Hina Kelana: Bab 131. Rahasia Gi-lim dan Kekonyolan Put-kay Hwesio

Oleh Jin Yong

Ketika mengucapkan kata-katanya tadi, Lenghou Tiong memang tidak pernah berpikir panjang, setelah ditanya balik oleh si nenek barulah ia berpikir mengapa diri sendiri bisa menarik kesimpulan demikian?

Tapi ia lantas menjengek, “Hm, sudah tentu aku tahu, sudah sejak tadi aku tahu.”

Namun dalam hati sebenarnya ia bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Ya, dari mana aku mendapat tahu hal itu? O, ya, tentu disebabkan plakat yang dia gantungkan di leher Put-kay Taysu itu. Pada plakat itu tertulis tuduhan kepada Put-kay sebagai manusia paling tak berperasaan, orang yang paling doyan perempuan, soal ini, selain Put-kay sendiri di dunia ini hanya istrinya saja yang tahu, lain tidak.”

Karena pikiran demikian, segera Lenghou Tiong berseru pula, “Hm, justru kau sendiri masih selalu terkenang kepada manusia yang tidak berperasaan, orang yang paling doyan perempuan sebagai Put-kay, kalau tidak, waktu dia gantung diri hendak cari mampus, kenapa kau potong tali gantungannya? Dia mau menggorok leher sendiri, kenapa kau sembunyikan pisaunya? Huh, manusia yang tak berperasaan, orang yang paling suka main perempuan begitu, biarkan dia mampus saja, buat apa kau urus lagi?”

“Hm, kalau dia mampus secara begitu cepat dan enak, kan terlalu mudah bagi dia,” jengek si nenek.

“Ya, aku tahu, dia harus diperas dulu tenaga dan pikirannya, biarkan dia kelabakan setengah mati mencari dari ujung sini ke pojok sana, dari utara mencari ke selatan, selama berpuluh tahun dia mencarimu, tapi engkau sengaja sembunyi di sini dengan hidup tenang, dengan demikian barulah engkau merasa puas!”

“Memangnya, dengan begitu baru setimpal dengan dosanya,” ujar si nenek. “Dia sudah menikahi aku, kenapa dia menggoda perempuan lain pula?”

“Siapa yang bilang dia menggoda perempuan lain?” tanya Lenghou Tiong. “Orang cuma memandang dan memuji putrimu lalu Put-kay juga memandang dan memuji orang, ini kan lumrah, kenapa dianggap berdosa?”

“Seorang laki-laki kalau sudah beristri, jika dia memandang, mengincar perempuan lain lagi, hal ini dilarang keras,” kata si nenek.

Lenghou Tiong merasa nenek ini benar-benar terlalu aneh, masakah orang pandang-memandang saja menimbulkan rasa cemburunya yang begini hebat. Segera ia berdebat, “Dan kau sendiri sudah menjadi istri orang, mengapa kau pandang laki-laki juga?”

Nenek itu menjadi gusar, sahutnya, “Bilakah aku memandang laki-laki? Ngaco-belo!”

“Bukankah sekarang juga engkau sedang memandang diriku? Memangnya aku bukan laki-laki tulen?” kata Lenghou Tiong. “Padahal Put-kay hanya memandang orang beberapa kejap saja, sebaliknya engkau malah sudah menjambak rambutku, sudah meraba kepalaku, ini berarti telah melanggar larangan suci itu. Untung engkau hanya menyentuh kulit kepalaku saja, tidak meraba wajahku, kalau tidak, pasti engkau akan dihukum berat oleh sang Buddha Koan-im.”

Ia pikir nenek ini jarang bergaul dengan umum, tentu pengetahuannya kurang-kurang, maka perlu digertak supaya dia tidak sembarangan menganiaya diriku, apalagi kalau dia benar-benar memotong barangku yang tidak bisa dicari gantinya ini.

Tapi lantas terdengar nenek itu menjawab, “Hm, untuk memotong kepalamu juga aku tidak perlu menyentuh badanmu.”

“Kalau mau memotong kepalaku, boleh silakan saja lekas!” sahut Lenghou Tiong.

“Hm, ingin kubunuhmu, tidak boleh secepat begini,” ujar si nenek. “Sekarang ada dua jalan bagimu, kau boleh pilih sesukamu. Pertama, kau harus lekas mengawini Gi-lim sebagai istrimu, jangan bikin dia hidup merana dan akhirnya mati sengsara. Sebaliknya kalau kau tetap berlagak tak mau menurut, segera aku kebiri dirimu, biar kau berubah menjadi siluman yang serbakonyol, lelaki bukan, perempuan tidak alias banci. Nah, jika kau tidak mengawini Gi-lim, maka kau takkan mampu kawin dengan perempuan busuk lain yang tidak tahu malu.”

“Gi-lim memang benar seorang nona baik, tapi di dunia ini selain dia masakah semua nona adalah perempuan busuk yang tidak tahu malu?” jawab Lenghou Tiong.

“Kukira begitulah, andaikan baik juga terbatas,” kata si nenek, “Nah, kau mau terima syaratku atau tidak, lekas katakan!”

Sudah belasan tahun si nenek pura-pura tuli dan berlagak bisu, sudah sekian lama tidak pernah bicara sehingga lidahnya sudah rada kaku, kini setelah bicara sebentar barulah ucapannya mulai lancar kembali.

Begitulah Lenghou Tiong lantas menjawab, “Gi-lim Sumoay adalah teman baikku, jika dia tahu engkau memperlakukan aku cara begini tentu dia akan marah.”

“Asal kau menikahi dia sebagai istri, dia tentu akan girang dan segala kemarahan tentu pula akan lenyap,” kata si nenek.

“Dia adalah orang beragama yang saleh, sudah bersumpah takkan menikah, bila sampai pikirannya menyeleweng tentu akan dimarahi sang Buddha.”

“Bila kau menjadi hwesio, tentu tidak cuma dia sendiri saja yang akan dimarahi sang Buddha. Aku telah mencukur rambutmu, memangnya kau kira tiada gunanya?”

Lenghou Tiong terbahak-bahak saking gelinya, katanya, “O, kiranya engkau mencukur rambutku adalah ingin aku menjadi hwesio, lalu mengawini si nikoh cilik. Lakimu dulu berbuat begitu, jadi sekarang kau pun minta aku menjiplak caranya itu? Apakah ini tidak melanggar hak cipta lakimu?”

“Ya, begitulah maksudku, melanggar hak cipta orang atau tidak adalah tanggung jawabku,” sahut si nenek.

“Tapi di dunia ini teramat banyak orang yang berkepala gundul, kepala gundul tidak berarti pasti hwesio, bukan?”

“Soal ini gampang saja, akan kuselomot kepalamu dengan api dupa sehingga terdapat sembilan bekas selomotan api. Kepala gundul memang tidak selalu adalah hwesio, tapi kepala gundul ditambah dengan bekas selomotan api dupa adalah tanda pengenal kaum hwesio, bukan?” Habis berkata segera si nenek hendak mulai “bekerja”.

“Eh, nanti dulu, sebentar lagi,” lekas-lekas Lenghou Tiong mencegah. “Suruh orang menjadi hwesio harus secara sukarela, masa ada cara paksa begini?”

“Hanya ada dua pilihan, menjadi hwesio atau menjadi thaykam (orang kebiri, dayang istana raja),” kata nenek.

Lenghou Tiong menjadi khawatir, kelakuan nenek ini angin-anginan, segala apa mungkin diperbuatnya, paling perlu sekarang harus cari akal untuk mengulur waktu. Maka ia lantas menjawab, “Bila aku dijadikan thaykam, jangan-jangan pada suatu saat mendadak pikiranku berubah dan kepingin mengawini Gi-lim Sumoay, lalu bagaimana? Kan bisa runyam? Hidup kami berdua bukankah akan tersiksa?”

“Orang persilatan seperti kita ini harus blakblakan terhadap sesuatu, bicara tegas, berbuat cepat, mana boleh ragu-ragu dan mencla-mencle. Mau jadi thaykam ya jadi thaykam dan ingin jadi hwesio ya jadi hwesio, seorang laki-laki sejati kenapa harus plinplan seperti kau?”

“Tapi kalau jadi thaykam tak dapat dikatakan lagi sebagai laki-laki sejati,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

“Persetan!” omel si nenek. “Kita sedang bicara urusan penting, bukan lagi bergurau, tahu?”

Lenghou Tiong menyengir. Pikirnya, “Gi-lim Sumoay cantik molek, cintanya juga mendalam terhadapku, bila dia jadi istriku adalah suatu kebahagiaan bagiku. Tapi hatiku sudah lama terisi oleh Ing-ing, mana boleh aku mengingkari dia? Nenek gila ini memaksa aku secara kasar, seorang jantan biarpun mati juga pantang menyerah.”

Karena pikiran demikian segera ia menjawab, “Nenek, coba kau jawab dulu pertanyaanku. Seorang laki-laki yang tidak berperasaan, tidak beriman, suka main perempuan, orang begini baik tidak?”

“Masakah perlu tanya lagi? Orang demikian sudah tentu lebih kotor daripada babi dan anjing, percuma saja menjadi manusia,” jawab si nenek.

“Nah, itu dia,” kata Lenghou Tiong. “Gi-lim Sumoay adalah nona cantik, sangat baik pula padaku, kenapa aku tidak ingin memperistrikan dia? Soalnya sudah lama aku mempunyai ikatan jodoh dengan seorang nona lain. Nona ini telah menanam budi mahabesar atas diriku, seumpama diriku kau cencang hingga hancur luluh juga tidak mungkin aku mengingkari dia. Sebab kalau aku mengingkari dia, bukankah aku akan berubah menjadi manusia tak berperasaan nomor satu di dunia ini, orang yang paling doyan perempuan? Bukankah gelar nomor satu yang diperoleh Put-kay Taysu itu akan kurebut?”

“Nona yang kau maksudkan itu tentunya Yim-toasiocia dari Mo-kau, yaitu nona yang pernah menolongmu waktu kau dikepung anggota Mo-kau dahulu itu, betul bukan?” tanya si nenek.

“Benar, memang dia adanya, engkau sendiri pun sudah melihatnya,” kata Lenghou Tiong.

“Gampang urusannya jika begitu,” ujar si nenek. “Akan kusuruh Nona Yim itu membuang dirimu, anggap saja dia yang mengingkarimu dan bukan kau yang mengingkari dia.”

“Dia pasti takkan mengingkari diriku, dia sudah sudi menyelamatkan aku tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, maka aku pun bersedia berkorban baginya. Aku pasti takkan mengingkari dia dan dia pun pasti takkan mengkhianati aku.”

“Kalau urusan sudah mendesak, kukira ia pun tak bisa berbuat apa-apa,” ujar si nenek lagi. “Di paviliun Hing-san sana banyak sekali laki-laki busuk, boleh dicari salah seorang untuk menjadi suaminya.”

“Ngaco-belo!” damprat Lenghou Tiong dengan gusar.

“Apa kau sangka aku tak bisa melaksanakan hal itu?” tanya si nenek. Segera ia melangkah keluar, terdengar pintu kamar sebelah dibuka, lalu si nenek kembali lagi dengan membawa seorang anak perempuan dengan kaki-tangan terikat telikung, siapa lagi kalau bukan Ing-ing.

Keruan Lenghou Tiong terkejut, sama sekali tak terduga olehnya bahwa Ing-ing juga jatuh dalam cengkeraman si nenek. Tapi ia pun merasa lega ketika melihat keadaan Ing-ing baik-baik saja tanpa terluka apa-apa. “Kau pun berada di sini, Ing-ing!” serunya.

“Ya, aku sudah mendengar seluruh percakapan kalian,” sahut Ing-ing dengan tersenyum. “Engkau menyatakan takkan mengingkari diriku, sungguh aku sangat senang.”

“Di hadapanku tak boleh omong hal-hal yang tidak tahu malu begitu,” bentak si nenek. “Nona cilik, katakan saja terus terang, kau inginkan hwesio atau jadi….”

Muka Ing-ing menjadi merah, jawabnya, “Huh, omonganmu ini benar-benar tidak tahu malu.”

“Ya, aku sudah memikirkan secara cermat, kupercaya bocah Lenghou Tiong ini sukar meninggalkanmu untuk disuruh mengawini Gi-lim,” kata si nenek.

“Bagus! Sejak kau mulai buka mulut, hanya ucapan inilah yang paling baik,” sorak Lenghou Tiong.

“Baiklah, biar aku pun berbuat sesuatu yang lebih baik lagi,” kata si nenek. “Aku mau mengalah sedikit, tapi bikin enak bocah Lenghou Tiong ini. Biarlah dia mengawini kalian berdua sekaligus. Jadi cuma ada dua kemungkinan, dia boleh jadi hwesio saja dan punya dua istri atau menjadi thaykam tanpa istri. Hanya saja sesudah kalian menikah, kau tidak boleh menyakiti anak perempuanku. Kalian dua istri sama-sama derajat, tiada istri pertama atau istri kedua. Namun Gi-lim boleh memanggil cici padamu mengingat usiamu memang lebih tua beberapa tahun.”

“Tapi aku….” baru saja Lenghou Tiong hendak bicara, tahu-tahu si nenek sudah menutuk hiat-to yang membuatnya menjadi bisu.

Menyusul si nenek menekan hiat-to Ing-ing, lalu berkata, “Sekali aku sudah ambil keputusan, maka kalian tiada hak bicara lagi. Hm, masakah kau tidak senang, sekaligus mendapat dua istri yang cantik molek? Coba, bangsat gundul Put-kay itu sungguh tidak becus, anak perempuannya sakit rindu, tapi dia cuma gelisah dan kelabakan saja tanpa berdaya. Sebaliknya aku cuma turun tangan sedikit saja segala urusan lantas beres.”

Habis berkata, segera ia melangkah pergi pula.

Lenghou Tiong dan Ing-ing hanya saling pandang dengan menyengir saja, bicara tidak dapat, hendak memberi isyarat juga tak bisa bergerak.

Sementara itu sang surya baru saja menongol di ufuk timur, sinarnya yang terang memancar masuk melalui jendela. Lenghou Tiong menatap wajah Ing-ing yang cantik menggiurkan itu. Dilihatnya sinar mata si nona sedang menatap pisau cukur yang terlempar di lantai serta botol obat dan kain pembalut yang tertaruh di atas bangku, air mukanya berseri-seri, jelas menandakan nona itu sedang menertawai Lenghou Tiong yang hampir-hampir saja dikebiri.

Tapi segera sorot mata si nona beralih dan menunduk kepala dengan wajah bersemu merah, agaknya ia merasa malu karena urusan begitu tidak pantas diucapkan, bahkan juga tidak pantas dipikirkan.

Melihat wajah si nona yang kikuk malu itu, tanpa terasa hati Lenghou Tiong berguncang, terbayang olehnya, “Coba kalau saat ini tubuhnya dapat bebas bergerak, sebaliknya dia tak bisa berkutik, sungguh aku ingin mendekatinya, memeluk dan menciumnya. Betapa pun dia akan merasa malu toh tak bisa mengelak.”

Dilihatnya sinar mata Ing-ing perlahan menggeser ke arahnya, ketika sinar mata kedua orang kebentrok, cepat Ing-ing berpaling, pipi yang bersemu merah tadi sebenarnya sudah hilang tapi sekarang mendadak timbul lagi.

“Cintaku terhadap Ing-ing adalah suci dan teguh, selamanya takkan berubah,” pikir Lenghou Tiong. “Tapi kalau nenek gila itu memaksa aku menikahi Gi-lim, demi mencari selamat, terpaksa aku menurut untuk sementara, bila dia sudah melepaskan hiat-to dan aku sudah pegang senjata, maka aku takkan gentar lagi padanya. Betapa pun hebat kepandaian nenek jahat ini kalau dibandingkan Co Leng-tan, Yim-kaucu, dan lain-lain tentu masih selisih jauh. Lebih-lebih dalam hal ilmu pedang, tentu tak mampu menandingi aku. Dia unggul dalam hal kegesitan pergi-datang tanpa suara dan melakukan sergapan mendadak. Tapi kalau berkelahi sungguh-sungguh, kuyakin Ing-ing akan dapat mengalahkan dia, bahkan Put-kay Hwesio juga lebih kuat daripada dia.”

Ia termenung-menung sendiri, sekilas dilihatnya Ing-ing juga sedang memandangnya lagi. Cuma sekarang si nona tidak merasa malu-malu lagi, agaknya sudah tidak memikirkan hal thaykam segala. Sorot mata si nona dari wajah Lenghou Tiong beralih ke atas dengan tersenyum simpul, terang Ing-ing sedang menertawai kepalanya yang gundul itu. Jadi tidak berpikir soal thaykam, tapi sekarang menertawakan hwesio.

Lenghou Tiong sendiri ingin tertawa, cuma mulutnya saja entah mengap dan tak dapat mengeluarkan suara. Dilihatnya Ing-ing tambah senang tertawanya, tiba-tiba biji mata si nona tampak mengerling aneh, memperlihatkan air muka yang nakal, berwajah mengejek lalu memicingkan sebelah matanya menyusul memicing sekali lagi.

Sudah tentu Lenghou Tiong tidak tahu apa maksud si nona itu, dilihatnya si nona kembali main mata lagi dua kali. Mau tak mau terpikir olehnya. “Dia mengedip dua kali, apa artinya? Ah tahulah aku, tentu dia sedang mengejek aku yang dipaksa mengawini dua istri.”

Segera ia pun balas main mata dengan memicingkan mata kiri satu kali sambil memperlihatkan sikap yang serius, Maksudnya hendak mengatakan. “Aku cuma kawin denganmu seorang saja, pasti tidak akan ambil istri kedua.”

Tapi Ing-ing tampak menggeleng kepala perlahan sambil mata kiri mengedip satu kali. Ia bermaksud menggeleng kepala sedikit keras untuk menunjukkan tekadnya, cuma seluruh tubuh tertutuk terlalu banyak, sukar mengeluarkan tenaga, terpaksa memperlihatkan sikap dan air muka yang sungguh-sungguh dan setulusnya.

Ing-ing kelihatan mengangguk perlahan, sorot matanya beralih pula ke tempat pisau cukur, lalu perlahan menggeleng lagi. Mungkin maksudnya hendak mengatakan, “Aku tahu tekadmu, tapi harus ingat, jangan-jangan kau akan dikebiri oleh pisau cukur itu.”

Lenghou Tiong tidak memberi reaksi lagi, ia cuma menatap tajam kepada si nona, sinar mata Ing-ing kemudian juga menggeser dan saling pandang dengan dia.

Jarak kedua muda-mudi itu ada dua-tiga meter jauhnya, namun dari pandangan empat mata itu, tiba-tiba pikiran satu sama lain seakan-akan terbaca masing-masing, mereka merasa bicara atau tidak adalah sama saja, yang penting kedua pihak sama-sama memahami perasaan masing-masing, maka mereka tiada sangsi sedikit pun, bukan saja mereka tidak pikirkan lagi apakah Gi-lim harus dikawin atau tidak, bahkan juga tidak penting bagi mereka apakah akan menjadi hwesio atau jadi thaykam, malahan baik hidup atau mati bagi mereka berdua juga tidak menjadi soal, yang pasti mereka berdua sudah bersatu hati, satu perasaan, hal ini sudah puas bagi mereka, saat yang mereka hadapi ini dirasakan seperti sudah kekal, abadi, sekalipun langit runtuh dan bumi ambruk juga takkan merampas saat bahagia demikian ini.

Begitulah kedua orang saling pandang dengan penuh rasa mesra, entah sudah lewat berapa lama lagi tiba-tiba terdengar suara tangga loteng berbunyi, ada orang naik lagi ke atas loteng barulah rasa mesra kedua orang yang tak terperikan itu mulai buyar dan mendusin dari alam bahagia yang tak terbatas itu.

Terdengar suara seorang perempuan muda sedang berkata, “Nenek bisu, untuk apa kau bawa aku ke sini?”

Terang itulah suara Gi-lim.

Lalu terdengar dua orang memasuki kamar sebelah dan duduk, lalu si nenek berkata dengan perlahan, “Jangan lagi kau memanggil aku nenek bisu, aku sama sekali tidak bisu.”

“Hahh, jadi… jadi… engkau tidak… tidak bisu? Engkau sudah sembuh?” seru Gi-lim dengan terkejut.

“Memangnya aku bukan orang bisu,” sahut si nenek.

“Jika begitu kau pun… kau pun tidak tuli, kau… kau dapat mendengar… mendengar ucapanku?” Gi-lim menegas pula, nadanya memperlihatkan rasa kejut dan heran tak terhingga.

“Kenapa kau takut, Nak!” kata si nenek. “Jika aku dapat mendengar ucapanmu kan lebih baik?”

Untuk pertama kalinya Lenghou Tiong mendengar nada ucapan si nenek itu penuh mengandung rasa kasih sayang, hal ini menandakan hati orang tua itu bukanlah batu, nyatanya di depan putri kandung sendiri akhirnya mengalir juga perasaan kasih sayang seorang ibu.

Namun Gi-lim rupanya masih sangat terperanjat, dengan suara rada gemetar ia menjawab, “Ti… tidak, aku… aku akan pergi saja!”

“Nanti dulu, duduklah sebentar lagi,” kata si nenek. “Aku ingin bicara sesuatu hal penting padamu.”

“Tidak, aku… aku tidak mau dengar,” jawab Gi-lim. “Engkau… engkau telah menipu aku, selama ini kusangka engkau tak dapat mendengar, maka…. maka aku bicara macam-macam padamu. Ternyata… ternyata engkau menipu aku.”

Suaranya parau dan terputus-putus, tampaknya hampir menangis.

Perlahan si nenek menepuk bahu Gi-lim, katanya dengan suara halus, “Anak baik, anak manis, jangan khawatir, aku tidak sengaja menipumu, aku hanya khawatir kau jatuh sakit menahan perasaanmu, maka membiarkan kau bicara agar hatimu lebih lapang. Selama aku berada di Hing-san sini selalu menyamar sebagai orang bisu dan tuli, hal ini tidak diketahui oleh siapa pun maka bukan maksudku menipumu saja.”

Gi-lim menangis dengan tersedu-sedu. Dengan suara halus kembali si nenek berkata, “Aku hendak bicara sesuatu urusan bagus padamu, setelah mendengar tentu kau akan girang?”

“Apakah urusan ayahku?” tanya Gi-lim.

“Tentang ayahmu? Huh, peduli dia akan mampus atau hidup,” jengek si nenek. “Yang akan kubicarakan adalah urusan Lenghou-toakomu.”

“Tidak engkau jang… jangan singgung-singgung dia lagi, aku… aku takkan menyinggung dia lagi untuk selanjutnya,” kata Gi-lim dengan suara terputus-putus. “Sudahlah, aku akan pulang untuk sembahyang.”

“Jangan, tunggu dulu, dengarkan uraianku,” kata si nenek. “Lenghou-toakomu bilang padaku bahwa sesungguhnya dalam hati dia sangat menyukaimu, jauh lebih suka padamu daripada Yim-siocia dari Mo-kau, boleh dikata berpuluh kali lipat lebih suka padamu daripada terhadap nona Mo-kau itu.”

Lenghou Tiong memandang sekejap pada Ing-ing, dalam hati ia memaki, “Perempuan tua bangka, pembohong paling besar di dunia ini!”

Dalam pada itu terdengar Gi-lim sedang menghela napas lalu berkata, “Engkau tidak perlu dusta padaku. Ketika mula-mula aku kenal dia, Lenghou-toako hanya menyukai dia punya siausumoay seorang, kemudian sesudah siausumoaynya meninggalkan dia dan kawin dengan orang lain, lalu dia melulu menyukai Yim-siocia saja, cintanya juga kelewat-lewat, dalam lubuk hatinya juga melulu Yim-siocia saja seorang.”

Kembali sinar mata Lenghou Tiong kontak dengan sinar mata Ing-ing, dalam hati kedua orang sama-sama merasakan nikmat dan bahagia sekali.

Terdengar si nenek lagi berkata, “Sebenarnya diam-diam dia sangat menyukaimu, hanya saja kau adalah seorang cut-keh-lang, dia adalah ketua Hing-san-pay pula, maka dia tidak dapat mengutarakan isi hatinya. Tapi kini dia sudah mengambil keputusan, sudah menggantungkan cita-cita, sudah bertekad akan mengawinimu, sebab itulah dia sudah cukur rambut dulu dan menjadi hwesio.”

“Hahhh!” kembali Gi-lim menjerit kaget. “Tidak… tidak bisa jadi! Tidak… tidak boleh jadi! Harap kau suruh… suruh dia jangan menjadi hwesio.”

“Sudah terlambat,” sahut si nenek dengan gegetun. “Kini dia sudah menjadi hwesio. Katanya betapa pun dia harus memperistrikan kau. Kalau gagal, dia akan bunuh diri atau akan menjadi thaykam saja.”

“Menjadi thaykam?” Gi-lim menegas. “Apa thaykam itu?”

Nenek itu menjadi sulit juga untuk menerangkan arti thaykam, ia hanya mendengus, lalu berkata, “Thaykam adalah dayang yang melayani kaisar dan keluarganya, kaum hamba yang tidak terhormat.”

“Tapi Lenghou-toako adalah orang yang tinggi hati, orang yang suka kebebasan, mana dia sudi menjadi pelayan kaisar segala?” ujar Gi-lim. “Kukira menjadi kaisar sekalipun dia tidak mau, jangankan lagi melayani sang kaisar. Maka pasti dia tidak mungkin menjadi thaykam.”

“Menjadi thaykam juga tidak sungguh-sungguh harus melayani kaisar segala, itu cuma perumpamaan saja,” kata si nenek. “Orang yang sudah menjadi thaykam selama hidupnya tak bisa punya anak lagi.”

“Ah, masakah begitu? Aku tidak percaya,” kata Gi-lim. “Kelak bila Lenghou-toako kawin dengan Yim-toasiocia, dengan sendirinya mereka akan punya beberapa anak yang mungil. Mereka berdua sama-sama cakap, putra-putri mereka tentu juga bagus dan menyenangkan.”

Lenghou Tiong coba melirik Ing-ing, dilihatnya kedua belah pipi si nona bersemu merah, di antara rasa malunya terlihat rasa senang yang tak terhingga.

Dalam pada itu agaknya si nenek menjadi gusar, katanya dengan suara keras, “Sekali kukatakan dia tak bisa punya anak, maka pasti dia takkan punya anak. Jangankan anak, beristri juga tidak dapat. Dia sudah bersumpah berat, mau tak mau dia harus mengawini dirimu.”

“Tapi aku tahu dalam hatinya cuma terisi oleh Yim-siocia seorang,” kata Gi-lim.

“Dia sudah mengawini Yim-siocia dan juga mengawinimu, paham tidak?” kata si nenek. “Jadi seluruhnya dia punya dua istri. Lelaki di dunia ini banyak yang punya tiga istri dan beberapa gundik, jangankan cuma dua istri saja.”

“Ah, tidak, tidak bisa,” kata Gi-lim. “Dalam hati seseorang kalau sudah mencintai siapa, maka yang dia pikirkan juga cuma orang itu melulu, pagi dipikir malam terkenang, waktu makan terkenang tatkala tidur juga terkenang, mana bisa dia memikirkan lagi orang kedua. Seperti halnya Ayah, sejak Ibu meninggalkan dia, maka beliau telah menjelajahi segenap pelosok dunia ini untuk mencari Ibu. Di dunia ini masih banyak wanita lain, kalau seorang boleh punya dua istri mengapa Ayah tidak kawin lagi dengan perempuan lain?”

Seketika nenek itu terdiam, agaknya kata-kata Gi-lim itu dirasakan ada benarnya juga. Dia menghela napas, lalu berkata, “Semula ayahmu berbuat salah, mungkin kemudian dia… dia merasa menyesal.”

“Sudahlah, aku akan pulang saja,” kata Gi-lim. “Nenek, bila engkau bicara pada orang lain tentang Lenghou-toako ingin mengawini aku segala, bisa jadi aku tidak… tidak mau hidup lagi.”

“Apa sebabnya? Dia memang ingin mengawinimu, masakah kau tidak suka malah?” tanya si nenek.

“Tidak, tidak!” jawab Gi-lim. “Hatiku senantiasa memikirkan dia, aku selalu berdoa agar dia diberkati hidup bahagia dan gembira, semoga dia bebas dari kesukaran dan lepas dari bencana, biar terkabul cita-citanya menjadi suami-istri dengan Yim-toasiocia. Mungkin engkau tidak paham hatiku, Nenek, yang kuharapkan asalkan hati Lenghou-toako merasa senang, mereka bahagia, maka aku pun akan merasa senang dan bahagia.”

“Jika dia tidak berhasil mengawinimu, maka dia pasti takkan senang dan tidak bahagia, menjadi manusia mungkin juga tiada artinya,” ujar si nenek.

“Ai, semuanya memang salahku, kukira engkau tidak dapat mendengar, maka banyak kuceritakan hal-hal mengenai Lenghou-toako,” kata Gi-lim. “Dia adalah pahlawan besar pada zaman kini, seorang kesatria pujaan, sebaliknya aku cuma seorang nikoh cilik yang tak berarti. Dia pernah bilang padaku bahwa setiap kali ketemu nikoh, bila judi pasti kalah. Melihat aku saja membuatnya sial, mana bisa dia mengawini aku malah? Aku sudah pasrahkan diriku ke dalam agama Buddha, aku harus menghilangkan segala pikiran keduniawian, aku tak dapat memikirkan hal-hal begitu lagi. Nenek, selanjutnya engkau jangan menyinggung-nyinggung lagi, seterusnya aku pun takkan… takkan menemuimu pula.”

Agaknya si nenek menjadi kelabakan, katanya, “Kau budak cilik ini memang aneh dan membingungkan. Lenghou Tiong sudah menjadi hwesio demi dirimu, dia sudah menyatakan harus mengawinimu, bila Buddha marah biarlah dia yang dimarahi.”

Gi-lim menghela napas, sahutnya, “Apakah mungkin dia punya jalan pikiran seperti ayahku? Tentu tidak. Ibuku cantik dan cerdik, perangainya halus orangnya ramah, boleh dikata wanita yang paling baik di dunia ini. Ayahku menjadi hwesio demi ibuku adalah pantas tapi aku… aku sedikit pun tak bisa memadai diri ibuku.”

Diam-diam Lenghou Tiong tertawa geli, pikirnya, “Ibumu cantik cerdik, rasanya kurang tepat, perangainya halus, lebih-lebih tidak sesuai. Dibandingkan dirimu, harus dikatakan sedikit pun ibumu tak bisa memadaimu.”

Dalam pada itu terdengar si nenek lagi bertanya. “Dari mana kau dapat tahu?”

“Tentu saja tahu,” sahut Gi-lim. “Setiap kali Ayah bertemu dengan aku, beliau selalu bercerita tentang kebaikan Ibu, tentang budi pekerti Ibu yang halus, selamanya Ibu tidak pernah marah dan memaki orang, selama hidup Ibu tak pernah menyakiti orang, bahkan seekor semut pun tak pernah terinjak olehnya. Katanya biarpun seluruh wanita baik di dunia ini bergabung menjadi satu juga tak bisa membandingi ibuku seorang.”

“Be… betulkah dia berkata demikian? Ah… mungkin… mungkin pura-pura saja,” kata si nenek dengan suara rada gemetar, suatu tanda perasaannya rada terguncang.

“Sudah tentu betul,” sahut Gi-lim. “Aku adalah anak perempuannya, masakah Ayah mendustai diriku?”

Seketika suasana di Leng-kui-kok itu menjadi sunyi senyap, agaknya nenek itu tenggelam dalam lamunannya.

“Nenek, aku akan pulang,” kata Gi-lim kemudian. “Selanjutnya aku takkan menemui Lenghou-toako lagi, hanya setiap hari aku berdoa semoga Dewi Koan-im suka memberkahi dia.”

Lalu terdengar suara tindakan perlahan turun ke bawah.

Agak lama berselang barulah si nenek seperti tersadar dari impian, terdengar ia bergumam perlahan, “Masakah dia mengatakan aku adalah wanita paling baik di dunia ini? Dia telah menjelajahi segenap pelosok dunia ini untuk mencari aku? Jika begitu, dia bukan lagi manusia yang tak berperasaan, bukan orang yang doyan perempuan?”

Sekonyong-konyong ia berseru keras-keras, “Gi-lim, Gi-lim! Di mana kau?”

Namun Gi-lim sudah pergi jauh. Nenek itu berteriak lagi beberapa kali dan tidak mendapat jawaban, segera ia berlari-lari ke bawah loteng.

Dia lari dengan tergesa-gesa dan cepat, tapi suara tindakannya tetap perlahan sekali, hampir-hampir tak terdengar, suatu tanda ginkangnya memang luar biasa.

Lenghou Tiong saling pandang dengan Ing-ing, seketika macam-macam pikiran berkecamuk dalam benak mereka. Sinar sang surya memancar tiba melalui jendela, pisau cukur yang tajam itu berkelip-kelip kemilauan. Diam-diam Lenghou Tiong merasa bersyukur bahwa bencana yang mengancamnya tadi ternyata telah terhindar secara begitu saja.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio etanol)

Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: