Hina Kelana: Bab 128. Intrik Gak Put-kun Terhadap Hing-san-pay

Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Tungning)

Lenghou Tiong merenungkan kembali percakapannya dengan Ing-ing di gua itu tentang pengalamannya di Siau-lim-si, di mana dia telah kena ditendang dengan keras oleh Gak Put-kun, ia tidak terluka, sebaliknya tulang kaki Gak Put-kun sendiri patah malah. Hal ini sangat mengherankan Ing-ing, katanya ayahnya (Yim Ngo-heng) juga tidak habis paham atas kejadian itu. Sebab seperti diketahuinya di dalam tubuh Lenghou Tiong sudah banyak bertambah dengan lwekang yang disedotnya dari beberapa tokoh silat kelas tinggi, namun untuk bisa menggunakan campuran lwekang itu buat menyerang lawan diperlukan latihan yang cukup, padahal waktu itu Lenghou Tiong belum mencapai taraf demikian. Kini kalau dipikir, jelas Gak Put-kun sengaja pura-pura, sengaja diperlihatkan kepada Co Leng-tan agar saingannya itu menilai rendah kepandaiannya dan lengah.
Dan benar juga usaha Co Leng-tan dengan susah payah untuk menggabungkan Ngo-gak-kiam-pay akhirnya cuma sia-sia saja, orang lain yang menarik keuntungannya.

Setelah memahami apa yang terjadi itu, kemudian ia membatin, “Betapa pun Suhu bermaksud mencelakai aku tetap takkan kulupakan budi kebaikannya selama mendidik aku 20-an tahun. Dengan sendirinya aku sendiri tak dapat membunuhnya, namun anak murid Hing-san-pay yang berhasrat menuntut balas juga tak dapat kurintangi. Hanya saja ilmu silat Suhu sekarang sudah lain daripada dahulu, betapa pun Gi-jing dan lain-lain berlatih rasanya selama hidup mereka ini juga tak mampu mengalahkan suhuku. Beberapa jurus ilmu pedang yang kuajarkan kepada mereka itu pun terang bukan tandingan Pi-sia-kiam-hoat.”

Ia pikir Gi-lim sekarang tentu sudah tidur, biarlah aku pergi ke paviliun di seberang sana untuk melihat apakah rombongan Siu Siong-lian dan kawan-kawannya sudah datang belum.

Paviliun yang dahulu ditunjuk sebagai tempat penampungan orang-orang Kang-ouw yang ikut Lenghou Tiong ke Hing-san itu terletak di Thong-goan-kok, suatu lembah di lereng Hing-san dan jauhnya ada belasan li juga. Dengan berlari-lari enteng Lenghou Tiong terus menuju ke sana, ketika sampai di lembah itu hari pun sudah terang tanah. Lebih dahulu ia mengaca dirinya di tepi sebuah sungai kecil, memeriksa keadaan pakaian, sesudah tiada tanda-tanda yang mencurigakan barulah ia menuju paviliun itu.

Ia mengitari pintu depan, baru saja hendak masuk melalui pintu samping, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di dalam.

Dahulu orang-orang Kang-ouw campuran itu ditampung oleh Lenghou Tiong di situ, setiap hari Lenghou Tiong mengobrol, main judi dan minum arak bersama mereka, meski tengah malam juga selalu ramai suasana di situ. Kemudian Yim Ngo-heng memberi perintah agar orang-orang itu pergi dari situ, maka sepilah keadaan lembah itu.

Kini mendengar kembali suara ramai itu, Lenghou Tiong tidak menjadi senang, sebaliknya malah khawatir. Dari apa yang didengarnya dari percakapan Thio-hujin dan kawan-kawannya itu, jelas mereka bermaksud buruk terhadap Hing-san-pay, kalau mereka tidak mau disuruh pergi secara halus terpaksa harus main kekerasan, dan dari kawan tentu akan menjadi lawan. Bila Lenghou Tiong harus mencelakai bekas teman-teman itu, rasanya serbasusah.

Dalam pada itu terdengar orang banyak sedang berteriak-teriak di dalam rumah, “Sungguh aneh! Keparat! Perbuatan siapa ini?”

“Ya, bangsat benar! Kapan dilakukannya hal ini? Mengapa tiada seorang pun yang tahu?”

“Eh, mereka ini kan bukan jago lemah, mengapa kena diselomoti orang tanpa menjengek sedikit pun?”

Dari suara ribut-ribut itu Lenghou Tiong dapat menduga di situ tentu terjadi sesuatu yang luar biasa. Segera ia menyelinap masuk, dilihatnya di pekarangan dalam dan serambi samping sana penuh berdiri orang, semuanya menengadah, memandang ke pucuk pohon yang amat tinggi di tengah halaman itu.

Waktu Lenghou Tiong juga mendongak ke atas, seketika ia pun terheran-heran. Dilihatnya pucuk pohon yang tingginya belasan meter itu tergantung delapan orang, yaitu Siu Siong-lian dan Thio-hujin bertujuh ditambah lagi seorang yang berpakaian perlente dan dikenalnya sebagai Hoat-put-liu-jiu Yu Siok. Hiat-to kedelapan orang ini tertutuk, kaki dan tangan ditelikung ke belakang dan diikat, lalu digantungkan di atas pohon sehingga kontal-kantil ke sana kemari.

Bahkan tertampak pula ada dua ekor ular sepanjang dua meteran sedang merambat di atas badan kedelapan orang itu. Terang itulah “hewan” piaraan Giam Sam-seng, Si Pengemis Galak Berular Dua.

Tidaklah menjadi soal bila ular-ular itu merambati badan Giam Sam-seng yang menjadi majikannya, tapi ketika ular-ular itu menggerayangi badan Siu Siong-lian dan lain-lain, mereka menjadi ketakutan dan jijik pula, celakanya mereka tak bisa bicara dan berkutik.

Tiba-tiba seorang meloncat ke atas, yaitu Keh Bu-si, dengan sebilah belati ia memotong tali yang menggantung Tong-pek-siang-ki. Kontan kedua orang itu anjlok ke bawah, syukur seorang yang pendek gemuk lantas menangkap tubuh mereka. Penyelamat ini adalah Lo Thau-cu. Dalam sekejap saja Keh Bu-si sudah berhasil menolong kedelapan orang itu ke bawah dan membuka hiat-to mereka yang tertutuk.

Begitu bebas, kontan Siu Siong-lian mencaci maki dari kakek moyang tujuh belas keturunan dan kata-kata yang paling kotor. Tapi mendadak kedelapan orang itu saling pandang dengan sikap yang lucu, ada yang kaget, ada yang tertawa, ada yang geli.

Waktu Coh Jian-jiu memeriksa mereka, kiranya di dahi mereka masing-masing tertulis satu huruf. Coh Jian-jiu coba menerapkan huruf-huruf itu, hasilnya adalah dua kalimat yang artinya, “Muslihat keji sudah ketahuan, awas jiwa anjing kalian.”

Sebagai orang licin dan berpengalaman, Yu Siok dan lain-lain sudah paham apa artinya kalimat-kalimat itu. Hanya Say-po Hwesio yang kasar itu terus mencaci maki, “Muslihat keji ketahuan apa? Memangnya mengawasi jiwa anjing siapa?”

Lekas Giok-leng Tojin mencegah ucapan kawannya itu lebih lanjut, lalu menghapus huruf di jidat sendiri dengan air ludah.

Lenghou Tiong tidak habis heran menyaksikan itu, pikirnya, “Kiranya secara diam-diam sudah ada orang kosen yang telah membongkar muslihat mereka. Alangkah baiknya jika sekiranya aku tidak perlu turun tangan sendiri.”

Terdengar Coh Jian-jiu lagi bertanya, “Yu-heng, entah cara bagaimana kalian berdelapan kena diselomoti orang, dapatkah kau menceritakan?”

Yu Siok tersenyum, jawabnya, “Sungguh memalukan bila dikatakan. Semalam Cayhe tidur dengan sangat nyenyak, entah mengapa tahu-tahu hiat-to sudah tertutuk orang dan tergantung tinggi di atas pohon ini, bangsat yang menyelomoti kami itu besar kemungkinan memakai obat bius dan sebagainya, kalau tidak, diriku yang tidak becus sih lumrah, tapi tokoh-tokoh yang serbacerdas tangkas sebagai Giok-leng Tojin, Thio-hujin, dan lain-lain ini masakah juga kena diselomoti orang?”

Thio-hujin hanya mendengus saja. Ia tidak suka banyak bicara, segera ditinggal ke dalam untuk mencuci muka dan disusul oleh Giok-leng Tojin dan kawan-kawannya.

Begitulah orang banyak itu masih ramai membicarakan kejadian aneh itu, mereka anggap penuturan Yu Siok tadi tidak lengkap dan tidak sejujurnya. Sebab kalau benar dibius, mustahil berpuluh orang yang tidur di ruangan itu hanya beberapa orang tertentu saja yang kena pengaruh obat bius dan yang lain tidak. Selain itu mereka pun tidak paham apa arti kalimat “muslihat keji sudah ketahuan”, entah muslihat keji apa yang dimaksudkan. Macam-macam pendapat dan dugaan timbul di antara orang banyak itu.

Mendengar itu, hati Lenghou Tiong sangat terhibur. Ia pikir kalau orang-orang itu ikut dalam komplotan Siu Siong-lian itu tentunya mereka mengetahui muslihat keji apa yang akan dikerjakan. Tampaknya orang yang ditugaskan Gak Put-kun ke sini hanya sebagian kecil di antara mereka. Hanya entah siapakah orang kosen yang telah menggantung kedelapan orang di pucuk pohon itu?

Dalam pada itu terdengar seorang di antaranya berkata dengan tertawa, “Untung sekali hari ini Tho-kok-lak-koay tidak berada di sini, kalau mereka di sini tentu urusan akan tambah ramai.”

“Dari mana kau tahu mereka tidak berada di sini? Keenam orang itu suka gila-gilaan, bukan mustahil apa yang terjadi ini adalah perbuatan mereka,” kata seorang lagi.

“Tidak, pasti bukan perbuatan mereka,” ujar Coh Jian-jiu.

“Bagaimana Coh-heng mengetahuinya?” tanya orang pertama tadi.

“Meski ilmu silat Tho-kok-lak-sian cukup tinggi, namun isi perut mereka sangat terbatas,” kata Coh Jian-jiu. “Jangankan mereka tidak mampu menulis kalimat-kalimat itu, untuk menulis dua huruf ‘muslihat keji’ saja kutanggung mereka tidak bisa.”

Semua orang sama mengakak dan menyatakan ucapan Coh Jian-jiu itu memang tidak salah. Mereka terus mengobrol tentang kejadian lucu dan aneh itu sehingga tiada seorang pun yang memerhatikan babu tua dungu samaran Lenghou Tiong.

Lenghou Tiong sengaja mengambil sepotong kain lap untuk membersihkan ruangan itu dengan kepala menunduk, tapi diam-diam ia mengawasi gerak-gerik orang-orang itu.

Dari para kesatria yang tinggal di situ hampir seluruhnya dikenal oleh Lenghou Tiong, orang yang dasarnya pendiam memang sukar untuk diketahui isi hatinya, tapi bagi orang yang pembawaannya kasar dan suka omong, bila sekarang mendadak berubah menjadi pendiam atau sengaja main sembunyi-sembunyi, maka orang itu perlu dicurigai.

Begitulah ia coba mengingat-ingat gerak-gerik setiap orang itu. Ia pikir kalau orang-orang yang ikut serta dalam muslihat keji itu cuma sebagian kecil, maka sebagian besar lainnya akan cukup kuat untuk mengatasinya bilamana terjadi serangan mendadak sehingga anak murid Hing-san-pay tidak perlu dikhawatirkan keselamatannya. Malahan yang pasti akan menjadi korban mungkin adalah sebagian teman-teman yang berada di paviliun ini. Tapi dengan kejadian digantungnya kedelapan orang di pucuk pohon adalah suatu peringatan yang baik bagi semua orang agar waspada menghadapi segala kemungkinan.

Lewat tengah hari, tiba-tiba terdengar perang berteriak-teriak di luar, “Aneh, sungguh aneh! Lekas kemari, coba lihat apa lagi itu?”

Serentak orang banyak itu berlari-lari keluar. Lenghou Tiong juga ikut dari belakang, dilihatnya beberapa li di sebelah sana ada beberapa puluh orang sedang mengerumuni sesuatu. Waktu Lenghou Tiong sampai di sana, dilihatnya orang banyak sedang ramai memperbincangkan kejadian itu. Kiranya ada belasan orang berduduk tak bergerak di kaki gunung situ, jelas hiat-to mereka tertutuk semua. Pada dinding batu-batu padas tertampak beberapa tulisan yang artinya kembali seperti apa yang tertulis di jidat Siu Siong-lian berdelapan. Tulisan itu dicoret dengan air tanah liat, tampaknya belum kering, tentunya belum lama ditulis.

Para kesatria menjadi ragu-ragu apakah mesti membuka hiat-to orang-orang itu atau tidak. Segera ada orang menggeser belasan orang itu untuk mengenali siapa-siapa mereka itu. Ternyata di antara mereka yang tertutuk tak berkutik itu termasuk Boh-pak-siang-him, kedua beruang dari utara yang doyan makan daging manusia. Selain itu ada lagi dua orang gembong Mo-kau, mereka adalah Pau Tay-coh dan Bok-tianglo.

Lenghou Tiong rada terkejut melihat mereka, kalau kedua gembong Mo-kau itu belum mati, maka Hek-bok-leng yang diperoleh Gak Put-kun itu terang bukan berasal dari Pau Tay-coh dan Bok-tianglo berdua.

Keh Bu-si tampak tampil ke muka dan mengurut beberapa kali di punggung Boh-pak-siang-him untuk membuka ah-hiat (hiat-to yang bikin bisu) mereka, tapi hiat-to lain tidak dijamahnya dan tetap membiarkan mereka tak bisa bergerak. Lalu Keh Bu-si bertanya, “Ada sesuatu yang membingungkan, maka Cayhe ingin minta keterangan kepada kalian. Coba terangkan, sesungguhnya kalian berdua telah ikut serta dalam muslihat rahasia apa, hal inilah yang ingin diketahui oleh para kawan kita.”

“Benar, benar! Muslihat apa yang kalian kerjakan, coba jelaskan!” seru orang banyak secara serentak.

“Muslihat kakek moyangnya tujuh belas turunan, muslihat maknya anak kura-kura!” kontan si Oh-him, Si Beruang Hitam, mencaci maki.

“Habis kalian ditutuk oleh siapa-siapa? Tentu boleh kau jelaskan urusan?” tanya Coh Jian-jiu pula.

“Kalau aku tahu sih mendingan,” sahut Pek-him, Si Beruang Putih. “Tadi kami sedang jalan-jalan di sini, tahu-tahu punggung ditutuk orang, lalu tak bisa berkutik. Keparat, kalau benar laki-laki sejati seharusnya berkelahi dari depan, main sergap, hm, macam kesatria apa? Bangsat!”

“Jika kalian tidak mau bicara terus terang, ya sudahlah,” kata Coh Jian-jiu. “Cuma urusan ini sudah terbongkar, kukira akan gagal dikerjakan. Bagi kita semua hendaklah berlaku waspada saja.”

“Coh-heng,” seorang berseru, “mereka tidak mau mengaku terus terang, biarkan mereka tinggal di sini saja, biarkan lapar tiga-hari tiga-malam supaya tahu rasa.”

“Benar,” seorang lagi menanggapi. “Jika kau membebaskan mereka, jangan-jangan orang kosen itu akan marah padamu dan kau sendiri yang akan digantung di atas pohon, kan bisa runyam.”

“Memang tidak salah,” kata Keh Bu-si. “Eh, Saudara-saudara, bukan Cayhe tidak mau menolong kalian, soalnya Cayhe sendiri juga merasa takut.”

Oh-him dan Pek-him saling pandang, lalu sama mencaci maki, cuma yang dimaki tiada keruan juntrungannya, mereka tidak berani memaki Coh Jian-jiu dan kawan-kawannya secara terang-terangan, sebab kalau sampai membikin marah pihak lawan tentu mereka sendiri yang bakal celaka berhubung tak bisa berkutik sama sekali.

Begitulah Keh Bu-si lantas tinggal pergi. Sesudah berkerumun sejenak sambil omong ini-itu sebentar, orang-orang lain juga ikut bubar. Di antara orang-orang itu tentu pula ada begundalnya Boh-pak-siang-him, hanya saja mereka tidak berani memberi pertolongan dalam keadaan demikian bilamana mereka tidak mau ketahuan siapa diri mereka.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong sudah berjalan kembali ke paviliun tadi. Baru sampai di luar halaman, terdengar di dalam ada suara orang tertawa geli. Ketika Lenghou Tiong melongok ke dalam, ternyata semua orang sedang memandang ke atas. Waktu ia ikut mendongak, ternyata di atas pohon kembali bergantungan dua orang. Waktu diperhatikan, kiranya kedua orang sial itu adalah Dian Pek-kong dan Put-kay Hwesio.

Keruan Lenghou Tiong sangat heran. Put-kay adalah ayah Gi-lim Sumoay, Dian Pek-kong juga diakui sebagai murid Gi-lim. Betapa pun mereka berdua pasti tidak punya niat mencelakai pihak Hing-san-pay. Sebaliknya kalau Hing-san-pay ada kesulitan tentu mereka akan membantu malah. Tapi mengapa mereka pun digantung orang di atas pohon, hal ini benar-benar membikin Lenghou Tiong tidak habis paham. Gambaran yang telah digagas Lenghou Tiong semula kini menjadi buyar sama sekali setelah melihat Put-kay dan Dian Pek-kong juga mengalami nasib yang sama seperti Siu Siong-lian berdelapan. Sekilas terbayang suatu pikiran dalam benaknya, “Put-kay Taysu bersifat lucu dan lugu, biasanya tiada sengketa apa-apa pada lain orang, mengapa dia pun digantung orang di atas pohon? Tentu ada orang sengaja main gila padanya. Untuk menangkap Put-kay rasanya tidak mungkin dilakukan oleh seorang saja. Besar kemungkinan adalah Tho-kok-lak-sian.”

Tapi lantas terpikir pula dari apa yang dikatakan Coh Jian-jiu tadi, memang tidak salah bahwa Tho-kok-lak-sian tidak mampu menulis kalimat-kalimat sebagus itu.

Begitulah dengan penuh tanda tanya ia melangkah ke dalam halaman. Di tengah suara tertawa riuh orang banyak, dilihatnya di atas tubuh Put-kay Hwesio dan Dian Pek-kong terjulur seutas pita kuning yang bertulisan. Tertampak pita di atas tubuh Put-kay itu tertulis: “Manusia yang paling doyan perempuan, laki-laki berhati palsu nomor satu di dunia ini.”

Kemudian dilihatnya pita di atas tubuh Dian Pek-kong bertuliskan: “Manusia yang tidak becus bekerja, orang yang paling sembrono nomor satu di dunia ini.”

Pikiran pertama yang timbul dalam benak Lenghou Tiong sesudah membaca tulisan kedua pita itu adalah, “Cara pasang kedua pita itu keliru tempat. Mestinya kedua pita itu harus tukar tempat antara Put-kay Hwesio dan Dian Pek-kong. Mana bisa Put-kay Hwesio dikatakan ‘manusia yang paling doyan perempuan’? Orang yang paling doyan perempuan harus dialamatkan kepada Dian Pek-kong. Sedangkan sebutan ‘orang paling sembrono’ masih boleh juga diberikan kepada Put-kay. Dia tidak pantang membunuh, tidak pantang makan dan minum, segala apa pun dia gegares. Sesudah menjadi hwesio juga berani cari nikoh sebagai istri, perbuatannya memang sembrono. Cuma sebutan ‘tidak becus bekerja’ rasanya rada janggal dan entah apa maksudnya?”

Kalau melihat kedua pita itu masing-masing terikat di leher kedua orang itu agaknya bukan dipasang dalam keadaan tergesa-gesa, maka tidak keliru tempat tentunya.

Para kesatria menjadi gempar pula menyaksikan keadaan Put-kay berdua itu, banyak di antaranya juga merasa heran melihat tulisan kedua pita. Mereka berpendapat bahwa manusia yang paling doyan perempuan di dunia ini selain Dian Pek-kong rasanya tiada orang lain lagi, mengapa hwesio gede ini bisa melebihi Dian Pek-kong?

Keh Bu-si dan Coh Jian-jiu berunding sejenak dengan suara perlahan, mereka pun merasa kejadian itu rada-rada luar biasa. Mereka pun tahu Put-kay Hwesio adalah teman baik Lenghou Tiong, mereka pikir Put-kay harus ditolong turun lebih dulu.

Segera Keh Bu-si melompat ke atas pohon, ia mengiris putus tali pengikat kedua orang itu. Berbeda dengan Siu Siong-lian dan Boh-pak-siang-him yang terus mencaci maki, ternyata Put-kay dan Dian Pek-kong bungkam saja dengan lesu.

“Mengapa Taysu juga tertimpa nasib malang ini?” dengan suara perlahan Keh Bu-si bertanya.

Put-kay tidak menjawab melainkan cuma geleng-geleng kepala saja. Ia coba melepaskan pita di lehernya itu, dipandangnya sekian lama tulisan di atas pita itu, kemudian mendadak ia menangis keras sambil membanting-banting kaki.

Kejadian ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga. Seketika suara orang banyak menjadi lenyap dan sama memandangi Put-kay dengan melongo heran. Put-kay masih terus menangis sambil memukul-mukul dada sendiri, makin menangis makin berduka.

“Thaysuhu, janganlah kau menyesal,” Dian Pek-kong coba membujuk. “Kebetulan saja kita disergap lawan, kita harus menemukan keparat itu dan mencincang dia….”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong tangan Put-pay menampar ke belakang, “plok”, kontan Dian Pek-kong terpental beberapa meter jauhnya dan hampir-hampir roboh terjungkal, tapi sebelah pipinya seketika merah bengep.

“Bajingan!” Put-kay memaki. “Kita digantung di sini adalah sebagai ganjaran atas dosa kita, kau… kau berani sekali, masakah kau hendak membunuh orang.”

Karena tidak tahu seluk-beluknya, tapi dari ucapan thaysuhunya itu Dian Pek-kong dapat menduga orang yang menggantung mereka di atas pohon itu tentulah orang tokoh luar biasa sehingga thaysuhu itu sendiri merasa segan padanya. Terpaksa Dian Pek-kong hanya menunduk dan berulang mengiakan.

Untuk sejenak Put-kay termenung di tempatnya, habis itu kembali ia menangis lagi sambil menghantam dada sendiri. Kemudian mendadak tangannya menggampar lagi ke belakang, kembali Dian Pek-kong hendak dihajar.

Untung gerak tubuh Dian Pek-kong sangat cepat, ia keburu menghindarkan gamparan itu, teriaknya, “Thaysuhu!”

Sekali menggampar tidak kena, Put-kay juga tidak mengudak lagi, tapi tangannya terus diputar balik, “plak”, dengan keras menghantam di atas sebuah meja batu di tengah halaman itu. Kontan batu kerikil bercipratan. Kedua telapak tangan Put-kay segera menghantam pula secara bergantian disertai jerit tangis, makin menghantam makin keras, dalam sekejap saja meja batu yang keras itu telah hancur menjadi beberapa potong kecil.

Melihat betapa dahsyat tenaga pukulannya, semua orang sama terkejut, tiada seorang pun yang berani mencuit, sebab khawatir bila Put-kay lantas mengamuk padanya, sekali kepala kena dihantam tentu akan hancur luluh. Memangnya kepala siapa yang bisa lebih keras daripada meja batu itu.

Coh Jian-jiu, Lo Thau-cu, dan Keh Bu-si hanya saling pandang dengan bingung.

Melihat gelagat kurang baik itu, segera Dian Pek-kong berkata, “Harap kalian jaga thaysuhuku, aku akan pergi mengundang Suhu.”

Mendengar itu, Lenghou Tiong pikir jangan sampai dirinya dicurigai Gi-lim bilamana siausumoay itu nanti datang. Ia sudah pernah menyamar sebagai perwira tentara, sudah pernah menyaru sebagai petani, tapi semuanya kaum lelaki, sekarang dia menyaru sebagai babu tua, seorang perempuan, rasanya sangat kikuk dan canggung, ia sendiri pun tidak yakin akan penyamarannya itu dan khawatir rahasianya terbongkar.

Segera ia sembunyi dulu di dalam kamar penimbun kayu bakar di belakang. Ia pikir Boh-pak-siang-him dan lain-lain masih mematung di sana, dapat diduga Coh Jian-jiu dan kawan-kawannya ada niat pergi mendengarkan percakapan mereka malam nanti. Maka sesudah kenyang tidur sebentar aku pun coba-coba mendengarkan ke sana.

Memangnya Lenghou Tiong sudah sangat mengantuk karena semalam tidak pernah tidur, sambil layap-layap terpulas ia dengar suara tangis Put-kay Hwesio yang aneh dan lucu itu.

Waktu bangun hari sudah gelap, ia mencari sedikit makanan di dapur, ternyata tiada seorang pun yang pedulikan dia. Setelah menunggu lagi agak lama, ketika suasana sudah sunyi, lalu ia memutar ke belakang gunung dan perlahan-lahan mendekati tempat ditutuknya Boh-pak-siang-him dan komplotannya itu. Sesudah dekat, ia berjongkok di seberang sebuah kali kecil, di situlah ia pasang telinga mendengarkan.

Tidak lama kemudian lantas terdengar suara pernapasan orang banyak di sebelah depan sana, sedikitnya ada belasan orang yang tersebar di sekitar situ. Diam-diam Lenghou Tiong merasa geli bahwa bukan cuma Keh Bu-si dan kawan-kawannya saja yang timbul pikiran buat mencuri dengar percakapan Boh-pak-siang-him, bahkan orang lain juga punya pikiran demikian, nyata orang cerdik di dunia ini tidaklah sedikit. Diam-diam Lenghou Tiong juga mengakui kecerdikan Keh Bu-si, dia hanya membuka hiat-to bisu kedua orang pemakan daging manusia itu, tapi sengaja tidak membuka hiat-to Pau Tay-coh dan lain-lain, kalau tidak tentu Pau Tay-coh yang pintar itu akan melarang Boh-pak-siang-him bicara bila mereka membuka mulut.

Benar juga, terdengar Pek-him sedang marah-marah dan memaki, “Nenek moyangnya, begini banyak nyamuknya, bisa-bisa darahku akan terisap habis. Nyamuk busuk, nyamuk bangsat, terkutuklah delapan belas keturunan nenek moyangmu!”

“Aneh,” Oh-him menanggapi dengan tertawa, “nyamuk kok cuma menggigit kau dan tidak menggigit diriku, entah apa sebabnya.”

“Sebabnya karena darahmu berbau, nyamuk tidak doyan darahmu,” sahut Pek-him mendongkol.

“Ya, aku lebih suka darahku berbau daripada digigit beratus-ratus nyamuk sekaligus,” ujar Oh-him.

Kembali Pek-him mencaci maki kalang kabut.

Diam-diam Lenghou Tiong membayangkan bagaimana rasanya orang digigit beratus-ratus, bahkan beribu-ribu nyamuk sekaligus, tapi badan tak bisa berkutik, memang rasanya tidak dapat dikatakan enak.

Sesudah puas mengumpat ke kanan dan ke kiri, kemudian Pek-him berkata, “Bila aku dapat bergerak dengan bebas lagi, orang pertama yang akan kucari untuk bikin perhitungan adalah Keh Bu-si si bangsat itu, akan kututuk juga hiat-tonya, lalu kugigit pahanya, akan kumakan daging pahanya itu sedikit demi sedikit.”

“Kalau aku lebih suka makan daging para nikoh cilik itu, kulitnya halus, dagingnya putih, tentu jauh lebih lezat dan gurih,” ujar Oh-him.

“Tapi Gak-siansing telah menyatakan para nikoh itu tidak boleh dimakan, harus ditangkap ke Hoa-san,” kata Pek-him.

“Jumlah nikoh cilik itu ada beratus-ratus, kalau kita makan dua-tiga orang di antaranya masakah bisa ketahuan?” ujar Oh-him.

Mendadak Pek-him mencaci maki lagi dengan suara keras, “Bangsat! Anak jadah!”

“Kau tidak mau makan nikoh boleh terserah, mengapa memaki orang?” jawab Oh-him dengan gusar.

“Aku tidak memaki kau, aku memaki nyamuk,” sahut Pek-him.

Selagi Lenghou Tiong merasa geli mendengarkan dagelan yang lucu itu, tiba-tiba ada suara keresek-keresek perlahan di belakangnya, ada orang perlahan-lahan mendekatinya. Pendatang ternyata langsung menuju ke arahnya, sesudah berada di belakangnya, orang itu pun berjongkok dan perlahan-lahan menarik lengan bajunya.

Lenghou Tiong terkejut, pikirnya, “Siapakah dia ini? Jangan-jangan penyamaranku diketahui olehnya?”

Ia coba menoleh, di bawah sinar bulan yang remang-remang tiba-tiba tertampak sebuah wajah yang cantik, kiranya Gi-lim adanya.

Kembali Lenghou Tiong terkejut dan bergirang pula, ia menduga tentu jejaknya telah diketahui oleh Gi-lim. Dilihatnya Gi-lim menggerakkan dagunya ke samping, mulutnya yang kecil dimoncongkan untuk memberi tanda ke arah sana, lalu lengan baju Lenghou Tiong ditarik-tarik lagi sebagai tanda ingin bicara dengan dia ke tempat yang agak jauhan di sebelah sana.

Lenghou Tiong rada bingung, tapi dilihatnya Gi-lim sudah mendahului berjalan ke sana, terpaksa ia pun mengikut di belakangnya.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: