Hina Kelana: Bab 130. Gi-lim Membeberkan Isi Hatinya

Oleh Jin Yong

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu duduknya perkara, pantas Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain begitu giat mengawasi latihan Gi-lim sebagaimana pernah dilihatnya itu, kiranya mereka berharap kelak Gi-lim yang akan mewarisi jabatan ketua Hing-san-pay. Sungguh jerih payah mereka itu harus dipuji dan juga suatu tanda penghormatan mereka terhadap diriku. Demikian pikirnya.

Dengan perasaan hambar Gi-lim lalu berkata pula, “Nenek bisu, sering kukatakan padamu bahwa aku senantiasa terkenang kepada Lenghou-toako, siang terkenang, malam terkenang, mimpi juga selalu mengimpikan dia. Teringat olehku waktu dia menolong diriku tanpa menghiraukan bahaya akan jiwa sendiri. Sesudah dia terluka, kupondong dia melarikan diri. Teringat olehku dia minta aku mendongeng baginya, lebih-lebih sering teringat olehku ketika aku dan dia ti… tidur bersama di suatu ranjang di rumah apa itu di Kota Heng-san, satu selimut kami pakai bersama. Nenek bisu, kutahu engkau tak bisa mendengar, maka aku takkan malu mengatakan hal-hal itu padamu. Jika tak kukatakan, rasanya aku bisa gila. Kubicara denganmu, kupanggil nama Lenghou-toako, maka untuk beberapa hari hatiku akan merasa tenteram.”

Ia merandek sejenak, lalu dengan perlahan memanggil, “Lenghou-toako!”

Suara panggilan itu sedemikian halus, lembut mesra, sungguh penuh rasa rindu yang meresap, tanpa terasa tubuh Lenghou Tiong bergetar. Ia tahu sumoay itu ternyata bersembunyi rasa cinta yang sedemikian menggetarkan sukma.

Pikirnya, “Bila aku belum punya Ing-ing, rasanya tidak dapat lagi aku mengingkari dia dan pasti akan menikahi siausumoay ini. Dia sedemikian mendalam mencintai aku, selama hidupku ini cara bagaimana harus kubalasnya?”

Begitulah perlahan Gi-lim menghela napas, lalu berkata pula, “Nenek bisu, Ayah tidak memahami perasaanku, Gi-ho, Gi-jing, dan suci lain juga tidak memahami diriku. Aku merindukan Lenghou-toako hanya karena aku tak bisa melupakan dia. Aku pun tahu bahwa pikiranku ini tidak pantas, sebagai nikoh mana boleh aku memikirkan seorang lelaki, apalagi dia adalah ciangbunjin dari perguruan sendiri? Setiap hari aku selalu berdoa agar sang Buddha menolong diriku, membantu agar aku melupakan Lenghou-toako.

“Setiap hari aku membaca kitab yang mengajarkan agar memandang segala apa di dunia fana ini sebagai khayal belaka, biarpun cantik jelita, gagah cakap, akhirnya juga tinggal tulang belulang saja. Apakah artinya kemewahan dan kesenangan, orang hidup tiada ubahnya seperti impian belaka. Ajaran dalam kitab sudah tentu betul, akan tetapi… akan tetapi… apa yang dapat kulakukan? Aku hanya dapat berdoa dan memohon semoga Buddha Yang Maha Pengasih memberkati Lenghou-toako selalu selamat dan supaya dia terikat jodoh dengan Yim-siocia, hidup bahagia sampai tua, selama hidup riang gembira. Jika selama hidup Lenghou-toako selalu gembira, maka semuanya akan baik pula.”

Ucapannya sungguh-sungguh dan penuh ketulusan hati, dengan segenap jiwa raga mengharapkan hidup Lenghou Tiong selalu selamat bahagia sambil memegangi lengan baju si “nenek bisu”, lalu ia memandang ke langit, katanya kemudian, “Hari sudah larut malam, aku harus pulang, hendaklah kau pun pulang saja.”

Berbareng ia mengeluarkan dua potong kue dan ditangselkan ke tangan Lenghou Tiong sambil menyambung pula, “Nenek bisu, mengapa hari ini engkau tidak memandang diriku, apakah badanmu kurang sehat?”

Setelah menunggu sejenak dan tidak mendapatkan jawaban, kemudian Gi-lim bergumam sendiri, “Memangnya engkau tak bisa mendengar, tapi aku tanya padamu, sungguh bodoh aku ini.”

Perlahan lalu ia berbangkit dan melangkah pergi.

Lenghou Tiong masih duduk dan menyaksikan bayangan Gi-lim menghilang dalam kegelapan malam. Ia coba mengingat kembali apa yang diucapkan Gi-lim tadi, kata Gi-lim yang meresap itu sungguh sangat menggetar kalbunya, tanpa terasa ia termangu-mangu sendirian.

Entah sudah berapa lama lagi, ketika ia berpaling dan memandang air sungai, ia menjadi kaget ketika melihat dalam air ada dua bayangan, dua bayangan orang yang sama sedang duduk berendeng di atas batu. Ia mengira pandangan sendiri kabur, ia kucek-kucek mata sendiri dan memandang pula, tetap dua bayangan orang yang dilihatnya. Seketika ia berkeringat dingin dan tidak berani menoleh.

Dilihatnya bayangan dalam air itu jelas berada di belakangnya tepat, asal sekali tangan bergerak seketika dirinya akan dibereskan, dalam keadaan demikian ia benar-benar terkesima saking kagetnya sehingga tidak berpikir harus berusaha melompat ke depan.

Orang itu tahu-tahu berada di belakangnya tiada tanpa tiada suara, sedikit pun dirinya tidak terasa, maka dapat dibayangkan betapa tinggi kepandaian orang. Seketika timbul pikiran dalam benaknya, “Setan tentunya!”

Berpikir tentang setan, seketika terasa ngeri pula. Untuk sekian lamanya ia tertegun, kemudian baru memandang lagi ke dalam air sungai.

Air sungai yang mengalir perlahan tenang membikin bayangan remang-remang itu tidak jelas tertampak, tapi kedua bayangan terang satu rupa, sama-sama memakai baju wanita yang berlengan longgar, kundai di atas kepala juga sama, terang dua bayangan yang kembar.

Makin dirasakan makin ngeri Lenghou Tiong, jantung berdetak keras seakan-akan melompat keluar dari rongga dadanya. Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya keberanian, mendadak ia menoleh sehingga tepat muka berhadapan muka dengan setan itu.

Setelah melihat jelas, tanpa terasa ia menarik napas panjang, dilihatnya orang di hadapannya ini adalah seorang wanita setengah umur, lamat-lamat dapat dikenalinya sebagai si babu bisu-tuli yang menjaga Sian-kong-si itu. Tapi cara bagaimana perempuan ini sampai di belakangnya tanpa disadarinya sedikit pun, hal ini sungguh membuatnya heran tidak kepalang.

Rasa ngeri dan takut Lenghou Tiong lenyap segera, tapi rasa heran sedikit pun tidak berkurang, segera ia berkata, “O, Nenek bisu, kiranya engkau, sungguh bikin kaget padaku.”

Ia dengar suara sendiri rada gemetar, biarpun dikatakan tidak takut, tapi agaknya masih diliputi juga rasa takut.

Dilihatnya gelung nenek bisu-tuli itu dihias sebuah tusuk kundai, bajunya berwarna abu-abu pucat, jelas serupa dengan dandanan sendiri, segera ia berkata pula, “Nenek bisu, harap maaf. Daya ingat Ing-ing sungguh hebat, dia masih ingat dandananmu, maka dia telah menyamarkan diriku sehingga mirip saudara kembarmu.”

Dilihatnya air muka si nenek bisu kaku dingin tidak mengunjuk rasa gusar juga tidak ada rasa senang, entah apa yang terpikir dalam benaknya. Diam-diam Lenghou Tiong membatin. “Orang ini sungguh aneh, aku menyamar sebagai dia dan kepergok olehnya, rasanya aku tidak boleh tinggal terlalu lama di sini.”

Segera ia berbangkit, ia memberi hormat kepada nenek itu dan berkata, “Sudah larut malam aku mohon diri dulu.” Ia lantas putar tubuh dan melangkah ke arah datangnya tadi.

Tapi baru beberapa langkah saja mendadak di depannya sudah berdiri satu orang yang merintangi jalannya. Siapa lagi kalau bukan si nenek bisu-tuli itu. Entah dengan cara bagaimana tahu-tahu sudah berada di depannya.

Keruan kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, ia tahu malam ini benar-benar ketemu seorang kosen, celaka dirinya justru menyamar seperti si nenek, sudah tentu hal ini menimbulkan kemarahannya.

Maka Lenghou Tiong lantas memberi hormat pula dan berkata, “Maaf, Nenek, Cayhe berbuat salah, biarlah kuganti pakaian, nanti kudatang lagi ke Sian-kong-si untuk minta maaf.”

Nenek itu tetap kaku tidak berperasaan tidak mengunjuk sikapnya atau tidak.

“Ah, ya, engkau tentunya tidak mendengar ucapanku,” kata Lenghou Tiong. Lalu ia berjongkok dan menulis di atas tanah dengan jari: “Maaf, lain kali tidak berani lagi.”

Waktu ia tegak kembali, dilihatnya si nenek tetap berdiri mematung, sedikit pun tidak memandang kepada apa yang dituliskannya.

Sambil menunjuk tulisan-tulisan di atas tanah itu, dengan suara keras Lenghou Tiong berseru, “Maaf, lain kali tidak berani lagi!”

Tapi nenek itu tetap tidak bergerak, sungguh mirip patung belaka.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Wah, celaka, mungkin dia buta huruf!” Berulang-ulang ia lantas membungkuk-bungkuk badan, tangannya memberi isyarat-isyarat dan berlagak melepas pakaian dan menanggalkan kundai, lalu memberi hormat pula sebagai tanda minta dimaafkan.

Namun nenek itu tetap diam saja, sedikit pun tidak bergerak, entah tidak paham maksudnya atau memang sengaja tidak menggubrisnya.

Lenghou Tiong kehabisan akal, ia garuk-garuk kepala sendiri yang tidak gatal. Sambil miringkan tubuh segera ia menyelusup lewat di samping si nenek.

Baru saja kakinya bergerak, mendadak nenek itu pun menggeliat dan tahu-tahu sudah mengadang pula di depannya. Lenghou Tiong terkesiap, katanya pula, “Maaf!” Berbareng ia melangkah ke kanan, tapi menyusul ia terus meloncat lewat ke sebelah kiri. Baru saja kakinya menancap tanah, tahu-tahu si nenek sudah berdiri di depan lagi dan merintangi jalannya.

Tentu saja Lenghou Tiong tidak terima. Berulang-ulang ia melompat beberapa kali, makin lama makin cepat, namun selangkah pun si nenek tidak mau ketinggalan, selalu dapat mencegat jalan perginya.

Lenghou Tiong menjadi tidak sabar, melihat nenek itu masih merintangi jalannya, tangan kiri segera mendorong pundak orang. Tapi baru saja jarinya hendak menempel tempat sasaran, mendadak tangan si nenek yang kurus kering memotong ke bawah, menebas pergelangan tangannya.

Lekas Lenghou Tiong menarik tangan, walaupun begitu cepat ia menarik tangan tidak urung punggung tangan juga keserempet oleh jari kecil si nenek, rasanya sakit laksana disayat pisau.

Lantaran merasa bersalah, Lenghou Tiong tidak berani menempur si nenek, yang dia harapkan hanya lekas tinggal pergi saja. Cepat ia menunduk dan bermaksud menyelinap lewat di sisi orang. Tapi baru saja tubuhnya bergerak tiba-tiba angin pukulan sudah menyambar, nenek itu telah menghantamnya dengan telapak tangan.

Cepat Lenghou Tiong mengegos, tapi serangan itu teramat cepat, “plak”, pundak kena terpukul. Sebaliknya nenek itu pun tergeliat. Kiranya pada saat hantaman si nenek kena sasarannya, berbareng “Gip-sing-tay-hoat” dalam tubuh Lenghou Tiong memberi reaksi sehingga tenaga pukulan lawan tersedot.

Sekonyong-konyong tangan lain si nenek mengulur tiba pula, kini jarinya yang lentik kurus bagai cakar ayam itu menusuk kedua matanya.

Dengan terperanjat lekas Lenghou Tiong mendak ke bawah untuk menghindar, dengan demikian punggungnya menjadi tidak terjaga, kalau kena digebuk lagi tentu celaka. Untung nenek itu rupanya juga sudah kapok terhadap “Gip-sing-tay-hoat”, nyatanya tidak berani menyerang pada kesempatan yang ada itu, sebaliknya tangan kanan lantas mencukil balik ke atas malah untuk tetap menyerang kedua mata Lenghou Tiong. Jelas si nenek sudah ambil ketetapan akan terus menyerang biji mata lawan yang lemah, betapa pun lihainya Gip-sing-tay-hoat tentu tak bisa dikerahkan melalui biji mata, asal biji mata kena dicolok pasti akan buta.

Terpaksa Lenghou Tiong angkat tangan buat menangkis, tapi nenek itu lantas putar tangannya, jarinya lantas mencakar mata kirinya. Waktu Lenghou Tiong menangkis pula, mendadak jari kanan si nenek mencolok telinganya.

Beberapa kali serangan nenek itu dilakukan dengan cepat luar biasa, setiap serangan caranya lucu, lebih mirip cara berkelahi perempuan bawel kampungan, cuma tempat yang diarah justru berbahaya, caranya cepat pula, hanya beberapa jurus saja Lenghou Tiong sudah terdesak mundur terus.

Memangnya Lenghou Tiong tidak mahir main pukulan dan tendangan, coba kalau si nenek tidak gentar terhadap Gip-sing-tay-hoat sehingga tidak berani mengadu tangan dengan dia, dapat dipastikan Lenghou Tiong sudah kenyang digebuk sejak tadi.

Setelah bergebrak beberapa jurus lagi, Lenghou Tiong tahu dalam hal permainan tangan dan kaki masih selisih jauh dengan lawan, kalau tidak lolos pedang pasti sukar meloloskan diri. Segera ia bermaksud mencabut gagang pedang pandak yang terselip di pinggangnya. Tapi baru saja tangan menyentuh gagang pedang, nenek itu seakan-akan sudah tahu maksudnya, dengan cepat luar biasa segera ia melancarkan serangan beberapa kali, terpaksa Lenghou Tiong berkelit ke sana dan mengegos ke sini sehingga tidak sempat melolos pedangnya.

Melihat tipu serangan si nenek makin lama semakin keji, padahal selamanya tiada permusuhan apa-apa, namun orang tidak segan-segan membutakan matanya, Lenghou Tiong merasa keadaannya sangat berbahaya, mau tak mau ia harus selamatkan diri. Mendadak ia menggertak keras, dengan tangan kiri mengaling-alingi kedua mata sendiri, tangan kanan segera meraba pinggang buat mencabut pedang, ia pikir biar kena dipukul atau ditendang lawan asalkan pedang sendiri dapat dilolos keluar.

Tak tersangka, pada saat demikian itu, sekonyong-konyong kepala terasa kencang, rambut kena dijambak orang, menyusul kedua kaki lantas meninggalkan tanah, tubuh terapung, terang telah diangkat oleh si nenek. Habis itu lantas terasa langit berputar dan bumi terbalik, tubuh berputar cepat di udara, rupanya si nenek telah menjambak rambutnya terus diangkat dan diayun sekuatnya, makin lama makin cepat.

“He, he, apa yang kau lakukan?” Lenghou Tiong berkaok-kaok, kedua tangan mencakar dan memukul serabutan, pikirnya hendak mencengkeram lengan si nenek. Tapi mendadak iga kanan-kiri terasa pegal, rupanya hiat-to bagian tersebut tertutuk, menyusul hiat-to bagian punggung, pinggang, dada, dan leher kena ditutuk, kontan sekujur badan Lenghou Tiong terasa lemas dan tak bisa berkutik lagi.

Lebih celaka lagi si nenek ternyata tidak mau berhenti, tubuhnya dianggap sebagai bandulan saja, masih diayun terus dan diputar dengan cepat.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Selama hidupku, sudah banyak menemui hal-hal yang aneh, tapi pengalaman sial seperti sekarang dijadikan kitiran oleh orang boleh dikata baru pertama kali ini terjadi.”

Nenek itu terus memutarnya sehingga Lenghou Tiong kepala pusing dan mata berkunang-kunang dan hampir pingsan, habis itu barulah puas. “Bluk”, dengan keras ia banting Lenghou Tiong ke tanah.

Sebenarnya Lenghou Tiong tidak punya rasa permusuhan dengan si nenek, tapi sekarang dia kena dikerjai hingga setengah mati, dengan sendirinya dia sangat gusar. Segera ia mencaci maki, “Perempuan busuk, perempuan keparat, coba kau sejak mula kutusuk beberapa lubang.”

Nenek itu memandangnya dengan sikap dingin, air mukanya tetap tidak mengunjuk sesuatu perasaan.

“Berkelahi terang kalah, kalau aku tidak membalas dengan mencaci maki rasanya akan terlalu rugi,” demikian pikir Lenghou Tiong. “Tapi kini aku tidak bisa berkutik, jika dia tahu aku memakinya, tentu aku akan disiksa lebih hebat.”

Segera ia mendapat suatu cara yang baik, ia memaki tapi mukanya tertawa-tawa, “Perempuan bangsat, perempuan busuk, sadar memang jahat, makanya Thian menciptakanmu menjadi bisu dan tuli, tidak bisa tertawa, tidak bisa menangis, mirip orang gila, sekalipun binatang juga lebih beruntung daripadamu.”

Semakin mencaci maki dengan kata-kata yang keji, semakin riang pula tertawanya. Sebenarnya ia cuma pura-pura tertawa, maksudnya supaya si nenek tuli itu tidak mencurigai dia sedang memakinya. Tapi kemudian demi melihat si nenek sama sekali tidak memberi reaksi, akalnya membawa hasil, ia menjadi senang sehingga tertawa terbahak-bahak.

Perlahan nenek itu mendekati dia, mendadak sebelah tangannya menjambak pula rambutnya terus diseret ke depan sana. Jalannya makin lama makin cepat. Karena hiat-to tertutuk, tapi daya rasa Lenghou Tiong tidak menjadi hilang, ia merasa kesakitan karena badan tergosok-gosok di atas tanah. Dengan gemas ia mencaci maki pula tanpa berhenti, namun sekarang dia tak bisa tertawa lagi.

Nenek itu menyeretnya ke atas gunung, dari keadaan setempat Lenghou Tiong melihat tempat yang dituju adalah Sian-kong-si. Kini Lenghou Tiong sudah tahu dengan pasti bahwa orang yang mengerjai Put-kay Hwesio, Dian Pek-kong, Boh-pak-siang-him, Pau Tay-coh, Siu Siong-lian, dan lain-lain tentu juga nenek bisu-tuli ini. Padahal dahulu dirinya pernah datang ke Sian-kong-si dan melihat nenek ini, namun sedikit pun tidak tahu orang memiliki kepandaian sedemikian hebat, boleh dikatakan terlalu goblok. Sampai-sampai kaum ahli seperti Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang juga tidak mencurigai dia, maka harus dipuji kepandaian si nenek ini mengelabui orang.

Lantas terpikir pula oleh Lenghou Tiong, “Jika si nenek ini juga menggantung aku di atas pohon seperti Put-kay Taysu dan lain-lain, lalu menempel plakat pula di atas tubuhku dengan tuduhan sebagai manusia yang paling cabul dan sebagainya, padahal sebagai ketua Hing-san-pay, sekarang aku berdandan begini pula, wah, tentu akan malu besar. Untung dia menyeret aku ke Sian-kong-si, biarlah dia menggantung aku di sana dan dihajar, asal tidak malu di depan umum masih mendingan.”

Dasar watak Lenghou Tiong memang terbuka, ia anggap biar sial toh tidak sampai kehilangan muka habis-habisan, masih boleh dibilang mendingan, tapi lantas terpikir olehnya, “Entah dia sudah mengetahui asal usul diriku atau tidak? Jangan-jangan dia tahu aku adalah ketua Hing-san-pay maka sengaja memberi layanan istimewa daripada yang lain.”

Sepanjang jalan ia diseret, keruan badannya babak belur tergosok-gosok oleh batu pegunungan, untung mukanya menghadap ke atas sehingga tidak cacat.

Setiba di Sian-kong-si, nenek itu menyeretnya ke dalam ruangan tengah, pintu kuil ditutup, lalu diseret pula ke atas loteng apung di puncak kuil, yaitu tempat yang dahulu pernah digunakan berunding dengan Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang.

“Wah, celaka,” diam-diam Lenghou Tiong mengeluh, soalnya Leng-kui-kok, nama loteng di atas itu adalah tempat terapung di atas jurang yang tak terhitung dalamnya, di luar ada sebuah jembatan gantung dan mungkin di sinilah si nenek akan menggantung dirinya. Padahal Sian-kong-si itu jarang didatangi manusia, kalau dirinya digantung di sana sehingga mati kelaparan, wah, rasanya boleh dibayangkan.

Setiba di Leng-kui-kok, nenek itu terus banting dia di situ, lalu tinggal pergi. Sambil menggeletak di lantai Lenghou Tiong coba-coba menerka sebenarnya macam apakah si nenek itu, tapi sukar ditebak, ia hanya menduga bisa jadi seorang tokoh angkatan tua Hing-san-pay, mungkin adalah pelayan guru Ting-cing atau Ting-yat Suthay masa dahulu. Tapi entah cara bagaimana nenek itu mendapat tahu tipu muslihat Siu Siong-lian dan lain-lain sehingga membekuk mereka dan dikerek di atas pohon.

Berpikir sampai di sini hati Lenghou Tiong rada lega, pikirnya pula, “Sebagai ketua Hing-san-pay tentu dia akan mengingat orang sendiri dan takkan membikin susah padaku.”

Tapi lantas terpikir lagi, “Dalam penyamaranku seperti ini jangan-jangan dia tak mengenali diriku. Jika dia sangka aku orang jahat segolongan dengan Thio-hujin dan lain-lain yang sengaja menyamar seperti dia untuk menjadi mata-mata di sini dengan muslihat yang akan merugikan Hing-san-pay, wah, bisa jadi ia akan memberi ‘layanan istimewa’ padaku, bisa runyam bila aku disiksa nanti.”

Ia dengar suara tindakan yang mendaki tangga loteng, ternyata nenek itu telah naik ke atas lagi dengan tangan membawa seutas tambang, segera Lenghou Tiong ditelikung kaki dan tangannya, lalu diikat kencang-kencang, dikeluarkannya pula sepotong kain kuning dan digantungkan di leher Lenghou Tiong.

Sudah tentu Lenghou Tiong sangat tertarik untuk mengetahui apa yang tertulis pada kain plakat itu. Akan tetapi pada saat itu juga pandangannya menjadi gelap, kedua matanya telah ditutup oleh si nenek dengan sepotong kain hitam.

“Cerdik benar nenek ini,” demikian pikir Lenghou Tiong. “Dia tahu aku ingin sekali membaca apa yang tertulis di atas kain, tapi sengaja membikin aku tak bisa melihatnya. Kecerdasan nenek ini sungguh jauh melebihi orang biasa. Tapi, hah, Lenghou Tiong sudah terkenal sebagai pemuda yang bangor, tentu apa yang tertulis di atas kain ini tiada kata-kata yang baik bagiku, buat apa aku membacanya?”

Tiba-tiba ia merasa kaki dan tangannya yang terikat ditelikung itu tertarik kencang, tubuh lantas terapung ke atas, ternyata sudah dikerek tinggi-tinggi di atas belandar. Tidak kepalang gusar Lenghou Tiong, segera ia mencaci maki pula.

Meski dia suka ugal-ugalan, tapi pikirannya juga cukup cermat, pikirnya, “Kalau aku hanya mencaci maki serabutan, tetap tidak dapat menolong diriku. Sebaiknya aku mengerahkan tenaga perlahan untuk melancarkan hiat-to yang tertutuk, bila aku sudah pegang senjata tentu akan dapat mengatasi nenek itu, aku pun akan gantung dia di tempat yang tinggi, akan kugantung pula kain kuning pada lehernya, lalu apa yang harus kutulis pada plakat itu? Nenek jahat nomor satu di dunia ini? Ah, kurang tepat menyebut dia sebagai nomor satu di dunia, bisa jadi dia malah akan girang. Biarlah kutulis saja: ‘Nenek jahat nomor ke-17 di dunia ini’, biar kepalanya pecah memikirkan siapa lagi ke-16 nenek jahat lain yang lebih tinggi derajatnya daripada dia sendiri.”

Ia coba pasang telinga, tak terdengar lagi suara orang bernapas, agaknya nenek itu sudah pergi.

Setelah digantung terkatung-katung di situ selama beberapa jam, perut Lenghou Tiong mulai keroncongan, ketika ia coba mengerahkan tenaga, eh, terasa hiat-to sudah mulai lancar. Selagi bergirang di dalam hati sekonyong-konyong tubuhnya terguncang, “bluk”, dengan keras ia terbanting di atas loteng, ternyata si nenek telah melepaskan tambang kerekan. Tapi sejak kapan nenek itu datang sedikit pun Lenghou Tiong tidak mendengar.

Nenek itu lantas lepaskan kain hitam penutup matanya, hiat-to bagian lehernya belum lancar sehingga sukar menunduk untuk membaca tulisan plakat, hanya pada huruf paling bawah sekilas terlihat adalah huruf “nio” yang berarti perempuan.

Diam-diam Lenghou Tiong mengeluh pula, ia percaya dengan huruf itu tentu si nenek benar-benar menyangka dia sebagai perempuan. Kalau dia menuliskan kata-kata yang anggap dia sebagai pemuda porno, bajingan tengik, atau manusia rendah segala adalah tidak menjadi soal baginya, tapi menganggapnya sebagai perempuan, wah, ini benar-benar runyam, konyol.

Dilihatnya si nenek mengambil sebuah mangkuk, ia pikir barangkali si nenek memberi minum teh atau arak padanya. Paling baik dia menyuguhkan arak padaku, demikian ia membatin.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong kepala terasa panas tersiram air mendidih, ia menjerit kesakitan. Ternyata isi mangkuk itu adalah air mendidih dan oleh si nenek disiramkan begitu saja pada kepalanya.

Dengan murka Lenghou Tiong memaki, “Nenek bangsat, apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?”

Tapi lantas terlihat si nenek mengeluarkan pula sebilah pisau cukur.

Keruan Lenghou Tiong terperanjat, segera terdengar suara “krik-krik”, kulit kepalanya serasa sakit perih, ternyata si nenek sedang mencukur rambutnya.

Kejut dan gusar pula Lenghou Tiong, ia tidak tahu apa maksud tujuan nenek gila itu. Tapi hanya sebentar saja, kepalanya terasa sudah gundul kelimis, rambut telah dicukur bersih oleh si nenek.

“Bagus, hari ini Lenghou Tiong benar-benar telah menjadi hwesio. Ah, tidak tepat, aku memakai baju perempuan, harus disebut menjadi nikoh,” demikian ia berpikir.

Tapi hatinya terasa ngeri juga ketika teringat olehnya Ing-ing pernah berkelakar menyuruh dia menyamar sebagai nikoh saja, ternyata ucapannya itu menjadi kenyataan. Bukan mustahil nenek jahat ini telah mengetahui siapa diriku dan anggap seorang lelaki tidak pantas menjadi ketua Hing-san-pay, maka tidak cuma mencukur rambutku saja, bahkan akan… akan kebiri aku punya alat vital, supaya aku tidak bisa membikin kotor tempat suci ini. Wah, nenek gila ini rupanya dapat berbuat apa pun juga. Sungguh nahas, agaknya hari ini aku Lenghou Tiong harus terima nasib, tapi jangan sekali-kali aku meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat.

Selesai mencukur kepala Lenghou Tiong, nenek itu sapu bersih pula rambut yang berserakan di lantai itu.

Lenghou Tiong merasa keadaan sudah gawat, cepat ia mengerahkan tenaga dalam sekuatnya, ia coba bobol hiat-to yang tertutuk itu.

Selagi merasa beberapa hiat-to yang tertutuk itu mulai lancar, tiba-tiba bagian punggung dan bahunya kesemutan pula, hiat-to bagian tersebut kembali ditutuk si nenek pula.

Seketika Lenghou Tiong seperti balon gembos, ia menghela napas panjang, rasanya lemas, sampai-sampai caci maki juga sungkan dilontarkan lagi.

Si nenek lantas menanggalkan kain plakat yang bergantungan di leher Lenghou Tiong itu dan ditaruh di samping sana.

Baru sekarang Lenghou Tiong dapat melihat jelas apa yang tertulis di kain itu, yakni: “Si buta nomor satu di dunia ini, perempuan jahat yang bukan lelaki dan bukan perempuan.”

Serentak Lenghou Tiong mengeluh pula, “Wah, celaka! Kiranya nenek gila ini cuma pura-pura bisu dan dapat bicara, kalau tidak, dari mana dia mengetahui makian Put-kay Taysu padaku sebagai orang buta nomor satu di dunia ini? Hanya ada dua kemungkinan, dia mencuri dengar ketika Put-kay Taysu bicara dengan Gi-lim atau dia mencuri dengar ketika Gi-lim bicara padaku tadi. Atau bisa juga kedua kali dia mencuri dengar semua.”

Berpikir sampai di sini, segera ia berteriak, “Sudahlah, kau tidak perlu menyamar dan pura-pura lagi, kau bukan orang tuli.”

Tapi nenek itu tetap tidak peduli, sebaliknya terus menggerayangi tubuh Lenghou Tiong hendak membuka pakaiannya.

“He, hei! Apa yang hendak kau lakukan?” Lenghou Tiong berkaok-kaok dengan khawatir. Ia tidak tahu apakah si nenek benar-benar tidak dapat mendengar atau sengaja pura-pura tidak mendengar. Yang jelas segera terdengar suara “brat-bret”, bajunya telah ditarik begitu saja oleh si nenek itu hingga robek menjadi dua belah dan terlepas dari tubuhnya.

“He, jika kau mengganggu seujung rambutku saja tentu akan kucencang tubuhmu hingga hancur luluh,” teriak Lenghou Tiong gusar. Tapi lantas terpikir olehnya, “Bukan saja seujung rambut, bahkan dia sudah mencukur habis seluruh rambutku.”

Tertampak si nenek mengambil sepotong batu asah pisau, diteteskan beberapa tetes air di atas batu asah itu, lalu dipakai mengasah pisau cukur. Sejenak kemudian pisau cukur itu ditaruhnya di samping, dari saku dikeluarkannya sebuah botol porselen kecil, rupanya isi botol itu adalah obat luka paling mustajab bikinan Hing-san-pay yang juga telah dikenal dengan baik oleh Lenghou Tiong sendiri.

Kemudian si nenek menyiapkan pula beberapa potong kain putih, yakni guna pembalut luka. Padahal Lenghou Tiong tidak merasa punya luka baru. Melihat cara si nenek menyiapkan segala perlengkapan itu, jelas akan melakukan sesuatu operasi apa-apa pada tubuhnya.

Selesai menyiapkan semua itu, kedua mata si nenek menatap tajam Lenghou Tiong. Selang sejenak, ia angkat tubuh Lenghou Tiong dan diletakkan di atas meja, lalu memandangnya pula dengan sikap kaku tak berperasaan.

Lenghou Tiong sudah kenyang pengalaman dalam pertempuran macam apa pun, sekalipun terluka parah dan terkepung musuh, belum pernah ia merasa jeri dan gentar, tapi kini menghadapi seorang nenek demikian, dalam hati timbul rasa takut yang tak terkatakan.

Perlahan si nenek angkat pisau cukurnya, di bawah cahaya lilin yang berkelip-kelip, pisau cukur yang tajam itu gemilapan, butir keringat dingin penuh menghias dahi Lenghou Tiong, alangkah ngerinya bila dia membayangkan sebentar lagi “anunya” akan dikebiri oleh si nenek.

Sekonyong-konyong terkilas satu pikiran dalam benaknya, tanpa pikir lagi ia berteriak, “Engkau… adalah bininya Put-kay Hwesio!”

Tubuh nenek itu tampak tergetar dan mundur selangkah, katanya kemudian, “Da… dari mana… kau tahu?”

Suaranya parau kering, ucapannya sekata demi sekata dan kaku, mirip benar dengan anak kecil yang baru belajar omong.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: