Hina Kelana: Bab 123. Rahasia Munculnya Lo Tek-nau

Oleh Jin Yong

Selang sejenak barulah Peng-ci meneruskan pula, “Dengan perlahan ibumu berkata, ‘Sudah tentu aku tahu, sebab kiam-boh itu justru kau sendiri yang mengambilnya.’ – Dengan gusar ayahmu menjerit pula, ‘Maksudmu men… men….’ tapi hanya sekian saja ucapannya dan mendadak bungkam.

“Suara ibumu sangat tenang, katanya pula, ‘Dalam keadaan pingsan tempo hari, ketika aku membubuhi obat pada luka Anak Tiong, kulihat dalam bajunya tersimpan sepotong kasa yang penuh tulisan mengenai ilmu pedang. Ketika untuk kedua kalinya aku memberi obat padanya ternyata kasa itu sudah tidak ada, waktu itu Anak Tiong masih belum sadar kembali. Selama itu di dalam kamar selain kita berdua tiada orang ketiga lagi, dan yang pasti aku sendiri tidak ambil kasa bertulis ilmu pedang itu.’

“Beberapa kali ayahmu bermaksud menyela, tapi hanya menyebut dua-tiga saja secara samar-samar dan tidak melanjutkan. Sebaliknya suara ibumu tambah halus dan berkata pula, ‘Suko, ilmu pedang Hoa-san-pay ada keistimewaannya sendiri. Ci-he-sin-kang juga lain daripada yang lain, dengan ilmu sakti ini pun cukup kuat bagi kita untuk menjagoi dunia persilatan, sebenarnya tidak perlu lagi mencuri belajar ilmu dari aliran lain. Hanya saja akhir-akhir ini Co Leng-tan sangat bernafsu mencaplok keempat aliran lain sesama Ngo-gak-kiam-pay kita, betapa pun Hoa-san-pay yang berada di bawah pimpinanmu tidak boleh jatuh ke dalam cengkeraman Co Leng-tan. Asalkan kita berserikat dengan Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hing-san-pay, empat lawan satu kukira pihak kita tetap lebih kuat. Seumpama akhirnya kita tak bisa menang sedikitnya kita masih sanggup hantam mereka habis-habisan di Ko-san nanti, berada di akhirat juga kita tidak malu terhadap leluhur Hoa-san-pay kita.’.”

Mendengar sampai di sini, diam-diam Ing-ing memuji Nyonya Gak itu benar-benar seorang kesatria wanita yang hebat, jauh lebih terhormat dan terpuji daripada suaminya.

Maka terdengar Leng-sian berkata, “Apa yang dikatakan Ibu itu memang tiada salahnya.”

Peng-ci mendengus, katanya, “Tapi waktu itu ayahmu sudah mendapatkan kiam-bohku dan sudah mulai meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, mana dia mendengar nasihat Sunio?”

Dengan menyebut “sunio” (ibu guru) secara mendadak, hal ini menunjukkan hati Lim Peng-ci masih mengindahkan dan menghormati Gak-hujin.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Waktu itu ayahmu telah menjawab, ‘Ucapanmu itu benar-benar pandangan kaum wanita belaka. Melulu mengandalkan kegagahan dan main hantam saja toh tiada gunanya bagi urusan yang lebih penting.’ Ibumu diam sejenak, lalu berkata, ‘Sebenarnya boleh juga tujuanmu buat menyelamatkan Hoa-san-pay dengan segala daya upaya. Hanya saja itu… itu Pi-sia-kiam-hoat pasti lebih banyak rugi daripada untungnya bila melatihnya, anak cucu keluarga Lim mengapa tiada yang meyakinkan ilmu pedang leluhurnya? Maka kunasihatkan sebaiknya dapat menahan hasrat dan jangan berlatih ilmu pedang itu.’ Dengan suara keras ayahmu menjawab, ‘Dari mana kau tahu?… Kau selalu mengintip gerak-gerikku?’ ‘Untuk mengetahuinya aku tidak mesti mengintip dirimu,’ sahut ibumu, ‘akhir-akhir ini suaramu banyak berubah, hal ini dapat dilihat oleh siapa pun juga, masakah kau sendiri tidak tahu.’

“Ayahmu masih mendebat lagi, ‘Selamanya suaraku juga begini.’ Ibumu berkata, ‘Setiap pagi di atas bantalmu tentu terdapat rontokan rambut kumis, engkau melihatnya sendiri? Sudah lama aku melihatnya, hanya tidak kukatakan,’ sahut ibumu. ‘Kumis jenggot palsu yang kau tempelkan mungkin dapat mengelabui orang lain, tapi mana bisa mengelabui sumoaymu yang berdampingan denganmu selama belasan tahun dan bahkan menjadi istrimu selama berpuluh tahun ini?’

“Karena merasa rahasianya terbongkar, ayahmu tidak membantah lagi. Selang sejenak barulah dia bertanya, ‘Apakah orang lain ada juga yang tahu?’ ‘Tidak,’ jawab ibumu. ‘Bagaimana dengan Anak Sian dan Anak Peng?’ tanya pula ayahmu. ‘Mereka juga tidak tahu,’ kata ibumu. Lalu ayahmu berkata, ‘Baik, aku menuruti nasihatmu. Kasa ini nanti kita cari jalan untuk diserahkan kepada Peng-ci, kemudian kita berusaha pula mencuci bersih kesalahan yang dituduhkan kepada Anak Tiong. Mulai malam ini aku pun takkan meyakinkan lagi ilmu pedang yang menyesatkan ini.’ Ibumu menjadi girang, katanya, ‘Itulah yang paling baik. Cuma ilmu pedang keluarga Lim itu jelas merugikan siapa pun yang melatihnya, mana boleh kiam-boh ini diperlihatkan kepada Peng-ci? Kukira lebih baik dimusnahkan saja.’”

“Tentunya Ayah tidak setuju,” ujar Leng-sian. “Kalau beliau setuju memusnahkan kiam-boh itu tentu… tentu takkan terjadi seperti sekarang ini.”

“Kau salah terka. Waktu itu ayahmu justru setuju memusnahkan kiam-boh itu,” kata Peng-ci. “Aku sendiri pun terkejut, segera aku bermaksud bersuara untuk mencegahnya, sebab kiam-boh itu adalah milik keluarga Lim kami, ayahmu tidak ada hak untuk memusnahkannya. Pada saat itu juga kudengar daun jendela dibuka, lekas-lekas aku mendak ke bawah, tiba-tiba sesuatu benda dilemparkan keluar, ternyata kasa merah itu yang dibuang, menyusul jendela lantas ditutup kembali. Melihat kasa itu melayang ke bawah di sebelahku, kalau didiamkan tentu akan jatuh ke dalam jurang, tanpa pikir lagi segera aku meraihnya dan untung sekali kasa itu berhasil kupegang, walaupun aku sendiri hampir-hampir terperosot ke dalam jurang.”

Diam-diam Ing-ing berpikir, “Kau akan benar-benar beruntung bilamana tidak berhasil meraih kembali kasa maut itu.”

“O, jadi Ibu mengira Ayah telah membuang kasa yang bertuliskan kiam-boh itu ke dalam jurang, padahal sebelumnya Ayah telah menghafalkan ilmu pedang di luar kepala sehingga praktis kasa itu sudah tiada artinya lagi baginya, sebaliknya engkau malah berhasil pula mempelajari ilmu pedang itu, bukan?”

“Benar,” sahut Peng-ci.

“Rupanya itu sudah takdir,” kata Leng-sian pula. “Agaknya semuanya itu sudah diatur oleh Thian Yang Mahaadil agar engkau dapat membalas sakit hati Kongkong dan Popo.”

“Akan tetapi masih ada suatu hal yang membingungkan aku, beberapa hari terakhir ini aku telah berusaha memecahkan soal ini, tapi biarpun kepalaku pecah memikirkannya tetap sukar dimengerti,” kata Peng-ci. “Yaitu apa sebabnya Co Leng-tan juga dapat memainkan Pi-sia-kiam-hoat.”

“O,” hanya sekian Leng-sian bersuara secara tak acuh, tampaknya ia tidak ambil pusing apakah Co Leng-tan itu mahir Pi-sia-kiam-hoat atau tidak.

Sebaliknya Peng-ci lantas berkata pula, “Kau tidak pernah belajar Pi-sia-kiam-hoat, maka tidak tahu di mana letak kehebatan ilmu pedang itu. Tempo hari waktu Co Leng-tan bertempur melawan ayahmu di Hong-sian-tay, ketika pertarungan mereka sudah memuncak, ilmu pedang yang mereka mainkan ternyata Pi-sia-kiam-hoat semua. Hanya saja permainan Co Leng-tan mula-mula tampak teratur dan hebat, namun akhirnya semakin kacau, setiap jurus seakan-akan sengaja mengalah kepada ayahmu, syukur ilmu pedangnya memang mempunyai dasar yang kuat sehingga pada detik-detik paling berbahaya ia masih sanggup mengelak, tapi tetap sukar terlepas dari lingkaran ancaman Pi-sia-kiam-hoat lawan dan akhirnya matanya kena dibutakan oleh ayahmu. Coba kalau dia menggunakan Ko-san-kiam-hoat dan dikalahkan oleh ayahmu, maka hal ini adalah masuk di akal karena Pi-sia-kiam-hoat memang tiada tandingannya di dunia ini. Soalnya yang membingungkan aku adalah dari mana Co Leng-tan dapat belajar Pi-sia-kiam-hoat dan mengapa pula kepalang tanggung ilmu pedang yang dipelajarinya itu?”

Sampai di sini Ing-ing merasa tiada sesuatu lagi yang menarik dalam percakapan kedua muda-mudi itu. Ia pikir Pi-sia-kiam-hoat yang dipahami Co Leng-tan itu besar kemungkinan hasil curian dari Tiau-yang-sin-kau kami. Pi-sia-kiam-hoat yang dipelajari Tonghong Put-pay jauh lebih lihai dari Gak Put-kun, bila kau menyaksikan pasti akan bikin kepalamu pecah tiga kali juga sukar memahami persoalannya. Demikian pikirnya.

Pada saat ia hendak menyingkir itulah, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara derapan kuda sedang mendatangi. Khawatir terjadi apa-apa atas diri Lenghou Tiong, cepat Ing-ing meninggalkan tempat Leng-sian itu dan kembali ke keretanya sendiri.

“Engkoh Tiong, ada orang datang!” katanya lirih.

“Eh, kau mencuri dengar lagi tentang orang bawa daging untuk umpan anjing di rumah si gadis, bukan? Kenapa kau mendengarkan sekian lama?” dengan tertawa Lenghou Tiong mengolok-olok.

Ing-ing menjadi teringat kepada permintaan Gak Leng-sian tadi yang ingin berbuat “begituan” dengan Lim Peng-ci di dalam kereta agar mereka bisa menjadi “suami-istri resmi”, seketika wajah Ing-ing menjadi merah jengah. Jawabnya kemudian, “O, mereka… mereka sedang bicara cara… cara berlatih Pi-sia-kiam-hoat.”

“Ah, cara bicaramu gelagapan, tentu ada sesuatu yang menarik. Ayo naik ke sini, coba ceritakan padaku lebih jelas,” pinta Lenghou Tiong.

“Tidak, tidak mau!” sahut Ing-ing.

“Kenapa tidak mau?” Lenghou Tiong memaksa.

“Tidak mau ya tidak mau,” kata Ing-ing.

Sementara itu suara berdetak kaki kuda yang riuh tadi sudah makin mendekat.

“Dari jumlahnya tentunya mereka adalah sisa-sisa anak murid Jing-sia-pay, rupanya mereka benar-benar menyusul kemari untuk menuntut balas.”

Segera Lenghou Tiong bangkit duduk, ia mengajak mendekati kereta Gak Leng-sian itu. Ing-ing mengiakan. Ia tahu Lenghou Tiong teramat mengkhawatirkan keselamatan Leng-sian, kalau tidak menyaksikan sendiri nona itu lolos dari bahaya dengan selamat, sesaat pun dia takkan merasa tenteram. Maka Ing-ing lantas menurunkan Lenghou Tiong dari kereta.

Ketika kaki Lenghou Tiong menyentuh tanah, lukanya menjadi kesakitan, tubuhnya terhuyung dan cepat memegang roda kereta. Sejak tadi keledai penarik kereta itu diam saja, kini keretanya sedikit bergerak, disangkanya suruh menarik kereta lagi, segera binatang itu menegak kepala dan bermaksud meringkik.

Namun Ing-ing cukup cepat, pedangnya lantas menebas sehingga kepala keledai terpenggal sebelum bersuara.

Diam-diam Lenghou Tiong memuji akan kehebatan Ing-ing itu, bukan karena kecepatan pedangnya, tapi ketegasan tindakannya.

Sementara itu terdengar suara derapan kuda tadi sudah makin mendekat, segera Lenghou Tiong melangkah cepat ke depan.

Ing-ing pikir kalau terlalu cepat, Lenghou Tiong tentu akan membikin lukanya kesakitan lagi. Segera ia menyusulnya dan berkata, “Engkoh Tiong, maaf!”

Tanpa menunggu jawaban ia terus cengkeram baju tengkuk dan punggungnya lalu angkat ke atas, segera ia lari cepat menyusur tanaman jagung yang lebat itu dengan ginkang yang tinggi.

Lenghou Tiong menjadi geli dan berterima kasih pula. Sungguh keterlaluan dirinya sebagai ketua Hing-san-pay ternyata dicengkeram oleh seorang gadis mirip anak kecil saja, kalau dilihat orang tentu bisa runyam. Tapi kalau Ing-ing tidak ambil tindakan demikian, bila orang-orang Jing-sia-pay keburu tiba lebih dulu, tentu Siausumoay akan celaka. Rupanya tindakan Ing-ing ini dilakukan karena dapat menyelami apa yang dikhawatirkannya ini.

Tidak lama kemudian jarak kedua pihak sudah makin mendekat. Ing-ing coba melongok keluar tanaman jagung, dalam kegelapan tertampak satu barisan obor sedang mendatang melalui jalan raya itu.

“Berani benar mereka ini mengejar musuh dengan membawa obor,” kata Ing-ing. Tapi segera ia berseru pula, “Wah, celaka! Jangan-jangan mereka hendak membakar kereta dengan api!”

“Lekas kita mencegat di depan mereka agar mereka tidak dapat kemari,” kata Lenghou Tiong.

“Jangan buru-buru, untuk menolong dua orang saja rasanya kita masih mampu,” ujar Ing-ing.

Lenghou Tiong tahu kepandaian Ing-ing cukup tinggi. Ih Jong-hay sudah mati, sisa orang-orang Jing-sia-pay tentu tidak perlu ditakuti lagi.

Kira-kira belasan meter dari tempat kereta Gak Leng-sian itu barulah Ing-ing menurunkan Lenghou Tiong, katanya dengan suara tertahan, “Kau duduk saja di sini!”

Sementara itu terdengar Leng-sian sedang berkata di dalam keretanya, “Musuh sudah hampir tiba, benar juga kawanan tikus dari Jing-sia-pay.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Peng-ci.

“Rupanya mereka anggap kita terluka maka secara berani mereka datang dengan membawa obor,” sahut Leng-sian.

“Mereka membawa obor-obor?” Peng-ci menegas. Ternyata pikirannya lebih cerdik daripada Gak Leng-sian, segera ia berkata pula, “Lekas turun ke bawah, kawanan tikus itu akan membakar kereta ini!”

Cepat Leng-sian melompat turun dari keretanya lalu memegang tangan Peng-ci untuk membantunya melompat turun pula. Mereka menyingkir ke pinggir jalan dan menyusup ke tengah tanaman jagung, jaraknya cuma belasan meter saja dari tempat sembunyi Ing-ing dan Lenghou Tiong.

Dalam pada itu orang-orang Jing-sia-pay sudah tiba dan mengepung kereta Gak Leng-sian. Seorang di antaranya lantas berteriak, “Lim Peng-ci, bangsat kau! Apa kau ingin menjadi kura-kura (istilah makian bagi germo)? Mengapa kau mengkeret, coba tongolkan kepalamu sini!”

Tapi keadaan dalam kereta sunyi senyap tiada jawaban. Segera seorang di antaranya berkata, “Mungkin dia sudah melarikan diri dengan meninggalkan kereta ini.”

Tiba-tiba api obor memecah kegelapan, sebuah obor dilemparkan ke arah kereta. Tapi mendadak dari dalam kereta menjulur keluar sebuah tangan, obor ditangkapnya terus dilemparkan kembali ke arah si pelempar tadi.

Keruan orang-orang Jing-sia-pay menjadi panik dan berteriak, “Bangsat, anjing itu berada di dalam kereta!”

Bahwa dari dalam kereta bisa menjulur keluar tangan seorang, hal ini tidak saja membikin heran Ing-ing dan Lenghou Tiong, bahkan Leng-sian juga tak terkatakan kagetnya. Telah sekian lama dia bicara dengan Lim Peng-ci, sama sekali tak terkira olehnya bahwa di dalam keretanya bersembunyi orang lain. Kalau melihat cara orang itu melemparkan kembali obor kepada musuh, agaknya ilmu silatnya tidaklah rendah.

Obor yang dilemparkan anak murid Jing-sia-pay berturut-turut ada beberapa buah dan semuanya dapat dilempar kembali oleh orang di dalam kereta itu, maka orang Jing-sia-pay yang lain tidak berani melempar obor lagi, mereka mengelilingi kereta dari jauh sambil berteriak-teriak. Ada yang memaki, “Anak kura-kura itu tidak berani keluar, besar kemungkinan dia terluka parah dan hampir mampus!”

Di bawah cahaya obor tertampak dengan jelas bahwa tangan itu kurus kering dengan urat yang menonjol di sana-sini, terang tangan seorang tua dan sama sekali bukan tangan Lim Peng-ci atau Gak Leng-sian.

Orang-orang Jing-sia-pay menjadi ragu dan tidak berani sembarangan bergerak. Namun terdorong oleh hasrat menuntut balas kematian guru mereka, terpaksa mereka harus bertindak. Sekonyong-konyong pedang mereka sama menusuk ke dalam kereta.

Tapi mendadak sesosok tubuh meloncat keluar menembus atap kereta dengan sinar pedang gemilapan, tahu-tahu orang itu sudah melompat ke belakang barisan orang-orang Jing-sia-pay, begitu pedangnya bekerja, kontan dua murid Jing-sia-pay menggeletak.

Kelihatan orang itu memakai baju kuning seperti dandanan orang Ko-san-pay, tapi mukanya berkedok kain hijau, hanya tertampak sepasang matanya yang bersinar tajam. Perawakan orang itu sangat tinggi, pedangnya bergerak amat cepat, hanya beberapa jurus saja kembali dua murid Jing-sia-pay yang lain dirobohkan pula.

Tangan Lenghou Tiong menggenggam tangan Ing-ing, kedua orang mempunyai pikiran yang sama. “Yang dimainkan itu pun Pi-sia-kiam-hoat.”

Tapi kalau melihat perawakannya terang orang ini bukan Gak Put-kun, Lim Peng-ci, dan Co Leng-tan bertiga, kini ada orang keempat pula yang dapat memainkan Pi-sia-kiam-hoat, hal ini dengan sendirinya sangat mengejutkan.

Dengan suara perlahan Gak Leng-sian berkata kepada Peng-ci, “Adik Peng, yang dimainkan orang ini tampaknya serupa ilmu pedangmu.”

“He, dia… dia juga dapat memainkan ilmu pedangku? Kau tidak… tidak keliru?” sahut Peng-ci.

Tengah bicara, kembali tiga orang Jing-sia-pay terkena pedang pula. Kini Lenghou Tiong dan Ing-ing sudah dapat melihat jelas. Meski jurus ilmu pedang yang dimainkan orang itu pun termasuk Pi-sia-kiam-hoat, tapi ketangkasannya selisih terlalu jauh dibanding Tonghong Put-pay, dibanding Gak Put-kun dan Lim Peng-ci juga belum memadai, hanya saja ilmu silat orang itu sendiri rupanya cukup tinggi, jauh lebih kuat daripada anak murid Jing-sia-pay maka orang itu masih lebih unggul meski dikerubut orang banyak.

“Ilmu pedangnya tampaknya sama dengan ilmu pedangmu, hanya saja tidak secepat engkau,” kata Leng-sian pula kepada Peng-ci.

“Gerakannya kurang cepat? Ini terang tidak cocok dengan inti ilmu pedang kami,” kata Peng-ci. “Akan tetapi siapa… siapa dia? Mengapa dapat memainkan kiam-hoat itu?”

Di tengah pertarungan sengit, tiba-tiba seorang Jing-sia-pay dadanya ditembus oleh pedang orang itu. Menyusul orang itu menggertak keras, pedangnya ditarik dan menebas pula, kontan seorang di belakangnya terkutung sebatas pinggang. Orang-orang Jing-sia-pay yang lain menjadi jeri dan sama melompat mundur.

Kembali orang itu menggertak keras sekali terus menerjang maju. Mendadak seorang Jing-sia-pay menjerit ketakutan sambil putar tubuh dan lari sipat kuping. Kawan-kawannya menjadi jeri dan beramai-ramai kabur.

Orang itu tampaknya rada lelah juga. Dari napas orang yang rada memburu itu, Lenghou Tiong dan Ing-ing dapat menduga dalam pertempuran sengit tadi orang itu cukup banyak membuang tenaga, besar kemungkinan malah terluka dalam pula.

Setelah terengah-engah sebentar, orang tua baju kuning itu simpan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang, lalu berseru, “Lim-siauhiap dan Lim-hujin, aku diperintahkan Co-ciangbun dari Ko-san untuk datang memberi bantuan.”

Dari suaranya yang bernada rendah dan serak itu agaknya dalam mulut mengulum sesuatu sehingga ucapannya menjadi tidak jelas.

“Banyak terima kasih atas bantuan Anda, mohon tanya siapa nama Anda yang mulia?” sahut Peng-ci sambil keluar dari tempat sembunyinya bersama Leng-sian.

Orang itu berkata pula, “Co-ciangbun mendapat tahu bahwa Lim-siauhiap bersama nyonya disergap musuh di tengah jalan dan terluka parah, maka aku diperintahkan mengawasi Lim-siauhiap berdua untuk mencari suatu tempat tetirah yang baik, tanggung takkan dapat ditemukan oleh ayah-mertuamu.”

Baik Lenghou Tiong dan Ing-ing maupun Lim Peng-ci dan Leng-sian sama heran dari mana Co Leng-tan mendapat keterangan sejelas itu. Sementara beberapa obor di atas tanah masih menyala, sinar api berguncang-guncang, sebentar terang sebentar guram.

Peng-ci lantas menjawab, “Maksud baikmu sungguh aku sangat berterima kasih. Tentang merawat luka rasanya aku masih sanggup mengatasinya dan tidak berani bikin repot padamu.”

Orang tua itu berkata pula, “Tapi kedua mata Lim-siauhiap terkena racun si bungkuk, sukar sekali kiranya untuk bisa melihat kembali, kalau engkau tidak diobati sendiri oleh Co-ciangbun, bisa jadi… bisa jadi mata Lim-siauhiap juga sukar dipertahankan.”

Sejak kedua matanya terkena air beracun dari punuk Bok Ko-hong, baik mata maupun muka Peng-ci terasa kaku dan gatal tak terkatakan, saking geregetan hampir-hampir ia cukil kedua biji mata sendiri, syukur ia masih mampu bertahan sebisa mungkin, maka ia pun percaya apa yang dikatakan orang tua itu memang bukan untuk menakut-nakuti belaka.

Setelah termenung sejenak, kemudian Peng-ci menjawab, “Sebab apa Co-ciangbun menaruh kasihan sedemikian mendalam padaku? Silakan menjelaskan lebih dulu, kalau tidak, sukar kiranya bagiku untuk menerimanya.”

Orang itu tertawa terkekeh, lalu berkata pula, “Sama-sama dendam dan punya musuh yang sama, ini saja sudah seperti sanak kadang sendiri. Kalau Gak Put-kun sudah tahu Lim-siauhiap meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, biarpun Siauhiap berusaha menyingkir ke ujung langit sekalipun juga akan diuber olehnya. Kini dia sudah menjadi ketua Ngo-gak-pay, kekuasaannya besar, pengaruhnya luas, engkau seorang diri mau ke mana lagi… Hehe, putri kandung kesayangan Gak Put-kun senantiasa mendampingimu siang dan malam, sulit berjaga terhadap musuh di samping bantal….”

“Jisuko, ternyata dirimu!” mendadak Leng-sian berteriak.

Teriakan Leng-sian ini menggetarkan hati Lenghou Tiong pula. Dari suara orang tua yang samar-samar serak itu memang dirasakan seperti sudah dikenalnya, kini setelah diteriaki Gak Leng-sian, seketika ia pun sadar bahwa orang tua itu memang betul Lo Tek-nau adanya, yaitu bekas murid kedua Gak Put-kun.

Dari Leng-sian dulu Lenghou Tiong mendengar bahwa Lo Tek-nau terbunuh oleh musuh di Hokciu, jika begitu, jadi kabar itu ternyata tidak betul.

“Hm, budak yang cukup cerdik, dapatlah kau mengenali suaraku,” kata orang tua itu dengan nada dingin. Sekarang ia tidak bicara dengan suara yang dibikin-bikin, maka jelas suaranya memang suara Lo Tek-nau asli.

“Jisuko, di Hokciu, kau pura-pura mati dibunuh musuh, kalau begitu, tentunya… tentunya kaulah yang membunuh Patsuko bukan?” tanya Peng-ci.

Lo Tek-nau hanya mendengus saja tanpa menjawab.

“Ya, tentu… tentu luka di punggung Peng-ci ini pun perbuatanmu, padahal selama ini aku telah salah menuduh Toasuko,” teriak Leng-sian. “Hm, bagus sekali perbuatanmu. Rupanya kau sengaja membunuh seorang lain dan mencacah mukanya hingga hancur lalu kau dandani dengan pakaianmu sehingga setiap orang mengira kau telah mati dibunuh musuh.”

“Rekaanmu memang tidak salah,” jawab Lo Tek-nau. “Kalau tidak begitu, mustahil aku takkan dicurigai Gak Put-kun bila mendadak aku menghilang? Hanya saja luka bacokan di punggung Lim-siauhiap itu bukanlah perbuatanku.”

“Bukan kau? Memangnya masih ada orang lain?” jengek Leng-sian.

“Juga tidak termasuk orang lain, justru adalah ayahmu sendiri,” kata Lo Tek-nau.

“Persetan!” teriak Leng-sian. “Kau sendiri yang berbuat, tapi memfitnah orang lain. Tanpa sebab musabab mengapa ayahku membacok Adik Peng?”

“Soalnya waktu itu ayahmu telah mendapatkan Pi-sia-kiam-boh dari Lenghou Tiong,” kata Tek-nau. “Kiam-boh itu adalah milik keluarga Lim, maka orang pertama yang harus dibunuh oleh ayahmu justru adalah kau punya Adik Peng ini. Bila Lim Peng-ci masih hidup di dunia ini, mana ayahmu dapat meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat dengan baik?”

Ucapan Lo Tek-nau ini membikin Leng-sian menjadi bungkam. Dalam hati kecilnya ia percaya apa yang dikatakan itu memang masuk di akal. Tapi bahwasanya sang ayah tega menyergap Peng-ci secara keji hal ini tetap sukar untuk dipercaya.

Maka setelah mengucap “persetan” beberapa kali, lalu ia berkata pula, “Jika ayahku hendak membunuh Adik Peng, mustahil sekali bacok tidak membuatnya meninggal.”

“Bacokan itu memang benar dilakukan oleh Gak Put-kun, ucapan Jisuko memang tidak keliru,” tiba-tiba Peng-ci menimbrung.

“Mengapa kau… kau pun berkata demikian?” ujar Leng-sian.

“Ketika kena bacokan pedang Gak Put-kun, lukaku sangat parah, aku tahu tidak mampu melawan, maka begitu roboh segera aku pura-pura mati tanpa bergerak lagi, waktu itu aku tidak tahu bahwa yang menyerang itu adalah Gak Put-kun, guruku yang ‘tersayang’ itu, hehe!” jengek Peng-ci. “Dalam keadaan hampir tak sadar, samar-samar kudengar suara Patsuko memanggil ‘Suhu!’. Agaknya panggilan Patsuko sendiri.”

“Kau maksudkan Patsuko juga… juga dibunuh oleh ayahku?” Leng-sian menegas dengan terkejut.

“Memang begitulah adanya,” jawab Peng-ci. “Kudengar sehabis Patsuko memanggil Suhu, lalu dia menjerit ngeri. Aku sendiri lantas jatuh pingsan.”

“Saat itu Gak Put-kun sebenarnya hendak menambahi sekali bacok lagi padamu,” sambung Lo Tek-nau. “Untung bagiku aku telah mengintip perbuatannya, di tempat sembunyi perlahan aku berdehem sehingga membikin keder Gak Put-kun, lekas-lekas ia kembali ke kamarnya. Jadi suara dehemanku itulah yang menyelamatkan jiwamu, kau tahu tidak, Lim-siauhiap?”

“Kalau Ayah benar bermaksud mencelakaimu, kesempatan selanjutnya kan cukup… cukup banyak, mengapa beliau tidak turun tangan pula?” ujar Leng-sian.

“Hm, kemudian dengan sendirinya aku cukup waspada, sehingga tiada kesempatan turun tangan baginya,” jengek Peng-ci. “Ada juga bantuanmu, setiap hari kau selalu berada bersamaku, sehingga membikin dia tidak leluasa untuk membunuh diriku.”

“Kiranya… kiranya engkau menikah dengan aku hanya… hanya menggunakan diriku sebagai… sebagai tameng belaka,” kata Leng-sian sambil menangis terguguk-guguk.

Peng-ci tidak pedulikan tangisan Leng-sian itu, ia berkata terhadap Lo Tek-nau, “Lo-heng, sejak kapan engkau mengadakan hubungan dengan Co-ciangbun?”

“Co-ciangbun adalah Insu (guruku yang berbudi), aku adalah murid beliau yang ketiga,” jawab Tek-nau.

“O, kiranya kau telah ganti perguruan,” kata Peng-ci.

“Aku tidak ganti perguruan,” Tek-nau berkata. “Sejak dulu aku memang murid Ko-san-pay, hanya selama ini aku ditugaskan Insu masuk ke Hoa-san-pay, tujuannya tiada lain adalah menyelidiki ilmu silat Gak Put-kun serta gerak-gerik setiap orang Hoa-san-pay.”

Baru sekarang Lenghou Tiong paham persoalannya. Ketika Lo Tek-nau masuk Hoa-san-pay memang diketahui sudah mahir ilmu silat, hanya yang diperlihatkan tampaknya adalah ilmu silat gado-gado dari berbagai golongan, sama sekali tak terduga dia adalah murid pilihan Ko-san-pay. Rupanya memang sudah lama Co Leng-tan merencanakan pencaplokan keempat aliran yang lain dan telah menaruh mata-matanya di mana perlu, maka soal Lo Tek-nau membunuh Liok Tay-yu serta mencuri kitab Ci-he-sin-kang menjadi tidak perlu diherankan lagi. Hanya saja orang cerdik sebagai gurunya itu, ternyata kena diselomoti Lo Tek-nau.

Dalam pada itu Lim Peng-ci sedang bicara, “O, kiranya begitu dan jasa Lo-heng tentu tidak kecil setelah berhasil membawa kitab Ci-he-sin-kang dan Pi-sia-kiam-hoat ke Ko-san sehingga Co-ciangbun berhasil meyakinkan ilmu sakti.”

Lenghou Tiong dan Ing-ing sama mengangguk sependapat dengan ucapan Peng-ci itu, sebabnya Co Leng-tan dan Lo Tek-nau dapat memainkan Pi-sia-kiam-hoat tentu begitulah adanya. Nyata otak Lim Peng-ci dapat bekerja dengan cepat untuk menarik kesimpulan yang tepat itu.

Lo Tek-nau lantas menjawab, “Terus terang saja Saudara Lim, kita berdua, juga Insu kami telah sama-sama ditipu oleh keparat Gak Put-kun itu. Orang ini benar-benar culas dan keji, kita sama-sama tertipu olehnya.”

“Ehm, aku paham,” ujar Peng-ci. “Tentu Pi-sia-kiam-boh yang dicuri Lo-heng itu adalah palsu yang sengaja dibikin oleh Gak Put-kun, sebab itulah….”

“Kalau tidak begitu masakah pertandingan di Hong-sian-tay itu si bangsat Gak Put-kun mampu mengalahkan guruku?” kata Lo Tek-nau dengan mengertak gigi. “Kiam-boh yang kuperoleh itu ternyata banyak yang kurang, terutama… terutama bagian-bagian yang penting, sehingga kiam-hoat yang kami latih meski bagus, tapi tidak mampu meyakinkan lwekang yang mengimbangi ilmu pedang yang hebat itu.”

“Tiada gunanya juga biarpun meyakinkan lwekang dari ilmu pedang itu,” ujar Lim Peng-ci dengan menghela napas. Ia tahu bahwa Gak Put-kun telah sengaja mengurangi beberapa bagian yang merupakan kunci untuk meyakinkan lwekang yang dapat mengimbangi Pi-sia-kiam-hoat itu, seperti bagian menyuruh kebiri lebih dulu bila mau menjadi jago pedang nomor satu.

(Dikumpulkan oleh Laura VCO dan Kompor Bio etanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: