Hina Kelana: Bab 120. Matinya Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong

Pada saat itulah tiba-tiba pandangan semua orang serasa kabur, tampaknya seperti Lim Peng-ci melompat ke sana dan mengadang di depan kuda Bok Ko-hong, tapi segera pemuda itu kelihatan sedang kebas-kebas kipasnya dan duduk tenang di tempatnya seperti tidak pernah meninggalkan bangkunya.

Selagi semua orang merasa bingung, mendadak terdengar Bok Ko-hong menggertak agar kudanya cepat lari.

Namun bagi tokoh-tokoh kelas wahid seperti Lenghou Tiong, Ing-ing dan Ih Jong-hay, dengan jelas mereka dapat melihat Lim Peng-ci telah menjulur tangannya mencolok dua kali kepada kuda Bok Ko-hong, tentu ada apa-apa yang telah dikerjainya.

Benar juga, baru saja Bok Ko-hong melarikan kudanya beberapa langkah, sekonyong-konyong kuda itu menubruk cagak gubuk. Karena tumbukan yang keras itu, setengah gubuk itu menjadi ambruk.

Cepat Ih Jong-hay melompat keluar gubuk, sedangkan kepala Lenghou Tiong dan Lim Peng-ci penuh teruruk oleh alang-alang kering yang digunakan sebagai atap gubuk itu. Lekas-lekas Gi-lim membersihkan rumput-rumput yang menutup kepala Lenghou Tiong itu.

Dengan mata melotot Lim Peng-ci menatap Bok Ko-hong, tertampak orang bungkuk itu ragu-ragu sejenak, lalu melompat turun dari kudanya sambil melepaskan tali kendali. Segera kudanya berlari lagi ke depan, tapi segera kepala menumbuk batang pohon, terdengar kuda itu meringkik panjang dan roboh terkapar dengan kepala penuh darah.

Begitu aneh kelakuan kuda itu, terang disebabkan kedua matanya sudah buta dan dengan sendirinya karena dikerjai Peng-ci dengan kecepatan luar biasa tadi.

Perlahan-lahan Peng-ci melempit kipasnya dan membersihkan rumput kering yang berserakan di atas pundaknya, lalu berkata, “Orang buta menunggang kuda pecak, sungguh berbahaya kalau menghadapi jurang di tengah malam.”

Bok Ko-hong bergelak tertawa, katanya, “Sombong benar kau bocah ini, ternyata kau memang boleh juga. Ih-pendek bilang kau mahir Pi-sia-kiam-hoat, boleh coba kau pertunjukkan kepadaku.”

Kudanya dibutakan, dia tidak gusar, sebaliknya malah tertawa, sungguh harus diakui kesabarannya yang luar biasa.

“Ya, memangnya akan kuperlihatkan padamu,” sahut Peng-ci. “Dahulu demi untuk mendapatkan ilmu pedang keluarga kami, ayah-ibuku telah menjadi korban keganasanmu. Dosa kejahatanmu rasanya tidak lebih kecil daripada Ih Jong-hay itu.”

Baru sekarang Bok Ko-hong terkejut, sungguh tidak nyana bahwa pemuda perlente di depannya sekarang ini adalah putranya Lim Cin-lam. Diam-diam Bok Ko-hong menimbang, “Dia berani menantang diriku, dengan sendirinya ada sesuatu yang dia andaikan. Ngo-gak-kiam-pay mereka sekarang sudah bergabung, kawanan nikoh dari Hing-san-pay ini dengan sendirinya adalah bala bantuannya.”

Mendadak tangannya membalik terus mencengkeram ke arah Gak Leng-sian, ia pikir jumlah musuh terlalu banyak, sedangkan anak perempuan ini memangnya adalah istri bocah she Lim ini, kalau dia berada di dalam cengkeramanku masakah bocah she Lim ini berani berkutik?

Tak tersangka cengkeramannya tidak kena sasaran, sebaliknya angin tajam menyambar dari belakang, pedang seorang telah menebasnya. Cepat Bok Ko-hong mengegos ke samping, dilihatnya penyerang itu ternyata Gak Leng-sian adanya.

Rupanya Ing-ing telah memotong tali peringkus Leng-sian tadi dan telah membukakan hiat-to yang tertutuk. Karena masih terasa kesemutan berhubung sekian lamanya hiat-to tertutuk, pula lukanya terasa sakit, maka setelah tebasannya memaksa Bok Ko-hong melompat mundur, lalu Leng-sian tidak melancarkan serangan susulan meski dalam hati sangat gemas.

Dengan mengejek Peng-ci lantas berkata, “Hm, sebagai tokoh persilatan yang ternama, sungguh tidak tahu malu perbuatanmu. Sekarang kalau kau ingin hidup lebih lama, kau harus merangkak dan menjura tiga kali padaku sambil memanggil ‘kakek’ tiga kali, dengan demikian akan kuberi hidup padamu untuk setahun lagi. Setahun kemudian aku akan mencari kau lagi untuk menagih utang nyawamu. Nah, mau?”

Dahulu di rumah Lau Cing-hong di kota Heng-san, demi menyelamatkan jiwa, Peng-ci yang waktu itu menyamar sebagai orang bungkuk juga pernah merangkak dan menjura tiga kali sambil memanggil “kakek” tiga kali kepada Bok Ko-hong. Perbuatan itu sudah tentu suatu hinaan besar baginya, cuma waktu itu dia dalam keadaan menyamar sehingga orang lain tidak mengenalnya. Namun begitu dia tidak pernah melupakan hinaan mahabesar itu. Sekarang ilmunya sudah jadi, sudah tentu segala macam dendam besar kecil di masa dahulu harus dituntutnya satu per satu dengan jelas.

Kembali Bok Ko-hong bergelak tertawa, katanya, “Hahaha, sudah begini tua hidup Bok-yaya, tapi belum pernah kulihat seorang sombong semacam kau. Biarpun sekarang kau yang menjura padaku dan memanggil tiga kali kakek padaku juga jiwamu takkan kuampuni.”

Sudah tentu Bok Ko-hong tidak tahu bahwa anak muda di hadapannya ini justru sudah pernah menjura dan memanggil “kakek” padanya di waktu dahulu. Maka perlahan-lahan ia melolos pedangnya, katanya, “Ih-pendek, kalau mau berkelahi boleh kalian tosu melawan nikoh, bocah kurang ajar ini boleh serahkan padaku saja.”

Ia khawatir kalau kawanan nikoh Hing-san-pay ikut turun tangan, sedangkan Ih Jong-hay diketahui juga termasuk musuh Lim Peng-ci, kalau orang Jing-sia-pay dapat menghadapi Hing-san-pay, mustahil dirinya tidak mampu melawan seorang anak muda sebagai Lim Peng-ci.

Maka terdengar Ih Jong-hay menjawab, “Pihak Hing-san-pay sejak tadi sudah menyatakan takkan memihak mana-mana. Nona yang menolong Gak-siocia tadi juga bukan orang Hing-san-pay.”

Padahal pernyataan Hing-san-pay takkan memihak siapa-siapa hanya ditujukan kepada Jing-sia-pay saja, sudah tentu tidak termasuk Bok Ko-hong. Tapi Ih Jong-hay sengaja mencampuradukkannya agar Bok Ko-hong dapat melayani musuh besarnya tanpa khawatir.

Bok Ko-hong menjadi girang, katanya, “Baik sekali kalau begitu. Urusan hari ini adalah bocah ini yang mencari perkara padaku dan bukan aku yang mencari dia. Para kawan Hing-san-pay hendak menjadi saksi agar kelak di dunia Kangouw takkan timbul cerita bahwa si bungkuk menganiaya anak muda.”

Sambil berkata perlahan-lahan pedang pun sudah terlolos. Bentuk pedangnya ternyata sangat aneh, yaitu melengkung. Orangnya bungkuk, pedangnya juga bungkuk.

Dengan memegang kipas, tangan lain mengangkat sedikit ujung bajunya yang panjang, dengan gaya berlenggang Lim Peng-ci lantas mendekati Bok Ko-hong. Orang yang dilalui oleh Peng-ci segera mengendus bau harum yang sedap.

Pada saat lain tiba-tiba terdengar dua kali jeritan, Ih Jin-ho dan Pui Jin-ti dari Jing-sia-pay mendadak roboh terkulai dengan dada mengucurkan darah.

Tanpa terasa orang banyak sama mengeluarkan suara kaget. Sudah jelas Peng-ci terlihat menuju ke arah Bok Ko-hong, entah cara bagaimana mendadak kedua murid Jing-sia-pay yang dilaluinya itu telah dibinasakan.

Selesai membunuh orang, perlahan-lahan Peng-ci simpan kembali pedangnya. Hanya tokoh-tokoh besar seperti Lenghou Tiong dan sebagainya yang masih melihat berkelebatnya pedang, orang lain boleh dikata tidak tahu cara bagaimana Peng-ci melolos pedangnya jangankan melihat caranya menyerang. Keruan semua orang tak terkatakan kagumnya di samping waswas pula.

Menghadapi Peng-ci yang semakin mendekat itu, badan Bok Ko-hong semakin menunduk, memangnya dia bungkuk, kini mukanya menjadi hampir mendekat tanah. Sekonyong-konyong Bok Ko-hong meraung seperti serigala menyalak, ia terus menyeruduk ke depan, pedangnya yang bengkok itu lantas menyambar ke pinggang Peng-ci.

Cepat sekali Peng-ci pindahkan kipasnya ke tangan kiri, tangan lain segera melolos pedang terus menusuk ke dada musuh. Serangannya bergerak lebih lambat, tapi tiba lebih dulu kepada sasarannya, cepat lagi jitu. Kembali Bok Ko-hong mengerang, tubuhnya terus melompat ke sana. Ternyata baju kapas di bagian dadanya sudah berlubang sehingga kelihatan bulu dadanya yang lebat.

Serangan Peng-ci itu kalau maju dua-tiga senti lagi, seketika dada Bok Ko-hong pasti berlubang. Semua orang sampai berseru kaget dan sama melongo.

Sekali gebrak saja Bok Ko-hong sudah hampir direnggut maut, namun dasarnya dia memang ganas, sedikit pun ia tidak gentar, berulang-ulang ia mengerang pula dan kembali menubruk maju.

Rada di luar dugaan Peng-ci bahwa serangannya tadi tidak kena sasarannya, diam-diam ia mengakui kehebatan si bungkuk yang terkenal itu. “Sret-sret-sret”, kembali ia melancarkan serangan kilat, terdengar suara “trang-trang” yang nyaring, serangan-serangan kena ditangkis semua oleh si bungkuk.

Peng-ci mendengus, makin cepat pedangnya bergerak. Berkali-kali Bok Ko-hong terpaksa melompat ke atas dan mendekam ke bawah, pedangnya yang bengkok itu pun diputar sedemikian cepatnya sehingga berwujud sebuah jaringan sinar perak.

Setiap kali pedang Peng-ci menusuk masuk jaringan sinar pedang lawan dan terkadang membentur pedang lawan yang bengkok itu, maka tangan Peng-ci sendiri lantas terasa kesemutan, nyata sekali tenaga dalam lawan jauh lebih kuat daripadanya. Kalau kurang hati-hati bisa jadi pedang sendiri akan tergetar lepas. Karena itu Peng-ci tidak berani gegabah lagi, ia berusaha mengincar lubang kelemahan musuh untuk memberi serangan maut.

Namun Bok Ko-hong hanya memutar pedang sendiri sedemikian kencangnya, sedikit pun tidak memperlihatkan lubang kelemahan. Betapa pun tinggi ilmu pedang Peng-ci juga tak bisa berbuat apa-apa. Pertarungan demikian sebenarnya mendudukkan Peng-ci pada tempat yang tak terkalahkan, sekalipun belum dapat menjatuhkan lawan, namun Bok Ko-hong sudah jelas tidak mampu balas menyerang.

Semua orang dapat menilai, asal Bok Ko-hong bermaksud balas menyerang, itu berarti jaringan sinar pedangnya akan memberi peluang bagi serangan kilat Lim Peng-ci, jika terjadi demikian, maka sukar bagi Bok Ko-hong untuk menangkis.

Cara Bok Ko-hong memutar pedangnya sedemikian kencang sebenarnya paling membuang tenaga dalam, namun di tengah sinar pedangnya yang rapat itu Bok Ko-hong menggerung-gerung pula tanpa berhenti mengikuti gerak pedangnya, hal ini menambahkan ketangkasannya yang mengagumkan. Beberapa kali Peng-ci bermaksud membobol jaringan sinar pedang musuh, tapi selalu didesak kembali oleh pedang rawan yang bengkok itu.

Sekian lamanya Ih Jong-hay mengikuti pertarungan hebat itu, dilihatnya jaringan sinar pedang si bungkuk mulai mengkeret, makin ciut, ini menandakan tenaga dalam Bok Ko-hong sudah mulai payah. Tanpa ayal lagi, ia bersuit nyaring terus menerjang maju, “sret-sret-sret” tiga kali, cepat ia menyerang tempat mematikan di punggung Lim Peng-ci.

Ketika Peng-ci terpaksa memutar pedangnya untuk menangkis ke belakang, segera Bok Ko-hong ayun pedangnya yang bengkok itu untuk menebas kaki lawan.

Kalau menurut etiket dunia persilatan, dua tokoh ternama seperti Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong mengeroyok seorang pemuda yang masih hijau, sungguh suatu perbuatan yang memalukan.

Hanya saja sepanjang jalan orang-orang Hing-san-pay telah menyaksikan cara Peng-ci membunuh anak murid Jing-sia-pay secara tidak kenal ampun, jelas Ih Jong-hay akhirnya juga akan menjadi korbannya, maka kini mereka pun tidak heran melihat dua tokoh ternama itu mengeroyok Peng-ci, mereka malah anggap kejadian itu adalah lumrah. Sebab kalau kedua tokoh itu tidak bergabung, cara bagaimana mereka masing-masing mampu melawan ilmu pedang Peng-ci yang sukar diukur itu?

Gerak pedang Bok Ko-hong segera berubah, selain bertahan sekarang ia pun menyerang, Peng-ci menjadi girang malah, kira-kira belasan jurus kemudian, mendadak kipas di tangan kiri ikut bergerak, gagang kipas membalik terus menusuk ke depan dengan cepat luar biasa. Tiba-tiba dari ujung gagang kipas menonjol keluar sebatang jarum tajam, tepat tiau-goan-hiat di paha kanan Bok Ko-hong tertusuk.

Bok Ko-hong terkejut, cepat pedangnya menyampuk, namun tetap kalah cepat daripada gerak serangan Peng-ci itu, hiat-to bagian kaki itu terasa kesemutan. Ia tidak berani sembarangan bergerak, sedangkan pedang diputar kencang untuk melindungi tubuh. Tapi lambat laun kedua kaki terasa lemas, tanpa kuasa ia bertekuk lutut.

“Hahaha! Baru sekarang kau menjura padaku….” Peng-ci bergelak tertawa sambil menangkis serangan Ih Jong-hay, lalu menyambung, “namun sudah terlambat!”

“Trang,” kembali ia menangkis serangan musuh dan kontan balas menyerang satu kali.

Meski kedua kaki Bok Ko-hong berlutut ke bawah, namun pedangnya yang bengkok itu tetap digunakan menyerang tanpa berhenti. Rupanya ia menginsafi bahwa kekalahan pihaknya sudahlah pasti, maka setiap jurus serangannya selalu menggunakan cara nekat, bila perlu siap gugur bersama musuh.

Keadaan menjadi berbeda sama sekali, kalau mula-mula Bok Ko-hong hanya bertahan tanpa menyerang, sekarang dia berbalik hanya menyerang tanpa menjaga diri lagi. Ia sudah tidak pikirkan jiwanya lagi, dengan demikian untuk sementara Peng-ci menjadi tak bisa mengapa-apakan dia.

Ih Jong-hay juga menyadari keadaan yang gawat antara hidup dan mati, jika dalam belasan jurus tak bisa mengalahkan lawan, sekali Bok Ko-hong terjungkal, maka dirinya yang tertinggal lebih-lebih tidak mampu berkutik lagi. Karena, itu ia percepat serangannya secara membadai.

Sekonyong-konyong Peng-ci tertawa panjang, tiba-tiba pandangan Ih Jong-hay menjadi gelap, matanya tak bisa melihat apa-apa lagi, menyusul kedua bahunya juga terasa dingin, kedua lengannya telah mencelat berpisah dengan tubuhnya.

Terdengar Peng-ci tertawa histeris, katanya, “Aku takkan membunuh kau, biar kau buntung dan buta pula, biar kau mengembara di Kangouw sebatang kara, anak muridmu, anggota keluargamu, satu per satu akan kubunuh seluruhnya agar di dunia ini hanya tertinggal musuhmu saja dan tiada seorang pun sanak kadangmu.”

Ih Jong-hay merasakan lengannya yang buntung itu sakit tidak kepalang, ia tahu perlakuan Peng-ci terhadap dirinya itu jauh lebih kejam daripada sekali tusuk membinasakan dia. Dalam keadaan cacat begitu apa artinya hidup di dunia ini? Paling-paling malah akan menerima hinaan dan siksaan habis-habisan dari pihak musuh. Karena pikiran demikian, ia menjadi kalap, ia perhatikan arah suara Peng-ci, lalu menyeruduk ke sana.

Peng-ci terbahak-bahak sambil berkelit ke samping. Tak terduga, saking senangnya karena sakit hatinya sudah terbalas, ia menjadi lengah, tanpa sadar cara menghindarnya itu berbalik mendekati Bok Ko-hong malah.

Tentu saja Bok Ko-hong tidak sia-siakan kesempatan baik itu, ia ayun pedangnya menebas sekuatnya, ketika Peng-ci menangkis dengan pedangnya, tahu-tahu kedua kakinya telah dirangkul sekencangnya oleh Bok Ko-hong.

Keruan Peng-ci terkejut, dilihatnya berpuluh murid Jing-sia-pay serentak memburu maju, cepat kedua kakinya meronta sekuatnya, namun rangkulan Bok Ko-hong sedemikian kencangnya laksana tanggam, tanpa pikir Peng-ci lantas menusuk ke punggung Bok Ko-hong yang bungkuk itu.

“Blus”, mendadak air hitam muncrat keluar dari punggung yang bengkok itu, baunya bacin memuakkan.

Karena kejadian yang sama sekali tak terduga ini, dengan sendirinya Peng-ci pancal kedua kakinya dengan maksud hendak melompat pergi buat menghindari semprotan air bacin itu, tapi ia lupa bahwa kedua kakinya masih dipeluk sekuatnya oleh Bok Ko-hong, seketika mukanya tersemprot oleh air hitam yang bau itu, bahkan sakitnya tidak kepalang sehingga dia menjerit.

Kiranya air bau itu adalah air beracun yang luar biasa, sungguh tidak nyana bahwa di punggung yang bengkok itu tersembunyi kantong air berbisa. Dengan tangan kiri menutupi muka yang kesakitan, kedua matanya sukar dipentang lagi, hanya pedangnya berulang-ulang digunakan membacok menikam tubuh Bok Ko-hong.

Bacokan dan tikaman Peng-ci itu cepat luar biasa, sama sekali Bok Ko-hong tidak sempat berkelit. Hakikatnya ia pun tidak ingin menghindar, sebaliknya semakin kencang dia merangkul kedua kaki Peng-ci.

Pada saat itulah, berdasarkan suara kedua orang itu, Ih Jong-hay mengincar tepat arahnya, dia terus menubruk maju, karena kedua tangannya sudah buntung, dia gunakan mulut untuk menggigit. Secara kebetulan pipi kanan Peng-ci dengan tepat kena digigit dan tak dilepaskan lagi.

Ketiga orang menjadi saling bergumul dalam keadaan kalap, lambat laun ketiganya menjadi sadar tak-sadar. Serentak anak murid Jing-sia-pay memburu maju untuk menyerang Lim Peng-ci.

Pertarungan sengit itu dapat diikuti Lenghou Tiong dengan jelas dari dalam kereta. Semula ia pun terkejut menyaksikan pertempuran mati-matian itu, kemudian ketika melihat Peng-ci bergumul dengan kedua musuhnya dan tak bisa berkutik, sedangkan anak murid Jing-sia-pay telah memburu maju, tanpa pikirkan keadaan sendiri yang terluka, segera ia melompat keluar dari keretanya, ia jemput sebatang pedang di atas tanah yang berlumuran darah, menyusul “sret-sret-sret” beberapa kali, semuanya mengenai pergelangan tangan anak murid Jing-sia-pay, maka terdengarlah suara gemerencing nyaring jatuhnya senjata orang-orang Jing-sia-pay itu.

Melihat Lenghou Tiong sudah turun tangan, segera Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, The Oh, dan lain-lain juga ikut menerjang maju dan mengelilingi Lenghou Tiong.

Terdengar suara mengerang Bok Ko-hong yang kalap tadi mulai mereda, sebaliknya pedang Lim Peng-ci masih terus menikam ke punggung musuh itu. Sekujur badan Ih Jong-hay penuh darah dengan tetap menggigit pipi Peng-ci.

Sehabis menyelamatkan Peng-ci, Lenghou Tiong merasa badannya lemas dan terhuyung-huyung, cepat Gi-ho dan lain-lain memayangnya. Melihat pergumulan mati-matian antara Peng-ci bertiga itu, anak murid Hing-san-pay sama merasa ngeri, tiada seorang pun yang berani memisahkan mereka.

Selang tidak lama, mendadak Peng-ci mendorong sekuatnya dengan tangan kiri, tubuh Ih Jong-hay tertolak mencelat, tapi berbareng Peng-ci juga menjerit kesakitan, pipi kanan sudah berlubang dengan darah yang bercucuran, nyata sepotong daging pipinya telah digigit mentah-mentah oleh Ih Jong-hay.

Bok Ko-hong sudah mati sejak tadi, tapi dia masih tetap merangkul kencang kedua kaki Peng-ci. Terpaksa Peng-ci menggagap tepat lengan Bok Ko-hong, maklum kedua matanya sukar dipentang karena sakit perih berhubung semprotan air berbisa dari punggung musuh tadi, lalu pedangnya memotong kedua lengan si bungkuk, dengan demikian barulah dia terlepas.

Melihat keadaan Peng-ci yang seram itu, tanpa terasa anak murid Hing-san-pay sama melangkah mundur. Beramai-ramai anak murid Jing-sia-pay lantas mendekati Ih Jong-hay untuk memberi pertolongan sehingga tiada satu pun yang mengurusi musuh lagi.

Tiba-tiba anak murid Jing-sia-pay itu menangis dan berteriak-teriak, “Suhu, Suhu! Engkau jangan meninggalkan kami!”

“O, Suhu meninggal! Suhu sudah meninggal!”

Peng-ci tertawa terbahak-bahak, teriaknya histeris, “Sakit hatiku sudah terbalas!”

Anak murid Hing-san-pay kembali mundur beberapa langkah karena merasakan suasana yang seram itu. Gi-ho lantas memapak Lenghou Tiong kembali ke keretanya, Gi-jing dan The Oh membuka pembalut lukanya untuk membubuhi obat lagi.

Perlahan-lahan Leng-sian mendekati Peng-ci, katanya, “Adik Peng, aku mengucapkan selamat atas terbalasnya sakit hatimu.”

Tapi Peng-ci masih bergelak tertawa seperti orang gila dan berteriak-teriak, “Sakit hatiku sudah terbalas, sudah terbalas!”

Melihat kedua mata Peng-ci terpejam, dengan suara lembut Leng-sian bertanya, “Bagaimana dengan kedua matamu? Air berbisa itu harus dicuci.”

Peng-ci melenggong sejenak, tubuhnya terhuyung dan hampir-hampir jatuh. Cepat Leng-sian memayangnya dan membawanya ke warung gubuk tadi, ia mencari satu panci air jernih terus diguyurkan ke muka Peng-ci.

Mendadak Peng-ci menjerit, agaknya merasa sakit dan perih luar biasa, sampai-sampai anak murid Jing-sia-pay terkejut mendengar jeritan seram itu.

“Siausumoay,” kata Lenghou Tiong. “Ambil obat ini untuk Lim-sute, bawa dia ke dalam kereta kami untuk mengaso.”

“Ba… banyak terima kasih,” sahut Leng-sian.

Mendadak Peng-ci berteriak, “Tidak, tidak perlu! Orang she Lim akan mati atau hidup apa sangkut pautnya dengan dia?”

Lenghou Tiong tercengang, pikirnya, “Bilakah aku bersalah padamu? Mengapa kau begini benci padaku?”

Dengan suara halus Leng-sian coba membujuk sang suami, “Obat luka Hing-san-pay terkenal sangat mujarab, kalau orang sudi mem….”

“Orang sudi apa?” bentak Peng-ci dengan gusar.

Leng-sian menghela napas, kembali ia mengguyur perlahan muka Peng-ci. Sekali ini Peng-ci hanya menjengek tertahan dengan menahan sakit, ia tidak menjerit lagi, tapi segera ia berkata, “Hm, kau selalu mengatakan kebaikannya, dia memang sangat memerhatikan dirimu, kenapa kau tidak ikut pergi dengan dia saja? Buat apa kau mengurus diriku?”

Kata-kata Peng-ci ini benar-benar mengejutkan anak murid Hing-san-pay sehingga mereka saling pandang dengan melongo. Mereka tahu Lenghou Tiong selalu ingat akan hubungan baik sebagai sesama saudara seperguruan, maka tanpa menghiraukan keadaan sendiri yang payah dia berusaha menolong ketika melihat mereka terancam bahaya. Dengan jelas semua orang menyaksikan jiwa Peng-ci diselamatkan oleh Lenghou Tiong, mengapa Peng-ci bicara sekasar itu?

Gi-ho yang pertama-tama tidak tahan, dengan suara keras ia mendamprat, “Orang telah menyelamatkan jiwamu bukannya terima kasih sebaliknya tanpa kenal malu kau bicara tidak keruan?”

Lekas Gi-jing menarik Gi-ho agar tidak mengomel lebih lanjut. Namun Gi-ho masih muring-muring.

Dalam pada itu Leng-sian sedang mengusap luka di pipi Peng-ci dengan saputangannya. Di luar dugaan, mendadak tangan kanan Peng-ci terus mendorong dengan kuat sehingga Leng-sian yang tidak berjaga-jaga itu jatuh terbanting.

Lenghou Tiong menjadi gusar, bentaknya, “Kenapa kau….” tapi segera teringat olehnya bahwa Peng-ci dan Leng-sian sudah menjadi suami istri, kalau suami istri bertengkar adalah tidak pantas orang luar ikut campur, apalagi kata-kata Peng-ci tadi jelas rada sirik padanya. Bahwasanya dirinya menaruh cinta pada siausumoaynya ini tentu juga diketahui Peng-ci, maka tidaklah enak jika dirinya sekarang terlibat dalam pertengkaran mereka.

Meski kedua mata Peng-ci tidak dapat melihat sesuatu lagi, namun suara pembicaraan orang dapat didengarnya dengan jelas, dengan menjengek ia lantas menanggapi dampratan Gi-ho tadi, “Hm, kau bilang aku tidak tahu malu? Sesungguhnya siapakah yang tidak tahu malu.”

Mendadak ia tuding ke sana dan melanjutkan, “Si pendek she Ih ini dan si bungkuk she Bok itu, lantaran ingin mendapatkan Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami, dengan segala jalan mereka berusaha merebut dan mencelakai ayah-bundaku, meski cara mereka cukup keji masih dapat dikatakan perbuatan orang Kangouw yang jahat, tapi, hm, mana ada yang berbuat seperti ayahmu….” ia tuding Leng-sian, lalu menyambung, “ayahmu yang menamakan dirinya Kun-cu-kiam Gak Put-kun, dia telah menggunakan caranya yang rendah dan licik untuk merebut kiam-boh keluarga Lim kami.”

Saat itu Leng-sian lagi merangkak bangun, mendengar ucapan Peng-ci itu, badannya gemetar dan kembali jatuh terduduk, jawabnya dengan terputus-putus, “Mana… mana bisa jadi hal begitu?”

“Hm, perempuan hina dina,” jengek Peng-ci. “Kalian ayah dan anak sengaja berkomplot untuk memancing diriku, Gak-toasiocia dari ketua Hoa-san-pay sudi kawin dengan anak sebatang kara yang tak punya tempat tinggal lagi, coba katakan apa tujuannya? Bukankah demi untuk mendapatkan Pi-sia-kiam-boh keluarga kami? Dan sekarang kiam-boh itu sudah didapatkan, lalu untuk apalagi orang she Lim macamku ini?”

Saking tak tahan Leng-sian menangis keras, ratapnya, “Kau… kau jangan memfitnah orang tak berdosa, jika begitu tujuanku sebagaimana kau tuduhkan, biarlah aku di… dikutuk dan mati tak terkubur.”

“Dengan licik kalian memasang perangkap, semula aku masih terselubung dan tidak tahu,” kata Peng-ci pula. “Tapi sekarang sesudah kedua mataku buta mendadak aku dapat melihat dengan jelas malah. Coba, kalau kalian ayah dan anak tidak punya maksud tujuan tertentu, kenapa… kenapa, hm, sesudah kita menikah, mengapa begitu caranya kau meladeni aku? Memangnya aku… hm, tak perlu kukatakan lagi, kau sendiri tentu paham.”

Wajah Leng-sian tampak merah, jawabnya, “Hal ini kan tidak… tidak dapat menyalahkan aku. Kau… kau sendiri….” perlahan ia mendekati Peng-ci, lalu menyambung, “Sudahlah, jangan kau pikir hal-hal yang tidak keruan, pendek kata sedikit pun tidak berubah perasaanku terhadapmu dari dulu sampai sekarang.”

Peng-ci hanya mendengus saja tanpa berkata.

Leng-sian berkata pula, “Marilah kita pulang ke Hoa-san untuk merawat lukamu. Apakah matamu akan sembuh atau tidak, bila aku Gak Leng-sian mempunyai pikiran yang menyeleweng, biarlah aku akan mati terlebih ngeri daripada seperti Ih Jong-hay ini.”

“Hm, siapa tahu apa yang sedang kau rancangkan atas diriku, tidak perlu kau omong manis padaku,” jengek pula Peng-ci.

Leng-sian tidak menjawabnya lagi, ia berkata kepada Ing-ing, “Cici, bolehkah aku meminjam sebuah kereta kalian?”

“Boleh saja,” sahut Ing-ing. “Apakah perlu satu-dua suci dari Hing-san-pay mengawal perjalanan kalian?”

“Ti… tidak usah,” jawab Leng-sian dengan terguguk-guguk. “Banyak terima kasih.”

Ing-ing lantas menyeretkan sebuah kereta keledai dan menyerahkan tali kendali kepada Leng-sian.

“Marilah naik ke atas kereta!” kata Leng-sian sambil perlahan-lahan memapah bahu Peng-ci.

Tertampak Peng-ci ogah-ogahan, namun kedua matanya tak bisa melihat apa-apa, setiap langkah pun susah. Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia naik juga ke atas kereta.

Segera Leng-sian melompat ke tempat kusir di atas kereta, ia manggut-manggut kepada Ing-ing, lalu cambuknya gemeletar dan melarikan keretanya ke jurusan barat. Sekejap pun dia tidak memandang ke arah Lenghou Tiong.

Pandangan Lenghou Tiong terus mengikuti kepergian kereta itu yang semakin menjauh, ia termangu-mangu dengan perasaan pilu, air mata berlinang-linang di kelopak matanya. Pikirnya, “Kedua mata Lim-sute sudah buta, Siausumoay terluka pula. Dalam keadaan begitu apakah mereka takkan mengalami halangan di tengah perjalanan yang jauh itu? Jika di tengah jalan kepergok lagi anak murid Jing-sia-pay, apakah mereka mampu melawan?”

Dilihatnya anak murid Jing-sia-pay telah membenahi jenazah Ih Jong-hay, lalu berangkat menuju ke selatan. Walaupun arahnya berlainan dengan Peng-ci dan Leng-sian, tapi siapa berani menjamin rombongan Jing-sia-pay itu takkan memutar haluan di tengah jalan terus mengejar ke jurusan Peng-ci berdua?

Lenghou Tiong coba menyelami apa yang dipercakapkan Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian tadi, ia merasa di dalam hubungan suami-istri itu tentu mengandung berbagai rahasia yang sukar diketahui oleh orang luar. Yang jelas, bahwasanya hubungan kedua suami-istri itu kurang harmonis adalah dapat dipastikan. Teringat sang siausumoay yang masih muda belia dan disayang oleh ayah-bundanya laksana mutiara, para saudara seperguruan juga sangat hormat dan menghargainya, tetapi ia harus mendapat siksaan lahir batin dari sang suami sendiri, tanpa terasa Lenghou Tiong menjadi sedih dan mencucurkan air mata

Perjalanan mereka hanya mencapai belasan li saja lantas bermalam di suatu kuil bobrok. Tertidur sampai tengah malam, beberapa kali Lenghou Tiong terjaga oleh impian buruk. Dalam keadaan setengah sadar telinganya mendengar suara bisikan yang halus, “Engkoh Tiong! Engkoh Tiong!”

Lenghou Tiong terjaga bangun, didengarnya suara Ing-ing sedang berkata pula, “Marilah keluar, ada yang hendak kubicarakan.”

Yang digunakan Ing-ing adalah ilmu mengumandangkan gelombang suara sehingga suaranya terdengar dari dekat, tapi orangnya sejak tadi sudah di luar rumah.

Segera Lenghou Tiong berbangkit dan keluar kuil itu, dilihatnya Ing-ing duduk di undak-undakan batu sambil bertopang dagu sedang termenung-menung. Lenghou Tiong mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Suasana malam sunyi senyap, sekitar mereka tiada suara sedikit pun.

Selang agak lama baru Ing-ing membuka suara, “Engkau mengkhawatirkan siausumoaymu bukan?”

“Ya,” sahut Lenghou Tiong. “Banyak persoalan yang membikin orang sukar mengerti.”

“Kau mengkhawatirkan dia diperlakukan kurang baik oleh suaminya?” kata Ing-ing pula

Lenghou Tiong menghela napas, jawabnya kemudian, “Urusan suami-istri mereka, orang lain mana bisa ikut campur?”

“Bukankah kau khawatir kalau anak murid Jing-sia-pay menyusul dan mencari perkara kepada mereka?” tanya Ing-ing.

“Orang Jing-sia-pay tentu sakit hati atas kematian guru mereka, pula melihat musuhnya suami-istri dalam keadaan terluka, kalau mereka menyusul buat menuntut balas, rasanya bukanlah sesuatu yang aneh.”

“Mengapa kau tidak mencari akal untuk menolong mereka?”

Kembali Lenghou Tiong menghela napas, katanya, “Dari nada Lim-sute tadi, agaknya dia rada sirik kepadaku. Meski aku hendak menolong mereka dengan maksud baik, jangan-jangan malah membikin retak hubungan baik suami-istri mereka.”

“Ini cuma salah satu di antaranya. Tapi kau masih mempunyai rasa khawatir lain, khawatir akan membikin aku kurang senang, betul tidak?”

Lenghou Tiong angguk-angguk, ia pegang tangan kiri Ing-ing dengan erat, telapak tangan nona itu terasa sangat dingin. Dengan suara halus ia pun berkata, “Ing-ing, di dunia ini aku hanya mempunyai dikau seorang, jika di antara kita juga timbul sesuatu rasa curiga, lalu apa artinya lagi menjadi manusia?”

Perlahan-lahan Ing-ing menggelendot di bahu Lenghou Tiong, katanya kemudian, “Jika demikian pikiranmu, lalu di antara kita masakah bisa timbul rasa curiga segala? Urusan jangan terlambat, kita harus menyusul ke sana secepatnya, jangan sampai menimbulkan rasa penyesalan bagi hidupmu ini hanya karena ingin menghindarkan rasa curiga.”

Mendengar kata-kata “meninggalkan penyesalan selama hidup”, seketika Lenghou Tiong terkesiap dan seakan-akan terbayang kereta Peng-ci sedang dikepung oleh belasan orang Jing-sia-pay dengan senjata terhunus, tanpa terasa badannya rada gemetar.

(Dikumpulkan oleh Larua VCO dan Kompor Bio etanol)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: