Hina Kelana: Bab 132. Antara Mati dan Hidup

Oleh Jin Yong

Tiba-tiba terdengar di bawah Sian-kong-si itu ada suara orang bicara, cuma jaraknya jauh maka tak jelas terdengar. Selang sejenak, terdengar ada orang mendekati kuil itu.

“Ada orang datang!” seru Lenghou Tiong. Karena seruan ini barulah ia tahu hiat-to bisu yang tertutuk si nenek tadi kiranya sudah terlepas.

Di antara berbagai hiat-to di tubuh manusia, “ah-hiat” atau hiat-to bisu adalah hiat-to yang paling cetek, dasar tenaga dalamnya jauh lebih kuat daripada Ing-ing, maka dia dapat melepaskan diri lebih dulu dari tutukan itu.

Tertampak Ing-ing mengangguk perlahan. Segera Lenghou Tiong bermaksud menggerakkan tangan dan kaki, tapi ternyata belum dapat berkutik. Terpaksa ia berkata dengan suara tertahan, “Mungkin musuh, kita harus lekas melepaskan hiat-to yang tertutuk.”

Kembali Ing-ing mengangguk sambil memasang telinga untuk mendengarkan. Dari suara di bawah itu agaknya ada tujuh atau delapan orang yang telah memasuki Sian-kong-si.

Lenghou Tiong pikir, “Semoga mereka naik ke Sin-coa-kok sebelah sana saja, semakin lama semakin ada harapan aku akan dapat membuka hiat-to sendiri.”

Akan tetapi harapan ternyata bertentangan dengan kenyataan, beberapa orang itu justru menaiki tangga yang menuju ke atas Leng-kui-kok.

Terdengar seorang di antaranya yang bersuara kasar sedang berkata, “Setan saja tidak ada di Sian-kong-si ini, apanya yang mesti dicari?”

Terang itulah suara Siu Siong-lian.

Keruan Lenghou Tiong terkejut dan heran, “Dia? Untuk apa dia mencari ke sini? Masakah gerakan mereka sudah berhasil?”

Menyusul terdengar Say-po Hwesio sedang berkata, “Perintah dari atasan, lebih baik kita menurut saja.”

Sembari bicara beberapa orang itu lantas naik ke tingkat kedua.

Sekuatnya Lenghou Tiong mengerahkan tenaga dalam untuk menerjang hiat-to yang tertutuk, akan tetapi tenaga dalamnya yang utama asalnya diperoleh dari orang lain, meski tenaga dalamnya sangat kuat, namun tidak lama dan tidak dapat digunakan secara leluasa, semakin terburu-buru, semakin macet.

Dalam pada itu terdengar Giam Sam-seng lagi berkata, “Gak-siansing mengatakan bila kita sudah berhasil, beliau akan mengajarkan Pi-sia-kiam-hoat kepada kita, kulihat ucapannya ini sukar dipercaya. Coba pikir, orang yang berjuang ke Hing-san sini tak terhitung banyaknya, kita juga belum berjasa apa-apa, mengapa Gak-siansing melulu berjanji akan menurunkan kiam-hoat itu kepada kita?”

Tengah bicara beberapa orang di antaranya sudah sampai di tingkat ketiga, begitu pintu didorong, segera tertampak Lenghou Tiong dan Ing-ing dikerek di atas belandar dengan kaki tangan tertelikung. Berbareng mereka menjerit kaget tercampur heran.

“He, mengapa Yim-toasiocia berada di sini?” kata si licin Yu Siok. “O, ada lagi seorang hwesio.”

“Siapakah yang berani kurang ajar begini terhadap Yim-toasiocia?” seru Thio-hujin. Segera ia mendekati Ing-ing dan bermaksud melepaskan tali ikatannya.

“Jangan, tunggu dulu, Thio-hujin!” seru Yu Siok.

“Tunggu apa lagi?” tanya Thio-hujin.

“Biar kupikirkan dulu dengan lebih masak,” sahut Yu Siok. “Melihat gelagatnya, tampaknya Yim-siocia diringkus orang sehingga tak bisa berkutik, ini benar-benar aneh bin ajaib.”

“He, ini bukan hwesio, tapi dia adalah… adalah… Lenghou-ciangbun, Lenghou Tiong, Lenghou-kongcu adanya!” tiba-tiba Giok-leng Tojin berseru kaget.

Serentak orang-orang itu berpaling ke arah Lenghou Tiong, maka dia lantas dikenali seketika. Biasanya kedelapan orang itu sangat hormat dan segan terhadap Ing-ing, terhadap Lenghou Tiong juga sangat jeri, maka untuk sekian lamanya mereka hanya saling pandang saja, tiada seorang pun berani mengemukakan pendapat.

Sejenak lagi, mendadak Giam Sam-seng dan Siu Siong-lian bicara berbareng, “Ini dia, kita benar-benar berjasa besar!”

“Benar!” sambung Giok-leng Tojin. “Mereka hanya dapat membekuk beberapa orang nikoh cilik, buat apa? Dapat membekuk ketua Hing-san-pay barulah benar suatu jasa mahabesar.”

Thio-hujin yang telanjur mengulurkan tangan hendak membuka tali ringkusan Ing-ing tadi tidak lantas ditarik kembali tangannya, ia tanya, “Lantas bagaimana?”

Di bawah pengaruh wibawa Ing-ing, kedelapan orang itu merasa segan juga untuk tidak menolong melihat Ing-ing dalam keadaan begitu. Tapi mereka sama-sama mempunyai suatu pikiran pula, “Jika Yim-toasiocia dilepaskan, jangankan Lenghou Tiong tak bisa ditawan, bahkan jiwa kita ini akan segera melayang, lantas bagaimana baiknya?

Dengan cengar-cengir kemudian Yu Siok membuka suara, “Kata peribahasa, hati kecil bukan jantan, tidak kejam bukan laki-laki. Bukan jantan masih boleh juga, tidak menjadi laki-laki rasanya sayang, terlalu sayang!”

“Apakah kau maksudkan kesempatan ini harus kita gunakan untuk bereskan mereka, bunuh orang buat tutup mulut?” tanya Giok-leng Tojin.

“Bukan aku yang mengatakan, kaulah yang berkata demikian,” jawab Yu Siok.

Mendadak dengan suara bengis Thio-hujin menghardik, “Kita semua utang budi kepada Seng-koh, siapa yang berani kurang ajar terhadap beliau, akulah orang pertama yang tidak terima.”

“Bila kau lepaskan dia sekarang, apakah kau sangka dia mau terima kebaikanmu?” kata Siu Siong-lian. “Selain itu apakah dia mau membiarkan kita membekuk Lenghou Tiong?”

“Jelek-jelek kita juga pernah menggabungkan diri ke dalam Hing-san-pay, sekarang kita melawan dan memberontak kepada ketua sendiri, ini namanya khianat!” seru Thio-hujin, berbareng tangannya menjulur lagi hendak membuka ringkusan Ing-ing.

“Tunggu dulu!” bentak Siu Siong-lian dengan suara bengis.

“Kau bicara dengan membentak, memangnya kau hendak menggertak orang?” jawab Thio-hujin dengan gusar.

“Sret”, dengan cepat Siu Siong-lian mengeluarkan goloknya.

Namun gerakan Thio-hujin juga sangat sengit, tahu-tahu dia sudah melolos keluar belatinya, “sret-sret”, tali yang mengikat kaki dan tangan Ing-ing kena dipotong putus. Ia pikir ilmu silat Ing-ing sangat tinggi, semua orang yang berada sekarang ini bukan tandingannya, asalkan tali ringkusannya dilepaskan, biarpun ketujuh orang itu mengerubutnya sekaligus juga tidak perlu gentar.

Dalam pada itu Siu Siong-lian juga tidak tinggal diam, segera goloknya membacok ke arah Thio-hujin. Namun Thio-hujin juga tidak kurang cepatnya, “sret-sret” tiga kali, kontan ia desak Siu Siong-lian melangkah mundur lagi.

Melihat Ing-ing sudah terlepas dari ringkusan tali, orang-orang lain menjadi jeri dan sama mundur ke pinggir, segera mereka bermaksud melarikan diri. Tapi ketika melihat Ing-ing yang menggeletak itu tak bisa berkutik, tidak terus melompat bangun, barulah mereka tahu bahwa hiat-to nona masih tertutuk, serentak mereka melangkah maju lagi.

“Hehe, sebenarnya kita semua adalah sahabat baik, buat apa mesti main senjata segala, kan cuma bikin susah kedua pihak saja?” kata Yu Siok dengan cengar-cengir.

“Kalau hiat-to Nona Yim sudah terbuka, apakah jiwa kita dapat dipertahankan?” teriak Siong-lian. Habis berkata kembali ia menerjang Thio-hujin lagi.

Jangan dikira tubuh Siu Siong-lian itu tinggi besar, senjatanya juga berat, tapi di bawah serangan Thio-hujin dari jarak dekat thauto itu sedikit pun tidak lebih unggul dan berulang-ulang bahkan terdesak mundur.

“E-eh, jangan berkelahi, jangan berkelahi, ada urusan dibicarakan saja dengan baik-baik,” kata Yu Siok sambil tertawa dan mendekati kalangan dengan mengebas-ngebas kipasnya.

“Minggir sana! Jangan mengganggu orang!” bentak Siu Siong-lian.

“Baik, baik!” sahut Yu Siok dengan tetap tertawa, ia putar kembali, tapi sekonyong-konyong kipasnya bekerja, terdengar Thio-hujin menjerit ngeri, tahu-tahu kipas Yu Siok yang gagangnya terbuat dari baja itu telah menancap di tenggorokan nyonya malang itu.

“Ai, ai, sudah kukatakan kita semua adalah kawan sendiri dan buat apa main senjata, tapi kau tetap tidak menurut, bukankah terlalu mementingkan diri sendiri?” kata Yu Siok sambil menarik kipasnya, kontan darah segar menyembur keluar dari leher Thio-hujin.

Apa yang terjadi ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga, Siu Siong-lian melompat mundur dengan terkejut sambil memaki, “Sontoloyo, kiranya anak kura-kura ini membantu aku.”

“Tidak bantu dirimu, apakah mesti bantu orang lain?” sahut Yu Siok dengan tertawa. Ia berpaling dan berkata kepada Ing-ing, “Yim-toasiocia, engkau adalah putri kesayangan Yim-kaucu. Kita semua segan padamu lantaran menghormati ayahmu. Tapi keseganan kita lebih banyak disebabkan kau memegang obat penawar pil maut yang pernah kami makan. Kalau obat pemunah itu diberikan kepada kami, maka Seng-koh macam dirimu menjadi tiada artinya lagi.”

“Benar, benar, ambil obat penawarnya dan bunuh dia!” seru keenam orang lain beramai-ramai.

“Tapi kita harus bersumpah dahulu barang siapa membocorkan peristiwa ini, biarlah dia akan mati membusuk oleh ratusan racun pil maut yang telah dimakannya,” kata Giok-leng Tojin.

Beberapa orang itu sudah tiada pilihan lain kecuali membunuh Ing-ing, cuma mereka memang sangat takut kepada Yim Ngo-heng, bila peristiwa ini diketahui ketua Mo-kau itu, betapa pun luasnya dunia ini rasanya akan sukar mendapatkan tempat sembunyi bagi mereka. Maka tanpa sangsi-sangsi lagi mereka lantas mengangkat sumpah.

Lenghou Tiong tahu bila sumpah mereka itu selesai, tentu Ing-ing akan segera dibunuh mereka. Cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk menerjang beberapa tempat hiat-to yang tertutuk, tapi ternyata tiada sesuatu tanda hiat-to bersangkutan akan lancar kembali. Keruan ia menjadi gelisah.

Ia coba memandang Ing-ing, dilihatnya si nona juga sedang memandangnya dengan penuh rasa mesra, sedikit pun tiada mengunjuk rasa khawatir dan gentar.

Legalah hati Lenghou Tiong, pikirnya, “Biarpun kami berdua akan mati, bahagia juga rasanya jika kami berdua dapat mati bersama pada saat dan tempat yang sama pula.”

“Ayolah, lekas turun tangan,” seru Siu Siong-lian kepada Yu Siok.

“Kukira lebih baik Siu-heng saja yang turun tangan, biasanya Siu-heng terkenal sigap dan tegas menghadapi setiap urusan, maka silakan engkau saja yang turun tangan,” kata Yu Siok.

“Bangsat, kau tidak turun tangan segera kubunuh kau,” damprat Siu Siong-lian.

“Kalau Siu-heng tidak berani, biar kita minta Giam-heng saja yang turun tangan,” ujar Yu Siok dengan tertawa.

“Nenekmu,” Siu Siong-lian memaki pula. “Mengapa aku tidak berani? Soalnya hari ini orang she Siu tidak ingin membunuh orang.”

“Sebenarnya siapa pun yang turun tangan adalah sama saja, kan tidak bakal ada orang yang membocorkan kejadian ini,” kata Giok-leng Tojin.

“Jika begitu, bagaimana kalau Giok-leng Toheng saja yang turun tangan?” ujar Say-po Hwesio.

“Ai, kenapa mesti ogah-ogahan begitu? Jika siapa pun tidak percaya kepada orang lain, marilah kita sama-sama lolos senjata dan berbareng kerjakan senjata kita pada tubuh Yim-toasiocia saja,” seru Giam Sam-seng.

Orang-orang ini adalah manusia jahat dan kejam, tapi juga pengecut. Pada saat menentukan untung-rugi bagi diri sendiri sedapat mungkin mereka ingin mengelakkan tanggung jawab kepada orang lain.

“Nanti dulu,” Yu Siok menyesal pula. “Biar kuambil dulu obat penawarnya.”

“Kenapa kau yang mengambilnya?” kata Siu Siong-lian. “Setelah kau ambil tentu kau akan menggunakan obat pemunah itu sebagai alat pemerasan terhadap teman-teman lain. Biar aku saja yang ambil.”

“Kau yang ambil? Lalu siapa yang percaya kau takkan memeras teman lain?” sahut Yu Siok tak terima.

“Sudahlah, jangan buang-buang waktu lagi!” seru Giok-leng Tojin. “Bila terlalu lama, jangan-jangan dia punya hiat-to terbuka sendiri, kan urusan bisa runyam. Paling perlu binasakan dia dahulu baru nanti membagi obat penawarnya.”

“Sret”, segera Giok-leng mendahului lolos pedang, yang lain beramai-ramai juga lantas siapkan senjata masing-masing dan merubung di sekitar Ing-ing.

Melihat ajal sudah tiba, dengan mata tanpa berkedip Ing-ing memandang Lenghou Tiong, teringat saat-saat bahagia selama berdampingan dengan pemuda itu, tersembul senyuman mesra pada wajahnya.

“Sekarang aku akan menyebut satu-dua-tiga lalu kita turun tangan bersama!” seru Giam Sam-seng. “Nah, mulai! Satu… dua… tiga!”

Begitu kata-kata tiga diucapkan, serentak tujuh bentuk senjata menyambar ke arah tubuh Ing-ing sekaligus. Siapa duga, di tengah gemerlapnya sinar pedang dan golok, ketujuh senjata itu tanpa komando serentak berhenti di depan badan Ing-ing dalam jarak kira-kira belasan senti.

“Pengecut!” omel Siu Siong-lian. “Kenapa tidak diteruskan? Huh, selalu ingin orang lain yang membunuh agar diri sendiri tidak menanggung dosanya.”

“Dan kau sendiri juga kenapa begitu?” jawab Say-po Hwesio. “Golokmu juga berhenti setengah jalan, kenapa tidak hinggap di tubuh Yim-siocia jika kau memang pemberani?”

Kiranya ketujuh orang itu sama-sama punya pikiran busuk, berjiwa licik. Setiap orang mengharapkan orang lain yang membunuh Ing-ing agar senjata sendiri tidak perlu bernoda darah. Soalnya memang tidaklah mudah bila mendadak mereka disuruh membunuh seorang yang selama ini sangat dihormat dan ditakuti seperti Ing-ing.

“Baiklah, kita ulangi kembali!” seru Siu Siong-lian. “Sekali ini kalau ada yang menahan senjata, maka dia adalah bangsat anak lonte, anjing, babi! Nah, aku yang memberi komando. Satu… dua… tiga….”

Belum lagi kata “tiga” disebut, mendadak Lenghou Tiong berseru, “Pi-sia-kiam-hoat!”

Serentak ketujuh orang itu menoleh demi mendengar istilah itu. Ada empat di antaranya lantas tanya berbareng, “Kau bilang apa?”

Memang maksud tujuan kedatangan mereka ini yang diharap tiada lain adalah Pi-sia-kiam-boh, kitab rahasia pelajaran Pi-sia-kiam-hoat.

Bahwasanya Gak Put-kun membutakan Co Leng-tan dengan Pi-sia-kiam-hoat, hal ini telah menggemparkan dunia persilatan, hal ini pula membikin ketujuh orang ini kagum tak terhingga. Maka demi mendengar nama ilmu pedang itu, serentak mereka melenggong.

“Pi-sia-kiam-hoat, ilmu pedang mahaagung. Latih dulu kiam-khi, lalu latih kiam-sin. Khi dan sin sudah kuat, ilmu pedangnya akan sempurna dengan sendirinya. Cara bagaimana menimbulkan kiam-khi (kekuatan pedang), cara bagaimana melahirkan kiam-sin (kesaktian pedang)? Rahasia keajaibannya boleh dicari di dalam kitab ini,” demikian Lenghou Tiong bergumam sendiri pula.

Setiap ia menyebut satu kalimat, serentak ketujuh orang itu menggeser langkah ke arahnya, selesai dia menyebut enam-tujuh kalimat, tahu-tahu ketujuh orang itu sudah meninggalkan Ing-ing dan kini sudah mengitari Lenghou Tiong malah.

“Apakah ini… ini yang terdapat di dalam Pi-sia-kiam-boh?” tanya Siu Siong-lian ketika Lenghou Tiong tidak melanjutkan lagi uraiannya.

“Bukan Pi-sia-kiam-boh, memangnya kau kira Sia-pi-kiam-boh?” sahut Lenghou Tiong.

“Coba uraikan lanjutannya,” pinta Siu Siong-lian.

Lenghou Tiong juga tidak menolak, segera ia menyebut lagi dua-tiga kalimat, tapi lantas berhenti.

“Ayo teruskan, teruskan!” desak Say-po Hwesio. Sedangkan Giok-leng Tojin tampak komat-kamit mengulangi kalimat yang disebut Lenghou Tiong itu, agaknya dia sedang menghafalkannya di luar kepala.

Padahal Lenghou Tiong belum pernah membaca isi Pi-sia-kiam-hoat, apa yang dia uraikan itu sama sekali bukan Pi-sia-kiam-hoat segala, melainkan beberapa kalimat kata pengantar Hoa-san-kiam-hoat, hanya saja dia sengaja mengubah beberapa kata-kata di antaranya. Tapi Siu Siong-lian dan lain-lain tidak pernah kenal Hoa-san-kiam-hoat, pula mereka memang sudah keranjingan Pi-sia-kiam-hoat, maka demi mendengar uraian Lenghou Tiong itu, seketika mereka tergila-gila dan ingin mengetahui lebih banyak.

Dengan sengaja Lenghou Tiong menjual murah kembali, ia menyebut lagi beberapa kalimat, sampai di sini ia mulai tahan harga. Ia pura-pura lupa, lalu berlagak mengingat-ingat, tapi tetap tak dapat menutur lebih lanjut.

“Di mana kiam-bohnya?” dengan tidak sabar Say-po Hwesio dan lain bertanya.

“Kiam-bohnya… yang pasti tidak berada padaku,” sahut Lenghou Tiong sambil pura-pura melirik sebagian perut sendiri. Keruan hal ini menimbulkan curiga orang banyak. Serentak dua buah tangan menggerayangi bajunya, yang satu adalah tangan Say-po Hwesio dan yang lain adalah tangan Siu Siong-lian.

Tapi sekonyong-konyong terdengar Say-po Hwesio dan Siu Siong-lian menjerit ngeri, kepala Say-po Hwesio yang gundul itu hancur luluh, otaknya muncrat, sedangkan punggung Siu Siong-lian tertembus pedang, ternyata mereka masing-masing telah kena dibereskan oleh Giam Sam-seng dan Giok-leng Tojin.

“Hm, dengan susah payah kita telah mencari kiam-bohnya, akhirnya diketemukan di sini, tapi kedua anak kura-kura ini bermaksud mengangkanginya, masa di dunia ini ada urusan begini enak?” kata Giam Sam-seng dengan tertawa dingin. Menyusul “blang-blang” dua kali, kontan ia tendang kedua sosok mayat itu hingga mencelat ke pinggir.

Tujuan Lenghou Tiong pura-pura menyebut Pi-sia-kiam-boh tadi adalah karena melihat Ing-ing dalam keadaan bahaya, sedapat mungkin ia mencari akal buat membelokkan perhatian orang-orang itu, dengan demikian dia berharap dapat mengulur waktu, syukur dalam pada itu hiat-to sendiri atau Ing-ing dapat dilancarkan kembali. Tak tersangka akalnya ternyata sangat manjur, bukan saja ketujuh orang itu dapat dipancing meninggalkan Ing-ing, bahkan mereka dipermainkan hingga saling membunuh, tujuh orang ini tinggal lima orang saja, tentu saja Lenghou Tiong sangat senang di dalam hati.

“Sabar dulu,” tiba-tiba Yu Siok menyela lagi. “Apakah kiam-boh ini benar berada pada Lenghou Tiong atau tidak belum tahu dengan pasti, sebab tiada seorang pun di antara kita yang melihatnya, tapi kita sendiri sudah saling ingin membunuh, bukankah akan merugikan….”

Belum habis ucapannya dia sudah dipelototi, Giam Sam-seng menegurnya pula, “Hm, kau anggap kami tidak sabar, kau merasa tidak senang, bukan? Barangkali kau ingin mengangkangi sendiri kiam-boh ini?”

“Mengangkangi sendiri sih tidak berani, siapa yang ingin meniru hwesio gundul yang kepalanya hancur ini, memangnya enak kalau begini?” sahut Yu Siok. “Soalnya kita mempunyai tujuan bersama, kiam-boh yang terkenal di seluruh jagat ini setiap orang tentu ingin melihatnya. Maka apa salahnya kalau kita miliki bersama?”

“Benar,” ujar Tong-pek-siang-ki. “Siapa pun tidak boleh mengangkangi, biarlah kita membacanya bersama nanti.”

Padahal di dalam hati setiap orang sama timbul hasrat untuk mengangkangi sendiri kiam-boh yang termasyhur itu. Soalnya keadaan tidak mengizinkan, asal seorang ingin mengangkangi, empat orang yang lain tentu akan mengerubutnya bersama, maka dapat diramalkan nasibnya pasti akan menuju ke akhirat.

Di antara kelima orang ini, Yu Siok dan Giok-leng Tojin termasuk orang yang lebih cerdik dan dapat berpikir, kedua orang ini mempunyai pikiran yang sama, yakni, “Biarlah aku tidak ikut turun tangan dan cuma tinggal menonton saja, paling baik kalau di antara mereka saling cekcok dan bunuh-membunuh, paling akhir barulah aku turun tangan, dengan demikian aku dapat mengeduk hasilnya dengan mudah.”

Tapi Giam Sam-seng ternyata tidak bodoh, katanya kepada Yu Siok, “Baiklah, biar kau saja yang mengambil kiam-boh itu dari baju orang she Lenghou.”

Namun Yu Siok menggeleng dengan tersenyum, “Tidak usah ya! Aku sekali-kali tidak punya niat mengangkangi sendiri kiam-boh itu, bahkan juga tidak punya hasrat akan membacanya paling dulu. Biar Giam-heng saja mengambilnya, nanti aku cuma numpang baca sedikit saja, rasanya sudah puas bagiku.”

“Jika begitu, kau saja yang mengambilnya,” kata Giam Sam-seng kepada Giok-leng.

“Kukira lebih baik Giam-heng sendiri saja,” jawab Giok-leng Tojin.

Ketika Giam Sam-seng memandang Tong-pek-siang-ki, ternyata kedua orang itu pun menggeleng kepala, suatu tanda mereka pun enggan.

Nyata kelima orang itu cukup menyadari siapa saja yang mengulur tangan ke dalam baju Lenghou Tiong hal ini berarti punggungnya tak terjaga, bila keempat orang lain serentak menyergapnya pasti sukar menyelamatkan diri.

Begitulah dengan suara gusar Giam Sam-seng lantas mengomel, “Hm, apa pikiran kalian berempat anak kura-kura ini memangnya aku tidak tahu? Kalian ingin aku mengambil kiam-bohnya, lalu kalian akan menyergap diriku. Hm, orang she Giam sekali-kali tidak sudi ditipu mentah-mentah. Orang she Yu, kau saja yang mengambilnya.”

Yu Siok mundur dua langkah, katanya dengan tertawa seraya kebas-kebas kipasnya, “Hehe, tidak usah ya…!”

Kelima orang sama tidak mau tertipu, satu sama lain tidak yakin akan dapat menang bila menggunakan kekerasan, maka untuk sekian lamanya mereka hanya saling pandang saja, keadaan menjadi buntu.

Lenghou Tiong khawatir perhatian kelima orang itu beralih pula kepada Ing-ing, maka ia coba membuka suara, “Eh, kalian tidak perlu terburu-buru, biar aku mengingat-ingatnya lagi. O, ya, kalau tidak keliru, beginilah kalimat selanjutnya: Pedang Pi-sia muncul, bunuh bersih habis-habisan, tidak habis makan sendiri… eh, keliru, tidak habis… tidak habis jual lagi… eh, keliru pula. Wah, konyol, isi kiam-boh ini memang terlalu dalam maknanya sehingga sukar dipahami.”

Padahal Lenghou Tiong sengaja mengoceh tak keruan, sebaliknya yang dipikir kelima orang itu hanya mendapatkan kiam-boh melulu, mereka tidak perhatikan ocehan Lenghou Tiong yang ngawur itu, sebaliknya mereka makin getol mendapatkan kitab yang diidam-idamkan itu.

Dengan tak sabar segera Giam Sam-seng mengangkat goloknya, lalu berseru, “Baiklah, biar aku yang mengambil kiam-boh itu dari baju bocah she Lenghou itu. Tapi untuk itu kalian berempat harus menyingkir keluar pintu sebagai jaminan keselamatanku.”

Tong-pek-siang-ki tanpa bicara terus mengundurkan diri keluar. Dengan cengar-cengir Yu Siok juga ikut jejak kedua kawannya itu. Hanya Giok-leng Tojin saja yang merasa sangsi dan cuma mundur dua-tiga langkah.

“Kau pun enyah keluar sana!” bentak Giam Sam-seng.

“Apa-apaan main bentak-bentakan? Memangnya aku gentar padamu? Mau keluar atau tidak kan bergantung padaku, dengan hak apa kau memerintah aku?” jawab Giok-leng dengan gusar. Tapi tidak urung ia pun mengundurkan diri ke luar pintu.

Begitulah dengan mata tanpa berkedip keempat orang itu terus mengawasi gerak-gerik Giam Sam-seng, mereka yakin berada di dalam Leng-kui-kok yang setengah terapung di udara itu tiada jalan lain untuk meloloskan diri kecuali melalui tangga yang menurun ke bawah itu, maka mereka tidak khawatir Giam Sam-seng akan kabur dengan menggondol kiam-boh yang diperolehnya.

Segera Giam Sam-seng berdiri mungkur, membelakangi Lenghou Tiong dan mengawasi keempat orang di luar pintu itu seakan-akan khawatir keempat teman itu serentak menyergapnya berbarengan. Dengan tangan kiri Giam Sam-seng menjulur ke belakang untuk menggagap saku baju Lenghou Tiong.

Akan tetapi meski sudah menggagap sini dan meraba sana, nyatanya tiada sesuatu benda apa pun yang disentuhnya. Ia masih penasaran, ia gunakan mulut untuk menggigit golok, tangan kiri digunakan mencengkeram dada Lenghou Tiong, tangan kanan terus menggagap pula saku pemuda itu.

Di luar dugaan, sedikit tangan kirinya mengeluarkan tenaga, seketika ia merasa tenaga dalam sendiri mengalir keluar melalui tangan kiri sendiri.

Ia terkejut dan lekas-lekas hendak menarik kembali tangannya, namun tangan itu seperti kena lem saja, melekat di tubuh Lenghou Tiong, betapa pun dibetot sukar lagi ditarik kembali.

Keruan ia tambah khawatir dan buru-buru mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk menarik diri. Tapi lebih celaka lagi baginya, semakin kuat dia mengerahkan tenaga, semakin cepat dan deras pula tenaga dalamnya bocor keluar. Semakin dia meronta dengan mati-matian, semakin membanjir keluar tenaga dalamnya laksana air bah yang sukar dibendung.

Ketika Lenghou Tiong terkurung dalam penjara di bawah danau di Hangciu dahulu, tanpa sengaja dia pernah menyedot tenaga dalam Hek-pek-cu dengan Gip-sing-tay-hoat yang baru saja diyakinkannya. Kini pada detik yang berbahaya, kembali disaluri pula oleh tenaga dalam musuh, keruan ia sangat girang. Tapi dia sengaja berkata, “He, kenapa kau pencet nadi dadaku? Lekas lepaskan, biar kuuraikan kunci ilmu pedang itu padamu.”

Lalu ia pura-pura menggerakkan bibir seperti orang sedang bicara.

Melihat demikian, Giok-leng berempat yang siap di luar pintu itu mengira Lenghou Tiong benar-benar sedang menguraikan isi kiam-boh kepada Giam Sam-seng, mereka merasa akan rugi jika tidak ikut mendengarkan. Maka serentak mereka lari ke hadapan Lenghou Tiong.

“Ya, ya, buku itulah kiam-boh yang kau cari, keluarkan saja, biar dibaca orang banyak!” seru Lenghou Tiong sengaja. Padahal tangan Giam Sam-seng sudah melekat pada tubuhnya, mana bisa ditarik keluar.

Namun Giok-leng Tojin menyangka Giam Sam-seng benar-benar telah menemukan kiam-boh yang digagap dalam baju Lenghou Tiong. Disangkanya pula Giam Sam-seng tidak mau mengeluarkan kiam-boh yang ditemukan, tapi ingin mengangkanginya sendiri. Sudah tentu ia tidak tinggal diam, segera ia pun menjulurkan tangan ke dalam baju Lenghou Tiong, kontan tangannya juga lengket, tenaga dalamnya juga mengocor keluar dengan derasnya.

“He, he, kalian berdua jangan berebut, nanti kiam-boh bisa robek dan tak bisa dibaca lagi!” demikian Lenghou Tiong sengaja memberi isyarat, menyusul sinar kuning berkelebat, dua batang tongkat tembaga mengemplang dari atas. Tanpa ampun lagi, kepala Giam Sam-seng dan Giok-leng Tojin pecah berantakan, otak pun berceceran.

Begitu kedua orang itu mati, tenaga dalam mereka pun buyar, kedua tangan mereka yang lekat di tubuh Lenghou Tiong juga lantas terlepas, tergeletaklah mayat mereka berdua.

Sekonyong-konyong Lenghou Tiong mendapatkan saluran tenaga dalam orang, maka hiat-to yang tadinya tertutuk itu kena diterjang hingga tertembus dan lancar kembali seketika.

Betapa hebat tenaga dalam Lenghou Tiong yang sudah ada, sedikit menggunakan tenaga kontan tali yang mengikat tangannya lantas putus sendiri, segera ia pegang gagang pedangnya seraya berkata, “Ini kiam-bohnya berada di sini, siapakah yang mau ambil?”

Rupanya otak Tong-pek-siang-ki kurang cepat kerjanya, mereka belum mengetahui bahwa kedua tangan Lenghou Tiong sudah terlepas dari ringkusan, mereka menjadi girang malah ketika mendengar Lenghou Tiong menawarkan kiam-boh, tanpa pikir mereka terus mengulurkan tangan masing-masing untuk menerimanya.

Tapi mendadak sinar perak menyambar, bukannya kiam-boh yang diserahkan, sebaliknya terdengar suara “crat-cret” dua kali, tangan kanan masing-masing telah tertebas buntung sebatas pergelangan dan jatuh ke lantai. Keruan Tong-pek-siang-ki menjerit ngeri sambil melompat mundur.

Lenghou Tiong lantas mengerahkan tenaga pada kakinya sehingga tali pengikat kaki juga diputuskan, menyusul ia lantas melompat ke depan Ing-ing lalu berkata kepada Yu Siok, “Sekali ilmu pedang sudah manjur, serentak bunuh bersih habis-habisan! Nah, Yu-heng, itulah kalimat kunci Pi-sia-kiam-hoat, kau ingin membaca kiam-bohnya tidak?”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: