Hina Kelana: Bab 133. Ketololan Tho-kok-lak-sian dan Kedogolan Put-kay Hwesio

Oleh Jin Yong

Betapa pun licik dan licin Yu Siok, tidak urung mukanya menjadi pucat seperti mayat, dengan suara gemetar ia menjawab, “Ter… terima kasih, aku tidak… tidak ingin membacanya!”

“Ah, jangan sungkan-sungkan, baca saja kan tidak apa-apa toh?” ujar Lenghou Tiong dengar tertawa. Berbareng ia tepuk-tepuk dan urut-urut punggung serta pinggang Ing-ing untuk membuka hiat-to si nona yang tertutuk.

Dengan badan gemetar Yu Siok berkata, “Lenghou… Lenghou-kongcu, Leng… Lenghou-tayhiap, engkau… engkau… engkau…” mendadak ia bertekuk lutut dan menyembah, lalu melanjutkan, “Siaujin (hamba) memang pantas dihukum mati, asalkan Seng… Seng-koh dan Ciangbunjin ada perintah, biarpun ke lautan api atau terjun air mendidih juga… juga hamba takkan menolak.”

“Kabarnya Tiau-yang-sin-kau ada obat yang enak sekali, setiap orang yang sudah makan obat itu akan selalu ketagihan,” dengan tertawa Lenghou Tiong meledek.

Berulang-ulang Yu Siok menjura, katanya, “Seng-koh dan Ciangbunjin mahabijaksana, Siaujin mohon ampun dan izinkan Siaujin menebus dosa dengan mengabdi segenap jiwa raga….”

Tiba-tiba Ing-ing melihat Tong-pek-siang-ki masih berdiri sejajar di situ, meski masing-masing orang sudah terkutung sebelah tangannya dan darah masih mengucur, namun tiada sedikit pun rasa gentar tertampak pada wajah mereka.

Ing-ing lantas bertanya, “Apakah kalian suami-istri?”

Tong-pek-siang-ki itu memang terdiri dari laki-perempuan, yang lelaki bernama Ciu Koh-tong, yang perempuan bernama Go Pek-eng, meski kedua orang resminya bukan suami-istri, tapi selama 20-an tahun mereka hidup bersama di dunia Kang-ouw, praktiknya adalah suami-istri.

Maka dengan ketus Ciu Koh-tong menjawab, “Kami telah jatuh di tanganmu, mau dibunuh atau hendak disembelih boleh silakan saja, buat apa banyak bertanya segala?”

Ing-ing sangat suka kepada sifatnya yang angkuh itu, dengan dingin ia berkata pula, “Aku tanya kalian apakah suami-istri bukan?”

“Kami bukan suami-istri nikah, tapi selama 20-an tahun kami hidup lebih bahagia daripada suami-istri resmi,” sahut Go Pek-eng.

“Di antara kalian berdua hanya seorang saja yang jiwanya dapat diampuni,” kata Ing-ing. “Kalian masing-masing sudah cacat sebelah tangan dan akan…” teringat kepada ayah sendiri juga buta sebelah, ia tidak melanjutkan lagi, setelah merandek sejenak barulah menyambung, “Nah, bolehlah kalian turun tangan membunuh salah seorang, sisa seorang lagi boleh pergi dengan bebas.”

“Baik,” seru Tong-pek-siang-ki berbareng, tongkat mereka bergerak, masing-masing mengemplang batok kepala sendiri.

“Nanti dulu!” seru Ing-ing sambil putar pedangnya, “trang-trang” dua kali, tongkat kedua orang kena ditangkis.

“Biar aku membunuh diri saja, Seng-koh sudah menyatakan akan membebaskan kau, kenapa kau tidak mau?” seru Ciu Koh-tong kepada kawannya.

“Aku saja yang mati dan biar kau yang hidup, kenapa mesti berebutan?” sahut Go Pek-eng.

“Bagus, cinta kalian memang teguh sejati, sungguh aku sangat menghargai kalian,” kata Ing-ing. “Nah, kalian tiada satu pun kubunuh, lekas kalian membalut tangan kalian yang buntung itu.”

Girang sekali Tong-pek-siang-ki, cepat mereka membuang tongkat masing-masing dan berusaha membalut tangan pihak lain.

“Tapi ada sesuatu, kalian harus melaksanakannya dengan taat,” kata Ing-ing pula.

Berbareng Tong-pek-siang-ki mengiakan.

“Begini,” kata Ing-ing, “setelah pergi dari sini, kalian harus segera mengadakan upacara nikah secara resmi. Kalian sudah hidup bersama, kalau tidak menikah secara resmi kan….” mestinya ia hendak mengatakan “kan tidak pantas”, tapi lantas teringat dirinya juga sudah sekian lamanya bergaul dengan Lenghou Tiong dan juga belum menikah secara resmi, maka wajahnya menjadi merah jengah.

Tong-pek-siang-ki saling pandang sekejap, lalu keduanya memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.

“Dengan budi luhur Seng-koh kalian telah diampuni, bahkan mengingatkan kepentingan kehidupan kalian,” timbrung Yu Siok yang sok itu. “Sungguh rezeki kalian tidak kecil, memangnya aku sudah tahu Seng-koh sangat baik hati terhadap bawahannya.”

“Kedatangan kalian ke Hing-san ini sebenarnya atas perintah siapa dan ada rencana muslihat apa?” tanya Ing-ing.

“Hamba telah tertipu oleh si keparat anjing Gak Put-kun,” tutur Yu Siok. “Katanya dia mendapat titah Hek-bok-leng dari Yim-kaucu yang menugaskan dia menangkap segenap nikoh Hing-san-pay untuk digiring ke Hek-bok-keh.”

“Katanya usaha kalian berhasil?” tanya Ing-ing. “Sebenarnya bagaimana persoalannya?”

“Ada orang menaruh racun di dalam beberapa buah sumur di atas gunung sini sehingga tidak sedikit nikoh Hing-san-pay yang terbius itu,” tutur Yu Siok. “Banyak juga di antara anggota yang tinggal di paviliun ikut jatuh terbius. Saat ini sudah sebagian digiring menuju ke Hek-bok-keh.”

“Adakah orang-orang yang terbunuh?” tanya Lenghou Tiong.

“Beberapa anggota yang tinggal di paviliun sana telah menjadi korban, tapi… tapi mereka bukan teman Lenghou-tayhiap,” tutur Yu Siok.

Lenghou Tiong manggut-manggut merasa lega.

“Marilah kita turun dari sini,” ajak Ing-ing.

Lenghou Tiong mengiakan sambil menjemput pedang tinggalan Say-po Hwesio tadi, katanya dengan tertawa, “Bila ketemu perempuan galak itu harus coba-coba mengukur tenaganya.”

“Banyak terima kasih atas pengampunan Seng-koh dan Lenghou-tayhiap,” kata Yu Siok yang mengira dirinya tak dipersoalkan lagi.

“Ah, jangan rendah hati,” ujar Ing-ing, sekonyong-konyong pedang pendek di tangan kiri disambitkan “crat”, kontan menancap di dada Yu Siok, manusia yang selama hidupnya suka sok itu seketika melayang jiwanya.

Lenghou Tiong dan Ing-ing lalu turun dari loteng itu, suasana pegunungan sunyi senyap, hanya terdengar suara burung berkicau. Ing-ing mengikik tawa setelah melirik sekejap ke arah Lenghou Tiong.

“Mulai hari ini Lenghou Tiong sudah cukur rambut dan menjadi hwesio, sejak kini sudah meninggalkan khalayak ramai, maka di sinilah kita berpisah,” kata Lenghou Tiong sambil menghela napas.

Ing-ing tahu pemuda itu hanya bergurau saja, tapi karena cintanya yang mendalam, tanpa merasa hatinya tergetar khawatir, katanya, “Engkoh Tiong, janganlah kau bergurau se… secara begini, aku… aku….”

Lenghou Tiong menjadi terharu, ia pura-pura keplak kepala gundul sendiri dan berkata pula, “Tapi karena ada seorang istri cantik jelita demikian, si hwesio terpaksa kembali ke dunia ramai lagi.”

“Cis, marilah kita bicara hal yang penting saja,” omel Ing-ing dengan tertawa. “Menurut Yu Siok tadi, sebagian anak murid Hing-san-pay sudah digiring pergi, bila sampai di Hek-bok-keh tentu sukar untuk menolongnya, bahkan akan merusak hubungan baik antara aku dan Ayah….”

“Ya, bahkan lebih merusak hubungan baik antara aku sebagai menantu dengan bapak mertua,” sambung Lenghou Tiong.

Ing-ing melirik si pemuda, namun hatinya terasa manis sekali.

“Urusan jangan terlambat, marilah kita lekas menyusul ke sana untuk menolong para kawan,” ajak Lenghou Tiong.

“Ya, sapu bersih seluruhnya, jangan diberi sisa agar Ayah tidak tahu,” kata Ing-ing. Sejenak kemudian tiba-tiba ia menghela napas.

Lenghou Tiong dapat memahami perasaannya, sebab urusan sepenting ini tentu tidaklah gampang mengelabui mata telinga Yim Ngo-heng, namun diri sendiri menjabat ketua Hing-san-pay, kini anak buahnya ditawan orang, masakan boleh tinggal diam tanpa menolongnya? Si nona memang sudah bertekad membela pihaknya, sekalipun melawan perintah ayah juga siap sedia.

Mengingat urusannya sudah lanjut begini, segala sesuatu harus ada suatu ketegasan juga, Lenghou Tiong lantas ulur tangan kiri untuk menggenggam erat-erat tangan kanan Ing-ing. Semula si nona hendak meronta, tapi melihat sekitarnya sepi tiada seorang lain pun, akhirnya diam saja membiarkan tangannya dipegang Lenghou Tiong.

“Ing-ing, aku paham perasaanmu,” kata Lenghou Tiong. “Urusan ini tentu akan membikin kalian anak dan ayah berselisih paham, sungguh aku merasa tidak enak di hati.”

“Jika Ayah memikirkan diriku tentu takkan turun tangan terhadap Hing-san-pay,” kata Ing-ing sambil menggeleng perlahan. “Menurut dugaanku, caranya menghadapi kau agaknya tiada bermaksud buruk.”

Seketika Lenghou Tiong dapat menangkap maksud ucapan Ing-ing itu, katanya, “Ya, agaknya ayahmu sengaja menangkap anak buahku sebagai alat pemeras agar aku masuk Tiau-yang-sin-kau.”

“Benar,” ujar Ing-ing. “Sesungguhnya Ayah sangat suka padamu, apalagi kau adalah satu-satunya ahli waris ilmu saktinya.”

“Aku sudah pasti tidak sudi masuk Sin-kau,” kata Lenghou Tiong. “Aku menjadi muak dan ngeri bila mendengar sanjung puji anggota Sin-kau kalian terhadap ayahmu.”

“Ya, aku tahu, makanya aku pun tak pernah membujuk kau masuk menjadi anggota,” kata Ing-ing. “Bila kau masuk Sin-kau, kelak engkau diangkat menjadi kaucu, siang-malam kau akan selalu mendengar ucapan sanjung puji yang membikin risi dirimu itu, maka sifatmu pasti juga akan berubah dan takkan seperti sekarang ini. Contohnya, sejak Ayah pulang kembali ke Hek-bok-keh, pribadinya sudah berubah dengan cepat.”

“Tapi kita pun tak boleh membikin marah pada ayahmu,” ujar Lenghou Tiong, berbareng ia genggam pula tangan kiri si nona, lalu menyambung, “Ing-ing, setelah kita bebaskan anak buah Hing-san-pay, segera kita melangsungkan pernikahan, kita tidak perlu gubris tentang keputusan orang tua, tentang perantara comblang segala. Biarlah kita berdua mengundurkan diri dari dunia persilatan dan hidup mengasingkan diri takkan ikut campur urusan luar, yang kita utamakan melulu bikin anak saja.”

Semula Ing-ing mendengarkan dengan termangu, air mukanya bersemu merah, hatinya girang tak terkatakan. Tapi demi mendengar kata-kata terakhir, ia terkejut, sekuatnya ia meronta dan melepaskan kedua tangannya yang dipegang Lenghou Tiong itu.

“Setelah menjadi suami istri kan mesti punya anak?” dengan tertawa Lenghou Tiong menjelaskan.

“Jika engkau sembarang omong lagi, tiga hari aku takkan bicara dengan kau,” ancam Ing-ing.

Lenghou Tiong cukup kenal watak si nona yang berani berkata berani berbuat, maka terpaksa ia menjawab dengan menyengir, “Baiklah, urusan penting harus kita selesaikan dulu. Marilah kita coba menjenguk ke Kian-seng-hong sana.”

Dengan ginkang yang tinggi mereka lantas mendaki puncak gunung itu. Setiba di sana, ternyata kuil induk tiada seorang pun, tempat tinggal para anak murid juga kosong melompong, isi rumah berserakan di sana-sini, pedang golok juga tercecer tak keruan. Syukur tiada terdapat noda darah, agaknya tidak sampai jatuh korban.

Mereka coba ke paviliun di Thong-hoa-kok, di situ juga tiada seorang pun. Hanya di atas meja masih penuh macam-macam daharan dan arak. Seketika Lenghou Tiong ketagihan minum, tapi mana dia berani minum seceguk sisa arak itu? Katanya, “Perut sudah lapar, marilah kita tangsel perut dulu ke bawah gunung.”

Setiba di bawah gunung hari sudah jauh lewat tengah hari, di suatu rumah makan kecil mereka tangsel perut sekenyangnya. Ing-ing merobek sepotong kain baju Lenghou Tiong untuk membungkus kepalanya yang kelimis itu.

“Ya, harus begini, kalau tidak, wah, jangan-jangan disangka seorang hwesio menculik anak gadis orang,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Begitulah mereka lantas berangkat ke arah Hek-bok-keh dengan cepat. Kira-kira satu jam kemudian, tiba-tiba terdengar di balik gunung sana sayup-sayup ada suara orang membentak dan memaki, waktu mereka berhenti dan mendengarkan dengan cermat, kedengarannya adalah suara Tho-kok-lak-sian.

Cepat mereka menyusul ke arah suara itu, lambat laun suara-suara itu terdengar semakin jelas, memang betul adalah suara Tho-kok-lak-sian.

“Entah keenam mestika hidup ini sedang cekcok dengan siapa?” kata Ing-ing dengan suara tertahan.

Setelah membelok suatu tanah tanjakan, mereka lantas sembunyi di balik pohon, terdengar Tho-kok-lak-sian masih membentak-bentak sambil mengepung satu orang sedang bertempur dengan sengit. Orang itu bergerak dengan cepat luar biasa, hanya tertampak sesosok bayangan menyelinap kian-kemari di antara keenam lawannya. Ketika diperhatikan, kiranya adalah ibu Gi-lim, yaitu si nenek penjaga Sian-kong-si yang pura-pura bisu-tuli itu.

Sejenak kemudian, terdengar suara “plak-plok” beberapa kali, Tho-kin-sian dan Tho-sit-sian lantas berkaok-kaok, nyata masing-masing telah kena ditampar oleh si nenek.

Melihat si nenek, Lenghou Tiong menjadi girang, bisiknya kepada Ing-ing, “Ini namanya bayar kontan keras! Biarlah aku pun cukur bersih rambutnya,”

Segera ia bersiap-siap, bilamana Tho-kok-lak-sian kewalahan ia akan melompat keluar untuk membantu.

Dalam pada itu terdengar suara “plak-plok” berulang-ulang, keenam saudara dogol itu berturut-turut kena digampar oleh nenek itu. Tho-kok-lak-sian sangat murka, maksud mereka hendak memegang kaki dan tangan lawan agar dapat membesetnya menjadi empat potong.

Tapi gerakan si nenek memang cepat sekali laksana bayangan setan, beberapa kali tampaknya Tho-kok-lak-sian hampir berhasil pegang kaki atau tangannya, tapi selalu terpaut satu-dua senti dan si nenek keburu lolos. Habis itu kembali mereka kena tempelengan lagi.

Rupanya si nenek juga sadar akan kelihaian keenam lawannya, ia pun khawatir kehabisan tenaga dan akhirnya bisa tertangkap oleh lawannya.

Tidak lama kemudian, nenek itu merasa sukar memperoleh kemenangan, cepat ia membuka serangan pula “plak-plok-plak-plok”, berturut-turut ia gampar lagi muka empat lawannya, habis itu mendadak ia melompat ke belakang terus melarikan diri.

Gerak larinya benar-benar secepat kilat, hanya dalam sekejap saja sudah berada berpuluh meter jauhnya, biarpun Tho-kok-lak-sian membentak-bentak dan berkaok-kaok, namun sukar untuk menyusulnya.

Sekonyong-konyong Lenghou Tiong melompat keluar dari tempat sembunyinya sambil melintangkan pedang dan membentak, “Lari ke mana?”

Sinar putih berkelebat, segera ujung pedang mengarah leher si nenek.

Karena serangan yang mengarah tempat mematikan itu, si nenek terkejut, dengan sebelah tangan ia coba mencengkeram pedang lawan. Namun Lenghou Tiong lantas miringkan pedangnya ke samping untuk menusuk bahu kanan si nenek. Dalam keadaan tak bisa berkelit lagi, terpaksa si nenek melompat mundur.

Tapi Lenghou Tiong lantas menusuk maju pula sehingga nenek itu terpaksa mundur lagi selangkah. Dengan pedang di tangan, jelas si nenek tak mampu menandinginya. “Sret-sret-sret”, kembali Lenghou Tiong mendesak mundur si nenek beberapa langkah. Kalau dia mau habiskan jiwanya, dengan gampang saja riwayat si nenek bisa ditamatkan.

Melihat itu, Tho-kok-lak-sian bersorak gembira, sementara itu ujung pedang Lenghou Tiong sudah menuding di depan dada si nenek dan membuatnya tak berani bergerak lagi. Pada saat itulah Tho-kok-lak-sian terus memburu maju, empat orang di antaranya serentak memegang kedua kaki dan kedua tangan si nenek terus diangkat ke atas.

“Jangan mencelakai jiwanya!” bentak Lenghou Tiong.

Tapi Tho-hoa-sian masih penasaran, ia tampar sekali muka si nenek.

“Kerek saja dia!” seru Lenghou Tiong.

“Ya, benar, mana talinya?” seru Tho-kin-sian.

Tho-kok-lak-sian tidak satu pun membekal tali, di tengah hutan belukar juga sukar mencari tali, Tho-hoa-sian dan Tho-kan-sian berusaha mencari di sekitar situ, ketika mendadak pegangan mereka rada kendur, segera si nenek meronta melepaskan diri, ia menggelundung di atas tanah terus memberosot pergi.

Baru saja si nenek bermaksud melarikan diri sekencangnya, sekonyong-konyong punggung terasa tertusuk sesuatu yang tajam, terdengar Lenghou Tiong berkata dengan tertawa, “Berhenti!”

Nyata ujung pedangnya telah mengancam punggung si nenek.

Sama sekali si nenek tidak menyangka ilmu pedang Lenghou Tiong bisa sedemikian hebat, ia menjadi gentar dan terpaksa tidak berani bergerak.

Segera Tho-kok-lak-sian memburu maju, enam jari bekerja bersama, masing-masing menutuk satu tempat hiat-to di tubuh si nenek. Sambil meraba pipi yang bengep kena gambaran si nenek tadi segera Tho-kan-sian bermaksud balas menampar.

Lenghou Tiong merasa tidak enak hati bila ibu Gi-lim sampai teraniaya, cepat ia berseru, “Nanti dulu, biarlah kita kerek dia saja di atas pohon.”

Mendengar itu, Tho-kok-lak-sian sangat senang, tanpa disuruh lagi segera mereka mengelotoki kulit batang pohon untuk dipintal menjadi tali. Lalu Lenghou Tiong coba tanya mereka sebab musababnya mereka berkelahi dengan si nenek.

“Kami berenam sedang berak di sini, selagi menguras perut dengan senangnya, tiba-tiba perempuan ini berlari ke sini,” demikian Tho-ki-sian menutur. “Datang-datang perempuan ini terus bertanya, ‘Hai, apakah kalian melihat seorang nikoh cilik?’ – Bicaranya kasar, pula mengganggu isi perut kami yang hampir terkuras bersih….”

Mendengar penuturannya yang menjijikkan itu, Ing-ing mengerut kening dan berjalan menyingkir ke sana.

Dengan tertawa Lenghou Tiong lantas berkata, “Ya, perempuan ini memang tidak kenal sopan santun pergaulan.”

“Sudah tentu kami tidak gubris padanya dan suruh dia lekas enyah,” Tho-ki-sian melanjutkan. “Tapi perempuan ini terus main pukul dan beginilah kami lantas berhantam dengan dia. Coba kalau Lenghou-hengte tidak lekas datang tentu dia sudah lolos.”

“Juga belum tentu mampu lolos dia,” sanggah Tho-hoa-sian. “Kita kan sengaja membiarkan dia lari beberapa langkah, lalu menyusulnya, supaya dia gembira sia-sia.”

“Ya, di bawah tangan Tho-kok-lak-sian tidak pernah terjadi musuh dapat lolos, kami pasti dapat membekuk dia kembali,” sambung Tho-sit-sian.

“Cara kami ini namanya kucing mempermainkan tikus,” Tho-kin-sian menambahkan.

Lenghou Tiong kenal watak mereka yang tidak mau kalah, betapa pun ingin menjaga gengsi. Maka ia pun tidak heran dan malah memuji akan kehebatan mereka.

Dalam pada itu tali sudah selesai dipintal dari kulit pohon, segera kaki dan tangan si nenek ditelikung dan diikat kencang, lalu dikerek di atas pohon.

Dengan pedangnya yang tajam Lenghou Tiong menebang dari atas batang pohon sehingga terpapas sepanjang dua-tiga meter, lalu dengan pedang ia gores beberapa huruf yang berbunyi: “Gentong cuka nomor satu di dunia ini.”

“Lenghou-hengte, mengapa perempuan ini disebut gentong cuka nomor satu di dunia? Apakah kepandaiannya minum cuka sangat hebat?” tanya Tho-kin-sian. “Ah, aku tidak percaya, boleh coba kita lepaskan dia, aku ingin berlomba dengan dia.”

“Minum cuka adalah kata olok-olok,” Lenghou Tiong menerangkan. “Kalian Tho-kok-lak-sian adalah pahlawan yang tiada bandingannya, perempuan itu mana sanggup menandingi kalian, buat apa berlomba apa segala.”

Dasar Tho-kok-lak-sian memang suka dipuji, keruan mereka menjadi senang, dengan tertawa gembira mereka mengiakan.

“Sekarang aku ingin tanya keenam Tho-heng,” kata Lenghou Tiong pula. “Sebenarnya kalian melihat Gi-lim Sumoay atau tidak?”

“Apakah kau maksudkan nikoh cilik jelita dari Hing-san-pay itu?” sahut Tho-ki-sian. “Nikoh cilik itu sih kami tidak lihat, tapi hwesio besar ada dua yang kami lihat.”

“Seorang adalah ayah si nikoh cilik dan satu lagi adalah muridnya,” sambung Tho-kok-lak-sian.

“Di mana mereka sekarang?” tanya Lenghou Tiong.

“Mereka sudah lewat ke sana kira-kira sejam yang lalu,” tutur Tho-yap-sian. “Mereka mengajak kami minum arak di kota depan sana, kami bilang habis berak segera menyusul. Siapa tahu perempuan ini keburu datang dan merecoki kami.”

Tiba-tiba hati Lenghou Tiong tergerak, katanya, “Baiklah, kalian boleh menyusul nanti, biar aku pergi ke sana dahulu.”

Ia tahu Ing-ing suka kepada kebersihan dan tidak ingin berada bersama keenam orang dogol itu, maka cepat ia mengajak Ing-ing berangkat.

“Kau tidak cukur rambut perempuan itu, tentunya karena kau mengingat diri Gi-lim Sumoaymu,” kata Ing-ing dengan tertawa. “Dan balas dendammu jadinya cuma terbalas tiga bagian saja.”

Setelah berjalan belasan li jauhnya, tibalah mereka di suatu kota yang cukup ramai, pada rumah makan kedua dapatlah diketemukan Put-kay Hwesio dan Dian Pek-kong sedang duduk menyanding daharan dan minuman. Melihat Lenghou Tiong dan Ing-ing, kedua orang itu berseru girang, cepat Put-kay menyuruh pelayan menambahkan daharan dan arak.

Ketika Lenghou Tiong tanya mereka ada kejadian apa, Dian Pek-kong lantas menutur, “Karena kejadian yang memalukan di Hing-san itu, aku minta Thaysuhu lekas-lekas pergi saja dari sana.”

Dari uraian Dian Pek-kong itu Lenghou Tiong menarik kesimpulan mereka berdua belum tahu tentang diculiknya anak murid Hing-san-pay. Untuk menyelamatkan anak murid Hing-san-pay tanpa diketahui oleh Yim Ngo-heng, Lenghou Tiong pikir paling baik dirinya turun tangan secara diam-diam bersama Ing-ing, semakin sedikit diketahui orang luar semakin baik.

Maka ia lantas berkata kepada Put-kay, “Taysu, aku ingin minta bantuanmu untuk menyelesaikan sesuatu urusan, apakah kau mau?”

“Mau saja, lekas katakan,” sahut Put-kay.

“Tapi urusan ini perlu dirahasiakan, cucu-muridmu ini sekali-kali tidak boleh ikut campur,” kata Lenghou Tiong.

“Apa susahnya? Akan kusuruh dia menyingkir sejauh mungkin dan dilarang mengganggu urusanku, kan beres segalanya?” ujar Put-kay.

“Baiklah. Sekarang dengarkan, dari sini ke timur sana kira-kira belasan li jauhnya, pada sebatang pohon yang tinggi ada seorang teringkus dan dikerek tinggi di atas….”

“Keparat, kembali perbuatan bangsat piaraan biang anjing lagi,” kontan Put-kay memaki dengan gusar.

Lenghou Tiong meringis tanpa bisa berbuat apa, katanya dalam hati, “Buset, jadi di hadapanku kau memaki aku terang-terangan.”

Tapi ia lantas berkata pula kepada Put-kay, “Orang yang dikerek tinggi di atas pohon itu adalah temanku, aku minta bantuanmu agar pergi ke sana untuk menolongnya.”

“Apa susahnya untuk berbuat demikian?” ujar Put-kay. “Tapi mengapa kau sendiri tidak menolongnya?”

“Terus terang, temanku itu adalah seorang perempuan,” kata Lenghou Tiong dengan sengaja menahan suara sambil mengerotkan mulutnya ke arah Ing-ing, “Aku merasa tidak leluasa karena berada bersama Yim-siocia.”

“Hahahaha!” Put-kay bergelak tertawa. “Ya, ya, tahulah aku! Tentunya kau takut kalau-kalau Yim-toasiocia minum cuka (maksudnya cemburu).”

Ing-ing melotot sekejap kepada mereka berdua. Tapi dengan tertawa Lenghou Tiong berkata pula kepada Put-kay, “Justru perempuan itulah suka cemburuan. Dahulu suaminya cuma memandang sekejap saja kepada seorang nyonya dan memujinya sepatah tentang kecantikan nyonya itu, tapi perempuan itu lantas minggat tanpa pamit, akibatnya membikin susah suaminya mencari ke seluruh pelosok selama belasan tahun dan tetap tidak ketemu.”

Mendengar kata-kata Lenghou Tiong itu, makin melotot pula biji mata Put-kay, napasnya juga memburu, katanya dengan terputus-putus, “Apakah dia… dia… dia….” tapi tak sanggup dilanjutkannya.

“Kabarnya sampai sekarang suaminya masih terus mencarinya dan tetap belum bertemu,” sambung Lenghou Tiong.

Sampai di sini, tertampak Tho-kok-lak-sian naik ke atas loteng rumah makan itu dengan bersenda gurau. Tapi Put-kay seakan-akan tidak melihat kedatangan mereka, kedua tangannya memegang erat-erat lengan Lenghou Tiong dan menegas, “Apakah ben… benar katamu ini?”

“Dia sendiri yang berkata padaku,” sahut Lenghou Tiong. “Katanya, biarpun suaminya berhasil menemukan dia, biarpun berlutut dan menyembah padanya juga dia tak mau berkumpul kembali dengan sang suami. Sebab itulah bila kau melepaskan dia, segera dia akan kabur. Gerak tubuh perempuan itu teramat cepat, hanya sekejap mata saja dia sudah lenyap.”

“Aku pasti takkan… takkan mengedip mata, pasti tidak,” ujar Put-kay.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO yang asli dan Kompor Bio Etanol)

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: