Hina Kelana: Bab 124. Gak Leng-sian Mati di Ujung Pedang Suami Sendiri

Oleh Jin Yong

Begitulah dengan gemas Lo Tek-nau berkata pula, “Rupanya aku menyelundup ke dalam Hoa-san-pay sejak awal sudah diketahui oleh Gak Put-kun, hanya dia pura-pura tidak tahu dan berbalik mengawasi tingkah lakuku, dia sengaja membiarkan kiam-boh palsu dicuri olehku sehingga ilmu pedang yang diyakinkan guruku jadinya tidak lengkap. Kemudian pada pertarungan yang menentukan itu dia memancing guruku memainkan ilmu pedang itu untuk menghadapi ilmu pedang palsu yang tidak sempurna, dengan sendirinya dia pasti menang. Kalau tidak, jabatan ketua Ngo-gak-pay mana bisa jatuh ke tangannya.”

“Ya, Gak Put-kun benar-benar culas dan licik, kita sama-sama telah terjeblos ke dalam perangkapnya,” kata Peng-ci dengan menghela napas.

“Tapi guruku adalah seorang yang bijaksana, meski aku telah bikin runyam urusannya, namun tiada satu patah kata pun dia tegur diriku,” tutur Tek-nau. “Namun sebagai murid dengan sendirinya hatiku tidak tenteram, biarpun masuk lautan api atau naik gunung pisau juga aku akan berusaha membinasakan keparat Gak Put-kun untuk membalas sakit hati Insu.”

Ucapan terakhir itu dilontarkan dengan tegas dan gemas, nyata sekali tidak kepalang rasa dendam kesumatnya terhadap Gak Put-kun.

Peng-ci tidak menanggapi, ia sendiri sedang merenungkan kata-kata orang.

Maka Lo Tek-nau berkata pula, “Kedua mata Insu telah rusak, saat ini beliau tinggal menyepi di puncak barat Ko-san bersama belasan orang yang juga rusak matanya karena perbuatan Gak Put-kun dan Lenghou Tiong. Bila Lim-siauhiap mau ikut aku ke sana sebagai satu-satunya ahli waris Pi-sia-kiam-bun dari Hokciu tentu Insu akan menyambutmu dengan segala kehormatan. Syukur kalau kedua matamu dapat disembuhkan, kalau tidak dapat, tinggal saja di sana bersama Insu untuk sama-sama memikirkan cara-cara menuntut balas sakit hati kita yang mahabesar ini, bukankah jalan ini paling baik?”

Tertarik juga hati Lim Peng-ci, ia pikir kedua matanya tentu sukar untuk bisa disembuhkan, tapi kalau bisa berkumpul dengan orang-orang yang senasib yang sama-sama buta matanya tukar pikiran cara menuntut balas, jalan ini memang paling baik. Cuma ia pun kenal pribadi Co Leng-tan, bila tiada maksud tujuan tertentu mustahil mendadak begitu baik hati padanya. Maka ia lantas menjawab, “Maksud baik Co-ciangbun sungguh aku sangat berterima kasih. Tapi apakah Lo-heng dapat memberi penjelasan yang lebih lengkap.”

Maksudnya bila pihak Lo Tek-nau ada tujuan apa-apa, hendaknya buka harga secara terus terang dan kalau perlu boleh tawar-menawar.

Lo Tek-nau bergelak tertawa, katanya, “Lim-siauhiap ternyata orang yang suka berpikir secara terbuka, agar kelak kita dapat bekerja sama lebih erat tentu akan kujelaskan secara terus terang. Soalnya aku mendapatkan kiam-boh yang tidak sempurna dari Hoa-san, kami guru dan murid tertipu dengan sendirinya kami tidak rela. Sepanjang jalan telah kusaksikan Lim-siauhiap memperlihatkan kesaktian ilmu pedang yang hebat untuk membunuh Bok Ko-hong, Ih Jong-hay, dan begundalnya sehingga musuh-musuhmu lari terbirit-birit, nyata sekali engkau sudah memperoleh ajaran asli dari Pi-sia-kiam-hoat itu. Sungguh aku sangat kagum dan juga… dan juga sangat mengiler….”

Peng-ci dapat menangkap maksud orang. Jawabnya kemudian, “Apakah maksud Lo-heng hendak minta aku memperlihatkan kiam-boh asli kepada kalian?”

“Sebenarnya orang luar tidaklah pantas mengincar milik keluargamu itu,” kata Tek-nau. “Tapi hendaklah Lim-siauhiap maklum, dalam keadaan seperti Insu dan Lim-siauhiap sekarang terang tiada mampu membunuh keparat Gak Put-kun itu kecuali kalau Insu dan aku dapat mempelajari Pi-sia-kiam-hoat yang asli.”

Sesungguhnya Peng-ci memang sedang bingung bagaimana hidup selanjutnya dalam keadaan mata buta itu. Apalagi sekarang kalau dirinya menolak tentu Lo Tek-nau akan gunakan kekerasan untuk membunuhnya dan Leng-sian, dan kiam-boh akhirnya tetap akan terampas.

Tiba-tiba ia mendapat akal, segera berkata, “Co-ciangbun sudi bersatu denganku, sungguh aku merasa mendapat kehormatan besar. Sebabnya keluarga Lim kami hancur dan aku sampai menjadi cacat adalah gara-gara perbuatan Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong, tapi tipu muslihat yang dirancangkan Gak Put-kun terhitung pula sebab-sebab pokok, maka keinginanku membunuh Gak Put-kun tiada ubahnya seperti kalian guru dan murid. Maka kalau kita berserikat sudah tentu Pi-sia-kiam-hoat akan kuperlihatkan kepada kalian.”

Lo Tek-nau sangat senang, katanya, “Lim-siauhiap ternyata sangat berbaik hati, sungguh kami sangat berterima kasih bila dapat melihat keaslian Pi-sia-kiam-boh, selanjutnya Lim-hengte akan menjadi kawan akrab sebagai saudara sendiri.”

“Terima kasih,” kata Peng-ci. “Sesudah kita sampai di Ko-san, segera Pi-sia-kiam-boh yang asli itu akan kuuraikan seluruhnya di luar kepala.”

“Menguraikan di luar kepala?” Lo Tek-nau menegas.

“Ya,” jawab Peng-ci. “Hendaknya Lo-heng maklum bahwa kiam-boh asli itu oleh leluhurku telah ditulis pada sebuah kasa. Kasa itu telah diserobot oleh Gak Put-kun, dari situ dapatlah dia mencuri ilmu pedang keluargaku. Tapi kemudian secara kebetulan sekali kasa itu jatuh kembali ke tanganku. Karena kukhawatir diketahui oleh Gak Put-kun, maka aku telah menghafalkan isi kiam-boh itu di luar kepala, lalu kasa itu kumusnahkan. Bila kusimpan kasa itu, sedangkan aku selalu didampingi seorang istri setia begini, apakah mungkin aku dapat hidup sampai sekarang?”

Sejak tadi Gak Leng-sian hanya mendengarkan saja tanpa bicara, kini mendengar sindiran itu, kembali ia menangis sedih, katanya dengan terguguk, “Kau… kau kenapa….”

Namun ia tidak sanggup melanjutkan pula.

Karena Lo Tek-nau tadi sembunyi di dalam kereta, maka ia mendengar semua percakapan Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian, ia percaya apa yang dikatakan Peng-ci itu memang bukan olok-olok belaka, segera ia berkata, “Baiklah, apakah sekarang juga kita lantas berangkat ke Ko-san?”

Tanpa pikir lagi Peng-ci mengiakan.

“Kita harus membuang kereta dan menunggang kuda dengan mengambil jalan kecil,” kata Lo Tek-nau. “Sebab kita bukan tandingannya.”

Lalu ia berpaling kepada Gak Leng-sian dan bertanya, “Siausumoay, kau akan membantu ayah atau membantu suami?”

“Aku tidak membantu siapa pun juga!” sahut Leng-sian tegas. “Aku… aku memang bernasib buruk, besok juga aku akan cukur rambut dan meninggalkan rumah, apakah dia ayah atau dia suami, selanjutnya aku takkan berjumpa lagi dengan mereka.”

“Jika kau menjadi nikoh ke Hing-san, di situ memang tepat tempatnya bagimu,” kata Peng-ci.

“Lim Peng-ci!” teriak Leng-sian dengan gusar. “Apakah kau sudah lupa? Dahulu kau hampir mampus, kalau tidak ditolong Ayah tentu jiwamu sudah melayang di tangan Bok Ko-hong, mana kau dapat hidup sampai saat ini? Seumpama ayahku berbuat sesuatu kesalahan, aku Gak Leng-sian toh tidak berbuat sesuatu yang tidak betul padamu? Apakah artinya kau berkata demikian itu?”

“Apa artinya? Aku cuma ingin membuktikan tekadku kepada Co-ciangbun,” sahut Peng-ci suaranya bengis buas.

Menyusul itu, sekonyong-konyong terdengar Leng-sian menjerit ngeri, agaknya telah mengalami kecelakaan. Tanpa pikir Lenghou Tiong dan Ing-ing melompat keluar dari tempat sembunyinya. Berbareng Lenghou Tiong berteriak, “Lim Peng-ci, jangan mencelakai Siausumoay!”

Dalam keadaan menyamar, di tengah malam pula, sebenarnya Lo Tek-nau mengenalnya. Keruan kagetnya setengah mati, hampir-hampir sukmanya meninggalkan raganya.

Saat ini yang paling ditakuti Lo Tek-nau hanya Gak Put-kun dan Lenghou Tiong berdua. Maka tanpa pikir lagi segera ia cengkeram bahu Lim Peng-ci terus mencemplak seekor kuda tinggalan orang Jing-sia-pay tadi dan segera dilarikan sekencang-kencangnya.

Lantaran mengkhawatirkan keselamatan Gak Leng-sian, Lenghou Tiong tidak sempat berpikir untuk mengejar musuh. Dilihatnya Leng-sian menggeletak di tempat kusir di atas kereta, dadanya tertancap sebatang pedang, ketika diperiksa pernapasannya keadaannya sudah payah, lemah sekali denyut nadinya.

“Siausumoay! Siausumoay!” Lenghou Tiong berseru.

“Apakah… apakah Toasuko?” jawab Leng-sian lemah.

“Ya… ya, aku!” seru Lenghou Tiong kegirangan.

Segera ia bermaksud mencabut pedang yang menancap di dada Leng-sian itu, tapi Ing-ing keburu mencegahnya. Hampir separuh mata pedang itu masuk dalam tubuh Leng-sian, kalau pedang dicabut pasti akan mempercepat kematiannya, terang Leng-sian sukar diselamatkan lagi, Lenghou Tiong menjadi berduka, serunya sambil menangis, “Siau… Siausumoay!”

“Toasuko, engkau berada di sampingku, sungguh baik sekali,” kata Leng-sian dengan suara lemah. “Adik Peng, apakah… apakah dia sudah pergi?”

“Jangan khawatir, aku pasti membunuh dia untuk membalas sakit hatimu,” kata Lenghou Tiong dengan geregetan.

“Tidak, jangan!” kata Leng-sian. “Matanya sudah buta, hendak kau bunuh dia, tentu dia tidak sanggup melawan. Aku… aku ingin kembali ke tempat Ibu.”

“Baik, akan kubawa kau menemui Sunio,” kata Lenghou Tiong.

Melihat keadaan Leng-sian yang semakin payah itu, terang jiwanya akan melayang dalam waktu singkat, tanpa terasa Ing-ing juga mengucurkan air mata.

“Toasuko,” kata Leng-sian pula dengan lemah, “engkau selalu sangat baik padaku, tapi aku… aku bersalah padamu. Aku… akan meninggal dengan segera. Aku ingin mohon se… sesuatu padamu, hendaknya kau dapat… dapat meluluskan permintaanku ini.”

“Kau takkan meninggal, aku akan berusaha menyembuhkanmu,” ujar Lenghou Tiong. “Silakan bicara, aku pasti akan memenuhi permintaanmu.”

“Tetapi… tapi engkau tentu tak dapat menerima, hal ini akan membikin engkau pen… penasaran….” suaranya makin lirih, napasnya juga makin lemah.

“Aku pasti meluluskan permintaanku, katakan saja,” jawab Lenghou Tiong.

“Toasuko, suamiku… Adik Peng, dia… dia sudah buta, kas… kasihan dia,” kata Leng-sian dengan terputus-putus. “Dia sebatang kara di dunia ini, semua… semua orang me… memusuhi dia. Toasuko… sesudah aku mati, harap… harap engkau menjaga baik-baik dia, jangan… jangan sampai dia dianiaya orang lagi….”

Lenghou Tiong melengak, sama sekali tak terduga bahwa Gak Leng-sian yang sudah dekat ajalnya itu tetap tidak melupakan cintanya terhadap Lim Peng-ci, suami yang tega membunuh istri sendiri itu. Padahal kalau bisa Lenghou Tiong ingin membekuk Peng-ci pada saat itu juga untuk mencencangnya hingga hancur luluh, kelak tidak mungkin pula dia mau mengampuni jiwa manusia rendah itu, mana dia mau menerima permintaan Leng-sian itu agar menjaganya malah?

Maka dengan gusar Lenghou Tiong menjawab, “Manusia rendah yang mementingkan diri sendiri dan tak berbudi itu, mengapa… mengapa kau masih memikirkan dia?”

“Toasuko,” kata Leng-sian, “dia… dia tidak sengaja hendak membunuh aku, hanya… karena takut pada Ayah, dia terpaksa… terpaksa memihak Co Leng-tan dan aku… aku ditusuknya sekali… Toasuko, aku mohon… mohon padamu… agar men… menjaga dia dengan baik….”

Di bawah cahaya rembulan, wajah Leng-sian tampak rada pucat, sinar matanya guram, namun penuh memperlihatkan rasa memohon. Padahal sejak kecil permintaan apa pun juga dari Leng-sian belum pernah ditolak oleh Lenghou Tiong, apalagi permintaan Leng-sian sekarang ini adalah permintaan pada saat menjelang ajalnya, permintaan yang terakhir dan juga permintaan yang paling sungguh-sungguh.

Sesaat itu darah dalam rongga dada Lenghou Tiong menjadi bergolak. Ia tahu sekali terima permintaan Leng-sian itu, maka selanjutnya pasti akan banyak akibatnya dan mungkin akan banyak pula memaksa dirinya berbuat sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya.

Tapi menghadapi wajah dan suara Leng-sian yang penuh rasa memohon itu, Lenghou Tiong tidak tega untuk menolak, segera ia mengangguk dan berkata, “Baiklah, aku menerima permintaanmu, jangan khawatir!”

Mendengar itu, tanpa terasa Ing-ing mencela, “Mana… mana boleh kau menerimanya!”

Dengan kencang Leng-sian menggenggam tangan Lenghou Tiong, katanya, “Toasuko, banyak… banyak terima kasih… aku tak perlu… tak perlu khawatir lagi….”

Mendadak sorot matanya memancarkan cahaya, mulutnya mengulum senyum penuh tanda merasa puas. Lenghou Tiong juga merasa puas melihat kegembiraan Leng-sian itu, ia merasa cukup berharga biarpun kelak harus menghadapi kesulitan-kesulitan mahabesar.

Tapi mendadak terdengar Leng-sian berdendang perlahan. Seketika dada Lenghou Tiong seperti digodam, sebab didengarnya lagu yang dinyanyikan Leng-sian itu kiranya adalah lagu rakyat daerah Hokkian, jelas lagu ajaran Lim Peng-ci yang berasal dari Hokkian itu.

Dahulu ketika Lenghou Tiong dihukum kurung di puncak Hoa-san, perasaannya sangat pedih ketika mendengar Leng-sian menyanyikan lagu daerah itu. Kini kembali Leng-sian menyanyi pula, terang sedang mengenangkan masa percintaannya dengan Peng-ci di Hoa-san dahulu. Suara Leng-sian melemah, tangannya yang menggenggam tangan Lenghou Tiong juga makin kendur dan akhirnya terbuka, mata perlahan terpejam, nyanyian berhenti napasnya juga lantas putus.

Hati Lenghou Tiong serasa mendelong, seketika dunia seakan-akan runtuh saat itu, ia ingin menangis keras-keras, tapi tak dapat bersuara. Ia peluk tubuh Leng-sian yang sudah tak bernyawa itu dan bergumam perlahan, “Siausumoay, jangan khawatir, Siausumoay! Akan kubawa kau ke tempat ibumu, pasti tiada seorang pun yang berani memusuhimu.”

Ing-ing melihat punggung Lenghou Tiong basah kuyup dengan darah, terang lukanya kambuh lagi, tapi dalam keadaan demikian ia tidak tahu cara bagaimana harus menghiburnya.

Sambil memondong jenazah Leng-sian, dengan sempoyongan Lenghou Tiong melangkah ke depan sembari menggumam, “Jangan khawatir Siausumoay, akan kubawa kau kepada ibumu!”

Tapi mendadak kakinya menjadi lemas dan terguling lalu tak sadarkan diri lagi.

Entah sudah berapa lama, dalam keadaan samar-samar didengarnya suara nyaring kecapi yang membikin pikirannya menjadi segar. Suara kecapi itu mengalun lembut berulang, kedengaran lagunya sudah dikenalnya dan enak sekali rasanya. Seluruh tubuh terasa tak bertenaga sampai-sampai kelopak mata pun malas untuk membukanya, ia berharap akan senantiasa dapat mendengarkan suara kecapi itu tanpa berhenti.

Dan suara kecapi itu ternyata benar-benar berbunyi terus tanpa berhenti. Selang tak lama, sayup-sayup Lenghou Tiong kembali terpulas lagi.

Ketika untuk kedua kalinya ia mendusin, telinganya tetap mendengar suara nyaring kecapi yang merdu, malahan hidung mengendus bau harum bunga yang semerbak. Waktu ia membuka mata, di depannya penuh bunga beraneka warna, Ing-ing sedang menabuh kecapi membawakan lagu “Penenang Jiwa”, agaknya dirinya terbaring dalam sebuah gua.

Segera ia bermaksud bangun duduk, tapi Ing-ing keburu menoleh dan mendekatinya dengan wajah gembira penuh rasa kasih sayang. Sesaat itu Lenghou Tiong merasa sangat bahagia, ia tahu Ing-ing yang membawanya ke gua ini ketika dirinya jatuh pingsan lantaran kematian siausumoaynya yang mengenaskan itu. Kembali hatinya berduka, tapi lambat laun dari sorot mata Ing-ing yang lembut mesra itu ia merasa terhibur, kedua orang saling pandang tanpa bicara sampai sekian lamanya.

Perlahan Lenghou Tiong mengelus tangan Ing-ing, tiba-tiba di tengah bau harum bunga itu terendus pula bau sedap daging panggang. Ing-ing lantas angkat setangkai kayu, di atas tangkai itu tersunduk beberapa ekor kodok panggang.

“Kembali hangus!” katanya dengan tersenyum.

Lenghou Tiong bergelak tertawa teringat kepada kejadian dahulu ketika mereka juga makan kodok panggang di tepi sungai. Makan kodok dua kali, tapi dalam waktu sekian lama itu telah banyak mengalami macam-macam kejadian, namun mereka berdua masih tetap berkumpul menjadi satu.

Sejenak kemudian Lenghou Tiong menjadi berduka pula teringat kepada Gak Leng-sian. Ing-ing memayangnya bangun, katanya sambil menunjuk sebuah kuburan baru di luar gua, “Di situlah Nona Sian beristirahat untuk selamanya.”

“Banyak… banyak terima kasih padamu,” kata Lenghou Tiong dengan menahan air mata. Dalam hati ia pun merasa rikuh, lalu sambungnya pula, “Ing-ing, aku terkenang kepada Siausumoay, hendaklah engkau jangan marah.”

“Sudah tentu aku takkan marah, masing-masing orang mempunyai jodoh sendiri-sendiri dan punya suka-duka pula,” jawab Ing-ing.

Lalu dengan suara lirih ia melanjutkan, “Dahulu ketika aku mula-mula jatuh hati padamu justru disebabkan uraianmu tentang cintamu terhadap siausumoaymu. Bila engkau seorang pemuda yang beriman tipis dan tak berbudi, tentu aku takkan menghargai dirimu. Sebenarnya… sebenarnya Nona Sian adalah seorang nona yang baik, cuma saja dia tidak… tidak ada jodoh denganmu. Jika engkau tidak dibesarkan bersama dia sedari kecil, besar kemungkinan sekali lihat dia akan suka padamu.”

“Tak mungkin,” sahut Lenghou Tiong setelah merenung sejenak. “Siausumoay paling kagum terhadap Suhu, lelaki yang dia suka harus pendiam dan kereng seperti ayahnya itu. Aku hanya bermain baginya, selamanya dia tidak… tidak menghargai diriku.”

“Mungkin kau benar. Lim Peng-ci justru mirip gurumu, tampaknya prihatin, tapi jiwanya justru begitu kotor.”

“Tapi pada saat terakhir Siausumoay tetap tidak percaya Lim Peng-ci benar-benar mau membunuhnya, dia masih tetap mencintai Peng-ci sepenuh hati. Tapi juga ada… ada baiknya, dia tidak meninggal dalam kedukaan. Ya, aku ingin melihat kuburannya.”

Segera Ing-ing memayangnya keluar gua. Tertampak kuburan itu bagian atas ditumpuki batu dengan rajin, suatu tanda Ing-ing tidak sembarangan menguburkan Gak Leng-sian. Diam-diam Lenghou Tiong sangat berterima kasih. Dilihatnya pula di depan kuburan terpancang sepotong dahan pohon yang telah dipapas tangkai dan daunnya, pada kulit dahan pohon terukir tulisan, “Tempat istirahat Hoa-san-lihiap, Nona Gak Leng-sian.”

Kembali Lenghou Tiong mencucurkan air mata, katanya sedih, “Mungkin Siausumoay lebih suka dipanggil Nyonya Lim.”

“Manusia tak berbudi seperti Lim Peng-ci itu, kalau Nona Gak tahu di alam baka pasti takkan sudi menjadi nyonyanya,” ujar Ing-ing. Dalam hati ia membatin, “Sayang engkau tidak tahu bahwa dia dan Lim Peng-ci hanya resminya saja suami-istri, tapi praktiknya tidak.”

Tempat di mana mereka berada adalah sebuah lembah dikelilingi oleh lereng bukit yang menghijau indah dengan bunga-bunga hutan yang harum mewangi, suara burung berkicau merdu merayu, sungguh suatu tempat yang sangat permai.

“Biarlah kita tinggal sementara di sini, sambil menyembuhkan lukamu, dapat pula kita menemani kuburan Nona Gak,” kata Ing-ing.

Lenghou Tiong mengiakan dengan senang.

Begitulah mereka lantas tinggal di lembah pegunungan yang indah itu dengan tenang dan bebas. Lenghou Tiong hanya terluka luar saja, hanya belasan hari saja lukanya sudah hampir sembuh seluruhnya. Setiap hari Ing-ing mengajarkan dia menabuh kecapi, dasarnya Lenghou Tiong memang pintar, ia belajar dengan tekun pula, maka kemajuannya cukup pesat.

Beberapa hari pula, satu pagi ketika Lenghou Tiong bangun, dilihatnya kuburan Gak Leng-sian telah tumbuh tunas rumput yang hijau. Hati Lenghou Tiong kembali berduka menghadapi kuburan siausumoaynya itu.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seruling yang merdu, cepat ia menoleh, dilihatnya Ing-ing sedang meniup seruling dengan duduk di atas batu padas. Lagu yang dibawakannya adalah “Penenang Jiwa” yang sering dibunyikannya sejak dahulu. Ia coba mendekati si nona, dilihatnya seruling itu terbikin dari bambu yang masih baru, terang baru saja Ing-ing membuatnya.

Segera ia pun memangku kecapi dan mulai menabuhnya mengikuti irama seruling Ing-ing. Selesai membawakan satu lagi, semangat terasa banyak lebih segar. Kedua orang saling pandang dengan tertawa.

“Bagaimana kalau kita berlatih lagi ‘Hina Kelana’ mulai sekarang?” kata Ing-ing.

“Lagu ini sangat sukar, entah kapan aku baru dapat menyamaimu,” ujar Lenghou Tiong. “Dahulu aku pernah mendengar lagu ini dibawakan oleh Lau-susiok dari Heng-san-pay dan Kik-tianglo dari Tiau-yang-sin-kau kalian, yang satu meniup seruling dan yang lain menabuh kecapi, paduan suara seruling dan kecapi sungguh sangat enak didengar. Menurut Lau-susiok, lagu ‘Hina Kelana’ memang digubah dengan paduan suara seruling dan kecapi.”

“Ya, engkau menabuh kecapi dan aku meniup seruling, kita mulai berlatih secara perlahan, latihan dua orang bersama tentu akan lebih cepat maju daripada latihan sendirian,” kata Ing-ing.

Begitulah belasan hari selanjutnya mereka lantas tekun berlatih menabuh kecapi dan meniup seruling di tengah lembah indah itu, untuk sementara mereka terlupa kepada sinar pedang dan bayangan darah di dunia Kang-ouw. Kedua orang sama-sama merasa kalau dapat hidup berdampingan di lembah itu hingga hari tua, maka rasanya tak kecewalah hidup mereka ini.

Akan tetapi kejadian di dunia ini memang sering bertentangan dengan harapan manusia.

Suatu hari lewat tengah hari, setelah Lenghou Tiong berlatih sekian lamanya dengan Ing-ing, tiba-tiba ia merasa pikiran kusut dan sukar untuk ditenteramkan. Beberapa kali irama kecapinya salah petik.

“Tentu engkau lelah, silakan mengaso saja dulu,” ujar Ing-ing.

“Lelah sih tidak, entah mengapa, pikiran tidak tenteram,” kata Lenghou Tiong. “Biar kupergi petik buah tho, petang nanti kita berlatih lagi.”

“Baiklah cuma jangan terlalu jauh,” kata Ing-ing.

Lenghou Tiong tahu di sebelah timur lembah itu banyak tumbuh pepohonan tho, waktu itu adalah musimnya, segera ia menuju ke sana. Kira-kira sepuluhan li jauhnya, benarlah di depan terbentang hutan tho yang lebat dengan buahnya yang sudah merah.

Tanpa pikir lagi ia terus memetik buah-buah itu sampai ratusan. Pikirnya, “Kalau biji buah tho ini kelak tumbuh pula menjadi pohon, tentu lembah ini akan penuh pohon tho dan jadilah sebuah tho-kok (lembah tho), dan aku dan Ing-ing bukankah akan berubah menjadi Tho-kok-ji-sian? Kelak kalau Ing-ing juga melahirkan enam anak laki-laki, kan mereka akan menjadi Tho-kok-lak-sian cilik?”

Teringat kepada Tho-kok-lak-sian, ia menjadi tertawa geli sendiri.

Pada saat itulah tiba-tiba didengarnya dari jauh ada suara keresak-keresek, suara orang berjalan. Ia terkejut dan cepat mendekam ke bawah. Pikirnya, “Aneh, di lembah sunyi ini kenapa ada orang? Jangan-jangan yang dituju adalah aku dan Ing-ing?”

Selang sejenak, sayup-sayup didengarnya suara seorang sedang berkata, “Apakah kau tidak keliru? Apakah benar keparat Gak Put-kun itu menuju ke sini?”

Lalu terdengar suara seorang lagi menjawab, “Menurut penyelidikan Su-hiangcu, katanya putri Gak Put-kun mendadak menghilang di sekitar sini, di tempat lain sama sekali tidak tampak jejak anak dara itu, maka dapat dipastikan anak dara itu bersembunyi di lembah sunyi ini untuk merawat lukanya. Dapat diduga pula siang atau malam Gak Put-kun pasti akan mencarinya ke sini.”

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu bahwa orang-orang itu sedang mengincar jejak Gak Put-kun. Ia menjadi berduka pula. Pikirnya, “Kiranya mereka mengetahui Siausumoay terluka, tapi tidak tahu bahwa dia sudah meninggal. Selama sebulan ini aku dan Ing-ing hidup tenteram di sini, sebaliknya Siausumoay tentu sedang dicari orang banyak, terutama Suhu dan Sunio.”

Lalu terdengar suara orang tua pertama tadi berkata pula, “Jika dugaanmu tidak salah dan Gak Put-kun benar-benar akan datang, maka kita perlu pasang perangkap di ujung jalan masuk lembah ini.”

Orang kedua yang bersuara rada serak menjawab, “Seumpama Gak Put-kun tidak segera datang, setelah kita atur seperlunya tentu juga akan dapat memancing kedatangannya.”

“Akalmu sungguh hebat Sik-hengte, bila usaha kita berhasil, tentu akan kulaporkan Kaucu dan kau akan segera naik pangkat,” kata orang tua yang pertama.

“Terima kasih, Kat-tianglo, segala sesuatu masih diharapkan bantuanmu,” jawab orang kedua.

Tahulah Lenghou Tiong sekarang, kiranya orang-orang itu adalah anggota Tiau-yang-sin-kau dan berarti anak buah Ing-ing pula. Pikirnya, “Betapa pun tinggi kepandaian mereka mana dapat melawan kepandaian Suhu sekarang? Paling baik kalau mereka saling hantam asalkan tidak mengganggu ketenteraman kami.”

Segera terpikir pula olehnya, “Suhu adalah orang mahacerdik, masakah orang-orang macam kalian ini juga mampu menjebak suhuku? Sungguh terlalu tidak tahu diri.”

Pada saat lain, tiba-tiba dari jauh ada suara tepukan tangan tiga kali. Orang she Sik lantas berkata, “Toh-tianglo dan lain-lain sudah tiba pula.”

Segera orang yang dipanggil Kat-tianglo tadi membalas tiga kali tepukan tangan. Lalu terdengar suara langkah kaki yang ramai, empat orang berlari datang dengan cepat. Dua orang di antaranya rada ketinggalan, agaknya ginkang mereka lebih rendah. Tapi sesudah dekat, Lenghou Tiong lantas dapat mendengar bahwa kedua orang yang rada ketinggalan itu disebabkan mereka menggotong sesuatu benda berat.

Dengan girang Kat-tianglo lantas berseru, “He, Toh-laute berhasil menangkap anak dara keluarga Gak itu kiranya? Sungguh tidak kecil jasamu ini!”

Lalu terdengar seorang bersuara lantang menjawab, “Orang keluarga Gak sih memang benar, cuma bukan anak daranya melainkan babonnya, biangnya!”

“He!” terdengar Kat-tianglo bersuara kejut-kejut girang. “Jadi bininya Gak Put-kun yang kena kau tangkap?”

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio etanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: