Hina Kelana: Bab 134. Menyusuri Jejak Musuh

Oleh Jin Yong

“Kutanya dia pula mengapa tidak mau bertemu dengan suaminya, dia bilang suaminya adalah manusia paling tidak berperasaan di dunia ini, orang yang paling doyan perempuan, biarpun bertemu kembali juga tiada gunanya.”

Mendadak Put-kay berteriak satu kali, segera ia putar tubuh hendak lari pergi. Namun Lenghou Tiong keburu menariknya dan membisikinya, “Akan kuajarkan suatu akal bagus padamu, tanggung dia takkan dapat melarikan diri.”

Put-kay terkejut dan bergirang, ia tertegun sejenak, mendadak ia berlutut dan menyembah beberapa kali kepada Lenghou Tiong sambil berkata, “Lenghou-hengte, o, tidak, Lenghou-ciangbun, Lenghou-kongkong, Lenghou-suhu, kumohon engkau lekas mengajarkan akal bagus itu kepadaku, biarlah aku meng… mengangkat kau sebagai guruku.”

“Ah, mana aku berani, lekas bangun!” sahut Lenghou Tiong dengan menahan geli. Lalu ia menarik bangun Put-kay sambil berbisik di tepi telinganya, “Nanti bila sudah kau turunkan dia dari atas pohon, jangan sekali-kali kau buka tali ringkusannya, lebih-lebih jangan membuka hiat-to yang tertutuk, tapi kau pondong dia ke suatu hotel, sewa satu kamar di situ. Nah, coba kau pikirkan sendiri, dengan cara bagaimana supaya seorang perempuan tidak berani lari keluar hotel?”

Put-kay menjadi bingung, ia garuk-garuk kepala sendiri yang gundul, katanya, “Aku… aku tidak tahu.”

“Gampang saja,” kata Lenghou Tiong. “Belejeti pakaiannya. Dalam keadaan telanjang bulat masakah dia berani lari keluar?”

Put-kay menjadi girang, ia bertepuk tangan dan berseru, “Bagus! Akal bagus! Suhu, budi kebaikanmu….” tidak sampai habis ucapannya, terus saja ia melompat keluar melalui jendela dan lenyaplah dalam sekejap.

“Eh, sungguh aneh kelakuan hwesio gede itu? Mau apa dia pergi secara begitu terburu-buru?” kata Tho-kin-sian.

“Tentu dia kebelet berak, makanya terburu-buru,” kata Tho-kin-sian.

“Tapi kenapa dia menyembah kepada Lenghou-hengte dan memanggil suhu, padanya?” ujar Tho-hoa-sian. “Sudah tua begitu masakah berak saja perlu diajar oleh orang lain?”

“Berak ada sangkut paut apa dengan tua-mudanya usia?” bantah Tho-yap-sian. “Apakah anak umur tiga tahun bisa berak sendiri tanpa diajarkan orang tua?”

Ing-ing tahu pembicaraan keenam orang dogol itu makin lama tentu semakin tak keruan, maka ia lantas memberi isyarat kepada Lenghou Tiong dan meninggalkan rumah makan itu.

“Keenam Tho-heng,” seru Lenghou Tiong sebelum pergi, “biasanya kalian terkenal ahli minum arak tanpa ada tandingan, maka silakan kalian minum sepuas-puasnya di sini, aku sendiri tidak sanggup minum banyak-banyak, terpaksa berangkat lebih dulu.”

Karena dipuji sebagai ahli minum arak, Tho-kok-lak-sian menjadi senang, dalam anggapan mereka bila tidak minum habis beberapa guci rasanya akan berdosa kepada Lenghou Tiong yang telah memujinya. Maka beramai-ramai mereka menjawab, “Ya, kesanggupanmu minum arak tentu saja selisih jauh dengan kami. Baiklah, boleh kau berangkat dahulu, setelah kami kenyang minum segera kami menyusul.”

Lalu seorang lagi berteriak, “Hai, pelayan! Lekas bawakan enam guci arak enak!”

Begitulah, cukup Lenghou Tiong mengucapkan satu kalimat saja sudah dapat menghindarkan diri dari recokan keenam manusia dungu itu.

Setiba di luar rumah makan, dengan menahan tawa Ing-ing berkata kepada Lenghou Tiong, “Kau telah memulihkan hubungan suami istri orang, jasamu sungguh tak terbatas. Hanya saja cara yang kau ajarkan dia rasanya agak… agak….” sampai di sini mendadak wajahnya menjadi merah dan menunduk jengah.

Lenghou Tiong hanya memandangi si nona dengan tertawa tanpa buka suara.

Setelah keluar kota, sudah sekian jauhnya Lenghou Tiong masih tetap tersenyum saja sambil memandangi Ing-ing.

“Melihat apa? Apakah tidak kenal lagi padaku?” omel si nona.

“Aku lagi berpikir, perempuan itu pernah mengerek aku di atas pohon, maka satu dibalas satu, aku pun mengerek dia di atas pohon,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Dia mencukur rambutku, aku balas dia dengan menyuruh suaminya membelejeti dia hingga telanjang bulat, inilah satu lawan satu namanya.”

“Satu lawan satu katamu?” si nona menegas dengan melirik dan tersenyum.

“Ya, semoga Put-kay Taysu tidak sembrono dan tidak main kasar, semoga mereka suami-istri dapat berkumpul kembali dengan bahagia,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Tapi, awas, lain kali bila ketemu lagi dengan perempuan itu tentu kau boleh rasakan pembalasannya.”

“Aku membantu mereka suami-istri berkumpul kembali, dia justru harus berterima kasih padaku,” sahut Lenghou Tiong. Lalu ia pandang beberapa kejap lagi kepada Ing-ing sambil cengar-cengir, sikapnya sangat aneh.

“Apa yang kau tertawakan lagi?” tanya si nona.

“Aku pikir entah apa yang akan dikatakan Put-kay Taysu di dalam kamar hotel nanti,” sahut Lenghou Tiong.

“Tapi mengapa kau memandangi aku saja?” omel Ing-ing. Tiba-tiba ia dapat menangkap maksud Lenghou Tiong. Rupanya pemuda “bergajul” ini sedang membayangkan betapa suasana di kamar hotel di kala Put-kay Hwesio membelejeti pakaian istrinya hingga telanjang bulat. Pikirannya melayang ke kamar hotel, tapi yang dipandang adalah dirinya, maka dapat dibayangkan apa yang terpikir di dalam benak pemuda itu. Seketika wajah Ing-ing menjadi merah, segera ia hendak memukul Lenghou Tiong.

Cepat Lenghou Tiong mengegos, katanya dengan tertawa, “E-eh, bini pukul suami, ini namanya perempuan jahat!”

Pada saat itulah tiba-tiba dari jauh terdengar suara-suara mendesing nyaring perlahan, Ing-ing kenal itu adalah suara suitan penghubung antara sesama anggota Tiau-yang-sin-kau.

Ing-ing memberi tanda kepada Lenghou Tiong dengan beberapa gerak tangan, lalu mengajaknya berlari ke arah datangnya suara suitan tadi.

Tidak jauh, tertampaklah seorang yang berdandan sebagai pelayan restoran berlari datang dari jurusan barat sana. Tempat sekitar situ cukup lapang, tiada tempat baik untuk bersembunyi. Orang itu rada tercengang ketika mendadak kepergok dengan Ing-ing.

Terpaksa orang itu memberi hormat kepada Ing-ing sambil menyapa, “Hu-hiangcu Ih Tiong dari Thian-hong-tong di dalam agama menyampaikan salam hormat kepada Seng-koh. Hidup Kaucu sepanjang masa, merajai Kang-ouw sampai akhir zaman!”

Ing-ing mengangguk. Menyusul tertampak dari arah timur sana muncul pula seorang tua yang pendek kecil, berbaju warna cokelat tua, dandanannya mirip hartawan kampungan. Dengan langkah cepat ia mendekati Ing-ing dan memberi hormat, katanya, “Cin Peng-hui menyampaikan sembah bakti kepada Seng-koh, semoga Seng-koh hidup bahagia.”

“Engkau juga berada di sini, Cin-tianglo?” tanya Ing-ing, ia kenal baik Cin Peng-hui sebagai satu di antara kesepuluh tianglo di dalam agama.

Dengan hormat Cin Peng-hui menjawab, “Hamba ditugaskan Kaucu mencari berita di sekitar sini. Ih-hiangcu, adakah sesuatu berita yang kau peroleh?”

“Lapor Seng-koh dan Cin-tianglo,” tutur Ih Tiong, “pagi ini hamba ketemu dengan rombongan Ko-san-pay yang berjumlah ratusan orang di bawah pimpinan putra Co Leng-tan yang bernama Co Hui-eng, katanya mereka menuju ke Hoa-san.”

“Jadi benar-benar mereka menuju ke Hoa-san?” Cin Peng-hui menegas.

“Ada urusan apa orang-orang Ko-san-pay pergi ke Hoa-san?” sela Ing-ing.

“Menurut berita yang diperoleh Kaucu, kabarnya sejak Gak Put-kun menjabat ketua Ngo-gak-pay lantas ada maksud memusuhi agama kita, akhir-akhir ini tampaknya sedang sibuk menghimpun anak murid dari Ngo-gak-kiam-pay untuk berkumpul di Hoa-san. Melihat gelagatnya ada kemungkinan mereka bermaksud menyerang Hek-bok-keh kita secara besar-besaran,” tutur Cin Peng-hui.

“Betulkah demikian?” ujar Ing-ing, ia merasa sangsi jangan-jangan Cin Peng-hui yang tua dan kecil-kecil licin ini sengaja mengelakkan tanggung jawab, padahal mungkin dia yang memimpin penangkapan anak murid Hing-san-pay. Hanya apa yang dikatakan Ih Tiong tampaknya bukan pura-pura, agaknya di dalam persoalan ini memang ada sesuatu persoalan. Segera Ing-ing berkata pula, “Lenghou-kongcu sendiri adalah ketua Hing-san-pay, mengapa dia tidak tahu-menahu tentang apa yang kau katakan tadi, sungguh aneh.”

“Hamba mendapat keterangan bahwa anak murid Thay-san dan Heng-san-pay sudah menuju ke Hoa-san, hanya pihak Hing-san-pay saja yang belum tampak bergerak,” tutur Cin Peng-hui. “Menurut perintah yang kuterima dari Hiang-cosu kemarin, katanya Pau-tianglo dengan anak buahnya sudah menyusup ke paviliun Hing-san untuk menyelidiki keadaan di sana, hamba diperintahnya menghubunginya di sekitar sini. Kini hamba sedang menunggu berita dari Pau-tianglo.”

Ing-ing saling pandang sekejap dengan Lenghou Tiong dengan rada sangsi, bahwasanya Pau-tianglo menyusup ke Hing-san memang tidak salah, Cin Peng-hui jelas tidak bohong dalam hal ini, lantas apa yang dia katakan tadi apa memang betul semua?

Cin Peng-hui lantas memberi hormat kepada Lenghou Tiong dan minta maaf, “Hamba hanya melaksanakan tugas saja, dari itu mohon Lenghou-ciangbun jangan marah.”

Lenghou Tiong membalas hormat dan berkata, “Tidak lama lagi aku dan Yim-siocia akan menikah….”

Mendengar itu, dengan muka merah Ing-ing sampai berseru kaget, ia tidak menyangka Lenghou Tiong akan mengumumkan hal demikian di depan orang lain, tapi ia pun tidak membantahnya.

Maka Lenghou Tiong lantas melanjutkan, “Karena itu, sebagai orang muda sudah tentu kami ikut bertanggung jawab terhadap perintah bapak mertua sebagaimana sedang dilaksanakan oleh Cin-tianglo sekarang.”

Dengan wajah gembira Cin Peng-hui dan Ih Tiong lantas mengucapkan selamat kepada Ing-ing dan Lenghou Tiong berdua. Dengan jengah Ing-ing berjalan menyingkir ke sana.

Lalu Cin Peng-hui menutur pula, “Sering Hiang-cosu memberi pesan kepada hamba dan Pau-tianglo agar jangan sekali-kali berlaku kasar terhadap anak murid Hing-san-pay, hanya boleh mencari berita saja, dilarang main kekerasan, maka hamba pasti akan menurut perintah dengan taat.”

Sekonyong-konyong di belakang sana suara seorang perempuan menyela dengan tertawa, “Ilmu pedang Lenghou-kongcu tiada tandingannya di dunia ini, bahwa Hiang-cosu suruh kalian jangan main kekerasan sebenarnya adalah demi keselamatan kalian sendiri.”

Waktu Lenghou Tiong memandang ke sana, dari semak-semak pohon sana muncul seorang perempuan, kiranya adalah Na Hong-hong, itu ketua Ngo-tok-kau yang cantik. “Eh, kiranya kau, Na-kaucu!” sapanya.

“Engkau baik-baik, Lenghou-kongcu,” Na Hong-hong juga menyampaikan salam kepada Lenghou Tiong. Habis itu mendadak ia berpaling kepada Cin Peng-hui dan menegur, “Jika kau ingin menyapa padaku lekas silakan, mengapa mesti pakai mengerut kening segala.”

“Ah, mana aku berani,” sahut Peng-hui. Ia tahu sekujur badan perempuan ini penuh benda berbisa, lebih baik jangan direcoki. Segera ia mendekat Ing-ing dan berkata, “Cara bagaimana hamba harus bertindak selanjutnya terhadap urusan di sini, mohon Seng-koh memberi petunjuk.”

“Lakukan saja sesuai perintah Kaucu,” sahut Ing-ing.

Cin Peng-hui mengiakan dengan hormat. Bersama Ih Tiong mereka lantas mohon diri.

Setelah ketua orang itu pergi, Na Hong-hong berkata kepada Lenghou Tiong, “Para nikoh Hing-san-pay telah dibekuk orang, mengapa kalian tidak lekas pergi menolongnya?”

“Kami baru saja menyusul dari Hing-san, sepanjang jalan tidak tampak jejak musuh,” kata Lenghou Tiong.

“Jalan ini bukan jurusan ke Hoa-san, kalian telah kesasar,” ujar Na Hong-hong.

“Ke Hoa-san?” Lenghou Tiong menegas. “Jadi mereka ditawan ke Hoa-san? Kau sendiri melihatnya?”

“Di paviliun Hing-san kemarin aku merasa air teh yang kuminum rada aneh, aku pun diam saja tanpa membongkar rasa curigaku itu, setelah orang-orang lain sama roboh aku pun pura-pura roboh tak sadarkan diri,” tutur Na Hong-hong.

“Ya, memangnya, main racun terhadap Na-kaucu dari Ngo-sian-kau sama saja main kapak dengan tukang kayu,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

Na Hong-hong tertawa senang, katanya, “Keparat-keparat itu memang rada-rada tidak tahu adat bukan?”

“Dan tidak kau balas mereka dengan beberapa cekokan racun pula?” tanya Lenghou Tiong.

“Masakah aku sungkan-sungkan kepada mereka? Tentu saja aku balas mereka secara kontan,” sahut Na Hong-hong. “Eh, ada dua bangsat malah mengira aku benar-benar jatuh pingsan, mereka mendekati aku dan bermaksud main gila dan menggerayangi tubuhku, kontan mereka kubinasakan dengan racun. Sisanya menjadi ketakutan dan tidak berani mendekat, katanya aku sudah mati toh masih penuh racun.”

Habis berkata ia pun tertawa geli.

“Kemudian bagaimana?” tanya Lenghou Tiong.

“Untuk mengetahui permainan apa yang akan mereka lakukan, aku tetap pura-pura tidak sadarkan diri,” tutur Na Hong-hong. “Kemudian kawanan bangsat ini turun dari Kian-seng-hong dengan menculik satu rombongan nikoh cilik, kulihat yang mengepalai kawanan bangsat ini adalah suhumu, Gak-siansing. Lenghou-toako, tampaknya gurumu itu rada-rada tidak beres. Tempo hari waktu engkau menyelamatkan jiwaku di depan Siau-lim-si, jelas gurumu itu berhasrat membunuh kau. Kini engkau menjabat ketua Hing-san-pay, tapi dia malah memimpin anak buahnya datang ke sini dan sekaligus menangkap sekian banyak nikoh bawahanmu, caranya ini bukankah sengaja hendak memusuhi kau?”

Lenghou Tiong tidak menanggapinya, ia tahu Na Hong-hong adalah wanita suku Miau yang pada umumnya berwatak polos, lugu, apa yang ingin dikatakannya segera diucapkan tanpa pikir.

“Melihat perbuatannya itu sungguh aku sangat gemas,” tutur Na Hong-hong pula. “Pada waktu itu juga aku bermaksud meracun dia biar mampus. Tapi kemudian kupikir entah bagaimana pikiranmu terhadap gurumu itu, andaikan perlu mampuskan dia rasanya juga tidak perlu terburu-buru, setiap saat dapat kulaksanakan.”

“Kau selalu mengingat akan diriku, aku harus berterima kasih padamu,” kata Lenghou Tiong.

“Ah, biasa,” ujar Na Hong-hong. “Kudengar pula percakapan mereka bahwa mumpung engkau tiada di atas Hing-san, maka mereka harus lekas-lekas pergi agar tidak kepergok olehmu bila engkau pulang. Tapi ada lagi yang berkata bahwa sayang engkau tiada di Hing-san, kalau ada dan sekaligus engkau ditawan pula, maka bereslah segala urusan. Huh, enak saja mereka bicara!”

“Aku selalu didampingi oleh adikmu ini, rasanya tidaklah gampang jika mereka hendak menangkap diriku,” kata Lenghou Tiong.

Na Hong-hong sangat senang, katanya dengan tertawa, “Boleh dikata beruntung bagi mereka, coba mereka berani mengganggu seujung rambutmu, hm, sedikitnya akan kuracun mampus mereka seratus orang.”

Lalu ia berpaling kepada Ing-ing dan berkata, “Yim-toasiocia, janganlah engkau minum cuka (maksudnya jangan cemburu), aku anggap Lenghou-toako seperti saudara sendiri saja.”

Wajah Ing-ing menjadi merah, ia pun tahu watak Na Hong-hong yang polos itu, dengan tersenyum ia menjawab, “Lenghou-kongcu sendiri sering bicara padaku tentang dirimu, katanya engkau sangat baik padanya.”

“Bagus sekali kalau begitu!” seru Na Hong-hong kegirangan. “Sebenarnya aku khawatir kalau-kalau dia tidak berani menyebut namaku di hadapanmu.”

“Katanya kau pura-pura tak sadarkan diri, tapi mengapa bisa lolos dari cengkeraman mereka?” tanya Ing-ing.

“Lantaran takut kepada tubuhku yang beracun mereka tiada seorang pun yang berani menyentuh diriku,” tutur Na Hong-hong pula. “Ada di antaranya menyarankan agar aku dibacok mati saja dengan golok, ada pula yang mengusulkan membunuh aku dengan senjata rahasia, akan tetapi di mulut mereka bicara demikian, namun tiada seorang pun yang berani turun tangan, lalu beramai-ramai mereka kabur. Aku telah mengikuti jejak rombongan mereka, setelah yakin mereka menuju ke jurusan Hoa-san, segera aku berusaha mencari Lenghou-toako untuk menyampaikan berita penting ini.”

“Sungguh aku harus berterima kasih padamu, kalau tidak ketemu kau, tentu kami akan kecelik menuju ke Hek-bok-keh,” kata Lenghou Tiong. “Sekarang urusan tidak boleh ditunda-tunda lagi, marilah kita lekas menyusul ke Hoa-san.”

Begitulah mereka bertiga lantas membelok ke barat dan melanjutkan perjalanan kilat, tapi sepanjang jalan ternyata tiada menampak sesuatu tanda yang mencurigakan.

Lenghou Tiong dan Ing-ing sama ragu-ragu dan heran, sepantasnya rombongan yang berjumlah ratusan orang sepanjang jalan tentu meninggalkan jejak, mustahil tiada orang yang melihatnya kecuali kalau jalan yang ditempuh bukanlah jalan ini.

Pada hari ketiga, di suatu rumah makan kecil diketemukan empat orang Heng-san-pay, yaitu murid angkatan kedua yang belum pernah ikut hadir dalam pertemuan di Ko-san, maka mereka tidak kenal Lenghou Tiong dan lain-lain, sebaliknya melihat dandanan mereka segera Lenghou Tiong kenal asal-usul mereka dan ternyata tujuan mereka memang pergi ke Hoa-san. Diam-diam Lenghou Tiong mengikuti percakapan mereka. Bahkan melihat kegembiraan mereka itu, agaknya di Hoa-san terdapat banyak harta karun yang sedang menunggu kedatangan mereka untuk mengambilnya.

Terdengar seorang di antaranya berkata, “Syukur Wi-suheng sangat baik hati dan sudi mengirim kabar kepada kita, untung juga kita berada di Holam sehingga masih sempat menyusul ke sana. Sedangkan para suheng dan sute yang berada di Heng-san tentu tidak beruntung seperti kita.”

“Tapi kita juga jangan gembira lebih dahulu, paling penting kita harus menyusul selekasnya ke sana,” demikian seorang lagi menanggapi. “Urusan demikian ini kukira setiap saat bisa terjadi perubahan.”

Lenghou Tiong menjadi sangat ingin tahu ada urusan apa yang begitu menarik sehingga keempat orang itu begitu berhasrat menuju ke Hoa-san secara terburu-buru, tapi keempat orang itu sama sekali tidak menyinggung soal yang dimaksudkan mereka itu.

“Apakah perlu robohkan mereka dengan racun untuk dimintai keterangan?” tanya Na Hong-hong kepada Lenghou Tiong.

Tapi mengingat kebaikan Bok-taysiansing, Lenghou Tiong merasa tidak pantas membikin susah anak muridnya, maka jawabnya, “Kukira kita tidak perlu ganggu mereka, asalkan kita lekas berangkat ke Hoa-san dan tentu akan mengetahui persoalannya.”

Na Hong-hong mengiakan, segera mereka melanjutkan perjalanan mendahului keempat murid Heng-san-pay itu.

Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di kaki gunung Hoa-san. Saat itu hari sudah magrib, namun Lenghou Tiong yang dibesarkan di pegunungan itu sudah tentu sangat hafal keadaan setempat, katanya, “Marilah kita naik ke atas melalui jalan kecil di belakang gunung, tentu takkan ketemu orang lain.”

Hoa-san terkenal paling curam di antara kelima gunung (ngo-gak), jalan kecil di belakang gunung lebih-lebih terjal dan sukar didaki. Syukur ilmu silat ketiga orang sama-sama tinggi, tebing yang terjal bukan rintangan bagi mereka, walaupun begitu ketika mereka mencapai puncak Hoa-san tertinggi sementara itu pun sudah lewat tengah malam.

Lenghou Tiong membawa kedua temannya langsung menuju ke ruangan besar, keadaan di situ ternyata gelap gulita, mereka coba pasang kuping, keadaan pun sunyi senyap. Waktu mendatangi tempat tinggal para murid Hoa-san-pay, di situ juga kosong melompong. Ketika Lenghou Tiong menyalakan geretan api, kamar yang kosong itu penuh debu, beberapa kamar yang diperiksa semuanya serupa, hal ini menandakan anak murid Hoa-san-pay sudah lama tidak pulang ke Hoa-san.

Na Hong-hong menjadi kikuk karena tidak sesuai dengan laporannya, katanya, “Apa barangkali aku tertipu oleh kawanan bangsat itu? Mereka bilang datang ke Hoa-san sini, tapi sebenarnya menuju ke tempat lain?”

Lenghou Tiong juga merasa sangsi dan khawatir, teringat olehnya kejadian menyerbu Siau-lim-si dahulu, waktu itu mereka pun menyerbu tempat kosong, lalu menghadapi bahaya, jangan-jangan Gak Put-kun kembali menggunakan tipu muslihat lama itu? Tapi sekarang mereka hanya bertiga, umpama masuk perangkap juga gampang untuk meloloskan diri, yang dikhawatirkan adalah para anak murid Hing-san-pay itu, jangan-jangan mereka dikurung di suatu tempat yang dirahasiakan dan sukar lagi diketemukan mengingat sudah sekian hari mereka digiring kemari.

“Coba kita memencarkan diri untuk mencarinya, satu jam lagi kita berkumpul kembali di sini,” kata Na Hong-hong.

Lenghou Tiong setuju akan usul itu, ia pikir kepandaian menggunakan racun Na Hong-hong teramat lihai, tentu tiada seorang pun yang sanggup menghadapi dia, tapi ditambahkan pesan pula, “Orang lain tidak kau takuti, tapi bila ketemu guruku hendaklah kau hati-hati terhadap gerak pedangnya yang cepat luar biasa.”

Na Hong-hong menjadi terharu mendengar pesan yang penuh simpatik itu, jawabnya, “Baiklah Toako, aku tahu.”

Lalu ia keluar dari ruangan itu dan memisahkan diri.

Lenghou Tiong bersama Ing-ing memeriksa lagi ke beberapa tempat lain, sampai-sampai tempat tinggal pribadi Gak Put-kun di Thian-kim-kiap juga diselidiki, namun tetap tiada seorang pun diketemukan.

“Keadaan ini sungguh mengherankan,” kata Lenghou Tiong kepada Ing-ing, “biasanya kalau orang-orang Hoa-san-pay kami turun gunung, sedikitnya tertinggal beberapa orang sebagai penjaga rumah, mengapa sekarang tiada seorang pun yang tinggal di sini?”

Paling akhir mereka mendatangi tempat tinggal Gak Leng-sian yang terletak di sebelah Thian-kim-kiap, jadi berdampingan tidak jauh dari tempat tinggal Gak Put-kun.

Sampai di depan pintu, Lenghou Tiong menjadi terharu dan mencucurkan air mata mengenangkan masa kecilnya yang selalu bermain bersama sumoay cilik itu, namun sekarang sang sumoay sudah meninggal untuk selamanya.

Ia coba mendorong pintu, ternyata dipalang dari dalam. Ing-ing lantas melompati pagar dan membuka palang pintu. Mereka masuk ke ruangan dalam dan menyalakan lilin yang terdapat di atas meja. Keadaan ruangan kamar itu pun kosong melompong dan penuh debu, bahkan perabot yang pantas di kamar anak perempuan juga tiada terdapat satu pun. Padahal Siausumoay belum lama menikah dengan Lim-sute, apa barangkali mereka mempunyai kamar pengantin baru lain dan tidak tinggal lagi di sini? Demikian pikir Lenghou Tiong.

Ia coba periksa laci meja, di dalam laci banyak tersimpan mainan anak-anak sebangsa boneka, binatang-binatang kecil dari kayu, gundu, dan lain-lain, itulah mainan yang pernah mereka gunakan dahulu di waktu kecil, semuanya masih tersimpan baik-baik di situ. Lenghou Tiong menjadi pedih teringat kepada masa lalu dan masa kini, siausumoaynya kini sudah berada di alam baka, tanpa terasa ia mencucurkan air mata pula.

Agar Lenghou Tiong tidak lebih berduka, Ing-ing memadamkan api lilin dan mengajaknya keluar. Katanya kemudian, “Engkoh Tiong, di atas Hoa-san ini ada suatu tempat yang besar kepentingannya dalam hidupmu, maukah kau membawa aku ke sana?”

“O, yang kau maksudkan adalah Su-ko-keh (karang dosa),” kata Lenghou Tiong. “Baiklah, marilah kita ke sana.”

Segera ia mendahului jalan di depan dan menuju ke puncak karang, di mana dahulu ia pernah dihukum menyendiri oleh gurunya. Karena jalanan sudah hafal, meski letak puncak itu di belakang gunung dan jaraknya tidak dekat, namun tiada seberapa lama sampailah mereka di situ.

Setiba di atas puncak itu, sambil gandeng tangan Ing-ing berkatalah Lenghou Tiong, “Aku pernah tinggal di gua ini….” baru sekian bicaranya, tiba-tiba terdengar suara “creng-creng” dua kali, dari dalam gua mengumandangkan suara benturan senjata yang nyaring.

Keruan mereka terkejut, cepat mereka memburu ke depan gua, menyusul lantas terdengar jeritan orang, agaknya terluka, mereka kenal suara itu seperti suara Bok-taysiansing dari Heng-san-pay.

“Seperti suara Bok-supek, marilah kita lekas masuk melihatnya,” kata Lenghou Tiong.

Segera mereka melolos senjata dan berlari masuk ke dalam gua. Bagian depan gua tiada terdapat orang, tapi lorong yang menembus ke dalam gua sana tertampak ada cahaya api.

Lantaran mengkhawatirkan keselamatan Bok-taysiansing, tanpa pikir Lenghou Tiong terus melompat ke dalam sana, tapi ia menjadi tertegun dan hati tergetar, tertampak di dalam gua itu terang benderang oleh berpuluh-puluh obor, sedikitnya ada ratusan orang sedang asyik memandangi gerak ilmu silat yang terukir di dinding gua itu. Karena asyik benar perhatian semua orang itu kepada ukiran di dinding sehingga suasana menjadi sunyi senyap.

Ketika mendengar jeritan ngeri Bok-taysiansing tadi, Lenghou Tiong dan Ing-ing membayangkan bila mereka menerjang ke dalam gua, keadaan di dalam gua yang akan mereka saksikan kalau tidak gelap gulita tentu adalah pertarungan mati-matian dan banjir darah. Siapa tahu sekarang keadaan di dalam gua ternyata terang benderang, bahkan penuh berdiri orang dan sedang memandangi ukiran dinding dengan asyiknya.

Bagian belakang gua itu agak luas, meski berdiri ratusan orang masih kelihatan ada tempat luang, hanya saja orang sebanyak itu berdiri bungkam sebagai mayat hidup, tampaknya menjadi seram.

Ing-ing coba berdiri merapat Lenghou Tiong. Melihat air muka si nona rada pucat dan menunjuk rasa takut, perlahan-lahan Lenghou Tiong merangkul pinggangnya.

Dari dandanan ratusan orang yang berbeda-beda itu, sedikit diperhatikan segera dapat diketahui mereka terdiri dari anak murid Ko-san-pay, Thay-san-pay, dan Heng-san-pay. Di antaranya adalah orang tua yang sudah beruban, ada pula orang muda yang masih gagah perkasa. Jelas banyak tokoh-tokoh terkemuka dari ketiga aliran itu pun ikut hadir di sini, hanya anak murid Hoa-san-pay dan Hing-san-pay tidak tampak berada di situ.

Sedikit memikir Lenghou Tiong lantas paham persoalannya. Orang-orang ketiga aliran itu sama-sama sedang memandangi ukiran dinding, tapi mereka berkelompok di antara golongannya sendiri-sendiri, tidak bercampur aduk. Orang Ko-san-pay memandangi gerak ilmu pedang Ko-san-kiam-hoat yang terukir di dinding, begitu pula orang-orang Thay-san-pay dan Heng-san-pay juga asyik mengikuti gerak tipu ilmu silat golongan masing-masing yang terukir itu.

Tiba-tiba Lenghou Tiong ingat kepada percakapan keempat murid Heng-san-pay yang diketemukan di rumah makan kecil dalam perjalanan itu, katanya mereka mendapat berita penting dan buru-buru menyusul ke Hoa-san sini, yang mereka maksudkan tentunya adalah berita tentang diketemukannya ilmu pedang mukjizat yang terukir di dinding gua Hoa-san ini.

Lenghou Tiong coba pandang sekeliling situ, ternyata tiada tampak Bok-taysiansing, di dalam gua juga tiada tanda-tanda baru terjadi pertarungan, akan tetapi suara benturan senjata dan jeritan ngeri tadi sekali-kali bukan salah dengar, jangan-jangan Bok-taysiansing dicelakai di bagian belakang gua sana?

Untuk mencapai jalan belakang gua harus menyusuri orang banyak itu, di antara orang-orang itu hanya orang-orang Heng-san-pay tidak bermusuhan dengan Lenghou Tiong, sedangkan orang-orang Thay-san-pay dan Ko-san-pay besar kemungkinan akan mempersulit padanya. Apalagi kalau Ing-ing dikenali mereka, tentu akan menimbulkan persoalan. Segera ia berkata kepada Ing-ing dengan suara tertahan, “Kau tunggu saja di sini, biar kumasuk ke sana untuk melihatnya.”

Ing-ing mengangguk. Meski suara Lenghou Tiong sangat perlahan, namun dalam suasana yang sunyi senyap itu suaranya tetap terdengar oleh orang lain, serentak beberapa orang menoleh dan melotot padanya. Namun orang-orang itu segera berpaling kembali untuk mengikuti ukiran di dinding pula, agaknya ajaran ilmu silat yang terukir itu besar sekali daya tariknya.

Dengan langkah perlahan Lenghou Tiong menyelinap di tengah orang banyak itu, semula ia pun kebat-kebit, khawatir timbul keonaran, tapi demi teringat bahwa ilmu silat yang terukir itu cukup dipahaminya, betapa pun juga bukan tandingan Tokko-kiu-kiam yang telah diyakinkannya dengan masak, segera semangatnya terbangkit, hatinya menjadi mantap dan melangkah maju dengan tabah.

Sekonyong-konyong terdengar seorang di belakangnya membentak, “Kau bukan murid Ko-san-pay, mengapa kau mengikuti ukiran dinding ini?”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO)

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: