terdengar suara seorang tua berseru, “Wahai kawan-kawan, dengarkan dulu kata-kataku! Kita terjebak oleh tipu muslihat Gak Put-kun, menghadapi bahaya ini kita harus bersatu untuk mencari selamat, tidak boleh memutar senjata dan saling bunuh sendiri!”

Serentak beberapa orang menanggapi, “Benar! Benar!”

Dari suara-suara itu Lenghou Tiong dapat mendengar orang-orang itu berdiri mepet dinding semua. Rupanya mereka bisa berpikir dengan tenang sehingga tidak menyerang secara ngawur lagi.

“Aku adalah Giok-ciong-cu dari Thay-san-pay,” demikian suara orang tua tadi berseru pula. “Sekarang diharap kawan-kawan simpan kembali senjata masing-masing, sekalipun tertubruk orang dalam kegelapan juga jangan main menyerang. Apakah kawan-kawan dapat memenuhi permintaanku ini?”

Serentak orang banyak menjawab, “Ya, dapat! Memang begitulah seharusnya!”

Lalu tak terdengar lagi suara bergeraknya senjata, menyusul terdengar suara senjata masing-masing dimasukkan ke sarungnya. Sejenak kemudian keadaan menjadi sunyi.

“Sekarang hendaklah kawan-kawan bersumpah bahwa kita takkan saling mencelakai di dalam gua ini, siapa yang melanggar sumpah tentu akan terkubur di sini,” seru Giok-ciong-cu pula. “Sebagai pelopor, aku Giok-ciong-cu dari Thay-san-pay mendahului bersumpah demikian.”

Segera orang-orang lain ikut bersumpah seperti Giok-ciong-cu. Pikir mereka, “Giok-ciong-cu ini sungguh pintar. Kalau kita bersatu padu mungkin masih ada harapan buat lolos dari sini, kalau tidak, tentu semuanya akan mati konyol di sini.”

Begitulah kemudian Giok-ciong-cu berseru pula, “Bagus dan terima kasih, kawan! Sekarang silakan memberitahukan nama masing-masing.”

“Aku si anu dari Heng-san-pay!” demikian seorang mendahului berteriak.

“Cayhe si itu dari Thay-san-pay!”

“Dan aku si ini dari Ko-san-pay!” begitulah masing-masing sama menyebut namanya sendiri-sendiri, ternyata semuanya adalah tokoh-tokoh terkemuka dari ketiga aliran besar itu.

Sesudah semua orang memperkenalkan diri, paling akhir Lenghou Tiong juga berseru, “Cayhe Lenghou Tiong dari Hing-san-pay!”

“Hah, kiranya ketua Hing-san-pay Lenghou-tayhiap juga berada di sini, sungguh baik sekali!” seru para kesatria itu dengan nada gembira dan terhibur.

Dalam kegelapan Lenghou Tiong hanya menyengir saja, pikirnya, “Aku sendiri ikut konyol, apanya yang baik sekali?”

Tapi ia pun paham bahwa para kesatria itu sangat kagum kepada ilmu silatnya yang tinggi, dengan ikut sertanya dia terkurung di situ akan berarti harapan untuk lolos menjadi lebih banyak.

Tiba-tiba Giok-ciong-cu bertanya, “Mohon tanya Lenghou-ciangbun, mengapa Hing-san-pay kalian hanya engkau sendiri yang datang ke sini?”

Rupanya ia menyangsikan Lenghou Tiong akan berbuat apa-apa yang merugikan mereka mengingat Lenghou Tiong berasal dari Hoa-san-pay dan bekas murid kesayangan Gak Put-kun. Apalagi ratusan orang yang terkurung di situ tiada anak murid Hoa-san-pay dan Hing-san-pay kecuali Lenghou Tiong seorang, hal ini mau tak mau menimbulkan curiga.

“Cayhe ada seorang teman…” sampai di sini ia berseru pula, “Ing….” tapi baru satu kata saja segera teringat olehnya bahwa Ing-ing adalah putri kesayangan Yim-kaucu dari Mo-kau yang selama ini dimusuhi oleh golongan lain yang menamakan dirinya cing-pay, maka sebaiknya sekarang jangan menimbulkan gara-gara lagi dalam persoalan ini.

“Adakah di antara kawan-kawan membawa geretan api? Harap nyalakan dulu obor!” seru Giok-ciong-cu.

“Betul, betul!” sorak orang banyak dengan gembira. “Ya, ya, mengapa kita menjadi pikun dan tidak pikirkan hal ini sejak tadi? Hayo lekas nyalakan obor!”

Padahal dalam kekacauan tadi yang terpikir oleh mereka hanya menyelamatkan diri sendiri, siapa yang punya kesempatan untuk menyalakan obor? Sebab begitu meleng tentu akan terbunuh oleh orang lain.

Segera terdengar suara “tek-tik-tek-tik” beberapa kali, ada orang sedang membuat api dengan batu, begitu api menyala, semua orang lantas bersorak gembira.

Sekilas pandang Lenghou Tiong melihat dinding gua itu penuh berdiri orang, semuanya berlepotan darah, ada sebagian masih menghunus senjata, rupanya orang-orang ini lebih suka berhati-hati daripada ambil risiko dibunuh orang, biarpun semua orang sudah bersumpah, tapi lebih baik menjaga segala kemungkinan.

Lenghou Tiong melangkah ke dinding sebelah depan sana dengan maksud hendak mencari Ing-ing.

Pada saat itulah di tengah orang banyak itu mendadak ada orang membentak, “Mulai!”

Berbareng itu beberapa orang berpedang lantas menyerbu dari lorong gua sana.

“Hai, siapa itu?” teriak para kesatria sambil melolos senjata untuk melawan. Hanya beberapa gebrak saja keadaan kembali gelap gulita, api yang menyala tadi telah padam lagi.

Dengan suatu lompatan kilat Lenghou Tiong melayang ke dinding di depan sana, terasa dari sebelah kanan ada senjata menyerang tiba. Dalam kegelapan sukar untuk menangkis, terpaksa ia mendekam ke bawah.

“Trang”, golok membacok di dinding.

Ia pikir penyerang itu belum tentu akan menyerangnya dengan sungguh-sungguh, tapi mungkin hanya untuk menjaga diri saja karena dia sendiri mendadak melompat tiba. Maka untuk sejenak ia mendekam di bawah tanpa bergerak. Setelah membacok beberapa kali tidak kena sasarannya, lalu orang itu pun berhenti.

Tiba-tiba terdengar pula seorang berseru memberi aba-aba, “Mampuskan semua kawanan anjing itu, satu pun jangan diberi hidup!”

Menyusul belasan suara mengiakan.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO, menyembuhkan kanker prostat)

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: