Hina Kelana: Bab 126. Korban Seorang Istri bagi Suami Pengecut

Oleh Jin Yong

Begitu lawan didesak mundur, segera Lenghou Tiong membalik sebelah tangannya hendak membuka hiat-to Ing-ing yang tertutuk.

“Jangan urus diriku, awas!” seru Ing-ing. Berbareng sinar putih mengilat, pedang Gak Put-kun sudah menusuk tiba.

Lenghou Tiong sudah kenal ilmu pedang yang dimainkan Tonghong Put-pay, Gak Put-kun, dan Lim Peng-ci bertiga. Ia tahu sekali pedang lawan menusuk, meski di tengah serangan itu ada lubang kelemahannya, tapi lantaran cepat luar biasa seperti bayangan setan, kalau bermaksud balas menyerang ke arah titik lemah musuh itu tentu diri sendiri sudah terkena pedang lebih dulu. Sebab itulah tanpa pikir Lenghou Tiong lantas menyungkitkan pedangnya ke atas, berbareng ia menusuk perut Gak Put-kun secepat kilat.

Agar tidak mati konyol, terpaksa Gak Put-kun melompat mundur sambil memaki, “Keji amat bangsat kecil!”

Padahal sebagai orang yang mendidik dan membesarkan Lenghou Tiong sejak kecil seharusnya Gak Put-kun kenal watak pemuda itu. Bila dia tidak ambil pusing akan serangan balasan Lenghou Tiong itu dan melainkan meneruskan serangannya, tentu jiwa Lenghou Tiong sudah dibikin melayang olehnya.

Soalnya, biarpun yang digunakan Lenghou Tiong adalah siasat hancur bersama atau gugur bersama musuh, sesungguhnya dalam hati ia tidak pernah melupakan budi kebaikan sang guru, sekali-kali dia tidak menusuk sungguh-sungguh perut gurunya itu. Jadi dalam hal ini Gak Put-kun yang licik dan kotor itu telah salah hitung, mengukur orang lain atas diri sendiri, sehingga dia kehilangan suatu kesempatan bagus untuk membinasakan Lenghou Tiong.

Permainan pedang Gak Put-kun tambah gencar setelah beberapa jurus tak bisa mengalahkan lawan. Dengan tangkas Lenghou Tiong juga menghadapi dengan penuh semangat. Semula dia pikir kalau kalah paling-paling dirinya akan terbunuh di tangan guru sendiri, tapi lantas teringat Ing-ing yang telah melukai hati Gak Put-kun dengan ucapan tadi, sebelum nona itu juga terbunuh tentu akan disiksa lebih dulu. Sebab itulah Lenghou Tiong pantang menyerah lagi dan bertempur sekuat tenaga.

Setelah beberapa puluh jurus, jurus-jurus serangan Gak Put-kun tambah ruwet, Lenghou Tiong menghadapi dengan memusatkan perhatiannya, lambat laun pikirannya menjadi “plong”, menjadi paham. Yang ditatap sekarang hanyalah titik ujung pedang lawan saja.

Hendaklah maklum bahwa inti Tokko-kiu-kiam itu adalah “makin kuat pihak musuh makin kuat pula pihak sendiri.” Dahulu waktu bertanding dengan Yim Ngo-heng di penjara dasar Danau Se-ouw, tak peduli bagaimana Yim Ngo-heng menyerang dengan macam-macam perubahan selalu Lenghou Tiong dapat melayaninya dengan jurus-jurus baru yang lahir seketika. Padahal ilmu silat Yim Ngo-heng boleh dikata jarang ada bandingannya, tapi dia harus mengakui kehebatan ilmu pedang Lenghou Tiong.

Kini Lenghou Tiong sudah berhasil pula meyakinkan Gip-sing-tay-hoat, betapa hebat tenaga saktinya sukar diukur lagi. Sebaliknya Pi-sia-kiam-hoat meski aneh, tapi belum lama dipelajari oleh Gak Put-kun, dia belum hafal sebagaimana Lenghou Tiong meyakinkan Tokko-kiu-kiam. Karena itu, setelah lebih ratusan jurus, cara Lenghou Tiong melayani lawannya sudah tak perlu pikir lagi. Betapa pun aneh perubahan jurus serangan Pi-sia-kiam-hoat selalu disambut dengan jurus serangan yang sama anehnya.

Dalam pandangan Gak Put-kun sekarang betapa ruwet perubahan ilmu pedang Lenghou Tiong dirasakan jauh lebih ruwet daripada dirinya, rasanya biarpun bertempur tiga hari tiga malam juga akan tetap lahir jurus-jurus serangan baru.

Terpikir demikian, timbul rasa jerinya seketika. Pikirnya pula, “Perempuan siluman Mo-kau ini telah membongkar rahasia caraku meyakinkan ilmu pedang, bila hari ini aku tak dapat membereskan mereka, kelak cerita tentang diriku tentu akan tersiar luas di kalangan Kang-ouw, lalu apakah aku ada muka buat menjabat ketua Ngo-gak-pay lagi? Agaknya segala rencana yang kurancang sejak dahulu akan buyar seluruhnya.”

Karena pikiran gelisah, serangan-serangannya menjadi tambah ganas.

Akan tetapi pertandingan di antara jago kelas tinggi paling mengutamakan ketenangan dan kesabaran. Begitu pikirannya kacau, seketika permainan pedangnya menjadi rada terganggu. Padahal Pi-sia-kiam-hoat unggul dalam hal kecepatan, setelah ratusan jurus tak bisa mengalahkan musuh, dengan sendirinya dia mulai patah semangat, ditambah lagi perhatiannya terpencar karena hati gelisah, daya tekanan pedangnya menjadi banyak berkurang.

Begitulah sedikit kelemahan Gak Put-kun itu segera dapat dilihat oleh Lenghou Tiong. Memang asas utama Tokko-kiu-kiam adalah mengincar baik-baik titik kelemahan ilmu silat lawan, lalu titik kelemahan itu dimasuki, sekali hantam memperoleh kemenangan.

Kini pertarungan mereka sudah berlangsung mendekati dua ratusan jurus. Ciri dari ilmu pedang aliran mana pun juga di dunia ini adalah pada suatu ketika jurus ilmu pedang masing-masing pasti akan berakhir dan kalau belum dapat mengalahkan musuh, terpaksa harus mengulangi permainannya dari awal. Dan di sinilah titik kelemahan Gak Put-kun itu dapat dilihat oleh Lenghou Tiong, yaitu pada tiap-tiap kali dia menebas, selalu bagian ketiak kanan memperlihatkan titik kelemahan yang tak terjaga. Melihat ada kesempatan buat menang, diam-diam Lenghou Tiong bergirang.

Melihat ujung mulut Lenghou Tiong sekilas mengulum senyum, Gak Put-kun menjadi terkejut malah. Pikirnya, “Mengapa bangsat cilik ini tersenyum? Apakah dia sudah mendapatkan jalan untuk mengalahkan diriku?”

Diam-diam ia lantas mengerahkan tenaga dalam, tiba-tiba ia mendesak maju dan mendadak melompat mundur lagi, lalu mengelilingi Lenghou Tiong dengan cepat, serangannya tambah gencar secara membadai.

Begitu cepat Gak Put-kun berputar sehingga Ing-ing yang menggeletak di tanah itu tidak dapat melihat jelas ke mana serangan Gak Put-kun itu ditujukan, akhirnya dia merasa kepala pusing dan muak laksana orang mabuk kapal.

Setelah belasan jurus lagi, tertampak jari tangan kiri Gak Put-kun menuding ke depan, pedang di tangan kanan ditarik. Lenghou Tiong tahu serangan lawan segera akan diulangi lagi. Sementara Lenghou Tiong sudah merasa lelah setelah bertempur sekian lamanya, maklum dia baru sembuh dari luka parah. Namun ia sadar bahwa keadaan sangat gawat, di bawah serangan Gak Put-kun yang gencar dan cepat itu, sedikit lengah saja jiwa sendiri pasti akan melayang, bahkan Ing-ing akan ikut menjadi korban. Sebab itulah ketika melihat serangan lawan akan diulangi, segera ia mendahului menusuk ke bawah ketiak kanan lawan, tempat yang diarah tepat merupakan titik kelemahan jurus serangan Gak Put-kun itu.

Rupanya gerakan demikian inilah yang diketemukan Lenghou Tiong, yaitu menyerang titik kelemahan musuh sebelum serangan musuh dilancarkan. Karena didahului, sebelum Gak Put-kun sempat mengganti jurus lain, tahu-tahu ujung pedang lawan sudah menyambar tiba. Keruan Gak Put-kun menjerit kaget, suaranya penuh rasa kejut, gusar pula dan putus asa pula.

Saat itu ujung pedang Lenghou Tiong sudah berada di bawah ketiak lawan, bila pedang didorong ke depan, tentu tubuh Gak Put-kun akan tertembus. Tapi mendadak ia mendengar jeritan tajam Gak Put-kun itu, seketika ia terkejut sadar, “Ah, kenapa aku sampai lupa, dia kan guruku, mana boleh aku mencelakai dia?”

Segera ia tahan pedangnya dan berkata, “Kalah-menang sudah jelas, bagaimana kalau kita sudahi pertandingan ini, paling perlu men… nolong Sunio lebih dulu!”

“Baiklah!” dengan muka pucat sebagai mayat Gak Put-kun menjawab.

Tanpa pikir Lenghou Tiong terus membuang pedangnya dan menoleh untuk melihat Ing-ing. Di luar dugaan, sekonyong-konyong Gak Put-kun menggertak sekali, pedangnya menyambar secepat kilat mengarah pinggang kiri Lenghou Tiong.

Tempat yang diarah itu sangat berbahaya. Dalam kejutnya cepat Lenghou Tiong bermaksud menjemput kembali pedangnya, namun sudah terlambat, “bles”, pedang lawan telah menancap di belakang pinggangnya.

Gak Put-kun kegirangan, ia cabut pedangnya dan kembali menebas ke bawah. Lekas-lekas Lenghou Tiong menjatuhkan diri dan menggelinding pergi. Tapi Gak Put-kun lantas mengejar dan kembali membacok. Untung Lenghou Tiong sempat mengelak pula. “Trang”, bacokan Gak Put-kun itu mengenai tanah, hanya beberapa senti jaraknya dari kepala Lenghou Tiong.

Sambil menyeringai Gak Put-kun angkat pedangnya pula, kembali ia melangkah maju, sekali bacok ia pikir kepala Lenghou Tiong pasti akan dipenggalnya sekarang.

Tak terduga, mendadak sebelah kakinya menginjak tempat lunak, “blong,” tubuhnya terus kejeblos ke bawah. Ia bermaksud menggenjot ke atas dengan ginkang yang tinggi, namun sesaat itu dirasakan langit dan bumi seakan-akan berputar, lalu tak sadarkan diri lagi, ia terbanting ke dalam lubang perangkap itu.

Lenghou Tiong benar-benar lolos dari lubang jarum, hampir-hampir mati konyol. Ia coba merangkak bangun sambil mendekap luka di pinggang belakang.

Pada saat itulah terdengar seruan beberapa orang dari semak-semak sana, “Toasiocia! Seng-koh!”

Lalu beberapa orang tampak berlari-lari mendatangi, mereka adalah Pau Tay-coh, Bok-tianglo, dan lain-lain.

Sedapat mungkin Lenghou Tiong mendekati Ing-ing dan bertanya, “Dia… dia menutuk hiat-to bagian mana?”

“Apakah kau tidak… tidak apa-apa?” tanya Ing-ing khawatir.

“Jangan khawatir, aku takkan mati,” sahut Lenghou Tiong.

“Binasakan bangsat keparat itu!” mendadak Ing-ing berteriak. Yang dimaksudkan ialah Gak Put-kun.

Cepat Pau Tay-coh mengiakan.

Namun Lenghou Tiong lantas mencegahnya, “Jang… jangan!”

Melihat kecemasan Lenghou Tiong itu, Ing-ing berkata pula, “Baiklah, boleh tangkap saja dia.”

Ia tidak tahu bahwa di dalam lubang perangkap itu sudah ditaburi pula obat bius, ia khawatir Gak Put-kun akan melompat kembali ke atas dan tentu akan sukar dilawan.

Maka terdengar Pau Tay-coh mengiakan pula. Ia tidak berani menjelaskan bahwa lubang perangkap itu adalah hasil kerjanya, sebab sejak tadi ia menyaksikan tuan putri mereka diuber-uber dan ditawan oleh Gak Put-kun, tapi mereka takut mati dan tidak berani keluar menolong, dosa mereka ini kalau diusut tentu bisa dihukum mati.

Begitulah Pau Tay-coh lantas melompat ke dalam lubang, ia ketok kepada Gak Put-kun dengan gagang goloknya, seumpama Gak Put-kun tidak pingsan oleh obat bius tentu juga akan semaput oleh ketokannya yang cukup keras itu. Kemudian Pau Tay-coh menyeret Gak Put-kun ke atas, dengan cekatan sekali ia tutuk pula beberapa hiat-to penting di tubuh ketua Ngo-gak-pay itu, lalu diringkus pula kaki dan tangannya dengan tambang. Sudah kena bius, diketok pula kepalanya, lalu hiat-to ditutuk, diringkus lagi dengan tambang, biarpun kepandaian Gak Put-kun setinggi langit juga tak bisa lolos.

Lenghou Tiong saling pandang dengan Ing-ing, kedua orang merasa baru sadar dari impian buruk. Selang agak lama barulah Ing-ing menangis. Lenghou Tiong mendekatinya dan memeluknya. Setelah pengalaman pahit ini, mereka merasakan hidup ini belum pernah seindah sekarang. Perlahan-lahan Lenghou Tiong membukakan hiat-to Ing-ing yang tertutuk tadi.

Ketika tiba-tiba ia melihat sang sunio masih menggeletak di sana, barulah ia ingat dan berteriak kaget, cepat ia mendekati Gak-hujin dan membukakan hiat-to yang tertutuk sambil minta maaf.

Apa yang terjadi tadi seluruhnya telah disaksikan oleh Gak-hujin, ia cukup kenal pribadi Lenghou Tiong yang sangat menghormat dan sayang kepada Gak Leng-sian, ia yakin pemuda itu pasti tidak berani mengganggu seujung rambut pun atas diri gadisnya itu, maka tuduhan Lenghou Tiong memerkosa dan membunuh Leng-sian benar-benar omong kosong dan fitnah belaka. Apalagi ia menyaksikan pula betapa cinta dan setia Lenghou Tiong terhadap Ing-ing, mana mungkin pemuda itu melakukan hal-hal yang tidak senonoh.

Gak-hujin juga menyaksikan suaminya telah dikalahkan Lenghou Tiong, tapi pemuda itu tidak tega menyerang lebih lanjut, sebaliknya sang suami malah mendadak menyerangnya dari belakang secara keji, perbuatan pengecut demikian biarpun orang dari kalangan hek-to juga tidak sudi melakukannya, tapi seorang ketua Ngo-gak-pay yang terhormat ternyata tega berbuat begitu, sungguh pengecut, sungguh memalukan. Sesaat itu Gak-hujin menjadi putus asa dan merasa tiada artinya lagi hidup ini. Dengan hambar ia coba tanya Lenghou Tiong, “Anak Tiong, apakah benar Anak Sian dibunuh oleh Peng-ci?”

Hati Lenghou Tiong menjadi sedih, air matanya bercucuran, sahutnya dengan terguguk-guguk, “Tecu…aku…aku…”

“Dia tidak anggap tecu padamu, aku masih tetap mengakui kau sebagai tecu (murid),” ujar Gak-hujin. “Jika kau sudi, aku pun tetap ibu gurumu.”

Lenghou Tiong sangat terharu, ia menyembah sambil berseru, “Sunio! Sunio!”

Perlahan-lahan Gak-hujin membelai rambut Lenghou Tiong sambil mengalirkan air mata. Katanya dengan lirih, “Jadi tidak salah tentunya apa yang dikatakan Yim-siocia ini bahwa Peng-ci telah berhasil meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat dan kini telah menggabungkan diri pada Co Leng-tan, sebab itulah dia membunuh Anak Sian.”

“Ya, begitulah,” sahut Lenghou Tiong.

“Coba kau balik ke sana, kuperiksa lukamu,” kata Gak-hujin pula.

Lenghou Tiong mengiakan sambil memutar tubuhnya. Lalu Gak-hujin menyobek baju bagian punggung pemuda itu, ditutuknya hiat-to sekitar tempat luka itu, lalu bertanya, “Obat luka Hing-san-pay tentunya kau bawa, bukan?”

“Ya, ada,” jawab Lenghou Tiong. Segera Ing-ing mengambilkan obat yang dimaksud dari baju Lenghou Tiong dan diserahkan kepada Gak-hujin.

Lebih dulu Gak-hujin membersihkan darah di tempat luka, lalu dibubuhi obat, dikeluarkannya saputangan sendiri yang putih bersih untuk menutup luka itu, lalu gaun sendiri dirobek sepotong sebagai pembalut.

Biasanya Lenghou Tiong menganggap Gak-hujin sebagai ibu sendiri, hatinya sangat terhibur melihat dirinya diperlakukan sedemikian baik, rasa sakit lukanya sampai terlupa meski sebenarnya cukup parah.

“Kelak tugas membunuh Lim Peng-ci untuk menuntut balas bagi Anak Sian dengan sendirinya harus diserahkan padamu,” kata Gak-hujin kemudian.

“Tapi Siau… Siausumoay telah pesan sebelum meninggal agar aku melindungi Lim Peng-ci, hal ini telah kusanggupi, maka urusan ini… sungguh serbasusah bagiku,” kata Lenghou Tiong.

“Ai, dasar karma, karma!” ujar Gak-hujin sambil menghela napas panjang. Lalu sambungnya pula, “Anak Tiong, selanjutnya terhadap siapa pun juga janganlah kau terlalu baik hati!”

Lenghou Tiong mengiakan. Mendadak tengkuknya terasa hangat-hangat basah, seperti tertetes barang cairan. Waktu ia menoleh, dilihatnya muka Gak-hujin putih pucat. Ia terkejut dan menjerit, “Sunio!”

Waktu ia berbangkit dan memegangi Gak-hujin, ternyata di dada nyonya itu sudah menancap sebilah belati, tepat menancap di bagian jantung, seketika juga nyonya itu sudah binasa.

Tidak kepalang kejut Lenghou Tiong hingga mulutnya ternganga tak bisa bersuara. Ing-ing juga terperanjat sekali, cuma dia tiada hubungan kekeluargaan apa-apa dengan Gak-hujin, walaupun kejut dan menyesalkan kejadian itu, namun tidak terlalu berduka, segera ia pun memayang Lenghou Tiong yang tampak lemas itu. Selang sejenak, barulah Lenghou Tiong dapat bersuara tangis.

Melihat kejadian sedih yang menimpa kedua muda-mudi itu, Pau Tay-coh pikir tentu banyak kata-kata mesra akan diucapkan mereka, ia tidak berani mengganggu di situ, segera ia mengangkat Gak Put-kun dan mengundurkan diri agak jauh ke sana bersama Bok-tianglo dan lain-lain.

“Untuk apa mereka me… menangkap suhuku?” kata Lenghou Tiong.

“Kau masih panggil suhu padanya?” ujar Ing-ing.

“Sudah biasa,” sahut Lenghou Tiong. “Kenapa Sunio membunuh diri? Mengapa… mengapa beliau membunuh diri?”

“Sudah tentu disebabkan durjana Gak Put-kun itu,” kata Ing-ing dengan gemas. “Apa gunanya mempunyai suami pengecut dan tidak malu seperti dia itu, kalau tidak membunuhnya, ya terpaksa membunuh diri. Kita harus lekas binasakan Gak Put-kun untuk membalas sakit hati ibu gurumu.”

Tapi Lenghou Tiong menjadi ragu-ragu pula, katanya, “Kau bilang dia harus dibunuh? Betapa pun dia kan pernah menjadi guruku?”

“Meski dia pernah gurumu, pernah membesarkan kau, tapi sudah berapa kali dia bermaksud mencelakai kau, antara budi dan sakit hati sudah klop dan hapus, sebaliknya budi kebaikan ibu gurumu belum lagi kau balas. Coba pikir, apakah kematian ibu gurumu bukan disebabkan perbuatannya?”

Lenghou Tiong menghela napas, katanya dengan pilu, “Budi Sunio rasanya sukar kubalas selama hidup ini. Seumpama aku tidak utang budi lagi kepada Gak Put-kun, betapa pun aku tidak dapat membunuh dia.”

“Tidak perlu kau yang turun tangan,” ujar Ing-ing. Mendadak ia berseru, “Pau Tay-coh!”

“Ya, Toasiocia!” sahut Pau Tay-coh. Segera ia bersama Bok-tianglo mendekati tuan putrinya.

“Apakah Ayah yang menugaskan kalian ke sini?” tanya Ing-ing.

“Benar,” sahut Pau Tay-coh dengan penuh hormat. “Atas titah Kaucu, hamba bersama Kat, Toh, dan Bok-tianglo bertiga bersama sepuluh saudara lain ditugaskan menangkap Gak Put-kun dengan cara apa pun juga.”

“Di mana Kat dan Toh-tianglo?” tanya Ing-ing pula.

“Tadi mereka pergi memancing kedatangan Gak Put-kun dan sampai sekarang belum kembali, mungkin… mungkin mereka….”

“Coba kau geledah badan Gak Put-kun,” kata Ing-ing.

Pau Tay-coh mengiakan dan segera mulai menggeledah. Hasilnya dari baju Gak Put-kun dikeluarkannya sebuah panji sutra kecil, itulah panji kebesaran Ngo-gak-kiam-pay. Selain itu ada pula sejilid buku tipis, belasan tahil emas perak, dan dua potong medali tembaga.

Dengan suara gemas Pau Tay-coh lantas berkata, “Lapor Toasiocia, Kat-tianglo dan Toh-tianglo memang benar telah dicelakai oleh keparat ini, dalam bajunya diketemukan dua medali kebesaran kedua tianglo kita itu.”

Habis berkata ia terus ayun kakinya menendang, “krak”, kontan sebuah tulang iga Gak Put-kun tertendang patah.

“Jangan aniaya dia!” seru Lenghou Tiong.

“Ambil air dingin, siram dia biar siuman,” perintah Ing-ing pula.

Orang she Sih tadi lantas membuka kantong air yang tergantung di pinggangnya, air dingin terus disiramkan ke muka Gak Put-kun.

Sejenak kemudian, sambil bersuara kesakitan Gak Put-kun membuka matanya, ia tak bisa berkutik, terpaksa hanya melotot saja.

“Orang she Gak, apakah kau yang membunuh kedua tianglo kami?” tanya Ing-ing. Sedang Pau Tay-coh melempar-lempar kedua medali tembaga yang dipegangnya itu hingga mengeluarkan suara nyaring.

Melihat dirinya berada di bawah cengkeraman musuh dan tak bisa terhindar dari kematian, dengan gusar Gak Put-kun lantas memaki, “Memang aku yang membunuh mereka. Anggota Mo-kau yang jahat setiap orang berhak membunuhnya.”

Segera Pau Tay-coh bermaksud menendang pula, tapi lantas teringat kata-kata Lenghou Tiong tadi yang melarangnya menganiaya tawanan itu, ia tahu hubungan Lenghou Tiong dengan sang kaucu sangat baik, juga calon suami sang toasiocia, maka ia tidak berani menentang kata-kata Lenghou Tiong tadi.

“Hm,” Ing-ing lantas menjengek, “kau menganggap dirimu adalah ketua golongan beng-bun-cing-pay segala, akan tetapi perbuatanmu entah berapa kali lebih kotor dan rendah daripada anak buah Tiau-yang-sin-kau kami, tapi kau secara tidak tahu malu berani memaki kami sebagai orang jahat. Malahan istrimu sendiri merasa malu atas perbuatanmu, ia lebih suka membunuh diri daripada menjadi istrimu, apakah kau masih punya muka buat hidup terus di dunia ini.”

“Perempuan siluman sembarangan omong, sudah jelas istriku dibunuh olehmu, tapi kau mengatakan dia membunuh diri,” damprat Gak Put-kun.

“Coba dengarkan, Engkoh Tiong, betapa tidak tahu malu ucapannya,” kata Ing-ing.

“Ing-ing, aku ingin mohon sesuatu padamu,” kata Lenghou Tiong.

“Aku tahu kau hendak minta agar kulepaskan dia, hendaklah tahu bahwa ringkus harimau lebih gampang daripada melepaskan harimau,” sahut Ing-ing. “Orang ini berhati keji dan berjiwa culas, ilmu silatnya tinggi pula, kelak kalau kau kepergok dia mungkin takkan gampang membekuk dia lagi.”

“Sekali ini hubunganku sebagai murid dan guru dengan dia sudah putus,” kata Lenghou Tiong. “Ilmu pedangnya aku pun sudah paham seluruhnya, jika dia berani mencari aku lagi, maka aku pun tidak kenal ampun lagi padanya.”

Ing-ing tahu pasti Lenghou Tiong tidak mengizinkan dia membunuh Gak Put-kun, asalkan selanjutnya Lenghou Tiong benar-benar putuskan segala hubungan baik dengan Gak Put-kun, maka bila ketemu lagi kelak juga tidak perlu gentar. Segera ia menjawab, “Baiklah, hari ini boleh kita mengampuni jiwanya. Nah, Pau-tianglo, Bok-tianglo, dan para saudara dalam agama, selanjutnya kalian boleh siarkan di kalangan Kang-ouw bahwa Gak Put-kun telah kita bekuk, lalu kita ampuni dia. Siarkan pula bahwa Gak Put-kun telah rela membikin cacat dirinya sendiri demi untuk meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, sekarang dia sudah setengah gila, laki-laki bukan perempuan tidak, supaya hal ini dimaklumi oleh para kesatria di seluruh jagat.”

Serentak Pau-tianglo dan lain-lain mengiakan bersama. Sedangkan air muka Gak Put-kun tampak pucat pasi, kedua matanya berkedip-kedip memancarkan sinar mata yang penuh kebencian dan dendam.

“Hm, kau dendam padaku, memangnya aku tidak tahu?” jengek Ing-ing sambil ayun pedangnya untuk memotong tambang yang mengikat badan Gak Put-kun itu, ia mendekati tawanan itu dan membuka sebuah hiat-to di bagian punggung. Lalu tangan kanan menahan di mulut ketua Ngo-gak-pay itu, tangan kiri menepuk perlahan di belakang kepalanya. Tanpa kuasa Gak Put-kun membuka mulut dan tahu-tahu di dalam mulut sudah bertambah satu biji obat, berbareng itu terasa hidungnya menjadi buntu, tak bisa bernapas. Rupanya tangan Ing-ing telah memencet lubang hidungnya. Keruan Gak Put-kun terpaksa harus membuka mulut untuk bernapas, tanpa ayal lagi Ing-ing lantas kerahkan tenaga dalam sehingga pil di dalam mulut Gak Put-kun itu terdorong ke dalam perutnya.

Dengan suara perlahan Ing-ing lalu membisiki dia, “Awas, jangan sekali-kali kau muntahkan, jika membangkang segera kuputuskan seluruh urat nadimu dengan Siau-tiong-jiu-hoat.”

Pada waktu Ing-ing memutuskan tali ringkusan Gak Put-kun dan membuka hiat-to tadi dia sengaja berdiri membelakangi Lenghou Tiong sehingga pil yang dijejalkan ke dalam mulut Gak Put-kun itu tak dilihat oleh pemuda itu. Dan sesudah telan pil itu, Gak Put-kun menjadi ketakutan sebab ia tahu pil itu adalah obat pembusuk badan yang paling terkenal dari Toan-ngo-ciat, yakni hari yang biasa disebut Peh-cun, tanggal 5 bulan 5 hitungan Imlek, diharuskan minum obat penawar untuk menangguhkan bekerjanya kuman racun obat itu. Kalau tidak, maka kuman racun akan menyusup ke dalam otak sehingga sakitnya tak terperikan, bahkan terus menggila melebihi anjing gila.

Selain itu Gak Put-kun juga tahu ilmu Siau-tiong-jiu-hoat dari Mo-kau, yaitu semacam ilmu tiam-hiat yang dapat menutuk putus urat-urat nadi terpenting sehingga sang korban akan lemas lunglai seperti tak bertulang lagi, tapi justru tidak sampai mati, maka dapat dibayangkan derita yang harus dirasakan.

Dalam keadaan tak berkutik, betapa pun cerdik pandai dan licik culasnya Gak Put-kun, pucat juga wajahnya dan keringat dingin membasahi dahinya.

Begitulah kemudian Ing-ing berpaling, dan berkata kepada Lenghou Tiong, “Engkoh Tiong, tutukan Pau-tianglo tadi rada berat, kini sudah kubuka kembali hiat-to yang tertutuk itu, sebentar lagi dia baru dapat berjalan lagi.”

“Banyak terima kasih padamu,” sahut Lenghou Tiong.

Dalam hati Ing-ing merasa geli karena pemuda itu tidak tahu apa yang telah diperbuatnya terhadap Gak Put-kun, tapi betapa pun juga apa yang dilakukan itu adalah demi kebaikan sang kekasih.

Selang sejenak, Ing-ing yakin pil tadi sudah hancur di dalam perut Gak Put-kun dan tidak mungkin ditumpahkan keluar, habis itu barulah dia melancarkan kembali hiat-to Gak Put-kun yang lain sambil membisikinya, “Setiap hari Toan-ngo tiap tahun boleh kau datang ke Hek-bok-keh, aku akan memberi obat penawarnya padamu.”

Bisikan itu lebih meyakinkan Gak Put-kun lagi bahwa obat yang ditelannya tadi memang betul “pil pembusuk tubuh” dari Mo-kau, tanpa kuasa badannya menjadi gemetar, katanya, “Jadi pil ini adalah… adalah….”

“Benar, kau harus diberi selamat,” kata Ing-ing. “Obat mujarabku itu tidak mudah membuatnya, dalam agama kami hanya tokoh-tokoh utama yang berkedudukan tinggi dan berkepandaian tinggi saja yang memenuhi syarat untuk minum obat dewa itu. Betul tidak, Pau-tianglo?”

“Betul,” sahut Pau Tay-coh. “Atas anugerah Kaucu pernah juga Siokhe minum obat dewa itu, maka selamanya Siokhe sangat setia dan tunduk, malahan Kaucu juga menaruh kepercayaan penuh kepada Siokhe, sungguh tiada terkatakan manfaat daripada obat dewa tersebut.”

Lenghou Tiong terkejut juga, katanya, “He, kau memberikan obat….”

“Ah, mungkin saking kelaparan sehingga dia makan barang apa saja yang dilihatnya,” kata Ing-ing dengan tersenyum. “Nah, Gak Put-kun, selanjutnya kau harus berusaha membela kepentingan Engkoh Tiong dan aku, hal ini akan berfaedah bagimu.”

Tidak kepalang benci Gak Put-kun, pikirnya, “Jika perempuan siluman cilik ini kebetulan mengalami sesuatu atau dibunuh orang, maka yang akan konyol tentulah diriku. Bahkan dia tidak sampai mampus, tapi terluka parah umpamanya sehingga tidak dapat pulang ke Hek-bok-keh pada hari Toan-ngo, lalu ke mana aku dapat mencari dia?”

Berpikir demikian, kembali ia menjadi khawatir dan gemetar pula.

Lenghou Tiong menghela napas, ia pikir dasar Ing-ing berasal dari Mo-kau sehingga tingkah lakunya juga rada-rada berbau “jahat”. Tapi apa yang diperbuatnya sesungguhnya demi kepentingannya sehingga tak dapat pula menyalahkan dia.

“Pau-tianglo,” kata Ing-ing kemudian, “kau pulang ke Hek-bok-keh dan lapor kepada Kaucu, katakan ketua Ngo-gak-pay yang dihormati, Gak Put-kun, Gak-siansing, kini telah menggabungkan diri ke dalam agama kita dengan setulus hati, obat dewa Kaucu sudah diminumnya sehingga dia tidak mungkin berkhianat lagi.”

Sebenarnya Pau Tay-coh sedang sedih sebab bingung entah cara bagaimana harus memberi pertanggungan jawab kepada sang kaucu atas tugas yang diberikan padanya, yaitu tugas menangkap Gak Put-kun. Kini melihat Gak Put-kun telah dicekoki pil sakti oleh Ing-ing, ia menjadi girang dan yakin sang kaucu pasti akan bergirang bila diberi laporan apa yang terjadi itu. Begitulah ia lantas mengiakan atas perintah Ing-ing tadi.

Lalu Ing-ing berkata pula, “Karena Gak-siansing sudah masuk anggota kita, mengenai hal-hal yang merugikan nama baiknya tidak perlu lagi kalian siarkan di luaran. Tentang pil dewa yang telah dimakannya lebih-lebih jangan dibocorkan. Orang ini mempunyai kedudukan amat tinggi di dunia persilatan, cerdas dan tangkas pula dalam segala hal, kelak Kaucu tentu akan memanfaatkan tenaganya.”

Kembali Pau Tay-coh mengiakan pesan Ing-ing itu.

Melihat keadaan Gak Put-kun yang serbakonyol itu, Lenghou Tiong ikut merasa menyesal, meski dirinya tadi hendak dibinasakan oleh Gak Put-kun, tapi mengingat budi kebaikan selama likuran tahun, selama itu hubungan mereka seperti ayah dan anak, kini mendadak berubah menjadi musuh, sungguh ia merasa sedih. Sebenarnya ia bermaksud mengutarakan kata-kata yang dapat menghibur Gak Put-kun, tapi tenggorokan serasa terkancing dan sukar bicara.

“Pau-tianglo,” kata Ing-ing pula, “bila kalian pulang ke Hek-bok-keh, sampaikanlah hormat baktiku kepada ayah dan juga kepada Hiang-sioksiok, katakan kepada beliau-beliau itu bahwa nanti kalau… kalau dia… dia Lenghou-kongcu sudah sembuh lukanya barulah kami akan pulang ke sana.”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: