Hina Kelana: Bab 125. Kelicikan Gak Put-kun yang Memalukan

Oleh Jin Yong

Mendengar orang yang ditawan gembong-gembong Mo-kau itu adalah ibu gurunya, sungguh kejut Lenghou Tiong tak terkatakan, segera ia bermaksud menerjang ke luar untuk menolongnya. Tapi segera ia ingat dirinya tidak membawa pedang, tanpa pedang kepandaiannya sukar menandingi tokoh-tokoh sebagai Kat-tianglo dan kawan-kawannya itu. Karena itu ia menjadi cemas.

Kemudian terdengar Kat-tianglo bertanya pula, “Ilmu pedang Nyonya Gak itu cukup lihai, cara bagaimana Saudara Toh menangkapnya? Ah, tahulah aku, pakai obat, bukan?”

Toh-tianglo tertawa, jawabnya, “Perempuan ini masuk sebuah hotel dalam keadaan seperti orang linglung, tanpa pikir ia terus makan minum. Orang suka memuji betapa hebat bininya Gak Put-kun, nyatanya juga orang ceroboh begini.”

Diam-diam Lenghou Tiong sangat gusar karena ibu gurunya dihina, ia pikir sebentar akan kubinasakan semua. Cuma saja tidak membawa senjata, kalau dapat merampas sebatang pedang segala urusan tentu akan dapat dibereskan.

Terdengar pula Kat-tianglo berkata, “Setelah bini Gak Put-kun kita bekuk, maka segala urusan menjadi mudah diselesaikan. Saudara Toh, persoalan sekarang adalah cara bagaimana memancing Gak Put-kun ke sini.”

“Lalu bagaimana bila dia sudah terpancing kemari?” tanya Toh-tianglo.

Kat-tianglo merenung sejenak, lalu menjawab, “Kita gunakan bininya sebagai sandera dan paksa dia menyerah. Suami-istri Gak Put-kun terkenal sangat rukun dan baik, tentu dia tak berani membangkang.”

“Benar juga Saudara Kat,” kata Toh-tianglo. “Khawatirnya kalau Gak Put-kun itu berhati kejam, cintanya kepada sang istri tidak mendalam, tidak setia pula, maka bagi kita menjadi rada runyam.”

“Ya, ini memang… memang… Eh, eh, bagaimana pendapatmu, Saudara Sih?” tanya Kat-tianglo tiba-tiba.

“Di hadapan kedua Tianglo, Cayhe merasa tidak hak bicara dan terserah saja,” sahut orang she Sih.

Sampai di sini, tiba-tiba dari arah barat sana ada suara orang bertepuk tangan tiga kali, dari suara tepukan tangan yang berkumandang hingga jauh itu dapat dipastikan lwekang orang itu pasti tidak rendah.

“Ah, Pau-tianglo sudah datang,” ujar Toh-tianglo.

Dalam sekejap saja tertampak dua orang berlari datang dari jurusan barat sana dengan cepat luar biasa.

“Eh, Bok-tianglo juga ikut datang,” kata Kat-tianglo.

Diam-diam Lenghou Tiong mengeluh. Tampaknya kedua orang yang baru datang ini berkepandaian lebih tinggi daripada Kat dan Toh-tianglo. Kalau bersenjata tentulah tidak perlu gentar, tapi bertangan kosong, inilah yang susah.

Dalam pada itu terdengar Kat-tianglo sedang menyambut kedatangan kedua kawannya, “Selamat datang Pau, Bok-tianglo. Saudara Toh telah berjasa besar, dia berhasil membekuk istri Gak Put-kun.”

“Wah, bagus! Selamat! Selamat!” kata seorang tua di antaranya dengan girang.

Lenghou Tiong merasa suara satu-dua gembong Mo-kau itu seperti sudah dikenalnya, ia pikir barangkali dikenal ketika di Hek-bok-keh dahulu.

Dengan lwekang Lenghou Tiong yang tinggi ia dapat mendengar jelas suara percakapan orang-orang itu, cuma dia tidak berani melongok untuk mengintip. Ia tahu orang-orang itu adalah gembong-gembong Mo-kau yang lihai, sedikit bersuara saja pasti akan ketahuan.

Sementara itu Kat-tianglo lagi berkata, “Pau dan Bok-tianglo, kami di sini sedang berunding cara bagaimana memancing Gak Put-kun ke sini agar kita dapat menawannya.”

“Lalu bagaimana rencana kalian?” tanya seorang tianglo yang baru datang itu. Dari suaranya yang berwibawa itu dapat diduga tentu Pau-tianglo adanya. Suara Pau-tianglo inilah yang dirasakan sudah dikenal baik oleh Lenghou Tiong.

“Seketika kami masih belum mendapatkan akal yang bagus,” ujar Kat-tianglo. “Tapi dengan tibanya Pau dan Bok-tianglo, tentu akan diperoleh akal baik. Kabarnya dia telah membutakan kedua mata Co Leng-tan dengan ilmu pedangnya yang hebat sehingga menjagoi kalangan pertandingan di Ko-san tempo hari. Konon dia telah memperoleh Pi-sia-kiam-hoat asli dari keluarga Lim, maka jangan kita memandang enteng padanya. Sebaiknya kita mencari suatu jalan yang sempurna untuk menghadapinya.”

“Ya, dengan kekuatan kita berempat rasanya belum tentu akan kalah, tapi juga belum tentu dapat menang,” ujar Toh-tianglo.

“Kukira Pau-tianglo tentu sudah punya perhitungan, silakan katakan saja,” ujar Bok-tianglo.

“Mesti aku sudah memperoleh suatu akal, tapi hanya akal biasa saja, mungkin akan ditertawai kalian,” kata Pau-tianglo.

“Pau-tianglo terkenal sebagai gudang akal Tiau-yang-sin-kau kita, buah pikiranmu pasti sangat baik,” seru Bok, Kat, dan Toh-tianglo berbareng.

“Akalku ini sebenarnya suatu cara yang bodoh,” ujar Pau-tianglo. “Kita gali saja suatu liang yang dalam, di atasnya ditutup dengan ranting kayu dan rumput sehingga tidak kelihatan sesuatu tanda apa-apa, lalu kita tutuk hiat-to penting perempuan ini dan menaruhnya di pinggir liang itu untuk memancing kedatangan Gak Put-kun. Bila dilihatnya sang bini menggeletak di situ, tentu dia akan berlari-lari datang menolongnya dan… blong… auuuh….” sambil bicara ia pun bergaya seperti orang kejeblos ke dalam lubang, maka tertawalah ketiga tianglo tadi dan lain-lain.

“Akal Pau-tianglo sungguh hebat, ditambah lagi kita berempat sembunyi di tepi liang jebakan itu, begitu Gak Put-kun kejeblos, serentak empat senjata kita menutup rapat mulut lubang sehingga tiada memberi kesempatan padanya untuk melompat naik ke atas,” kata Bok-tianglo dengan tertawa.

“Ya, namun dalam hal ini masih ada kesukaran juga,” ujar Pau-tianglo.

“Kesukaran?” Bok-tianglo menegas. “Ah, benar, tentu Pau-heng khawatir ilmu pedang Gak Put-kun itu terlalu aneh, sesudah kejeblos ke dalam lubang masih sukar bagi kita untuk membekuk dia?”

“Dugaan Bok-heng memang tepat,” kata Pau-tianglo. “Sekali ini tugas yang dibebankan kepada kita oleh Kaucu adalah menghadapi tokoh utama Ngo-gak-kiam-pay yang baru bergabung itu, mati atau hidup kita sukar diperhitungkan. Bila kita dapat gugur bagi tugas adalah sesuatu yang gemilang, hanya saja nama baik dan kewibawaan Kaucu yang akan kita rugikan. Maka menurut pendapatku, di dalam lubang jebakan itu rasanya kita masih perlu menambahkan sedikit apa-apa.”

“Aha, ucapan Pau-tianglo benar-benar sangat cocok dengan seleraku,” seru Toh-tianglo. “Aku membawa ‘Pek-hoa-siau-hun-san’ (Bubuk Penghilang Ingatan) dalam jumlah cukup, boleh kita tebarkan bubuk ini di antara daun-daun dan rumput-rumput penutup lubang jebakan. Begitu Gak Put-kun kejeblos, tentu dia akan menarik napas panjang-panjang untuk berusaha melompat ke atas, akan tetapi… hahaha….” sampai di sini kembali mereka bergelak tertawa bersama.

“Nah, urusan jangan ditunda, silakan lekas atur seperlunya,” kata Pau-tianglo. “Di mana sebaiknya lubang jebakan itu digali?”

“Dari sini ke barat, kira-kira tiga li jauhnya adalah sebuah jalan kecil yang berbahaya, sebelahnya jurang yang curam, sebelah lain adalah dinding tebing yang tinggi. Bila Gak Put-kun benar-benar datang kemari, tak bisa tidak dia harus melalui jalan itu.”

“Bagus, marilah kita meninjau ke sana,” ajak Pau-tianglo sambil mendahului melangkah pergi, segera orang-orang lain mengikut di belakangnya.

Lenghou Tiong pikir untuk menggali lubang jebakan tentu takkan dapat diselesaikan mereka dalam waktu singkat, sebaiknya aku lekas pergi memberitahukan Ing-ing, setelah ambil pedang akan kukembali ke sini untuk menolong Sunio.

Begitulah setelah gembong-gembong Mo-kau itu sudah pergi jauh, segera ia memutar balik ke arah datangnya tadi. Beberapa li jauhnya, tiba-tiba didengarnya suara keletak-keletuk, suara menggali tanah. “Kiranya di sinilah lubang jebakan yang akan mereka gali itu,” demikian ia membatin.

Segera Lenghou Tiong sembunyi di balik pohon, ia coba mengintip ke sana. Benarlah empat anggota Mo-kau sedang sibuk menggali tanah. Kini jaraknya sudah dekat, seorang dapat dilihatnya dari arah samping, ia menjadi terkejut. Kiranya orang ini adalah Pau Tay-coh yang pernah dikenalnya di Bwe-cheng di tepi Se-ouw, Hangciu, dahulu. Pantas mereka memanggilnya Pau-tianglo, kiranya adalah Pau Tay-coh.

Dahulu Lenghou Tiong telah menyaksikan Pau Tay-coh membereskan Ui Ciong-kong dengan sekali hantam saja, ilmu silatnya sangat tinggi. Memang Pau Tay-coh merupakan tandingan yang kuat bagi Gak Put-kun, sungguh pilihan yang tepat cara Yim Ngo-heng mengirimkan jagonya.

Cara orang-orang Mo-kau itu menggali tanah juga rada aneh. Mereka tidak membawa pacul atau sekop dan sebagainya, maka senjata mereka yang berbentuk kapak, tombak, dan sejenisnya lantas digunakan sebagai penggali. Lebih dulu mereka mendongkel tanah, lalu dengan tangan mereka mengorek tanah yang sudah gembur itu. Cara demikian sudah tentu makan waktu, tapi dasar ilmu silat mereka tinggi, tenaga mereka kuat, maka hasil galian mereka pun cukup cepat.

Lantaran jalan yang harus dilaluinya terhalang oleh galian tanah orang-orang Mo-kau itu, terpaksa Lenghou Tiong tak dapat lewat ke sana untuk mengambil pedang dan mencari Ing-ing. Ia heran, sudah jelas mereka mengatakan akan menggali lubang di tepi tebing yang curam sana, mengapa sekarang ganti tempat? Tapi segera ia pun paham duduknya perkara, tentunya jalan di pinggir tebing itu batu-batu padas belaka, dengan sendirinya sukar menggali lubang di sana. Rupanya Kat-tianglo itu tidak punya otak dan cuma sembarangan omong saja.

Dalam pada itu didengarnya suara Kat-tianglo sedang berkata dengan tertawa, “Usia Gak Put-kun itu sudah lanjut, tapi bininya ternyata masih begini muda dan cantik pula.”

“Muda kau bilang? Kutaksir sudah lebih 40,” Toh-tianglo menanggapi dengan cengar-cengir. “Eh, kalau Kat-heng ada minat, nanti bila Gak Put-kun sudah kita bekuk, biarlah kita laporkan Kaucu dan boleh kau ambil perempuannya?”

“Mengambilnya sih tidak perlu, untuk main-main saja kukira masih boleh juga,” kata Kat-tianglo dengan tertawa.

Tidak kepalang gusar Lenghou Tiong, ia pikir kawanan anjing yang berani menghina ibu guru ini nanti pasti akan kubinasakan satu per satu.

Lantaran suara tertawa Kat-tianglo itu kedengaran sangat menjijikkan, tanpa terasa Lenghou Tiong melongok untuk melihat apa yang dilakukannya. Ternyata Kat-tianglo itu sedang mencubit sekali di pipi Gak-hujin. Rupanya Gak-hujin tidak mampu bergerak berhubung hiat-to tertutuk, maka orang-orang Mo-kau itu serentak tertawa gembira.

“Wah, tampaknya, Kat-heng sudah tidak sabar lagi, apakah kau berani ‘bereskan’ perempuan ini di sini juga?” kata Toh-tianglo dengan tertawa.

Dengan murka seketika Lenghou Tiong bermaksud menerjang keluar tanpa peduli diri sendiri tak bersenjata.

Tapi lantas terdengar Kat-tianglo menjawab, “Kenapa tidak berani? Soalnya aku khawatir menggagalkan tugas yang dibebankan Kaucu kepada kita.”

“Ya, memang,” ujar Pau Tay-coh dengan nada dingin. “Sekarang Kat-tianglo dan Toh-tianglo silakan pergi memancing kedatangan Gak Put-kun, diperkirakan satu jam lagi segala sesuatu di sini sudah selesai diatur.”

Berbareng Kat-tianglo dan Toh-tianglo mengiakan. Lalu mereka berlari ke jurusan utara.

Kepergian kedua orang itu membikin suasana di lembah pegunungan itu kembali sunyi, yang terdengar hanya suara tanah digali saja, terkadang suara Bok-tianglo yang memberi petunjuk ini dan itu.

Lenghou Tiong tidak berani bergerak di tempat sembunyinya di tengah semak-semak rumput. Ia pikir Ing-ing tentu akan khawatir bila sampai sekian lamanya dirinya tidak kembali. Kalau Ing-ing menyusul kemari, tentu dia dapat menyelamatkan Sunio, sebab orang-orang Mo-kau ini tentu akan tunduk kepada perintah tuan putri mereka. Dengan demikian dirinya juga terhindar dari pertarungan dengan gembong-gembong Mo-kau. Berpikir sampai di sini, ia merasa makin lama tertahan di situ menjadi lebih baik malah.

Tidak lama, didengarnya orang-orang Mo-kau itu sudah selesai menggali, di atas lubang galian mulai dipasangi ranting kayu dan rumput, ditaburi pula bubuk racun, di atasnya ditutup lagi dengan rumput-rumput pula. Pau Tay-coh berenam lantas menyusup ke tengah semak-semak di samping lubang jebakan itu untuk menantikan kedatangan Gak Put-kun.

Lenghou Tiong mengincar baik-baik sepotong batu di sebelahnya dan telah ambil keputusan tetap bila nanti sang suhu tampaknya akan kejeblos lubang jebakan, segera ia akan melemparkan batu besar itu ke lubang itu, dengan demikian gurunya tentu takkan masuk perangkap musuh.

Begitulah, dalam suasana sunyi baik Lenghou Tiong maupun Pau Tay-coh dan begundalnya sama pasang kuping untuk mendengarkan kalau ada suara lari Gak Put-kun yang sedang mengejar Kat dan Toh-tianglo berdua.

Agak lama kemudian, di tempat jauh tiba-tiba terdengar suara jeritan orang satu kali, tapi bukan suara orang lelaki melainkan suara orang perempuan, jelas Lenghou Tiong mengenali itulah suaranya Ing-ing.

Lenghou Tiong menjadi serbabingung, entah jeritan Ing-ing itu disebabkan kepergok Gak Put-kun atau kaget bertemu dengan Kat-tianglo berdua?

Tidak lama lantas terdengar suara orang berlari mendatangi, satu di depan dan seorang lagi di belakang. Terdengar suara Ing-ing sedang berteriak, “Engkoh Tiong, gurumu hendak membunuh kau, jangan kau keluar!”

Lenghou Tiong terkejut, ia tidak paham mengapa gurunya hendak membunuhnya?

Dalam pada itu Ing-ing lagi berteriak-teriak pula, “Engkoh Tiong, lekas lari kau, gurumu hendak membunuh kau!”

Lalu muncullah nona itu dalam keadaan rambut kusut masai, tangan menghunus pedang, tapi berlari-lari ketakutan dikejar Gak Put-kun dari belakang.

Tampaknya belasan langkah lagi Ing-ing akan kejeblos ke dalam lubang perangkap yang digali orang-orang Mo-kau tadi, keruan Lenghou Tiong maupun Pau Tay-coh dan lain-lain sama kelabakan dan bingung.

Sekonyong-konyong Gak Put-kun melompat ke depan, sekali cengkeram dapatlah ia pegang punggung si Ing-ing, kedua tangan nona itu terus ditelikung ke belakang. Seketika Ing-ing tak bisa berkutik lagi, pedangnya jatuh ke tanah.

Gerak Gak Put-kun itu sungguh cepat luar biasa. Lenghou Tiong dan Pau Tay-coh sama sekali tidak sempat memberi pertolongan. Ilmu silat Ing-ing sendiri sebenarnya juga sangat tinggi, tapi ternyata tidak mampu melawan, sekali dipegang lantas kena.

Keruan Lenghou Tiong menjadi khawatir, hampir-hampir ia berteriak. Namun si Ing-ing masih berseru padanya, “Engkoh Tiong, lekas lari, gurumu hendak membunuh kau!”

Air mata memenuhi kelopak mata Lenghou Tiong saking terharunya, ternyata Ing-ing hanya memikirkan keselamatannya tanpa menghiraukan bahaya sendiri.

Dalam pada itu Gak Put-kun telah menutuk beberapa kali hiat-to bagian punggung Ing-ing sehingga nona itu terkapar tak berkutik. Pada saat itulah Gak Put-kun melihat istrinya juga menggeletak di sebelah sana tanpa bergerak.

Ternyata Gak Put-kun tidak menjadi gelisah, dengan tenang ia periksa keadaan sekitarnya dan ternyata tiada sesuatu yang mencurigakan. Dasarnya Gak Put-kun memang sangat cerdik, melihat sang istri menggeletak di situ, terang di sekitarnya penuh tersembunyi bahaya yang mengancam, bahkan ia tidak berusaha mendekati dan menolong sang istri, sebaliknya ia berkata dengan suara hambar kepada Ing-ing, “Yim-toasiocia, keparat Lenghou Tiong itu membunuh putri kesayanganku, tentunya kau pun ambil bagian atas perbuatan itu bukan?”

Kembali Lenghou Tiong terkejut, ia tidak habis paham mengapa gurunya menuduhnya membunuh siausumoaynya?

Maka terdengar Ing-ing sedang menjawab, “Lim Peng-ci yang membunuh putrimu, apa sangkut pautnya dengan Lenghou Tiong? Kau terus menuduh Lenghou Tiong yang membunuh putrimu, sungguh fitnahan belaka.”

Gak Put-kun bergelak tertawa, katanya, “Lim Peng-ci adalah menantuku, masakah kau tidak tahu? Mereka adalah pengantin baru, alangkah cinta kasih mereka, mana bisa suami membunuh istrinya sendiri?”

“Lim Peng-ci telah menggabungkan diri kepada Ko-san-pay, demi memperoleh kepercayaan Co Leng-tan untuk membuktikan tekadnya bermusuhan dengan kau, maka dia sengaja membunuh anak perempuanmu,” tutur Ing-ing.

“Hahaha, omong kosong belaka!” kembali Gak Put-kun mengakak. “Kau bilang Ko-san-pay? Hah, di dunia ini mana ada Ko-san-pay lagi? Ko-san-pay susah terlebur ke dalam Ngo-gak-pay, di dunia persilatan kini nama Ko-san-pay sudah hapus, mana bisa Lim Peng-ci menggabungkan diri kepada Ko-san-pay? Pula Co Leng-tan sekarang terhitung bawahanku, hal ini cukup diketahui Peng-ci, buat apa dia meninggalkan bapak mertuanya yang menjadi ketua Ngo-gak-pay, sebaliknya malah mengekor kepada seorang buta, seorang Co Leng-tan yang sukar membela dirinya sendiri. Biarpun orang yang paling goblok di dunia ini rasanya juga takkan berbuat demikian.”

“Masa bodoh jika kau tidak percaya, boleh kau cari Lim Peng-ci dan tanya sendiri padanya,” kata Ing-ing.

Mendadak suara Gak Put-kun berubah bengis, katanya, “Yang kucari saat ini bukanlah Lim Peng-ci, tapi Lenghou Tiong. Setiap orang Kang-ouw kini sama mengatakan Lenghou Tiong telah memerkosa anak perempuanku, lantaran anak perempuanku melawan sekuatnya dan akhirnya dibunuh olehnya. Sekarang kau mengarang cerita untuk menutupi dosa Lenghou Tiong, jelas kau juga bukan manusia baik-baik.”

Ing-ing hanya mendengus saja tanpa menjawab.

Lalu Gak Put-kun berkata pula, “Yim-toasiocia, ayahmu adalah Kaucu Tiau-yang-sin-kau, pantasnya aku takkan membikin susah padamu. Tapi demi untuk memaksa munculnya Lenghou Tiong, bisa jadi aku terpaksa menggunakan sedikit hukuman atas dirimu. Aku akan memotong dulu telapak tangan kirimu, lalu telapak tangan kanan, kemudian menebas kaki kirimu dan habis itu kaki kanan. Dalam keadaan demikian bila Lenghou Tiong mempunyai perasaan tentu dia akan muncul.”

“Hm, masakah kau berani?” jengek Ing-ing dengan suara keras. “Kau berani mengganggu seujung rambutku, Ayah pasti akan membikin bersih seluruh keluargamu tanpa kecuali.”

“Aku tidak berani katamu?” sahut Gak Put-kun dengan tertawa. “Sret,” ia terus lolos pedangnya yang tergantung di pinggang.

Lenghou Tiong tidak tahan lagi, segera ia menerobos keluar dari tempat sembunyinya dan berseru, “Suhu, Lenghou Tiong berada di sini!”

Ing-ing menjerit kaget dan cepat berseru pula, “Lekas lari, lekas! Dia tak berani mencelakai diriku!”

Namun Lenghou Tiong menggeleng sambil maju pula, katanya, “Suhu….”

“Bangsat kecil, kau masih ada muka buat memanggil suhu padaku?” bentak Gak Put-kun dengan suara bengis.

Dengan menahan air mata mendadak Lenghou Tiong berlutut dan berkata, “Tuhan sebagai saksi, selamanya Lenghou Tiong sangat menghormati Nona Gak, pasti tidak berani berlaku kasar sedikit pun. Lenghou Tiong merasa utang budi kepada suami-istri kalian yang telah membesarkan diriku, jika kau hendak membunuh aku, silakan lakukan saja.”

Ing-ing menjadi khawatir, serunya, “Engkoh Tiong, orang ini setengah laki-laki setengah perempuan, dia sudah kehilangan sifat manusia, kenapa kau tidak lekas pergi saja!”

Air muka Gak Put-kun mendadak beringas, ia berpaling kepada Ing-ing dan berkata, “Apa arti ucapanmu tadi?”

“Demi untuk meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, kau sendiri telah… telah membikin dirimu menjadi… menjadi tidak keruan seperti setan iblis,” sahut Ing-ing. “Engkoh Tiong, apakah kau masih ingat tentang Tonghong Put-pay? Mereka sudah gila semua, jangan kau anggap mereka orang normal.”

Yang dipikirkan Ing-ing hanyalah semoga Lenghou Tiong lekas lari, meski ia insaf ucapannya itu pasti akan membangkitkan kemurkaan Gak Put-kun kepadanya, namun hal ini tak dipedulikan lagi.

Dengan nada dingin Gak Put-kun bertanya pula, “Kata-katamu yang aneh itu kau dengar berasal dari mana?”

“Lim Peng-ci sendiri yang bilang begitu,” jawab Ing-ing. “Kau telah mencuri Pi-sia-kiam-boh milik keluarga Lim, memangnya kau sangka dia tidak tahu? Waktu kau melempar kasa yang bertuliskan Pi-sia-kiam-boh itu, saat mana Peng-ci bersembunyi di luar jendela kamarmu sehingga dapat menangkap kasa itu, sebab itulah dia… dia juga telah berhasil meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, kalau tidak mana bisa dia membunuh Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong? Cara bagaimana dia meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, dengan sendirinya ia pun tahu cara bagaimana kau meyakinkannya pula. Nah, Engkoh Tiong, apakah kau tidak dengar suara Gak Put-kun yang mirip perempuan ini. Dia… dia sama saja dengan Tonghong Put-pay sudah… sudah abnormal.”

Ing-ing sendiri mendengar dengan jelas percakapan antara Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian di dalam keretanya, sedangkan Lenghou Tiong tidak dengar, sebab itulah Ing-ing berusaha menyadarkan Lenghou Tiong agar mengetahui orang yang dihadapinya sekarang bukan lagi seorang tokoh persilatan terhormat, melainkan seorang aneh yang sudah abnormal, seorang gila yang tidak mungkin diajak bicara tentang budi kebaikan segala.

Benar juga, sorot mata Gak Put-kun mendadak tambah beringas, katanya, “Yim-siocia, sebenarnya aku hendak mengampuni jiwamu, tapi karena ucapanmu yang tidak keruan macam itu, terpaksa aku bereskan nyawamu. Maka janganlah kau menyalahkan aku bila sebentar lagi kau akan mampus.”

“Lekas pergi, Engkoh Tiong, lekas!” Ing-ing berteriak-teriak pula.

Sementara itu tertampak Gak Put-kun sudah mulai angkat pedangnya. Lenghou Tiong kenal kelihaian sang guru, sekali pedangnya bergerak, jiwa Ing-ing tentu akan melayang. Maka cepat ia berteriak, “Kalau mau bunuh orang bunuhlah aku, jangan mencelakai dia!”

Tiba-tiba Gak Put-kun menoleh ke arah Lenghou Tiong dan menjengek, “Hm, kau cuma mempelajari beberapa jurus cakar kucing saja lantas mengira dapat malang melintang di dunia Kang-ouw? Hm, pegang pedangmu, akan kuhajar kau, biar kau mati dengan rela.”

“Sekali… sekali-kali tidak berani bergebrak dengan Su… dengan kau!” jawab Lenghou Tiong.

“Dalam keadaan demikian kau masih coba berlagak dungu apa?” bentak Put-kun dengan gusar. “Dahulu, ketika di atas kapal di Hongho, ketika di Ngo-pah-kang pula, kau sengaja berkomplot dengan kawanan bangsat untuk membikin malu padaku, tatkala mana sudah timbul niatku hendak membunuh kau, tapi kutahan sampai sekarang, boleh dikata untung bagimu. Waktu di Hokciu kau pun jatuh di tanganku, kalau bukan istriku juga berada di sana tentu sudah lama kutamatkan riwayatmu. Lantaran salah hitung dahulu itu sehingga akibatnya malah mengorbankan anak perempuanku di tangan bangsat macam kau.”

“Aku tidak… tidak….” sahut Lenghou Tiong dengan tergagap.

“Siapkan pedangmu!” bentak Put-kun dengan murka. “Jika kau mampu mengalahkan pedangku, seketika kau akan dapat membunuh aku, kalau tidak, maka aku pun takkan mengampuni kau. Perempuan siluman Mo-kau ini sembarangan mengoceh, biar kubereskan dia lebih dahulu.”

Habis berkata pedangnya terus menebas ke leher Ing-ing.

Melihat keadaan sudah mendesak, tanpa pikir Lenghou Tiong menjemput sepotong batu terus disambitkan ke dada Gak Put-kun, berbareng itu ia terus menjatuhkan diri dan menggelinding ke samping, pedang Ing-ing yang jatuh di tanah itu disambarnya, menyusul ia terus menusuk ke iga kanan Gak Put-kun.

Jika serangan Gak Put-kun tadi diarahkan kepada Lenghou Tiong, maka pemuda itu pasti tidak menangkis dan rela terbunuh oleh sang guru. Tapi karena Gak Put-kun terlalu gemas terhadap Ing-ing yang telah membongkar rahasianya, tanpa pikir serangannya ditujukan kepada nona itu lebih dulu. Melihat hal demikian sudah tentu betapa pun Lenghou Tiong tidak bisa tinggal diam. Dilihatnya di bawah ketiak kanan Gak Put-kun adalah tempat yang terbuka, maka Lenghou Tiong lantas menyerang tempat itu untuk memaksa lawan menarik kembali serangannya bila ingin menyelamatkan diri lebih dulu.

Benar juga, cepat Gak Put-kun menarik pedangnya untuk menangkis. Tapi susul-menyusul Lenghou Tiong lantas menyerang pula tiga kali, terpaksa Gak Put-kun melangkah mundur dua-tiga tindak dengan rasa kejut dan heran.

Maklumlah, sejak Lenghou Tiong berhasil meyakinkan Tokko-kiu-kiam, ditambah lagi himpunan tenaga dalam beberapa tokoh silat kelas wahid yang diperolehnya secara kebetulan, yaitu yang disedotnya dengan Gip-sing-tay-hoat, kini tenaga-tenaga dalam itu dipancarkan melalui permainan pedangnya, keruan lengan Gak Put-kun tergetar hingga kesemutan.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio Etanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: