Hina Kelana: Bab 127. Muslihat Keji Gak Put-kun

Oleh Jin Yong

Terhadap nona lain tentu Pau Tay-coh akan menjawab dengan kata-kata sanjung puji sebagaimana lazimnya terhadap muda-mudi yang sedang dirundung asmara, tapi terhadap Ing-ing mana dia berani bicara begitu, maka memandang saja tidak berani melainkan membungkuk memberi hormat dan mengiakan belaka dengan sikap sungguh-sungguh. Ia tahu tuan putrinya itu pemalu, khawatir orang menertawai dia jatuh cinta kepada Lenghou Tiong sehingga banyak orang Kang-ouw pernah menjadi korban perasaan si nona yang aneh itu.

Begitulah Pau Tay-coh lantas mohon diri dan berangkat pergi bersama kawan-kawannya. Sikap hormatnya terhadap Lenghou Tiong bahkan melebihi hormatnya kepada Ing-ing. Ia tahu semakin hormat kepada Lenghou Tiong tentu akan semakin menambah kegirangan hati Ing-ing. Sebagai kawakan Kang-ouw dan sudah kenyang pengalaman hidup, sudah tentu Pau Tay-coh dapat menyelami jiwa anak gadis pada umumnya.

Terakhir tinggal Gak Put-kun yang masih berdiri mematung di situ, Ing-ing lantas berkata, “Gak-siansing, kau pun boleh pergi saja. Tentang jenazah istrimu apakah akan kau bawa pulang ke Hoa-san untuk dikebumikan di sana?”

Gak Put-kun menggeleng, sahutnya, “Mohon tolong kalian berdua, boleh dikubur saja di sini.”

Habis berkata, tanpa memandang lagi kepada Lenghou Tiong maupun Ing-ing, segera ia melangkah pergi dengan cepat, dalam sekejap saja sudah menghilang di balik semak-semak pohon sana.

Setelah mengalami malapetaka yang hampir merenggut nyawa Lenghou Tiong dan Ing-ing tadi, cinta kasih di antara mereka telah bertambah lebih kekal lagi. Kedua orang saling pandang, lalu saling berpelukan dengan mesra.

Menjelang magrib, selesailah mereka mengubur Gak-hujin di sebelah kuburan Gak Leng-sian. Kembali Lenghou Tiong menangis dengan sedih.

Esok paginya, Ing-ing tanya keadaan luka Lenghou Tiong.

“Sekali ini tidak terlalu parah, tak perlu khawatir,” kata pemuda itu.

“Baiklah kalau begitu, tempat kita ini sudah diketahui orang, kupikir dua-tiga hari lagi kita harus pindah tempat,” ujar Ing-ing.

“Benar juga,” kata Lenghou Tiong. “Siausumoay sudah ditemani ibunya, tentu dia takkan kesepian lagi.”

Lalu Ing-ing mengeluarkan sejilid buku tipis, itulah benda yang diketemukan Pau Tay-coh ketika menggeledah badan Gak Put-kun. Katanya kemudian, “Ini adalah Pi-sia-kiam-boh yang mengakibatkan Hoa-san-pay kalian kocar-kacir, sungguh suatu bibit bencana.”

Habis berkata ia terus robek-robek buku itu hingga hancur, lalu dibakar di depan makam Gak-hujin.

“Pada dasarnya Suhu adalah orang baik, tapi demi untuk meyakinkan ilmu pedang sesat ini, akhirnya sifatnya berubah lain sama sekali,” kata Lenghou Tiong.

“Memang tidak salah ucapanmu,” kata Ing-ing. “Kalau kiam-boh ini tetap beredar di dunia Kang-ouw, sungguh akan menimbulkan malapetaka yang tak terhingga. Kita sudah membakar sejilid kiam-boh ini, tapi Lim Peng-ci masih memegang kiam-boh yang asli. Cuma kukira dia takkan seluruhnya diuraikan kepada Co Leng-tan dan Lo Tek-nau. Anak she Lim itu pun bukan orang bodoh, mana dia mau memberikan kiam-boh berharga itu kepada orang lain?”

“Mata Co Leng-tan dan Lim Peng-ci sudah buta semua, bila benar Lim Peng-ci mau mengajarkan ilmu pedang itu, paling-paling hanya bisa mengajar dengan uraian mulut saja, tidak mungkin kiam-boh itu ditulis kembali. Tapi Lo Tek-nau tidak buta, dia yang akan mendapat keuntungan. Ketiga orang itu adalah manusia-manusia licik dan licin, mereka berkumpul menjadi satu, tentu juga tidak terhindar dari pertarungan tipu-menipu, akhirnya entah bagaimana jadinya. Cuma dua lawan satu, mungkin Lim Peng-ci akan kecundang.”

“Apakah kau benar-benar akan berusaha membela Lim Peng-ci?” tanya Ing-ing.

Lenghou Tiong menjawab sambil memandang kuburan Leng-sian, “Tidak seharusnya aku menyanggupi kepada Siausumoay akan membela Lim Peng-ci. Orang ini lebih kejam daripada binatang, pantasnya kucincang tubuhnya hingga hancur luluh, mana aku akan membantu dia pula? Hanya saja aku sudah berjanji kepada Siausumoay, bila aku ingkar janji, di alam baka tentu dia takkan tenteram.”

“Ketika masih hidup dia tidak tahu siapakah yang benar-benar baik padanya, sesudah di alam baka seharusnya dia tahu,” kata Ing-ing. “Maka dia tentu pula tidak menginginkan kau melindungi Lim Peng-ci.”

“Sukar dipastikan,” ujar Lenghou Tiong. “Cinta Siausumoay terhadap Peng-ci sudah terlalu mendalam, biarpun tahu ia sendiri dibunuh oleh suaminya itu toh tidak tega membiarkan hidup suaminya merana dalam keadaan buta.”

Diam-diam Ing-ing membatin, “Tidak salah juga ucapanmu ini, seumpama aku, tidak peduli bagaimana sikapmu terhadap diriku toh aku akan tetap mencintai kau dengan segenap jiwa ragaku.”

Begitulah setelah istirahat beberapa hari lagi, luka baru Lenghou Tiong itu sudah hampir sembuh seluruhnya. Setelah memberi hormat di depan makam Gak-hujin dan Leng-sian, lalu berangkatlah mereka.

Mereka masih berada dalam wilayah Holam, agar tidak dikenali orang, mereka tetap menyamar, yang satu menyamar sebagai pak tani, yang lain sebagai gadis tani.

Lenghou Tiong mengkhawatirkan para anak murid Hing-san-pay yang terdiri dari kaum wanita semua, ia menyatakan harus menuju ke Hing-san dahulu, setelah menyerahkan jabatan ketua kepada Gi-jing barulah dia akan berkelana ke mana pun juga bersama Ing-ing atau kemudian memilih suatu tempat menetap yang abadi.

“Lalu urusan Lim Peng-ci itu cara bagaimana kau akan bertanggung jawab terhadap mendiang siausumoaymu?” tanya Ing-ing.

“Ya, urusan ini memang paling memusingkan kepalaku,” kata Lenghou Tiong sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. “Tapi sebaiknya jangan kau singgung-singgung dahulu, biarlah kulakukan menurut keadaan saja.”

Ing-ing tersenyum dan tidak membicarakannya lagi.

Begitulah mereka lantas menyewa sebuah kereta terus menuju ke utara. Suatu hari sampailah mereka di wilayah Soasay, kira-kira tujuh atau delapan hari lagi baru dapat sampai di Hing-san. Malam itu mereka menginap di Kota Seng-peng-tin.

Sepanjang jalan selalu Ing-ing minta tinggal berpisah dengan Lenghou Tiong pada hotel yang lain. Lenghou Tiong tahu nona itu pemalu, khawatir kepergok kenalan dan menimbulkan cerita iseng. Padahal mereka sudah tinggal bersama selama belasan hari di pegunungan sunyi, kalau orang mau omong iseng tentu juga sudah ramai disiarkan. Apalagi kelak kau dan aku sudah jelas bakal menjadi suami istri, peduli apa terhadap omongan iseng orang lain? Demikian pikir Lenghou Tiong. Namun dia pun tidak mau membantah keinginan Ing-ing itu dan menuruti saja. Untungnya Seng-peng-tin cukup ramai dan ada beberapa buah hotel, maka di sini pun mereka tetap tinggal terpisah pada dua hotel.

Sampai tengah malam, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar suara beberapa orang sedang berdebat dengan suara tertahan. Bahwasanya orang bertengkar dalam hotel di tengah malam adalah kejadian biasa, akan tetapi yang menarik perhatian Lenghou Tiong adalah suara seorang yang kasar berulang-ulang menyebut “Hing-san-pay”. Mestinya Lenghou Tiong sudah hampir pulas, ketika mendengar “Hing-san-pay” disinggung, seketika ia terjaga dan segera pasang kuping.

Orang-orang yang sedang bicara itu tinggal di kamar seberang halaman sana, semuanya bicara dengan suara tertahan, tapi bagi Lenghou Tiong yang kini telah memiliki lwekang tinggi dapat didengarnya cukup jelas. Terdengar suara seorang perempuan sedang berkata, “Kita telah tinggal sekian lamanya di Hing-san, maka dapat dikatakan kita pernah menjadi orang Hing-san-pay pula. Sekarang kita harus kembali ke sana untuk menggempur Hing-san-pay, cara bagaimana kita akan bicara bila ketemu Lenghou-kongcu?”

Lenghou Tiong terkejut dan heran, mereka pernah tinggal di Hing-san, tapi sekarang akan menyerang Hing-san-pay, apa sebabnya?

Maka terdengar orang yang bersuara kasar tadi menanggapi, “Thio-hujin, kau orang perempuan memang suka ragu-ragu. Meski kita pernah tinggal di paviliun Hing-san, tapi kita kan bukan nikoh, mana dapat dikatakan orang Hing-san-pay? Lenghou-kongcu selamanya tiada hubungan apa-apa dengan kita, sebabnya kita mau menjunjung dia adalah karena terdorong oleh hormat kita kepada Seng-koh. Padahal sekarang kabarnya Seng-koh sudah marah dan putus hubungan dengan dia lantaran Lenghou Tiong memerkosa serta membunuh Nona Gak dari Hoa-san-pay itu.”

Mendengar nama “Thio-hujin”, segera Lenghou Tiong ingat bahwa kelompok ini mula-mula dijumpainya di Lembah Hongho, kelompok mereka seluruhnya ada tujuh orang, selain Thio-hujin masih ada Tong-pek-siang-ki (Dua Aneh Tong dan Pek), Tiang-hoat-thau-to Siu Siong-lian, seorang hwesio piara rambut, lalu Giok-leng Tojin, Say-po Hwesio, serta Siang-coa-ok-gik Giam Sam-seng Si Pengemis Galak Berular Dua. Ketujuh orang ini pun pernah mengincar Pi-sia-kiam-boh dan pernah mengerubuti ketua Jing-sia-pay, yaitu Ih Jong-hay, kemudian kelompok ini pun pernah ikut menyerbu Siau-lim-si dan tinggal di Hing-san. Orang yang bersuara kasar tadi adalah Siu Siong-lian, thauto berambut.

Terdengar Thio-hujin berkata pula, “Kabar di kalangan Kang-ouw kebanyakan adalah omong kosong belaka. Buktinya Hing-san-pay banyak anak murid yang muda lagi cantik, sedikit pun Lenghou Tiong tidak pernah bertingkah buruk, masakah dia malah memerkosa Nona Gak? Apalagi Seng-koh berpuluh kali lebih cantik daripada Nona Gak, sedemikian mendalam Seng-koh jatuh cinta padanya. Maka berita bohong itu sesungguhnya cuma bikin kotor telinga saja.”

“Kaum wanita kalian memang tidak paham akan hati lelaki,” ujar Siu Siong-lian dengan tertawa. “Watak kaum lelaki, kalau punya satu ingin punya dua, punya dua ingin punya empat. Biarpun Seng-koh secantik bidadari juga sukar menjamin takkan timbul minat Lenghou Tiong terhadap perempuan lain.”

“Tak peduli apa katamu, yang jelas suruh aku membunuhi anak buah Lenghou Tiong, aku pasti tidak mau,” sahut Thio-hujin.

“Kau tidak mau, sukar juga orang memaksa kau,” kata Giam Sam-seng, Si Pengemis Galak Berular Dua, “Cuma kau jangan lupa, Gak-siansing memegang Hek-bok-leng (medali kayu hitam) tanda perintah Yim-kaucu, resminya dia ketua Ngo-gak-pay, tapi diam-diam dia sudah masuk Tiau-yang-sin-kau, dia memberi tugas kepada kita justru karena mendapat perintah dari Yim-kaucu.”

“Ia pun berjanji akan mengajarkan Pi-sia-kiam-hoat kepada kita bilamana tugas kita sudah selesai,” Siu Siong-lian menambahkan. “Gak-siansing terkenal dengan julukan Kun-cu-kiam, kukira tidak mungkin dia ingkar janji. Masakah dia tidak sayang kepada julukannya yang diperolehnya dengan susah payah selama berpuluh tahun?”

Thio-hujin merenung sejenak, kemudian berkata, “Jika begitu, baiklah kita ada rezeki dibagi rata, ada kesukaran dipikul bersama.”

Serentak keenam orang yang lain bersorak gembira.

“Baik sekali jika Thio-hujin sudah setuju,” kata Giok-leng Tojin. “Tentang Lenghou Tiong, tak peduli apakah dia benar memerkosa dan membunuh Nona Gak atau tidak, sekalipun Seng-koh suka padanya, betapa pun dia adalah orang Tiau-yang-sin-kau juga, masakah dia berani membangkang terhadap Hek-bok-leng sang kaucu? Kalau kita sudah tumpas Hing-san-pay, andaikan dia tidak terima, boleh dia bicara dengan Yim-kaucu dan Gak-siansing.”

“Menurut Gak-siansing, katanya orang-orang yang dikirim ke Hing-san telah diteliti dan dipilih dengan baik, jadi tidak setiap teman kita yang pernah tinggal di Hing-san mendapatkan tugas ini,” kata Siu Siong-lian. “Saat ini, rombongan-rombongan yang berangkat lebih dulu agaknya sudah sampai di Hing-san.”

“Memang,” kata Say-po Hwesio. “Jika setiap orang dikirim ke sana dan setiap orang diberi ajaran Pi-sia-kiam-hoat, maka ilmu pedang ini tentu tidak menarik lagi.”

“Ya, memang tidak begitu. Menurut Gak-siansing, setelah usaha kita berhasil, Pi-sia-kiam-hoat itu hanya diajarkan kepada kita bertujuh serta Hoat-put-liu-jiu Yu Siok. Selain kedelapan orang ini tiada seorang pun yang mendapat bagian lagi. Maka kita diharuskan menutup mulut supaya orang lain tidak iri,” kata Giok-leng Tojin.

“Aneh, Hoat-put-liu-jiu Yu Siok yang sok itu, mengapa Gak-siansing justru penujui dia?” ujar Thio-hujin.

“Hal ini sukar dijelaskan,” kata Giok-leng. “Bisa jadi Yu Siok itu pintar bicara yang manis-manis sehingga Gak-siansing tertarik, bisa pula lantaran dia pernah berjasa sesuatu bagi Gak-siansing.”

Untuk seterusnya apa yang dibicarakan ketujuh orang itu adalah hal-hal yang tidak penting, tapi rupanya semakin mengobrol semakin senang mereka, katanya kelak bila mereka sudah berhasil meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, maka mereka bertujuh pasti akan malang melintang di dunia Kang-ouw. Seorang Gak Put-kun yang mahir Pi-sia-kiam-hoat saja sudah sehebat itu, apalagi tujuh orang sekaligus. Sampai akhir obrolan mereka, dengan suara keras mereka lantas memanggil pelayan agar membawakan arak dan daharan, agaknya mereka ingin bikin pesta semalam suntuk.

Diam-diam Lenghou Tiong membatin, “Mereka mengatakan guruku memegang Hek-bok-leng dan menugaskan mereka membasmi Hing-san-pay. Apakah mungkin dalam beberapa hari ini Suhu telah menggabung kepada Tiau-yang-sin-kau. Ah, rasanya tidak mungkin. O ya, Pau Tay-coh itu membawa Hek-bok-leng, tampaknya di tengah jalan dia telah dibunuh oleh Suhu sehingga Hek-bok-leng itu terampas. Karena tertawan dan mendapat siksaan di lembah itu tempo hari, sudah tentu Suhu sangat dendam, maka untuk melampiaskan dendam dan untuk melenyapkan saksi, begitu meninggalkan lembah pegunungan itu Suhu lantas membinasakan Pau Tay-coh dan kawan-kawannya. Bila aku sendiri yang menghadapi keadaan demikian tentu juga akan berbuat cara sama dengan membunuh mereka.”

Lalu terpikir lagi olehnya, “Lantas sebab apa Suhu hendak menumpas Hing-san-pay? Ya, mungkin dia dendam padaku, tapi tidak mampu melawan aku, pada saat aku belum sembuh dari luka parah, sekaligus ia hendak menghancurkan Hing-san-pay untuk menjatuhkan pula namaku. Dia telah dicekoki pil maut oleh Ing-ing, selama hidup selanjutnya berarti berada di bawah cengkeraman seorang nona cilik, lalu apa artinya menjadi manusia demikian? Mungkin ia menjadi nekat karena dia sekarang tinggal sebatang kara, daripada hidup tersiksa ada lebih baik membunuh diri saja, tapi, sebelumnya dia ingin menghancurkan Hing-san-pay lebih dulu sekadar pelampias dendam.”

Ia berpikir sebagai Gak Put-kun, ia merasa apa yang akan dilakukannya itu memang tiada salahnya, maka tanpa terasa timbul juga solidaritasnya kepada Gak Put-kun. Terpikir pula, “Jika kuberi tahukan hal ini kepada Ing-ing, tentu dia akan gusar dan takkan memberi obat penawar kepada Suhu. Jalan yang paling baik adalah mengenyahkan dulu kawanan penyusup ini dari Hing-san, habis itu baru mencari akal untuk melayani Suhu.”

Teringat olehnya kata-kata Siu Siong-lian bahwa penyusup-penyusup itu dikirim secara berombongan, tentunya mereka baru turun tangan bilamana semua rombongan sudah lengkap berada di Hing-san, jadi sementara ini Hing-san belum gawat, biarlah kubicarakan besok saja dengan Ing-ing. Setelah ambil ketetapan demikian, ia tidak mengikuti lagi pembicaraan Siu Siong-lian dan kawan-kawannya itu melainkan terus berbaring dan tidur.

Besoknya pagi-pagi ia sudah mendatangi hotel Ing-ing dan sarapan bersama si nona. Ia pikir demi keselamatan Suhu, sebaiknya apa yang didengarnya semalam jangan diberitahukan dulu kepada Ing-ing. Maka sambil makan ia pun berkelakar dengan mengada-ada, “Kau dan aku masih belum melakukan upacara nikah….”

Baru sekian ucapannya, seketika wajah Ing-ing merah jengah dan mengomel, “Cis, siapa yang mau main upacara nikah padamu?”

“Kelak toh mesti jadi, bukan?” sahut Lenghou Tiong dengan tertawa. “Jika kau tidak mau, aku akan tangkap dan paksa kau.”

“Pagi-pagi kau sudah bicara angin-anginan begini,” kata Ing-ing dengan tersenyum.

“Ini urusan mahapenting, menyangkut kehidupan selamanya,” kata Lenghou Tiong dengan tertawa. “Eh, Ing-ing, ketika di lembah gunung tempo hari tiba-tiba kupikir kelak bila kita sudah kawin, paling baik kita punya berapa orang anak? Menghadapi tho-kok (lembah tho) di sana itu aku menjadi terbayang bilamana kelak lahir enam Tho-kok-lak-sian kecil, kan sangat menarik?”

Ing-ing melototi Lenghou Tiong sambil mengikik geli, namun dalam hati merasa manis sekali.

Lenghou Tiong berkata pula, “Kita bersama-sama menuju ke Hing-san, orang-orang yang berpikiran kotor jangan-jangan akan mengira kita sudah kawin sehingga sembarangan omong, hal ini tentu akan membikin marah padamu.”

Ucapan ini kena benar di lubuk hati Ing-ing, sahutnya, “Benar. Syukur kita sekarang sudah menyamar begini, orang lain tentu tak dapat mengenali kita lagi.”

“Kau terlalu cantik, betapa pun menyamar juga tetap menarik perhatian orang,” ujar Lenghou Tiong. “Menurut pendapatku, setiba di Hing-san sebaiknya aku tidak muncul dulu, tapi menyaru seorang yang tidak menarik untuk menyelidiki keadaan di sana. Jika keadaan Hing-san aman sentosa, maka aku akan perlihatkan diri dan menyerahkan kedudukan ketua kepada orang lain, habis itu, kita bertemu lagi di suatu tempat yang dirahasiakan untuk kemudian pergi dari sana tanpa diketahui siapa pun.”

Ing-ing tahu sebabnya Lenghou Tiong bicara begitu adalah untuk menyesuaikan dengan wataknya yang pemalu, sungguh hatinya sangat senang, segera ia menjawab, “Baiklah. Cuma untuk menemui para suthay di Hing-san sana, agar tidak mencolok paling baik kalau kau pun cukur rambut dan menyaru menjadi suthay, tanggung orang takkan curiga. Eh, tampaknya kau akan sangat cantik juga bila menyamar sebagai nikoh cilik. Hayolah Engkoh Tiong, coba kudandani kau.”

Lenghou Tiong tertawa dan goyang-goyang tangannya, katanya, “Jangan, jangan! Setiap kali melihat nikoh, setiap kali pula kalah judi. Bila aku menyamar sebagai nikoh tentu akan sial selamanya, aku tidak mau. Cuma untuk menghindarkan perhatian, memang perlu aku menyaru sebagai orang perempuan. Tapi sekali aku membuka suara tentu pula akan ketahuan. Maka paling baik aku menyamar seorang bisu tuli. Apakah kau masih ingat kepada seorang yang tinggal di Sian-kong-si, itu biara yang dibangun terapung di antara dua puncak di belakang Kian-seng-hong di Hing-san itu?”

“Aha, bagus sekali, memang di Sian-kong-si itu ada seorang babu tua, bisu lagi tuli, kita pernah bertempur sengit di sana, tapi perempuan tua itu sedikit pun tidak dengar. Kita tanya padanya, dia juga cuma melongo saja tak bisa menjawab. Apakah kau ingin menyamar sebagai dia?”

“Benar,” sahut Lenghou Tiong.

“Baiklah, mari kita pergi membeli pakaian, segera aku mendandani kau,” kata Ing-ing.

Dengan dua tahil perak Ing-ing berhasil membeli seikat cemara, disisirnya dengan baik, lalu dipasang di atas kepala Lenghou Tiong, pakaian bekas yang baru dibeli lantas ditukarkan pakaian petani yang dipakai itu, maka berubahlah dia menjadi seorang perempuan. Kemudian mukanya diberi pupur yang kekuning-kuningan, di sana-sini ditutul lagi beberapa tahi lalat, kulit mukanya sebelah kanan ditarik ke bawah dan ditempel dengan sepotong koyok sehingga alis kanan ikut tertarik menyerong ke bawah, mulutnya juga rada merot. Waktu Lenghou Tiong bercermin, sampai dia pun hampir-hampir tidak mengenal dirinya sendiri.

“Nah, luarnya sudah berubah, hanya tingkah lakumu masih perlu dilatih, kau harus berlagak bodoh, berlagak tolol, macam orang linglung. Yang paling penting, bila ada orang mendadak menggertak di belakangmu, jangan sekali-kali kau melonjak terkejut sehingga rahasia penyamaranmu terbongkar.”

“Berlagak tolol bagiku adalah hal paling gampang, pura-pura bodoh memangnya adalah keahlianku,” ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

Sepanjang jalan Lenghou Tiong lantas menyamar sebagai babu tua yang bisu dan tuli sebagai latihan pendahuluan dan agar tidak ketahuan bila ketemu orang lain. Kedua orang tidak bermalam di hotel lagi, tapi mencari kelenteng rusak atau biara bobrok untuk bermalam. Terkadang Ing-ing sengaja menggertak di belakang Lenghou Tiong, namun pemuda itu ternyata tidak kaget dan anggap tidak dengar.

Tidak seberapa hari sampailah mereka di kaki Hing-san, mereka berjanji akan bertemu kembali di sekitar Sian-kong-si tujuh hari kemudian. Lalu Lenghou Tiong menuju ke Kian-seng-hong dan Ing-ing pesiar dan mencari kesenangan sendiri di sekitar pegunungan indah itu.

Setiba di Kian-seng-hong, hari sudah petang. Lenghou Tiong pikir bila langsung menuju ke biara tempat kediaman Gi-jing dan lain-lain tentu penyamarannya itu akan dicurigai. Ia pikir paling baik menyelidiki secara tersembunyi saja.

Segera ia mencari suatu gua sepi untuk tidur. Waktu mendusin sang dewi malam sudah menghias di tengah cakrawala, segera ia menuju ke Bu-sik-am, biara induk di puncak Kian-seng-hong.

Setiba di pinggir pagar tembok, ia melihat di balik sebuah jendela masih ada cahaya lampu, ia mendekatinya dengan hati-hati, ia menggunakan air ludah untuk membasahi kertas perapat jendela itu, melalui lubang kertas yang menjadi basah itu dia mengintip ke dalam. Kiranya di dalam adalah sebuah kamar yang sunyi, rupanya kamar mendiang Ting-sian Suthay di kala melakukan tirakatan. Di atas meja di dalam kamar itu ternyala sebuah pelita minyak, tampak jelas di atas meja ada tiga tempat abu, itulah tempat pemujaan bagi arwah Ting-sian, Ting-cing, dan Ting-yat Suthay. Melihat keadaan yang sunyi dan hampa di dalam kamar itu, pilu juga rasa hati Lenghou Tiong.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara nyaring benturan senjata. Tergerak hati Lenghou Tiong, “Musuh sudah datang, apakah Siu Siong-lian dan rombongannya sudah mulai bergerak?”

Ia meraba pedang pendek yang terselip di pinggangnya, cepat ia berlari menuju ke arah datangnya suara benturan senjata.

Kiranya suara itu datang dari sebuah ruangan kira-kira belasan meter di sebelah Bu-sik-am, dari balik jendela ruangan itu pun tampak sinar lampu yang cukup terang.

Ketika sampai di pinggir ruangan itu, terdengar suara benturan senjata tambah nyaring dan kerap. Waktu Lenghou Tiong mengintip pula, seketika ia merasa lega. Rupanya Gi-ho dan Gi-lim berdua sedang berlatih ilmu pedang, Gi-jing dan The Oh berdua tampak berdiri di pinggir mengikuti latihan itu.

Yang dilatih Gi-ho dan Gi-lim itu adalah ajaran Lenghou Tiong tempo hari, yaitu Hing-san-kiam-hoat yang ditemukan di dinding gua di puncak Hoa-san dahulu itu. Tampaknya permainan kedua orang itu sudah rada matang. Pedang Gi-ho diputar semakin cepat, suatu kali ketika Gi-lim rada lena, tahu-tahu ujung pedang Gi-ho sudah menusuk sampai di depan dadanya, untuk menangkis terang tidak keburu lagi, Gi-lim menjerit lesu.

“Kembali kau kalah lagi, Sumoay,” kata Gi-ho sambil mengacungkan ujung pedang di depan dada Gi-lim.

Gi-lim menunduk malu, jawabnya, “Siaumoay sudah berlatih sekian lamanya, tapi masih tiada kemajuan.”

“Sudah lebih maju daripada latihan yang lalu,” kata Gi-ho. “Marilah kita coba-coba lagi.”

Akan tetapi tiba-tiba Gi-jing menyela, “Siausumoay mungkin sudah lelah, silakan pergi tidur saja bersama The-sumoay, besok boleh berlatih pula.”

Gi-lim mengiakan sambil menyimpan kembali pedangnya, lalu memberi hormat kepada Gi-jing dan Gi-ho, kemudian bersama The Oh keluar dari ruangan latihan itu.

Waktu Gi-lim membalik tubuh, Lenghou Tiong dapat melihat wajahnya yang kurus dan pucat, ia pikir, “Siausumoay ini selalu berhati murung saja.”

Kemudian tampak Gi-ho merapatkan pintu ruangan latihan itu dan saling geleng-geleng kepala dengan Gi-jing. Sesudah suara tindakan Gi-lim dan The Oh terdengar menjauh barulah Gi-ho berkata, “Kulihat hati Siausumoay selalu tak bisa tenang. Hati yang kacau dan pikiran tergoda adalah pantangan besar bagi orang beribadat seperti kita ini. Entah cara bagaimana kita harus menasihatkan dia.”

“Memang sukar untuk menasihatkan dia,” kata Gi-jing. “Paling penting kalau ada kesadaran diri sendiri.”

“Aku tahu apa sebabnya hati Siausumoay tak bisa tenang, yang senantiasa terkenang olehnya adalah….”

“Di tempat suci ini hendaklah Suci jangan bicara hal-hal demikian,” kata Gi-jing sebelum ucapan Gi-ho lebih lanjut. “Sebenarnya tiada halangannya membiarkan Siausumoay insaf sendiri bilamana kita tidak buru-buru ingin menuntut balas sakit hati Suhu.”

“Dahulu Suhu sering mengatakan bahwa segala apa di dunia ini sudah suratan takdir, harus mengikuti menurut apa adanya, sedikit pun tak boleh dipaksakan. Kulihat Siausumoay adalah orang yang berperasaan, sebenarnya dia tidak cocok memasuki dunia agama seperti kita ini.”

Gi-jing menghela napas, jawabnya, “Aku pun pernah memikirkan soal ini. Cuma saja Hing-san-pay pada akhirnya harus ada seorang dari kalangan agama kita sendiri untuk memegang jabatan ketua. Lenghou-suheng sudah berulang-ulang menyatakan bahwa dia hanya sementara saja menjabat ciangbunjin kita. Tapi yang terpenting adalah keparat Gak Put-kun itu telah mencelakai Suhu dan Susiok….”

Mendengar sampai di sini, tidak kepalang kejut Lenghou Tiong, ia heran mengapa Gi-jing secara tegas mengatakan Gak Put-kun yang mencelakai guru mereka?

Terdengar Gi-jing menyambung kata-katanya tadi, “Kalau sakit hati mahabesar ini tidak lekas kita balas, kita sebagai anak murid beliau-beliau itu tentu tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan.”

“Tidak cuma kau saja yang tidak sabar, mungkin aku lebih gelisah daripada kau tentang pembalasan sakit hati guru kita,” kata Gi-ho. “Baiklah, mulai besok aku akan mempercepat dan pergiat latihannya.”

“Tapi juga jangan terlalu dipaksakan,” kata Gi-jing. “Kulihat beberapa hari terakhir ini semangat Siausumoay rada mundur.”

Gi-ho mengiakan. Lalu kedua orang membereskan senjata-senjata dan memadamkan pelita, kemudian kembali ke kamar masing-masing untuk tidur. Rupanya Gi-jing meski terhitung sumoay, tapi pintar dan bisa berpikir, maka setiap urusan penting Gi-ho suka mengajaknya berunding.

Di tempatnya mengintai, Lenghou Tiong menjadi heran mengapa mereka menuduh Gak Put-kun mencelakai guru dan paman gurunya, dan mengapa pula demi untuk menuntut balas, demi untuk menerima penyerahan jabatan ketua Hing-san-pay, maka siausumoay mereka mesti disuruh giat berlatih ilmu pedang?

Ia coba merenungkan hal itu, tapi tidak juga paham. Perlahan-lahan ia meninggalkan tempat itu sambil berpikir cara bagaimana besok harus minta keterangan kepada Gi-lim akan persoalan aneh itu.

Mendadak terkilas suatu pikiran dalam benaknya, hampir-hampir ia berteriak, katanya di dalam hati, “Ah, aku seharusnya memikirkan hal ini sejak dulu-dulu. Mengapa mereka sudah lama mengetahui hal ini, sebaliknya hal ini tak pernah kupikirkan?”

Ia menyelinap ke pinggir tembok di luar sebuah rumah kecil, ia berdiri mepet dinding agar bayangannya tidak kepergok orang, habis itu barulah ia memikirkan pula hal itu dengan cermat. Ia coba mengenangkan kembali keadaan kematian Ting-sian dan Ting-yat Suthay di Siau-lim-si dahulu itu. Menurut penglihatannya waktu itu, tiada sesuatu luka yang ditemukan di tubuh kedua suthay tua itu, pula tidak terluka dalam atau mati keracunan, jadi kematiannya sungguh sangat aneh.

Kemudian setelah meninggalkan Siau-lim-si, di dalam gua waktu berteduh dari hujan salju pernah Ing-ing memberitahukan padanya bahwa ketika di Siau-lim-si dia telah membuka baju kedua suthay itu untuk memeriksa lukanya, dilihatnya pada ulu hatinya ada satu titik merah bekas tusukan jarum, terang itulah luka yang mengakibatkan kematian kedua suthay, hanya saja tusukan pada ulu hati Ting-sian Suthay itu rada menceng sedikit, makanya seketika Ting-sian belum putus napasnya waktu itu.

Menurut perkiraan, kalau jarum itu ditusukkan ke dalam ulu hati, maka serangan itu terang dilakukan secara berhadapan, jadi orang yang mencelakai kedua suthay itu jelas adalah tokoh kelas wahid.

Teringat hal itu, tanpa terasa kedua tangan Lenghou Tiong menahan dinding dengan badan rada gemetar, pikirnya, “Tatkala mana Tonghong Put-pay sudah mati, orang yang mampu membinasakan kedua Suthay dengan sebatang jarum kecil hanya orang yang telah berhasil meyakinkan Kui-hoa-po-tian atau Pi-sia-kiam-hoat. Sedangkan Pi-sia-kiam-hoat yang diyakinkan Co Leng-tan itu adalah palsu, tidak sempurna, selain itu hanya guruku dan Lim Peng-ci saja berdua. Sedangkan waktu itu Lim Peng-ci baru saja memperoleh Pi-sia-kiam-hoat, belum lagi berhasil meyakinkannya, ini terbukti waktu bertemu dengan Lim Peng-ci sesudah meninggalkan Siau-lim-si dahulu suara Peng-ci belum lagi banci.”

Terpikir sampai di sini, tanpa terasa jidatnya berkeringat dingin. Ia tahu tatkala itu yang mampu menggunakan sebatang jarum kecil dan membinasakan kedua suthay utama Hing-san-pay dari depan tiada orang lain lagi kecuali Gak Put-kun. Teringat pula cara bagaimana Gak Put-kun berusaha secara berencana agar dapat menjadi ketua Ngo-gak-pay dan sengaja membiarkan Lo Tek-nau menyelundup ke dalam perguruannya selama belasan tahun tanpa membuka kepalsuannya, akhirnya sengaja membiarkan Lo Tek-nau membawa lari sejilid kiam-boh palsu untuk menjebak Co Leng-tan, akibatnya dengan mudah kedua mata Co Leng-tan kena dibutakan olehnya. Lantaran Ting-sian dan kawan-kawannya berkeras menentang peleburan Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, maka Gak Put-kun telah mencari kesempatan untuk membunuhnya sehingga mengurangi pihak penentang peleburan Ngo-gak-kiam-pay yang dirancangnya itu.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: