Hina Kelana: Bab 129. Rahasia Put-kay Hwesio yang Aneh

Oleh Jin Yong

Begitulah Lenghou Tiong mengikuti ajakan Gi-lim. Keduanya terus berjalan ke jurusan sana tanpa buka suara sedikit pun.

Setelah menyusuri sebuah jalanan sempit, akhirnya mereka keluar dari lembah itu, tiba-tiba terdengar Gi-lim berkata, “Kau sendiri tidak dapat mendengar pembicaraan orang, buat apa kau berada di sana?” Ucapan ini agaknya tidak ditujukan kepadanya melainkan cuma menggumam sendiri saja.

Namun Lenghou Tiong merasa tercengang, katanya di dalam hati, “Apa artinya dia bilang aku tidak dapat mendengar percakapan orang? Dia bicara dibalik atau benar-benar tak mengenali penyamaranku?” Tapi mengingat Gi-lim biasanya tidak pernah bergurau padanya, besar kemungkinan memang belum tahu samarannya itu.

Gi-lim terus berjalan menikung ke utara, setelah melintasi suatu tanjakan, akhirnya mereka sampai di tepi sebuah sungai kecil.

Dengan suara perlahan Gi-lim berkata pula, “Biasanya kita suka bicara di sini, apakah kau sudah bosan pada kata-kataku?” Menyusul ia lantas tertawa, katanya, “Selamanya kau tak bisa mendengar ucapanku, tentu aku takkan bicara padamu.”

Melihat nada Gi-lim yang sungguh-sungguh itu, yakinlah Lenghou Tiong bahwa dirinya memang disangka benar-benar sebagai si nenek tua penunggu Sian-kong-si itu. Tiba-tiba timbul pikirannya yang jail, ia menjadi ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Gi-lim.

Setiba di bawah pohon, Gi-lim mengajaknya duduk di atas sepotong batu panjang, Lenghou Tiong sengaja duduk miring dan membelakangi sinar rembulan agar wajahnya tidak tertampak jelas.

Gi-lim termangu-mangu memandangi bulan sabit di langit sambil menghela napas. Hampir-hampir Lenghou Tiong bertanya urusan apakah yang membikin risau hati Gi-lim yang masih muda belia itu? Syukur dia keburu menahan perasaannya.

Terdengar Gi-lim membuka suara perlahan, “Nenek bisu, engkau sangat baik, aku sering mengajak kau ke sini dan mengutarakan isi hatiku kepadamu, selamanya kau tidak merasa jemu, selalu menunggu uraianku dengan sabar. Sebenarnya tidak pantas aku membikin repot padamu, tapi engkau memang sangat baik padaku, mirip benar ibu kandungku sendiri. Aku tidak punya ibu, jika punya, apakah kiranya aku berani bicara padanya seperti kubicarakan padamu ini?”

Mendengar sumoay cilik itu hendak membeber isi hatinya, Lenghou Tiong merasa tidak pantas mendengarkan rahasia orang dengan cara menipunya, segera ia berbangkit dan bermaksud melangkah pergi.

Namun Gi-lim lantas menarik lengan bajunya dan berkata, “Nenek bisu, apakah kau hendak pergi?” Suaranya penuh nada kecewa.

Lenghou Tiong memandang sekejap padanya, tertampak wajahnya yang sayu, sinar matanya penuh rasa memohon, tanpa kuasa hatinya menjadi lemas, pikirnya, “Air mukanya tampak kurus, isi hatinya bila tak terbeberkan bisa jadi akan mengakibatkan jatuh sakit. Biarkan kudengarkan apa yang akan diceritakan, asalkan dia tetap tak mengenali samaranku tentu dia takkan malu.” Karena itu perlahan-lahan ia duduk kembali.

“Nenek bisu, engkau baik sekali,” kata Gi-lim perlahan sambil merangkul pundaknya, “hendaklah kau menemani aku duduk sebentar di sini, engkau tidak tahu betapa kesalnya hatiku.”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli, rupanya sudah suratan takdir bahwa hidupnya ini tidak terlepas dari “nasib nenek”. Dahulu ia keliru sangka Ing-ing sebagai nenek, sekarang dirinya juga disangka sebagai nenek oleh Gi-lim. Dahulu ia memanggil entah berapa ratus kali nenek kepada Ing-ing, sekarang Gi-lim membayarnya dengan panggilan nenek pula. Ini namanya ada ubi ada talas.

Dasar watak Lenghou Tiong memang suka ugal-ugalan, urusan apa pun terkadang tak dianggap sesuatu yang penting olehnya. Padahal Gi-lim sedang bicara padanya dengan penuh perasaan, sebaliknya diam-diam ia merasa geli dan hampir-hampir bergelak tertawa.

Sudah tentu Gi-lim tidak tahu apa yang dipikirkan si “nenek”, ia berbicara terus, “Pagi tadi ayahku hampir-hampir saja mati gantung diri, apakah kau tahu? Dia dikerek tinggi-tinggi di atas pohon entah oleh siapa, pada tubuhnya ditempeli pula plakat yang menyatakan Ayah sebagai manusia tak berperasaan nomor satu di dunia ini, manusia yang paling doyan perempuan. Padahal selama hidup ayahku hanya memikirkan ibuku seorang saja, entah apa dasarnya tuduhan pada ayahku bahwa dia paling doyan perempuan. Tentu orang menempel plakat itu secara ngawur telah salah tempel plakat yang mestinya ditempel pada badan Ayah. Padahal seumpama salah tempel, robeklah plakat itu dan buang saja habis perkara, kan tidak perlu gantung diri segala.”

Lenghou Tiong terkejut dan merasa geli pula. Ia heran mengapa Put-kay Taysu hendak bunuh diri? Gi-lim mengatakan ayahnya hampir mati gantung diri, jadi Put-kay pasti masih hidup.

Lalu Gi-lim menyambung pula, “Ketika Dian Pek-kong berlari-lari ke Kian-seng-hong untuk mencari diriku, kebetulan dia kepergok oleh Gi-ho Suci, Dian Pek-kong dianggap melanggar peraturan berani sembarangan datang ke Kian-seng-hong, tanpa banyak bicara Gi-ho Suci terus lolos pedang dan menyerangnya, hampir-hampir saja jiwa Dian Pek-kong melayang, sungguh berbahaya sekali.”

Lenghou Tiong masih ingat perintahnya yang melarang kaum lelaki yang tinggal di paviliun di puncak seberang naik ke Kian-seng-hong tanpa izinnya, apalagi nama Dian Pek-kong terkenal busuk, sedangkan Gi-ho terkenal berwatak keras, maka tidak heran begitu kepergok terus main senjata. Cuma ilmu silat Dian Pek-kong jauh lebih tinggi daripada anak murid Hing-san, jelas Gi-ho tidak mampu membunuhnya.

Selagi ia hendak mengangguk tanda membenarkan ucapan Gi-lim tadi, syukur ia lantas menyadari akan penyamarannya. Pikirnya, “Tak peduli apa yang dia katakan, apakah benar atau tidak, sama sekali aku tidak boleh menggeleng atau mengangguk sebab si nenek bisu-tuli pasti takkan mendengar apa pun yang dia ucapkan.”

Begitulah Gi-lim lantas menyambung lagi, “Ketika Dian Pek-kong sempat menerangkan maksud kedatangannya, sementara itu Gi-ho Suci sudah menyerangnya belasan kali, untung tidak terjadi cedera apa-apa. Begitu menerima berita segera aku pun memburu ke lembah sini, tapi Ayah sudah tidak kelihatan. Waktu kutanya orang di sini, katanya Ayah sedang menangis dan mengamuk pula di kamarnya, siapa pun tidak berani bicara dengan dia, habis itu Ayah lantas menghilang entah ke mana.

“Aku mencarinya di sekitar lembah ini, akhirnya kutemukan dia di belakang gunung sana, kulihat beliau tergantung tinggi-tinggi di atas pohon. Aku menjadi khawatir, cepat aku melompat ke atas pohon, kulihat seutas tali menjerat di lehernya, agaknya napasnya sudah hampir putus, syukur berkat Buddha dapatlah aku datang pada saat yang tepat. Kuturunkan Ayah dan sadarlah beliau, kami lantas saling rangkul dan menangis.

“Kulihat di leher Ayah masih tetap tergantung secarik kain yang tertulis: ‘Manusia tak berperasaan nomor satu di dunia ini’ segala. Kukatakan kepada Ayah, ‘Orang itu sungguh jahat, berulang dia menggantung engkau. Salah tempel kain tertulis ini juga tidak dibetulkan.’

“Sambil menangis Ayah berkata, ‘Bukan digantung orang, tapi aku sendiri yang menggantung diri. Aku… aku tidak ingin hidup lagi,’ Aku menghiburnya, ‘Ayah, tentunya engkau diserang mendadak oleh orang itu, karena kurang waspada engkau kecundang, tapi juga tidak perlu sedih. Biarlah kita mencari dia untuk tanya dia, kalau tak bisa memberi alasan yang tepat, kita juga pegang dia dan gantung dia, lalu kain juga kita gantung pada lehernya.’

“Tapi Ayah menjawab, ‘Plakat ini ditujukan padaku, mana boleh digantung pada orang lain. Manusia tak berperasaan nomor satu di dunia ini, orang yang paling doyan perempuan memang betul adalah diriku, Put-kay Hwesio, mana ada orang lain yang melebihi aku? Anak kecil, jangan sembarang omong kalau tidak tahu.’

“Coba, Nenek bisu, bukankah aneh sekali ucapan Ayah itu? Maka aku lantas tanya beliau, ‘Ayah, kau bilang kain plakat ini tidak keliru pasang?’ – ‘Sudah tentu tidak,’ jawab Ayah. ‘Aku… aku berdosa terhadap ibumu, maka aku ingin segera mati saja, kau jangan urus diriku, aku benar-benar tidak ingin hidup lagi.’.”

Lenghou Tiong masih ingat cerita Put-kay Hwesio, katanya dia mencintai ibunya Gi-lim, tapi lantaran si dia adalah seorang nikoh, maka Put-kay lantas meninggalkan rumah menjadi hwesio. Menurut jalan pikiran Put-kay, hanya hwesio yang layak beristrikan nikoh.

Padahal peristiwa demikian benar-benar aneh dan ajaib tiada taranya. Perjodohan yang janggal ini akhirnya tentu terjadi perubahan, katanya kemudian Put-kay merasa berdosa kepada ibunya Gi-lim, bisa jadi karena kemudian dia yang punya kekasih lain, maka dia mengaku sebagai “manusia tak berperasaan, orang paling doyan perempuan”. Berpikir sampai di sini, Lenghou Tiong merasa sudah rada jelas duduknya perkara tentang diri Put-kay.

Didengarnya Gi-lim sedang bertutur pula, “Karena Ayah menangis dengan sangat sedih, maka aku ikut-ikutan menangis. Sebaliknya Ayah lantas menghibur aku malah, katanya, ‘Anak manis, jangan menangis, jangan menangis! Kalau Ayah mati nanti, tentu kau akan sebatang kara di dunia ini dan siapa lagi yang akan menjaga dirimu?’

“Kata-katanya itu membikin tangisku semakin keras. Kemudian Ayah berkata pula, ‘Baiklah, aku tidak jadi mati saja. Cuma, rasanya menjadi tidak enak terhadap mendiang ibumu?’ Aku coba bertanya, ‘Sebenarnya apa dosa Ayah terhadap Ibu?’

“Ayah menghela napas lalu menjawab dengan sedih, ‘Sebagaimana sudah kau ketahui, tadinya ibumu adalah nikoh, sekali melihat ibumu aku lantas tergila-gila, betapa pun aku harus memperistrikan dia. Tapi ibumu menyatakan keberatan karena dia sudah menjadi nikoh, khawatir dicerca oleh sang Buddha.’

“Kukatakan aku yang akan tanggung akibatnya, kalau sang Buddha marah biarlah aku yang dikutuk. Ibumu menjawab bahwa orang partikelir seperti diriku adalah pantas kawin dan punya anak, tapi ibumu sudah menyucikan diri, bila punya pikiran menyeleweng tentu akan dimarahi sang Buddha.

“Kupikir ucapannya cukup beralasan juga, tapi aku sudah bertekad akan mengawini ibumu, untuk menghindarkan derita ibumu bila dihukum masuk neraka kelak, biarlah aku menjadi hwesio, kalau mau marah biarlah sang Buddha marah padaku, seumpama masuk neraka juga kami suami-istri akan masuk bersama.”

Baru sekarang Lenghou Tiong mengerti sebabnya Put-kay Hwesio, kiranya dia ingin memikul beban bakal istrinya. Jika demikian mengapa kemudian dia menyeleweng lagi? Demikian timbul pertanyaan lagi dalam hatinya.

Terdengar Gi-lim melanjutkan, “Aku lantas tanya Ayah, ‘Kemudian engkau menikahi Ibu tidak?’ – ‘Sudah tentu menikah, kalau tidak dari mana kau dilahirkan?’ sahut Ayah. ‘Cuma memang salahku, pada waktu kau berumur tiga bulan, aku memondongmu berjemur sinar matahari di depan pintu….’ – ‘Berjemur sinar matahari apa salahnya?’ tanyaku. – ‘Ya, soalnya juga kebetulan saja,’ tutur ayahku. ‘Waktu itu ada seorang perempuan muda jelita lewat di depan rumah kita dengan menunggang kuda, ketika lihat seorang hwesio besar macamku membopong orok, ia memandang heran kepada kita sambil memuji, ‘Mungil benar orok ini!’ Sudah tentu yang dipuji adalah dirimu. Aku jadi senang dan menjawab, ‘Ini adalah anakku sendiri.’

“Alis perempuan muda itu melototi aku sambil bertanya, ‘Kutanya dengan baik, kenapa berulang kau menggoda aku, apakah kau sudah bosan hidup?’ Aku menjawab, ‘Menggoda bagaimana, memangnya hwesio bukan manusia, makanya tidak boleh punya anak? Kalau kau tidak percaya akan kubuktikan padamu.’ Tak terduga perempuan itu tambah marah, segera ia lolos pedang terus melompat turun dan menyerang diriku, bukankah perbuatannya itu keterlaluan?”

Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli, ia pikir Put-kay tidak pantang bicara apa saja yang ingin dia ucapkan, tapi bagi pendengaran orang lain kata-katanya itu dirasakan sebagai kata-kata kurang ajar. Seorang hwesio memondong anak bayi memang sudah janggal. Kalau kawin dan punya anak, kenapa tidak piara rambut saja?

Dalam pada itu Gi-lim masih terus bercerita, “Kukatakan pada Ayah, ‘Ya, nyonya cantik itu memang rada galak. Sudah jelas aku adalah anakmu, ini kan tidak bohong, kenapa dia lolos senjata menyerang padamu?’ Jawab Ayah, ‘Maka cepat aku berkelit menghindarkan serangannya, kataku, ‘He, kenapa kau menyerang orang tanpa sebab? Anak ini kalau bukan anakku, memangnya anakmu?’ Ternyata ucapanku ini membikin perempuan itu tambah murka, berulang ia menusuk. Dari ilmu pedangnya kulihat dia orang dari Hoa-san-pay.’.”

Lenghou Tiong terperanjat, ia merasa heran mengapa orang perempuan yang dikatakan itu adalah orang Hoa-san-pay?

Gi-lim meneruskan pula, “Bahwasanya perempuan itu orang Hoa-san-pay, maka lantas timbul perkiraanku tentulah Nona Gak, itu siausumoay Lenghou-toako, Nona Gak itu memang punya perangai berangasan. Akan tetapi segera aku tahu dugaanku keliru, sebab usia Nona Gak sebaya dengan diriku. Waktu itu aku baru berumur tiga bulan, tentunya Nona Gak juga masih bayi.”

“Ayah berkata pula, ‘Setelah serangannya tak bisa mengenai diriku, dia menyerang lebih gencar. Sudah tentu aku tidak gentar padanya, aku cuma khawatir dia melukaimu. Ketika dia menusuk untuk kedelapan kalinya, mendadak kutendang dia hingga terjungkal.’

‘Dia merangkak bangun terus mencaci maki hwesio jahat yang tidak tahu malu, kotor dan rendah, suka goda perempuan! Pada saat itulah ibumu pulang dari cuci pakaian di tepi sungai, dia mendengar caci maki itu. Setelah memaki, perempuan itu terus pergi dengan naik kudanya. Ketika aku ajak bicara ibumu, dia ternyata tidak menjawab, melainkan terus menangis. Kutanya dia apa sebabnya menangis, dia tidak menggubris padaku.’

‘Besok paginya ibumu lantas menghilang. Di atas meja tertinggal secarik kertas yang bertuliskan kalimat: ‘Manusia tak berperasaan, suka main perempuan’. Aku membawamu dan mencari ibumu ke segenap penjuru, tapi tak bisa menemukannya lagi.’

“Aku bilang, ‘Mungkin Ibu mendengar caci maki perempuan itu dan menyangka engkau benar-benar telah menggoda perempuan itu.’ Ayah menjawab, ‘Ya, bukankah tuduhan yang tak berdasar? Tapi kemudian setelah kupikir-pikir lagi rasanya tuduhan itu pun ada dasarnya, sebab pada waktu kulihat perempuan itu, lantas timbul pikiranku bahwa perempuan itu cantik, coba pikir, kalau aku sudah punya istri seperti ibumu dalam hatiku sebaliknya memuji kecantikan wanita lain, bahkan mulutku sampai mengucap demikian tidakkah ini bukti aku memang tak berperasaan, suka kepada setiap perempuan?’”

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu bahwa ibu Gi-lim ternyata sangat cemburuan, sudah tentu di dalam peristiwa ini telah terjadi salah paham, mestinya kalau dia mau tanya persoalannya lebih dulu segala urusan akan menjadi jelas.

Terdengar Gi-lim berkata pula, “Aku lantas tanya Ayah, ‘Kemudian engkau menemukan Ibu tidak?’ Ayah menjawab, ‘Aku telah mencarinya ke mana-mana, tapi tak bisa menemukannya. Kupikir ibumu adalah nikoh, tentu dia masuk kembali ke biara, maka setiap biara selalu kudatangi. Ketika kutemui gurumu, Ting-yat Suthay, beliau sangat tertarik akan kemungilanmu, tatkala itu kau sedang sakit lagi, maka beliau lantas minta aku menitipkan dirimu di biaranya agar kau tidak ikut menderita kubawa kian-kemari.’.”

Menyinggung Ting-yat Suthay, kembali Gi-lim merasa sedih dan mencucurkan air mata, katanya, “Sejak kecil aku ditinggalkan Ibu, berkat Suhu yang telah membesarkan aku, akan tetapi sekarang Suhu meninggal pula dicelakai orang, orang yang mencelakainya adalah guru Lenghou-toako, bukankah hal ini membikin aku menjadi serbasusah? Seperti diriku, sejak kecil Lenghou-toako juga sudah tidak punya ibu, ia pun dibesarkan oleh gurunya. Cuma dia lebih menderita daripada diriku, selain tak punya ibu, bahkan ayah juga tidak punya. Dengan sendirinya dia sangat menghormati gurunya, kalau aku membalas dendam Suhu dengan membunuh guru Lenghou-toako itu, entah akan betapa sedihnya Lenghou-toako. Menurut cerita Ayah, setelah diriku dititipkan di biara Suhu, kemudian Ayah mencari pula setiap biara di dunia ini, sampai-sampai tempat-tempat terpencil di daerah Mongol, Tibet, dan lain-lain juga telah didatangi, namun tetap tak memperoleh sedikit pun kabar Ibu.

“Maka dapat ditarik kesimpulan bisa jadi ibuku sudah membunuh diri lantaran menyesal pada kelakuan Ayah. O, Nenek bisu, tentunya ibuku adalah wanita yang berjiwa sangat keras, dia telah berkorban bagi Ayah dengan menanggung noda karena mau dikawin oleh Ayah, tapi baru melahirkan aku, lantas melihat Ayah menggoda perempuan lain dan dicaci maki sebagai orang yang rendah dan tak tahu malu, sudah tentu Ibu tambah marah dan putus asa mempunyai suami begitu, makanya beliau lantas ambil keputusan pendek dengan membunuh diri.”

Lenghou Tiong baru tahu bahwa di balik kejadian itu kiranya masih ada persoalan-persoalan begitu.

Gi-lim bertutur pula, “Kemudian aku tanya Ayah siapakah perempuan Hoa-san-pay yang bikin celaka orang lain itu? Ayah menjawab, ‘Perempuan itu cukup terkenal juga, ialah bininya Gak Put-kun, kutahu hal ini dari pedang yang dia tinggalkan di atas tanah itu, pada pedang itu ada ukiran namanya. Karena tidak dapat menemukan ibumu, saking gemasnya aku lantas pergi ke Hoa-san untuk mencari Gak-hujin, maksudku hendak membunuhnya untuk melampiaskan dongkolku. Setiba di Hoa-san, kulihat dia sedang memondong bayi perempuan yang kelihatan sangat mungil, aku menjadi teringat pada dirimu, sehingga tidak tega turun tangan, maka kuampuni dia.’ Ketahuilah Nenek bisu, bayi perempuan itu adalah Nona Gak, sumoay cilik Lenghou-toako. Mengingat Lenghou-toako sedemikian menyukai siausumoaynya, sudah tentu dia adalah bayi yang sangat menarik.”

Teringat kepada Gak-hujin dan Gak Leng-sian yang kini telah berbaring untuk selamanya di lembah pegunungan sunyi itu, hati Lenghou Tiong menjadi berduka.

Terdengar Gi-lim bicara lagi, “Setelah Ayah menjelaskan, barulah aku tahu mengapa Ayah begitu sedih melihat plakat yang bertuliskan: ‘Manusia tak berperasaan nomor satu di dunia ini, orang yang paling doyan perempuan’. Kutanya Ayah, ‘Apakah tulisan yang ditinggalkan Ibu di atas meja itu sering kau perlihatkan kepada orang lain? Kalau tidak mengapa ada orang lain yang mengetahui tulisan itu?’

“Ayah berkata, ‘Sudah tentu tidak, aku pun tidak bercerita kepada siapa pun. Memang aneh, selama ini dia hendak menuntut balas padaku, kalau tidak mengapa dia tidak tulis kata-kata lain tapi justru menulis kata-kata seperti pernah ibumu tulis? Kutahu ibumu hendak menagih jiwa padaku, baiklah, biar aku ikut pergi bersama dia. Memangnya aku sudah mencari dia, kalau bisa bertemu dengan dia di akhirat adalah kebetulan malah bagiku. Cuma badanku terlalu berat, waktu aku gantung diri, hanya sebentar saja tali gantungan lantas putus, untuk kedua kalinya aku hendak menggorok leher sendiri, tapi pisau yang biasanya kubawa itu mendadak hilang. Ai, benar-benar runyam, ingin mati pun tidak mudah.’

“Kemudian aku berkata, ‘Engkau keliru, Ayah, justru sang Buddha memberkati agar tidak membunuh diri, makanya tali putus sendiri dan pisau hilang mendadak. Kalau tidak, saat ini tentu aku tidak bisa berhadapan lagi dengan engkau.’ Ayah bilang betul juga ucapanku, besar kemungkinan sang Buddha ingin menghukumnya lebih lama menderita di dunia fana ini. Lalu aku berkata pula, ‘Semula kukira kain plakat yang tergantung di leher Dian Pek-kong itu kukira tertukar denganmu, makanya aku sedemikian marah.’ Ayah menjawab, ‘Mana bisa keliru? Dahulu Dian Pek-kong pernah berlaku kurang ajar padamu, bukankah itu tepat dengan tulisan plakatnya? Kusuruh dia menjadi perantara agar bocah Lenghou Tiong itu menikahimu, tapi dia selalu ogah-ogahan dan tak bisa melaksanakan tugasnya, bukankah ini berarti ‘tidak becus bekerja’ seperti tulisan plakat itu? Jadi apa yang tertulis di plakat baginya itu memang sangat cocok dan tepat.’ Aku berkata, ‘Ayah, aku akan marah bilamana kau suruh Dian Pek-kong melakukan hal-hal yang tidak layak itu. Hendaknya diketahui, mula-mula Lenghou-toako menyukai siausumoaynya, kemudian dia suka kepada Yim-toasiocia dari Mo-kau. Meski dia juga sangat baik padaku, tapi selamanya tidak pernah menaruh perhatian padaku.’.”

Ucapan terakhir ini membikin Lenghou Tiong rada menyesal, memang semula ia tidak merasakan cinta Gi-lim kepada dirinya, kemudian lambat laun ia pun mengetahui hal itu, namun dirinya memang benar-benar sebagaimana dikatakan Gi-lim sekarang, mula-mula menyukai Siausumoay, kemudian cintanya dicurahkan kepada Ing-ing, selama itu berkelana kian-kemari, jarang sekali teringat kepada Gi-lim.

Begitulah terdengar Gi-lim berkata pula, “Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Ayah menjadi gusar, dia mencaci maki Lenghou-toako, katanya, ‘Bocah Lenghou Tiong itu memang buta-melek, ada biji mata tapi tak bisa melihat, sungguh lebih goblok daripada Dian Pek-kong. Jelek-jelek Dian Pek-kong masih tahu akan kecantikan putriku, tapi Lenghou Tiong justru tidak mau tahu, benar-benar orang paling goblok di dunia ini.’

“Masih banyak kata-kata kotor yang dia lontarkan ke Lenghou-toako, sukar bagiku untuk menirukannya. Dia mengatakan pula, ‘Hm, kau kira siapa orang paling buta di dunia ini? Dia bukan Co Leng-tan, melainkan Lenghou Tiong! Biar mata Co Leng-tan dibutakan orang, tapi Lenghou Tiong jauh lebih buta daripada dia.’

“Coba, Nenek bisu, kan tidak betul ucapan Ayah itu, mana boleh dia mencaci maki Lenghou-toako cara begitu? Aku lantas berkata, ‘Ayah, Nona Gak dan Nona Yim entah berapa ratus kali lebih cantik daripada anakmu ini, pula Anak sudah meninggalkan rumah, Anak telah pasrahkan diri kepada sang Buddha. Anak cuma berterima kasih atas budi pertolongannya serta kebaikannya terhadap Suhu, sebab itulah Anak senantiasa terkenang padanya!’

“Ayah berkata pula, ‘Kalau sudah masuk agama mengapa tidak boleh kawin! Jika semua orang perempuan di dunia ini memeluk agama dan tidak kawin serta punya anak, kan di dunia ini takkan ada manusia lagi. Buktinya ibumu adalah nikoh, tidakkah dia kawin dengan hwesio semacam aku serta melahirkan engkau?’ Aku menjawab, ‘Ayah, jangan lagi kita bicara urusan ini, bagiku akan lebih… lebih suka tak dilahirkan saja oleh Ibu.’.”

Sampai di sini, suara Gi-lim menjadi rada sesenggukan. Selang sejenak, baru ia menyambung pula, “Lalu aku menyatakan pada Ayah bila dia menyatakan hal itu kepada Lenghou-toako, maka selamanya aku takkan bicara lagi dengan Ayah, bahkan tak mau bertemu pula. Bila Dian Pek-kong menyampaikan hal ini kepada Lenghou-toako, maka akan kuminta Gi-ho dan Gi-jing Suci agar melarang dia datang ke Hing-san. Ayah kenal watakku yang teguh, melihat tekadku sudah bulat begitu beliau termangu-mangu sejenak lalu menghela napas dan pergi.

“O, Nenek, kepergian Ayah sekali ini entah bila baru akan datang menjenguk diriku lagi? Entah pula beliau akan membunuh diri lagi atau tidak? Sungguh aku menjadi khawatir. Syukur kemudian aku dengar Ayah baik-baik saja. Selesai itu, tiba-tiba kulihat beberapa orang ini menuju ke lembah sini secara mencurigakan, mereka sembunyi di tengah semak-semak rumput, entah apa yang diperbuat mereka. Diam-diam aku menguntit ke sini untuk mengintai, tapi malah kutemukan engkau. Nenek bisu, engkau tak mahir ilmu silat, juga tidak dapat mendengar pembicaraan orang, bila kau kepergok orang kan sangat berbahaya. Selanjutnya jangan coba-coba lagi main sembunyi di semak rumput begitu. Memangnya kau kira sedang main sembunyi-sembunyi seperti anak kecil?”

Mendengar sampai di sini, hampir-hampir saja Lenghou Tiong bergelak tertawa. Ia pikir siausumoay ini benar-benar masih kekanak-kanakan sehingga menganggap orang lain juga masih kanak-kanak saja.

“Akhir-akhir ini Gi-ho dan Gi-jing Suci selalu menyuruh aku giat belajar pedang,” kata Gi-lim pula. “Menurut cerita Cin Koan Sumoay dia pernah mendengar Gi-ho dan Gi-jing Suci berunding dengan beberapa suci yang lain, mereka menyatakan Lenghou-toako tentu tak mau menjadi ketua Hing-san-pay untuk selamanya, sedangkan Gak Put-kun adalah musuh pembunuh guru dan susiok kita, dengan sendirinya Hing-san-pay kita tidak sudi dilebur ke dalam Ngo-gak-pay, sebab itulah mereka ingin aku menjadi ciangbunjin. Nenek bisu, waktu itu sedikit pun aku tidak percaya cerita Cin Koan Sumoay itu. Tapi Cin-sumoay berani bersumpah bahwa apa yang diceritakan itu tidak dusta. Katanya, menurut pertimbangan para suci yang berunding itu, dalam angkatan murid Hing-san-pay yang pakai nama Gi, diriku paling baik dengan Lenghou-toako, kalau aku yang menjadi ketua, tentu paling cocok dengan kehendak Lenghou-toako.

“Jadi mereka mendukung diriku, semuanya adalah demi Lenghou-toako. Mereka berharap aku meyakinkan ilmu pedang dengan baik dan membunuh Gak Put-kun, dengan demikian tentu tiada seorang pun yang keberatan bila aku diangkat sebagai ketua Hing-san-pay. Dengan penjelasan ini, barulah aku percaya. Cuma jabatan ketua itu rasanya terlalu berat bagiku. Ilmu pedangku biar kulatih sepuluh tahun lagi juga tak bisa melebihi Gi-ho dan Gi-jing Suci, untuk membunuh Gak Put-kun lebih-lebih tidak mungkin, memangnya pikiranku sedang kusut, terpikir urusan ini hatiku tambah bingung. Coba, Nenek bisu, apa yang mesti kulakukan sekarang?”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: